Anda di halaman 1dari 20

I.

Definisi
Gangguan bipolar merupakan gangguan mood dengan kelainan berupa
perubahan suasana perasaan atau afek, dimana pada waktu didapat kumpulan
gejala yang terdiri dari depresi, dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya
(penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas) dan pada waktu lain
mengalami elasi (suasana perasaan yang meningkat disertai penambahan energi
dan aktivitas). Gangguan ini memiliki episode berulang (sekurang-kurangnya dua
episode), yang khas adalah biasanya terdapat penyembuhan sempurna antar
episode. Episode manik biasanya dimulai dengan tiba-tiba antara 2 minggu
sampai 4-5 bulan, sedangkan episode depresi cenderung berlangsung lebih lama
rata-rata sekitar 6 bulan, tetapi jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia
lanjut. Kedua episode ini seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh
stres atau trauma mental lain. (1,2,3)
II. Epidemiologi
Prevalensi gangguan bipolar I sekitar 0,4-1,6% sedangkan prevalensi
gangguan bipolar II adalah 0,5%. Gangguan bipolar I angka kejadiannya sama
antara pria dan wanita, dimana episode manik lebih sering didapati pada pria
sedangkan episode depresi pada wanita. Onset gangguan bipolar I terjadi pada
usia 5-50 tahun, rata-rata pada usia 30 tahun. Gangguan bipolar I lebih sering
terjadi pada orang yang bercerai atau belum menikah. (1,2,4)
III. Etiologi
1. Genetik
Terdapat bukti-bukti yang mendukung peranan faktor genetik sebagai
predisposisi gangguan bipolar. Di antaranya adalah :
1. Tingkat persesuaian gangguan bipolar pada pasangan kembar monozigot
mencapai 80%.
2. Hasil analisis regresi menunjukkan pola transmisi autosomal dominan.

3. Beberapa letak gen pada kromosom keluarga yang mendapat gangguan


bipolar telah diduga berkaitan dengan pewarisan penyakit. Namun sampai
kini, dugaan ini belum terbukti satu pun.(6)
2. Neurobiologis
Mekanisme patofisiologi yang mendasari perubahan mood yang berulang
pada gangguan bipolar masih belum dapat dijelaskan. Namun dari beberapa
penelitian, ada beberapa dugaan yang menarik banyak perhatian :
1. Terdapat perubahan enzim ATPase membran yang diaktifkan oleh Na+ dan
K+.
2. Adanya gangguan mekanisme yang transduksi sinyal yang melibatkan
sistem phosphoinositol dan protein yang berikatan dengan GTP
3. Gangguan regulasi glutamat dan faktor transmisi neuroprotektif, yang
dapat menjelaskan efek terapeutik lithium.
Terdapat hubungan antara perubahan kadar hormon-hormon tertentu dengan
gangguan bipolar, seperti
1. Peningkatan konsentrasi SRIF (somatostatin releasing inhipbitor factor)
dalam cairan serebrospinal pada gangguan bipolar I
2.

Pemberian terapi tambahan hormon thyroid (T4) memperlambat siklus


pada gangguan bipolar I rapid-cycling.(6)
Pada pasien gangguan bipolar terdapat gangguan irama sirkadian. Dari hal

ini, terapi dengan lithium memberikan hasil lebih besar apabila diiringi dengan
penyesuaian irama sirkadian pasien dengan pengaturan siklus gelap dan terang.
Pencitraan syaraf (neuroimaging), mengungkapkan besarnya tingkat
abnormalitas substansia alba subkortikal pada pasien gangguan bipolar
dibandingkan dengan kelompok kontrol berumur sama. Terdapat pembesaran
ventrikel ke III, yang akan berdampak pada disfungsi hipothalamus yang terletak
di dekatnya.(6)

3. Psikodinamika
Dari sudut pandang psikodinamika, terdapat faktor predisposisi dan
presipitasi yang mendukung terjadinya gangguan afektif bipolar, yaitu :
a. Faktor Predisposisi

Faktor Kepribadian
Jenis kepribadian yang menjadi presisposisi terjadinya
gangguan

bipolar

adalah

kepribadian

sikotimik,

dimana

kepribadian ini mempunyai ciri pergantian mood yang ekstrim dari


elasi ke murung dalam hitungan hari. Ketidakstabilan mood ini
dapat mengganggu pkerjaan dan hubungan sosial.(5)

Stresor berkepanjangan
Keadaan ekonomi keluarga yang kurang mampu, tanggung
jawab berat untuk mengasuh banyak anak sekaligus, dan hubungan
pernikahan yang tidak kondusif memberikan tekanan yang kronis,
sehingga mengganggu rasa aman dan harga diri.
Tingkat stres dapat bertambah dengan tiadanya orang yang
dapat dipercaya dan diandalkan untuk membantu menyelesaikan
masalah., ataupun sebagai pendengar. (5)

b. Faktor Presipitasi
Seseorang

yang

telah

memiliki

faktor-faktor

predisposisi

berpeluang besar untuk mengembangkan gangguan bipolar setelah


timbulnya faktor pemicu, yaitu peristiwa yang dapat menimbulkan stres
yang mendadak. Contohnya adalah kehilangan pekerjaan, kehilangan
orang terdekat, perceraian dan lain-lain.
Walaupun demikian, faktor ini harus diiinterpretasi dengan hatihati, apakah peristiwa tersebut merupakan sebab dari timbulnya
gangguan (mis: dipecat karena perusahaan bangkrut), atau merupakan
akibat dari gangguan yang sudah timbul (mis: dipecat karena kualitas
pekerjaan memburuk akibat gangguan afektif) (5)

Mekanisme pertahanan jiwa yang digunakan pada gangguan bipolar manik


umumnya penolakan (denial), berupa sikap defensif dari posisi depresi akibat
stress. Sedangkan mekanisme pertahanan jiwa yang digunakan pada depresi
umumnya introyeksi, memasukkan ke dalam obyek yang dibenci yang merupakan
sumber stres, lalu menjelma menjadi kecenderungan untuk menghukum diri. (1)
IV. Kriteria Diagnosis
1. DSM-IV-TR
Berdasarkan DSM-IV-TR, terdapat 2 bentuk utama gangguan
bipolar, yaitu :
1.

Gangguan bipolar I, dimana terdapat perjalanan penyakit yang


terdiri dari satu atau lebih episode manik dan kadang-kadang episode
depresi berat. Dapat juga terjadi episode campur,yaitu suatu periode
sekurang-kurangnya satu minggu terdapat episode manik dan
episode depresi setiap hari.

2.

Gangguan bipolar II, ditandai dengan periode depresi berat dan


hipomanik, tanpa episode manik. (1,4)
Kriteria diagnostik untuk episode depresi berat berdasarkan DSM-

IV-TR : (1)
A.

Lima atau lebih gejala di bawah ini harus ada selama dua minggu
dan terdapat perubahan dari fungsi sebelumnya.; sekurangkurangnya terdapat satu gejala depresi atau kehilangan keinginan
atau harapan.
(1)

Depresi sepanjang hari, hampir setiap hari, yang dikeluhkan


secara subyektif (merasa sedih, atau kosong), atau berdasarkan
pengamatan orang lain
Note : pada anak dan remaja, dapat berupa mood yang mudah
tersinggung

(2)

Kehilangan minat atau kesenangan pada semua atau hampir


semua kegiatan sepanjang hari, hampir setiap hari

(3)

Kehilangan berat badan yang signifikan tanpa diet, atau


penurunan atau peningkatan selera makan hampir setiap hari

(4)

Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari

(5)

Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari

(6)

Lemah atau kehilangan energi hampir setiap hari

(7)

Merasa tidak berharga atau merasa bersalah berlebihan (dapat


menjadi delusi), hampir setiap hari

(8)

Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi,


atau tidak mampu mengambil keputusan hampir setiap hari

(9)

Sering berpikir tentang mati (buakan takut mati), sering


memiliki ide bunuh diri tanpa rencana yang spesifik, atau
melakukan percobaan bunuh diri atau memiliki rencana yang
spesifik untuk bunuh diri

B.

Tidak ditemukan gejala yang masuk dalam kriteria episode campur.

C.

Gejala menunjukkan tekanan atau kegagalan dalam masyarakat,


pekerjaan, atau area fungsional lain yang penting.

D.

Gejala bukan karena efek fisiologis dari obat

E.

Gejala tidak lebih baik dari kehilangan, seperti kehilangan seseorang


yang dicintai, gejala menetap selama dua bulan, atau ditandai dengan
kegagalan fungsional, kegemaran abnormal yang tidak berguna,
kehilangan harapan, ide bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi
psikomotor.
Kriteria diagnostik untuk episode manik berdasarkan DSM-IV-TR(1):

A.

Adanya suatu periode yang jelas dimana terdapat peningkatan


suasana perasaan yang menetap dan abnormal, perasaan yang
meluap-luap, atau mudah tersinggung, sekurang-kurangnya satu
minggu

B.

Selama periode gangguan mood, terdapat tiga (atau lebih), gejala di


bawah ini (empat jika gangguan mood hanya mudah tersinggung)
dan telah ada derajat yang tampak :
(1)

Peningkatan percaya diri

(2)

Penurunan kebutuhan tidur (merasa cukup beristirahat setelah


tidur 3 jam)

(3)

Lebih banyak bicara daripada biasanya atau mempunyai


tekanan untuk terus berbicara

(4)

Fligt of ideas

(5)

Distraktibilitas

(6)

Agitasi psikomotor

(7)

Memiliki keinginan yang berlebihan dan kesenangan untuk


melakukan aktivitas yang dapat mencelakakan

C.

Gejala tidak termasuk dalam kriteria episode campur

D.

Gangguan mood cukup berat untuk menyebabkan kegagalan


berfungsi dalam pekerjaan, atau dalam kegiatan sosial sehari-hari
atau dalam hubungan dengan orang lain, atau sampai memerlukan
perawatan di rumah sakit untuk mencegah melukai diri sendiri atau
orang lain, atau ada gambaran psikotik

E.

Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari obat atau penyakit
umum

Note : episode mirip manik yang jelas disebabkan oleh pengobatan


somatik antidepresan (seperti obat-obatan, ECT, terapi cahaya) tidak
digolongkan pada gangguan bipolar I.
Kriteria diagnostik untuk episode hipomanik berdasarkan DSM-IV-TR(1):
A.

Adanya suatu periode yang jelas dimana terdapat peningkatan


suasana perasaan yang menetap dan abnormal, perasaan yang
meluap-luap, atau mudah tersinggung, selama 4 hari, yang jelas
berbeda dari mood nondepresi pada umumnya

B.

Selama periode gangguan mood, terdapat tiga (atau lebih), gejala di


bawah ini (empat jika gangguan mood hanya mudah tersinggung)
dan telah ada derajat yang tampak :
(1)

Peningkatan percaya diri

(2)

Penurunan kebutuhan tidur (merasa cukup beristirahat setelah


tidur 3 jam)

(3)

Lebih banyak bicara daripada biasanya atau mempunyai


tekanan untuk terus berbicara

(4)

Fligt of ideas

(5)

Distraktibilitas

(6)

Agitasi psikomotor

(7)

Memiliki keinginan yang berlebihan dan kesenangan untuk


melakukan aktivitas yang dapat mencelakakan

C.

Episode berhubungan dengan perubahan fungsional yang tegas yang


tidak tergambarkan pada orang tanpa gejala

D.

Gangguan mood dan perubahan fungsional dapat diobservasi oleh


orang lain

E.

Episode tidak cukup berat untuk menimbulkan kegagalan dalam


masyarakat dan pekerjaan, atau tidak memerlukan perawatan di
rumah sakit dan tidak ada gambaran psikotik

F.

Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari obat atau penyakit
umum

Note : Hypomanik like episode yang jelas disebabkan oleh pengobatan


somatik antidepresan (seperti obat-obatan, ECT, terapi cahaya) tidak
digolongkan pada gangguan bipolar II.
2. PPDGJ-III
PPDGJ-III membagi gangguan afektif bipolar menjadi :
F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
Pedoman diagnostik :

(a)

episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk


hipomania

(b)

harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain


(hipomanik, manik, depresi, atau campuran) di masa lampau

F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik
Pedoman diagnostik :
(a)

episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania


tanpa gejala psikotik

(b)

harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain


(hipomanik, manik, depresi, atau campuran) di masa lampau

F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
Pedoman diagnostik :
(a) episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania
dengan gejala psikotik
(b) harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik, depresi, atau campuran) di masa lampau
F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresi ringan atau sedang
Pedoman diagnostik :
(a) episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk depresi
ringan ataupun sedang
(b) harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik, depresi, atau campuran) di masa lampau

F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresi berat tanpa gejala
psikotik

Pedoman diagnostik :
(a) episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode
depresi berat tanpa gejala psikotik
(b) harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik, depresi, atau campuran) di masa lampau
F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresi berat dengan gejala
psikotik
Pedoman diagnostik :
(a) episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode
depresi berat dengan gejala psikotik
(b) harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik, depresi, atau campuran) di masa lampau
F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini episode kini campuran
Pedoman diagnostik :
(a) episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik,
hipomanik, dan depresi yang tercampur atau bergantian dengan
cepat (gejala mania/hipomania, dan depresi sama-sama
mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang
sekarang, dan telah berlangsung sekurang-kurangnya dua
minggu)
(b) harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik, depresi, atau campuran) di masa lampau
F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama
beberapa bulan terakhir ini, tetapi pernah mengalami sekurangkurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran
di masa lampau dan ditambah sekurang-kurangnya satu episode
afektif lain (hipomanik, manik, depresi, atau campuran)

F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya


F31.9 Gangguan afektif bipolar YTT
Kriteria diagnostik hipomania berdasarkan PPDGJ-III :

derajat gangguan yang lebih ringan dari mania, afek yang meninggi
atau berubah disertai peningkatan aktivitas, menetap selama sekurangkurangnya beberapa hari berturut-turut, pada suatu derajat intensitas
dan yang bertahan melebihi apa yang digambarkan bagi siklotimia, dan
tidak disertai halusinasi atau waham

pengaruh nyata atas kelancaran aktivitas dan sosial memang sesuai


dengan diagnoosis hipomania, akan tetapi bila kekacauan itu berat atau
menyeluruh maka diagnosis mania harus ditegakkan

Kriteria diagnostik mania tanpa gejala psikotik berdasarkan PPDGJ-III :

episode harus berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu dan cukup


berat sampai mengacaukan seluruh atau hampir seluruh pekerjaan dan
aktivitas sosial yang biasa dilakukan

perubahan afek harus disertai dengan energi yang bertambah sehingga


terjadi aktivitas berlebihan, percepatan, dan kebanyakan bicara,
kebutuhan tidur yang berkurang, ide-ide perihal kebesaran/grandios
ideas atau terlalu optimistik

Kriteria diagnostik mania dengan gejala psikotik berdasarkan PPDGJ-III :

gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat

harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat


berkembang menjadi waham kebesaran, iritabilitas dan kecurigaan
menjadi waham kejar. Waham dan halusinasi sesuai dengan afek
tersebut

Kriteria diagnostik episode depresi ringan berdasarkan PPDGJ-III :

10

sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi

ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya

tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya

lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu

hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa
dilakukannya

Kriteria diagnostik episode depresi sedang berdasarkan PPDGJ-III :

sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi

ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya

lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu

menghadapi kesulitan yang nyata untuk meneruskan kegiatan sosial,


pekerjaan, dan urusan rumah tangga

Kriteria diagnostik episode depresi berat tanpa gejala psikotik berdasarkan


PPDGJ-III :

semua 3 gejala utama depresi harus ada

ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa


diantaranya harus berintensitas berat

bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor)


yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu
untuk melaporkan gejalanya secara rinci

episode depresi biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2


minggu, akan tetapi bila gejala amat berat dan beronset sangat cepat,
masih dibenarkan menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang
dari 2 minggu

sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial,


pekerjaan, dan urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat
terbatas

11

Kriteria diagnostik episode depresi berat dengan gejala psikotik


berdasarkan PPDGJ-III :

memenuhi kriteria episode depresi berat

disertai waham, halusinasi, atau stupor depresi. Waham biasanya


melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan, atau malapetaka yang
mengancam ,dan pasien merasa bertanggung jawab atas itu. Halusinasi
auditorik atau olfaktorik biasanya berupa suara yang menghina atau
menuduh, atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi
psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.
Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi
atau tidak serasi dengan afek (mood congruent)

V. Gambaran Klinis
1. Episode Depresi
Berdasarkan PPDGJ-III terdapat tiga variasi dari episode depresi yaitu
depresi ringan, sedang, dan berat. (1)
Gejala utama dari depresi adalah(1):

Afek depresi

Kehilangan minat dan kegembiraan

Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah


(rasa lelah yang nyata setelah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas

Gejala lainnya(1) :

Konsentrasi dan perhatian berkurang

Harga diri dan kepercayaan diri berkurang

Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

Pandangan tentang masa depan dan pesimistis

Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

Tidur terganggu

Nafsu makan berkurang

12

Untuk episode depresi dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan


masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakkan diagnosis. Kategori
diagnosis episode depresi ringan, sedang, dan berat hanya digunakan untuk
episode depresi tunggal yang pertama, episode berikutnya hanya diklasifikasikan
dibawah salah satu diagnosis gangguan depresi berulang. (1)
Pasien menunjukkan gejala depresi seperti merasa sedih, tidak mempunyai
keinginan untuk melakukan sesuatu, kehilangan harapan, merasa tidak berharga,
beberapa pasien mengeluh sakit dan tidak dapat menangis. (1)
Dua per tiga pasien depresi memiliki ide bunuh diri dan sekitar 10-15%
melakukan bunuh diri. Beberapa pasien depresi tampak tidak peduli dengan
depresinya dan tidak mengeluhkan perubahan suasana perasaannya, meskipun
mereka menarik diri dari keluarga, teman, dan aktivitas yang mereka senangi.
Sebagian besar pasien depresi mengeluhkan berkurangnya energi, kesulitan
menyelesaikan pekerjaan, dan kehilangan motivasi untuk memulai kegiatan.
Sekitar 80% pasien mengeluh gangguan tidur. (1)
Ansietas merupakan gejala umum dari depersi yang mengenai hampir 90%
pasien depresi. Selain itu didapatkan juga gejala vegetatif seperti mens yang
abnormal, masalah seksual dan masalah somatik, ketidakmampuan berkonsentrasi
dan kegagalan berpikir. (1)
Fobia sekolah dan kelekatan yang berlebihan dengan orang tua merupakan
gejala depresi pada anak Kegagalan nilai akademis, penyalahgunaan zat
psikoaktif, perilaku antisosial, seksual promiskuitas, dan melarikan diri dari
rumah merupakan gejala depresi pada remaja. Pada orang dewasa, depresi sering
berhubungan dengan status

socialekonomi,

kehilangan

pasangan hidup,

penyakit ,dan isolasi sosial. Pada orang dewasa, depresi sering muncul dalam
keluhan somatis. (1)
2. Episode Manik
Peningkatan perasaan seperti euforia, perasaan yang meluap-luap, atau
mudah tersinggung adalah tanda dari episode manik. Beberapa pasien manik dapat
membuka pakaiannya di tempat umum, mengenakan pakaian atau perhiasan yang

13

mencolok, pasien biasanya impulsive. Mereka mempunyai kecenderungan untuk


memperhatikan politik, agama, keuangan, dan seksual. (1)
VI. Pemeriksaan Status Mental
1. Episode Depresi
Gambaran Umum
Gejala yang paling sering terjadi adalah retardasi psikomotor, meskipun
begitu agitasi psikomotor yang ditandai dengan telapak tangan berkeringat
berlebihan dan mencabuti rambut sering terjadi pada orang tua dengan depresi.
Secara klasik pasien depresi bungkuk, tidak ada pergerakan spontan, merasa putus
asa, dan menghindari tatap mata. (1)
Mood, afek, perasaan
Gejala utamanya adalah perasaan depresi, meskipun begitu sekitar 50%
pasien menyangkal perasaan depresi dan tidak terlihat depresi. Selain itu dapat
juga ditemukan menarik diri dari lingkungan sosial dan penurunan aktivitas. (1)
Bicara
Biasanya pasien depresi sedikit bicara dan bersuara pelan, mereka berespon
lambat terhadap pertanyaan dan menjawabnya dengan satu kata. (1)
Gangguan persepsi
Delusi dan halusinasi yang konsisten pada pasien depresi disebut mood
congruent, yang mencakup perasaan bersalah, penuh dosa, tidak berharga, miskin,
gagal, teraniaya, dan menderita penyakit somatik terminal. (1)

Pikiran
Pasien depresi memiliki pandangan negatif terhadap dunia dan dirinya
sendiri, pikiran mereka sering berisi tentang kehilangan, perasaan bersalah, ide

14

bunuh diri, dan kematian. Sekitar 10% pasien depresi memiliki gejala gangguan
pikiran yang biasanya berupa bloking dan miskin ide. (1)
Sensoris dan kognisi
Sebagian besar pasien depresi mempunyai orientasi yang baik terhadap
tempat, waktu, dan orang, meskipun mereka seringkali tidak memiliki cukup
energi atau minat untuk menjawab pertanyaan pemeriksa. (1)
Ingatan
Sekitar 50-75% pasien depresi mengalami gangguan kognisi dan beberapa
pasien mengeluhkan gangguan konsentrasi dan ingatan. (1)
Kontrol impuls
Sekitar 10-15% pasien depresi melakukan tindakan bunuh diri, dan sekitar
2/3 pasien depresi memiliki ide bunuh diri. Pasien depresi dengan gambaran
psikotik memikirkan untuk membunuh orang sebagai hasil dari delusinya, tetapi
pasien dengan depresi berat sering kehilangan motivasi atau energi untuk
melakukan tindakan impulsif atau tindakan kekerasan. (1)
Penilaian dan Tilik diri
Penilaian pasien dapat dinilai dengan melihat tingkah laku pasien di masa
lalu dan saat anamnesa. Penilikan diri pasien terhadap gangguan yang dideritanya
biasanya berlebihan, mereka sangat tertekan menghadapi gejala, gangguan, dan
masalah dalam kehidupannya. (1)
Reliabilitas
Pasien depresi sangat berlebihan terhadap masalah yang buruk dan pesimis
terhadap yang baik (1)
2. Episode Manik
Gambaran Umum

15

Gejala yang paling sering terjadi adalah elasi, mudah tersinggung,


peningkatan aktivitas, dan ide pribadi yang dianggap sangat penting.
Mood, afek, perasaan
Gejala utamanya adalah ceria berlebih, optimisme yang meningkat, dan bisa
menularkan perasaannya. Bisa juga muncul dalam bentuk mudah tersinggung dan
epat marah. Mood bisa bervariasi dalam sehari, dan kadang disela oleh episode
depresi.(5)
Bicara
Bicara menjadi cepat dan banyak, memperihatkan alur pikiran yang cepat
(pressure of speech). Pada tingkat parah, isi pembicaraan tidak dapat
diikuti,sehingga disebut flight of ideas. (5)
Gangguan persepsi
Terdapat halusinasi pada kasus yang parah. Isinya biasanya berupa bisikan
tentang kekuatan, maupun yang berisi muatan agama. (5)
Pikiran
Ide-ide kebesaran sering muncul, di samping itu pasien sering merasa idenya
orisinil, hebat, dan penting, serta hasil kerja mereka mengagumkan. Kadang
pasien menjadi berlebihan, tertama dalam membelanjakan uang, membeli barang
mewah dan menanamkan uang pada bisnis yang beresiko.
Pada kasus yang parah, dapat terjadi waham kebesaran, misalnya pasien
mempercayai bahwa ia adalah seorang nabi ataupun orang yang penting dalam
pemerintahan. Terkadang timbul waham kejar, dan waham lainnya yang dapat
berubah-ubah. (5)

Penilaian dan Tilik diri

16

Kemampuan penilaian dan tilik diri dapat bervariasi, umumnya pasien sulit
mengerti mengapa ide berlebihan dan pengeluaran uang mereka yang besar
dilarang. Jarang yang merasa diri mereka sakit dan membutuhkan pengobatan. (5)
VII. Diagnosis Banding
Schizophrenia
Sangat sulit membedakan antara episode manik dengan schizophrenia.
Biasanya episode manik mamiliki onset lebih cepat, selain itu gejala elasi, senang
berbicara, dan hiperaktivitas lebih menonjol pada episode manik. Sementara pada
episode depresi dapat muncul gambaran kataton, oleh karena itu pada
pemeriksaan harus dicari apakah ada episode manik atau depresi pada riwayat
penyakit dahulu dan riwayat keluarga dengan gangguan mood. (1)
Penyakit nonpsikiatri
Pasien depresi biasanya datang ke dokter dengan keluhan somatis. Obatobatan seperti obat antihipertensi, obat sedatif, obat jantung, antipsikotik,
antiepilepsi, analgesik, dapat menyebabkan depresi, selain itu pengobatan
antidepresan juga dapat berhubungan dengan presipitasi manik. Kondisi
neurologis

seperti

penyakit

parkinson,

demensia,

epilepsi,

penyakit

cerebrovaskular, dan tumor dapat memiliki gejala depresi yang tidak berhubungan
dengan kondisi fisik pasien. (1)
VIII. Penatalaksanaan
Perawatan di Rumah Sakit
Indikasi perawatan pasien depresi di rumah sakit adalah adanya resiko
bunuh diri atau membunuh, dan adanya penurunan kemampuan dasar yang jelas,
seperti ketidakmampuan pasien untuk mendapatkan makanan dan tempat
perlindungan, riwayat gejala yang berkembang dengan pesat dan hancurnya
system pendukung pasien. (1,4)

17

Terapi Psikososial
Terapi psikososial mencakup terapi kognitif, terapi perilaku, dan terapi
interpersonal. Tujuan dari terapi kognitif adalah untuk mengurangi episode
depresi dan mencegah eksaserbasi dengan cara membantu pasien mengidentifikasi
masalah dan berpikiran positif. Terapi perilaku adalah terapi berdasarkan pada
hipotesis bahwa perilaku maladaptive adalah hasil dari sedikitnya timbale balik
positif yang diterima dan penolakan dari lingkungan sosial. Sedangkan tujuan dari
terapi psikoanalitik antara lain merubah kepribadian atau karakter pasien dan
meningkatkan kepercayaan diri pasien. (1)
Farmakoterapi
1. Lithium
Kerja farmakologis dari lithium belum banyak diketahui untuk dapat
menjelaskan efek terapeutiknya, namun fungsinya dalam meningkatkan fungsi
serotonin otak sangat berguna.
Ginjal menjadi tempat ekskresi dari lithium, dengan mekanisme sama
seperti sodium.
Konsentrasi plasma yang diperlukan untuk profilaksis adalah 0,4-0,8
mmol/l dapat ditingkatkan hingga 1,2 mmol/l. Sedangkan untuk pengobatan
mania akut dapat diberikan dosis 0,9-1,2 mmol/l. Konsentrasi stabil dalam
plasma didapat 12 jam setelah pemberian terakhir.
Efek samping yang dapat terjadi adalah diuresis, tremor, mulut kering, rasa
logam pada lidah, lemah dan lesu. Efek lanjutnya adalah tremor halus,
polyuria dan polydipsi, pembesaran kelenjar tiroid, hipotiroid, gangguan
memori, dan erubahan pada gambaran EKG.
Sebelum pemberian lithium, pasien harus diperiksa dahilu secara
menyeluruh, dan diberikan edukasi mengenaj pengobatan, baik dari efek
samping, efek toksik, dosis, perlunya memeriksa kadar litium dalam serum,
pengaturan diet rendah garam, dan kondisi khusus yang dapat menjadi
indikasi henti obat. (5)

18

2. Carbamazepin
Carbamazepine telah dikenal sebagai antikonvulsi, namun pada
perkembangannya dapat digunakan sebagai pencegahan kambuhnya
gangguan afektif. Obat ini cukup efektif pada pasien yang tak bereaksi
terhadap lithium, dan pada ganguan manik-depresif yang berulang cepat.
Dosissama dengan yang digunakan pada terapi epilepsy. Efek samping
terjadi bila kadar dalam plasma tinggi, yaitu mabuk, pusing, penglihatan
ganda, dan ruam kulit. Terjadi interaksi denangan hormon pada pil
kontrasepsi, sehingga perlu dipertimbangkan penggunaan alat kontrasepsi
lain pada penggunaan carbamazepin. (5)
3. Sodium Valproat
Sperti carbamazepin, sodium valproat awalnya merupakan antikonvulsi.
Dapat digunakan pada manik akut. Efeknya kurang kuat untuk
pencegahan, namun sering dicobakan pada pasien yang tidak dapat
menoleransi lithium ataupun dengan carbamazepin. Efek samping yang
umum adalah mengantuk, lelah, tremor, dan gangguan saluran pencernaan.
Karena efeknya yang trombositopenik, pasien harus diperiksa dahulu
sebelum diberikan pengobatan. (5)

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan&Sadocks Synopsis of Psychiatry,
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 9th ed. Philadelphia ; Lippincott
Williams and Wilkins. 2003 :
2. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa Di Indonesia III,
cetakan pertama, Departemen Kesehatan R.I. Direktorat Jendral Pelayanan
Medik. 1993 :
3. Mansyur Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran, edisi ke 3. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2000
4. Bipolar

Disorder.

Wikipedia.

"http://en.wikipedia.org/wiki/Bipolar_disorder. 2005
5. Gelder M, Mayou R, Geddes J. Psychiatry 2 nd Ed. New York; Oxford
University Press. 2000
6. Braunwald E, Fauci A, Kasper DL. Harrisons Principles Of Internal
Medicine 15th Ed. New York. McGraw Hill. 2001

20