Anda di halaman 1dari 14

Analisa dan Penanganan Kasus Hepatitis

Jeffry Rulyanto Simamora


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta
Alamat Korespondensi :
Jeffry Rulyanto Simamora (102011414-A4), Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana, Jalan Arjuna Utara No. 6 Kebon Jeruk- Jakarta
Barat 11510
E-mail: fasterthanvelocity@yahoo.com

Pendahuluan
Hepatitis adalah penyakit yang mengganggu liver. Disebabkan oleh berbagai
faktor antra lain infeksi virus, gangguan metabolisme, konsumsi alkohol, penyakit
autoimmun, komplikasi penyakit lain, efek samping obat obatan . Karena
penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi berupa sirosis, kanker hati hingga
berujung kematian , ada baiknya kita tidak meremehkan penyakit ini. Oleh karena
itu beserta makalah ini saya membantu memberi penjelasan dan penerangan
mengenai penyakit hepatitis. 1

Anamnesis
- Keluhan utama
Kedua mata menguning sejak 2 hari yang lalu
- Keluhan Penyerta
Demam, lemas, nafsu makan menurun, mual, BAK seperti warna teh pekat
- Informasi mengenai kelainan yang dialami sekarang
Pasien belum mengobati keluhan tersebut
- Riwayat penyakit terdahulu : - Riwayat keluarga : - Riwayat pribadi : -

Pemeriksaan Fisik
Dari pemeriksaan fisik didapatkan data sebagai berikut:
Tekanan darah

: 120/70mmHg

Nadi

: 96 x/menit

Nafa

: 20 x/menit

Suhu

: 38 C

Keadaan umum

: Sclera ikterik, kulit tampak ikterik, nyeri tekan abdomen


kuadran kanan atas, hepar teraba membesar 3 jari dibawah
arcus costae, 2 jari proc. Xiphoideus, lunak dan nyeri tekan (+)

Pemeriksaan fisik yang umum dilakukan adalah inspeksi, palpasi, perkusi,


dan auskultasi. Keempat pemeriksaan fisik tersebut dilakukan pada penderita yang
mengalami gangguan pada hepar dan saluran empedu. Inspeksi untuk melihat
apakah ada kuning pada kulit atau mata, apa ada bengkak pada perut atau tungkai,
perutnya buncit atau tidak. Palpasi hati untuk merasakan apakah ada pembesaran,
atau apakah ada bagian dari abdomen yang terasa sakit ketika dipegang. Kalau
terdapat pembesaran, konsistensi hati kenyal/lunak/keras, tepi hati tajam atau
tumpul, permukaannya licin atau berbenjol-benjol. Palpasi abdomen untuk
mendeteksi limpa atau masa lain. Perkusi untuk memeriksa asites dengan
pemeriksaan gelombang cairan (shifting dullness). Auskultasi permukaan hepar
untuk mencari ada tidaknya bruits. ,2,3,4

Diagnosis
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, serta belum dilakukannya
pemeriksaan penunjang. Maka pasien belum dapat ditegakkan working diagnosa
terhadap pasien ini, sehingga kita hanya dapat menduga berdasarkan differential
diagnosa yang kita dasari lewat hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik. Berikut
pembahasan differential diagnosa yang mungkin :

1. Hepatitis akut et causa viral


Hepatitis et causa viral dapat didefinisikan sebagai suatu infeksi sistemik
yang menimbulkan peradangan dan nekrosis sel hati; yang mengakibatkan
terjadinya serangkaian kelainan klinik, biokimiawi, immunoserologik dan
morfologik. 1,5,6
Sebagai penyebabnya saat ini diketahui ada 5 jenis virus hepatotropik,
masing masing dengan ciri imunoserologik khusus dan sifat epidemiologik
yang khas.

Kelima jenis virus hepatitis tersebut adalah : 1


1. Hepatitis virus A (HAV)
2. Hepatitis virus B (HBV)
3. Hepatitis viru C (HCV:d/hposttransfuision/parenteral Non A Non B
Hepatitis)
4. Hepatitis D (HDV)
5. Hepatitis E (HEV:d/hepidemic/enteral/enterically-transmitted Non A
Non B Hepatitis)

Dari kelima virus etiologi hepatitis tersebut ada 3 virus yang dapat
menyebabkan hepatitis akut, yaitu HAV,HBV dan HEV. Berikut penjelasan
tentang ketiga etiologi hepatitis akut tersebut :

1. Hepatitis akut et causa hepatitis virus A


4

Hepatitis virus A tersebar diseluruh dunia dan merupakan 20 25%


penyebab dari hepatitis yang ditemukan secara klinis. Sangat endemis di
negara negara berkembang dan menginfeksi hampir 100% populasi
pada usia 10 tahunan. 1,6
a. Etiologi
Hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A , yang tergolong dalam
famili picorna virus, enterovirus RNA berukuran 27 nm. Penyebaran
umunya melalui kontaminasi fekal oral dan epidemi pada penyakit
yang penularannya lewat makanan dan air.
b. Epidemiologi
Penyakit ini timbul secara sporadis dan dalam bentuk epidemi. Masa
tunas antara 15 50 hari. Kelompok usia yang sering terserang adalah
umur 5 14 tahun. Prevalensi gender juga berpengaruh dimana pria
lebih banyak dibandingkan wanita dengan perbandingan 1,6:1.
Penyebaran juga berhubungan dengan kepadatan penduduk, higiene
dan sanitasi yang buruk. Dengan membaiknya higiene dan standar
hidup, prevalensi secara global cenderung menurun. 1,6
c. Manifestasi klinis
Gejala klinik cukup bervariasi, biasanya apabila tidak timbul ikterus
maka pasien tidak akan datang ke dokter. Secara umum manifestasi
yang terjadi adalah : ikterus, tidak enak badan, hilang nafsu makan,
mual, muntah dan diikuti demam selama beberapa hari.
Kadang pula timbul nyeri pada perut kanan bagian atas atau di
epigastrium. Pada periode ikterik akan dijumpai pula keluhan berupa
urin berwarna gelap dan sclera ikterik. Pada 67% kasus disertai
dengan pembesaran hati dan pada 18,8% kasus disertai pembesaran
limpa. 1,6

d. Patogenesis

e. Terapi dan pencegahan


Umumnya pasien dianjurkan untuk tirah baring sampai bebas dari
ikterus dan nilai serum transaminase mendekati normal. Dianjurkan
pula mengikuti diet rendah lemah dan tinggi karbohidrat. Pencegahan
dengan imunoprofilaksis Vaksin HAV yang dilemahkan, efektivitas
tinggi, efektivitas proteksi selama 20-50 tahun. Aman, toleransi baik. 6
Dosis dan jadwal vaksin:
- HAV >19 tahun, 2 dosis of HAVRIX (1440 unit Elisa) dengan interval 612 bulan.
6

- Anak >2 tahun, 3 dosis HAVRIX (360 unit Elisa), 0,1,dan 6-12 bulan
atau 2 dosis (720 unit Elisa), 0,6-12 bulan.
Imunoprofilaksis pasca paparan
- Keberhasilan vekasin HAV pasca paparan belum jelas
- Keberhasilan imunoglobulin sudah nyata akan tetapi tidak sempurna
Dosis dan jadwal pemberian immunoglobulin
- Dosis 0,02 ml/kg, suntikan pada daerah deltoid sesegera mungkin setelah
paparan.
f. Prognosis
Prognosis pada umumnya baik dan pasien sembuh sempurna.
Penyakit ini tidak akan berkembang menjadi kronik

2. Hepatitis akut et causa hepatitis virus B


a. Etiologi
Virus hepatitis B (HBV) merupakan virus yang bercangkang ganda
yang memiliki ukuran 42 nm. Ditularkan melalui parenteral atau lewat
dengan karier atau penderita infeksi akut, kontak seksual dan fekaloral. Penularan perinatal dari ibu kepada bayinya.
Masa inkubasi 26 160 hari dengan rata- rata 70 80 hari. 1,5,6
b. Epidemiologi
Faktor resiko bagi para dokter bedah, pekerja laboratorium, dokter
gigi, perawat dan terapis respiratorik, staf dan pasien dalam unit
hemodialisis serta onkologi.Laki-laki biseksual serta homoseksual
yang aktif dalam hubungan seksual dan para pemakai obat-obat IV
juga beresiko. 1,6
c. Manifestasi klinis
G e j a l a pr o d o m a l y a n g t i m b u l d a n d a p a t b er l a n g s u n g
s e l a ma s a t u m i n g g u s e b e l u m t i mb u l n y a i kt e r u s a d a l a h
m a l a i s e , r a s a m a l a s , a n o r e k s i a , s a k i t k e p a l a , d e ma m
d e r a j a t r e n d a h d a n t er d a p a t p e r a s a a n y a n g t i d a k ny a ma n
7

pada perut kanan atas. Pada fase ikterik nafsu makan


s u d a h m e mb a i k , k e m i h m e n j a d i l e b i h g e l a p d a n h e p a r
m e mb e s a r. 1,6
d. Patogenesis
e. Terapi dan pencegahan
Pada orang dewasa 95% kasus akan sembuh dengan sempurna yang
ditandai dengan menghilangnya HbsAg dan timbul anti Hbs. 5,6
Pencegahan : 6
Imunoprofilaksis adalah pemberian vaksin hepatitis B sebelum
paparan.
o Vaksin

rekombinan

ragi.

Mengandung

HbsAg

sebagai

imunogen
o Booster hanya untuk individu dengan imunokompromise jika
titer dibawah 10 mU/ml
Dosis dan jadwal vaksinasi HBV. Pemberian IM deltoid dosis dewasa
untuk dewasa, untuk bayi, anak sampai umur 19 tahun dengan dosis
anak (1/2 dosis dewasa), diulang pada 1, & 6 bulan kemudian.
Imunoprofilaksis pasca paparan dengan vaksin hepatitis B dan
imunoglobulin hepatitis B (HBIG). 1,4
Vaksin kombinasi dari hepatitia A & B (Twinrix-GlaxoSmithKline)
mengandung 20ug protein HbsAg (Engerix B) dan > 720 unit Elisa
hepatitis A virus yang dilemahkan (Havrix) memberikan proteksi ganda
dengan pemberian suntikan 3 kali berjarak 0,1,dan 6 bulan.

f. Prognosis
Prognosis baik, dengan pertimbangan setelah mendapat perawatan dan
terapi adekuat, keadaan umum pasien semakin membaik dan gejala
klinis semakin berkurang. 1,4

3. Hepatitis akut et causa hepatitis virus E


Hepatitis E adalah virus hepatitis (peradangan hati) yang disebabkan oleh
infeksi virus hepatitis E (HEV). HEV memiliki rute transmisi fecal-oral
(kotoran ke mulut). Infeksi dengan virus ini pertama kali
didokumentasikan pada tahun 1955 selama wabah di New Delhi, India. 1,4
a. Etiologi
Disebabkan oleh virus hepatitis E (HEV) yang merupakan virus RNA
kecil yang diameternya + 32 36 nm.Penularan virus ini melalui jalur fekaloral, kontak antara manusia dimungkinkan meskipun resikonya rendah.
Masa inkubasi 15 65 hari dengan rata rata 42 hari. Faktor resiko
perjalanan kenegara dengan insiden tinggi hepatitis E dan makan makanan,
minum minuman yang terkontaminasi. 1,4
b. Epidemiologi
Insiden hepatitis E tertinggi terdapat pada remaja dan orang dewasa
berusia antara 15 40 tahun. Meskipun anak-anak sering terkena infeksi ini
juga, namun mereka jarang menunjukkan gejala. Hepatitis E kadang-kadang
berkembang menjadi sebuah penyakit hati akut yang parah, dan fatal pada
sekitar 2% dari semua kasus. Secara klinis, penyakit ini sebanding dengan
hepatitis A, tetapi pada wanita hamil penyakit ini lebih sering parah dan
berhubungan dengan sindrom klinis yang disebut kegagalan hati fulminan.
Wanita hamil, terutama pada trimester ketiga, mengalami tingkat kematian
tinggi dari penyakit ini (sekitar 20%).1,5,
c. Manifestasi klinis
Karena munculnya penyakit ini secara tiba tiba seringkali tanpa gejala
pada anak anak . Pada orang dewasa diikuti dengan timbulnya gejala
prodromal, ikterus dan urin berwarna gelap1,5
9

d. Terapi dan pencegahan


Akan sembuh seiring berjalannya waktu, tetapi tetap perlu
diperhatikan asupan gizi dan pengurangan aktifitas pasien untuk
sementara waktu. 1
e. Prognosis
Prognosis pada umumnya baik dan pasien sembuh sempurna.

2. Hepatitis akut et causa non viral


Sebagian besar obat memasuki saluran cerna, dan hati sebagai organ diantara
permukaan absorptif dari saluran cerna dan organ target obat dimana hati
berperan penting dalam metabolisme obat. Sehingga hati rawan mengalami
cedera akibat bahan kimia terapeutik. Hepatotoksisitas imbas obat merupakan
komplikasi potensial yang hampir selalu ada pada setiap obat. Walaupun
kejadian jejas hati jarang terjadi, tapi efek yang ditimbulkan bisa fatal. 6
Sebagian besar obat bersifat lipofilik sehingga mampu menembus membran
sel intestinal. Kemudian obat di ubah menjadi hidrofilik melalui proses
biokimiawi dalam hepatosit, sehingga lebih larut air dan diekskresi dalam urin
atau empedu. Biotransformasi hepatic ini melibatkan jalur oksidatif terutama
melalui system enzim sitokrom P-450. Obat-obat yang dapat membuat
hepatitis imbas obat adalah obat tuberculosis, obat kemoterapi dan obat
antinflamasi non steroid. 6
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan keterkaitan kerusakan hati dan
pemberian obat serta, diharapkan, pemulihan setelah obat dihentikan,
dikombinasi dengan penyingkiran penyebab lain yang mungkin. Pajanan ke

10

suatu toksin atau obat harus selalu dimasukkan dalam diagnosis banding
setiap bentuk penyakit hati. 6
Gambaran klinik hepatotoksisitas imbas obat sulit dibedakan secara klinik
dengan penyakit hepatitis atau kholestatis dengan etiologi lain. Onset
umumnya cepat, malaise dan ikterus, serta dapat terjadi gagal hati akut yang
berat terutama bila pasien masih meminum obat tersebut setelah onset
hepatotoksisitas. Pada kasus ini gejala hepatitis biasanya muncul dalam
beberapa hari atau minggu sejak mulai minum obat dan mungkin terus
berkembang bahkan sesudah obat penyebab dihentikan pemakaiannya. 6

Diagnosis berdasarkan International Consensus Criteria, yaitu. 6


1

Waktu mulai dari minum dan berhentinya minum obat sampai awitan reaksi nyata
adalah sugestif (5-90 hari dari awal minum obat) atau kompatibel ( <5 hari atau
>90 hari sejak mulai minum obat dan <15 hari dari penghentian obat untuk reaksi
hepatoseluler dan <30 hari dari penghentian obat untuk reaksi kolestasis) dengan
hepatotoksisitas obat.

Perjalanan reaksi sesudah penghentian obat adalah sangat sugestif (enzim hati
turun 50% dari konsentrasi diatas batas atas normal dalam 8 hari) atau sugestif

11

(enzim hati turun 50% dalam 30 hari untuk reaksi hepatoseluler dan 180 hari untuk
reaksi kolestatik) dari reaksi obat
3

Alternatif sebab lain dari reaksi telah dieksklusi dengan pemeriksaan teliti,
termasuk biosi hati

Adanya respon positif pada paparan ulang obat yang sama paling tidak kenaikan 2
x lipat enzim hati.
Diagnosis Drug Related jika 3 kriteria pertama atau 2 dari 3 kriteria
pertama dengan paparan ulang obat positif. 6
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dikarenakan pada pasien belum dilakukan pemeriksaan penunjang , maka
untuk menegakkan diagnosis dari DD yang ada kita lakukan pemeriksaan
penunjang sebagai berikut : 6
1 Serologi untuk Diagnosa Hepatitis A
o IGM anti HAV
2 Serologi untuk Diagnosa Hepatitis B
o IGM antiHbc
o HbsAg
o HbeAg
o Igg anti HBc
o Anti HBs
3 Serologi untuk Diagnosa Hepatitis E
o Belum ada pemeriksaan serologi yang direkomendasikan
o IgM anti HEV baru dapat terdeteksi setelah lewat masa puncak
penyakit
4 Pemeriksaan penunjang lainnya
Kadar Bilirubin Direk dan Indirek
Pemeriksaan Darah Lengkap
USG
Faal Hepar
12

KESIMPULAN
Hepatitis adalah penyakit yang menyerang hati yang disebabkan oleh
virus atau obat-obatan. Penyakit ini dapat menyerang laki-laki maupun
perempuan dengan gejala-gejala klinis seperti lelah, demam, mual,
muntah, diare, mata kuning, dan lain-lain atau dapat pula penyakit ini
timbul tanpa gejala sehingga tidak terdeteksi.
Penyakit hepatitis ini merupakan penyakit yang dapat menular melalui
air liur, kontak seksual, transfusi darah, jarum suntik dan alat-alat yang
terkontaminasi oleh virus hepatitis. Penyakit ini dapat terdeteksi oleh
pemeriksaan

laboratorium

khususnya

pemeriksaan

immunologi

mencakup pemeriksaan HbsAg, HbeAg, Anti-Hbe, HbcAg, HBv-DNA.


Tidak ada terapi sfesifik untuk hepatitis akut. Tirah baring selama fase
akut dengan diet yang cukup bergizi merupakan anjuran yang lazim.
Pemberian makanan intravena mungkin perlu selama fase akut bila
pasienterus menerus muntah. Aktivitas fisik biasanya perlu dibatasi
hingga gejala-gejala mereda dan tes fungsi hati kembali normal.
Daftar Pustaka
1 Sulaiman A, dkk. Gastroenterologi Hepatologi.Jakarta:CV Sagung Seto,
1990.h.241-4
2 Welsby PD, Qlintang S. Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis. Jakarta:
EGC, 2009.h.92-2
3 Hartono A. Pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan bates. Ed.8. Jakarta:
EGC, 2009.h. 344-3

13

4 Wahab AS, Sugiarto. Buku ajar pediatri rudolph. Ed.20. Jakarta: EGC,
2006.h.1246
5 Staff Pengajar Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Jilid Ke-1. Jakarta: Binaputra
Aksara Publisher, 2002.h.25-7, 644-52, 708-13.
6 Pringgutumo S, Himawan S, Tjarta A. Buku ajar patologi I (umum). Edisi
Ke-1. Jakarta: Sagung Seto. 2003.h.129-34
7 Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid
pertama. Edisi ke-5. Jakarta: Interna Publishing, 2009.h.708-2; 668-5; 718-2

14