Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH

SATWA HARAPAN
Budidaya Kepiting Kelapa

Oleh :

RISHAD ALFRIANDI

200110110285

LABORATORIUM PRODUKSI TERNAK UNGGAS


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014

Ketam kenari, Birgus latro, atau disebut Kepiting Kelapa merupakan artropoda
darat terbesar di dunia. Meskipun disebut ketam/kepiting, hewan ini bukanlah
ketam/kepiting. Ketam ini merupakan jenis umang-umang yang sangat maju dalam hal
evolusi. Jadi mungkin ia lebih tepat disebut umang-umang kenari, namun demikian
penduduk kepulauan Maluku sudah menyebutnya ketam kenari. Ketam ini dikenal
karena kemampuannya mengupas buah kelapa dengan capitnya yang kuat untuk
memakan isinya. Ia satu-satunya spesies dari genus Birgus.
Ia juga disebut dalam bahasa Inggris "terrestrial hermit crab" (umang-umang darat)
karena penggunaan kulit keong oleh umang muda; tetapi, ada juga umang darat lain
yang tidak menanggalkan kulit keongnya setelah dewasa. Hewan ini - khususnya genus
Coenobita yang masih berkerabat dekat - biasanya disebut "umang-umang darat";
karena dekatnya kekerabatan antara Coenobita dan Birgus maka istilah "umang-umang
darat" ini biasanya mengacu pada anggota famili Coenobitidae.
Pembiakan
Ketam kenari kawin secara berulangkali dan cepat di daratan kering pada
periode dari Mei sampai September, khususnya Juli dan Agustus. Ketam jantan dan
betina berkelahi satu sama lain, lalu yang jantan berbalik ke punggung betina untuk
kawin. Seluruh proses perkawinan berlangsung sekitar 15 menit. Tidak lama kemudian,
betina bertelur dan melekatkannya dibawah perutnya, membawa telur-telur yang telah
dibuahi itu selama beberapa bulan. Bila tiba waktu telur-telur itu menetas, biasanya

bulan Oktober atau November, ketam kenari betina melepaskan telur-telur tersebut ke
lautan pada saat pasang naik. Seperti pada krustasea dekapoda lain, larvanya bertipe
zoea. Dilaporkan bahwa semua ketam kenari melakukan hal ini pada malam yang sama
dan berada di pantai pada saat yang sama. Larva-larva itu mengapung di lautan selama
28 hari, selama itu banyak dari mereka dimakan pemangsa. Setelah itu, mereka hidup
di dasar laut dan di pantai sebagai umang-umang, menggunakan cangkang siput yang
kosong untuk berlindung selama 28 hari berikutnya. Pada saat ini, mereka kadangkadang pergi ke daratan kering. Seperti umang-umang -yang lain, ia mengganti
cangkang siput itu, dengan bertambah besarnya ukuran mereka. Setelah 28 hari ini,
mereka meninggalkan lautan secara permanen dan kehilangan kemampuan bernapas
di air. Ketam kenari muda yang tidak dapat menemukan cangkang keong yang
beukuran tepat juga sering memakai potongan kelapa retak. Saat mereka tumbuh
bahkan melebihi tempurung kelapa, mereka mengembangkan perut yang mengeras.
Kira-kira 4 sampai 8 tahun setelah menetas, ketam kenari dewasa dan dapat
berkembang biak. Masa perkembangan yang panjang itu tidak biasa ditemukan pada
crustacea
Makanan
Makanan ketam kenari terutama terdiri dari buah, termasuk kelapa dan beringin.
Tetapi, mereka akan memakan hampir semua yang organik, seperti daun, buah busuk,
telur penyu, hewan mati, dan cangkang hewan lain, yang dipercaya menyediakan
kalsium. Mungkin mereka juga makan hewan hidup lain yang terlalu lambat untuk lari,
seperti tukik penyu yang baru menetas. Selama percobaan pemberian label, seekor
ketam kenari diamati menangkap dan memakan tikus polinesia[3]. Ketam kenari sering
mencoba mencuri makanan dari ketam lain dan akan menyeret makanan mereka ke
tempat bersembunyi untuk makan dengan aman.
Ketam kenari memanjat pohon untuk makan kelapa atau buah, untuk menghilangkan
panas atau untuk lari dari pemangsa. Adalah anggapan umum bahwa ketam kenari
memotong buah kelapa dari pohonnya lalu memakannya di tanah (dari situlah nama
Jerman Palmendieb, yang berarti "pencuri kelapa", dan nama Belanda Klapperdief).
Tetapi menurut ahli biologi Jerman Holger Rumpf, hewan itu tidak cukup pintar untuk
melakukan hal itu, melainkan ketam itu menjatuhkan buah kelapa ke tanah saat
mencoba membuka buah itu di pohon. Ketam kenari membuat lubang ke dalam kelapa
dengan capit mereka yang kuat lalu memakan isinya; perilaku ini unik dalam dunia
binatang.
Habitat dan penyebaran

Ketam kenari hidup sendiri dibawah tanah atau celah-celah bebatuan,


tergantung daerah setempat. Mereka menggali tempat bersembunyi di pasir atau tanah
gembur. Di siang hari, ketam kenari bersembunyi, untuk berlindung dan mengurangi
hilangnya air karena panas. Di tempat persembunyiannya terdapat serat sabut kelapa
yang kuat nan halus, yang dipakainya sebagai alas; sabut kelapa ini dikumpulkan oleh
warga lokal untuk dibuat kerajinan. [4] Saat beristirahat di liangnya, ketam kenari
menutup jalan masuk dengan salah satu capitnya untuk menjaga kelembapan yang
penting untuk pernapasannya. Di area dengan banyak ketam kenari, beberapa ketam
juga keluar waktu siang hari, mungkin untuk mendapat keuntungan dalam mencari
makan. Ketam kenari juga kadang-kadang keluar waktu siang jika keadaan lembap
atau hujan, karena keadaan ini memudahkan mereka untuk bernapas. Mereka hanya
ditemukan di darat, dan beberapa dapat ditemui sejauh 6 km dari lautan. Karena
mereka tidak berenang saat dewasa, ketam kenari tiap waktu harus mengkoloni pulaupulau sebagai larva, yang bisa berenang. Akan tetapi, karena jarak yang jauh antar
pulau, beberapa peneliti percaya stadium larva selama 28 hari tidak cukup untuk melalui
jarak tersebut dan mereka menganggap ketam kenari muda mencapai pulau lain
melalui kayu terapung atau benda lain. Penyebarannya terpisah-pisah, contohnya
disekitar pulau Kalimantan, Indonesia atau Irian. Pulau-pulau ini mudah dicapai oleh
ketam kenari, dan merupakan habitat yang sesuai, tetapi tidak ada populasi ketam
kenari. Hal ini karena ketam kenari dikonsumsi manusia hingga punah. Namun ketam
kenari juga diketahui hidup di Taman Nasional Wakatobi di Sulawesi, juga di Maluku,
Indonesia.

Budidaya

penangkaran kepiting kenari tersebut tidak bisa dilakukan di sembarang tempat, karena
kepiting ini hanya bisa berkembang biak pada vegitasi tertentu. Tempat yang layak
untuk dilakukan penangkaran kepiting kenari yakni pantai berbatu dan di sekitarnya
harus ada tanaman kelapa sebagai bahan makanan utama kepiting kenari. Kepiting
kenari membutuhkan itu karena celah-celah batu menjadi tempat bersembunyi pada
siang hari, sedangkan buah kelapa merupakan sumber makanannya utamanya.
Sediakan tempat menyerupai habitatnya ada berbatuan dan pohon kelapa. Harga jual
daging kepiting kelapa sekitar Rp 300.000/kg.