Anda di halaman 1dari 359

2

MEKANIKA KUANTUM
Model Matematis Gejala Alam Mikroskopis
Tinjauan Takrelativistik

Muhammad Farchani Rosyid

2



@
I
@



00 (t)





@
@
6

@
@
@





@
: 0 (t2 )



@
= 
6 @
n0




C
z



 

 Q


Q







 C Q




Q


9



 C
(t)


Q lim


0 (t1 + )
 C
Q


Q

C


Q = n


1
C
Q

s
Q





C


R


+



C 0
(0) =

C (t)

CW

 (t1 )

lim0 (t2 + )

Diterbitkan oleh

Jurusan Fisika FMIPA UGM Yogyakarta


ISBN 978-979-17263-0-6

ii

MEKANIKA KUANTUM
Model Matematis Fenomena Alam Mikroskopis
Tinjauan Nonrelativistik

M. F. ROSYID
Departemen Fisika

Institut untuk Sains di Yogyakarta (I-Es-Ye)


dan
Working Group on Mathematical Physics and Center for Differential
Geometry (WGMPCDG)

Laboratorium Fisika Atom dan Fisika Inti


Jurusan Fisika FMIPA

iii

iv
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Diperuntukkan buat

Ani Rosdiana,
Amalia, Natsir, Ibrahim dan Aida

vi

PENGANTAR
Karena sesungguhnya bersama kesulitan adalah kemudahan.
Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat kemudahan.
Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Rabbmu (Tuhanmu)
sajalah hendaknya kamu berharap.
(Alam Nasyrah : 5-8)

Teori kuantum lahir pada tanggal 14 Desember 1900 ketika Max Planck
menyampaikan kuliah yang mashur dengan judul Zur Theorie des Gesetzes
der Energieverteilung im Normalspektrum di depan Deutsche Physikalische Gesellschaft [vdW]. Tahap perkembangan pertama ini (sejak dari kuliah Planck tersebut hingga keberhasilan Einstein menjelaskan gejala fotolistrik pada tahun 1905) di kemudian hari dikenal sebagai era primitif bagi
teori kuantum. Pada tahap perkembangan selanjutnya, di bawah sentuhan
sekian banyak figur (de Broglie, Heisenberg, Bohr, Schrodinger, Dirac, Jordan, Born, dll.), teori ini berkembang menjadi the top of human intelectual triumph, yakni puncak kemenangan intelektual manusia. Oleh karena
itu, teori kuantum merupakan karya kolektif lintas bangsa, walaupun Pauli
dengan sinis mengatakan bahwa teori ini cenderung mengikuti selera kroni
Gottingen, dalam suratnya kepada Kronig dia katakan: noch etwas vom
G
ottinger formalen Gelehrsamkeitsschwall befreiet werden must [vdW].
Berdasarkan teori inilah kelakuan-kelakuan alam mikroskopis dapat
dijelaskan secara memuaskan dan berbagai hasil eksperimen dapat diramalkan dengan sangat akurat. Sesuai dengan yang telah digariskan oleh
adagium Sains adalah peretas jalan bagi teknologi, maka begitu sains mulai mampu merambah ranah (domain) mikroskopis, perkembangan teknologi pun mulai menapaki ranah tersebut. Sebagai konsekuensi, pada gilirannya muncullah teknologi-teknologi yang berbasiskan pengetahuan alam
mikroskopis ini. Sekedar untuk disebutkan, teknologi-teknologi itu di anvii

viii
taranya adalah teknologi zat padat (solid state technology), teknologi nuklir,
teknologi laser dll. Inilah teknologi yang secara dominan mewarnai perikehidupan manusia sejak pertengahan abad keduapuluh. Penemuan Scanning
Tunneling Microscopy (STM) oleh Rohrer dan Binnig tahun 1980-an pada gilirannya membuka cakrawala baru bagi penyelidikan alam berukuran
nanometer (1 sampai 100 nanometer) secara eksperimental. Sejak saat itu
orang mulai menengok kemungkinan untuk mendapatkan peranti-peranti
yang secara fungsional sama namun berukuran jauh lebih kecil (sampai
berukuran nano) dibanding yang telah ada. Maka sekarang ini terjadilah
booming nanoteknologi : quantum dots, peranti-peranti elektronik berukuran nano semacam nanotransistor, komputer nano, dll.
Di mata sebagian besar mahasiswa teori kuantum dianggap sebagai
subjek yang sangat sulit, terlalu matematis, jauh dari jangkauan kemampuan nalar umumnya mahasiswa dan sekian banyak anggapan yang sering
diungkapkan dengan nada-nada kekecewaan lainnya. Terus terang . . .
persepsi itu banyak benarnya. Itu semua barangkali karena ia, sekali lagi, merupakan the top of human intelectual triumph. Untuk memahaminya
dibutuhkan komitmen, yakni komitmen untuk menggeser cara pandang dan
cara berpikir kita dari cara pandang dan cara berpikir klasik menuju ke cara
pandang dan cara berpikir kuantum.
Ada ratusan buku mekanika kuantum yang telah ditulis orang. Masingmasing memiliki kekhasan dalam pendekatan maupun penyajian. Dalam
pendekatan historis gradual, proses kelahiran dan perkembangan mekanika
kuantum dipaparkan sedemikian rupa seolah-olah dari satu perkembangan
ke perkembangan berikutnya berlangsung secara runtut dalam rangkaian
kronologis yang rapi dalam satu kesatuan skenario. Hal ini tentu memberi
kesan bahwa mekanika kuantum dikembangkan dalam tahap-tahap yang
sistematis. Padahal tidak demikian yang terjadi [vdW]. Yang mengambil pendekatan ini misalnya [Par], [HW] dan [Sch]. Pendekatan yang lain
adalah shock method. Dalam pendekatan ini, pembaca langsung dihadapkan dengan perilaku sistem fisis mikroskopis (yang sangat kontras dengan
perilaku sistem fisis makroskopis) dan diajak memahami perilaku sistem
tersebut secara kuantum. Pendekatan semacam ini menafikan urgensi sejarah perkembangan mekanika kuantum, oleh karena itu disebut juga pendekatan ahistoris. Yang mengambil pendekatan ini misalnya adalah [Sak],
[Tow], [Che] dan [CDL2]. Dari aspek penyajian, ada yang cenderung bernuansakan filosofis (misalnya [Gos]), matematis (misalnya [CDL2], [Lud], [Pru]
dan [Bus]), maupun secara grafis (misalnya [BraDa1]). Ada pula yang ap-

ix
likatif (misalnya [Yar], [Kit], dan [Sla]) atau yang melibatkan teknologi
komputer (misalnya [BraDa2] dan [Hor]).
Hal ini sesungguhnya menunjukkan bahwa di samping subjek ini memang cukup penting, telah juga disadari bahwa ia merupakan subjek yang
tidak mudah untuk dipahami. Pendekatan yang diambil dalam buku ini
mencoba mendudukkan mekanika kuantum dan mekanika klasik dalam kesamaan struktur model. Kesamaan struktur model ini disarikan sebagai
prinsip umum mekanika yang akan disebut metamekanika. Diharapkan dengan pendekatan semacam ini, para pembaca yang umumnya telah
memahami mekanika klasik tidak akan merasa asing dengan struktur yang
ada dalam mekanika kuantum.
Satu hal lagi yang akan menambah novelty buku ini adalah peran utama yang dimainkan oleh teori peluang dan statistika dalam perumusan
baik metamekanika, mekanika klasik maupun mekanika kuantum. Hal ini
diharapkan dapat membuat para pembaca (khususnya mahasiswa) lebih
mudah lagi untuk memahami mekanika kuantum mengingat mereka tentu telah terbiasa dengan seluk-beluk teori peluang dan statistika sejak di
sekolah lanjutan. Buku ini akan menunjukkan bahwa mekanika kuantum
(juga mekanika klasik) dapat dipahami sebagaimana memahami pelemparan dadu ataupun pelemparan coin. Artinya, belajar mekanika kuantum
(juga mekanika klasik) sama mudahnya dengan bermain dadu ataupun
mengundi dengan coin. Bagi mahasiswa ilmu matematika maupun statistika, buku ini dapat dirasakan sebagai apresiasi terhadap bidang-bidang
ilmu yang mereka dalami. Bagi mereka pula, semoga buku ini mampu
menguak difragma lebih lebar ke bidang ilmu tempat sesuatu yang telah
mereka tekuni selama beberapa semester mendapatkan peran yang begitu
mencolok.
Kehadiran buku mekanika kuantum ini diharapkan pula mampu mengisi
kekurangan kalau tidak boleh dikatakan sebagai ketiadaan literatur
berbahasa Indonesia dalam subjek ini.
Menutup pengantar ini, penulis ingin mengucapkan banyak terimakasih
kepada berbagai pihak yang telah terlibat baik langsung maupun tidak
langsung dalam penulisan buku ini. Terutama kepada para mahasiswa yang
telah menghidupkan berbagai diskusi di kelompok underground Working Group on Mathematical Physics and Center for Differential Geometry
(WGMPCDG) dan rekan-rekan di I-Es-Ye atas gagasan-gagasan segar yang
kreatif dan menjanjikan. Khusus bagi saudara Joko Purwanto dan Romy

x
Hanang Setiabudi SSi diucapkan terimaksih sebanyak-banyaknya, jazakumullahukhoironkatsiro, atas keluangan waktunya untuk memeriksa naskah
awal buku ini, terutama yang berkaitan dengan salah cetak serta inkonsistensi kosakata dan berbagai kritik dan saran. Tentu saja, penulis juga
menyampaikan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Fakultas MIPA
Universitas Gadjah Mada yang telah memberikan tambahan pendanaan
pada saat penulisan naskah buku ini mendekati tahap akhir.
Ambarketawang, 1 Muharram 1427 H
M. F. R.

KHUSUS BAGI MAHASISWA


Tentang Soal : Soal, pada hakekatnya, adalah alat ukur. Yakni alat
untuk mengukur seberapa jauh dan seberapa dalam pemahaman yang anda miliki. Dalam kesempatan ini perlu diperingatkan Jangan menjadikan penyelesaian soal sebagai tujuan akhir pembelajaran anda. Buku ini tidak dimaksudkan untuk menjadikan anda sebagai sebuah mesin yang tangkas menyelesaikan soal-soal baku mekanika kuantum. Uraian-uraian yang disampaikan dalam buku ini dimaksudkan agar
anda memahami perilaku alam mikroskopis sebagaimana yang telah dipahami oleh para fisikawan. Dengan memahami perilaku alam semacam
itu diharapkan anda memiliki bekal dan kompetensi untuk menyelesaikan
permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan perilaku alam itu. Percayalah bahwa dengan memahami betul konsep-konsep dan fakta-fakta
ilmiah yang diuraikan dalam buku ini anda akan memiliki bekal yang
cukup untuk menyelesaikan soal-soal mekanika kuantum baik yang standard maupun yang istimewa. Oleh karena itu kerjakan semua soal yang
ada dalam buku ini secara mandiri dengan menerapkan konsep-konsep yang
telah anda pahami dalam setiap babnya. Jika anda masih belum berhasil
jangan tergesa-gesa menanyakannya kepada orang-orang yang anda anggap
tahu, melainkan bacalah ulang uraian dalam bab yang bersangkutan dengan soal yang anda kerjakan itu. Soal-soal yang ada dalam buku ini dimaksudkan untuk menguji pemahaman anda.
Tentang Notasi : Para mahasiswa atau pembaca umumnya diharapkan
tidak mensakralkan suatu notasi. Yang penting dari suatu notasi adalah
apa yang diwakili oleh notasi itu. Sejak belajar fisika di SMP kita terbiasa
dengan huruf m sebagai massa suatu partikel. Tetapi apalah artinya sebuah huruf m, sebab pada kesempatan lain orang menggunakan huruf m
untuk menyatakan bilangan kuantum magnetik. Jadi, tidaklah berdosa
bila pada suatu saat kita menggunakan simbol (misalnya) untuk masxi

xii
sa suatu partikel. Sekali lagi yang penting adalah besaran yang diwakili
oleh notasi tersebut. Yang penting adalah deklarasi notasi, yakni kalimat yang menyatakan bahwa suatu notasi mewakili suatu besaran. Kita
akan lebih bebas, dalam arti, tidak terikat oleh hal-hal yang justru akan
menyulitkan kita.

Daftar Isi
1 TEORI PELUANG DAN STATISTIKA

1.1

Eksperimen dan Spektrum . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

1.2

Batasan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

1.2.1

Ruang Peristiwa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

1.2.2

Batasan Aksiomatik . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Peubah Acak . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

15

1.3.1

Komposisi, Penjumlahan dan Perkalian Peubah Acak

17

1.3.2

Agihan dan Fungsi Agihan Suatu Peubah Acak . . .

18

1.3.3

Agihan Diskret dan Agihan Kontinyu . . . . . . . .

20

1.3

1.4

Nilai Harap dan Penyimpangan Baku

. . . . . . . . . . . .

22

1.4.1

Nilai Harap . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

22

1.4.2

Penyimpangan Baku . . . . . . . . . . . . . . . . . .

24

1.5

Beberapa Contoh Lagi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

25

1.6

Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

32

2 METAMEKANIKA

37

2.1

Semantika Matematika . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

38

2.2

Dialektika Itu Keniscayaan . . . . . . . . . . . . . . . . . .

39

2.3

Principia Universalis . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

42

xiii

xiv

DAFTAR ISI
2.3.1

Kinematika . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

42

2.3.2

Dinamika . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

44

3 PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KLASIK

47

3.1

Ruang Keadaan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

47

3.2

Aljabar Observabel dan Aturan Akses . . . . . . . . . . . .

51

3.2.1

Himpunan Lengkap

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

52

3.2.2

Spektrum dan Pengukuran Observabel Klasik . . . .

53

3.3

Dinamika . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

55

3.4

Contoh 1 : Osilator Harmonis Satu Dimensi . . . . . . . . .

57

3.5

Contoh 2 : Partikel bebas dalam ruang 3 dimensi . . . . . .

60

3.6

Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

62

4 PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM


4.1

65

Ruang Hilbert . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

66

4.1.1

Basis Eksternal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

78

Teori Operator dalam Ruang Hilbert . . . . . . . . . . . . .

81

4.2.1

Masalah Swanilai . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

85

4.2.2

Spektrum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

89

4.3

Prinsip-prinsip Mekanika Kuantum . . . . . . . . . . . . . .

91

4.4

Beberapa Contoh : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 100

4.2

4.5

4.4.1

Partikel Dalam Suatu Potensial . . . . . . . . . . . . 100

4.4.2

Partikel Dalam Sumur Potensial (Prelude) . . . . . . 105

4.4.3

Spin Elektron . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 110

Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 112

5 PENGUKURAN DALAM MEKANIKA KUANTUM

115

DAFTAR ISI
5.1

5.2

xv

Teori Pengukuran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 115


5.1.1

Perilaku Nilai Harap Terhadap Waktu . . . . . . . . 116

5.1.2

Ralat Pengukuran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 116

5.1.3

Contoh (lanjutan bagian 4.4.2) . . . . . . . . . . . . 118

Pengukuran dan Kompatibilitas . . . . . . . . . . . . . . . . 120


5.2.1

Ketidakpastian Heisenberg . . . . . . . . . . . . . . 123

5.3

Himpunan observabel yang komutatif dan


lengkap . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 125

5.4

Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 127

6 WAKILAN MATRIKS MEKANIKA KUANTUM


6.1

129

Wakilan Matriks Persamaan Schrodinger . . . . . . . . . . . 130


6.1.1

Spektrum Diskret Tak Merosot . . . . . . . . . . . . 133

6.1.2

Spektrum Diskret Merosot

. . . . . . . . . . . . . . 136

6.2

Wakilan Matriks Masalah Swanilai . . . . . . . . . . . . . . 138

6.3

Wakilan Matriks Secara Umum . . . . . . . . . . . . . . . . 141

6.4

6.3.1

Masalah Swanilai . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 141

6.3.2

Masalah Swanilai Pendiagonalan Wakilan Matriks 143

Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 145

7 PENGKUANTUMAN

147

7.1

Pengkuantuman Geometrik . . . . . . . . . . . . . . . . . . 149

7.2

Wakilan Schrodinger . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 153

7.3

7.2.1

Wakilan posisi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 153

7.2.2

Wakilan momentum . . . . . . . . . . . . . . . . . . 155

7.2.3

Dinamika . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 156

Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 157

xvi

DAFTAR ISI

8 WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH


8.1

8.2

Wakilan Posisi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 162


8.1.1

Operator dalam wakilan posisi . . . . . . . . . . . . 165

8.1.2

Nilai harap Suatu Observabel . . . . . . . . . . . . . 168

8.1.3

Pemisahan Variabel Ruang dan Waktu . . . . . . . . 171

8.1.4

Pertikel bebas dalam koordinat kartesius . . . . . . . 173

Mekanika Gelombang Dan Mekanika Kuantum . . . . . . . 177


8.2.1

8.3

159

Wakilan Momentum . . . . . . . . . . . . . . . . . . 179

Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 181

9 SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

183

9.1

Partikel Bebas . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 184

9.2

Sumur Potensial Takterhingga . . . . . . . . . . . . . . . . . 186

9.3

Potensial Undak Sederhana . . . . . . . . . . . . . . . . . . 190

9.4

Getaran Selaras . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 193

9.5

9.4.1

Cara Rekursi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 195

9.4.2

Cara Aljabar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 200

Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 205

10 KESETANGKUPAN

207

10.1 Transformasi Keadaan dan Konsep Grup . . . . . . . . . . . 208


10.2 Transformasi Keruangan dan Temporal . . . . . . . . . . . 209
10.2.1 Pergeseran keruangan . . . . . . . . . . . . . . . . . 210
10.2.2 Perputaran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 211
10.2.3 Campuran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 215
10.3 Kesetangkupan dan Teorema Noether . . . . . . . . . . . . 216

DAFTAR ISI

xvii

10.3.1 Kesetangkupan dalam mekanika klasik . . . . . . . . 216


10.3.2 Kesetangkupan dalam mekanika kuantum . . . . . . 219
10.4 Grup Lie, Aljabar Lie dan Maknanya . . . . . . . . . . . . . 226
10.4.1 Grup Lie . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 226
10.4.2 Aljabar Lie . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 227
10.4.3 Teori Wakilan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 233
10.4.4 Grup Setangkup dan Teorema Noether . . . . . . . . 238
10.5 Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 239
11 MOMENTUM SUDUT

241

11.1 Batasan Umum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 241


11.1.1 Macam-macam Momentum Sudut . . . . . . . . . . 242
11.2 Swanilai dan Swakeadaan Momentum Sudut . . . . . . . . . 242
11.3 Wakilan Matriks Bagi Momentum Sudut . . . . . . . . . . . 246
11.4 Momentum Sudut Orbital . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 252
11.5 Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 255
12 PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

261

12.1 Hasilkali Tensor . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 263


12.1.1 Sebuah contoh awal . . . . . . . . . . . . . . . . . . 263
12.1.2 Produk Tensor dua ruang Hilbert . . . . . . . . . . . 265
12.1.3 Produk tensor dua operator . . . . . . . . . . . . . . 266
12.2 Penjumlahan Momentum Sudut . . . . . . . . . . . . . . . . 267
12.3 Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 274
13 DINAMIKA KUANTUM

277

13.1 Operator Translasi Waktu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 278

xviii

DAFTAR ISI

13.2 Contoh : Presesi spin dalam medan magnet . . . . . . . . . 281


13.3 Contoh : Resonansi Magnetik . . . . . . . . . . . . . . . . . 286
13.4 Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 290
14 SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI TIGA

293

14.1 Mekanika Kuantum Dalam Koordinat Bola . . . . . . . . . 293


14.2 Partikel Bebas Dalam Koordinat Bola . . . . . . . . . . . . 296
14.3 Zarah dalam potensial terpusat . . . . . . . . . . . . . . . . 298
14.3.1 Contoh : Sumur Potensial . . . . . . . . . . . . . . . 301
14.4 Medan Magnet Dan Potensial Terpusat . . . . . . . . . . . 302
14.5 Aras-Aras Landau . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 306
14.5.1 Manakah yang lebih fisis B ataukah A? . . . . . . . 308
14.6 Soal-soal . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 308
15 MASALAH DUA ZARAH

311

15.1 Bagian Pusat Massa . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 313


15.2 Bagian Tereduksi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 314
15.3 Contoh : Atom Bak-Hidrogen . . . . . . . . . . . . . . . . . 315
A Ruang Vektor

323

B Fungsi -Dirac

335

Bab 1

TEORI PELUANG DAN


STATISTIKA
Probability is the degree of certainty,
which is to the certainty as a part is to a whole
(James Bernoulli)

Dalam bab paling awal ini, hendak disajikan seperlunya saja pernik-pernik
teori peluang dengan harapan agar tercapai kesamaan pemahaman dan notasi mengingat keberagaman konsep dan notasi yang telah dipakai secara
luas dalam berbagai literatur teori peluang. Bagi pembaca yang menghendaki perinciannya dapat menengok [PaPi, Bil, Pit, Gne]. Bagi yang telah
terbiasa atau familier dengan teori peluang dapat mengabaikan bab ini
tanpa mengganggu pemahaman bab-bab selanjutnya.

1.1

Eksperimen dan Spektrum

Terma eksperimen dalam buku ini selalu diartikan sebagai kegiatan pemaparan (exposing, subjecting) suatu barang (objek) dalam suatu situasi dan
kondisi tertentu yang telah diatur dilanjutkan dengan pengamatan (observing) apa yang terjadi dengan objek tersebut. Pelemparan sekali sebuah
dadu merupakan contoh sebuah eksperimen. Pelemparan dua kali sebuah
dadu merupakan eksperimen yang lain lagi. Dalam suatu eksperimen selalu
terdapat apa yang disebut sebagai hasil eksperimen atau keluaran atau
1

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA

outcome. Didapatkannya muka nomor enam dalam pelemparan sekali sebuah dadu merupakan sebuah outcome bagi eksperimen pelemparan sekali
sebuah dadu. Himpunan yang beranggotakan semua hal yang mungkin
(potensial) untuk keluar sebagai outcome dalam suatu eksperimen disebut
ruang sampel. Himpunan yang beranggotakan semua muka dadu merupakan ruang sampel bagi eksperimen pelemparan sekali sebuah dadu. Himpunan yang beranggotakan semua pasangan dua muka dadu merupakan ruang sampel bagi pelemparan dua kali sebuah dadu. Ruang sampel disebut
juga spektrum. Perhatikanlah bahwa terdapat korespondensi satu-satu
antara eksperimen dengan ruang sampel :
Satu eksperimen Satu ruang sampel.

(1.1)

Suatu peristiwa adalah suatu himpunan tertentu yang memuat beberapa anggota ruang sampel. Satu contoh peristiwa yang khas adalah
ruang sampel itu sendiri yang dikenal sebagai peristiwa pasti. Peristiwa
lain yang juga khas adalah himpunan kosong. Peristiwa ini disebut peristiwa mustahil. Jika dalam suatu eksperimen salah satu anggota peristiwa
muncul sebagai keluaran, maka dikatakan bahwa peristiwa itu terjadi. Ruang sampel sebagai peristiwa akan selalu terjadi dalam setiap eksperimen,
sebab setiap keluaran adalah anggota ruang sampel. Himpunan kosong sebagai peristiwa tidak akan pernah terjadi dalam eksperimen manapun, sebab tidak satupun anggota ruang sampel yang menjadi anggota himpunan
kosong. Maka, jelaslah sekarang mengapa ruang sampel disebut peristiwa
pasti sedang himpunan kosong disebut peristiwa mustahil. Peristiwa yang
hanya memuat satu anggota ruang sampel disebut peristiwa keunsuran.
Untuk lebih memahami istilah-istilah di atas perhatikanlah beberapa
contoh berikut.

Contoh :
Dilempar dua buah dadu bersamaan. Maka spektrum bagi eksperimen
ini adalah himpunan { (muka i, muka j) |i, j = 1, 2, , 6} yang beranggotakan semua pasangan dua muka dadu. Jadi, terdapat 36 pasangan sebagai anggota spektrum atau ruang sampel. Ketigapuluhenam pasangan
itulah yang potensial atau mungkin akan muncul dalam eksperimen pelemparan dua buah dadu itu. Himpunan semua pasangan dua muka dadu yang

1.2. BATASAN

jumlahan nomornya 7 adalah himpunan


T := { (muka 1, muka 6), (muka 6, muka 1), (muka 2, muka 5),
(muka 5, muka 2), (muka 3, muka 4), (muka 4, muka 3) }.

(1.2)

Ini adalah contoh sebuah peristiwa. Jumlah anggota peristiwa tersebut


adalah 6. Peristiwa tersebut dikatakan terjadi jika salah satu dari keenam
anggotanya muncul sebagai keluaran dalam eksperimen pelemparan dua
buah dadu itu. Contoh peristiwa lain adalah himpunan
S := { (muka 1, muka 1), (muka 1, muka 2), (muka 1, muka 3),
(muka 1, muka 4), (muka 1, muka 5), (muka 1, muka 6) }.

(1.3)

Ini adalah peristiwa munculnya muka nomor 1 pada dadu pertama. Irisan
kedua peristiwa di atas adalah peristiwa keunsuran { (muka 1, muka 6) }.
Oleh karena itu, pasangan (muka 1, muka 6) adalah satu-satunya pasangan
yang muncul sebagai keluaran bila kedua peristiwa di atas terjadi sekaligus.
Contoh :
Dilempar tiga buah koin bersamaan. Ruang sampel bagi eksperimen ini
adalah
{(A, A, A), (G, G, G), (A, A, G), (A, G, A), (G, A, A),
(G, A, G), (G, G, A), (A, G, G)},

(1.4)

dengan A berarti angka dan G gambar. Himpunan


{(A, A, A), (A, A, G)}

(1.5)

merupakan peristiwa munculnya angka pada pelemparan koin pertama dan


kedua.

1.2

Batasan

Terdapat paling tidak tiga cara dalam pendefinisian peluang. Yang pertama adalah batasan klasik : dalam hal ini peluang terjadinya peristiwa A
dalam suatu eksperimen, ditulis sebagai P(A), didefinisikan sebagai nisbah
P(A) =

NA
,
N

(1.6)

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA

dengan N adalah bilangan yang menyatakan jumlah keluaran (outcomes)


yang dimungkinkan muncul dalam eksperimen tersebut dan NA adalah
bilangan yang menyatakan jumlah anggota ruang sampel yang termasuk
dalam peristiwa A.
Contoh :
Kembali ke contoh pelemparan dua dadu di atas. Peluang untuk terjadinya peristiwa T , yakni munculnya pasangan muka dadu yang jumlahan
nomornya 7, diberikan oleh
P(T ) =

6
1
= .
36
6

(1.7)

Sedangkan peluang terjadinya peristiwa S, yakni munculnya muka nomor


satu untuk pelemparan dadu yang pertama, diberikan oleh
P(S) =

6
1
= .
36
6

(1.8)

Peluang untuk terjadinya peristiwa { (muka 1, muka 6) }, yakni terjadinya


peristiwa T dan peristiwa S, diberikan oleh
P(T S) =

1
.
36

(1.9)

Kevalidan penerapan batasan ini sangat tergantung pada kevalidan anggapan bahwa semua anggota ruang sampel memiliki kemungkinan yang sama.
Yang kedua adalah batasan frekuensi relatif : peluang terjadinya
suatu peristiwa A diberikan oleh
P(A) = lim

nA
,
n

(1.10)

dengan nA jumlah terjadinya peristiwa A dan n adalah jumlah eksperimen.


Dengan batasan seperti ini, peluang diperoleh dari pengamatan terhadap
hasil eksperimen yang dilakukan berulang-ulang. Peluang yang dihitung
dengan cara seperti ini, tentu saja, sangat tergantung pada reprodusibilitas eksperimen yang dilakukan, yakni seberapa jauh eksperimen tersebut
dapat diulang-ulang sedemikian rupa sehingga tak terbedakan satu dari
yang lain. Dalam situasi yang riil, jumlah eksperimen yang dapat dilakukan (walaupun sangat banyak) tidak dapat disamakan dengan ketakterhinggaan. Bila persamaan (1.10) digunakan untuk menentukan peluang

1.2. BATASAN

terjadinya suatu peristiwa, maka limit dalam persamaan tersebut harus


diterima sebagai suatu hipotesa, bukan sebagai sebuah angka yang dapat
ditentukan secara eksperimen.
Yang ketiga adalah batasan aksiomatik. Batasan yang diperkenalkan
oleh A. N. Kolmogorov ini dikatakan sebagai batasan yang paling baik
dalam teori peluang. Akan tetapi untuk memahaminya diperlukan beberapa konsep lagi yang berkaitan dengan ruang sampel dan himpunanhimpunan bagiannya.

Gambar 1.1: A.N. Kolmogorov (1903-1987), matematikawan Rusia. Ia berjasa


dalam penyusunan teori peluang secara rinci dan ketat mulai dari aksioma-aksioma
mendasar. Hasilnya adalah apa yang kita pelajari dalam bab ini. (Foto diambil
dari situs www.-groups.dcs.st-and.ac.uk.)

1.2.1

Ruang Peristiwa

Seperti yang telah disinggung pada beberapa bagian yang lalu, ada beberapa subhimpunan dari ruang sampel yang disebut peristiwa. Dalam batasan
berikut ini ditentukan subhimpunan-subhimpunan yang mana saja dari ruang sampel yang akan dipilih sebagai peristiwa.
Definisi 1.2.1 Andaikan ruang sampel dari suatu eksperimen. Suatu
himpunan E yang beranggotakan subhimpunan-subhimpunan dari disebut
ruang peristiwa dari bila syarat-syarat berikut dipenuhi

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA


1. E memuat sebagai salah satu anggotanya;
2. Jika E E, maka E juga termuat di E;
3. Jika E1 , E2 , E3 , E sembarang barisan unsur-unsur dari E, maka
E1 E2 E3 E.

Suatu ruang peristiwa dari disebut juga -aljabar dari . Setiap anggota
ruang peristiwa disebut peristiwa.
Syarat pertama dalam batasan di atas menyatakan bahwa ruang sampel
adalah peristiwa. Syarat kedua menyatakan bahwa komplemen dari suatu peristiwa juga merupakan peristiwa. Sedang syarat ketiga menyatakan
bahwa gabungan dua peristiwa atau lebih merupakan peristiwa.
Dari batasan tersebut dapat disimpulkan sifat-sifat berikut
1. Himpunan kosong merupakan peristiwa, sebab dari syarat pertama
dan kedua didapat = .
2. Jika E1 , E2 , merupakan barisan peristiwa, maka E1 E2 juga
merupakan peristiwa. Ini adalah konsekuensi dari syarat kedua dan
ketiga serta berlakunya dalil de Morgan.
3. Jika E dan E 0 peristiwa, maka gabungannya E E 0 , irisannya E E 0
serta selisihnya E E 0 dan E 0 E juga merupakan peristiwa.
4. Jika E dan E 0 peristiwa, maka (E E 0 ) (E 0 E) juga merupakan
peristiwa.
Contoh :
Power set P dari suatu ruang sampel adalah himpunan yang beranggotakan semua subhimpunan dari . Power set P merupakan suatu ruang
peristiwa dari .
Himpunan-himpunan Borel pada Garis Riil
Misalkan suatu eksperimen memiliki ruang sampel R, yakni himpunan
yang beranggotakan semua bilangan riil. Jadi, dalam eksperimen itu yang

1.2. BATASAN

akan muncul sebagai keluaran adalah suatu bilangan riil. Ruang peristiwa yang lazim dipakai dalam eksperimen semacam ini adalah himpunan
B(R), yakni himpunan yang beranggotakan semua himpunan Borel pada
garis riil R. Himpunan B(R) didefinisikan sebagai suatu subhimpunan dari
power set P R sedemikian rupa sehingga B(R) merupakan himpunan terkecil
yang memuat semua interval terbuka dan memenuhi kesemua syarat dalam
Definisi 1.2.1 di atas. Himpunan-himpunan Borel oleh karena itu meliputi
misalnya
semua interval terbuka beserta semua gabungan-gabungannya,
semua interval tertutup beserta semua gabungan-gabungannya,
semua himpunan yang beranggotakan bilangan riil tunggal (atau singleton) beserta gabungan-gabungannya,
semua interval setengah terbuka beserta gabungan-gabungannya.
Himpunan-himpunan Borel pada Bidang
Sebuah eksperimen bisa saja memiliki ruang sampel R2 , semisal eksperimen mengukur posisi sebuah partikel yang hidup pada bidang-XY. Dalam
eskperimen semacam itu, yang akan muncul sebagai keluaran adalah titiktitik pada bidang. Bila pada bidang tersebut dipasang koordinat kartesius
sedemikian rupa sehingga setiap titik pada bidang tersebut dapat dicirikan
oleh sepasang bilangan riil (x, y), maka sebagai keluaran adalah pasanganpasangan bilangan seperti itu. Ruang peristiwa untuk spektrum semacam
ini adalah himpunan B(R2 ) yang beranggotakan semua wilayah Borel pada bidang tersebut. Himpunan B(R2 ) didefinisikan sebagai suatu subhim2
punan dari power set P R sedemikian rupa sehingga B(R2 ) merupakan himpunan terkecil yang memuat semua cakram terbuka dan memenuhi kesemua
syarat dalam Definisi 1.2.1. Himpunan-himpunan Borel pada R2 oleh karena itu meliputi misalnya
semua cakram terbuka beserta semua gabungan-gabungannya,
semua cakram tertutup beserta semua gabungan-gabungannya,
semua himpunan yang hanya beranggotakan sebuah titik tunggal pada R2 (atau singleton) beserta gabungan-gabungannya,

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA


semua cakram tidak terbuka dan tidak tertutup beserta gabungangabungannya.

Sebuah garis ataupun kurva pada bidang-XY merupakan wilayah Borel


karena merupakan gabungan dari singleton-singleton. Wilayah A yang
didefinisikan menurut
A = {(x, y) R2 |a < x < b, c < y < d}

(1.11)

merupakan wilayah Borel pada R2 karena A merupakan gabungan-gabungan


dari cakram-cakram terbuka. Wilayah A yang didefinisikan menurut
A = {(x, y) R2 |a x b, c y d}

(1.12)

merupakan wilayah Borel karena A merupakan gabungan dari wilayah Borel


A di atas dengan garis-garis batas {(x, y) R2 |x = a, c y d}, {(x, y)
R2 |x = b, c y d}, {(x, y) R2 |a x b, y = c} dan {(x, y) R2 |a
x b, y = d}.
Teorema 1.2.1 Andaikan suatu ruang sampel, 0 suatu subhimpunan dari dan E ruang peristiwa pada . Maka himpunan
E 0 = {E 0 |E E},

(1.13)

yakni himpunan yang beranggotakan semua irisan 0 E (E E), merupakan suatu ruang peristiwa pada 0 . Ruang peristiwa ini disebut ruang
peristiwa yang diwarisi oleh 0 dari E.
Bukti : 0 jelas ada di E 0 sebab 0 = 0 . Jika E 0 E 0 , maka terdapat
E E sedemikian rupa sehingga E 0 = E 0 . Oleh karena itu, dengan
dalil de Morgan diperoleh
0 E 0 = 0 (E 0 ) = (0 E) (0 0 ) = 0 E.
Tetapi, 0 E = ( E) 0 . Berhubung E E, E juga ada di
E. Hal ini menunjukkan bahwa ada F := E sedemikian rupa sehingga
0 E 0 = F 0 , yakni bahwa 0 E 0 ada di E 0 . Andaikan E10 , E20 , E 0 .
Maka terdapat E1 , E2 , E sedemikian rupa sehingga E10 = E1 0 , E20 =
E2 0 , dst. Oleh karena itu, E10 E20 = (E1 0 ) (E2 0 ) .
Dari distributivitas, didapatkan E10 E20 = (E1 E2 ) 0 .

1.2. BATASAN

Karena E E2 ada di E, maka, dari persamaan terakhir, didapatlah


E10 E20 E. Oleh karenanya bukti lengkap.
Teorema terakhir ini misalnya memberitahu kita bagaimana menentukan wilayah-wilayah Borel pada suatu ruang sampel yang berupa sebuah
wilayah tertentu yang merupakan bagian dari bidang-XY atau bagian dari
sumbu-x.

1.2.2

Batasan Aksiomatik

Definisi 1.2.2 Andaikan suatu ruang sampel atau spektrum dan E suatu ruang peristiwa dari . Peluang dari peristiwa-peristiwa di E adalah
pemetaan P : E R yang memenuhi syarat-syarat berikut
1. P() = 1,
2. P(E) 0 untuk setiap E E,
3. jika E1 , E2 , E dan Ei Ej = untuk i 6= j, maka
P(E1 E2 ) = P(E1 ) + P(E2 ) +
Bilangan P(E) untuk setiap E E dibaca peluang terjadinya peristiwa E.
Dari batasan tersebut dengan mudah dapat diturunkan sifat-sifat berikut :
1. P() = 0.
Bukti : Dimaklumi bahwa E = dan E = E. Oleh karena
itu dari syarat 2 didapatkan P(E) = P(E ) = P(E) + P(). Jadi,
P() = 0.
2. P(E E 0 ) = P(E) + P(E 0 ) jika E E 0 = .
Bukti : Ambil barisan E, E 0 , , , . Ini adalah barisan dari
peristiwa-peristiwa yang saling asing. Oleh karena itu dari syarat
ketiga Definisi 1.2.2 dan sifat 1 didapatkan
P(E E 0 ) = P(E E 0 ) =
P(E) + P(E 0 ) + 0 + 0 + = P(E) + P(E 0 )

(1.14)

10

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA


3. P(E) = 1 P( E).
Bukti : Karena E ( E) = dan E ( E) = , maka menurut
syarat pertama dan kedua dari Definisi 1.2.2 serta sifat 2 yang telah
kita buktikan didapat
1 = P() = P(E ( E)) = P(E) + P( E).

(1.15)

4. Untuk sembarang peristiwa E dan F berlaku


P(E F ) = P(E) + P(F ) P(E F ) P(E) + P(F ).

(1.16)

Bukti : Peristiwa E F dan F dapat dituliskan sebagai gabungan


dari dua peristiwa yang saling asing
E F = E (( E) F )

dan

F = (E F ) (( E) F ).

Dari syarat ketiga Definisi 1.2.2.


P(E F ) = P(E) + P((( E) F ))
dan
P(F ) = P((E F )) + P(( E) F )).
Dengan eliminasi suku P(( E) F )) diperoleh pers.(1.16).
5. Jika E dan E dua peristiwa sedemikian rupa sehingga F E, maka
berlaku P(F ) P(E).
Bukti : Sebab E = F (( F ) E) dan F (( F ) E) = ,
maka P(E) = P(F ) + P(( F ) E) P(F ).
6. Untuk setiap peristiwa, berlaku 0 P(E) 1
Bukti : Sebab untuk setiap peristiwa E, berlaku E . Jadi, dari
sifat sebelumnya didapatkan P(E) P() = 1.
Contoh :
Dua orang pebisnis, katakanlah A dan B, membuat janji untuk datang ke
suatu tempat antara jam 12.00 w.i.b. sampai 13.00 w.i.b. tanpa menyebut titik waktu secara pasti. Diperjanjikan pula bahwa siapa yang datang
duluan harus berada di tempat tersebut selama 20 menit dan setelah itu
harus pergi. Andaikan semua titik waktu sejak jam 12.00 sampai jam 13.00
memiliki peluang yang sama bagi kedatangan kedua orang tersebut. Berapakah peluang bagi kedua orang pebisnis itu dapat bertemu di tempat
yang telah diperjanjikan?

1.2. BATASAN

11

Sketsa 1.1 Ruang sampel bagi masalah pertemuan pebisnis A dan B.


Untuk menjawab pertanyaan di atas, langkah pertama yang dilakukan
adalah mencari ruang sampel atau spektrum bagi masalah tersebut, yakni
kumpulan outcomes yang dimungkinkan terjadi. Outcomes yang mungkin
terjadi adalah bahwa A datang pada pukul tA , dengan 12.00 w.i.b. tA
13.00 w.i.b., dan B datang pada pukul tB , dengan 12.00 w.i.b. tB
13.00 w.i.b. Jadi, setiap outcomes dapat dituliskan sebagai pasangan bilangan (tA , tB ), dengan tA adalah waktu kedatangan pebisnis A dan tB
waktu kedatangan pebisnis B serta 12.00 w.i.b. tA , tB 13.00 w.i.b.
Ruang sampel untuk masalah tersebut oleh karena itu merupakan himpunan yang beranggotkan semua pasangan (tA , tB ) yang memenuhi syarat
di atas. Himpunan ini ditampilkan secara grafis oleh Sketsa 1.1. Jadi,
ruang sampelnya berupa bidang. Oleh karena itu peristiwa-peristiwanya
adalah semua himpunan Borel pada bidang tersebut tersebut :
semua himpunan yang beranggotakan hanya sebuah titik tunggal pada bidang tersebut,
wilayah-wilayah terbuka1 pada bidang tersebut,
1

Suatu wilayah pada suatu bidang dikatakan terbuka bila wilayah itu tidak memiliki
batas. Suatu wilayah pada suatu bidang dikatakan tertutup bila wilayah itu dilingkupi
oleh batas.

12

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA


gabungan-gabungan dan irisan-irisan wilayah-wilayah terbuka itu,
wilayah-wilayah tertutup pada bidang itu,
gabungan-gabungan dan irisan-irisan wilayah tertutup itu,
gabungan-gabungan dan irisan-irisan semua jenis wilayah yang baru
saja disebutkan, dlsb.

Andaikan I suatu wilayah/himpunan Borel dari ruang sampel (lihat


Sketsa 1.2). Karena tiap titik pada ruang sampel sama peluangnya untuk
keluar sebagai outcome, maka peluang terjadinya peristiwa I diberikan oleh
P(I) =

luas wilayah I
.
luas ruang sampel

(1.17)

Sketsa 1.2 Himpunan Borel I dari ruang sampel.


Mudah untuk dipahami bahwa pebisnis A dan pebisnis B sempat bertemu manakala selisih kedatangan A dan B tidak lebih dari 20 menit. Jadi
|tA tB | 20 menit.

(1.18)

Titik-titik (tA , tB ) pada ruang (bidang) sampel yang memenuhi pertidaksamaan terakhir merupakan titik-titik yang berada pada wilayah J
yang diperlihatkan oleh Sketsa 1.3. Wilayah J merupakan wilayah Borel

1.2. BATASAN

13

(lihat Teorema 1.2.1). Oleh karena itu peluang terjadinya pertemuan antara pebisnis A dan B merupakan peluang terjadinya peristiwa J, yakni
P(J) =

luas wilayah J
602 402
= 0, 56.
=
luas ruang sampel
602

(1.19)

Sketsa 1.3 Titik-titik pada himpunan Borel J menggambarkan pasangan


(tA , tB ) sedemikian rupa sehingga A dan B sempat bertemu. (Sketsa ini
dirancang dan digambar oleh M.F. Rosyid)

Contoh :
Ditinjau sebuah fungsi f yang kontinyu pada garis riil R sedemikian rupa
sehingga
Z

f (x)dx = 1

(1.20)

dan f (x) 0 untuk setiap x R (f tidak pernah negatif). Pemetaan


Pf : B(R) R yang didefinisikan oleh
Z
Pf (E) =

f (x)dx
E

E B(R),

(1.21)

14

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA

merupakan peluang dari peristiwa-peristiwa di B(R), dengan


Z
Z b
Z d
f (x)dx =
f (x)dx +
f (x)dx + ,
E

bila E dapat ditulis sebagai gabungan dari interval-interval dengan batasbatas bawah a, c, dst. dan batas atas b, d, dst.
Contoh :
Suatu partikel bermassa m hidup dalam ruang satu dimensi. Andaikan
partikel tersebut berada dalam keadaan yang diwakili oleh fungsi gelombang (lihat Bab 8) yang diberikan oleh

1
2
4
1
x2
4 ,
(x) =
< x < ,
(1.22)
e
2 2
dengan suatu tetapan yang berdimensi panjang. Keberadaan partikel
tersebut disuatu tempat sepanjang sumbu-x hanya dapat diketahui secara
probabilistik. Oleh karena itu, sumbu-x merupakan ruang sampel bagi
eksperimen pengukuran posisi partikel. Pemetaan P : B(R) R yang
didefinisikan sebagai
Z
Z
x2
1
2

P (E) =
|(x)| dx =
e 22 dx
(1.23)
2
E
E
untuk setiap peristiwa E B(R) merupakan peluang yang didefinisikan
pada B(R), sebab
Z +
x2
1

(1.24)
e 22 dx = 1
2

(lihat contoh sebelumnya). Peluang P (E) dibaca sebagai peluang menemukan partikel di daerah E.
Sekarang, andaikan E1 = (2, 8) dan E2 = (10, 15). Peluang menemukan partikel didaerah E1 atau di daerah E2 diberikan oleh
Z 8
Z 15
2
x2
1
1
x2
2

P (E1 E2 ) =
dx +
e
e 22 dx
2
2
2
10
= P (E1 ) + P (E2 ).
(1.25)
Peluang menemukan partikel di daerah E1 dan di daerah E2 nilainya nol
mengingat E1 E2 = .

1.3. PEUBAH ACAK

15

Definisi 1.2.3 Andaikan suatu ruang sampel dan E suatu ruang peristiwa dari serta P suatu peluang pada E. Dua peristiwa E, F 0 E dikatakan
tidak gayut menurut peluang P jika berlaku P(E F ) = P(E)P(F ).

1.3

Peubah Acak

Peubah acak atau random variable adalah penyematan suatu nilai bagi
tiap anggota ruang sampel. Jika, suatu anggota ruang sampel muncul
sebagai keluaran dalam suatu eksperimen, maka muncul pula nilai yang
disematkan padanya. Jadi, muncul tidaknya nilai yang disematkan pada
suatu anggota ruang sampel tergantung pada muncul tidaknya anggota
ruang sampel itu sebagai keluaran. Karena kemunculan anggota-anggota
ruang sampel sebagai keluaran dari suatu eksperimen bersifat probabilistik
(acak), maka nilai-nilai yang disematkan itupun muncul secara acak pula.
Inilah sebabnya disebut peubah acak.
Definisi 1.3.1 Andaikan ruang sampel dan E ruang peristiwa pada .
Suatu peubah acak riil X pada ruang sampel relatif terhadap ruang
peristiwa E adalah pemetaan X : R sedemikian rupa sehingga berlaku
X 1 (E 0 ) E untuk setiap E 0 B(R).
Dalam definisi terakhir, X 1 (E 0 ) adalah inverse image dari E 0 terhadap
X, yakni himpunan yang didefinisikan oleh
X 1 (E 0 ) := { |X() E 0 }.

(1.26)

Jadi, suatu peubah acak riil pada ruang sampel relatif terhadap ruang
peristiwa E adalah fungsi bernilai riil yang didefinisikan pada sedemikian
rupa sehingga inverse image dari setiap himpunan Borel pada R merupakan
anggota ruang peristiwa E.

Contoh :
Andaikan suatu ruang sampel dan E suatu ruang peristiwa dari . Bila
R suatu tetapan riil, maka pemetaan X : R dengan X() =
untuk setiap merupakan peubah acak riil.

16

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA

Contoh :
Dalam eksperimen melempar koin, bila untuk gambar G diberi nilai 1 dan
untuk angka A diberi nilai 0, maka diperoleh peubah acak berikut

0 x=A
X : {A, G} R dengan X(x) =
(1.27)
1 x=G
Contoh :
Andaikan sebagai ruang sampel adalah himpunan R disertai dengan ruang peristiwa B(R). Setiap fungsi kontinyu bernilai riil yang didefinisikan
pada = R merupakan peubah acah pada R relatif terhadap B(R). Hal ini
mudah dimaklumi mengingat definisi kekontinyuan suatu fungsi bernilai riil
yang didefinisikan pada garis riil. Suatu fungsi bernilai riil dikatakan kontinyu pada garis riil jika inverse image setiap interval terbuka merupakan
gabungan dari interval-interval terbuka. Dari sifat ini dapat ditunjukkan
bahwa suatu fungsi riil kontinyu pada garis riil jika dan hanya jika inverse
image setiap interval tertutup merupakan gabungan interval-interval tertutup. Demikian juga berlaku untuk himpunan Borel yang lain [Mun].

Definisi 1.3.2 Peubah acak Xe pada ruang sampel yang didefinisikan


menurut
Xe () = ,

(1.28)

untuk setiap disebut peubah acak netral pada .


Dalil berikut di samping mempermudah kita dalam penentuan apakah
suatu fungsi bernilai riil yang didefinisikan pada suatu ruang sampel merupakan peubah acak atau bukan, juga memberi petunjuk kepada kita cara
mengkonstruksi suatu peubah acak.
Teorema 1.3.1 Andaikan X suatu fungsi bernilai riil yang didefinisikan
pada suatu ruang sampel dan E suatu ruang peristiwa dari . Jika
X 1 (E 0 ) E untuk setiap interval terbuka E 0 R, maka X merupakan
peubah acak riil pada relatif terhadap E.

1.3. PEUBAH ACAK

17

Bukti : Teorema ini merupakan implementasi dari Teorema 13.1 dari [Bil].
Teorema tersebut mengatakan bahwa untuk menentukan apakah suatu
fungsi bernilai riil yang didefinisikan pada suatu ruang sampel merupakan
peubah acak atau bukan cukup dengan menguji apakah inverse image dari
setiap interval terbuka dari garis riil berada dalam ruang peristiwa atau
tidak. Jadi, orang tidak perlu menguji semua jenis subhimpunan yang ada
di B(R).

1.3.1

Komposisi, Penjumlahan dan Perkalian Peubah Acak

Andaikan X peubah acak riil pada suatu ruang sampel relatif terhadap
ruang peristiwa E. Karena X merupakan fungsi riil pada , maka himpunan X() = {X()| }, yakni bayangan dari terhadap pemetaan
X, merupakan subhimpunan dari R. Himpunan X() dalam beberapa
buku juga ditulis sebagai J m(X). Berdasarkan Teorema 1.2.1 himpunan
EX yang didefinisikan oleh
EX = {X() A|A B(R)}

(1.29)

merupakan suatu ruang peristiwa dari X(). Bila Y suatu peubah acak
pada X() relativ terhadap ruang peristiwa EX , maka komposisi Y X
juga merupakan peubah acak riil pada relatif terhadap E.
Bila Y adalah peubah acak riil pada ruang sampel relatif terhadap
ruang peristiwa E, maka jumlahan X + Y sedemikian rupa sehingga
(X + Y )() = X() + Y (),

(1.30)

merupakan peubah acak riil pada ruang sampel relatif terhadap ruang
peristiwa E.
Perkalian XY sedemikian rupa sehingga
(XY )() = X()Y (),

(1.31)

juga merupakan peubah acak riil pada ruang sampel relatif terhadap
ruang peristiwa E.
Contoh :
Andaikan sebuah bilangan riil yang tetap dan X peubah acak riil pada
suatu ruang sampel . Selanjutnya, andaikan pula bahwa Y : R R

18

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA

peubah acak riil pada X() R dengan Y (x) = x untuk setiap x


X(). Komposisi Y X merupakan peubah acak pada dan diberikan
oleh (Y X)() = Y (X()) = X() = (X)() untuk setiap .
Jadi, X juga merupakan peubah acak riil pada .
Contoh :
Andaikan X peubah acak riil pada suatu ruang sampel relatif terhadap
ruang peristiwa E dan n suatu bilangan asli. Definisikan fungsi X n : R
sebagai
X n () = X()X() X()

(n buah faktor),

(1.32)

untuk setiap . Dapat ditunjukkan dengan induksi bahwa X n merupakan peubah acak riil pada relatif terhadap ruang peristiwa E.

1.3.2

Agihan dan Fungsi Agihan Suatu Peubah Acak

Andaikan X peubah acak riil pada suatu ruang sampel relatif terhadap
ruang peristiwa E dan P peluang yang didefinisikan pada E. Untuk setiap
himpunan Borel E 0 X(), himpunan X 1 (E 0 ) = { |X() E 0 }
merupakan sebuah peristiwa pada . Bilangan P(X 1 (E 0 )) oleh karena itu
merupakan peluang terjadinya peristiwa X 1 (E 0 ) . Tetapi, bilangan
tersebut dapat pula dimaknai sebagai peluang terjadinya peristiwa E 0
X(). Jadi, peluang P pada E mengimbas adanya suatu peluang X pada
ruang peristiwa B(X()) yang beranggotakan semua subhimpunan Borel
dari X(). Peluang ini diberikan oleh
X (E 0 ) = P(X 1 (E 0 )).

(1.33)

Peluang X ini disebut agihan atau hukum dari peubah acak X.


Fungsi agihan F dari peubah acak X relatif terhadap peluang P
adalah fungsi yang didefinisikan pada R oleh
F (x) = P(X 1 (, x]),

< x < .

(1.34)

Jadi, F (x) merupakan peluang munculnya nilai peubah acak X pada interval (, x], yakni peluang munculnya nilai X yang kurang atau sama
dengan x.

1.3. PEUBAH ACAK

19

Sifat-sifat Fungsi Agihan


Berikut adalah sifat-sifat fungsi agihan (yang tidak dibuktikan dapat digunakan untuk latihan bagi para pembaca) :
1. limx F (x) = 1 dan limx F (x) = 0.
2. Fungsi F merupakan fungsi yang tidak menurun : jika x1 < x2 , maka
F (x1 ) F (x2 ).
Bukti : Peristiwa (, x1 ] merupakan subhimpunan dari peristiwa
(, x2 ] jika x1 < x2 . Oleh karena itu, berdasarkan sifat 5 dari peluang yang disebutkan setelah Def. 1.2.2, didapat P(X 1 (, x1 ])
P(X 1 (, x2 ]). Ketidaksamaan terakhir ini telah cukup membuktikan sifat tak menurun tersebut.
3. Jika F (x0 ) = 0, maka F (x) = 0 untuk seluruh x yang kurang dari
atau sama dengan x0 .
4. Fungsi agihan F merupakan fungsi yang kontinyu dari kanan pada
setiap titik x R.
5. 1 F (x) = P(X 1 ((x, )) untuk setiap bilangan riil x.
6. P(X 1 (x1 , x2 ]) = F (x2 ) F (x1 ) untuk setiap interval (x1 , x2 ].
7. Untuk setiap bilangan riil x, berlaku
P(X 1 (x)) = F (x) lim F (x ),
0

(1.35)

dengan > 0 .
Bukti : Dari sifat 6, dengan x1 = x dan x2 = x didapatkan
P(X 1 (x , x]) = F (x) F (x )
Jika diambil limit dengan  0, maka didapatkanlah pers.(1.35).
8. Untuk setiap interval terbuka (x1 , x2 ) berlaku
P(X 1 (x1 , x2 )) = lim F (x2 ) F (x1 ),
0

(1.36)

dengan dengan > 0.


Bukti : Karena (x1 , x2 ] = (x1 , x2 ) {x2 }, maka didapatkanlah ungkapan X 1 (x1 , x2 ] = X 1 (x1 , x2 ) X 1 ({x2 }). Dalam hal ini berlaku

20

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA


X 1 (x1 , x2 ) X 1 ({x2 }) = . Jadi, dengan sifat aditivitas peluang
didapatkan
P(X 1 (x1 , x2 ]) = P(X 1 (x1 , x2 )) + P(X 1 ({x2 })
atau
P(X 1 (x1 , x2 )) = P(X 1 (x1 , x2 ]) P(X 1 ({x2 }).
Dari sifat 6 dan 7 didapatkan
P(X 1 (x1 , x2 )) = lim F (x2 ) F (x1 ).
0

Dari sifat-sifat 5, 6, 7 dan 8, tampak bahwa orang dapat mengkonstruksi


suatu agihan atau hukum dari suatu peubah acak bila diberikan suatu
fungsi agihan.

1.3.3

Agihan Diskret dan Agihan Kontinyu

Agihan Diskret
Suatu peubah acak X pada ruang sampel relatif terhadap ruang peristiwa
E dikatakan memiliki agihan diskret jika himpunan X() := {X()|
} merupakan himpunan yang anggotanya diskret. Bila X memiliki agihan
diskret, maka terdapat apa yang dikenal sebagai fungsi peluang. Jika P
peluang yang didefinisikan pada E, maka fungsi peluang fP dari X yang
diimbas oleh P adalah pemetaan fP : X() R yang didefinisikan oleh
fP (x) = P(X 1 (x)).
Bila X() = {x1 , x2 , x3 , }, maka dengan mudah dapat dibuktikan
bahwa
X
fP (xi ) = 1.
(1.37)
seluruh i

Dengan asumsi nilai-nilai X yang sama, didapatkan


X
P(A) =
fP (xi )
xi A

untuk sembarang subhimpunan A dari X().

1.3. PEUBAH ACAK

21

Contoh :
Ditinjau suatu mesin yang mampu menghasilkan suatu jenis barang tertentu. Andaikan mesin tersebut memiliki kemungkinan menghasilkan produk
yang cacat dengan peluang p dan kemungkinan menghasilkan produk yang
sempurna dengan peluang q = 1 p. Andaikan kita menguji n buah produk dari mesin tersebut. Bila X menyatakan jumlah yang cacat, maka
terdapat n + 1 buah nilai X yang mungkin, yakni 0, 1, 2, , n. Masalah
ini termasuk ke dalam apa yang disebut undian Bernoulli. Ruang sampel dari masalah ini adalah seluruh pola barisan dari n buah item yang
masing-masing sukunya memiliki dua kemungkinan : cacat atau sempurna. Jumlah anggota ruang sampel oleh karena itu ada 2n . Jadi, X, sebagai
peubah acak, memiliki distribusi yang diskret. Peluang terjadinya x buah
produk yang cacat diberikan oleh
P(X 1 (x)) =

n!
px q nx .
(n x)!x!

Fungsi peluangnya diberikan oleh


(
n!
x nx untuk x = 0, 1, 2, , n
(nx)!x! p q
fP (x) =
.
0
untuk x yang lain

(1.38)

(1.39)

Agihan diskret semacam ini dikenal sebagai agihan binomial dengan parameter n dan p [Pit].
Agihan Kontinyu
Suatu peubah acak X pada ruang sampel relatif terhadap ruang peristiwa
E dikatakan memiliki agihan kontinyu relatif terhadap peluang P yang
didefinisikan pada E jika terdapat fungsi X yang nilainya tidak pernah
negatif pada garis riil R sedemikian rupa sehingga
Z
P(X 1 (A)) =
X (x)dx,
(1.40)
A

untuk setiap interval A R. Fungsi X : X() R disebut fungsi


kerapatan peluang dari X relatif terhadap peluang P. Fungsi kerapatan
peluang X memenuhi persamaan
Z
X (x)dx = 1
(1.41)
X()

22

1.4

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA

Nilai Harap dan Penyimpangan Baku

Dari fungsi agihan ataupun kerapatan agihan dapat diperoleh suatu nilai
yang merupakann rerata hasil eksperimen-eksperimen dan rerata penyimpangan terhadap nilai tersebut. Rerata hasil eksperimen-eksperimen disebut nilai harap sedangkan rerata penyimpangan terhadap nilai itu disebut
penyimpangan baku.

1.4.1

Nilai Harap

Nilai Harap untuk Agihan Diskret


Andaikan X suatu peubah acak riil yang diskret pada ruang sampel
relatif terhadap ruang peristiwa E dan fP fungsi peluang dari X relatif
terhadap peluang P yang didefinisikan pada E. Nilai rata-rata atau nilai
harap (X) dari X diberikan oleh
(X) =

xfP (x).

(1.42)

Jika bayangan dari X, yakni X(), memiliki anggota yang jumlahnya finit,
maka tidak ada masalah dengan jumlahan pers.(1.42). Jika X() memiliki
anggota yang jumlahnya infinit, maka jumlahan pers.(1.42) mungkin tidak
mengerucut (konvergen). Bila ini terjadi, maka X dikatakan tidak memiliki
nilai harap. Nilai harap (X) ada jika dan hanya jika
X

|x|fP (x) < .

(1.43)

Nilai Harap untuk Agihan Kontinyu


Andaikan X suatu peubah acak riil yang kontinyu pada ruang sampel
relatif terhadap ruang peristiwa E dan X fungsi kerapatan peluang dari
X relatif terhadap peluang P yang didefinisikan pada E. Nilai rata-rata
atau nilai harap (X) dari X diberikan oleh
Z
(X) =
xX (x)dx.
(1.44)
X()

1.4. NILAI HARAP DAN PENYIMPANGAN BAKU

23

Nilai harap (X) untuk agihan kontinyu dikatakan ada jika dan hanya jika
Z
|x|X (x)dx < .

(X) =

(1.45)

X()

Contoh :
Pada kasus partikel yang hidup dalam ruang satu dimensi, andaikan dilakukan eksperimen pengukuran posisi. Telah dikatakan bahwa ruang sampel untuk masalah ini adalah sumbu-x yang merupakan garis rill R. Bila
didefinisikan pemetaan X : R R mennurut X(x) = x untuk setiap x R,
maka fungsi ini merupakan peubah acak sebab X kontinyu. Seperti telah
disebutkan dalam contoh terdahulu yang mengupas masalah ini, bilangan
Z

|(x)|2 dx

P (E) =
E

merupakan peluang didapatkannya partikel berada dalam daerah E. Karena X(E) = E, maka
P (X

Z
(E)) =

|(x)|2 dx.

Karena |(x)|2 juga tidak pernah negatif, maka |(x)|2 merupakan fungsi
kerapatan peluang dan X merupakan peubah acak yang memiliki agihan
yang kontinyu. Nilai harap dari X oleh karena itu diberikan oleh
Z

(X) =

x|(x)| dx =

x2
1
xe 22 dx = 0.
2

(1.46)

Hal ini dijamin keberadaannya karena


Z

= 2
= 2

x2
1
|x|e 22 dx
2
x2
1

xe 22 dx
2

|x||(x)| dx =

0
2

< .

(1.47)

24

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA

Sifat-sifat Nilai Harap


1. Jika X suatu peubah acak riil pada ruang sampel relatif terhadap
ruang peristiwa E sedemikian rupa sehingga X() = b, b suatu tetapan, maka (X) = b relatif terhadap sembarang peluang.
2. Andaikan X suatu peubah acak riil pada ruang sampel relatif terhadap ruang peristiwa E dan Y peubah acak riil pada X() relatif
terhadap EX dari X() (lihat bagian 1.3.1). Jika P peluang pada E,
maka nilai harap (Y X) dari peubah acak Y X relatif terhadap
peluang P diberikan oleh
Z

(Y X) =

Y (X(x))X (x)dx,

(1.48)

dengan X adalah fungsi kerapatan agihan dari X relatif terhadap


ruang peristiwa E.
3. Andaikan X suatu peubah acak riil pada ruang sampel relatif terhadap ruang peristiwa E dan P suatu peluang pada E. Bila , R
sembarang dua bilangan riil, maka (X + ) = (X) + .
4. Andaikan X1 , X2 , , Xn n buah peubah acak riil pada ruang sampel
relatif terhadap ruang peristiwa E. Jika masing-masing nilai harap
(Xi ) (i = 1, 2, , n) ada, maka
n
n
X
X
(
Xi ) =
(Xi ).
i=1

1.4.2

(1.49)

i=1

Penyimpangan Baku

Andaikan X suatu peubah acak riil pada ruang sampel relatif terhadap
ruang peristiwa E. Bila (X) nilai harap peubah acak X relatif terhadap
peluang P yang didefinisikan pada E, maka fungsi X (X) menurut
bagian 1.3.1 merupakan peubah acak riil pada . Demikian pula halnya
fungsi (X(X))2 . Selanjutnya, varian dari X (selanjutnya ditulis sebagai
Var(X)) didefinisikan sebagai nilai harap dari peubah acak riil (X (X))2 ,
yakni
Var(X) = [(X (X))2 ].
(1.50)

1.5. BEBERAPA CONTOH LAGI

25

Karena Var(X) merupakan nilai rata-rata dari peubah acak positif, yakni
(X (X))2 , maka Var(X) selalu positif. Varian merupakan ukuran penyebaran nilai-nilai peubah acah X di sekitar nilai harapnya. Varian yang
kecil menandakan bahwa agihan peluang terkonsentrasi penuh di sekitar
nilai harap (X). Di lain pihak, varian yang besar menunjukkan bahwa
agihan peluang menyebar landai di sekitar (X). Penyimpangan baku
(standard deviation) dari peubah acak X didefinisikan sebagai akar positif
dari varian Var(X). Di kalangan eksperimentator, penyimpangan baku ini
dikenal sebagai ralat.

Sifat-sifat Varian
Berikut adalah sifat-sifat varian :
1. Var(X) = 0 jika dan hanya jika terdapat bilangan nyata c dalam range
X sedemikian rupa sehingga peluang munculnya X = c besarnya
100%.
2. Untuk sembarang tetapan a dan b serta peubah acak X berlaku
Var(aX + b) = a2 Var(X).
3. Untuk sembarang peubah acak X, Var(X) = (X 2 ) ((X))2 .

1.5

Beberapa Contoh Lagi

1. Dalam mekanika kuantum, pengukuran posisi suatu partikel yang


hidup pada bidang datar merupakan sebuah eksperimen. Ruang
sampel bagi eksperimen ini tidak lain adalah bidang datar tersebut.
Andaikan bidang datar tersebut adalah bidang-XY, yakni bidang
datar yang dibentang oleh sumbu-x dan sumbu-y, sedemikian rupa
sehingga masing-masing titik pada bidang tersebut dapat dicirikan
dengan pasangan (x, y). Karena ruang sampelnya berupa bidang,
yaitu bidang-XY, maka ruang peristiwa E() adalah himpunan semua
wilayah atau subhimpunan Borel pada bidang-XY. Suatu peluang
pada eksperimen ini ditentukan oleh sebuah fungsi gelombang yang
tergantung dari keadaan partikel yang bersangkutan. Andaikanlah
bahwa partikel tersebut berada pada suatu keadaan sedemikian rupa

26

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA


sehingga fungsi gelombang yang terkait diberikan oleh



 2
1 1/2
x + y2
,
(x, y) =
exp
2 2
4 2

(1.51)

untuk semua (x, y) di bidang-XY.


(a) Fungsi gelombang menentukan pemetaan
P : E() R
yang didefinisikan oleh
Z
P (E) =
|(x, y)|2 dxdy =
E

1
2 2

(1.52)

x2 + y 2
exp
2 2
E


dxdy,
(1.53)

untuk setiap wilayah Borel E pada bidang-XY. Akan ditunjukkan


bahwa P merupakan sebuah peluang pada ruang sampel = bidangXY.
Pertama, harus ditunjukkan bahwa P () = 1. Tetapi, hal ini jelas
dari persamaan yang mendefinisikan P , yaitu :

 2
Z
1
x + y2
P () =
exp
dxdy,
2 2
2 2
Z Z
2
2
1
x2 y2
2 e 2 dxdy,
e
=
2 2



Z
Z
2
2
1
1
x2
y2

=
e 2 dx
e 2 dy ,
2 2
2 2
= 1.
(1.54)
Kedua, harus ditunjukkan bahwa P (E) 0 untuk setiap wilayah
Borel E pada bidang-XY. Sifat ini dijamin oleh kenyataan bahwa
integrand pada pers.(1.53) tidak pernah negatif pada bidang-XY.
Ketiga, harus ditunjukkan bahwa
P (E1 E2 E3 ) = P (E1 ) + P (E2 ) + P (E3 ) + ,
(1.55)
untuk setiap barisan E1 , E2 , E3 , ... dari wilayah-wilayah Borel yang
saling asing. Berlakunya sifat ini dijamin oleh sifat integral bahwa

1.5. BEBERAPA CONTOH LAGI

27

hasil integrasi meliputi gabungan wilayah-wilayah yang saling asing


sama nilainya dengan jumlahan aljabar dari hasil integrasi meliputi
masing-masing wilayah tersebut.
(b) Pengukuran posisi berarti menentukan absis dan ordinat dari
titik pada bidang-XY tempat partikel tersebut berada. Untuk itu
didefinisikan dua fungsi X dan Y sebagai berikut :
X : R
: (x, y) 7 X(x, y) = x

(1.56)

dan
Y

: R
: (x, y) 7 Y (x, y) = y.

(1.57)

Jadi, fungsi X tidak lain adalah proyeksi dari bidan-XY ke sumbu-x


dan fungsi Y proyeksi dari bidang-XY ke sumbu-y. Fungsi X dan
Y merupakan fungsi kontinyu yang didefinisikan pada ruang sampel
. Oleh karena itu, fungsi X dan Y merupakan peubah acak (lihat
contoh sebelum Teorema 1.3.1).
Andaikan E 0 subhimpunan Borel pada garis riil R, yakni E 0 B(R).
Maka mudah dipahami bahwa
X 1 (E 0 ) = {(x, y) |X(x, y) = x E 0 } .

(1.58)

Jadi, X 1 (E 0 ) merupakan wilayah pada bidang-XY (= ) yang beranggotakan titik-titik (x, y) dengan absis x E 0 . Oleh karena itu2 ,
X 1 (E 0 ) = {(x, y) |x E 0 , y R} = E 0 R.

(1.60)

Demikian juga
Y 1 (E 00 ) = {(x, y) |Y (x, y) = y E 00 } ,

(1.61)

2
Andaikan A dan B sembarang dua himpunan, maka produk kartesius antara himpunan A dan B adalah himpunan A B yang didefinisikan sebagai

A B = {(a, b)|a A, b B}.

(1.59)

Jadi, A B merupakan himpunan yang beranggotakan semua pasangan (a, b) dengan a


anggota A dan b anggota B.

28

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA


merupakan wilayah pada bidang-XY yang beranggotakan titik-titik
(x, y) dengan ordinat y E 00 , yaitu
Y 1 (E 00 ) = {(x, y) |x R, y E 00 } = R E 00 .

(1.62)

Selanjutnya didefinisikan pemetaan X dan Y menurut


X

: B(R) R
: E 0 7 X (E 0 ) = P (X 1 (E 0 ))

(1.63)

dan
Y

: B(R) R
: E 0 7 Y (E 0 ) = P (Y 1 (E 0 )).

(1.64)

Dari definisi peluang P diperoleh


X (E 0 ) = P (X 1 (E 0 )) = P (E 0 R)
 2

Z
x + y2
1
exp

dxdy
=
2 2 E 0 R
2 2



Z
Z
2
2
1
1
x2
y2

=
e 2 dx
e 2 dy ,
2 2 E 0
2 2 R



Z
Z
2
2
1
1
x2
y2
2
2

=
dx
dy ,
e
e
2 2Z E 0
2 2
x2
1
e 22 dx
(1.65)
=
2 2 E 0
Dengan cara yang serupa didapatkan
Y (E 0 ) =

y2

1
2 2

e 22 dy.

(1.66)

E0

Dari dua persamaan terakhir ini diperoleh fungsi kerapatan peluang


untuk peubah acak X dan Y berturut-turut sebagai
X (x) =

x2

1
2 2

e 22

(1.67)

dan
Y (y) =

1
2 2

y2

e 22 .

(1.68)

1.5. BEBERAPA CONTOH LAGI

29

Nilai rerata peubah acak X dan Y dihitung menurut


Z
Z
x2
1
xX (x)dx =
(X) =
xe 22 dx = 0.
2 2

(1.69)

dan
Z

yY (y)dy =

(Y ) =

1
2 2

y2

ye 22 dy = 0.

(1.70)

Jadi, rata-rata posisi partikel tersebut ialah titik (0, 0). Varian bagi
kedua peubah acak itu dapat dihitung dengan menggunakan sifat
nomor 3 dari varian, yakni
Var(X) = (X 2 ) ((X))2 = (X 2 )

(1.71)

Var(Y ) = (Y 2 ) ((Y ))2 = (Y 2 )

(1.72)

dan

berhubung (X) = (Y ) = 0. Dengan bantuan sifat nomor 2 nilai


harap didapatkanlah
Var(X) = (X 2 )
Z
=
x2 X (x)dx

Z
x2
1
=
x2 e 22 dx
2 2
= 2

(1.73)

Var(Y ) = (Y 2 )
Z
=
y 2 Y (y)dy

Z
y2
1
=
y 2 e 22 dy
2 2
2
= .

(1.74)

dan

Dengan demikian penyimpangan baku pengukuran absis dan ordinat


partikel di atas diberikan oleh
p
(1.75)
x = V ar(X) =

30

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA


dan
y =

V ar(Y ) = .

(1.76)

Dengan demikian, bila dilakukan pengukuran posisi partikel, maka


akan didapatkan hasil
((X) x, (Y ) y) = (0 , 0 ).
2. Suatu eksperimen memiliki ruang sampel diskret berikut :


 3 5 7
(2n + 1)
=
, , , , ,
, ,
2 2 2 2
2

(1.77)

(1.78)

dengan  > 0 sembarang bilangan positif. Andaikan eksperimen tersebut berlangsung sedemikian rupa sehingga peluang munculnya nilai
(2n + 1)/2 sebagai outcome diberikan oleh
P (n) =

N
,
(2n + 1)6

(n = 0, 1, 2, )

dengan N suatu tetapan yang harus ditentukan kemudian.


(a) Carilah tetapan N !
N ditentukan dari syarat P () = 1. Padahal

3
5
(2n + 1)
P () = P ({ } { } { } {
} )
2
2
2
2

3
(2n + 1)
= P ({ }) + P ({ }) + + P ({
}) +
2
2
2

3
5
= P( ) + P( ) + P( ) + +
2
2
2


1
1
1
1
= N 1 + 6 + 6 + 6 + +
+

3
5
7
(2n + 1)6
6

= N
.
(1.79)
960
Jadi, karena
P () = N

6
=1
960

(1.80)

maka
N=

960
.
6

(1.81)

1.5. BEBERAPA CONTOH LAGI

31

(b) Bila didefinisikan fungsi X1 : R menurut X1 () = 2


untuk setiap , maka X1 adalah peubah acak pada . Tentukan
nilai harap (X1 ) dan varian serta penyimpangan bakunya!
Karena ruang sampel diskret, maka ruang peristiwa bagi eksperimen ini adalah himpunan P , yakni himpunan yang beranggotakan
semua subhimpunan dari . Andaikan
n =

(2n + 1)
.
2

(1.82)

Maka = {0 , 1 , 2 , } dan
X1 () = {X1 ()| } = {02 , 12 , 22 , }.

(1.83)

Jadi, peubah acak X1 beragihan diskret. Fungsi peluang fP diberikan


oleh
fP (n2 ) = P (X11 (n2 )) = P (n ) =

960
.
+ 1)6

6 (2n

(1.84)

Nilai harap pengukuran X1 adalah


(X1 ) =
=

X
n=0

X
n=0

=
=
=

n2 fP (n2 )
960
(2n + 1)2 2
6
4
(2n + 1)6

9602 X
1
6
4
(2n + 1)4
n=0


9602
1
1
1
1
1 + 4 + 4 + 4 + +
+
4 6
3
5
7
(2n + 1)4
52
.
(1.85)
2 2

Varian dari X1 , sebagaimana sebelumnya, diperoleh berdasarkan


Var(X1 ) = (X12 ) ((X1 ))2 .

(1.86)

32

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA


Padahal
(X12 )

=
=

X
n=0

X
n=0

=
=
=
=

n4 fP (n2 )
960
(2n + 1)4 4
16
6 (2n + 1)6

9604 X
1
16 6
(2n + 1)2
n=0


9604
1
1
1
1
1 + 2 + 2 + 2 + +
+
16 6
3
5
7
(2n + 1)2
9604 2
16 6 8
304
.
(1.87)
4 4

Oleh karena itu, dari pers.(1.86) Var(X1 ) diberikan oleh


Var(X1 ) =

54
304 254

=
4 4
4 4
4 4

(1.88)

dan, tentu saja, penyimpangan baku pengukuran X1 adalah

X1 =

Var(X1 ) =

52
.
2 2

(1.89)

Catatan : Bila bilangan positif  pada contoh ini sama dengan h,


dengan h tetapan Planck dan suatu tetapan berdimensi [T ]1 , maka
permasalahan di atas tidak lain adalah permasalahan getaran selaras
kuantum (lihat subbab 9.4).

1.6

Soal-soal

1. Andaikan a, b dan c sembarang bilangan riil. Tunjukkan bahwa


himpunan-himpunan {a} dan {a, b, c} merupakan subhimpunan Borel
dari garis riil R!
2. Konstruksilah wilayah-wilayah Borel pada ruang tiga dimensi!

1.6. SOAL-SOAL

33

3. Ditinjau sebuah fungsi f yang didefinisikan menurut


f (x) =

(x2


+ 2 )

untuk < x < ,

(1.90)

dengan  bilangan positif sembarang. Ujilah apakah pemetaan


Pf : B(R) R,

(1.91)

dengan
Z
Pf (E) =

untuk setiap E B(R),

f (x)dx

(1.92)

merupakan peluang pada himpunan B(R) yang beranggotakan semua


subhimpunan Borel dari R!
4. Buktikan sifat-sifat fungsi agihan yang buktinya belum dipaparkan
dalam bagian 1.3.2!
5. Tunjukkan sifat-sifat 1, 2, 3 dan 4 dari nilai harap yang disajikan
dalam bagian 1.4.1!
6. Andaikan X suatu peubah acak riil pada ruang sampel relatif terhadap ruang peristiwa E. Jika P peluang pada E, maka dengan memanfaatkan sifat-sifat nilai harap tunjukkanlah bahwa nilai harap
(X 2 ) dari peubah acak X 2 relatif terhadap peluang P diberikan
oleh
Z +
2
(X ) =
x2 X (x)dx,
(1.93)

dengan X adalah fungsi kerapatan agihan dari X relatif terhadap


ruang peristiwa E.
7. Tunjukkan sifat-sifat 1, 2 dan 3 dari varian yang telah disajikan dalam
bagian 1.4.2!
8. Hendak dipilih secara acak sebuah titik pada wilayah
S = {(x, y) R2 |0 x 2, 0 y 0, 5}.

(1.94)

(a) Sebutkanlah spektrum dan ruang peristiwa bagi eksperimen


ini!

34

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA


(b) Berapakah peluang bahwa titik yang dipilih berada di dalam
wilayah A S?
(c) Didefinisikan pemetaan X menurut X : S R, dengan
X(x, y) = x untuk setiap (x, y) S. Apakah X merupakan sebuah
peubah acak yang didefinisikan pada spektrum?
(d) Carilah fungsi kerapatan peluang yang terkait dengan peubah
acak X!
9. Perhatikan wilayah D = {(x, y) R2 |x2 + y 2 4} (yakni cakram
yang berpusat di titik (0, 0) R2 ). Akan dipilih sebuah titik pada
wilayah D tersebut secara acak.
(a) Sebutkan ruang sampel dan ruang peristiwa untuk eksperimen ini!
(b) Didefinisikan fungsi d pada wilayah D sebagai jarak sebuah
titik pada D diukur dari titik pusat cakram (0, 0). Jadi,
d : D R,

(1.95)

dengan d(x, y) = x2 + y 2 untuk setiap (x, y) D. Hitunglah peluang bahwa titik yang terpilih terletak pada radius tidak kurang dari
1 satuan!
(c) Hitunglah fungsi kerapatan peluang d dari d relatif terhadap
peluang tersebut!
(d) Hitunglah nilai harap (d)!
10. Akan dipilih secara acak seorang mahasiswa yang pernah mengikuti
kuliah Fisika Kuantum A.
(a) Sebutkanlah spektrum dan ruang peristiwa untuk eksperimen
ini!
(b) Sebutkanlah contoh peubah acak untuk eksperimen ini sebanyak mungkin!
11. Ditinjau suatu eksperimen dengan ruang sampel
= {4E, 9E, 16E, 25E, 36E , n2 E, },
dengan E suatu bilangan positif sembarang.
(a) Konstruksilah ruang peristiwa E() dari !

(1.96)

1.6. SOAL-SOAL

35

(b) Didefinisikan pemetaan


P : E() R

(1.97)

sedemikian rupa sehingga


P ({n2 E}) =

4
,
1)

3(n2

untuk n = 2, 3, 4, .

(1.98)

Jika P merupakan peluang pada E(), hitunglah P ({9E, 16E, 25E})!


(c) Hitung pula P ({7E, 9E, 25E})!
(d) Bila pemetaan T : R, dengan T () = untuk setiap
merupakan sebuah peubah acak hitunglah nilai harap (T )
dari T !

36

BAB 1. TEORI PELUANG DAN STATISTIKA

Bab 2

METAMEKANIKA
Seseorang tidak harus menjadi filsuf yang
lebih baik dengan jalan mengetahui fakta-fakta ilmiah yang lebih banyak;
Azas-azas serta metode-metode dan konsep-konsep yang umumlah
yang harus ia pelajari dari ilmu, . . . (Bertrand Russel)

Alam ini diciptakan sehingga maujud dalam kesetimbangan, mengikuti


pola-pola keteraturan. Walaupun gejala-gejala alamiah sering terlihat terjadi secara acak, namun tetap saja sesungguhnya adalah keacakan yang
teratur. Ilmu fisika berusaha menemukan pola-pola keteraturan
tersebut dan membingkainya dalam satu rumusan.
Walaupun tidak ada kesepakatan secara formal namun telah berkembang keyakinan secara luas bahwa pola-pola keteraturan alam itu paling
layak dimodelkan dengan pola-pola matematis. Bahkan ada yang memiliki keyakinan bahwa alam ini memang matematis. Bagi kaum eksternalis
(disebut juga kaum Platonik karena pandangan semacam ini dipelopori
oleh Plato) pandangan ini tidak bermasalah. Kaum eksternalis meyakini
bahwa matematika maujud dalam alam eksternal (alam gagasan atau alam
idea), yang berada di luar alam kita (yakni alam internal). Oleh karena itu
bagi mereka, matematika bebas dari alam internal ini. Tetapi, bagi kaum
internalis (disebut juga kaum Aristotelian karena pandangan ini dipelopori oleh Aristoteles, murid Plato sendiri), apa yang telah ditunjukkan
oleh Kurt Godel tentang ketiadaan matematika yang konsisten dan kom37

38

BAB 2. METAMEKANIKA

plit1 telah cukup meyakinkan mereka akan ketiadaan matematika yang besarnya melebihi (atau setidak-tidaknya menyamai) alam ini. Karena alam
lebih besar dari matematika manapun, maka bagi kaum internalis keyakinan bahwa alam itu matematis perlu ditinggalkan. Akan tetapi, keyakinan bahwa deskripsi terbaik pola-pola keteraturan alam adalah deskripsi
matematis tetap harus dipertahankan. Yang diupayakan adalah deskripsi
matematis maksimal bagi keteraturan alam ini.

Gambar 2.1: Acak yang teratur : cabang-cabang pohon yang tumbuh mendatar
dari batang (kiri) dan sebuah galaksi yang berbentuk spiral (kanan).

2.1

Semantika Matematika

Telah disebutkan bahwa pola-pola keteraturan alam hendak dimodelkan


dengan pola-pola matematis. Dalam hal ini matematika berperan sebagai
media, sebagaimana batu atau kayu bagi para pemahat atau kanvas dan cat
minyak bagi para pelukis. Pola-pola keteraturan alam adalah konsep yang
berada di balik dan menentukan wujud fenomena-fenomena alam. Ketika
seseorang memahat patung seekor kambing pada sebongkah batu, maka
sesungguhnya ia sedang berusaha memindahkan konsep tentang binatang
yang namanya kambing dari seekor kambing ke sebongkah batu itu. Ketika
patung kambing telah selesai dikerjakan, tentu saja tidak seluruh konsep
tentang kambing dapat dipindahkan secara utuh ke dalam sebongkah batu
1

Yang konsisten tidak komplit, sedang yang komplit tidak konsisten. Untuk lebih
rinci dapat dilihat misalnya dalam [Hein]

2.2. DIALEKTIKA ITU KENISCAYAAN

39

itu, malahan lebih banyak bagian konsep tentang kambing yang tidak dapat dipindahkan oleh pemahat tadi. Banyak tidaknya bagian konsep tentang kambing yang dapat dipindahkan oleh pemahat tersebut tergantung
pada beberapa hal. Pertama, seberapa dalam pemahaman sang pemahat akan konsep tentang kambing. Semakin dalam pemahamannya tentang anatomi kambing misalnya, maka patung kambing yang ia selesaikan
semakin mendekati realitas seekor kambing. Kedua, media yang dipakai
untuk menampung konsep tentang kambing itu. Bahan yang terlalu lembek dan tidak pernah bisa mengeras tentu sulit untuk dipakai membuat
patung. Ketiga, kemampuan memahat sang pemahat. Patung kambing
yang dipahat oleh seorang pemahat berbakat yang telah berpengalaman
tentu akan lebih baik dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh seorang
yang sedang belajar memahat. Seorang fisikawan yang sedang menyusun
model matematik bagi suatu fenomena alam, sesungguhnya sedang memindahkan konsep yang berada dibalik fenomena alam itu ke dalam realitas matematis. Sayangnya, untuk dapat menampung konsep yang ada
dibalik fenomena alam secara utuh dibutuhkan matematika yang semakin
rumit. Bahkan seringkali bahwa matematika yang diperlukan bagi perumusan suatu kaidah belum dikonstruksi oleh para matematikawan. Dalam
hal ini fisika menunjukkan perannya menentukan arah pengembangan ilmu matematika. Pengembangan aljabar operator, geometri nonkomutatif
dan grup kuantum menegaskan fitur semacam ini. Sekali lagi, seandainya
matematika berperan sebagai film, maka kualitas gambar yang dihasilkan
selain tergantung pada cara pengambilan dan kecanggihan kamera yang
dipakai juga sangat tergantung pada kualitas film yang digunakan. Maka janganlah berharap banyak bila matematika yang anda gunakan untuk
menangkap bayangan alam hanya merupakan film bermutu rendah.

2.2

Dialektika Itu Keniscayaan

Untuk mewujudkan obsesi tersebut sebagian fisikawan yang dikenal sebagai teoriwan atau fisikawan teori berusaha menyusun model-model
hukum alam dengan memanfaatkan matematika sebagai media untuk merealisasikannya. Penyusunan model-model ini harus dipandu oleh data-data
yang digali oleh sebagian fisikawan yang lain dikenal sebagai eksperimentator melalui serangkaian eksperimen. Model hukum alam yang
diusulkan, tentu saja, tidak mungkin identik dengan hukum alam yang

40

BAB 2. METAMEKANIKA

sesungguhnya (yakni yang dimodelkannya), melainkan hanya sekedar pendekatan semata. Oleh karena itu diperlukan ukuran apakah model-model
yang diusulkan diterima atau ditolak. Ukuran tersebut haruslah terkait
dengan kesesuaian model-model tersebut dengan perilaku alam yang yang
diwakilinya. Model yang paling sesuai dengan perilaku alam merupakan
model yang paling diterima. Dominasi kaum empiris dalam Fisika (dan
juga sains secara umum) ketimbang kaum rasionalis membawa kecenderungan untuk mengambil eksperimen sebagai penentu kesesuaian suatu model
dengan perilaku alam yang diwakilinya. Selain dituntut mampu menjelaskan hasil-hasil eksperimen yang telah dilakukan, model yang diusulkan
dituntut pula mampu meramalkan hasil-hasil eksperimen yang akan dilakukan. Jadi, semakin banyak hasil eksperimen yang dapat dijelaskan
dan diramalkan oleh suatu model secara tepat, maka model tersebut semakin diterima. Maka dapatlah dikatakan bahwa para eksperimentator
merupakan hakim dalam fisika (sains), yakni menentukan apakah suatu
model diterima ataukah ditolak (tentu saja melalui eksperimen). Akan
tetapi, walaupun suatu model telah mampu memainkan peran tersebut secara memuaskan, ia terpaksa harus pula ditinggalkan atau paling tidak
direvisi bila terdapat paling sedikit sebuah eksperimen yang tidak mampu dijelaskannya atau diramalkannya. Jadi, tidak ada model hukum alam
yang diterima secara langgeng. Kata Einstein, No number of experiments
can prove me right; a single experiment can prove me wrong.

Gambar 2.2: Albert Einstein, (1879-1955) fisikawan paling populer kelahiran


Ulm, Jerman. (Foto diambil dari situs www.-groups.dcs.st-and.ac.uk.)

2.2. DIALEKTIKA ITU KENISCAYAAN

41

Seribu macam eksperimen yang mendukung kebenaran suatu teori atau


model belumlah cukup untuk menyatakan bahwa teori atau model itu benar, tetapi sebuah eksperimen saja (sekali lagi, hanya sebuah eksperimen
saja) telah mencukupi untuk menggugurkan suatu teori atau model manakala hasil-hasil eksperimen tersebut sama sekali tidak mampu dijelaskan
oleh teori atau model itu. Maka dalam ilmu fisika orang tidak mengenal
kalimat suatu model telah lolos uji. Tidak pernah ada teori atau model
yang telah lolos uji. Kalimat yang dikenal adalah suatu model masih lolos
uji dan suatu model tidak lolos uji. Sekali lagi, tidak ada model yang
telah lolos uji. Yang ada adalah model yang masih lolos uji dan model yang
tidak lolos uji.
Jadi, model-model yang lolos uji terus bertahan, sedangkan yang gagal perlu direvisi atau ditinggalkan sama sekali. Model-model yang lolos
uji perlu disintesa sehingga didapat model-model yang memiliki domain
keberlakuan yang lebih luas. Contoh yang mashur adalah sintesa antara
mekanika kuantum dengan teori relativitas khusus. Seperti kita ketahui,
mekanika kuantum pada awalnya dirumuskan berdasarkan asumsi bahwa
partikel-pertikel yang ditinjau memiliki kelajuan cukup rendah sehingga
efek relativitas tidak begitu signifikan. Oleh karenanya mekanika kuantum (saat itu) hanya berlaku untuk partikel-partikel dengan kelajuan rendah. Tetapi ketika, kelajuan partikel yang ditinjau dalam laboratoriumlaboratorium semakin tinggi, maka diperlukan untuk memperhitungkan
efek relativitas. Tuntutan ini pada akhirnya menelorkan mekanika kuantum relativistik yang memiliki domain keberlakuan lebih luas. Contoh
lain adalah usaha mendapatkan sintesa teori kuantum dan teori relativitas umum, yakni cita-cita untuk memperoleh suatu model matematis yang
mensubordinasi (merangkum) kedua teori itu. Sayang, sintesa antara kedua teori tersebut sejauh ini belum berhasil secara tuntas. Selanjutnya,
model-model hasil sintesa kemudian harus diuji lagi dengan eksperimeneksperimen. Sekali lagi, yang lolos akan bertahan, yang gagal harus direvisi
atau ditinggalkan. Proses ini berlangsung terus-menerus ... tiada berakhir.
Gejala alamiah memiliki struktur yang tidak sederhana. Oleh karenanya, siapapun orangnya tidak mungkin mampu menyuguhkan model
matematis bagi gejala alamiah secara utuh. Orang harus mengeliminasi
hal-hal yang tidak penting atau tidak relevan. Langkah semacam ini dikenal sebagai idealisasi. Idealisasi terhadap suatu gejala alamiah menghasilkan sistem fisis. Jadi, suatu sistem fisis adalah suatu gejala alamiah
yang telah direduksi. Model matematis merupakan hasil penafsiran (atau

42

BAB 2. METAMEKANIKA

tafsiran) terhadap suatu sistem fisis secara matematis. Inilah semantika


matematis terhadap gejala-gejala alamiah. Maka perlulah kiranya untuk
secara tegas membedakan gejala-gejala alamiah dari model-model (tafsirantafsiran) matematisnya.

2.3

Principia Universalis

Sekarang adalah saatnya untuk menyajikan prinsip-prinsip umum mekanika, yakni struktur essensial bersama (common essential structure) yang
dimiliki oleh entah itu mekanika klasik atau mekanika kuantum maupun
mekanika-mekanika yang lain (kalau ada). Sesuai dengan namanya, prinsipprinsip yang hendak disebutkan ini berlaku untuk setiap model mekanika
yang manapun. Prinsip-prinsip tersebut merupakan saripati, oleh karena itu bersifat minimal. Artinya, prinsip-prinsip tersebut setidak-tidaknya
harus ada dalam setiap model mekanika.

2.3.1

Kinematika

Secara umum model (penafsiran) matematis dari (terhadap) suatu sistem


fisis pada tataran kinematik selalu mengandung tiga hal :
1. Suatu himpunan S yang disebut ruang keadaan (state space). Setiap anggota himpunan S merupakan model matematis yang mewakili
suatu keadaan (state) dari sistem fisis yang ditinjau. Setiap unsur di
S (secara implisit) memuat semua informasi fisis2 tentang sistem fisis
yang ditinjau. Bila suatu sistem fisis berada pada keadaan yang diwakili atau dimodelkan oleh S, maka dikatakan bahwa sistem fisis
tersebut berada pada keadaan (atau menghuni keadaan ). Bila
sistem fisis yang ditinjau berada pada keadaan , maka semua informasi fisis tentang sistem tersebut dimuat oleh dan dapat diperoleh
darinya. Ruang keadaan dikenal pula sebagai ruang fase.
2. Suatu himpunan terstruktur O yang disebut aljabar observabel
(observable algebra). Setiap unsur A di O disebut observable
2

misalnya, nilai besaran-besaran fisis yang relevan

2.3. PRINCIPIA UNIVERSALIS

43

merupakan model matematis bagi sebuah besaran fisis. Setiap unsur di O mewakili sebuah besaran fisis yang informasi tentangnya
dimuat oleh keadaan di mana sistem tersebut sedang berada.
3. Prosedur (Aturan) Akses. Andaikan suatu sistem fisis berada
pada keadaan . Prosedur akses mengatur bagaimana orang dapat meng-akses informasi (terutama nilai besaran-besaran fisis yang
relevan dengan sistem fisis itu) tentang sistem fisis itu yang dimuat
oleh keadaan . Prosedur ini menuntun kita untuk dapat mengetahui, misalnya, nilai-nilai yang akan keluar sebagai hasil ukur bila suatu besaran fisis (observabel) tersebut diukur dan berapa peluang bagi masing-masing nilai itu untuk keluar sebagai hasil ukur bila sistem yang ditinjau berada pada suatu keadaan tertentu. Himpunan nilai-nilai ini disebut spektrum dari observabel yang akan
diukur. Termasuk ke dalam spektrum adalah nilai-nilai yang disebut swanilai dari observabel tersebut. Spektrum suatu observabel
berperan sebagai spektrum atau ruang sampel suatu eksperimen sebagaimana dalam teori peluang. Pengukuran suatu observabel oleh
karena itu merupakan suatu eksperimen dalam pengertian yang telah
dibeberkan dalam bagian 1.1 : sebagai outcome adalah salah satu
dari anggota spektrum observabel tersebut.
Secara teknis matematis3 prosedur ini dimodelkan dengan peluang
P,A yang berparameterkan anggota-anggota himpunan S dan O.
P,B (U ), misalnya, merupakan nilai peluang berlakunya pernyataan
Besaran fisis B O memiliki suatu nilai yang terletak pada himpunan U R bila sistem berada pada keadaan .
Jika a anggota spektrum dari suatu observabel A, maka keadaan
a yang mengakibatkan P,A ({a}) = 1, yakni keadaan pada mana
peluang memperoleh nilai a sebagai hasil ukur besarnya 100% disebut swakeadaan kepunyaan a. Korespondensi antara nilai ukur
dengan swakeadaan semacam ini bukanlah korespondensi satu-satu,
melainkan korespondensi satu-banyak. Artinya, terdapat anggotaanggota spektrum yang memiliki lebih dari satu swakeadaan yang
berbeda4 . Bilamana suatu anggota spektrum mempunyai g buah
3
Bagi yang kurang suka dengan formalisme matematis bagian ini sebenarnya dapat
dilompati walaupun akan sedikit mengganggu keutuhan pemahaman.
4
Dalam hal ini, kata berbeda memiliki pengertian yang sangat khusus. Pengertian
khusus ini bervariasi dari satu mekanika ke mekanika yang lain.

44

BAB 2. METAMEKANIKA
swakeadaan yang berbeda, maka anggota spektrum yang semacam
ini dikatakan merosot sejauh g derajad. Jika sistem yang ditinjau dipersiapkan berada pada swakeadaan kepunyaan suatu anggota
spektrum suatu observabel, maka pengukuran observabel tersebut
akan menghasilkan anggota spektrum itu sebagai hasil ukur yang
akurat (yakni, dengan ralat nol) dan sistem tidak akan terganggu
oleh proses pengukuran itu, yakni sesaat setelah pengukuran sistem
tetap berada pada swakeadaan sebagaimana sebelum pengukuran.
Peluang-peluang tersebut pada gilirannya dimanfaatkan untuk menggali informasi-informasi yang tersimpan dalam kedaan-keadaan sistem (yakni anggota-anggota ruang keadaan S) sehingga diperoleh
sesuatu yang dapat dihubungkan dengan hasil-hasil eksperimen yang
akan dilakukan. Informasi-informasi ini, misalnya, adalah prediksi nilai harap dan ralat pengukuran besaran-besaran fisis bilamana
besaran-besaran tersebut diukur.

2.3.2

Dinamika

Dinamika suatu sistem fisis merupakan perkembangan keadaan sistem itu


seiring dengan bertambahnya waktu. Secara matematis, dinamika suatu
sistem fisis dimodelkan dengan kurva-kurva berparameterkan waktu pada
ruang keadaan. Kurva-kurva tersebut merupakan penyelesaian dari suatu
persamaan differensial yang khas untuk setiap model. Persamaan differensial ini disebut persamaan gerak bagi sistem fisis yang ditinjau. Jadi,
dinamika mengambarkan lintasan perjalanan suatu sistem fisis dalam ruang keadaan. Dalam ruang keadaannya, lintasan-lintasan setiap sistem
fisis bersifat deterministik. Artinya, bila pada suatu saat tertentu diketahui keadaannya, maka keadaan sistem tersebut setiap saat dapat pula
diketahui.
Dari sudut pandang teori grup, dinamika dapat pula diartikan sebagai
realisasi (representasi) grup dinamik (yakni himpunan yang beranggotakan
semua bilangan riil disertai dengan operasi penjumlahan biasa) pada ruang
keadaan. Oleh karena itu dinamika suatu sistem fisis dapat diturunkan
melalui mekanisme-mekanisme teori grup.

2.3. PRINCIPIA UNIVERSALIS

45

Gambar 2.3: Bagaimana menggali berbagai informasi tentang observable A pada


suatu sistem yang berada pada keadaan ?

46

BAB 2. METAMEKANIKA

Bab 3

PRINSIP PRINSIP
MEKANIKA KLASIK
It is not that they can not see the solution.
It is that they can not see the problem.
(G.K. Chesterton)

Dalam bab ini disajikan pengejawantahan secara klasik kerangka umum


mekanika sebagaimana yang telah dipaparkan dalam bab 2. Diharapkan
para pembaca telah terbiasa dengan seluk-beluk A-sampai-Z-nya mekanika
klasik. Bagi yang masih merasa kurang percaya diri dengan penguasaan
mekanika klasik dianjurkan untuk membuka kembali sumber-sumber pustaka yang memadai, misalnya [Gol], bahkan buku-buku semacam [MaRa]
yang agak lanjut dengan modern seting yang formal. Di sini kita hanya
akan merekapitulasi hal-hal yang relevan dengan sudut pandang bab 2.

3.1

Ruang Keadaan

Dalam mekanika klasik, yang bertindak sebagai ruang keadaan adalah ruang fase klasik M , yakni suatu ruang yang secara lokal1 memiliki sistem
koordinat kanonis (q, p) := (q 1 , , q n , p1 , , pn ), dengan q 1 , , q n disebut koordinat umum dan p1 , , pn disebut momentum umum. Jadi, ruang
1

yakni bahwa sistem koordinat ini hanya terdefinisikan pada wilayah tertentu saja
pada ruang itu.

47

BAB 3. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KLASIK

48

fase klasik adalah ruang yang berdimensi genap2 2n, dengan n bilangan asli.

Sketsa 3.1 Torus (kiri) dan silinder tak terhingga (kanan) sebagai ruang fase
klasik (Sketsa ini dirancang dan digambar oleh M.F. Rosyid)

Sekedar untuk mendapatkan prespektif kekinian tentang ruang fase


klasik, perlu kiranya di sini disajikan pula definisi yang lebih umum tentang ruang fase klasik. Definisi tersebut menyatakan bahwa ruang fase
klasik adalah manifold simplektik, yaitu suatu manifold3 berdimensi genap
2

Dalam mekanika Nambu [Nam] ruang fase klasik tidak mesti berdimensi genap.
Begitu mendengar istilah teknis dalam geometri diferensial ini, para pembaca dimohon tidak lantas skeptis dengan apa yang akan segera dipaparkan. Manifold, mudahnya
berbicara, adalah suatu wilayah dalam ruang Rn yang secara lokal mirip potongan ru0
ang Rn , dengan n0 n. Bilangan n0 disebut dimensi dari manifold yang bersangkutan.
Garis lurus yang panjangnya tak terhingga, bidang datar yang luasnya tak terhingga dan
ruang riil tiga dimensi adalah tiga contoh manifold sederhana yang sering bersinggungan
dengan kita dalam kehidupan keseharian. Permukaan bola dan lingkaran adalah dua
contoh manifold berikutnya. Seandainya kulit bola itu kita kelupas sedikit saja, maka
3

3.1. RUANG KEADAAN

49

yang padanya dapat ditemukan suatu objek matematis yang dikenal sebagai
struktur simplektik [MaRa]. Struktur simplektik ini berupa tensor kovarian
antisimetrik berderajad dua yang tertutup dan tak merosot. Tidak pada
setiap manifold dapat ditemukan sebuah struktur simplektik. Tetapi ada
pula manifold yang memiliki lebih dari satu struktur smplektik. Struktur
simplektik yang telah dipilih inilah yang nantinya menentukan persamaan
gerak dalam mekanika klasik (persamaan gerak Hamilton) sekaligus menentukan juga apa yang dikenal sebagai kurung Poisson. Manifold simplektik
ini pun secara lokal memiliki koordinat kanonis.

Sketsa 3.2 Tidak pada setiap manifold terdapat struktur symplektik. Pita
Mobius ini adalah contoh manifold semacam itu. (Sketsa ini dirancang dan digambar oleh M.F. Rosyid)

Sebuah manik-manik yang diuntai pada sebuah gelang akan terbatasi


posisinya pada gelang tersebut. Ini adalah contoh sistem fisis yang memiliki
lingkaran sebagai ruang konfigurasinya. Ruang keadaan klasik bagi manikmanik tersebut dapat digambarkan sebagai sebuah silinder yang jejarinya
sama dengan jejari gelang tersebut dan panjangnya tak terhingga. (lihat
Sketsa 3.1!). Hal ini dikarenakan manik-manik tersebut dapat memiliki
momentum linier p yang besarnya sembarang, yakni p (, ).

kelupasan yang kita dapatkan merupakan bagian dari bidang dua dimensi. Jadi, permukaan bola adalah manifold berdimensi dua. Bagaimana dengan permukaan kue donat
atau torus dan silinder?

BAB 3. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KLASIK

50

bi

Sketsa 3.3 Manik-manik yang diuntai pada sebuah gelang sebagai sistem fisis
(Sketsa ini dirancang dan digambar oleh M.F. Rosyid)

Contoh berikutnya, ditinjau sebuah partikel yang berada dalam ruang


konfigurasi tiga dimensi R3 dengan koordinat (x, y, z). Ruang keadaan
bagi sistem fisis semacam ini adalah R6 , yaitu ruang yang memiliki enam
koordinat (x, y, z, px , py , pz ). Struktur simplektik dalam ruang ini dapat
disajikan dalam bentuk matriks oleh matriks berikut (lihat [Gol])

0
0
0 1 0 0
0
0
0 0 1 0

0
0
0
0
0
1
.
(3.1)
J=
1 0
0 0 0 0

0 1 0 0 0 0
0

1 0 0 0

Jika H fungsi Hamiltonan system mekanik yang ditinjau, maka persamaan


gerak Hamiltonan secara singkat dapat dituliskan sebagai
d
= J 5r,p H,
dt

(3.2)

dengan

:=

x
y
z
px
py
pz

dan

5r,p H :=

H
x
H
y
H
z
H
px
H
py
H
pz

(3.3)

Persamaan (3.2) ekivalen dengan


dx
H
=
,
dt
px

dy
H
=
,
dt
py

dz
H
=
dt
pz

(3.4)

3.2. ALJABAR OBSERVABEL DAN ATURAN AKSES

51

dan
dpx
H
=
,
dt
x

dpy
H
=
,
dt
y

dpz
H
=
.
dt
z

(3.5)

Tiap titik pada ruang fase klasik M berkorespondensi satu-satu dengan


keadaan yang mungkin dimiliki oleh sisten fisis yang ditinjau. Jadi, bila kita
mempersiapkan suatu sistem fisis untuk berada pada suatu keadaan yang
diwakili oleh sebuah titik (q, p) := (q 1 , , q n , p1 , , pn ) dalam ruang fase
klasik, maka hal itu sama artinya dengan mempersiapkan sistem fisis itu
untuk berada di posisi umum (q 1 , , q n ) dan memiliki momentum umum
(p1 , , pn ). Oleh karena itu, sesuai cara pandang bab 2, bila suatu sistem
fisis berada pada suatu kedaan yang diwakili sebuah titik dalam ruang fase
klasik, maka berbagai macam informasi penting tentang sistem fisis yang
ditinjau dapat digali dari titik itu. Jelasnya, bila suatu sistem fisis diketahui
posisi dan momentum umumnya, maka segala informasi tentang sistem
fisis itu segera dapat diperoleh. Bagaimana informasi-informasi tersebut
diperoleh akan dijelaskan kemudian.
Karena ruang keadaan untuk mekanika klasik berupa ruang fase klasik,
maka pada umumnya ruang keadaan dalam mekanika klasik tidak memiliki struktur sebagai ruang vektor. Oleh karenanya dalam mekanika klasik
tidak dikenal prinsip superposisi keadaan. Bandingkan nanti pada bab mendatang dengan ruang keadaan dalam mekanika kuantum yang berupa ruang
Hilbert yaitu suatu ruang vektor kompleks yang memiliki konsep produk
skalar.

3.2

Aljabar Observabel dan Aturan Akses

Andaikan M suatu ruang fase klasik berdimensi 2n, dengan sistem koordinat kanonis (q, p) := (q 1 , , q n , p1 , , pn ). Fungsi f yang didefinisikan
pada M dikatakan differensiabel jika fungsi f itu dapat diturunkan secara
terus-menerus tanpa batas terhadap koordinat-koordinat kanonis pada M .
Suatu fungsi yang didefinisikan pada M disebut fungsi riil jika nilai fungsi
itu di berbagai tempat pada M bernilai riil. Selanjutnya, aljabar observabel
untuk mekanika klasik adalah himpunan C (M, R) yang beranggotakan semua fungsi riil pada M yang diferensiabel disertai dengan kurung Poisson

BAB 3. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KLASIK

52

{, }KP . Kurung Poisson secara lokal didefinisikan oleh



n 
X
f g
f g

,
{f, g}KP :=
q i pi pi q i

(3.6)

i=1

untuk setiap f, g C (M, R). Jadi, besaran-besaran fisis pada mekanika


klasik dimodelkan dengan fungsi-fungsi bernilai riil yang diferensiabel pada
ruang fase klasik.
Kurung Poisson {, }KP memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
1. Antisimetri, yakni {f, g}KP = {g, f }KP , f, g C (M, R),
2. Linier pada kedua faktor, yakni
{f, g + h}KP = {f, g}KP + {f, h}KP

(3.7)

{g + h, f }KP = {g, f }KP + {h, f }KP ,

(3.8)

dan
untuk setiap f, g, h C (M, R),
3. Identitas Jacobi, yakni
{f, {g, h}KP }KP + {g, {h, f }KP }KP + {h, {f, g}KP }KP = 0. (3.9)
Seandainya kurung Poisson {f, g}KP antara f dan g ditulis sebagai f g,
maka kurung Poisson dapat dipandang sebagai perkalian yang didefinisikan
pada himpunan C (M, R). Karena perkalian ini memenuhi syarat antisimetri, linier pada kedua faktor dan identitas Jacobi, maka perkalian ini
disebut perkalian Lie (Lihat bagian 10.4!).

3.2.1

Himpunan Lengkap

Masih dalam ruang fase berdimensi 2n, himpunan {f1 , f2 , , f2n } yang
beranggotakan 2n buah fungsi disebut himpunan lengkap observabel
klasik bilamana syarat berikut terpenuhi : jika {g, fi }KP = 0 untuk setiap
fi dalam himpunan tersebut, maka g merupakan fungsi konstan. Syarat
tersebut kira-kira semakna dengan kemampuan himpunan tersebut membedakan titik-titik pada ruang fase klasik : untuk setiap dua titik m1 dan
m2 yang berbeda pada ruang fase klasik berlaku
(f1 (m1 ), f2 (m1 ), , f2n (m1 )) 6= (f1 (m2 ), f2 (m2 ), , f2n (m2 )).

(3.10)

3.2. ALJABAR OBSERVABEL DAN ATURAN AKSES

53

Oleh karena itu, himpunan yang lengkap berpotensi menjadi sistem koordinat lokal bagi ruang fase klasik. Contoh sederhana dalam ruang fase R2n
adalah himpunan fungsi-fungsi koordinat kanonis {q 1 , , q n , p1 , , pn }.

3.2.2

Spektrum dan Pengukuran Observabel Klasik

Dalam kaitannya dengan aturan akses, terdapat suatu prespektif lain dalam
mekanika klasik yang dapat membantu kita memahami adanya paralelisasi
antara struktur matematis dalam mekanika klasik dan struktur matematis dalam mekanika kuantum. Prespektif tersebut menyangkut masalah
spektrum suatu observabel, yaitu nilai-nilai yang akan keluar sebagai hasil
ukur (lihat kembali bab 2). Andaikan f sebuah observabel klasik. Himpunan (f ) yang beranggotakan semua bilangan riil a sedemikian rupa
sehingga fungsi (f a)1 tak terdefinisikan pada M disebut spektrum dari
observabel f [Ld]. Dapat dibuktikan bahwa a (f ) jika dan hanya jika
a termuat oleh himpunan4 f (M ) := {f (m)|m M }, yaitu daerah hasil
(range) dari fungsi f . Oleh karena itu nilai-nilai yang mungkin keluar
dalam pengukuran suatu observabel klasik tercakup dalam range fungsi
yang mewakili observabel klasik itu. Karena fungsi-fungsi yang mewakili
besaran fisis merupakan fungsi-fungsi yang diferensiabel, maka fakta bahwa spektrum suatu besaran fisis sama dengan daerah hasil fungsi yang
mewakilinya menunjukkan bahwa spektrum besaran fisis dalam mekanika
klasik selalu kontinyu. Jika a (f ), maka semua titik m di ruang fase M
yang memenuhi f (m) = a adalah swakeadaan dari f kepunyaan a. Oleh
karena itu, semua titik pada ruang fase klasik merupakan swakeadaan bagi
observabel yang diwakili oleh f . Untuk setiap keadaan m M fungsi peluang klasik Pm,f bersifat dikotomis, yakni bernilai 0 atau 1. Untuk U R
peluang Pm,f (U ) bernilai 1 bila U mengandung f (m) dan bernilai 0 bila U
tidak mengandung f (m), atau secara singkat

0 untuk f (m)
/U
Pm,f (U ) =
(3.11)
1 untuk f (m) U.
Khususnya, Pm,f ({f (m)}) bernilai 1.
Bahwa spektrum atau ruang sampel (f ) suatu observabel klasik f
merupakan daerah hasil dari f (sebagai fungsi riil pada ruang fase klasik)
menunjukkan bahwa spektrum (f ) beranggotakan bilangan-bilangan riil.
4

Khusus dalam bagian ini, m menotasikan titik pada ruang fase klasik M .

BAB 3. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KLASIK

54

Hal ini mengandung konsekuensi bahwa peubah acak yang lazim terlibat
dalam mekanika klasik adalah peubah acak netral pada spektrum (f ),
Xe : (f ) R
: t 7 Xe (t) = t.

(3.12)

Dalam hal ini, daerah hasil dari fungsi Xe adalah himpunan Xe ((f )) yang
didefinisikan sebagai himpunan {Xe (t)|t (f )}. Jadi, Xe ((f )) tidak lain
adalah (f ) itu sendiri. Karena spektrum setiap observabel klasik merupakan himpunan kontinyu, maka peubah acak netral Xe memiliki agihan
kontinyu. Andaikan E sebuah wilayah Borel pada daerah hasil dari Xe .
Jika sistem fisis yang ditinjau berada pada keadaan m, hukum atau agihan
dari peubah acak Xe adalah peluang Xe yang diberikan oleh
Xe (E) = Pm,f (Xe1 (E)) = Pm,f (E).

(3.13)

Oleh karena itu, berdasarkan persamaan (1.40) dan (3.11), fungsi kerapatan
peluang Xe dari peubah acak Xe relatif terhadap peluang Pm,f haruslah
memenuhi persamaan

Z
0 untuk f (m)
/E
1
(3.14)
Pm,f (Xe (E)) =
Xe (x)dx =
1
untuk
f
(m)

E.
E
Dengan mengingat sifat-sifat fungsi -Dirac (lihat misalnya pada Lampiran B), persamaan terakhir memberi petunjuk kepada kita bahwa fungsi
kerapatan peluang Xe dari peubah acak Xe memenuhi persamaan
Xe (x) = (x f (m)),

(3.15)

untuk setiap x (f ).
Nilai Harap dan Penyimpangan Baku
Nilai harap pengukuran observabel klasik f bilamana sistem berada pada
keadaan m M dapat dihitung dengan mudah, yakni (lihat persamaan
(1.44))
Z
Z
(Xe ) =
xXe (x)dx =
x(x f (m))dx = f (m).
(3.16)
(f )

(f )

Guna menghitung penyimpangan baku X diperlukan nilai harap peubah


acak X 2 (lihat kembali sifat-sifat varian dan penyimpangan baku seperti

3.3. DINAMIKA

55

yang telah diungkapkan dalam Bab 1). Nilai harap dari peubah acak Xe2
diperoleh menurut
Z
Z
x2 (x f (m))dx = f (m)2 . (3.17)
x2 Xe (x)dx =
(Xe2 ) =
(f )

(f )

Dengan demikian, penyimpangan bakunya diberikan oleh


Xe = (Xe2 ) (Xe )2 = 0.

(3.18)

Hal ini menunjukkan bahwa hasil ukur besaran f senilai f (m) bersifat
pasti bila sistem yang ditinjau berada pada keadaan m. Jadi, situasi ini
menegaskan kembali bahwa setiap m M merupakan swakeadaan dari
observabel f dengan swanilai f (m).
Karena setiap titik dalam ruang fase klasik merupakan swakeadaan bagi
semua besaran fisis, maka bila suatu sistem fisis berada pada suatu keadaan,
semua besaran fisis secara prinsip dapat diukur pada saat yang sama dengan ralat masing-masing besaran itu nol. Jadi, semua besaran fisis bersifat kompatibel dalam artian bahwa mereka dapat diukur secara serempak
sedemikian rupa sehingga hasil ukur mereka dapat diusahakan seakurat
mungkin tanpa batas.
Karena semua keadaan klasik adalah swakeadaan bagi semua besaran
fisis, maka pengukuran besaran-besaran fisis itu tidak akan menciderai
keadaan sistem fisis. Pengukuran besaran fisis seberapapun banyaknya
dilakukan, tidak berpengaruh terhadap keadaan sistem. Dalam bentuk
metafornya, air tidak akan menjadi keruh ketika ikan-ikannya diambil.

3.3

Dinamika

Dalam pemaparan ini sekali lagi kita tinjau sistem-sistem mekanik yang
berpadanan dengan ruang fase yang dikoordinasi oleh sistem koordinat
kanonik (q, p) = (q 1 , , q n , p1 , , pn ), (n bilangan asli), dengan q i koordinat umum dan pi momentum umum. Besaran fisis yang memegang
peran penting dalam dinamika adalah tenaga total yang secara umum diungkapkan sebagai jumlahan tenaga kinetik dan tenaga potensial. Besaran
ini diwakili oleh fungsi Hamilton H. Dinamika sistem digambarkan dengan
kurva pada ruang fase klasik yang merupakan penyelesaian terhadap persamaan Hamiltonan. Secara teknis matematis kurva ini merupakan kurva integral dari medan vektor Hamiltonan yang dibangkitkan oleh fungsi

BAB 3. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KLASIK

56

Hamilton H [MaRa]. Maka persamaan gerak Hamilton yang dimaksud


adalah sistem persamaan differensial berikut
dq i
H
;
=
dt
pi

dpi
H
= i,
dt
q

(3.19)

dengan i = 1, 2, n. Jadi, dinamika klasik adalah lintasan


(q(t), p(t)) := (q 1 (t), , q n (t), p1 (t), pn (t))

t (, )

(3.20)

dalam ruang fase klasik yang merupakan penyelesaian sistem persamaan


Hamilton di atas (lihat Sketsa 3.4!). Dalam hal ini, pada prinsipnya orang
dapat mengupayakan pengukuran setiap besaran fisis sedemikian rupa tanpa menimbulkan usikan pada sistem tersebut dari lintasannya itu.

p1

6
'

@
@

(q(t), p(t))

@
@
@

p2 @

pi

q1

'
%
@
@
q i 

@


@
XX
A XXX
XXX
A
XXX
% A
A
A
A
q 2 AA

Sketsa 3.4 Dinamika klasik merupakan kurva dalam ruang fase klasik. Dilakukannya pengukuran suatu besaran fisis tidak mengusik sistem fisis itu keluar
dari lintasan tersebut. (Sketsa ini dirancang dan digambar oleh M.F.Rosyid)

Jika A suatu observabel klasik, maka A merupakan fungsi riil pada ruang fase klasik. A barangkali juga tergantung secara eksplisit terhadap

3.4. CONTOH 1 : OSILATOR HARMONIS SATU DIMENSI

57

parameter waktu. Jadi, secara fungsional A = A(q 1 , , q n , p1 , , pn , t).


Seiring dengan perkembangan (evolusi) sistem mekanik terhadap waktu,
maka besaran A pun berubah terhadap waktu. Perilaku besaran A terhadap waktu dapat diketahui dari sistem persamaan gerak Hamilton di
atas. Laju perubahan besaran A diberikan oleh
dA
dt

=
=

n
n
A X A dq i X A dpi
+
+
t
q i dt
pi dt
i=1
i=1


n
A H
A X A H

+
t
q i pi
pi q i
i=1

A
+ {A, H}KP .
t

(3.21)

Tentu saja, kalau besaran A tidak gayut pada waktu secara eksplisit, maka
laju perubahan A terhadap waktu diberikan oleh
dA
= {A, H}KP .
dt

(3.22)

Khususnya, tenaga total H selalu merupakan besaran yang lestari sejauh


tidak memiliki ketergantungan pada waktu secara eksplisit.

3.4

Contoh 1 : Osilator Harmonis Satu Dimensi

Ditinjau getaran selaras (osilator harmonis) ideal berdimensi satu. Ruang


fase untuk masalah ini adalah R2 dengan koordinat kanonis (x, p). Fungsi
Hamiltonan untuk sistem ini diberikan oleh
Hosc (x, p) =

p2
1
+ 2 x2 ,
2 2

(3.23)

dengan massa dan frekuensi sudut. Terlihat bahwa spektrum tenaga


osilator harmonis adalah himpunan [0, ). Bila getaran selaras itu diukur
tenaga totalnya dan diperoleh sebesar E, maka (pada saat pengukuran itu
dilakukan) getaran itu berada pada swakeadaan-swakeadaan yang ditentukan oleh persamaan
Hosc (x, p) =

p2
1
+ 2 x2 = E.
2 2

(3.24)

58

BAB 3. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KLASIK

Persamaan ini dapat dibawa ke bentuk


p2
x2
+
= 1.
2E 2E/ 2

(3.25)

Mengingat E selalu positif, maka persamaan terakhir ini merupakan persamaan elips yang berpusat di (0,0). Jika
1. 2 2 p
< 1, maka sumbu panjangnya terletak
sepanjang sumbu-x,

yakni 2E/ 2 dan sumbu pendeknya 2E.


2. 2 2
> 1, maka sumbu panjangnya
p terletak sepanjang sumbu-p,
yakni 2E dan sumbu pendeknya 2E/ 2 .
Hal ini menunjukkan bahwa swanilai tenaga osilator harmonis merosot sejauh tak terhingga derajad.
Mengingat fungsi Hamiltonan Hosc secara eksplisit tidak gayut pada
waktu, maka berdasarkan persamaan (3.21) didapatkan dHosc /dt = 0. Ini
berarti bahwa Hosc merupakan tetapan gerak, dengan kata lain bahwa Hosc
lestari. Jadi, sekali osilator tersebut diatur memiliki tenaga total sebesar
E, maka selamanya (bila tidak ada gangguan) ia akan memiliki tenaga total
sebesar E itu. Tentu saja, hal ini mengakibatkan kendala bagi x dan p,
yakni bahwa posisi x dan momentum p tidak
boleh mengambil sembarang
nilai.pMisalnya, |p| tidak boleh lebih dari 2E dan |x| tidak boleh lebih
dari 2E/ 2 dan x tidak bebas dari p.
Dinamika osilator harmonis ditentukan dari sistem persamaan Hamiltonan berikut :
Hosc
p
dx
=
=
(3.26)
dt
p

dan
dp
Hosc
=
= 2 x.
(3.27)
dt
x
Persamaan kedua sama artinya dengan berlakunya hukum Hooke dengan
tetapan elastisitas k = 2 , yakni gaya konservatif yang bekerja pada osilator diberikan oleh
dp
F =
= 2 x = kx.
dt
Jika pers.(3.26) diturunkan terhadap waktu dan disubtitusikan ke dalam
pers.(3.27), maka diperoleh
d2 x
+ 2 x = 0.
dt2

(3.28)

3.4. CONTOH 1 : OSILATOR HARMONIS SATU DIMENSI

59

Demikian juga bila pers.(3.27) diturunkan terhadap waktu dan disubtitusikan ke dalam pers.(3.26), maka didapatkanlah
d2 p
+ 2 p = 0.
dt2

(3.29)

Penyelesaian kedua persamaan terakhir ini, yakni x(t) dan p(t) (sangat
tergantung nantinya pada apa yang disebut syarat awal), menentukan kurva
c : t 7 c(t) = (x(t), p(t))

(3.30)

yang menggambarkan dinamika sistem pada ruang fase klasik R2 .


Penyelesaian umum pers.(3.28) dan pers.(3.29) berturut-turut diberikan
oleh
x(t) = A cos(t) + B sin(t)

(3.31)

p(t) = A0 cos(t) + B 0 sin(t),

(3.32)

dan

dengan A, B, A0 dan B 0 tetapan-tetapan yang ditentukan dari syarat awal. Bila pada saat t = 0, berlaku x(0) = 0 dan osilator harmonis tersebut
memiliki tenaga sebesar E,
ungkapan untuk Hosc terda maka berdasarkan

pat dua nilai bagi p(0) : 2E dan 2E. Kedua nilai ini hanya berkaitan dengan arah gerakan pada
saat itu. Oleh karena itu, tanpa membatasi
hasil, diambil nilai p(0) = 2E. Karena x(0) = 0, maka pers.(3.31)

mensyaratkan A = 0. Jadi, x(t) = B sin(t). Karena p(0)


=
2E,

0 =
maka pers.(3.32)
mengharuskan
berlakunya
p(0)
=
A
2E.
Jadi,

p(t) = 2E cos(t) + B 0 sin(t). Dari pers.(3.27) diperoleh


p
2E sin(t) + B 0 cos(t) = 2 x(t)
(3.33)
atau

x(t) =

2E
B0
sin(t)
cos(t).

(3.34)

Tetapi karena x(0) = 0, maka dari persamaan terakhir ini haruslah B 0 = 0.


Kesimpulannya,

p
2E
sin(t) dan p(t) = 2E cos(t).
(3.35)
x(t) =

BAB 3. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KLASIK

60

Dengan mudah dapat dibuktikan bahwa lintasan osilator harmonis dalam


ruang fase, yakni


p
2E
c : t 7 (x(t), p(t)) =
(3.36)
sin(t), 2E cos(t) ,

berupa ellips.
p
6

(0, 2E)
c(t) = (x(t), p(t))


-x
*

@
I
@
2E
(
, 0)

Sketsa 3.5 Lintasan osilator harmonis dalam ruang fase klasik yang menggambarkan dinamika klasik. (Sketsa ini dirancang dan digambar oleh M.F. Rosyid)

3.5

Contoh 2 : Partikel bebas dalam ruang 3 dimensi

Sebagai ilustrasi selanjutnya, kita tinjau sebuah partikel bebas bermassa .


Dalam hal ini, M = R6 bertindak sebagai ruang fase klasik. Setiap titik m
di R6 dapat dicirikan oleh koordinat (x, y, z, px , py , pz ). Guna menyingkat
penulisan, koordinat (x, y, z, px , py , pz ) ditulis saja sebagai (r, p). Tenaga
total H merupakan fungsi riil pada M = R6 , yakni
H(r, p) =

(px )2 + (py )2 + (pz )2


p2
=
.
2
2

(3.37)

Dari persamaan terakhir ini terlihat bahwa spektrum tenaga dari partikel
bebas beranggotakan seluruh bilangan riil yang tak negatif, yakni [0, ).
Bilamana sistem berada pada keadaan ma = (ra , pa ) R6 dan andaikan E
suatu bilangan riil tak negatif anggota spektrum dari H, maka dengan mudah dapat ditentukan nilai Pma ,H ({E}), yakni peluang didapatinya sistem

3.5. CONTOH 2 : PARTIKEL BEBAS DALAM RUANG 3 DIMENSI 61


tersebut memiliki tenaga total sebesar E bila sistem berada pada keadaan
ma . Bila E = H(ra , pa ) = p2a /(2), maka
Pma ,H ({E}) = 1.

(3.38)

Bila E 6= H(ra , pa ) = p2a /(2), maka


Pma ,H ({E}) = 0.

(3.39)

Secara umum, jika (a, b) suatu interval terbuka yang termuat dalam [0, ),
maka

/ (a, b)
0 jika p2a /(2)
Pma ,H ((a, b)) =
.
(3.40)

2
1 jika pa /(2) (a, b)
Dinamika partikel bebas ini digambarkan oleh penyelesaian dari persamaan Hamiltonan (lihat [Gol])
H
px
dx
=
= ,
dt
px

py
dy
H
=
= ,
dt
py

dz
H
pz
=
=
dt
pz

(3.41)

dpz
H
=
= 0.
dt
z

(3.42)

dan
dpx
H
=
= 0,
dt
x

dpy
H
=
= 0,
dt
y

Penyelesaian persamaan ini adalah kurva


c : R R6
: t 7 (r(t), p(t)) = (x t + x , y t + y , z t + z , x , y , z ),
(3.43)
dengan x , y , z x , y dan z adalah tetapan-tetapan yang tergantung
pada syarat awal.
Sekarang ditinjau momentum sudut l := r p. Besaran fisis yang
biasanya diukur adalah komponen-komponen momentum sudutnya, yaitu
lx = ypz zpy = (y z t + y z ) (z y t + z y ) = y z z y ,
(3.44)
ly = zpx xpz = (z x t + z x ) (x z t + x z ) = z x x z ,
(3.45)

BAB 3. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KLASIK

62
dan

lz = xpy ypx = (x y t + x y ) (y x t + y x ) = x y y x .
(3.46)
Laju perubahan komponen momentum sudut dapat langsung dievaluasi
dari persamaan terakhir ini :
dlx
d
= (y z z y ) = 0,
dt
dt

(3.47)

dly
d
= (z x x z ) = 0,
dt
dt

(3.48)

dan

d
dlz
= (x y y x ) = 0.
dt
dt
Namun bisa juga langsung dihitung melalui kurung Poisson-nya :

dan

3.6

(3.49)

dlx
= {lx , H}KP = 0,
dt

(3.50)

dly
= {ly , H}KP = 0,
dt

(3.51)

dlz
= {lz , H}KP = 0.
dt

(3.52)

Soal-soal

1. Dengan memanfaatkan ungkapan eksplisit kurung Poisson, pers.(3.6),


buktikan bahwa kurung Poisson memiliki tiga sifat : antisimetri, linier
pada kedua faktor dan memenuhi identitas Jacobi!
2. Tunjukkanlah bahwa komponen-komponen momentum sudut lx , ly
dan lz yang diberikan oleh pers.(3.44), pers.(3.45) dan pers.(3.46)
memenuhi persamaan
{lx , ly }KP

= lz ,

{ly , lz }KP = lx ,

{lz , lx }KP = ly (3.53)

dan
{lx , lx }KP

= {ly , ly }KP = {lz , lz }KP = 0

(3.54)

3.6. SOAL-SOAL

63

atau lebih singkat


{li , lj }KP =

3
X

ijk lk ,

untuk i, j = 1, 2, 3!

(3.55)

k=1

3. Ditinjau suatu sistem fisis yang memiliki ruang keadaan R6 dengan


koordinat (r, p) = (x, y, z, px , py , pz ). Andaikan struktur simplektik
untuk masalah ini diberikan oleh pers.(3.1). Selanjutnya, andaikan f
suatu observabel/besaran fisis klasik, yakni suatu fungsi yang bernilai
riil f (r, p) untuk setiap (r, p) R6 . Medan vektor Hamiltonan Xf
yang dibangkitkan oleh observabel f adalah operator diferensial yang
diberikan oleh

3 
X
f
f

.
(3.56)
Xf =
pi xi xi pi
i=1

Jadi, jika h sembarang fungsi yang diferensiabel pada ruang keadaan,


maka berlaku

3 
X
f h
f h

.
(3.57)
Xf (h) =
pi xi xi pi
i=1

Tunjukkanlah bahwa medan vektor Hamiltonan yang dibangkitkan


oleh komponen-komponen momentum sudut diberikan oleh
X lx = p y

pz
+y
z ,
pz
py
z
y

(3.58)

X ly = pz

px
+z
x ,
px
pz
x
x

(3.59)

py
+x
y
!
py
px
y
x

(3.60)

dan
X lz = px

4. Masih terkait dengan soal sebelumnya, andaikan Xf dan Xg berturutturut merupakan medan vektor Hamiltonan yang dibangkitkan oleh
besaran f dan g. Komutator antara Xf dan Xg didefinisikan sebagai
operator diferensial [Xf , Xg ] sedemikian rupa sehingga
[Xf , Xg ](h) = Xf (Xg (h)) Xg (Xf (h)),

(3.61)

BAB 3. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KLASIK

64

untuk setiap fungsi h yang diferensiabel pada ruang keadaan. Tunjukkanlah bahwa
[Xf , Xg ] = X{f,g}KP ,

(3.62)

yakni bahwa komutator antara Xf dan Xg adalah medan vektor


Hamiltonan yang dibangkitkan oleh kurung Poisson antara besaran f
dan g! Dengan demikian, dari soal nomor 2 anda dapat menunjukkan
pula bahwa
[Xlx , Xly ] = Xlz

[Xly , Xlz ] = Xlx

[Xlz , Xlx ] = Xly

(3.63)

dan
[Xlx , Xlx ] = [Xly , Xly ] = [Xlz , Xlz ] = 0

(3.64)

atau
[Xli , Xlj ] =

3
X

ijk Xlk .

(3.65)

k=1

Sebagai catatan futuristik, baik pers.(3.55) maupun pers.(3.65) mempunyai analogi pada tataran kuantum.
5. Ditinjau suatu sistem fisis klasik berupa sebuah benda bermassa 5
kg yang hidup dalam ruang konfigurasi berdimensi satu, katakanlah sebagai sumbu-X. Ruang fase klasik bagi sistem ini adalah R2 ,
katakanlah sebagai bidang-XP dengan koordinat (x, p). Ditinjau sebuah observabel klasik K(x, p) = xp.
(a) Tuliskanlah spektrum bagi observabel K!
(b) Bila sistem tersebut berada pada keadaan (2 m, 4 kg.m/s),
berapakah peluang memperoleh suatu hasil ukur besaran K yang
berada pada interval terbuka (5 kg.m2 /s, 20 kg.m2 /s)?
(c) Bila sistem tersebut berada pada keadaan (2 m, 4 kg.m/s),
berapakah peluang memperoleh suatu hasil ukur besaran K yang
berada pada interval tertutup [1 kg.m2 /s, 20 kg.m2 /s]?
(d) Tuliskan fungsi kerapatan peluang bagi tenaga tenaga kinetik
T , bila sistem tersebut berada pada keadaan (2 m, 4 kg.m/s)!

Bab 4

PRINSIP PRINSIP
MEKANIKA KUANTUM
Die Geometrie ist eine Wissenschaft, welche im Wesentlichen so weit
fortgeschritten ist, dass alle ihre Tatsachen bereits durch logische Schl
usse aus
fr
uheren abgeleitet werden k
onnen. Ganz anders wie z.B. die Elektrizitatstheorie
oder Optik, in der noch heute immer neue Tatsachen entdeckt werden.
. . .
Nach dem Muster der Geometrie sind nun auch alle anderen Wissenschaften in
ester Linie Mechanik, hernach aber auch Optik, Elektrizitatstheorie usw. zu
behandeln.1 (David Hilbert)

Dalam mekanika kuantum bertindak sebagai ruang keadaan adalah apa


yang dikenal sebagai ruang Hilbert yang separabel dan diperluas. Jadi,
masing-masing keadaan kuantum diwakili oleh sebuah titik dalam ruang
tersebut. Sedang observable diwakili oleh operator Hermitean yang lengkap
pada ruang Hilbert. Oleh karena itu dirasa sangat perlu untuk menyajikan
uraian tentang ruang Hilbert dan teori operator padanya. Akan tetapi
kurang bijaksana bila di dalam buku ini diberikan pemaparan tentang ruang Hilbert dan teori operator secara rinci. Berikut ini kita akan mem1

Geometri merupakan ilmu pengetahuan (sains) yang telah sedemikian lanjut, sehingga seluruh fakta-faktanya sudah dapat diturunkan melalui deduksi secara logis dari
fakta-fakta yang telah diketahui sebelumnya. Jauh berbeda, misalnya, teori kelistrikan
ataupun optika, di mana dewasa ini masih selalu ada fakta-fakta baru yang ditemukan.
. . .
Sekarang, mengikuti jejak geometri, semua ilmu penegtahuan terutama mekanika, kemudian juga optika, teori kelistrikan dll., akan diperlakukan seperti itu.

65

66

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

bicarakan serba sedikit tentang ruang Hilbert. Bagi yang merasa kurang
cukup dengan uraian ini dapat melihat buku-buku yang cukup melimpah
keberadaannya [Boc, ReSi].

4.1

Ruang Hilbert

Andaikan H suatu ruang vektor kompleks berdimensi sembarang (bisa finit


bisa pula infinit). Untuk sembarang dua anggota , 0 H, suatu produk
skalar (produk dalam) antara dan 0 adalah bilangan kompleks (, 0 )
sedemikian rupa sehingga semua empat syarat berikut ini dipenuhi
H1 (, 0 ) = ( 0 , ) ,
H2 (, ) 0, (, ) = 0 jika dan hanya jika = 0,
H3 Jika sembarang bilangan kompleks, maka (, 0 ) = (, 0 ),
H4 Jika 00 sembarang anggota H, maka berlaku (, 0 + 00 ) = (, 0 ) +
(, 00 ).
Tanda ( ) berarti konjugat kompleks. Syarat H1 menunjukkan bahwa
produk sekalar bersifat asimetri. Syarat H2 ekuivalen dengan ketidakmerosotan (non-degeneracy) dari forma kuadrat (, ). Syarat H3 dan H4
menyatakan bahwa produk skalar bersifat linier pada faktor kedua. Produk skalar (, 0 ) juga akan ditulis sebagai (| 0 ). Produk skalar yang
didefinisikan di sini merupakan perumuman dari hasil kali titik atau hasil
kali skalar yang kita kenal pada hitung vektor elementer. Semua syaratsyarat yang disebutkan di atas dipenuhi oleh hasil kali skalar. Sebagai
latihan dapat dibuktikan sendiri oleh para pembaca bahwa untuk setiap
bilangan kompleks berlaku (| 0 ) = (| 0 ). Di samping itu berlaku
pula ( 0 + 00 |) = ( 0 |) + ( 00 |) untuk sembarang , 0 , 00 H.
Ruang vektor H yang disertai oleh suatu produk skalar disebut ruang
pra-Hilbert atau ruang berproduk skalar.
Jika H ruang berproduk skalar dengan produk skalar (, ), maka dua
unsur dan di H dikatakan saling tegak luruspatau ortogonal jika (|) =
0. Untuk H, bilangan tak negatif |||| := (|) disebut norma atau
panjang dari vektor . Vektor dikatakan normal jika |||| = 1.

4.1. RUANG HILBERT

67

Selanjutnya, dari konsep norma ini orang dapat menggagas konsep


metrik atau jarak yang merupakan perumuman dari konsep jarak2 dalam
pengertian sehari-hari. Jarak d(, 0 ) dibaca jarak dari ke 0 dipahami
sebagai bilangan yang definisikan oleh
d(, 0 ) = || 0 || =

( 0 | 0 ).

(4.1)

Konsep jarak ini menjadi penting (sebagaimana pada garis riil) bilamana
orang mempertanyakan kekonvergenan suatu barisan dalam ruang praHilbert. Dalam kaitan ini terdapat dua konsep tentang barisan. Yang
pertama, suatu barisan disebut barisan Cauchy atau fundamental bila (mudahnya mengatakan) jarak antar suku semakin dekat. Yang kedua, suatu
barisan dikatakan konvergen ke suatu vektor anggota ruang pra-Hilbert bila
suku-suku barisan itu semakin dekat ke vektor itu. Suatu ruang pra-Hilbert
disebut ruang Hilbert bila setiap barisan Cauchy dalam ruang itu merupakan barisan konvergen. Terdapat suatu teorema yang cukup mashur yang
menyatakan bahwa untuk setiap ruang pra-Hilbert H0 , katakanlah dengan
produk sekalar (|)pra , terdapat sebuah ruang Hilbert H dengan produk
skalar (|) sedemikian rupa sehingga H0 merupakan himpunan bagian yang
mendominasi H dan berlaku (0 | 0 )pra = (0 | 0 ) untuk semua 0 , 0 H0 .
Ruang Hilbert H disebut sebagai penyempurnaan bagi ruang pra-Hilbert
H0 . Kata mendominasi dalam hal ini berarti bahwa setiap lingkungan3
dari masing-masing vektor dalam ruang Hilbert H memuat vektor-vektor
anggota H0 . Secara sosiologis hal ini dapat dianalogikan dengan perkataan
bahwa orang Jawa mendominasi kota Jogjakarta. Artinya, di setiap tempat
di kota Jogjakarta dengan mudah dapat ditemukan orang Jawa. Karena
ruang H0 mendominasi ruang H, maka adalah telah cukup kalau hanya
mempertimbangkan anggota-anggota dari H0 . Oleh karena itu pembaca
tidak perlu merisaukan hal-hal yang berkaitan dengan unsur-unsur dari
H yang bukan unsur dari H0 . Sejatinya para pembaca pun telah mengenal contoh nyata dalam masalah ini, yakni berkaitan dengan pemakaian
bilangan rasional dalam berbagai perhitungan. Himpunan Q yang beranggotakan semua bilngan rasional disertai dengan perkalian bilangan biasa
merupakan ruang pra-Hilbert riil. Akan tetapi ruang Q ini bukan ruang
Hilbert. Penyempurnaannya adalah himpunan R yang beranggotakan semua bilangan riil. Akan tetapi dalam perhitungan-perhitungan keseharian,
Pada garis bilangan riil jarak antara titik x dan titik y didefinisikan sebagai |x y 0 |.
Suatu lingkungan bagi suatu vektor dalam ruang Hilbert H dapat dipahami sebagai
himpunan bagian tertentu dari H yang memuat .
2

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

68

adalah telah cukup kalau hanya melibatkan bilangan-bilangan rasional saja


sebab Q mendominasi R.
Suatu ruang Hilbert dikatakan separabel4 bila ruang itu (sebagai ruang vektor) memiliki basis yang tercacah (countable). Selanjutnya kita
hanya akan membatasi diskusi kita pada kategori ruang Hilbert semacam
ini.
Himpunan bagian K H dari ruang Hilbert H disebut himpunan ortogonal jika unsur-unsur di K saling tegak lurus satu terhadap yang lain
(tentu saja dalam pengertian yang baru saja dikemukakan di atas). Himpunan K disebut himpunan ortonormal bila K ortogonal sekaligus semua
anggotanya normal.

Gambar 4.1: David Hilbert (1862-1943), matematikawan paling berpengaruh


abad keduapuluh. D. Hilbert lahir di Konigsberg, Prusia (kini Kaliningrad, Rusia). Hilbert merupakan guru bagi aliran formalisme, salah satu dari tiga aliran
besar dalam matematika dewasa ini. Hilbert memiliki perhatian dan sumbangan
sangat besar pada perkembangan ilmu fisika baik dalam teori kuantum maupun
relativitas umum. Bahkan Hilbertlah pemenang dalam perburuan persamaan utama dalam teori relativitas umum. Hilbert mengumunkan keberhasilannya tanggal
20 Nopember 1915, tepatnya lima hari lebih awal daripada Einstein. Diskusi
masalah ini dapat disimak misalnya di [Corr], [Win], [Sau], [Log], [Maj], [Tod] dan
[Wue]. (Foto diambil dari situs www.-groups.dcs.st-and.ac.uk.)

Sebenarnya, separabilitas memiliki akar pada ranah topologis [Mun]. Akan tetapi
untuk kebutuhan kita definisi yang kita kemukakan di sini telah mencukupi.

4.1. RUANG HILBERT

69

Teorema 4.1.1 (Teorema Pythagoras) Jika {1 , 2 , , n } merupakan


himpunan ortonormal dalam ruang Hilbert H, maka untuk sembarang
H berlaku
n
n
X
X
||||2 =
|(i |)|2 + ||
(i |)i ||2 .
(4.2)
i=1

i=1

Teorema ini disebut teorema Pythagoras karena teorema ini menyatakan


bahwa setiap vektor H dapat diuraikan menjadi dua vektor lain yang
saling tegak lurus sedemikian rupa sehingga kuadrat besar vektor sama
dengan jumlahan kuadrat panjang kedua vektor hasil uraian. Bukti teorema ini dapat dilihat, misalnya, di [ReSi].
Dari teorema Pythagoras, karena suku kedua pers.(4.2) selalu positif,
maka diperoleh ketaksamaan Bessel berikut :
2

||||

n
X

|(i |)|2 .

(4.3)

i=1

Selanjutnya, karena {} ortogonal, maka {/||||} merupakan himpunan ortonormal. Oleh karena itu, berdasarkan ketaksamaan Bessel di
atas berlaku

|)|2
(4.4)
||||2 |(
||||
atau
||||2 ||||2 |(|)|2 .
(4.5)
Ketaksamaan terakhir ini dikenal sebagai ketaksamaan Schwartz. Ketaksamaan ini semakna dengan fakta dalam hitung vektor elementer bahwa nilai mutlak hasil kali skalar antara dua buah vektor selalu kurang dari hasil
kali antara panjang kedua vektor itu : jika A dan B sembarang dua vektor,
maka |A B| |A||B|. Hal ini dikarenakan |A B| = ||A||B| cos(A, B)|.
Suatu himpunan ortonormal B dalam ruang Hilbert H disebut basis
ortonormal bila B maksimum, artinya, tiada himpunan ortonormal lain
yang memuat B sebagai himpunan bagian5 . Kabar gembira : setiap ruang
Hilbert memiliki basis ortonormal [ReSi]. Sebuah basis B dalam pengertian ini berperan sebagaimana basis dalam pengertian ruang vektor, yakni
membentang ruang Hilbert H. Hal ini diungkapkan oleh teorema berikut
ini.
Dengan kata lain, jika B0 himpunan ortonormal sedemikian rupa sehingga B B0
maka B0 B
5

70

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

Teorema 4.1.2 Andaikan B = {1 , 2 , } basis (bisa finit bisa infinit)


dalam ruang Hilbert H. Maka setiap unsur di H dapat dituliskan secara
tunggal sebagai kombinasi linier dari unsur-unsur di B, yakni
X
=
(i |)i .
(4.6)
i

Selanjutnya berlaku pula identitas


||||2 =

|(i |)|2

(4.7)

yang dikenal sebagai identitas Parseval.


Contoh : Ruang Hilbert Cn
Andaikan Cn himpunan yang beranggotakan semua barisan bilangan kompleks (z1 , z2 , z3 , , zn ). Cn merupakan ruang vektor kompleks dengan
penjumlahan dan perkalian dengan skalar didefinisikan menurut
(z1 , z2 , , zn ) + (z10 , z20 , zn0 ) = (z1 + z10 , z2 + z20 , zn + zn0 )(4.8)
(z1 , z2 , , zn ) = (z1 , z2 , zn ),

(4.9)

untuk sembarang (z1 , z2 , z3 , , zn ), (z10 , z20 , z30 zn0 ) Cn dan C. Ruang Cn ini disertai dengan produk skalar
(z|z0 ) =

n
X

zi zi0 ,

(4.10)

i=1

untuk sembarang z = (z1 , z2 , , zn ), z0 = (z10 , z20 , , zn0 ) Cn , merupakan ruang Hilbert. Himpunan {z1 , z2 , , zn }, dengan
z1 = (1, 0, 0, 0, 0, , 0),
z

= (0, 1, 0, 0, 0, , 0),

= (0, 0, 1, 0, 0, , 0),

= (0, 0, 0, 1, 0, , 0),
.. ..
..
. .
.
,

zn = (0, 0, 0, 0, 0, , 1)

(4.11)

4.1. RUANG HILBERT

71

merupakan basis ortonormal bagi Cn . Setiap z = (z1 , z2 , , zn ) Cn


selalu dapat ditulis sebagai kombinasi linear :
z=

n
X

zi z i .

(4.12)

i=1

Ruang Cn merupakan ruang Hilbert baku bagi semua ruang Hilbert berdimensi n, yakni bahwa setiap ruang Hilbert berdimensi n konkruen dengan
Cn dalam pengertian yang akan dijelaskan sebentar lagi.
Contoh : Ruang Hilbert l2
Andaikan l2 himpunan yang beranggotakan semuaPbarisan bilangan kompleks = {z1 , z2 , } sedemikian rupa sehingga n |zn | < . l2 merupakan ruang vektor kompleks dengan penjumlahan dan perkalian dengan
skalar didefinisikan oleh
{z1 , z2 , z3 , } + {z10 , z20 , z30 } = {z1 + z10 , z2 + z20 , } (4.13)
{z1 , z2 , z3 , } = {z1 , z2 , z3 , },

(4.14)

untuk sembarang {z1 , z2 , z3 , }, {z10 , z20 , z30 } l2 dan C. Ruang l2


ini disertai dengan produk skalar
(| 0 ) =

zi zi0 ,

(4.15)

i=1

untuk sembarang = {z1 , z2 , z3 , }, 0 = {z10 , z20 , z30 } l2 , merupakan


ruang Hilbert.
Himpunan { 1 , 2 , 3 , }, dengan
1 = (1, 0, 0, 0, 0, ),

= (0, 1, 0, 0, 0, ),

= (0, 0, 1, 0, 0, ),

(4.16)

= (0, 0, 0, 1, 0, ),
.. ..
..
. .
.
,

merupakan basis ortonormal bagi l2 . Setiap = {z1 , z2 , } H selalu


dapat ditulis sebagai kombinasi linear :
=

X
i=1

zi i .

(4.17)

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

72

Ruang Hilbert ini sering dikatakan sebagai ruang Hilbert standard (baku)
bagi ruang Hilbert separabel yang berdimensi infinit. Hal ini dikarenakan
setiap ruang Hilbert separabel yang berdimensi finit konkruen, dalam artian
yang akan segera diterangkan, dengan l2 .

Contoh : ruang Hilbert L2 (Q)


Andaikan Q suatu wilayah pada ruang konfigurasi Rn . Tuliskan sebagai C(Q) himpunan semua fungsi kompleks (x, y, z) yang kontinyu pada
wilayah Q sedemikian rupa sehingga
Z

|(x, y, z)|2 dxdydz < .

(4.18)

Dapat dibuktikan bahwa himpunan C(Q) disertai dengan penjumlahan


fungsi dan perkalian dengan skalar yang didefinisikan oleh
( + 0 )(x, y, z) = (x, y, z) + 0 (x, y, z)

(4.19)

()(x, y, z) = (x, y, z),

(4.20)

untuk setiap (x, y, z) Q dan C, merupakan sebuah ruang vektor


kompleks. Ruang vektor C(Q) disertai produk skalar
(| 0 ) =

(x, y, z) 0 (x, y, z)dxdydz

(4.21)

merupakan ruang pra-Hilbert. Penyempurnaan bagi ruang pra-Hilbert ini


adalah ruang L2 (Q) yang beranggotakan semua fungsi yang square integrable dalam artian Lebesgue [Boc]. Yang terakhir ini adalah bahasa teknis
matematis yang tidak perlu membuat kecil hati. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya para pembaca tidak usah merisaukan6 seperti apakah
fungsi-fungsi yang square integrable dalam artian Lebesgue. Yang penting
adalah bahwa telah cukup bagi kita hanya untuk memperhatikan himpunan
C(Q) yang anggota-anggotanya telah kita kenali dengan baik.
6

Walaupun demikian, akan lebih baik jikalau para pembaca memahami masalah ini.

4.1. RUANG HILBERT

73

Contoh : Ruang Hilbert L2 ([, ])


Ditinjau interval [, ] R. Sebagaimana contoh sebelumnya, C([, ])
dimaksudkan sebagai himpunan yang beranggotakan semua fungsi kompleks pada pada interval [, ] yang kontinyu. Dalam hal ini tidak diperlukan untuk meberlakukan syarat
Z
|(x)|2 dx <
(4.22)

bagi suatu fungsi untuk menjadi anggota dari C([, ]). (Mengapa?)
Ruang Hilbert L2 ([, ]) adalah penyempurnaan bagi C([, ]). Produk
skalar dalam L2 ([, ]) didefinisikan menurut
Z
0
(| ) =
(x)(x)dx.
(4.23)

L2 [, ]

Ruang
memuat semua fungsi kompleks yang square integrable
dalam pengertian Lebesgue pada interval [, ].
Himpunan { , 1 , 0 1 , 2 , }, dengan
n = (2)1/2 einx ,

n bilangan bulat,

(4.24)

merupakan basis ortonormal : (n |n0 ) = nn0 . Setiap fungsi kompleks


yang kontinyu pada interval [, ] dapat dituliskan sebagai kombinasi
linier

X
X
(x) =
n n = (2)1/2
n einx ,
(4.25)
n=

n=

dengan
1/2

n = (2)

1/2

(x)(x)dx = (2)

(x)einx dx.

(4.26)

Ini tidak lain adalah deret Fourier untuk fungsi-fungsi kompleks.

Contoh : Ruang Hilbert L2 ((1, 1))


Ditinjau interval (1, 1) R. Andaikan C((1, 1)) himpunan semua fungsi
riil f yang kontinyu pada interval (1, 1) dan memenuhi syarat
Z 1
|f (x)|2 dx < .
(4.27)
1

74

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

Himpunan ini disertai produk skalar


1

Z
(f |g) =

f (x)g(x)dx

(4.28)

merupakan ruang pra-Hilbert. Penyempurnaan terhadap ruang ini menghasilkan ruang Hilbert L2 ((1, 1)). Himpunan {v0 , v1 , v2 , }, dengan
vn (x) = xn ,

n = 0, 1, 2, 3, 4, ,

(4.29)

merupakan basis bagi L2 ((1, 1)). Melalui suatu prosedur yang disebut
ortonormalisasi Gram-Schmidt diperoleh basis ortonormal {u0 , u1 , u2 , }.
Masing-masing un (x) diberikan oleh
r
un (x) =

2n + 1
Pn (x),
2

n = 0, 1, 2, 3, 4, ,

(4.30)

dengan
Pn (x) =

1 dn 2
(x 1)n ,
2n n! dxn

x (1, 1)

(4.31)

(Lihat misalnya dalam [Kre]). Fungsi-fungsi Pn (x) disebut polinom Legendre berderajad n. Jadi, setiap fungsi riil f anggota ruang C((1, 1)) dapat
dituliskan sebagai kombinasi linier berikut
f (x) =

X
n=0

2n + 1
n (x)Pn (x),
2

(4.32)

dengan masing-masing n diberikan oleh


r
n =

2n + 1
2

f (x)Pn (x)dx.

(4.33)

Polinom Legendre merupakan jawaban bagi persamaan diferensial Legendre


(1 x2 )
untuk n = 0, 1, 2, .

d 2 Pn
dPn
2x
+ n(n + 1)Pn = 0,
2
dx
dx

(4.34)

4.1. RUANG HILBERT

75

Contoh : Ruang Hilbert L2 (S 2 )


Ditinjau himpunan S 2 R3 yang didefinisikan oleh S 2 = {(x, y, z)
R3 |x2 + y 2 + z 2 = 1}. Jadi, S 2 adalah kulit bola beradius 1 satuan yang
berpusat di titik pangkal. Dalam koordinat bola himpunan S 2 adalah himpunan titik-titik dalam ruang dengan r = 1. Definisikan himpunan C(S 2 )
sebagai himpunan yang beranggotakan semua fungsi kompleks yang kontinyu pada S 2 . Himpunan ini disertai dengan produk skalar
Z Z 2
0
(| ) =
(, ) 0 (, ) sin dd
(4.35)
0

merupakan ruang pra-Hilbert. Hasil penyempurnaan terhadap ruang ini


adalah ruang L2 (S 2 ). Himpunan yang beranggotakan semua fungsi bernilai
kompleks Ylm (, ), dengan l = 0, 1, 2, 3, dan m = l, l + 1, l 1, l,
yang didefinisikan oleh
s
m
l+m (sin )2l
(1)
2l + 1 (l m)!
m d
Ylm (, ) =
sin

exp(im), (4.36)
4 (l + m)!
2l l!
d(cos )l+m
merupakan basis ortonormal pada L2 (S 2 ). Oleh karena itu berlaku
0

(Ylm |Ylm
0 ) = ll0 mm0 .

(4.37)

Fungsi-fungsi Ylm (, ) disebut spherical harmonics dan akan muncul dalam


aplikasi, misalnya, sebagai swafungsi bersama momentum sudut orbital
(untuk lebih rincinya lihat Bab 11).
Contoh : Ruang Hilbert L2 (R)
Ruang vektor C(R) yang beranggotakan semua fungsi riil yang kontinyu
pada R dan memenuhi syarat
Z +
|(x)|2 dx <
(4.38)

disertai produk skalar


(| 0 ) =

(x) 0 (x)dx

(4.39)

76

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

merupakan ruang pra-Hilbert. Penyempurnaanya adalah ruang Hilbert


L2 (R). Himpunan {0 , 1 , }, dengan
(1)n
dn
1
2
2
n (x) = p
exp(x2 /2) n ex = p

exp(x /2)Hn (x)


n
n
dx
2 n!
2 n!
(4.40)
2
merupakan basis ortonormal bagi L (R). Fungsi-fungsi
Hn (x) = (1)n ex

dn x2
e
dxn

(4.41)

disebut polinom Hermite. Polinom ini merupakan jawaban dari persamaan


diferensial Hermite
d 2 Hn
dHn
2x
+ 2nHn = 0
2
dx
dx

(4.42)

(Lihat dalam [Kre]). Polinom ini akan terpakai, misalnya, dalam pembicaraan tentang getaran selaras.
Contoh : Ruang Hilbert L2 ([0, ))
Ruang vektor C([0, )) yang beranggotakan semua fungsi riil yang kontinyu pada interval [0, ) dan memenuhi syarat
Z
|(x)|2 dx <
(4.43)
0

disertai produk skalar


(| 0 ) =

(x) 0 (x)dx

(4.44)

merupakan ruang pra-Hilbert. Penyempurnaanya adalah ruang Hilbert


L2 ([0, )). Dalam ruang Hilbert ini himpunan {w0 , w1 , w2 , }, dengan
wn (x) = xn exp(x/2) merupakan himpunan yang bebas linier. Proses
ortonormalisasi Gram-Schmidt menghasilkan himpunan {u0 , u1 , } yang
ortonormal dengan
un (x) = exp(x/2)n (x),

n = 0, 1, 2, .

(4.45)

Fungsi-fungsi
0 (x) = 1

n (x) =

exp(x) dn n
(x exp(x)),
n! dxn

n = 1, 2, (4.46)

4.1. RUANG HILBERT

77

disebut polinom Laguerre dan merupakan jawaban bagi persamaan diferensial


d2 n
dn
x
+ (1 x)
+ nn = 0.
(4.47)
2
dx
dx

Dua buah ruang Hilbert H1 dan H2 masing-masing disertai dengan produk skalar (|)1 dan (|)2 dikatakan konkruen bila terdapat suatu pemetaan
f : H1 H2 sedemikian rupa sehingga
(f ()|f ( 0 ))2 = (|)1 ,

(4.48)

untuk sembarang , 0 H1 . Pemetaan f yang memenuhi pers.(4.48)


disebut pemetaan uniter. Dapat dibuktikan bahwa setiap pemetaan uniter
f merupakan korrespondensi satu-satu7 dan bersifat linier, yakni jika , 0
sembarang anggota H1 dan , dua bilangan kompleks sembarang, maka
f ( + 0 ) = f () + f ( 0 ). Jika dua buah ruang Hilbert konkruen,
maka dalam suatu pembicaraan yang satu dapat menggantikan peran yang
lain.
Teorema 4.1.3 Setiap ruang Hilbert separabel yang berdimensi n konkruen dengan Cn dengan produk skalar pers.(4.10).
Bukti : Andaikan H ruang Hilbert separabel berdimensi n dengan produk
skalar (|)H dan {1 , 2 , , n } basis ortonormal. Maka setiap vektor
di H, menurut teorema
4.1.2, dapat dituliskan secara unik sebagai kombiPn
nasi linier = i=1 i i , dengan i = (i |)H untuk setiap i. Artinya,
untuk semua vektor di H hanya terdapat sebuah barisan
(1 , 2 , , n )
P
dengan i = (i |)H sedemikian rupa sehingga = ni=1 i i . Oleh karena itu terdapat korespondensi
z = ((1 |)H , (2 |)H , , (n |)H ) Cn

(4.49)

antara unsur-unsur di H dan unsur-unsur di Cn . Dapat ditunjukkan bahwa


korespondensi ini bersifat uniter :
0

(| )H =

n
X

(i |)H (i | 0 )H = (z |z0 ).

i=1
7

Secara matematis, korespondensi satu-satu disebut bijeksi.

(4.50)

78

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

Teorema 4.1.4 Setiap ruang Hilbert separabel berdimensi infinit konkruen


dengan l2 dengan produk skalar pers.(4.15).
Bukti : Andaikan H ruang Hilbert separabel berdimensi infinit dengan produk skalar (|)H dan {1 , 2 , } basis ortonormal. Maka setiap vektor
di H, menurut teorema
P 4.1.2, dapat dituliskan secara unik sebagai kombinasi linier = i=1 i i , dengan i = (i |)H . Artinya, untuk setiap
di H hanya terdapat sebuahP
barisan {1 , 2 , } dengan i = (i |)H
sedemikian rupa sehingga =
i=1 i i . Berdasarkan teorema 4.1.2,

|i |2 =

i=1

|(i |)H |2 = ||||2 < .

i=1

Jadi, {(1 |)H , (2 |)H , (3 |)H , } l2 . Oleh karena itu terdapat korespondensi
= {(1 |)H , (2 |)H , (3 |)H , }

(4.51)

antara unsur-unsur di H dengan unsur-unsur di l2 . Dapat ditunjukkan


bahwa korespondensi ini uniter :
(| 0 )H =

(i |)H (i | 0 )H = ( |0 ).

(4.52)

i=1

4.1.1

Basis Eksternal

Kembali kita tengok ruang Hilbert L2 (R). Andaikan sebuah fungsi kompleks anggota ruang L2 (R). Transformasi Fourier dari dari adalah fungsi
kompleks yang didefinisikan pada garis riil R menurut
Z +
1

(x) exp(ikx)dx.
(4.53)
(k)
=
2
Transformasi Fourier balik diberikan oleh
Z +
1
exp(ikx)dk.
(x) =
(k)
2

(4.54)

Bila didefinisikan fungsi k (x) berparameterkan k menurut


1
k (x) = eikx ,
2

(4.55)

4.1. RUANG HILBERT

79

maka kedua persamaan di atas dapat ditulis sebagai


Z +

k (x)(x)dx.
(k) =

(4.56)

(x) =

(k)
k (x)dk.

(4.57)

Mengingat produk skalar yang didefinisikan pada L2 (R), maka (k)


dalam
pers.(4.56) dapat ditulis sebagai produk skalar (k |). Oleh karena itu
pers.(4.57) dapat diltulis sebagai
Z +
(k |)k (x)dk.
(4.58)
(x) =

Mengingat bahwa integrasi dapat dipandang sebagai jumlahan dengan indek kontinyu, maka persamaan terakhir ini menyatakan bahwa setiap fungsi
dalam ruang L2 (R) dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari basis yang beranggotakan fungsi-fungsi k , dengan koefisien kombinasi linier
diberikan oleh
Z +
(4.59)
(k |) =
k (x)(x)dx.

Basis {k |k R} merupakan basis ortonormal dalam artian


(k |k0 ) = (k k 0 ),

(4.60)

dengan (k k 0 ) merupakan fungsi -Dirac (lihat lampiran B) satu dimensi. Berikutnya, mudah untuk dipahami bahwa fungsi-fungsi k (x) juga
memenuhi persamaan
Z +
k (x)k (x0 )dk = (x x0 ).
(4.61)

Akan tetapi semua fungsi k bukanlah anggota dari ruang Hilbert L2 (R),
sebab
||k || = (k |k ) , k R.
(4.62)
Itulah alasannya mengapa basis seperti {k |k R} ini dinamakan basis
eksternal.
Selanjutnya, kita hendak menyikapi kemungkinan adanya basis eksternal ini dalam sembarang ruang Hilbert dengan menyusun konsep umum

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

80

tentang basis eksternal sebagai berikut. Andaikan H suatu ruang Hilbert


dengan produk skalar (|). Suatu himpunan
B = { | indeks kontinyu }

(4.63)

yang beranggotakan objek-objek yang tak tercacah (uncountable) hendak disebut basis kontinyu ortonormal jika ketiga syarat berikut ini terpenuhi
1. produk skalar ( | ) dan ( |) terdefinisikan secara layak untuk
semua , B dan setiap H,
2. ( | ) = ( )
3. setiap vektor dalam ruang H dapat ditulis sebagai kombinasi linier
Z
=
( |) d,
(4.64)
V

dengan V adalah ruang indeks .


Pada tataran aplikasi contoh yang paling penting adalah himpunan
{%r |r R3 } yang beranggotakan semua swavektor8 operator posisi r. Setiap vector H dapat dituliskan sebagai kombinasi linier
Z + Z + Z +
=
(%r |)%r dxdydz.
(4.65)

Dalam hal ini koefisien kombinasi linier (r) := (%r |) tidak lain adalah
apa yang sering disebut fungsi gelombang.
Terdapat pula kemungkinan adanya basis ortonormal yang tersusun
atas vektor-vektor yang tercacah n dan vektor-vektor yang tak tercacah
sedemikian rupa sehingga
(n |n0 ) = nn0

(4.66)

(n | ) = 0
( | ) = ( ).
Sembarang vektor dalam ruang Hilbert dapat ditulis sebagai
Z
X
=
(n |)n + ( |) d.
n
8

Tentang swavektor akan diuraikan pada bagian 4.2.

(4.67)

4.2. TEORI OPERATOR DALAM RUANG HILBERT

4.2

81

Teori Operator dalam Ruang Hilbert

Andaikan H sembarang ruang Hilbert dengan produk skalar (|). Suatu


: H H. Jadi, setiap
operator pada H adalah sebuah pemetaan linier

pemetaan linier dari H ke dirinya sendiri disebut operator pada H. Jika

sebuah operator pada H maka domain dari akan ditulis sebagai Dom().
H oleh
akan dijodohkan dengan
Oleh karena itu setiap Dom()

sebuah unsur dari H yang hendak ditulis sebagai .


Contoh operator pada Cn :
Andaikan A sebuah matriks kompleks yang berukuran n n. Pemetaan
A : Cn Cn yang didefinisikan oleh

n
n
n
n
X
X
X
X
Az = (
z 7
A1j zj ,
A2j zj ,
A3j zj , ,
Anj zj ),
j=1

j=1

j=1

(4.68)

j=1

untuk setiap z = (z1 , z2 , , zn ), dengan Aij (i = 1, 2, , n) unsur matriks


dari matriks A, merupakan sebuah operator pada Cn . Mudah ditunjukkan
A merupakan korespondensi satu-satu. Bahbahwa korespondensi A
wa untuk setiap matriks A yang berukuran n n terdapat sebuah dan
A pada ruang Cn telah jelas dari definisi di atas.
hanya sebuah operator
terdaOleh karena itu tinggal membuktikan bahwa untuk setiap operator
pat matriks kompleks A yang berukuran n n sedemikian rupa sehingga
=
A . Andaikan z = (z1 , z2 , , zn ) Cn dan z0 = z
Cn . Oleh

0
0
0
karena itu z dapat dituliskan sebagai barisan (z1 , z2 , , zn0 ). Masingmasing zi0 diperoleh dari z0 melalui zi0 = (zi |z0 ), dengan {z1 , z2 , , zn } ba
sis pada Cn yang diberikan oleh pers.(4.11). Oleh karena itu zi0 P
= (zi |z).
n
2
Tetapi sebagai anggota dari C , z dapat dituliskan sebagai z = j=1 zj zj .
Maka
n
n
X
X
0
i
j
j )zj .
zi = (z |
zj z ) =
(zi |z
(4.69)
j=1

j=1

Bila matriks A didefinisikan sebagai matriks yang unsur-unsurnya berben j ), maka persamaan terakhir dapat dituliskan sebagai
tuk (A )ij := (zi |z
zi0 =

n
X
j=1

(A )ij zj .

(4.70)

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

82
Jadi,

n
n
n
X
X
X

z = z = ( (A )1j zj ,
(A )2j zj , ,
(A )nj zj ).
0

j=1

j=1

(4.71)

j=1

=
A . Korespondensi satu-satu A
Hal ini menunjukkan bahwa

A berarti bahwa setiap operator dapat disajikan/diwakili secara tunggal

sebagai/oleh sebuah matriks. Nanti akan dapat dilihat bahwa sifat-sifat


operator dapat dilihat dari sifat-sifat penyajian matriksnya.
Untuk setiap matriks kompleks A, definisikan matriks adjoint A dari
matriks A menurut A = (AT ) , yakni sebagai matriks yang diperoleh dari
A dengan men-transpos-nya lalu mengambil konjugat kompleks masingA
masing unsurnya. Hendak ditunjukkan bahwa jika A = A1 , maka
n
sebagai pemetaan dari C ke dirinya sendiri merupakan pemetaan uniter.
Andaikan z = (z1 , z2 , , zn ) dan z0 = (z10 , z20 , , zn0 ) sembarang dua
anggota Cn . Oleh karena itu
n
n
n
n
X
X
X
X

A z = (
A1j zj ,
A2j zj ,
A3j zj , ,
Anj zj )
j=1

j=1

j=1

(4.72)

j=1

dan
n
n
n
n
X
X
X
X
A z0 = (

A1j zj0 ,
A2j zj0 ,
A3j zj0 , ,
Anj zj0 ).
j=1

j=1

j=1

(4.73)

j=1

A z dan
A z0 merupakan anggota dari Cn , maka
Oleh karena

!
!
n
n
n
n
n
X
X
X
X
X
A z|
A z0 ) =

Aij Aik zj zk0 .


(
Aij zj
Aik zk0 =
i=1

j=1

k,j=1

k=1

i=1

(4.74)
Faktor

Pn

i=1 Aij Aik

dapat ditulis sebagai


n
X
i=1

(AT )ji Aik

n
X

Aji Aik .

i=1

Pn

Berhubung A uniter, maka Aji = A1


i=1 Aij Aik =
ji . Oleh karenanya
Pn
1
i=1 Aji Aik = jk . Bila ungkapan terakhir ini dimasukkan kembali ke

4.2. TEORI OPERATOR DALAM RUANG HILBERT

83

dalam pers.(4.74), maka


A z|
A z0 ) =
(

n
X
k,j=1

jk zj zk0 =

n
X

zj zj0 = (z|z0 ).

(4.75)

j=1

pada suatu ruang Hilbert


Konjugat Hermite dari suatu operator

H adalah operator pada H yang memenuhi syarat berikut


| 0 ) = (|
0 ),
(

(4.76)

untuk setiap , 0 H. Konjugat Hermite dari suatu operator sering pula


disebut operator adjoint dari operator tersebut. Terdapat suatu teorema
yang menjamin keberadaan (eksistensi) dan ketunggalan konjugat Hermite
dari suatu operator [Kre]. Teorema ini menyatakan bahwa setiap operator
dalam suatu ruang Hilbert memiliki satu dan hanya satu konjugat Hermite.
Dari pers.(4.76), didapat
0
0 ) = (
0 |) = ( 0 |)
= (|

(|
).

(4.77)

Selanjutnya, dari pers.(4.76) dan pers.(4.77) didapat


0
) | 0 ) = (|
0 ) = (|

((
).

(4.78)

) = .

Dengan kata lain (


Sifat-sifat yang berkaitan dengan konjugasi Hermite yang lain ditunjukkan oleh persamaan-persamaan berikut ini :
1 +
2 ) =
+
,
(
2
1

(4.79)

=
,
()

(4.80)

1
2 ) =

(
2 1,

(4.81)

1,
2 dan
pada ruang Hilbert H serta untuk
untuk setiap operator
setiap bilangan kompleks .
pada H disebut operator yang Hermitean atau
Suatu operator
self-adjoint bila
0

0 ),
(|
) = (|
(4.82)

84

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

disebut Hermitean bila


untuk , 0 H. Dengan kata lain, operator

= .
pada H dikatakan uniter jika
Suatu operator

0 ) = (| 0 ),
(|

(4.83)

disebut operator yang uniter


untuk , 0 H. Dengan kata lain operator

bersijika sebagai pemetaan uniter. Formulasi yang lain lagi, operator


=
1 .
fat uniter jika
A pada
Kembali ke contoh terakhir. Konjugat Hermite dari operator
n

A , dengan A matriks adjoint dari matriks A.


ruang C adalah operator
Hal ini dapat ditunjukkan sebagai berikut. Andaikan z = (z1 , z2 , , zn )
dan z0 = (z10 , z20 , , zn0 ) sembarang dua anggota ruang Cn . Produk skalar
A z|z0 ) diberikan oleh
(

n
n
n X
n
n
n
X
X
X
X
X
A z|z0 ) =

(
Aij zj zi0 =
(Aij ) zj zi0 =
zj
Aji zi0
i=1

j=1

i=1 j=1

A z0 ).
= (z|

j=1

i=1

(4.84)

=
A .
Oleh karena itu
A
Berdasarkan kenyataan terakhir ini, jika matriks A self-adjoint, yakni
A =
A . Hal ini menunjukkan bahwa jika
=
jika A = A, maka
A
A pun juga selfadjoint atau Hermatriks A self-adjoint, maka operator
mitean. Jika matriks A uniter yakni A = A1 , maka operator A pun
juga uniter. Hal ini disebabkan 1
A = A1 (buktikan!).
Hermitean atau self-adjoint, maka matriks
Sebaliknya, jika operator
uniter, maka matriks A pun uniter.
A juga self-adjoint. Jika operator

dan
0 dua buah operator, maka komutator kedua operator itu
Jika

0 ] yang didefinisikan menurut
adalah operator [,

0] =

0
0 .

[,

(4.85)

dan
0 dikatakan saling komutatif jika komutator kedua
Dua operator

0 =
0 .
Sifat-sifat komutator
operator itu lenyap. Dalam hal ini
berikut segera dapat dibuktikan dengan perhitungan langsung :

4.2. TEORI OPERATOR DALAM RUANG HILBERT

85

1. Antisimetri :

0 ] = [
0 , ]

[,

(4.86)

2. Linier pada kedua faktor : untuk setiap sekalar , ,



1 +
2 ] = [,

1 ] + [,

2]
[,

(4.87)

1 +
2 , ]
= [
1 , ]
+ [
2 , ],

(4.88)

dan

3. Identitas Jacobi :
1,
2 ],
3 ] + [[
2,
3 ],
1 ] + [[
3,
1 ],
2 ] = 0.
[[

(4.89)

4.
1
2,
3] =
1 [
2,
3 ] + [
1,
3 ]
2.
[

(4.90)

1 , ]
ditulis sebagai
1
2 maka komutator merupakan
Jika komutator [
perkalian yang didefinisikan pada himpunan semua operator dalam ruang
Hilbert. Artinya, dengan mengkomutatorkan dua operator orang dapat
memperoleh operator baru. Perkalian ini merupakan perkalian Lie karena
komutator memiliki sifat-sifat : antisimetri, linier pada kedua faktor dan
memenuhi identitas Jacobi (Lihat lampiran 10.4!).

4.2.1

Masalah Swanilai

suatu operator dalam ruang Hilbert H. Suatu vektor H


Andaikan
bila memenuhi persamaan swanilai
disebut swavektor bagi
= ,

(4.91)

untuk suatu skalar C. Bilangan disebut swanilai dari operator


yang berpadanan dengan swavektor atau lazim dikatakan bahwa merupakan swavektor kepunyaaan . Pada umumnya sebuah operator memiliki
banyak swanilai dan swavektor. Jadi, pasangan swanilai-swavektor bagi
operator bukan hanya satu. Selanjutnya dapat dibuktikan dengan mudah,
bila swavektor kepunyaaan swanilai , maka vektor , untuk sembarang
C, juga merupakan swavektor kepunyaan swanilai . Tetapi, dapat
pula terjadi, sejumlah g buah swavektor kepunyaan sebuah swanilai dari
suatu operator membentuk himpunan yang bebas linier. Swanilai yang

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

86

semacam ini dikatakan sebagai swanilai yang merosot sejauh g derajad.


Swavektor-swavektor yang bebas linier tersebut membentang subruang vektor dari ruang Hilbert pada mana operator itu didefinisikan. Setiap vektor
dalam subruang ini merupakan swavektor kepunyaan swanilai yang sama.
Subruang Hilbert ini lazim disebut subruang swanilai. Jadi, suatu swanilai dikatakan merosot sejauh g derajad bilamana subruang swanilai yang
berpadanan dengan swanilai tersebut berdimensi g. Swavektor-swavektor
biasanya diberi indeks atau superindeks yang diskret sesuai dengan swanilai yang memilikinya. Bila swanilai sendiri sudah diberi indeks bilangan
asli, katakanlah n (n = 1, 2, 3 ), maka swavektor kepunyaan n hendak
ditulis sebagai n . Bila n merosot gn derajad, maka swavektor-swavektor
kepunyaan n hendak ditulis sebagai inn , dengan in = 1, 2, 3, , gn . Subruang swanilai n hendak ditulis sebagai Kn .
Ada beberapa operator penting dalam mekanika kuantum yang tidak
memiliki swanilai. Akan tetapi, mereka memiliki spektrum kontinyu9 . Setiap anggota spektrum kontinyu berpadanan dengan swavektor yang bukan
merupakan anggota ruang Hilbert yang dipakai. Swavektor-swavektor ini
membentuk basis eksternal yang tak tercacah. Jika merupakan swavektor kepunyaan yang tak tercacah, maka dapat diberi parameter kontinyu sehingga ditulis sebagai .
Teorema 4.2.1 Swanilai-swanilai suatu operator yang Hermitean merupakan bilangan-bilangan riil.
kepunyaan swaniBukti : Andaikan swavektor dari operator Hermitean

lai . Maka berlaku = . Bila kedua ruas persamaan ini dikalikan


dengan , maka diperoleh
= (|).
(|)

(4.92)

= (|)

Karena (|)
dan (|) = (|), maka (|)
dan (|)
keduanya riil. Akibatnya, dari pers.(4.92) pun harus riil.

Teorema 4.2.2 Dua swavektor suatu operator Hermitean kepunyaan dua


swanilai yang berbeda saling ortogonal.
9

Tentang masalah spektrum yang lebih rinci dapat dilihat pada bagian 4.2.2.

4.2. TEORI OPERATOR DALAM RUANG HILBERT

87

Bukti : Andaikan dan 0 berturut-turut dua swavektor kepunyaan swanilai dan 0 . Oleh karena itu, berlaku
=

(4.93)

0 = 0 0 .

(4.94)

dan
Dari kedua persamaan terakhir ini, dengan mengalikan keduanya berturutturut dengan 0 dan didapat
= (0 |)
(0 |)

(4.95)

0 ) = 0 (|0 ).
(|

(4.96)

dan
Hermitean, maka berdasarkan teorema sebelumnya, dan 0 rill.
Karena
Oleh karena itu, pers.(4.96) dapat dituliskan sebagai
= 0 (0 |).
(0 |)

(4.97)

Bila persamaan terakhir ini dikurangkan dari pers.(4.95), maka diperoleh


( 0 )(0 |) = 0.

(4.98)

Bila 6= 0 , maka (0 |) = 0. Dengan demikian bukti telah lengkap.


Oleh karena itu bila tidak ada satupun swanilai suatu operator yang
merosot, maka himpunan yang beranggotakan semua swavektor itu merupakan himpunan ortogonal. Selanjutnya, dengan melakukan normalisasi
diperoleh himpunan ortonormal. Lain halnya jika beberapa swanilai operator itu merosot. Swavektor-swavektor yang membentang subruang swanilai walaupun bebas linier tidak otomatis membentuk himpunan ortogonal. Akan tetapi dengan proses ortonormalisasi Gram-Schmidt segera
diperoleh sebuah himpunan ortonormal yang masing-masing anggotanya
merupakan swavektor kepunyaan swanilai yang sama. Oleh karena itu, jika
yang telah dinormalkan dan
inn swavektor-swavektor dari suatu operator
di-ortonormal-kan, maka berlaku syarat ortonormalisasi berikut
i

(inn |nn0 ) = nn0 in in0 .


0

(4.99)

dikatakan lengkap bila himpunan ortonormal


Operator hermitan
{inn |n = 1, 2, dan in = 1, 2, , gn }

(4.100)

88

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

didefinisikan. Jika

merupakan basis bagi ruang Hilbert pada mana


lengkap maka setiap vektor pada ruang Hilbert itu dapat dituliskan sebagai kombinasi linier
=

gn
XX

(inn |)inn .

(4.101)

n=1 in =1

Untuk operator dengan spektrum kontinyu batasan kelengkapannya serupa


dengan batasan kelengkapan untuk operator dengan spektrum diskret :
suatu operator Hermitean dengan spektrum kontinyu , maka

Jika
dikatakan lengkap bilamana himpunan

{ | anggota spektrum dari }

(4.102)

merupakan basis bagi ruang


yang beranggotakan seluruh swavektor dari
didefinisikan. Bila
lengkap, maka setiap vektor
Hilbert pada mana
dalam ruang Hilbert tersebut dapat dituliskan sebagai
Z
=
( |) d,
(4.103)

()

spektrum dari .
Demikian pula untuk suatu operator yang
dengan ()
memiliki spektrum campuran.
1 dan
2 dua operator yang saling komutatif dan swavekAndaikan

1 = . Jika
tor bagi operator 1 dengan swanilai . Jadi, berlaku
2 dari kiri, maka didapat
1 (
2 ) =
kedua ruas persamaan ini dikenai

1
(2 ). Oleh karena itu, tampak bahwa 2 adalah swavektor dari
kepunyaan swanilai . Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan :
2 dapat dituliskan sebagai perkalian
1. Bila tidak merosot, maka
dengan suatu skalar, yakni
2 = ,

(4.104)

untuk suatu skalar . Kelihatan pada pers.(4.104) bahwa juga


2 kepunyaan swanilai . Jadi, merumerupakan swavektor dari
1 dan
2.
pakan swavektor bersama dari
2 swavektor kepunyaan
2. Bila merosot, maka ungkapan bahwa

semakna dengan ungkapan 2 K . Jadi, setiap unsur

4.2. TEORI OPERATOR DALAM RUANG HILBERT

89

2 diubah menjadi vektor


2 yang juga anggota dari K .
K oleh

Dengan kata lain operator 2 membiarkan subruang K invarian.


2 dapat dipandang sebagai sebuah operator
Oleh karena itu operator
yang bekerja pada masing-masing K , yakni
2 : K K

(4.105)

Dengan demikian untuk masing-masing K dapat dipilih swavektor 2 sebagai vektor-vektor basis dalam subruswavektor dari operator
ang K . Swavektor-swavektor ini sekaligus, tentu saja, juga meru 1 kepunyaan .
pakan swavektor-swavektor dari
Hal terpenting yang perlu kita perhatikan dengan seksama disimpulkan
dalam teorema berikut.
Teorema 4.2.3 Jika dua operator Hermitean yang lengkap pada suatu ruang Hilbert saling komutatif, maka dapat disusun suatu basis ortonormal
bagi ruang Hilbert itu yang tersusun atas swavektor-swavektor bersama kedua operator itu.

4.2.2

Spektrum

Dalam bagian ini kita mencoba melihat masalah swanilai pers.(4.91) dari
prespektif lain yang beresonansi dengan subbagian 3.2.2. Pers.(4.91) dapat ditulis menurut
I)
= 0,
(
(4.106)

dengan I operator identitas pada ruang Hilbert H yang dipakai. Jika


I
I)
sebagai pemetaan merupakan
memiliki invers, yakni jika operator (
pemetaan satu-satu, maka tentulah persamaan di atas memiliki jawaban
tunggal yang sepele (trivial), = 0. Hal ini tentu tidak menarik. Yang
I)
tidak memiliki invers. Ada tidaknya
menarik adalah bila operator (

invers bagi operator ( I) sungguh-sungguh tergantung pada bilangan


I.
Bilangan-bilangan yang menyebabkan
dan pada operator

operator ( I) tidak memiliki invers tidak lain adalah swanilai bagi


Tampak bahwa pendekatan ini sejalan dengan masalah swanilai
operator .
pada observabel klasik yang telah dibicarakan pada bab 3. Selanjutnya, kita
akan melihat lebih dekat masalah tersebut.

90

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

()
:= (
I)
1 diseUntuk setiap bilangan kompleks , operator R
di . Himpunan semua bilangan kompleks
but operator resolven bagi

yang menjadikan R () ada, kontinyu dan terdefinisi pada domain yang


mendominansi10 ruang Hilbert H disebut himpunan resolven dan ditulis se Jadi, bilangan kompleks berada dalam ()
jika dan hanya
bagai ().
jika
()
ada,
(1) R

kontinyu dan
(2) R ()
()
mendominasi H.
(3) domain dari operator R
disebut spektrum dari
dan ditulis sebagai ().

Komplemen C ()
Himpunan bilangan kompleks yang tidak memenuhi syarat (1) disebut
Himpunan ini tidak lain adalah
spektrum titik dan ditulis sebagai p ().
Himpunan bilangan kompleks
himpunan semua swanilai dari operator ).
yang memenuhi syarat (1) dan (3) disebut spektrum kontinyu dan
Sedang himpunan bilangan kompleks yang memenuhi syarat
ditulis c ().
Oleh
(1) saja disebut spektrum residual dan dituliskan sebagai r ().

karena itu spektrum dari operator tersusun atas tiga komponen, yakni
= p ()
c ()
r ().

()

(4.107)

Ada tidaknya komponen-komponen spektrum ini tergantung pada operator

.
Sekedar contoh, ditinjau ruang Hilbert L2 (R). Andaikan D(
x) subruang
2
dari L (R) yang didefinisikan oleh
2

D(
x) = { L (R)|

|xf (x)|2 dx < }.

(4.108)

Operator posisi x
pada ruang Hilbert L2 (R) adalah operator yang menjodohkan setiap D(
x) ke vektor x
H, dengan
x
(x) = x(x).

(4.109)

Jadi, D(
x) adalah domain dari x
. Spektrum dari x
hanya mengandung
komponen kontinyu c (
x) saja. Jadi, (
x) = c (
x). Bukti lengkap fakta
ini dapat dilihat, misalnya, pada [Boc].
10

Mendominasi dalam artian yang telah diberikan sebelumnya.

4.3. PRINSIP-PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

91

Setiap swanilai (yakni setiap anggota spektrum titik) mempunyai subruang swanilai yang beranggotakan semua swavektor-swavektor, sedemikian
rupa sehingga pers.(4.91) berlaku. Bagaimana dengan anggota-anggota
spektrum kontinyu dan residual? Khusus untuk spektrum residual, kita
tidak akan merisaukannya di sini karena sejauh ini belum tampak relevansinya. Untuk spektrum kontinyu, kita dapat membayangkan adanya
suatu himpunan lengkap yang beranggotakan objek-objek di luar ruang
Hilbert. Objek-objek tersebut berpadanan dengan anggota-anggota spektrum kontinyu. Setiap anggota spektrum kontinyu itu, bolehlah, selanjutnya disebut juga sebagai swanilai kontinyu dan objek-objek eksternal yang
berpadanan dengan swanilai kontinyu itu dinamakan swavektor-swavektor
kepunyaan swanilai itu. Himpunan alien tersebut diasumsikan memiliki
sifat semacam basis eksternal yang lengkap dengan aturan ortonormalitas suatu operator
nya (lihat kembali bagian 4.1.1). Oleh karena itu, bila

yang memiliki spektrum kontiyu dan suatu anggota spektrum dari ,


maka swavektor kepunyaan swanilai hendak ditulis sebagai sehingga
berlakulah
= .

(4.110)
Ruang Hilbert yang dititipi unsur-unsur asing ini disebut ruang Hilbert
yang diperluas.

4.3

Prinsip-prinsip Mekanika Kuantum

Setelah kita mempersiapkan peranti-peranti matematis yang dibutuhkan


secukupnya, maka dalam bagian ini hendak disuguhkan prinsip-prinsip
mekanika kuantum yang merupakan pengejawantahan (secara kuantum)
keempat unsur pokok model matematis bagi suatu sistem fisis sebagaimana
yang telah dijelaskan secara rinci pada bab 2. Akan tetapi, sebelum membicarakan prinsip-prinsip tersebut secara rinci, perlulah kiranya kita cermati pengertian tentang sistem kuantum berikut ini.
Barangkali ada di antara kita yang masih terkesan dengan eksperimeneksperimen termodinamika tingkat dasar. Dalam eksperimen-eksperimen
itu secara prosedural terdapat tahapan ketika orang harus mengukur temperatur suatu cairan dengan termometer air raksa. Caranya, pangkal termometer dicelupkan ke dalam cairan yang hendak diukur temperaturnya.
Adanya perpindahan kalor dari cairan ke pangkal termometer atau seba-

92

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

liknya mengakibatkan pemuaian ataupun penyusutan air raksa pada termometer. Dari pemuaian dan penyusutan ini kita dapat mengetahui suhu
cairan itu. Tentu saja tak dapat disangkal bahwa pipa termometer, betapapun kecilnya, akan mengusik keadaan sesungguhnya yang ingin kita
ketahui dari cairan itu. Persinggungan antara pipa termometer dengan
cairan telah mengganggu keseimbangan (termodinamis) yang telah dimiliki oleh cairan sehingga diperoleh keseimbangan baru. Jelasnya, masuknya
pipa termometer ke dalam cairan sedikit banyak telah merubah temperatur
cairan yang akan diukur. Akan tetapi gangguan ini sedemikian kecilnya dan
selalu dapat diusahakan sekecil mungkin11 sehingga perbedaan antara suhu
cairan yang sesungguhnya dengan hasil yang dibaca pada skala termometer dapat diabaikan. Dalam kaitan ini, cairan itu dikatakan sebagai sistem
fisis yang makroskopis. Berbeda situasinya bila dibandingkan dengan usaha orang untuk mengukur secara serempak posisi dan momentum elektron
dengan menggunakan mikroskop yang sangat powerfull. Bila pengukuran
posisi diharapkan dapat memberikan hasil yang cukup akurat maka dibutuhkan pencahayaan berfrekuensi tinggi. Akan tetapi, pada pencahayaan
berfrekuensi tinggi foton-foton memiliki momentum yang cukup tinggi pula.
Akibatnya, ketika foton-foton itu menabrak elektron, elektron itu akan terpental cukup keras hingga momentumnya berubah jauh dari yang semula.
Ini berarti ketidakakuratan pengukuran momentum elektron. Sebaliknya,
ketika digunakan pencahayaan berfrekuensi rendah (sehingga gejala terpentalnya elektron dapat dikurangi), pengukuran posisi memberikan hasil
yang jauh dari akurat. Begitulah sistem fisis mikroskopis.
Setiap sistem fisis yang harus digambarkan secara kuantum disebut sistem kuantum. Suatu sistem fisis dikatakan harus digambarkan secara
kuantum jika sistem fisis itu relatif kecil, yakni sedemikian rupa sehingga
gangguan-gangguan yang diakibatkan oleh pengukuran tidak dapat diabaikan dan secara prinsip tidak dapat direduksi (disusutkan). Jadi, sistem fisis mikroskopis merupakan sistem kuantum. Maka dari itu sistem
mikroskopis harus digambarkan secara kuantum.
Telah disebutkan pada awal bab ini bahwa mekanika kuantum, sebagai suatu penafsiran matematis terhadap suatu sistem fisis, pada tataran
kinematik (sebagaimana mekanika klasik) memiliki tiga unsur pokok : ruang keadaan, aljabar observable dan prosedur untuk meng-akses informasi.
11

Hal ini dapat diusahakan, misalnya, melalui pemilihan bahan pipa termometer dan
minimalisasi ukuran diameter pipa.

4.3. PRINSIP-PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

93

Berikut ini prinsip-prinsip mekanika kuantum sebagai pengejawantahan


ketiga unsur itu bersama dengan dinamikanya :
1. Setiap sistem kuantum berpadanan dengan sebuah ruang Hilbert H
yang separabel diperluas. Keadaan-keadaan (yang mungkin) bagi suatu sistem kuantum diwakili oleh vektor-vektor anggota ruang Hilbert
H yang berpadanan dengan sistem kuantum itu.
Jadi, setiap keadaan sistem kuantum itu dimodelkan dengan sebuah vektor dalam ruang H. Jika sistem kuantum itu (diketahui)
berada pada keadaan H, maka segala macam informasi yang
berkenaan dengan sistem fisis itu tersimpan dalam dan, karenanya,
harus digali dari . Akan tetapi korespondensi kedaan-vektor ini
bukanlah korespondensi satu-satu. Dua buah vektor dan 0 (bukan
vektor nol) yang berbeda satu dari yang lain karena faktor skalar
C, yakni sedemikian rupa sehingga = 0 , keduanya mewakili
keadaan yang sama12 . Namun, hal ini bukanlah masalah yang harus
dirisaukan. Ini bukan masalah besar bagi kita. Oleh karena itu, ruang
keadaan untuk suatu sistem kuantum bagi kita tetaplah ruang
Hilbert dan setiap keadaan kuantum diwakili oleh beberapa vektor
(diusahakan yang ternormalisasi) dalam ruang Hilbert itu.
Jika sistem fisis kita itu dipersiapkan berada pada keadaan yang
diwakili oleh vektor , maka masih terdapat peluang bagi sistem fisis
itu (pada saat yang sama) untuk berada pada keadaan lain. Peluang
bagi sistem itu untuk berada pada suatu keadaan lain yang diwakili
oleh vektor adalah sebesar |(|)|2 . Peluang ini nol kalau dan
ortogonal, yakni berarti pula bahwa tidak memiliki proyeksi pada
arah yang ditunjuk oleh . Tentu saja hal semacam ini cukup aneh
bila orang mengambil sudut pandang mekanika klasik. Sebab, dalam
mekanika klasik, adalah tidak masuk akal bila sebuah objek yang
nyata-nyata berada pada suatu titik dengan momentum linier tertentu dikatakan masih memiliki kemungkinan (pada saat yang sama)
berada pada posisi lain dengan momentum yang lain pula.
Mengingat ruang Hilbert adalah ruang vektor kompleks, maka
dalam mekanika kuantum dikenal konsep superposisi keadaan, yakni
jika dan sembarang dua keadaan dan , sembarang dua bilangan kompleks, maka + pun (setelah dinormalisasi) meru12

Secara teknis matematis, keadaan-keadaan sistem kuantum berkorespondensi satusatu dengan vektor-vektor ruang Hilbert proyektif.

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

94

pakan keadaan kuantum. Lalu, diandaikan bahwa sistem kuantum


kita dipersiapkan berada pada keadaan + , dengan dan
dipilih sedemikian rupa sehingga + telah ternormalisasi. Bila
dan saling tegaklurus, maka peluang mendapati sistem fisis kita
berada pada keadaan dan berturut-turut diberikan oleh
|(| + )|2 = ||2 |(|)|2 = ||2

(4.111)

|(| + )|2 = ||2 |(|)|2 = ||2 .

(4.112)

dan
Oleh karena itu, koefisien-koefisien dan pada vektor +
berturut-turut menentukan kecenderungan sistem untuk berada pada
atau jika sistem dipersiapkan berada pada keadaan + .
Kelihatan bahwa vektor-vektor yang saling tegak lurus (ortogonal)
menyediakan kemudahan-kemudahan tersendiri dalam perhitunganperhitungan. Oleh karena itu, dalam mekanika kuantum, basis-basis
yang ortonormal memiliki peran yang cukup penting.
2. Setiap besaran fisis yang dapat diukur ( atau observabel ) diwakili
oleh sebuah operator Hermitean yang lengkap pada ruang Hilbert
yang berpadanan dengan sistem fisis yang ditinjau.
dikatakan lengkap bila
Sekali lagi, suatu operator Hermitean
himpunan
{11 , , 1g1 , 21 , , 2g2 , , ()}
(4.113)
baik yang
yang beranggotakan seluruh swavektor dari operator
diskret maupun yang kontinyu merupakan basis bagi H. Himpunan
tersebut dapat diortonormalkan, sehingga didapat basis ortonormal.
= {1 , 2 , , } yang beranggotakan semua swaniSpektrum ()

lai dari merupakan kasanah yang menampung semua nilai yang


layak keluar sebagai hasil pengukuran besaran fisis yang diwakili oleh

.
3. Hasil yang mungkin diperoleh dalam pengukuran suatu besaran fisis
adalah salah satu dari anggota spektrum operator Hermitean yang
mewakilinya. Tidak ada pengukuran yang menghasilkan suatu nilai
di luar spektrum operator itu. Jika sistem berada pada keadaan yang
diwakili oleh swavektor suatu operator yang mewakili suatu besaran
fisis, maka pengukuran besaran fisis itu pasti menghasilkan swanilai13 dari swavektor itu. Keadaan yang diwakili oleh suatu swavektor
13

Sekali lagi swanilai dalam artian umum.

4.3. PRINSIP-PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

95

disebut swakeadaan. Termasuk juga ke dalam golongan ini adalah


keadaan yang berkaitan dengan unsur-unsur dalam spektrum kontinyu.
Dari sudut pandang teori peluang sebagaimana yang telah dipaparkan pada Bab 1, spektrum suatu operator yang mewakili suatu besaran fisis merupakan spektrum dalam pengertian teori peluang, yakni merupakan ruang sampel. Dari sudut pandang ini, maka
swanilai-swanilai itu sama kedudukannya dengan muka-muka dadu
kecuali bahwa peluang masing-masing swanilai untuk keluar sebagai
hasil pengukuran tidak sama.
4. Prinsip Penguraian Spektral :
(a.1) Spektrum diskret tak merosot. Andaikan n swanilai
yang berkaitan dengan swavektor n . Bila sistem dipersioperator
apkan berada pada keadaan yang diwakili oleh n , maka pengukuran
pasti menghasilkan nilai n . Ini bebesaran fisis yang diwakili oleh
rarti, bila sistem dipersiapkan berada pada keadaan n , maka peluang mendapatkan hasil ukur n besarnya 100% atau 1. Bila sistem
dipersiapkan berada pada keadaan sembarang , maka peluang mendapatkan hasil ukur n sama dengan peluang sistem itu untuk juga
berada pada swakeadaan n , yakni P(, n ) = |(n |)|2 . Andaikan
R suatu peubah acak pada (),
dengan X (n ) = n
X : ()

untuk setiap n (). Oleh karena itu, kedaan menentukan


peluang mendapatkan n sebagai hasil ukur melalui fungsi peluang
Nilai rerata atau nilai
fP (n ) = |(n |)|2 , untuk setiap n ().

harap pengukuran observabel tidak lain adalah nilai harap peubah


acak X dan diberikan oleh
X
X
< > = (X ) =
n fP (n ) =
n |(n |)|2
(4.114)
n

Akan tetapi karena n bilangan riil, maka diperoleh


X
X
X
n )(n |)(4.115)
n |(n |)|2 =
(|n n )(n |) =
(|
n

atau secara singkat dengan memanfaatkan syarat kelengkapan untuk


akhirnya diperoleh
operator

< > = (|).

(4.116)

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

96

(a.2) Spektrum diskret merosot. Sekarang ditinjau suatu ob yang memiliki swanilai-swanilai diskret n yang merosot,
servable
masing-masing sejauh gn derajad. Andaikan nin (in = 1, 2, 3, gn )
kepunyaan n . Selanjutnya, andaikan himpunan
swavektor dari
telah dinormalkan dan diortonormalkan sesemua swavektor dari
hingga membentuk basis ortonormal. Bila sistem mula-mula dipersiapkan berada pada keadaan (telah dinormalkan), maka peluang
untuk mendapatkan hasil ukur n diberikan oleh
P(, n ) =

gn
X

|(nin |)|2 .

(4.117)

in =1

Kasus khusus, bila Kn , maka


P(, n ) =

gn
X

|(nin |)|2 =

in =1

gn
X

(|nin )(nin |) = (|) = 1.

in =1

(4.118)
Hal ini menunjukkan bahwa jika sistem dipersiapkan berada pada
keadaan yang diwakili oleh suatu vektor anggota subruang swanilai
suatu swanilai maka peluang mendapatkan swanilai tersebut sebagai
hasil ukur adalah sebesar 100%.
R suatu peubah acak pada (),
dengan
Andaikan X : ()

X (n ) = n untuk setiap n (). Sebagaimana sebelumnya,


keadaan menentukan fungsi peluang fP (n ) dari peubah acak X
Pgn
in
2
menurut fP (n ) =
in =1 |(n |)| . Oleh karena itu, nilai rerata
pengukuran bila sistem berada pada sembarang keadaan , yakni
nilai harap peubah acak X , diberikan oleh
< > = (X ) =

n fP (n ) =

gn
XX

n |(nin |)|2 . (4.119)

n in =1

Karena
nin )(nin |),
n |(nin |)|2 = (|n nin )(nin |) = (|

(4.120)

maka
<> =

gn
XX
n in =1

nin )(nin |).


(|

(4.121)

4.3. PRINSIP-PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

97

akhirnya didapatkan
Dengan syarat kelengkapan operator ,

< > = (|).

(4.122)

(b) Spektrum kontinyu. Agar jauh lebih sederhana tanpa mengurangi keumuman dalam bagian ini hendak ditinjau ob yang memiliki spektrum kontinyu yang tidak merosot.
servable
Andaikan swavektor yang telah dinormalkan kepunyaan swani lengkap, maka terdapat himpunan basis ortonormal
lai . Karena
Sembarang keadaan
yang tersusun atas swavektor-swavektor dari .
dapat ditulis sebagai kombinasi linier
Z
=
( |) d.
(4.123)

()

Hendak didefinisikan peubah acak X () = , untuk setiap


Bila sistem dipersiapkan berada pada keadaan , maka fungsi
().
kerapatan peluang mendapatkan sebagai hasil ukur diberikan oleh
() = |( |)|2 .

(4.124)

Dengan jalan yang mirip dengan yang sudah-sudah diperoleh bahwa


nilai rerata pengukuran diberikan oleh
Z
Z

<> =
()d =
|( |)|2 d = (|).
(4.125)

()

()

5. Sesaat setelah suatu pengukuran besaran fisis menghasilkan nilai ukur


(yakni salah satu dari swanilai operator yang mewakili besaran fisis itu), sistem berada pada swakeadaan yang berkaitan dengan nilai ukur itu. Maka dari itu, sebagai akibat pengukuran, terjadilah
semacam loncatan dari keadaan di mana sistem mula-mula dipersiapkan menuju ke swakeadaan kepunyaan swanilai yang muncul sebagai hasil ukur. Hal ini menunjukkan bahwa pengukuran besaranbesaran fisis pada sistem kuantum tidak dapat dilakukan tanpa menciderai sistem kuantum itu. Di antara dua pengukuran yang berurutan, keadaan sistem kuantum berevolusi seiring dengan berubahnya
waktu menurut persamaan Schr
odinger gayut waktu
i~

(t)

= H(t),
t

(4.126)

98

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM


merupakan operator yang mewakili tenaga total sistem fisis
dengan H
yang ditinjau.

2 






@
I
@

@ 00 (t)
@
@
@
@
6





@
@





: 0 (t2 )

@



6@  
= n0


@





Q
z


C Q








 



 C Q






Q





 C


9

Q


(t)
0


Q
C



Q lim0 (t1 + )

C


Q
Q = n
C



Q
1
C



s
Q



C




R


+



C

(0) =
C 0 (t)

C
CW


 (t1 )
lim0 00 (t2 + )

Sketsa 4.1 Dinamika kuantum disertai adanya pengukuran observable


pada saat t = t1 dengan hasil n dan pada saat t = t2 dengan hasil n0 .
Terlihat bahwa setiap pengukuran mengusik sistem kuantum sedemikian
rupa sehingga sistem kuantum harus meloncat ke lintasan lain dalam ruang
keadaan. Vektor-vektor 1 , 2 , dalam sketsa di atas berturut-turut
merupakan swakeadaan-swakeadaan kepunyaan swanilai 1 , 2 , dari
(Sketsa ini dirancang dan digambar oleh M.F.Rosyid)
observabel .

4.3. PRINSIP-PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

99

Andaikan pada saat t = 0 sistem kuantum berada pada keadaan


sembarang . Seiring bertambahnya waktu maka keadaan kuantum sistem itu akan berkembang sehingga pada saat t sistem itu
berada pada keadaan (t) yang merupakan solusi bagi persamaan
Schrodinger (4.126) dengan syarat awal (0) = . Andaikan pada saat t = t1 dilakukan pengukuran besaran fisis yang diwakili
sehingga diperoleh n sebagai hasil ukur. Maka,
oleh operator
sesaat setelah pengukuran itu sistem berada pada keadaan n , yakni
yang berpadanan dengan swanilai n . Sejak saat
swakeadaan dari
t = t1 itu keadaan sistem berada pada keadaan 0 (t) yang merupakan jawaban bagi persamaan Schrodinger (4.126) dengan syarat
awal 0 (t1 ) = n . Bila pada saat t = t2 dilakukan lagi penguku dengan hasil ukur n0 , maka sesaat setelah pengukuran besaran
ran itu sistem berada pada keadaan n0 , yakni swakeadaan yang
berpadanan dengan n0 . Sejak saat itu sistem berada pada keadaan
00 (t) yang merupakan jawaban bagi persamaan Schrodinger (4.126)
dengan syarat awal 00 (t2 ) = n0 . Begitu dan seterusnya. Untuk lebih
jelasnya, hal ini diilustrasikan pada Sketsa 4.2 dan 4.1.

Gambar 4.2: Erwin Schrodinger (1887-1961), fisikawan Austria kelahiran Wina.


Namanya dilestarikan untuk persamaan gerak sistem kuantum yang ditemukannya. (Foto diambil dari situs www.-groups.dcs.st-and.ac.uk.)

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

100

4 





@
I
3 @
@
@
@







(t) 

@

@

@

@

U
6
2

@



P


A PPP




PP




A

PP


PP
A




9

PP
(t0 )
q
A
A
A
A
1
A
A
A
i A
AU

Sketsa 4.2 Dinamika kuantum tanpa adanya pengukuran merupakan suatu lintasan tunggal dalam ruang keadaan kuantum. (Sketsa ini dirancang dan digambar
oleh M.F.Rosyid)

4.4
4.4.1

Beberapa Contoh :
Partikel Dalam Suatu Potensial

Sebuah partikel dipengaruhi oleh suatu potensial sedemikian rupa sehingga keadaan kuantumnya tiap saat diwakili oleh vektor (t). Andaikan F
berturut-turut merupakan dua operator Hermitean yang mewakili
dan G
besaran F dan G yang relevan dengan sistem fisis (partikel) tersebut. Se 6= 0 (yakni, F dan G tidak komutatif) dan
lanjutnya, andaikanlah [F , G]
kedua operator itu masing-masing memiliki spektrum diskret yang tidak

4.4. BEBERAPA CONTOH :

101

merosot sedemikian rupa sehingga


F n = n n

(4.127)

j
G

(4.128)

untuk n = 1, 2, 3, dan
= j j ,

untuk j = , 3, 2, 1, 0, 1, 2, 3, .
1. Tuliskanlah spektrum dari besaran F dan juga spektrum dari besaran
G!
2. Andaikan sebuah bilangan riil. Bila pada sembarang saat t dilakukan pengukuran besaran F , berapakah peluang mendapatkan nilai sebagai hasil ukur?
3. Dapatkah disimpulkan bahwa (n |j ) = 0, yakni bahwa vektor n
ortogonal terhadap vektor j ?
4. Pada saat t = t1 dilakukan pengukuran besaran G dengan hasil 5 .
Berada pada keadaan yang manakah partikel tersebut tepat setelah
pengukuran itu dilakukan? Bila tepat setelah pengukuran G itu dilakukan pengukuran besaran F , maka hasil ukur manakah yang didapatkan? Berapakah peluang mendapatkan hasil ukur itu?
5. Pada saat t = t2 dengan t2 > t1 dilakukan pengukuran besaran F dan
didapatkan 20 sebagai hasil ukur. Bila tepat setelah pengukuran
itu dilakukan lagi pengukuran besaran F , hitunglah peluang masingmasing anggota spektrum dari besaran F untuk keluar sebagai hasil
ukur!
6. Andaikan pada saat t = t3 dengan t3 > t2 partikel tersebut berada
pada keadaan
(t3 ) =

6
5
4
3
2
1 +
2 +
3 +
5 +
6
140
140
140
140
140
1
7
+
8 +
10 .
140
140

Gambarlah seketsa grafik yang memperlihatkan peluang bagi masingmasing anggota spektrum dari besaran F untuk keluar sebagai hasil
ukur seandainya besaran F diukur pada keadaan (t3 ) itu! (sumbu-x
menyatakan spektrum besaran F dan sumbu-y menyatakan peluang)

102

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

7. Untuk partikel yang menghuni keadaan (t3 ) (lihat pertanyaan 6),


hitunglah nilai harap < F > dan < G >!
8. Andaikan 420 partikel identik dipersiapkan sedemikian rupa sehingga
masing-masing menghuni keadaan (t3 ). Lalu dilakukan pengukuran
besaran F pada masing-masing partikel. Perkirakanlah data-data
yang akan diperoleh dari pengukuran-pengukuran itu!

Jawab :
1. Spektrum dari besaran F adalah himpunan (F ) yang beranggotakan semua swanilai operator F . Jadi,
(F ) = {1 , 2 , 3 , }.
Demikian pula halnya dengan besaran G, spektrumnya adalah himpunan
yang beranggotakan semua swanilai operator G.
Jadi,
(G)
= { , 2 , 1 , 0 , 1 , 2 , 3 , }.
(G)
2. Jika bukan anggota spektrum besaran F , yakni jika
/ (F ), maka
tidak memiliki peluang untuk keluar sebagai hasil ukur. Jadi, peluangnya
nol. Jika merupakan salah satu anggota dari (F ), katakanlah = n ,
maka peluang bagi untuk keluar sebagai hasil ukur adalah |(n |(t))|2 .
3. Memang betul bahwa (n |n0 ) = (j |j 0 ) = 0 untuk sembarang
n 6= n0 dan j 6= j 0 . Tetapi, hal ini bukan berarti bahwa (n |j ) = 0 juga
tidak komutatif.
berlaku sebab F dan G
4. Tepat setelah pengukuran G dengan hasil 5 , partikel berada pada keadaan 5 . Bila tepat setelah pengukuran dengan hasil 5 itu juga
dilakukan pengukuran besaran F , maka hasilnya adalah salah satu n
anggota spektrum (F ). Peluang bagi n (F ) untuk keluar sebagai
hasil ukur adalah |(n |5 )|2 .
5. Tepat setelah pengukuran F dengan hasil 20 , partikel berada pada
swakeadaan 20 . Oleh karena itu bila saat itu dilakukan lagi pengukuran

4.4. BEBERAPA CONTOH :

103

besaran F , maka hasilnya adalah tetap 20 sebab peluang mendapatkan


hasil 20 adalah |(20 |20 )|2 = 1, sedangkan peluang mendapatkan n ,
dengan n 6= 20, sebagai hasil ukur adalah |(n |20 )|2 = 0.
6. Bila P((t3 ), n ) merupakan peluang mendapatkan n sebagai hasil
ukur ketika dilakukan pengukuran F pada saat t = t3 , maka P((t3 ), n ) =
|(n |(t3 ))|2 . Oleh karena itu, dengan mudah segera didapatkan
36
,
140

P((t3 ), 2 ) =

25
,
140

P((t3 ), 3 ) =

16
,
140

P((t3 ), 4 ) = 0,

P((t3 ), 5 ) =

9
,
140

P((t3 ), 6 ) =

4
,
140

P((t3 ), 7 ) = 0,

P((t3 ), 8 ) =

1
,
140

P((t3 ), 9 ) = 0,

P((t3 ), 10 ) =

49
140

P((t3 ), 1 ) =

dan P((t3 ), n ) = 0 untuk n 11. Dengan demikian, grafik yang diminta


diberikan oleh
P((t3 ), n )
50
140
40
140
30
140
20
140
10
140

10

11

Spektrum F

Sketsa 4.3 Grafik peluang bagi nilai n untuk keluar sebagai hasil ukur bila
dilakukan pengukuran besaran F .

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

104

7. Nilai harap < F > dan < G > dapat dihitung dengan rumus baku
nilai harap pada teori peluang maupun dengan rumus singkat < F > =
3 )). Dalam kesempatan ini hen((t3 )|F (t3 )) dan < G > = ((t3 )|G(t
dak ditempuh cara yang pertama.
Dalam kasus ini, karena peubah acak X(n ) = n (untuk n = 1, 2, )
bersifat diskret, maka dengan rumus baku nilai harap dalam teori peluang
didapat
<F > =

(t3 )

n fP

(n ).

(4.129)

n=1
(t )

Nilai fungsi peluang fP 3 (n ) merupakan peluang munculnya n sebagai


(t )
hasil pengukuran F . Oleh karena itu, fP 3 diberikan oleh
(t3 )

fP

(n ) = P((t3 ), n ),

untuk n = 1, 2, 3, .

Persamaan (4.129) menjadi


<F > =

n P((t3 ), n ).

n=1

Dari hasil yang telah diperoleh pada pertanyaan nomor 6,


< F > = 1

36
25
16
9
4
1
49
+ 2
+ 3
+ 5
+ 6
+ 8
+ 10
140
140
140
140
140
140
140

Nilai harap pengukuran besaran G dihitung dengan cara serupa :


<G> =

(t3 )

n fP

(n ).

j=
(t3 )

Fungsi peluang fP

(t3 )

fP

diberikan oleh

(j ) = P((t3 ), j ) = |(j |(t3 ))|2 ,

untuk j = , 2, 1, 0, 1, 2, . Jadi,
6
(j |1 ) +
140
3
2
+
(j |5 ) +
(j |6 ) +
140
140
(t3 )

fP

(j ) = |

5
4
(j |2 ) +
(j |3 )
140
140
1
7

(j |8 ) +
(j |10 )|2 .
140
140

4.4. BEBERAPA CONTOH :

105

Tampak bahwa segala sesuatunya kemudian tergantung pada pengetahuan


kita tentang (j |n ). Masalah yang lebih nyata dapat dilihat pada contoh
mendatang ini.
8. Grafik 4.3 memperlihatkan peluang keluarnya masing-masing n
sebagai hasil pengukuran besaran F bila partikel itu dipersiapkan menghuni
keadaan (t3 ). Oleh karena itu, dalam entry data hasil pengukuran besaran
F pada 420 partikel identik yang dipersiapkan sedemikian rupa sehingga
semuanya berada pada keadaan (t3 ), 1 muncul 108 kali, nilai 2 muncul
75 kali, 3 muncul 48 kali, 5 muncul 27 kali, 6 muncul 12 kali, 8 muncul
3 kali dan 10 muncul 147. Nilai n yang lain tidak akan tampak pada entry
data hasil pengukuran berhubung peluang mereka lenyap (nol).

4.4.2

Partikel Dalam Sumur Potensial (Prelude)

Sebuah kasus konkrit yang terkait dengan contoh pertama adalah partikel
yang dimasukkan ke dalam sumur potensial tak terhingga (lebih detailnya
silahkan lihat bagian 9.2). Dalam kasus ini, ruang Hilbert yang dipakai
adalah ruang L2a (R, dx) yang beranggotakan semua fungsi bernilai kompleks
yang kontinyu pada garis riil R dan lenyap diluar wilayah [a, a], dengan
a > 0. Sebagai besaran F adalah tenaga total partikel dan sebagai G adalah
momentum linier partikel. Jadi, F = E dan G = p. Bila ruang Hilbert
yang dipakai semacam itu, maka operator tenaga total dan momentum
linier diberikan oleh
2
= ~ d + V (x)
H
2m dx2

dan

p = i~

d
.
dx

(4.130)

memenuhi persamaan swaniKeduanya tidak saling komutatif. Operator H


lai
n = E n n ,
H

n = 1, 2, 3, ,

(4.131)

dengan
En =

~2 2 n2
= n 2 E1
8ma2

(4.132)

dan
(
n (x) =

1
a

0,

cos nx
2a ,

untuk x [a, a]
untuk x
/ [a, a]

(4.133)

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

106
bila n ganjil dan

(
n (x) =

1
a

sin nx
2a ,

0,

untuk x [a, a]
untuk x
/ [a, a]

(4.134)

bila n genap. Sementara operator p memenuhi masalah swanilai


j = , 2, 1, 0, 1, 2, 3, ,

pj = pj j ,

(4.135)

dengan
pj =

~j
2a

(4.136)

dan
(
j (x) =

j
1 ei 2a x ,
2a

0,

untuk x [a, a]
untuk x
/ [a, a]

(4.137)

Dapat ditunjukkan dengan mudah bahwa


1
1
n (x) = n (x) + n (x),
2
2

xR

(4.138)

xR

(4.139)

bila n ganjil dan


i
i
n (x) = n (x) + n (x),
2
2
bila n genap. Dengan mudah didapatkan bahwa
1
1
(j |n ) = nj + nj
2
2

(4.140)

i
i
(j |n ) = nj + nj
2
2

(4.141)

untuk n ganjil dan

untuk n genap.
Andaikan pada suatu saat partikel tersebut berada pada keadaan
=

5
4
3
2
6
1 +
2 +
3 +
5 +
6
140
140
140
140
140
1
7
+
8 +
10 .
140
140

4.4. BEBERAPA CONTOH :

107

1. Tentukanlah fungsi peluang fP (En ), yakni peluang bagi tiap-tiap


anggota spektrum tenaga total H untuk keluar sebagai hasil ukur
seandainya H diukur pada keadaan itu! Hitunglah nilai harap
< H >!
2. Tuliskanlah sebagai kombinasi linier dari fungsi-fungsi j !
3. Hitunglah fungsi peluang fP (pj ), yakni peluang bagi masing-masing
anggota spektrum momentum linier p untuk keluar sebagai hasil ukur
seandainya besaran p diukur pada keadaan itu!
4. Untuk partikel yang menghuni keadaan di atas, hitunglah nilai
harap momentum < p >!

Jawab :
1. Fungsi peluang fP (En ) dihitung sebagaimana contoh sebelumnya,
yakni fP (En ) = |(n |)|2 untuk setiap n. Hasilnya sama kecuali bahwa
setiap n diganti dengan En . Nilai fungsi fP (En ) untuk sepuluh En yang
pertama diperlihatkan pada kolom pertama dan kedua tabel berikut ini.
Nilai fungsi peluang fP (En ) untuk En yang lain lenyap.
Tabel 4.1 Nilai fungsi peluang fP (En ) untuk sepuluh nilai En yang pertama.
En
(dalam E1 =
1
4
9
16
25
36
49
64
81
100

2 2

~
8ma2 )

fP (En )
(dalam
36
25
16
0
9
4
0
1
0
49

1
140 )

En fP (En )
E1
(dalam 140
)
36
100
144
0
225
144
0
64
0
4900

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

108

Nilai harap < H > dihitung dengan < H > =


n=1 En fP (En ). Hasilnya tidak lain adalah jumlahan kolom ketiga tabel di atas, yaitu 40, 1E1 .
2. Kaidah baku yang digunakan untuk menyelesaikan tugas kedua ini
adalah Teorema 4.1.2. Menurut teorema itu,
=

(j |)j .

(4.142)

j=

Persamaan terakhir ini memperlihatkan pentingnya perhitungan hasilkali skalar (j |). Untuk itu pers.(4.142), (4.140) dan (4.141) diperlukan.
Melalui persamaan-persamaan tersebut didapatkan
6
5
4
3
(j |1 ) +
(j |2 ) +
(j |3 ) +
(j |5 )
140
140
140
140
2
1
7
+
(j |6 ) +
(j |8 ) +
(j |10 )
140
140
140
6
i5
4
=
(1j + 1j ) +
(2j 2j ) +
(3j + 3j )
280
280
280
3
i2
i
+
(5j + 5j ) +
(6j 6j ) +
(8j 8j )
280
280
280
i7
(10j 10j ).
(4.143)
+
280

(j |) =

Bila ungkapan (j |) terakhir ini dimasukkan ke dalam pers.(4.142), maka


didapatkan
=

6
i5
4
(1 + 1 ) +
(2 2 ) +
(3 + 3 )
280
280
280
3
i2
i
+
(5 + 5 ) +
(6 6 ) +
(8 8 )
280
280
280
i7
+
(10 10 ).
280

i7
i
i2
3
4

10 +
8 +
6 +
5 +
3
280
280
280
280
280
i5
6
6
i5
4
3
+
2 +
1 +
1 +
2 +
3 +
5
280
280
280
280
280
280
i2
i
i7
+
6 +
8 +
10 .
(4.144)
280
280
280

4.4. BEBERAPA CONTOH :

109

3. Nilai fungsi peluang fP (pj ) sebagaimana pada contoh sebelumnya


diberikan oleh
fP (pj ) = P(, pj ) = |(j |)|2

(4.145)

untuk j = . . . , 2, 1, 0, 1, 2, . . . . Dari pers.(4.144), misalnya didapat


fP (p1 ) = |(1 |)|2 =

36
,
280

fP (p10 ) = |(10 |)|2 =

49
,
280

fP (p4 ) = |(4 |)|2 = 0,


fP (p40 ) = |(40 |)|2 = 0.
Tabel berikut memperlihatkan nilai-nilai fungsi peluang fP (pj ) untuk dua
puluh nilai pj . Nilai fungsi peluang fP (pj ) untuk pj yang lain lenyap.
Tabel 4.2 Nilai fungsi peluang fP (pj ) untuk beberapa nilai pj .
pj
(dalam
-10
-9
-8
-7
-6
-5
-4
-3
-2
-1

~
2a )

fP (pj )
(dalam
49
0
1
0
4
9
0
16
25
36

1
280 )

pj
(dalam
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

~
2a )

fP (pj )
(dalam

1
280 )

36
25
16
0
9
4
0
1
0
49

4. Nilai harap momentum


P linier <p >, seperti halnya < H >, dihitung
menurut rumus < p > =
j= pj fP (pj). Oleh karena itu, dari tabel di
atas jelaslah bahwa < p > = 0.

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

110

4.4.3

Spin Elektron

Ditinjau sebuah sistem fisis yang tersusun atas sebuah elektron yang berada
dalam pengaruh suatu potensial. Dalam kasus semacam ini, besaran fisis
yang relevan di antaranya adalah komponen spin ke arah sumbu-z, yakni
Sz . Operator bagi besaran Sz hendak ditulis sebagai Sz . Operator Sz hanya
memiliki dua swanilai, yaitu ~/2 dan ~/2 serta memenuhi persamaan
~ z
z
Sz +
= +
2

dan

~ z
z
Sz
=
,
2

(4.146)

z dan z berturut-turut merupakan swavektor kepunyaan ~/2


dengan +

dan ~/2. Andaikan pada suatu saat elektron itu menghuni keadaan

z
i z
+
,
= +
5
5

(4.147)

dengan suatu bilangan kompleks.


1. Tentukanlah bilangan agar vektor ternormalkan! (Ada lebih dari
satu jawaban. Sebutkan semuanya!)
2. Hitunglah nilai harap < Sz > pada keadaan tersebut!
3. Andaikan terdapat 20 elektron yang berada pada keadaan . Bila dilakukan pengukuran besaran Sz untuk masing-masing elektron
itu, tuliskanlah/susunlah data-data hasil ukur yang mungkin bagi
pengukuran-pengukuran Sz itu!
Jawab :
1. Bilangan diperoleh dengan menerapkan syarat normalisasi bagi
, yakni ||||2 = (|) = 1. Oleh karena itu, dari persamaan (4.147)
didapatkan

1 z z
i z z
i z z
||2 z z
(+ |+ ) + (+
| ) +
( |+ ) +
( | )
5
5
5
5
= 1.

(|) =

(4.148)

4.4. BEBERAPA CONTOH :

111

z dan z keduanya merupakan swavektor operator S


z yang HerKarena +

z
z
z | z ) =
mitean, maka kedua vektor itu ortonormal, artinya, (+ | ) = (
+
z
z
z
z
0 dan ( | ) = (+ |+ ) = 1. Dari persamaan (4.148), diperoleh

1 + ||2 = 5
atau
||2 = 4.
Jadi, adalah sembarang bilangan kompleks dengan modulus sama dengan
2. Dari konsep bilangan kompleks, = 2ei , dengan sembarang bilangan
riil.
2. Ruang sampel atau spektrum dalam eksperimen pengukuran Sz ini
adalah {~/2, ~/2}. Bila elektron menghuni keadaan , maka peluang
munculnya ~/2 dan ~/2 berturut-turut adalah
z
P(, ~/2) = |(+
|)|2 =

1
5

dan
z
P(, ~/2) = |(
|)|2 =

Fungsi peluang fP diberikan oleh



P(, ~/2) = 15

fP (x) =
P(, ~/2) =

4
5

||2
4
= .
5
5

untuk x = ~/2
untuk x = ~/2

Nilai harap < Sz > oleh karena itu dihitung menurut




 
~
~

fP (~/2) +
fP (~/2)
< Sz > =
2
2
   
 
~
1
~
4
=
+
2
5
2
5
3~
= .
10
3. Karena spektrum besaran Sz hanya memuat dua nilai, yaitu ~/2
dan ~/2, maka entry data hasil pengukuran Sz hanya terdiri atas dua
macam nilai saja. Berdasarkan peluangnya, maka dari dua puluh pengukuran itu nilai ~/2 akan muncul 4 kali, sedangkan nilai ~/2 akan muncul 16
kali.

112

4.5

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

Soal-soal

1. Andaikan f fungsi pada garis nyata R yang didefinisikan menurut


f (x) = x2 , untuk setiap x R. Tuliskanlah f sebagai kombinasi
linier dari polinom-polinom Legendre!
2. Andaikan f fungsi pada garis nyata R yang didefinisikan menurut
f (x) = x3 , untuk setiap x R. Tuliskanlah f sebagai kombinasi
linier dari polinom-polinom Hermite!
3. Andaikan f fungsi pada garis nyata R yang didefinisikan menurut
f (x) = 3x2 + 4x3 , untuk setiap x R. Tuliskanlah f sebagai kombinasi linier dari polinom-polinom Laguerre!
4. Suatu fungsi g yang didefinisikan pada interval terbuka (1, 1) menurut g(x) = ex , untuk setiap x (1, 1), dengan suatu tetapan
riil.
(a) Dapatkah fungsi tersebut dinyatakan sebagai kombinasi linier
g(x) =

n un (x),

(4.149)

n = 0, 1, 2, 3, 4, ,

(4.150)

n=0

dari fungsi-fungsi
r
un (x) =

2n + 1
Pn (x),
2

dengan Pn (x) adalah polinom-polinom Legendre? Berilah alasannya!


(b) Bila dapat, tuliskan kombinasi itu sampai suku nomor 4!
5. Tunjukkan bahwa swanilai-swanilai dari suatu operator yang uniter
memiliki magnitude || = 1!
6. Andaikan A operator yang memiliki invers. Tunjukkanlah bahwa
swavektor-swavektor dari A1 sama dengan swavektor-swavektor dari
sedangkan swanilai dari A1 dan swanilai dari A yang berpadanan
A,
dengan swavektor yang sama saling berkebalikan!
7. Tunjukkan bahwa nilai harap suatu observabel selalu berupa bilangan
riil!

4.5. SOAL-SOAL

113

dikatakan anti-Hermitean bila


= .

8. Suatu operator
dapat
(a) Tunjukkan bahwa setiap operator anti-Hermitean
0
0

dituliskan sebagai i , dengan operator Hermitean.


(b) Tunjukkan bahwa nilai harap suatu operator anti-Hermitean
merupakan bilangan imajiner murni!
operator yang anti-Hermitean. Buktikan bahwa operator
9. Andaikan

U yang didefinisikan menurut


:=
U

X
n
()
n=0

n!

(4.151)

dengan suatu bilangan riil, merupakan operator uniter!


10. Suatu operator A disebut operator positif bila untuk setiap vektor
dalam ruang Hilbert pada mana operator itu terdefinisikan berlaku
0. Tunjukkan bahwa operator B
2 , untuk suatu operator B

(|A)
yang Hermitean, merupakan operator positif!
suatu observabel kuantum dengan spektrum ()
=
11. Andaikan
R peubah acak pada
{1 , 2 , } yang diskret dan X : ()

(), dengan X (n ) = n untuk setiap n ().


Tunjukkan
bahwa
(a) Xk = Xk , yakni bahwa Xk (n ) = (n )k untuk setiap n
dengan k bilangan bulat positif!
(),
(b) (Xk ) = < k >, dengan k bilangan bulat positif!

114

BAB 4. PRINSIP PRINSIP MEKANIKA KUANTUM

Bab 5

PENGUKURAN DALAM
MEKANIKA KUANTUM
. . . Heisenbergs neue Arbeit, die bald erscheint, sieht sehr mystisch aus,
ist aber sicher richtig und tief 1 . . .
(Surat dari Max Born kepada Albert Einstein, 1925)

5.1

Teori Pengukuran

Andaikan suatu sistem fisis dipersiapkan berada pada suatu keadaan dan
andaikan pula persiapan semacam ini selalu dapat diulang (reproduceable)
setiap kali selesai pengukuran suatu besaran fisis. Situasi semacam ini tentu
saja dapat diganti dengan beberapa sistem fisis identik yang dipersiapkan
berada pada keadaan yang sama. Kumpulan sistem fisis semacam ini disebut ensembel. Khususnya, bila sistem-sistem fisis itu merupakan sistem
kuantum, maka yang kita tangani adalah ensembel kuantum.
operator Hermitean yang mewakili suatu besaran fisis
Andaikan
dan ensembel kuantum dipersiapkan berada pada keadaan kuantum yang
diwakili oleh vektor dalam ruang Hilbert H (yang diperluas). Bila pada ensembel kuantum tersebut dilakukan pengukuran besaran , artinya
pada setiap sistem kuantum dalam ensembel itu dilakukan pengukuran ,
maka pengukuran besaran pada masing-masing sistem dalam ensem1

...Karya Heisenberg yang baru, yang segera akan diterbitkan, tampak sangat mistis,
tetapi sahih dan mendalam...

115

116

BAB 5. PENGUKURAN DALAM MEKANIKA KUANTUM

bel akan menghasilkan nilai ukur yang sama bila merupakan salah satu
dan hasil ukur tersebut adalah swanilai operator
swakeadaan observabel
kepunyaan swavektor . Sebaliknya, pengukuran besaran pada en
sembel itu akan menghasilan nilai ukur yang berbeda-beda bila bukan
Meskipun demikian
salah satu dari swakeadaan-swakeadaan observabel .
nilai-nilai yang dihasilkan dalam pengukuran-pengukuran itu merupakan
Frekuensi keluarnya suatu swanilai sebagai hasil ukur
anggota spektrum .
ditentukan oleh kontribusi swavektor kepunyaan swanilai tersebut pada
dalam bentuk koefisien kombinasi linier. Frekuensi inilah yang akhirnya
menentukan nilai harap atau nilai rata-rata pengukuran. Pengukuranpengukuran besaran tersebut akan memberikan rerata hasil ukur sebesar

< > = (|).


Jelasnya, bila ensembel kuantum itu diatur sedemikian
rupa sehingga semua anggotanya berada pada keadaan sembarang , maka
teori kuantum meramalkan bahwa jika nilai-nilai hasil pengukuran besaran
pada masing-masing sistem fisis dalam ensembel itu dirata-ratakan, maka

dihasilkan nilai rata-rata sebesar (|).

5.1.1

Perilaku Nilai Harap Terhadap Waktu

Telah disebutkan di atas bahwa nilai rerata pengukuran suatu besaran fisis

diberikan oleh < > = (|).


Sekarang diandaikan bahwa =
(t), yakni bahwa keadaan ensembel tergantung pada waktu t. Berikut
hendak diungkapkan perilaku nilai rerata pengukuran < > terhadap
waktu. Berdasarkan persamaan Schrodinger didapatkan

d
i

])

< > = (|[H,


+ (|
).
dt
~
t

(5.1)

tidak gayut secara eksplisit pada waktu, maka nilai harap


Bila observabel
< > tidak berubah terhadap perkembangan waktu jika dan hanya jika
H]
= 0. Khususnya, seoperator komut dengan Hamiltonan, yakni [,
bagaimana dalam mekanika klasik, nilai rerata tenaga total sistem selalu
lestari sepanjang operator Hamiltonan sistem tidak tergatung pada waktu
secara eksplisit. Hal ini akan dipertegas lagi pada bab 10 dan bab 13.

5.1.2

Ralat Pengukuran

Tanpa menguSekarang hendak ditinjau kembali observabel kuantum .

=
rangi keumuman, diandaikan bahwa memiliki spektrum diskret ()

5.1. TEORI PENGUKURAN

117

{1 , 2 , 3 , } dan tak satupun dari swanilai-swanilai itu yang merosot.


Untuk operator berspektrum kontinyu tinggal menyesuaikan. Seperti telah
disebutkan di muka bahwa spektrum suatu observabel adalah ruang sampel.
adalah
Oleh karena itu, ruang sampel yang berkaitan dengan observabel
ruang sampel diskret dan setiap peubah acak yang didefinisikan padanya
adalah peubah acak yang diskret. Sebagaimana pada bab sebelumnya,
didefinisikan peubah acak
R
X : ()

(5.2)

menurut X (n ) = n . Selanjutnya, andaikan setiap sistem fisis dalam ensembel dipersiapkan berada pada keadaan . Bila n swavektor kepunyaan
n , maka peluang mendapatkan hasil ukur n adalah
P(n , ) = |(n |)|2 .

(5.3)

Peluang ini selanjutnya menentukan fungsi peluang fP menurut fP =


|(n |)|2 . Dengan demikian, berdasarkan prinsip penguraian spektral (dapat dilihat kembali bagian 4.3), nilai rerata hasil ukur besaran fisis yang
diberikan oleh
diwakili oleh
X
X

< > = (X ) =
n fP =
n |(n |)|2 = (|),
(5.4)
n

yaitu yang telah diperoleh pada bagian sebelumnya. Varian dari peubah
acak X diberikan oleh
Var(X ) = [(X (X ))2 ]
X
=
(n (X ))2 fP
n

(n2 2n < > + < >2 )|(n |)|2

n2 |(n |)|2 2 < >

n |(n |)|2

n
2

+ <>

|(n |)|

2 ) < >2 .
= (|

(5.5)

Varian Var(X ) ini biasanya ditulis sebagai < ()2 >. Oleh karena itu
2 ) < >2 .
< ()2 >= (|

(5.6)

118

BAB 5. PENGUKURAN DALAM MEKANIKA KUANTUM

2 ) dari pers.(5.6) tidak


Dapat dibuktikan dengan mudah bahwa suku (|
lain adalah nilai harap peubah acak X2 (lihat soal-soal 4.5 nomor 11).
Oleh karena itu, didapatkan ungkapan lain untuk varian peubah acak X
sebagai
< ()2 >= (X2 ) < >2 .
(5.7)
Dari persamaan terakhir ini, dengan bantuan sifat-sifat varian yang telah
dibicarakan pada bagian 1.4.2 dapat diturunkan sebuah ungkapan lain untuk < ()2 >, yaitu
< >)2 ).
< ()2 >= (|(

(5.8)

d 2 := (
< >)2 disebut operator varian. Ralat pengukuOperator
ran, yakni penyimpangan baku dari peubah acak X , dengan demikian
diberikan oleh
q
q
2 ) < >2 = (|
d 2 ).
= (|
(5.9)
Kasus khusus terjadi, bilamana merupakan salah satu swakeadaan
Bila swavektor kepunyaan swanilai n0 , maka
dari observabel .
P(, n0 ) = fP (n0 ) = 100%.

(5.10)

Oleh karena itu, < ()2 > = 0, yakni berdasarkan sifat 1 dari varian (lihat bagian 1.4.2). Hal ini tentu saja concomitant (sejalan) dengan
salah satu prinsip yang telah diungkapkan pada bab sebelumnya bahwa
pengukuran suatu observabel akan memberikan nilai ukur dengan ralat nol
bila sistem fisis yang bersangkutan dipersiapkan berada pada salah satu
swakeadaannya.

5.1.3

Contoh (lanjutan bagian 4.4.2)

Dalam bagian ini kita kembali menengok masalah partikel dalam sumur
potensial tak terhingga yang telah disinggung pada bagian 4.4.2. Dalam
bagian 4.4.2 itu telah dihitung nilai harap pengukuran tenaga total dan momentum linier partikel bila partikel itu menghuni keadaan yang diberikan
oleh pers.(4.142). Dalam perhitungan nilai harap kedua besaran itu telah
digunakan nilai fungsi peluang fP (En ) dan fP (pj ) yang disajikan berturutturut dalam Tabel 4.1 dan 4.2 untuk beberapa nilai En dan pj yang penting.
Hasil perhitungannya, < H > = 40, 1E1 dan < p > = 0.

5.1. TEORI PENGUKURAN

119

Sekarang, dihitung ralat atau penyimpangan baku pada pengukuran


kedua besaran itu. Dari pers.(5.9), jelas bahwa dalam rangka perhitungan
ralat, pengetahuan tentang nilai harap < H 2 > dan < p2 > diperlukan.
Untuk itu dibutuhkan nilai fungsi peluang fP (En2 ) dan fP (p2j ). Tetapi
karena fP (En2 ) = fP (En ) dan fP (p2j ) = fP (pj ), maka segera didapat Tabel
5.1 dan Tabel 5.2.
Tabel 5.1 Nilai fungsi peluang fP (En2 ) untuk sepuluh nilai En2 yang pertama.
En2
4 ~4
64m2 a4 )

(dalam E12 =

fP (En )
(dalam

1
16
81
256
625
1296
2401
4096
6561
10000

1
140 )

36
25
16
0
9
4
0
1
0
49

En2 fP (En )
E12
(dalam 140
)
36
400
1296
0
5625
5184
0
4096
0
490000

Nilai fungsi peluang fP (En2 ) untuk En2 yang lain lenyap. Rerata < H 2 >
tentu saja merupakan jumlahan kolom ketiga Tabel 5.1, yakni < H 2 > =
3618, 8E12 . Karena < H > = 40, 1E1 , maka
H = (< H 2 > < H >2 )1/2
q
=
3618, 8E12 (40, 1E1 )2
q
=
3618, 8E12 1608, 0E12
= 44, 84E1 .
Oleh karena itu hasil pengukuran tenaga total partikel adalah
H = (40, 1 44, 84)E1 .

(5.11)

120

BAB 5. PENGUKURAN DALAM MEKANIKA KUANTUM


Dengan cara serupa (dari Tabel 5.2), diperoleh nilai harap
2

<p >=

p2j fP (p2j ) = 40, 1p21 .

(5.12)

j=

dengan p1 = ~/2a. Karena < p > = 0, maka


p = (< p2 > < p >2 )1/2 = 6, 3p1 .
Jadi, hasil pengukuran momentum linier partikel diberikan oleh
p = (0, 0 6, 3)p1 .

(5.13)

Tabel 5.2 Nilai fungsi peluang fP (pj ) untuk beberapa nilai pj .


p2j
(dalam

~
4a2

100
81
64
49
36
25
16
9
4
1

5.2

2 2

fP (p2j )
)

(dalam
49
0
1
0
4
9
0
16
25
36

1
280 )

p2j
(dalam

2 2

~
4a2

fP (p2j )
)

(dalam

1
4
9
16
25
36
49
64
81
100

1
280 )

36
25
16
0
9
4
0
1
0
49

Pengukuran dan Kompatibilitas

Sebagaimana telah disebutkan di muka, dalam mekanika klasik setiap besaran fisis diwakili oleh sebuah fungsi bernilai nyata (riil) yang dapat diturunkan terus-menerus dan terdefinisikan pada ruang fase klasik. Jadi,
besaran-besaran fisis dalam mekanika klasik merupakan anggota dari suatu aljabar observabel yang beranggotakan seluruh fungsi semacam itu.
Aljabar observable ini merupakan aljabar observabel yang komutatif : bila
f dan g fungsi riil anggota aljabar tersebut, maka perkalian fungsi f g sama

5.2. PENGUKURAN DAN KOMPATIBILITAS

121

dengan perkalian fungsi gf . Tidak peduli urutan faktor dalam perkalian


itu.
Setiap keadaan, yakni setiap titik pada ruang fase klasik, merupakan
swakeadaan bagi setiap observable dengan nilai fungsi yang mewakilinya pada setiap titik itu sebagai swanilainya. Sebagaimana telah disinggung pada
bab 3 tentang aturan akses dalam mekanika klasik, bila sistem dipersiapkan
berada pada suatu keadaan, yakni suatu titik dalam ruang fase klasik, maka informasi tentang besaran-besaran fisis secara klasik didapatkan melalui
perhitungan nilai fungsi-fungsi yang mewakili besaran-besaran fisis itu di
titik (keadaan) di mana sistem fisis itu berada. Karena nilai suatu fungsi
yang mewakili suatu observabel pada suatu titik dalam ruang fase klasik
merupakan swanilai bagi observable itu, maka pengukuran besaran fisis
tersebut akan menghasilkan nilai fungsi tersebut sebagai nilai ukur yang
pasti bila sistem berada pada titik (keadaan) tersebut. Jelasnya, seandainya
ada cara/alat untuk mengukur besaran fisis itu, maka nilai fungsi tersebut merupakan nilai yang akan muncul sebagai hasil pengukuran dengan
ralat yang selalu dapat diusahakan sekecil mungkin hingga lenyap sama
sekali. Ini berarti bahwa pengukuran besaran-besaran fisis akan selalu
menghasilkan nilai ukur yang pasti di manapun sistem fisis tersebut berada dalam ruang fase klasik. Hal ini menunjukkan bahwa tiap titik dalam
ruang fase klasik merupakan swakeadaan bersama bagi semua observable
klasik yang terdefinisikan pada titik tersebut. Oleh karena itu, dalam
mekanika klasik semua besaran fisis secara serempak dapat diketahui nilainya melalui pengukuran dengan ralat yang selalu dapat diusahakan
sekecil mungkin. Secara alamiah tidak ada kendala yang membatasi usaha
memperkecil ralat pada pengukuran besaran-besaran fisis tersebut secara
serempak.
Sementara itu, dalam mekanika kuantum setiap observabel diwakili
oleh sebuah operator Hermitean yang lengkap. Pada umumnya operatoroperator itu tidak saling komutatif satu dengan yang lain. Dikatakan bahwa aljabar observabel bagi mekanika kuantum bukan aljabar komutatif.
Ketidakkomutatifan inilah yang menjadi sebab mengapa dalam mekanika
kuantum pada umumnya dua observabel tidak dapat diukur secara serempak dengan ralat pengukuran keduanya masing-masing nol. Telah pula
dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa pengukuran suatu besaran fisis
O1 akan menghasilkan nilai ukur o1 dengan ralat nol hanya apabila sistem dipersiapkan berada pada swakeadaan o1 milik swanilai o1 itu. Bila
pada saat yang sama besaran fisis lain O2 juga diukur, maka pengukuran

122

BAB 5. PENGUKURAN DALAM MEKANIKA KUANTUM

besaran O2 tidak mungkin memberikan hasil pasti, katakanlah o2 , kecuali


2 yang berkaijika sistem fisis itu berada pada swakeadaan dari operator O
tan dengan swanilai o2 . Jadi, agar kedua besaran fisis itu dapat diukur
secara serempak dengan hasil ukur yang pasti, maka kedua operator yang
mewakili kedua besaran fisis itu harus memiliki swavektor bersama. Telah
dipaparkan dalam bagian 4.2.1, bahwa jika komutator dari dua operator
lenyap, maka kedua operator tersebut memiliki swavektor bersama2 . Jadi,
lenyapnya komutator dua buah operator atau, dengan kata lain, kekomutatifan dua operator merupakan jaminan dimilikinya swavektor bersama oleh
kedua operator tersebut. Pada gilirannya, kedua besaran fisis yang diwakili
oleh kedua operator itu dapat diukur secara serempak dengan hasil ukur
pasti (ralat keduanya nol). Oleh karena itu dua besaran fisis yang diwakili
oleh dua operator yang saling komutatif dikatakan sebagai dua besaran
fisis yang kompatibel.

Sketsa 5.1 Dua buah balon yang tidak kompatibel : Jika balon sebelah kanan
diperkecil, maka balon sebelah kiri membesar. Jika yang sebelah kiri diperkecil,
maka yang kanan membesar. (Sketsa ini dirancang dan digambar oleh M.F.Rosyid)

Tetapi, hal ini tidak boleh diartikan sebaliknya, yakni bahwa jika dua buah operator
memiliki swavektor bersama, maka komutator dua operator itu lenyap

5.2. PENGUKURAN DAN KOMPATIBILITAS

5.2.1

123

Ketidakpastian Heisenberg

Subbagian ini dalam beberapa hal merupakan converse dari ungkapan untuk kompatibilitas yang baru saja diberikan, yaitu menjawab pertanyaan
1
yang berkaitan dengan ralat-ralat pengukuran observabel-observabel

dan 2 yang tidak kompatibel. Jawaban atas pertanyaan tersebut diberikan


oleh ketaksamaan berikut
1
1,
1 ] > |2
< (1 )2 >< (2 )2 > | < [
4

(5.14)

atau

1
1,
1 ] > |.
1 2 | < [
(5.15)
2
Ketaksamaan terakhir ini dikenal sebagai ketakpastian Heisenberg. Ke 1 dan
taksamaan tersebut secara nyata menunjukkan bahwa observabel
2 tidak dapat diukur serempak dengan ralat nol, bila keduanya tidak kom
patibel. Bahkan yang satu memposisikan diri sebagai antagonis terhadap
1 diusahakan seakurat mungkin, maka justru
yang lain : jika pengukuran

ralat bagi pengukuran 2 membesar. Demikian pula sebaliknya. Keterbatasan ini merupakan hukum alam, bukan keterbatasan subjektif seorang
eksperimentator. Dua observabel yang memiliki sifat semacam ini, misal dan posisi r (lihat bab berikutnya). Komutator
nya, adalah momentum p
kedua operator itu adalah [
x, px ] = [
y , py ] = [
z , pz ] = i~. Oleh karenanya,
berdasarkan pers.(5.15), diperoleh
xpx

~
,
2

(5.16)

ypy

~
,
2

(5.17)

zpz

~
.
2

(5.18)

dan

Jadi, bila kita mendapatkan informasi yang akurat tentang posisi suatu partikel (ralat pengukuran posisi menuju nol), maka kita kehilangan
informasi tentang momentumnya (ralat pengukuran momentum sangat besar menuju tak terhingga) dan sebaliknya. Bentuk metafor bagi fakta ini
adalah cerita tentang buah simalakama : Bila dimakan maka ayah akan
mati dan bila tidak dimakan maka ibu yang akan tiada.

124

BAB 5. PENGUKURAN DALAM MEKANIKA KUANTUM

Gambar 5.1: Werner Heisenberg (1901-1976), fisikawan Jerman, adalah salah satu
founding father mekanika kuantum (kiri). Helgoland, sebuah pulau di laut utara,
tempat Heisenberg menghabiskan hari-harinya menjelang didapatkan rumusan
mekanika matriks (salah satu wujud mekanika kuantum) olehnya (kanan).(Foto
diambil dari situs www.-groups.dcs.st-and.ac.uk dan www.Helgoland.de)

Menutup bagian ini, kita hendak membuktikan ketaksamaan tersebut


d =
< > Hermitean, maka varian dari
di atas. Karena operator
1 dan
2 dapat dituliskan sebagai
observabel
d1 2 ) = (
d1 |
d1 ) = ||
d1 ||2
< (1 )2 >= (|
dan

d2 2 ) = (
d2 |
d2 ) = ||
d2 ||2 .
< (2 )2 >= (|

Dengan menggunakan ketaksamaan Schwartz didapatkan ketaksamaan


d1 ||2 ||
d2 ||2 |(
d1 |
d2 )|2 .
< (1 )2 >< (2 )2 > = ||
Karena
d1 |
d2 )|2 = |(|
d1
d2 )|2 = | < 1 2 > |2 ,
|(
maka
< (1 )2 >< (2 )2 > | < 1 2 > |2 .
Padahal berlaku
d1
d2 = 1 [
d1 ,
d2 ] + 1 {
d1 ,
d2 },

2
2

(5.19)

5.3. HIMPUNAN OBSERVABEL YANG KOMUTATIF DANLENGKAP125


dengan
d1 ,
d2 } :=
d1
d2 +
d2
d1
{
d1 dan
d2 . Dapatlah ditunjukkan dengan
adalah antikomutator antara
d
d
mudah bahwa komutator [1 , 2 ] anti-Hermitean sedang antikomutator
d1 ,
d2 } Hermitean. Selanjutnya, berdasarkan jawaban soal-soal pada
{
bagian 4.5, berlaku bahwa
d2 >= 1 < [
d1
d1 ,
d2 ] > + 1 < {
d1 ,
d2 } >,
<
2
2
yang dapat ditulis sebagai
d1
d2 >= + i,
<
d1 ,
d2 ] > dan :=
dengan := 21 < [
bilangan riil. Oleh karena itu,

1
2i

d1 ,
d2 } > keduanya
< {

d1
d2 > |2 = 1 | < [
d1 ,
d2 ] > |2 + 1 | < {
d1 ,
d2 } > |2 .
| <
4
2
(5.20)
Berdasarkan pers.(5.19) dan pers.(5.20) diperoleh ketaksamaan
1
d1 ,
d2 ] > |2 + 1 | < {
d1 ,
d2 } > |2 .
| < [
4
2
(5.21)
Dan, pada akhirnya, tentu saja ketakpastian Heisenberg
< (1 )2 >< (2 )2 >

< (1 )2 >< (2 )2 >

1
| < [1 , 2 ] > |2 ,
4

(5.22)

d1 ,
d2 } > |2 selalu positif dan [
d1 ,
d2 ] = [1 , 2 ].
karena 12 | < {

5.3

Himpunan observabel yang komutatif dan


lengkap

Bagian ini membahas tentang penotasian swavektor-swavektor beberapa


observabel yang saling komutatif. Tanpa mengurangi keumuman, hendak ditinjau observabel-observabel dengan spektrum diskret. Andaikan
A sebuah observabel dengan beberapa swanilainya merosot. Andaikan a

126

BAB 5. PENGUKURAN DALAM MEKANIKA KUANTUM

adalah salah satu swanilai A yang merosot sejauh ga . Adalah tidak cukup
kalau hanya mengandalkan swanilai a untuk pelabelan swavektor-swavektor
kepunyaan a, misalnya a . Diperlukan label lain guna membedakan satu
swavektor kepunyaan a dengan swavektor kepunyaan a yang lain. Sebagaimana yang telah diungkapkan pada bab sebelumnya, orang memakai superindeks untuk tujuan itu, misalnya ai , dengan i = 1, 2, , ga . Sekarang
observabel lain yang kompatibel dengan A,
yakni [B,
A]
=
andaikan B

0. Maka, seluruh swavektor kepunyaan swanilai-swanilai operator A yang


tidak merosot, menurut bagian 4.2.1, juga merupakan swavektor-swavektor
Tetapi, swavektor-swavektor kepunyaan swanilai-swanilai
bagi operator B.

operator A yang merosot, pada umumnya bukan swavektor-swavektor ba Akan tetapi, sekali lagi masih menurut bagian 4.2.1, dagi operator B.
pat dikonstruksi (melalui pendiagonalan) swavektor-swavektor baru bagi
sehingga swavektor-swavektor
A yang juga merupakan swavektor bagi B,
kepunyaan suatu swanilai a yang merosot sejauh ga dapat ditulis sebagai
ab . Penulisan semacam ini telah mencukupi seandainya tidak satupun
yang merosot. Tetapi, dapat pula terjadi, beswanilai dari operator B
juga merosot. Masalah ini dapat diselesaikan,
berapa swanilai b dari B
i , dengan
misalnya, dengan menggunakan superindeks. Sebagai contoh, ab
i = 1, 2, , gb . Namun, terdapat cara lain yang lebih elegan, yakni dengan
Bila
mendatangkan observabel lain yang kompatibel dengan A maupun B.
C adalah observabel yang dimaksud, maka (dengan cara serupa) diperoleh
B
dan C.
Swavektorswavektor-swavektor bersama bagi observabel A,
swavektor bersama tersebut dapat ditulis sebagai abc , dibaca swavektor
B
dan C dengan swanilai berturut-turut a, b dan c. Bila ini
bersama bagi A,
telah cukup menjadikan notasi abc mampu membedakan satu swavektor
B,
C}
disebut himpunan
dengan swavektor yang lain, maka himpunan {A,
observabel yang saling komutatif dan lengkap. Bila abc belum cukup untuk tujuan tersebut, maka perlu didatangkan observabel keempat dan
seterusnya sehingga diperoleh himpunan observabel yang saling komutatif
dan lengkap. Pada saat kita nanti membahas masalah elektron dalam suatu
atom, kita akan berurusan dengan masalah ini : swavektor nlm , dengan
n bilangan asli, l = 0, 1, 2, , n 1 dan m = l, l + 1, , l 1, l,
kuadrat momerupakan swavektor bersama bagi operator tenaga total H,
z . Dalam conmentum sudut orbital L2 dan komponen komentum sudut L

toh ini himpunan {H, L , Lz } merupakan himpunan observabel-observabel


yang saling komutatif dan lengkap.

5.4. SOAL-SOAL

5.4

127

Soal-soal

1. Buktikan pers.(5.1)!
2. Hitunglah laju perubahan penyimpangan baku pengukuran suatu besaran fisis!
yang
3. Turunkan nilai rerata dan penyimpangan baku dari observabel
memiliki spektrum kontinyu!
4. Turunkan pers.(5.8) dari pers.(5.6)!
d1 ,
d2 ] = [
1,
2 ] untuk sembarang operator
5. Tunjukkan bahwa [
1 dan
2!

128

BAB 5. PENGUKURAN DALAM MEKANIKA KUANTUM

Bab 6

WAKILAN MATRIKS
MEKANIKA KUANTUM
Die Zahl regiert das Universum1 . (Phytagorian)

Sebagaimana telah disebutkan oleh prinsip terakhir mekanika kuantum (lihat kembali bab 4), dinamika suatu sistem kuantum (yakni perkembangan
keadaan sistem kuantum terhadap waktu) merupakan lintasan yang ditempuh oleh sistem kuantum tersebut dalam ruang keadaan (ruang Hilbert).
Lintasan tersebut ditentukan oleh persamaan Schrodinger
i~

(t)

= H(t)
t

(6.1)

beserta keadaan awal sistem kuantum itu, yakni keadaan sistem pada suatu saat tertentu. Dari persamaan tersebut terlihat dengan jelas bahwa
sangat menentukan dinamika dari sistem kuantum
operator Hamiltonan H
yang ditinjau. Jadi, sebagaimana dalam mekanika klasik, dalam mekanika
kuantum pun operator Hamiltonan (atau lebih singkat Hamiltonan) merupakan ciri utama suatu sistem kuantum. Artinya, suatu sistem kuantum
dapat dikenali dari bentuk operator Hamiltonannya.
Untuk mempelajari dinamika suatu sistem kuantum, langkah pertama
=
adalah penyelesaian masalah swanilai operator Hamiltonan, yakni H
E. Langkah ini menghasilkan dua hal : spektrum tenaga dan himpunan
1

Bilangan mengontrol jagat raya.

129

130

BAB 6. WAKILAN MATRIKS MEKANIKA KUANTUM

ortonormal lengkap yang beranggotakan semua swakeadaan dari operator


Hamiltonan. Relatif terhadap basis ortonormal ini, wakilan matriks2 bagi operator Hamiltonan berupa matriks diagonal. Unsur-unsur diagonal
matriks tersebut merupakan swanilai-swanilai operator Hamiltonan. Karenanya, didapat suatu sistem persamaan diferensial tak terkopling yang
cukup sederhana. Jawaban bagi sistem persamaan ini adalah sekumpulan fungsi waktu, yakni sekumpulan bilangan kompleks yang gayut pada
waktu. Memakai jawaban sistem persamaan ini dan juga keadaan awal,
koefisien kombinasi linier dari keadaan sistem setiap saat dapat ditentukan.
Mengingat begitu pentingnya peranan yang dipegang oleh operator
Hamiltonan, maka wajar jikalau muncul pertanyaan bagaimana menentukan bentuk operator Hamiltonan dan juga operator-operator lain yang
relevan bagi suatu sistem fisis? Jawaban atas pertanyaan tersebut bukan
menjadi bahan pembahasan bab ini, melainkan akan menjadi tema pokok
bab berikutnya. Dalam bab ini hendak dipaparkan sesuatu yang lebih bersifat operasional dan secara komputasional lebih bermanfaat, yaitu wakilan
matriks bagi mekanika kuantum.

6.1

Wakilan Matriks Persamaan Schr


odinger

Sekarang, terlebih dahulu ditinjau suatu sistem kuantum yang memiliki


yang tidak gayut pada waktu dengan spektrum diskret3
Hamiltonan H
{E1 , E2 , }. Lalu, himpunan {1 , 2 , } diandaikan sebagai suatu himpunan ortonormal yang lengkap dalam ruang Hilbert H yang berpadanan
dengan sistem kuantum itu. Karenanya, sebagai anggota dari ruang Hilbert
H, penyelesaian (t) dari persamaan Schrodinger di atas dapat ditulis sebagai kombinasi linier dari himpunan ortonormal {1 , 2 , }, yaitu
(t) =

(n |(t))n

(6.2)

(lihat kembali bagian 4.2). Karena koefisien kombinasi linier (n |) tunggal, maka keadaan (t) untuk setiap t berpadanan dengan matriks kolom
2

Hal ini akan segera dijelaskan pada bagian 6.1.


Contoh kongkrit untuk kasus semacam ini adalah getaran selaras. Sistem semacam
ini akan dibahas pada suatu bab mendatang.
3


6.1. WAKILAN MATRIKS PERSAMAAN SCHRODINGER

131

dengan bilangan-bilangan (n |) sebagai unsur-unsurnya :

(1 |(t))
(2 |(t))

..

.
.
(t)

(n |(t))

..
.

(6.3)

Selanjutnya, sebagai anggota dari ruang H, vektor i~ (t)


t dapat diwakili
oleh suatu matriks kolom :

(1 |i~ (t)
)
t

(2 |i~ (t)
t )

(t)
..

i~
(6.4)

.
.

t
(n |i~ (t) )
t

..
.
Tetapi, karena masing-masing n tidak gayut waktu, maka

(1 |(t))
i~ t
(1 |(t))
i~ (2 |(t))
(2 |(t))
t

..
..
(t)

.
i~

= i~
.

t
t
i~ (n |(t))
(
|(t))
t

n
..
..
.
.

. (6.5)

Karena vektor H(t)


pun merupakan anggota dari ruang keadaan H, maka
vektor tersebut dapat diwakili oleh suatu matriks kolom :

(1 |H(t))

(2 |H(t))

..

(6.6)
H(t)

( |H(t))

n
..
.

Untuk n = 1, 2, 3, , bilangan (n |H(t))


dapat ditulis sebagai
X
X
n0 )(n0 |(t)), (6.7)

(n |H(t))
= (n |H
(n0 |(t))n0 ) =
(n |H
n0

n0

132

BAB 6. WAKILAN MATRIKS MEKANIKA KUANTUM

yakni dengan menggunakan persamaan (6.2). Bila ungkapan terakhir ini


dimasukkan ke dalam persamaan (6.6), maka akan didapat ungkapan yang
lebih eksplisit lagi :

H(t)

1 ) (1 |H
2)
(1 |H
1 ) (2 |H
2)
(2 |H
..
..
..
.
.
.

(n |H1 ) (n |H2 )
..
..
..
.
.
.

n)
(1 |H
n)
(2 |H
..
.
n)
(n |H
..
.

..
.

(1 |(t))
(2 |(t))
..
.


(n |(t))
..
..
.
.

(6.8)

Bila wakilan-wakilan matriks bagi i~ (t)


t dan H(t) yang telah diperoleh
dimasukkan ke dalam persamaan Schrodinger, maka akan didapatkan persamaan Schrodinger dalam wakilan matriks

(1 |(t))
(2 |(t))

..

=
.
i~

(n |(t))
..
.

1 ) (1 |H
2)
(1 |H
2)
1 ) (2 |H
(2 |H
..
..
..
.
.
.

(n |H1 ) (n |H2 )
..
..
..
.
.
.

n)
(1 |H
n)
(2 |H
..
.
n)
(n |H
..
.

..
.

(1 |(t))
(2 |(t))
..
.


(n |(t))
..
..
.
.

(6.9)

Matriks

1 ) (1 |H
2)
(1 |H

(2 |H1 ) (2 |H2 )
..
..
..
.
.
.
1 ) (n |H
2)
(n |H
..
..
..
.
.
.

n)
(1 |H
n)
(2 |H
..
.
n)
(n |H
..
.

..
.

..
.

(6.10)


6.1. WAKILAN MATRIKS PERSAMAAN SCHRODINGER

133

relatif terdisebut wakilan matriks dari operator Hamiltonan H


hadap basis {1 , 2 , }. Bila basis {1 , 2 , } diganti dengan basis
berubah. Jadi,
lain, maka bentuk wakilan matriks dari Hamiltonan H
frase relatif terhadap basis pada definisi di atas bersifat essensial. Bila
kebetulan kita beruntung dengan pemilihan basis4 , penggantian basis yang
kita lakukan dapat menghasilkan matriks Hamiltonan yang diagonal. Pada
saat itu unsur-unsur diagonal matriks tersebut merupakan swanilai-swanilai
operator Hamiltonan, sedangkan basisnya tidak lain adalah swavektor Bila dalam matriks diagonal tersebut terdapat unsurswavektor dari H.
unsur diagonal yang sama, maka ada swanilai tenaga yang merosot. Oleh
karena itu, unsur-unsur diagonal matriks diagonal tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan sama tidaknya unsur-unsur itu. Jumlah unsur-unsur
yang sama menunjukkan derajad kemerosotan swanilai yang diwakili oleh
unsur-unsur tersebut. Jadi, masalah swanilai operator Hamiltonan ekivalen
dengan usaha pendiagonalan matriks wakilan operator Hamiltonian. Nanti akan dijelaskan bahwa pernyataan ini berlaku umum, artinya, berlaku
untuk sembarang operator.

6.1.1

Spektrum Diskret Tak Merosot

Andaikan (untuk sementara) tak ada satupun swanilai Hamiltonan yang


merosot dan andaikan pula bahwa {1 , 2 , 3 , } merupakan himpunan
ortonormal lengkap (basis ortonormal) yang beranggotakan semua swavek Relatif terhadap basis ortonormal ini, operator
tor operator Hamiltonan H.
Hamiltonan memiliki wakilan matriks

E1 0
0 E2
..
.. . .
.
.
.
0
0
..
.. . .
.
.
.

Hal ini selalu dapat diusahakan.

0
0
..
.
En
..
.

..
.

..
.

(6.11)

134

BAB 6. WAKILAN MATRIKS MEKANIKA KUANTUM

Oleh karenanya pers.(6.9) dapat dituliskan sebagai

(1 |(t))
E1 0 0
(1 |(t))
(2 |(t)) 0 E2 0 (2 |(t))

..

..
.. . .
.. . .
..

. (6.12)
.
.
.
.
.
.
i~
= .

t
0
(n |(t))
(
|(t))
0

n
n

..
..
.. . .
.. . .
..
.
.
.
.
.
.
.
Untuk setiap n = 1, 2, 3, didapatkan persamaan
i~

(n |(t)) = En (n |(t)).
t

(6.13)

Penyelesaian umum persamaan-persamaan ini adalah


(n |(t)) = Cn eiEn t/~ ,

n = 1, 2, 3,

(6.14)

dengan Cn (n = 1, 2, 3, ) tetapan-tetapan yang ditentukan dari syarat


awal dan tuntutan normalisasi. Dengan demikian ketergantungan keadaan
sistem pada waktu diberikan oleh
X
X
(t) =
(n |(t))n =
Cn eiEn t/~ n .
(6.15)
n

Hasil serupa akan diperoleh pada bab 13 dari penerapan operator translasi
waktu.

Contoh :
Andaikan pada saat t = 0 sistem kuantum yang baru saja ditinjau berada
pada keadaan (0) = n0 , yakni suatu swakedaan dari operator Hamiltonan
Dari pers.(6.15) diperoleh
H.
(0) =

Cn n = n0 .

Karena {1 , 2 , } merupakan himpunan ortonormal, maka



Cn =

0 untuk n 6= n0
1 n = n0


6.1. WAKILAN MATRIKS PERSAMAAN SCHRODINGER

135

Jadi, keadaan sistem setiap saat diberikan oleh


(t) = eiEn0 t/~ n0 .

(6.16)

Terlihat bahwa untuk setiap t keadaan (t) berbeda dari (0) hanya oleh
faktor fase exp[iEn0 t/~]. Ini menunjukkan bahwa (t) mewakili keadaan
yang sama dengan yang diwakili oleh (0). Secara umum dapat disim
pulkan bahwa jika keadaan awal sistem merupakan swavektor operator H,
maka keadaan sistem setiap saat (t) tidak berbeda dari keadaan awal
tersebut. Fakta semacam ini dapat dijelaskan secara elegan dengan melibatkan konsep simetri (kesetangkupan) dan teori grup dalam fisika (lihat
bab 10).

Contoh :
yang ditinjau di atas adalah Hamiltonan getaran
Andaikan Hamiltonan H
selaras. Masalah ini akan dibahas secara mendalam di bab 9.4. Di sini
disebutkan hanya sebagai contoh saja. Di bab 9.4 akan ditunjukkan bahwa
swanilai tenaga untuk getaran selaras tidak merosot dan diberikan oleh
1
En = (n + )~,
2

n = 0, 1, 2, 3,

dengan frekuensi sudut getaran selaras tersebut. Andaikan vektor n


merupakan swakeadaan yang telah dinormalkan dari operator Hamiltonan
getaran selaras yang berpadanan dengan swanilai En untuk n = 0, 1, 2, .
Andaikan pula bahwa pada saat awal getaran selaras tersebut berada pada
keadaan

X
N
(0) =
n ,
(n + 1)
n=0

dengan N suatu tetapan. Jadi, kedaan awal sistam bukan salah satu dari
swakeadaan operator Hamiltonan. Agar (0) ternormalkan, maka haruslah
berlaku
1 = ((0)|(0)) =

X
n=0 n0 =0

X
2

= |N |

n=0

N
N
(n |n0 )
(n + 1) (n0 + 1)
1
.
(n + 1)2

(6.17)

136

BAB 6. WAKILAN MATRIKS MEKANIKA KUANTUM

Karena (lihat misalnya [Spi])

X
n=0

1
2
=
,
(n + 1)2
6

maka pers.(6.17)
memberikan nilai |N | = 6/. Jadi, N diberikan oleh

N = ei 6/, dengan sembarang bilangan riil. Jikalau dipilih = 0,


maka didapatlah

6X
1
(0) =
n .
(6.18)

(n + 1)
n=0

Keadaan getaran selaras pada saat t = 0 inipun menurut pers.(6.15) harus


memenuhi persamaan

X
Cn n .
(0) =
n=0

Jadi,

n=0

n=0

X
6X
1
n =
Cn n .

(n + 1)

Dari identitas terakhir ini dapat disimpulkan bahwa Cn =


karena itu

X
1
6
(t) =
ei(n+ 2 )t n .
(n + 1)

6
(n+1) .

Oleh

(6.19)

n=0

Terlihat bahwa keadaan (t) berbeda sama sekali dari keadaan awal. Boleh

disimpulkan bahwa jika keadaan awal bukan salah satu dari swakeadaan H,
maka kedaan sistem setiap saat (t) berbeda dari keadaan awal.

6.1.2

Spektrum Diskret Merosot

memiliki spektrum diskret


Sekarang diandaikan operator Hamiltonan H
yang merosot, yakni swanilai En merosot sejauh gn untuk n = 1, 2, .
Oleh karena itu swakeadaan-swakeadaan kepunyaan En dapat ditulis sebagai inn , dengan in = 1, 2, , gn . Jadi, himpunan yang beranggotakan
semua swakeadaan operator Hamiltonan diberikan oleh
{11 , , g11 , 12 , , g22 , , 1n , , gnn , }

(6.20)


6.1. WAKILAN MATRIKS PERSAMAAN SCHRODINGER

137

Diandaikan pula bahwa himpunan tersebut merupakan himpunan yang


telah diortonormalkan5 sehingga himpunan tersebut merupakan basis yang
ortonormal.
Bila basis ortonormal {1 , 2 , } pada bagian 6.1 digantikan oleh basis
baru ini, maka wakilan matriks operator Hamiltonan diberikan oleh matriks
diagonal

E1 0
0 0
.. . .
.
.. . .
. ..
.
. ..
. ..
.
.

0 E1 0 0

0 0 E2 0
(6.21)

.
.. . .

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. .
. .
.
.

0 0

.. . .
..
.. . .
.. . .
.
.
.
.
.
.
.
Dalam matriks tersebut terdapat g1 buah unsur diagonal yang nilainya E1 ,
g2 buah unsur diagonal yang nilainya E2 dan sterusnya. Oleh karenanya
pers.(6.9) dapat dituliskan sebagai persamaan matriks berikut

(11 |(t))

..

g1 .

( |(t))
1

i~ (2 |(t)) =

t
.
.

g .

( 2 |(t))
2

..
.

E1
.. . .
.
.

.. . .
.
.

.. . .
.
.
5

0
..
.

0
..
.

..
.

..
.

E1 0
0 E2
..
..
.
.
0
0
..
.. . .
.
.
.

0
..
.
0
0
..
.
E2
..
.

(11 |(t))

..

g1 .
( |(t))
1

(1 |(t))
2
.

..

g .
2

(2 |(t))

..
..
.
.
(6.22)

..
.

..
.

Ortonormalisasi hanya dilakukan pada tiap ruang swanilai.

138

BAB 6. WAKILAN MATRIKS MEKANIKA KUANTUM

Dari sajian matriks persamaan Schrodinger di atas, untuk setiap n dan in


diperoleh
i~

in
( |(t)) = En (inn |(t))
t n

(6.23)

dengan penyelesaian umum


(inn |(t)) = Cnin eiEn t/~ .

(6.24)

Tetapan Cnin di atas ditentukan dari syarat awal dan tuntutan normalisasi.
Oleh karena itu keadaan sistem setiap saat diberikan oleh
(t) =

gn
XX
n in =1

(inn |(t))inn

gn
XX

Cnin eiEn t/~ inn .

(6.25)

n in =1

Catatan :
Hal-hal yang telah dibeberkan di atas berlaku pula tentunya untuk sistem
dengan operator Hamiltonan yang memiliki spektrum diskret yang finit.
Dengan kata lain, hal-hal tersebut di atas berlaku pula untuk sistem kuantum yang berpadanan dengan ruang Hilbert berdimensi finit.

6.2

Wakilan Matriks Masalah Swanilai

Setelah didapatkan spektrum dan himpunan ortonormal lengkap operator Hamiltonan serta dinamika sistem, maka orang dapat mendapatkan
berbagai informasi tentang sistem kuantum tersebut. Dari sudut pandang komputasi, salah satu hal penting adalah wakilan matriks observabelobservabel yang relevan dengan sistem kuantum tersebut relatif terhadap
basis ortonormal yang tersusun atas swakeadaan-swakeadaan tenaga.
suatu observabel yang relevan dengan sistem kuantum yang
Andaikan
sedang ditinjau. Hendak diselesaikan masalah swanilai
= .

6.2. WAKILAN MATRIKS MASALAH SWANILAI

139

(a) Jika spektrum tenaga tidak merosot maka masalah swanilai itu dapat disajikan dalam bentuk persamaan matriks berikut

1 ) (1 |
2 ) (1 |
n)
(1 |
(1 |)
(2 |
1 ) (2 |
2 ) (2 |
n ) (2 |)

..
..
..
..
..
..

.
.
.
.
.
.

( |

(
|)
)
(
|

(
|

n
1
n
2
n
n
n

..
..
..
..
..
..
.
.
.
.
.
.

(1 |)
(2 |)
..
.

(n |)

..
.

(6.26)

relatif terhadap basis ortonormal {1 , 2 , } yang beranggotakan semua


Persamaan tersebut setara dengan persamaan
swavektor dari H.

1 ) (1 |
2 ) (1 |
n)
(1 |
(1 |)
(2 |
1 ) (2 |
2 ) (2 |
n ) (2 |)

.
.
.
.
.
.
.
..
..
..
..
..

=
.

( |

(
|)
)
(
|

(
|

n
1
n
2
n
n
n

..
..
..
..
..
..
.
.
.
.
.
.

(1 |)
0 0
0 0 (2 |)

.. .. . .

..
.. . .

. .

.
.
.
.

0 0 (n |)

.. .. . .
.. . .
..
.
.
.
.
. .
atau

1)
2)
(1 |
(1 |

( |
1)
2)
(2 |
2

..
..
..

.
.
.

( |
1)
2)
(n |

..
..
..
.
.
.

n)
(1 |

(1 |)
(2 |)

n)
(2 |

..

= 0.

..
.
..

.
.
(n |)

n)
(n |
..
.
..
..
.
.

140

BAB 6. WAKILAN MATRIKS MEKANIKA KUANTUM

Tentu saja, persamaan terakhir ini memiliki penyelesaian tak sepele jika
matriks berikut

1)
(1 |
1)
(2 |
..
.
1)
(n |
..
.

2)
(1 |

2)
(2 |
..
..
.
.

(n |2 )

..
..
.
.

n)
(1 |

n)
(2 |

..
..
.
.

(n |n )
..
..
.
.

(6.27)

tidak memiliki inverse. Hal ini selaras dengan yang telah dijelaskan pada
adalah bilanganbagian 4.2.2. Selanjutnya, swanilai-swanilai operator
bilangan yang mengakibatkan matriks pers.(6.27) tidak memiliki inverse.
Khususnya, jika sistem fisis yang ditinjau sedemikian rupa sehingga
berukuran6 finit, misalnya k k, maka syarat
wakilan matriks operator
bahwa matriks pers.(6.27) tidak memiliki invers sama artinya dengan


1)
2)
(1 |
(1 |




(2 |
1)
2)
(2 |


..
..
..

.
.
.

( |

(k |2 )

1)
k

k)
(1 |

(2 |k ) = 0.

..

.

k)
(k |

(6.28)

Pers.(6.28) ini setara dengan suatu persamaan polinomial dalam yang


Swanilaidisebut persamaan karakteristik dari wakilan matriks operator .
oleh karena itu adalah akar-akar persamaan karakterswanilai operator
istik tersebut.
(b) Jika spektrum tenaga merosot, maka relatif terhadap himpunan
ortonormal (6.20) masalah swanilai itu dapat disajikan dalam bentuk per-

lebih tepatnya, berdimensi

6.3. WAKILAN MATRIKS SECARA UMUM

141

samaan matriks berikut


1)
(11 |
1
..
.
g1 1
(1 |1 )
1)
(12 |
1
..
.
g2 1
(2 |1 )
..
.

..
.

..
.

..
.


(11 |)


..


g1.

( |)
1

(1 |)
2


.
.


g.

( 2 |)
2

..
.

1)
g1 ) (1 |
(11 |
1
2
1
..
..
.
.
g1 1
g1 g1
(1 |1 ) (1 |2 )
1)
g1 ) (1 |
(12 |
2
2
1
..
..
.
.
g2 1
g2 g1
(2 |1 ) (2 |2 )
..
..
.
.


.. . .
.
.
0
0
.. . .
.
.
0
.. . .
.
.

0
.. . .
.
.
0
0
.. .. . .
.
. .
0 0
.. .. . .
.
. .
0
..
.

..
.

..
.

..
.

g2 )
(11 |
2
..
.
g1 g2
(1 |2 )
g2 )
(12 |
2
..
.
g2 g2
(2 |2 )
..
.

0
.. . .

.
.

.. . .

.
.

.. . .
.
.

..
.

..
.

..
.

(11 |)

..

g1
(1 |)

(12 |)
.

..

g2
(2 |)

..
.

(6.29)

Selanjutnya, segala sesuatunya berjalan sebagaimana jika spektrum tenaga


tidak merosot.

6.3

Wakilan Matriks Secara Umum

Bila pada bagian-bagian sebelumnya dibahas wakilan matriks operatoroperator dan masalah swanilai dalam kaitannya dengan dinamika sistem
kuantum, maka dalam bagian ini hendak dipaparkan wakilan matriks secara umum, yakni wakilan matriks yang tidak harus ada kaitannya dengan
dinamika suatu sistem fisis.

6.3.1

Masalah Swanilai

suatu observabel yang bekerja pada suatu ruang Hilbert yang


Andaikan
berdimensi sembarang (finit ataupun infinit). Andaikan pula {1 , 2 , }

142

BAB 6. WAKILAN MATRIKS MEKANIKA KUANTUM

sembarang basis ortonormal pada ruang Hilbert tersebut. Masalah swanilai


= dapat disajikan dalam bentuk persamaan matriks berikut

1)
(1 |
1)
(2 |

2)
(1 |

n)
(1 |

2)
(2 |

..
.

..
.

..

1)
(n |

2)
(n |

..
.

..
.

..

(1 |)

n)
(2 |

(2 |)

..
..
..

.
.
.

n)
(n |
(n |)

..
..
..
.
.
.

= 0.

tidak lain adalah


Sebagaimana sebelumnya, swanilai-swanilai operator
bilangan-bilangan yang menjadikan matriks

1)
(1 |
1)
(2 |

2)
(1 |

2)
(2 |

..
.

..
.

..

1)
(n |

2)
(n |

..
.

..
.

..

n)
(1 |

n)
(2 |

..
..

.
.

n)
(n |

..
..
.
.

bekerja
tidak memiliki invers. Khususnya, jika ruang Hilbert tempat
meruberdimensi finit (katakanlah k), maka swanilai-swanilai operator
pakan akar-akar dari persamaan karakteristik

1)
2)
(1 |
(1 |




(2 |
2)
1)
(2 |




..
..
..

.
.
.



( |
1)
2)
(k |

k)
(1 |

(2 |k )

= 0.

..

.


(k |k )

(6.30)

6.3. WAKILAN MATRIKS SECARA UMUM

143

yang berpadanan dengan swanilai oleh karena itu


Swavektor operatorP

adalah vektor = n (n |)n sedemikian rupa sehingga semua bilangan


(n |) memenuhi sistem persamaan
X

n0 )(n0 |) = (n |),
(n |

n = 1, 2, .

(6.31)

n0

6.3.2

Masalah Swanilai Pendiagonalan Wakilan Matriks

Matriks

:=
[]

1 ) (1 |
2)
(1 |
1 ) (2 |
2)
(2 |
..
..
..
.
.
.

(n |1 ) (n |2 )
..
..
..
.
.
.

n)
(1 |
n)
(2 |
..
.
n)
(n |
..
.

..
.

..
.

(6.32)

relatif terhadap basis {1 , 2 , }.


disebut wakilan matriks observabel
Wakilan matriks ini sangat tergantung dari basis yang dipakai : bila basis
ortonormal {1 , 2 , } diganti dengan basis (ortonormal) yang lain, maka
pun berubah. Andaikan U suatu matriks uniter
wakilan matriks operator
di atas. Dapat
yang berukuran sama dengan wakilan matriks operator
0
0
0
dibuktikan bahwa himpunan {1 , 2 , 3 , }, dengan
10 = U11 1 + U21 2 + U31 3 + =

Un0 1 n0

n0

20 = U12 1 + U22 2 + U32 3 + =

Un0 2 n0

n0

..
. =

..
.

..
.

..
.

..
.

n0 = U1n 1 + U2n 2 + U3n 3 + =

Un0 n n0

n0

..
. =

..
.

..
.

..
.

..
.

(6.33)

144

BAB 6. WAKILAN MATRIKS MEKANIKA KUANTUM

relatif terjuga merupakan basis ortonormal. Wakilan matriks operator


0
0
0
hadap {1 , 2 , 3 , } memiliki unsur-unsur yang diberikan oleh
X
X
0 0) = (

(n0 |
Un000 n n000 |
Un00 n0 n00 )
n
n000

n00

n00 )
Un000 n Un00 n0 (n000 |

n000 ,n00

Unn
000 (n000 |n00 )Un00 n0

n000 ,n00

Unn
000 (n000 |n00 )Un00 n0 ,

n000 ,n00

karena U uniter. Jadi, dapat disimpulkan bahwa wakilan matriks opera relativ terhadap basis { 0 , 0 , 0 , } dapat diperoleh dari wakilan
tor
1
2
3
operator tersebut relatif terhadap basis {1 , 2 , 3 , } melalui persamaan
0 ] = U 1 []U,

(6.34)

dengan

0
] :=
[

0 ) ( 0 |
0)
(10 |
1
1
2
0 ) ( 0 |
0)
(20 |
1
2
2
..
..
..
.
.
.
0
0
0
0

(n |1 ) (n |2 )
..
..
..
.
.
.

0)
(10 |
n
0)
(20 |
n
..
.
0)
(n0 |
n
..
.

..
.

..
.

(6.35)

Orang dapat memilih matriks uniter U sedemikian rupa sehingga masingmasing vektor n0 anggota basis {10 , 20 , 30 , } merupakan swakeadaan
Dalam situasi demikian ini, matriks [
0 ] merupakan madari operator .
triks diagonal dan unsur-unsur diagonalnya merupakan swanilai-swanilai
Jadi, penyelesaian masalah swanilai bagi operator
setara
operator .
dengan proses pendiagonalan wakilan matriksnya melalui pemilihan matriks uniter U yang tepat.
sebuah operator yang memenuhi [f,
]
= 0. Jika matriks
Andaikan f

uniter U mendiagonalkan wakilan matriks operator melalui pers.(6.34),


(lihat Soalmaka U pun juga mendiagonalkan wakilan matriks operator f
soal 6.4 nomor 4). Secara umum, jika dua buah operator saling komut,
maka keduanya dapat didiagonalkan serempak.

6.4. SOAL-SOAL

6.4

145

Soal-soal

1. Turunkanlah wakilan-wakilan matriks untuk masalah swanilai sebagaimana yang telah disajikan pada bagian 6.2.
2. Carilah swanilai dan swavektor dari matriks berikut

q p p
A = p q p !
p p q

(6.36)

Carilah matriks P berukuran 3 3 sedemikian rupa sehingga P AP 1


merupakan matriks diagonal!
3. Tunjukkan bahwa himpunan {10 , 20 , 30 , } yang didefinisikan oleh
pers.(6.34) merupakan basis ortonormal!
sebuah operator yang memenuhi [f,
]
= 0. Tunjukkan
4. Andaikan f
bahwa jika matriks uniter U mendiagonalkan wakilan matriks opera melalui pers.(6.34), maka U pun juga mendiagonalkan wakilan
tor

matriks operator f!
sembarang dua operator yang bekerja pada suatu
5. Andaikan A dan B
ruang Hilbert dengan domain seluruh ruang Hilbert tersebut.
relatif
(a) Tunjukkanlah bahwa wakilan matriks operator A + B
terhadap suatu basis identik dengan jumlahan matriks antara wakilan
relatif terhadap
matriks operator A dan wakilan matriks operator B
basis tersebut!
relatif ter(b) Tunjukkanlah bahwa wakilan matriks operator AB
hadap suatu basis identik dengan jumlahan matriks antara wakilan
relatif terhadap
matriks operator A dan wakilan matriks operator B
basis tersebut!
(c) Bila suatu skalar, tunjukkanlah bahwa wakilan matriks bagi
operator A relatif terhadap suatu basis identik dengan perkalian
wakilan matriks operator A relatif terhadap basis tersebut dengan
skalar !
B]
relatif
(a) Tunjukkanlah bahwa wakilan matriks komutator [A,
terhadap suatu basis identik dengan komutator antara antara wakilan
relatif terhadap
matriks operator A dan wakilan matriks operator B
basis tersebut!

146

BAB 6. WAKILAN MATRIKS MEKANIKA KUANTUM

Bab 7

PENGKUANTUMAN
Unsere Gedichte sind in einer recht speziellen Sprache
geschrieben, der mathematischen Sprache, ...
und leider sind diese Gedichte nur in der originalen Sprache zu verstehen1 .
(Armand Borel)

Pada bab 2 telah dipaparkan gambaran secara umum model matematis


bagi suatu sistem fisis. Di sana dijelaskan tentang unsur-unsur esensial
(yang harus ada) dalam setiap model. Unsur-unsur tersebut meliputi : ruang keadaan yang memuat semua objek matematis yang mewakili keadaankedaan yang mungkin bagi sistem fisis yang ditinjau, aljabar observabel
yang memuat semua objek matematis yang mewakili besaran-besaran fisis, aturan akses yang menentukan bagaimana orang dapat menggali informasi tentang besaran-besaran fisis dan dinamika yang menggambarkan
bagaimana perilaku sistem fisis tersebut terhadap waktu. Dalam mekanika
klasik dan mekanika kuantum, keempat unsur tersebut mendapatkan realisasi (pengejawantahan) yang berbeda. Ruang keadaan dalam mekanika
klasik, misalnya, diejawantahkan dalam bentuk ruang fase klasik, sedang
dalam mekanika kuantum ia direalisasikan dalam bentuk ruang Hilbert
yang diperluas. Aljabar observabel dalam mekanika klasik adalah himpunan semua fungsi riil yang diferensiabel pada ruang fase klasik, sedang
dalam mekanika kuantum diujudkan dalam bentuk himpunan operatoroperator Hermitean. Dan seterusnya. Jadi, mekanika klasik dan mekani1

Puisi-puisi kita ditulis dalam bahasa yang sangat khusus, yakni bahasa matematik,
. . . dan sayang sekali bahwa puisi-puisi tersebut hanya dapat dipahami dalam bahasa
aslinya.

147

148

BAB 7. PENGKUANTUMAN

ka kuantum dapat dipandang sebagai dua pengejawantahan yang berbeda keempat unsur tersebut. Dalam terminologi yang lebih mentereng,
mekanika kuantum dan mekanika klasik merupakan dua macam wakilan
yang berbeda bagi mekanika abstrak yang berisi keempat unsur itu. Berangkat dari cara pandang (keyakinan) semacam ini, baik para fisikawan
maupun matematikawan berusaha menghubungkan kedua wakilan tersebut. Terma menghubungkan ini hendaknya diartikan sebagai menyusun
suatu prosedur yang diharapkan mampu memainkan peran sebagai compiler di antara kedua macam wakilan itu (mekanika klasik dan kuantum).
Compiler ini diharapkan dapat menterjemahkan setiap objek klasik menjadi objek kuantum padanannya. Misalnya, operator Hermitean seperti apa
yang harus menjadi padanan bagi fungsi yang mewakili besaran tenaga total (fungsi Hamilton), operator Hermitean yang mana yang harus menjadi
padanan bagi fungsi-fungsi yang mewakili komponen-komponen momentum linier, dan lain sebagainya. Compiler yang diimpikan itu dinamakan
metode pengkuantuman.

CLASSICAL WORLD

QUANTUM WORLD

Sketsa 7.1 Pengkuantuman dapat juga dipahami sebagai upaya berpindah dari
dunia klasik ke dunia kuantum atau sebaliknya. (Sketsa ini dirancang dan digambar oleh M.F. Rosyid)

Banyak metode pengkuantuman telah diusulkan, baik yang diusulkan


oleh para fisikawan maupun oleh para matematikawan. Sekedar untuk disebutkan, metode-metode pengkuantuman itu ialah pengkuantuman kanonis
[Dir], pengkuantuman integral lintasan [Fey], pengkuantuman deformasi
[BFFL, Fed], pengkuantuman geometrik [Ros1, Tuy, Wo], pengkuantuman

7.1. PENGKUANTUMAN GEOMETRIK

149

Borel [Ang1, Ang2, Nat] dan pengkuantuman stokastik [Mas, PaWu]. Di


antara metode-metode pengkuantuman itu, pengkuantuman kanonis atau
sering disebut pengkuantuman Dirac merupakan metode pengkuantuman
yang paling primitif. Metode ini mengidap beberapa kelemahan : (a) hanya
dapat diterapkan pada ruang fase klasik yang flat, (b) dapat diterapkan
hanya bila terdapat sistem koordinat kanonis global, (c) sangat tergantung
pada sistem koordinat yang dipakai atau tidak invarian terhadap transformasi koordinat, (d) masalah besar muncul bila diterapkan untuk sistem fisis
yang memiliki derajad kebebasan internal dan (e) tidak dapat mengakomodasi berbagai representasi mekanika kuantum. Kelemahan-kelemahan
ini telah diatasi oleh pengkuantuman geometrik. Jadi, pengkuantuman geometrik merupakan perluasan terhadap metode pengkuantuman kanonis.
Namun, hasil-hasil yang mengesankan ini harus dibayar dengan komplikasi
matematis yang luar biasa mahal. Oleh karenanya, kita tidak akan mengungkapkan keseluruhan teori yang sangat elegan tersebut secara rinci di
sini. Kita hanya akan memaparkan hasil-hasilnya saja. Itupun untuk kasuskasus yang sangat sederhana dan terkait dengan tujuan kita.

7.1

Pengkuantuman Geometrik

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa pengkuantuman erat kaitannya dengan penjodohan antara objek-objek klasik dengan objek-objek
kuantum. Masalah penjodohan secara matematis selalu direalisasikan
dalam bentuk pemetaan. Oleh karena itu pengkuantuman secara matematis dimodelkan dengan pemetaan.
Dalam satu bab terdahulu telah disebutkan bahwa dalam himpunan
yang beranggotakan semua fungsi riil yang diferensiabel pada ruang fase
klasik terdapat suatu perkalian tak asosiatif yang disebut kurung Poisson. Himpunan fungsi-fungsi riil itu disertai kurung Pisson merupakan
sebuah aljabar Lie yang disebut aljabar observabel klasik. Kurung Poisson ini di antaranya berperan dalam penggambaran perkembangan suatu
besaran fisis seiring dengan berjalanya waktu. Perkalian kurung Poisson
ini memenuhi tiga syarat untuk disebut sebagai perkalian Lie, yakni antisimetri, linier pada kedua faktor dan memenuhi identitas Jacobi.
Di lain pihak, tidak seperti kurung Poisson pada mekanika klasik, komutator bukan merupakan perkalian jika ia dibatasi hanya pada himpunan

150

BAB 7. PENGKUANTUMAN

yang beranggotakan seluruh operator yang Hermitean, sebab dapat dibuktikan dengan mudah bahwa komutator dari dua operator yang Hermitean
merupakan operator yang antihermitean :
1,
2 ] = [
1,
2 ].
[

(7.1)

Walaupun demikian, komutator tetap saja memiliki tiga sifat perkalian


Lie, yakni : antisimetri, linier pada kedua faktor dan memenuhi identitas
Jacobi. Dalam mekanika kuantum komutator memainkan berbagai peran
yang sangat penting di antaranya sebagaimana yang baru saja di bahas
pada bab 5, yaitu dalam menentukan kelakuan nilai harap tehadap waktu. Jadi, kurung Poisson dan kommutator dalam dinamika memainkan
peran yang boleh dikatakan setara. Oleh karenanya, sebagai pemetaan
pengkuantuman harus memberi respek kepada kurung Poisson dan komutator. Dengan kata lain, kedua hal tersebut harus mendapatkan tempat
khusus dalam pengkuantuman. Sejenak kita cermati kuotasi dari [Dir]2
halaman 87 sebagai berikut
The problem of finding quantum condition now reduces to
the problem of determining P.B.s in quantum mechanics.
The strong analogy between the quantum P.B.
. . . and the classical P.B. . . .
leads us to make the assumption that the quantum P.B.s,
or at any rate the simpler ones of them, have the same values
as the corresponding classical P.B.s.

Dari kuotasi di atas tampak jelas bahwa komutator diharapkan mampu berperan sebagai kurung Poisson dalam mekanika kuantum. Dalam
definisi berikut ini relasi istimewa antara kurung Poisson dan komutator
mendapatkan tempat tersendiri sebagai salah satu aksioma.
Andaikan M ruang fase klasik dan H suatu ruang Hilbert. Seperti sebelumnya, aljabar observable klasik hendak ditulis sebagai C (M, R) dan
aljabar observabel kuantum hendak ditulis sebagai SA(H). Untuk memudahkan pembicaraan kita anggap saja bahwa M = R2n . Pengkuantuman
kanonis atau masalah Dirac adalah pemetaan
: C (M, R) SA(H)
: f 7 f
2

P.B. dalam kuotasi ini kepanjangan dari Poisson Bracket = kurung Poisson.

(7.2)

7.1. PENGKUANTUMAN GEOMETRIK

151

dari himpunan semua observabel klasik ke himpunan semua operator yang


self-adjoint pada ruang Hilbert H sedemikian rupa sehingga semua syarat
berikut ini terpenuhi
Q1 f[
+ g = f + g, untuk setiap f, g C (M, R),
dengan I operator identitas di H,
Q2 untuk setiap c R, berlaku c = cI,
c = f, untuk setiap f C (M, R) dan R,
Q3 f
dg}KP = [f, g],
Q4 untuk setiap f, g C (M, R), berlaku i~{f,
Q5 operator-operator q1 , , qn , p1 , , pn , yang berpadanan dengan koordinat kanonis q1 , , qn , p1 , , pn , bersifat lengkap dalam artian
bahwa setiap operator yang komutatif dengan setiap operator dalam
dengan sembarisan q1 , , qn , p1 , , pn dapat ditulis sebagai I,
barang bilangan.
Tetapan Planck tereduksi ~ dicantumkan agar didapatkan suatu kepantasan, sedangkan bilangan imajiner i pada syarat Q4 merupakan keniscayaan karena, di satu sisi, komutator antara dua operator Hermitean
adalah operator antihermitean, sedangkan, di pihak lain, padanan bagi
setiap observabel klasik haruslah suatu operator yang Hermitean. Syarat
Q5 semakna dengan irreducibility : semua operator q1 , , qn , p1 , , pn
tidak membiarkan satupun subruang Hilbert invarian kecuali {0} dan H.
Artinya, tak ada subruang K selain {0} dan H yang memiliki sifat berikut
ini : jika K, maka qi K dan pi K. Syarat Q5 ini bertalian
dengan peran himpunan {q1 , , qn , p1 , , pn } sebagai himpunan lengkap
observabel klasik sebagaimana yang telah disinggung pada subbagian 3.2.1.

Contoh :
Ditinjau suatu sistem fisis yang hidup dalam ruang satu dimensi. Ruang
fase klasik untuk sistem semacam itu adalah R2 . Andaikan (q, p) koordinat
kanonis pada ruang fase klasik tersebut. Bila sebagai ruang Hilbert diambil ruang L2 (R2 ) yang beranggotakan semua fungsi kompleks yang square
integrable pada R2 , maka himpunan operator SA(L2 (R2 )) beranggotakan
semua operator diferensial yang Hermitean. Pemetaan
f 7 f

(7.3)

152

BAB 7. PENGKUANTUMAN

Gambar 7.1: P.A.M. Dirac (1902-1984), fisikawan kelahiran Bristol, Inggris.


Dialah yang mengusulkan prosedur pengkuantuman yang paling primitif, yakni
pengkuantuman kanonis yang di kemudian hari lebih dikenal sebagai pengkuantuman Dirac. (Foto diambil dari situs www.-groups.dcs.st-and.ac.uk.)
dari C (R2 , R) ke SA(L2 (R2 )) yang didefinisikan menurut


f
f
f

p
f = f i~
p q
q p
p

(7.4)

memenuhi Q1, Q2, Q3 dan Q4, tetapi tidak Q5. Hal ini dapat dibuktikan sebagai berikut : fungsi koordinat q dan momentum p oleh pemetaan
tersebut dijodohkan berturut-turut dengan operator

(7.5)

.
q

(7.6)

q = q + i~
dan
p = i~

Syarat Q5 gagal dipenuhi oleh pemetaan tersebut karena operator

A :=
p

(7.7)

:= + i p
B
q ~

(7.8)

dan operator


7.2. WAKILAN SCHRODINGER

153

keduanya komutatif dengan operator q dan p pada pers.(7.5) dan pers.(7.6).


Secara matematis telah dibuktikan oleh Groenewold [Gr] dan van Hove
[vHov] bahwa tidak ada pemetaan yang dapat memenuhi kelima syarat
di atas sekaligus. Yang dapat dilakukan adalah memperkecil atau mempersempit domain dari pemetaan . Akan tetapi hal ini sama artinya
dengan membuang sebagian anggota dari C (M, R). Malangnya, agar semua persyaratan di atas dipenuhi, pemetaan harus dibatasi pada domain
yang cukup sempit sehingga secara umum fungsi Hamilton yang merupakan
wakilan bagi besaran fisis tenaga total sistem tidak termasuk dalam domain
tersebut. Hal ini tentu saja merupakan masalah besar karena erat terkait
dengan masalah dinamika sistem. Upaya untuk keluar dari masalah ini
telah banyak ditawarkan walaupun semuanya memiliki keterbatasan dalam
penerapannya. Dalam [Ros1] diusulkan untuk melengkapi dinamika melalui
mekanisme yang telah ada pada pengkuantuman Borel. Sedangkan pada
[Bla] dinamika diturunkan dengan menerapkan apa yang disebut transformasi BKS (Blattner-Kostant-Sternberg). Untuk kasus yang akan kita
tinjau, yakni sistem fisis yang berada pada ruang fase klasik R2n kedua
pendekatan itu memberikan hasil yang sama.

7.2
7.2.1

Wakilan Schr
odinger
Wakilan posisi

Ditinjau sistem fisis dengan ruang fase klasik R2n yang dikoordinasi dengan
koordinat kanonis (q1 , , qn , p1 , , pn ). Sebagai ruang Hilbert diambil
ruang L2 (Rnq ) yang beranggotakan seluruh fungsi bernilai kompleks yang
square integrable pada ruang posisi Rn disertai dengan produk skalar
Z +
Z +
(, ) =

(q1 , , qn )(q1 , , qn )dq1 dq2 dqn , (7.9)

untuk setiap , L2 (Rnq ). Selanjutnya himpunan Q didefinisikan sebagai himpunan bagian dari aljabar klasik C (R2n , R) yang hanya memuat
fungsi-fungsi yang berbentuk
n
X
i=1

i0 (q1 , , qn )pi + 0 (q1 , , qn ).

(7.10)

154

BAB 7. PENGKUANTUMAN

Dalam kaitan ini, setiap fungsi anggota Q disebut fungsi yang quantizable
(dapat dikuantumkan). Jadi, jika f terkuantumkan, maka terdapat n buah
fungsi i , (i = 1, 2, , n), dan yang kesemuanya tergantung pada koordinat q1 , , qn sedemikian rupa sehingga
f=

n
X

i pi + .

(7.11)

i=1

Maka dapat dibuktikan bahwa pemetaan f 7 f dari himpunan Q ke


himpunan SA(L2 (Rnq )) yang didefinisikan oleh

n
n
X
X


1
j
+
j
(7.12)
f = i~
2
qj
qj
j=1

j=1

memenuhi syarat Q1, Q2, Q3 dan Q4. Kumpulan observabel-observabel


q1 , , qn , p1 , , pn tentu saja merupakan anggota Q. Hasil pengkuantuman observabel-observabel itu adalah
qj = qj ,
dan
pj = i~

,
qj

j = 1, 2, , n

j = 1, 2, , n.

(7.13)

(7.14)

Menurut teorema Stone dan von Neumann [vNeu, Sto] operator-operator


q1 , qn , p1 , , pn sebagaimana diberikan oleh pers.(7.13) dan pers.(7.14)
membentuk himpunan yang lengkap. Jadi, syarat Q5 pun terpenuhi.
Contoh :
Bila n = 3 dan q1 = x, q2 = y dan q3 = z, maka p1 = px , p2 = py dan p3 =
pz . Operator yang mewakili momentum radial pr := r p dapat dihitung
dari pers.(7.12) sebagai berikut. Momentum radial pr dapat dituliskan
sebagai
x
y
z
pr = px + p y + p z .
(7.15)
r
r
r
Oleh karena itu = 0, 1 = x/r, 2 = y/r dan 3 = z/r. Dengan menggunakan kalkulus biasa diperoleh
x
1 x2
= 3,
x r
r
r

y
1 y2
= 3,
y r
r
r

z
1 z2
= 3.
z r
r r

(7.16)


7.2. WAKILAN SCHRODINGER

155

Jadi, pr diberikan oleh



pr = i~




1 r
1

.
+ 5 = i~
+
r r
r r

(7.17)

Hal ini bersesuaian dengan apa yang akan kita temukan nanti pada bagianbagian mendatang.

7.2.2

Wakilan momentum

Sekarang sebagai ruang Hilbert hendak diambil ruang L2 (Rnp ) yang beranggotakan seluruh fungsi bernilai kompleks yang square integrable pada ruang
momentum Rn disertai dengan produk skalar
Z +
Z +
)
(p1 , , pn )(p
1 , , pn )dp1 dp2 dpn , (7.18)

(,
=

L2 (Rn ). Selanjutnya himpunan P didefinisikan sebauntuk setiap ,


p
gai himpunan bagian dari aljabar klasik C (R2n , R) yang hanya memuat
fungsi-fungsi yang berbentuk
n
X

0i (p1 , , pn )qi + 0 (p1 , , pn ).

(7.19)

i=1

Setiap fungsi anggota P disebut fungsi yang quantizable. Jadi, jika f


terkuantumkan, maka terdapat n buah fungsi i , (i = 1, 2, , n), dan
yang kesemuanya tergantung pada koordinat p1 , , pn sedemikian rupa
sehingga
n
X
f=
i qi + .
(7.20)
i=1

Maka dapat dibuktikan bahwa pemetaan f 7 f dari himpunan P ke


himpunan SA(L2 (Rnp )) yang didefinisikan oleh

n
n
X
X

f = + i~
+
j
2
pj
pj
j=1

(7.21)

j=1

memenuhi syarat Q1, Q2, Q3 dan Q4. Fungsi-fungsi q1 , , qn , p1 , , pn


termasuk fungsi-fungsi yang terkuantumkan. Observabel-observabel klasik

156

BAB 7. PENGKUANTUMAN

itu dijodohkan dengan operator-operator


qj = i~

,
pj

j = 1, 2, , n

(7.22)

dan
pj = pj ,

j = 1, 2, , n.

(7.23)

Sekali lagi, berdasarkan teorema Stone-von Neumann, himpunan yang beranggotakan operator-operator q1 , qn , p1 , , pn seperti yang diberikan
oleh pers.(7.22) dan pers.(7.23) merupakan himpunan yang lengkap. Jadi,
syarat Q5 pun terpenuhi.

7.2.3

Dinamika

Ditinjau sebuah sistem fisis dalam ruang fase klasik R6 dengan koordinat
kanonis (x, y, z, px , py , pz ). Andaikan di dalam ruang posisi R3r hadir potensial V (x, y, z). Baik dengan menggunakan transformasi BKS maupun dengan mekanisme pengkuantuman Borel diperoleh bahwa dinamika kuantum
bagi sistem fisis tersebut diatur oleh persamaan Schrodinger
i~

p2x + p2y + p2z


(t)
=
(t) + V (t),
t
2

(7.24)

dengan massa sistem yang ditinjau. Jadi, operator yang mewakili fungsi
Hamilton H diberikan oleh
=
H

p2x + p2y + p2z


+ V .
2

(7.25)

diberikan oleh
Dalam wakilan posisi H
2
= ~ 52 +V (x, y, z),
H
q
2

(7.26)

dengan
2
2
2
+
+
.
x2 y 2 y 2
Oleh karena itu persamaan Schrodinger di atas menjadi
52q =

i~

~2 2
(x, y, z, t) =
5q (x, y, z, t) + V (x, y, z)(x, y, z, t).
t
2

(7.27)

(7.28)

Pembahasan dinamika kuantum akan disajikan secara rinci dalam satu bab
tersendiri di belakang.

7.3. SOAL-SOAL

7.3

157

Soal-soal

1. Tunjukkanlah bahwa pemetaanyang diberikan oleh persamaan (7.4)


memenuhi syarat Q1, Q2, Q3 dan Q4!
2. Tunjukkanlah bahwa pemetaanyang diberikan baik oleh pers.(7.12)
maupun pers.(7.21) memenuhi syarat Q1, Q2, Q3 dan Q4!
3. Hitunglah operator yang mewakili Lx , Ly dan Lz dalam wakilan momentum!

158

BAB 7. PENGKUANTUMAN

Bab 8

WAKILAN SCHROEDINGER
LEBIH JAUH
Pada tahun 1926 E. Schrodinger mempublikasikan empat karya ilmiah secara berurutan yang masing-masing diberi judul Quantisierung als Eigenwertproblem. Di dalamnya, Schrodinger memperkenalkan apa yang dikenal
secara luas pada masa sesudahnya sebagai mekanika gelombang (Wellenmechanik). Dalam tinjauannya Schrodinger berangkat dari pandangan bahwa aras-aras tenaga elektron dalam suatu atom dapat diperlakukan sebagaimana fenomena gelombang tegak (standing wave)1 .
Istilah fungsi gelombang baru disebutkan oleh Schrodinger dalam artikel ke empat. Meskipun Schrodinger menafsirkan fungsi gelombang sebagai Gewichtsfunktion im Konfigurationsraum (fungsi bobot dalam ruang
konfigurasi) sedemikian rupa sehingga fungsi gelombang dapat dikaitkan
dengan pernik-pernik statistik, namun, sejatinya Schrodinger merupakan
penganut fanatis pandangan klasik yang lebih cenderung mengaitkan fungsi
gelombang dengan agihan (distribusi) massa ataupun muatan listrik dalam
ruang atau dengan besaran-besaran fisis yang lain semisal medan elektromagnetik.
Penafsiran statistik terhadap fungsi gelombang sebagai amplitudo peluang, yakni bahwa kuadrat nilai mutlak suatu fungsi gelombang pada suatu
titik dan pada suatu saat merupakan rapat peluang ditemukannya partikel
pada titik itu dan saat itu, berasal dari M. Born. Dalam artikel tahun 1926
1

Inilah mengapa kemudian teorinya disebut mekanika gelombang

159

160

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

dengan judul Quantenmechanik und Stovorg


ange yang dipublikasikan di
Zeitschrift f
ur Physik dia menulis2
Keine dieser Auffassungen scheint mir befriedigend.
Ich mochte versuchen, hier eine dritte Interpretation zu geben und
ihre Brauchbarkeit an den Stovorgangen zu erproben.
Dabai kn
upfe ich an eine Bemerkung Einsteins u
ber das Verhaltnis
von Wellenfeld und Lichtquanten an; er sagte etwa,
da Wellen nur dazu da seien, um den korpuskularen Lichquanten
den Weg zu weisen, und er sprach in diesem Sinne von
einem Gespensterfeld. Dieses bestimmt die Wahrscheintlichkeit daf
ur,
da ein Lichquant, der Trager von Energie und Impuls
einen bestimmten Weg einschlagt; dem Felde selbst aber gehort keine
Energie und kein Impuls zu. . . .
Die Bahnen dieser Korpuskeln sind nur so weit bestimmt,
als Energie und Impulssatz sie einschranken;
im u
brigen wird f
ur das Einschlagen einer Bahn nur
eine Wahrscheinlichkeit durch di Werteverteilung der Funktion bestimmt.
Man konnte das, etwas paradox, etwa so zusammenfassen :
Die Bewegung der Partikeln folgt Wahrscheinlichkeitsgesetzen,
die Wahrscheintlichkeit selbst aber breitet sich im
Einklang mit dem Kausalgesetzt aus.

Pemahaman Born akan peran fungsi gelombang sebagaimana yang disebutkan dalam kuotasi di atas sebagian besar sesuai dengan pemahaman
kita dewasa ini. Hanya saja, satu hal yang secara filosofis perlu mendapatkan kritikan adalah pandangan Born bahwa partikel-pertikel menentukan sendiri (walaupun dengan kebolehjadian) lintasan-lintasan yang hendak mereka tempuh. Perdebatan mengenai masalah ini bersama masalah2

Persepsi semacam ini bagi saya tidak memuaskan. Di sini, saya akan mencoba
memberikan penafsiran ketiga dan mengujinya pada peristiwa tumbukan. Oleh karena
itu saya bertolak dari catatan Einstein tentang perilaku medan gelombang dan kuantakuanta cahaya (foton, penulis); dia kurang lebih mengatakan bahwa gelombang ada
hanya untuk menunjukkan jalan bagi kuanta-kuanta cahaya dan dia dalam kaitan ini
berbicara tentang suatu medan roh halus. Medan ini menentukan peluang bahwa suatu kuanta cahaya, yang merupakan pembawa tenaga dan momentum, menempuh jalan
tertentu; tetapi medan itu sendiri tidak memiliki tenaga dan momentum. . . . Lintasanlintasan kuanta-kuanta cahaya (foton-foton) paling jauh hanya dapat ditentukan, sebab
tenaga dan momentum dibatasi oleh mereka. Selain itu, peluang bagi suatu lintasan
yang akan ditempuh ditentukan oleh agihan nilai fungsi . Orang dapat menyimpulkan
semacam paradoks kira-kira sebagai berikut : Gerakan dari partikel-partikel itu tunduk
pada hukum probabilitas, sedangkan peluang (probabilitas) itu sendiri menyebar sesuai
dengan hukum kausalitas.

161
masalah filosofis yang lain telah menghiasi pertemuan-pertemuan ilmiah
dan menguras perhatian para fisikawan dalam kurun waktu yang cukup
panjang. Perdebatan ini (yang dikenal sebagai debat Bohr-Einstein) sebenarnya merupakan cerminan perbenturan antara paham idealisme (N. Bohr
dkk.) melawan paham realisme (A. Einstein dkk.)
Mekanika gelombang secara historis merupakan prototipe awal mekanika
kuantum. Akan tetapi, bila orang berangkat dari prinsip-prinsip mekanika
kuantum sebagaimana yang telah dibeberkan pada bab 4, maka mekanika
gelombang dapat dipandang sebagai suatu realisasi dari mekanika kuantum.
Realisasi ini di kemudian hari lebih dikenal sebagai mekanika kuantum
dalam wakilan atau gambaran Schrodinger.

Gambar 8.1: Max Born (1882-1970), fisikawan Jerman. Dialah yang memiliki
andil paling besar dalam perkembangan penafsiran terhadap fungsi gelombang.
Penafsirannya terhadap fungsi gelombang sebagai amplitudo peluang telah membelokkan gagasan awal bahwa fungsi gelombang merupakan usikan suatu besaran
fisis yang dirambatkan sebagaimana gelombang elektromagnetik. (Foto diambil
dari situs www.-groups.dcs.st-and.ac.uk.)

Dalam bab ini akan dibahas lebih rinci lagi mekanika kuantum dalam
wakilan Schrodinger. Pembicaraan dibatasi pada lingkup sistem-sistem fisis
dengan ruang konfigurasi R3 , yakni ruang riil tiga dimensi dengan struktur
Euclid. Oleh karena itu, sebagaimana yang telah diungkapkan sebelumnya
(pada akhir bab 7), ruang Hilbert untuk wakilan ini adalah L2 (R3 ) yang

162

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

beranggotakan semua fungsi terukur3 bernilai kompleks yang square integrable. Telah pula disebutkan bahwa dalam kategori wakilan Schrodinger
paling tidak terdapat dua macam wakilan yang setara, yakni wakilan posisi
dan wakilan momentum. Dalam bab ini pembahasan dititikberatkan pada
wakilan koordinat. Wakilan momentum dan interelasinya dengan wakilan
posisi dibahas seperlunya. Akan ditunjukkan pula bahwa mekanika kuantum wakilan Schrodinger merupakan suatu realisasi dari prinsip-prinsip
mekanika kuantum yang telah kita sajikan pada bab 4.

8.1

Wakilan Posisi

Dalam wakilan ini, berbagai informasi tentang partikel tak berspin (terutama nilai-nilai besaran fisis yang terkait) secara probabilistik dikandung oleh
fungsi gelombang, yakni suatu fungsi bernilai kompleks (r, t) yang gayut
pada posisi dan waktu. Jadi, dalam wakilan ini keadaan sistem diwakili oleh fungsi gelombang. Fungsi (r, t) disebut pula sebagai amplitudo
peluang. Sebutan ini mudah dipahami mengingat nilai
(r, t) := |(r, t)|2

(8.1)

merupakan rapat peluang didapatinya partikel di titik r pada saat t. Oleh


karena itu,
(r, t)dxdydz := |(r, t)|2 dxdydz
(8.2)
merupakan peluang didapatinya partikel di wilayah yang dibatasi oleh kotak dengan sisi-sisi dx, dy dan dz di sekitar titik r pada saat t. Pemahaman
semacam ini menuntut berlakunya4
Z
Z
(r, t)dxdydz =
|(r, t)|2 dxdydz = 1,
(8.3)
SR

SR

yakni bahwa peluang mendapati partikel di seluruh ruang nilainya 100%.


Hal ini menunjukkan bahwa suatu fungsi gelombang haruslah fungsi yang
square integrable. Suatu fungsi 0 (r, t) dikatakan square integrable jika
memenuhi
Z
|0 (r, t)|2 dxdydz < .
(8.4)
SR
3

secara Lebesgue
Dalam hal ini SR adalah singkatan dari Seluruh Ruang, maksudnya, integrasi
dilakukan meliputi seluruh ruang.
4

8.1. WAKILAN POSISI

163

Jika 0 square integrable, maka 0 dapat dikalikan dengan suatu tetapan


N sehingga
Z
|N 0 (r, t)|2 dxdydz = 1.
(8.5)
SR

Tetapan N ini diberikan oleh


Z
N=

|0 (r, t)|dxdydz

1/2
.

(8.6)

SR

Fungsi gelombang N 0 (r, t) yang dinormalkan semacam ini mewakili


keadaan yang sama dengan fungsi gelombang 0 . Selain harus square integrable, suatu fungsi gelombang haruslah merupakan fungsi yang kontinyu.
Fungsi yang memenuhi kedua syarat itu dinamakan fungsi yang santun.
Dengan persyaratan semacam ini, setiap fungsi gelombang santun (r, t)
untuk setiap nilai t merupakan anggota ruang Hilbert L2 (R3 ). Oleh karena itu, ketergantungan fungsi gelombang terhadap waktu menggambarkan
lintasan partikel (sistem fisis) tersebut dalam ruang Hilbert L2 (R3 ) sebagai
ruang fase bagi sistem fisis yang ditinjau. Lintasan tersebut merupakan
kurva yang berparameterkan t dalam ruang Hilbert L2 (R3 ). Pemetaan
t 7 (..., t) menggambarkan dinamika kuantum partikel tersebut. Lintasan partikel itu merupakan penyelesaian persamaan Schrodinger
i~

~2 2
(r, t) =
5r (r, t) + V (r)(r, t),
t
2

(8.7)

dengan
52r =

2
2
2
+
+
.
x2 y 2 y 2

(8.8)

Suatu keadaan yang diwakili oleh fungsi gelombang (r, t) dinamakan


keadaan stasioner jika rapat peluang yang dihasilkannya tidak tergantung waktu, yakni = ||2 6= (t).
Bahwa sembarang fungsi gelombang (r, t) merupakan anggota ruang
Hilbert L2 (R3r ) mengandung konsekuensi bahwa setiap kombinasi linier
a1 1 (r, t) + a2 2 (r, t),

(8.9)

untuk sembarang dua skalar kompleks a1 , a2 dan sembarang dua fungsi


gelombang santun 1 , 2 , juga merupakan fungsi gelombang santun yang
mewakili keadaan kuantum dari sistem fisis yang ditinjau.

164

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

Selanjutnya hendak ditunjukkan bahwa jika fungsi gelombang santun


(r, t) merupakan penyelesaian persamaan Schrodinger, maka sifat
Z
|(r, t)|2 dxdydz = 1,
(8.10)
SR

berlaku setiap saat bilamana sifat itu berlaku pada saat awal, yakni berlaku
untuk (r, 0). Bila ruas kiri persamaan (8.10) diturunkan terhadap waktu,
maka didapat

Z
Z 
d
(r, t)
(r, t)
2

|(r, t)| dxdydz =


dxdydz,
(r, t) + (r, t)
dt SR
t
t
SR
(8.11)
Bila (r, t) penyelesaian persamaan Schrodinger, maka faktor yang ada
dalam kurung siku ruas kanan persamaan terakhir ini dapat dituliskan
sebagai

+
t
t

=
=


i~  2
5r 52r
2
i~
5r [ 5r 5r ] .
2

(8.12)

Oleh karenanya, pers.(8.11) dengan bantuan teorema Gauss berubah menjadi


Z
Z
d
i~
2
|(r, t)| dxdydz =
5r [ 5r 5r ] dxdydz
dt SR
2 SR
I
i~
=
[ 5r 5r ] dA, (8.13)
2 A
dengan A adalah permukaan yang menyelubungi seluruh ruang dan dA
adalah unsur luasan. Faktor 5r 5r lenyap, sebab (x, t)
lenyap di . Karenanya, didapatlah
Z
d
|(r, t)|2 dxdydz = 0,
(8.14)
dt SR
R
Ini menunjukkan bahwa SR |(r, t)|2 dxdydz merupakan tetapan. Jika pada saat t = 0 nilanya 1, maka pada sembarang waktu nilainya juga 1. Ini
membuktikan pernyataan di atas.
Ditinjau sembarang wilayah bervolume V yang diselubungi oleh permukaan tertutup A. Dengan jalan yang serupa dengan yang di atas, dapat

8.1. WAKILAN POSISI

165

ditunjukkan bahwa dalam wilayah bervolume V inipun berlaku


Z
Z

d
2
|(r, t)| dxdydz =
|(r, t)|2 dxdydz
dt V
V t


Z
~
= 5r
{ 5r 5r } dxdydz.
2i
V
(8.15)
Karena persamaan terakhir ini berlaku untuk sembarang wilayah yang yang
diselubungi oleh permukaan tertutup A, maka dapat disimpulkan bahwa



~
|(r, t)|2 + 5r
( 5r 5r ) = 0.
(8.16)
t
2i
Bila didefinisikan medan vektor
~J(r, t) := ~ ( 5r 5r ) ,
2i

(8.17)

maka persamaan (8.16) dapat dituliskan sebagai


(r, t)
+ 5r ~J(r, t) = 0.
t

(8.18)

Persamaan ini mengingatkan kita pada persamaan kontinyuitas yang kita


dapati dalam mekanika fluida maupun dalam elektromagnetika. Oleh karena itu, persamaan di atas dapat ditafsirkan sebagaimana dalam mekanika
fluida maupun elektromagnetika. Medan vektor ~J(r, t) disebut rapat arus
peluang.

8.1.1

Operator dalam wakilan posisi

Tuliskan sebagai C (R3r , R) himpunan5 yang beranggotakan semua fungsi


bernilai riil yang dapat diturunkan terus-menerus pada ruang R3r . Berdasar
pada uraian yang telah disajikan pada bagian akhir bab 7, setiap observabel
(besaran fisis) klasik f (r, p) yang berbentuk
~ p + (r),
f (r, p) = x (r)px + y (r)py + z (r)pz + (r) := (r)

(8.19)

Jadi, jika h anggota C (R3r , R), maka h = h(r) = h(x, y, z) dan h dapat diturunkan
terus-menerus terhadap peubah x, y ataupun z tanpa batas.
5

166

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

dengan , x , y dan z masing-masing merupakan fungsi-fungsi anggota


C (R3r , R), merupakan observabel yang quantizable (dapat dikuantumkan).
~
Dalam wakilan posisi observable f (r, p) = (r)
p + (r) diwakili oleh
operator yang berbentuk

3
3
X
X
j
1

1
f = i~
+
= i~( 5 ~ + ~ 5), (8.20)
j
2
xj
xj
2
j=1

j=1

dengan x1 = x, x2 = y dan x3 = z serta 5 = 5r (untuk menyingkat


penulisan). Jadi, dalam wakilan posisi setiap operator diwakili oleh suatu
dikatakan
operator differensial. Dalam hal ini, suatu operator differensial
Hermitean bila memenuhi persamaan
Z
Z
0
0 (r)dxdydz =

(r)
[(r)]
(r)dxdydz
(8.21)
SR

SR

untuk setiap , 0 L2 (R3r ).


Akan dibuktikan bahwa, untuk setiap observable klasik f yang quantizable, operator f yang diberikan oleh pers.(8.20) merupakan operator Hermitean. Untuk setiap , 0 L2 (R3r ) berlaku
Z
Z
1
(r)f0 (r)dxdydz =
(r)[ i~( 5 ~ + ~ 5)]0 (r)dxdydz
2
SR
ZSR
=
(r)0 (r)dxdydz
SR
Z
1
~ 0 (r)dxdydz
i~
(r)[5 ]
2 SR
Z
i~
(r)~ 50 (r)dxdydz.
(8.22)
SR

Dapat ditunjukkan dengan mudah bahwa


~ 5[ (r)0 (r)] = [~ 5 (r)]0 (r) + (r)[~ 50 (r)].

(8.23)

Dengan demikian ruas suku ketiga ruas kanan pers.(8.22) dapat ditulis
menjadi
Z
Z
i~
(r)~ 50 (r)dxdydz = i~
~ 5[ (r)0 (r)]dxdydz +
SR
Z SR
i~
[~ 5 (r)]0 (r)dxdydz.(8.24)
SR

8.1. WAKILAN POSISI

167

Selanjutnya, dengan menggunakan identitas


~ = ~ 5[ (r)0 (r)] + (5 )(
~ (r)0 (r))
5 [ (r)0 (r)]

(8.25)

diperoleh
Z
Z

0
~
~
5 [ (r)0 (r)]dxdydz
(r) 5 (r)dxdydz = i~
i~
SR
SR
Z
~ 0 (r)dxdydz
(r)[5 ]
+i~
SR
Z
[~ 5 (r)]0 (r)dxdydz.
+i~
SR

(8.26)
Suku pertama ruas kanan persamaan terakhir ini lenyap berdasarkan teorema Gauss dan fakta bahwa 0 lenyap di . Bila pers.(8.26) disubtitusikan ke pers.(8.22), maka didapatkanlah
Z
Z

(r)f (r)dxdydz =
[(r)] 0 (r)dxdydz
SR
SR
Z
1
~ 0 (r)dxdydz
+i~
(r)[5 ]
2 SR
Z
+i~
[~ 5 (r)]0 (r)dxdydz. (8.27)
SR

Dengan sedikit aljabar persamaan terakhir dapat ditulis sebagai


Z
Z
(r)f0 (r)dxdydz =
[(r)] 0 (r)dxdydz
SR
SR
Z
i~
~ (r)0 (r)dxdydz
+
[[
5 ]]
2
ZSR
+
[(i~)~ 5(r)] 0 (r)dxdydz
SR
Z
=
[f(r)] 0 (r)dxdydz.
(8.28)
SR

Hal ini menunjukkan bahwa f merupakan operator hermitan di L2 (R3r ).


Bila f (r, p) = x, untuk setiap (r, p) R6 , maka operator f = x

diberikan oleh
x
= x.

(8.29)

168

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

Demikian pula jika f (r, p) = y, untuk setiap (r, p) R6 , maka operator


f = y diberikan oleh
y = y.

(8.30)

Serupa dengan yang di atas adalah


z = z.

(8.31)

Secara keseluruhan didapatkanlah operator


r := x
i + yj + zk = r

(8.32)

yang mewakili posisi r.


Dengan jalan yang serupa didapatkan bahwa operator yang mewakili
momentum linier p adalah



= i~ i
p
+j
+k
= i~ 5 .
(8.33)
x
y
z
di atas dapat
Selanjutnya, dengan ungkapan-ungkapan untuk r dan p
ditunjukkan bahwa [
x, px ] = [
y , py ] = [
z , pz ] = i~ dan [
x, py ] = [
x, pz ] =
= [
z , py ] = 0. Semua relasi tersebut juga dapat diperoleh secara langsung dari syarat Q4 pada definisi pengkuantuman sebagaimana yang telah
dijelaskan dalam bab pengkuantuman sebab {xi , pj } = ij .

8.1.2

Nilai harap Suatu Observabel

Andaikan partikel yang ditinjau berada pada keadaan yang diwakili oleh
(r, t) pada saat t. Karena (r, t)dxdydz = |(r, t)|2 dxdydz merupakan
peluang didapatinya partikel di sekitar titik dengan posisi r pada saat t,
maka (r, t) tidak lain adalah fungsi kerapatan peluang X bagi variable
acak X(r) = r. Akibatnya nilai rerata pengukuran posisi partikel diberikan
oleh
Z
Z

<r>=
(r, t)r(r, t)dxdydz =
r|(r, t)|2 dxdydz. (8.34)
SR

SR

Berbagai observable klasik yang hanya gayut pada posisi r (merupakan


observabel yang dapat dikuantumkan) dapat dicari nilai reratanya. Bila

8.1. WAKILAN POSISI

169

(r) observabel klasik tersebut, maka tentulah terdapat operator yang Her yang merupakan fungsi dari operator r, yakni (r). Berdasarkan
mitean
teori probabilitas (lihat misalnya di [PaPi]) nilai rerata observabel oleh
karena itu diberikan oleh
Z
Z
r)(r, t)dxdydz.
<> =
(r)|(r, t)|2 dxdydz =
(r, t)(
SR

SR

(8.35)
Untuk tiga observable x (r), y (r) dan z (r) yang membentuk medan
~
~
vektor (r)
= x (r)i + y (r)j + z (r)k, nilai rerata observable vektor
diberikan oleh
Z
Z
2
~

y (r)|(r, t)|2 dxdydz


<> = i
x (r)|(r, t)| dxdydz + j

SR
SR
Z
z (r)|(r, t)|2 dxdydz.
+k

(8.36)
SR

Perilaku < > terhadap waktu dapat dilihat dengan menurunkan ungkapan (8.35) terhadap t, sehingga diperoleh
Z
d

<> =
(r)
|(r, t)|2 dxdydz
dt
t
SR
Z
dxdydz
=
(r)
t
SR
Z

=
(r)
5 ~J dxdydz
ZSR
Z
=
5 [(r)~J] dxdydz +
[5(r)] ~J dxdydz
SR
SR
Z
=
[5(r)] ~J dxdydz,
(8.37)
SR

yakni karena 5[(r)~J] meluruh menuju nol cukup cepat di . Oleh karena
~
itu untuk observable vektor (r)
berlaku
Z
Z
d
~ > = i
<
[5x (r)] ~J dxdydz + j
[5y (r)] ~J dxdydz
dt
SR
SR
Z
+k
[5z (r)] ~J dxdydz.
(8.38)
SR

~
Khususnya, jika (r)
= r, maka
d
<r>=
dt

Z
SR

~J dxdydz.

(8.39)

170

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

Dengan bantuan ungkapan (8.17), diperoleh


Z
d
~
( 5 5 ) dxdydz
<r> =
dt
2i SR


Z
1
~

=
5 dxdydz
SR
i

(8.40)

atau
d
<r>=
dt

SR


~
5 dxdydz.
i

(8.41)

Ruas kiri pers.(8.41) secara klasik merupakan momentum partikel. Padahal


nilai rerata dipahami sebagai nilai hasil pengukuran klasik dan memenuhi
kaitan klasik. Oleh karena itu ruas kiri pers.(8.41) merupakan nilai rerata
momentum linier. Jadi, didapatlah nilai rerata pengukuran momentum
linier sebagai
Z
(r, t)
p(r, t)dxdydz.
(8.42)
<p>=
SR

Dapat ditunjukkan (lihat soal-soal di akhir bab ini!) bahwa laju perubahan
nilai rerata momentum memenuhi kaitan Ehrenfest
Z
d
<p> =
(r, t) 5 V (r, t)dxdydz = < 5V > = < F >,
dt
SR
(8.43)
dengan V adalah tenaga potensial yang mempengaruhi partikel melalui
medan gaya konservatif F. Dalam hal ini diharapkan pula berlakunya
hukum kelestarian rerata tenaga total
Z
< H > = < T > + < V >= < T > +
(r, t)V (r)(r, t)dxdydz.
SR

(8.44)
Akan tetapi kita belum mengetahui cara mengungkapkan rerata < H >
dan < T > dengan fungsi gelombang. Dari pers.(8.7) didapatkan
Z
Z

~2 2

(r, t)i~ (r, t)dxdydz =


(r, t)
5 (r, t)dxdydz
t
2
SR
SR
Z
+
(r, t)V (r)(r, t)dxdydz,
SR

(8.45)

8.1. WAKILAN POSISI

171

Dapat ditunjukkan bahwa kedua ruas persamaan terakhir ini tidak gayut
pada waktu. Oleh karena itu suku pertama ruas kanan dapat diidentikkan
dengan rerata tenaga kinetik < T >. Jadi,
Z
<T >

=
ZSR
=

(r, t)

~2 2
5 (r, t)dxdydz
2

(r, t)T(r, t)dxdydz,

(8.46)

SR

dengan T =

~2 2
2 5r .

Secara umum bila (r, p) observabel klasik yang diwakili oleh operator
maka nilai rerata pengukuran observabel terhadap sistem
differensial ,
fisis yang berada dalam keadaan diberikan oleh
Z

<>=
(r, t)(r,
t)dxdydz = ((t)|(t)).
(8.47)
SR

8.1.3

Pemisahan Variabel Ruang dan Waktu

Seperti telah dimaklumi, baik dalam mekanika klasik maupun mekanika


kuantum, suatu sistem fisis dicirikan berturut-turut oleh fungsi maupun
operator Hamiltonannya. Hamiltonan suatu sistem fisis baik klasik maupun
kuantum merupakan jumlahan dua suku yang terkait dengan tenaga kinetik
dan tenaga potensial. Bagian potensial mencerminkan adanya medan gaya
konservatif yang mempengaruhi sistem fisis yang ditinjau. Secara klasik
fungsi Hamiltonan H bagi suatu partikel yang berada dalam pengaruh
potensial V (r) dapat ditulis sebagai
H(p, r, t) = T (p, r) + V (r, t).

(8.48)

Suku kinetik T ditentukan menurut T = p2 /(2), dengan massa partikel tersebut. Oleh karena itu Hamiltonan sistem di atas dapat dituliskan
sebagai
p2
H(p, r, t) =
+ V (r, t).
(8.49)
2
Sedang, secara kuantum operator Hamiltonan diberikan oleh
= T + V ,
H

(8.50)

172

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

yang dalam wakilan posisi diberikan oleh (lihat kembali subbagian 7.2.3)
2
= ~ 52 +V (x, y, z, t).
H
r
2

(8.51)

Dari persamaan (8.49) maupun (8.51) terlihat bahwa ciri khas suatu sistem
fisis lebih ditentukan oleh bentuk suku potensialnya sebab suku kinetik suatu Hamiltonan merupakan bentuk baku yang tetap bentuknya dari satu
sistem ke sistem fisis yang lain (selagi masih dalam tinjauan nonrelativistik).
Ditinjau persamaan Schrodinger
i~

(r, t)

= H(r,
t).
t

(8.52)

tidak gayut pada waktu t (yakni bahwa tenaga


Bila operator Hamiltonan H
potensialnya bebas waktu), maka pemisahan peubah (r, t) = (r)(t)
bagi persamaan Schrodinger di atas menghasilkan
i~

1 d(t)
1
=
H(r).
(t) dt
(r)

(8.53)

Ruas kanan persamaan terakhir ini hanya gayut pada posisi sedangkan ruas
kirinya hanya gayut pada waktu. Oleh karena itu kedua ruas tentulah suatu
tetapan. Bila tetapan ini disebut E, maka diperolehlah sistem persamaan
differensial yang saling bebas (tidak terkopling) :
d(t)
= E(t)
dt

H(r)
= E(r).

i~

(8.54)
(8.55)

Penyelesaian bagi persamaan pertama, yakni pers.(8.54), diberikan oleh


(t) = K exp(iEt/~),

(8.56)

dengan K suatu tetapan. Bila didefinisikan sebagai = E/~, maka


(t) = K exp(it).

(8.57)

Oleh karena itu jawaban keseluruhan bagi persamaan Schrodinger di atas


adalah
(r, t) = (r) exp(it).
(8.58)

8.1. WAKILAN POSISI

173

Dalam persamaan terakhir ini tetapan K diatur sedemikian rupa sehingga


diserap ke dalam . Keadaan yang diwakili oleh fungsi gelombang (8.58)
merupakan keadaan stasioner. Akan tetapi tidak ada keharusan bahwa
keadaan stasioner muncul dalam bentuk semacam itu. Tetapi, sudahlah
bebas waktu, maka persamaan Schrodinger (8.52) memipasti bahwa jika H
liki penyelesaian yang stasioner.

Pers.(8.55) merupakan permasalahan swanilai operator Hamiltonan H.

Jawaban bagi persamaan ini tergantung dari bentuk Hamiltonan H. Sedan tergantung sistem kuantum yang dihadapi.
gkan bentuk Hamiltonan H

8.1.4

Pertikel bebas dalam koordinat kartesius

Demi mendapatkan gambaran yang agak kongkrit tentang apa yang telah
dijelaskan pada bagian-bagian yang lalu, hendak ditinjau suatu sistem fisis yang berupa sebuah zarah bebas bermassa yang hidup dalam ruang
konfigurasi tiga dimensi. Hamiltonan atau tenaga total zarah semacam itu
diberikan oleh
p2x + p2y + p2z
p2
H=
=
,
(8.59)
2
2
dengan p = px i + py j + pz k momentum linier zarah tersebut. Dalam koordinat kartesius wakilan posisi operator momentum linier diberikan oleh



= i~5 = i~ i
p
+j
+k
.
(8.60)
x
y
z
Oleh karenanya operator hamiltonan zarah bebas itu adalah


~ 2
2
2

p
=
H=p
+
+
.
2 x2 y 2 z 2

(8.61)

Jadi, untuk sistem fisis yang tersusun oleh sebuah zarah bebas kita memiliki
masalah swanilai


~ 2 2 2
+
+
= E,
(8.62)
2 x2
y 2
z 2
dengan = (x, y, z). Andaikan k suatu tetapan sedemikian rupa sehingga
E=

~2 k 2
.
2

(8.63)

174

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

Maka masalah swanilai pers.(8.62) dapat dituliskan sebagai


2 2 2
+
+
= k 2 .
x2
y 2
z 2

(8.64)

Selanjutnya, diandaikan bahwa (x, y, z) dapat dituliskan dengan pemisahan peubah menurut (x, y, z) = X(x)Y (y)Z(z). Bila ungkapan terakhir
ini disubtitusikan ke dalam pers.(8.64), maka didapatlah
1 d2 X
1 d2 Y
1 d2 Z
+
+
= k 2 .
X dx2
Y dy 2
Z dz 2
Persamaan terakhir ini semakna dengan persamaan berikut


1 d2 X
1 d2 Y
1 d2 Z
2

=k +
+
.
X dx2
Y dy 2
Z dz 2

(8.65)

(8.66)

Sementara ruas kiri persamaan terakhir ini hanya tergantung pada x, ruas
kanannya tergantung pada peubah y dan z. Oleh karena itu kedua ruas itu
tentu merupakan tetapan. Bila tetapan ini disebut kx2 , maka diperolehlah
dua persamaan
1 d2 X
= kx2
2
X
dx


1 d2 Z
1 d2 Y
2
+
= kx2 .
k +
Y dy 2
Z dz 2

(8.67)
(8.68)

Pers.(8.68), selanjutnya, dapat dituliskan sebagai


k 2 kx2 +

1 d2 Z
1 d2 Y
=
.
2
Z dz
Y dy 2

(8.69)

Ruas kiri persamaan terakhir ini gayut hanya pada z, sedangkan ruas kanan
gayut hanya pada y. Oleh karena itu kedua ruas tentulah merupakan suatu
tetapan yang hendak disebut sebagai ky2 . Jadi,
1 d2 Y
Y dy 2
1 d2 Z
k 2 kx2 +
Z dz 2

= ky2

(8.70)

= ky2 .

(8.71)

Pers.(8.71) akhirnya pun dapat dituliskan sebagai


k 2 kx2 ky2 =

1 d2 Z
.
Z dz 2

(8.72)

8.1. WAKILAN POSISI

175

Jika kz2 suatu tetapan yang didefinisikan oleh kz2 := k 2 kx2 ky2 , maka
didapatlah persamaan

1 d2 Z
= kz2 .
Z dz 2

(8.73)

Pers.(8.67) dapat dituliskan dalam bentuk


d2 X
+ kx2 X = 0.
dx2

(8.74)

Pers.(8.74) serupa dengan persamaan differensial untuk getaran selaras


klasik satu dimensi. Hanya saja peubah bebasnya bukan waktu, melainkan
koordinat x. Penyelesaiannya diberikan oleh
X(x) = A+ exp(ikx x) + A exp(ikx x),

(8.75)

dengan A tetapan-tetapan. Bagian X+ := A+ exp(ikx x) memiliki kaitan dengan gelombang yang merambat ke arah sumbu-x positif, sedangkan
X := A exp(ikx x) berkaitan dengan gelombang yang merambat ke arah
sumbu-x negatif. Dengan cara serupa diperoleh
Y (y) = B+ exp(iky y) + B exp(iky y)

(8.76)

Z(z) = C+ exp(ikz z) + C exp(ikz z).

(8.77)

Bila yang diperhatikan hanyalah gelombang yang merambat ke arah sumbux, sumbu-y dan sumbu-z positif, maka
(x, y, x) = X+ Y+ Z+ = A+ B+ C+ exp(ik r),

(8.78)

dengan k = kx i + ky j + kz k.
Karena ketergantungan pada k, maka selanjutnya fungsi gelombang
(x, y, z) hendak ditulis sebagai k (r), yakni
k (r) = N exp(ik r).

(8.79)

dengan
Fungsi gelombang k (r) merupakan swafungsi bagi operator H
2
2
swanilai Ek = ~ k /2. Fungsi k (r) juga merupakan swafungsi opera dengan swanilai pk = ~k. Perhatikanlah bahwa Ek hanyalah gayut
tor p
pada |pk | = pk (bukan pada pk sendiri). Oleh karena itu dua swanilai pk
berkaitan dengan swanilai tenaga Ek yang sama
dan pk0 dari operator p
bila |pk | = |pk0 |. Secara geometris himpunan semua swanilai dari operator

176

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

yang berkaitan dengan sebuah swanilai tenaga dapat disajikan sebagai


p
permukaan (kulit) sebuah bola yang berpusat di titik pangkal koordinat
dalam ruang momentum. Jadi, setiap swanilai tenaga merosot tak terhingga derajat.
Oleh karena itu jawaban pers.(8.52) dengan Hamiltonan pers.(8.59)
diberikan oleh
k (r, t) = N exp(ik r) exp(it) = N exp[i(k r t)],

(8.80)

dengan
k2
~.
(8.81)
2
Fungsi k (r, t) mewakili gelombang datar yang menjalar dengan laju v =
/k ke arah yang ditunjukkan oleh vektor k. Tetapan N ditentukan dengan
memberlakukan syarat
Z
0
0
|N |2 ei(k k)r dxdydz = (k0 k),
(8.82)
(k |k ) =
=

SR

(k0

dengan
k) adalah fungsi delta-Dirac. Syarat seperti ini menuntut
3/2
N = (2)
. Jadi,
k (r, t) = (2)3/2 exp[i(k r t)],

(8.83)

p
p
] = 0 maka {H,
} membentuk himpunan lengkap
Karena berlakunya [H,
beranggotakan obeservable-observable yang komutatif satu dengan yang
lain. Oleh sebab itu, setiap fungsi gelombang (r, t) bagi zarah bebas
dapat dituliskan sebagai kombinasi linear dari k (r), yakni
Z

(r, t) =
(k,
t)k (r)dkx dky dkz
(8.84)
SR
Z

= (2)3/2
(k,
t) exp[ik r]dkx dky dkz .
SR

Dari analisa Fourier, koefisien (k,


t) diberikan oleh
Z

(k,
t) = (2)3/2
(r, t) exp[ik r]dxdydz.

(8.85)

SR

Fungsi (k,
t) dalam pers.(8.85) tentu dapat pula dipandang sebagai produk skalar

(k,
t) = (k |(t)),
(8.86)
karena {k |k R3p } merupakan himpunan ortonormal lengkap (eksternal).

8.2. MEKANIKA GELOMBANG DAN MEKANIKA KUANTUM

8.2

177

Mekanika Gelombang Dan Mekanika Kuantum

Dalam bagian ini akan diketengahkan bagaimana mekanika gelombang yang


baru saja diuraikan dapat dipahami dari prinsip-prinsip mekanika kuantum.
Untuk itu akan ditunjukkan bahwa mekanika gelombang dapat dideduksi
dari prinsip-prinsip mekanika kuantum dengan bersandarkan pada suatu
asumsi. Asumsi yang dimaksud adalah adanya basis eksternal dalam ruang
Hilbert L2 (R3 ) yang merupakan swafungsi bagi operator posisi maupun
momentum linier.
Andaikan {%r0 |r0 R3r } suatu basis kontinyu ortonormal bagi ruang
Hilbert L2 (R3r ) sedemikian rupa sehingga, untuk setiap r0 R3r , fungsi %r0
merupakan swafungsi bagi operator posisi r dengan swanilai r0 , yakni
r%r0 (r) = r0 %r0 (r).

(8.87)

Dengan andaian semacam ini, maka setiap fungsi gelombang (r, t) dapat
dituliskan sebagai
Z
(r, t) =
r0 ,t %r0 (r)d3 r0 ,
(8.88)
SR

dengan d3 r0 = dx0 dy 0 dz 0 . Karena {%r0 |r0 R3r } diasumsikan sebagai basis


kontinyu yang ortonormal, maka haruslah berlaku (%r |%r0 ) = (r r0 ).
Dapat ditunjukkan bahwa jika %r0 (r) = (r r0 ), maka syarat ortogonalitas
di atas dan sekaligus pula pers.(8.87) dipenuhi sebab dalam wakilan posisi
r%r0 (r) = r%r0 (r) = r(r r0 ) = r0 (r r0 ) = r0 %r0 (r)

(8.89)

Andaikan bahwa untuk setiap r0 R3 fungsi %r0 memang berbentuk fungsi


delta Dirac. Maka setiap fungsi gelombang (r, t) dapat dituliskan sebagai
Z
Z
0
0 3 0
(r, t) =
(r , t)(r r )d r =
(r0 , t)%r0 (r)d3 r0 (8.90)
SR

SR

Bila persamaan terakhir ini dibandingkan dengan pers.(8.88), maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa fungsi gelombang tidak lain merupakan
koefisien kombinasi linier relatif terhadap basis eksternal {%r0 |r0 R3r } yang
tersusun atas swafungsi-swafungsi operator posisi, yakni bahwa
(r, t) = r,t = (%r |(t)).

(8.91)

178

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

Oleh karena itu, berdasarkan prinsip penguraian spektral, P((t), r) =


|(%r |(t))|2 d3 r = |(r, t)|2 d3 r merupakan peluang mendapatkan hasil ukur
posisi partikel di sekitar titik r bila partikel berada dalam keadaan yang
diwakili oleh fungsi gelombang (r, t). Hal ini tentu sejalan dengan penafsiran Max Born sebagaimana yang telah kita paparkan di muka.
Telah disebutkan bahwa momentum linier dalam wakilan posisi diwakili
oleh operator differensial 6
= i~ 5r .
p
Telah pula dikatakan bahwa swafungsi-swafungsi operator Hamiltonan untuk partikel bebas, yakni fungsi-fungsi yang berbentuk
k (r, t) = (2)3/2 exp[i(k r t)],
juga merupakan swafungsi-swafungsi bagi momentum linier dengan swanilai
p = ~k. Oleh karena itu seterusnya fungsi-fungsi tersebut hendak ditulis
saja sebagai
p (r, t) = (2~)3/2 exp[i(p r Et)/~],
(8.92)
dengan E = ~. Tetapi seperti yang telah dilakukan sebelumnya, hendak
dipakai versi stasioner
p = (2~)3/2 exp[ip r/~].

(8.93)

p (r) = pp (r),
p

(8.94)

Sekarang berlaku
untuk setiap p R3p . Oleh karena itu, persamaan (8.84) dapat ditulis
menjadi
Z

(r, t) =
(p,
t)p (r)d3 p
SR
Z
3/2

= (2~)
(p,
t) exp[ip r/~]d3 p,
(8.95)
SR

dengan

(p,
t) = (p |(t)) = (2~)3/2

(r, t) exp[ip r/~]d3 r.

(8.96)

SR
6
Subskrib r dan p muncul agar tidak ada kerancuan antara yang berada pada ruang
konfigurasi dan ruang momentum. Ruang momentum R3p adalah ruang Euclid tiga dimensi yang dikoordinasi dengan (px , py , pz ) untuk membedakan dari ruang konfigurasi
R3r yang dikoordinasi dengan (x, y, z).

8.2. MEKANIKA GELOMBANG DAN MEKANIKA KUANTUM

179

Berdasarkan prinsip penguraian spektral, P((t), p) = |(p |(t))|2 d3 p =

|(p,
t)|2 d3 p merupakan nilai peluang mendapatkan hasil ukur momentum
di sekitar p bila partikel berada dalam keadaan yang diwakili oleh fungsi

gelombang (r, t). Jadi, fungsi (p,


t) merupakan fungsi gelombang dalam
ruang momentum.

8.2.1

Wakilan Momentum

Persamaan (8.96) menunjukkan bagaimana cara berpindah dari wakilan


posisi ke wakilan momentum. Transformasi Fourier oleh karena itu merupakan jembatan yang menghubungkan wakilan posisi dan wakilan momentum. Maka dari itu, wakilan momentum berbagai objek (operator, fungsi
gelombang dll.) dapat didapatkan dengan bantuan transformasi Fourier.
Dari persamaan (8.92) didapat
Z
3/2

p0 (r) exp[ip r/~]d3 r


p0 (p) = (2~)
SR
Z
3
= (2~)
exp[i(p p0 ) r/~]d3 r
SR
0

= (p p ).

(8.97)

Inilah wakilan momentum swafungsi momentum linier.


Dari persamaan
(r, t) = i~ 5r (r, t),
p

(8.98)

untuk setiap fungsi gelombang (r, t), didapat


Z
1

mom (p, t) :=
p
(i~ 5r (r, t)) exp[ip r/~]d3 r
(2~)3/2 SR
Z
1
=
(i~) 5r ((r, t) exp[ip r/~])d3 r
(2~)3/2 SR
Z
1

(r, t)(i~ 5r exp[ip r/~])d3 r


(2~)3/2 SR
I
i~
=
(r, t) exp[ip r/~]dA
(2~)3/2 A
Z
1
+
(r, t)p exp[ip r/~]d3 r
3/2
(2~)
SR

= p(p, t),
(8.99)

180

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

dengan dA adalah unsur luasan di . Dalam perhitungan di atas telah


diterapkan asumsi bahwa lenyap di tak terhingga, sehingga suku pertama
ruas kanan lenyap pada akhirnya. Hasil perhitungan di atas menunjukkan
mom = p. Dengan jalan yang serupa
bahwa dalam wakilan momentum p
dapat ditunjukkan bahwa

rmom (p,
t) = i~ 5p (p,
t),

(8.100)

untuk setiap keadaan (p,


t), dengan
5p = i

+j
+k
.
px
py
pz

(8.101)

Besaran-besaran yang quantizable


Sebagaimana telah diungkapkan dalam bab sebelumnya, besaran-besaran
klasik yang dapat dikuantumkan dalam wakilan momentum secara umum
berbentuk
f (r, p) = $x (p)x + $y (p)y + $z (p)z + (p) := $(p)
~
r + (p), (8.102)
dengan , $x , $y dan $z masing-masing merupakan fungsi-fungsi anggota
~
r + (r) diwakili
C (R3p , R). Dalam wakilan ini observable f (r, p) = $(r)
oleh operator
1
fmom = + i~( 5p $
~ +$
~ 5p ).
(8.103)
2
Tidak setiap operator fmom dapat diperoleh melalui transformasi Fourier
mom (lihat soal-soal di
sebagaimana operator posisi rmom dan momentum p
akhir bab ini).
Nilai harap suatu besaran fisis
Berdasarkan prinsip penguraian spektral, nilai harap atau rerata penguku
ran momentum partikel yang berada dalam keadaan (t)
diberikan oleh
Z
Z

(p, t)

<p>=
p|(p,
t)|2 d3 p =

pmom (p,
t)d3 p.
(8.104)
SR

SR

Bila (p) besaran klasik yang tergantung hanya pada momentum linier
maka tentu saja besaran ini dapat dikuantumkan dalam wakilan momen mom = (p). Menurut teori probabilitas,
tum. Hasilnya adalah operator

8.3. SOAL-SOAL

181

rerata pengukuran besaran diberikan oleh


Z
Z

(p, t)
mom (p,

(p)|(p,
t)|2 d3 p =

t)d3 p. (8.105)
<>=
SR

SR

Sebagai contoh adalah tenaga kinetik T yang secara klasik diberikan oleh
ungkapan T = p2 /(2) = (pp)/(2), dengan massa zarah yang ditinjau.
Operator Tmom yang mewakili besaran ini memenuhi persamaan
pp

Tmom (p,
t) =
(p, t),
2

(8.106)

untuk setiap keadaan (p,


t). Rerata hasil pengukuran tenaga kinetik bila

partikel berada dalam keadaan (t)


diberikan oleh
Z
Z
pp
(p, t)Tmom (p,

|(p, t)|2 d3 p =

t)d3 p. (8.107)
<T >=
2
SR
SR
Dapat pula ditunjukkan bahwa rerata pengkukuran posisi diberikan oleh
Z
(p, t)rmom (p,

<r>=

t)d3 p.
(8.108)
SR

mom rerata
Secara umum untuk observabel O yang diwakili oleh operator O
pengukurannya diberikan oleh
Z
(p, t)O
mom (p,

mom (t)).

<O>=

t)d3 p = ((t)|
O
(8.109)
SR

8.3

Soal-soal

1. Buktikan teorema Ehrenfest berikut

dan

V
d
< px > = <
>=< Fx >,
dt
x

(8.110)

d
V
< py > = <
>=< Fy >,
dt
y

(8.111)

d
V
< pz > = <
>=< Fz > .
dt
z

(8.112)

2. Tunjukkan bahwa kedua ruas pers.(8.45) merupakan tetapan terhadap waktu!

182

BAB 8. WAKILAN SCHROEDINGER LEBIH JAUH

3. Tunjukkan bahwa tetapan (2~)3/2 dalam pers.(8.92) diperlukan


agar fungsi-fungsi p ortonormal!
4. Buktikan persamaan (8.100) sebagaimana yang telah dilakukan untuk
!
operator p
5. Mengapa tidak setiap operator mekanika kuantum dalam wakilan momentum dapat diperoleh melalui transformasi Fourier?
6. Tidak semua sistem fisis memiliki dinamika yang dapat disajikan sebagai persamaan Schrodinger dalam wakilan momentum. Mengapa?
Sebutkan sistem fisis yang dinamikanya dapat disajikan dalam persamaan Schrodinger dalam wakilan momentum!

Bab 9

SISTEM SISTEM FISIS


BERDIMENSI SATU
Insofern sich die Satze der Mathematik
auf die Wirklichkeit beziehen, sind sie nicht sicher,
und sofern sie sicher sind, beziehen sie sich nicht auf die Wirklichkeit1 .
(Albert Einstein)

Dalam bab ini akan dibahas sistem-sistem fisis yang hidup dalam ruang konfigurasi berdimensi satu dan memiliki suku potensial V yang bebas
waktu dan sederhana, dalam artian, masih dimungkinkan adanya penyelesaian secara analitik. Dengan pembatasan-pembatasan di atas, operator
hamiltonan diberikan oleh
2
2
= ~ + V (x).
H
2 x2

(9.1)

Sistem-sistem fisis yang hendak dibicarakan adalah partikel bebas, partikel


dalam sumur potensial (terhingga maupun tak terhingga), partikel dengan
tanggul potensial, getaran selaras, dlsb.
1

Jika teorema-teorema matematika terkait dengan realitas, maka teorema-teorema


itu tidak pasti, dan jikalau teorema-teorema itu pasti, maka teorema-teorema itu tidak
terkait dengan realitas.

183

184

9.1

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

Partikel Bebas

Dalam sistem fisis ini, partikel hidup dalam pengaruh potensial V (x) = 0
di mana-mana. Oleh karena itu
2
2
= ~ ,
H
2 x2

(9.2)

dengan massa partikel yang ditinjau. Persamaan Schrodinger untuk


masalah ini adalah

~2 2

(x, t) = i~ (x, t).


2
2 x
t

(9.3)

Bila dilakukan pemisahan variabel (x, t) = (x) (t), maka didapatkan


persamaan
1 d
~2 1 d 2
(x) = i~
(t).
(9.4)

2
2 (x) dx
(t) dt
Ruas kiri persamaan (9.4) gayut hanya pada variabel posisi x, sedang ruas
kanannya gayut hanya pada variabel waktu t. Oleh karenanya, kedua
ungkapan itu (ruas kiri dan ruas kanan pers.(9.4)) haruslah merupakan
tetapan. Bila tetapan ini dituliskan sebagai ~, maka diperolehlah dua
persamaan diferensial biasa :
d
= i
dt

(9.5)

dan

d2 2
+
= 0.
dx2
~
Penyelesaian umum persamaan (9.5) adalah
(t) = Ceit ,

(9.6)

(9.7)

dengan C tetapan yang ditentukan sesuai keperluan. Agar sederhana, tanpa mempengaruhi hasil keseluruhan, dipilihlah C = 1. Kemudian, hendak
dipilih tetapan yang riil sehingga (x, t) = (x) (t) periodik terhadap
perubahan waktu dan (x, t) stasioner, yakni |(x, t)|2 bebas waktu. Tetapan juga harus positif karena hal ini menjamin positifitas swanilai tenaga
kinetik (yang memang selalu positif). Untuk menyingkat penulisan, maka
didefinisikan tetapan k dengan
2
= k2 .
~

(9.8)

9.1. PARTIKEL BEBAS

185

Dengan demikian pers.(9.6) dapat ditulis menjadi


d2
+ k 2 = 0.
dx2

(9.9)

Penyelesaian umum persamaan terakhir ini adalah


(x) = Aeikx + Beikx ,

(9.10)

dengan A dan B ditentukan menurut keperluan (normalisasi misalnya).


Oleh karena itu fungsi gelombang (x, t) berbetuk
(x, t) = Aei(kxt) + Bei(kx+t) .

(9.11)

Terlihat bahwa keadaan (x, t) merupakan superposisi dua gelombang yang


merambat pada arah yang saling berlawanan, masing-masing dengan laju
fase yang sama, vf = /k. Gelombang pertama 1 (x, t) = Aei(kxt)
merupakan swakeadaan operator Hamiltonan dengan swanilai E = ~ dan
sekaligus juga merupakan swakeadaan operator momentum linier dengan
swanilai (k~)i. Oleh karena itu gelombang ini merambat ke kanan jika k
positif dan ke kiri jika k negatif. Gelombang kedua 2 (x, t) = Aei(kx+t)
juga merupakan swakeadaan operator Hamiltonan dengan swanilai E = ~
dan sekaligus merupakan swakeadaan operator momentum linier dengan
swanilai (k~)i. Oleh karena itu gelombang ini merambat ke kiri jika k
positif dan ke kanan jika k negatif. Terlihat bahwa setiap swanilai operator
Hamiltonan merosot dua derajad.
Rapat peluang menemukan partikel di suatu titik dengan koordinat x
pada saat t adalah
(x, t) = |(x, t)|2 = |A|2 + |B|2 + (AB e2ikx + A Be2ikx ),
dengan rapat arus peluang



~J = ~ i = ~k (|A|2 |B|2 )i.


2i
x
x

(9.12)

(9.13)

Sejauh tidak ada alasan khusus (syarat batas misalnya), maka orang
dibolehkan memilih salah satu dari kedua gelombang itu. Kesimpulannya
adalah
(x, t) = N ei(kxt) ,
(9.14)

186

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

dengan
2
~
~k
~J =
|N |2 i.

k2 =

E = ~,
= |N |2 ,

(9.15)

Jika dinyatakan dengan k maka tenaga E diberikan oleh


E=

~2 k 2
.
2

(9.16)

Kecepatan partikel secara klasik diberikan oleh


v=

~k
p
=
i.

(9.17)

Yang terakhir ini tentu saja tidak identik dengan kecepatan fase dari gelombang (x, t) sebab vf = /k = E/p = v/2 dengan v = |v|. Yang benar,
kecepatan partikel identik dengan kecepatan grup gelombang yang besarnya
diberikan oleh
d
dE
vgr =
=
= v.
(9.18)
dk
dp

9.2

Sumur Potensial Takterhingga

Dalam bagian ini, ditinjau suatu partikel yang berada dalam pengaruh
potensial V (x), dengan

0 untuk |x| a
(9.19)
V (x) =
untuk |x| > a.
Boleh dikatakan bahwa partikel tersebut terkukung dalam suatu sumur
potensial sebab dengan tenaga kinetik seberapapun partikel itu tidak dapat
menembus dinding potensial yang tingginya tak terhingga. Jadi, partikel
terlarang memasuki wilayah x < a ataupun x > a. Hal ini mengandung
arti bahwa peluang ditemukannya partikel pada kedua wilayah itu nol atau
fungsi gelombang pada kedua wilayah itu lenyap. Oleh karena itu yang
perlu diperhatikan adalah penyelesaian di wilayah a x a. Tetapi
di wilayah ini partikel tidak dipengaruhi gaya (potensial) apapun, yakni
merupakan partikel bebas. Dalam hal ini berlaku syarat batas (a) =

9.2. SUMUR POTENSIAL TAKTERHINGGA

187

(a) = 0 sebab fungsi gelombang harus kontinyu. Ada lagi yang harus
dipenuhi, yakni bahwa fungsi gelombang (x) sebagai anggota dari ruang
Hilbert L2 (R) harus ternormalkan. Dari pers.(9.10) dan syarat batas di
atas didapatkan sistem persamaan linier homogen
Aeika + Beika = 0,
Aeika + Beika = 0,

(9.20)

dengan variabel yang dicari A dan B. Persamaan tersebut akan memberikan jawaban tidak sepele (yakni A dan B tidak semuanya lenyap) jika
ika

e
eika
2

(9.21)
eika eika = 0 atau sin (ka) = 0.

6
6
V

=0

=0

Sketsa 9.1 Sumur Potensial Takterhingga (Sketsa ini dirancang dan digambar
oleh M.F.Rosyid)

Hal ini dipenuhi jika


k = kn :=

n
2a

n = 1, 2, 3, .

(9.22)

Nilai k = 0 juga memenuhi persyaratan di atas, hanya saja nilai ini menghalangi normalisasi. Jadi, k = 0 tidak dipakai. Berdasarkan pers.(9.16),
syarat bagi nilai k semacam ini berimbas pada syarat swanilai tenaga, yakni

188

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

bahwa nilai-nilai tenaga yang dibolehkan untuk dimiliki oleh partikel tersebut diberikan oleh
~2 2 2
En =
n .
(9.23)
8a2

E4 = 16E1

E3 = 9E1

E2 = 4E1

=0

=0

E1
a

Sketsa 9.2 Aras-aras Tenaga Dalam Sumur Potensial Takterhingga (Sketsa ini
dirancang dan digambar oleh M.F.Rosyid)

Dari pers.(9.22) didapatkan bahwa exp(ikn a) = exp(in/2) = in . Oleh


sebab itu dari pers.(9.20) diperoleh B = (1)n+1 A. Untuk n ganjil, berlaku
B = A dan
nx
(x) = +
.
(9.24)
n (x) := A cos(kn x) = A cos
2a p
Dengan menormalkan +
1/a. Sehingga
n (x), diperolehlah tetapan A =
kita dapatkan swafungsi-swafungsi ganjil sebagai
1
nx
, n = 1, 3, .
(9.25)
+
n (x) = cos
2a
a

9.2. SUMUR POTENSIAL TAKTERHINGGA

189

Bila n genap, maka B = A dan


nx
.
2a

(9.26)

n = 2, 4, .

(9.27)

(x) =
n (x) := A sin(kn x) = A sin

Dengan jalan normalisasi didapatkan


1
nx

,
n (x) = sin
2a
a

+
Swafungsi ganjil +
n (x) tidak tergantung dari tanda n, artinya n (x) =
+

n (x). Sedangkan swafungsi-swafungsi genap n (x) tergantung pada tan

da n, yakni
n (x) = n (x). Tetapi baik n (x) maupun n (x) mewakili swakeadaan yang sama karena kedua swafungsi itu berbeda hanya oleh
tetapan 1. Oleh karena itu, secara keseluruhan, tidak menjadi persoalan
jika indeks n diambil yang positif saja.

Untuk empat aras yang pertama didapatkan


~2 2
8a2

n = 1,

E1 =

n = 2,

E2 = 4E1

n = 3,

E3 = 9E1

n = 4,

E4 = 16E1

1
x

1 (x) = cos
2a
a
1
x
+
2 (x) = sin
a
a
1
3x

3 (x) = cos
2a
a
1
2x
.
+
4 (x) = sin
a
a

(9.28)
(9.29)
(9.30)
(9.31)

Tanda positif dan negatif pada swafungsi-swafungsi di atas menunjukkan


paritas dari swafungsi-swafungsi yang bersangkutan. Tanda positif artinya
bahwa fungsi tersebut memiliki paritas positif, yakni bahwa nilai fungsi
tersebut invarian terhadap pencerminan terhadap titik pangkal (x = 0).
Tanda negatif artinya bahwa fungsi tersebut memiliki paritas negatif, yakni
bahwa nilai fungsi tersebut berubah tanda bila dilakukan pencerminan terhadap titik pangkal.

190

9.3

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

Potensial Undak Sederhana

Ditinjau sebuah partikel bermassa yang berada dalam medan potensial


V yang berbentuk (lhat Sketsa 9.3!)

V (x) =

0
U

untuk x < 0
untuk x 0.

(9.32)

Andaikan partikel datang dari dengan tenaga E yang melebihi tinggi


undakan U . Untuk mendapatkan penyelesaian , ruang konfigurasi dibagi
menjadi dua wilayah : wilayah I dan wilayah II. Wilayah I adalah daerah
dengan koordinat x < 0, sedang wilayah II adalah daerah dengan koordinat
x 0.
6
V

Daerah I

Daerah II

Sketsa 9.3 Potensial Undak


Di wilayah I, potensial V (x) lenyap sehingga persamaan Schrodinger
bebas waktu untuk wilayah itu diberikan oleh pers.(9.6), yakni

~ 2 d 2 1
= E1 .
2 dx2

(9.33)

Pada wilayah ini tenaga total yang dimiliki oleh partikel seluruhnya adalah
tenaga kinetik. Kemudian didefinisikan suatu tetapan k1 sebagai
2E
= k12 ,
~2

(9.34)

9.3. POTENSIAL UNDAK SEDERHANA

191

sehingga persamaan Schrodinger di atas menjadi


d 2 1
+ k12 1 = 0.
dx2

(9.35)

Penyelesaian umum bagi persamaan (9.35) diberikan oleh


1 (x) = Aeik1 x + Beik1 x ,

(9.36)

dengan A dan B tetapan yang ditentukan sesuai keperluan.


Di wilayah II, potensial V (x) = U , sehingga dalam wilayah ini berlaku
persamaan
~ 2 d 2 2

+ (U E)2 = 0
(9.37)
2 dx2
Sekarang, didefinisikan tetapan k2 menurut
2(E U )
= k22 ,
~2

(9.38)

sehingga persamaan (9.37) berubah menjadi lebih sederhana, yakni


d 2 2
+ k22 2 = 0.
dx2

(9.39)

Penyelesaian umum bagi persamaan terakhir ini diberikan oleh


2 (x) = Ceik2 x + Deik2 x ,

(9.40)

dengan C dan D tetapan-tetapan. Selanjutnya hendak diambil k1 dan


k2 yang positif. Dengan asumsi semacam itu, maka tetapan D haruslah
lenyap mengingat Deik2 x (dikalikan dengan bagian waktu eit ) merupakan gelombang yang berasal dari , padahal telah diasumsikan bahwa
partikel datang dari sebelah kiri undakan. Oleh karena itu, kita memperoleh tiga macam gelombang
ik1 x
+
,
1 (x) = Ae
ik1 x

,
1 (x) = Be

di wilayah I dan
ik2 x
+
2 (x) = Ce

192

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

di wilayah II. Gelombang +


1 (x) ditafsirkan sebagai gelombang datang karena merambat dari kiri di wilayah I. Gelombang
1 (x) ditafsirkan sebagai
gelombang pantulan karena gelombang ini merambat ke kiri di wilayah
I padahal partikel mula-mula berasal dari dan bergerak ke kanan.
Gelombang +
2 (x) ditafsirkan sebagai gelombang yang tertransmisikan sebab gelombang ini merambat ke kanan di wilayah II.
Perlu digarisbawahi dalam hal ini bahwa 1 dan 2 merupakan penyelesaian dari persamaan Schrodinger yang sama bila wilayah I dan wilayah
II dipandang sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu, di perbatasan antara
kedua wilayah itu haruslah berlaku kontinyuitas : 1 (0) = 2 (0) dan
d1
d2
(0) =
(0).
dx
dx

(9.41)

Syarat batas ini mengakibatkan berlakunya


A+B =C
dan
AB =

(9.42)

k2
C.
k1

(9.43)

Dari kedua persamaan terakhir ini dengan mudah didapatkan nisbah


C
2
=
A
1 + k2 /k1

dan

1 k2 /k1
B
=
.
A
1 + k2 /k1

(9.44)

Selanjutnya didefinisikan koefisien transmisi T dan koefisien refleksi R


berturut-turut sebagai
T =

|~J+
2|
+
|~J |

dan

R=

|~J
1|
,
+
|~J |

(9.45)

~
~+
dengan ~J+
1 , J1 dan J2 berturut-turut merupakan rapat arus peluang untuk
+
+
gelombang 1 (x),
1 (x) dan 2 (x). Dengan mudah dapat dihitung bahwa
~k1 2
|A| i,

~k1
=
|B|2 i

~k2 2
=
|C| i.

~J+ =
1

(9.46)

~J
1

(9.47)

~J+
2

(9.48)

9.4. GETARAN SELARAS

193

Oleh karena itu, didapatkanlah ungkapan untuk T dan R berturut-turut


sebagai

2
B
k2 C 2
dan R = .
(9.49)
T =


k1 A
A
Dari pers.(9.44) kita peroleh ungkapan yang lebih eksplisit
4k2 /k1
T =
[1 + (k2 /k1 )]2

dan



1 k2 /k1 2
.
R =
1 + k2 /k1

(9.50)

Terlihat bahwa baik koefisien transmisi maupun koefisien refleksi keduanya


gayut pada nisbah k2 /k1 . Nisbah ini mudah dihitung, hasilnya
r
k2
U
(9.51)
= 1 .
k1
E
Dapat ditunjukkan dengan mudah bahwa koefisien transmisi dan koefisien
refleksi memenuhi identitas T + R = 1.

9.4

Getaran Selaras

Getaran selaras satu dimensi adalah sistem fisis yang memiliki potensial
kuadratik
1
Vosc (x) = 2 x2 ,
(9.52)
2
dengan suatu tetapan positif yang disebut frekuensi sudut dan massa partikel yang terlibat dalam getaran selaras yang ditinjau. Potensial
semacam ini dalam prakteknya menjadi penting sebab potensial semacam
ini merupakan pendekatan bagi potensial sembarang V (x) di sekitar titiktitik setimbang stabil lokal (kalau ada), yakni titik-titik tempat berlakunya
dua syarat berikut :
dV
=0
dx

dan

d2 V
> 0.
dx2

(9.53)

Berdasarkan penderetan Taylor di sekitar titik x = xs , sembarang potensial


V (x) pada ruang berdimensi satu dapat dituliskan sebagai
V (x) = V (xs ) +

dV
1 d2 V
|x=xs (x xs ) +
|x=xs (x xs )2 + .
dx
2 dx2

(9.54)

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

194

Jika xs suatu titik setimbang stabil lokal dan suku pangkat tiga keatas
diabaikan, maka didapatlah
1 d2 V
(9.55)
|x=xs (x xs )2 .
2 dx2
Selanjutnya, transformasi koordinat x 7 x0 = x xs menghasilkan ungkapan
1 d2 V
2
V (x0 + xs ) = V (xs ) +
|x=0 x0 .
(9.56)
2 dx2
V (x) = V (xs ) +

V
6

V (x)

xs

V (xs )

Sketsa 9.4 Potensial di sekitar titik setimbang stabilnya (Sketsa ini dirancang
dan digambar oleh M.F.Rosyid)

Kemudian V (xs ) diatur sebagai titik nol2 bagi potensial V dan V (x0 + xs )
hendak ditulis saja sebagai V (x0 ). Oleh karena itu didapatkanlah ungkapan
V (x) =
2

1 d2 V
|x=0 x2 .
2 dx2

(9.57)

Hal semacam ini dimungkinkan karena tenaga potensial tidak memiliki nilai nol mutlak (Lihat misalnya [Gol])

9.4. GETARAN SELARAS

195

Karena d2 V /dx2 |x=0 > 0, maka terdapat bilangan riil yang memenuhi
persamaan
1 d2 V
|x=0 = 2 .
dx2
Jadi, pada daerah di sekitar titik setimbang stabilnya, potensial V (x) dapat
dituliskan sebagai
1
V (x) = 2 x2 ,
(9.58)
2
yang tidak lain adalah potensial untuk getaran selaras.
Persamaan swanilai tenaga untuk getaran selaras dalam wakilan posisi
oleh karena itu dapat dituliskan sebagai
2 2
= ~ d + 1 2 x2 = E.
H
2 dx2
2

(9.59)

Persamaan terakhir ini dapat dibawa ke bentuk lain sebagai berikut


d2 2
1
+ 2 (E 2 x2 ) = 0.
2
dx
~
2

(9.60)

Karena potensial Vosc tidak terbatas di atas, maka secara klasik gerak
getaran itu terbatas. Oleh karena itu, dapat diperkirakan bahwa swanilai tenaga getaran selaras bersifat diskret. Masalah swanilai ini hendak
diselasaikan dengan cara rekursi maupun cara aljabar.

9.4.1

Cara Rekursi

Mula-mula didefinisikan suatu satuan panjang x0 , sedemikian rupa sehingga koordinat x dapat dituliskan sebagai x = x0 dengan tidak berdimen
si3 . Dengan menuliskan (x) sebagai (x) = (),
diperolehlah ungkapanungkapan
d
1 d
=
(9.61)
dx
x0 d
dan

d2
1 d2
=
.
dx2
x20 d 2

(9.62)

Untuk bagian ini tanda tidak diartikan sebagai transformasi Fourier dari .

196

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

Persamaan (9.60) oleh karena itu berubah menjadi




2Ex20 2 2 x40 2
d2
+

= 0.
d 2
~2
~2

(9.63)

Bila kemudian satuan x0 dipilih


p yang sedemikian rupa sehingga berlaku
2 2 x40 /~2 = 1, maka x0 = ~/(). Selanjutnya hendak didefinisikan 
sebagai
2Ex20
2E
=
=
(9.64)
2
~
~
Dengan demikian, persamaan (9.63) secara lebih sederhana dituliskan sebagai
d2
+ ( 2 ) = 0.
(9.65)
d 2
Hendak dimasukkan Ansatz = exp( 2 ) ke dalam persamaan differensial
terakhir. Subtitusi tersebut menghasilkan
d

= 2 ,
d

d2
d

= 2 + 2
= (2 + 42 2 ).
2
d
d

(9.66)

Tetapan dapat diatur menurut (2)2 = 1, artinya = 1/2. Dengan


nilai seperti ini, Ansatz di atas memang merupakan penyelesaian untuk
persamaan (9.65) untuk  = 1. Akan tetapi nilai = 1/2 harus dilupakan
sebab dengan nilai ini semakin jauh dari pusat koordinat (|| ) nilai
semakin membesar, yakni divergen. Oleh karena itu telah kita dapatkan
sebuah swanilai  = 1 dengan swafungsi = exp( 2 /2). Bagaimana
dengan swanilai  yang lain? Perlu dicatat bahwa jawaban bagi persamaan
(9.65) tidak tergantung pada  yang finit bila || sebab dalam limit
semacam ini  jauh lebih kecil dibandingkan 2 . Selanjutnya, andaikan
memiliki bentuk

()
= g() exp( 2 /2).
(9.67)
Darinya didapat


d
dg
=
g exp( 2 /2),
d
d
 2

d2
d g
dg
2
+ ( 1)g exp( 2 /2)
=
2
d 2
d 2
d
dan persamaan differensial untuk g
d2 g
dg
2
+ ( 1)g = 0.
2
d
d

(9.68)
(9.69)

(9.70)

9.4. GETARAN SELARAS

197

Kita hendak menyelesaikan persamaan diferensial ini dengan metode rekursi. Mula-mula diandaikan bahwa g dapat ditulis sebagai deret
g() =

an n .

(9.71)

n=0

Oleh karena itu

X
dg X
=
nan n1 =
(l + 1)al+1 l
d
n=0

(9.72)

l=0

dan

X
d2 g X
l1
=
l(l
+
1)a

=
(m + 1)(m + 2)am+2 m .
l+1
d 2

(9.73)

m=0

l=0

Bila keduanya dimasukkan ke dalam persamaan (9.70) di atas, maka didapatkanlah

[(n + 1)(n + 2)an+2 + ( 1 + 2n)an ] n = 0.

(9.74)

n=0

Karena himpunan {1, , 2 , } bebas linier, maka koefisien dari n pada


persamaan terakhir harus lenyap. Ini berarti bahwa
an+2 =

2n + 1 
an .
(n + 2)(n + 1)

(9.75)

Terlihat jika an0 = 0, maka semua koefisien an0 +2l dengan l = 1, 2, 3,


juga lenyap. Jadi, jika n0 genap maka semua koefisien nomor genap sesudahnya juga lenyap. Demikian pula jika n0 ganjil, maka semua koefisien
nomor ganjil sesudahnya juga lenyap. Dengan kata lain, bila an0 = 0 untuk n0 ganjil (genap), maka deret ganjil (genap) terputus, sehingga didapat
polinom-polinom.
Sementara, andaikan saja tidak ada satupun an yang lenyap (artinya,
deret di atas tidak terputus). Untuk n berlaku
an+2
2
.
an
n

(9.76)

Sementara itu penderetan terhadap exp( 2 ) menghasilkan


exp( 2 ) =

X
X
X
1 2n
1
=
n =
bn n ,
n!
(n/2)!
n genap

n=0

n=0

(9.77)

198

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

dengan bn = 0 untuk n ganjil dan bn = ((n/2)!)1 untuk n genap. Untuk


n genap berlaku
bn+2
2
,
(9.78)
bn
n
ketika n . Hal ini mirip dengan kelakuan rasio koefisien penderetan di
atas. Sedang untuk deret dengan pangkat ganjil, kelakuan rasio koefisien
mirip dengan rasio koefisien pada penderetan fungsi exp( 2 ). Hal ini menunjukkan bahwa jika penderetan tidak terputus, maka didapat deret yang
divergen. Dan tentu ini tidak dikehendaki. Oleh karena itu, seharusnyalah
penderetan itu terputus. Dengan kata lain g() merupakan polinom. Harus
pula dicatat bahwa jika semua koefisien an lenyap, maka diperoleh penyelesaian sepele, g() = 0. Tetapi, tentu saja ini tidak bermanfaat.
Penderetan untuk g() dapat ditulis lebih jauh sebagai
g() = gge () + gga ()
gge () =

an n

dan

gga () =

n genap

(9.79)
X

an n

(9.80)

n ganjil

Jadi, haruslah ada sebuah bilangan cacah n0 , sedemikian rupa sehingga


an0 6= 0 dan an = 0 untuk n > n0 . Menurut persamaan (9.75), hal ini
terjadi manakala  = 2n0 + 1. Jika n0 genap, maka suku an0 1 lenyap
karena an0 +1 = 0 dan (berdasarkan persamaan (9.75))
an0 1 =

(n0 + 1)n0
an0 +1 .
2

(9.81)

Demikian juga suku-suku an0 3 , an0 5 , , a1 pun tentu saja juga lenyap.
Akibatnya,
g() = gge () = a0 + a2 2 + + an0 n0 .
(9.82)
Jika n0 ganjil, maka dengan alasan yang serupa diperoleh
g() = gga () = a1 + a3 3 + + an0 n0 .

(9.83)

Karena  = 2n0 + 1 (n0 = 0, 1, 2, ), maka pers.(9.70) dapat dituliskan


sebagai
d2 g
dg
2
+ 2ng = 0,
(9.84)
2
d
d

9.4. GETARAN SELARAS

199

dengan n = 0, 1, 2, . Ini tidak lain adalah persamaan differensial Hermite dengan g() = Hn () (Lihat kembali bagian 4.1). Oleh karena itu,
penyelesaian persamaan (9.65) yang telah dinormalkan diberikan oleh
1
2
n () = p
exp( /2)Hn (),
n
2 n!

p
( = x /~ = x/x0 )
(9.85)

yang merupakan swakeadaan dari swanilai

1
En = (1/2)~ = (n + )~.
2

(9.86)

untuk n = 0, 1, 2, (lihat Sketsa 9.5!)


V
6

Vosc (x) = 21 x2

E6
E5
E4
E3
E2
E1


Sketsa 9.5 Sketsa Aras-aras Tenaga Getaran Selaras (Sketsa ini dirancang dan
digambar oleh M.F.Rosyid)

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

200

Namun, keadaan n () belum ternormalkan dalam peubah x sebab


Z +
Z +
Z +
2 x
2

[n ()] d
[n ()] dx = x0
[n ()]2 d = x0 .
= x0
x0

(9.87)
Oleh sebab itu swakeadaan-swakeadaan yang ternormalkan untuk masalah
swanilai (9.59) diberikan oleh
1
1
x2
q
n (x) = (x/x
)
=
exp(
)Hn (x/x0 ),
0

x0
2x20
2n n! x0

(9.88)

untuk n = 0, 1, 2, .

9.4.2

Cara Aljabar

Dalam bagian ini hendak diselesaikan masalah swanilai tenaga getaran selaras melalui cara yang sifatnya aljabar. Cara ini perlu disajikan berhubung
peran penting yang nantinya akan dimainkan (terutama dalam masalah
banyak partikel dan teori medan kuantum) oleh beberapa operator yang
muncul dalam pembahasan semacam ini.
Mula-mula didefinisikan operator a
sebagai
a
= x
+ i
p,

(9.89)

dengan dan tetapan riil yang akan dipilih kemudian. Dengan mudah
diperoleh adjoin dari a
sebagai
a
= x
i
p.

(9.90)

Dari kedua persamaan di atas diperoleh


p =

1
(
a a
),
2i

(9.91)

x
=

1
(
a +a
).
2

(9.92)

dan

Komutator [
a , a
] pun dapat segera dihitung. Hasilnya (lihat soal-soal 9.5)
diberikan oleh
[
a, a
] = 2~.
(9.93)

9.4. GETARAN SELARAS

201

Dengan ungkapan-ungkapan ini, operator Hamiltonan getaran selaras dapat dituliskan sebagai
2

2
= 1 (
a

)
+
(
a +a
)2
H
82
8 2
 2

 2


1
1
2
2
=
((
a ) +a
)+
(
a a
+a
a
).

+
8 2
82
8 2
82
(9.94)
Sejauh ini tetapan dan belum ditentukan. Kedua tetapan ini hendaknya
dipilih sedemikian rupa sehingga didapat ungkapan-ungkapan yang sesederhana mungkin. Tetapan dan hendak dipilih sedemikian rupa sehingga
[
a, a
] = 1 dan suku pertama ungkapan untuk operator Hamiltonan pada
persamaan (9.94) lenyap. Hal ini mengharuskan
=

1
2~

dan

2 =

2
.
2

(9.95)

Penyelesaiannya adalah
r
=

1
2~

r
dan

.
2~

(9.96)

Terlihat ada empat alternatif. Namun, yang akan dipakai hanyalah dan
yang bertanda positif. Dengan demikian Hamiltonan getaran selaras dapat
ditulis lebih sederhana lagi,
= ~ (
H
a a
+a
a
).
2

(9.97)

dapat ditulis sebagai


Karena [
a, a
] = 1, maka lagi-lagi Hamiltonan H
1
= ~(
H
a a
+ ).
2

(9.98)

Jika swanilai tenaga ditulis E := ~, maka masalah swanilai untuk getaran
selaras ini menjadi
1
a
a
= ( ).
(9.99)
2
:= a
merupakan operator hermitan (mengaDefinisikan N
a
. Operator N
pa?). Persamaan (9.99) menyatakan bahwa setiap swavektor bagi Hamil dan sebaliknya. Oleh
tonan juga merupakan swavektor bagi operator N
.
karena itu, kita cukup mencari swanilai dan swakeadaan bagi operator N

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

202

dengan swanilai n, yakni


Andaikan n swavektor bagi N
n = nn .
N

(9.100)

Dari komutator
, a
[N
] = a

dan

, a
[N
] = a
,

(9.101)

didapatkan
n = (n + 1)
a
, a
a n
N
n = [N
]n + a
N

(9.102)

dan
a
N
n = (n 1)
an .

(9.103)

Terlihat bahwa a
n dan a
n merupakan swakeadaan bagi operator N
dengan swanilai berturut-turut n + 1 dan n 1. Oleh karena itu
a
n = (tetapan)n+1 = c+ n+1

(9.104)

a
n = (tetapan)n1 = c n1 .

(9.105)

dan
Andaikan n untuk setiap n telah dinormalkan. Maka didapatkan
n ) = n = (c n1 |c n1 ) = |c |2 .
(
an |
an ) = (n |
a a
n ) = (n |N
(9.106)

Jika kemudian dipilih tetapan yang riil dan positif, maka c = n dan

a
n = n n1 .
(9.107)
Dengan cara yang serupa didapat
a
n =

n + 1 n+1 .

(9.108)

Persamaan (9.107) menyatakan bahwa n 0. Jadi, n terbatas ke bawah


oleh bilangan 0. Bila pada a
n dikenai operator a
maka diperoleh

a
2 n = n 1 n n2 .
(9.109)
Bila perlakuan di atas diulangi terus, maka didapatkan

a
3 n =
n 2 n 1 n n3 ,

a
4 n =
n 3 n 2 n 1 n n4 ,
..
..
..
..
.
.
.
.

k
a
n =
n k + 1 n 3 n 2 n 1 n nk
..
..
..
..
.
.
.
.
(9.110)

9.4. GETARAN SELARAS

203

Karena bilangan n, n 1, n 2 dst. tidak boleh negatif, maka proses di


atas harus berhenti di 0. Jika n bukan bilangan bulat positif, maka barisan
n, n 1, n 2 tidak akan berhenti di 0. Sebaliknya, jika n bulat positif,
maka barisan di atas dengan sendirinya berhenti di 0 dan barisan (9.110)
berhenti di

a
n n = 1 2 n 3 n 2 n 1 n 0
(9.111)
sebab
a
a
n n = a
n+1 n =

1 2 n 3 n 2 n 1 n 1 = 0. (9.112)

Dari dua persamaan terakhir ini kita dapatkan


a
0 = 0.

(9.113)

adalah bilangan bulat tak negatif :


Jadi, swanilai operator N
n = nn
N

n = 0, 1, 2, .

(9.114)

Karena

n = ~(N
+ 1 )n = ~(n + 1 )n ,
(9.115)
H
2
2
n juga merupakan swakeadaan bagi operator Hamiltonan dengan swanilai
1
En := (n + )~.
2

(9.116)

Selanjutnya, dengan memperkerjakan operator a


berulang-ulang pada
swakeadaan 0 diperoleh barisan
1 = a
0 ,
1
1 2
2 = a
1 = (
a ) 0 ,
2
2
1
1
3 = a
2 = (
a )3 0 ,
3
3!
..
..
..
..
.
.
.
.
1
1
n
1 = (
a ) 0 ,
n = a
n
n!

(9.117)

Bila kembali ke wakilan posisi, maka persamaan (9.113) dapat dituliskan


sebagai
r
r


1
d
x+i
(i~)
0 (x) = 0
(9.118)
2~
2~
dx

204

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

atau

d0
+
x0 = 0.
dx
~
Jawaban umum bagi persamaan diferensial ini adalah
0 (x) = A exp(

x2
),
2x20

(9.119)

(9.120)

p
dengan x0 = ~/ dan A tetapan yang harus dihitung sebagai tetapan
normalisasi. Tetapan ini besarnya diberikan oleh
A=

1
.
1/4 x0

(9.121)

Jadi,
0 (x) =

1
x2
exp( 2 ).
1/4 x0
2x0

(9.122)

Selanjutnya, barisan persamaan (9.117) dapat dituliskan sebagai




1

2 d
0 (x)
1 (x) = a
0 (x) =
x x0
dx
2x0

2 
2
(
a )2
1
1
2 d

2 (x) = 0 (x) =
x x0
0 (x)
dx
2
2
2x0
..
..
..
..
.
.
.
.

n 
n
1
(
a )n
1
2 d

n (x) = 0 (x) =
x x0
0 (x).(9.123)
dx
2x0
n!
n!
Dari ungkapan (9.122) untuk 0 (x), swafungsi n (x) dapat ditulis secara
lebih eksplisit sebagai
n

1
x2
2 d

n (x) =
exp(
).
(9.124)
x

0
dx
2x20
1/4 2n n!xn0 x0
Bila didefinisikan sebagaimana sebelumnya, yakni = x/x0 , maka didapatkan


1
d n

n (x) =

exp( 2 /2)

d
1/4 2n n! x0


1
d n
2
2

exp( 2 /2)
=
exp( /2) exp( /2)
1/4
n
d

2 n! x0
1
2

=
(9.125)
exp( /2)Hn (),
1/4

2n n! x0

9.5. SOAL-SOAL

205

dengan


d
Hn () = exp( /2)
d
2

n

exp( 2 /2).

(9.126)

Selanjutnya, dapat ditunjukkan bahwa


Hn () = (1)n exp( 2 )

dn
exp( 2 ).
d n

(9.127)

Ini tidak lain adalah polinom Hermite. Jadi diperoleh penyelesaian sebagaimana penyelesaian yang didapat dari cara terdahulu.

9.5

Soal-soal

1. Ditinjau suatu partikel bermassa m yang berada pada kotak satu


dimensi yang dindingnya tak terpenetrasi. Andaikan dinding kotak
tersebut berada pada x = 0 dan x = (Kasus ini sama dengan kasus
tanggul potensial yang tingginya infinit). Bila pengukuran posisi partikel tersebut mengindikasikan bahwa partikel berada pada koordinat
x = /2, maka
(a) tunjukkanlah bahwa pada pengukuran berikutnya, peluang
untuk mendapatkan partikel berada pada swakeadaan ganjil adalah
sama besarnya!
(b) tunjukkan bahwa peluang mendapatkan partikel pada sembarang keadaan genap adalah nol! (Pada sistem semacam ini suatu
swakeadaan dikatakan ganjil (genap) bila n ganjil (genap).)
2. Buatkan sketsa grafik untuk koefisien transmisi T dan koefisien refleksi R terhadap nisbah k2 /k1 untuk kasus yang dibicarakan pada
bagian 9.3!
3. Tinjaulah potensial undakan sederhana (lihat bagian 9.3) untuk kasus tenaga kinetik partikel kurang dari tinggi undakan U ! Tnjukkan
bahwa T = 0 dan R = 1! Apa ini artinya?
4. Tunjukkan bahwa [
a, a
] = 2~ bila a
diberikan oleh persamaan
(9.89)!
pada pers.(9.94)!
5. Buktikan ruas kanan ungkapan untuk H

206

BAB 9. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI SATU

6. Buktikan berlakunya pers.(9.127) dari pers.(9.126) dengan cara induksi matematik!


7. Sebuah partikel bermassa m yang dibatasi geraknya pada interval
(a, a) mempunyai fungsi gelombang


1
1 x
un (x) = cos (n + )
,
(9.128)
2 a
2a
dengan (n = 0, 1, 2, )
(a) Hitunglah px un (x)! Dari perhitungan tersebut kesimpulan
apa yang dapat anda tarik berkaitan dengan hubungan antara px
dan un (x)?
n (x), dengan E
= p2x ! Dari perhitungan terse(b) Hitunglah Eu
2m
but kesimpulan apa yang dapat anda tarik berkenaan dengan kaitan
dan un (x)?
antara E
Dari hasil perhitungan kom(c) Hitunglah kommutator [
px , E]!
mutator ini, hubungan macam apakah yang dapat anda simpulkan
berdasarkan jawaban dari soal 3(a) dan 3(b)?
(d) Berapakah peluang mendapatkan partikel berada pada interval ( 12 a, 12 a)?

Bab 10

KESETANGKUPAN
Kesetangkupan atau simetri memiliki saham yang tak kecil dalam perkembangan ilmu fisika. Jejak-jejak perannya dapat ditemukan pada kristalografi, teori kuantum, fisika partikel dan lain sebagainya, baik peran fundamental maupun komputasional. Dirac sendiri telah meyakini dan menggantungkan harapannya sebagaimana kuotasi berikut ini [Roc] :
It is the essential beauty of the theory which
I feel is the real reason in believing in it.
This must dominate the whole future development of physics.
Istilah simetri berasal dari bahasa Yunani Kuno. Makna kata simetri
sendiri telah sungguh-sungguh mengalami perubahan yang cukup jauh dari
makna aslinya selama kurun waktu dua milenium. Bahkan sedemikian rupa
sehingga banyak artian teknisnya yang tidak lagi dimengerti oleh umumnya orang-orang Yunani sendiri. Kata simetri dapat berarti proporsional,
harmoni dan keindahan bentuk. Dalam geometri, Euclid memakai kata
symmetrical yang memiliki persamaan makna dengan yang dikandung
oleh kata sepadan. Kata simetri diperkenalkan dalam aljabar pada akhir
abad ke delapan belas dalam artian invariansi dari suatu fungsi terhadap
pertukaran koefisien-koefisien dalam persamaan-persamaan tertentu. Andrian Legendre (1752-1833) sekali lagi memperkenalkan simetri dalam
geometri sebagai simetri reflektif dan timbal-balik antara dua bangun. Selanjutnya, gabungan serta perluasan kedua pengertian inilah yang mendominasi perkembangan makna istilah simetri dalam matematika dan fisika
[Roc].
207

208

BAB 10. KESETANGKUPAN

Dewasa ini simetri memiliki pengertian invariansi suatu sistem terhadap


berbagai macam transformasi baik fisis maupun analitis. Kesetangkupan yang paling mendasar, barangkali, adalah invariansi hukum-hukum
fisika terhadap sembarang perpindahan pengamat dalam ruang dan waktu (pergeseran, perputaran atau campuran keduanya). Sama pentingnya
adalah kovariansi hukum-hukum fisika terhadap pergerakan kerangka acuan
pengamat. Selanjutnya, patut pula untuk disebutkan, adalah kelestarian
berbagai sifat-sifat fisis terhadap pergeseran waktu : kelestarian momentum sudut, momentum linier, tenaga total, muatan listrik, bilangan baryon
dll.

10.1

Transformasi Keadaan dan Konsep Grup

Transformasi keadaan dari suatu sistem adalah pemetaan dari suatu ruang keadaan sistem itu ke dirinya sendiri. Oleh suatu transformasi suatu
keadaan dibawa ke sebuah keadaan yang lain. Korespondensi ini merupakan korespondesi satu-satu. Andaikan S suatu ruang keadaan bagi suatu
sistem. Suatu transformasi oleh karena itu merupakan pemetaan T : S S
dari ruang S ke S. Pemetaan ini dapat pula ditulis sebagai
T

s1 s2 ,

(10.1)

dengan s1 , s2 S. Dua transformasi keadaan dapat dikomposisikan sehingga didapatkan suatu transformasi kedaan sesuai dengan komposisi fungsi
berikut :
T 0 T := T 0 T : S S
(10.2)
atau

T 0T

s1 s3

(10.3)

yang didefinisikan oleh


T0

s1 s2 s3
bila

T0

s2 s3 .

(10.4)

(10.5)

Komposisi ini bersifat assosiatif : jika T 00 suatu transformasi keadaan maka


T 00 (T 0 T ) = (T 00 T 0 ) T . Akan tetapi, pada umumnya, komposisi ini

10.2. TRANSFORMASI KERUANGAN DAN TEMPORAL

209

tidak komutatif. Transformasi identitas I adalah transformasi keadaan


yang didefinisikan menurut
I
s s.
(10.6)
Mudah dibuktikan bahwa untuk sembarang transformasi T berlaku T I =
IT = T . Transformasi invers atau balikan bagi T adalah transformasi T 1
yang didefinisikan oleh
T 1

s2 s1 ,

(10.7)

jika
T

s1 s2 .

(10.8)

Oleh karena itu berlaku T T 1 = T 1 T = I. Dengan sifat-sifat itu, himpunan T (S) yang beranggotakan semua transformasi dari S ke dirinya
sendiri membentuk suatu struktur aljabar yang disebut grup.
Grup yang beranggotakan semua transformasi pada suatu himpunan
boleh dikatakan sebagai cikal bakal lahirnya konsep grup abstrak [Wey].
Sebuah grup adalah suatu himpunan G yang di dalamnya ada (atau dapat
didefinisikan) perkalian (penjumlahan) sedemikian rupa sehingga keempat
syarat berikut ini dipenuhi :
1. Untuk sembarang g1 dan g2 anggota himpunan G, berlaku bahwa
g1 g2 juga merupakan anggota G.
2. Perkalian atau penjumlahan tersebut bersifat asosiatif, yakni untuk
sembarang g1 , g2 dan g3 anggota himpunan G, berlaku g1 (g2 g3 ) =
(g1 g2 )g3 .
3. Di dalam himpunan G terdapat sebuah anggota e yang istimewa
sedemikian rupa sehingga eg = ge = g untuk setiap g G. Unsur istimewa e ini disebut unsur identitas.
4. Untuk setiap g anggota himpunan G terdapat secara tunggal sebuah
anggota dari himpunan G, ditulis g 1 , sedemikian rupa sehingga
gg 1 = g 1 g = e. Unsur g 1 disebut invers dari g.

10.2

Transformasi Keruangan dan Temporal

Ruang keadaan bagi suatu sistem merupakan ruang abstrak yang tidak
dapat diakses langsung oleh pengamatan. Sementara itu ruang kongkrit

210

BAB 10. KESETANGKUPAN

yang assesible bagi pengamatan adalah apa yang disebut ruang konfigurasi,
yaitu himpunan yang memuat semua posisi yang mungkin bagi sistem atau
penyusun-penyusun sistem. Setiap transformasi pada ruang konfigurasi secara paralel akan disertai oleh transformasi di ruang keadaan. Metafora
pewayangannya : ruang konfigurasi adalah alam mayapada sedangkan ruang keadaan adalah khayangan njonggling saloka, setiap huru-hara di alam
mayapada selalu berimbas pada situasi di khayangan.
Oleh karena itu perlu pula dibicarakan transformasi pada ruang konfigurasi. Dalam bagian ini kita akan membahas beberapa transformasi yang
penting, yaitu pergeseran (translasi), perputaran (rotasi) dan campuran.
Sebagaimana yang kita lakukan pada bagian-bagian yang telah lalu,
ruang nyata tiga dimensi R3r hendak dikoordinasi secara kartesius dengan
persumbuan yang saling tegak lurus : sumbu-x, sumbu-y dan sumbu-z.
Artinya, tiap titik dalam ruang konfigurasi ini hendak ditengarai dengan
tiga bilangan nyata yang disusun dalam bentuk (x, y, z) atau dalam bentuk
matriks kolom

x
y
(10.9)
z
atau dengan vektor posisi r = xi + yj + zk dengan i, j dan k berturut-turut
merupakan vektor-vektor satuan ke arah sumbu-x, sumbu-y dan sumbu-z.

10.2.1

Pergeseran keruangan

Andaikan a = ax i+ay j+az k sebuah vektor tetap. Transformasi konfigurasi


Ta : R3 R3 yang didefinisikan menurut
r = xi + yj + zk 7 r0 = (x + ax )i + (y + ay )j + (z + az )k

(10.10)

dinamakan pergeseran ruang sejauh a. Pergeseran sejauh a dapat pula


dituliskan sebagai

x
x + ax
y 7 y + ay .
(10.11)
z
z + az
Pergeseran yang baru saja didefinisikan merupakan pergeseran aktif dalam
artian bahwa titik atau sistem digeser dari posisi lama r ke posisi baru r0
yang letaknya ditunjukkan oleh vektor a relatif terhadap posisi awal. Jenis pergeseran yang lain adalah pergeseran pasif. Untuk transformasi jenis

10.2. TRANSFORMASI KERUANGAN DAN TEMPORAL

211

ini yang digeser adalah sistem koordinatnya, sehingga setelah pergeseran


titik-titik akan mempunyai koordinat yang baru. Resep yang mengkaitkan
pergeseran aktif dan pergeseran pasif adalah : pergeseran aktif sejauh a
ekuivalen dengan pergeseran pasif sejauh a. Jika pergeseran a = 0, maka
didapat transformasi identitas I = T0 . Pergeseran Ta merupakan invers bagi Ta . Himpunan semua pergeseran membentuk sebuah grup yang
termasuk golongan grup Lie (lihat bagian 10.4). Terdapat korespondensi satu-satu antara grup ini dengan himpunan yang beranggotakan semua
vektor tiga dimensi.

10.2.2

Perputaran

Ditinjau sebuah zarah yang terletak di suatu titik dalam ruang konfigurasi
dengan vektor posisi r = xi + yj + zk. Bila zarah tersebut diputar sejauh
(infinitisimal) memutari sumbu yang berimpit dengan vektor satuan
n = nx i + ny j + nz k sedemikian rupa sehingga arah perputaran dan vektor
n memenuhi kaidah putar kanan. Maka diperolehlah posisi yang baru dari
zarah menurut
~ r,
r 7 r0 = r +
(10.12)
~ := n.
dengan
C
C


C I
Q
kQ r
 Q
C
Q

(
((((
C (
(
(

C(



C


C
C
r
r0 
 
C
 
C
COC
 
 
n C
C  
C 
C 
C
~ = n (Sketsa ini dirancang dan
Sketsa 10.1 Rotasi infinitisimal sejauh
digambar oleh M.F.Rosyid)

212

BAB 10. KESETANGKUPAN

Dapat ditunjukkan dengan sedikit aljabar bahwa dalam sajian matriks


kolom, transformasi di atas dapat ditulis sebagai perkalian matriks sebagai
berikut

0

x
x
1
z y
x
y 7 y 0 = z
1
x y ,
(10.13)
0
z
z
y x
1
z
dengan x = nx , y = ny dan z = nz . Matriks R(; n) yang
didefinisikan oleh

1
z y
1
x
R(; n) = z
(10.14)
y x
1
disebut matriks rotasi infinitisimal.

Contoh :
Jika n = k, maka sumbu rotasi adalah sumbu-z dan x = y = 0 serta
z = . Oleh karena itu

1 0
1
0 .
R(; k) =
0
0
1

(10.15)

Vektor r = xi + yj + zk mengalami transformasi menjadi r0 = x0 i + y 0 j + z 0 k


dengan

1 0
x
x y
x0
y 0 =
1
0 y = y + x .
0
0
0
1
z
z
z

(10.16)

Untuk perputaran sejauh yang finit, vektor posisi yang baru diperoleh
melalui persamaan


x0
R11 R12 R13
x
y 0 = R21 R22 R23 y ,
z0
R31 R32 R33
z

(10.17)

10.2. TRANSFORMASI KERUANGAN DAN TEMPORAL

213

dengan

R11 R12 R13


0
z y
0
x (10.18)
R(; n) := R21 R22 R23 = exp z
R31 R32 R33
y x
0

0
z y
X
1
z
0
x
=
n!
n=0
y x
0
Contoh :
Jika n = k, maka matriks R(; k) diberikan oleh

0
X
1
0
R(; k) = =
n!
n=0
0 0

1 2!1 2 +
= 3!1 3
0

cos sin
= sin cos
0
0

n
0
0
0
+ 3!1 3 +
1 2!1 2 +
0

0
0 .
1

(10.19)

0
0
1

Vektor r = xi + yj + zk mengalami transformasi menjadi r0 = x0 i + y 0 j + z 0 k


dengan


0
x cos y sin
x
cos sin 0
x
y 0 = sin cos 0 y = x sin + y cos . (10.20)
z
z0
0
0
1
z
Dengan perhitungan yang relatif mudah dilakukan, dapat ditunjukkan
bahwa transformasi perputaran melestarikan produk sekalar antara dua
buah vektor : jika r1 dan r2 dua buah vektor sedemikian rupa sehingga
hasil perputarannya berturut-turut r01 dan r02 , maka berlaku r1 r2 = r01 r02 .
Akibatnya, berlakulah bahwa
R(; n)R(; n)T

= R(; n)T R(; n) = R(; n)T R(; n)


= R(; n)R(; n)T = I.

(10.21)

214

BAB 10. KESETANGKUPAN

Selanjutnya transformasi perputaran merupakan transformasi linier. Suatu


transformasi T : R3r R3r dari ruang R3r ke dirinya sendiri dikatakan linier
jika untuk setiap bilangan riil 1 dan 2 serta vektor r1 , r2 berlaku
T (1 r1 + 2 r2 ) = 1 T (r1 ) + 2 T (r2 ).

(10.22)

Setiap transformasi linier dalam ruang R3r dapat disajikan dalam bentuk
(diwakili oleh) matriks yang determinannya tidak lenyap atau matriks yang
memiliki invers. Oleh karena itu transformasi rotasi atau perputaran hendak diperluas batasannya sebagai semua transformasi linier yang sajian
matriksnya memenuhi persamaan sebagaimana yang dipenuhi oleh matriks
R diatas (pers.(10.21)). Matriks-matriks yang memenuhi persamaan itu
disebut matriks ortogonal. Himpunan semua perputaran dalam ruang riil tiga dimensi (oleh karenanya) termuat dalam himpunan semua matriks
ortogonal O(3). Himpunan O(3) disertai dengan perkalian matriks meruR

1
pakan sebuah grup yang dikenal sebagai grup ortogonal. Andaikan r
r0
R
2
rotasi yang diwakili oleh matriks O1 dan r0 r00 rotasi yang diwakili oleh
R2 R1 0
matriks O2 . Maka rotasi r
r diwakili oleh matriks O2 O1 . Grup ini
termasuk ke dalam golongan grup Lie (lihat bagian 10.4!).

Oleh karena itu tidak setiap anggota O(3) mewakili perputaran dalam
artian keseharian. Sementara itu himpunan semua perputaran dalam artian keseharian disertai komposisi pemetaan juga membentuk sebuah grup.
Grup ini disebut grup SO(3) atau grup ortogonal khusus. Ini adalah himpunan semua matriks ortogonal yang memiliki determinant 1.
Unsur-unsur dari grup O(3) yang tidak mewakili perputaran dalam ruang riil adalah matriks-matriks dengan determinan 1. Matriks-matriks
ini mewakili transformasi dalam ruang R3r yang dikenal sebagai rotasi tak
wajar. Sebagai contoh, matriks

1 0 0
0 1 0
(10.23)
0 0 1
merupakan anggota dari O(3) yang tidak mewakili perputaran dalam artian
keseharian. Matriks ini mewakili pencerminan terhadap bidang XY.
Perlu juga ditekankan di sini, untuk setiap vektor (tidak harus vektor
posisi) komponen-komponennya akan mengalami transformasi sebagaimana
yang dialami oleh vektor posisi. Jadi, kalau A = Ax i+Ay j+Az k sembarang

10.2. TRANSFORMASI KERUANGAN DAN TEMPORAL

215

vektor
vektor, maka oleh rotasi yang diwakili oleh matriks ortogonal O,
tersebut mengalami transformasi menjadi

0
Ax
Ax
O11 O12 O13
A0y = O21 O22 O23 Ay .
(10.24)
0
Az
O31 O32 O33
Az
Yang barusan kita bahas adalah perputaran aktif, yakni perputaran yang
langsung dilakukan terhadap sistem fisis. Adapun perputaran pasif adalah
perputaran yang dilakukan terhadap sistem koordinat. Perputaran aktif
bersesuaian dengan perputaran aktif dengan arah yang berlawanan. Karena kita telah memilih kaidah tangan kanan untuk menentukan arah positif
pada perputaran aktif, maka arah positif pada perputaran pasif ditentukan
berdasarkan kaidah tangan kiri.

10.2.3

Campuran

Yang dimaksud dengan transformasi campuran adalah gabungan antara


pergeseran ruang dan perputaran ruang. Sebagai contoh, hendak ditinjau
pergeseran Ta dilanjutkan dengan perputaran R(; n). Dengan adanya
transformasi semacam itu suatu titik dengan vektor posisi r = xi + yj + zk
akan mengalami transformasi menurut
r0 = R(; n) Ta r = R(; ~n)(r + a) = R(; n)(r) + R(; n)(a).

(10.25)

Perputaran dan pergeseran ruang bukanlah dua transformasi yang saling


kommutatif. Hal ini dapat dibuktikan bila urutan transformasi di atas
dibalik : perputaran R(; n) lebih dahulu baru dilanjutkan dengan pergeseran Ta . Dengan urutan tersebut vektor r akan mengalami transformasi
sehingga diperoleh vektor
r00 = Ta R(; n)(r) = R(; n)(r) + a.

(10.26)

Pada umumnya R(; n)(r) + a 6= R(; n)(r) + R(; n)(a). Selanjutnya,


transformasi campuran jenis kedua ini ditulis sebagai [R(; n)|Ta ]. Sehingga pers.(10.26) dapat ditulis sebagai
r00 = [R(; n)|Ta ](r) = R(; n)(r) + a.

(10.27)

Mudah untuk dibuktikan, dengan bantuan pers.(10.27), bahwa himpunan


semua transformasi campuran jenis kedua disertai dengan perkalian yang

216

BAB 10. KESETANGKUPAN

didefinisikan oleh
[R(; n)|Ta ] [R(0 ; n0 )|Tb ] = [R(; n)R(0 ; n0 )|TR(0 ;n0 )(a)+b ]

(10.28)

merupakan sebuah grup.

10.3

Kesetangkupan dan Teorema Noether

Secara umum kesetangkupan atau simetri berarti invariansi hukum-hukum


fisika terhadap suatu transformasi. Untuk setiap sistem fisis, semua transformasi yang menjadikan (atau membiarkan) sifat-sifat sistem fisis tersebut
invarian membentuk sebuah grup yang disebut grup simetri bagi sistem fisis tersebut. Sebagai contoh, grup simetri bagi kristal tiga dimensi yang
infinit adalah grup semua pergeseran primitif, yakni pergeseran-pergeseran
TM , dengan M = mx ai + mx bj + mz ck dan ai + bj + ck vektor kekisi serta mx , my dan mz bilangan-bilangan bulat. Suatu sistem fisis dikatakan
bersimetri tinggi jika grup simetri sistem tersebut cukup besar. Sebaliknya,
sistem fisis dikatakan bersimetri rendah jika grup simetri sistem fisis tersebut cukup kecil. Suatu sistem fisis tidak bersimetri jika grup simetrinya
sepele, yakni yang hanya memuat transformasi identitas.
Berkaitan dengan kesetangkupan suatu sistem fisis, terdapat suatu dalil
yang mashur disebut teorema Noether. Menurut dalil ini, setiap kesetangkupan berpadanan dengan kelestarian suatu besaran fisis. Akan ditunjukkan dalam bagian-bagian berikut ini, bahwa kesetangkupan terhadap
grup pergeseran ruang berpadanan dengan kelestarian momentum linier,
bahwa kesetangkupan terhadap grup perputaran ruang berpadanan dengan
kelestarian momentum sudut, dan kesetangkupan terhadap grup pergeseran waktu (grup dinamik) berpadanan dengan kelestarian tenaga total.

10.3.1

Kesetangkupan dalam mekanika klasik

Tanpa mengurangi keumuman pembahasan, berikut ini hendak ditinjau


sebuah sistem mekanis yang memiliki kendala holonomik sedemikian rupa
sehingga sistem mekanis tersebut dapat dikoordinasikan dengan koordinat
umum (q 1 , , q n ). Untuk sistem mekanis semacam ini berlaku persamaan
Euler-Lagrange
d L
L
= 0,
(10.29)

dt q
q

10.3. KESETANGKUPAN DAN TEOREMA NOETHER

217

dengan L = L(q , q , t) adalah Lagrangan sistem dan q := dq /dt.


Homogenitas ruang
Homogenitas ruang berarti invariansi sistem fisis terhadap grup pergeseran
ruang. Dalam hal ini berlaku
n
X
L
L =
a = 0,
q

(10.30)

=1

dengan a komponen pergeseran ruang (q 1 , , q n ) 7 (q 1 +a1 , , q n +


an ). Oleh karena itu L/q = 0. Dari persamaan Euler-Lagrange di atas
didapat
d
p = 0,
(10.31)
dt
dengan p = L/ q . Khususnya, jika n = 3 dan q 1 = x, q 2 = y serta
q 3 = z, maka pers.(10.31) menjadi
d
p = 0.
dt

(10.32)

Jadi, jika sistem fisis invarian terhadap pergeseran ruang, maka momentum
linier sistem p bersifat lestari.
Isotropi ruang
Isotropi ruang berarti invariansi terhadap perputaran ruang. Ditinjau sebuah zarah yang hidup dalam ruang riil tiga dimensi sebagai ruang konfigurasi. Dalam hal ini, n = 3 dan q 1 = x, q 2 = y serta q 3 = z. Ditinjau
~ r, dengan
~ = n. Setiap vektor dalam ruang
rotasi r 7 r0 = r +
akan terotasi menurut cara serupa dengan yang dialami oleh r. Oleh karena
itu, kecepatan zarah v akan tertransformasi menurut
~ v.
v 7 v0 = v +

(10.33)

Invariansi terhadap rotasi ini berarti L = 0 atau


3 
X
L
i=1

L
xi +
vi
xi
vi


= 0.

(10.34)

218

BAB 10. KESETANGKUPAN

Dalam hal ini


~ r
r = xi + yj + zj =

(10.35)

~ v.
v = vx i + vy j + vz j =

(10.36)

dan
Karena L/xi = dpi /dt (lihat kembali persamaan Euler-Lagrange), maka
pers.(10.34) semakna dengan


dp ~
dp
~
~
( r) + p ( v) = r
+vp
dt
dt
~ d (r p) = 0
(10.37)
=
dt
atau

dL
= 0,
dt
Yaitu, kelestarian momentum sudut.

(10.38)

Homogenitas waktu
Homogenitas waktu berarti invariansi terhadap pergeseran waktu. Dalam
hal ini hukum fisika bagi sistem yang tertutup pada suatu saat t sama
dengan hukum fisika pada saat t + t0 . Jika dilakukan pergeseran waktu
t 7 t0 = t + t, maka Lagrangan sistem berubah sebesar
L =

L
t.
t

(10.39)

Invariansi terhadap pergeseran waktu berarti L = 0. Hal ini terjadi jika


L/t = 0, yaitu Lagrangan sistem mekanis yang ditinjau tidak gayut
secara eksplisit pada waktu. Jadi, L = L(q , q ). Tetapi, turunan total
dL/dt pada umumnya tidak lenyap, melainkan diberikan oleh
n
n
dL X L dq X L dq
=
+
,
dt
q dt
q dt
=1

(10.40)

=1

sebab L/t = 0. Dari persamaan Euler-Lagrange didapatkan




n
n
n
X
X
dL X d L
L dq
d
L
=
q
+
=
q
dt
dt q
q dt
dt
q
=1

=1

=1

(10.41)

10.3. KESETANGKUPAN DAN TEOREMA NOETHER


atau
d
dt

n
X
=1

Padahal
E :=

!
L
q
L = 0.
q

n
X
=1

L
L
q

219

(10.42)

(10.43)

merupakan tenaga total sistem mekanis yang ditinjau. Oleh karena itu
pers.(10.42) menyatakan kelestarian tenaga total sistem.

10.3.2

Kesetangkupan dalam mekanika kuantum

Homogenitas ruang
Ditinjau suatu keadaan dari suatu sistem kuantum yang diwakili oleh fungsi
gelombang (r, t). Jika sistem kuantum tersebut digeser sejauh a, maka
(masih dengan sistem koordinat yang lama) akan didapat keadaan baru
yang diwakili oleh, katakanlah (r, t) sedemikian rupa sehingga berlaku
0 (r + a, t) = 0 (Ta r, t) = (r, t).

(10.44)

z
6
0 (r, t)
:


3
r0 






 a
 (r, t)

HH

H

r HH
j

- y

x
Sketsa 10.2 Fungsi gelombang (r, t) suatu partikel yang digeser sejauh a dalam
ruang konfigurasi. Hasilnya adalah 0 (r, t) = (ra, t). Perlu diperhatikan bahwa
tinggi fungsi gelombang dalam sketsa ini tidak diukur terhadap sumbu-z. (Sketsa
ini dirancang dan digambar oleh M.F. Rosyid)

220

BAB 10. KESETANGKUPAN


(a) sedemikian rupa sehingga
Selanjutnya akan dicari suatu operator U
(a)(r, t).
0 (r, t) = U

(10.45)

Operator ini harus bersifat uniter (mengapa?). Karena


0 (Ta r, t) = 0 (r0 , t) = (r, t)

(10.46)

0 (r0 , t) = (Ta1 r0 , t) = (r0 a, t)

(10.47)

(a)(r, t) = 0 (r, t) = (r a, t)
U

(10.48)

maka
atau
Bila a = ~
infinitisimal, maka dengan penderetan Taylor di sekitar r
didapat
(r ~
, t) = (r, t) ~
5(r, t) +
~
i
( 5)(r, t) +
= (r, t) ~
~
i
i
(r, t) + .
= (r, t) ~
p
~

(10.49)

Bila suku-suku berderajad dua ke atas (yakni yang mengandung |~


|2 , |~
|3 ,
4
|~
| , dst.) diabaikan, maka didapat
i
(~
)(r, t).
U
)(r, t) = (r ~
, t) = (I ~
p
~

(10.50)

(~
). Dengan mudah dapat ditunjukkan
Oleh karena itu U
) = (I ~i ~
p

bahwa U (~
) merupakan operator yang uniter. Dalam kaitan ini, operator
disebut pembangkit pergeseran ruang.
momentum linier p
(a), dengan pergeseran a yang finit, maGuna mendapatkan operator U
ka a harus dipotong-potong menjadi segmen-segmen a/N yang ukurannya
sekecil mungkin (hal ini sama artinya dengan membuat bilangan asli N
sebesar mungkin). Dengan demikian diperoleh operator-operator pergeser (a/N ), bila N menuju ke tak terhingga. Operator U
(a)
an infinitisimal U
diperoleh sebagai limit

N



N
i
i a

.
= lim I
p
= exp a p
U (a) = lim U (a/N )
N
N
~N
~
(10.51)

10.3. KESETANGKUPAN DAN TEOREMA NOETHER

221

Sistem kuantum dikatakan invarian terhadap pergeseran Ta apabila


0 (r, t) memenuhi persamaan Schrodinger sebagaimana yang dipenuhi oleh
(r, t). Andaikan (r, t) memenuhi persamaan Schrodinger
i~

(r, t) = H(r,
t),
t

(10.52)

operator Hamiltonan untuk sistem kuantum yang ditinjau. Madengan H


ka sistem kuantum tersebut invarian terhadap pergeseran Ta bila 0 (r, t)
memenuhi persamaan
i~

0
0 (r, t).
(r, t) = H
t

(10.53)

Lalu, syarat apa sajakah yang harus dipenuhi agar persamaan terakhir ini
berlaku? Dengan mudah dapat dibuktikan bahwa
i~

0
(a)H
U
(a)0 (r, t).
(r, t) = U
t

(10.54)

Persamaan ini menunjukkan bahwa fungsi 0 (r, t) memenuhi persamaan


Schrodinger sebagaimana persamaan yang dipenuhi oleh (r, t) jika dan
hanya jika
(a)H
U
(a) = H

U
(10.55)
atau
(a), H]
= 0.
[U

(10.56)

= 0. Oleh sebab
Persamaan terakhir ini berlaku jika dan hanya jika [
p, H]
itu, syarat agar suatu sistem kuantum invarian terhadap pergeseran adalah
ke-komutatif-an operator momentum linier dengan operator Hamiltonan
secara eksplisit
sistem kuantum tersebut. Selanjutnya, karena operator p
tidak gayut pada waktu, maka
d
i
] > = 0.
< p > = < [H,
p
dt
~

(10.57)

Jadi, invariansi sistem kuantum terhadap pergeseran ruang berakibat kelestarian nilai harap momentum linier. Inilah versi kuantum dari teorema
Noether untuk pergeseran ruang.

222

BAB 10. KESETANGKUPAN

Isotropi ruang
Dalam bagian ini hendak ditinjau dua kasus : perputaran ruang untuk
fungsi gelombang skalar dan fungsi gelombang vektor.

sumbu putar
*
HH

H
0 (r, t)

H

HH


HH


H
 @
I
 H
@
@
@
@
r@
r0 = r + n r
n
6
@
@
@
(r, t)

O
Sketsa 10.3 Fungsi gelombang (r, t) suatu partikel yang diputar sejauh
memutari sumbu yang berimpit dengan vektor satuan n dalam ruang konfigurasi.
Hasilnya adalah 0 (r, t) = (r n r, t). (Sketsa ini dirancang dan digambar
oleh M.F. Rosyid)

Andaikan suatu sistem kuantum berada pada keadaan yang diwakili


oleh fungsi gelombang skalar (r, t) (lihat Sketsa 10.3). Bila sistem kuantum tersebut diputar sejauh (infinitisimal) dengan sumbu putar n, maka didapat kedaan baru (masih dilihat dari sistem koordinat yang lama)
0 (r, t) sedemikian rupa sehingga
0 (R(; n)r, t) = 0 (r + r, t) = (r, t),

(10.58)

~ r.
r = r0 r =

(10.59)

dengan

10.3. KESETANGKUPAN DAN TEOREMA NOETHER

223

~ sedemikian rupa sehingga


()
Kemudian hendak dicari operator U
~
()(r,
U
t) = 0 (r, t).

(10.60)

Sebagaimana pada pergeseran, diperolehlah


0 (r, t) = (R(; n)1 r, t) = (r r, t).

(10.61)

Selanjutnya, dengan penderetan yang dipotong hanya pada suku berderajad satu, didapat
~ r) 5(r, t)
0 (r, t) = (r, t) (
i ~
(r, t)
= (r, t) (
r) p
~


i ~
=
I
L (r, t).
~

(10.62)

~ diberikan oleh
()
Oleh karena itu operator U
~ = I i
~ L.

()
U
~

(10.63)

disebut pembangkit
Dalam kaitan ini operator momentum sudut orbital L
~ merupakan operator uniter.
()
perputaran ruang. Operator U
~ untuk perputaran finit
~ = n diperoleh dengan cara
()
Operator U
yang serupa dengan yang dipergunakan pada pergeseran finit. Operator
~ diberikan oleh
()
U


~ = exp i
~L

()
U
(10.64)
~
Agar 0 (r, t) memenuhi persamaan Schrodinger sebagaimana fungsi gelombang oleh (r, t), haruslah
~ H]
(),
= 0.
[U

(10.65)

H]
= 0. Jadi, agar sistem kuantum
Hal ini semakna dengan berlakunya [L,
yang ditinjau invarian terhadap perputaran, maka Hamiltonannya harus
komut dengan momentum sudut orbital. Selanjutnya, diperoleh pula kelestarian nilai rerata momentum sudut
d
i
< L > = < [H,
L] > = 0.
dt
~

(10.66)

224

BAB 10. KESETANGKUPAN


Sekarang ditinjau keadaan yang diwakili oleh fungsi gelombang vector1

1 (r, t)
~
(r,
t) = 2 (r, t) .
(10.67)
3 (r, t)

~ = n, maka akan didapat


Bila sistem fisis yang ditinjau diputar sejauh
0
~
keadaan baru (r, t) sedemikian rupa sehingga2
~ 0 (R(; n)r, t) = R(; n)(r,
~

t).

(10.68)

Dari pers.(10.68) diperoleh


~ (r
~ 0 (r, t) = R(; n)(R(;
~
~ r, t)
~ r, t),

n)1 r, t) = (r
(10.69)
~ r. Berdasarkan pembahasan sebelumya
dengan r =
i ~ ~
~ r, t) = (r,
~ r, t) = (r
~
~
L)(r, t).
(r
t) (
~

(10.70)

Bila ungkapan terakhir ini dimasukkan ke dalam pers.(10.69) diperoleh


i ~ ~
~ (r,
~ 0 (r, t) = (r,
~
~

t) (
L)(r, t) +
t),
~

(10.71)

~
~ L
(r,
~
dengan suku
t) diabaikan. Sekarang kita hendak memper~
~
hatikan suku (r, t). Bila dituliskan perkomponen diperoleh
~ (r,
~
[
t)]i =

3
X

ijk j k

(10.72)

j,k=1

3
X
j,k=1

i
( )(i~ijk )j k
~

3
i X
j (Sj )ik k ,
~
j,k=1

1
Contoh paling familier zarah yang keadaan-keadaan kuantumnya diwakili oleh fungsi
gelombang vektor adalah foton yang memenuhi persamaan Maxwell. Contoh lainnya
adalah meson vektor yang memenuhi persamaan Proca. Lihat selanjutnya di [Rd].
2
~
Rotasi R(; n) pada ruas kanan diperlukan karena fungsi gelombang (r,
t) sebagai
vektor juga mengalami perputaran.

10.3. KESETANGKUPAN DAN TEOREMA NOETHER

225

dengan (Sj )ik = i~ijk adalah unsur matriks Sj . Dari persamaan terakhir
ini didapatkan
~ (r,
~

t) =

3
X
i=1

i ~ ~
~ (r,
~
[
t)]i ei = (
S)(r, t),
~

(10.73)

dengan e1 = i, e2 = j dan e3 = k. Oleh karena itu


i ~
~ (r,
+ S))
(r,
~
()
~
~
(L
t).
U
t) = (r,
t) (
~
Secara eksplisit matriks Sj diberikan oleh

0 0 0
S1 = i~ 0 0 1
0 1 0

(10.74)

(10.75)

0 0 1
S2 = i~ 0 0 0
1 0 0

(10.76)

0 1 0
S3 = i~ 1 0 0
0 0 0

(10.77)

Matriks-matriks Si merupakan matriks Hermitean dan memenuhi aturan


komutasi
X
(10.78)
[Si , Sj ] = i~
ijk Sk
k

i , yakni [L
i, L
j ] =
sebagaimana
yang dipenuhi oleh momentum sudut L
P
k . Karena Si tak gayut pada variabel keruangan dan memenuhi
i~ k ijk L
disebut momentum sudut
aturan komutasi untuk momentum sudut, maka S
j ] = 0. Akibatnya, kita
intrinsik atau spin. Karena itu, maka berlaku [Si , L
dapatkan
X
i + Si ), (L
j + Sj )] = i~
k + Sk ).
[(L
ijk (L
(10.79)
k

:= L+
S
sebagai momentum sudut total, maka operator
Bila didefinisikan J
~ diberikan oleh
()
uniter U
~ = I i
~ J.

()
U
~

(10.80)

226

BAB 10. KESETANGKUPAN

~ operator U
~ diberikan oleh
()
Untuk rotasi finit


i~
~

U () = exp J .
~

(10.81)

H]
=
Sebagaimana sebelumnya, invariansi terhadap rotasi menghendaki [J,
0 dan rerata < J > lestari.

10.4

Grup Lie, Aljabar Lie dan Maknanya

Dari yang telah dipaparkan dalam bab ini jelaslah kiranya betapa penting
peran yang dimainkan oleh kesetangkupan untuk mempelajari suatu sistem
fisis. Dari kesetangkupan itulah dapat disimpulkan sifat-sifat sistem fisis
tersebut. Karena setiap kesetangkupan berpadanan dengan sebuah grup
(disebut grup setangkup dari sistem fisis yang terkait), maka peran yang
dimainkan oleh teori grup pun setara dengan yang dimainkan oleh kesetangkupan. Jadi, sifat-sifat sistem fisis dapat disimpulkan dari sifat-sifat
yang dimiliki oleh grup setangkupnya.

10.4.1

Grup Lie

Secara teknis matematis, grup Lie didefinisikan sebagai suatu manifold licin
yang memiliki struktur grup sedemikian rupa sehingga struktur differensialnya kompatibel dengan struktur grup tersebut. Bagi sebagian pembaca batasan yang sangat teknis seperti ini boleh jadi dirasakan sebagai
hambatan dalam upaya memahami fitur-fitur bermanfaat yang ditawarkan
oleh grup Lie. Namun, definisi yang lebih longgar berikut ini sering sangat
membantu para pembaca yang mengalami kesulitan : grup Lie adalah grup
yang unsur-unsurnya bervariasi secara kontinyu (tidak diskret)3 , yakni suatu grup yang unsur-unsurnya dapat dilabeli dengan beberapa parameter
riil yang kontinyu. Jumlah parameter riil menunjukkan dimensi dari grup
Lie yang bersangkutan. Walaupun jauh untuk dikatakan tepat, namun
batasan kasar semacam ini seringkali sangat membantu dalam memahami
konsep grup Lie. Beruntung pula bahwa semua grup Lie yang muncul dalam
3

Oleh karena itulah, di kalangan fisikawan, grup Lie disebut juga grup kontinyu. Bagi
para matematikawan, terma grup kontinyu memiliki pengertian tersendiri. Setiap grup
Lie merupakan grup kontinyu, tetapi tidak sebaliknya.

10.4. GRUP LIE, ALJABAR LIE DAN MAKNANYA

227

pembicaraan ini kecuali grup pergeseran ruang dan waktu merupakan grup
linier. Artinya, mereka adalah grup yang beranggotakan matriks-matriks.
Oleh karena itu, kalau hanya berbekalkan batasan kasar di atas, lebih baik
untuk menyebutkan satu-persatu grup Lie yang relevan dengan pokok pembahasan kita :
Andaikan gl(2, C) himpunan semua matriks kompleks 2 2. Himpunan Gl(2, C) := {A gl(2, C) : det(A) 6= 0} disertai perkalian
matriks dikenal sebagai grup linier umum kompleks 2 2. Jadi, grup linier umum kompleks 2 2 beranggotakan semua matriks
kompleks 2 2 yang memiliki invers.
Andaikan gl(3, R) himpunan semua matriks riil 3 3. Himpunan
Gl(3, R) := {A gl(3, R) : det(A) 6= 0} disertai perkalian matriks
dikenal sebagai grup linier umum riil 3 3. Jadi, grup ini beranggotakan seluruh matriks riil 3 3 yang mempunyai invers.
Himpunan U (2) := {A Gl(2, C) : A = A1 } yang beranggotakan
semua matriks uniter 2 2 disertai dengan perkalian matriks biasa
merupakan sebuah grup yang dikenal sebagai grup uniter U (2).
Matriks-matriks riil berukuran 33 yang ortogonal disertai perkalian
matriks merupakan sebuah grup yang telah diperkenalkan didepan
sebagai grup ortogonal O(3). Jadi, O(3) := {A Gl(3, R) : AT =
A1 }.
Matriks-matriks kompleks anggota dari U (2) yang memiliki nilai determinant 1 disertai perkalian matriks merupakan sebuah grup yang
dinamakan grup uniter khusus SU (2). Secara singkat, SU (2) :=
{A U (2) : det A = 1}.
Demikian juga dengan himpunan SO(3) := {A O(3) : det A =
1}, disertai dengan perkalian matriks merupakan sebuah grup yang
dikenal sebagai grup ortogonal khusus.

10.4.2

Aljabar Lie

Andaikan A suatu ruang vektor (boleh kompleks ataupun riil). Suatu hasil
kali atau produk yang didefinisikan pada himpunan A disebut perkalian
Lie jika semua syarat-syarat berikut ini dipenuhi

228

BAB 10. KESETANGKUPAN

Gambar 10.1: Sophus Lie (1842-1899), matematikawan kelahiran Nordfjordeide, Norwegia. Namanya diabadikan atas jasanya dalam pengembangan teori grup
transformasi kontinyu (kiri). Hermann Weyl (1885-1955), matematikawan kelahiran Hamburg, Jerman. Memberikan sumbangan besar dalam applikasi teori grup
(grup Lie) dalam mekanika kuantum (kanan). (Foto diambil dari situs www.groups.dcs.st-and.ac.uk.)
1. Antisimetri : a b = b a, untuk semua a, b A,
2. Linier pada kedua faktor :
a (b + c) = a b + a c

(10.82)

(b + c) a = b a + c a,

(10.83)

dan
untuk semua skalar , dan semua a, b, c A,
3. Identitas Jacobi : a (b c) + b (c a) + c (a b) = 0, untuk semua
a, b, c A.
Dapat ditunjukkan dengan mudah bahwa syarat pertama dari batasan di
atas setara dengan syarat : aa = 0 untuk setiap a. Sedangkan syarat ketiga menyatakan ketidakassosiatifan perkalian Lie. Ruang vektor A disertai
dengan perkalian Lie disebut aljabar Lie.
Konsep aljabar Lie menjadi penting karena untuk setiap grup Lie (oleh
karena itu terkait juga dengan simetri atau kesetangkupan suatu sistem
fisis bila grup Lie yang ditinjau merupakan grup setangkup bagi sistem
fisis tersebut) terdapat suatu aljabar Lie yang khas untuk masing-masing

10.4. GRUP LIE, ALJABAR LIE DAN MAKNANYA

229

grup Lie sedemikian rupa sehingga sifat-sifat sebuah grup Lie dicerminkan
oleh sifat-sifat aljabar Lie dari grup Lie tersebut [Ste]. Dengan demikian
kesetangkupan suatu sistem fisis pun dapat juga disimpulkan dari sifatsifat aljabar Lie dari grup simetri sistem fisis tersebut. Apa yang telah
dibicarakan di muka menunjukkan fitur semacam ini.

H
HH


H

HH

a
1
H


HH
YH
H



H
HH
HH

e
H
a
HH
A

H


HH

a2 
H


HH

H

HH

HH


H

Sketsa 10.4 Aljabar Lie A yang berpadanan dengan grup Lie G merupakan
ruang vektor singgung pada unsur identitas e dari grup G. (Sketsa ini dirancang
dan digambar oleh M.F. Rosyid)

Menurut geometri differensial aljabar Lie dari suatu grup Lie adalah
ruang singgung pada unsur identitas dari grup Lie tersebut (lihat Sketsa
10.4). Oleh karena itu aljabar Lie merupakan linierisasi dari grup Lie di
sekitar unsur identitasnya. Unsur-unsur suatu grup Lie (paling tidak di
sekitar unsur identitasnya) dapat diperoleh dari unsur-unsur aljabar Lie
yang berpadanan dengan grup itu melalui fungsi eksponensial. Sebagai
contoh adalah apa yang telah ditunjukkan oleh pers.(10.18).
Bila A sebuah matriks berukuran n n, maka eksponensial dari A,
ditulis sebagai exp(A), didefinisikan sebagai matriks yang diberikan oleh
X Aj
exp(A) =
.
(10.84)
j!
j=0

230

BAB 10. KESETANGKUPAN

Teorem berikut menegaskan keberadaan nilai eksponensial bagi suatu


matriks anggota suatu aljabar Lie.
Teorema 10.4.1 Setiap unsur a dari aljabar Lie riil A suatu grup Lie
linier G terkait dengan unsur-unsur g(t) dari G yang berparameterkan bilangan riil t melalui
A(t) = exp(ta),

< t < .

(10.85)

Khusus untuk grup-grup yang memiliki sifat topologis tertentu, setiap unsur dari grup-grup tersebut dapat didapatkan dari unsur-unsur aljabar Lie
yang berpadanan dengan grup Lie tersebut. Hal ini tercermin dari teorema
berikut
Teorema 10.4.2 Bila suatu grup Lie linier G tersambung dan kompak,
maka setiap unsur g dari G dapat dituliskan sebagai eksponensial dari beberapa unsur a dari aljabar Lie riil A yang terkait dengan grup Lie G.
Bukti bagi kedua teorema di atas dapat dibaca sendiri oleh para pembaca
menginginkannya di [Cor2] bab 10.
Berikut ini adalah aljabar-aljabar Lie yang berpadanan dengan grupgrup Lie yang telah disebutkan di atas :
1. Ditinjau himpunan gl(2, C) yang beranggotakan semua matriks kompleks berukuran 2 2. Bila A dan B sembarang dua anggota dari
gl(2, C), maka komutator antara A dan B adalah matriks [A, B] yang
didefinisikan oleh [A, B] = AB BA. Bila komutator [A, B] ditulis sebagai A B, maka komutator yang didefinisikan pada himpunan gl(2, C) dapat dipandang sebagai suatu perkalian pada himpunan gl(2, C), sebab komutator [A, B] adalah juga matriks anggota
gl(2, C). Perkalian ini merupakan perkalian Lie. Karena gl(2, C)
merupakan ruang vektor, maka gl(2, C) disertai komutator merupakan aljabar Lie. Aljabar Lie gl(2, C) merupakan aljabar Lie dari
grup Lie Gl(2, C).
2. Bila A dan B sembarang dua anggota dari gl(3, R), maka komutator
[A, B] yang didefinisikan sebagaimana di atas merupakan perkalian
Lie. Karena gl(3, R) merupakan ruang vektor, maka gl(3, R) disertai

10.4. GRUP LIE, ALJABAR LIE DAN MAKNANYA

231

komutator merupakan aljabar Lie. Aljabar Lie gl(3, R) merupakan


aljabar Lie dari grup Lie Gl(3, R).
Berdasarkan Teorema 10.4.1, jika A gl(3, R), maka
exp(tA) Gl(3, R)

(10.86)

untuk setiap bilangan riil t. Tetapi tidaklah sebaliknya, tidak setiap


unsur di Gl(3, R) dapat dituliskan sebagai eksponensial dari suatu
unsur di gl(3, R).
3. Tuliskan sebagai u(2) himpunan yang beranggotakan semua matriks
kompleks 2 2 yang antihermitean : sebuah matriks kompleks A
dikatakan antihermitean jika A = A. Himpunan u(2) disertai
dengan komutator merupakan aljabar Lie sebab u(2) tertutup terhadap komutator, yakni jika A, B u(2), maka [A, B] u(2). Aljabar u(2) merupakan subaljabar Lie dari aljabar gl(2, C) sebab u(2)
merupakan subruang vektor dari gl(2, C). Aljabar Lie u(2) merupakan aljabar Lie dari grup U (2).
4. Tuliskan sebagai su(2) himpunan yang beranggotakan semua matriks
kompleks 2 2 yang antihermitean dan sekaligus tidak mempunyai
lacak : sebuah matriks dikatakan tidak mempunyai lacak bila
jumlahan semua unsur diagonal utamanya lenyap. Himpunan su(2)
disertai dengan komutator merupakan aljabar Lie sebab himpunan
su(2) tertutup terhadap komutator, yakni jika A, B su(2), maka [A, B] su(2). Aljabar su(2) merupakan subaljabar Lie dari aljabar u(2). Aljabar Lie su(2) merupakan aljabar Lie dari grup SU (2).
Karena SU (2) merupakan grup yang tersambung dan kompak, maka
berdasarkan Teorema 10.4.2 setiap unsur U SU (2) dapat dituliskan
sebagai
U = exp(u),

(10.87)

i
i
i
{u1 = 1 , u2 = 2 , u3 = 3 } su(2)
2
2
2

(10.88)

untuk suatu u su(2).


Himpunan

dengan

1 =

0 1
1 0


,

2 =

0 i
i 0


,

dan

3 =


1 0
,
0 1
(10.89)

232

BAB 10. KESETANGKUPAN


merupakan basis bagi su(2). Ketiga unsur dari su(2) itu disebut
pembangkit bagi su(2). Dengan mudah dapat ditunjukkan bahwa

[ui , uj ] =

3
X

ijk uk .

(10.90)

k=1

5. Tuliskan so(3) sebagai himpunan yang beranggotakan semua matriks


A yang riil dan berukuran 3 3 sedemikian rupa sehingga AT = A.
Himpunan so(3) disertai dengan komutator merupakan aljabar Lie.
Aljabar so(3) merupakan subaljabar Lie dari aljabar gl(3, R) sebab
so(3) merupakan subruang vektor dari gl(3, R) dan so(3) tertutup
terhadap komutator : jika A, B so(3), maka [A, B] so(3). Sedikit
berbeda dengan sekema untuk matriks-matriks kompleks di atas, aljabar so(3) merupakan aljabar Lie dari grup Lie O(3) maupun SO(3).
Secara topologis, dapat diduga bahwa grup SO(3) merupakan subgrup terbuka dari grup O(3). Sebagaimana untuk SU (2), yakni karena SO(3) merupakan grup yang tersambung dan kompak, maka setiap
unsur O SO(3) dapat ditulis sebagai eksponensial dari suatu unsur
o di so(3), yakni sebagai
O = exp(o).

(10.91)

Himpunan {a1 , a2 , a3 }, dengan

0 0 0
a1 = 0 0 1 ,
0 1 0
a3

0 0 1
a2 = 0 0 0 ,
1 0 0

0 1 0
1 0 0 ,
0 0 0

dan

(10.92)

merupakan basis bagi so(3) dan disebut pembangkit baginya. Dapat


ditunjukkan dengan mudah bahwa

[ai , aj ] =

3
X
k=1

ijk ak

(10.93)

10.4. GRUP LIE, ALJABAR LIE DAN MAKNANYA

233

Didefinisikan pemetaan s : su(2) so(3) menurut

s (u)11 s (u)12 s (u)13


s (u) = s (u)21 s (u)22 s (u)23
s (u)31 s (u)32 s (u)33

tr(1 [u, 1 ]) tr(1 [u, 2 ]) tr(1 [u, 3 ])


1
tr(2 [u, 1 ]) tr(2 [u, 2 ]) tr(2 [u, 3 ]) ,
=
2
tr(3 [u, 1 ]) tr(3 [u, 2 ]) tr(3 [u, 3 ])
(10.94)
untuk setiap u su(2). Pemetaan s merupakan pemetaan linier yang
bijektif atau satu-satu dan memenuhi ungkapan
s ([u, u0 ]) = [s (u), s (u0 )].

(10.95)

Maka dikatakan bahwa aljabar Lie su(2) isomorfis dengan aljabar Lie so(3).

10.4.3

Teori Wakilan

Wakilan merupakan hal yang paling penting dalam penerapan teori grup.
Karena ruang keadaan dalam mekanika kuantum berupa ruang Hilbert,
maka wakilan yang penting adalah wakilan linier atau wakilan matriks.
Oleh karenanya dirasa telah mencukupi jikalau dalam hal ini hanya wakilan
matriks yang diperkenalkan.
Teori wakilan suatu grup dimulai dari konsep homomorfi. Dua buah
grup G1 dan G2 dikatakan homomorfis jika terdapat pemetaan : G1
G2 sedemikian rupa sehingga (gg 0 ) = (g)(g 0 ) untuk sembarang g dan
g 0 anggota G. Pemetaan yang memenuhi syarat tersebut disebut homomorfisme. Bila homomorfisme juga sekaligus bijektif atau punya invers,
maka disebut isomorfisme. Dua buah grup dikatakan isomorfis jika
terdapat isomorfisme di antara keduanya.
Andaikan G0 suatu grup yang beranggotakan matriks-matriks bujursangkar berukuran n n (boleh riil boleh kompleks). Sebuah homomorfisme dari suatu grup G ke grup matriks G0 disebut wakilan matriks
berdimensi n dari G. Namun sering pula dikatakan bahwa grup matriks
G0 merupakan wakilan berdimensi n dari grup G. Suatu wakilan dari grup
G dikatakan uniter jika setiap matriks yang mewakili masing-masing unsur
di G merupakan matriks uniter.

234

BAB 10. KESETANGKUPAN

Contoh :
Ditinjau ruang riil R3 . Rotasi memutari sumbu yang ditengarai oleh vektor
satuan n = nx i+ny j+nz k sejauh adalah transformasi R(n, ) : R3 R3
sedemikian rupa sehingga

R(n, ) : r 7 R(n, )r = r cos + (n r)n(1 cos ) + (r r) sin


(10.96)
untuk setiap r R3 (lihat misalnya di [Ros0]). Himpunan yang beranggotakan semua transformasi semacam ini tidak lain adalah grup rotasi wajar. Kemudian didefinisikan pemetaan R menurut
R : R(n, ) 7 R (R(n, )) = R(n, ),

(10.97)

dengan R(n, ) merupakan matriks 33 diberikan oleh pers.(10.18). Dapat


ditunjukkan bahwa R(n, ) diberikan (sekali lagi, lihat misalnya di [Ros0])
oleh
R(n, ) = I3 + N 2 (1 cos ) + N sin ,

(10.98)

dengan I3 adalah matriks identitas


33 dan N adalah matriks yang unsurP
unsurnya diberikan oleh k ijk nk . Pemetaan R merupakan homomorfisme dari grup rotasi ke grup matriks SO(3), sebab R (R(n, )) SO(3)
untuk setiap rotasi R(n, ) dan
R (R(n, )R(n0 , 0 )) = R (R(n, ))R (R(n0 , 0 )),

(10.99)

untuk semua rotasi R(n, ) dan R(n0 , 0 ). Pemetaan R oleh karena itu
merupakan wakilan matriks berdimensi tiga dari grup rotasi. Wakilan ini
disebut wakilan alamiah dari grup rotasi. Karena SO(3) U (3), maka R
merupakan wakilan uniter.

10.4. GRUP LIE, ALJABAR LIE DAN MAKNANYA

235

Contoh :
Ditinjau grup SO(3) dan SU (2). Pemetaan S : SU (2) SO(3) dari grup
matriks SU (2) ke grup matriks SO(3) yang didefinisikan oleh

S (U )11 S (U )12 S (U )13


S (U ) = S (U )21 S (U )22 S (U )23
S (U )31 S (U )32 S (U )33

tr[1 U 1 U 1 ] tr[1 U 2 U 1 ] tr[1 U 3 U 1 ]


1
tr[2 U 1 U 1 ] tr[2 U 2 U 1 ] tr[2 U 3 U 1 ] ,
=
2
tr[3 U 1 U 1 ] tr[3 U 2 U 1 ] tr[3 U 3 U 1 ]
(10.100)
untuk setiap U SU (2), dengan 1 , 2 dan 3 diberikan oleh pers.(10.89),
merupakan homomorfisme (lihat Soal-soal 10.5 nomor 10!). Oleh karena itu
dapat dikatakan bahwa grup SO(3) merupakan wakilan tiga dimensi dari
grup SU (2). Homomorfisme S ini bukanlah korespodensi satu-satu. Dapat
dibuktikan bahwa S merupakan korespondensi dua-satu, setiap dua unsur
SU (2) dijodohkan dengan satu unsur SO(3). Jelasnya, berlaku S (U ) =
S (U ) untuk setiap U SU (2) [Cor1].
Contoh :
Dari contoh sebelumnya kita dapat merubah arah pemetaan, sehingga kita
mendapatkan pemetaan yang bernilai ganda dari SO(3) ke SU (2) :
R 7 U(R) := U,

(10.101)

untuk setiap R SO(3) dengan R = S (U ) = S (U ). Karena U(RR0 ) =


U(R)U(R0 ), maka U : SO(3) SU (2) merupakan wakilan bernilai ganda. Dari contoh pertama dalam bagian ini, boleh dikatakan bahwa SU (2)
merupakan wakilan uniter bernilai ganda dari grup rotasi.

Wakilan Aljabar Lie


Suatu pemetaan linier : A A0 dari suatu aljabar Lie A ke aljabar Lie
A0 disebut homomorfisme jika
[(a), (b)] = ([a, b]),

(10.102)

236

BAB 10. KESETANGKUPAN

untuk semua a, b A. Jika aljabar Lie A0 beranggotakan matriks-matriks


nn, maka pemetaan dinamakan wakilan matriks berdimensi n dari
aljabar Lie A.

Contoh :
Isomorfisme s : su2 so(3) yang didefinisikan oleh pers.(10.94) merupakan wakilan berdimensi 3 dari aljabar su(2). Dan sebaliknya, isomorfisme invers 1
s merupakan wakilan berdimensi dua dari aljabar so(3).

Wakilan Tak Tersusutkan


Andaikan suatu wakilan matriks berdimensi n dari suatu grup G dan g
sembarang anggota G. Sebagai pemetaan linier pada ruang vektor (Hilbert)
H berdimensi n, matriks (g) memenuhi persamaan (g) H untuk setiap H. Suatu subruang vektor (Hilbert) K dari H dikatakan invarian
relatif terhadap (g) jika (g) K untuk setiap K. Wakilan
dikatakan tak tersusutkan (irreducible) bila tidak ada subruang vektor dari
H yang invarian relatif terhadap (g) untuk setiap g G selain subruang
vektor H dan {0}.
Konsep ketaktersusutkan untuk wakilan suatu aljabar Lie tidak berbeda
dari konsep ketaktersusutkan dari wakilan grup Lie.

Hubungan Antara Wakilan Grup dan Wakilan Aljabar Lie


Andaikan G suau grup Lie yang unsur-unsurnya ditentukan oleh m buah parameter (x1 , x2 , , xm ). Suatu wakilan berdimensi sembarang dikatakan
analitik bila setiap matriks (g), dengan g G, merupakan fungsi analitik
dari (x1 , x2 , , xm ).
Hubungan antara wakilan aljabar Lie dan grup Lie yang berpadanan
disimpulkan dalam teorema berikut ([Cor2] bab 11).
Teorema 10.4.3 Andaikan merupakan wakilan analitik berdimensi n
dari suatu grup Lie linier G yang berpadanan dengan aljabar Lie A.

10.4. GRUP LIE, ALJABAR LIE DAN MAKNANYA

237

1. Terdapat wakilan berdimensi n dari aljabar A sedemikian rupa sehingga




d
(a) =
(exp(ta))
,
(10.103)
dt
t=0
untuk setiap a A.
2. Untuk setiap a A dan t R berlaku
exp[t(a)] = [exp(ta)].

(10.104)

3. Bilamana grup G secara topologis tersambung, maka wakilan tak


tersusutkan jika dan hanya jika wakilan tak tersusutkan.
4. Jika wakilan uniter dari G, maka (a) antihermitean untuk setiap
a A. Kebalikan (konvers) dari kalimat di atas berlaku bila grup G
secara topologis tersambung.
Wakilan yang disebutkan dalam teorema terakhir dinamakan wakilan
kanonis dari aljabar A relatif terhadap wakilan dari grup G.

Contoh :
Telah disebutkan bahwa himpunan {a1 , a2 , a3 } yang masing-masing unsurnya diberikan oleh pers.(10.92) merupakan basis atau pembangkit bagi
aljabar Lie so(2). Telah pula disadari bahwa pemetaan 1
yang merus
pakan invers dari s yang didefinisikan oleh pers.(10.94) merupakan wakilan berdimensi dua dari so(3). Dalam wakilan ini
1
s (a1 ) =

1
2

0 i
i 0


,

1
s (a3 ) =

1
1
s (a2 ) =
2


1 i 0
.
0 i
2

0 1
1 0


,

dan
(10.105)

Oleh karena itu, dari ungkapan untuk 1


s (a3 ) dan pers.(10.84) didapatkan
exp(t1
s (a3 )) =

exp( 12 it)
0
0
exp( 12 it)


.

238

BAB 10. KESETANGKUPAN

Padahal, juga dengan pers.(10.84) diperoleh

cos t sin t 0
exp(ta3 ) = sin t cos t 0
0
0
1
yang tidak lain adalah pers.(10.19). Untuk t0 + 2, didapatkan bahwa
exp((t0 + 2)a3 ) = exp(t0 a3 )

(10.106)

0 1
exp((t0 + 2)1
s (a3 )) = exp(t s (a3 )).

(10.107)

dan

Jadi, wakilan dua dimensi 1


s dari so(3) bukanlah wakilan kanonis dari
so(3) relatif terhadap wakilan alamiah dari SO(3).

10.4.4

Grup Setangkup dan Teorema Noether

Untuk mempelajari suatu sistem kuantum, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari grup setangkup sistem fisis tersebut4 . Hal kedua,
setelah mengetahui grup setangkup sistem fisis itu, adalah mencari wakilan
uniter tak tersusutkan dari grup setangkup tersebut. Bila grup setangkup
sistem fisis itu secara topologis tersambung, maka wakilan kanonis aljabar
Lie (yang berpadanan dengan grup setangkup itu) relatif terhadap wakilan
uniter tak tersusutkan di atas5 merupakan wakilan antihermitean. Selanjutnya matriks-matriks antihermitean yang mewakili pembangkit aljabar
Lie dari grup setangkup itu terkait dengan observabel kuantum yang lestari.
Wakilan matriks observable-observabel kuantum yang lestari ini diperoleh
dari matriks-matriks wakilan pembangkit aljabar Lie tersebut dengan jalan
mengalikan mereka dengan bilangan i~.
Pada tataran kuantum teorema Noether oleh karena itu dapat dirumuskan secara lebih elegan sebagai berikut :
Teorema 10.4.4 (Teorema Noether) Andaikan suatu sistem fisis mempunyai grup setangkup G dengan aljabar Lie A. Andaikan pula bahwa
merupakan wakilan uniter tak tersusutkan dari grup setangkup G. Bila
4
5

Grup setangkup suatu sistem fisis dapat diketahui misalnya dengan eskperimen.
yakni, yang diperoleh dari pers.(10.103).

10.5. SOAL-SOAL

239

merupakan wakilan kanonis aljabar A relatif terhadap wakilan uniter dari


G, maka matriks-matriks antihermitean (ai ) yang mewakili pembangkit aljabar Lie A berpadanan dengan observabel-observabel kuantum yang lestari.

10.5

Soal-soal

1. Ditinjau sebuah zarah yang terletak pada suatu titik dalam ruang
konfigurasi dengan vektor posisi r = xi + yj + zk. Bila zarah tersebut diputar sejauh (infinitisimal) memutari sumbu yang berimpit
dengan vektor satuan n = nx i + ny j + nz k sedemikian rupa sehingga
arah perputaran dan vektor n memenuhi kaidah putar kanan. Tunjukkanlah bahwa posisi yang baru dari zarah tersebut diberikan oleh
~ r,
r 7 r0 = r +

(10.108)

~ := n.
dengan
2. Ditinjau tiga transformasi aktif berturutan. Andaikan r = xi+yj+zk
~ = x i + y j + z k
suatu vektor posisi. Oleh perputaran sejauh
r berubah menjadi r0 . Setelah itu digeser sejauh a = i + j + k,
dengan , dan tetapan-tetapan. Dan akhirnya diputar sejauh
~ = x i + y j + z k sehingga didapat vektor posisi r00 .

(a) Hitunglah r0 dinyatakan dalam x, y, z, x , y dan z !


(b) Hitunglah r00 dinyatakan dalam x, y, z, , , , x , y dan
z !
3. Masih terkait dengan soal nomor 1. Andaikan (r) adalah nilai fungsi
gelombang sebuah partikel di titik r = xi+yj+zk sebelum pemutaran
maupun penggeseran.
(a) Hitunglah fungsi gelombang partikel itu di titik r setelah pemutaran pertama!
(a) Hitunglah fungsi gelombang partikel itu di titik r00 setelah
pemutaran kedua!
4. Andaikan M l(2, C) himpunan semua matriks kompleks 2 2. Tunjukkanlah bahwa himpunan Gl(2, C) := {A M l(2, C) : det(A) 6= 0}
disertai perkalian matriks merupakan sebuah grup.

240

BAB 10. KESETANGKUPAN

5. Andaikan M l(3, R) himpunan semua matriks riil 3 3. Tunjukkanlah


bahwa himpunan Gl(3, R) := {A M l(3, R) : det(A) 6= 0} disertai
perkalian matriks merupakan sebuah grup!
6. Tunjukkanlah bahwa himpunan U (2) := {A Gl(2, C) : A = A1 }
disertai dengan perkalian matriks biasa merupakan sebuah grup!
7. Tunjukkanlah bahwa himpunan O(3) := {A Gl(3, R) : AT = A1 }
disertai dengan perkalian matriks biasa merupakan sebuah grup!
8. Tunjukkanlah bahwa himpunan SU (2) := {A Gl(2, C) : A =
A1 dan det A = 1} disertai dengan perkalian matriks biasa merupakan sebuah grup!
9. Tunjukkan bahwa syarat pertama pada batasan aljabar Lie ekuivalen
dengan syarat : a a = 0 untuk setiap a!
10. Tunjukkanlah dengan bantuan pers.(10.100) bahwa (U )T = (U )1
dan det((U )) = 1 untuk sembarang U SU (2)! Tunjukkan pula
bahwa (U U 0 ) = (U )(U 0 ) untuk sembarang U, U 0 SU (2)!

Bab 11

MOMENTUM SUDUT
Die Mathematik ist die Wissenschaft des Unendlichen, ihr Ziel ist es das
symbolische Erfassen des Unendlichen mit menschlichen,
d.h. endlichen Mitteln1 . (Hermann Weyl)

11.1

Batasan Umum

Dalam bab sebelumnya kita telah menemukan tiga observabel yang tunduk
pada aturan komutasi sebagaimana yang dianut oleh komponen-komponen
momentum sudut orbital. Kita telah menamakan ketiga observabel tersebut sebagai komponen momentum sudut intrinsik. Oleh karena itu kita
akan terus menggunakan aturan komutasi tersebut sebagai aksioma yang
harus dipenuhi oleh momentum sudut. Jadi momentum sudut akan selalu
dipahami sebagai operator vektor yang masing-masing komponennya merupakan observabel dan memenuhi aturan komutasi sebagaimana momentum
sudut orbital.
yakni opBatasan Momentum Sudut : Setiap operator vektor J,
erator yang mempunyai tiga komponen, sedemikian rupa sehingga masingmasing komponennya Ji (i = 1, 2, 3) merupakan operator yang Hermitean
1

Matematika adalah ilmu pengetahuan tentang ketakterhinggaan, tujuannya


adalah memahami ketakterhinggaan itu secara simbolik dengan peranti yang manusiawi, yakni peranti yang terhingga.

241

242

BAB 11. MOMENTUM SUDUT

dan memenuhi kaitan komutasi


[Ji , Jj ] = i~

ijk Jk

(11.1)

disebut momentum sudut.


Aturan komutasi pers.(11.1) merupakan sesuatu yang mendasar bagi
momentum sudut. Selain terkait dengan peranan komponen-komponen
momentum sudut sebagai pembangkit grup rotasi2 , aturan itu juga akan
menjadi pokok pangkal yang menentukan swanilai dan swakeadaan momentum sudut.

11.1.1

Macam-macam Momentum Sudut

Terdapat dua macam momentum sudut : momentum sudut intrinsik dan


momentum sudut ekstrinsik. Momentum sudut intrinsik adalah momentum
sudut yang tidak terkait dengan derajad kebebasan luar (external degree
of freedom), yakni yang tidak ada ketergantungannya terhadap peubahpeubah keruangan. Contoh momentum sudut jenis ini adalah observabel
yang komponen-komponennya diberikan oleh pers.(10.75), pers.(10.76)
S
dan pers.(10.77). Momentum sudut ekstrinsik adalah momentum sudut
yang memiliki ketergantungan terhadap derajad kebebasan luar, yakni yang
gayut pada peubah-peubah keruangan. Contoh untuk ini adalah momen
tum sudut orbital L.

11.2

Swanilai dan Swakeadaan Momentum Sudut

Untuk mendapatkan swanilai dan swakeadaan momentum sudut secara aljabar, mula-mula perlu didefinisikan operator kuadrat momentum sudut
total J2 sebagai J2 = Jx2 + Jy2 + Jz2 = J12 + J22 + J32 dan operator J seba
gai J = Jx iJy . Jadi, karena Jx dan Jy Hermitean J = J+
. Dengan
bermodalkan pers.(11.1) dapat dibuktikan identitas-identitas berikut
[J2 , Ji ] = 0,
2

(11.2)

Secara matematis, komponen-komponen momentum sudut membentang suatu aljabar tak asosiatif yang dikenal sebagai aljabar Lie bagi grup rotasi (lihat sebagai contoh
[Is]).

11.2. SWANILAI DAN SWAKEADAAN MOMENTUM SUDUT

243

[J2 , J ] = 0,

(11.3)

[Jz , J ] = ~J ,

(11.4)

2 J2 ~Jz .
J J = J
z

(11.5)

Contoh : Berikut hendak disajikan bukti bagi pers.(11.2)


3
X
2 , Ji ] = [
[J
Jj2 , Ji ]

(11.6)

j=1

3
X

Jj [Jj , Ji ] +

j=1

= i~

3
X

[Jj , Ji ]Jj

j=1

3
X

Jj ijk Jk + i~

j,k=1

= i~

3
X

= i~

ijk Jk Jj

j,k=1

ijk Jj Jk + i~

3
X

ikj Jj Jk

j,k=1

j,k=1
3
X

3
X

ijk Jj Jk i~

j,k=1

3
X

ijk Jj Jk

j,k=1

= 0.
Berdasarkan pers.(11.1) dan (11.2), tidak dimungkinkan bagi operator 2 , Jx , Jy dan Jz untuk memiliki swakeadaan bersama. Hanya
operator J
2 dan salah satu dari operator Ji yang dimungkinkan untuk
operator J
memiliki swakeadaan bersama. Selanjutnya akan dipilih operator Jz un 2 . Jadi, kita akan menurunkan swanilai dan
tuk mendampingi operator J
2 dan Jz .
swakeadaan dari pasangan operator J
2 dan Jz dengan
Andaikan bc swakeadaan bersama bagi operator J
swanilai b dan c, yakni
2 bc = bbc
J
(11.7)
dan
Jz bc = cbc .

(11.8)

Dengan menerapkan operator Jz di kedua ruas pers.(11.8) diperoleh


Jz2 bc = c2 bc .

(11.9)

244

BAB 11. MOMENTUM SUDUT

2 didapat identitas
Jadi, dari pers.(11.7) dan dari batasan bagi operator J
berikut ini
(Jx2 + Jy2 )bc = (b c2 )bc .
(11.10)
Bila kedua ruas persamaan terakhir ini diambil produk skalarnya dengan
bc , maka didapatkan ungkapan berikut
(bc |Jx2 bc ) + (bc |Jy2 bc ) = (b c2 )||bc ||2 .

(11.11)

Karena Jx Hermitean, suku pertama persamaan di atas dapat dituliskan


sebagai
(11.12)
(bc |Jx2 bc ) = (Jx bc |Jx bc ) = ||Jx bc ||2 .
Suku kedua persamaan tersebut pun, dengan alasan yang sama, dapat dituliskan sebagai (bc |Jy2 bc ) = ||Jy2 bc ||2 . Kesimpulannya, b c2 bukan

bilangan riil yang negatif, yakni |c| b. Dari pers.(11.4) didapatkan


bahwa
Jz (J bc ) = (c ~)(J bc ).
(11.13)
Hal ini menunjukkan bahwa J bc merupakan swakeadaan bagi operator
Jz dengan swanilai c ~. Karena berlakunya pers.(11.3), yakni bahwa
2 saling komutatif, maka J bc merupakan swakeadaan
operator J dan J
2 dengan swanilai b. Dengan alasan yang sama J2 bc merupakan
bagi J

swakeadaan bersama dari J dan Jz dengan swanilai berturut-turut b dan


3 merupakan swakeadaan bersama dari J
2 dan
c 2~. Demikian pula J
bc
Jz dengan swanilai berturut-turut b dan c 3~. Dan seterusnya, sehingga
seluruh swanilai dari operator Jz membentuk barisan
, c 3~, c 2~, c ~, c, c + ~, c + 2~, c + 3~, . (11.14)

Akan tetapi, karena |c| b, maka tentu saja barisan diatas terbatas.
Dengan kata lain, terdapat nilai cmak dan cmin sedemikian rupa sehingga
J bcmin = 0

(11.15)

J+ bcmak = 0.

(11.16)

dan
Berdasarkan pers.(11.5), diperoleh
J+ J bcmin = (Jx2 + Jy2 + ~Jz )bcmin = 0

(11.17)

11.2. SWANILAI DAN SWAKEADAAN MOMENTUM SUDUT

245

dan
J J+ bcmak = (Jx2 + Jy2 ~Jz )bcmak = 0.

(11.18)

Hal ini sama artinya dengan


(b c2min + ~cmin )bcmin = 0

(11.19)

(b c2mak ~cmak )bcmak = 0.

(11.20)

dan
Karena bcmak dan bcmin dihipotesakan bukan nol, maka tentulah
b c2mak ~cmak = b c2min + ~cmin = 0

(11.21)

(cmak + cmin )(cmak cmin + ~) = 0.

(11.22)

atau
Karena faktor kedua dalam persamaan terakhir ini lebih dari nol, maka
tentulah cmak + cmin = 0 atau
cmak = cmin .

(11.23)

Selanjutnya, bilangan (cmak cmin )/~ tentulah merupakan bilangan bulat


yang tak negatif. Bilangan ini hendak kita tuliskan sebagai 2j. Oleh karena itu j dapat bernilai tengahan atau bulat positif, yakni j = 0, 1/2, 1,
3/2, 2, dan seterusnya. Sementara itu cmin = j~ dan cmak = j~. Dari
pers.(11.21) didapat
b = j(j + 1)~2 .
(11.24)
Sedang dari pers.(11.14) diperoleh
c = m~,

(11.25)

dengan m = j, , j + 1, j + 2, , j 2, j 1, j. Menyesuaikan
hal-hal yang telah diperoleh, swakeadaan bc selanjutnya hendak ditulis
sebagai jm . Jadi,
2 jm = j(j + 1)~2 jm
J
(11.26)
dan
Jz jm = m~jm .

(11.27)

Dengan notasi yang baru saja diusulkan, pers.(11.13) dapat disajikan


menurut
Jz (J jm ) = (m 1)~(J jm ).
(11.28)

246

BAB 11. MOMENTUM SUDUT

Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa


J jm = c (j, m)jm1 ,

(11.29)

dengan c (j, m) suatu bilangan kompleks yang akan ditentukan dari syarat
normalisasi
(jm |j 0 m0 ) = jj 0 mm0 .
(11.30)
Selanjutnya, dari (c (j, m)jm1 |c (j, m)jm1 ) = (J jm |J jm ) didapat

J jm )
|c (j, m)|2 = (jm |J

= (jm |J J jm )

(11.31)

= (jm |(Jx2 + Jy2 ~Jz )jm )


= (jm |(j(j + 1)~2 m2 ~2 m~2 )jm )
= ~2 [(j m)(j m + 1)].
Oleh karena itu, c (j, m) = ei ~[(j m)(j m + 1)]1/2 . Karena fase ei
sembarang, maka agar sederhana dipilihlah = 0, sehingga c (j, m) =
~[(j m)(j m + 1)]1/2 Jadi,
J jm = ~[(j m)(j m + 1)]1/2 jm1 .

(11.32)

Tampak bahwa operator J berperilaku sebagai operator yang menaikkan


dan menurunkan swakeadaan operator Jz .

11.3

Wakilan Matriks Bagi Momentum Sudut

Berbekal semangat bab 6, pada bagian ini hendak dipaparkan wakilan matriks bagi operator-operator momentum sudut. Penyajian semacam ini
akan lebih menguntungkan dari segi komputasi. Sebagaimana yang telah
dibicarakan dalam bab 6 setiap operator dapat disajikan dalam bentuk
matriks manakala telah ditentukan basis ortonormal dalam ruang Hilbert
2 . Ruang
terkait. Sekarang ditinjau ruang swanilai j(j+1)~2 dari operator J
2
Hilbert ini berdimensi 2j + 1, mengingat swanilai j(j + 1)~ merosot sejauh
2j + 1 derajad. Dalam ruang ini himpunan {jj , jj+1 , jj1 , jj }
merupakan basis ortonormal. Relatif terhadap basis ini, wakilan operator

11.3. WAKILAN MATRIKS BAGI MOMENTUM SUDUT

247

Jz tentu saja berupa matriks diagonal :

Jz

j~
0

(j + 1)~

..
.

..
.

..
.

..
.

..

(j 1)~

j~

(11.33)

Untuk mendapatkan wakilan matriks operator Jx dan Jy terlebih dahulu


harus dihitung wakilan matriks bagi operator J+ dan J . Wakilan matriks
operator J+ diberikan oleh

(jj |J+ jj )

(jj |J+ jj+1 )

(jj+1 |J+ jj ) (jj+1 |J+ jj+1 )

..
..
..

.
.
.

(jj1 |J+ jj )
(jj1 |J+ jj+1 )

(jj |J+ jj )
(jj |J+ jj+1 )

(jj |J+ jj1 )

(jj |J+ jj )

(jj+1 |J+ jj1 ) (jj+1 |J+ jj )

..
..
,
.
.

(jj1 |J+ jj1 )


(jj1 |J+ jj )

(jj |J+ jj1 )


(jj |J+ jj )

(11.34)
sedangkan wakilan operator J merupakan konjugat Hermite dari matriks
pers.(11.34) tersebut. Oleh karena itu unsur-unsur wakilan matriks operator J+ dapat dihitung mengingat pers.(11.32). Hasilnya
(jm |J+ jm0 ) = ~[(j m)(j + m + 1)]1/2 mm0 +1 .

(11.35)

248

BAB 11. MOMENTUM SUDUT

Ungkapan (11.34) oleh karena itu dapat ditulis lebih eksplisit lagi, sehingga

J+

2j

..
.

..
.

..

0
0

..
..
.
.
.

p
0
2(2j 1)

(11.36)

Wakilan matriks operator J diperoleh dari matriks terakhir ini dengan


menarik konjugat Hermitenya, sehingga dihasilkan


2j 0

.
..
~ ..
.

0
0

..

..
.

..
.
.

(11.37)

2(2j 1) 0

Dari batasan operator J+ dan J diperoleh ungkapan untuk Jx dan Jy


berikut
1
Jx = (J+ + J )
2

dan

1
Jy = (J+ J ).
2i

(11.38)

Berdasarkan soal 6.4(5), wakilan matriks untuk operator Jx dan Jy didapatkan dari persamaan terakhir ini dengan bantuan pers.(11.36) dan

11.3. WAKILAN MATRIKS BAGI MOMENTUM SUDUT


pers.(11.37). Hasilnya adalah

0
2j


2j
0

~
..
..
Jx

.
.
2

0
0

..

..
.

249

..

p
2(2j 1)

2(2j 1)

0
(11.39)

dan

Jy


2j

..

.
2i

2j

..
.

..

..
.

p
2(2j 1)

..
.
.

p
2(2j 1)

(11.40)

Swanilai-swanilai dan swavektor-swavektor operator Jx dan Jy didapatkan


dari pendiagonalan matriks-matriks tersebut.
1. Untuk j = 0 didapatkan bahwa segala sesuatunya sepele.
2. Untuk j = 1/2, m = 1/2, sehingga basis yang dipakai adalah
{ 1 1 , 1 1 }. Dari pers.(11.33), (11.39) dan (11.40) dengan mudah
2
2
2 2
didapatkan


~/2 0

Jz

(11.41)
0
~/2


0 ~/2

Jx

(11.42)
~/2 0


0
i~/2
Jy

.
(11.43)
i~/2
0

250

BAB 11. MOMENTUM SUDUT


Swanilai-swanilai operator Jx adalah akar-akar dari persamaan karakteristik


 2
0 ~/2

= 2 ~
= 0,
~/2 0
2
yakni ~/2. Dari bab 6, swakeadaan x kepunyaan swanilai ~/2
diberikan oleh vektor ternormalisasi
x = 1 1 + 1 1 ,
2

(11.44)

2 2

sedemikian rupa sehingga







~ +
0 ~/2
+
=
~/2 0
+
2 +

(11.45)

dan


0 ~/2
~/2 0



~
=
2


.

(11.46)

Penyelesaiannya adalah + = + = 1/ 2 dan = = 1/ 2.


Jadi
1
1
x+ = 1 1 + 1 1
2
2
2
2 22

(11.47)

1
1
x = 1 1 + 1 1
2 2 2
2 22

(11.48)

dan

Dengan jalan yang sama didapatkan bahwa operator Jy memiliki dua


swanilai ~/2 yang berpadanan dengan swakeadaan y+ dan y+ yang
diberikan oleh
i
1
y+ = 1 1 + 1 1
2
2
2
2 22

(11.49)

i
1
y = 1 1 + 1 1 .
2 2 2
2 22

(11.50)

dan

11.3. WAKILAN MATRIKS BAGI MOMENTUM SUDUT

251

3. Untuk j = 1, m = 0 dan 1, sehingga basis yang dipakai adalah


{11 , 10 , 11 }. Dari pers.(11.33), (11.39) dan (11.40) dengan mudah didapatkan

~ 0 0
0 0 0
Jz

(11.51)
0 0 ~

2
0
0

~
(11.52)
Jx

2 0
2
2
2 0
0

0
2 0

~
Jy

(11.53)
2
0
2 .

2i
0
2 0
Swanilai operator Jx merupakan akar-akar persamaan karakteristik



~ 2

0
2
~

3
2
~


(11.54)
2 2
2 2 = + ~ = 0,

~
0

2

2
yakni ~, 0 dan ~. Swanilai ~ berkaitan dengan swavektor
x
11
= 1 11 + 1 10 + 1 11 ,

sedemikian rupa sehingga

0
2
0

1
1

~
2 0
2 1 = ~ 1 .
2
1
1
2 0
0

(11.55)

(11.56)

Penyelesaian persamaan terakhir ini adalah 1 = 1/2, 1 = 2/2


dan 1 = 1/2. Jadi

1
2
1
x
11 = 11 +
10 + 11 .
(11.57)
2
2
2
Dengan cara yang serupa dapat ditunjukkan bahwa ~ merupakan
swanilai yang berpadanan dengan swavektor

1
2
1
x
11 = 11 +
10 + 11
(11.58)
2
2
2

252

BAB 11. MOMENTUM SUDUT


dan swanilai 0 berpadanan dengan
1
1
x
10
= 11 11 .
2
2

(11.59)

4. dst.

11.4

Momentum Sudut Orbital

Secara klasik momentum sudut orbital L merupakan momen dari momentum linier. Oleh karenanya L = r p. Bila dinyatakan dengan komponenkomponennya,
L =

3
X

ijk xi pj ek

i,j,k=1

= (ypz zpy )i + (zpx xpz )j + (xpy ypx )k


= Lx i + Ly j + Lz k.

(11.60)

Jadi, perkomponen, Lx = (ypz zpy ) Ly = (zpx xpz ) dan Lz = (xpy


ypx ). Terlihat bahwa Lx , Ly dan Lz merupakan besaran klasik yang dapat
dikuantumkan. Untuk itu, digunakanlah resep pers.(7.12). Maka diperoleh
x, L
y dan L
z berikut :
ungkapan untuk operator L



Lx = i~ y
z
,
(11.61)
z
y


y = i~ z x ,
L
(11.62)
x
z



Lz = i~ x
y
.
(11.63)
y
x
i mengikuti aturan komutasi
Karena L
i, L
j ] = i~
[L

k
X

k
ijk L

i=1

sebagaimana yang diikuti oleh Ji dalam pers.(11.1), maka tentulah operator


2x + L
2y + L
2z dan L
z akan memiliki swakeadaan-swakeadaan dan
L2 := L

11.4. MOMENTUM SUDUT ORBITAL

253

2 dan Jz , hanya saja


swanilai-swanilai sebagaimana yang dimiliki oleh J
kita akan memakai notasi l daripada j. Bilangan l dikenal sebagai bilangan
kuantum orbital. Oleh karenanya
L2 lm = l(l + 1)~2 lm

(11.64)

z lm = m~lm .
L

(11.65)

dan
Akan tetapi, kegayutan L2 dan komponen-komponennya pada variable
keruangan (akan segera ditunjukkan) mengakibatkan nilai l tidak boleh
tengahan.
Untuk menunjukkan bahwa l tidak boleh bernilai tengahan, kita perlu
melakukan transformasi koordinat dari koordinat kartesan (x, y, z) ke koordinat bola (r, , ), dengan r jarak titik ke pangkal koordinat, sudut
yang dibentuk oleh sumbu-x positif dengan proyeksi titik ke bidang-xy dan
sudut yang dibentuk oleh vektor posisi r dengan sumbu-z positif. Terdapat kaitan antara kedua koordinat itu :
x = r sin cos , y = r sin sin , z = r cos .

(11.66)

Bila (r) suatu fungsi gelombang, maka

r

=
+
+
,
x
r x x
x

(11.67)

=
+
+
y
r y
y
y

(11.68)

dan

r
=
+
+
.
(11.69)
z
r z
z
z
Karena persamaan-persamaan tersebut berlaku untuk sembarang fungsi
gelombang (r), maka dapat disimpulkan

dan

r


=
+
+
,
x
x r x x

(11.70)

r


=
+
+
y
y r
y y

(11.71)

r


=
+
+
.
z
z r
z z

(11.72)

254

BAB 11. MOMENTUM SUDUT

Pers.(11.70), (11.71) dan (11.72) bersama pers.(11.66) menghasilkan

dan

sin

= sin cos
+ cos cos

,
x
r r
r sin

(11.73)

cos
= sin sin
+ cos sin
+
y
r r
r sin

(11.74)

sin
= cos

.
y
r
r

(11.75)

Bila pers.(11.73), (11.74) dan (11.75) dimasukkan ke dalam pers.(11.61),


(11.62) dan (11.63), maka didapatlah



+ cot cos
,
(11.76)
Lx = i~ sin




y = i~ cos
+ cot sin
(11.77)
L

dan

z = i~ .
L

Dari ketiga persamaan terakhir ini didapatkan







1 2
1
2

2
sin
+
L = ~
sin

sin2 2
dan




L = ~e

+ i cot
.

(11.78)

(11.79)

(11.80)

x, L
y dan L
z tidak gayut pada r.
Tampak bahwa operator-operator L2 , L
Oleha karena itu swakeadaan-swakeadaan bagi mereka diwakili oleh fungsifungsi yang hanya gayut pada dan saja. Andaikan (, ) swafungsi
z . Selanjutnya akan dilakukan pemisahan
bersama bagi operator L2 dan L
variabel (, ) = ()(). Dari pers.(11.78) diperoleh
i~

d
= m~.
d

(11.81)

Penyelesaian untuk persamaan differensial ini adalah


() = N exp(im),

(11.82)

11.5. SOAL-SOAL

255

dengan N tetapan normalisasi yang akan ditentukan kemudian. Agar ()


bernilai tunggal sebagai fungsi , maka harus memenuhi syarat batas
( + 2) = (). Syarat ini semakna dengan exp(im) = exp(im +
im2) = exp(im) exp(im2) atau exp(im2) = 1. Identitas terakhir ini
berlaku jika dan hanya jika m bilangan bulat. Karena m harus bulat, maka
l pun harus bulat positif. Dari pers.(11.64), (11.65) dan (11.79) didapat
persamaan

 

1 d
d
m2
sin
+ l(l + 1)
= 0.
(11.83)
sin d
d
sin2
Bila dimisalkan = cos , maka diperoleh persamaan differensial

 

d
d
m2
(1 2 )
+ l(l + 1)
= 0.
d
d
1 2

(11.84)

Penyelesaian persamaan ini adalah


m
l () =

2l + 1 (l m)!
2 (l + m)!

1/2

Plm (),

(11.85)

dengan
Plm ()

2 m/2

= (1) (1 )



dm
1 dl 2
l
( 1) .
dm 2l l! dl

(11.86)

Oleh karena itu, bila untuk tetapan N di atas dipilih (2)1/2 , maka secara keseluruhan didapatkanlah fungsi-fungsi spherical harmonics Ylm (, )
2 dan operator L
z dengan swanilai
sebagai swafungsi bersama operator L
2
berturut-turut l(l + 1)~ dan m~.

11.5

Soal-soal

1. Ditinjau dua getaran selaras yang tidak saling gayut dengan frekuensi
sudut masing-masing 1 dan 2 . Andaikan a
dan a
berturut-turut
merupakan operator eskalator naik dan eskalator turun getaran selaras pertama. Sementara b dan b berturut-turut diandaikan merupakan operator eskalator naik dan eskalator turun dari getaran selaras kedua. Selanjutnya, didefinisikan operator-operator Tx , Ty dan

256

BAB 11. MOMENTUM SUDUT


Tz sebagai
Tx =
Ty =
Tz =

~
(b a
+a
b),
2
i~
(b a
a
b),
2
~
(
aa
bb).
2

(11.87)
(11.88)
(11.89)

(a) Tunjukkanlah bahwa Tx , Ty dan Tz merupakan pembangkit


rotasi, yakni bahwa Tx , Ty dan Tz merupakan komponen-komponen
momentum sudut!
dan operator T2 berturut-turut didefinisikan
(b) Jika operator N
=a
sebagai N
a
+ bb dan T2 = Tx2 + Ty2 + Tz2 , tunjukkan bahwa
T2 = ~ 2

N
2

!"

N
2

#
+1 .

(11.90)

(c) Hitunglah komutator [T2 , Tx ], [T2 , Ty ] dan [T2 , Tz ] dengan


memakai ungkapan-ungkapan (11.87), (11.88) dan (11.89) di atas!
(d) Andaikan n (n = 0, 1, 2, ) merupakan swakeadaan dari
tenaga getaran selaras pertama yang bersesuaian dengan swanilai
En = (n + 21 )~1 dan n0 (n0 = 0, 1, 2, ) merupakan swakeadaan
dari tenaga getaran selaras kedua yang bersesuaian dengan swanilai
En0 0 = (n0 + 12 )~2 . Produk tensor (lihat batasannya yang lebih rinci pada bab 12) antara keadaan n dan keadaan n0 adalah keadaan
1 dan
yang dituliskan sebagai n n0 sedemikian rupa sehingga jika
2 berturut-turut adalah operator yang berkaitan dengan getaran se
laras pertama dan kedua, maka berlaku
1 (n n0 ) = (
1 n ) n0

2 (n n0 ) = n (
1 n0 ).

(11.91)
(11.92)

Tunjukkan bahwa vektor n n0 merupakan swakeadaan bagi Tz !


Tuliskan swanilai dari operator Tz yang berkaitan dengan swakeadaan
n n0 ? Tuliskan pula spektrum dari Tz !
(d) Hitunglah T2 (n n0 )! Seberapa jauh swanilai dari operator
T2 merosot? Tuliskanlah spektrum dari T2 !

11.5. SOAL-SOAL

257

2. Suatu partikel berada pada keadaan yang diberikan oleh


= 221 + 20 + 321 + 222 ,

(11.93)

dengan jm adalah swakeadaan bersama dari operator J2 dan Jz .


(a) Hitunglah agar ternormalkan!
(b) Hitunglah nilai rerata dari pengukuran terhadap observabel
Jz dan J2 !
(c) Bila sistem diputar memutari sumbu-z sejauh /2 hitunglah
kedaan partikel setelah diputar! Berapakah nilai rerata dari Jz dan
J2 setelah diputar?
3. Suatu partikel berspin 1 berada pada keadaan yang diwakili oleh vektor
1
= (11 + 210 + 3i11 )
14
dengan 11 , 10 , dan 11 swakeadaan-swakeadaan operator Sz .
(a) Berapakah peluang untuk memperoleh nilai ~, 0 dan ~ bila
Sz diukur pada keadaan ini? Hitunglah < Sz >!
(b) Berapakah nilai < Sx >?
(c) Bila observabel Sx diukur pada keadaan ini, berapakah peluang untuk memperoleh hasil ukur ~?
4. Sebuah partikel berspin 1 dengan momen dwikutub diberikan oleh
gqS
,
(11.94)
2mc
(g faktor Lande, m massa partikel tersebut dan q muatannya) berinteraksi dengan medan magnet B = B0 k, B0 suatu tetapan. Andaikan
pada saat t = 0 partikel tersebut berada pada keadaan

1
2
1
(0) = 11 + i
10 11 .
(11.95)
2
2
2

~=

(a) Hitunglah keadaan partikel pada saat t!


(b) Bagaimana ketergantungan < Sx >, < Sy > dan < Sz >
terhadap waktu?
(c) Hitunglah peluang mendapati partikel tersebut masih berada
pada keadaan awal (0) sebagai fungsi dari waktu! Kapan peluang
ini maksimum? Apa makna nilai maksimum ini?

258

BAB 11. MOMENTUM SUDUT

5. Fungsi gelombang suatu partikel berbentuk (r) = (x + y + z)f (r),


dengan r = |r| dan f (r) merupakan fungsi yang memenuhi syarat
lim r2 f (r) = 0.

(a) Bila L2 diukur, nilai mana saja yang akan keluar sebagai hasil
ukur?
(b) Bila Lz diukur, nilai mana saja yang akan keluar sebagai hasil
ukur? Berapakah peluangnya masing-masing?
(c) Hitunglah < Lx > dan < Ly > pada keadaan tersebut!
6. Suatu partikel berada pada keadaan yang diwakili oleh fungsi gelombang (r). Andaikan nilai rerata komponen momentum sudut partikel itu ke arah sumbu-Z diberikan oleh < Lz >= 12
9 ~.
(a) Bagaimana bentuk fungsi gelombang (r) dinyatakan dengan
swafungsi-swafungsi momentum sudut orbital?
(b) Bila L2 dan Lz diukur, nilai mana sajakah yang mungkin akan
keluar sebagai hasil pengukuran?
(c) Hitunglah < Lx > dan < Ly >!
Tinjauan ini
7. Ditinjau suatu sistem kuantum bermomentum sudut J.
hanya dibatasi pada subruang swanilai tiga dimensi yang dibentang
oleh basis {11 , 10 , 11 } yang masing-masing anggotanya meru 2 dengan swanilai 2~2 dan
pakan swakeadaan bersama dari operator J
operator Jz dengan swanilai berturut-turut ~, 0 dan ~. Andaikan
sistem tersebut memiliki Hamiltonan
0 = aJz + b J2 ,
H
~ z

(11.96)

dengan a dan b dua tetapan positif.


(a) Hitunglah aras-aras tenaga sistem beserta swakeadaan-swakeadaannya! Agar terjadi kemerosotan, berapakah seharusnya nisbah
(rasio) b/a?
(b) Suatu medan magnet statis B dikenakan pada sistem dengan
arah ditunjukkan oleh sudut polar dan . Interaksi antara medan
magnet dan momen magnet sistem diberikan oleh
W = 0 Ju ,

(11.97)

11.5. SOAL-SOAL

259

dengan 0 = B0 adalah frekuensi sudut Larmor dan Ju adalah


kearah vektor satuan u
komponen dari J
Ju = Jz cos + Jx sin cos + Jy sin sin .

(11.98)

Tuliskan sajian matriks bagi W dalam basis yang tersusun atas tiga
0!
swakeadaan dari H
8. Untuk j = 1 susunlah wakilan matriks operator Jy relatif terhadap
basis ortonormal {11 , 10 , 11 } yang beranggotakan semua swavektor operator Jz untuk j = 1! Tunjukkanlah bahwa swanilai-swanilai
operator tersebut adalah ~, 0 dan ~! Tuliskanlah swavektor yang
berpadanan dengan masing-masing swanilai tersebut!
9. Untuk j = 3/2 susunlah wakilan matriks operator-operator Jx , Jy
dan Jz relatif terhadap basis ortonormal
{ 3 3 , 3 1 , 3 1 3 3 },
2 2

2 2

2 2

22

yakni himpunan yang beranggotakan semua swakeadaan operator Jz


untuk j = 3/2. Carilah swanilai-swanilai operator-operator tersebut
beserta swavektor-swavektornya!

260

BAB 11. MOMENTUM SUDUT

Bab 12

PENJUMLAHAN
MOMENTUM SUDUT
Die Mathematiker sind eine Art Franzosen;
redet man zu ihnen, so u
bersetzen sie es in ihre Sprache,
und dann ist es alsbald etwas ganz anderes1 .
(Johann Wolfgang von Goethe)

Setiap elektron dalam suatu atom memiliki dua macam momentum


sudut, yakni momentum sudut orbital (yang bersifat keruangan atau ekstrinsik) dan momentum sudut spin (yang bersifat intrinsik). Momentum
sudut total yang dimiliki oleh sebuah elektron oleh karena itu merupakan
hasil jumlahan (kopling) antara momentum sudut orbital dan momentum
sudut spin. Penjumlahan dua momentum sudut bukan hanya terjadi pada
sebuah partikel yang memiliki lebih dari satu macam momentum sudut,
namun dapat juga terjadi antara momentum-momentum sudut dua buah
partikel yang berbeda. Pada atom banyak elektron terjadi dua jenis kopling, yaitu kopling j-j dan kopling L-S [HW]. Kopling j-j adalah kopling
yang terjadi antara momentum sudut total dua buah elektron. Sedang L-S
kopling terjadi antara momentum sudut orbital total hasil kopling momentum sudut orbital masing-masing elektron itu dengan momentum sudut
spin total hasil kopling momentum sudut spin masing-masing elektron
itu. Terjadinya perubahan dari kopling j-j ke kopling L-S atau sebaliknya
1

Para matematikawan itu sebagaimana orang-orang Perancis; Jika orang berbicara


dengan mereka, maka segeralah mereka menterjemahkannya ke dalam bahasa mereka,
dan sejenak kemudian segalanya menjadi sangat berbeda.

261

262

BAB 12. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

dikenal dengan istilah rekopling. Dalam bab ini kita akan membicarakan
mekanisme kopling dan rekopling tersebut disertai beberapa contoh pemakaiannya.
2 dan J
2 dua momentum sudut sedemikian rupa sehingDiandaikan J
1
2
ga komponen-komponen mereka berturut-turut diberikan oleh J1i dan J2i
(i = x, y, z). Selanjutnya andaikan j1 m1 j2 m2 berturut-turut swavektorswavektor kedua momentum sudut tersebut sehingga berlaku
2 j m = j1 (j1 + 1)~2 j m ,
J
1 1 1
1 1

(12.1)

J1z j1 m1 = m1 ~j1 m1 ,

(12.2)

2 j m = j2 (j2 + 1)~2 j m ,
J
2 2 2
2 2

(12.3)

J2z j2 m2 = m2 ~j2 m2 .

(12.4)

dan

Himpunan {j1 m1 |m1 = j1 , j1 + 1, , j1 1, j1 } merupakan himpunan


yang ortonormal dan membentang subruang swanilai Kj1 dari j1 (j1 + 1)~2 .
Subruang swanilai ini memiliki dimensi n1 := 2j1 +1. Sedangkan himpunan
ortonormal {j2 m2 |m2 = j2 , j2 + 1, , j2 1, j2 } merupakan basis bagi
subruang swanilai Kj2 dari j2 (j2 + 1)~2 yang berdimensi n2 := 2j2 + 1. Di
2 dan J1z bekerja pada ruang Kj . Di pihak lain,
satu pihak, operator J
1
1
2 dan J2z bekerja pada ruang Kj . Jadi, kedua pasang operator
operator J
2
2
itu bekerja pada dua ruang yang berlainan. Oleh karena itu penjumlahanpenjumlahan operator seperti
2 + J
2,
J
1
2
J1i + J2i ,

(i = x, y, z)

(12.5)
(12.6)

dan perkalian-perkalian operator seperti


2J
2
J
1 2,
J1i J2i ,

(i = x, y, z)

(12.7)
(12.8)

tidak terdefinisikan secara layak. Agar penjumlahan dua jenis operator


momentum sudut itu menjadi layak, maka keduanya haruslah berada pada
ruang Hilbert yang lebih besar yang mencakup kedua ruang Hilbert pada
mana masing-masing jenis operator itu bekerja. Kebutuhan ini diakomodir
oleh suatu konsep yang yang dikenal sebagai hasilkali tensor atau produk
tensor. Oleh karena itu sejenak kita cermati konsep ini.

12.1. HASILKALI TENSOR

12.1

263

Hasilkali Tensor

Ada beberapa cara untuk mendefinisikan produk tensor antara dua buah
ruang vektor. Cara paling sederhana melibatkan basis dari kedua ruang
vektor. Mula-mula kita memilih sembarang basis bagi masing-masing ruang vektor itu. Vektor-vektor anggota basis masing-masing ruang vektor
tersebut dikombinasikan sehingga didapat kumpulan vektor-vektor baru
yang akan menjadi basis bagi ruang vektor hasilkali tensor. Cara ini tampak kurang elegant mengingat konsep produk tensor adalah konsep yang
tidak tergantung pada hal-hal yang artificial semisal basis. Cara yang elegant adalah dengan melalui salah satu sifat dari hasilkali tensor, yakni sifat
faktorisasi tunggal. Dengan cara ini batasan hasilkali tensor tampak lebih
alamiah. Namun, terlepas dari masalah elegant tidaknya pendekatan basis,
kita akan menempuh cara pertama dalam pendefinisian produk tensor.

12.1.1

Sebuah contoh awal

Ditinjau ruang riil tiga dimensi R3 dengan basis ortonormal {i, j, k}. Tensor

berderajad dua dalam ruang R3 tidak lain adalah objek T yang memiliki
sembilan komponen Tij (i, j = x, y, z) sedemikian rupa sehingga

= Txx ii + Tyx ji + Tzx ki +

(12.9)

Txy ij + Tyy jj + Tzy kj +


Txz ik + Tyz jk + Tzz kk,
dengan ii, ji, ki, dst. merupakan perkalian formal2 antara vektor-vektor
basis. Bila dalam ruang R3 dilakukan rotasi dengan matriks rotasi [Rij ]
(i, j = x, y, z), maka komponen tensor Tij akan tertransformasi menjadi
Tij0 , dengan
z X
z
X
Tij0 =
Rik Rjl Tkl .
(12.10)
k=x l=x

Dapat dibuktikan bahwa himpunan semua tensor berderajad dua dalam


ruang R3 merupakan ruang vektor riil berdimensi sembilan dengan jumla2

Dalam hal ini tidak perlu dirisaukan bagaimana perkalian ini dilakukan. Perkalian
ini hanyalah persandingan antara vektor-vektor satuan.

264

BAB 12. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

han

0
0
0
0
T + T = (Txx + Txx )ii + (Tyx + Tyx )ji + (Tzx + Tzx )ki + (12.11)
0
0
0
(Txy + Txy
)ij + (Tyy + Tyy
)jj + (Tzy + Tzy
)kj +
0
0
0
(Txz + Txz
)ik + (Tyz + Tyz
)jk + (Tzz + Tzz
)kk

dan perkalian dengan skalar

= Txx ii + Tyx ji + Tzx ki +

(12.12)

Txy ij + Tyy jj + Tzy kj +


Txz ik + Tyz jk + Tzz kk,
untuk setiap bilangan riil . Himpunan {ii, ji, ki, ij, jj, kj, ik, jk, kk} merupakan basis dalam ruang itu. Sebagai ruang vektor riil yang berdimensi
sembilan, maka ruang ini tentu saja dapat diwakili oleh ruang R9 . Selanjutnya, dengan memanfaatkan basis ortonormal {i, j, k}, setiap vektor v dalam
ruang tersebut dapat dituliskan sebagai kombinasi linier v = vx i+vy j+vz k,
dengan vx , vy dan vz merupakan komponen-komponen vektor v. Produk
tensor atau hasilkali tensor antara vektor v = vx i + vy j + vz k dan vektor
w = wx i + wy j + wz k adalah objek yang memiliki sembilan komponen.
Objek tersebut dituliskan sebagai v w yang diberikan oleh
v w = vx wx ii + vy wx ji + vz wx ki +

(12.13)

vx wy ij + vy wy jj + vz wy kj +
vx wz ik + vy wz jk + vz wz kk.
Bila dalam ruang R3 dilakukan transformasi rotasi dengan matriks rotasi
[Rij ], maka tiap-tiap komponen
P vi dari vektor v = vx i+vy j+vz k mengalami
transformasi menjadi vi0 = j Rij vj . Oleh karenanya komponen-komponen
(v w)ij := vi wj dari objek v w akan mengalami transformasi menjadi
(v w)0ij := vi0 wj0 yang diberikan oleh
(v w)0ij = vi0 wj0 =

z X
z
X
k=x l=x

Rik Rjl vk wl =

z X
z
X

Rik Rjl (v w)kl .(12.14)

k=x l=x

Jadi, komponen-komponen objek v w mengalami transformasi rotasi sebagaimana tensor-tensor berderajad pada ruang R3 . Maka dari itu, objek v w adalah tensor berderajad dua pada ruang R3 . Itulah sebabnya produk di atas disebut hasilkali tensor antara vektor v dan vektor

12.1. HASILKALI TENSOR

265

w. Himpunan semua produk tensor semacam ini merupakan ruang vektor


dengan struktur ruang vektor yang diwarisi dari struktur yang ada pada
ruang R3 . Ruang vektor ini akan ditulis sebagai R3 R3 dan dibaca sebagai produk tensor antara ruang R3 dengan dirinya sendiri. Himpunan
{ii, ji, ki, ij, jj, kj, ik, jk, kk} merupakan basis dalam R3 R3 . Segera dapat

dibuktikan bahwa i i = ii, j i = ji, dst. Setiap tensor T anggota R9


dapat ditulis sebagai produk tensor antara dua buah vektor anggota R3 .
Oleh karena itu terdapat pemetaan satu-satu dari R9 ke ruang R3 R3 .
Karena vx = i v, vy = j v dan vz = k v untuk sembarang vektor v, maka
v w = (i v)(i w)ii + (j v)(i w)ji + (k v)(i w)ki +
(i v)(j w)ij + (j v)(j w)jj + (k v)(j w)kj +
(i v)(k w)ik + (j v)(k w)jk + (k v)(k w)kk.
(12.15)

12.1.2

Produk Tensor dua ruang Hilbert

Sekarang, konsep produk tensor antara dua ruang vektor di atas akan
kita perluas untuk sembarang dua ruang Hilbert yang berdimensi finit.
Untuk itu, andaikan H1 dan H2 merupakan dua ruang Hilbert dengan
produk skalar berturut-turut (|)1 dan (|)2 . Selanjutnya, andaikan himpunan {1 , 2 , n1 } dan {1 , 2 , n2 } berturut-turut merupakan basis ortonormal pada H1 dan H2 . Bila H1 dan H2 sembarang
vektor, maka
n1
n2
X
X
=
i i dan =
r r ,
(12.16)
r=1

i=1

dengan i = (i |) dan r = (r |) karena basis {1 , 2 , n1 } dan


{1 , 2 , n2 } ortonormal. Produk tensor antara vektor dan adalah
objek yang didefinisikan oleh
=

n1 X
n2
X

i r i r =

i=1 r=1

n1 X
n2
X

(i |)1 ( |)2 i r ,

(12.17)

i=1 r=1

dengan i r produk formal antara i dan r . Segera dapat dibuktikan


bahwa
i r = i r

i = 1, 2, , n1 ; r = 1, 2, , n2 .

(12.18)

266

BAB 12. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

Produk tensor antara kedua ruang Hilbert tersebut didefinisikan sebagai ruang vektor yang beranggotakan semua produk tensor antara vektor-vektor
anggota H1 dan vektor-vektor anggota H2 . Produk tensor antara ruang
Hilbert H1 dan H2 hendak ditulis sebagai H1 H2 . Bila di dalam H1 H2
didefinisikan produk skalar (|) menurut
( | 0 0 ) = (| 0 )1 (|0 )2 ,

(12.19)

maka H1 H2 disertai produk skalar ini merupakan ruang Hilbert. Himpunan


{i r |i = 1, , n1 ; r = 1, , n2 } = {1 1 , 1 2 , 2 2 , , n1 n2 }
(12.20)
merupakan basis ortonormal pada ruang H1 H2 sedemikian rupa sehingga
(i r |i0 r0 ) = (i |i0 )1 (r |r0 )2 = ii0 rr0 .

(12.21)

Oleh karena itu setiap vektor H1 H2 dapat dituliskan sebagai kombinasi linier
=

n1 X
n2
X
i=1 r=1

ir i r =

n1 X
n2
X

(i r |)i r ,

(12.22)

i=1 r=1

dengan ir = (i r |).

12.1.3

Produk tensor dua operator

1 dan
2 berturut-turut merupakan operator pada ruang H1
Andaikan
1
2 yang
1 dan
2 adalah objek
dan H2 . Produk tensor antara
memiliki kelakuan
1
2 )( ) = (
1 ) (
2 ),
(

(12.23)

2 berada
1 berada di H1 dan
untuk setiap H1 H2 . Karena

di H2 , maka dengan sendirinya (1 2 )( ) berada di H1 H2 . Jadi,


1
2 merupakan pemetaan dari H1 H2 ke dirinya sendiri. Selanjutnya,

1
2
dapat pula dengan mudah dibuktikan bahwa sebagai pemetaan
1
2 merupakan operator pada H1 H2 .
bersifat linier. Oleh karena itu,
1 I2 )( ) = (
1 ), operator
1 dapat diwakili dalam
Karena (

ruang H1 H2 oleh operator 1 I2 , dengan I2 operator identitas pada

12.2. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

267

2 dapat diwakili oleh operator I1


2 , dengan I1
H2 . Sedangkan operator
operator identitas pada H1 . Oleh karena itu impian penjumlahan operator
1 +
2 dapat direalisasikan secara layak dengan operator

1
2 :=
1 I2 + I1
2.

(12.24)

0 dan
0 beruturut-turut operator lain pada ruang H1 dan H2 .
Andaikan
1
2
Maka, untuk sembarang H1 H2 berlaku
1
2 )(
0
0 )( ) = (
1
2 )((
0 ) (
0 ))
(
1
2
1
2
0
0

= (1 ) (2 )
1

2
0 )( ).
1
0
= (
2
1

(12.25)

1
2 )(
0
0 ) =
1
0
2
0 . Oleh
Hal ini menunjukkan bahwa (
1
2
1
2
karena itu,
2) =
1
2.
1 I2 )(I1
(
(12.26)
Bila [, ] komutator dalam ruang H1 H2 , maka diperoleh
1
2,
0
0 ] 6= [
1,
0 ] [
2,
0 ].
[
1
2
1
2

(12.27)

1 di H1 H2
Berdasarkan pers.(12.26) didapatkan bahwa wakil operator

komutatif dengan wakil operator 2 di H1 H2 , yakni


1 I2 , I1
2] = 0
[

(12.28)

1 I2 , I1
2 ] secara lebih
Selanjutnya, kita akan menuliskan komutator [

singkat sebagai [1 , 2 ] .

12.2

Penjumlahan Momentum Sudut

Sekarang semuanya telah siap. Ruang Hilbert H1 adalah ruang Hilbert


berdimensi n1 = 2j1 + 1 yang dibentang oleh basis ortonormal
{j1 j1 , j1 j1 1 , j1 j1 2 , , j1 (j1 ) }

(12.29)

2 dan
yang beranggotakan swavektor-swavektor bersama dari operator J
1
J1z . Ruang Hilbert H2 adalah ruang Hilbert berdimensi n2 = 2j2 + 1 yang
dibentang oleh basis ortonormal
{j2 j2 , j2 j2 1 , j2 j2 2 , , j2 (j2 ) }

(12.30)

268

BAB 12. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

2 dan
yang beranggotakan swavektor-swavektor bersama dari operator J
2
J2z . Oleh karena itu ruang Hilbert H1 H2 adalah ruang Hilbert berdimensi
(2j1 + 1)(2j2 + 1) yang dibentang oleh basis ortonormal
{j1 m1 j2 m2 |m1 = j1 , , j1 ; m2 = j2 , , j2 },

(12.31)

dengan syarat keortonormalan


(j1 m1 j2 m2 |j1 m01 j2 m02 ) = (j1 m1 |j1 m01 )1 (j2 m2 |j2 m02 )2 = m1 m01 m2 m02 .
(12.32)
Basis pers.(12.31) disebut basis tak terkopling atau tak tersambung.
adalah operator yang bekerja pada ruOperator momentum sudut total J
ang H1 H2 yang didefinisikan menurut
=J
1 J
2
J

(12.33)

atau perkomponen
Jx = J1x J2x , Jy = J1y J2y , Jz = J1z J2z ,

(12.34)

dengan penjumlahan didefinisikan menurut pers.(12.24). Komponen memenuhi aturan komutasi


komponen dari operator J
X
(12.35)
[Ji , Jj ] = i~
ijk Jk .
k

2 didefinisikan sebagai
Seperti sebelumnya, operator J
2 =
J

z
X

Ji2 =

i=x

z
X

(J1i J2i )2 .

(12.36)

i=x

Perhitungan yang teliti menghasilkan


2 = J
2 J
2 + 2J1z J2z + J1+ J2 + J1 J2+ .
J
1
2

(12.37)

Selalu saja berlaku bahwa


2 , Ji ] = 0,
[J

(i = x, y, z)

(12.38)

2, J
2

[J
1 2 ] = [J1i , J2i ] = 0.

(12.39)

dan

12.2. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

269

Dapat dibuktikan bahwa vektor j1 m1 j2 m2 merupakan swavektor bersama


2 I2 , I1 J
2 , J1z I2 dan I1 J2z :
bagi operator-operator J
1
2
2 j m )(I2 j m ) = j1 (j1 + 1)~2 j m j m ,
2 I2 )(j m j m ) = (J
(J
1 1 1
1
2 2
1 1
2 2
2 2
1 1
(12.40)
2 j m ) = j2 (j2 + 1)~2 j m j m ,
2 )(j m j m ) = (I1 j m )(J
(I1 J
2 2 2
2
2 2
1 1
1 1
2 2
1 1
(12.41)
(J1z I2 )(j1 m1 j2 m2 ) = (J1z j1 m1 )(I2 j2 m2 ) = m1 ~j1 m1 j2 m2 , (12.42)
dan
(I1 J2z )(j1 m1 j2 m2 ) = (j1 m1 )(J2z j2 m2 ) = m2 ~j1 m1 j2 m2 . (12.43)
Hal ini dapat dipahami sebab himpunan operator
2 I2 , I1 J
2 , J1z I2 , I1 J2z }
{J
1
2

(12.44)

merupakan himpunan obeservable-observable yang saling komutatif satu


dengan yang lain. Himpunan tersebut juga lengkap, yakni karena ketiadaan
operator lain yang dapat ditambahkan ke dalamnya tanpa mengganggu
kekomutatifan anggota-anggota himpunan itu.
Selain itu, himpunan berikutnya yang beranggotakan empat observable
yang saling komutatif adalah
2 I2 , I1 J
2, J
2 , Jz }.
{J
1
2

(12.45)

Karena berlakunya pers.(12.37), maka didapatkan aturan komutasi berikut


2 , J1z ] 6= 0
[J

dan

2 , J2z ] 6= 0.
[J

(12.46)

Oleh karena itu, himpunan observable pers.(12.45) juga lengkap. Andaikan


2 I2 ,
j1 j2 jm H1 H2 swavektor bersama bagi operator-operator J
1
2, J
2 dan Jz sedemikian rupa sehingga
I1 J
2
2 I2 )j j jm = j1 (j1 + 1)~2 j j jm ,
(J
1
1 2
1 2

(12.47)

2 )j j jm = j2 (j2 + 1)~2 j j jm ,
(I1 J
2
1 2
1 2

(12.48)

2 j j jm = j(j + 1)~2 j j jm
J
1 2
1 2

(12.49)

Jz j1 j2 jm = m~j1 j2 jm .

(12.50)

dan

270

BAB 12. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

Sebagai anggota ruang Hilbert H1 H2 , vektor j1 j2 jm dapat dituliskan


sebagai kombinasi linier basis tak terkopling pers.(12.37) menurut
j1 j2 jm =

j1
X

j2
X

(j1 m1 j2 m2 |j1 j2 jm )j1 m1 j2 m2 .

(12.51)

m1 =j1 m2 =j2

Koefisien (j1 m1 j2 m2 |j1 j2 jm ) disebut koefisien Clebsch-Gordan dan


lazim ditulis sebagai C(j1 j2 ; m1 m2 |jm). Dari pers.(12.34) dan pers.(12.51)
diperoleh

j1
j2
X
X
Jz j1 j2 jm = (J1z J2z )
(j1 m1 j2 m2 |j1 j2 jm )j1 m1 j2 m2
m1 =j1 m2 =j2

j1
X

j2
X

(j1 m1 j2 m2 |j1 j2 jm )(J1z j1 m1 )(I2 j2 m2 )

m1 =j1 m2 =j2

j1
X

j2
X

(j1 m1 j2 m2 |j1 j2 jm )(I1 j1 m1 )(J2z j2 m2 )

m1 =j1 m2 =j2

= (m1 ~ + m2 ~)

j1
X

j2
X

(j1 m1 j2 m2 |j1 j2 jm )j1 m1 j2 m2

m1 =j1 m2 =j2

= (m1 ~ + m2 ~)j1 j2 jm .

(12.52)

Dari pers.(12.50) diperoleh


(m m1 m2 )(j1 m1 j2 m2 |j1 j2 jm ) = 0.

(12.53)

Oleh karena itu terdapat aturan seleksi untuk nilai m menurut


m = m1 + m2 .

(12.54)

Artinya, koefisien Clebsch-Gordan lenyap untuk m yang tidak memenuhi


aturan tersebut. Selanjutnya, dapat ditunjukkan bahwa nilai j mengikuti
aturan seleksi
|j1 j2 | j j1 + j2 .
(12.55)
Dari aturan-aturan seleksi tersebut jumlah nilai j dan m yang mungkin
ada (2j1 + 1)(2j2 + 1), yakni sama dengan dimensi dari ruang Hilbert
H1 H2 . Oleh karena masing-masing vektor j1 j2 jm merupakan swavektor
operator-operator yang Hermitean, maka himpunan {j1 j2 jm } merupakan

12.2. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

271

basis ortonormal bagi ruang H1 H2 . Basis ini dikenal sebagai basis terkopling. Aturan ke-ortonormal-an basis tersebut adalah
(j1 j2 jm |j1 j2 j 0 m0 ) = jj 0 mm0 .

(12.56)

Sebagai anggota ruang Hilbert H1 H2 , vektor-vektor j1 m1 j2 m2 dapat


pula disajikan sebagai kombinasi linier
j1 m1 j2 m2

j
X X
j

j
X X
j

(j1 j2 jm |j1 m1 j2 m2 )j1 j2 jm

m=j

C(j1 j2 ; m1 m2 |jm) j1 j2 jm .

(12.57)

m=j

Koefisien Clebsch-Gordan menurut pers.(12.51) sesungguhnya adalah


2
unsur-unsur matriks pendiagonal dari matriks wakilan bagi operator J
relatif terhadap basis tak terkopling. Oleh karena itu koefisien ClebschGordan dapat dicari malalui proses pendiagonalan matriks wakilan bagi
2 . Ada cara lain yang dikenal sebagai cara rekursif. Namun, cara
operator J
paling singkat adalah melalui rumus prakstis berikut (untuk lebih rincinya
lihat misalnya dalam [Cow])


j1 j2
j
j1 j2 +m
1/2
, (12.58)
C(j1 j2 ; m1 m2 |jm) = (1)
(2j + 1)
m1 m2 m
dengan faktor


j1 j2
j
=
m1 m2 m
[(j1 m1 )!(j2 m2 )!(j m)!(j1 + m1 )!(j2 + m2 )!(j + m)!]1/2

1/2
j1 j2 +m (j1 + j2 j)!(j1 j2 + j)!(j1 + j2 + j)!
m1 +m2 ,m (1)
(j1 + j2 + j + 1)!

X
1

(1)k
k!(j1 + j2 j k)!(j1 m1 k)!(j2 + m2 k)!
k

1

(j j2 + m1 + k)!(j j1 m2 + k)!
(12.59)

272

BAB 12. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

dikenal sebagai simbol 3 j Wigner. Indeks k dalam jumlahan persamaan


terakhir memiliki jangkauan
max(0, j2 j m1 , j1 j + m2 ) k min(j1 + j2 j, j1 m1 , j2 + m2 ).
(12.60)

Contoh :
Bila diberikan j1 = 1 dan j2 = 2, maka koefisien Clebsch-Gordan mana
sajakah yang lolos aturan seleksi? Dalam hal ini j memiliki jangkauan
|12| = 1 j 1+2 = 3. Jadi j = 1, 2, 3. Untuk j = 1, bilangan m memiliki nilai 1, 0, 1. Untuk j = 2, bilangan m memiliki nilai 2, 1, 0, 1, 2.
Untuk j = 3, bilangan m memiliki nilai 3, 2, 1, 0, 1, 2, 3. Adapun
koefisien-koefisien Clebsch-Gordan yang lolos aturan seleksi diberikan oleh
tabel berikut3

C(12; 1 2|3 3),


C(12; 10|1 1),
C(12; 11|10),
C(12; 12|11),
C(12; 0 2|2 2),
C(12; 0 1|2 1),
C(12; 00|20),
C(12; 01|21),
C(12; 02|32),
C(12; 1 2|3 1),
C(12; 1 1|30),
C(12; 10|31),

C(12; 1 1|2 2),


C(12; 10|2 1),
C(12; 11|20),
C(12; 12|21),
C(12; 0 2|3 2),
C(12; 0 1|3 1),
C(12; 00|30),
C(12; 01|31),
C(12; 1 2|1 1),
C(12; 1 1|10),
C(12; 10|11),
C(12; 11|22),
C(12; 12|32)

C(12; 1 1|3 2),


C(12; 10|3 1),
C(12; 11|30),
C(12; 12|31),
C(12; 0 1|1 1),
C(12; 00|10),
C(12; 01|11),
C(12; 02|22),
C(12; 1 2|2 1),
C(12; 1 1|20),
C(12; 10|21),
C(12; 11|32),

Tabel 12.1 Koefisien-koefisien Clebsch-Gordan yang tak lenyap untuk j1 = 1


dan j2 = 2
3

Angka-angka seperti 3 3 dalam Tabel 12.1 bukan berarti 3 minus 3, melainkan


sebenarnya 3, 3. Demikian pula 12 bukan berarti minus 12, melainkan 1, 2.

12.2. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

273

Dengan memanfaatkan pers.(12.58) diperoleh misalnya


1
1
C(12; 00|20) = 0, C(12; 11|20) = , C(12; 1 1|20) = . (12.61)
2
2
Dengan demikian keadaan tak terkopling 1220 dapat ditulis sebagai
1220 = C(12; 00|20)10 20 + C(12; 11|20)11 21
+C(12; 1 1|20)11 21
1
1
= 11 21 + 11 21 .
2
2

(12.62)

Bilamana sistem dipersiapkan berada pada keadaan 1220 , maka penguku 2 dan Jz menghasilkan dengan pasti berturut-turut nilai
ran besaran J
2(2 + 1)~2 = 6~2 dan 0 sebagai hasil ukur. Bila untuk sistem yang be 2 dan J
2 pun
rada pada keadaan 1220 dilakukan pengukuran besaran J
1
2
2
akan menghasilkan dengan pasti berturut-turut nilai 1(1 + 1)~ = 2~2 dan
2(2 + 1)~2 = 6~2 sebagai hasil ukur. Bagaimanakah bila yang diukur besaran J1z dan J2z ? Dalam hal ini kita hanya dapat bicara tentang peluang.
Hanya ada dua pasang hasil yang mungkin, yaitu ~ dan ~ atau ~ dan ~.
Masing-masing memiliki peluang, tentu saja, 50%.

Contoh :
Andaikan sistem dipersiapkan berada pada keadaan tak terkopling =
2 , maka
j1 m1 j2 m2 . Bila dilakukan pengukuran momentum sudut total J
peluang mendapatkan nilai j(j + 1)~2 sebagai hasil ukur diberikan oleh
P(, j(j + 1)~2 ) = |(j1 j2 jm |j1 m1 j2 m2 )|2 = |C(j1 j2 ; m1 m2 |jm)|2 .
(12.63)
Bila mula-mula sistem berada pada keadaan sembarang , maka
XX
=
(j1 m1 j2 m2 |)j1 m1 j2 m2 .
(12.64)
m1 m2

2 adalah
Peluang mendapatkan nilai j(j + 1)~2 sebagai hasil pengukuran J
|(j1 j2 jm |)|2 = |(j1 m1 j2 m2 |)|2 |C(j1 j2 ; m1 m2 |jm)|2 .

(12.65)

274

BAB 12. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

Gambar 12.1: Rudolf F. Clebsch (1833-1872), matematikawan kelahiran Konigsberg, Prusia (sekarang Kaliningrad) yang mempunyai perhatian pada Fisika
Matematika.(kiri) dan Paul A. Gordan (1837-1912), matematikawan kelahiran
Breslau, Jerman (kanan).(Foto diambil dari situs www.-groups.dcs.st-and.ac.uk.)

12.3

Soal-soal

1. Ditinjau sebuah elektron dalam suatu atom. Bila elektron tersebut


berada pada orbital p,
(a) tentukanlah bilangan-bilangan kuantum j yang muncul dalam
kopling!
(b) koefisien Clebsch-Gordan yang mana saja yang akan muncul
dalam kopling?
2. Masih terkait dengan elektron yang dibahas pada soal no.1. Bila
elektron tersebut dipersiapkan berada pada keadaan tak terkopling
11 1 1 ,
2 2

(a) nyatakanlah keadaan di atas sebagai kombinasi linier dari


keadaan-keadaan terkopling 1 1 jm !
2
q
(b) berapakah peluang mendapatkan hasil ukur 32 ( 32 + 1)~ dan
dan kom 21 ~ pada pengukuran momentum sudut total elektron J

ponen Jz ?
3. Masih juga terkait dengan elektron pada soal nomor 1. Bila elektron
mula-mula dipersiapkan berada pada keadaan terkopling 1 1 3 1 ,
2 2

12.3. SOAL-SOAL

275

(a) nyatakanlah keadaan tersebut sebagai kombinasi linier dari


keadaan-keadaan tak terkopling 1ml 1 ms !
2

(b) berapakah peluang keluarnya nilai ~ dan 12 ~ berturut-turut


z dan komsebagai hasil ukur komponen momentum sudut orbital L

ponen momentum sudut spin Sz dari elektron?


4. Dari ke-ortonormal-an keadaan terkopling j1 j2 jm buktikan identitas
berikut
X
C (j1 j2 ; m1 m2 |jm)C(j1 j2 ; m1 m2 |j 0 m0 ) = jj 0 mm0 .
m1 ,m2 ,m1 +m2 =m

(12.66)

276

BAB 12. PENJUMLAHAN MOMENTUM SUDUT

Bab 13

DINAMIKA KUANTUM
Sebagaimana telah disinggung pada akhir bab 2 bahwa dinamika merupakan lintasan atau kurva pada ruang keadaan yang berparameterkan waktu. Dinamika kuantum oleh karena itu merupakan lintasan (lihat kembali
Sketsa 4.1 dan 4.2!) sistem kuantum dalam ruang keadaan kuantum (ruang
Hilbert). Dikenal beberapa pendekatan dalam penurunan dinamika kuantum. Pendekatan yang paling familiar adalah pendekatan yang menyajikan
dinamika kuantum melalui persamaan diferensial yang mengontrol perubahan keadaan sistem terhadap waktu, yakni persamaan Schrodinger. Pendekatan dinamika semacam ini telah diperkenalkan pada bab 4 dan diterapkan pada bab-bab sesudahnya. Pendekatan berikutnya adalah pendekatan
teori grup yang memandang dinamika (entah kuantum ataupun klasik) sebagai tindakan (action) dari grup dinamik terhadap ruang keadaan. Grup
dinamik adalah himpunan yang beranggotakan seluruh bilangan riil disertai dengan operasi penjumlahan biasa. Dalam grup ini, unsur netralnya
adalah bilangan 0. Untuk sembarang bilangan riil t, lawan atau inversnya
adalah bilangan riil t. Dalam pendekatan teori grup, grup dinamik direalisasikan (tepatnya direpresentasikan) dalam bentuk grup yang beranggotakan transformasi-transformasi uniter dalam ruang Hilbert. Jadi, didapatkan operator-operator uniter yang berparameterkan bilangan riil sebagai
waktu. Oleh karena itu, keadaan kuantum tiap saat dapat diketahui dari
keadaan awal dengan menerapkan operator uniter berparameterkan waktu
tersebut. Operator-operator berparameterkan waktu itu disebut operator
pergeseran waktu.
Agar para pembaca mengenal pendekatan yang elegan ini, maka dalam
277

278

BAB 13. DINAMIKA KUANTUM

bab ini akan disajikan pendekatan teori grup walaupun tidak begitu rinci
dan mendalam. Akan ditunjukkan bahwa persamaan Schrodinger dapat
diturunkan dari pendekatan ini.

13.1

Operator Translasi Waktu

Andaikan pada saat t0 suatu sistem fisis berada pada keadaan yang diwakili
oleh vektor (t0 ). Seiring perjalanan waktu, andaikan kedaan sistem tersebut berubah sedemikian rupa sehingga pada saat t sistem berada pada
keadaan yang diwakili oleh vektor (t). Operator translasi waktu adalah
operator yang menghubungkan keadaan awal (t0 ) sistem dengan keadaan
(t, t0 ) yang memenuhi persamaan
sistem setiap saat, yakni suatu operator U
(t, t0 )(t0 ) = (t).
U

(13.1)

(t, t0 ) melukiskan bagaimana kedaan kuanJadi, operator translasi waktu U


tum suatu sistem fisis berkembang (berevolusi) seiring berubahnya waktu,
yakni menggambarkan dinamika kuantum. Tampak bahwa keadaan sistem
kuantum setiap saat t dapat diketahui bila keadaan pada saat t0 diketahui. Oleh karena itu, sebagaimana yang telah dikatakan di muka, sistem
kuantum bersifat deterministik dalam ruang keadaan : bila keadaan sistem pada suatu saat tertentu diketahui maka pada saat yang lain keadaan
sistem itupun dapat diketahui.
Dalam bagian ini kita akan membatasi pembicaraan pada operator
translasi waktu yang hanya tergantung pada selisih t t0 , bukan pada
(t, t0 ) = U
(t t0 ). Syarat ini
waktu mutlak t dan t0 . Oleh karena itu U

berakibat bahwa pemetaan t 7 U (t) (untuk sembarang bilangan riil t)


merupakan homomorfisme atau wakilan dari grup dinamik. Hal ini dapat
dibuktikan sebagai berikut. Andaikan (t0 ) keadaan sistem pada saat t0 .
Keadaan sistem pada saat t berdasarkan batasan operator pergeseran wak (t, t0 )(t0 ) = U
(t t0 )(t0 ). Sedangkan pada
tu diberikan oleh (t) = U
0
saat t (tanpa mengurangi keumuman, misalkan t0 titik waktu yang datang
sesudah t) sistem berada pada keadaan (t0 ) yang ditentukan oleh per (t0 , t0 )(t0 ) = U
(t0 t0 )(t0 ). Dari persamaan terakhir
samaan (t0 ) = U
ini didapatkan
(t0 t + t t0 )(t0 ) = U
[(t0 t) + (t t0 )](t0 ).
(t0 ) = U

(13.2)

13.1. OPERATOR TRANSLASI WAKTU

279

Tetapi, keadaan (t0 ) dapat diperoleh dari keadaan (t) malalui


(t0 t)(t).
(t0 ) = U

(13.3)

Dari pers.(13.3) dan ungkapan untuk (t) didapatkan


(t0 t)U
(t t0 )(t0 ).
(t0 ) = U

(13.4)

Dari persamaan terakhir dan pers.(13.2) diperoleh


[(t0 t) + (t t0 )] = U
(t0 t)U
(t t0 ),
U

(13.5)

(ta + tb ) = U
(ta )U
(tb ),
U

(13.6)

artinya,

(t)
untuk sembarang bilangan riil ta dan tb . Ini menunjukkan bahwa t 7 U
merupakan wakilan dari grup dinamik pada ruang Hilbert.
Seperti yang telah diperoleh dalam bab 10, operator translasi waktu
(t) adalah operator uniter U
(t) = I i Ht,

infinitisimal U
dengan H
~
operator Hamiltonan sebagai pembangkit pergeseran. Keuniteran operator translasi waktu terkait erat dengan makna statistik vektor keadaan.
Andaikan 1 (t) dan 2 (t) sembarang dua keadaan yang ternormalkan. Bilangan |(1 (t), 2 (t))|2 menggambarkan peluang terjadinya loncatan dari
keadaan yang diwakili oleh 2 (t) ke keadaan yang diwakili oleh 1 (t) pada
saat t. Peluang bagi partikel untuk meloncat dari keadaan 2 (t + t) ke
keadaan 1 (t + t) diberikan oleh
(t)1 (t)|U
(t)2 (t))|2
|(1 (t + t)|2 (t + t))|2 = |(U
(t)U
(t)2 (t))|2
= |(1 (t)|U

(13.7)

= |(1 (t)|2 (t))|2 .


Jadi, peluang untuk meloncat dari keadaan 2 (t + t) ke keadaan 1 (t +
t) sama dengan peluang untuk terjadinya loncatan dari 2 (t) ke keadaan
1 (t).
(t) merupakan wakilan grup dinamik, maka operator U
(t+t)
Karena U
dapat dituliskan dalam bentuk
(t + t) = U
(t)U
(t) = U
(t) i H
U
(t)t.
U
~

(13.8)

280

BAB 13. DINAMIKA KUANTUM

Oleh karena itu kita dapatkan


(t + t) U
(t) = i H
U
(t)t.
U
(13.9)
~
Dari pers.(13.9) dengan limit t 0 diperoleh persamaan diferensial
i~

(t + t) U
(t)
(t)
U
dU
U
(t).
= lim i~
=H
t0
dt
t

(13.10)

Bila pers.(13.9) dikenakan pada vektor (0), maka akan didapatkan persamaan Schrodinger
i~

d(t)
dt

(t + t)(0) U
(t)(0)
U
t0
t
(t + t) (t)
= lim i~
t0
t
U
(t)(0)
= H

= H(t).
=

lim i~

(13.11)

bebas waktu, maka pergeseran waktu finit U


(t), sebagai
Bila pembangkit H
jawaban dari pers.(13.10), diberikan oleh
!

i
Ht
(t) = exp
U
.
(13.12)
~
Oleh karena itu, secara umum
t0 )
iH(t
(t) = exp
~

!
(t0 )

(13.13)

jika sistem berada pada keadaan (t0 ) saat t0 .


Andaikan pada saat awal t = 0 suatu sistem fisis berada pada kedaan
kepunyaan
yang diwakili oleh (0) = E , yakni swafungsi operator H

swanilai E sehingga HE = EE . Maka penderetan U (t) menghasilkan

!
!2

iHt
i
Ht
1
i
Ht
E = 1
+

+ E (13.14)
exp
~
~
2!
~
!


iEt
1
iEt 2
=
1
+

+ E
~
2!
~


iEt
= exp
E .
~

13.2. CONTOH : PRESESI SPIN DALAM MEDAN MAGNET

281

Jadi, pada saat t sistem berada pada keadaan yang diwakili oleh
(t) = exp(iEt/~)E = exp(iEt/~)(0).

(13.15)

Akan tetapi vektor exp(iEt/~)(0) dan (0) keduanya mewakili keadaan


kuantum yang sama sebab keduanya hanya berbeda berdasarkan faktor fase
semata (yakni suatu bilangan kompleks dengan || = 1). Oleh karena itu
bila awalnya sistem fisis berada pada keadaan yang diwakili oleh swafungsi
maka, seiring dengan berubahnya waktu, sistem fisis
dari Hamiltonan H,
tersebut tetap berada pada keadaan kuantum yang sama. Hal ini, tentu
saja, mempertegas hasil yang telah didapatkan pada bab 6.
Sekarang, diandaikan bahwa pada saat t = 0 sistem fisis berada pada
keadaan sembarang (0) = . Diandaikan pula bahwa swanilai-swanilai
operator Hamiltonan bersifat diskret dan tidak satupun merosot. Bila En
adalah swafungsi ternormalkan yang berpadanan dengan swanilai En , maka
himpunan {En } merupakan himpunan ortonormal yang lengkap. Oleh
sebab itu maka vektor dapat dituliskan sebagai kombinasi linear dari
swafungsi-swafungsi En :
X
=
an En .
(13.16)
n

Pada saat t sistem fisis tersebut berada pada keadaan


!

iHt
(t) = exp

~
!
X

iHt
=
an exp
E
~
n
X
=
an exp(iEt/~)E .

(13.17)

vektor (t) dan (0) tentu saja mewakili kedaan kuantum yang berbeda.
Selanjutnya pada bagian-bagian berikut hendak disajikan beberapa contoh yang berkaitan dengan dinamika kuantum.

13.2

Contoh : Presesi spin dalam medan magnet

Ditinjau suatu zarah berspin- 21 yang hidup dalam medan magnet seragam
B = B0 k, B0 suatu tetapan (lihat Sketsa 13.1). Andaikan e muatan zarah

282

BAB 13. DINAMIKA KUANTUM

tersebut. Operator Hamiltonan bagi sistem fisis semacam ini diberikan oleh
ge
ge
s = ~
H
s B =
Sz B0 := 0 Sz ,
SB=
2mc
2mc

(13.18)

sebab

~s =

ge
S,
2mc

dengan g adalah faktor Lande (suatu tetapan yang khas untuk masingmasing partikel). Andaikan z+ dan z swakeadaan1 dari operator spin
Sz , sehingga
~
Sz z+ = z+
2

dan

~
Sz z = z
2

(13.19)

s :
Maka z+ dan z juga merupakan swakeadaan dari operator H
s + = 0 Sz + = ~0 +
H
z
z
2 z

(13.20)

s z = 0 Sz z = ~0 z .
H
2

(13.21)

s bebas waktu, maka operator translasi waktu U


(t) diberikan oleh
Karena H
(t) = exp(iH
s t/~) = exp(i0 tSz /~)
U

(13.22)

Tampak bahwa operator translasi waktu tidak lain merupakan operator


rotasi R(, k) dengan sudut rotasi = (t) = 0 t. Jadi, kehadiran medan
magnet B0 k mengakibatkan rotasi spin mengitari sumbu-z dengan periode
T =

2
4mc
=
.
0
geB0

(13.23)

Jadi, vektor z+ dan z tidak lain sejatinya adalah swavektor 1 1 dan 1 1 . Notasi
2 2
2
2
ini dipakai agar lebih mengesan dan lebih mudah dari penulisannya.
1

13.2. CONTOH : PRESESI SPIN DALAM MEDAN MAGNET

283

B = B0 k 6
Sz H H
H
S

Sx




~ s




H
HH
H

Sy

Sketsa 13.1 Presesi partikel berspin (Sketsa ini dirancang dan digambar oleh
M.F.Rosyid)

Andaikan zarah yang ditinjau mulanya berada pada keadaan awal (0) =
x+ , yakni swakeadaan operator Sx dengan swanilai ~/2. Telah ditunjukkan
dalam bagian 11.3 bahwa
1
1
x+ = z+ + z .
(13.24)
2
2
Pada saat t zarah tersebut berada pada keadaan
(t) + = exp(i0 tSz /~) +
(t) = U
(13.25)
x

x
1
1
= exp(i0 tSz /~) z+ + z
2
2
i
t/2
i
t/2
0
0
e
e

=
z+ + z .
2
2
Dari pers.(13.25) diperoleh peluang untuk terjadinya loncatan dari keadaan
(t) ke swakeadaan z+ sebagai


ei0 t/2 2 1


|(z+ |(t))|2 =
(13.26)
=

2
2

284

BAB 13. DINAMIKA KUANTUM

dan peluang untuk terjadinya loncatan dari keadaan (t) ke keadaan z


sebagai


ei0 t/2 2 1

2
|(z |(t))| = = .
(13.27)

2
2
Oleh karena itu
~
~
< Sz > = |(z+ |(t))|2 ( ) + |(z |(t))|2 ( ) = 0.
2
2

(13.28)

Jadi, rerata < Sz > merupakan tetapan dalam evolusi (0) (t).
Bagaimana dengan < Sx > dan < Sy >? Peluang untuk terjadinya
loncatan dari keadaan (t) ke keadaan x+ ditentukan oleh produk skalar
1
1
ei0 t/2 + ei0 t/2
(x+ |(t)) = ( z+ + z |
z + z ) (13.29)
2
2
2
2
1 i0 t/2 1 i0 t/2
=
e
+ e
2
2
= cos(0 t/2).
Karena

1
1
x = z+ z
2
2

(13.30)

maka peluang terjadinya loncatan dari keadaa (t) ke keadaan x ditentukan oleh (x |(t)) = i sin(0 t/2). Oleh karena itu rerata < Sx >
diberikan oleh
~
~
= |(x+ |(t))|2 ( ) + |(x |(t))|2 ( )
2
2
~
~
= cos2 (0 t/2)( ) + sin2 (0 t/2)( )
2
2
~
=
cos(0 t).
2

< Sx >

Karena y+ =

1 +
2 z

i
2 z

dan y =

1 +
2 z

i ,
2 z

(13.31)

maka

|(y+ |(t))|2 =

1 + sin(0 t)
2

(13.32)

|(y |(t))|2 =

1 sin(0 t)
.
2

(13.33)

dan

13.2. CONTOH : PRESESI SPIN DALAM MEDAN MAGNET

285

Akibatnya (dengan cara perhitungan yang sama) rerata < Sy > diberikan
oleh
~
< Sy > = sin(0 t).
(13.34)
2
~ > diberikan oleh
Dengan demikian rerata spin < S
~ > =< Sx > i+ < Sy > j = ~ cos(0 t)i + ~ sin(0 t)j.
<S
2
2

(13.35)

Terlihat bahwa ujung spin berputar dalam ruang konfigurasi memutari


sumbu-z dengan periode T .
Dari pers.(13.25) pada saat t = T = 2/0 zarah berada pada keadaan
yang diwakili oleh vektor
ei0 T /2 + ei0 T /2

z + z
2
2
i
i
e
e
= z+ + z
2
2
1 +
1
= z z
2
2

(T ) =

(13.36)

Terlihat bahwa (T ) tidak mewakili keadaan yang sama dengan yang diwakili oleh (0) = x . Hal ini menunjukkan bahwa T bukanlah periode
rotasi sistem dalam ruang keadaan. Akan tetapi bila ditunggu sampai
t = 2T , maka didapatkan
ei0 2T /2 + ei0 2T /2

z +
z
2
2
ei2
ei2
= z+ + z
2
2
1 +
1
= z + z
2
2
= (0).

(2T ) =

(13.37)

Jadi, zarah kembali ke (0) setelah berevolusi selama 2T dalam ruang


keadaan. Tampak adanya kesenjangan periode antara rotasi dalam ruang
konfigurasi dan ruang keadaan. Secara topologis, hal ini mudah dipahami, yakni dikarenakan bahwa grup SU (2) merupakan double covering dari
grup SO(3). Untuk lebih jelasnya dapat ditengok kembali bagian 10.4 dan
pustaka [GM, Rd].

286

BAB 13. DINAMIKA KUANTUM

13.3

Contoh : Resonansi Magnetik

Ditinjau sebuah partikel berspin- 12 yang bermuatan q dan bermassa m.


Momen dipole magnet partikel tersebut diberikan oleh

~ = g S,
~

(13.38)

dengan := q~/2mc disebut magneton. Faktor Lande g yang khas


untuk tiap-tiap zarah ditentukan dengan menggunakan gejala resonansi
magnetik. Dalam bagian ini hendak dibicarakan gejala tersebut.

*
6
 B0

B(t) = iB1 cos(t)


jB1 sin(t) + kB0





KAA
A
A
A
A
Sz H H
A
H
S
A

A

~ 
A

A

B1 sin(t)A 
A
H
H

S
x HH



B cos(t)

Sy

Sketsa 13.2 Resonansi Magnetik Spin (Sketsa ini dirancang dan digambar oleh
M.F.Rosyid)

Telah dibahas sebelumnya, bahwa sebuah zarah berspin- 12 dan bermuatan q akan berpresesi seputar sumbu-z bila dipengaruhi oleh medan magnet seragam B0 k ke arah sumbu-z. Zarah tersebut berpresesi dengan
frekuensi 0 = g|q|B0 /2mc. Resonansi magnetik terjadi bila medan magnet

13.3. CONTOH : RESONANSI MAGNETIK

287

B0 k diganti dengan medan


B(t) = B1 cos(t)i B1 sin(t)j + B0 k,

(13.39)

dengan B1 dan masing-masing merupakan tetapan (lihat Sketsa 13.2!).


Maka Hamiltonan sistem diberikan oleh

H(t)
=
~ B(t)
(13.40)
i
h
= g
B1 cos(t)Sx B1 sin(t)Sy + B0 Sz .
~
Dengan memanfaatkan basis ortonormal {z+ , z } yang disusun oleh dua
swakeadaan operator Sz , maka persamaan Schrodinger
i~

= H(t)
t

(13.41)

dapat dibawa ke wakilan matriks berikut (lihat kembali bab 6)








a(t)
0 1
a(t)
i~
= B1 cos(t)
1 0
b(t)
t b(t)
2




a(t)
0 i
B1 sin(t)
b(t)
i 0
2




a(t)
1 0
B0
,
b(t)
0 1
2

(13.42)

dengan
~
Sx =
2

0 1
1 0


,

~
Sy =
2

0 i
i 0

serta


(t) =


,

a(t)
b(t)

dan

~
Sz =
2


1 0
0 1
(13.43)


,

(13.44)

dengan
a(t) = (z+ |(t))
Matriks-matriks


0 1
x =
,
1 0


y =

0 i
i 0

disebut matriks-matriks Pauli.

dan

b(t) = (z |(t)).


,

dan

z =

1 0
0 1

(13.45)


(13.46)

288

BAB 13. DINAMIKA KUANTUM


Pers.(13.42) dapat ditulis dalam bentuk yang lebih ringkas
 


g bB1 cos(t) + ibB1 sin(t) + aB0
a
=
(13.47)
i~
aB1 cos(t) iaB1 sin(t) bB0
t b
2


g
bB1 e(it) + aB0
=
aB1 e(it) bB0
2

atau

a
b

"


=i
g B

g B1 (it)
g B0
+ 2~
a
2~ be
g B0
g B1
(it)
2~ b
2~ ae

#
.

(13.48)

g B

1
0
Bila didefinisikan 1 := 2~
dan 0 := 2~
maka diperoleh


 
a
1 be(it) + 0 a
=i
1 ae(it) 0 b
t b

(13.49)

atau

a
= i(1 be(it) + 0 a)
(13.50)
t
b
= i(1 ae(it) 0 b).
(13.51)
t
Oleh karena itu kita dapatkan sistem persamaan differensial terkopling.
Sekarang diandaikan bahwa pada saat t = 0 partikel berada pada keadaan
spin up, yakni (0) = z+ . Dengan kata lain a(0) = 1 dan b(0) = 0.
Selanjutnya diandaikan a(t) dan b(t) berturut-turut berbentuk
a(t) = a
eia t

(13.52)

b(t) = beib t ,

(13.53)

dan
dengan a
dan b bebas waktu. Dengan mensubtitusikan pers.(13.52) dan
pers.(13.53) ke dalam dua persamaan sebelumnya diperoleh

 
(a 0 ) 1 eit
a

(13.54)
it
b = 0,
1 e
(b + 0 )
dengan := a b . Faktor a
dan b bebas waktu jika = 0. Hal ini
berarti bahwa a = b + . Selanjutnya, pers.(13.54) memberikan jawaban
tak sepele (nontrivial solution) jika determinan


(a 0 ) 1 eit


(13.55)
1 eit (b + 0 )

13.3. CONTOH : RESONANSI MAGNETIK

289

lenyap. Hal ini setara dengan berlakunya persamaan


(a 0 )(b + 0 ) 21 = 0

(13.56)

b2 + b + 0 20 21 = 0.

(13.57)

atau

Dengan menggunakan rumus abc diperoleh dua macam jawaban untuk


b , yaitu
p
4 2 4(0 20 21 )
.
(13.58)
b =
2
Bagian yang ada didalam tanda akar dapat dituliskan secara lebih singkat
sebagai

4 2 40 + 420 + 421 = 4(( )2 2 0 + 20 ) + 421


2
2

2
= 4( 0 ) + 421 .
2
Bila ungkapan terakhir ini dimasukkan kembali ke pers.(13.58), maka didapatkanlah

,
(13.59)
b =
2
dengan
2 := ( 2 0 )2 + 21 . Karena a = + b , maka didapatkan pula
dua jawaban untuk a , yaitu
a =
Jadi,
b(t) = b1 exp[i(

.
2

)t] + b2 exp[i( +
)t]
2
2

(13.60)

(13.61)

dan

+
)t] + a2 exp[i(
)t].
(13.62)
2
2
Karena b(0) = 0, maka b1 + b2 = 0. Hal ini semakna dengan persamaan
b1 = b2 := C/2i. Oleh karena itu
a(t) = a1 exp[i(

b(t) = C(sin(
t))ei(/2)t .

(13.63)

Dari syarat awal a(0) = 1 dan pers.(13.50) serta pers.(13.51) diperoleh


C=

i1
.

(13.64)

290

BAB 13. DINAMIKA KUANTUM

Oleh karena itu


b(t) =

i1
(sin(
t))ei(/2)t = (z |(t)).

(13.65)

Bilangan
|b(t)|2 =

21
|1 |2
2
(sin(

t))
=
sin2 (
t)
|
|2
(0 2 )2 + 21

(13.66)

menunjukkan peluang untuk flip dari spin up ke spin down. Dari persamaan (13.66) terlihat bahwa peluang |b(t)|2 maksimum pada titik 0 =
/2. Dalam eksperimen, terdapat peranti yang dapat menunjukkan terjadinya flip sekaligus jumlah flip nisbi. Dengan mengatur frekuensi
medan induksi magnetik, yakni , jumlah terjadinya flip dapat diatur.
Pada saat jumlah terjadinya flip maksimum, berlaku 0 = /2. Dengan
demikian kita dapat mengetahui besarnya 0 melalui pengaturan . Dari
g B0
faktor g dapat dihitung, yaitu
persamaan 0 = 2~
g=

13.4

0 2~
.
B0

(13.67)

Soal-soal

1. Andaikan

E0 0 A
0 E1 0
A 0 E0

(13.68)

wakilan matriks dari Hamiltonan untuk suatu sistem relatif terhadap


basis {1 , 2 , 3 }.
(a) Bila keadaan awal dari sistem adalah (0) = 2 , hitunglah
(t)! Hitung pula peluang mendapati sistem pada keadaan 1 pada
saat t 6= 0!
(b) Bila keadaan awal dari sistem adalah (0) = 3 , hitunglah
(t)! Hitung pula peluang mendapati sistem pada keadaan 1 saat
t 6= 0!
2. Buktikan berlakunya persamaan matriks (13.42)

13.4. SOAL-SOAL

291

Tinjauan ini
3. Ditinjau suatu sistem kuantum bermomentum sudut J.
hanya dibatasi pada subruang swanilai tiga dimensi yang dibentang
oleh basis {11 , 10 , 11 } yang masing-masing anggotanya meru 2 dengan swanilai 2~2 dan
pakan swakeadaan bersama dari operator J
operator Jz dengan swanilai berturut-turut ~, 0 dan ~. Andaikan
sistem tersebut memiliki Hamiltonan
0 = aJz + b Jz2 ,
H
~

(13.69)

dengan a dan b dua tetapan positif yang diatur sedemikian rupa se 0 tidak merosot!
hingga swanilai-swanilai H
(a) Andaikan sistem pada saat t = 0 berada pada keadaan
1
1
1
(0) = 11 + ei 10 11 ,
3
3
3

(13.70)

dengan suatu tetapan. Hitunglah (t), yakni keadaan sistem pada


saat t sembarang! Hitung pula rerata < Jz > dan < J2 > sebagai
fungsi waktu!
(b) Lestarikah/kekalkah rerata < Jx >, < Jy >, < J+ > dan
< J >? Berilah alasan!

292

BAB 13. DINAMIKA KUANTUM

Bab 14

SISTEM SISTEM FISIS


BERDIMENSI TIGA
Yang dimaksud dengan sistem-sistem fisis berdimensi tiga adalah sistem fisis yang berada dalam ruang konfigurasi klasik berdimensi tiga, yakni ruang
yang pada bab-bab sebelumnya dinotasikan dengan R3r . Tiap titik dalam
ruang ini menunjukkan posisi yang mungkin ditempati oleh sistem fisis (partikel) yang ditinjau. Sistem koordinat merupakan sarana untuk menandai
titik-titik dalam ruang konfigurasi. Dengan cara semacam itu, orang dapat
menunjuk posisi suatu partikel dengan tepat. Sistem koordinat memiliki
aspek kemasyarakatan karena ia harus disepakati (misalnya, kesepakatan
penempatan titik pangkal atau titik nol, kesepakatan arah persumbuan,
dll.). Kesepakatan itu mencegah timbulnya ambiguitas. Terdapat sekian
banyak sistem koordinat untuk ruang konfigurasi R3r . Pemilihan sistem koordinat sangat tergantung pada masalah yang dihadapi. Hal yang lazim
dipertimbangkan adalah simetri (kesetangkupan) sistem fisis yang ditinjau.
Tinjauan sistem fisis dalam ruang tiga dimensi dengan menggunakan koordinat kartesius telah disajikan dalam bab 8. Sekarang akan dibahas sistem
kuantum dalam ruang tiga dimensi dengan sistem koordinat bola.

14.1

Mekanika Kuantum Dalam Koordinat Bola

Ditinjau suatu sistem fisis yang berupa partikel bermassa yang berada
dalam lingkungan berpotensial V (r). Secara klasik, Hamiltonan sistem
293

BAB 14. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI TIGA

294
diberikan oleh

H(r, p) =

|p|2
+ V (r).
2

(14.1)

Telah dijelaskan dalam bab-bab yang lalu bahwa selain sebagai pengenal
suatu sistem fisis bentuk fungsional tenaga potensial juga berperan dalam
penentuan pendekatan yang harus diambil dalam pembahasan sistem fisis
terkait. Dalam koordinat bola (segera akan ditunjukkan), momentum sudut
orbital dan yang disebut momentum radial memegang peran penting dalam
pemisahan persamaan atas dua bagian : bagian radial dan bagian sudut.
Akan dijelaskan bagaimana kedua jenis momentum tersebut muncul dan
berperan dalam persamaan-persamaan dinamika.
Berdasarkan hitung vektor
(A B)2 = (A B) (A B) = |A|2 |B|2 (A B)2 ,

(14.2)

dan batasan momentum sudut orbital L = r p diperoleh ungkapan untuk


L2 sebagai berikut
L2 = (r p) (r p)
2

(14.3)

= |r| |p| (r p) .
Bila r := |r| maka persamaan di atas dapat ditulis dalam bentuk
L2 = r2 |p|2 (r p)2 .
Oleh karena itu, tampak bahwa kwadrat momentum linier |p|2 memenuhi
persamaan
|p|2 =

L2
1
L2
+ 2 (r p)2 = 2 + p2r ,
2
r
r
r

(14.4)

dengan pr := (r p)/r = nr p disebut momentum radial. Dengan


demikian Hamiltonan sistem dapat dituliskan sebagai
H(r, p) =

1 L2
p2r
+
+ V (r).
2 r2
2

(14.5)

Kemudian, dalam rangka perpindahan ke deskripsi kuantum, patut


dipertanyakan bentuk operator bagi kuadrat momentum radial p2r maupun

14.1. MEKANIKA KUANTUM DALAM KOORDINAT BOLA

295

bagian L2 /r2 . Operator yang sesuai bagi kedua ungkapan klasik tersebut
tentu saja dapat diperoleh dengan menerapkan apa yang telah dijelaskan
pada bab pengkuantuman. Namun, dalam bab ini hendak dicoba cara lain
guna menambah wawasan. Karena L2 dan 1/r keduanya Hermitean serta
saling komut, maka operator
\

L2
r2
yang memenuhi persamaan
\

L2
1 2
(r) := 2 L
(r),
2
r
r

(14.6)

untuk setiap fungsi gelombang (r), merupakan operator yang well defined
dan bersifat Hermitean.
Sementara itu, usulan operator
1
1
) = (x
(r p
px + y py + z pz )
r
r

(14.7)

sebagai wakilan operator bagi pr ditolak karena operator tersebut jelas-jelas


tidak Hermitean (mengapa?). Operator pr sebagai wakilan yang sesuai bagi
momentum radial pr didapatkan dengan melakukan simetrisasi terhadap
operator pers.(14.7), yakni


1 r
1
r
+ p

pr =
p
(14.8)
2 r
r
r
r
r
1
(i~) 5 + (i~) 5 .
=
2
r
r
Karena hasil simetrisasi, maka dengan sendirinya operator ini merupakan
operator yang Hermitean. Untuk sembarang fungsi gelombang (r) berlaku
1
r
r
pr (r) =
(i~) 5 + (i~) 5 (r)
(14.9)
2
r
r


r
r
1
=
(i~) 5(r) + (i~) 5 (r)
2  r 
r

1
= i~
+
(r).
r r
Oleh karenanya ungkapan eksplisit untuk pr diberikan oleh



1
1
pr = i~
+
= i~
r.
r r
r r

(14.10)

296

BAB 14. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI TIGA

2 diberikan oleh
Berdasarkan pers.(14.4), ungkapan untuk operator p


2
1 2
2
2 1
= ~
p
r 2 2L
(14.11)
r r2
~ r
Dengan demikian, operator Hamiltonan bagi sistem fisis tersebut diberikan
oleh


1 2
~2 1 2

r 2 2 L + V (r, , ).
(14.12)
H=
2 r r2
~ r
Dan dinamika sistem fisis oleh karena itu merupakan lintasan dalam ruang
fase yang ditentukan (di antaranya) oleh persamaan Schrodinger
i~

~2 1 2
1 2
(r, , , t) =
[r(r, , , t)] +
L (r, , , t)
2
t
2 r r
2r2
+V (r, , )(r, , , t).
(14.13)

14.2

Partikel Bebas Dalam Koordinat Bola

Pertama kali, hendak dibicarakan sistem fisis yang berupa partikel bebas.
Dalam hal ini dipilih selalu V (r) = 0 di mana-mana. Dari pers.(14.12),
operator Hamiltonan yang sesuai bagi sistem ini diberikan oleh


~2 1 2
1 2

H=
r 2 2L .
(14.14)
2 r r2
~ r
Persamaan swanilai tenaga untuk sistem fisis ini adalah


~2 1 2
1 2

r 2 2 L = E.
2 r r2
~ r

(14.15)

2 ] = [H,
L
L
z ] = 0. Oleh kareDapat ditunjukkan dengan mudah bahwa [H,
2

na itu, maka operator H, L dan Lz dipastikan mempunyai swakeadaan


2 dan L
z dengan
L
bersama. Andaikan Elm swafungsi bersama bagi H,
swanilai berturut-turut E, l(l + 1)~2 dan m~, maka dari pers.(14.15) didapatkan


~2 1 2
l(l + 1)

(rElm )
Elm = EElm .
(14.16)
2 r r2
r2

14.2. PARTIKEL BEBAS DALAM KOORDINAT BOLA

297

2 hanya gayut pada dan , maka Elm (r, , ) dapat tuliskan


Karena L
sebagai
Elm (r, , ) = REl (r)Ylm (, ),
(14.17)
dengan REl (r) adalah fungsi yang hanya tergantung pada r dan Ylm (, )
adalah spherical harmonics yang merupakan swafungsi-swafungsi bersama
2 dan L
z . Bila ungkapan untuk Elm (r, , ) ini dimasukkan ke dalam
bagi L
pers.(14.16), maka didapatlah

1 d2
l(l + 1)
2E
(rREl ) +
REl = 2 REl .
2
2
r dr
r
~

(14.18)

Jika tetapan k 2 didefinisikan sebagaimana pers.(8.63) dan := kr, maka


didapatlah persamaan differensial Bessel [Arf] sebagai berikut


d2
2 dRkl
l(l + 1)
Rkl +
+ 1
Rkl = 0.
(14.19)
d2
d
2
Karena kegayutan E pada k maka indeks E dapat diganti dengan indeks k.
Persamaan tersebut memiliki dua jawaban yang bebas linier, yakni fungsifungsi Bessel jl () dan fungsi-fungsi Neumann nl () (l = 0, 1, 2, ). Akan
tetapi fungsi-fungsi Neumann memiliki singularitas pada titik = 0. Oleh
karena itu yang diambil sebagai penyelesaian bagi zarah bebas kita adalah
fungsi-fungsi Bessel. Berikut adalah fungsi-fungsi Bessel untuk l = 0, 1, 2 :

j0 ()

sin

j1 ()

sin
2

j2 ()

3
3

cos

sin

3
2

cos

Sedangkan, untuk l sembarang (tentu saja l = 0, 1, 2, ) fungsi Bessel


jl (kr) diberikan oleh
 r  l  1 d l
jl (kr) =

j0 (kr).
k
r dr

(14.20)

BAB 14. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI TIGA

298

Oleh karena itu jawaban bagi masalah swanilai pers.(14.16) diberikan oleh
k,l,m (r, , ) = jl (kr)Ylm (, )
Ek =

~2 k 2
2

(14.21)

(14.22)

(k k 0 ).
2k 2

(14.23)

Kaitan ortonormalisasi bagi k,l,m adalah


(k,l,m |k0 ,l0 ,m0 ) = ll0 mm0

Misalkan K himpunan yang beranggotakan semua nilai yang dimungkinkan


bagi k, maka himpunan
{k,l,m |k K; l = 0, 1, 2, ; m = l, , 0, , l}

(14.24)

merupakan himpunan ortonormal lengkap. Karenanya setiap fungsi gelombang (r, , ), dengan (r, , ) R3r , dapat dituliskan sebagai kombinasi
linier1
Z
(r, , ) =

dk
K

dk
K

(k,l,m |)k,l,m (r, , )

l=0 m=l

Z
=

l
X X

l
X X

(k,l,m |)jl (kr)Ylm (, ),

(14.25)

l=0 m=l

dengan
Z

Z +

(k,l,m |) =
0

jl (kr)Ylm (, ) (r, , )r2 sin()drdd.

(14.26)

14.3

Zarah dalam potensial terpusat

Setelah kita membahas zarah bebas, maka saatnya kita meninjau kehadiran
suatu potensial di sekitar zarah itu. Potensial yang hendak ditinjau adalah
potensial terpusat, yaitu potensial yang hanya tergantung pada jarak dari
1

Tanda
wilayah K.

R
K

dk berarti integral dengan batas-batas yang sesuai bagi k, yakni dalam

14.3. ZARAH DALAM POTENSIAL TERPUSAT

299

titik pangkal, yaitu V = V (r). Potensial semacam ini juga dikatakan sebagai potensial yang memiliki simetri bola. Contoh sistem fisis semacam ini
adalah elektron dalam atom hidrogen dengan potensial yang berbanding
lurus dengan 1/r, yakni yang dikenal sebagai potensial Coulomb.
Hamiltonan klasik bagi zarah yang hidup dalam sembarang potensial
terpusat V (r) diberikan oleh
H(r, p) =

p2
+ V (r),
2

(14.27)

dengan massa zarah tersebut. Dalam sistem koordinat bola, operator


yang mewakili Hamiltonan tersebut adalah
2

= ~
H
2

1 2
1 2
r 2 2L
2
r r
~ r


+ V (r).

(14.28)

Dengan demikian masalah swanilai tenaga dapat dituliskan sebagai


~2


1 2
1 2
r 2 2 L + V (r) = E.
r r2
~ r

(14.29)

2 ] = [H,
L
Lz ] = 0. Oleh karena itu, seperti
Dalam kasus inipun berlaku [H,
yang telah dilakukan sebelumnya, diusulkanlah pemisahan peubah menurut
(r, , ) = Elm (r, , ) = REl Ylm (, ).

(14.30)

Bila pers.(14.30) disubtitusikan ke dalam persamaan sebelumnya, maka


didapatlah persamaan


~2 1 d 2
~2 l(l + 1)

(rREl ) + V (r) +
REl = EREl .
2 r dr2
2r2

(14.31)

Selanjutnya akan diasumsikan bahwa rV (r) tak singuler, yakni berlaku


lim

r0

rV (r) < .

(14.32)

Hal ini berakibat r2 V (r) 0 jika r 0. Kemudian, sebagaimana lazimnya, disyaratkan bahwa penyelesaian Elm (r, , ) = REl (r)Ylm (, ) ter-

300

BAB 14. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI TIGA

normalisasi. Artinya,
1 = (Elm |Elm )
Z Z 2 Z
|Elm (r, , )|2 r2 sin dddr
=
0
0
0
Z Z 2 Z
=
|REl (r)|2 |Ylm (, )|2 r2 sin dddr
0
0
0
Z
 Z 2 Z

2
2
m
2
=
r |REl (r)| dr
|Yl (, )| sin dd .(14.33)
0

Karena spherical harmonics Ylm telah ternormalisasi, yakni


Z 2 Z
|Ylm (, )|2 sin dd = 1,
0

(14.34)

maka pers.(14.33) mengharuskan berlakunya


Z
r2 |REl (r)|2 dr = 1.

(14.35)

yang mana merupakan syarat cukup bagi limit


lim

rREl (r) = 0.

(14.36)

Pers.(14.36) menandakan bahwa penyelesaian Elm haruslah merupakan


keadaan terikat (bound state). Selanjutnya pers.(14.36) dapat pula ditulis
sebagai
REl (r)
= 0.
(14.37)
lim
r
1/r
Artinya, REl (r) menyusut menuju nol lebih cepat dibandingkan menyusutnya 1/r. Perlu pula diasumsikan bahwa rREl (r) menuju nol jika r menuju
nol. Bila tidak demikian, maka untuk sembarang  > 0 berlaku
Z 
r2 |REl (r)|2 dr > 0.
(14.38)
0

Jadi, hendak diberlakukan dua syarat batas bagi penyelesaian pera.(14.31),


yaitu
lim

rREl (r) = 0

(14.39)

lim

rREl (r) = 0.

(14.40)

r
r0

14.3. ZARAH DALAM POTENSIAL TERPUSAT

301

Dengan mendefinisikan uEl (r) menurut uEl (r) = rREl (r) dan mensubtitusikannya ke dalam pers.(14.31), maka didapatkan persamaan differensial
biasa berderajad dua berikut


~2 d2 uEl
~2 l(l + 1)

+ V (r) +
uEl = EuEl ,
(14.41)
2 dr2
2r2
dengan syarat batas
uEl (r) 0 und r 0

(14.42)

uEl (r) 0 und r .

(14.43)

dan
Pers.(14.41) dapat dipandang sebagai persamaan Schrodinger satu dimensi
dengan potensial
~2 l(l + 1)
V 0 (r) = V (r) +
.
(14.44)
2r2
Fungsi V (r) disebut potensial efektif. Suku
~2 l(l + 1)
=: Vs (r)
2r2
dalam ruas kanan pers.(14.44) disebut tanggul sentrifugal. Karena tanggul Vs (r) selalu positif, maka Vs (r) berpengaruh memperdangkal sumur
potensial V (r). Hal ini kelihatan jelas sekali pada kasus potensial Coulomb
V (r) = b/r, dengan b suatu tetapan positif (lihat bab 15).

14.3.1

Contoh : Sumur Potensial

Ditinjau sebuah zarah yang terjebak di dalam sebuah bola berjejari a yang
berdinding cukup kedap bagi zarah itu. Oleh karenanya zarah itu berada
dalam potensial yang secara matematik diberikan oleh

0 untuk r < a
V (r) =
(14.45)
untuk r a.
Jadi, dalam masalah ini terdapat dua wilayah dengan potensial yang cukup
kontras, yakni wilayah I dengan potensial V (r) = 0 dan wilayah II yang
memiliki potensial tak terhingga. Pada wilayah I, zarah merupakan zarah
bebas sehingga dalam wilayah ini berlaku pers.(14.16). Bila didefinisikan
k 2 dan sebagaimana sebelumnya, maka dalam wilayah ini berlaku pula

BAB 14. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI TIGA

302

pers.(14.19), yakni persamaan differnsial Bessel. Penyelesaian untuknya


adalah fungsi-fungsi Bessel jl (kr), tepatnya
Rkl = Cjl (kr),

(14.46)

dengan C adalah tetapan yang dibutuhkan agar didapatkan normalisasi


pers.(14.35). Pada wilayah II, berlaku Elm = 0 karena di sana zarah tidak
mungkin ditemukan. Oleh karena itu syarat kontinyuitas menghendaki
Rkl (a) = 0 atau
jl (ka) = 0.
(14.47)
Karena
E=

k 2 ~2
,
2

(14.48)

maka swanilai E harus ditentukan dari pers.(14.47), yakni dari titik-titik


pada garis x = ka di mana nilai fungsi-fungsi Bessel lenyap.
1. Untuk l = 0, ada tiga titik di mana j0 (ka) lenyap : k10 a = 3, 14,
k20 a = 6, 28 dan k30 a = 9, 42. Oleh karena itu terdapat tiga swanilai
tenaga, yakni
E10 =

9, 8596 ~2
,
a2 2

E20 =

39, 4384 ~2
,
a2
2

dan

E30 =

88, 7364 ~2
a2
2
(14.49)

2. Untuk l = 1, terdapat dua titik di mana j1 (ka) lenyap : k11 a = 4, 49


dan k21 a = 7, 73. Maka
E11 =

20, 1601 ~2
a2
2

dan

E21 =

59, 7529 ~2
.
a2
2

(14.50)

3. dst.

14.4

Medan Magnet Dan Potensial Terpusat

Dalam bagian ini hendak dibahas sistem fisis yang berupa sebuah zarah
bermuatan listrik q yang hidup di lingkungan bermedan magnet (digambarkan oleh potensial vektor A) dan dalam pengaruh potensial terpusat

14.4. MEDAN MAGNET DAN POTENSIAL TERPUSAT

303

V (r). Hamiltonan klasik untuk sistem semacam ini diberikan oleh (lihat
buku [Gol] untuk lebih rincinya)

H =
=

1 
q  
q 
p A p A +V
2
c
c


2
2q
1
q
2
2
p Ap+ 2A +V
2
c
c

(14.51)

Sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya, wakilan operator bagi p2


diberikan oleh
~

2
L
1 2
r
+
.
r r2
r2

(14.52)

Operator bagi A2 adalah perkalian dengan A2 sendiri. Bagaimanakah halnya dengan suku tengah? Jelasnya, operator apa yang harus mewakili Ap?
(sebab A
= A gayut pada posisi r),
tidak komut dengan A
Mengingat p
maka diperlukan simetrisasi untuk A p. Bila hal itu dilakukan maka akan
p

+p
A)/2.
diperoleh bahwa wakilan operator bagi Ap diberikan oleh (A
Dengan mudah didapat ungkapan eksplisit untuk kedua suku dalam operator tersebut sebagai
p
= A (i~) 5
A
= i~(A 5 + 5 A) = A p
A
i~ 5 A.
p

(14.53)
(14.54)

Bila dipilih tera Coulomb 5A = 0, maka dari pers.(14.53) dan pers.(14.54)


p
Oleh karena itu wakilan operator bagi
= p
A.
diperoleh bahwa A
Hamiltonan di atas diberikan oleh
2
= ~
H
2

2
1 2
L
2q
q2 2

+
A

A
r r2
~2 r2 c~2
~2 c2

!
+ V (r).

(14.55)

Andaikan medan induksi magnetik B seragam dan potensial vektor A


diberikan oleh A = B r/2. Karena medan B seragam, maka dapat ditunjukkan dengan mudah bahwa potensial vektor A memenuhi syarat tera
Coulomb di atas. Dengan vektor potensial semacam ini, maka pers.(14.55)

BAB 14. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI TIGA

304
menjadi
2
= ~
H
2

~2
=
2

2
1 2
L
q
q2

+
(B

r)

(B r)2
r r2
~2 r2 c~2
4~2 c2

!
+ V (r)

!
2
1 2
L
q
q2
) 2 2 (B r)2 + V (r)
r 2 2 + 2 B (r p
r r2
~ r
c~
4~ c
!
2
2
1 2
L
q
q
2

r 2 2 + 2B L
(B r) + V (r)
r r2
~ r
c~
4~2 c2

~2
2

2
2
L
q
~2 1 2
+ q (B r)2 + V (r).
r
+

L
2 r r2
2r2 2c
8c2

Jika medan magnet B cukup lemah, maka pengabaian suku


menghasilkan
2
2
2
+ V (r).
= ~ 1 r + L q BL
H
2 r r2
2r2 2c

(14.56)

q2
(B
8c2

r)2 ,

(14.57)

Bila arah B searah dengan sumbu-z sedemikian rupa sehingga B = B0 k,


maka
2
2
2
= ~ 1 r + L q B0 L
z + V (r)
H
(14.58)
2 r r2
2r2 2c
dan masalah swanilai tenaga oleh karena itu diberikan oleh

2
~2 1 2 (r)
L
q
z + V = E.
+

B0 L
2
2
2 r r
2r
2c

(14.59)

= [H,
L]
L
z ] = 0, maka sebagaimana kasus-kasus sebelumnya
Karena [H,
diusulkan pemisahan peubah
(r, , ) = Elm (r, , ) = REl (r)Ylm (, ).

(14.60)

Subtitusi pers.(14.60) ke dalam pers.(14.59) menghasilkan

~2 1 d 2
l(l + 1)~2
qB0 m~
(rR
(r))
+
REl (r)
REl (r) + V (r)REl (r)
El
2 r dr2
2r2
2c
= EREl (r).
(14.61)

Dengan sedikit manipulasi aljabar didapatlah persamaan berikut






~2 1 d 2
l(l + 1)~2
qB0 m~

(rREl (r))+
+ V (r) REl (r) = E +
REl (r).
2 r dr2
2r2
2c
(14.62)

14.4. MEDAN MAGNET DAN POTENSIAL TERPUSAT

305

Bila didefinisikan E sebagai


E=E+

qB0 m~
,
2c

maka diperoleh persamaan




~2 1 d 2
l(l + 1)~2

(rR
(r))
+
+
V
(r)
REl (r) = EREl (r).
El
2 r dr2
2r2

(14.63)

(14.64)

Bila kedua ruas persamaan terakhir ini dikalikan dengan Ylm (, ), maka
didapatlah persamaan

2 Elm
~2 1 2 (rElm ) L
+
+ V Elm = EElm .
2 r
r2
2r2

(14.65)

Pers.(14.65) tidak lain adalah persamaan swanilai tenaga untuk zarah yang
berada dalam potensial terpusat V (r) tanpa kehadiran medan magnet,
0 didefinisikan menurut
yakni pers(14.29). Bila H
2
2
2
0 = ~ 1 r + L + V (r)
H
2
2 r r
2r2

(14.66)

2
2
2
B = ~ 1 r + L q B0 L
z + V (r),
H
2 r r2
2r2 2c

(14.67)

B menurut
dan H

maka didapatkan
0 Elm = EElm
H

(14.68)

B Elm = EElm .
H

(14.69)

dan
0 dengan swanilai E merupakan swafungsi bagi
Jadi, swafungsi Elm dari H
B dengan swanilai
H
qB0 m~
E =E
.
(14.70)
2c
Kehadiran gangguan B oleh karena itu mengakibatkan perubahan swanilai
E. Perhatikan bahwa Elm dan Elm0 untuk m 6= m0 merupakan swafungsi
0 dengan swanilai E yang sama :
dari H
0 Elm = EElm
H

306

BAB 14. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI TIGA


0 Elm0 = EElm0 .
H

B
Namun, Elm dan Elm0 dengan m 6= m0 merupakan swafungsi dari H
dengan swanilai yang berbeda


B Elm = E qB0 m~ Elm
H
2c
B Elm0 =
H

qB0 m0 ~
E
2c


Elm0 .

Kesimpulannya, kehadiran medan B = B0 k mengakibatkan pecahnya aras


tenaga menjadi 2l + 1 subaras. Perpecahan aras ini dikenal sebagai efek
Zeeman normal.

14.5

Aras-Aras Landau

Sekarang hendak ditinjau sebuah zarah bermuatan listrik q dan bermassa


di bawah pengaruh medan magnet B yang dibangkitkan oleh potensial
vektor A(r) = yB0 i, dengan B0 suatu tetapan. Oleh karena itu medan
B diberikan oleh
B = 5 A = B0 k,
(14.71)
yakni medan magnet yang seragam yang berarah ke sumbu-z positif. Yang
membedakan kasus ini dengan yang sebelumnya, selain ketiadaan potensial
luar V (r), adalah tidak berlakunya tera Coulomb 5 A = 0 meskipun
medan magnet yang dihasilkan sama. Secara klasik Hamiltonan bagi sistem
fisis ini diberikan oleh
H=

1
q
1
qyB0 2
(p A)2 =
(p +
i) .
2
c
2
c

(14.72)

Operator yang mewakili Hamiltonan di atas dapat dituliskan sebagai




1
qyB
0
2
2
2
=
) + py + pz .
(14.73)
H
(
px +
2
c
Selanjutnya, masalah swanilai yang harus dihadapi adalah


1
qyB0 2
2
2
(
px +
) + py + pz = E.
2
c

(14.74)

14.5. ARAS-ARAS LANDAU

307

=
Berdasarkan pers.(14.73) dapat ditunjukkan berlakunya identitas [
px , H]

[
pz , H] = 0. Akibatnya, operator px , pz dan H memiliki swakeadaan
bersama. Swakeadaan-swakeadaan bersama bagi px dan pz berbentuk
ei(px x+pz z)/~ =: ei(kx x+kz z) .

(14.75)

dapatlah
Jadi, swakeadaan bersama bagi operator-operator px , pz dan H
dituliskan sebagai
= f (y)ei(kx x+kz z) ,
(14.76)
dengan f (y) ditentukan kemudian. Bila pers.(14.76) dimasukkan ke dalam
pers.(14.74), maka diperoleh


1
qyB0
q 2 y 2 B02
2 2
2
2 2
~ kx + 2
~kx +
+ py + ~ kz f = Ef,
2
c
c2

(14.77)

yang semakna dengan


 2



p2y f
q 2 B02
c
~2 kz2
2c
2
2 2
+
~kx y + y f = E
f.
~ kx +
2
2c2 q 2 B02
qB0
2

(14.78)

Akhirnya, persamaan di atas dapat dituliskan dalam bentuk yang lebih


indah sebagai berikut
"
#


p2y
1
~2 kz2
2
+ K(y y0 ) f = E
f,
(14.79)
2 2
2
dengan
K :=

q 2 B02
c2

y0 :=

dan

c~kx
.
qB0

(14.80)

Tetapan , dengan
K
=
:=

qB0
c

2
(14.81)

disebut frekuensi cyclotron. Persamaan swanilai (14.79) sama kenampakannya dengan persamaan swanilai tenaga untuk getaran selaras satu dimensi
dengan titik acuan y = y0 . Sedangkan swanilai-swanilai tenaga bagi osilator semacam itu adalah
En

~2 kz2
1
= (n + )~,
2
2

(14.82)

308

BAB 14. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI TIGA

untuk n = 0, 1, 2, . Oleh karena itu swanilai-swanilai tenaga untuk zarah


bermuatan dalam medan magnet di atas diberikan oleh
~2 kz2
1
+ (n + )~.
(14.83)
2
2
Jadi, dengan kehadiran medan magnet yang dibangkitkan oleh potensial
vektor A = yB0 i spektrum tenaganya menjadi diskret. Aras-aras tenaga
En disebut aras-aras Landau. Swakeadaan bagi pers.(14.79) tentu saja
diberikan oleh
!
r



1
fn (y) = An Hn
(y y0 ) exp
(y y0 ) ,
(14.84)
~
2 ~
En =

dengan Hn (x) dan An berturut-turut adalah polinom Hermite dan tetapan


diberikan oleh
normalisasi. Maka swafungsi bagi Hamiltonan H
!
r



1
(x, y, z) = An Hn
(y y0 ) exp
(y y0 ) + i(kx x + kz z) .
~
2 ~
(14.85)

14.5.1

Manakah yang lebih fisis B ataukah A?

Bila pada kasus sebelumnya potensial skalar V (r) lenyap, maka kita mempunyai dua sistem fisis yang hampir serupa : kedua-duanya sama-sama
berupa partikel bermuatan listrik q yang berada dalam pengaruh induksi magnetik B = B0 k. Yang membedakan adalah potensial vektor yang
membangkitkan induksi magnetik itu. Secara klasik seharusnya sistem fisis terebut memiliki karakter atau penyelesaian yang sama karena secara
klasik medan induksi magnetik lebih fisis daripada potensial vektor. Akan
tetapi dalam mekanika kuantum justru potensial vektorlah yang lebih fisis
dibandingkan dengan medan induksi magnetik. Kenyataan ini juga telah
disadari oleh Bohm dan Aharonov [BoAh]. Masalah ini juga ditinjau dalam
konteks yang lebih umum dalam [Ros2].

14.6

Soal-soal

1. Buktikanlah bahwa p2r diberikan oleh


p2r = ~2

1 2
r
r r2

(14.86)

14.6. SOAL-SOAL

309

2. Berdasarkan batasan kehermiteanan suatu operator, buktikan bahwa


pr yang diberikan oleh pers.(14.10) merupakan operator yang Hermitean!
3. Mengapa suku
~2 l(l + 1)
2r2
dalam pers.(14.44) disebut tanggul sentrifugal? Jelaskan!

(14.87)

310

BAB 14. SISTEM SISTEM FISIS BERDIMENSI TIGA

Bab 15

MASALAH DUA ZARAH


Although the classical electrodynamic theory meets with
a considerable amount of success in the description of many atomic phenomena
it fails completely on certain fundamental points.
It has long been thought that the way out of this difficulty
lies in the fact that there is one basics assumption of the classical
theory which is fals, and that if this assumption
were removed and replaced by something more general,
the whole of atomic theory would follow quite naturally.
Until quite recently, however, one has had
no idea of what this assumption could be.
(P.A.M. Dirac, 1926)

Dalam bagian ini hendak ditinjau sistem fisis yang tersusun atas dua
zarah. Andaikan zarah pertama bernassa 1 dan yang kedua bermassa 2 .
Secara klasik Hamiltonan sistem dua zarah semacam ini diberikan oleh
p2
p2
H(r1 , r2 , p1 , p2 ) = 1 + 2 + V (r1 , r2 ),
(15.1)
21 22
dengan r1 (p1 ) dan r2 (p2 ) berturut-turut menunjukkan posisi (momentum) zarah pertama dan kedua. Di sini kita hanya akan meninjau sistem dua zarah yang terlibat suatu interaksi sedemikian rupa sehingga
V (r1 , r2 ) = V (|r1 r2 |), yakni potensial interaksinya hanya gayut pada
jarak relatif antar zarah kedua zarah itu.
Agar kelihatan lebih mudah dalam pembahasannya, perlu dilakukan
alih bentuk (lihat Sketsa 15.1!)
(r1 , r2 , p1 , p2 ) 7 (r, R, p, P),
311

(15.2)

312

BAB 15. MASALAH DUA ZARAH

dengan
1 r1 + 2 r2
1 + 2
2 p1 1 p2
p=
.
1 + 2

r = r2 r1 ,

R=

P = p1 + p2 ,

(15.3)
(15.4)

Dengan alih bentuk peubah-peubah ini, Hamiltonan (15.1) dapat dituliskan


dalam bentuk
 2

p
p2
+
+ V (r) =: HCM + Hrel ,
(15.5)
H=
2M
2
dengan

1 2
dan M := 1 + 2 .
(15.6)
1 + 2
disebut massa tereduksi dan M massa total. Jadi, masalah dua zarah
bermassa 1 dan 2 dapat dipandang sebagai masalah dua zarah bermassa
M dan , partikel bermassa M terletak di pusat massa sedang partikel
yang bermassa bergerak relatif terhadap pusat massa.
:=

z 6


XX
I XXXX
@

1 @
XX
XXXr
@
XXX
'$
XXX
@


XXX
r1@

z
*

@
R
r2 &%
@

2

@



@  
y
@
-

x
Sketsa 15.1 Konfigurasi Dua Partikel (Sketsa ini dirancang dan digambar oleh
M.F.Rosyid)

15.1. BAGIAN PUSAT MASSA

313

Pers.(15.5) menunjukkan bahwa R = Xi + Y j + Zk merupakan koordinat siklis, yakni koordinat yang tidak terkandung oleh H secara eksplisit.
Akibatnya berdasarkan persamaan gerak Hamilton


dP
d
H
H
H
= (Px i + Py j + Pz k) =
i+
j+
k = 0.
(15.7)
dt
dt
X
Y
Z
Jadi, momentum total sistem bersifat lestari. Pusat massa sistem oleh
karena itu bergerak dengan kecepatan tetap R(t) = R(0) + (P/M )t.
i , Pj ] = [
Pada tataran kuantum, berlaku aturan komutasi [X
xi , pj ] =
ij i~, dengan x1 = x, x2 = y, x3 = z, p1 = px , p2 = py , dan seterusnya.
Operator yang mewakili Hamiltonan H dapat dituliskan sebagai jumlahan
dua operator yang masing-masing mewakili HCM dan Hrel ,
=H
CM + H
rel ,
H

(15.8)

dengan
2
2
CM = P
rel = p
H
dan H
+ V (r).
(15.9)
2M
2
CM dan H
rel saling bebas. Artinya, [H
CM , H
rel ] = 0. Maka H
CM
Bagian H

dan Hrel memiliki swafungsi bersama, katakanlah


= CM (R)rel (r),

(15.10)

dengan
CM CM (R) = ECM CM (R)
H

dan

rel rel (r) = Erel rel (r).


H
(15.11)

Oleh karena itu berlaku pula


= (H
CM + H
rel ) = E,
H

(15.12)

dengan E = ECM + Erel .

15.1

Bagian Pusat Massa

Dari pembahasan sebelumnya, tampak bahwa sistem secara keseluruhan


dapat dipandang sebagai zarah bebas bermassa M = 1 + 2 . Oleh karena
itu persamaan Schrodinger untuk zarah bebas bermassa M diberikan oleh

~2
52 CM = ECM CM ,
2M R

(15.13)

314

BAB 15. MASALAH DUA ZARAH

dengan

+j
k
.
(15.14)
X
Y Z
Penyelesaian untuk persamann swanilai (15.13) tentunya, seperti yang telah
dibicarakan dalam bab sebelumnya, diberikan oleh
5R = i

CM (R) = (2)3/2 exp(iK R),

(15.15)

~2 K 2
.
2M

(15.16)

dengan
P = ~K

dan

ECM =

CM dan
CM dapat pula ditulis dengan melibatkan L
Tetapi Hamiltonan H

(LCM )z menurut
2
2
CM = Pr + LCM
(15.17)
H
2M
2M R2
dan
2 CM
L
Pr2 CM
+ CM 2 = ECM CM .
(15.18)
2M
2M R
Penyelesaian untuk persamaan terakhir ini adalah (lihat bab sebelumnya!)
c
(, ),
CM (R, , ) = jlc (KR)Ylm
c

(15.19)

dengan lc = 0, 1, 2, dan mc = lc , lc + 1, lc 1, lc .

15.2

Bagian Tereduksi

Persamaan Schrodinger untuk zarah bermassa diperoleh dari operator


Hamiltonan (15.9), yakni
2 rel
p
+ V (r)rel = Erel rel .
2

(15.20)

Sebagaimana sebelumnya, karena potensial V memiliki simetri bola, maka


persamaan terakhir ini lebih mudah dianalisa dengan menggunakan koordinat kulit bola. Dalam koordinat kulit bola persamaan terakhir dapat
dituliskan sebagai
2 rel
p2r rel L
+ rel 2 + V (r)rel = Erel rel ,
2
2r

(15.21)

15.3. CONTOH : ATOM BAK-HIDROGEN

315

yakni sebentuk dengan pers.(14.29). Selanjutnya, fungsi rel (r, , ) dapat


dituliskan sebagai
rel (r, , ) = RErel l (r)Ylm (, ).

(15.22)

Bila pers.(15.22) dimasukkan ke dalam pers.(15.21) diperoleh persamaan


berikut
 2

pr
l(l + 1)~2
+ V (r) RErel l (r) = Erel RErel l (r).
(15.23)
+
2
2r2
Jadi penyelesaian untuk masalah dua zarah di atas adalah
c
(, )RErel l (r)Ylm (, )
(r, R) = jlc (KR)Ylm
c

(15.24)

(r, R) = (2)3/2 exp(K R)RErel l (r)Ylm (, ).

(15.25)

atau

15.3

Contoh : Atom Bak-Hidrogen

Contoh ini bukan hanya menyangkut atom hidrogen semata, melainkan


juga relevan untuk atom-atom lain yang memilliki hanya sebuah elektron
valensi (elektron luar) yang sering disebut atom bak-hidrogen (hydrogenlike atom). Atom-atom semacam ini dapat dipandang sebagai tersusun atas
sebuah inti atom yang bermuatan Ze dan sebuah elektron yang bermuatan
e. Karena massa elektron e jauh lebih kecil dibandingkan dengan massa
inti atom, maka boleh dikatakan bahwa massa elektron sama dengan massa
tereduksi, e = . Potensial yang terlibat dalam masalah ini, tentu saja
adalah potensial Coulomb
Ze2
.
(15.26)
r
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, persamaan radial yang sesuai untuk
masalah ini diberikan oleh
 2

pr
l(l + 1)~2 Ze2
+

RErel l (r) = Erel RErel l (r).


(15.27)
2e
2e r2
r
V (r) =

atau


d2
2 d
+
2
dr
r dr

2e
RErel l + 2
~

Ze2 ~2 l(l + 1)
Erel +

r
2e r2


RErel l = 0.
(15.28)

316

BAB 15. MASALAH DUA ZARAH

Yang hendak dibahas sistem terikat, yakni yang tenaganya Erel < 0. Penyelesaian persamaan ini adalah
Erel = En =

e Z 2 e2
,
2~2 n2

(15.29)

dengan n = 1, 2, 3, dan
"
Rnl () =

2Z
na0

3

(n l 1)!
2n[(n + 1)!]3

#1/2
l exp(/2)2l+1
n+1 (),

dengan := 2Zr/na0 , a0 = ~2 /e e2 , l = 0, 1, 2, , n 1 dan




dn+1 n+1
d2l+1
2l+1
n+1 () = 2l+1 exp() n+1 (
exp()) .
d
d

(15.30)

(15.31)

Fungsi ij () disebut polinom Laguerre sekawan. Berikut beberapa Rnl


untuk n = 1, 2, 3 :

R10 (r) = 2

R21 (r) =
R30 (r) =
R31 (r) =
R32 (r) =

3/2
exp(Zr/a0 )

(15.32)

 

Z 3/2
Zr
2
1
exp(Zr/2a0 )
(15.33)
2a0
2a0


Z 3/2 1/2 Zr
exp(Zr/2a0 )
(15.34)
3
2a0
a0


 
Z 3/2
2Zr 2(Zr)2
2
1
+
exp(Zr/3a0 )(15.35)
3a0
3a0
27a20





Z 3/2 4 2 Zr
Zr
1
exp(Zr/3a0 ) (15.36)
3a0
3 a0
6a0
 


Z 3/2 2 2 Zr 2

exp(Zr/3a0 ).
(15.37)
3a0
27 5 a0


R20 (r) =

Z
a0

Bibliografi
[Ang1] Angermann, B., Doebner, H. D., dan Tolar, J., 1983, Quantum kinematics on smooth manifolds, Lect.Not.Math.1037, SpringerVerlag, Berlin.

[Ang2] Angermann, B., 1983, Uber


Quantisierungen lokalisierter Systeme Physikalisch interpretierbare mathematische Modelle. Dissertasi, Technische Universitat Clausthal, Clausthal, Jerman.
[Apo] Apostol, T., 1967, Calculus, Volume I, John Wiley & Sons, New
York.
[Arf] Arfken, G., 1985, Mathematical Methods for Physicists, edisi ketiga,
Academic Press, Inc., New York.
[BFFL] Bayen, F., Flato, M., Fronsdal, C., dan Lichnerowicz, A., Deformation Theory and Quantization, Ann. Physics 111(1978), 61-151
[Bil] Billingsley, P., 1995, Probability and Measure, edisi ketiga, John Wiley
& Sons, Inc., Singapore.
[Bla] Blattner, R.J., Quantization and representation theory, Proc. Symp.
Pure Math., 26(1973), hal. 147-165.
[BoAh] Aharonov, Y., dan Bohm, D., 1959, Physical Review, 115, 484.
[Boc] Boccara, N., 1990, Functional Analysis. An Introduction for Physicists, Academic Press, Inc. New York.
[BraDa1] Brandt, S., dan Dahmen, H.D., 1985, The Picture Book of Quantum Mechanics, John Wiley & Sons, Singapore.
[BraDa2] Brandt, S., dan Dahmen, H.D., 1994, Quantum Mechanics on
the Personal Computer, edisi ketiga, Springer-Verlag, Berlin.
317

318

BIBLIOGRAFI

[Bus] Busch, P., Grabowski, M., dan Lahti, P.J., 1995, Operational Quantum Physics, Springer-Verlag, Berlin.
[Che] Chester, M., 1987, Primer of Quantum Mechanics, John Wiley &
Sons, New York.
[CDL1] Cohen-Tannoudji, C., Diu, B., dan Lalo
u, F., 1977, Quantum Mechanics, volume 1,2, John Wiley and Sons, New York.
[CDL2] Cohen-Tannoudji, C., Diu, B., dan Lalo, F., 1977, Quantum Mechanics, Jilid I dan II, John Wiley & Sons, New York.
[Cor1] Cornwell, J.F., 1984, Group Theory in Physics, jilid I, Academic
Press, New York.
[Cor2] Cornwell, J.F., 1984, Group Theory in Physics, jilid II, Academic
Press, New York.
[Corr] Corry, L., Renn, J., dan Stachel, J., Belated Decision in HilbertEinstein Priority Dispute. Science. 278, 1270(1997).
[Cow] Cowan, R.D., 1981, The Theory of Atomic Structure and Spectra,
University of California Press, Los Angeles.
[Dir] Dirac, P.A.M., 1967, The Principles of Quantum Mechanics, edisi
keempat, Oxford at The Clarendon Press, Oxford.
[Fed] Fedosov, B., 1996, Deformation Quantization and Index Theory,
Akademie Verlag, Berlin.
[Fey] Feynman, R.P., dan Hibbs, A.R., 1965, Quantum Mechanics and Path
Integrals, McGraw-Hill Book Company, New York.
[Gos] Goswami, A., 1992, Quantum Mechanics, Wm. C. Brown Publishers,
Dubuque.
[Gol] Goldstein, H., 1982, Classical Mechanics, 2nd edition, AddisonWesley Pub. Co., London.
[GM] Greiner, W., dan M
uller, B., 1990, Quantenmechanik. Teil 2 Symmetrien, Verlag Harri Deutsch, Frankfurt am Main.
[Gne] Gnedenko, B.V., 1969, The Theory of Probability, MIR Publisher,
Moskow.

BIBLIOGRAFI

319

[Gr] Groenewold, H.J., On the principles of elementary quantum mechanics, Physica 12(1946).
[Hein] Heindorf, L., 1994, Elementare Beweistheorie, Wissenschaftsverlag,
Zrich.
[Hor] Horbatsch, M., 1995, Quantum Mechanics using Maple, SpringerVerlag, New York.
[vHov] van Hove, L., Sur certaine representations unitaires dun groupe de
transformations, Mem. Cl. Sci., Collect. Octavo, Acad. R. Belg. 26,
no.6(1951)
[HW] Haken, H., dan Wolf, H.C., 1984, Atomic and Quantum Physics
Springer-Verlag, Berlin.
[Is] Isham, C.J., 1999, Modern Differential Geometry for Physicists, 2nd
edition, World Scientific, Singapore.
[Kit] Kittel, C., 1963, Quantum Theory of Solids, John Wiley & Sons, New
York.
[Kre] Kreyszig, E., 1978, Introductory Functional Analysis with Applications, John Wiley and Sons, Inc., New York.
[Ld] Landsman, N.P., Classical and Quantum Representation Theory,
dalam : de Kerf, E.A., and H.G.J. Pijls (eds.) Proceedings Seminar
Mathematical Structures in Field Theory. CWI-syllabus 39, Mathematisch Centrum, CWI, Amsterdam. hal. 135-163
[Li] Liboff, R.L., 1992, Introductory Quantum Mechanics, edisi kedua,
Addison-Wesley Pub. Company, Bonn.
[Log] Logunov, A.A., Mestvirishvili, M.A., dan Petrov, V.A., How Were
The Hilbert-Einstein Equations Discovered?, Uspekhi Fizicheskikh
Nauk 174(2004) (physics/0405075 v3).
[Lud] Ludwig, G., 1983, Foundation of Quantum Mechanics, Volume I dan
II, Springer-Verlag, Berlin.
[MaRa] Marsden, J.E., dan Ratiu, T.S., 1999, Introduction to Mechanics
and Symmetry, edisi kedua, Springer-Verlag, Berlin.

320

BIBLIOGRAFI

[Mun] Munker, J.R., 1975, Topology. A First Course, Prentice-Hall, Inc.


New Jersey.
[Mas] Masujima, M., 2000, Path Integral Quantization and Stochastic
Quantization, Springer-Verlag, Berlin.
[Maj] Majer, U., dan Sauer, T., Hilberts World Equations and His Vision of a Unified Science, (physics/0405110 v1).
[Nam] Nambu, Y., Generalized Hamiltonan Dynamics, Phys. Rev. D
7(1973)2405-2412.
[Nat] Nattermann, P., 1997, Dynamics in Borel-Quantization : Non-linear
Schr
odinger Equations vs. Master Equations, Dissertasi, Technische
Universitat Clausthal, Clausthal, Jerman.
[vNeu] von Neumann, J., Zur Operatorenmethode in der klassischen
Mechanik, Ann. Math. 33(1932), 587-648.
[PaPi] Papoulis, A., dan Pillai, S.U., 2002, Probability, Random Variables,
and Stochastic Processes, edisi keempat, McGraw-Hill, Kuala Lumpur.
[PaWu] Parisi, G., dan Wu, Y., Sci. Sin. 24, (1981), hal 483.
[Par] Park, D., 1992, Introduction to Quantum Mechanics, edisi ketiga,
McGraw-Hill, Inc., Singapore.
[Pit] Pitman, J., 1993, Probability, Springer-Verlag, Berlin.
[Pru] Prugovecki, E., 1971, Quantum Mechanics in Hilbert Spaces, Academics Press, New York.
[Rd] Ryder, L.H., 1996, Quantum Field Theory, 2nd ed., Cambridge University Press, Cambridge.
[ReSi] Reed, M., dan Simon, B., 1972, Methods of Modern Mathematical
Physics I : Functional Analysis, Academic Press, Inc. New York.
[Roc] Roche, J.J., 1980, in Symmetry in Physics, edited by Doncel, et al,
Servei de Publicacions, UAB, Barcelona.
[Ros0] Rosyid, M.F., 1992, Teori Kuantum Sudut Rotasi dan Penerapannya
Pada Atom Hidrogen, Skripsi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

BIBLIOGRAFI

321

[Ros1] Rosyid, M.F., 2000, Zum Zusammenhang zwischen geometrischer


Quantisierung und Borel-Quantisierung, Dissertasi, Technische Universitat Clausthal, Clausthal, Jerman.
[Ros2] Rosyid, M.F., On the Relation Between Configuration and Phase
Space Quantization I, Journal of The Indonesian Mathematical Society, Vol.9 No.1, 2003.
[Ros3] Rosyid, M.F., On the Relation Between Configuration and Phase
Space Quantization II, in print.
[Sak] Sakurai, J.J., 1985, Modern Quantum Mechanics, The Benjamin/Cumming Pub. Company, Inc., Amsterdam.
[Sau] Sauer, T., The Relativity of Discovery : Hilberts First Note on Foundations of Physics, Arch. Hist. Exact. Sci., 53(1999), hal. 529-575,
(physics/9811050 v1)
[Sch] Schiff, L., 1968, Quantum Mechanics, edisi ketiga, McGraw-Hll, New
York.
[SW] Schubert, M., dan Weber, G., 1983, Quantentheorie-Grundlagen,
Methoden, Anwendungen, bagian I dan II, VEB Deutscher Verlag,
Berlin.
[Sla] Slater, J.C., 1963, Quantum Mechanics of Molecules and Solids,
McGraw-Hill book Company, New York.
[Spi] Spiegel, M.R., 1968, Mathematical Handbook of Formulas and Tables,
McGraw-Hill, Inc., New York.
[Ste] Euler, N. dan Steeb, W.H., 1992, Continuous Symmetries, Lie Algebras and Differential Equations, Wissenschaftsverlag, Muechen.
[Sto] Stone, M., Linear Transformations in Hilbert Space, Ann. Math. Soc.
Colloq. Publ., vol 15(1932).
[Tod] Todorov, I.T., Einstein and Hilbert : The Creation of General Relativity, dalam Kolokium di ICTP, Trieste, 9 Desember 1992 dan di
Universitas Bremen, 15 Maret 2005 (physics/0504179 v1).
[Tow] Townsend, J.S., 1992, A Modern Approach to Quantum Mechanics,
McGraw-Hill, Inc., Singapore.

322

BIBLIOGRAFI

[Tuy] Tuynman, 1985, Proceedings Seminar 1983-1985, Mathematical


structures in Field Theory, volume 1, C.W.I. Syllabus.
[vdW] van der Waerden, B.L., 1967, Sources of Quantum Mechanics, Dover
Publications, Inc., New York.
[Wey] Weyl, H., 1931, The Theory of Groups and Quantum Mechanics,
Dover Publications, Inc., New York.
[Win] Winterberg, F., On Belated decision in the Hilbert-Einstein Priority Dispute published by L. Corry, J. Renn, and J. Stachel, Z.
Naturforsch. 59a(2004). 715-719
[Wo] Woodhouse, N.M.J., 1992, Geometric Quantization, edisi kedua,
Clarendon Press, Oxford.
[Wue] Wuensch, D., 2005, Zwei Wirkliche Kerle, Termessos-Verlag,
Gottingen.
[Yar] Yariv, A., 1982, Theory and Applications of Quantum Mechanics,
John Wiley & Sons, New York.

Lampiran A

Ruang Vektor
Dalam lampiran ini akan disajikan konsep-konsep dan sifat-sifat pokok ruang vektor.
Definisi A.0.1 Andaikan V suatu himpunan dan + suatu operasi biner
yang didefinisikan dalam himpunan V , artinya setiap dua anggota V sembarang, katakanlah v dan w, dapat diperoleh objek baru v + w yang juga
masih merupakan anggota himpunan V . Selanjutnya, untuk sembarang bilangan nyata a dan sembarang v anggota dari V , andaikan terdapat sebuah
anggota dari V yang diperoleh dari a dan v dan ditulis sebagai av, dibaca
perkalian v dengan skalar riil a.
Himpunan V disertai dengan operasi biner + dan perkalian dengan
skalar riil disebut ruang vektor riil (nyata) atau ruang vektor di atas
lapangan R jika syarat-syarat berikut semuanya dipenuhi :
V.1 Operasi + bersifat asosiatif, yakni (v + w) + u = v + (w + u), untuk
semua v, w, u anggota V .
V.2 V memuat sebuah anggota, sebut saja sebagai , sedemikian rupa
sehingga v + = + v = v untuk setiap v V . Unsur disebut
vektor nol.
V.3 Untuk setiap v V terdapat unsur v yang juga anggota dari V
sedemikian rupa sehingga v + (v) = v + v = . Unsur v disebut
lawan dari v.
323

324

LAMPIRAN A. RUANG VEKTOR

V.4 Operasi + bersifat komutatif, yakni v + w = w + v untuk semua


v, w W .
V.5 Untuk setiap v V dan semua a, b R, berlaku (ab)v = a(bv) =
b(av).
V.6 Untuk setiap v V dan semua a, b R, berlaku (a+b)v = (av)+(bv).
V.7 Untuk semua v, w V dan setiap a R, berlaku a(v + w) = (av) +
(aw).
V.8 Untuk setiap v V , berlaku 1v = v.
Setiap anggota suatu ruang vektor disebut vektor.
Definisi A.0.2 Ruang vektor kompleks atau ruang vektor di atas
lapangan C adalah ruang vektor di mana semua peran skalar riil dalam
definisi di atas diganti semuanya dengan skalar kompleks.
Beberapa contoh ruang vektor :
Contoh A.0.1 Andaikan n suatu bilangan bulat positif. Himpunan
n f aktor

Rn

:=
=

z
}|
{
R R
{(1 , , n )|1 , , n R}

(A.1)

disertai dengan penjumlahan


(1 , , n ) + (1 , , n ) = (1 + 1 , , n + n ),

(A.2)

(1 , , n ), (1 , , n ) Rn dan perkalian sekalar


(1 , , n ) = (1 , , n ),

(1 , , n ) Rn , R

(A.3)

merupakan ruang vektor riil (buktikan!). Vektor nol dalam Rn diberikan


oleh 0 = (0, , 0). Lawan dari vektor (1 , , n ) Rn adalah vektor
(1 , , n ). Ruang vektor ini disebut ruang vektor aritmatik riil.
Contoh A.0.2 Bila himpunan R dalam contoh sebelumnya diganti dengan
himpunan C, maka didapatkan ruang vektor aritmatik kompleks.

325
Contoh A.0.3 Untuk contoh ini F mewakili R dan C. Jadi, F bisa berarti
R ataupun C. Tinjaulah himpunan M (n 1, F ) yang beranggotakan semua
matriks kolom

a1
a2

(A.4)
.. ,
.
an
dengan masing-masing ai anggota F . Dapat dtunjukkan bahwa himpunan
M (n 1, F ) disertai penjumlahan

a1
b1
a1 + b1
a2 b2 a2 + b2

(A.5)
.. + .. =
.
..
. .

.
an

bn

dan perkalian dengan sekalar

a1
a2
..
.
an

an + bn

a1
a2
..
.

(A.6)

an

merupakan ruang vektor riil atau kompleks (tergantung apakah F himpunan


R ataukah C).
Contoh A.0.4 Andaikan [a, b] (dengan < a < b < ) suatu interval tertutup dalam ruang R. Tuliskan C[a, b] sebagai himpunan semua
fungsi kontinyu bernilai riil pada interval [a, b]. Jadi x C[a, b] jika dan
hanya jika x : [a, b] R kontinyu. Definisikan penjumlahan + pada C[a, b]
menurut (x + y)(t) = x(t) + y(t), t [a, b], untuk setiap x, y C[a, b]
dan perkalian dengan sekalar menurut (x)(t) = x(t), t [a, b], untuk
setiap x C[a, b]. Dapat ditunjukkan bahwa C[a, b] dengan penjumlahan
dan perkalian dengan sekalar yang baru saja didefinisikan merupakan ruang
vektor.
Contoh A.0.5 Namakan dengan c himpunan yang beranggotakan semua
barisan konvergen (i )
1 := (1 , 2 , ) dengan i di F (= R atau C).
Definisikan penjumlahan dan perkalian dengan sekalar di c menurut

(i )
1 + (i )1 = (i + i )1 ,

(A.7)

326

LAMPIRAN A. RUANG VEKTOR

dan

(i )
1 = (i )1 ,

(A.8)

untuk setiap (i )
1 , (i )1 c dan F . Maka c merupakan ruang vektor.

Bahwa c ruang vektor merupakan konsekuensi dari teorema utama pada


analisa barisan : (i) Jumlahan dari dua barisan yang konvergen merupakan
barisan yang konvergen; (ii) Barisan yang diperoleh dari suatu barisan
konvergen dengan jalan mengalikan unsur-unsur barisan tersebut dengan
suatu sekalar merupakan barisan yang konvergen.
Konsekuensi-konsekuensi sederhana berikut dapat dibuktikan secara
jenaka hanya dari aksioma-aksioma ruang vektor di atas.
Teorema A.0.1 Andaikan V sembarang ruang vektor, dengan unsur nol
. Maka berlakulah 0v = dan 1v = v untuk setiap v V .
Bukti : Berdasarkan V.8, berlaku v = 1v, untuk setiap v W . Persamaan
terakhir dapat dituliskan sebagai v = (1 + 0)v. Dengan V.6 dan V.8,
diperoleh v = 1v + 0v = v + 0v. Bila pada kedua ruas ungkapan terakhir
ini ditambahkan v, maka didapat 0v = v. Ini menunjukkan pernyataan
pertama, sedang pernyataan kedua dapat dibuktikan sendiri oleh pembaca.
Definisi A.0.3 Andaikan V sebuah ruang vektor (bisa kompleks ataupun
riil) dengan penjumlahan vektor +. Subhimpunan W V disebut subruang
vektor dari V bila W disertai dengan penjumlahan + dan perkalian dengan
skalar (sebagaimana di V ) merupakan ruang vekor.
Contoh A.0.6 Bila c melambangkan himpunan semua (i )
1 c dengan
1 6= 0, maka c bukan subruang vektor dari c. Sebab c tidak memiliki
unsur nol.
Contoh A.0.7 Namai dengan c0 himpunan semua barisan (i )
1 , dengan
i F , yang konvergen ke 0 F . Bila di c0 dirumuskan penjumlahan
dan perkalian dengan sekalar sebagaimana pada Contoh A.0.5, maka c0
merupakan ruang vektor (buktikan!). Ruang c0 merupakan subruang vektor
dari ruang vektor c.

327
Berikut adalah resep sederhana untuk mengetahui apakah suatu subset
dari suatu ruang vektor merupakan subruang vektor ataukah bukan.
Teorema A.0.2 Andaikan V sebagaimana pada definisi terakhir. Subset
W V merupakan subruang vektor dari V jika dan hanya jika kedua
hal berikut dipenuhi : w1 , w2 W dan untuk setiap skalar berlaku
w1 + w2 W dan w1 W .
Bukti : Ada dua pernyataan yang harus dibuktikan. Yang pertama, jika
W subset dari V , maka berlaku w1 + w2 W dan w1 W untuk setiap
w1 , w2 W dan untuk setiap skalar . Tetapi pernyataan ini telah jelas
benarnya karena jika W subruang dari V , maka W bersama penjumlahan
dan perkalian dengan skalar memenuhi kesepuluh aksioma ruang vektor,
termasuk kedua syarat yang disebut di atas. Yang kedua, jika berlaku
w1 + w2 W dan w1 W untuk setiap w1 , w2 W dan untuk setiap
skalar , maka W merupakan subruang vektor dari V. Jika kedua syarat
itu dipenuhi, maka syarat assosiativitas dan komutatifitas jelas terpenuhi,
yakni diwarisi dari dari V . Karena w W untuk sembarang skalar dan
sembarang w W , maka tentu saja berlaku pula untuk = 0 dan = 1.
Jadi, 0w = W dan 1w = w W . Dengan demikian maka syarat
V.1,V.2 V.3,V.4 semua terpenuhi. Sedangkan syarat V.5, V.6, V.7 dan
V.8 dengan sendirinya terpenuhi. Oleh karena itu, W disertai dengan
penjumlahan + dan perkalian dengan skalar merupakan ruang vektor. Jadi,
subruang vektor dari V .
Contoh A.0.8 Ditinjau kembali ruang vektor aritmatik riil Rn . Subhimpunan W = {(0, 2 , 3 , ) Rn | 6= 0} merupakan subruang vektor dari
Rn sebab (0, 2 , 3 , , n ) + (0, 20 , 30 , , n0 ) = (0, 2 + 20 , , n +
n0 ) W dan (0, 2 , 3 , , n ) = (0, 2 , 3 , , n ) W .
Definisi A.0.4 Andaikan V sembarang ruang vektor (bisa riil ataupun
kompleks) dan S subhimpunan dari V dengan S 6= . Suatu unsur v V
yang berbentuk
k
X
v=
ai si
(k finit),
(A.9)
i=1

dengan s1 , , sk S dan a1 , , ak semuanya skalar, disebut kombinasi


linier yang finit (atau disingkat sebagai k.l.f.) dari unsur-unsur di S.

328

LAMPIRAN A. RUANG VEKTOR

Teorema A.0.3 Ambil andaian seperti pada batasan terakhir. Maka himpunan Span(S) yang beranggotakan semua k.l.f. dari unsur-unsur di S
merupakan subruang vektor dari V .
Bukti : Dalam hal ini kita dapat memanfaatkan teorema A.0.2, yakni
cukup dengan menunjukkan bahwa untuk setiap pasangan v, w Span(S)
sembarang dan sembarang skalar a berlaku v + w Span(S) dan av
Span(S). Bila v, w Span(S), maka v dan w merupakan k.l.f. dari himpunan S. Jadi v dan w dapat dituliskan berturut-turut sebagai
v=

k
X

ai si

i=1

dan

w=

k
X

a0r s0r ,

r=1

dengan k dan

k0

kedua-duanya finit. Oleh karena itu


v+w =

k
X
i=1

ai si +

k
X
r=1

a0r s0r

0
k+k
X

b ,

=1

dengan b = a dan = s untuk = 1, 2, , k dan b = a0k dan


= s0k untuk = k + 1, k + 2, , k + k 0 . Karena k + k 0 finit, maka
terlihat P
bahwa v + w
merupakan
Pk k.l.f. dari himpunan S. Selanjutnya,
Pjuga
k
k
v = i ai si = i ai si = i ci si , dengan ci = ai . Terlihat bahwa
v pun termuat di Span(S).
Subruang vektor Span(S) disebut subruang vektor dari V yang dibentang oleh himpunan S. Perlu dicatat bahwa untuk setiap vektor anggota
Span(S) terdapat lebih dari satu cara untuk menyatakannya sebagai k.l.f.
dari unsur-unsur di S.
Definisi A.0.5 Suatu subhimpunan S dari suatu ruang vektor sembarang
V (bisa riil maupun kompleks) dikatakan gayut linier jika terdapat kumpulan unsur-unsur dari S yang jumlahnya finit, katakanlah s1 , s2 , , sk , sehingga persamaan
k
X
i=1

ai si = a1 s1 + a2 s2 + + ak sk =

( unsur nol dari V ) (A.10)

329
memiliki penyelesaian a1 , a2 , , ak yang tidak semuanya nol. Subhimpunan S dikatakan bebas linier jika S tidak gayut linier.
Jadi, subhimpunsn S bebas linier jika untuk sembarang kumpulan unsurunsur dari S, katakanlah s01 , s02 , , s0l , persamaan
l
X

ai s0i = a1 s01 + a2 s02 + + ak s0l =

(A.11)

i=1

hanya memberi jawaban a1 = a2 = = al = 0.


Contoh A.0.9 Dalam ruang aritmatik R3 , himpunan
{(1, 1, 1), (1, 1, 0), (2, 2, 2)}

(A.12)

merupakan himpunan yang gayut linier. Sedangkan


{(1, 1, 1), (1, 1, 0), (1, 0, 0)}

(A.13)

merupakan himpunan yang bebas linier.


Teorema A.0.4
(a) Jika T S dan T gayut linier, maka S gayut linier.
(b) Jika T S dan S bebas linier, maka T bebas linier.
(c) Jika suatu unsur dari S merupakan perkalian unsur lain dari S dengan
suatu skalar, maka S gayut linier.
(d) bebas linier.
Teorema selanjutnya terkait dengan ukuran himpunan yang bebas linier.
Teorema A.0.5 Andaikan S himpunan bebas linier yang beranggotakan k
buah vektor dalam ruang vektor V . Maka setiap himpunan S 0 Span(S)
yang beranggotakan k + 1 unsur dari Span(S) merupakan himpunan yang
gayut linier.
(Bukti teorema ini dapat dilihat di [Apo].)

330

LAMPIRAN A. RUANG VEKTOR

Definisi A.0.6 Suatu subhimpunan S dari V dengan1 |S| finit disebut basis finit bagi V jika S bebas linier dan V = Span(S). Suatu ruang vektor
dikatakan berdimensi finit jika V memiliki basis finit atau ruang vektor
itu hanya beranggotakan unsur nol saja. Jika V tidak memiliki basis finit
dan juga bukan ruang vektor yang hanya beranggotakan unsur nol maka V
dikatakan berdimensi infinit.

Contoh A.0.10 Kembali ke ruang vektor c. Ambilah sembarang (i )


1 c
dengan 1 6= 0. Maka himpunan {e1 , e2 , }, dengan
e1

(i )
1 = (1 , 2 , )

e2

(0, 1 , 2 , 3 , 4 )

e3

(0, 0, 1 , 2 , 3 )

e4

(0, 0, 0, 1 , 2 )

(A.14)

merupakan himpunan yang bebas linier dan merupakan basis bagi ruang c.
Dengan kata lain, ruang vektor c berdimensi infinit.

Bukti: Ditinjau persamaan


X

ai ei = a1 e1 + a2 e2 + a3 e3 + = 0,

(A.15)

i=1

dengan a1 , a2 , a3 , F . Persamaan ini ekivalen dengan persamaan


(a1 1 , a1 2 , a1 3 , ) + (0, a2 1 , a2 2 , a2 3 , )
+(0, 0, a3 1 , a3 2 , a3 3 , ) + (0, 0, 0, a4 1 , a4 2 , a4 3 , ) +
= (0, 0, 0, 0, ).
(A.16)
1

Andaikan A sebuah himpunan. |A| berarti jumlah anggota dari himpunan A.

331
Atau
a1 1 = 0,

(A.17)

a1 2 + a2 1 = 0,

(A.18)

a1 3 + a2 2 + a3 1 = 0,

(A.19)

a1 4 + a2 3 + a3 2 + a4 1 = 0,

(A.20)

a1 n+1 + a2 n + + an 2 + an+1 1 = 0,

(A.21)

Pers.(A.17) senilai dengan a1 = 0 karena 1 6= 0. Akibatnya, pers.(A.18)


menyatakan bahwa a2 = 0. Demikian pula a3 = 0. Untuk n sembarang
bilangan bulat positiv, pers.(A.21) (dengan an = an1 = an2 = =
a2 = a1 = 0) memberikan jawaban an+1 = 0. Hal ini menunjukkan bahwa
himpunan {e1 , e2 , } bebas linier.
Andaikan (i )
1 sembarang unsur dari c. Maka persamaan
X
(1 , 2 , ) =
bi ei = b1 e1 + b2 e2 + b3 e3 +

(A.22)

i=1

ekuivalen dengan
b1 1 = 1 ,

(A.23)

b1 2 + b2 1 = 2 ,

(A.24)

b1 3 + b2 2 + b3 1 = 3 ,

(A.25)

b1 4 + b2 3 + b3 2 + b4 1 = 4 ,

(A.26)

b1 n + b2 n1 + + bn1 2 + bn 1 = n ,

(A.27)

Pers.(A.23) memiliki jawaban tunggal b1 = 1 /1 . Oleh karena itu, maka


pers.(A.24) secara tunggal menyatakan bahwa
2
1

2 .
(A.28)
b2 =
1
(1 )2
Untuk sembarang bilangan bulat positiv n, Pers.(A.27) menelorkan jawaban tunggal
bn =

1
(n b1 n b2 n1 bn1 2 ),
1

(A.29)

332

LAMPIRAN A. RUANG VEKTOR

setelah persamaan-persamaan sebelumnya diselesaikan, yakni setelah didapatkan koefisien-koefisien b1 , b2 , dan bn1 . Jadi, setiap vektor di c secara
tunggal dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari {e1 , e2 , }. Oleh
karena {e1 , e2 , } bebas linier dan membentang c, maka {e1 , e2 , } basis
bagi c.
Teorema A.0.6 Andaikan V ruang vektor berdimensi finit. Maka setiap
basis finit bagi V memiliki anggota yang jumlahnya sama.
Bukti : Andaikan S dan T dua basis finit bagi V dengan |S| = n dan |T | =
m. Karena S basis bagi V , maka S bebas linier dan Span(S) = V . Karena
T bebas linier, maka berdasarkan teorema A.0.5 sebagai subhimpunan dari
V = Span(S) himpunan T memiliki jumlah anggota yang tidak melebihi
jumlah anggota dari S. Artinya, m n. Tetapi, kita dapat pula menukar
peran S dengan T dalam argumentasi di atas. Hasilnya, n m. Oleh
karenanya, secara keseluruhan n = m.
Teorema terakhir di atas menyatakan bahwa jumlah anggota suatu basis
bagi suatu ruang vektor adalah khas bagi ruang vektor tersebut. Dengan
kata lain, jumlah anggota suatu basis merupakan karakteristik yang inheren
dari suatu ruang vektor. Oleh karena itu kita dapat mendefinisikan dimensi
bagi ruang vektor.
Definisi A.0.7 Jika suatu ruang vektor V memiliki basis finit yang beranggotakan n buah vektor dari V , maka V dikatakan berdimensi n dan
ditulis dim(V ) = n.
Teorema A.0.7 Andaikan V suatu ruang vektor (riil maupun kompleks)
berdimensi n. Maka
(a) Sembarang himpunan yang bebas linier dalam V merupakan subhimpunan dari suatu basis bagi V .
(b) Sembarang himpunan bebas linier S dengan |S| = n merupakan basis
bagi V .
(Bukti teorema di atas dapat dilihat di [Apo])

333
Teorema A.0.8 Jika S basis bagi ruang vektor V (riil maupun kompleks)
yang berdimensi sembarang, maka setiap v V dapat dinyatakan sebagai
kombinasi linier dari anggota-anggota S secara tunggal.
Bukti : Andaikan v dapat dinyatakan dengan dua kombinasi linier
X
v=
as s
(A.30)
sS

dan
v=

a0s s.

(A.31)

sS

Maka dari identitas


v=

X
sS

as s =

a0s s

(A.32)

sS

didapatkan
X

(a0s as )s = .

(A.33)

sS

Tetapi, karena S bebas linier, maka tentu saja berlaku as a0s = 0. Jadi,
haruslah as = a0s untuk setiap s.

334

LAMPIRAN A. RUANG VEKTOR

Lampiran B

Fungsi -Dirac
Delta Dirac satu dimensi dapat dianggap sebagai analogi dari delta Kronecker ij untuk indeks kontinyu. Oleh karena itu, -Dirac adalah suatu
simbol (x) sedemikian rupa sehingga ia mempunyai sifat menyaring dalam
artian
Z 
(x)f (x)dx = f (0),
(B.1)


untuk sembarang fungsi f yang kontinyu pada titik x = 0 dan untuk sembarang 0 < . Untuk f (x) = 1, maka didapatlah
Z 
(x)dx = 1.
(B.2)


Dari kedua persamaan di atas dapat ditunjukkan berlakunya persamaan


berikut
Z 2
(x x0 )f (x)dx = f (x0 ),
(B.3)
1

untuk sembarang fungsi f yang kontinyu pada titik x = x0 (1 , 2 ).


Integral terakhir ini lenyap bila x0 tidak termuat di interval (1 , 2 ). Selain
itu
Z 
2

(x x1 )dx = 1,

(B.4)

1

bila x1 (1 , 2 ). Integral tersebut lenyap bila x1 tidak termuat di (1 , 2 ).


Tidak ada fungsi yang memiliki sifat-sifat seperti di atas. Maka dari
itu, kurang tepat bila dikatakan bahwa -Dirac merupakan sebuah fungsi.
335

336

LAMPIRAN B. FUNGSI -DIRAC

Akan tetapi, terdapat sekian banyak barisan yang beranggotakan fungsifungsi yang memiliki limit -Dirac. Sebagai contoh adalah fungsi yang
berparameterkan  > 0 berikut
1
(x x0 , ) = exp[(x x0 )2 /2 ].


(B.5)

Fungsi-fungsi semacam ini memiliki integral


Z

1
exp[(x x0 )2 /2 ]dx = 1


(B.6)

berapapun nilai . Sekarang kita perhatikan integral berikut


Z

(x , ) =

Z +

1
exp[(x x0 )2 /2 ]f (x)dx

1
exp[ 2 ]f ( + x0 )d.

(B.7)

Bila diambil  menuju nol diperoleh


0

+ 

lim (x , ) =

0


1
2
0
lim exp[ ]f ( + x ) d = f (x0 ).
0

(B.8)

Jadi,
1
lim (x x0 , ) = lim exp[(x x0 )2 /2 ]
0
0 

(B.9)

berperilaku sebagaimana -Dirac (x x0 ).


Barisan-barisan yang lain adalah
1 sin[(x x0 )/]
,

(x x0 )

(B.10)

1
exp(|(x x0 )|/),
2

(B.11)


1
,
(x x0 )2 + 2

(B.12)

(x x0 , ) =

D(x x0 , ) =

d(x x0 , ) =
dan lain sebagainya.

337
Satu identitas lagi yang cukup penting diberikan
Z +
Z L
1
1
0
exp[ik(x x )]dk = lim
exp[ik(x x0 )]dk(B.13)
L 2 L
2
1 sin[L(x x0 )]
= lim
L
x x0
0
= (x x ).
Jelasnya,
Z

exp[ik(x x0 )]dk = 2(x x0 ).

(B.14)

Perluasan -Dirac ke ruang berdimensi tiga tentulah diberikan oleh simbol


(r r0 ) yang memenuhi persamaan
Z
f (r)(r r0 )dxdydz = f (r0 )
(B.15)
V

jika V wilayah di ruang R2 yang memuat titik r0 sebagai titik interior dan
Z
f (r)(r r0 )dxdydz = 0
(B.16)
V

jika V tak memuat r0 . Jika f (r) = 1 maka didapat


Z
(r r0 )dxdydz = 1,

(B.17)

jika V memuat r0 sebagai titik interior dan


Z
(r r0 )dxdydz = 0,

(B.18)

jika V tidak memuat r0 . Dan tentu saja, sebagai perluasan pers.(B.14)


diperoleh
Z + Z + Z +
exp[ik (r r0 )]dkx dky dkz = (2)3 (r r0 ). (B.19)

Sifat-sifat simbol delta Dirac yang penting adalah


(x x0 ) = (x0 x),

(B.20)

(x x0 )(x x0 ) = 0,

(B.21)

338

LAMPIRAN B. FUNGSI -DIRAC

[a(x x0 )] =
[(x x0 )(x x00 )] =
dan
[g(x)] =

1
(x x0 ),
|a|

(x x0 ) + (x x00 )
|x0 x00 |

|g 0 (xn )|

(x xn ),

(B.22)
(B.23)

(B.24)

dengan g(x) fungsi yang kontinyu sedemikian rupa sehingga g(xn ) = 0 dan
g 0 (xn ) 6= 0 (xn adalah titik-titik nol bagi g, yakni yang menjadikan nilai g
lenyap).

Riwayat Hidup Penulis

Dr.rer.nat. Muhammad Farchani Rosyid lahir di desa Gemolong, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tanggal 17 Juli 1968.
Pendidikan dasar sampai menengah atas diselesaikannya di desa kelahiran dari
tahun 1975 sampai tahun 1987. Dr. Rosyid menamatkan pendidikan strata satu
(S1) fisika pada jurusan fisika FMIPA UGM pada tahun 1992 dan strata dua (S2)
fisika di universitas yang sama pada tahun 1995. Derajad doktor diperolehnya pada tahun 2000 dalam Mathematical Physics dari Technische Universitat Clausthal,
Republik Federal Jerman dengan dissertasi berjudul : Zum Zusammenhang
zwischen geometrischer Quantisierung und Borel-Quantisierung (On the
Relation between Geometric Quantization and Borel-Quantization). Bidang penelitian yang diminati olehnya adalah Topological and differential geometrical methods
in Physics, Theory of Quantization, Groups and Symmetries, Mathematical Foundations of Quantum Theory. Riwayat Pekerjaan : - Asisten Dosen pada jurusan
Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1992-1996) - Staf peneliti
pada Arnold-Sommerfeld-Institut f
ur Mathematische Physik, Technische Universitat Clausthal, Jerman (1996-2000) - Staf Pengajar pada jurusan Fisika FMIPA
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (sejak tahun 2000). Buku lain yang sedang
dalam proses penulisan : Aljabar Abstrak Untuk Fisikawan.

339