Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN
Gemeli atau kehamilan kembar atau kehamilan multipel merupakan suatu
kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kehamilan multipel dapat berupa kehamilan
ganda/gemeli (2 janin), triplet (3 janin), kuadruplet (4 janin), quintiplet (5 janin) dan
seterusnya dengan frekuensi kejadian yang semakin jarang sesuai dengan hukum
Hellin. Hukum Hellin menyatakan bahwa perbandingan antara kehamilan ganda dan
tunggal adalah 1:89, untuk triplet 1:892, untuk kuadruplet 1:893, dan seterusnya.1
Kemungkinan kehamilan kembar dapat diketahui sejak usia kehamilan 5
minggu, dengan melihat jumlah kantung gestasi di dalam kavum uteri. Diagnosis
definitif kehamilan kembar baru boleh ditegakkan bila terlihat lebih dari satu
mudigah yang menunjukkan aktivitas denyut jantung.2
Kehamilan kembar bisa berasal dari 2 buah ovum yang dibuahi, disebut
kembar dizigotik atau tidak-identik; atau dari sebuah ovum yang dibuahi kemudian
membelah menjadi 2 bagian yang masing-masing berkembang menjadi mudigah,
disebut kembar monozigotik atau identik.2
Sekitar 70% kehmilan kembar merupakan kembar dizigotik; sedangkan 30%
lainnya

merupakan

kembar

monozigotik.

Berdasarkan

korionisitas

dan

amnionisitasnya, kembar dizigotik pasti merupakan kembar dikorionik-diamniotik;


sedangkan kembar monozigotik bisa berupa dikorionik-diamniotik, monokorionikdiamniotik, atau monokorionik-monoamniotik. Jenis korionisitas dan amnionisitas
kehamilan kembar akan sangat berpengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas hasil
konsepsi.2
Jenis korionisitas dan amnionisitas kehamilan kembar paling mudah diketahui
pada kehamilan trimester I. Sampai kehamilan 10 minggu, bila terlihat 2 kantung

gestasi yang masing-masing berisi mudigah hidup, maka kehamilan kembar tergolong
dikorionik-diamniotik. Bila hanya terlihat 1 kantung gestasi yang berisi 2 mudigah
hidup, maka kehamilan kembar tergolong monokorionik. Bila kembar monokorionik
terlihat 2 kantung amnion yang saling terpisah dan masing-masing berisi mudigah
hidup, kehamilan tergolong monokorionik-diamniotik; dan bila hanya terlihat 1
kantung amnion yang berisi 2 mudigah hidup, kehamilan kembar tergolong
monokorionik-monoamnionik. Pemeriksaan yolk sac juga berguna untuk menentukan
amnionisitas kembar monokorionik. Pada kembar monokorionik-diamniotik terlihat 2
yolk sac di dalam kantunggestasi; sedangkan pada kembar monokorionikmonoamniotik hanya terlihat 1 yolk sac.2
Korionisitas kehamilan kembar sangat menentukan prognosis. Kehamilan
kembar monokorionik akan mengalami risiko kelainan yang jauh lebih tinggi jika
dibandingkan kembar dikorionik, seperti sindroma transfusi antar janin (twin-to-twin
transfusion) dan kembar akardiak. Pada kembar monoamniotik akan disertai pula
resiko kembar dempet (conjoined twins) atau saling membelitnya tali pusat kedua
janin. Pada sindroma transfusi antar janin pertumbuhan di antara kedua janin dapat
sangat jauh berbeda. Janin yang tumbuh lebih besar akan disertai polihidramnion.
Janin lainnya tumbuh sangat kecil, disertai oligohidramnion berat, dan letaknya
seolah-olah menempel pada dinding uterus (stuck twin).3
Kematian yang terjadi pada salah satu janin kembar dikorionik umumnya
tidak menimbulkan pengaruh buruk kepada janin lainnya; akan tetapi bila terjadi pada
kembar monokorionik dapat menimbulkan gangguan pada janin lainnya, seperti
prematuritas, hipotensi, kerusakan otak, atau kematian janin.3