Anda di halaman 1dari 13

Blok 15 Skin and Integument

INFEKSI MENULAR SEKSUAL


GONORE

Jeffry Rulyanto MS
102011414
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat : Jl. Terusan Arjuna No. 6 Jakarta Barat
Email : moracapitano@gmail.com

Pendahuluan
Gonore merupakan penyakit yang mempunyai insidens yang tinggi diantara infeksi
menular seksual lainnya. Pada pengobatannya terjadi pula perubahan karena sebagian
disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang telah resisten terhadap penicilin dan disebut
Pencillinase Producing Neisseria gonorrhoeae ( P.P.N.G ). Kuman ini meningkat di banyak
negeri termasuk Indonesia. Pada umumnya penularannya melalui hubungan kelamin yaitu
genito-genital, orogenital, dan ano-genital. Tetapi, disamping itu dapat juga terjadi secara
manual melalui alat-alat, pakaian, handuk, termometer, dan sebagainya. Oleh karen aitu
secara garis besar dikenal gonore genital dan gonore ekstra genital.1,2

Anamnesis
Untuk mendapatkan informasi yang penting, terutama pada waktu menanyakan riwayat
seksual, perlu hati-hati dan dengan cara tertentu. Hal yang harus dijaga ialah kerahasiaan.
Pertanyaan diajukan dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien.
Anamnesis pada pasien dugaan IMS meliputi :
o
o
o
o
o
o

Identitas dan pekerjaan


Umur
Jenis kelamin
Keluhan dari riwayat penyakit saat ini
Keadaan umum yang dirasakan
Pengobatan yang telah diberikan, baik topikal maupun sistemik, dengan penekanan
pada antibiotik.

Blok 15 Skin and Integument

o Riwayat seksual : kontak seksual ( baik didalam maupun diluar pernikahan atau
berganti-ganti pasangan atau banyak kontak seksual ), kontak seksual dengan
pasangannya setelah mengalami gejala penyakit, frekuensi dan jenis kontak
seksual ( homo atau heteroseksual ), cara melakukan hubungan seksual ( genitogenital, orogenital, anogenital ), apakah pasangannya juga mengeluhkan gejala
yang smaa.
o Riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan IMS atau penyakit di daerah
genital lainnya.
o Riwayat penyakit berat lainnya
o Riwayat keluarga : pada dugaan IMS yang ditularka lewat ibu kepada bayinya
o Keluhan lain yang mungkin berkaitan dengan komplikasi IMS, pada wanita
tentang nyeri perut bawah, dll.
o Riwayat alergi obat
Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
Setelah melakukan anamnesis dan mendapatkan informasi yang cukup dari pasien. Dokter
tentu mendapatkan gambaran penyakit yang diderita pasien tersebut tetapi perlu dilakukan
pemeriksaan fisik dan penunjang ( laboratorium )untuk mendapatkan diagnosis yang tepat
sehingga tindakan terapi/penatalaksanaan dapat diberikan secara optimal.
Pada pemeriksaan fisik secara umum pada infeksi menular seksual, teknik pemeriksaan
meliputi inspeksi dan palpasi. Daerah kelamin dan sekitarnya harus terbuka, sehingga
memudahkan pemeriksaan.
Mula-mula inspeksi daerah ingunal, dan raba apakah ada pembesaran kelenjar, dan catat
konsistensi, ukuran, mobilitas, rasa nyeri, serta tanda-tanda radang pada kulit di atasnya.
Inspeksi meatus uretra eksternus, adakah meatitis, lesi uretra, atau duh tubuh uretra, serta
kelainan kongenital. Kadang-kadang juga perlu memeriksa celana dalamnya untuk melihat
adanya bercak duh tubuh.
Pada pemeriksaan laboratorium meliputi ;
A. Sediaan langsung
Pada sediaan langsung dengan pengecatan Gram akan ditemukan gonokok negatifGram, interseluler dan ekstraseluler. Bahan duh tubuh pada pria diambil dari daerah
fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara kelenjar Bartholin
dan endoserviks.
Pemeriksaan Gram dari duh uretra pada pria memiliki sensitivitas tinggi ( 90-95% )
dan spesifisitas 95-99%. Pemeriksaan ini direkomendasikan untuk klinik diluar rumah
sakit/ praktek pribadi, klinik dengan fasilitas laboratorium terbatas, maupun rumah
sakit dengan fasilitas laboratorium lengkap.
B. Kultur ( biakan )

Blok 15 Skin and Integument

Untuk identifikasi perlu dilakukan kultur ( pembiakan ). Dua macam media yang dapat
digunakan ialah media transpor dan media pertumbuhan.
Media Transpor
- Media Stuart : hanya untuk transpor saja, sehingga perlu ditanam kembali pada
media pertumbuhan.
- Media Transgrow : selektif dan nutritif untuk N. Gonorrhoeae dan N.
Meningitis, dalam perjalanan dapat bertahan hingga 96 jam dan merupakan
gabungan media transpor dan media pertumbuhan, sehingga tidak perlu
ditanam pada media pertumbuhan. Media ini merupakan modifikasi media
Thayer-martin dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus
spp.
Media Pertumbuhan
- Media Thayer-Martin : selektif untuk mengisolasi gonokok. Mengandung
vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman positive-Gram, kolimestat
untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-Gram, dan nistatin untuk menekan
pertumbuhan jamur.
- Modifikasi Thayer-Martin : isinya ditambah dengan trimetoprim untuk
mencegah pertumbuhan kuman proteus spp.
- Agar coklat McLeod : dapat ditumbuhi kuman lain selain gonokok.
Pemeriksaan kultur dengan bahan dari duh uretra pria, sensitivitasnya lebih
tinggi ( 94-98% ) dari duh endoserviks ( 85-95% ). Sedangkan spesifisitas dari
kedua bahan tersebut sama yaitu lebih dari 99%. Pemeriksaan kultur ini
dianjurkan untuk dilakukan pada rumah sakit dengan fasilitas laboratorium
lengkap maupun terbatas.
Tes Definitif
- Tes oksidasi : reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-pfenilendiamin hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka.
Semua Neisseria memberi reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang
semula bening berubah menjadi merah muda sampai warna lembayung.
- Tes fermentasi : tes oksidasa positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai
glukosa, maltosa, dan sukrosa. Kuman gonokok hanya meragikan glukosa.
C. Tes beta-laktamase
Tes ini menggunakan cefinase TM disc. BBL 961192 yang mengandung chromogenic
cephalosporin. Apabila kuman mengandung enzim beta laktamase, akan menyebabkan
perubahan warna koloni dari kuning menjadi merah.
D. Tes Thomson
Tes ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah berlangsung. Dalam
pemeriksaan ini perlu dilakukan karena pengobatan pada waktu itu ialah pengobatan
setempat.
Pada tes ini ada syarat yang perlu diperhatikan :
- Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi
3

Blok 15 Skin and Integument

Urin dibagi dalam dua gelas


Tidak boleh menahan kencing dari gelas I ke gelas II
Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling sedikit
80-100 ml, jika kurang maka gelas II sukar dinilai karena baru menguras uretra
bagian anterior.3
Hasil pembacaan :
Gelas I
Jernih
Keruh
Keruh
Jernih

Gelas II
Jernih
Jernih
Keruh
Keruh

Arti
Tidak ada infeksi
Infeksi uretritis anterior
Panuretritis
Tidak mungkin

Etiologi
Penyebab gonore adalah gonokok yang ditemukan oleh Neisser pada tahun 1879 dan baru
diumumkan pada tahun 1882. Kuman tersebut termasuk dalam grup Neisseria dan dikenal
ada 4 spesies, yaitu N. Gonorrhoeae dan N. Meningitidis yang bersifat patogen serta N.
Catarrhalis dan N. Pharyngis ini sukar dibedakan kecuali dengan tes fermentasi.
Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8 u dan
panjang 1,6 u bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan Gram bersifat
Gram negatif, terlihat diluar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas. Cepat
mati dalam keadaaan kering, tidak tahan suhu 390C, dan tidak tahan zat desinfektan.
Secara morfologik gonokok ini terdiri atas 4 tipe yaitu, tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili
yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat non virulen.
Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang. Daerah yang
paling mudah terinfeksi ialah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang
belum berkembang ( immatur ), yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.1-4
Patofisiologi
Infeksi dimulai dengan adhesi pada sel mukosa ( urethra, vagina, rectum, tenggorok )
kemudian penetrasi ke submukosa dan menyebar baik secara langsung maupun hematogen.
o Langsung
Pada pria menyebabkan prostatitis dan epididymitis, sedangkan pada wanita
langsung menyebar ke kelenjar Bartholin, paraserviks, tuba falopii, dst.
o Hematogen
Hanya 1% kasus, kebanyakan dari asymptomatic infection pada wanita. Ini
disebabkan adanya kelainan pertahanan tubuh, misalnya. Defisiensi C6-9 atau
bakteri yang kebal terhadap antibodi dan komplemen, bakteri dengan protein porin
A pada dinding sel kemudian menginaktivasi C3b. Manifestasi berupa arthritis, lesi
kulit, dan tenosynovitis.
4

Blok 15 Skin and Integument

Manifestasi Klinis
Masa tunas gonore sangat singkat, pada pria umumnya berkisar antara 2-5 hari, kadangkadang lebih lama dan hal ini disebabkan karena penderita telah mengobati diri sendiri, tetapi
dengan dosis yang tidak cukup atau gejala sangat samar sehingga tidak diperhatikan oleh
penderita. Pada wanita masa tunas sulit untuk ditentukan karena pada umumnya
asimptomatik.
Tempat masuk kuman pada pria di uretra menimbulkan uretritis. Yang paling sering adalah
uretritis anterior akuta dan dapat menjalar ke proksimal, dan mengakibatkan komplikasi
lokal, asendens serta diseminata. Keluhan subyektif berupa rasa gatal, panas dibagian distal
uretra disekitar orifisium uretra eksternum, kemudian disusul disuria, polakisuria, keluar duh
tubuh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah, dapat pula disertai nyeri pada
waktu ereksi. Pada pemeriksaan tampak orifisum uretra eksternum kemerahan, edema, dan
ektropion. Tampak pula duh tubuh yang mukopurulen. Pada beberapa kasus dapat terjadi
pembesaran kelenjar getah bening ingunal unilateral atau bilateral.
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dengan pria. Hal ini
disebabkan oleh perbedaan anatomi dan fisologi alat kelamin pria dan wanita. Pada wanita,
baik penyakitnya akut maupun kronik, gejala subyektif jarang ditemukan dan hampir tidak
pernah didapati kelainan obyektif. Pada umumnya wanita datang berobat kalau sudah ada
komplikasi. Sebagian besar penderita ditemukan pada waktu pemeriksaan antenatal atau
pemeriksaan keluarga berencana. Infeksi pada wanita, pada mulanya hanya mengenai serviks
uteri. Duh tubuh yang mukopurulen dan mengandung banyak gonokok mengalir ke luar dan
menyerang uretra, duktus parauretra, kelenjar Bartholin, rektum, dan dapat juga naik ke atas
sampai pada daerah kandung telur.1,4,6

Diagnosis
Working Diagnosis ( WD )
Gonore Neisseria gonorrhoeae
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan
pembantu yang terdiri atas beberapa tahapan.
Ditemukannya bakteri diplokokus negatif-Gram intreseluler pada pemeriksaan
mikroskopik sekret uretra seorang laki-laki dengan gejala yang spesifik, mempunyai nilai
sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi untuk menegakkan diagnosis gonore.1
Kultur sangatlah penting untuk menegakkan diagnosis gonore pada seorang wanita
atau laki-laki dengan gejala yang tidak spesifik, dan untuk spesimen yang diambil dari lokasi
5

Blok 15 Skin and Integument

selain uretra. Kultur juga diperlukan untuk spesimen yang diambil dari seseorang laki-laki
dengan gejala yang spesifik , dengan tujuan :
-

Konfirmasi hasil mikroskopik


Dilanjutkan uji resitensi
Evaluasi keberhasilan pengobatan atau mengetahui adanya infeksi ulang.2

Different Diagnosis
Infeksi genital non spesifik
Infeksi genital nonspesifik ( IGNS ) atau Nonspecific genital infection ( NSGI )
adalah infeksi menular seksual ( IMS ) berupa peradangan di uretra, rektum, atau serviks
yang disebabkan oleh kuman nonspesifik.
Uretritis nonspesifik ( UNS ) atau Nonspesific urethritis ( NSU ) merupakan
peradangan hanya pada uretra yang disebakan oleh kuman nonspesifik.
Infeksi genital nongonokok ( IGNG ) atau Nongonococcal genital infection ( NGGI )
merupakan peradangan di uretra yang disebabkan oleh kuman lain selain gonokok.
Yang dimaksud kuman spesifik adalah kuman yang dengan fasilitas laboratorium
biasa / sederhana dapat diketemukan seketika, misalnya gonokok, Candida albicans,
Trichomonas vaginalis, Gardnella vaginalis.
Etiologi :
Kurang lebih 75% telah diselidiki penyebab IGNS dan diduga penyebabnya adalah :
Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum dan Mycoplasma hominis, Gardnella
vaginalis, alergi dan bakteri.
Manifestasi Klinis :
Manifestasi klinis pada pria gejala baru timbul biasanya setelah 1-3 minggu kontak
seksual dan umumnya tidak seberat gonore. Gejalanya berupa disuria ringan, perasaan tidak
enak di uretra, sering kencing, dan keluarnya duh tubuh seropurulen. Dibandingkan dengan
gonore perjalanan penyakit lebih lama karena masa inkubasi yang lebih lama dan ada
kecenderungan kambuh kembali. Pada beberapa keadaan tidak terlihat kelaurnya cairan duh
tubuh, sehingga menyulitkan diagnosis. Dalam keadaan demikian sangat diperlukan
pemeriksaan laboratorium. Komplikasi dapat terjadi berupa prostatitis, vesikulitis,
epididmitis, dan struktur uretra.
Manifestasi klinis pada wanita biasanya infeksi lebih sering terjadi di serviks
dibandingkan dengan di vagina, kelenjar Bartholin, atau uretra sendiri. Sama seperti pada
gonore, umumnya wanita tidak menunjukkan gejala. Sebagian kecil dengan keluhan
keluarnya duh tubuh vagina, disuria ringan, sering kencing, nyeri di daerah pelvis, dan
6

Blok 15 Skin and Integument

disparenia. Pada pemeriksaan serviks dapat dilihat tanda-tanda servisitis yang disertai adanya
folikel folikel kecil yang mudah berdarah. Komplikasi dapat berupa Bartholinitis, proktitis,
salpingitis, dan sistitis. Peritonitis dan perihepatitis juga pernah dilaporkan.5
Diagnosis :
Dengan memperhatikan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan laboratorium adanya
uretritis, serta tidak ditemukannya kuman penyebab yang spesifik.
Laboratorium :
Dasar untuk menegakan diagnosis IGNS ialah pemeriksaan laboratorium berupa
apusan sekret uretra / serviks. Pada pemeriksaan sekret uretra dengan pewarnaan Gram
ditemukan lekosit > 5 pada pemeriksaan mikroskopik sekret serviks dengan pewarnaan Gram
didapatkan > 30 lekosit per lapangan pandang dengan perbesaran 1000 kali. Tidak dijumpai
diplokokus negatif Gram, serta pada pemeriksaan sediaan basah tidak didapatkan parasit
Trichomonis vaginalis.
Pengobatan :
Obat yang paling efektif adalah golongan tetrasiklin dan eritromisin. Disamping itu
juga dengan gabungan sulfa-trimetroprim, spiramisin, dan kuinolon.
Komplikasi Gonore
Komplikasi gonore sangat erat hubungannya dengan susunan dan anatomi faal genitalia.
Kompikasi pada pria bisa berupa ;
o Tysonitis
Kelenjar tyson ialah kelenjar yang menghasilkan smegma. Infeksi biasanya terjadi
pada penderita dengan preputium yang sangat panjang dan kebersihannya kurang
baik. Diagnosis dibuat berdasarkan ditemukannya butir pus atau pembengkakan pada
daerah frenulum yang nyeri tekan. Bila duktus tertutup akan menimbulkan abses dan
merupakan sumber infeksi laten.
o Parauretritis
Sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka atau hipospadia. Infeksi
duktus ditandai dengan butir pus pada kedua muara uretra.
o Litritis

Blok 15 Skin and Integument

Tidak ada gejala khusus, hanya pada urin ditemukan benang-benang atau butir-butir.
Bila salah satu saluran tersumbat, dapat terjadi abses folikular. Didiagnosis dengan
uretroskopi.
o Cowperitis
Bila hanya duktus yang terkena biasanya tanpa gejala. Kalau infeksi terjadi pada
kelenjar Cowper dapat terjadi abses. Keluhan berupa nyeri dan adanya benjolan pada
daerah perineum disertai rasa penuh dan panas, nyeri pada waktu defekasi, dan
disuria. Jika tidak diobati abses akan pecah melalui kulit perineum, uretra, atau
rektum dan mengakibatkan prokitis.
o Prostatitis
Prostatitis akut ditandai dengan perasaan tidak enak pada daerah perineum dan
suprapubis, malese, demam, nyeri kencing sampai hematuri, spasme otot uretra
sehingga terjadi retensi urin, tenesmus ani, sulit baung air besar, dan obstipasi.
Pada pemeriksaan teraba pembesaran prostat dengan konsistensi kenyal, nyeri tekan,
dan diapatkan fluktuasi bila telah terjadi abses. Jika tidak diobati, abses akan pecah,
masuk ke uretra posterior atau ke arah rektum mengakibatkan prokitis.
Bila prostatitis menjadi kronik, gejalanya ringan dan intermiten, tetapi kadang-kadang
menetap. Terasa tidak enak pada perineum bagian dalam dan rasa tidak enak bila
duduk terlalu lama. Pada pemeriksaan prostat terasa kenyal, berbentuk nodus, dan
sedikit nyeri pada penekanan. Pemeriksaan dengan pengurutan prostat biasanya sulit
menemukan kuman diplokok atau gonokok.
o Vesikulitis
Vesikulitis ialah radang akut yang mengenai vesikula seminalis dan duktus
ejakulatorius, dapat timbul menyertai prostatitis akut atau epididimis akut. Gejala
subyektif menyerupai gejala prostatitis akut, berupa demam, polakisuria, hematuria
termina, nyeri pada waktu ereksi dan ejakulasi, dan spasme mengandung darah.
o Vas deferenitis atau funikulitis
Gejala berupa perasaan nyeri pada daerah abdomen bagian bawah pada sisi yang
sama.
o Epididimitis
Epididimitis akut biasanya unilateral, dan setiap epididimitis biasanya disertai
defernitis. Keadaan yang mempermudah timbulnya epididimitis ini adalah trauma
pada uretra posterior yang disebabkan oleh salah penanganan atau kelalaian
8

Blok 15 Skin and Integument

penederita sendiri. Faktor yang mempengaruhi keadaan ini antara lain irigasi yang
terlalu sering dilakukan, cairan irigator terlalu panas atau terlalu pekat, instrumentasi
yang kasar, pengurutan prostat yang berlebihan, atau aktivitas seksual atau jasmani
yang berlebihan.
Epididmitis dan tali spermatika bengkak dan teraba panas, juga testis, sehingga
menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa nyeri sekali. Bila mengenai
kedua epididimis dapat mengakibatkan sterilitas.
o Trigonitis
Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai trigonum vesika urinaria.
Trigonitis menimbulkan gejala poliuria, disuria terminal, dan hematuria.

Pada wanita infeksi pada serviks ( servisits gonore dapat menimbulkan komplikasi ;
o

Parauretritis
Kelenjar parauretra dapat terkena, tetapi abses jarang terjadi.

Servisitis
Dapat asimptomatik, kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada punggung bawah.
Pada pemeriksaan, serviks tampak merah dengan erosi dan sekret mukopurulen. Duh
tubuh akan terlihat lebih banyak, bila terjadi servisitis akut atau disertai vaginitis yang
disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.

Bartholinitis
Labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah dan nyeri tekan. Kelenjar
Bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila penderita berjalan dan penderita sukar
duduk. Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan dapat pecah melalui
mukosa atau kulit. Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren atau menjadi kista.

Salpingitis
Peradangan dapat bersifat akut, subakut, atau kronis. Ada beberapa faktor
predisposisi, yaitu ; masa puerperium ( nifas ), dilatasi setelah kuretase, pemakaian
IUD, tindakan AKDR ( alat kontrasepsi dalam ). Cara infeksi langsung dari serviks
melalui tiba Fallopii sampai pada daerah salping dan ovarium sehingga dapat
menimbulkan penyakir radang panggul ( PRP ). Infeksi PRP ini dapat menimbulkan
kehamilan ektopik dan sterilitas. Kira-kira 10% wanita dengan gonore akan berakhir

Blok 15 Skin and Integument

dengan PRP. Gejalanya terasa nyeri pada daerah abdomen bawah, duh tubuh vagina,
disuria, dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal.
Harus dibuat diagnosis banding dengan beberapa penyakit lain yang menimbulkan
gejala hampir sama, misalnya : kehamilan diluar kandungan, apendisitis akut, abortus
septik, endometriosis, ileitis regional, dan diivertikulitis. Untuk menegakkan
diagnosis dapat dilakukan pungsi kavum Douglas dan dilanjutkan kultur dengan
laparoskopi mikroorganisme.
Selain mengenail alat-alat genital, gonore juga menyebabkan infeksi nongenital yang
akan diuraikan berikut ini :
o

Proktitis
Prokitis pada pria dan wanita pada umumnya asimtomatik. Pada wanita dapat terjadi
karena kontaminasi dari vagina dan kadang-kadang karena hubungan genitoanal
seperti pada pria. Keluhan pada wanita biasanya lebih ringan daripada pria, terasa
seperti terbakar pada daerah anus dan pada pemeriksaan tampak mukosa eritematosa,
edematosa, dan tertutup ous mukopurulen.

Orofaringitis
Cara infeksi melalui kontak secara orogenital. Faringitis dan tonsilitis gonore lebih
sering daripada gingivitis, stomatitis, atau laringitis. Keluhan bersifat asimtomatik.
Bila ada keluhan sukar dibedakan dengan infeksi tenggorokan yang disebabkan
kuman lain. Pada pemeriksaan daerah orofaring tampak eksudat mukopurulen yang
ringan atau sedang.

Konjungtivitis
Penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dari ibu yang menderita servistis
gonore. Pada orang dewasa infeksi terjadi karena penularan pada konjungtiva
bengkak dan merah dan keluar eksudat mukopurulen. Bila tidak diobati dapat
beerakibat terjadinya ulkus kornea, panoftalmitis sampai timbul kebutaan.

Gonore diseminata
Kira-kira 1% kasus gonore akan berlanjut menjadi gonore diseminata. Penyakit ini
banyak didapat pada penderita dengan gonore asimtomatik sebelumnya terutama pada
wanita. Gejala yang timbul dapat berupa : artritis ( terutama monoartritis ),
miokarditis, endokarditis, perikarditis, meningitis, dan dermatitis.1-7

Penatalaksanaan Uretritis gonore


10

Blok 15 Skin and Integument

Pada penatalaksanaan uretritis gonore, sebelumnya kita harus memperhatikan fasilitas


laboratorium yang ada untuk menemukan penyebabnya. Begitu juga dalam penatalaksanaan
duh tubuh uretra, prinsipnya pertama kali ditujukan untuk uretritis gonore dan bila kemudian
ternyata ditemukan uretritis nongonore, maka pengobatannya baru dilaksanakan setelah
infeksi gonorenya teratasi. Oleh karena itu pada praktisnya perlu dibedakan antara ada atau
tidak adanya fasilitas pemeriksaan mikroskopis.
Non-medikamentosa
Kondisi yang terkait dengan infeksi menular seksual adalah pentingnya edukasi dan
penyuluhan kepada pasien. Edukasi kepada pasien dapat diberikan dengan menjelaskan hal
hal sebagai berikut :
o
o
o
o

Bahaya IMS termasuk komplikasinya.


Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan.
Cara penularan IMS dan perlunya pengobatan untuk seksual tetapnya.
Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, bila tidak dihindarkan lagi, pakai kondom
tiap kali berhubungan seks.
Hindari IMS di massa yang akan datang, dengan cara : tidak berganti ganti pasangan
seksual.7

Medikamentosa
Pada pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektivitas, harga, dan sesedikit mungkin
efek toksiknya. Dulu ternyata pilihan utama ialah penislin + probenisid, kecuali di daerah
yang tinggi insidens Neisseria gonorrhoeae penghasil penisilinase ( NGPP ). Secara
epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah obat dengan dosis tunggal. Macam-macam
obat yang dipakai antara lain :

Penisilin

Yang efektif ialah penislin G prokain akua. Dosis 4,8 juta unit + 1 gram probenisid.
Angka kesembuhan di RSCM pada tahun 1991 ialah 91,2%. Di RSCM 3 juta unit +
1 gram probenisid. Obat tersebut dapat menutupi gejala sifilis. Kontraindikasinya
ialah alergi penisilin. Mengingat tingginya kasus gonore denga strain NGPP dan juga
dengan tingginya tingkat resistensi terhadap strain non NGPP, maka pada saat ini
pemakaian penisilin tidak dianjurkan lagi.

Ampisilin dan amoksilin

Ampisiln dosisnya ialah 3,5 gram + 1 gram probenisid, dari amoksilin 3 gram + 1
gram probenisid. Angka kesembuhan di RSCM pada tahun 1987 hanya 61,4%
sehingga tidak dianjurkan. Suntikan ampisilin tidak dianjurkan. Kontraindikasinya
ialah alergi penisilin. Untuk daerah dengan Neisseria gonorrhoeae penghasil penislin
( NGPP ) yang tinggi, ampisiln dan amoksilin juga tidak dianjurkan.
11

Blok 15 Skin and Integument

Sefalosporin

Seftriakson ( generasi ke-3 ) cukup efektif dengan dosis 250 mg intramuskular.


Sefoperazon dengan dosis 0.50 sampai 1.00 g secara intramuskular. Sefiksim 400
mg per oral dosis tunggal memberi angka kesembuhan > 95%.

Spektinomisin

Dosisnya ialah 2 gram i.m. baik, untuk yang penderita alergi penisilin, yang
mengalami kegagalan pengobatan dengan penisilin, dan terhadap penderita yang
juga tersangka menderita sifilis karena obat ini tidak menutupi gejala sifilis.

Kanamisin

Dosisnya 2 gram i.m. Angka kesembuhan di RSCM pada tahun 1985 ialah 85%.
Baik untuk penderita yang alergi penisilin, gagal dengan pengobatan penisilin dan
tersangka sifilis.

Tiamfenikol

Dosisnya 3,5 gram, secara oral. Angka kesembuhan di bagian RSCM pada tahun
1988 ialah 97,7%. Tidak dianjurkan pemakaiannya pada kehamilan.

Kuinolon

Dari golongan kuinolon, obat yang menjadi pilihan adalah ofloksasin 400 mg,
siprofloksasin 250-500 mg, dan norfloksasin 800 mg secara oral. Angka kesembuhan
pada tahun 1992 untuk ofloksasin masih tinggi, yakni 100%. Mengingat pada
beberapa tahun terakhir ini resisten terhadap siprofloksasin dan ofloksasin semakin
tinggi, maka golongan kuinolon yang dianjurkan adalah levofloksasin 250 mg per
oral dosis tunggal.2,7

Prognosis
Dengan pengobatan antibiotik, infeksi gonore
disembuhkan.5

95 - 99% pada penderita bisa

Kesimpulan
Gonore merupakan penyakit yang mempunyai insidens yang tinggi diantara infeksi
menular seksual lainnya. Diperkirakan terdapat lebih dari 150 juta kasus gonore di dunia
12

Blok 15 Skin and Integument

setiap tahunnya, meskipun di beberapa negara cenderung menurun, namun negara lainnya
cenderung meningkat. Perbedaan ini menunjukkan bervariasinya tingkat keberhasilan sistem
dan program pengendalian IMS yang meliputi peningkatan informasi data, deteksi awal
dengan menggunakan fasilitas diagnosis yang baik, pengobatan dini dan penelusuran kontak.
Penyebab gonore adalah gonokok, gonokok termasuk golongan diplokok, bersifat Gram
negatif, terlihat diluar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas. Cepat mati
dalam keadaaan kering, tidak tahan suhu 390C, dan tidak tahan zat desinfektan. Infeksi
dimulai baik secara langsung maupun hematogen. Masa tunas gonore sangat singkat pada
pria umumnya berkisar antara 2-5 hari dan pada wanita masa tunas sulit untuk ditentukan
karena pada umumnya asimptomatik. Manifestasi klinis biasanya menimbulkan uretritis dan
tampak pula duh tubuh yang mukopurulen. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan klinis, dan laboratorium adanya uretritis, serta ditemukannya kuman penyebab.
Secara epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah obat dengan dosis tunggal
golongan penisilin kecuali gonore dengan galur Neisseria gonorrhoeae penghasil
penisilinase ( NGPP ) ini sukar diobati dengan penisilin dan derivatnya, walaupun dengan
peninggian dosis. Selain itu pentingnya edukasi dan penyuluhan kepada pasien sangat
berguna untuk menghindari bahaya IMS dan komplikasinya.

Daftar pustaka
1. Adhi Djuanda, Mochtar H, Siti Aisah dkk. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-6.
Badan penerbit FKUI. Jakarta; 2010 : 363-79.
2. Sjaiful FD, Wresti Indriatmi BM, Jubianto J. Infeksi menular seksual. Edisi ke-3. Badan
penerbit FKUI. Jakarta; 2007.
3. Josodiwondo S. Pemeriksaan bakteriologik dan serologik infeksi menular seksual.
Dalam : Infeksi menular seksual, ed 3. Jakarta : Balai penerbitan FKUI, 2007 : 2547.
4. Sherrad J. Gonorrhoeae. Med. Progress July ; 2006 : 330-333.
5. Lumintang H. Suatu tinjauan epidemiology uretritis gonore dan uretritis nongonore diRSUD Dr Soetomo Surabaya. Bandung : kumpulan makalah ilmiah KONAS PADVI
VI, 1989 : 415-20.
6. WHO. Guidelines for management of sexually transmitted infection. Geneva. 2003.
7. Pedoman penatalaksanaan infeksi menular seksual. Departemen kesehatan direktorat
jenderal pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan. 2006.

13