Anda di halaman 1dari 3

Alkohol merupakan salah satu senyawa turunan alkana yang paling sederhana dengan gugus

fungsi OH dan

English: benzyl alcohol Polski: alkohol benzylowy (Photo credit: Wikipedia)


rumus umum CnH2n+2O. Penamaan alkohol secara IUPAC (International Union of Pure and
Applied Chemistry) umumnya dilakukan dengan mengubah akhiran a dari alkana menjadi ol,
contohnya CH4 (metana) jika merupakan alkohol maka menjadi CH3OH (metanol). Sedangkan
penamaan sederhananya yaitu alkil alkohol, dengan gugus R- sebagai alkil dan OH sebagai
alkohol. Salah satu contohnya adalah CH3OH disebut juga metil (CH3-) alkohol (-OH).
Adapun rumusan penentuan tata nama untuk alkanol didasarkan pada beberapa hal di bawah ini:
1. Untuk rantai C yang tidak bercabang, nama alkohol diturunkan langsung dari nama alkana
yang sesuai, dengan akhiran a diganti ol seperti contoh di atas.
2. Untuk rantai C yang bercabang, maka:
-. Rantai terpanjang yang mengandung gugus OH dan memiliki cabang terbanyak dianggap
sebagai rantai utama.
-. Rantai utama diberi nomor yang dimulai dari salah satu ujung sehingga gugus fungsi mendapat
nomor terkecil. Jika posisi gugus fungsi sama dari kedua ujung, maka penomoran dimulai dari
salah satu ujung rantai utama sehingga cabang-cabang alkil akan memiliki nomor terkecil.
Rumus penentuan tata nama alkohol dengan rantai C yang bercabang secara umum adalah:
(no.cabang)-(nama cabang)-(no.gugus fungsi)-(nama rantai induk)
Contohnya adalah:
CHOH-CH2-CH2-CH3: 1-butanol
CH3-CHOH-CH2-CH3: 2-butanol
CHOH-CH-CH3-CH3: 2-metil-1-propanol
Uniknya, istilah alkohol lebih umum dipakai untuk menyebut etanol/etil alkohol (C2H5OH)
daripada jenis-jenis alkohol lainnya (metanol, propanol, butanol, dsb). Mengapa begitu? Hal ini
disebabkan karena etanol merupakan jenis alkohol yang paling sering ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari, baik sebagai bahan minuman beralkohol maupun produk-produk
sampingan yang dihasilkan oleh mikroorganisme melalui proses yang disebut fermentasi.
Alkohol memiliki beberapa sifat khas, yaitu:
1. Sifat Fisis

Umumnya membentuk ikatan hidrogen dari gugus hidroksilnya (-OH)

Secara umum, khususnya alkohol dengan rantai pendek (metanol dan etanol) memiliki
sifat polar yang disebabkan oleh gugus hidroksil (-OH) sehingga dapat larut dalam air
dan pelarut-pelarut organik

Memiliki titik didih yang relatif tinggi dibandingkan dengan beberapa senyawa
hidrokarbon karena adanya ikatan hidrogen, yaitu 78oC. Sebagai perbandingan, titik didih
heksana adalah 69oC dan titik didih dietil eter adalah 34,6oC

2. Sifat Kimia

Gugus hidroksil pada alkohol merupakan gugus yang cukup reaktif. Hal ini menyebabkan
alkohol mudah bereaksi dengan senyawa-senyawa lain

Reaksi-reaksi alkohol:
1. Deprotonasi
Melalui proses deprotonasi, alkohol dapat berperan sebagai asam lemah yang dapat
menghasilkan garam alkoksida dari reaksi dengan basa kuat seperti natrium hidrida atau senyawa
logam aktif seperti natrium. Reaksinya dapat ditulis sebagai berikut:
2 R-OH + 2 NaH 2 R-O-Na+ + 2H2
2 R-OH + 2 Na 2 R-ONa+ + H2
2. Substitusi Nukleofilik
Secara umum gugus hidroksil pada alkohol bukan termasuk gugus pergi (leaving group). Agar
reaksi substitusi nukleofilik dapat terjadi, alkohol memerlukan bantuan dari oksigen yang
diprotonasi.
3. Dehidrasi
Alkohol yang dipanaskan dengan katalis asam sulfat pekat akan melepaskan molekul air
(mengalami dehidrasi) membentuk eter dan alkena. Adapun yang membedakan produk yang
dihasilkan adalah suhu pemanasan, dimana pemanasan pada suhu sekitar 130oC akan
menghasilkan eter sedangkan pemanasan pada suhu sekitar 180oC akan menghasilkan alkena.
Reaksi dehidrasi alkohol menjadi eter dapat dituliskan sebagai:
2C2H5OH C4H10O + H2O (2 etanol dietil eter + air)
Reaksi dehidrasi alkohol menjadi alkena dapat dituliskan sebagai:
C2H5OH C2H4 + H2O (etanol etena + air)
4. Esterifikasi
Reaksi ini disebut esterifikasi karena menghasilkan produk berupa ester, dimana agar alkohol
dapat menghasilkan ester, diperlukan asam karboksilat. Reaksi ini juga disebut sebagai
esterifikasi Fischer. Selain asam karboksilat, reaksi ini juga memerlukan katalis berupa asam
sulfat pekat melalui proses yang disebut refluks. Umumnya reaksi esterifikasi dilakukan dengan

bantuan alat yang disebut Aparatus Dean-Stark. Reaksi esterifikasi dapat dituliskan sebagai:
R-OH + R-COOH R-COOR + H2O
5. Oksidasi
Alkohol sederhana dapat terbakar membentuk gas karbon dioksida dan uap air. Salah satu contoh
alkohol sebagai bahan bakar adalah etanol yang dikenal dengan nama spiritus. Adapun reaksinya
adalah:
C2H5OH(l) + 3O2(g) 2CO2(g) + 3H2O(g) + kalor
Alkohol dapat teroksidasi menjadi beberapa senyawa, yaitu:

Alkohol primer dapat membentuk aldehida dan dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi
asam karboksilat

Alkohol sekunder dapat membentuk keton

Alkohol tersier tidak dapat teroksidasi karena tidak adanya atom karbon karbinol, yaitu
atom karbon yang mengikat gugus OH

Contoh penggunaan alkohol dalam kehidupan sehari-hari:

Metanol sebagai pelarut kimia, campuran untuk bahan bakar mesin, dan bahan
pembuatan formalin/formaldehida (HCHO) untuk pengawet mayat dan bahan baku
pembuatan polimer plastik, dll.

Etanol untuk antiseptik (alkohol 70%), campuran untuk minuman beralkohol, bahan
bakar (spiritus), pelarut kimia, campuran untuk bahan bakar, dll.

Sumber:
Michael Purba (Kimia Untuk SMA Kelas XII)
Alcohol IUPAC Names
(http://www.chem.uiuc.edu/weborganic/alcohols/ROHIUPAC/ROHIUPAC2.htm)
Alcohol Nomenclature (http://www2.chemistry.msu.edu/faculty/reusch/virttxtjml/alcohol1.htm)
Linda M. Sweeting (http://pages.towson.edu/ladon/orgrxs/reactsum.htm)
About these ads

Anda mungkin juga menyukai