Anda di halaman 1dari 2

KOMUNIKASI DOKTER DENGAN APOTEKER

PROLOG

Pada suatu sore menjelang malam, datang seorang pasien yang bernama Ny.tuti ke
Apotek ARTERI MEDIKA. Dia menyerahkan resep kepada Apoteker yang bertugas saat itu.
Setelah dilakukan Skrining resep, terdapat permasalahan yang mengharuskan apoteker
mengklarifikasi kepada dokter yang bersangkutan.
KONSULTASI APOTEKER DAN DOKTER
(Apoteker menelpon dokter)
Apoteker

: Halo .. Selamat Sore.


Apa benar ini tempat Praktek dr Laksana Mada Sp.D. ?

Dokter

: Ya, Benar

Apoteker

: Bisa saya bicara dengan dokter Laksana Mada Sp.D ?

Dokter

: Ya, Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?

Apoteker

: Perkenalkan dokter, nama saya Putri Asia Nesia.

Apoteker dari apotek

ARTERI MEDIKA. Maaf dokter, apa benar Ny.Tuti salah satu Pasien dokter ?
Dokter

: Sebentar saya cek dulu. (dokter mengecek catatan)


Oooh iya iya benar benar. Ny. Tuti. Itu pasien saya tadi pagi. Ada apa ya? Ada
yang bisa saya bantu?

Apoteker

: Maaf sebelumnya dokter. Dari resep ini saya ingin mengkonfirmasi obat yang
telah dokter resepkan kepada Ny.Tuti.

Dokter

: Silahkan. Langsung saja.

Apoteker

: Begini, obat yang dokter resepkan, ada 3 jenis yaitu Isoniazid, Etambutol dan
Rifampisin masing-masing diminum 2 kali sehari, serta pasien ini juga
mengkonsumsi kontrasepsi oral berupa pil KB.

Dokter

: Terus, ada apa dengan obatnya ?

Apoteker

: Dokter, Penggunaan Rifampisin dan kontrasepi oral jika dikonsumsi secara


bersamaan dapat menyebabkan penurunan efek dari kontrsepsi oral tersebut,
sehinga dikhawatirkan terjadi kegagalan terapi kontrasepsi oral..

Dokter

: Oh, iya ..terus saran dari anda bagaimana?

Apoteker

: Saran saya, sebaik nya penggunaan kontrasepsi oral ini diganti dengan
kontrasepsi non-hormonal. Seperti metode lendir serviks, pantauan berkala,
senggama terputus, kontrasepsi barier dan spiral.

Dokter

: Ohh ya sudah mbak, silahkan anda konfirmaikan saja dengan pasien nya, pilihan
mana yang disetujui oleh pasien, masalah perubahan disesuaiakan saja dengan
kenyamanan pasien.

Apoteker

:Oh iya dokter, ada lagi yang ingin saya konfirmasikan mengenai aturan pakai
untuk ketiga obat dan jumlah pengambilan untuk Ethambutol. Untuk aturan pakai
yang terdapat dalam resep ini kurang sesuai dengan standar WHO pada terapi
TBC. Bagaimana kalau kita sesuaikan saja.

Dokter

: Emmmm. Baik lah. Kalau memang standar WHO mengatakan seperti itu, kamu
sesuaikan saja. Bagaimana dengan Ethambutol nya?

Apoteker

: Untuk Ethambutol yang dokter resepkan pengabilannya hanya cukup untuk 15


hari sedangkan Ethambutol sendiri dikonsumsi dua tablet sehari, jadi jumlah
pengambilannya terdapat kekurangan untuk itu saya menyarankan adanya
penambahan jumlah pengambilan agar cukup untuk satu bulan.

Dokter

: Oh iya, berarti kamu tambah jadi 60 tablet.

Apoteker

: Baiklah saya akan membacakan kembali resep yang telah diubah.


Rifampicin diminum 1 kali sehari 1 tablet no. XXX
Ethambutol diminum 1 kali sehari 2 tablet no. LI
INH diminum 1 kali sehari 1 tablet no. XXX

Dokter

: Yaaa.. saya kira itu sudah benar. Bagus bagus.

Apoteker

: Iya. Terimakasih atas waku dan kerjasamanya dokter.

Dokter

: Yaaa sama-sama.