Anda di halaman 1dari 6

Tinjauan Pustaka

Asites dan Melena ec Sirosis Hepatis


Arista Juliani Walay/102010274
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara no. 6 Jakarta Barat 11470
No. Telp. 021-56942061.
Email: aristawalay@yahoo.com

Pendahuluan
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis
Dignosis Kerja
Pertusis
Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran napas, yang dapat mengenai setiap pejamu
yang rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-anak. Prevalensi diseluruh dunia
sekarang berkurang hanya karena imunisasi aktif. Syadenham yang pertama kali
menggunakan istilah pertussis (batuk kuat) pada tahun 1670; istilah ini lebih disukai dari
batuk rejan (whooping cough), karena kebanyakan individu yang terinfeksi tidak berteriak
(whoop = berteriak). Jumlah leukosit mungkin dapat menegakkan diagnosis. leukositosis ( jumlah

leukosit 20.000-50.000 sel/mm3 darah) disertai dengan limfosistosis absolut khas pada akhir stadium
kataral dan selama stadium paroksismal.

Dignosis Banding
Etiologi
Pertuis biasanya disebabkan oleh bordetella pertussis (Haemophilus pertussis). Suatu
penyakit sejenis telah dihubungkan dengan infeksi oleh bordetella parapertussis, bordetella
bronchiseptica dan adenovirus tipe 1, 2, 3, dan 5. bordetella pertussis dan sejumlah tertentu
bordetella parapertussis merupakan agen etiologi terbesar pertusis pada anak-anak yang
tidak diimunisasi.
Bordetella pertussis adalah organisme berbentuk batang kecil, tidak bergerak, bersifat
gram-negatif dan memerlukan nutrisi tertentu untuk tumbuh. Organisme ini paling mudah
ditemukan pada media agar darah-gliserin-kentang (Bordet-Gengou) yang telah ditambahkan
penisilin untuk menghambat pertumbuhan organisme lain. Organisme yang baru ditemukan,
umumnya tergolong tipe antigenik fase I. Melalui biakan, organisme ini mungkin
menimbulkan induksi menjadi bentuk-bentuk varian (organisme fase II, III atau IV). Strainstrain fase I diperlukan untuk penyebaran penyakit dan untuk menghasilkan vaksin yang
efektif. Bordetella parapertussis dan, bordetella bronchiseptica, yang secara morfologis
mirip dengan Bordetella pertussis, memiliki kebutuhan pertumbuhan yang sama, tetapi dapat
dibedakan melalui reaksi-reaksi aglutinasi spesifik.
Epidemiologi
Pertusis adalah salah satu penyakit yang sangat menular. Angka serangan penyakit
sebesar 97-100% telah dilaporkan terjadi pada penduduk yang rentan terhadap penyakit ini.
Terbanyak terdapat pada umur 1-5 tahun. Penularan terjadi melalui penyebaran sekret
pernapasan lewat udara. Satu-satunya reservoir yang diketahui adalah manusia. Berbeda
dengan kebanyakan penyakit pernapasan, angka serangan pada perempuan lebih tinggi
dibandingkan laki-laki. Kekebalan setelah menderita pertusis klinis berlangsung lama tetapi
mungkin tidak seumur hidup. Bordetella pertussis tidak tahan hidup untuk masa yang lama
dalam lingkungannya. Baik penyakit alamiah atau vaksinasi tidak memberi imunitas
sempurna atau seumur hidup terhadap reinfeksi atau penyakit. Proteksi terhadap penyakit
khas mulai berkurang 3-5 tahun sesudah vaksinasi dan tidak dapat terukur sesudah 12 tahun.
Orang dewasa di Amerika Serikat tidak mempunyai antibodi yang cukup untuk Bordetella
2

pertussis. Walaupun ada riwayat penyakit atau imunisasi sempurna, ledakan serangan pertusis
telah terjadi pada orang tua, di rumah-rumah perawatan, di fasilitas pemukiman dengan
pajanan terbatas, di daerah suburban yang sangat terimunisasi, dan pada remaja dan orang
dewasa dengan selang waktu sejak imunisasi. Remaja dan dewasa yang batuk (biasanya tidak
dikenali sedang menderita pertusis) sekarang merupakan reservoir utama untuk Bordetella
pertussis dan merupakan sumber yang lazim untuk kasus indeks pada bayi dan anak.
Pada masa pravaksinasi dan dinegara-negara seperi Jerman, Swedia, dan Itali dengan
imunisasi terbatas, insiden puncak pertusis adalah pada anak umur 1-5 tahun.
Di Amerika Serikat, insidens penyakit ini menurun secara dramatis sejak pemakaian
vaksin pertusis, tetapi penyakit ini masih tetap menyerang beberapa ribu orang setiap
tahunnya. Pemberian imunisasi telah menurunkan insidens dan mortalitas pertusis, tetapi
kekebalan yang diperoleh tidak sempurna atau permanen. Frekuensi pertusis yang terus
meningkat dilaporkan terjadi pada usia remaja dan tenaga medis, yang telah diimunisasi.
Sebelumya, kebanyakan bayi mendapat penyakit ini dari saudara kandung mereka atau anakanak lain; tetapi akhir-akhir ini, penurunan kekebalan pada orang dewasa dalam keluarga
yang menyebabkan mereka terserang penyakit ringan paling sering menjadi sumber infeksi
pada bayi yang masih terlalu kecil untuk mendapatkan imunisasi.
Patofisiologi
Bordetella pertussis merupakan bakteri batang gram-negatif yang sukar tumbuh dan
memerlukan media khusus untuk isolasinya. Bordetella pertussis menempel ke sel epitel
bersilia pada bronkus, sehingga menimbulkan siliostasis, kerusakan jariang setempat, dan
menggangu fungsi sel fagosit. Bordetella pertussis tidak menyerang secara sistemik, tetapi
suatu faktor penguat limfositosis (LPF= lymphocytosis promoting factor), mempunyai efek
sistemik mirip-toksin. Antigen penting lain adalah protein permukaan sel seperti
hemaglutinin filamentosa (HAF), dan pertaktin, baru-baru ini ditemukan protein membran
luar 69.000 dalton. Sel Bordetella pertussis juga mengandung endotoksin dan banyak toksin
lainnya. Peran berbagai toksin ini pada penyakit klinis masih diteliti.
Manifestasi Klinik
Masa tunas rata-rata pertusis adalah 7 hari dan berkisar antara 6-20 hari. Gejala-gejala
sistemis pada umumnya terbagi dalam 3 stadium: kataral, paroksismal dan konvalesen. Pada
umumnya penyakit berlangsung selama 6-8 minggu. Manifestasi-manifestasi klinis penyakit
3

tergantung pada etiologi spesifik, pada usia dan status imunisasi pejamu. Penyakit yang
disebabkan oleh Bordetella parapertussis atau bordetella bronchiseptica lebih ringan dan
lebih singkat dibandingkan dari yang diuraikan dibawah ini.
Stadium Kataral (1-2 minggu). Gejala-gejala yang menonjol adalah infeksi saluran
napas bagian atas, selain itu terjadi rinore, kemerahan konjungtiva, lakrimasi, batu dan
demam ringan; pada stadium ini biasanya tidak dipikirkan diagnosis pertusis. Pada bayi
cenderung terjadi sekresi hidung yang banyak kental dan berupa mukus, yang mungkin
menyebabkan obstruksi saluran napas bagian atas.
Stadium Paroksismal (2-4 minggu atau lebih). Beratnya dan frekuensi batuk terus
meningkat. Secara khas, terjadi 5-10 rangkaian batuk kuat yang berulang dalam satu ekspirasi
diikuti inspirasi masif mendadak dan kuat yang menyebabkan inspirasi panjang dan berisik
(whooping) karena udara dihisap dengan kuat melalui glotis yang menyempit. Selama
serangan tersebut terlihat, wajah penderita merah atau sianosis, mata menonjol, lidah terjulur,
lakrimasi, salivasi dan pelebran vena-vena leher. Batuk parosismal berat dapat terjadi
berturut-turut, hingga anak berhasil melepaskan sumbat mukus yang menyumbat saluran
napas. Muntah-muntah yang berhubungan dengan batuk paroksismal bersifat khas, sehingga
anak yang muntah disertai batuk, sebaiknya selalu dicurigai menderita pertusis walaupun
tidak ditemukan adanya inspirasi panjang yang berisik (whooping). Batuk paroksismal ini
melelahkan; sehingga tidak mengherankan bila penderita tampak bingung, apatis dan
mengalami penurunan berat badan. Serangan dapat dibangkitkan oleh menguap, bersin,
makan, minum dan kerja fisik atau bahkan oleh sugesti. Di antara serangan yang terjadi,
penderita kelihatan hanya sakit ringan dan tampak sehat. Tidak semua penderita-penderita
pertusis menunjukkan inspirasi yang panjang dan berisik (whooping).
Stadium Konvalesen (1-2 minggu). Frekuensi dan beratnya batuk parosismal,
whooping dan muntah-muntah berangsur-angsur berkurang. Batuk mungkin masih
dijumpai selama beberapa bulan. Batuk paroksismal rekuren dapat terjadi pada beberapa
penderita, yang berlangsung selama berbulan-bulan atau beberpa tahun, berhubungan dengan
infeksi saluran napas bagian atas yang terjadi kemudian.
Pada umumnya pemeriksaan fisik tidak memberikan informasi berarti. Pada stadium
paroksismal, dapat terjadi petekia atau perdarahan konjungtiva pada kepala dan leher. Dan
pada beberapa penderita terjadi pula ronki kering difus serta ronki basah.

Penetalaksanaa
Komplikasi
Komplikasi pertusis sangat banyak. Komplikasi infeksius antara lain pneumonia atau
otitis media. Pneumonia sekunder dapat cepat mematikan, dan mungkin memerlukan
antibiotik spektrum luas secara IV untuk organisme gram-negatif maupun gram positif.
Karena pertusis yang tidak mengalami komplikasi biasanya merupakan penyakit tanpa
demam, demam pada pasien pertusis harus menunjukkan kemungkinan infeksi bakteri
sekunder.
Komplikasi neurologik, antara lain kejang, hemiplegia, paraplegia, ataksia, afasia,
buta, tuli, dan kerusakan otak permanen. Masalah pada paru antara lain atelektasis, emfisema,
dan pneumotoraks. Komplikasi lain yang berkaitan dengan tekanan adalah epistaksis, melena,
petekie, hernia, prolaps rektum, perdarahan epidura spinal, dan perdarahan subdural.
Kematian paling sering terjadi pada anak yang sangat mudah. Di Amerika Serikat, bila anak
di bawah usia 6 bulan mendapat infeksi B. Pertussis, terdapat kemungkinan 0,4% untuk
meninggal.
Prognosis
Bergantung kepada ada tidaknya komplikasi, terutama komplikasi paru dan susunan
saraf yang sangat berbahaya khususnya pada bayi dan anak kecil.
Pencegahan
Imunisasi umum anak dengan vaksin pertusis, mulai pada masa bayi, adalah inti
pengendalian pertusis. Satu-satunya standar untuk manfaat vaksin sekarang adalah
kemanjuran dan keamanan. Tujuan imunisasi sekarang adalah proteksi individu dari sakit
batuk berat dan pengendalian penyakit endemik dan epidemik.

Kesimpulan
Daftar Pustaka