Anda di halaman 1dari 41

CASE

Akut Abdomen II
Dokter Pembimbing : dr. Kukuh , Sp.BTKV
Oleh :
Irma Puspita Sari
Richky Nurhakim

SKENARIO
Perempuan 36 tahun ke RSIJ karena sakit perut,
seperti dipelintir ususnya, sudah 3 hari. Mula-mula
pasien merasa sakit perut ringan saja, tetapi makin
lama makin sakit dan rasanya lebih sering timbul rasa
sakit perut. Sakit terutama dirasakan ditengah
abdomen. Pasien merasa setiap kali serangan sakit
terasa mual dan bahkan muntah. Muntah berwarna
putih dan agaknya makin lama makin hijau dan perut
makin kembung. Lebih lanjut pasien pernah operasi
appendictomi 5 tahun yang lalu, dan dikatakan oleh
dokter bedahnya usus buntu sudah pecah dan mulai
banyak nanah di rongga perutnya, dicui dab di
drainase.

ANAMNESIS
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. S

Umur

: 36 tahun

Jenis kelamin : Perempuan


Alamat : Cemapaka
Pekerjaan

: IRT

Tgl MRS: 13-01-2015

Keluhan Utama : sakit perut, seperti dipelintir


ususnya, sudah 3 hari
RPS: Mula-mula pasien merasa sakit perut
ringan saja, tetapi makin lama makin sakit
dan rasanya lebih sering timbul rasa sakit
perut. Sakit terutama dirasakan ditengah
abdomen. Pasien merasa setiap kali serangan
sakit terasa mual dan bahkan muntah.
Muntah berwarna putih dan agaknya makin
lama makin hijau dan perut makin kembung.

Anam. Tambahan:
Apakah ada demam sebelumnya?
Apakah os bisa makan dan minum?
Apakah os menderita gasteritis sebelumnya?
Apakah pernah sakit atau nampak kekuningan?
Bagaimana BAB pasien? Adakah mencret? Atau
tidak bisa BAB? Darah?

RPD : Lebih lanjut pasien pernah


operasi appendictomi 5 tahun yang
lalu, dan dikatakan oleh dokter
bedahnya usus buntu sudah pecah
dan mulai banyak nanah di rongga
perutnya, dicui dab di drainase.

Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum
Kesadaran : GCS : E4,V5,M6
Vital Sign
TD : Dapat terjadi hpotensi
HR : Takikardi
RR : Takipneu
Suhu : Peningkatan Suhu (> 37,2)

Status Generalis
Kepala: normochepal
Mata :
Refleks pupil : +/+, isokor
Konjungtiva : anemis -/- (bisa anemis)
Sklera
: ikterik -/hidung : Normonasi (-)
telinga : Normotia (-)
mulut : TAK
Tenggorokan: TAK
Leher : Pembesaran KGB (-), pembesaran
kelenjar tyroid (-)

Thorax
Paru-paru
Inspeksi : Pergerakan dada simetris, tidak ada
luka bekas operasi
Palpasi : tidak ada pergerakan dada yang
tertinggal, nyeri tekan (-), vokal fremitus sama
simetris dekstra sinistra.
Perkusi : sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi : vesikular (+/+) normal, Rh (-/-), Wh
(-/-), stridor (-/-)

Jantung
BJ I dan II murni regular
Murmur (-), gallops (-)

Status Generalis Abdomen


Inspeksi : distensi (+), luka bekas
operasi (+), darm contour (+)
Auskultasi : Bising (+) hiperperistaltik
Perkusi : Hipersonor di kuadran
abdomen
Palpasi : Nyeri tekan seluruh kuadran
abdomen (+), nyeri lepas seluruh
kuadran abdomen (+), hepar dan lien
sulit dinilai, defans muskular (-)

Ekstremitas : akral hangat, RCT < 2


detik, edema (-/-), tidak pucat /Pucat

RECTAL TOUCHER
RT dilakukan untuk menentukan
letak nyeri dan massa bila terdapat.
Untuk menilai masa atau prostat
Ampula recti kolaps

PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM :
Darah Rutin, Elektrolit, Fungsi hati,
Apusan Darah Tepi, Kimia darah
RADIOLOGI
Foto polos Abdomen, Abdomen 3
posisi

Biasanya menunjukan leukositosis, namun


dapat pula leukopenia yang biasanya terjadi
pada shock spetic dan meningkatkan angka
mortalitas. Gambaran sedian apus darah tepi
biasanya menunjukan shift to the left dan
menunjukan gambaran limfopenia. Foto
abdomen datar dapat dijumpai adanya
gambaran free air, gambaran paralitik ileus,
yang tampak sebagai penebalan dari dinding
usus, hilangnya peritoneal fat dan
retroperitoneal psoas

DIAGNOSIS
Diagnosa Kerja:
Ileus Obstruktif e.c Adhesi colon post
op
Diagnosa Differetial:
- Abses Intraabdominal

TINDAKAN
N : Nuchter (Puasakan)
I : Infus
D : Decompresi (NGT, DC, Intake and
uptake cairan)
A : Antibiotic (Broad spectrum)
Tindakan pembedahan

PREOPERATIF
Pengelolan pertama kali dari Kasus-kasus peritonitis akibat
perforasi dari traktus gastrointestinal adalah perawatan intensif
perioperatif sebelum pasien dilakukan tindakan intervensi terhadap
sumber infeksinya/operasi. Berdasarkan patofisiologi dari respon
lokal atau respon sitemik terhadap peritonitis, maka pasien yang
dalam keadaan umum yang kurang baik akibat adanya
keterlambatan penanganan peritonitis, maka pasien tersebut
sebaiknya dilakukan persiapan terlebih dahulu. Dilakukan persiapan
operasi yang meliputi sebagai berikut :
1) pemberian resusitasi cairan
2) oksigenisasi dan bantuan ventilasi
3) pemberian antibiotika
4) pemantauan hemodinamik dan pemantauan biokimia pasien
5) dekompresi dengan pemberian nasogastric tube
6) pengendalian suhu tubuh

TINJAUAN PUSTAKA

ILEUS
OBSTRUKTIF

Historical Background
Gambaran pasien dengan obstruksi intestinal
sudah dijelaskan pada abad ke-3 atau ke-4,
ketika Praxagoras menciptakan fistula
enterocutaneous untuk meringankan
obstruksi intestinal
Pada tahun 1800-an. Pemahaman yang lebih
baik tentang patofisiologi obstruksi intestinal
dan penggunaan resusitasi cairan isotonik,
intestinal tube decompression dan antibiotik
sangat mengurangi tingkat kematian pasien
dengan obstruksi mekanik intestinal.

Epidemiologi
Ileus dan obstruksi intestinal merupakan salah satu
penyebab kematian pada gastrointestinal disease.
20% dari klinis nyeri abdomen akut disebabkan
obstruksi usus.
Obstruksi intestinal disebabkan oleh 60%
adhesive, 20% hernia strangulata, 5% keganasan
dan volvulus 5%
Obstruksi kolon paling sering disebabkan karena
keganasan kolorektal. Pasien sering berusia lebih
dari 70 tahun.
Ileus adalah keadaan postoperative yang sering
terlihat

Anatomi

embriologi

ANATOMI
Small
intestine

Small
intestine
Arteri pancreaticoduodenum
vaskularisasi duodenum
Arteri mesenterika superior vaskularisasi
jejunum dan ileum
Submukosa Payer patch drainase limfatik
ke kelenjar getah bening mesenterika
N. vagus mengatur sekresi intestinal dan
motilitas

Layers of the small


intestine

Colorecta
l

Lapisan
Colon

Fisiologi Intestine
Small
intestine
Absorpsi
Pencernaan
Motilitas
Imunitas
Endokrin

Colorectal
Absorpsi
Sekresi
Motilitas
Formation of
Stool
Defekasi

Klasifikasi
Intraluminal (benda asing, batu
empedu, atau mekonium)
Intramural (tumor, penyempitan,
Crohn's disease, inflamasi disease)
Ekstrinsik (adhesi, hernia, atau
carcinomatosis)

Etiologi
Pembedahan abdomen
Infeksi
Intra-abdomen abses
Radang selaput perut
Pneumonia
Obat-obatan
Antikolinergik
Opiat
Fenotiazin
Kalsium channel bloker
Trisiklik antidepresan

Kelainan elektrolit
Hipokalemia
Hypomagnesemia
Hypermagnesemia
Hiponatremia
Hypothyroidism
Kolik saluran kemih
Perdarahan
retroperitoneal
Spinal cord injury
Infark miokard
Mesenteric ischemia

Common Etiologies Small


Bowel Obstruction

Adhesions
Neoplasms
Hernias
Crohn's disease
Volvulus
Intussusception
Radiationinduced stricture

Postischemic stricture
Foreign body
Gallstone ileus
Diverticulitis
Meckel's diverticulum
Hematoma
Congenital
abnormalities

Patogenesis
Obstruksi

Peningkatan
aktivitas intestinal
Motilitas

Motilitas

akumulasi gas dan


cairan intraluminal
peningkatan
tekanan
intraluminal dan
intramural

Distensi
intestinal

Penurunan aliran
darah mukosa

Perfusi
mikrovaskuler
intestinal
terganggu iskemia
dan nekrosis

Manifestasi Klinis
Nyeri kolik abdomen
Nausea vomiting
Kembung
Tidak flatus dan susah BAB
Diare
Distensi abdomen
Peristaltik meningkat, metalic sound

Differential
Diagnosis
Diverticulum Meckel
Colonic pseudo-obstruction
Volvulus
Invaginasi
Perforasi intestinal
Crohns disease
Ileus Paralytic
Diverticular disease
Iskemia intestinal

Pemeriksaan
Penunjang

Laboratorium
awal obstruksi nilai laboratorium mungkin normal.
Keadaan obstruksi terus berlangsung nilai-nilai
laboratorium dapat menunjukkan tanda dehidrasi,
WBC meningkat tanda adanya kemungkinan
strangulasi
Foto abdomen
air-fluids level, pneumatosis intestinalis
BNO
CT scan

Penatalaksanaan
Resusitasi cairan
Nasogastric suction
Intervensi operative

Komplikasi
Dehidrasi
Perforasi dan iskemia intestinal
Peritonitis dan septikemia

Prognosis
Prognosis berkaitan dengan etiologi
obstruksi
Tingkat mortalitas perioperatif terkait
dengan operasi untuk nonstrangulasi
obstruksi intestinal kurang dari 5%,
Obstruksi strangulasi angka mortalitas 8%
jika operasi dilakukan dalam waktu 36 jam
setelah timbulnya gejala. Kematian bisa
mendekati 30% jika operasi tertunda di luar
36 jam

Reffrensi
F. Charles Brunicardi. Schwartz's Principles of Surgery, Ninth Edition.
Copyright 2010. by The McGraw-Hill Companies, Inc
Mary E.; Chen, Li Ern; Glasgow, Sean C.; Goers, Trudie A.; Melby, Spencer
J. Washington Manual of Surgery,The, 5th Edition. Copyright 2008
Lippincott Williams & Wilkins
Zinner, Michael. Maingot's Abdominal Operations edition 11. Copyright
2007. by The McGraw-Hill Companies, Inc
Sabiston Textbook of Surgery, 18th ed. 2007 Saunders, An Imprint of
Elsevier
http://emedicine.medscape.com/article/197486-overview
http://bestpractice.bmj.com/bestpractice/monograph/995/basics/epidemio
logy.html

Terimakasih..
.