Anda di halaman 1dari 15

Penanganan dan Tinjauan Klinis Pada Bells Palsy

Jeffry Rulyanto Simamora


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta
Alamat Korespondensi :
Jeffry Rulyanto Simamora (102011414), Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen
Krida Wacana, Jalan Arjuna Utara No. 6 Kebon Jeruk- Jakarta Barat 11510
E-mail: fasterthanvelocity@yahoo.com

PENDAHULUAN

Bells palsy adalah kelumpuhan wajah sebelah yang timbul mendadak akibat lesi saraf
fasialis, dan mengakibatkan distorsi wajah yang khas. Dengan kata lain bells palsy
merupakan suatu kelainan pada saraf wajah yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan
tiba-tiba pada otot di satu sisi wajah. Adalah Sir Charles Bell seorang ilmuan dari Skotlandia
yang pertama kali menemukan penyakit ini pada abad ke-19.
Pengamatan klinik, pemeriksaan neurologik, laboratorium dan patologi anatomi
menunjukkan bahwa bell's palsy bukan penyakit tersendiri tetapi berhubungan erat dengan
banyak faktor dan sering merupakan gejala penyakit lain. Penyakit ini lebih sering ditemukan
pada usia dewasa, jarang pada anak di bawah umur 2 tahun. Biasanya didahului oleh infeksi
saluran nafas bagian atas yang erat hubungannya dengan cuaca dingin.

Banyak orang mengira bahwa bells palsy merupakan stroke, tetapi pada hakikatnya bells
palsy berbeda dengan serangan stroke. Yang menjadi pembeda paling mendasar adalah pada
bells palsy tidak disertai dengan kelemahan pada anggota gerak. Hal ini disebabkan oleh
letak kerusakan saraf yang berbeda. Pada serangan stroke saraf yang rusak adalah pada saraf
otak yang mengatur pergerakan salah satu sisi tubuh, termasuk wajah. Sedangkan pada kasus
bells palsy, kerusakan yang terjadi langsung pada saraf yang mengurus persarafan wajah.
BAB II
ISI
2.1 ANAMNESIS
Pasien mengeluh keluhan-keluhan khas pada bells palsy, seperti kelemahan atau
paralisis komplit pada seluruh otot wajah sesisi wajah sehingga pasien merasa
wajahnya perot. Selain itu makanan dan air liurdapat terkumpul pada sisiyang
mengalami gangguan pada mulut dan dapat tumpah keluar melalui sudut mulut1.
2.2 PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik
- Lipatan wajah dan lipatan nasolabial menghilang, lipatan dahi juga menghilang
sesisi, dan sudut mulut jatuh / mulut mencong ke sisi yang sehat1.
- Kelopak mata tidak dapat menutup sempurna, jika psien diminta untuk mnutup mata
maka mata akan berputar-putar ke atas (fenomena bells)1.
- Produksi air mata berkurang, iritasi pada mata karena berkurangnya lubrikasi dan
paparan langsung1.
Untuk menilai derajat paresis netvus fasialis digunakan House Brackmann
Classification of Facial Function1, yaitu :
- Derajat 1
Fungsional normal
- Derajat 2
Angkat alis baik, menutup mata komplit, mulut sedikit asimetris.
- Derajat 3
Angkat alis sedikit, menutup mata komplit dengan usaha, mulut bergerak sedikit
lemah dengan usaha maksimal.
- Derajat 4
Tidak dapat mengangkat alis, menutup mata inkomplit dengan usaha, mulut bergerak
asimetris dengan usaha maksimal.
- Derajat 5
Tidak dapat mengangkat alis, menutup mata inkomlit dengan usaha, mulut sedikit
bergerak
- Derajat 6
Tidak bergerak sama sekali.

2.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG/LABORATORIUM


Pemeriksaan penunjang berupa pencitraan seperti MRI Kepala atau CT-Scan dan
elektrodiagnosis dengan ENMG dan uji kecepatan hantar saraf serta pemeriksaan
laboratorium. Uji ini hanya dilakukan pada kasus-kasus dimana tidak terjadi
kesembuhan sempurna atau untuk mencari etiologi parese nervus fasialis. Pemeriksaan
ENMG ini dilakukan terutama untuk menentukan prognosis1,2,3
Pada pemeriksaan laboratorium diukur Titer Lyme (IgM dan IgG), gula darah
atau hemoglobin A1C (HbA1C), pemeriksaan titer serum HSV2.
Pada pemeriksaan MRI tampak peningkatan intensitas N.VII atau di dekat ganglion
genikulatum. Sedangkan pemeriksaan CT-Scan tulang temporal dilakukan jika
memiliki riwayat trauma2,4
2.5 DIAGNOSIS DIFERENSIAL/BANDING
a) Lesi perifer
- Otitis media
Disebabkan oleh bakteri pathogen, onset perlahan, nyeri pada telinga, demam, dan
gangguan pendengaran konduktif1.
- Ramsay Hunt Syndrome
Disebabkan oleh virus Herpes Zooster. Sindroma ini terjadi ketika terjadi reaktivasi
virus varicella zooster yang latent di ganglion genikulatum N.VII. Gejala yang
muncul seperti erupsi vesikular yang nyeri pada kanalis auditorius (herpes zooster
oticus), ear-drum, pinna, lidah, atau palatum durum. Selain itu juga terdapat gejala
kelemahan wajah ipsilateral, hilangnya sensasi rasa, mulut kering, mata kering,
vertigo, tinnitus, atau ketulian1,5.
- Penyakit Lyme
Disebabkan oleh Borrelia burgdorfery, riwayat adanya tanda bercak atau nyeri
sendi, kontak di daerah endemik penyakit Lyme1.
- Polineuropati (GBS, sarkoidosis)
Disebabkan oleh proses autoimun, sering terjadi bilateral1.
- Tumor
Onset terjadi perlahan1.

b) Lesi sentral
- Multiple sklerosis
Proses demyelenasi, ditemukan defisit neurologis lain1.
- Stroke
Ditemukan defisit neurologi lain1.
- Tumor
Metastase atau primer di otak, onset kronik progresif, perubahan status mental,
adanya riwayat keganasan1.

2.6 PATOFISIOLOGIS
Bells palsy adalah penyakit idiopatik dan merupakan penyakit saraf tepi yang bersifat
akut dan mengenai nervus fasialis (N.VII) yang menginervasi seluruh otot wajah yang
menyebabkan kelemahan atau paralisis satu sisi wajah. Paralisis ini menyebabkan asimetri
wajah serta menganggu fungsi normal1,2.
Penyakit ini merupakan salah satu gangguan neurologi yang paling sering dijumpai.
Wanita muda usia 10-19 tahun lebih sering terkena dibandingkan dengan laki-l Bells palsy
adalah penyakit idiopatik dan merupakan penyakit saraf tepi yang bersifat akut dan mengenai
nervus fasialis (N.VII) yang menginervasi seluruh otot wajah yang menyebabkan kelemahan
atau paralisis satu sisi wajah. Paralisis ini menyebabkan asimetri wajah serta menganggu
fungsi normal1,2.
Penyakit ini merupakan salah satu gangguan neurologi yang paling sering dijumpai.
Wanita muda usia 10-19 tahun lebih sering terkena dibandingkan dengan laki-laki.
Sedangkan wanita hamil memilki resiko 3,3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita
yang tidak hamil2.

Gambar 1 : Distribusi perifer N.VII pada otot-otot wajah dan representasi diagram pada
bagian proximal N.VII didalam petrous temporal bone3

Nervus fasialis merupakan saraf motoris dengan sedikit komponen saraf sensoris (N.
Intermedius of Wrisberg) yang menyampaikan sensasi rasa dari dua pertiga anterior lidah
lewat nervus lingualis dan chorda tympani. Nukleus motoris nervus fasialis terletak diantara
anterior dan lateral dari nukleus abdusen dan serabut intrapontine mengait disekitar nukleus
abdusen sebelum muncul melalui pons. Nervus fasialis akan melintang melewati kanalis
auditori internal bersamaan dengan nervus akustikus. Setelah memasuki kanal, nervus fasialis
akan menikung tajam kedepan kemudian kebawah disekitar batas vestibulum telinga dalam
untuk keluar melalui foramen stylomastoid. Dari foramen stylomastoid, mereka membagi
canalis fasialis menjadi segmen labyrinthine, tympanic, dan mastoid. Segmen labyrinthine
(bagian proximal) memanjang dari fundus kanalis auditori internal menuju ganglion
genikulatum (dengan panjang 3-5 mm). Pada pintu masuk tersebut terdapat bagian tersempit
dari kanalis fasialis yang mungkin merupakan lokus minorus (lokasi yang paling rentan
mengalami kerusakan) bells palsy4.

Gambar 2 : Cabang Saraf Fasialis (N.VII)5


Penyebab pasti Bells palsy masih belum diketahui. Tetapi penyakit ini dianggap
memiliki hubungan dengan virus, bakteri, dan autoimun. Bells palsy meliputi inflamasi saraf
atau blokade sinyal muscular dari HSV 1 lewat karier yang belum diketahui,
ketidakseimbangan imunitas (stress, HIV/AIDS, trauma) atau apapun yang secara langsung
maupun tidak langsung menekan sistem imun (seperti infeksi bakteri pada Lyme disease dan
otitis media, atau trauma, tumor, dan kelainan kongenital), serta apapun yang dapat
5

menyebabkan inflamasi dan edema nervus fasialis (N.VII) dapat memicu terjadinya bells
palsy6.
Tabel 1 : Etiologi Bells Palsy yang dapat diidektifikasi4

Terdapat beberapa teori yang telah dikemukakan, yaitu teori iskemik vaskuler dan teori
infeksi virus1.
1. Teori iskemik vaskuler
Teori ini dikemukakan oleh Mc Groven pada tahun 1955 yang menyatakan bahwa
adanya ketidakstabilan otonomik dengan respon simpatis yang berlebihan. Hal ini
menyebabkan spasme pada arteriol dan stasis pada vena di bagian bawah kanalis spinalis.
Vasospasme ini menyebabkan iskemik dan terjadinya oedem. Hasilnya adalah paralisis
flaksid perifer dari semua otot yang melayani ekspresi wajah1,7.
2. Teori infeksi virus
Teori ini menyatakan bahwa beberapa penyebab infeksi yang dapat ditemukan pada
kasus paralisis saraf fasialis adalah otitis media, meningitis bakteri, penyakit lime, infeksi
HIV, dan lainnya. Pada tahun 1972 McCromick menyebutkan bahwa pada fase laten HSV
tipe 1 pada ganglion genikulatum dapat mengalami reaktivasi saat daya tahan tubuh menurun.
Adanya reaktivasi infeksi ini menyebabkan terjadinya reaksi inflamasi dan edema saraf
fasialis, sehingga saraf terjepit dan terjadi kematian sel saraf karena saraf tidak mendapatkan
6

suplai oksigen yang cukup. Pada beberapa kasus yang ringan hanya terdapat kerusakan
selubung myelin saraf1,8.
3. Teori kombinasi
Teori ini dikemukakan oleh Zalvan yang menyatakan bahwa kemungkinan Bells palsy
disebabkan oleh suatu infeksi atau reaktivasi virus Herpes Simpleks dan merupakan reaksi
imunologis sekunder atau karena proses vaskuler sehingga menyebabkan inflamasi dan
penekanan saraf perifer ipsilateral1.
Bells palsy dapat disebabkan oleh beberapa hal lainnya seperti iklim atau faktor
meteorologi seperti suhu, kelembaban, dan tekanan barometrik. Beberapa studi menyebutkan
bahwa pasien sebelumnya merasakan wajahnya dingin atau terkena dingin sebelum onset
bells palsy muncul. Suhu dingin di salah satu bagian wajah dapat menyebabkan iritasi nervus
fasialis (N.VII). Data eksperimental yang paling mendukung dalam patofisiologi penyakit ini
adalah hipotesis suhu rendah. Selain itu reaktivasi HSV yang merupakan salah satu teori
terjadinya bells palsy juga berhubungan dengan perbedaan iklim antar negara dan polusi dari
atmosfer. Selain itu stress, kehamilan, diabetes juga dapat memicu munculnya bells palsy6,9.
aki. Sedangkan wanita hamil memilki resiko 3,3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan
wanita yang tidak hamil2.

Gambar 1 : Distribusi perifer N.VII pada otot-otot wajah dan representasi diagram pada
bagian proximal N.VII didalam petrous temporal bone3

Nervus fasialis merupakan saraf motoris dengan sedikit komponen saraf sensoris (N.
Intermedius of Wrisberg) yang menyampaikan sensasi rasa dari dua pertiga anterior lidah
lewat nervus lingualis dan chorda tympani. Nukleus motoris nervus fasialis terletak diantara
anterior dan lateral dari nukleus abdusen dan serabut intrapontine mengait disekitar nukleus
abdusen sebelum muncul melalui pons. Nervus fasialis akan melintang melewati kanalis
auditori internal bersamaan dengan nervus akustikus. Setelah memasuki kanal, nervus fasialis
akan menikung tajam kedepan kemudian kebawah disekitar batas vestibulum telinga dalam
untuk keluar melalui foramen stylomastoid. Dari foramen stylomastoid, mereka membagi
canalis fasialis menjadi segmen labyrinthine, tympanic, dan mastoid. Segmen labyrinthine
(bagian proximal) memanjang dari fundus kanalis auditori internal menuju ganglion
genikulatum (dengan panjang 3-5 mm). Pada pintu masuk tersebut terdapat bagian tersempit
dari kanalis fasialis yang mungkin merupakan lokus minorus (lokasi yang paling rentan
mengalami kerusakan) bells palsy4.

Gambar 2 : Cabang Saraf Fasialis (N.VII)5


Penyebab pasti Bells palsy masih belum diketahui. Tetapi penyakit ini dianggap
memiliki hubungan dengan virus, bakteri, dan autoimun. Bells palsy meliputi inflamasi saraf
atau blokade sinyal muscular dari HSV 1 lewat karier yang belum diketahui,
ketidakseimbangan imunitas (stress, HIV/AIDS, trauma) atau apapun yang secara langsung
maupun tidak langsung menekan sistem imun (seperti infeksi bakteri pada Lyme disease dan
otitis media, atau trauma, tumor, dan kelainan kongenital), serta apapun yang dapat
8

menyebabkan inflamasi dan edema nervus fasialis (N.VII) dapat memicu terjadinya bells
palsy6.
Tabel 1 : Etiologi Bells Palsy yang dapat diidektifikasi4

Terdapat beberapa teori yang telah dikemukakan, yaitu teori iskemik vaskuler dan teori
infeksi virus1.
4. Teori iskemik vaskuler
Teori ini dikemukakan oleh Mc Groven pada tahun 1955 yang menyatakan bahwa adanya
ketidakstabilan otonomik dengan respon simpatis yang berlebihan. Hal ini menyebabkan
spasme pada arteriol dan stasis pada vena di bagian bawah kanalis spinalis. Vasospasme
ini menyebabkan iskemik dan terjadinya oedem. Hasilnya adalah paralisis flaksid perifer
dari semua otot yang melayani ekspresi wajah1,7.
5. Teori infeksi virus
Teori ini menyatakan bahwa beberapa penyebab infeksi yang dapat ditemukan pada kasus
paralisis saraf fasialis adalah otitis media, meningitis bakteri, penyakit lime, infeksi HIV,
dan lainnya. Pada tahun 1972 McCromick menyebutkan bahwa pada fase laten HSV tipe 1
pada ganglion genikulatum dapat mengalami reaktivasi saat daya tahan tubuh menurun.
Adanya reaktivasi infeksi ini menyebabkan terjadinya reaksi inflamasi dan edema saraf
fasialis, sehingga saraf terjepit dan terjadi kematian sel saraf karena saraf tidak
mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Pada beberapa kasus yang ringan hanya terdapat
kerusakan selubung myelin saraf1,8.
9

6. Teori kombinasi
Teori ini dikemukakan oleh Zalvan yang menyatakan bahwa kemungkinan Bells palsy
disebabkan oleh suatu infeksi atau reaktivasi virus Herpes Simpleks dan merupakan reaksi
imunologis sekunder atau karena proses vaskuler sehingga menyebabkan inflamasi dan
penekanan saraf perifer ipsilateral1.
Bells palsy dapat disebabkan oleh beberapa hal lainnya seperti iklim atau faktor
meteorologi seperti suhu, kelembaban, dan tekanan barometrik. Beberapa studi menyebutkan
bahwa pasien sebelumnya merasakan wajahnya dingin atau terkena dingin sebelum onset
bells palsy muncul. Suhu dingin di salah satu bagian wajah dapat menyebabkan iritasi nervus
fasialis (N.VII). Data eksperimental yang paling mendukung dalam patofisiologi penyakit ini
adalah hipotesis suhu rendah. Selain itu reaktivasi HSV yang merupakan salah satu teori
terjadinya bells palsy juga berhubungan dengan perbedaan iklim antar negara dan polusi dari
atmosfer. Selain itu stress, kehamilan, diabetes juga dapat memicu munculnya bells palsy6,9.

2.7 GAMBARAN KLINIK


Tanda
- Saat pasien diminta untuk mengerutkan dahi bagian yang mengalami parese tidak
dapat mengerutkan dahi10.
- Saat pasien diminta untuk menutup mata dengan kuat bagian yang mengalami
parese tidak dapat menutup mata dengan kuat10.
- Saat pasien diminta untuk meringis / tersenyum sudut mulut yang mengalami
parese akan terkulai10.
Gejala
- Gejala utama yang terjadi tiba-tiba. Biasanya onsetnya terjadi malam hari atau
setelah bangun dari tidur malam dengan kelemahan wajah unilateral komplit selama
24-72 jam5.
- Gejalanya meliputi kelemahan pada satu sisi wajah. Sudut mulut yang terkulai, mata
yang tidak dapat menutup kuat (lagophtalmus), tidak dapat mengerutkan dahi,
terdapat tanda bell (bola mata berputar keatas)5,10.
- Gejala lain dapat berupa tebal wajah ipsilateral, telingan terasa sakit, hilangnya rasa
pada bagian lidah (ageusia), hipersensitivitas terhadap suara atau suara terdengar
keras (hiperakusis karena stapedius palsy), dan kesulitan makan5,10.
- Patologi atau gejala lain bisa berupa gejala bilateral, adanya tanda-tanda UMN,
neuropati saraf cranial lainnya (N.V atau N.XII, tapi hanya terdapat pada 8% kasus
idiopatik), kelemahan ekstremitas, dan ruam5.

Tabel 2 : Manifestasi Klinis Bells palsy2


Gejala pada sisi wajah ipsilateral
- Kelemahan otot wajah ipsilateral
- Kerutan dahi menghilang ipsilateral
10

Tampak seperti orang letih


Tidak mampu atau sulit mengedipkan
mata
- Hidung terasa kaku
- Sulit berbicara
- Sulit makan dan minum
- Sensitif terhadap suara (hiperakusis)
- Salivasi yang berlebihan atau berkurang
- Pembengkakan wajah
- Berkurang atau hilangnya rasa kecap
- Nyeri di dalam atau disekitar telinga
- Air liur sering keluar
Gejala pada mata ipsilateral
- Sulit atau tidak mampu menutup mata
ipsilateral
- Air mata berkurang
- Alis mata jatuh
- Kelopak mata bawah jatuh
- Sensitif terhadap cahaya
Residual
- Mata terlihat lebih kecil
- Kedipan mata jarang atau tidak sempurna
- Senyum yang asimetri
- Spasme hemifasial pascaparalitik
- Otot hipertonik
- Sinkinesia
- Berkeringat saat makan atau saat
beraktivitas
- Otot menjadi lebih flaksid jika lelah
- Otot menjadi kaku saat letih atau
kedinginan
Pada kasus bells palsy gejala dapat bervariasi dari yang ringan, tidak jelas, hingga cukup
jelas8.

2.8 EPIDEMIOLOGI
Bells palsy menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis fasial akut.
Di dunia, insiden tertinggi ditemukan di Seckori, Jepang tahun 1986 dan insiden terendah
ditemikan di Swedia tahun 1997. Di Amerika Serikat, insiden Bells palsy setiap tahun sekitar
23 kasus per 100.000 orang, 63% mengenai wajah sisi kanan. Insiden Bells palsy rata-rata
15-30 kasus per 100.000 populasi. Penderita diabetes mempunyai resiko 29% lebih tinggi,
dibanding non-diabetes. Bells palsy mengenai laki-laki dan wanita dengan perbandingan
yang sama. 2
11

Akan tetapi, wanita muda yang berumur 10-19 tahun lebih rentan terkena daripada
laki-laki pada kelompok umur yang sama. Penyakit ini dapat mengenai semua umur, namun
lebih sering terjadi pada umur 15-50 tahun.
Pada kehamilan trisemester ketiga dan 2 minggu pasca persalinan kemungkinan
timbulnya Bells palsy lebih tinggi daripada wanita tidak hamil, bahkan bisa mencapai 10 kali
lipat,1,2,3

2.9 PROGNOSIS
Walaupun tanpa diberikan terapi, pasien Bells palsy cenderung memiliki prognosis
yang baik. Dalam sebuah penelitian pada 1.011 penderita Bells palsy, 85% memperlihatkan
tanda-tanda perbaikan pada minggu ketiga setelah onset penyakit. 15% kesembuhan terjadi
pada 3-6 bulan kemudian. 7,8,9
Sepertiga dari penderita Bells palsy dapat sembuh seperti sedia kala tanpa gejala sisa.
1/3 lainnya dapat sembuh tetapi dengan elastisitas otot yang tidak berfungsi dengan baik.
Penderita seperti ini tidak memiliki kelainan yang nyata.
Penderita Bells palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa.. Faktor
resiko yang memperburuk prognosis Bells palsy adalah:
(1) Usia di atas 60 tahun
(2) Paralisis komplit
(3) Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran saliva pada sisi yang lumpuh,
(4) Nyeri pada bagian belakang telinga dan
(5) Berkurangnya air mata.
Pada penderita kelumpuhan nervus fasialis perifer tidak boleh dilupakan untuk
mengadakan pemeriksaan neurologis dengan teliti untuk mencari gejala neurologis lain.
Pada umumnya prognosis Bells palsy baik: sekitar 80-90 % penderita sembuh dalam
waktu 6 minggu sampai tiga bulan tanpa ada kecacatan. Penderita yang berumur 60 tahun
atau lebih, mempunyai peluang 40% sembuh total dan beresiko tinggi meninggalkan gejala
sisa. Penderita yang berusia 30 tahun atau kurang, hanya punya perbedaan peluang 10-15
persen antara sembuh total dengan meninggalkan gejala sisa. Jika tidak sembuh dalam waktu
4 bulan, maka penderita cenderung meninggalkan gejala sisa, yaitu sinkinesis, crocodile tears
dan kadang spasme hemifasial.
Penderita diabetes 30% lebih sering sembuh secara parsial dibanding penderita
nondiabetik dan penderita DM lebih sering kambuh dibanding yang non DM. Hanya 23 %
kasus Bells palsy yang mengenai kedua sisi wajah. Bells palsy kambuh pada 10-15 %
12

penderita. Sekitar 30 % penderita yang kambuh ipsilateral menderita tumor N. VII atau tumor
kelenjar parotis. 6,7

2.10 PENATALAKSANAAN
a)
Medikamentosa 2,4,5
Untuk menghilangkan penekanan, menurunkan edema akson dan kerusakan N.VII dapat
diberikan prednison (kortikosteroid) dan antiviral sesegera mungkin. Window of opportunity
untuk memulai pengobatan adalan 7 hari setelah onset. Prednison dapat diberikan jika
muncul tanda-tanda radang. Selain itu dapat pula diberi obat untuk menghilangkan nyeri
seperti gabapentin2.
Kortikosteroid
Prednison 1 mg/kgBB/hari selama 5 hari kemudian diturunkan bertahap 10 mg/hari dan
berhenti selama 10-14 hari1.

Tabel 3 : Dosis Prednison2


Dosis dewasa 1 mg/kg atau 60 mg PO qd selama 7 hari diikuti tappering off dengan total
pemakaian 10 hari.
Dosis Anak 1 mg/kg PO qd selama 6 hari diikuti tappering off dengan total pemakaian 10
hari.
KontraindikasiHipersensitivitas, diabetes berat yang tak terkontrol, infeksi jamur, ulkus
peptikum, TBC, osteoporosis.
Obat-obat antiviral
Acyclovir 400 mg dapat diberikan 5 kali perhari selama 7 hari, atau 1000 mg/hari selama 5
hari sampai 2400 mg/hari selama 10 hari. Dapat juga menggunakan Valactclovir 1 gram yang
diberikan 3 kali selama 7 hari1.

Nama Obat Asikovir, obat antiviral yang menghambat kerja HSV-1. HSV-2, dan VZV
Dosis dewasa 400 mg PO 5 kali/hari selama 10 hari.
Dosis Anak <2 tahun : belum dipastikan
>2 tahun : 20 mg/kg PO selama
10 hari
KontraindikasiHipersensitif, penderita gagal ginjal
Vitamin B
Preparat aktif B12 (Metilkobalamin) berperan sebagai kofaktor dalam proses remielenasi,
dengan dosis 3x500 g/hari1.
13

b)
Non-medikamentosa 8,10
Tindakan fisioterapi seperti terapi panas superfisial, elektroterapi menggunakan arus
listrik1.
Perawatan mata
Pemberian air mata buatan, lubrikan, dan pelindung mata. Pemakaian kacamata dengan lensa
berwarna atau kacamata hitam kadang diperlukan untuk menjaga mata tetap lembab saat
bekerja1,2.
Latihan dan pemijatan wajah disertai kompres panas1,2.
Istirahat2
Pembedahan
Jika sudah terjadi ectropion yang parah dapat dilakukan lateral tarsorrhaphy5.

2.11 PENCEGAHAN
Agar Bell's Palsy tidak mengenai kita, cara-cara yang bisa ditempuh adalah : 7,8
1. Jika berkendaraan motor, gunakan helm penutup wajah full untuk mencegah angin
mengenai wajah.
2. Jika tidur menggunakan kipas angin, jangan biarkan kipas angin menerpa wajah langsung.
Arahkan kipas angin itu ke arah lain. Jika kipas angin terpasang di langit-langit, jangan tidur
tepat di bawahnya. Dan selalu gunakan kecepatan rendah saat pengoperasian kipas.
3. Kalau sering lembur hingga malam, jangan mandi air dingin di malam hari. Selain tidak
bagus untuk jantung, juga tidak baik untuk kulit dan syaraf.
4. Bagi penggemar naik gunung, gunakan penutup wajah / masker dan pelindung mata. Suhu
rendah, angin kencang, dan tekanan atmosfir yang rendah berpotensi tinggi menyebabkan
Anda menderita Bell's Palsy.
5. Setelah berolah raga berat, jangan langsung mandi atau mencuci wajah dengan air dingin.
6. Saat menjalankan pengobatan, jangan membiarkan wajah terkena angin langsung. Tutupi
wajah dengan kain atau penutup.

3.KESIMPULAN
Bells palsy adalah penyakit idiopatik dan merupakan penyakit saraf tepi yang bersifat
akut dan mengenai nervus fasialis (N.VII) yang menginervasi seluruh otot wajah yang
menyebabkan kelemahan atau paralisis satu sisi wajah. Paralisis ini menyebabkan asimetri
wajah serta menganggu fungsi normal.
Bells palsy merupakan salah satu gangguan neurologi yang paling sering dijumpai.
Wanita muda usia 10-19 tahun lebih sering terkena dibandingkan dengan laki-laki.
Sedangkan wanita hamil memilki resiko 3,3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita
yang tidak hamil.
Penyebab pasti Bells palsy masih belum diketahui. Tetapi penyakit ini dianggap
memiliki hubungan dengan virus, bakteri, dan autoimun. Bells palsy meliputi inflamasi saraf
14

atau blokade sinyal muscular dari HSV 1 lewat karier yang belum diketahui,
ketidakseimbangan imunitas (stress, HIV/AIDS, trauma) atau apapun yang secara langsung
maupun tidak langsung menekan sistem imun (seperti infeksi bakteri pada Lyme disease dan
otitis media, atau trauma, tumor, dan kelainan kongenital), serta apapun yang dapat
menyebabkan inflamasi dan edema nervus fasialis (N.VII) dapat memicu terjadinya bells
palsy.

DAFTAR PUSTAKA
1) Dalhar, M. dan Kurniawan, S.N. 2010. Pedoman Diagnosis dan Terapi Staf Medis Fungsional
Neurologi. Malang : RSUD Dr.Saiful Anwar/FKUB
2) Dewanto, G dkk. 2009. Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Saraf. Jakarta : penerbit Buku
Kedokteran EGC
3) Walkinson, L dan lennox, G. 2005. Essential Neurology Forth Edition. Massachusetts : Blackwell
Publishing
4) Roob, G dkk. 1999. Peripheral Facial Palsy : Etilogy, diagnosis, and treatment. European
Neurology 41:3-9. Austria : Department of Neurology, Karl Franzens University
5) Longmore, M dkk. 2010. Oxford Handbook of Clinical Medicine Eight Edition. New York : Oxford
University Press
6) Englebright,
S.

2002.

Bell's

Palsy-Idiopathic

Facial

Nerve

Paralysis.

http://abel.hive.no/oj/musikk/trompet/tpin/Bells_Palsy_Info.html
7) Duus, P. 1996. Diagnosis Topik Neurologi : Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC
8) Empi/VitalStim. 2009. Guidance from the literature: Bells Palsy. DJO Company
9) Danielides, V dkk. 2001. Research article : Weather conditions and Bell's palsy: five-year study
and review of the literature. BioMed Central
10) Murtagh, J. 2010. Bells Palsy. Australia : Australian Doctor

15