Anda di halaman 1dari 29

BAB 1

PENDAHULUAN
Wanita normal yang mengalami kehamilan akan mengalami perubahan fisiologis dan
anatomik pada berbagai sistem organ yang berhubungan dengan kehamilan akibat terjadi
perubahan metabolik yang disebabkan oleh kebutuhan janin, plasenta, dan rahim. Perubahan
yang terjadi dapat mencakup sistem gastrointestinal, respirasi, kardivaskular, urogenital,
muskuloskeletal, dan saraf. Adaptasi normal sistem kardiovaskular yang dialami seorang
wanita yang mengalami kehamilan akan memberikan gejala dan tanda yang sukar dibedakan
dari penyakit jantung. Perubahan ini bila terjadi pada wanita hamil dengan kelainan jantung
sebelumnya akan menyebabkan perubahan yang tidak dapat ditoleransi oleh tubuh ibu [1].
Penyakit jantung dapat menjadi salah satu faktor penyebab kematian ibu. Penyakit ini
berpengaruh sekitar 1 % pada kehamilan. Di Amerika Serikat, penyakit jantung berpengaruh
pada 0,4- 4 % kehamilan[2].
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, penyakit jantung adalah
penyebab utama kematian pada wanita yang berusia 25 hingga 44 tahun. Gangguan jantung
bervariasi tingkat keparahannya dan mempersulit sekitar 1 persen dari kehamilan serta
memberikan kontribusi yang signifikan terhadap morbiditas dan mortalitas ibu. Sebagai
contoh, Chang dkk (2003) melaporkan bahwa pada tahun1991 hingga 1999, kardiomiopati
bertanggung jawab atas 8% dari 4200 kematian yang berhubungan dengan ibu hamil di
Amerika Serikat. Dari Brasil, Avila dan rekannya (2003) melaporkan angka kematian ibu
menjadi 2,7 persen dalam 1000 kehamilan dengan komplikasi penyakit jantung. Selain
kematian ibu, gangguan jantung juga menyumbang 7,6 persen dari morbiditas berat obstetrik
yang di diagnosis selama rawat inap untuk kelahiran di Amerika Serikat pada tahun 1991[2].
Pada perempuan dengan penyakit katup jantung, perubahan hemodinamik normal
pada saat hamil dapat memicu gejala penyakit jantung pada perempuan yang sebelumnya
dalam keadaan stabil, atau memicu eksaserbasi gejala pada perempuan yang sebelum hamil
telah memiliki gejala penyakit jantung. Idealnya, rencana prekonseptual adalah: 1)
menyarankan kepada setiap perempuan mengenai risiko kehamilan terhadap ibu dan janin, 2)
mengoptimalisasi kondisi jantung ibu, 3) mengadakan monitoring ketat dan pengobatan yang
dimulai sebelum konsepsi dan dilanjutkan hingga hamil dan periode postpartum. Namun,
beberapa perempuan didiagnosis dengan penyakit katup karena dekompensasi hemodinamik
selama hamil, dan dengan banyak yang mengetahui telah memiliki penyakit katup datang

untuk evaluasi medic setelah hamil. Evaluasi dan pengobatan pada pasien-pasien ini
mempunyai tantangan tersendiri, tetapi masih banyak yang berhasil untuk hamil[3].

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Gagal jantung kongestif (CHF) adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa
darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap nutrien dan
oksigen. Mekanisme yang mendasar tentang gagal jantung termasuk kerusakan kontraktil dari
jantung yang mengarah pada curah jantung kurang dari normal. Kondisi umum yang
mendasari termasuk ateroskeloris, hipertensi pulmonal, penyakit katup, penyakit jantung
rematik, penyakit inflamasi atau penyakit jantung bawaan. Faktor sistemik dapat menunjang
perkembangan dan keparahan dari gagal jantung. Peningkatan laju metabolik (misalnya :
demam, koma, tirotoksitosis), hipoksia dan anemia membutuhkan suatu peningkatan curah
jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen[4].
2.2 Epidemiologi[3]
Perkembangan pengobatan yang efektif untuk penyakit jantung pada masa bayi dan
masa kanak-kanak telah mengakibatkan peningkatan prevalensi penyakit katup bawaan pada
wanita usia subur, sering dikaitkan dengan cacat jantung lainnya. Penyakit katup reumatik
juga tetap sering terjadi pada wanita usia subur, meskipun penurunan secara keseluruhan
dalam insiden penyakit jantung rematik di Eropa dan Amerika Utara. Penyebab lain penyakit
katup pada wanita muda meliputi penyakit katup mitral myxomatous (prolaps katup mitral),
sebelum endokarditis, penyakit katup berhubungan dengan gangguan sistemik (sindrom
Marfan, lupus eritematosus sistemik, gangguan pembuluh darah inflamasi) dan penyakit
katup radiasi.

2.3 Etiologi
Di negara negara berkembang, penyebab tersering gagal jantung kongestif adalah[4,5]:
1. Kelainan otot jantung menyebabkan penurunan kontraktilitas jantung. Hal yg
mendasari penyebab kelainan fungsi otot mencakup atero sclerosis koroner, hipertensi
arterial dan degeneratif atau inflamasi.
2. Penyakit arteri koroner yang menimbulkan infark miokardium dan tidak berfungsinya
miokardium (kardiomiopati iskemik) karena terganggunya aliran darah ke otot
jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis akibat penumpukan asam laktat. Infark miokard
3

biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Penyebab paling sering adalah


kardiomiopati alkoholik, miokarditis viral (termasuk infeksi HIV) dan kardiomiopati
dilatasi tanpa penyebab pasti (kardiomiopati idiopatik).
3. Hipertensi Sistemik / pulmonal (peningkatan afterload), meningkatkan
beban kerja jantung yang mengakibatkan hipertropi serabut otot jantung.
Efek hipertropi miokardium dianggap sebagai kompensasi karena meningkatkan
kontraktilitas jantung, karena alasan yg tidak jelas hipertropi otot jantung dapat
berfungsi secara normal, akhirnya terjadi gagal jantung.
4. Peradangan dan penyakit myocardium degeneratif gagal jantung karena kondisi ini
secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
5. Penyakit jantung lain. Mekanisme yang biasanya terlibat mencakup
gangguan aliran darah melalui jantung (mis; stenosis katup semilunar),
ketidakmampuan jantung untuk mengisidarah (mis; tamponade
pericardium, perikarditis konstriktif, atau stenosis katup AV),
atau pengosongan jantung abnormal (mis; insuf katup AV). Peningkatan mendadak
afterload akibat meningkatnya tekanan darah sistemik (hipertensi Maligna) dapat
menyebabkan gagal jantung meskipun tidak ada hipertropi miokardial.
6. Faktor sistemik : demam, tirotoksikosis, hipoksia, anemia ini memerlukan
peningkatan curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik. Hipoksia
dan anemia dapat menurunkan suplai oksigen kejantung. Asidosis
(respiratorik / metabolic) dan abnormalitas elekt rolit dapat menurunkan
kontraktilitas jantung. Disritmia jantung akan terjadi dengan sendirinya
secara sekunder akibat gagal jantung menurunkan efisi ensi keseluruhan
fungsi jantung.
Penyebab gagal jantung kongestif selama kehamilan adalah[6]:

Fluid overload
Acute myocarditis (viral)
Cardiomyopathy (secondary or
idiopathic)
Myocardial infarction
Peripartum cardiomyopathy
Alcohol
Mitral stenosis
Aortic stenosis
Ventricular tachycardia
Atrial fibrillation
4

Preeclampsia or toxemia
2.4 Fisiologi Hemodinamik Kehamilan dan Patofisiologi Gagal Jantung Kongestif pada
Kehamilan
2.4.1 Fisiologi Hemodinamik Selama Hamil
Hamil menyebabkan perubahan hemodinamik secara signifikan yang berlanjut selama
masa kehamilan, melahirkan, dan periode postpartum. Selama hamil, beban jantung
meningkat karena sirkulasi placenta dan pengaruh hormone, dengan peningkatan curah
jantung 30-50%, peningkatan denyut jantung 10-20 kali per menit, dan peningkatan volum
darah 30-50%[3]. Tekanan darah menurun sekitar 10-15 mmHg karena penurunan resistensi
vascular sistemik yang disebabkan oleh circuit resistensi rendah oleh plasenta dan
vasodilatasi[7]. Peningkatan volum darah tidak disertai dengan perubahan massa sel darah
merah, sehingga terjadi penurunan hematokrit. Sebagian besar perubahan hemodinamik ini
mulai sejak awal trimester pertama, puncaknya selama trimester kedua, dan mencapai plateau
pada trimester ketiga[3].
Selama trimester ketiga, curah jantung dipengaruhi oleh posisi tubuh, dimana posisi
supine menyebabkan kompresi caval oleh uterus garavida. Hal ini menyebabkan penurunan
aliran balik vena, sehingga dapat menimbulkan hipotensi supine dari kehamilan. Stroke
volume secara normal meningkat pada trimester pertama dan kedua lalu menurun pada
trimester ketiga. Hal ini disebabkan obstruksi vena cava parsial[7].
Masa persalinan dan postpartum disertai dengan perubahan yang berat dan cepat pada
system sirkulasi. Selama persalinan, curah jantung, denyut jantung, dan resistensi vascular
sistemik meningkat setiap kontraksi uterus. Nyeri pada saat persalinan dan rasa gelisah
memicu peningkatan denyut jantung dan tekanan darah[7].

Grafik Perubahan Hemodinamik Selama Masa Kehamilan[7]

Selama hamil, preload meningkat dengan penambahan volum darah dimana afterload
menurun karena vasodilatasi sistemik dan circuit resistensi rendah di dalam plasenta. Denyut
jantung dan stroke volum meningkat, sehingga curah jantung meningkat hampir dua kali.
Pada masa kehamilan, terjadi hiperkoagulasi sehingga memungkinakan peningkatan risiko
tromboembolisme. Efek kardiovaskular pada masa kehamilan disimpulkan pada tabel berikut.
Perubahan-perubahan ini mungkin tidak balik ke kondisi awal seluruhnya hingga minggu 12
postpartum[6].
Table 1 [7]

Hemodynamic
Parameter

Change

Cardiac output

Increases

Heart rate

Increases

Stroke volume

Increases

Peak
Effect

Potential Signs and


Symptoms
Hyperdynamic; S3;
26 weeks
tachycardia
3rd
Palpitations; tachycardia
trimester
26 weeks Edema; nocturia; cardiac
6

Total peripheral
resistance

Decreases

Increases but
Erythrocyte volume less plasma
volume
Blood volume

Increases

Respiratory rate

Increases

Coagulation

Increases

chamber enlargement
Hypotension; edema;
20 weeks
syncope
Term

Physiologic anemia of
pregnancy

Edema; cardiac
enlargement
30 weeks Hyperpnea; dyspnea
3rd
Thrombotic event
trimester
32 weeks

2.4.2 Patofisiologi Gagal Jantung Kongestif pada Kehamilan


Banyak gejala yang timbul selama hamil normal mirip dengan gejala-gejala yang
terjadi pada pasien yang memiliki penyakit jantung pembuluh darah. Perempuan biasanya
menunjukkan lelah, nyeri dada, dyspnea, orthopnea, hyperpnea, palpitasi, atau gejala
vasovagal. Namun, hal yang penting adalah membedakan gejala-gejala yang abnormal,
seperti beberapa gejala yang timbul saat istirahat, nyeri dada saat beraktifitas, dyspnea berat
saat beraktifitas, orthopnea yang progresif, paroxysmal nocturnal dyspnea, takikardi >120
kali per menit, atau adanya aritmia dari hasil ECG. Sinkop saat beraktifitas atau istirahat
mungkin disebabkan oleh adanya aritmia[6].
Biasanya, tanda abnormal seperti pulsasi vena jugular, pulsasi apical yang difus,
splitting S1 dengan aksentuasi dari S2 komponen pulmonal karena peningkatan aliran darah,
atau S3, mungkin normal selama hamil. Murmur sistolik dengan gradasi 1-2 disepanjang
batas sternum kiri atas adalah hal biasa pada saat hamil dan mungkin terjadi pada >90%
perempuan hamil. Bisa juga terdengar suara dengungan vena. Sinus aritmia bisa terjadi, dan
edema selama hamil sering ditemukan. Palpitasi dan takikardi kadang timbul karena fisiologi
peningkatan denyut jantung. Kemungkinan hal pemicu lain adalah anemia selama hamil,
keadaan hipermetabolisme, atau dekondisionasi jantung. Tanda abnormal selama hamil
adalah termasuk distensi vena jugular. Meskipun jantung bergerak kearah lateral dan apex
bergerak ke atas, hal ini bukan menandakan kardiomegali. Pengangkatan ventrikel
merupakan hal abnormal. Suara S2 komponen pulmonal yang sangat keras atau splitting yang
lebar dari S2 merupakan hal abnormal. Adanya suara gallop membutuhkan investigasi,
dimana disertai suara murmur sistolik yang kuat dengan thrill yang berlokasi dibeberapa
tempat di dada. Murmur diastolic seharusnya dievaluasi, karena hal ini tidak dijelaskan oleh
7

perubahan hemodinamik selama hamil. Supraventrikular aritmia atau ventricular aritmia


seharusnya diinvestigasi untuk mencari etiologi dan pengobatannya. Clubbing dan sianosis
selalu abnormal dan disertai dengan penyakit jantung congenital sianotik atau masalah di
paru[6].
Selama masa persalinan, perubahan hemodinamik kehamilan yang berinteraksi
dengan gangguan jantung harus diperhatikan. Setiap kontraksi, terdapat peningkatan curah
jantung dan stroke volume yang terjadi sekitar 300-500 cc bolus darah diinjeksi ke sirkulasi
perifer. Nyeri yang sangat dapat memicu takikardi. Penanganannya ditentukan oleh status
fungsional. Perempuan dengan New York Heart Association (NYHA) functional class I and II
memiliki gejala hanya pada saat beraktifitas dan mungkin hanya membutuhkan penanganan
umum dan observasi klinis. Pasien tersebut harus diberikan analgesi yang adekuat, karena
disfungsi jantung mungkin dieksaserbasi oleh nyeri yang menginduksi takikardi. Perempuan
dengan NYHA functional class III atau IV yang memiliki edema paru selama hamil mungkin
membutuhkan monitoring hemodinamik invasive untuk menilai tekanan pengisian
intracardiac dan mengatur status cairan selama persalinan dan postpartum. Pasien ini
membutuhkan oksigen. Jika monitor hemodinamik dipertimbangkan selama hamil, maka
monitornya dilanjutkan setidaknya 24 jam postpartum ketika terjadi perpindahan cairan.
Antikoagulasi profilaksi untuk deep venous thrombosis seharusnya diberikan hingga pasien
bergerak[6].
Selama persalinan, terdapat peningkatan curah jantung, denyut jantung, tekanan
darah, dan resistensi pembuluh darah, dimana semuanya ini terutama meningkat setiap
kontraksi. Nyeri dan kegelisahan berkontribusi dalam meningkatkan denyut jatung dan
tekanan darah, dimana pain control dan ansiolitik membantu dalam mengurangi perubahan
hemodinamik yang sigifikan. Pengeluaran placenta meningkatkan afterload dengan
mengeluarkan tempat bantalan pembuluh darah yang resistensi rendah, dan secara cepat
meningkatkan preload dengan aliran darah balik ke sirkulasi ibu. Kehilangan darah dapat
menyebabkan penurunan hematokrit. Perubahan ini merupakan kebutuhan pokok fungsi
jantung pada penderita katup jantung, kadang-kadang mengharuskan monitoring
hemodinamik secara invasive dan pengobatan medic yang agresif pada periode peripartum.
Pada persalinan yang berkomplikasi dengan kehilangan banyak darah, infeksi, aritmia, atau
masalah obstetric yang kompleks, kebutuhan-kebutuhan ini sangat diperkuat[3].
Penyakit katup jantung masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di
Negara berkembang. Pada Negara barat, meskipun prevalensi penyakit demam rematik
menurun, penyakit jantung rematik tetap masih ditemukan. Penyakit ini biasanya ditemukan
8

pada immigrant yang tidak memiliki akses baik ke fasilitias kesehatan. Di bawah ini,
dijelaskan beberapa penyakit katup jantung penyebabab gagal jantung yang bisa didapatkan
selama kehamilan[8].
1. Stenosis mitral
Endokarditis rematik merupakan penyebab pada tiga perempat kasus stenosis mitral.
Stenosis mitral sebagian besar disebabkan oleh penyakit jantung rematik, penyebab lain
adalah congenital stenosis mitral, systemic lupus erythematosus, rheumatoid arthritis, atrial
myxoma, malignant carcinoid, dan endokarditis bakteri (Tamam, 2012). Luas permukaan
katup mitral normal adalah 4 cm2. Jika stenosis mempersempit daerah ini menjadi kurang 2.5
cm2 maka biasanya mulai muncul gejala. Katup yang berkontraksi menghambat aliran darah
dari atrium kiri ke ventrikel kiri. Keluhan utama adalah dispnea akibat hipertensi vena paru
dan edema. Rasa lelah, palpitasi, batuk, dan hemoptisis juga sering terjadi[9].
Pada stenosis yang sempit, atrium kiri mengalami dilatasi, tekanan atrium kiri terus
menerus meningkat, dan dapat terjadi hipertensi pulmonal pasif yang signifikan. Peningkatan
preload yang terjadi pada kehamilan normal, serta factor lain yang meningkatkan curah
jantung, dapat menyebabkan kegagalan ventrikel disertai edema paru pada para wanita ini
yang curah jantungnya relative tidak berubah. Memang, sepermpat wanita dengan stenosis
mitral mengalami gagal jantung pertama kali sewaktu hamil. Karena pada sebagian dari
wanita ini murmur mungkin tidak terdengar maka gambaran klinisnya dapat mirip dengan
kardiomiopati peripartum idiopatik[9].
Pada stenosis yang signifikan, takikardi mempersingkat waktu pengisian diastolic
ventrikel dan meningkatkan gradient mitral. Peningkatan ini menyebabkan tekanan atrium
kiri serta vena dan kapiler paru meningkat dan dapat menyebabkan edema paru. Karena itu,
sinus takikardi sering diterapi secara profilaksi dengan obat penghambat . Takiaritmia
atrium, termasuk fibrilasi atrium, sering terjadi pada stenosis mitral dan diterapi secara
agresif. Fibrilasi atrium mempermudah terbentuknya thrombus mural dan embolisasi
srebrovaskular yang dapat menyebabkan stroke[9].
Secara umum, penyulit berbanding lurus dengan derajat stenosis katup. Ingatlah
bahwa para peneliti dalam sebuah studi besar di Kanada mendapatkan bahwa wanita dengan
luas katup mitral <2 cm2 memiliki risiko terbesar untuk mengalami penyulit. Dalam
penelitian lain dari University of Southern California Medical Center antara tahun 1979 dan
1998, Hameed dkk merawat 46 wanita hamil dengan stenosis mitral. Penyulit mencakup
gagal jantung pada 43 % dan aritmia pada 20%. Hambatan pertumbuhan janin lebih sering
terjadi pada wanita yang luas katup mitralnya kurang dari 1 cm2[9].
9

2. Regurgitasi mitral
Jika koaptasi (pertemuan permukaan) daun-daun katup mitral tidak pas sewaktu sistol
maka terjadi regurgitasi mitral. Hal ini akhirnya diikuti oleh dilatasi ventrikel kiri dan
hipertrofi eksentrik. Regurgitasi mitral kronis memiliki sejumlah penyebab, termasuk demam
rematik, prolapsus katup mitral, atau dilatasi ventrikel kiri apapun etiologinya, misalnya
kardiomiopati dilatasi. Penyebab yang lebih jarang adalah kalsifikasi annulus mitral, mungkin
beberapa obat penekan nafsu makan, dan pada wanita usia lanjut, penyakit jantung rematik.
Vegetasi katup mitral, endokarditis Libman Sacks, relative sering pada wanita dengan
antibody antifosfolipid. Hal ini kadang-kadang terdapat bersama dengan lupus eritematosus
sistemik. Insufisiensi mitral akut disebabkan oleh rupture korda tendinae, infark otot
papilaris, atau perforasi daun katup akibat endokarditis infeksi[9].
Pada pasien yang tidak hamil, inkompetensi katup mitral jarang menimbulkan gejala
dan penggantian katup jarang diindikasikan, kecuali terjadi endokarditis infektif. Regurgitasi
mitral juga ditoleransi dengan baik selama kehamilan, mungkin karena berkurangnya tahanan
vascular sistemik menyebabkan regurgitasi. Gagal jantung jarang terjadi selama hamil dan
terkadang takiaritmia perlu diterapi[9].
Pasien dengan regurgitasi katup sebelah kiri yang kronis kadang dalam keadaan baik
selama hamil karena penurunan afterload, tetapi memburuk selama persalinan dan
postpartum awal karena peningkatan aliran balik vena dan resistensi vascular. Pada periode
peripartum, diueresis mungkin dibutuhkan, dan pengurangan afterload mungkin membantu
dalam 24-48 jam setelah partus[3].
Sebaliknya, pada penyakit kronis, regurgitasi katup akut tidak ditoleransi dengan baik.
Pada perempuan yang tidak hamil, regurgitasi katup aorta akut, misalnya akibat diseksi aorta
atau endokarditis katup aorta, merupakan keadaan emergensi yang membutuhkan tindakan
operasi segera. Perempuan dengan regurgitasi mitral akut, misalnya karena rupture korda,
mungkin awalnya distabilisasi dengan pompa balon intra aorta, tetapi biasanya membutuhkan
tindakan bedah urgensi[3].
3. Stenosis Aorta
Ini adalah penyakit penuaan, dan pada wanita berusia kurang dari 30 tahun, penyakit
ini paling sering disebabkan oleh kelainan kongenital. Stenosis aorta itu sendiri menjadi
semakin jarang dijumpai sejak berkurangnya insiden demam rematik. Stenosis mengurangi
luas orifisium aorta normal yang besarnya 2 sampai 3 cm2 dan menimbulkan resistensi
10

terhadap ejeksi. Pengurangan luas katup menjadi seperempat ukuran normalnya


menimbulkan obstruksi berat terhadap aliran dan kelebihan tekanan progresif di ventrikel
kiri. Kemudian terjadi hipertrofi ventrikel kiri konsentrik dan, jika parah, tekanan akhir
diastolic menjadi meningkat, fraksi ejeksi berkurang dan curah jantung menurun. Manifestasi
klinis khas timbul belakangan dan mancakup nyeri dada, sinkop, gagal jantung, dan kematian
mendadak akibat aritmia. Usia harapan hidup rata-rata hanya 5 tahun setelah timbulnya nyeri
dada akibat olah raga, dan penggantian katup diindikasikan untuk pasien bergejala[9].
Stenosis aorta yang secara klinis signifikan jarang dijumpai pada wanita hamil.
Meskipun stenosis mitral sampai sedang dapat ditoleransi dengan baik namun stenosis yang
parah dapat mengancam nyawa. Masalah hemodinamik mendasar adalah curah jantung yang
tetap, yang berkaitan dengan stenosis berat. Selama kehamilan, sejumlah factor sering
semakin mengurangi preload sehingga memperparah curah jantung yang sudah menetap.
Factor-faktor tersebut mencakup analgesia regional, oklusi vena kava, dan perdarahan. Yang
penting, hal-hal ini juga mengurangi perfusi jantung, otak, dan uterus. Karena itu, stenosis
aorta berat sangat berbahaya selama kehamilan. Dari studi multisentra besar di Kanada oleh
Siu dkk bahwa terjadi peningkatan penyulit jika luas katup aorta <1.5 cm2[9].
4. Regurgitasi Aorta
Regurgitasi aorta adalah aliran diastolik darah dari aorta ke dalam ventrikel kiri.
Kausa umum inkompetensi katup aorta adalah demam rematik, kelainan jaringan ikat, dan
lesi congenital. Pada sindrom marfan, pangkal aorta mungkin melebar hingga terjadi
regurgitasi. Insufisiensi akut dapat terjadi pada endokarditis bakteri atau diseksi aorta.
Insufisiensi katup aorta dan mitral pernah dilaporkan berkaitan dengan obat penekanan nafsu
makan fenfluramin dan deksfenfluramin serta agonis dopamine yang berasal dari ergot. Pada
penyakit kronik, terjadi hipertrofi dan dilatasi ventrikel kiri. Hal ini diikuti oleh rasa lelah,
dispnea, dan edema yang muncul perlahan, meskipun kemudian biasanya diikuti oleh
perburukan cepat. Regurgitasi aorta umumnya ditoleransi baik selama kehamilan. Seperti
inkompetensi katup mitral, berkurangnya resistensi vascular diperkirakan memperbaiki
keadaan[9].
5. Stenosis pulmonal
Katup arteri pulmonal jauh lebih jarang terkena demam rematik daripada katup-katup
lain. Stenosis pulmonalis biasanya congenital dan juga mungkin berkaitan dengan tetralogi of
fallot atau sindrom Noonan. Pada wanita dengan stenosis berat, meningkatnya beban
hemodinamik pada kehamilan dapat memicu gagal jantung sisi kanan atau aritrium[9].

11

2.5 Diagnosis
2.5.1 Anamnesis Pada Ibu Hamil
1. Keluhan utama
Sadar atau tidak akan kemungkinan hamil, apakah semata-mata ingin periksa hamil.
Tanyakan apakah ada keluhan yang menyertai kehamilan tersebut. Mengenal kelainan
kardiovaskular pada wanita yang mengalami kehamilan sangat sukar. Gejala penyakit jantung
seperti kelelahan, dispnea, ortopnea, edema tungkai dan rasa tidak enak didada sering
didapati pada wanita normal dengan kehamilan. Tetapi dalam pemeriksaan sistem
kardiovaskuler perhatian perlu lebih ditingkatkan untuk mengenali kelainan kardiovaskuler
karena penyakit jantung. Perhatian perlu ditingkatkan bila pada wanita hamil bila didapati
dispnea atau ortopnea yang progressif dan membatasi aktifitas, hemoptisis, sincope saat
exercise atau nyeri dada saat exercise[10].
2. Riwayat kehamilan sekarang / riwayat penyakit sekarang
Ada/tidaknya gejala dan tanda kehamilan. Jika ada amenorea, kapan hari pertama haid
terakhir, siklus haid biasanya berapa hari. Hal ini penting untuk memperkirakan usia
kehamilan menstrual dan memperkirakan saat persalinan menggunakan Rumus Naegele (hari
+7, bulan -3, tahun + 1). Ditanyakan apakah sudah pernah periksa kehamilan ini sebelumnya
atau belum (jika sudah, berarti ini bukan kunjungan antenatal pertama, namun tetap penting
untuk data dasar inisial pemeriksaan kita). Apakah ada keluhan / masalah dari sistem organ
lain, baik yang berhubungan dengan perubahan fisiologis kehamilan maupun tidak[10].
3. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit sistemik lain yang mungkin mempengaruhi atau diperberat
kehamilan (penyakit jantung, paru, hati, diabetes melitus), riwayat alergi makanan/obat
tertentu dan sebagainya. Ada/tidaknya riwayat operasi umum lainnya maupun operasi[10,11].
4. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit sistemik, metabolik, cacat bawaan, dan sebagainya[10,11].
5. Riwayat khusus obstetri ginekologi
Adakah riwayat kehamilan/persalinan/abortus sebelumnya (dinyatakan dengan kode
GxPxAx, gravida/para/abortus), berapa jumlah anak hidup. Ada/tidaknya masalah-masalah
pada kehamilan /persalinan sebelumnya seperti prematuritas, cacat bawaan, kematian janin,
perdarahan dan sebagainya. Penolong persalinan terdahulu, cara persalinan, penyembuhan
12

luka persalinan, keadaan bayi saat baru lahir, berat badan lahir jika masih ingat. Riwayat
menarche, siklus haid, ada/tidak nyeri haid atau gangguan haid lainnya, riwayat penyakit
kandungan lainnya. Riwayat kontrasepsi, lama pemakaian, ada masalah/tidak[10,11].
6. Riwayat sosial/ekonomi
Pekerjaan, keadaan ekonomi, kebiasaan kehidupan sehari-hari ibu hamil yang
mempengaruhi dalam melaksanakan perawatan antenatal [10].
2.5.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada ibu hamil dilakukan dengan pemeriksaan lengkap yang
bertujuan untuk mendeteksi masalah fisik yang mempengaruhi kehamilan ibu. Pemeriksaan
fisik yang meliputi pengkajian pada tanda-tanda vital, sistem kardiovaskuler, sistem
muskuloskletal, sistem neurologi, sistem integumen, sistem endokrin, sistem gastrointestinal,
sistem urinarius, sistem reproduksi. Pemeriksaan fisik pada status generalis : penilaian
keadaan umum, kesadaran, komunikasi/kooperasi. Tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu,
pernapasan), tinggi/berat badan. Kemungkinan resiko tinggi pada ibu dengan tinggi < 145
cm, berat badan < 45 kg atau > 75 kg. Batas hipertensi pada kehamilan yaitu 140/90 mmHg
(nilai diastolik lebih bermakna untuk prediksi sirkulasi plesenta). Mata konjungtiva pucat
tidak, sklera ikterik atau tidak. Mulut atau Telinga, hidung dan tenggorokan dengan ada tanda
radang atau tidak, lendir, perdarahan gusi, gigi-geligi. Paru, jantung, abdomen. Inspeksi,
palpasi, perkusi, auskultasi umum. Ekstremitas diperiksa terhadap edema, pucat, sianosis,
varises, simetri (kecurigaan polio, mungkin terdapat kelainan bentuk panggul)[10].
Pemeriksaan fisik yang sering didapati pada wanita hamil seperti edema dorsum pedis,
basilar pulmonary rales, suara jantung ketiga, bising sistolik dan pulsasi vena leher bisa didapati.
Tetapi jika didapati sianosis atau clubbing, bising sistolik yang kuat ( 3/6), kardiomegali, fixed
split suara jantung kedua, atau tanda-tanda hipertensi pulmonal (suara P2 mengeras) merupakan
hal yang abnormal pada wanita hamil dan perhatian perlu ditingkatkan. Bising diastolic yang
didapati pada wanita hamil menunjukkan tanda-tanda penyakit jantung [11].

1. Status obstetricus/ pemeriksaan khusus obstetric


Inspeksi : membesar/tidak (pada kehamilan muda pembesaran abdomen mungkin belum
nyata). Palpasi : tentukan tinggi fundus uteri dengan tepi atas simfisis os pubis). Pemeriksaan
palpasi leopold pertama dilakukan untuk menentukan tinggi fundus uteri dengan tujuan untuk
mengetahui usia kehamilan, pemeriksaan leopold kedua dilakukan untuk menentukan letak
13

punggung janin, menentukan batas samping rahim kanan dan kiri dan pemeriksaan leopold
ketiga dilakukan untuk menentukan bagian presentase janin serta pemeriksaan leopold
keempat untuk menentukan apakah bagian terbawah janin tersebut telah memasuki atau
melewati pintu atas panggul[10].
Auskultasi : dengan alat Dopler yang ditempelkan di daerah punggung janin. Pemeriksaan
auskultasi yang ideal adalah denyut jantung janin dihitung seluruhnya selama satu menit.
Batas frekuensi denyut jantung janin normal adalah 120-160 kali per menit. Takikardi
menunjukkan adanya reaksi kompensasi terhadap beban/stress pada janin (fetal distress),
sementara bradikardi menunjukkan kegagalan kompensasi beban/stress pada janin (fetal
distress/gawat janin)[10].
2. Pemeriksaan luar
Inspeksi luar : keadaan vulva/uretra, ada tidaknya tanda radang, luka/perdarahan,
discharge, kelainan lainnya[10].
3. Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan dalam (vaginal toucher) seringkali tidak dilakukan pada kunjungan
antenatal pertama, kecuali ada indikasi. Umunya pemeriksaan dalam yang sungguh bermakna
untuk kepentingan obstetrik (persalinan), pemeriksaan ini dilakukan pada usia kehamilan di
atas 34-46 minggu, untuk memperkirakan ukuran, letak, presentasi janin, penilaian serviks
uteri dan keadaan jalan lahir, serta pelvimetri klinik untuk penilaian kemungkinan persalinan
normal pervaginam. Alasan lainnya, pada usia kehamilan kurang dari 36 minggu, elastisitas
jaringan lunak sekitar jalan lahir masih minimal, akan sulit dan sakit untuk eksplorasi[10].
2.5.3 Pemeriksaan lanjutan
Evaluasi status kardiovaskular pada wanita hamil lebih baik hanya dengan anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Adakalanya diperlukan pemeriksaan lain yang harus dilakukan dengan
mempertimbangkan resikonya terhadap wanita hamil dan janin yang dikandungnya.
Pemeriksaan oleh orang yang berpengalaman sangat diperlukan untuk menghindarkan
kesalahan dalam diagnosis yang dapat menimbulkan kecemasan, ketakutan dan biaya yang
tidak diperlukan.
1. Pemeriksaan ekokardiografi
Pemeriksaan ekokardiografi, termasuk Doppler sangat aman dan tanpa resiko
terhadap ibu dan janin. Pemeriksaan tranesofageal ekokardiografi pada wanita hamil tidak
14

dianjurkan karena resiko anestesi selama prosedur Pemeriksaan radiografi. Semua


pemeriksaan radiografi mesti dihindarkan terutama pada awal kehamilan.
Pemeriksaan radiografi mempunyai resiko terhadap organogenesis abnormal pada janin, atau
malignancy pada masa kanak-kanak terutama leukemia. Jika pemeriksaan sangat diperlukan
sebaiknya dilakukan pada kehamilan lanjut, dosis radiasi seminimal mungkin dan
perlindungan terhadap janin seoptimal mungkin.
2. Pemeriksaan elektrokardiografi
Pemeriksaan EKG sangat aman dan dapat membantu menjawab pertanyaan rang
spesifik. Kehamilan dapat menyebabkan interpretasi dari variasi gelombang ST-T lebih sulit
dari yang biasa, Depresi segmen ST inferior sering didapati pada wanita hamil normal.
Pergeseran aksis QRS kekiri sering didapati, tetapi deviasi aksis kekiri yang nyata (-30)
menyatakan adanya kelainan jantung.
3. Pemeriksaan radionuklide
Beberapa pemeriksaan radionuklide akan mengikat albumin dan tidak akan mencapai
fetus, pemisahan akan terjadidan eksposure terhadap janin mungkin terjadi. Sebaiknya
pemeriksaan ini dihindarkan. Adakalanya pemeriksaan ventilasi pulmonal/perfusi scan atau
scan perfusi miokard thallium diperlukan saat kehamilan. Diperkirakan eksposur terhadap
fetus rendah.
4. Magnetic resonance imaging
Meskipun tidak tersedia informasi mengenai keamanan prosedur MRI pada evaluasi
wanita hamil dengan kehamilan, dilaporkan tidak didapati efek fetal yang merugikan bila
digunakan pada tujuan yang lain. Pemeriksaan ini mesti dihindarkan pada wanita dengan
implantasi pacu jantung atau defibrillator.
5. Menilai resiko pada pasien yang berpenyakit jantung
Bila memungkinkan wanita yang mempunyai kelainan jantung harus mendapat
nasihat sebelum hamil, termasuk membicarakan kontrasepsi, resiko maternal dan janin yang
dikandungnya saat hamil, kemungkinan jangka panjang mengenai morbidity dan mortalitas.
Fungsional klas dari The New York Heart Association (NYHA) selalu digunakan sebagai tolok
ukur untuk meramalkan akibat dari penyakit jantung yang diderita pasien. Wanita dengan
NYHA klas III dan IV akan menghadapi mortality rate sampai 7% dan morbiditas rate lebih
dari 30% dan harus mendapat perhatian yang lebih dalam kehamilan[10,11].
2.6 Tatalaksana

15

Terapi medikamentosa untuk penyakit katup jantung pada wanita tidak hamil terdiri
atas vasodilator, diuretic, antikoagulan, dan antiaritmia. Selama hamil, banyak terapi obat ini
yang berisiko tinggi pada janin ibu, tetapi jika keuntungan pada ibu lebih diutamakan dari
risiko pada janin maka obat tersebut digunakan. Efek pada janin, indikasi pemberian pada
ibu, dan risiko yang diakibatkan oleh obat yang diberikan sebagai terapi penyakit jantung
katup adalah pada tabel berikut[3].

16

Bakterimia yang timbul setelah partus spontan pervagina yang tidak memiliki
komplikasi terjadi sekitar 2 %. Antibiotic profilaksi pada waktu persalinan tidak
direkomendasikan pada wanita dengan penyakit jantung katup jika dari klinis tidak
ditemukan infeksi. Pasien yang berisiko tinggi mengalami endokarditis dapat diberikan
antibiotic sesuai kebijakan dokter[3].
a. Penanganan Selama Persalinan:
Pada wanita dengan penyakit katup jantung, bebas nyeri dapat membantu
meminimalkan fluktuasi hemodinamik. Khususnya stenosis katup sebelah kiri yang berat,
perubahan cepat dari denyut jantung, curah jantung, aliran balik vena, dan resistensi
pembuluh darah sangat sulit ditangani, kadang membutuhkan monitoring hemodinamik,
termasuk monitoring lanjut dari saturasi oksigen, EKG, tekanan arteri, tekanan pulmonal,
curah jantung. Monitoring janin merupakan hal lain dalam menilai adekuasi penanganan
jantung karena fetal distress merupakan indicator dari gangguan curah jantung[3.
Wanita dengan penyakit katup sangat baik ditangani dengan partus spontan pervagina
dengan control nyeri yang adekuat. Sectio Caecarea menyebabkan perubahan hemodinamik
yang lebih besar dan kehilangan banyak darah, dan biasanya dilakukan atas indikasi obstetric.
Persalinan diinduksi ketika serviks dalam keadaan baik yang mana dapat menyakinkan semua
staf medic yang cukup dapat membantu persalinan meski terdapat beberapa komplikasi yang
ada[3].
Anestesi yang adekuat yang digunakan adalah ansiolitik dan narkotik untuk
meminimalkan takikardi dan hipertensi karena nyeri dan rasa gelisah. Mengedan ibu
dikurangi dan persalinan dengan bantuan forceps atau vakum kadang digunakan untuk
mencegah peningkatan tiba-tiba dari resistensi pembuluh darah sistemik dan penurunan tibatiba dari aliran darah balik yang terjadi saat ibu mengedan[3].
b. Berikut adalah penanganan khusus pada penyakit jantung katup yang spesifik:
1. Mitral Stenosis[9]
Pembatasan aktifitas fisik secara umum dianjurkan. Jika gejala dari kongesti paru
berkembang, aktivitas kedepannya lebih dikurangin, diet sodium dibatasi, dan terapi diuretik
dimulai. Obat -blocker biasanya diberikan untuk meminimalkan respon jantung terhadap
aktifitas dan kecemasan. Jika onset baru atrial fibrilasi berkembang, intravenous verapamil 5
- 10 mg dapat diberikan atau elektrokardioversi dapat dilakukan. Untuk fibrilasi yang kronik,
digoxin, -blocker, atau kalsium-channel blocker dapat diberikan untuk memperlambat
respon ventrikel.

17

Terapeutik antikoagulan dengan heparin diindikasikan terhadap fibrilasi yang


persistent. Hameed and co-workers (2005) merekomendasikan heparinisasi dengan stenosis
berat walaupun dijumpai sinus rhytm pada EKG. Labor dan delivery biasanya sulit untuk
wanita dengan simptomatik mitral stenosis. Nyeri, eksersi, dan ansietas menyebabkan
takikardi dengan kemungkinan lainnya yang berhubungan dengan gagal jantung. Epidural
analgesia untuk labor dianggap ideal, tetapi harus disertai perhatian khusus untuk
menghindari overload cairan. Peningkatan preload secara tiba-tiba dapat meningkatkan
tekanan kapiler pulmonal dan menyebabkan edema pulmonal. Delivery vaginal lebih
dipertimbangkan untuk dilakukan terhadap wanita dengan mitral stenosis. Induksi elektif
dapat dilakukan agar persalinan dapat disesuaikan dengan jadwal namun hanya oleh tim yang
berpengalaman saja.
Dengan stenosis yang berat dan gagal jantung kronik, penggunaan dari arteri
pulmonal kateter dapat membantu dalam menentukan keputusan manajemen terhadap pasien.
2. Mitral Regurgitasi[9]
Mitral regurgitasi/insufisiensi dapat ditoleransi dengan baik pada wanita hamil
Kemungkinan karena penurunan dari resistensi vaskular sistemik sangat kecil terjadi pada
regurgitasi. Namun perlu diperhatikan apakah adanya tanda-tanda perkembangan dari
endokarditis. pemberian profilaksis endokarditis dapat dipertimbangkan pada keadaan
berikut:
American Heart Association Guidelines for Endocarditis Prophylaxis with Dental
Procedures. Prophylaxis is recommended for all dental procedures that involve manipulation
of gingival tissue or the periapical tooth region or perforation of oral mucosa in patients
with any of the following cardiac conditions:
(1) Prosthetic heart valve or prosthetic material used for valve repair
(2) Previous infective endocarditis
(3) Certain forms of congenital heart lesions:
Unrepaired cardiac lesions causing cyanotic heart disease, including
palliative shunts
and conduits
Repaired defect with prosthetic material or device placed surgically or by
catheter
for 6 months following repair procedure and before endothelialization
Repaired defect with residual defects at or adjacent to the site of a prosthetic
part or
device that inhibit endothelialization
18

3. Aorta Stenosis[9]
Untuk wanita dengan stenosis aorta yang asimptomatik tidak diperlukan penanganan
kecuali observasi secara berkala. Manajemen dari wanita yang simptomatik meliputi
pembatasan aktifitas dan penanganan yang optimal terhadap infeksi. Jika gejala tetap muncul
walaupun pada saat instirahat, pergantian katup atau valvotomy dengan kardiopulmonal
bypass harus dipertimbangkan. Secara Umum, ballon valvotomy untuk penyakit katup aorta
dihindari karena adanya komplikasi yang serius pada 10% kasus. Yakni stroke, rupture aorta,
insufisiensi katup aorta, dan kematian.
Untuk wanita dengan stenosis aorta yang kritis, monitoring secara intensif selama
labor sangat penting. Arteri Pulmonal Kateterisasi dapat membantu karena margin yang
sempit dalam pemisahan cairan overload dari hipovolemia. Wanita dengan stenosis aorta
bergantung pada adekuasi tekanan pengisian end-diastolic ventrikular untuk menjaga cardiac
output dan perfusi sistemik. penurunan volume end-diastolic secara tiba-tiba dapat
mengakibatkan hipertensi, sinkop, myocardial infarction, dan sudden death. Oleh karena itu,
manajemen kunci ialah menghindari penurunan ventricular preload dan maintenenece dari
cardiac output. Selama labor dan delivery sebaiknya wanita ditempatkan di area yang basah
untuk menjaga kemungkinan keselamatan wanita dari perdarahan. Selama labor, analgetik
narkotika epidural dapat diberikan. Forceps atau vakum delivery digunakan untuk indikasi
standard obstetri pada haemodinamik yang stabil.
4. Aorta Regurgitasi[9]
Secara Umum Aorta regurgitasi di toleransi dengan baik selama kehamilan. Seperti
Mitral regurgitasi, tidak adanya resistensi vaskular tidak memperparah lesi. Namun tandatanda endokarditis karena etiologi terseringnya oleh infeksi pemberian profilaksis harus
dipertimbangkan. Jika gejala dari gagal jantungnya meningkat, diuretik dapat diberikan
disertai tirah baring. Epidural analgesia digunakan untuk labor dan delivery disertai bakterial
endokarditis profilaksis.
2.7 Komplikasi
Pada ibu dapat terjadi gagal jantung kongestif ,edema paru,kematian, dan dapat terjadi
abortus pada kehamilan muda. Pada janin dapat terjadi lahir premature, berat badan lahir
rendah,hipoksia,gawat janin, lahir mati, nilai APGAR rendah,dan pertumbuhan janin rendah.
(12)

2.8 Prognosis
19

1. Bagi Ibu
Prognosis bagi wanita hamil dengan penyakit jantung tergantung pada beratnya
penyakit yang diderita menurut klasifikasi fungsional, umur penderita, dan penyulit-penyulit
lain yang tidak berasal dari jantung.Tentunya penangan yang tepat dan keinginan untuk
sembuh dengan mentaati berbagai peraturan ikut pula menentukan prognosis.(12)
Angka kematian ibu dalam kesuluruhannya berkisar antara 1 dan 5% dan berbagai
penyakit yang berat sampai 15%. Kelainan yang paling sering menyebabkan kematian ibu
ialah edema paru-paru akut pada stenosis mitral.Menurut klasifikasi fungsionil angka
kematian ibu ditemukan sebagai berikut:
Kelas I
Kelas II
Kelas III
Kelas IV

0,17%
0,28%
5,52%
5,84%

2. Bagi bayi
Bila penyakit jantung tidak terlalu berat,tidak begitu mempengaruhi kematian
perinatal. Namun pada penyakit yang berat prognosis akan buruk akan terjadi gawat janin.(12)

20

BAB 3
DAFTAR PUSTAKA
1. Mochtar, R., 1998. Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Jakarta:
EGC
2. Cunningham, F G, Gant, N F, Leveno, K J, Gilstrap-III, L C, Haulth, J C, Wenstrom,
K D. 2005. Dalam: Pendit, BU, et al. Obstetri Williams Volume I. Jakarta: EGC. Ed
23th.
3. Stout, KK, Otto, CM, 2006. Prenancy in women with valvular heart disease. Available
from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1955531/ [Accessed on July 1st
2014].
4. Braunwald E, Ross J Jr, Sonnenblick EH. 2 ed. Mechanisms of Contraction of the
Normal and Failing Heart. Boston: Little Brown & Co; 1976:417.
5. Prawirohardjo,S., 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
6. Mandelson, MA, 2008. Acquired Heart Disease in Pregnancy. Northwestern
University Medical School, Chicago. Available from:
http://www.glowm.com/section_view/heading/Acquired%20Heart%20Disease%20in
%20Pregnancy/item/160. [Accessed on July 2nd 2014].
7. Tamam, NM, 2012. Cardiovascular Disease and Pregnancy. Deltroit Medical Centre:
Wayne State University Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/162004-overview#aw2aab6b3. [Accessed on
July 2nd 2014].
8. Oakley, C, Chiled, A, Lung, B, et al, 2003. The Task Force on The Management of
Cardiovascular Disease During Pregnancy of Europen Society of Cardiology.
Available from: http://www.escardio.org/guidelines-surveys/escguidelines/Documents/PREGN/guidelines-CVD-pregnancy-FT.pdf . [Accessed on
July 1st 2014].
9. Cunningham, FG, Gant, N F, Leveno, K J et al, 2012. Komplikasi Medis dan Bedah
Penyakit Kardiovaskular. Dalam: Pendit, BU, et al. Obstetri Williams Volume II.
Jakarta: EGC. Ed 23th. 1019-1021.
10. Anwar, Bahri. 2004. Wanita, Kehamilan, dan Penyakit Jantung. Repository USU.
Available at http://library.usu.ac.id/download/fk/gizi-bahri11.pdf [Accessed June 7th
2014].
11. Roeshadi, Haryono. 2004. Gangguan dan Penyulit Pada Masa Kehamilan. USU
Digital Library. Available at http://library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-haryono.pdf
[Accessed June 7th 2014].

21

12. Knot, L, 2011. Cardiac Disease in Pregnacy. EMIS. Available from:


www.patient.co.uk/doctor/Cardiac-Disease-In-Pregnancy.htm. [Accessed on July 1st
2014]. Prognosis dan Komplikasi
1.

22

BAB 4
LAPORAN KASUS
I.

ANAMNESIS PRIBADI

Nama

: Juliasmi br Nainggolan

Umur

: 38 Tahun

Agama

: Kristen Protestan

Suku

: Batak Toba

Pendidikan terakhir

: SMA

Pekerjaan

: Pekerja Lepas

Alamat

: Dusun IV Asrama Brimob Buntu Bedimbar Kec. Tanjung Morawa

Tanggal masuk

: 14 Juni 2014

Nomor Rekam Medis : 59.03.52


II.

ANAMNESIS UMUM

Ny R, 28 tahun, G2P1A0, Jawa, Islam IRT, SD menikah dengan Tn.W, 34 tahun, Jawa, Islam,
Nelayan, SD datang ke RSHAM dengan
KU

: Tekanan darah tinggi

Telaah Hal ini dialami os sejak kehamilan. Riwayat nyeri ulu hati (-). Riwayat pandangan
kabur (-). Riwayat sakit kepala (-). Os merupakan rujukan dari rumah sakit luar dengan Dx:
Gravida + PEB + HELLP Syndrome. Riwayat keluar lender darah (-). Riwayat mules-mules
sesekali (+). Riwayat mulas-mulas mau melahirkan (-). Riwayat keluar air-air dari kemaluan
(-). BAB/BAK (+) N.
HPHT : 20 May 2014
TTP

: 27 Februari 2015

ANC : Riwayat Persalinan:


1. Laki-laki, 4900 gr, cukup bulan, cesarean section, dokter spesialis obgyn ,7 tahun,
sehat
2. Hamil ini
RPO

: MgSO4 40% 15cc dalam RL 28gtt/i

23

RPT

: Riwayat Hipertensi (-), Riwayat Diabetes Melitus (-), Riwayat dislipidemia (-),

Riwayat penyakit Tuberkulosis (-).


III.
PEMERIKSAAN FISIK
1. STATUS PRESENS
Sensorium

: Compos Mentis

Anemia

:-

Tekanan darah

: 160/100 mmHg

Ikterik

:+

Laju Nadi

: 88 x/menit

Sianosis

:-

Laju Pernafasan

: 24 x/menit

Dyspnoe

:-

Suhu

: 36.8 C

Oedem

: + (pretibial)

Proteinuria

: (+4)

2. STATUS GENERALISATA
Kepala : Conjunctiva Palpebra Inferior Pucat (-/-), Sclera Ikterik (-/-)
Leher : JVP: R+2 cm H2O
Dinding Toraks

Inspeksi : Simetris Fusiformis


Palpasi : Stem fremitus Kanan=Kiri, Kesan Normal
Perkusi : Sonor Pada Kedua Lapangan Paru
Batas Jantung: Atas
: ICR II sinistra
Kanan : ICR IV LSD
Kiri
: ICR V 2 cm lateral LMCS
Auskultasi :
Jantung: S1(N) S2(N) S3(-) S4(-) , regular
Paru : Suara Pernafasan : vesikuler (+/+)
Suara Tambahan: Ronkhi (-),Wheezing:(-)

EkstremitasAkral: hangat, CRT: < 3 detik


3. STATUS OBSTETRIKUS
Abdomen

: Membesar Asimetris

Tinggi Fundus Uterus : 2 jari BPX


Tegang

: kiri

Terbawah

: Kepala

Gerakan

:+

His

: +/ 1 x 20/10

Denyut Jantung Janin : 142 x/menit


EBW

: 3100 gr

24

IV.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. USG TAS

-JT, PK, AH
Fetal Heart Rate (FHR): +
Fetal Movement (FM): +
Biparietal Diameter (BPD): 9.08 cm (36 minggu 22 hari)
Femur Length (FL): 7.36 cm (37 minggu 22 hari)
Abdomen Circumference: 35,77 cm (39 minggu 21 hari)
Kesan: IUP (36-37) minggu + PK + Anak hidup

2. HASIL LABORATORIUM:
Hb

: 15.3 gr%

Ht

: 43.3%
25

Trombosit

: 153.000/mm3

Leukosit

: 6150/mm3

V.

DIAGNOSIS: Previous Section 1x + PEB + SG+ KDR (38mgg) + Letak Lintang


+ AH + inpartu

VI.

TERAPI
- Nifedipin tab 10mg 2x1
- Ceftriaxon 2gr ( profilaksis) skin test
- kontap ( sterilisasi)
- USG abdomen
- Rencana Sectio Caesarean CITO

FOLLOW UP
Tanggal
14-02-2015

Subjective
Nyeri luka

Objective
Sens: compos mentis

Assessment
Post SC a/I PEB

Plan
- IVFD RL +

(Obgyn)

operasi

TD: 140/90 mmHg

+ LL + NH 0

MgSO4 40% 30cc

HR: 120 x/menit

14 gtt/I (24jam)

RR: 20 x/menit

aff besok pagi

T: 36.5

jam 0300
- IVFD RL +
oxytoxin 1-.10.5.5
20gtt/i
- Inj Transamin
500mg/12jam
(24jam)
- Inj Ketorolac
1amp/8jam
- Inj Ceftiraxone
1gr/12jam
- Inj
Dexamethason
10.10.5.5 (12jam)
- Captopril 2 x
12,5mg
26

- Inj Ranitidin
1amp/12jam
- Amlodipin 1 x
10mg
- Nifedipine aff
R/ cek parsial
HELLP, konsul
GEH senin, cek
Hb post op 2jam,
15-02-15

Nyeri luka

Sens: compos mentis

Post SC a/I PEB

anti HCV, HbsAg


- MgSO4 40%

(Obgyn)

operasi

TD: 150/80 mmHg

+ LL + NH 1

aff

HR: 84 x/menit

- IVFD RL +

RR: 24 x/menit

oxytoxin 10-10-5-

T: 36.5

5 20gtt/i

SG:

- Inj Transamin

Abd: soepel,

aff

peristaltic (+) N

- Inj Ketorolac

TFU: 1 jari bawah

20mg/8jam

pusat, kontraksi kuat

- Inj Ceftriaxone

p/v: (-), lokia (+)

1gr/ 12jam

rubra

- Inj

l/q: tertutup verband,

Dexamethasone

kesan kering

10-10-5-5 (12jam)

BAK : via kateter,

- Amlodipin 1 x

UOP 70cc/jam

10mg

BAB: (-), fleks (+)

- Captopril 2 x

Lab:

12,5mg

Hb/Ht/L/T :

- Ranitidin 50mg/

15/42,1/14.32/161.00

12jam

R/ : ACC pindah

SGOT: 22

ruangan

D-dimer: 1243
LDH : 549
27

KGD Ad R: 158,1
16-02-15

Nyeri luka

Sens: compos mentis

Post SC a/I PEB

- IVFD RL +

(Obgyn)

operasi

TD: 140/80 mmHg

+ LL + NH 2

oxytoxin 10-10-5-

berkurang

HR: 88 x/menit

5 20gtt/i

RR: 20 x/menit

- Inj Ketorolac

T: 36.5

20mg/8jam

SG:

- Inj Ceftriaxone

Abd: soepel,

1gr/ 12jam

peristaltic (+) N

- Inj

TFU: 1 jari bawah

Dexamethasone

pusat, kontraksi kuat

10-10-5-5 (12jam)

p/v: (-), lokia (+)

- Amlodipin 1 x

rubra

10mg

l/q: tertutup verband,

- Captopril 2 x

kesan kering

12,5mg

BAK : via kateter,

- Ranitidin 50mg/

UOP 70cc/jam

12jam

BAB: (-), fleks (+)

17-02-15

Nyeri luka

Sens: compos mentis

Post SC a/I PEB

- IVFD RL +

(Obgyn)

operasi

TD: 140/80 mmHg

+ LL + NH 3

oxytoxin 10-10-5-

berkurang

HR: 84 x/menit

5 20gtt/i

RR: 24 x/menit

- Inj Ketorolac

T: 36.5

20mg/8jam

SG:

- Inj Ceftriaxone

Abd: soepel,

1gr/ 12jam

peristaltic (+) N

- Inj

TFU: 1 jari bawah

Dexamethasone

pusat, kontraksi kuat

10-10-5-5 (12jam)

p/v: (-), lokia (+)

- Amlodipin 1 x

rubra

10mg

l/q: tertutup verband,

- Captopril 2 x
28

kesan kering

12,5mg

BAK : via kateter,

- Ranitidin 50mg/

UOP 70cc/jam

12jam

BAB: (-), fleks (+)

Hasil Laboratorium:
14 Februari 2015
Jenis Pemeriksaan
Darah Lengkap:

Hasil

Rujukan

Satuan

- Hb

14,8

11.7-15.5

gr%

- Ht

41,2

38-44

- Eritrosit

4,8

4.20-4.87

106/mm3

- Leukosit

11,59

4.5-11

103/mm3

- Trombosit

149

150-450

103/mm3

29