Anda di halaman 1dari 604

Sungai es di puncak gunung laksana Thianho*) yang nyungsang.

Dengarlah 'tu kepingan


es mengalir dengan bersuara perlahan sekali, Ibarat suara tetabuhan yang dipentil
dengan jeriji si gadis jelita,
Si nona tanya pada sang pengembara: Berapa gunung es lagi yang harus kau daki?
Berapa topan lagi harus kau lewati? Pengembara!
Sang elang di atas padang rumput pun tak dapat terbang terus-terusan. Tapi kau jalan,
jalan terus, jalan terus,
Sampai tahun apa, bulan apa, barulah kalian mau turun dari kuda?
Nona, terima kasih atas kebaikanmu.
Tapi kami tak dapat menjawab pertanyaanmu.
Apakah kau pernah melihat bunga di padang pasir?
Apakah kau pernah melihat gunung es menjadi lumer?
Kau belum pernah lihat? Belum pernah!
Maka itu, kami pengembara.
Juga tak akan berhenti jalan selama-lamanya.
*) Thianho, Bima Sakti atau Milky Way adalah sehelai sinar terang di waktu malam yang
membentang di langit, terdiri dari rangkaian bintang-bintang. Sungai es yang mengalir
dari atas puncak gunung ke bawah diibaratkan Thianho yang membentang nyungsang.
Itulah suara nyanyian, diseling dengan klenengan kuda, yang pada suatu hari dapat
didengar di padang rumput perbatasan Tibet. Nyanyian itu keluar dari mulutnya
pengembara yang sedang lewat di padang rumput tersebut. Pegunungan Himalaya yang
berentet-rentet, puncak-puncak gunung yang tertutup es dan menjulang tinggi sehingga
menembus awan seperti juga sedang mendengari nyanyian itu yang menyedihkan hati.
Dan tanpa diketahui oleh sang penyanyi, satu pemuda bangsa Han turut pasang
kupingnya. Air mata berlinang di kedua matanya. Ia menghela napas panjang dan berkata
seorang diri: "Aku dan kalian tak ada bedanya. Kalian mengembara ke ujung langit, aku
pun tak tahu kapan bisa dapat pulang ke kampung kelahiranku."
Pemuda itu she Tan, bernama Thian Oe, kelahiran Souwtjiu, daerah Kanglam. Ayahnya,
Tan Teng Kie, dahulu pegang pangkat di kota raja, tapi lantaran ia berani ajukan
pengaduan yang menyerang Ho Kun, satu menteri busuk yang sangat disayang oleh
Kaizar Kian Liong, ia dikirim ke Tibet (Seetjong) sebagai Amban1) (Soanwiesoe) pada
sekte Sakya. Sedari waktu itu sampai sekarang, delapan tahun sudah lewat. Waktu
datang di Tibet, Thian Oe masih anak-anak berusia sepuluh tahun, sekarang ia sudah jadi
pemuda 18 tahun.
Berada jauh di tempat orang, hatinya Thian Oe sangat rindukan kampung halamannya,
terutama lantaran ayahnya hampir saban hari ceritakan keindahannya Kanglam yang
permai.
Jumlahnya pengembara itu ada belasan orang, antaranya terdapat orang Tibet, Uighur
dan dua orang Han. Rupanya mereka bertemu di tengah jalan dan lalu membentuk satu
rombongan penjual suara yang berkelana ke sana-sini. Kedua matanya Thian Oe yang
mengikuti mereka mendadak terpaku kepada satu gadis dari suku Tsang yang memakai

pakaian serba putih. Berjalan di antara kawan-kawannya, gadis itu adalah laksana burung
ho di antara kawanan ayam. Lain orang menyanyi, ia sendiri tutup mulut rapat-rapat,
sedang kedua matanya yang bersinar terang mengawasi langit dan awan tanpa berkesip.
Duduk di atas sela, ia seperti juga tidak dengar suara kawan-kawannya, seperti sedang
memikir sesuatu. Kalau bukan biji matanya masih bergerakgerak, Thian Oe bisa salah
mata dan menduga ia sebagai patung di atas kuda.
Selagi mengimplang seperti orang kehilangan semangat, tiba-tiba terdengar suara burung
gagak di tengah udara. Thian Oe dongak dan mendadak dengar suara menjepratnya tali
gendewa dan sebatang anak panah, yang dilepaskan oleh salah satu orang Han,
menyambar ke arah ia. Dari mendesingnya sang anak panah yang menusuk telinga, ia
tahu bahwa orang yang melepaskan mempunyai tenaga dalam yang sangat kuat.
Thian Oe kelit sembari angkat tangannya yang tepat menangkap buntut anak panah. Baru
mau membentak, ia kembali dengar suara menjeprat dan sang gagak jatuh terguling
sembari berteriak keras.
Dengan tangan mencekal gendewa, orang itu memberi hormat kepada Thian Oe dan
berkata: "Lantaran jengkel mendengar suara gagak, aku jadi panah padanya. Cuma
menyesal, sebab kepandaianku belum sempurna, aku jadi membikin kongtjoe mendapat
kaget."
Thian Oe keluarkan suara di hidung dan berkata dengan berdongkol: "Jika aku tidak
mengerti ilmu menangkap anak panah, apakah aku sekarang masih bisa bicara dengan
kau? Kenapa kau memanah secara begitu?"
"Harap kongtjoe perhatikan anak panahku," kata orang itu sembari tertawa. "Anak panah
itu tidak bisa mencelakakan orang!
Aku sebenarnya mau panah gagak, tapi sebab kepandaianku belum cukup, maka aku
membikin kongtjoe jadi salah mengerti."
Tan Thian Oe periksa anak panah itu, yang ternyata benar tidak ada tajamnya. Orang itu
cabut sebatang anak panah yang ada tajamnya dan berkata: "Ini barulah anak panah
yang dapat mencelakakan orang."
Ia lantas pentang gendewanya dan memanah ke udara. Selagi anak panah itu jatuh ke
bawah, ia susul dengan lain anak panah yang secara tepat sekali ujungnya kebentrok
dengan ujung anak panah pertama, sehingga lelatu api kelihatan muncrat di udara dan
kedua anak panah jatuh berbareng ke muka bumi. Orang itu tertawa berkakakan dan
merangkap kedua tangannya, akan kemudian keprak kudanya buat susul kawankawannya.
Thian Oe jadi seperti orang kesima. "Ilmu memanah orang itu jarang terdapat dalam
dunia," kata ia dalam hatinya.
"Barusan terang-terangan ia memanah aku, tapi bilang kesalahan tangan. Sedang aku
tidak kenal padanya, kenapa ia panah padaku? Dan kalau toh sudah memanah aku,
kenapa ia gunakan anak panah tumpul? Apa maksudnya?"
Selagi putar otaknya buat mencari-cari jawabannya, mendadak kedengaran satu seman
"Siauwya (majikan kecil)!" dan satu kacung yang berusia kurang lebih 17 tahun kelihatan
muncul.
Tan Thian Oe terkejut dan berkata: "Kang Lam, kau juga ada disini? Kenapa aku tadi tidak
lihat kau?"

Lantaran kangen pada daerah Kanglam yang ia sudah tinggalkan dalam tempo lama,
ayahnya Thian Oe memberi nama Kang Lam kepada kacungnya, sebagai semacam
peringatan bagi tempat kelahirannya. Usianya Kang Lam hampir bersamaan dengan Thian
Oe yang menjadi kawan memainnya sedari kecil.
Mendengar pertanyaan majikannya, kacung yang nakal itu lalu tertawa haha-hihi dan
menyahut: "Looya (majikan tua) perintah aku cari kau dan waktu orang hitam itu panah
padamu, aku mengumpat di alang-alang. Siauwya, banyak tahun aku ikuti kau, tapi aku
tidak tahu kau mempunyai kepandaian begitu tinggi dan sekali jambret saja, kau bisa
tangkap anak panah itu! Dan lebih heran lagi, aku belum pernah lihat kau belajar
memanah. Siauwya, bolehkah kau ajarkan aku."
Parasnya Thian Oe berobah dan ia berkata dengan sungguh-sungguh: "Kang Lam, aku
larang kau memberitahukan hal ini kepada looya! Jika hal aku menangkap anak panah kau
beritahukan kepada lain orang, aku akan keset kulitmu!"
Melihat sikap majikan kecilnya begitu sungguh-sungguh, Kang Lam segera berkata
sembari leletkan lidah: "Tidak, aku tentu tidak omong dengan siapa pun juga." Tapi dalam
hatinya ia merasa heran, kenapa juga majikan itu sungkan memberitahukan
kepandaiannya kepada sang ayah.
Sembari lari loncat-loncatan, Kang Lam pungut burung gagak yang barusan dipanah jatuh
oleh orang itu. "Hei!" mendadak ia berseru. "Kenapa gagak ini mati tanpa ada lukanya?"
Thian Oe terkejut dan periksa bangkai burung itu yang ternyata benar tidak terluka
barang sedikit, sedang sebatang anak panah tumpul menggeletak di dekat bangkai
burung itu. Ia tahu, gagak itu binasa dengan luka di dalam badannya lantaran terpukul
batang anak panah. "Jika gagak ini yang terbang begitu tinggi binasa tertikam tajamnya
anak panah, tidaklah usah dibuat heran," kata Thian Oe di dalam hatinya. "Tapi dengan
binasa cuma lantaran kena terpukul batang anak panah, bisalah dibayangkan hebatnya
tenaga dalam orang yang memanah itu."
Demikianlah dengan hati masgul, Thian Oe lalu berjalan pulang bersama ka.cungnya.
Setibanya di rumah, ia lihat ayahnya sedang pasang omong dengan satu orang di kamar
tetamu. Orang itu berusia kurang lebih 50 tahun, paras mukanya bersih dan jujur,
jenggotnya panjang, punggungnya sedikit bongkok, sehingga ia kelihatannya seperti
seorang sastrawan tua yang gagal dalam ujian. Orang itu bukan lain dari gurunya (guru
surat), she Siauw bernama Tjeng Hong.
Guru itu mulai bekerja pada tahunan Tan Teng Kie dikirim ke Tibet oleh Kaizar Kian Liong.
Waktu itu ia masih menjabat pangkat Tjiesoe, dan oleh karena keuruk dengan tugasnya,
ia jadi tidak mempunyai tempo senggang untuk mendidik puteranya. belakangan salah
satu sahabatnya pujikan Siauw Tjeng Hong buat ajar ilmu surat kepada puteranya itu.
Sesudah omong-omong, ia dapat kenyataan Siauw Tjeng Hong mempunyai pengetahuan
yang cukup baik, maka tanpa rewel ia segera pekerjakan padanya. Tidak lama kemudian,
lantaran menulis surat pengaduan yang menyerang Ho Kun, Teng Kie dikirim ke Tibet
sebagai semacam hukuman. Sebenarnya ia merasa tidak enak hati buat ajak sang guru
pergi ke tempat yang begitu jauh, akan tetapi Siauw Tjeng Hong sendirilah yang sudah
mendesak supaya diajak. Ia mengatakan merasa cocok dengan majikannya itu dan secara
suka rela suka turut pergi ke Tibet. Oleh karena lihat kesungguhan orang, Tan Teng Kie
jadi sangat hargakan padanya dan perlakukan ia seperti anggauta keluarga sendiri.
Sesudah Thian Oe memberi hormat kepada ayah dan gurunya, Teng Kie lantas menanya:
"Oedjie (anak Oe), kemana kau pergi begitu lama? Lain kali tidak boleh pergi memain
sendirian."

"Datang serombongan penyanyi, malam ini mungkin ada pertunjukan," si kacung


menyeletuk.
Thian Oe lirik kacungnya itu, tapi ia seperti juga tidak melihat. "Sinshe (guru)," kata Kang
Lam lagi. "Kau adalah seorang berpengalaman dan
berpengetahuan luas, tapi pernahkah kau lihat orang panah gagak dengan anak panah
tumpul?"
Paras mukanya Siauw Tjeng Hong berobah dengan mendadak. "Apa?" ia menegasi.
Sehabis berkata begitu, mukanya pucat seperti kertas, sedang badannya bergoyanggoyang.
Tan Teng Kie kaget dan menanya: "Kau kenapa, Siauw sinshe?"
"Lantaran perobahan hawa, mungkin kena pilek," jawabnya.
"Kang Lam," kata Teng Kie. "Pergi antar sinshe ke kamarnya supaya mengasoh."
"Sinshe lagi kurang enak badan, kau jangan banyak bicara," memesan Thian Oe.
Kang Lam manggutkan kepalanya. Diam-diam ia lirik Thian Oe dan bikin muka badut.
"Aku toh tidak sebut-sebut soal kau tangkap anak panah. Kenapa kau jadi kebingungan?"
kata ia dalam hatinya.
Thian Oe jadi heran sekali. Ia tidak mengerti, kenapa gurunya jadi begitu ketakutan,
setelah mendengar perkataannya Kang Lam.
"Mulai dari sekarang, kau tidak boleh lagi pergi keluar sendirian," kata lagi sang ayah.
"Kalau tidak ada pekerjaan, berdiamlah di dalam rumah. Kau tahu? Tahun yang lalu, suku
Gurkha dari Nepal telah menyerang Tibet dan telah dipukul oleh tentara kerajaan 2).
Mereka tentu penasaran. Sepanjang warta, mereka telah kirim sejumlah pembunuh buat
binasakan pembesar-pembesar kerajaan Tjeng. Sekarang pembesar-pembesar yang
bertugas di Tibet tidak berani keluar tanpa pengawal."
"Apa benar? Apa benar mereka begitu besar nyalinya?" tanya sang putera.
"Warta ini datang dari markas besar Jenderal Hok. Kita tidak boleh tidak percaya," sahut
sang ayah.
Jenderal Hok itu adalah Hok Kong An (Fu Kang An). Ada orang bilang, ia adalah "anak
gelapnya" Kian Liong, akan tetapi, ini cuma merupakan desas-desus yang tidak ada
buktinya. Tapi memang benar, Hok Kong An adalah jenderal yang paling disayang oleh
Kian Liong, yang lantaran sangat mengutamakan keselamatan di daerah perbatasan,
sudah kirim jenderal tersebut untuk menduduki Tibet, dengan markas besarnya di Lhasa.
Malam itu, siang-siang Thian Oe sudah disuruh tidur oleh ayahnya. Akan tetapi, gulakgulik di atas bantal, ia tidak bisa pulas lantaran otaknya selalu ingat rombongan
pengembara yang ia ketemukan tadi siang. Ia tidak dapat menebak siapa adanya itu
orang yang mempunyai kepandaian memanah begitu tinggi. Ia tidak dapat singkirkan dari
otaknya itu gadis Tsang yang sangat aneh. Begitu meramkan mata, parasnya si nona
lantas terbayang di depan matanya. Itu muka yang seperti patung dengan sinar mata
yang dingin bagaikan es seakan-akan diam-diam melirik padanya dalam malam yang
gelap-gelita itu.
Mendadak kupingnya dapat tangkap suara tambur yang kedengarannya lapat-lapat di
tempat yang jauh. Di sebelahnya tambur, kedengaran juga suara cecer dan terompet.

Tapi suara tetabuhan itu sangat membosankan lantaran tetap begitu-begitu juga, tanpa
ada perubahan tinggi dan rendah, cepat dan perlahan. Tan Thian Oe tahu, tentulah
rombongan penyanyi yang tadi siang sedang membuka pertunjukan malam di padang
rumput. Mendengari suara itu, di tengah malam yang sunyi, tanpa merasa ia jadi
mengkirik bulu badannya.
Pada besokan paginya, baru saja Thian Oe sadar dari tidurnya, di luar sudah kedengaran
Kang Lam bicara: "Hei! Kau percaya atau tidak? Semalam aku lihat setan perempuan. Ha!
Benar loh! Aku tidak mendusta. Setan perempuan!"
Thian Oe terkejut. Berapa saat kemudian, si kacung berkata lagi: "Ha! Setan itu pakai dua
selendang sutera merah, rambut palsunya terurai sampai di pinggangnya, dia pakai
kedok tiga pasegi, lidahnya yang panjang melelet keluar! Ha! Dia juga menari, putar,
putar, putar, luar biasa cepatnya. Di bawah kedua kateknya terselip dua golok pendek.
Sesudah menari, dia poksay (loncat jungkir balik), goloknya mengkeredep benar-benar
menakuti. Sesudah itu, ia lemparkan rambut palsu dan tarik kedoknya. Ha! Kau bisa
tebak! Aduh cantiknya! Aku belum pernah lihat wanita Tibet yang begitu cantik seperti ia.
Cuma paras mukanya dingin seperti es. Ha! Tak bedanya seperti muka setan perempuan!"
Kang Lam ternyata sedang bicara dengan Loo Ong (si tua she Ong), penjaga pintu. Ia
sedang ceritakan pertunjukan yang ia telah saksikan semalam. Thian Oe tahu, yang ia
namakan "setan perempuan" tentulah juga itu gadis Tibet yang aneh.
Loo Ong keluarkan suara di hidung dan berkata sembari tertawa dingin: "Kulitmu
kelihatannya sudah gatal. Looya baru saja pesan, kita tidak boleh sembarangan keluar,
kau seorang sudah nyolong lihat wayang."
Kang Lam tertawa terbahak-bahak. "Aku satu orang keluar lihat wayang?" kata ia dengan
suara yang menggenggam rahasia. "Ha! Loo Ong, kau salah raba! Sinshe kita juga pergi
kesana! Hi! Cara-caranya lebih mengherankan daripada setan perempuan itu. Sinshe
kita...."
Baru Kang Lam bicara sampai disitu, Thian Oe sudah loncat keluar dari kamarnya dan
membentak: "Kang Lam, sampai kapan penyakit rewelmu bisa hilang? Hayo, lekas
bereskan pembaringanku!"
Melihat majikannya gusar, Loo Ong ngeloyor dengan cepat, sedang Kang Lam masuk ke
kamarnya Thian Oe sembari leletkan lidah. "Siauwya", kata ia seperti orang yang
diperlakukan tidak adil. "Kenapa dalam dua hari ini kau begitu galak?"
Thian Oe rapatkan pintu. "Siauw sinshe kenapa semalam?" ia tanya dengan suara
perlahan.
"Oh, kalau begitu Siauwya juga kepengen dengar cerita?" kata ia sembari tertawa nakal.
"Menurut penglihatanku, sinshe kita juga mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.
Semalam jumlah penonton bukan main banyaknya. Sesudah keluarkan banyak keringat,
barulah aku dapat menyelesep masuk, tapi toh tidak bisa berdiri tetap sebab tak hentinya
kena didorong ke depan dan ke belakang. Tapi sinshe kita, jangan kau pandang rendah
badannya yang kelihatannya lemah. Ia berdiri tegak. Orang-orang yang mendorong sudah
pada mental sebelum senggol badannya. Aku tidak tahu, ilmu apa ia gunakan. Aku heran
bukan main. Sebetulnya aku mau tegor padanya, tapi orang terlalu banyak, sedang itu
setan perempuan sudah keluar, maka aku urungkan niatan itu. Tapi siapa tahu, baru saja
pertunjukan setan perempuan itu selesai, ia sudah pergi. Kalau ia suka nonton, kenapa
tidak nonton terus? Siauwya, bukankah ia seorang aneh?"
"Kang Lam," kata Tan Thian Oe sembari perengutkan mukanya. "Urusannya Siauw sinshe,
kau cuma boleh ceritakan kepadaku. Pada lain orang, dari Loo Ong sampai Looya, kau

tidak boleh cerita. Jika kau langgar, aku akan keset kulitmu. Tidak, aku akan tidak ladeni
kau lagi."
Thian Oe dan Kang Lam adalah kawan memain sedari kecil. Perhubungan antara mereka
adalah perhubungan sahabat dan bukannya perhubungan antara majikan dan bujang.
Thian Oe kenal baik adatnya si kacung, yang paling takut kalau tidak diajak omong oleh
majikan kecilnya.
Baru saja Thian Oe cuci muka dan makan sarapan pagi, Kang Lam datang lagi dan
berkata: "Looya panggil kau."
"Ada urusan apa ayah panggil padaku?" tanya ia dalam hati sambil masuk ke ruangan
tengah, dimana ia ketemukan orang tua itu sedang duduk dengan paras muka seperti
orang yang lagi berpikir keras.
"Touwsoe mau bertemu dengan kau," kata sang ayah. "Aku tak tahu ada urusan apa.
Touwsoe ini adatnya sangat jelek. Pembesar-pembesar kerajaan tidak ada satu yang
dipandang mata olehnya. Selama berdiam disini delapan tahun, baru berapa kali saja aku
bertemu dengan ianya. Sekarang ia sengaja undang aku bersantap dan pesan juga
supaya ajak kau datang bersamasama. Lekas pergi salin pakaian."
"Aku tidak kenal ia," kata sang putera dengan suara heran. "Ada urusan apa ia pesan
supaya aku datang? Tidak, ayah, aku tak kesudian."
"Tidak boleh begitu, anakku," kata Teng Kie. "Aku bertugas dalam daerah kekuasaannya.
Ia tuan rumah, kita tetamu. Perhubungan antara tuan rumah dan tetamu haruslah baik,
apalagi dalam banyak hal aku harus mengandal kepada pengaruhnya. Dalam kalangan
pembesar negeri, perhubungan antara kedua keluarga adalah kejadian yang lumrah.
Sekarang ia mengundang kita dan kita tidak boleh menolak. Jangan kau bawa adat anakanak."
Mendengar ayahnya berkata begitu, Thian Oe tidak membantah lagi dan lalu pergi salin
pakaian.
Amban adalah pembesar sipil dan cuma mempunyai beberapa puluh serdadu pengawal.
Sesudah pilih memilih, Teng Kie ajak delapan pengawal buat antar padanya.
Selagi mau berangkat, diluar mendadak terdengar suara berbengernya kuda dan penjaga
pintu datang melaporkan: "Nyepa
Omateng ingin bertemu dengan taydjin (orang besar = panggilan buat orang
berpangkat)."
"Nyepa" adalah semacam pangkat di Tibet. Di bawah saban Touwsoe ada empat Nyepa.
Tan Teng Kie kaget berbareng girang. "Apa benar?" Nyepa yang berkuasa atas
ketentaraan dan pengadilan, sehingga pengaruhnya besar sekali. Saban kali satu Nyepa
keluar dari rumahnya, ia selalu diiring oleh satu pasukan tentara, dan oleh karena begitu,
Teng Kie jadi merasa heran dan ajukan pertanyaan, waktu mendengar Nyepa Omateng
datang seorang diri. "Omateng?" ia menegasi. "Kenapa ia datang seorang diri?"
Thian Oe berdiri di satu pinggiran buat turut sambut kedatangannya pembesar Tibet itu.
Ia lihat Omateng masuk dengan tindakan meniru caranya pembesar-pembesar kerajaan
Tjeng. Sembari menggendong tangan, ia mendatangi setindak demi setindak sampai di
hadapannya Teng Kie. Ia memberi hormat dengan sikap hormat sekali dan berkata:
"Apakah Ponpo mau hadiri perjamuan Touwsoe?" (Ponpo = Pembesar negri. Panggilan
menghormat untuk orang berpangkat).

"Benar," jawab Teng Kie dengan suara terperanjat. "Aku sungguh merasa jengah sampai
Nyepa datang buat menyambut."
Hatinya merasa heran, sebab sang Nyepa yang biasanya angkuh, sekarang jadi begitu
menghormat.
Omateng awasi padanya dan berkata sambil tertawa: "Kalau tidak ada urusan penting,
aku tentu tidak datang kesini. Kedatanganku ini adalah buat mohon Ponpo lakukan satu
pekerjaan mulia."
Teng Kie yang tadinya duga ia datang atas perintah Touwsoe untuk menyambut padanya,
jadi tercengang mendengar
perkataannya itu. "Urusan apa?" ia tanya.
"Apakah Ponpo tahu kemarin datang serombongan pengembara yang menjual suara?"
tanya ia.
"Aku dengar orang bilang begitu," sahutnya.
"Mereka sebenarnya kawanan pencuri kuda," menerangkan Omateng. "Kepandaian
mereka juga lumayan dan mereka telah dapat curi lima ekor kudanya Touwsoe. Yang lelaki
bisa kabur semuanya, yang kena dibekuk satu wanita muda."
Thian Oe terkesiap. "Yang lain aku tidak tahu, tapi orang yang lepaskan anak panah
benarbenar mempunyai kepandaian tinggi. Kenapa mereka curi kuda? Dalam urusan ini
tentu ada lain latar belakang. Wanita yang kena ditangkap tentulah juga itu gadis yang
aneh," demikian Thian Oe memikir dalam hatinya.
"Ponpo sudah berdiam disini banyak tahun dan tentu mengetahui peraturan Touwsu
terhadap pencuri kuda," kata lagi Omateng.
Kembali Thian Oe terkesiap. Ia pun sudah pernah dengar penuturan ayahnya, bahwa
hukuman terhadap pencuri-pencuri kuda adalah kejam sekali. Paling dahulu kedua
matanya pencuri dikorek dan kemudian kedua tangannya dibacok kutung. Mengingat
sinar matanya gadis itu yang bening seperti es, tanpa terasa badannya jadi gemetar.
Paras mukanya Teng Kie juga berobah, tapi ia tentu tidak dapat mencampuri urusannya
Touwsoe.
"Sebagaimana Ponpo tahu, hatiku selalu tidak tegaan," Omateng sambung
pembicaraannya. "Aku sungguh tidak tega, kalau gadis itu sampai mesti jalankan
hukuman yang biasa. Maka itu, kalau sebentar bertemu dengan Touwsoe, aku sangat
harap Ponpo sudi mintakan ampun. Jika mesti membayar hukuman denda dengan emas,
mohon Ponpo suka talangi dahulu dan aku akan pulangkan emas itu secara diam-diam."
Mendengar permintaan orang, Teng Kie jadi terlebih heran lagi. "Omateng biasanya
sangat sekaker, kenapa hari ini dia begitu loyar? Apakah wanita itu mempunyai hubungan
apa-apa dengan ia? Tapi kalau benar wanita itu mempunyai hubungan rapat dengan
Omateng, kenapa juga ia mesti menjual suara di padang rumput?" tanya Teng Kie dalam
hatinya.
Melihat Teng Kie bersangsi, Omateng kelihatannya bingung sekali. "Ponpo Taydjin," kata
ia. "Jiwanya nona itu sekarang berada dalam tanganmu."

"Menolong jiwanya satu manusia ada lebih baik daripada berdirikan menara tujuh
tingkat," kata Teng Kie akhirnya. "Aku berjanji akan berbuat apa yang bisa. Kalau harus
membayar denda, aku juga masih mempunyai sedikit uang, sehingga tidaklah perlu
Nyepa mesti mengodol kantong. Cuma aku kualir Touwsoe tidak akan mau meluluskan."
"Jika Ponpo yang minta, Touwsu pasti meluluskan," kata Omateng dengan suara girang.
"Sekarang aku mau permisi. Urusan hari ini harap Ponpo jangan sebut-sebut di hadapan
Touwsoe."
Ia lalu pamitan dengan cara hormat sekali dan waktu bertindak keluar pintu, ia mesemmesem kepada Thian Oe dengan sikap yang mengherankan.
Baru saja Omateng berangkat, Thian Oe lantas berkata: "Ayah, hayolah."
"Bukankah tadi kau sungkan pergi?" kata sang ayah sembari mesem.
Mukanya sang putera jadi bersemu merah, tapi Teng Kie berlagak tidak lihat dan lantas
suruh orang sela-kan kuda.
Gedungnya Touwsoe dibikin dengan menyender pada suatu bukit, sehingga gedung itu
jadi bertingkat-tingkat, yang satu lebih tinggi dari yang lain. Dipandang dari bawah,
gedung tersebut agaknya seperti satu benteng yang berbentuk pasegi.
Rombongan Tan Teng Kie tiba waktu matahari sudah naik tinggi dan tepat pada waktunya
bersantap tengah hari. (Perjamuan Touwsoe di Tibet biasanya dimulai tengah hari dan
berlangsung sampai sore). Tan Teng Kie bersama puteranya diantar ke satu pendopo
dalam kebun bunga, sedang para pengikutnya tersebar dalam kebun itu untuk mengawal.
Di tengah-tengah pendopo sudah siap sedia sebuah meja santapan. Baru saja, ayah dan
anak duduk, serdaduserdadu yang berbaris di bawah pendopo sudah berseru: "Touwsoe
datang!"
Touwsoe itu berusia kira-kira 50 tahun, hidungnya bengkok, janggut pasegi, sedang kedua
matanya bersinar tajam, sehingga macamnya jadi kelihatan angker sekali.
Sesuai dengan adat kebiasaan orang Tibet, Tan Teng Kie lebih dahulu mempersembahkan
khata 3) kepada tuan rumah. Sembari tertawa dengan meram-meramkan matanya,
Touwsoe mengawasi tetamunya dan sesudah selang beberapa saat, ia lantas berkata:
"Apakah pemuda ini puteramu? Sungguh cakap romannya!"
Saat itu, Thian Oe mendadak rasakan jantungnya mengetok keras dan napasnya agak
sesak. Dua serdadu Tibet kelihatan mengiring satu wanita yang jalan menghampiri
perlahan-lahan dan berhenti di luar pendopo. Wanita itu ternyata bukan orang lain
daripada gadis aneh yang ia ketemu kemarin. Di bawah pendopo sudah siap sedia
pekakas hukuman, antaranya dua golok tajam dan dua bungbung bambu yang digunakan
untuk korek biji matanya orang yang terhukum. Di sebelahnya terdapat satu batu bundar
yang di atasnya dipasangi dua pelat besi tipis dari setengah lingkaran. Thian Oe tidak
mengetahui kegunaannya alat itu.
Menghadapi alat menghukum itu, si jelita melirik pun tidak. Paras mukanya tetap tenang,
sedang pada kedua matanya tertampak semacam sinar yang mengejek, seolah-olah
orang yang lagi menghadap pengadilan bukannya ia, tapi si Touwsoe sendiri. Dengan
adanya alat-alat menghukum dan dengan sikapnya si nona yang sedemikian rupa, kecuali
Touwsoe, semua orang yang menyaksikan jadi mengkirik bulu badannya.
Touwsoe itu tertawa kejam dan berkata sembari tunjuk pekakas hukum itu: "Taruh batu itu
di atas kepalanya pesakitan dan ketok pelat besi itu dengan martil kecil. Matanya akan
lantas nonjol keluar dan korek kedua biji matanya sama bungbung bambu kecil!"

Sehabis berkata begitu, ia kebaskan tangannya dan niat segera perintah supaya hukuman
itu lantas dijalankan.
"Tahan! Tahan!" Tan Teng Kie mendadak berseru.
Touwsoe bangun dan berkata: "Apa? Kalian orang Han kecil nyalinya. Apa kau tidak berani
saksikan hukuman itu?"
"Aku mohon tanya," sahut Teng Kie sambil menahan amarah. "Berapa ekor kuda sudah
dicuri mereka?"
"Lima ekor yang paling baik," sahutnya.
"Bagaimana kalau aku ganti dengan sepuluh ekor?" tanya Tan Teng Kie.
"Dia juga niat bakar istalku," berkata Touwsoe.
"Apa sudah dibakar?" Teng Kie tanya lagi.
"Dia sudah kena dibekuk selagi nyalakan batu api," sahutnya.
Teng Kie mesem dan keluarkan batu api dari kantongnya. "Kau lihat, aku pun membawa
barang ini!" kata ia.
Si Touwsoe tertawa terbahak-bahak. Ia mengerti maksudnya Teng Kie, yang hendak
mengatakan, bahwa dengan membawa batu api belum merupakan suatu bukti bahwa
seseorang berniat jahat.
Sedikitpun Tan Teng Kie tidak unjuk perasaan keder. Ia diawasi, ia balas mengawasi.
"Bagaimana, Touwsoe? Bisakah kau memberi pengampunan?" tanya ia.
Thian Oe tahan napasnya. Ia awasi Touwsoe itu, kemudian awasi ayah sendiri. Tak pernah
ia begitu kagumi ayahnya seperti pada saat itu. Kalau biasanya sang ayah suka takut ini
dan takut itu, sekarang ia berdiri tegak, dengan paras muka yang sama tenangnya seperti
si gadis itu. Sedikitpun tidak terdapat tanda-tanda keder. Mungkin sekali, semangat yang
sedemikian juga telah diunjuk oleh sang ayah, ketika ia ajukan surat pengaduan buat
serang sepak terjangnya Ho Koen. Demikianlah, pada saat itu Tan Thian Oe dapat lihat
semangat muda dari ayahnya yang sekarang sudah berambut putih.
Touwsoe terkejut. "Tak dinyana, pembesar Han yang kelihatannya begitu lemah
mempunyai nyali yang begitu besar," ia kata.dalam hatinya. Mendadak ia tertawa dan
berkata: "Menurut pantas, aku sebenarnya harus meluluskan permintaan Ponpo. Cuma
saja, peraturannya kakek moyang tidak dapat gampang-gampang dirobah."
Tan Thian Oe cekal keras-keras belati yang ia sembunyikan dalam tangan bajunya. Ia
sudah mengambil putusan pasti buat lantas menerjang, begitu lekas Touwsoe itu
memerintahkan di jalankannya hukuman.
Sesudah berpikir beberapa saat dan manggut-manggut beberapa kali, Touwsoe itu
berkata: "Peraturan leluhur memang tidak dapat dirubah, akan tetapi muka Ponpo pun
tidak harus hilang. Baiklah! Sekarang kita pertaruhkan nasibnya pesakitan itu!"
Ia kebaskan tangan bajunya dan satu serdadu lantas taruh satu buah apel merah di atas
kepalanya si gadis.

Sang Touwsoe kembali tertawa besar. Ia berpaling kepada Tan Teng Kie dan menanya:
"Apa kalian pandai menggunakan hoeito (golok terbang)?" Dengan satu suara "srett!" ia
cabut satu golok lancip yang ditaruh di atas meja.
"Jika dengan sebatang golok terbang, kalian dapat membelah buah apel itu di sama
tengah, tanpa penggantian apa pun juga, aku akan segera lepaskan dia," kata Touwsoe
itu. "Cara ini juga adalah peraturan leluhur kita. Baiklah. Sekarang bawa pesakitan itu
sampai seratus tindak jauhnya!"
Satu serdadu lantas saja tuntun gadis itu sembari menghitung tindakannya dan lantas
berhenti sesudah cukup seratus tindak.
"Aku permisikan kau atau siapa saja di antara pengikutmu buat membelah apel itu
dengan golok terbang," berkata si Touwsoe.
Tan Teng Kie adalah seorang pembesar sipil yang lemah, sedang di antara pengikutnya
pun tidak ada orang yang berkepandaian begitu tinggi. Cangkriman yang dibertelorkan
oleh Touwsoe terang-terangan adalah buat hinakan orang Han. Ia jadi naik darah dan
berkata dengan suara gusar: "Touwsoe, cara bagaimana jiwa manusia bisa dibuat
permainan?"
Touwsoe itu lantas saja kasih unjuk paras yang memandang rendah. "Jika kalian tidak
berani pertaruhkan nasibnya, biarlah hukuman itu di jalankan saja," kata ia sembari
tertawa.
Mendadak Tan Thian Oe berdiri dengan sinar mata yang berapi dan berkata: "Jika dengan
sebatang golok terbang aku dapat membelah buah apel itu..."
"Aku lantas lepaskan dia!" Touwsoe potong perkataan orang.
"Aku harap perjanjian ini tidak berobah lagi," kata Thian Oe.
"Aku tidak pernah omong kosong," Touwsoe itu menyahut dengan pendek.
Tan Teng Kie terkesiap dan menanya: "Oe-djie, apa kau gila?"
Baru habis ayahnya bicara,
Thian Oe sudah jumput golok itu dan tanpa mengincar, ia menimpuk! Bagaikan kilat golok
itu terbang ke kepalanya si jelita, dan di lain saat, sang apel terpental menjadi dua! Satu
serdadu lantas pungut dan berseru: "Tepat betul terbelah dua di tengah-tengah!"
Paras mukanya Touwsoe berobah, tapi ia segera tertawa berkakakan sembari acungkan
jempol tangannya. "Sungguh bagus ilmu menimpuk golok itu!" ia kata
Tan Teng Kie adalah seperti orang baru sadar dari mengimpi. Perasaan herannya sukar
dapat dilukiskan. Apa yang ia tahu, puteranya belum pernah belajar ilmu silat. Delapan
belas tahun mereka bersama-sama, en toh ia tidak mengetahui sang anak mempunyai
kepandaian yang sedemikian tinggi.
Satu serdadu segera lepaskan tali urat kerbau yang mengikat badannya nona itu. Ia lirik
penolongnya dan kemudian berjalan keluar dari antara dua baris serdadu yang
memegang macam-macam senjata. Parasnya yang tenang tetap tidak berobah, kedua
matanya tetap bersinar dingin bagaikan es! Ia tidak mengucapkan sepatah kata, malahan
tidak menghaturkan terima kasih kepada Tan Thian Oe.
Touwsoe geleng-gelengkan kepalanya. "Hm!" kata ia.

"Sungguh terlalu enak pesakitan ilu!" Seperti satu bola yang sudah kempes, ia sekarang
tidak begitu bersemangat lagi. Mereka kembali mengambil tempat duduk di seputar meja
perjamuan. Waktu Tan Teng Kie mau angkat cawan sebagai pemberian hormat. Touwsoe
itu lirik Thian Oe. Tiba-tiba ia jadi gembira kembali dan berkata kepada salah satu
pengikutnya: "Undang Kangma Kusiu datang kesini!"
Kangma Kusiu dalam bahasa Tibet berarti siotjia (nona). "Ah? Kenapa ia suruh puterinya
keluar buat temani tetamu?" tanya Teng Kie dalam hatinya.
Barulah sekarang Thian Oe merasa tangannya gemetaran lantaran ia ingat bagaimana
besar adanya bahaya waktu menimpuk dengan golok. Inilah buat pertama kali, ia unjuk
kepandaiannya di muka umum dan sungguh mujur, ia berhasil.
"Siapa wanita itu? Apa benar ia curi kuda? Apa ia mengerti silat? Kenapa paras mukanya
begitu luar biasa?" demikian rupa-rupa pertanyaan mengaduk dalam otaknya pemuda itu,
sehingga ia seperti tidak dengar waktu Touwsoe perintah orang undang puterinya datang
kesitu.
Tiba-tiba ia jadi sadar mendengar kerincingnya perhiasan, dibarengi dengan
kedatangannya satu gadis Tibet. Nona itu memakai perhiasan yang reboh sekali.
Jubahnya yang panjang berwarna biru muda, sedang badannya ditutup dengan baju
sutera warna biru langit dan pinggangnya diikat sama selendang sutera. Dengan
dandanan yang kaya-raya, ia seperti juga sekuntum bunga mawar di musim panas. Tapi,
setahu bagaimana, dengan segala kerebohannya itu, orang yang melihat masih
mendapat perasaan bahwa nona itu berharga murah.
Dengan mulut tersungging senyuman, puterinya Touwsoe berjalan ke arah Thian Oe.
Pemuda itu terkejut. Begitu berhadapan, gadis itu membungkuk dan sembari tertawa ia
berkata: "Tali sepatumu kendor!" Di lain saat, dengan kedua tangannya ia bikin kencang
tali sepatunya Thian Oe.
Kejadian itu yang tidak terduga-duga, membuat Thian Oe jadi kesima. Ia seperti tidak
tahu apa yang dilakukan oleh gadis itu dan juga tak tahu apa yang ia harus berbuat.
Sesudah ikatkan sepatunya Thian Oe, gadis itu lalu bangun berdiri dan paras mukanya
jadi bersemu merah. Ia pelengoskan mukanya supaya matanya tidak kebentrok dengan
matanya Thian Oe yang mengawasi dengan perasaan tidak mengerti.
Sementara itu, Tan Teng Kie kasih lihat paras yang penuh keheranan, tercampur sedikit
kegirangan. Touwsoe tertawa besar dan berkata dengan suara girang: "Keringkan cawan!
Mulai dari sekarang, kita jadi orang sendiri!"
Tan Thian Oe seperti orang sadar dari tidurnya dan mukanya lantas berobah pucat. Ia
ingat, bahwa menurut adat kebiasaan di Tibet, jika seorang gadis ikatkan tali sepatunya
satu pria, berarti gadis itu meminang si pria. Dan jika pihak lelaki tidak menolak, berarti ia
setuju dan tinggal pilih hari buat langsungkan pernikahan. Puteri Touwsoe sering
tunggang kuda dan memanah di padang rumput, dimana beberapa kali ia bertemu
dengan Tan Thian Oe, yang sama sekali tidak menaruh perhatian. Gadis itu sudah cukup
usianya dan sudah temponya buat menikah, akan tetapi belum ada pemuda yang pantas
buat jadi suaminya. Melihat Thian Oe yang cakap, puterinya Touwsoe jadi menaruh hati.
Dan sekarang ternyata, bahwa maksud perjamuannya Touwsoe adalah buat rangkap
jodoh puterinya dengan puteranya Tan Teng Kie.
Dengan paras muka berseri-seri, Touwsoe angkat satu cawan yang kakinya tinggi. "Aku
sungguh merasa puas dengan perjodohan ini." kata ia kepada Teng Kie. "Tjinke (besan),
marilah kita keringkan cawan."

Tan Teng Kie tidak tahu harus berbuat bagaimana. Mendadak sang putera berkata dengan
suara gugup: "Tidak, aku tidak puas!"
Mukanya Touwsoe berobah dengan mendadak."Apa?" ia membentak. "Kau tidak puas
dengan puterinya seorang Touwsoe?" Sedang sang ayah marah, sang puteri lantas
menangis.
"Oleh karena masih berusia sangat muda, anakku jadi tidak mengenal aturan," berkata
Teng Kie dengan perasaan bingung. "Mohon Touwsoe jangan jadi gusar."
Touwsoe itu kembali tertawa girang. "Nah, inilah baru omongan yang benar," kata ia. "Hei,
bocah! Lekas keringkan cawan bersama tunanganmu!"
Puterinya Touwsoe yang barusan menangis juga lantas tertawa. Ia segera angsurkan satu
cawan arak kepada Thian Oe, yang jadi bingung sekali.
Saat itu... di luar kebun bunga mendadakan saja terdengar suara ribut. Tiba-tiba, seorang
yang rambutnya teriap-riap menerobos dan berteriak: "Tan Taydjin, celaka! Celaka!"
Teng Kie terperanjat. "Ada apa?" ia tanya.
"Kantor dibakar penjahat! Banyak yang mati dan luka!" sahut orang itu.
Cawan arak terlepas dari tangannya Teng Kie, sedang Thian Oe, tanpa mengucapkan
sepatah kata, segera loncat turun dari pendopo dan cemplak seekor kuda yang lantas
dikaburkan sekeras bisa.
"Segala perampok kecil, buat apa bikin banyak ribut?" kata Touwsoe sembari tertawa.
"Kangho Nyepa, tolong siapkan seratus serdadu untuk bekuk kawanan kecu itu, Tjinke,
dengan aku sebagai sandaran, kau tidak usah takutkan apa juga!"
Teng Kie bingung sekali. Baru saja Touwsoe tutup mulutnya, ia sudah lari turun dari
pendopo, cemplak kudanya yang lantas dikaburkan. Lapat-lapat ia dengar suara
tertawanya Touwsoe yang berteriak: "Tjinke Ponpo, perjamuan belum berakhir. Sesudah
penjahat dibekuk, lantas balik kesini bersama puteramu!"
Thian Oe yang kaburkan kudanya seperti terbang, jauh-jauh sudah lihat sinar api. Bagus
juga waktu itu tidak turun angin dan api belum mengamuk hebat. Ia loncat turun depan
kantor Amban, dimana ia dengar teriakan dan rintihan, tapi sang penjahat sudah tidak
kelihatan mata hidungnya.
Buru-buru ia loloskan jubah panjangnya dan menerobos masuk ke dalam kantor. Disitu ia
ketemukan banyak mayat yang pada menggeletak, tapi tidak lihat tanda-tanda darah, la
mengetahui, bahwa mereka binasa sebab kena pukulan berat. Beberapa di antaranya
yang belum mati pada berteriak-teriak kesakitan.
Thian Oe terkejut dan memanggil: "Siauw sinshe! Siauw sinshe!" Mendadak di antara
tumpukan mayat terdengar suara orang: "Siauw sinshe dan penjahat sudah pergi!" Orang
itu adalah Kang Lam.
"Aduh! Terima kasih kepada Tuhan, kau tidak binasa," kata Thian Oe.
"Dua perampok itu duga aku sudah mampus," kata si kacung sembari Ieletkan lidah. "Ha!
Sebenarnya aku berlagak mati dan berhasil tipu mereka. Kalau tidak begitu, sekarang aku
tentu sudah tidak bernyawa!" Dalam keadaan yang berbahaya, ternyata Kang Lam masih
belum hilang kebawelannya.

Thian Oe lantas ajak ia menyingkir keluar dari dalam kantor dan kemudian berkata:
"Bagaimana sih kejadiannya? Coba ceritakan."
"Baru saja kalian berangkat, dua penjahat datang kesini," Kang Lam mulai menutur.
"Mereka itu adalah dua orang Han yang turut rombongan penyanyi. Satu antaranya
adalah orang yang telah panah padamu. Apa kau masih ingat?"
"Ingat. Bicara terus," kata sang majikan.
"Satu penjahat membawa bungbung penyemprot api. Kemana juga ia menyemprot, api
segera berkobar," kata si kacung. "Siauwya, apa kau pernah lihat benda yang luar biasa
itu?"
"Belum pernah. Lekas teruskan, jangan omongkan segala tetek bengek," kata Thian Oe
dengan suara berdongkol dan tidak sabaran.
Kang Lam manggutkan kepalanya dan teruskan penuturannya: "Penjahat yang satunya
lagi membawa satu gendewa besar. Wah tangannya cepat sekali! Begitu ketemu serdadu
pengawal, ia menyabet ke arah kepala, dan begitu kena, serdadu itu kontan roboh tanpa
bersuara lagi. Sebelum ia datang dekat kepadaku, buru-buru aku rebahkan diri di atas
lantai dan berlagak mati. Ha! Waktu itu Siauw sinshe keluar. Punggungnya tidak bongkok
lagi, kedua matanya besar dan bundar. "Orang she Siauw ada disini!" ia berteriak.
"Urusan kita tak ada sangkut pautnya dengan majikan rumah ini. Marilah kita pergi ke
gunung di belakang buat mendapat kepastian, siapa mati, siapa hidup. Hari ini akan aku
iring keinginanmu buat bereskan hutang yang sudah sepuluh tahun lamanya!"
Baru saja Kang Lam bicara sampai disitu, di sebelah kejauhan kelihatan debu mengepul,
diikuti dengan suara berbengemya kuda. Tan Teng Kie dan pengawalnya ternyata sedang
mendatangi.
"Aku mau pergi ke gunung buat cari sinshe," kata Thian Oe kepada kacungnya. "Kau cuma
boleh beritahukan hal ini kepada looya." Sehabis berkata begitu, ia cemplak kuda yang
lantas dikaburkan.
Jalanan gunung penuh bahaya, disini es disana salju dengan batu-batu dari macammacam bentuk, sehingga sang kuda tidak dapat lari cepat. Sesudah lewati dua lembah,
kupingnya Thian Oe dapat dengar suara "ting-tang, ting-tang", seperti juga suara
tetabuhan yang tidak ada lagunya dan membikin sakit kuping pendengar.
Thian Oe naik ke tempat tinggi dan melongok ke bawah. Ia lihat gurunya yang
bersenjatakan hudtim (kebutan debu) sedang dikepung oleh dua orang. Satu musuh
bersenjata gendewa besar yang talinya mengeluarkan suara "ting-tang" jika kelanggar
senjata gurunya. Musuh yang satunya lagi bersenjata Tjittjiat Djoanpian (Pian lemas tujuh
tekukan), yang menyambar-nyambar bagaikan kilat.
"Soehoe!" Thian Oe berteriak.
Sembari sampok gendewa musuh, Siauw Tjeng Hong berseru: "Oe-djie, jangan kemari!"
Suaranya tidak lampias, lantaran napas sengal-sengal. Thian Oe kaget. Biarpun ia baru
saja mendapat dasar-dasarnya pelajaran Iweekang (ilmu dalam), tapi, mendengar suara
gurunya, ia mengetahui bahwa sang guru sudah mendapat luka di dalam.
Siauw Tjeng Hong sebenarnya adalah satu tayhiap (pendekar) yang umpatkan diri. Secara
diam-diam ia turunkan pelajaran ilmu silat kepada muridnya itu, dengan memesan wantiwanti, bahwa hal itu tidak dapat dibocorkan. Ia memberitahukan, bahwa kalau bocor,
jiwanya terancam bahaya. Demikianlah, Thian Oe belajar ilmu surat di-waktu siang dan
ilmu silat di waktu malam, sehingga ayahnya sendiri tidak mengetahui.

Thian Oe belajar ilmu silat di tahun kedua sedari datangnya Tjeng Hong, sehingga ia
sudah belajar tujuh tahun lamanya. Selama itu, ia cuma mengetahui, bahwa gurunya
adalah ahli silat kenamaan dari Tjengshia pay (Partai kota hijau). Tentang asal-usulnya
sang guru dan kenapa ia tinggalkan Tionggoan (wilayah Tiongkok) buat ikut keluarga Tan,
Tjeng Hong sama sekali belum pernah bilang kepada muridnya dan larang sang murid
menanya melit-melit. Ia cuma mengatakan, bahwa mereka berjodoh dan kalau sang
murid bocorkan asal-usulnya, jodoh itu akan habis. Thian Oe adalah seorang yang sangat
jujur dan hormati gurunya itu. Sesudah menanya sekali, ia tidak berani menanya lagi.
Pertempuran di atas lapangan yang tertutup es jadi semakin hebat. Sering-sering
terdengar suara hancurnya kepingan-kepingan es yang terinjak oleh ketiga orang itu. Buat
orang biasa, jangan kata berkelahi, berjalan di atas es yang licin mungkin sudah tidak
mampu. Hatinya sang murid bergoncang keras. "Walaupun mesti dicomeli, kali ini aku
tidak dapat menurut lagi perintahnya guru," kata ia dalam hatinya. Sembari menahan
napas, ia buru-buru turun. Ia tahu, kedua musuh itu sangat tangguh dan penyerbuannya
sama juga mengantarkan jiwa. Akan tetapi, hatinya tidak tega buat peluk tangan, sedang
jiwa gurunya terancam bahaya.
Mendadak ia melihat badan gurunya limbung, disusul dengan suara hancurnya kepingan
es, seperti juga kaki gurunya terpeleset dan badannya jadi limbung doyong ke depan.
Orang yang bersenjata pian sungkan sia-siakan ketika yang baik dan menyabet bagaikan
kilat dengan sabetan yang membinasakan. Thian Oe terkesiap dan keluarkan teriakan
tertahan. Akan tetapi, sedang mulutnya masih menganga, matanya lihat satu bayangan
hitam melesat ke tengah udara, dibarengi dengan teriakan hebat dan badannya seorang
lain tergelincir ke dalam jurang es.
Orang yang bersenjata gendewa menggereng seperti binatang terluka dan menyabet
dengan senjatanya. Ternyata orang yang barusan loncat ke atas adalah Siauw Tjeng Hong
yang sengaja berlagak terpeleset, dan ketika musuhnya menyabet dengan pian, ia kirim
satu tendangan yang sudah mendapat hasil.
Kupingnya Thian Oe mendadak dengar suara mengaungnya tali gendewa dan lihat
benangbenang hudtim gurunya yang halus bagaikan sutera berterbangan di tengah
udara, seperti juga kena ditarik putus dengan tali gendewa.
Harus diketahui, bahwa kebutannya Siauw Tjeng Hong dilihatnya halus seperti buntut
kuda, tapi sebenarnya benang-benang itu terbuat dari emas hitam yang luar biasa kuat
dan uletnya, sehingga merupakan satu senjata mustika. Dan sekarang, benang-benang
itu kena ditarik putus dengan tali gendewa musuh. Dari sini dapat dibayangkan,
bagaimana tinggi adanya tenaga dalam sang musuh.
Mukanya Thian Oe jadi pucat. Selagi ia niat memburu, kupingnya mendadak dengar lagi
satu suara
"ting-tang" yang luar biasa keras dan berkumandang jauh. Di lain saat, kedua orang yang
sedang bertempur terpental dan jatuh duduk di atas tanah. Gurunya goyang-goyang
hudtimnya seperti orang yang mau memukul, sedang sang musuh pentil tali gendewanya,
yang sekarang sudah tidak bersuara lagi. Heran sungguh hatinya Thian Oe melihat
kejadian itu.
Ketika itu Thian Oe sudah memburu ke tanah datar dan cuma terpisah kurang lebih 100
tindak dari kedua orang itu. Ia lihat gurunya duduk di atas es dengan kepala
mengeluarkan uap putih dan musuhnya juga sami mawon. Mereka duduk berhadapan
dalam jarak tidak lebih dari sepuluh tindak dan matanya saling mengawasi dengan penuh
kegusaran, tapi badan mereka sama sekali tidak bergerak.

Melihat begitu, Thian Oe mengetahui, bahwa gurunya sedang ukur tenaga sama
musuhnya dengan gunakan lweekang (tenaga dalam) yang paling tinggi. Di lain saat, ia
melihat gurunya kalah seurat dari musuhnya. Tanpa berpikir lagi, ia pentang gendewanya
dan lepaskan sebatang anak panah ke arah bebokongnya musuh.
"Oe-djie! Lekas lari!" mendadak gurunya berteriak. Pada detik itu, sang musuh kebaskan
gendewanya dan anak panahnya Thian Oe menyambar balik. Thian Oe terkesiap, tapi
masih keburu angkat goloknya buat menangkis. Ia rasakan lengannya kesemutan dan
telapakan tangannya pecah, sedang anak panah itu menancap di atas golok! Kalau bukan
secara kebetulan goloknya dapat menangkis, anak panah itu tentu sudah menembus ulu
hatinya.
Thian Oe kaget tidak terhingga dan sebelum ia dapat tetapkan hatinya, kupingnya sudah
dengar lagi satu teriakan keras. Ia lihat badan gurunya melesat ke udara, sedang sang
musuh bergulingan beberapa kali dan badannya tergelincir ke dalam jurang, seperti
kawannya tadi.
Thian Oe buru-buru menghampiri. Siauw Tjeng Hong waktu itu sudah jatuh duduk di atas
tanah, matanya meram, mukanya pucat seperti kertas, sedang kebutannya menggeletak
di dekatnya. Sambil tundukkan kepala, sang murid berdiri mengawal gurunya itu. Kira-kira
sepasangan hio, mukanya Siauw Tjeng Hong perlahan-lahan bersemu merah dan kedua
matanya terbuka. "Oe-djie, tolong ambilkan hudtim," kata ia dengan napas sengal-sengal.
Thian Oe lantas saja pungut kebutan itu.
"Gantung hudtim itu di pinggangku," memerintah lagi sang guru.
Sekarang Thian Oe baru dapat lihat, bahwa jeriji gurunya gemetaran, pundaknya turun
dan gerakannya sukar sekali.
"Soehoe, kau kenapa?" ia tanya dengan suara berkuatir.
"Hudtim-ku masih ketinggalan separoh, sedang tali gendewanya kena aku kebut putus,"
kata sang guru sembari mesem. "Dalam pertandingan ini, aku tidak terhitung kalah."
"Tapi, tanganmu... tanganmu," kata sang murid.
Siauw Tjeng Hong kembali mesem dan berkata: "Orang she Tjoei itu adalah ahli silat kelas
satu dari Khongtong pay. Dengan berhasil gulingkan dia ke dalam jurang, aku sendiri pun
mesti mendapat sedikit luka. Kedua lenganku kena kepukul senjatanya, hingga jadi begini.
Akan tetapi, ia masih belum mampu membuat aku bercacat selamanya. Dalam tempo
lima hari, atau paling lama tujuh hari, aku sendiri akan dapat menyembuhkan. Oe-djie,
sekali ini aku ketolongan lantaran anak panahmu."
Thian Oe jadi kemalu-maluan dan berkata: "Anak panah yang dilepaskan olehku sama
juga telor menghantam batu. Bukan saja tidak mengenakan sasaran, malahan kena
dipukul balik. Ini semua disebabkan ilmu silatku masih sangat rendah, sehingga tidak
dapat membantu soehoe."
"Oe-djie, kau ternyata masih belum mengerti terang persoalannya," kata sang guru.
"Kalau begitu, mohon soehoe sudi menerangkan," kata Thian Oe.
"Tadi musuh sedang layani aku dengan tumplek semua tenaganya," demikian Siauw Tjeng
Hong memberi keterangan. "Oleh karena mesti menyambut anak panahmu, perhatiannya
jadi terpecah dan dengan menggunakan kekosongan itu, aku menyerang masuk. Kalau
bukannya begitu, walaupun aku tidak sampai menjadi kalah, tapi buat menang juga
bukannya perkara gampang. Cuma saja, kau sudah menempuh bahaya yang terlalu

besar. Kalau bukan jaraknya ada seratus tindak, kau pasti tidak akan kuat menahan
serangannya itu. Kalau diingat, sungguh luar biasa. Ilmu memanah yang aku ajarkan
padamu sudah membikin bocor rahasia tempat sembunyiku. Tapi ilmu itu juga sudah
membantu aku untuk jatuhkan musuh."
Sang murid jadi merasa heran dan menanya: "Kalau begitu, apakah soehoe mau bilang,
bahwa ia memanah padaku dengan anak panah tumpul adalah buat cari tahu rahasia?"
"Benar." sahut gurunya. Dengan melihat caranya kau menangkap anak panah, ia lantas
tahu bahwa kau adalah muridku. Sepuluh tahun ia cari ubak-ubakan dan akhirnya dapat
ketemukan juga padaku."
Hatinya sang murid jadi sangat tidak enak sebab ia mendadak ingat suatu hal. "Kalau
begitu, apakah semua pengembara yang menjual suara adalah orang-orang jahat?"
"Ah, tidak," sahut sang guru. "Aku sudah cari keterangan, bahwa selainnya itu wanita
Tsang, yang lain semuanya benar-benar adalah kaum pengembara. Kedua musuhku dan
wanita itu masing-masing mempunyai maksud tertentu dan sudah campuri dirinya ke
dalam rombongan pengembara."
"Apakah soehoe mendapat tahu asal-usulnya wanita Tsang itu?" tanya lagi Thian Oe
dengan hati berdebar.
"Tidak, aku tidak tahu," kata Siauw Tjeng Hong. "Urusan sendiri sudah cukup bikin aku jadi
sakit kepala, manalah aku mempunyai kegembiraan buat cari tahu asal-usulnya wanita
itu. Ah, Oedjie, sekarang jodoh kita sudah sampai pada akhirnya."
Sang murid jadi sangat terkejut. "Ada apa lagi yang harus ditakuti? Bukankah kedua
musuh itu sudah binasa?" kata ia.
Siauw Tjeng Hong meringis dan menyahut: "Ong Lioe Tjoe yang kena tendanganku
mungkin tidak dapat hidup lagi. Tapi Sinkiong (Gendewa malaikat) Tjoei Loosam (Si tua
ketiga she Tjoei) mempunyai tenaga dalam yang sangat kuat dan aku duga ia tidak mati
lantaran jatuh. Selainnya begitu, aku bukannya cuma mempunyai dua musuh berat.
Kepandaiannya musuh yang ketiga malahan banyak lebih tinggi dari kepandaianku. Jika
Tjoei Loosam tidak mati, ia tentu akan ajak musuh itu cari padaku. Aku kuatir dalam dunia
ini tidak ada orang yang dapat menolong."
"Habis bagaimana baiknya, soehoe?" tanya Thian Oe dengan suara bingung.
"Aku dengar di pinggiran Tibet ada hidup satu orang luar biasa," kata Siauw Tjeng Hong.
"Mungkin sekali ia masih dapat melawan musuhku itu. Cuma aku tidak tahu apa ia sudi
menolong atau tidak. Akan tetapi, dalam keadaan yang serba sulit, aku tidak dapat lihat
lain jalan lagi. Hari ini juga aku mau berlalu dari tempat ini buat coba-coba cari padanya."
Selagi Thian Oe mau menanya lagi, mendadak ia lihat satu titik hitam di lamping gunung
yang sedang turun mendatangi dan semakin dekat jadi semakin nyata. "Ah, itulah Kang
Lam," kata Thian Oe.
Sesudah berhadapan, napasnya Kang Lam memburu dan sengal-sengal. Sesudah
sengalsengalnya jadi lebih reda, ia berkata: "Looya
perintah aku cari kalian. Urusan hari ini, sesuai dengan pesanan Siauwya, aku sudah
beritahukan Looya."
"Bagaimana keadaan Looya?" tanya Thian Oe.

"Looya datang bersama serdadu pengawal dan tidak lama kemudian pasukannya Touwsoe
juga sampai," menerangkan Kang Lam. "Sekarang api sudah padam, yang binasa sudah
dirawat, yang luka sudah diobati. Serdadu kantor banyak sekali yang tewas dan yang
ketinggalan cuma beberapa belas orang saja. Looya bilang, ia mau pergi ke Lhasa buat
memberi laporan kepada Jenderal Hok. Nyepa yang pimpin pasukannya Touwsoe,
mengatakan ia mau cari kau. Menurut
katanya, malam ini kau harus pergi ke rumahnya Touwsoe."
"Tidak, aku tidak mau!" kata Thian Oe.
"Benar," kata Kang Lam lagi. "Looya juga tahu, kau tentu tidak mau. Ia perintah aku
sampaikan kepadamu, bahwa ia tak mau paksa kau melakukan apa-apa yang tidak
disukai olehmu. Sekarang ia tahu, bahwa Siauw sinshe adalah orang yang berkepandaian
tinggi, sehingga hatinya jadi lega dan suka permisikan kau mengikuti sinshe. Siauwya,
ada urusan apa yang kau tidak suka lakukan?"
Sang majikan tidak gubris pertanyaannya si kacung. "Soehoe," kata Thian Oe sambil
berpaling kepada gurunya. "Kalau begitu, biarlah aku ikut cari orang luar biasa itu."
"Kau ikut? Tak boleh! Berbahaya sekali," kata gurunya.
"Soehoe, kalau berdiam terus disini malahan akan lebih berbahaya," kata lagi Thian Oe.
"Bagaimana persoalannya aku akan ceritakan belakangan. Kang Lam, kau pulang saja dan
beritahukan Looya, bahwa aku akan pergi ke Lhasa buat ketemui ia."
Tjeng Hong awasi kedua tangannya dengan perasaan terharu sekali. "Muridku," kata ia
dengan suara sember. "Aku mengerti niatanmu yang sangat baik. Baiklah, kau boleh ikut
padaku."
***
Waktu itu sudah buntut musim semi, akan tetapi di jalanan pegunungan antara Sakya (di
Tibet Selatan) dan Shigatse (Tibet Barat), es dan salju masih belum mulai lumer.
Pengembara yang nyalinya paling besar juga mesti tunggu kira-kira setengah bulan lagi
sampai sinarnya matahari musim panas lumerkan gumpalan-gumpalan salju yang
menutup jalanan, barulah berani berjalan. Tapi tak terduga, pada waktu itu toh masih
ada dua penunggang kuda yang berani lalui jalanan gunung yang bulat-belit dan penuh
bahaya itu. Kedua penunggang kuda itu, satu tua dan satu muda, bukan lain daripada
Siauw Tjeng Hong dan Tan Thian Oe.
Tibet dikenal sebagai "Atapnya dunia." Daerah antara Sakya dan Shigatse, di sebelah
selatan terdapat pegunungan Himalaya, sedang di sebelah utara membentang gunung
Koenloen san, sehingga jalanannya lebih-lebih sukar dilewati. Di tempat tinggi, tipisnya
hawa udara membikin orang lebih sukar bernapas. Baik juga, Siauw Tjeng Hong
mempunyai tenaga dalam yang sangat kuat, sedang Tan Thian Oe sudah memiliki dasardasarnya ilmu silat dan usianya masih sangat muda, sehingga mereka tidak merasakan
penderitaan yang terlalu berat. Tapi kedua tunggangannya sangat kepayahan, napasnya
sengal-sengal, sedang dari mulutnya keluar ilar tak hentinya.
"Manusia masih dapat tahan, sang kuda dapat mati kecapaian," kata Siauw Tjeng Hong
sembari usap-usap bulu suri kudanya.
Hawa udara di Tibet Barat sangat luar biasa. Waktu siang, matahari sangat panas, dan
ditambah sama tipisnya hawa udara, panasnya menakuti orang. Akan tetapi, di tempattempat teduh, atau di waktu malam, dinginnya bukan main.

Walaupun di puncak gunung, es bertumpuk-tumpuk, sedang di lurang, sungai es mengalir


legat-legot laksana naga, akan tetapi orang yang berkepandaian bagaimana tinggi pun
tidak berani menempuh bahaya buat coba-coba memacul es atau salju buat dilumerkan
menjadi air. Harus diketahui, bahwa dengan sedikit getaran saja, tumpukan salju bisa
menjadi ambruk dan manusia serta binatang bisa terkubur hidup-hidup. Maka itulah,
dengan tumpukan es di seputarnya, seorang pelancong bisa kehausan setengah mati,
tanpa berani mengambil es itu.
Melihat tunggangannya sengal-sengal, Siauw Tjeng Hong menanya: "Kita masih punya
berapa kantong air?"
"Tiga kantong," jawab muridnya.
"Bagus," kata sang guru. "Coba berikan setengah kantong kepada kedua kuda. Kita irit
sedikit. Tanpa diberi minum, kedua binatang ini tidak akan kuat berjalan terus."
Kedua lengannya Siauw Tjeng Hong yang kena dibikin luka oleh musuh, masih belum
dapat bergerak leluasa, sehingga segala pekerjaan dilakukan oleh Thian Oe seorang.
Thian Oe lantas loncat turun, buka kantong air dan beri minum kedua binatang itu.
Mendadak di sebelah belakang terdengar suara kelenengan kuda dan tiga penunggang
kuda kelihatan mendatangi. Mereka itu adalah orang-orang Han, alisnya tebal, matanya
besar dan romannya kasar sekali. Melihat Thian Oe sedang kasih minum kudanya, satu
antaranya berkata: "Sayang! Sayang!"
Orang yang jalan paling depan tahan les dan berhenti di pinggirnya Thian Oe. "Eh," ia
menegur. "Apa kau punya banyak air? Persediaan kami sudah hampir habis. Dapatkah kau
bagi satu kantong?"
Cara bicaranya orang itu yang sangat kasar membuat Thian Oe jadi kaget dan, berkata
dalam hatinya: "Disini air lebih berharga daripada emas. Cara bagaimana bisa bagi kau?"
Tapi sebelum ia menyahut, gurunya sudah mendahului: "Pelancong harus saling
membantu. Oe-djie, kasihkan!"
Thian Oe tidak berani membantah. Ia serahkan satu kantong kepada orang itu yang lantas
tenggak dengan bernapsu sekali. "Kau orang baik. Mau kemana?" kata ia sembari lirik
Siauw Tjeng Hong.
"Ke Shigatse," jawabnya dengan pendek.
"Kenapa begitu buru-buru, tak mau tunggu sampai salju lumer?" ia tanya lagi.
"Ada anggauta keluarga yang sakit keras di Shigatse dan kami mesti lekas-lekas tengok
padanya," jawab Tjeng Hong.
Orang itu awasi kawannya. Paras mukanya mengunjuk kesangsian.
"Oe-djie," kata Siauw Tjeng Hong pada muridnya. "Hati-hati obat itu. Kantong obat lebih
baik jangan digantung di sela. Simpan saja. Jalanan sangat jelek, kalau kuda terpeleset
dan kantong obat hilang, akibatnya bisa hebat sekali. Yang lain masih tidak apa, tapi
Iiongsoeko sukar dicari."
Thian Oe terperanjat. Kantong yang tergantung di sela sebenarnya adalah kantong
senjata rahasia. Ia lirik gurunya yang balas mengawasi ia dengan sorot mata berarti. Ia
mendusin dan berkata dalam hatinya: "Benar, ketiga orang yang berani jalan di waktu

sekarang tentulah mempunyai kepandaian tinggi. Kita tidak boleh perlihatkan muka yang
sebenarnya. Tapi Iiongsoeko bukannya barang langka dan bisa dibeli dengan gampang di
Sakya. Kenapa soehoe bilang begitu?"
"Oh, kalau begitu pamilimu dapat sakit keluar-keluarkan darah?" kata lagi orang itu.
"Liongsoeko memang obatnya, tapi belum tentu bisa berhasil baik. Aku mengerti sedikit
ilmu pengobatan dan juga mau pergi ke Shigatse.
Marilah kita jalan bersama-sama."
"Bagus! Bagus!" jawab Siauw Tjeng Hong. "Walaupun aku pernah baca beberapa buku
obat, tapi tidak mengerti banyak tentang penyakit yang keluarkan banyak darah waktu
datang bulan. Maka itu, rasanya aku mesti minta pertolongan saudara untuk
mengobatinya."
"Sesudah dihadiahkan air, aku tentu akan menolong apa yang bisa," kata orang itu
sembari menyoja.
Ia lantas kedut les, sedang kedua kawannya apit Thian Oe di tengah-tengah.
Thian Oe merasa jengkel lantaran tidak mengerti maksud perkataan gurunya, dan dengan
diapit di sama tengah seperti orang perantaian, hatinya jadi mendeluh. Ia tidak tahu,
bahwa biarpun di Sakya liongsoeko, bukannya barang langka, akan tetapi pada waktu
begini, liongsoeko sukar didapat di Shigatse, karena mesti menunggu sampai lumernya
salju barulah ada pedagang yang angkut obat itu ke Shigatse.
Di sepanjang jalan, ketiga orang itu coba pancing-pancing Siauw Tjeng Hong. Akan tetapi
ia berlaku sangat hati-hati. Begitu lekas pembicaraan biluk ke soal Kangouw, ia lantas
memberi jawaban tolol dan belokkan omongan ke ilmu pengobatan.
Mereka ternyata tidak mempunyai banyak pengetahuan tentang ilmu tersebut dan cuma
kenal cara mengobati orang kepukul, muntah darah dan sebagainya, yang umumnya
harus dimengerti oleh orang yang pandai silat.
Sesudah jalan beberapa lama, matahari doyong ke barat. "Untung kita tidak ketemukan
salju roboh," kata orang yang jalan paling depan. Belum habis ia ucapkan perkataannya,
di sebelah depan mendadak terdengar suara tindakan kaki kuda. Ia terkejut dan lihat satu
penunggang kuda mendatangi dari satu lembah. Kaki kudanya dibungkus kain wol tebal
buat menjaga hawa dingin, sehingga tindakannya baru dapat didengar, sesudah ia datang
dekat.
Jalanan disitu sangat berbahaya dan sempit dan cuma dapat dilalui oleh seekor kuda.
Kuda yang mendatangi jalan sangat cepat dan agaknya tidak akan dapat ditahan oleh si
penunggangnya, sehingga satu tubrukan sukar disingkirkan.
Orang yang beroman kasar dan jalan paling depan dari rombongan Siauw Tjeng Hong,
jepit keras perut kuda dengan kedua dengkulnya dan kuda itu lantas berhenti. Satu
tangannya terangkat dan dorong orang yang baru datang, dengan niatkan jatuhkan ia ke
dalam jurang. Sembari menjerit, orang itu tergelincir dari kudanya, sedang satu
tangannya jambret selanya orang kasar itu. Ia jatuh tepat di depan kudanya Thian Oe,
sedang jambretannya mengenakan kantong air si kasar yang lantas menggelinding jatuh
ke dalam jurang.
Hatinya Thian Oe kembali jadi kaget. Ia lihat orang itu adalah pemuda yang dandanannya
seperti anak sekolah. Disitu ia berdiri, dengan sikap yang ketakutan. Si orang kasar loncat
turun dari kudanya dan memaki: "Apa kau buta? Hayo lekas ganti kantong airku!"

"Airku sendiri sudah diminum habis. Aku justru sedang mencari air, mana bisa
mengganti?" jawabnya.
"Tak bisa ganti?" membentak si kasar. "Baiklah! Aku keset saja kulitmu dan hirup
darahmu!" Ia cabut goloknya dan jalan menghampiri buat pegang tangannya si anak
sekolah.
Thian Oe jadi sangat gusar. Anak sekolah itu memang ceroboh, tapi mengambil jiwanya
adalah perbuatan keterlaluan. "Aku yang ganti!" ia berseru tanpa merasa lagi.
Si kasar kelihatan terkejut. "Baik!" kata ia sembari tertawa dingin. "Kau yang mau ganti?
Mari!"
Thian Oe lantas saja lepaskan satu kantong air yang tergantung di sela kuda. Waktu
berangkat, mereka bawa tiga kantong air. Satu kantong sudah dihadiahkan, satu kantong
dibuat mengganti, isinya sekantong lagi sudah diminum separoh oleh sang kuda,
sehingga sekarang mereka cuma mempunyai setengah kantong air. Si kasar tidak main
sungkan-sungkan. la angsurkan tangannya untuk sambuti kantong air itu.
Anak sekolah itu rangkap kedua tangannya dan memberi hormat kepada Thian Oe.
"Terima kasih banyak-banyak buat budi saudara yang sudah menolong jiwaku," kata ia.
"Ah, sekarang bisalah kita melihat budi pekertinya seorang koentjoe (manusia utama) dan
serakahnya seorang siauwdjin (orang rendah)."
"Kau bilang apa?" tanya si kasar sembari mendelik.
"Aku sedang bersyair, ada sangkut paut apakah dengan kau?" kata si anak sekolah.
"Sama-sama pelancong kita harus saling mengalah," kata Thian Oe dengan suara
berkuatir. "Sudahlah, pihak tuan toh tidak mendapat rugi apa-apa."
Satu orang yang berada di belakangnya Siauw Tjeng Hong (rupanya, ia adalah saudara
paling tua antara mereka bertiga), juga turut membujuk: "Loosam, dengan memandang
mukanya ini saudara kecil, biarlah kita ampuni padanya."
Sembari marah-marah si kasar loncat naik ke atas kudanya. "Sekarang mundurkan
kudamu sampai dibilukan yang lebih luas, supaya kita bisa lewat lebih dahulu," kata ia
kepada si anak sekolah dengan suara aseran.
"Ah, buat apa begitu berabe," jawabnya. "Kemanakah kalian mau pergi?"
"Bukan urusan kau," kata si kasar.
"Manalah aku berani tanya kau? Aku tanya ini saudara kecil," kata si anak sekolah dengan
suara tenang.
"Kita semua mau pergi ke Shigatse," kata Thian Oe.
"Bagus! Bagus!" kata si anak sekolah lagi. "Kalau begitu, kita beramai semua satu
tujuan."
"Kau barusan datang dari jurusan sana, kenapa sekarang bilang mau ke Shigatse?" tanya
Thian Oe dengan penuh keheranan.
"Barusan aku cari air dan lantaran jalanan bulat-belit, jadi sampai disini," menerangkan ia.
"Aduh, haus! Haus! Saudara kecil, menolong orang harus menolong sampai di akhirnya.
Kasihlah aku minum barang dua ceglukan."

Thian Oe tidak dapat berbuat lain daripada buka lagi kantong airnya, yang isinya tinggal
separoh. Si anak sekolah lantas saja gelogok isinya dan Thian Oe mengawasi dengan
perasaan sayang.
Sesudah minum, si anak sekolah miringkan badannya dan lewat di pinggir kudanya si
orang kasar. Ia angkat les buat bilukkan kepala kuda, supaya si anak sekolah jadi kaget.
Tapi tak dinyana gerakannya si anak sekolah luar biasa cepat dan di lain saat, ia sudah
cemplak kudanya. Ia rangkap kedua tangannya dan soja kepada Thian Oe sembari
berkata: "Aku jalan duluan sebagai pengunjuk jalan."
"Siapa mau kau jadi pengunjuk jalan?" kata si kasar dengan suara perlahan. Si anak
sekolah seperti tidak mendengar dan lantas jalankan kudanya.
Si kasar yang kelihatannya masih berdongkol, tak hentinya mengoceh sama dua
kawannya dalam bahasa Kangouw yang tidak dimengerti oleh Thian Oe.
Ketika itu, matahari sudah silam ke barat. Angin gunung mulai turun dan hawa luar biasa
dinginnya. Mendadak di sebelah depan terdengar suara "srr, srr." Orang yang jalan di
belakangnya Siauw Tjeng Hong, berkata dengan girang: "Kita kuatir malam ini tidak bisa
dapat tempat mengasoh yang baik. Untung benar sekarang ketemu sumber air panas."
Sesudah lewati satu lembah, mereka tiba di satu tanah datar luas dan dari antara batubatu gunung yang besar, uap panas keluar bergulung-gulung, sedang cipratan air
muncrat berterbangan di tengah udara, sehingga merupakan bunga-bunga dalam warna
ungu dan merah muda. Pemandangan itu sungguh indah, seakan-akan kembang api yang
dipasang di waktu pesta Goansiauw (Capgomeh).
Dalam bumi Tibet terdapat banyak sekali gunung api yang antaranya masih terus bekerja
dan semburkan air mancur yang sangat panas ke atas bumi, dan inilah yang merupakan
salah satu pemandangan yang aneh di wilayah Tibet. Oleh karena di pegunungan sukar
mencari bahan bakar, maka penduduk sangat hargakan ini sumber air panas. Seringsering mereka mengikat daging kering sama tali dan dicemplungkan ke dalam air panas
itu. Sesudah lewat beberapa jam, daging itu akan matang.
Hawa di sekitar sumber air panas ini hangat seperti hawa musim semi. Selainnya itu,
sesudah dibikin dingin, air panas tersebut merupakan minuman yang paling baik. Maka
itulah, para pelancong paling girang kalau bertemu dengan sumber panas itu. Mereka
turun dari kuda dan pasang tenda buat mengasoh.
Ketiga orang yang berkawan lantas saja pasang satu tenda buat mereka mengasoh. Oleh
karena kuatir si anak sekolah dihina oleh ketiga orang itu, diam-diam Thian Oe berdamai
dengan gurunya buat undang ia itu mengasoh bersama-sama dalam tendanya. Tapi sang
guru unjuk paras muka sungguh-sungguh dan gelengkan sedikit kepalanya, sehingga si
murid tidak berani bicara lebih jauh.
Sesudah ambil air dan makan rangsum kering, mereka semua masuk ke dalam tenda.
"Soehoe, apakah kau lihat apa-apa yang kurang baik dalam dirinya anak sekolah itu?"
Thian Oe berbisik.
"Aku masih belum tahu asal-usulnya. Tapi ketiga orang yang berkawan adalah musuhku!"
jawab sang guru.
"Habis bagaimana?" tanya Thian Oe dengan terkejut.

"Pada sepuluh tahun berselang, aku telah tanam bibit permusuhan dengan tiga orang,"
menerangkan si guru. "Dua antaranya kemarin dulu datang di Sakya buat cari padaku.
Yang satu bernama Ong Lioe Tjoe, sedang yang lain Tjoei In Tjoe. Kepadaiannya Ong Lioe
Tjoe berada di sebelah bawahanku, sedang Tjoei In Tjoe kira-kira berimbang dengan aku.
Musuhku yang ketiga adalah ahli silat kelas satu dari Boetong pay, yaitu Loei Tjin Tjoe.
Kepandaiannya banyak lebih tinggi daripada aku. Buat singkirkan diri, aku mengumpat di
tempat sepi. Tapi, siapa nyana, mereka dapat juga cari diriku."
"Apa antara tiga orang di tenda itu terdapat Loei Tjin Tjoe?" tanya Thian Oe.
"Kalau Loei Tjin Tjoe ada, aku tentu sudah tidak bernyawa," jawab Siauw Tjeng Hong.
"Mereka itu adalah murid-muridnya Loei Tjin Tjoe. Barusan aku dapat dengar
pembicaraannya dalam bahasa Kangouw. Ternyata mereka mendapat perintah Loei Tjin
Tjoe buat cari Ong Lioe Tjoe dan Tjoei In Tjoe. Masih untung, mereka tidak tahu aku
adalah musuh gurunya. Tapi mereka curigai anak sekolah itu, yang diduga adalah
muridku. Menurut
pemandanganku, anak sekolah itu juga adalah seorang yang berkepandaian tinggi, cuma
masih belum terang, apa ia kawan atau lawan. Biar bagaimana juga, kita harus sangat
berhati-hati."
Thian Oe gulak-gulik di dalam tenda dan tidak dapat tidur pulas. Tak tahu sudah lewat
berapa lama, kupingnya mendadak dengar suara tangisan di tempat jauh. Suara itu yang
menyayatkan hati seperti juga tangisan setan dalam tempat yang belukar itu. Waktu baru
mendengar, bulu badannya Thian Oe pada bangun. Lama kelamaan, Thian Oe merasa
seperti sudah pemah dengar suara begitu. Ia lantas loncat berdiri.
"Mau apa?" tanya gurunya.
"Soehoe," berbisik sang murid.
"Dengarlah tangisannya wanita itu, seperti orang sedang hadapi bencana. Rasanya masih
bisa ditolong."
"Baiklah, Oe-djie! Pergi selidiki," kata sang guru dengan mata bersinar.
"Tidak, aku harus temani soehoe," kata sang murid.
Meskipun ilmu silatnya Siauw Tjeng Hong sangat tinggi, tapi lantaran kedua tangannya
belum dapat bergerak leluasa, ia seperti juga orang bercacat. Thian Oe kuatir, begitu ia
berlalu, musuh segera menyatroni. Dari sebab itu, sedang di satu pihak, ia sangat pikirkan
nasibnya wanita yang sedang menangis,, di lain pihak ia tidak berani tinggalkan gurunya.
Tapi parasnya sang guru lantas berobah dan berkata: "Kita adalah kaum ksatria yang
mengutamakan pribudi dan kita tidak boleh berpeluk tangan, jika ketemu dengan sesama
manusia yang menghadapi kebinasaan.
Dengarlah suara tangisannya wanita itu. Kalau bukan ketemu penjahat, ia tentu mau
bunuh diri. Kau pergilah! Aku masih dapat menolong diri sendiri, jika perlu. Hayo, lekas!"
Thian Oe bersangsi. Suara tangisan jadi lebih menyayatkan hati. "Urusan ada yang
penting, ada yang kurang penting," kata Siauw Tjeng Hong dengan suara gusar.
"Saat ini menolong orang yang paling penting. Kenapa kau membandel? Hayo lekas!"
"Soehoe, kalau begitu, jagalah diri baik-baik. Aku pergi lantas kembali," kata sang murid
dengan suara terharu melihat tingginya budi pekerti sang guru.

Dengan perlahan Thian Oe keluar dari tenda dan lalu berlari-lari menuju ke arah suara
tangisan, dengan gunakan ilmu entengi badan.
Thian Oe belajar ilmu silat dengan sembunyi-sembunyi dan belum pernah digunakan
dalam praktek. Inilah buat pertama kali, ia menggunakan ilmu tersebut. Jalanan gunung
yang penuh bahaya dan banyak batunya, ditambah lagi sama gelapnya sang malam,
membikin perjalanan jadi semakin sukar. Begitu kerahkan ilmu Teetjiongsoet, badannya
melesat beberapa tombak jauhnya. Lantaran belum mahir dan lari terlalu cepat, kakinya
terpeleset dan ia jatuh terguling. Mendadakan, ia dengar suara tertawa dingin. Buru-buru
ia bangun dan memandang ke seputarnya, tapi tidak kelihatan bayangannya barang satu
manusia.
Sesudah tetapkan hatinya, ia kembali berlari-lari, kali ini dengan terlebih hati-hati.
Sesudah jalan kurang lebih setengah jam, ia tiba di depannya satu bukit es.
Di atas bukit es itu berdiri seorang wanita, yang bukan lain daripada itu gadis Tsang!
"Thianlie tjietjie," kata si nona sembari menangis. "Sungguh aku menyesal tidak belajar
lebih lama dengan kau. Sekarang bukan saja sakit hati tak dapat dibalas, malahan
berbalik didesak orang. Oh, ayah dan ibuku! Terlebih baik anakmu mengikut kau!"
Thian Oe terperanjat. Mendadak, ia lihat nona itu bergerak seperti orang mau buang diri,
tapi tidak jadi. "Biarlah! Bisa lawan satu, aku lawan satu! Mari! Mari!" katanya dengan
suara geregetan.
Ketika itu Thian Oe masih berada dalam jarak belasan tombak dari bukit es dan di
depannya menghalang satu batu besar. Si gadis pun bukannya berdiri berhadapan
dengan ia, maka perkataannya tadi tentulah bukan berarti ditujukan kepadanya.
Hatinya Thian Oe jadi legaan sebab tahu si nona tidak akan segera mengambil jalanan
pendek. Rupa-rupa pikiran saling susul berkelebat dalam otaknya. Apakah Touwsoe itu
yang jadi musuhnya si nona? Kalau benar, kenapa Touwsoe mau melepaskan ia secara
begitu gampang? Apakah, diam-diam si Touwsoe perintah orang ubar padanya? Kalau
bukan begitu, kenapa ia bilang sedang didesak orang? Dtm siapa itu wanita yang
dinamakan Thianlie? Kenapa namanya begitu luar biasa?
Sembari memikir begitu, Thian Oe niat melangkah buat mendaki bukit es. Tiba-tiba ia
dengar wanita itu berteriak keras, tangannya diayun dan sehelai sinar terang menyambar
bagaikan kilat. Itulah golok terbang! Sebelum Thian Oe dapat melihat tegas, wanita itu,
yang rupanya terpleset lantaran gunakan tenaga terlalu besar, jatuh terpelanting. Pada
saat yang sangat berbahaya, dari pojokan bukit es loncat keluar satu orang yang lantas
jambret padanya.
Thian Oe terkesiap, sebab orang itu bukan lain adalah Nyepa Omateng yang telah minta
pertolongan ayahnya buat menolong wanita Tsang itu. Tidak dinyana, Nyepa yang rakus
dan gemuk itu, yang biasanya sukar dapat berjalan tegak, sekarang dapat loncat ke atas
bukit es dalam gerakan yang sedemikian cepatnya.
Pada saat itu, Thian Oe mengawasi dengan mulut ternganga, sedang satu tangannya
mencekal hoeito keras-keras, siap sedia buat lantas menimpuk jika Omateng coba bikin
celaka gadis itu.
"Minggir!" gadis itu membentak. "Aku memang bukan tandinganmu. Sakit hatiku tak
dapat dibalas, biarlah aku terjun ke bawah. Kau yang sudah terima perintahnya Touwsoe
buat mengubar padaku, harus mengetahui bahwa aku ini sebangsa apa. Manalah aku
mau kasih diri dihina olehmu?"

Omateng tertawa terbahak-bahak dan berkata: "Aku tahu, nama pedenganmu adalah
Sanma, sedang namamu yang asli adalah Chena. Kau adalah puterinya Raja muda
Chinpu!"
"Kalau kau sudah tahu, kenapa masih rewel!" membentak sang puteri. "Puterinya Raja
muda Chinpu cuma mengenal bunuh diri, tapi tidak boleh dihina orang! Sesudah aku
binasa di bawah bukit, barulah kau boleh kutungkan kepalaku!"
Omateng terus cekal tangannya dan berkata sembari tertawa" "Apa kau tahu, siapa
adanya aku?"
"Anjingnya Touwsoe Sakya!" sahutnya.
"Tidak," kata Omateng. "Kau salah. Aku pun musuhnya Touwsoe dan aku sengaja datang
kemari buat menolong jiwamu."
Sekarang Chena kaget. Sesudah berdiam beberapa saat, ia menanya: "Jadi kau datang
bukan buat menangkap aku?"
"Touwsoe tidak mengetahui, bahwa kau adalah puterinya Raja muda Chinpu," kata
Omateng. "Kalau ia tahu, ia tentu akan kirim orang buat bekuk padamu."
Chena menghela napas, sedang Omateng lepaskan cekalannya. "Nyalimu cukup besar,
cuma terlalu goblok," kata ia
"Apa?" Chena menegasi.
"Goblok," mengulangi Omateng. "Kau sama sekali tidak pikirkan Touwsoe mempunyai
berapa banyak orang pandai, dan dengan seorang diri, kau sudah berani coba-coba
membalas sakit hati. Aku sendiri, yang mempunyai kepandaian banyak lebih tinggi
daripada kau, bertahun-tahun mengabdi padanya sebagai Nyepa dengan menukar she
dan nama. Buat membalas sakit hati, orang harus menunggu sampai datang temponya
yang tepat. Orang Han ada bilang: "Koentjoe membalas sakit hati, sepuluh tahun masih
belum terlambat. Apakah kau belum pernah dengar nasehat itu?"
Kedua matanya Chena lantas saja berlinang air. Ia agaknya sudah percaya habis kepada
Nyepa itu.
"Siapa yang ajarkan kau ilmu silat?" Omateng mendadak tanya.
"Pengtjoan Thianlie (Bidadari dari Sungai Es)!" sahutnya.
"Pengtjoan Thianlie?" menegaskan Omateng dengan paras muka berobah. "Apa benar
Pengtjoan Thianlie?"
"Ia menolak buat jadi guruku dalam artian yang sebenarnya. Ia cuma mau ajarkan ilmu
silat buat tiga hari lamanya," menerangkan Chena.
"Oh, kalau begitu, aku percaya," kata Omateng. Dengan berkata begitu, Omateng seperti
mau bilang, bahwa jika benar Chena adalah muridnya Pengtjoan Thianlie, ilmu silatnya
mesti banyak lebih tinggi daripada apa yang dipunyai olehnya sekarang.
"Dimana tempat tinggalnya Pengtjoan Thianlie?" tanya lagi Omateng.
"Di Thian-ouw (Telaga Langit)" jawab Chena. "Namanya yang sejati jarang diketahui
orang. Cara bagaimana kau dapat mengenal padanya?"

"Sebenarnya aku tidak kenal, cuma aku tahu, ada orang yang sedang cari pad-anya," kata
Omateng. Sesudah itu, ia bicara bisik-bisik, sehingga Thian Oe tidak dapat dengar. Ia
cuma lihat, sang puteri manggut-manggutkan kepalanya.
"Sekarang pergilah kau lari dengan ambil jalanan di bawah jurang es itu," kata Omateng.
"Disini ada satu lengtjian-nya (pertandaan) Touwsoe. Ambillah. Dengan lengtjian itu,
orang tidak akan berani ganggu padamu. Hi! Aku dengar suara orang. Pergi sembunyi.
Aku pergi lebih dahulu."
Thian Oe pasang kupingnya, tapi tidak dapat dengar suatu apa. Dengan mengintip, ia
dapat lihat Omateng keluarkan seutas tambang panjang, dengan apa ia turun ke bawah
bukit. Mendadak, dari sinar rembulan dan es, ia lihat Omateng keluarkan satu senyuman
yang membikin bulu badannya berdiri. Itulah senyuman licik, berlapis kejam! Sesudah
mendengar pembicaraannya barusan, perasaan membencinya Thian Oe terhadap
Omateng sebenarnya sudah menjadi hilang. Ia anggap, Nyepa itu adalah seorang baik.
Tapi sekarang, sesudah lihat senyuman itu, hatinya timbul perasaan sebal dan kembali
curigai orang yang serakah itu.
Sang puteri perlahan-lahan menengok ke belakang dan menggape ke arah tempat
sembunyinya Thian Oe. "Keluarlah! Aku sudah lihat kau," kata ia. Sehabis berkata begitu,
ia lantas jalan turun ke bawah bukit es.
Hatinya Thian Oe berdebar keras. Ia datang buat menolong si nona, tapi sekarang,
sesudah berhadapan, ia tak tahu mesti bicara apa.
Sesudah datang dekat, si nona berkata sambil tertawa: "Terima kasih atas pertolonganmu
kepada wanita yang menderita ini!"
Tan Thian Oe sudah hidup delapan belas tahun lamanya dan selama itu, belum pernah ia
bicara dengan wanita asing. Sebab begitu, mukanya lantas saja bersemu merah dan ia
berdiri dengan sikap kemalu-maluan. Akan tetapi, melihat gadis itu mengawasi padanya
dengan mulut tersungging senyuman, biarpun paras mukanya masih tetap dingin dan
angkuh, Thian Oe jadi merasa lebih tetap hatinya.
Tanpa merasa, Thian Oe balas mesem. Ia keluarkan selampe sutera yang berwarna putih
dan persembahkan kepada sang puteri, sebagai suatu khata. Si gadis mesem simpul dan
sambuti hadiah itu dengan dua jerijinya. Sembari masukkan khata dalam sakunya, ia
berkata: "Terima kasih buat hadiahmu. Sudah berapa lama kau datang disini?"
"Cukup lama buat menyaksikan apa yang telah terjadi barusan," jawab Thian Oe.
"Sungguh 'ku tidak nyana bahwa kau ini adalah sang puteri yang kita muliakan."
"Urusanku kau tak usah sebut-sebut lagi," kata Chena. "Di antara orang Tsang ada satu
pepatah yang mengatakan: Impian semalam jangan ceritakan di siang hari."
Thian Oe merasa kikuk sekali. Tanpa mengetahui sebabnya, hatinya sangat
memperhatikan wanita itu. Ia sangat ingin mengeluarkan isi hatinya, akan tetapi
mulutnya seperti terkancing. Akhirnya, dengan memberanikan hati, ia berkata: "Alangkah
baiknya kalau nona tidak terlalu percaya Nyepa Omateng."
"Apa ia?" kata Chena. "Urusanku aku dapat mengurus sendiri. Legakanlah hatimu."
Sesudah berkata begitu, ia agaknya merasa menyesal dan kuatir kalau-kalau
perkataannya menyinggung perasaan. Maka itu, ia kembali mesem dan berkata: "Biar
bagaimana juga, aku menghaturkan banyak terima kasih buat maksudmu yang sangat
baik. Sebenarnya aku pun tidak percaya habis padanya! Sedari tadi, aku sudah
mengetahui kedatanganmu, akan tetapi aku tidak membilang apa-apa di hadapannya."

Thian Oe juga membalas dengan satu meseman. Baru ia akan buka suara, sang puteri
sudah mendahului "Terima kasih banyak buat hadiahmu. Aku sendiri tidak mempunyai
suatu apa untuk membalasnya. Biarlah aku persembahkan sekuntum bunga kepadamu."
Thian Oe heran. "Di tempat yang begini tinggi dan dengan hawa sedemikian dingin,
dimanalah orang dapat mencari kembang?" kata ia dalam hatinya.
Chena keluarkan satu vas perak kecil dari dalam sakunya. Dalam vas itu terdapat
sekuntum bunga putih yang di atasnya masih menempel butiran-butiran embun, seperti
juga baru dipetik dari tangkainya.
"Bunga ini adalah hadiah dari Pengtjoan Thianlie dan aku sudah simpan setahun
lamanya," kata Chena. "Sekarang biarlah aku persembahkan kepadamu."
Bukan main herannya Thian Oe. Dalam dunia ini dimanakah tumbuhnya bunga itu, yang
sesudah dipetik setahun, masih kelihatan begitu segar?
"Menurut keterangan Thianlie tjietjie," kata lagi Chena. "Bunga ini dinamakan soatlian
(Teratai salju) yang ia cabut dari pegunungan Thiansan dan dipindahkan ke tempat
tinggalnya. Tidak perduli orang mendapat luka di dalam yang bagaimana berat, begitu
makan bunga ini, jiwanya
akan ketolongan. Kau ambillah."
"Ah, manalah aku berani terima hadiah yang berharga sedemikian besar," kata Thian Oe.
"Apa kau lupakan gurumu?" tanya Chena. "Aku tahu, dua orang Han itu cari permusuhan
dengan gurumu. Mungkin sekarang ia mendapat luka Hari itu kau sudah menolong jiwaku
dan aku tidak mempunyai apa-apa buat membalas budimu. Soatlian ini justru cocok buat
gurumu. Ambillah."
Mendengar begitu, Thian Oe tidak berlaku sungkan lagi dan lantas menerima vas
tersebut. Meskipun gurunya bilang, dalam tujuh hari, ia sendiri dapat menyembuhkan
lukanya, akan tetapi sekarang, sesudah lewat empat hari, kedua lengannya masih belum
dapat bergerak leluasa, sehingga belumlah tentu, apa cara pengobatan dengan jalankan
napas itu bisa berhasil baik.
"Gurumu tentu sedang menunggu dengan tidak sabaran. Kau pulanglah," kata Chena
sembari tertawa. Sehabis berkata begitu, dari pinggangnya ia loloskan seutas tambang
panjang yang ujungnya dipasangi gaetan. Dengan sekali lempar, gaetan itu nyangkol
pada batangnya satu pohon siong tua. Sambil mencekal tambang, ia ayun badannya yang
lantas terbang ke seberang. Dengan berbuat begitu beberapa kali, dalam tempo sekejap,
ia sudah lewati tanjakan di sebelah depan dan sesudah biluk di satu lembah, badannya
lantas menghilang.
Thian Oe menghela napas panjang. "Ah, bertahun-tahun aku belajar silat, tapi ia, yang
baru belajar tiga hari, sudah mempunyai kepandaian entengi badan yang lebih tinggi
daripada aku," katanya di dalam hati.
Sesudah kantongi soatlian itu, ia lantas berbalik dan berjalan pulang. Sembari jalan,
otaknya penuh dengan rupa-rupa pikiran. Ia ingat kejadian-kejadian luar biasa selama
beberapa hari paling belakang. Itu gadis dari Tsang sudah aneh sekali, akan tetapi,
didengar dari pembicaraannya sama Omateng, Pengtjoan Thianlie lebih aneh lagi. Cara
bagaimana, dalam tempo cuma tiga hari, ia sudah bikin puteri yang lemah dari seorang
raja muda menjadi seorang yang ilmu silatnya tinggi.

Dengan berjalan sembari ngelamun, tanpa merasa ia sudah lewati beberapa lembah dan
ia sudah lihat uap putih yang disemburkan oleh sumber air panas. Sesudah datang lebih
dekat, di antara suara semburan air, lapat-lapat terdengar suara bentrokan senjata yang
semakin lama jadi semakin tegas. Thian Oe terkejut dan cepatkan tindakannya.
Sekonyong-konyong kupingnya dengar suara tertawa dingin yang keluar dari pinggir jalan.
Thian Oe cabut pedangnya dan di lain saat, dari pinggir jalanan loncat keluar satu orang
yang tangannya mencekal pecut panjang.
"Bocah tolol!" ia mengejek sembari tertawa. "Kau mau pulang buat antar jenazahnya tua
bangka she Siauw?"
Dengan gusar Thian Oe menyabet dengan pedangnya. Orang itu berkelit sembari
sabetkan pecutnya ke arah pinggangnya Thian Oe, yang hampir saja kena terpecut kalau
tidak buru-buru loncat tinggi. Sembari tertawa berkakakan, orang itu gentak pecutnya
yang menyambar dua kali beruntun bagaikan ular. Dengan gerakan Toeitjhung bonggoat
(Buka jendela melongok bulan), Thian Oe membabat lengannya musuh. Orang itu benar
liehay. Dengan cepat ia robah gerakan dan sapu kakinya Thian Oe yang jadi sangat ripuh
lantaran diserang atas dan bawah. Dalam kerepotannya itu, Thian Oe kirim satu tikaman
hebat. Mendadakan, ia rasakan lengannya berat, sebab pedangnya kena digulung sama
ujung pecut. Thian Oe bingung dan tanpa berpikir keluarlah ilmu silat simpanan dari
gurunya. Ia pasang kuda-kuda dan gentak pedangnya Orang itu keluarkan seruan
tertahan lantaran ujung pecutnya yang sedang melibat jadi terlepas. Saat itu, Thian Oe
segera barengi dengan dua serangan yang saling susul. Diserang secara begitu, orang itu
terpaksa mundur beberapa tindak.
Ilmu silatnya Thian Oe sebenarnya ada lebih tinggi dari lawannya. Cuma saja lantaran
baru pertama kali bertempur dengan musuh, maka pada gebrakan pertama, hatinya
sedikit keder. Sesudah lihat kemampuan sang lawan cuma sebegitu saja, nyalinya jadi
lebih besar dan dengan tenang ia keluarkan Tjengshia Kiamhoat (Ilmu pedang dari
Tjengshia pay) yang lantas menyambar-nyambar bagaikan seekor naga. Lima puluh jurus
sudah lewat tanpa ada yang keteter. Thian Oe lebih unggul dalam ilmu pedang, tapi orang
itu lebih matang dalam pengalaman.
Sekarang orang itu tidak berani lagi memandang enteng kepada pemuda lawanannya.
"Murid dari guru ternama, memang juga tidak sembarangan," kata ia dalam hatinya.
Sesudah bertempur lagi beberapa jurus, orang itu lalu keluarkan akal licik. Kakinya terus
bergerak ke kiri dan ke kanan, sehingga Thian Oe terpaksa mengikuti padanya.
Sebagaimana diketahui, jalanan gunung itu sangat berbahaya. Ditambah dengan
gelapnya sang malam dan licinnya jalanan lantaran es, bahaya itu jadi semakin besar.
Thian Oe belum mempunyai pengalaman. Buat jalan di atas jalanan gunung saja, ia sudah
tidak biasa, apalagi mesti bertempur hebat. Maka itu, baru saja bulak-biluk beberapa kali
dalam mengikuti tindakan lawannya, kakinya sudah terpeleset beberapa kali dan hampirhampir jatuh terguling. Dengan perlahan orang itu tuntun Thian Oe ke pinggir jurang dan
hatinya diam-diam merasa girang.
Tapi mendadak, muridnya Siauw Tjeng Hong tancap kedua kakinya dan tidak mau
bergerak lagi. Ia putar pedangnya untuk melindungi badannya dan saban-saban musuh
datang dekat, ia menikam atau menyabet bagaikan kilat. Ternyata Thian Oejuga sangat
cerdik. Begitu melihat cara berkelahinya orang itu, ia tahu akan bahaya yang
mengancam. Buru-buru ia kerahkan ilmu Tjiankin toei (Ilmu bikin berat badan seribu kati)
dan tancap kedua kakinya di atas tanah. Dalam kedudukan begitu, ia mengambil siasat
membela diri. Berulang kali orang itu coba pancing padanya, tapi ia tetap tidak mau
bergerak.

Dua puluh jurus kembali sudah lewat. Orang itu tidak dapat menyerang masuk, sedang
Thian Oe pun sungkan menyerang keluar. Selagi hatinya merasa sangat tidak sabaran,
kupingnya Thian Oe mendadak dengar suara tertawa dari seorang tua. "Hm!" kata orang
itu. "Masa segala bocah kau tidak dapat takluki! Jangan bikin malu padaku. Houw-tjoe,
coba dekatan supaya aku dapat melihat terlebih nyata."
Thian Oe awasi orang itu dan hatinya kaget bukan main. Seorang lelaki tinggi besar dan
bermuka hitam panggul sebuah tandu dan dalam tandu itu duduk satu orang yang
mukanya kuning dan menakuti sekali, sedang kedua matanya bundar dan besar. Orang itu
bukan lain daripada Tjoei In
Tjoe yang kena dipukul terguling ke dalam jurang oleh gurunya. Kena terpukul hudtim, isi
perutnya mendapat luka berat, badannya mati sebelah dan tidak dapat bergerak.
Lantaran begitu, ia perintah dua muridnya tandu padanya buat pergi ke Shigatse guna
cari Loei Tjin Tjoe supaya dapat diobati oleh saudara angkatnya itu. Dan tidak dinyana, di
tengah jalan ia bertemu dengan Tan Thian Oe.
Sebagai orang yang lebih tua, ia masih menjaga kedudukannya dan sungkan turun
tangan terhadap orang dari tingkatan lebih muda. Ia lebih dahulu perintah salah satu
muridnya menyerang pemuda itu. Ia menduga, berhubung usianya yang masih sangat
muda. Thian Oe tidak mempunyai kepandaian tinggi, sedang muridnya sudah berlatih dua
puluh tahun, sehingga dengan sekali gebrak, ia taksir murid Siauw Tjeng Hong akan dapat
dibekuk.
Tapi siapa nyana, dugaannya meleset jauh sekali. Apa yang dibelajarkan oleh Thian Oe
adalah lweekang (ilmu tenaga dalam) yang tulen dari Tjengshia pay dan pemuda itu
sudah mempunyai dasar-dasar yang kuat. Ditambah dengan ilmu silat pedangnya yang
sangat bagus, kalau bukan ia masih kurang pengalaman, murid Tjoei In Tjoe benar-benar
bukan tandingannya. Melihat muridnya keteter, mau tidak mau Tjoei In Tjoe terpaksa
munculkan diri.
Mendengar makian gurunya, muridnya Tjoei In Tjoe jadi kemalu-maluan dan ia berdiri
sembari tunduk di pinggir tandu. Badan Tjoei In Tjoe mati sebelah di bagian bawah, tapi
kedua tangannya masih dapat bergerak leluasa. Sembari tertawa menyeramkan, dua
jerijinya sentil sebutir Thielian tjoe (Biji teratai besi) ke arah Thian Oe. Senjata rahasia itu
melesat bagaikan kilat dan sebelum Thian Oe keburu kelit, ia rasakan dadanya kesemutan
dan badannya terguling di atas tanah. Masih untung, lantaran mendapat luka, tenaga
dalamnya Tjoei In Tjoe sudah banyak kurang, sehingga muridnya Siauw Tjeng Hong tidak
sampai menjadi pingsan.
Muridnya Tjoei In Tjoe yang bermuka hitam lantas taruh tandu di atas tanah dan bersama
soehengnya, ia ikat Thian Oe seperti lepat.
"Geledah badannya!" memerintah sang guru.
Hasil penggeledahan itu adalah itu vas kecil yang berisi soatlian. Tjoei In Tjoe tertawa
terbahak-bahak dan berkata: "Ha! Kalau begitu Sanma rela menyerahkan soatlian dari
Thiansan kepadamu. Muridku, serahkan vas itu kepadaku."
Bukan main gusarnya Thian Oe. "Itu adalah milik guruku!" ia berseru.
"Gurumu tak perlu lagi barang begini," kata Tjoei In Tjoe. "Sebentar aku akan kirim kau
ketemui gurumu."
Thian Oe berontak-rontak sekuat tenaga, tapi tali yang bebat badannya ada cukup kuat.
"Houwtjoe, totok jalanan darahnya dan taruh ia ke dalam tandu," Tjoei In Tjoe perintah
muridnya.

Dengan badan rebah di dampingnya musuh itu, Thian Oe menyaksikan cara bagaimana ia
buka tutup vas, ambil soatlian yang lantas dimasukkan ke dalam mulutnya! Mengingat
soatlian itu tadinya adalah untuk gurunya sendiri, bukan main sakit hatinya Thian Oe.
Tandu lalu diangkat oleh dua muridnya Tjoei In Tjoe yang lantas jalan dengan cepat sekali.
Ketika itu, sang rembulan pancarkan sinarnya di atas puncak-puncak gunung yang
tertutup es, sehingga puncak-puncak itu jadi bersinar putih bagaikan perak.
Sambil menggeletak di dalam tandu, dengan perasaan sangat heran Thian Oe awasi
perubahan pada mukanya sang musuh. Kalau tadi muka In Tjoe kuning pias, adalah
sekarang, sesudah makan soatlian, mukanya mulai bersemu merah. Ia duduk disitu
dengan meramkan kedua matanya, sambil kasih jalan napasnya. Lewat beberapa saat, ia
tertawa nyaring sekali. "Sungguh manjur soatlian dari Thiansan!" ia berseru. Suaranya
yang nyaring berbeda sekali daripada tadi. Tak terkira sakit hatinya Thian Oe, sakit hati
yang tercampur keheranan. "Aku tidak duga soatlian begitu manjur. Luka di dalam dari
manusia ini sudah menjadi sembuh secara begitu cepat. Ah, malam ini jiwanya guru dan
murid akan binasa!" pikir Thian Oe dalam hatinya.
Sesudah lewat beberapa lama, suara semburan air panas kedengaran semakin nyata,
diseling dengan suara bentakan dan beradunya senjata. Paras muka Tjoei In Tjoe
menunjukkan keheranan. "Ih! Urat lengan si tua bangka she Siauw sudah diputuskan
dengan tali gendewaku. Cara bagaimana ia masih bisa bertempur?" kata ia.
Mendadak dengan dua jerijinya ia gunting tali yang mengikat badan Thian Oe, yang lantas
diangkat, dan ia lantas loncat turun dari tandu. "Tak usah digotong lagi!" kata ia. "Aku
Tjoei Loosam tidak berdusta. Sekarang juga aku antar kau ketemui gurumu."
Dikempit oleh musuh tangguh, Thian Oe tidak dapat berkutik. Setibanya di dekat sumber
air panas, ia lihat tendanya robek sana sini, sedang ketiga orang kasar yang masingmasing mencekal golok mengkilap, sedang kepung gurunya yang bersita di tengahtengah tenda yang robek itu.
Thian Oe terperanjat. Gurunya bersila dengan badan tidak bergerak, sedang mulutnya
menggigit hudtim. Golok yang menyambar, ia sampok dengan hudtim. Tak perduli
serangan datang dari depan, samping atau belakang, dengan sedikit saja goyang
kepalanya, hudtim itu selalu dapat menyambut dengan tepat sekali! Semakin hebat
bacokan musuh, semakin hebat lagi tenaga yang menangkis.
Tjoei In Tjoe kerutkan alisnya dan kemudian tertawa berkakakan. "Siauw Tjeng Hong!" ia
berseru. "Marilah aku sambut lagi hudtimmu." Tiga orang yang sedang mengepung lantas
loncat mundur. Dengan sekali loncat, Tjoei In Tjoe sudah berhadapan dengan Siauw Tjeng
Hong dan kedua tangannya lantas terangkat naik.
Dengan seruan tertahan, Tjeng Hong pentang mulutnya dan kebutannya melesat
bagaikan anak panah. Dengan sebet, Tjoei In Tjoe kelit senjata itu.
"In Tjoe," berkata Siauw Tjeng Hong sambil menghela napas. "Lweekangmu ternyata lebih
tinggi daripada aku. Empat hari aku kerahkan hiankong, kedua lenganku belum dapat
bergerak, tapi kau sudah bisa jalan sebagaimana biasa. Aku mengaku kalah!"
"Tidak! Soehoe, kau tidak kalah!" berseru Thian Oe. "Dia yang kalah. Dia rampas soatlianku."
Siauw Tjeng Hong kaget dan berseru: "Apa? Dari mana kau..." Belum habis perkataannya,
Tjoei In Tjoe sudah loncat sembari menotok jalan darahnya sama jerijinya, sehingga ia
tidak keburu menanya terus.

Tan Thian Oe yang jalanan darahnya masih belum terbuka, ketika itu telah didorong roboh
oleh satu muridnya Tjoei In Tjoe.
"Siauw Tjeng Hong," kata Tjoei In Tjoe sembari tertawa. "Mengenai ilmu, kau memang
lebih tinggi daripadaku. Tapi memang sudah maunya Tuhan, aku mesti membunuh kau.
Maka itu, dengan pinjam tangan muridmu, Tuhan sudah kirim soatlian yang langka
untukku!"
Paras mukanya Siauw Tjeng Hong berobah dan keluarkan suara di hidung. "Bagus!" kata
ia. "Sungguh gagah! Hari ini aku dapat saksikan kepandaiannya ahli silat Khongtong pay!"
Tjoei In Tjoe kembali tertawa dan berkata: "Menurut peraturan Kangouw, aku mesti
tunggu sampai kau sembuh, barulah jajal lagi kepandaianmu. Cuma aku kuatir, sesudah
sembuh, kau kembali akan kabur sembari kelepotan buntut. Kemana aku mesti cari
padamu? Apalagi dahulu, kau bersama itu perempuan siluman juga menggunakan akal
bulus buat celakakan kita. Hai! Dengarlah! Sekarang lebih dahulu aku mau balaskan sakit
hatinya toako dengan persen empat bacokan di atas mukamu!"
Sehabis berkata begitu, ia ambil sebatang golok dari tangan soetit-nya (keponakan murid,
tiga orang itu adalah murid-muridnya Loei Tjin Tjoe). Sembari bulang-balingkan golok itu,
ia tarik tangannya Siauw Tjeng Hong dan awasi muka korbannya dengan sorot mata
kejam. Mendadak ia keluarkan satu suara tertawa seperti orang kalap dan angkat
goloknya yang akan segera menyabet mukanya Siauw Tjeng Hong.
Mendadak, mendadakan saja, satu suara tertawa dingin terdengar, disusul dengan
perkataan halus mengejek: "Aduh! Gagah betul!"
Tan Thian Oe kaget sebab satu bayangan berkelebat di pinggir badannya, dan apa yang
membikin ia jadi lebih kaget lagi, adalah jalanan darahnya mendadak terbuka sendirinya!
Orang yang baru datang adalah si anak sekolah yang berdiri disitu sembari mesemmesem
simpul.
Tjoei In Tjoe mengawasi dan menanya: "Apa tuan tidak suka hati?"
"Mana aku berani!" jawab si anak sekolah. "Dalam kalangan Kangouw, soal membalas
sakit hati adalah soal yang lumrah. Cuma saja orang tua ini mempunyai sedikit hubungan
denganku."
"Dalam kalangan Kangouw, hal membantu sahabat adalah hal yang lumrah," kata Tjoei In
Tjoe sembari tertawa dingin. "Baiklah. Kita jangan banyak omong yang tidak ada
perlunya. Cabut senjatamu, aku Tjoei In Tjoe akan meladeni beberapa jurus dengan
tangan kosong."
Si anak sekolah dongak dan tertawa terbahak-bahak. "Aku belum keluar dari rumah
perguruan," kata ia. "Guruku larang aku adu tenaga dengan orang."
"Kalau begitu, apakah dengan dengar omongannya satu pitik, aku harus ampuni si tua
bangka?" kata Tjoei In Tjoe sembari tertawa bergelak-gelak. "Siapa kau? Siapa gurumu?"
"Siapa suruh kau ampuni si tua bangka?" sahut si anak sekolah. "Si tua bangka adalah
musuhku juga!"
Tjoei In Tjoe kaget dan berkata: "Kalau begitu aku salah sangka. Apa kau juga mempunyai
permusuhan dengan dia?"
"Benar," sahutnya.

"Sungguh bagus nasibmu," kata Tjoei In Tjoe dengan sikap sombong. "Dengan ilmu
silatmu, sekali pentil saja, dia bisa bikin kau terguling ke dalam jurang. Mengingat kita
berdua sama-sama bermusuh padanya, sesudah aku membacok empat kali, kau boleh
bacok satu kali buat lampiaskan ganjelanmu."
"Tidak," kata si anak sekolah. "Sakit hatiku dalam seperti lautan. Kasihlah aku yang
membalas lebih dahulu."
Hatinya Tjoei In Tjoe gusar sekali, tapi oleh karena perasaan herannya, ia segera
menahan sabar. "Kau mempunyai permusuhan apa dengan dia?" tanya ia. "Coba
ceritakan."
"Kemarin di tengah jalan aku bertemu mereka, guru dan murid," ia menerangkan. "Waktu
aku minta air dari muridnya, si tua unjuk paras sekaker. Baik juga muridnya yang baik
hati, bagikan air kepadaku. Ah, orang kehausan bisa jadi mati, dan si tua rela melihat
kebinasaan sambil berpeluk tangan. Inilah sakit hatiku yang pertama Tadi, saudara kecil
itu sebenarnya mau undang aku buat sama-sama mengasoh dalam tendanya. Tapi si tua
tidak permisikan. Tendaku sudah pada robek dan angin dingin menyerang hebat sekali,
hingga hampir-hampir aku mati kedinginan. Ah, mendesak orang sampai mesti mati
kelaparan dan kedinginan adalah kedosaan hebat. Inilah sakit hatiku yang kedua."
Begitu bertemu dengan si anak sekolah, Siauw Tjeng Hong sudah merasa heran.
Sekarang, sesudah dengar omongannya, hatinya jadi kaget sekali. "Cara bagaimana ia
bisa dapat dengar pembicaraanku dengan Oe-djie?" tanya ia dalam hatinya.
Tjoei In Tjoe jadi gusar sekali. "Jangan banyak bacot!" ia berteriak sembari sabetkan
goloknya ke arah si anak sekolah.
Sembari berteriak "A-yo!" ia miringkan badannya dan goloknya Tjoei In Tjoe jatuh di
tempat kosong.
"Kau tidak bacok si tua, sebaliknya membacok aku," berseru si anak sekolah. "Punya sakit
hati tidak dibalas, berbalik hantam kawan sendiri. Dalam dunia mana ada aturan begitu!"
Diejek secara begitu, Tjoei In Tjoe jadi seperti orang kalap dan ia lalu membacok beruntun
tiga kali.
"Kalau kau tak mau membalas sakit hati, biarlah aku turun tangan lebih dahulu," kata si
anak sekolah, "aku belum keluar dari perguruan dan guruku larang aku menggunakan
senjata tajam. Tapi menggunakan senjata rahasia rasanya masih boleh juga."
Sembari kelit sana-sini buat loloskan diri dari bacokan saling susul, ia ayun satu
tangannya dan beberapa sinar emas melesat ke arah Siauw Tjeng Hong.
Ketika itu Siauw Tjeng Hong tak dapat bergerak lantaran jalanan darahnya sudah kena
ditotok dan beberapa jarum emas itu mengenakan tepat pada sasarannya!
Thian Oe terkesiap. Barusan mendengar si anak sekolah permainkan Tjoei In Tjoe, Thian
Oe menduga, ia berdiri sebagai kawan. Tapi tak dinyana, benar-benar ia menggunakan
senjata rahasia buat menyerang * gurunya. Tanpa berpikir lagi, ia loncat dan hantam
jalanan darah Tayyang hiat si anak sekolah dengan gerakan Kimkouw kibeng (Tambur
emas bersuara). Si anak sekolah berkelit. "Dengan menghadiahkan air, kau adalah tuan
penolongku," kata ia sembari tertawa. "Seorang laki-laki harus membalas budi dan sakit
hati secara tepat. Maka itu, manalah aku boleh turun tangan terhadap seorang penolong."
Sehabis berkata begitu, badannya berkelebat dan lantas tidak kelihatan lagi!

Sesudah membacok tempat kosong empat kali dan setelah melihat lagak lagunya si anak
sekolah yang sedemikian aneh, Tjoei In Tjoe jadi bengong beberapa saat. Hatinya
sungguh tidak dapat mengerti apa maunya orang itu.
Ia balik badannya dan menoleh kepada Siauw Tjeng Hong. Kali ini, ia benar-benar kaget!
Siauw Tjeng Hong sudah bisa angkat kedua tangannya dan berseru: "Tjoei Loosam,
marilah kita adu tenaga lagi!" Beberapa jarum emas yang menancap di dagingnya masih
kelihatan menonjol di luar bajunya dan pancarkan sinar yang gilang-gemilang!
Ketika si anak sekolah menimpuk dengan jarum emas, hatinya Siauw Tjeng Hong terkejut
bukan main. Tapi di lain saat, mendadak ia rasakan satu perasaan segar dalam badannya,
hawa dan darah mengalir lagi seperti biasa, bukan saja jalanan darah yang tertotok
terbuka kembali, akan tetapi, urat-uratnya yang kena terpukul juga sudah pulih seperti
sediakala, sedang bukubuku tulang yang kesemutan pun sudah dapat bergerak leluasa.
Inilah ada kejadian seperti di dalam impian dan Siauw Tjeng Hong kaget berbareng
girang.
Tjoei In Tjoe terperanjat bukan main. Ketika itu tangannya Siauw Tjeng Hong sudah
terangkat dan terus menghantam dengan sepenuh tenaga. In Tjoe menyambut dan
rasakan tenaga yang luar biasa besarnya, mendorong ia sehingga badannya
sempoyongan ke belakang beberapa tindak. "Tenaga dalamnya si tua cuma lebih tinggi
setingkat daripadaku. Tapi kenapa dalam tempo yang begitu pendek, ia sudah jadi begitu
liehay?" tanya In Tjoe dalam hatinya. Ia tidak mengetahui, bahwa tenaganya Siauw Tjeng
Hong sudah pulih kembali, sedang tenaganya sendiri, biarpun lukanya sudah
disembuhkan dengan soatlian, belum balik seperti biasa, oleh karena ia mendapat luka
yang lebih berat daripada musuhnya. Itulah sebabnya kenapa ia kalah jauh dari
tenaganya Siauw Tjeng Hong.
Melihat gurunya sembuh mendadak, Thian Oe jadi seperti orang kalap lantaran
kegirangan. "Oe-djie, hati-hati!" mendadak ia dengar gurunya berteriak.
Dua muridnya Tjoei In Tjoe menyerang dari kiri dan kanan dengan mendadak. Melihat
dirinya dikerubuti, Thian Oe lantas menyambut dengan gerakan Kaykiong siatiauw
(Pentang gendewa memanah burung tiauw). Murid-muridnya Loei Tjin Tjoe juga sudah
menyabet dengan goloknya. Dikerubuti oleh beberapa musuh, manalah Thian Oe bisa
tahan? Dalam tempo sekejap, ia sudah keteter dan keadaannya berbahaya sekali.
Mendadak terdengar suara berkerontrangan dan goloknya satu musuh terlempar di atas
tanah, sedang musuh itu berteriak kesakitan sembari pegang tangannya.
Orang yang menolong adalah gurunya sendiri. Sembari desak Tjoei In Tjoe dengan
seranganserangan hebat, Siauw Tjeng Hong masih sempat hantam jatuh senjata muridmuridnya Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe. Melihat gelagat tidak baik, Tjoei In Tjoe lantas
berseru: "Kabur!" dan bersama dua murid serta tiga cucu murid, ia panjangkan
langkahnya.
Thian Oe segera mengejar sembari tengteng pedang. "Oe-djie, balik! Jangan kejar!"
berteriak Siauw Tjeng Hong. Thian Oe lantas balik dan waktu mau menanya, ia lihat
gurunya sedang cabuti jarum, jarum emas dari badannya, dengan saban-saban gelengkan
kepalanya.
"Soehoe, bagaimana sih duduknya kejadian ini?" tanya Thian Oe.
"Dalam ilmu pengobatan ada semacam cara mengobati dengan menggunakan jarum,"
menerangkan Siauw Tjeng Hong. "Akan tetapi, yang paling luar biasa adalah dengan
menimpuk dari tempat jauh, tujuh batang jarumnya pemuda itu bisa menancap tepat di
jalanan darah yang diingini. Dari sini dapat dibayangkan, bukan saja ilmu ketabibannya

pemuda itu luar biasa tinggi, tapi tenaga dalamnya pun tak dapat diukur bagaimana
dalamnya!"
"Kalau begitu, barusan ia menolong soehoe?" kata sang murid. "Tadi aku ketakutan
setengah mati!"
Siauw Tjeng Hong menghela napas panjang dan berkata: "Sungguh-sungguh di luar langit
masih terdapat langit, di atas kepandaian masih terdapat kepandaian. Ia itu masih berusia
begitu muda, tapi ilmu silatnya banyak lebih tinggi daripada aku. Benar-benar aku seperti
kodok di dalam sumur yang tidak mengetahui luasnya langit dan bumi. Mulai dari
sekarang, sungguh-sungguh aku tak berani tonjol-tonjolkan lagi ilmu silatku." ..-"Soehoe
berdiam di rumahku hampir sepuluh tahun, tapi semua orang, kecuali aku, tidak
mengetahui, bahwa soehoe mempunyai kepandaian yang begitu tinggi," kata Thian Oe.
"Dari sini dapat dilihat, bahwa kesabaran soehoe sukar terdapat dalam dunia ini."
Siauw Tjeng Hong kembali menghela napas panjang dan berkata: "Kau mana tahu, bahwa
di waktu muda, lantaran gara-gara tonjolkan kepandaian, aku sudah bentur bencana dan
tanam permusuhan hebat dengan beberapa memedi itu."
Thian Oe yang belum pernah dengar asal-usulnya sang guru, jadi merasa sangat ketarik
dan pasang kuping terang-terang.
"Apakah kau tahu, di kolong langit dalam jaman ini, ilmu pedang partai mana yang paling
bagus?" Tjeng Hong tanya muridnya.
"Bukankah soehoe pernah bilang, ilmu pedang yang paling bagus adalah dari Thiansan?"
jawab sang murid. "Ilmu pedang dari Thiansan, yang digubah oleh Hoeibeng Siansu telah
diturunkan kepada Leng Bwee Hong dan kemudian diwarisi pula kepada Tong Siauw Lan.
Mereka itu adalah pendekar-pendekar besar dari setiap jaman dan rasanya sukar dicari
tandingannya di dalam dunia."
"Benar," kata sang guru. "Akan tetapi ilmu pedang Thiansan, lantaran berpusat di tempat
jauh, sesudah jamannya Tayhiap Tong Siauw Lan, jarang sekali terlihat di daerah
Tionggoan. Maka itulah, tiga cabang besar dari Rimba Persilatan di daerah Tionggoan
adalah Boetong, Siauwlim dan Gobie. Partai kita, Tjengshia pay, adalah pecahan dari
Gobie dan telah berdiri sebagai satu partai sendiri."
Mendengar sang guru mau bicarakan soal partai-partai ilmu pedang dengan dirinya, Thian
Oe jadi merasa heran.
"Coba kau tebak, berapa usiaku tahun ini?" tanya sang guru.
Sembari awasi rambut orang yang sudah putih, Thian Oe menjawab: "Mungkin tidak
berjauhan dengan usia ayah." Ayahnya Thian Oe berusia lima puluh tahun lebih.
"Lantaran jengkel, rambutku jadi putih sebelum waktunya," kata Siauw Tjeng Hong
sembari tarik napas. "Sekarang aku baru berusia empat puluh lebih sedikit."
Thian Oe kaget. Sebelum ia menanya apa-apa, gurunya sudah lanjutkan penuturannya:
"Pada tiga belas tahun berselang, aku berada di Soetjoan. Tahun itu kebetulan tahunan
Moh Tjoan Seng mengadakan kiatyan, yang diadakan saban sepuluh tahun sekali (Kiatyan
= Dalam agama Budha, memberi ceramah dan sedekah kepada orang-orang miskin). Moh
Tjoan Seng adalah tokoh kenamaan dari Boetong pay."
"Apakah Moh Tayhiap satu hweeshio (pendeta)?" tanya Thian Oe.

"Bukan," jawab sang guru sembari tertawa. "Moh Tayhiap bukannya memberi ceramah
tentang keagamaan seperti caranya seorang pendeta. Ia memberi ceramah kepada orang
tingkat mudaan dari kalangan Rimba Persilatan. Menurut
pendengaranku, Moh Tjoan Seng adalah ahli pedang dari tingkatan tua dan ia adalah
puteranya Koei
Tiong Beng, ahli waris ilmu pedang Tatmo dari Partai Utara Boetong. Oleh karena harus
menyambung turunan keluarga Moh, ia jadi menggunakan she ibunya, yaitu she Moh.
Dalam kalangan Rimba Persilatan di daerah Tionggoan, ia diakui sebagai orang yang
mempunyai ilmu silat paling tinggi. Saban sepuluh tahun sekali, Moh Tayhiap membuka
pintu dan memberi ceramah tentang ilmu silat. Di sebelahnya itu, ia juga memberi
petunjuk-petunjuk kepada orang-orang dari tingkatan lebih muda. Maka itulah, sabansaban ia mengadakan Kiatyan, orang-orang pandai dari berbagai cabang persilatan pada
naik gunung buat mendengar ceramahnya. Pada tempo itulah, aku mulai kenal Loei Tjin
Tjoe, Tjoei In Tjoe dan Ong Lioe Tjoe. Waktu itu, di lehernya Ong Lioe Tjoe belum tumbuh
daging lebih. Namanya ketika itu adalah Ong Lioe (Lioe dalam artian "Mengalir") Tjoe.
Selewatnya tahun tersebut, lantaran di lehernya tumbuh daging lebih yang nonjol, orangorang Kangouw tukar huruf Lioe (Mengalir) jadi Lioe (Daging lebih). Antara orang-orang
yang hadiri Kiatyan terdapat pula seorang murid wanita Gobie pay yang bernama Tjia In
Tjin, tergelar Sengtjhioe Siannio (Dewi tangan malaikat). Sepanjang warta, ia mempunyai
ilmu silat paling tinggi di antara orang-orang tingkat kedua dari Gobie pay." Waktu
menyebutkan namanya Tjia In Tjin, badannya Siauw Tjeng Hong kelihatan sedikit
gemetar.
Pada waktu biasa, girang dan gusarnya sang guru jarang terlukis di atas mukanya, tapi
sekarang ia kelihatannya sangat dipengaruhi oleh perasaannya, sehingga Thian Oe jadi
merasa heran.
"Tjia In Tjin adalah seorang wanita cantik dan ilmu silatnya pun sangat tinggi," Siauw
Tjeng Hong lanjutkan penuturannya. "Di sebelahnya itu, adatnya juga sangat ramahtamah. Dalam perguruan, aku dan ia memang masih terhitung ada sangkut pautnya.
Dalam kalangan Rimba Persilatan memang tidak ada perbedaan antara lelaki dan
perempuan yang dapat bergaul secara bebas sekali. Maka itulah, ketika Moh Tayhiap
mengadakan Kiatyan, aku dan ia sudah bergaul rapat."
Biarpun Thian Oe masih belum mengenal urusan cinta, akan tetapi, dengan melihat cara
bicara gurunya, ia sudah dapat menebak, bahwa gurunya sangat menyukai wanita yang
bernama Tjia In Tjin itu.
"Pada suatu hari," kata sang guru selanjutnya. "Aku dan ia rundingkan ilmu pedang dari
berbagai partai. Menurut ia, dalam jaman ini,-biarpun ilmu pedang
Boetong tersohor dan menjagoi di Tionggoan, akan tetapi dalam soal pukulan aneh dan
kemujijatan, ilmu pedang Gobie paling terutama.
"Lain-lain partai semuanya berada di sebelah bawah dan tidak berharga buat
dirundingkan, demikian katanya. Aku tidak nyana ia begitu temberang. Ketika itu aku
masih berusia muda dan berdarah panas dan lantas saja berkata: "Aku rasa perkataanmu
tidak begitu tepat. Kau harus mengetahui, bahwa saban cabang persilatan masing-masing
mempunyai kebagusannya sendiri. Dalam hal ilmu silat tidak ada yang boleh dibilang
nomor satu dalam dunia." Mendengar omonganku, ia cuma tertawa dingin dan tidak
berkata apa-apa lagi.
"Di antara orang-orang yang hadir dalam perhimpunan, Loei Tjin Tjoe adalah ahli dari
Boetong, Tjoei In Tjoe jagoan dari Khongtong, sedang Ong Lioe Tjoe adalah muridnya The
Peng, seorang ahli silat kenamaan di Djielam. Tjoei In Tjoe mempunyai satu adik lelaki,

Tjoei Ie Tjoe namanya, yang juga masuk Gobie pay. Tak tahu lantaran apa, Ie Tjoe telah
diusir keluar dari perguruan, dan pada tahun itu, ia pun hadiri ceramahnya Moh Tayhiap.
Empat orang itu sering berada sama-sama dan mereka bergaul rapat dengan aku.
"Satu hari, kita kembali bicarakan ilmu silatnya berbagai partai, Loei Tjin Tjoe
mengatakan, bahwa Moh Tayhiap yang menjadi tjiangboen (pemimpin) dari Boetong pay,
mempunyai ilmu silat yang sedemikian tinggi, sehingga sudah tentu ilmu silat Boetong
adalah yang paling bagus di kolong langit. Aku tidak setuju dan lantas berkata: "Bakatnya
orang berbeda satu sama lain, latihannya juga tidak bersamaan. Maka itu, kalau sang
guru nomor satu dalam dunia, muridmuridnya belum tentu semua nomor satu.
Mendengar perkataanku, Loei Tjin Tjoe lantas saja menantang buat adu pedang dengan
syarat lantas berhenti, jika ada yang kena ketowel. Dalam pertandingan, aku yang kalah.
Akan tetapi, aku telah kirim pukulan Senglo kogoan (Bintang jatuh di tanah tinggi), yaitu
pukulan istimewa dari Tjengshia pay, yang telah dapat tembuskan tangan bajunya Loei
Tjin Tjoe. Biarpun kalah, aku jadi bukannya kalah seluruhnya. Sesudah bertanding, Loei
Tjin Tjoe tertawa terbahak-bahak dan puji tinggi ilmu silatku. Melihat ia tidak sombong
dalam kemenangannya, hatiku menjadi lega.
"Cuma saja, sesudah mendapat pengalaman begitu, aku mengambil putusan buat tidak
mau sembarangan adu pedang lagi. Tapi dalam dunia sering terjadi apa-apa yang tidak
diduga-duga. Belum lewat tiga hari sesudah mengambil keputusan begitu, aku kembali
terpaksa mengadu pedang."
"Ahli silat panai mana lagi yang berlaku sombong dan soehoe tidak merasa senang?"
tanya Thian Oe.
"Bukan," jawab sang guru. "Kejadiannya terjadi satu malam sebelum Moh Tayhiap
bubarkan perhimpunan. Ong Lioe Tjoe mendadak datang sendirian dan tarik tanganku
buat diajak omong di tempat sepi. Ia bilang Gobie Liehiap Tjia In Tjin mau jajal ilmu silatku
dan minta ia sampaikan keinginannya kepadaku. Selainnya itu dijanjikan kedua belah
pihak memakai kedok dan pertandingan dilakukan di belakang gunung pada jam tiga
pagi. Sesudah bertanding, kedua belah pihak lantas bubaran dan anggap seperti tidak
kejadian suatu apa. Dengan cara begini, siapa yang menang dan siapa yang kalah, tidak
akan merasa kurang enak hati. Aku menolak, tapi Ong Lioe Tjoe lantas berkata sembari
tertawa: 'Hm! Kau benar tolol! Tjia In Tjin sebenarnya ada hati terhadapmu, apa kau tak
tahu? Ia sangat kagumi budi pekertimu, cuma belum mendapat tahu tinggi rendahnya
ilmu silatmu. Sesudah aku omong begitu terang, apa kau belum mengerti maksudnya?'
Mendengar begitu, hatiku jadi goncang dan menyetujui. Tapi siapa nyana, disitu terselip
satu akal busuk."
"Bagaimana?" tanya Thian Oe.
Kedua matanya Siauw Tjeng Hong mengawasi ke tempat gelap dengan mendelong dan
kemudian berkata lagi: "Kau harus mengetahui, bahwa dalam kalangan Kangouw, jika
seorang pria dan seorang wanita saling penuju, mereka paling suka menjajal ilmu silat,
seperti caranya kalangan sastrawan adu bikin syair. Maka itu, mendengar perkataannya
Ong Lioe Tjoe, aku jadi girang bukan main. Akan tetapi, setelah mengingat bahwa Tjia In
Tjin adalah orang terpandai dalam tingkat kedua Gobie pay, hatiku kembali merasa
sangsi.
"Ong Lioe Tjoe seperti dapat baca jalannya pikiranku dan ia lantas berkata sembari
tertawa: 'Mengenai ilmu silat dan ilmu pedang, mungkin sekali kau masih kalah sedikit,
akan tetapi, kalau di dalam beberapa puluh jurus saja, Jcau tentu tidak sampai menjadi
kalah. Ia suka sekali menggunakan pukulan Lengkim liantjie (Burung malaikat tarik
sayapnya), dan dalam puluhan jurus itu, pukulan tersebut rasanya mesti dikeluarkan
sedikitnya satu kali. Pukulanmu Senglo kogoan (Bintang jatuh di tanah tinggi) justru

adalah pukulan yang dapat pecahkan Lengkim liantjie.' Memang juga, sesudah Tjengshia
pay lepaskan diri dari
Gobie pay, telah digubah banyak sekali pukulan yang menjadi lawannya pukulan Gobie.
Maka itu, perkataannya Ong Lioe Tjoe bukannya dusta.
"Pada besok malamnya, sesuai dengan perjanjian, aku pergi ke gunung belakang. Malam
itu gelap-gulita, sedang sang angin meniup keras sekali, sehingga orang tidak dapat
melihat suatu apa dalam jarak yang lebih dari sepuluh tindak. Setibanya di gunung itu,
benar saja aku lihat bayangan orang yang memakai baju hitam dan mukanya ditutup
kedok. Potongan badannya orang itu bersamaan dengan badannya In Tjin. Aku dihinggapi
perasaan tegang dan tidak berani mengeluarkan sepatah kata. Sesudah cabut pedang,
aku segera menyerang. Orang itu balas menyerang seperti hujan angin dengan seranganserangan yang membinasakan, seakan-akan ia sedang adu jiwa. Aku kaget bukan main.
Apakah Tjia In Tjin maukan jiwaku? Akan tetapi aku berbalik pikir, mungkin sekali ia
sengaja berbuat begitu, supaya aku keluarkan segala kepandaianku. Aku tak dapat
memikir panjang-panjang lagi sebab serangannya semakin hebat. Mau tidak mau aku
mesti keluarkan segala rupa kebisaanku buat layani padanya. Dengan cepat tiga puluh
jurus sudah lewat, tapi sebegitu jauh bukan saja pukulan Lengkim liantjie tidak muncul,
malahan cara bersilatnya tidak mirip-mirip ilmu pedang Gobie dan lebih mirip dengan
ilmu pedang Boetong. Bukan main heranku. Selagi mau menanya, dari tempat gelap
mendadak loncat keluar tiga orang yang lantas saja kerubuti aku. Sedang melawan satu
orang saja, aku sudah kewalahan, bagaimana ditambah lagi dengan tiga musuh tangguh?
Dalam sekejap, aku menghadapi bahaya.
"Dengan lantas aku berteriak: "Hei! Aku ini adalah Siauw Tjeng Hong dari Tjengshia pay.
Siapakah adanya kau orang?" Teriakanku cuma disambut dengan tertawa dingin oleh tiga
musuh.
Mendadakan terdengar satu suara tertawa nyaring. Berbareng dengan itu, satu wanita
baju hijau
loncat turun dari atas pohon. Ia tidak memakai kedok."
"Apa ia Tjia In Tjin?" menanya Thian Oe.
"Benar," jawab sang guru. "Ia benar Tjia In Tjin. Aku jadi bengong lantaran kaget. Tiba-tiba
aku dengar sambaran golok dari samping dan satu bayangan hitam melesat ke arahku.
Hampir pada detik yang bersamaan, sebatang pedang yang mengkilap sudah sampai di
depan mukaku dan pukulan yang digunakan adalah Lengkim liantjie. Pikiranku sedang
kalut, dan buat tolong jiwa, tanpa merasa aku menyambut dengan pukulan Senglo
kogoan. Orang itu keluarkan jeritan keras sebab satu lengannya kena terbabat kutung.
Pada saat itu juga, pedangnya In Tjin menyambar dan binasakan padanya!
"Aku berteriak, tapi pedangnya In Tjin sudah menyambar lagi dua kali dan persen dua
bacokan pada mukanya lawanku yang pertama. Dengan dua kali suara "srt", kedoknya
robek, dan biarpun dalam kegelapan, aku masih dapat lihat darah yang berketel-ketel.
Lantaran kesakitan, orang itu cakar mukanya dan kedoknya jatuh. Melihat mukanya, aku
jadi terkesiap!"
"Apakah soehoe jadi kaget sebab lihat mukanya tidak keruan macam?" tanya Thian Oe.
"Benar," jawab Tjeng Hong. "Mukanya ditapak jalak, sedang biji matanya yang sebelah
kiri kena ditusuk pedang, sehingga meletos keluar dan kelihatannya menakuti sekali! Tapi
itu belum seberapa. Begitu mengenali siapa adanya ia, aku jadi lebih-lebih kaget. Apakah
kau bisa tebak dia siapa?"

Mendengar penuturannya sang guru, hatinya Thian Oe berdebar-debar dan waktu


gurunya menanya, seperti orang kesima, ia balas menanya: "Siapa ia?"
Siauw Tjeng Hong tarik napas beberapa kali. "Loei Tjin Tjoe!" kata ia dengan suara
sember.
"Ah! Kenapa Loei Tjin Tjoe?" kata Thian Oe.
"Tangannya Tjia In Tjin cepat sekali," Tjeng Hong lanjutkan penuturannya. "Sesudah
lukakan Loei Tjin Tjoe, sembari tertawa nyaring, tangan kanannya yang mencekal pedang
menyabet satu kali, sedang tangan kirinya terayun dan beberapa senjata rahasia
menyambar. Dua orang lantas saja terguling. Antara empat orang yang sedang bertempur
denganku, satu binasa, tiga mendapat luka. Sebelum dapat tetapkan semangatku, Tjia In
Tjin sudah berkata sembari tertawa: "Kau juga sebenarnya harus terima satu bacokan.
Tapi mengingat kau sudah membantu aku, maka aku suka mengampuni!" Sesudah
berkata begitu, ia enjot badannya dan lantas menghilang di tempat gelap.
"Aku nyalakan umpan api dan buka kedoknya ketiga orang itu. Begitu lihat, aku jadi lebihlebih terperanjat, sebab yang binasa adalah Tjoei Ie Tjoe, yang kena senjata rahasia
adalah Ong Lioe Tjoe, yang kebacok adalah Tjoei In Tjoe, sedang Loei Tjin Tjoe menggoser
di atas tanah. Aku menghampiri dengan niat tolong bebet lukanya, tapi ia membentak
dengan suara keras: "Pergi!" Ong
Lioe Tjoe dan Tjoei In Tjoe juga mengawasi dengan mata gusar. Dalam malam yang gelap
itu, tiga pasang mata yang bersinar mengincar diriku, seakan-akan matanya binatang liar
yang mengawasi sang pemburu. Aku mengkirik, balik badan dan lantas kabur sekeras
mungkin, tanpa pamitan dengan Moh Tayhiap."
"Dilihat begitu, Loei Tjin Tjoe agaknya sengaja mau celakakan soehoe," kata Thian Oe.
"Tapi kenapa, ia juga pancing Gobie Liehiap Tjia In Tjin datang kesitu?"
"Kau cuma dapat menebak separoh," jawab sang guru. "Belakangan aku baru tahu,
bahwa Loei Tjin Tjoe-dan Tjoei Ie Tjoe kedua-duanya pernah melamar In Tjin. Lamarannya
Loei Tjin Tjoe ditolak sehingga ia mendapat malu besar, sedang Tjoei Ie Tjoe, sebab mau
coba nodai soetjie-nya (kakak perempuan seperguruan), sudah diusir dari rumah
perguruan. Malam itu, Loei Tjin Tjoe sudah janjikan In Tjin buat mengadu pedang, dengan
masing-masing memakai kedok. Diam-diam ia atur tiga kawannya buat membantu
padanya. Lantaran masih kuatir tak dapat menangkan In Tjin, ia perintah Ong Lioe Tjoe
pancing diriku.
"Loei Tjin Tjoe sebenarnya niat menarik keuntungan selagi aku dan In Tjin bertempur.
Tapi, dengan menggunakan siasat yang sampai sekarang tidak diketahui olehku, sebelum
tiba jam yang dijanjikan, Tjia In Tjin berhasil pancing keluar Loei Tjin Tjoe, yang, dengan
serupa tangan jahat, sudah dibikin kalang-kabut jalan darahnya, sehingga otaknya
menjadi kalut.
"Malam itu, lantaran tidak sabaran, aku sudah tiba di gunung sebelum jam tiga. Lantaran
gelap dan sebab badannya Loei Tjin Tjoe hampir bersamaan dengan tubuhnya Tjia In Tjin,
aku jadi bergebrak dengan ia. Belakangan datanglah Tjoei In Tjoe bertiga. Mereka duga
aku sudah mengetahui akal busuknya dan berbalik membantu Tjia In Tjin. Maka itu,
mereka lalu menyerang. Tjoei Ie Tjoe adalah murid Gobie pay dan tanpa disengaja, ia
sudah menyerang dengan pukulan Lengkim liantjie, sehingga menemui ajalnya. Jika
malam itu tidak terjadi salah mengerti, biarpun ilmu silatnya In Tjin lebih tinggi lagi, aku
rasa ia sukar dapat melawan empat musuhnya itu.
"Loei Tjin Tjoe sebenarnya mempunyai paras yang cakap dan bergelar Giokbin Holie (Rase
muka batu kemala). Sekarang mukanya rusak dan satu matanya menjadi buta. Dengan

begitu, ia jadi sangat sakit hati terhadap aku dan In Tjin. Tjoei In Tjoe sendiri menaruh
dendam lantaran kebinasaan adiknya. Ong Lioe Tjoe kena terpanggang jarum beracunnya
In Tjin, dan sesudah lukanya sembuh, pada tempat bekas luka tumbuh daging lebih. Di
sebelahnya itu, ilmu silatnya pun tidak dapat pulih kembali seperti sediakala. Sesudah
peristiwa malam itu, Tjia In Tjin tidak kelihatan mata hidungnya lagi. Tiga orang itu lantas
saja tumpleki kegusarannya atas diriku dan selama sepuluh tahun, ubak-ubakan mencari
aku buat dibinasakan."
Thian Oe dengarkan penuturan gurunya dengan perasaan seram sekali. "Kalau begitu
soehoe menjadi sinshe dan kemudian ikut kita ke Tibet, lantaran mau menyingkirkan diri
dari mereka," kata Thian Oe.
"Ya!" kata Siauw Tjeng Hong sembari menghela napas panjang. "Sesudah peristiwa
malam itu, lantaran jengkel dan kuatir, rambutku menjadi putih sebelum waktunya. Cuma
ada satu hal yang aku masih belum dapat tahu terang. Sebab apa Ong Lioe Tjoe mau
membantu Loei Tjin Tjoe memasang jebakan itu?"
"Apakah itu orang yang kena ditendang jatuh kedalam jurang oleh soehoe?" tanya Thian
Oe.
"Benar," jawabnya. "Lantaran terdesak, aku terpaksa binasakan padanya. Dendaman ini
jadi semakin dalam saja. Sepanjang warta, sesudah mendapat luka, Loei Tjin Tjoe terus
menerus berlatih dan sekarang ilmu silatnya sudah maju jauh sekali. Belasan tahun
berselang, aku sudah bukan tandingannya, dan kalau sekarang bertemu lagi, jiwaku tentu
akan melayang!"
"Sesudah mendengar penuturan soehoe, aku merasa, bahwa biarpun perbuatannya Loei
Tjin Tjoe dan kawan-kawannya tidak pantas, akan tetapi tangannya Tjia In Tjin juga terlalu
kejam," kata Thian Oe.
Mendadak Siauw Tjeng Hong kelihatan seperti orang terkesiap. Di antara menderunya
angin, terdengar suara tertawa. Di lain saat, dari luar menyambar serupa benda. ... Tjeng
Hong kelit sembari loncat keluar tenda. Akan tetapi, kecuali semburan air panas dan
sinarnya rembulan, diluar tidak kelihatan barang satu manusia. Tjeng Hong terkejut. Ilmu
entengi badan orang itu ternyata luar biasa tingginya, sebab dalam tempo yang begitu
pendek, ia sudah dapat menyingkirkan diri.
Dengan hati bimbang Tjeng Hong masuk lagi ke dalam tenda. "Lihatlah soehoe!" kata
Thian Oe dengan suara sedikit gemetar, sambil menuding dengan telunjuknya. Tjeng
Hong mengawasi ke tempat yang ditunjuk oleh muridnya. Ia lihat sepotong kulit kerbau,
bagian atasnya menembus dan nyangkol di tenda, sedang bagian bawahnya tergulung.
Lagi-lagi Tjeng Hong terkejut. Walaupun kulit itu lebih tebal dari kertas, akan tetapi
sebagaimana diketahui, kulit bukannya benda yang dapat digunakan buat menimpuk.
Bahwa orang itu dapat menggunakan kulit seperti senjata rahasia yang menancap pada
kain tenda, dapatlah dibayangkan berapa tinggi tenaga dalamnya. Thian Oe ambil kulit
kerbau itu yang di atasnya terdapat dua baris huruf, ditulis dengan menggunakan kuku
dan berbunyi seperti berikut:
"Di atas telaga dan lautan terumbang-ambing belasan tahun, Hanya di Kanglam dan
Gobie Utara menetap buat sementara. Tuan-tuan lekas pergi ke telaga Thian-ouw, Cari
seorang yang dijuluki Thiekoay sian."
Kedua matanya Siauw Tjeng Hong keluarkan sinar terang dan berkata seorang diri:
"Tadinya aku kira Loei Tjin Tjoe. Siapa tahu yang datang adalah Thiekoay sian (Dewa
tongkat besi). Ih, inilah sungguh mengherankan!"
"Siapa Thiekoay sian?" tanya muridnya.

"Pada dua puluh tahun berselang, Thiekoay sian adalah seorang pendekar aneh yang
malang melintang di daerah Kanglam. Katanya, ia adalah muridnya Kanglam Tayhiap Kam
Hong Tie. Sesudah binasanya Liauw In, Kam Hong Tie cabut tongkat besinya soeheng itu
yang menancap pada batu di gunung Binsan dan turunkan ilmu silat tongkat
kepadanya..."
"Cara bagaimana tongkatnya Liauw In bisa menancap di batu gunung?" tanya Thian Oe.
"Bermula, Liauw In adalah kepala dari Kanglam Pathiap (Delapan Pendekar Kanglam),"
menerangkan sang guru. "Hubungan antara Liauw In dan Hong Tie adalah hubungan
setengah guru (Liauw In pernah ajarkan ilmu silat kepada Hong Tie). Belakangan oleh
karena Liauw In langgar sumpahnya, Tujuh Pendekar Kanglam telah binasakan dia di
hadapan makam gurunya. Yang bunuh padanya adalah Liehiap Lu Soe Nio. Sesudah kalah
dan sebelum tarik napasnya yang penghabisan, Liauw In timpukkan tongkat besinya ke
batu gunung dari gunung Binsan, sehingga tongkatnya nancap dalam sekali di batu itu.
Belakangan Kam Hong Tie cabut tongkat itu dan turunkan ilmu silat tongkat kepada
muridnya, sebagai satu peringatan untuk soeheng-nya yang pernah mewakili sang guru
untuk mengajar ia. Nama muridnya Hong Tie adalah Lu Tjeng. Sesudah mendapat
tongkatnya sang supeh, ia robah namanya menjadi Thiekoay (Tongkat besi). Hong Tie
ajarkan ia 108 jalan ilmu silat tongkat yang dinamakan Hokmo Tianghoat (Ilmu silat
Tongkat takluki iblis), dan oleh karena begitu, ia jadi dikenal sebagai Thiekoay sian."
"Apakah Thiekoay sian mempunyai hubungan dengan soehoe?" tanya Thian Oe.
"Waktu aku baru keluar dari rumah perguruan, namanya sudah tersohor di kalangan
Kangouw. Aku sangat kagumi ia, tapi belum mempunyai kesempatan buat bertemu
muka," jawab Siauw Tjeng Hong.
"Kalau begitu soehoe belum kenal Thiekoay sian. Tapi kenapa ia djanjikan kau buat
bertemu di Thian-ouw?" kata lagi sang murid.
"Yah, aku juga sedang pikirkan sebabnya," jawab Siauw Tjeng Hong. "Kedatanganku di
Thianouw adalah buat cari satu orang luar biasa. Jika disitu aku juga bisa bertemu dengan
Thiekoay sian, kejadian itu sungguh menggirangkan."
Omong-omong sampai disitu, Thian Oe ingat perkataannya itu wanita Tsang. "Orang yang
soehoe cari, apa masih mempunyai hubungan dengan Pengtjoan Thianlie?" tanya ia.
"Apa? Pengtjoan Thianlie?" menegasi sang guru. "Nama itu kedengarannya luar biasa,
tapi aku belum pernah dengar. Siapakah Pengtjoan Thianlie?"
"Aku pun tidak mengetahui," jawab Thian Oe. "Tapi menurut gadis Tsang itu, ia juga
berdiam di Thian-ouw." Sehabis berkata begitu, Thian Oe lantas tuturkan segala kejadian
dalam pertemuannya sama Chena di bukit es. "Tapi, apakah aku boleh mengetahui, siapa
yang sedang dicari oleh soehoe?" kata ia akhirnya.
"Aku dapat dengar, adiknya Tayhiap Moh Tjoan Seng yang bernama Koei Hoa Seng telah
kabur ke Tibet dan menetap di Thian-ouw sesudah kalah sejurus dalam pertandingan
pedang melawan suami isteri Tong Siauw Lan. Cerita ini tersiar luas, akan tetapi aku
sendiri tidak dapat pastikan benar tidaknya. Akan tetapi oleh karena keadaan terlalu
mendesak dan kepandaiannya Loei Tjin Tjoe lebih unggul banyak daripada aku, maka
sesudah pikir pergi datang, harapanku satu-satunya adalah Koei Tayhiap, yang mungkin
masih dapat singkirkan bencana yang sedang mengancam."
"Kenapa adiknya Moh Tayhiap she Koei?" tanya Thian Oe.

"Pernikahan antara Koei Tiong Beng tjianpwee dan pendekar wanita Moh Hoan Lian telah
dikurniai tiga putera. Yang satu ambil she ayahnya, yang lain teruskan she ibunya, sedang
yang satunya lagi pakai she ayah angkatnya. Yang paling tua bernama Moh Tjoan Seng,
yang kedua Tjio Kong Seng, sedang yang ketiga adalah Koei Hoa Seng. Antara ketiga
saudara, Moh Tjoan Seng mempunyai lweekang yang paling tinggi, sedang Koei Hoa Seng
unggul dalam ilmu pedang. Tingkatannya Koei Hoa Seng sangat tinggi dan jika ia sudi
menolong, Loei Tjin Tjoe tentu tak dapat berbuat apa-apa. Hai! Cuma tak tahu, apakah ia
masih hidup dalam dunia ini!"
"Bagaimana kalau
kepandaiannya Thiekoay sian dibandingkan dengan Loei Tjin Tjoe?" tanya Thian Oe.
"Sesudah berpisahan belasan tahun, aku tidak tahu, sampai dimana kemajuan Loei Tjin
Tjoe," sahut sang guru. "Akan tetapi, sesudah lihat kepandaiannya Thiekoay sian yang
barusan, aku kira Loei Tjin Tjoe masih belum mampu menangkan ia."
Sesudah berdiam beberapa saat, Siauw Tjeng Hong berkata lagi dengan paras muka
guram: "Aku dan Thiekoay sian tidak mengenal satu sama lain dan ia djanjikan aku buat
bertemu di Thian-ouw. Apakah maksudnya itu? Loei Tjin Tjoe adalah orang Boetong pay,
yang mempunyai hubungan luas sekali dalam kalangan Rimba Persilatan. Kalau Thiekoay
sian datang buat membantu Loei Tjin Tjoe, kedudukanku akan lebih celaka lagi!"
Thian Oe sebenarnya ingin usulkan supaya gurunya minta bantuan Thiekoay sian, akan
tetapi, sesudah dengar begitu, hatinya jadi semakin tidak enak.
Separoh malam guru dan murid berdiam dalam tenda yang robek itu. Angin dingin
meniup keras dan rasanya meresap ke tulang-tulang. Tak lama kemudian fajar
menyingsing, dan mereka lalu bereskan bekalannya. Tendanya musuh masih berada
disitu. Waktu lari, mereka tidak keburu ambil tenda tersebut. Tanpa sungkan-sungkan,
Thian Oe lantas benahkan tenda orang. Tjeng Hong mengawasi dan berkata sembari
menghela napas: "Lweekang-mu belum sempurna, sehingga kau tidak dapat menahan
hawa dingin. Baiklah. Kau boleh ambil tenda itu."
Siauw Tjeng Hong dinginkan air panas yang kemudian diisikan ke dalam tiga kantong.
Sesudah beres bebenah, mereka segera teruskan perjalanan dengan menunggang kuda.
Hari pertama hawa udara masih lumayan, tapi di hari kedua turun hujan salju, sehingga
Thian Oe menggetget lantaran kedinginan.
Pada hari ketiga, biarpun udara terang, tapi hawa jadi lebih dingin sebab lumernya salju.
Lewat lohor mereka keluar dari mulut gunung dan keadaan bumi jadi lebih merata,
sedang kota Shigatse lapat-lapat sudah dapat dilihat.
"Malam ini kita bisa sampai di Shigatse," kata Tjeng Hong dengan suara girang. Mendadak
dengan satu suara "Ih!", paras mukanya jadi berubah. Thian Oe yang bermata jeli lantas
dapat lihat, bahwa di atas satu tanjakan sedang rebah satu pengemis yang rambutnya
kusut seperti rumput, sebelah mukanya terpendam dalam salju, kepalanya ditandelkan
atas sebatang tongkat besi, pakaiannya rombeng, sehingga kulitnya kelihatan merah
lantaran kedinginan.
Thian Oe yang mempunyai hati kasihan, lantas menghampiri dan dorong badannya
pengemis itu sembari berkata: "Hei! Hei! Jangan tidur disini!"
Pengemis itu miringkan badannya, yang hampir-hampir jadi tergelincir. Thian Oe buruburu angkat padanya. Pengemis itu mengulet dan mendadak membentak: "Jangan raba!"

Sekarang ia baru dapat lihat, pengemis itu pincang, dengan kaki kiri lebih panjang dari
kaki kanan. Ia lantas menghaturkan maaf dan menanya: "Apa kau mau makan apa-apa?"
Pengemis itu perlahan-lahan angkat kepalanya dan kedua matanya kebentrok dengan
matanya Thian Oe, yang jadi sangat kaget, lantaran mukanya hitam seperti pantat kuali,
rambutnya awut-awutan, sedang kedua matanya bersinar tajam dingin bagaikan es.
"Taruh!" kata pengemis itu.
Thian Oe lantas taruh sekantong ransum kering di atas tanah. Orang itu tidak
menghaturkan terima kasih, ia miringkan badannya dan sesapkan lagi mukanya ke dalam
tumpukan salju.
Waktu ia dongak, Thian Oe lihat kedua mata gurunya bersorot kuatir, seperti juga mau
suruh ia buru-buru tinggalkan tempat itu. Thian Oe segera loloskan baju .luarnya yang
terbuat dari bulu onta dan kerebongi badannya pengemis itu. Sesudah itu, bersama
gurunya, ia tunggang kembali kudanya. Tidak lama kemudian mereka tiba di tanah datar
dan Siauw Tjeng Hong barulah bernapas lega.
"Soehoe, apa ada apa-apa yang kurang baik?" tanya Thian Oe.
"Apa kau perhatikan tongkat besinya?" Siauw Tjeng Hong balas menanya.
Thian Oe terkejut. "Apa ia Thiekoay sian?" ia tanya.
"Aku belum pernah bertemu dengan Thiekoay sian dan juga belum pernah dengar bahwa
ia itu adalah seorang pincang," kata Tjeng Hong. "Cuma saja, tongkat itu yang besarnya
seperti mangkok nasi, paling sedikit beratnya tujuh puluh kati. Pengemis biasa mana bisa
angkat tongkat yang begitu berat! Apalagi ia berani rebahkan diri di atas salju yang
sangat dingin. Maka itulah, aku berani pastikan, ia itu bukannya orang biasa."
"Kalau ia benar Thiekoay sian, kenapa soehoe tidak mau coba-coba berkenalan?" tanya
lagi Thian Oe.
"Kau baru saja terjun ke dalam kalangan Kangouw, mana kau tahu peraturan orang
Kangouw," kata sang guru sembari geleng-gelengkan kepalanya. "Kalau ia benar Thiekoay
sian, lebih-lebih lagi aku tak dapat menegur di tempat itu."
"Kenapa?" tanya sang murid.
"Ia djanjikan aku bikin pertemuan di Thian-ouw, kawan atau lawan, masih belum terang,"
menerangkan Siauw Tjeng Hong. "Menurut peraturan Kangouw, sesudah tiba di Thianouw, barulah aku boleh bertemu dengan ianya. Di waktu itulah, baru aku boleh dengar
apa maksudnya.
Andaikata kedatangannya adalah untuk sahabatnya buat jajal kepandaianku, satu
pertemuan yang dibikin lebih siang dari tempo yang dijanjikan, berarti suatu
kesombongan dan mau bertempur dengan ia, sebelum waktunya. Sekarang ini, kita masih
belum tahu, apakah ia Thiekoay sian atau bukan. Kalau benar ia Thiekoay sian, dengan
buka rahasia penyamarannya, kita juga melanggar kebiasaan Kangouw."
"Kalau ia bukannya Thiekoay sian?" tanya lagi Thian Oe.
"Orang-orang aneh dari kalangan Kangouw yang kita tidak tahu benar asal-usulnya, tak
dapat diganggu secara sembrono," kata sang guru. "Apa kau lupa kejadian pada tiga hari
berselang, kapan kau coba dekati manusia-manusia itu?"

Thian Oe tidak berkata apa-apa, tapi hatinya kurang menyetujui perkataan gurunya.
Biarpun benar waktu itu ia seperti juga menuntun anjing hutan masuk ke dalam rumah,
akan tetapi, dengan menolong si anak sekolah, mereka telah mendapat bantuan yang
tidak diduga-duga. Biarpun hatinya berpikir begitu, Thian Oe sungkan berbantahan
dengan gurunya. Mereka lantas pecut tunggangannya yang lantas lari terlebih cepat.
Kira-kira magrib, benar saja mereka tiba di kota Shigatse. Kota itu adalah kota yang
kesohor di
Tibet, cuma saja karena berkedudukan di tempat jauh dan sepi, jumlahnya pelancong
yang mundar-mandir tidaklah banyak dan dalam kota cuma terdapat sebuah rumah
penginapan yang lumayan. Guru dan murid lantas masuk ke rumah penginapan itu. Sang
pelayan yang lihat mereka berpakaian seperti orang asing, buru-buru antar mereka
masuk dengan sikap hormat sekali.
Tapi baru saja mereka menginjak lorak, di dalam mendadak terdengar suara ribut-ribut.
Siauw Tjeng Hong mengawasi dan hatinya terkejut. Ia lihat satu pengemis dengan
pakaian rombeng dan tongkat besi ditandelkan di tanah, sedang memaki kalang kabut:
"Kau orang buka rumah penginapan kenapa tidak kasih aku menginap disini. Hm, hm!
Mata anjingmu betul berminyak. Orang yang berpakaian bagus dihormat-hormati, sedang
tuan besarmu yang pakaiannya rombeng, ditegur pun tidak!" Sehabis berseru begitu, ia
ketruk tongkatnya dan satu ubin persegi lantas hancur.
"Mohon tayya (tuan besar) jangan gusar," kata pengurus rumah penginapan. "Lantaran
rumah penginapan ini sangat kecil dan modal tidak seberapa, maka telah diadakan
aturan, ongkos sewa kamar dan harga makanan harus dibayar terlebih dahulu."
Pengemis itu tertawa besar. "Ah, kenapa kau tidak bicara siang-siang. Apa kau takut tuan
besarmu nganglap?" kata ia. Ia rogoh sakunya dan keluarkan sepotong perak. Sedang
bajunya begitu rombeng, tak tahu perak itu ia taruh dimana. Sembari lempar perak itu di
atas meja, ia berkata: "Bereskan kamar, sediakan dua kati arak dan seekor ayam yang
gemuk. Baik-baik layani tuan besarmu, mengerti! Apa? Kenapa matamu melotot? Apa
uang tidak cukup?"
Si pengurus hotel yang tak duga pengemis itu mempunyai sepotong perak yang begitu
besar, jadi girang hatinya. "Dua tail sudah cukup," kata ia. "Siauwdjie, coba timbang perak
ini. Kalau ada lebihnya, pulangkan kepada tayya."
Pengemis itu kembali tertawa berkakakan. Sembari kebaskan tangannya, ia berkata: "Tak
usah, lebihnya ambil! Besok pagi, tuan besarmu mau lantas berangkat. Lain kali cuci
bersih-bersih matamu. Jangan lihat orang miskin lantas mau diusir."
"Maaf Maaf!" kata si pengurus hotel sembari tertawa. "Kalau rawatan kurang memuaskan,
harap tayya sudi maafkan."
Siauw Tjeng Hong terkejut lantaran ia itu adalah pengemis yang tadi siang mereka
ketemu di tengah jalan. Mereka tunggang kuda, ia jalan kaki, tapi ia sampai lebih dahulu.
Andaikata ia potong jalan, toh kepandaiannya sudah cukup luar biasa. Tjeng Hong
sebenarnya mau mundur kembali, tapi kakinya sudah menginjak lorak, dan kalau mundur,
orang bisa jadi curiga. Maka itu, ia ikuti terus pelayan rumah penginapan.
Tjeng Hong minta satu kamar besar buat dua orang. Sesudah mengunci pintu, guru dan
murid duduk saling berhadapan dengan perasaan masgul. Sesudah bersantap, mereka
dengar suara berbengernya kuda dan di luar datang lagi dua tetamu. Begitu masuk,
mereka berteriak-teriak minta disediakan kamar dan makanan. Tjeng Hong melongok dari
jendela dan lihat kedua tetamu itu adalah pembesar tentara. Orang yang jalan duluan

mengempit satu peti kayu merah yang kelihatannya sangat berharga. Kamar mereka
justru berhadapan dengan kamar Siauw Tjeng Hong.
Tjeng Hong melirik. Mendadak ia lihat di kamar sebelah depan juga muncul dua kepala
orang yang begitu nongol, lantas ditarik masuk kembali. Kepalanya kedua orang itu diikat
sama ikatan kain putih, matanya blau, kumisnya merah dan ternyata adalah orang asing.
Waktu kepala mereka nongol, di bibirnya tersungging dengan senyuman luar biasa.
Tjeng Hong jadi heran. Waktu pelayan hotel masuk buat bereskan kamar, ia memberi
persen satu tail perak dan tanya siapa adanya itu dua tetamu asing.
"Bahasa mereka aku tidak mengerti," jawab sang pelayan. "Menurut katanya pengurus,
yang mengerti banyak bahasa, mereka itu adalah boesoe (pahlawan) dari Nepal."
Sesudah si pelayan pergi, Thian Oe lantas berkata: "Tahun yang lalu, orang Gurkha dari
Nepal telah menyerang Tibet Barat. Mereka membunuh banyak penduduk pribumi dan
merampas kerbau dan kambing yang tidak sedikit jumlahnya. Belakangan mereka kena
dipukul mundur oleh tentara kerajaan. Sudah hampir setahun mereka tidak berani masuk
lagi di Tibet Barat. Belakangan aku dengar keterangan ayah, bahwa sesudah keadaan
menjadi reda, mereka mulai bergerak lagi. Maka itu, kedua boesoe ini mungkin
mempunyai tujuan yang kurang baik."
"Sesudah dua negara mengadakan perdamaian, memang juga tidak bisa diambil sikap
bermusuhan lagi dan perhubungan harus pulih seperti sediakala. Inilah ada kelumrahan
dalam perhubungan antara negara dan negara," demikian Tjeng Hong memberi
keterangan. "Di antara boesoe bangsa Nepal terdapat banyak sekali ksatria. Maka itu, kita
tidak boleh sama ratakan semua orang."
Mendengar nasehatnya sang guru, Thian Oe manggut-manggutkan kepalanya.
"Andaikata benar ada apa-apa yang luar biasa, malam ini kau tidak boleh bergerak,"
memesan Siauw Tjeng Hong.
Selagi mereka omong-omong, di luar jendela mendadak berkelebat bayangan orang.
Thian Oe melongok dari jendela dan lihat seorang tua yang bermuka merah dan
jenggotnya kasar, sedang mundar-mandir di luar kamar.
Orang itu mendadak dongak dan menyanyi dengan suara nyaring sekali:
"Di bawah gunung Holan san
barisan laksana awan.
Gerakan tentara siang malam
dapat kedengaran,
Sapu debu di pakaian perang
dengan kebutan,
Angkat pedang buat tantang
pihak lawan.
Sungguh 'ku ingin dapatkan gendewa malaikat buat memanah panglima musuh,

Supaya tak usah mendapat malu dan tangisi raja lantaran kalah dalam peperangan."
Belum habis nyanyian itu, dua perwira di kamar seberang sudah memaki: "Siapa yang
bikin ribut di luar, sampai aku tak bisa tidur? Kalau berani lagi, aku akan gebuk supaya
kau bisa berkaok-kaok sepuas hati."
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak. Ia tidak gusar dan juga tidak berkata suatu apa. Ia
lantas masuk ke dalam kamarnya, yang terletak di sebelah kanannya kamar Siauw Tjeng
Hong.
Waktu Thian Oe menengok, ia lihat kedua mata gurunya bersinar terang, sedang paras
mukanya mengunjuk kegirangan.
"Siapa orang tua itu?" tanya Thian Oe.
"Bintang penolong datang," kata gurunya.
"Apa?" muridnya menegasi. "Orang tua itu bernama Bek Eng Beng," sahut sang guru. "Ia
adalah seorang pendekar yang paling ternama di propinsi Siamsay dan Kamsiok.
Bagaimana dalam ilmu .silatnya, sukar orang dapat mengukur. Ia adalah seorang mulia
yang sangat suka menolong sesama manusia, dan di sebelahnya itu, ia masih mempunyai
hubungan rapat dengan golongan kita. Cuma aku tidak tahu, sebab apa ia berada disini."
Sesudah berpikir beberapa saat, Tjeng Hong niat keluar dari kamarnya buat mengunjungi
orang tua itu. Tapi mendadak si pengemis aneh yang berdiam di kamar sebelah kiri,
berjalan keluar dan setibanya di depan kamar Tjeng Hong, ia keluarkan suara tertawa.
Tjeng Hong kerutkan alis. Sekonyong-konyong ia tiup lampu dan tidur tanpa membuka
baju.
"Kenapa soehoe tidak jadi pergi?" tanya Thian Oe.
"Malam ini, dalam rumah penginapan ini sudah datang begitu banyak orang pandai," kata
gurunya. "Kalau dilihat gelagatnya, ini malam mesti terjadi apa-apa. Buat sementara aku
tidak mau unjuk muka. Biarlah kita tunggu saja,"
Perasaannya Thian Oe menjadi tegang Ia ambil kantong senjata rahasia dari atas meja
dan taruh di bawah bantalnya.
"Oe-djie," kata Tjeng Hong. "Tidak perduli di luar ada kejadian apapun juga, aku larang
kau bergerak."
Mendengar perkataan gurunya, hatinya Thian Oe jadi semakin bergoncang. Ia gulak-gulik
di atas bantal dan tentu saja tidak dapat tidur pulas. Akan tetapi, sesudah lewat sekian
lama, di luar tetap sepi-sepi saja. Tidak lama kemudian, kentongan berbunyi empat kali,
tapi masih juga belum terjadi suatu apa. Thian Oe jadi merasa sangat ngantuk dan ia
meramkan kedua matanya. Dalam layap-layap, mendadak ia seperti lihat bayangan orang
dan waktu membuka mata, orang itu ternyata adalah gurunya sendiri yang sudah bangun
berdiri. Ia loncat bangun dengan perasaan kaget. "Jangan bergerak," berbisik gurunya.
"Aku mau keluar buat lihat-lihat."
Thian Oe tidak mengetahui, bahwa di atas genteng lewat satu tetamu malam. Cuma saja
sebab ilmu entengi badannya sangat tinggi dan gerakannya cuma mengeluarkan sedikit
suara, maka Thian Oe tidak dapat mendengar.
Tapi Siauw Tjeng Hong bukan saja sudah mendengar, tapi juga mengetahui, bahwa
gerakan itu adalah gerakan dari seorang ahli Heng-ie pay. Bek Eng Beng adalah tokoh dari
partai tersebut, maka orang itu tentulah mesti ianya.

Tjeng Hong lantas salin pakaian hitam peranti jalan malam dan lalu loncat keluar dari
jendela. Begitu berada di luar, ia lihat satu bayangan hitam mendekam di payon kamar
seberang dan sedang mengintip ke dalam kamar. Tjeng Hong loncat ke atas genteng dan
waktu orang itu menengok, ternyata ia memang Bek Eng Beng adanya.
Tjeng Hong segera memberi tanda dengan gerakan tangan, buat mengasih tahu, bahwa
ia adalah seorang kawan. Biarpun sudah belasan tahun tidak pernah bertemu, Bek Eng
Beng kelihatannya masih belum lupa. Ia angkat tangan kanannya yang digoyang
beberapa kali, seperti juga mau bilang, Tjeng Hong tak usah campur urusannya. Siauw
Tjeng Hong segera mendekam di satu tempat ceglok di atas genteng. Ia lihat dalam
kamar perwira itu dipasang lilin sebesar lengan, jendelanya ditutup separoh, sedang
suara menggeros kedengaran keras sekali. "Persiapan semacam itu tidak akan dibikin,
kalau bukannya orang itu mempunyai kepandaian tinggi. Orang Kangouw yang tanggungtanggung, begitu lihat persiapan begitu, tentu akan lantas angkat kakinya. Tak dinyana,
kedua perwira itu adalah orang-orang Kangouw -yang berkepandaian tinggi," demikian
Tjeng Hong berkata dalam hatinya.
Bek Eng Beng juga rupanya memikir begitu, sebab, sesudah mendekam lama, ia kelihatan
masih bersangsi. Sementara itu, suara menggeros kedengaran semakin santer. Di lain
saat, Bek Eng Beng rupanya sudah mengambil putusan. Ia cabut pedangnya dan
bagaikan walet menembus tirai, ia loncat ke dalam kamar.
Siauw Tjeng Hong lantas bergerak dan loncat ke tempat dimana barusan Bek Eng Beng
mendekam. Semua itu terjadi dalam tempo sekejapan mata saja. Begitu masuk,
tangannya Bek Eng Beng lantas menjambret ke peti kayu merah yang ditaruh di pinggir
pembaringan. Hampir berbareng, kedua perwira sudah loncat dari pembaringan dan dua
batang pedang menyambar ke arah jalanan darah di kedua pundaknya Bek Eng Beng.
Tak malu Bek Eng Beng bergelar Siamkam Tayhiap (Pendekar dari propinsi Siamsay dan
Kamsiok). Diserang selagi membungkuk, badannya
mendadak lempeng dan melesat ke atas, sedang pedangnya sampok kedua senjata
musuh. Sebelum hinggap di muka bumi, badannya diputar, kaki kirinya menendang lebih
dahulu, disusul dengan kaki kanannya. Itulah Lioeseng Kangoat Toeihong kiam (Ilmu
pedang Bintang sapu mengejar bulan dan angin) dan Lianhoan Tokbeng Wanyangkak
(Tendangan berantai membetot jiwa) dari Heng-ie pay yang digunakan secara saling
susul. Dihantam secara begitu, kedua perwira itu lantas terdesak ke pojok kamar.
Bek Eng Beng berbalik buat jumput peti merah itu. "Bangsat yang bernyali besar!"
membentak satu perwira. "Malam ini kita pasang umpan buat tangkap ikan emas. Apa
kau masih berani turun tangan?"
Baru saja Bek Eng Beng mau lonjorkan tangannya, di bebokongnya sudah menyambar
senjata musuh. Ia tendang peti itu sampai di pinggir pintu, sedang pedangnya tangkis
senjata musuh. Bek Eng Beng menyerang dengan serangan-serangan yang
membinasakan, tapi kedua perwira itu pun bukannya lawanan empuk. Mereka putar
pedangnya secara rapat sekali dan berbareng mengirim serangan-serangan yang tidak
kurang hebatnya.
"Barang apa terdapat dalam peti itu?" tanya Tjeng Hong dalam hatinya. "Tapi biarlah aku
bantu Bek Tayhiap." Selagi ia mau loncat turun, mendadak terdengar suara gedubrakan
dan pintu kamar terpentang akibat tendangan.
Berbareng dengan itu, dua boesoe Nepal menerobos masuk dengan sikap garang, sedang
satu antaranya lantas jumput peti merah itu.

Selagi kedua boesoe mau lari keluar, badannya Tjeng Hong melayang turun sembari
mengebut dengan hudtim-nya. Satu boesoe lantas memapaki dengan goloknya. Golok itu'
berbentuk bulan sisir dengan tajamnya bengkok ke dalam. Itulah senjata yang bukan saja
dapat melukakan orang, tapi juga dapat menggaet senjata musuh. Tapi hudtim-nya Siauw
Tjeng Hong juga adalah senjata mustika yang jarang terdapat dalam Rimba Persilatan.
Kebutan itu bisa keras dan bisa lemas. Begitu lekas ia membacok, boesoe itu rasakan
goloknya seperti membacok kapas, tanpa ada tenaga yang melawan. Hatinya terkesiap
dan tarik pulang goloknya, tapi golok itu sudah tergubat hudtim. Boesoe itu membetot,
tapi goloknya tak dapat putuskan benang-benang hudtim. Tjeng Hong kerahkan
tenaganya dan membentak: "Lepaskan golokmu!" Lantaran sayang goloknya, boesoe itu
kerahkan seluruh tenaganya pada lengan kanannya buat lawan tenaga musuh. Itulah
justru yang diingini Siauw Tjeng Hong. Mendadakan saja tangan kirinya menyambar dan
betot peti merah itu yang dipeluk dengan tangan kirinya boesoe tersebut. Itu adalah tipu
yang dinamakan suara di timur, menyerang di barat. Oleh karena perhatiannya sedang
dipusatkan kepada sang golok, bagian kirinya jadi terbuka dan di lain saat, peti merah itu
sudah pindah ke tangannya Tjeng Hong.
Boesoe itu seperti terbang semangatnya. Ia baru sadar, bahwa isinya peti itu ada laksaan
kali lipat lebih berharga dari goloknya. Sedang pikiran musuh kalut, dengan sekali gentak
saja, Siauw Tjeng Hong bikin terpental golok musuh dari tangannya.
Ketika peti merah kena dirampas oleh sang boesoe, keadaan pertempuran dalam kamar
lantas jadi berobah. Kedua perwira dan Bek Eng Beng berhenti berkelahi dan ketiga
batang pedang lantas meluruk kepada dua musuh yang baru datang. Tapi baru saja
pedang mereka menyambar, peti merah itu sudah pindah ke tangannya Siauw Tjeng
Hong. Semua itu sudah terjadi dalam tempo sekejap mata.
Tapi boesoe itu juga bukan orang sembarangan. 1 Begitu goloknya terpental, ia loncat,
tangannya menyambar dan sanggap pulang goloknya itu. Berbareng dengan itu kaki
kanannya sapu kedua kakinya Siauw Tjeng Hong. Kawannya juga lantas menubruk dan
kirim tiga bacokan beruntun ke arah Tjeng Hong.
Dengan satu tangan memeluk peti merah, Tjeng Hong kelit serangan boesoe yang
pertama. Golok boesoe yang satunya lagi, ia sampok dengan hudtim-nya. Tiba-tiba ia
rasakan sambaran angin tajam di bebokongnya dan pedangnya kedua perwira menikam
dengan berbareng. Ia menangkis dengan hudtim-nya, dan selagi perhatiannya ditujukan
kepada serangannya kedua perwira itu, boesoe Nepal yang kedua berhasil merampas lagi
peti merah itu. Bek Eng Beng kebaskan pedangnya dan sampok pedangnya dua perwira.
Pada saat itu, kedua boesoe Nepal sudah menerobos keluar pintu dan terus kabur.
"Ubar!" berseru Bek Eng Beng sembari enjot badannya. Siauw Tjeng Hong dan dua
perwira berhenti berkelahi dan turut mengubar.
Bagaikan kilat, keenam orang itu berlari-lari melewati genteng-genteng rumah. Tidak
lama kemudian, mereka sudah berada di luar kota. Antara mereka, Bek Eng Beng-lah
yang mempunyai ilmu entengi badan paling tinggi dan ia paling dahulu dapat
menyandak.
Begitu kecandak, kedua boesoe Nepal lantas berbalik dan kerubuti Bek Eng Beng.
Beberapa saat kemudian, Siauw Tjeng Hong sudah menyusul. Dengan dua lawan satu,
keadaan kedua boesoe masih boleh juga, tapi begitu lekas Tjeng Hong turut ambil bagian,
mereka segera jadi keteter. Dengan hebat Eng Beng desak dua lawannya, yang napasnya
jadi sengal-sengal. Menggunakan kesempatan itu, Tjeng Hong putar hudtim-nya buat
melindungi badan, sedang satu tangannya menyambar buat rampas balik peti merah itu.

"Serahkan peti itu kepadaku!" mendadak kedengaran orang membentak. Dua perwira
yang ketinggalan ternyata sudah sampai disitu. Dua pedangnya menyabet dari kiri dan
kanan, ke arah boesoe Nepal yang peluk peti merah itu.
Diserang oleh empat orang yang mempunyai kepandaian tinggi, kelihatannya boesoe itu
tak akan dapat loloskan diri lagi. Tak dinyana, sembari membentak, ia timpuk mukanya
Bek Eng Beng dengan peti itu, yang lantas menanggapi. Sekarang
pertempuran kembali berobah. Dua perwira dan dua boesoe jadi berkawan dan kerubuti
Bek Eng Beng, yang cuma dibantu oleh Siauw Tjeng Hong seorang.
Demikianlah pertempuran berjalan dengan hebat. Dua perwira dan dua boesoe itu, kalau
satu lawan satu, tak ada yang bisa jadi tandingannya Bek Eng Beng atau Siauw Tjeng
Hong. Tapi dengan empat lawan dua, mereka jadi berada di atas angin. Selainnya itu,
dengan tangan memeluk peti merah, perhatiannya Eng Beng jadi terpecah. Sesudah
lewat kurang lebih lima puluh jurus, mereka jadi kedesak dan cuma dapat membela diri,
tanpa mampu balas menyerang.
Dua perwira dan dua boesoe makin lama menyerang makin hebat. Mendadak, sembari
membentak keras, Bek Eng Beng lemparkan peti itu kepada sang boesoe Nepal. Melihat
begitu, dua perwira terkejut. Bek Eng Beng putar pedangnya dan menyerang kalang
kabutan sembari membentak: "Biar aku bikin mampus dahulu dua manusia ini!"
Sekarang dua perwira itu berbalik menghantam sang boesoe yang pegang peti merah.
Sembari tertawa nyaring, ia menangkis dengan goloknya dan berbareng lempar peti itu.
Siauw Tjeng Hong yang berdiri paling dekat sambut peti tersebut dan ia lantas saja
dikepung oleh dua perwira dan dua boesoe! Peti merah itu yang tadi menjadi rebutan,
sekarang jadi bibit penyakit!
Sesudah melawan beberapa jurus, Tjeng Hong lempar peti itu ke arah satu perwira. Tidak
dinyana, sembari tertawa dingin, perwira itu angkat tangannya buat hantam peti itu. Bek
Eng Beng terkesiap dan lantas loncat menyambut. Di lain saat, ia sudah dikepung oleh
kedua perwira dan kedua boesoe!
Selagi bertempur hebat, sekonyong-konyong terdengar suara tertawa yang sangat
nyaring dan satu bayangan hitam berkelebat bagaikan kilat. Orang yang baru datang
bukan lain dari si pengemis aneh. Begitu tiba, ia putar tongkat besinya dan mengamuk
secara aneh pula. Keanehannya ialah ia hantam siapa juga yang menghalang di
depannya. Si perwira, si boesoe dan Bek Eng Beng semua dirabu olehnya.
"Kalau begitu ia mau bikin semua orang jadi lelah, akan kemudian menarik keuntungan
dan kantongi peti merah itu." pikir Tjeng Hong dalam hatinya. Selagi ia mau buka
kedoknya si pengemis, sekonyong-konyong terdengar suara tertawa yang sangat panjang
dan dalam gelanggang pertempuran, tambah lagi satu orang baru! Orang itu datang
secara luar biasa. Barusan, ketika si pengemis datang, suaranya terdengar lebih dahulu,
belakangan barulah manusianya muncul. Tapi kali ini, suara dan manusia datang
berbareng.
Dengan bantuannya sinar rembulan, Siauw Tjeng Hong lantas kenali, bahwa orang itu
adalah si anak sekolah yang beberapa hari berselang telah tolong jiwanya dengan jarum
emas. Sembari tolak pinggang dengan satu tangannya, ia membuat setengah lingkaran
dengan tangannya yang lain. "Barang langka apakah yang membikin kalian jadi berebut?"
ia tanya dengan suara malasmalasan.
Munculnya si anak sekolah membikin semua orang jadi kaget dan mereka segera
hentikan pertempuran. Si-pengemis aneh tertawa dingin dan bawa sikap acuh tak acuh,

tapi sebenarnya ia pusatkan seluruh perhatiannya kepada anak sekolah itu dan siap sedia
dengan tongkatnya.
Bek Eng Beng yang mempunyai banyak pengalaman lantas mengetahui, bahwa anak
sekolah itu bukannya sembarang orang. Sembari usap gagang pedangnya, ia memberi
hormat dan berkata: "Aku, Pokee Bek Eng Beng, ingin mengambil serupa barang dari
tangannya ini kedua kuku garuda. Jika tuan adalah seorang kawan dalam Rimba
Persilatan, aku tak berani minta bantuan, tapi memohon supaya tempatkan diri di luar
gelanggang. Di lain hari, aku tentu akan membalas budi ini." Harus diketahui bahwa Bek
Eng Beng adalah pendekar besar di propinsi Siamsay dan Kamsiok. Di beberapa propinsi
Tiongkok Utara barat, namanya besar sekali dan dikenal oleh semua orang kalangan
Rimba Persilatan. Sekarang ia sendiri memperkenalkan diri dan menggunakan kata-kata
yang menghormat. Menurut taksiran, usianya si anak sekolah tidak lebih dari dua puluh
tahun, sehingga tingkatannya tidak bisa berada di atas Bek Eng Beng. Dalam
omongannya itu, Bek Eng Beng tidak menonjolkan kedudukan sebagai tjianpwee (orang
dari tingkatan lebih tua), tapi cuma singgung soal pribudi dalam kalangan Kangouw. Ia
menaksir, sesudah dengar omongannya, biarpun tidak sampai membantu, si anak sekolah
tentu akan minggir.
Tapi siapa nyana, ia cuma berkata dengan suara dingin: "Hm! Aku tahu!" Dari lagu
suaranya, seperti juga ia belum pernah dengar namanya Bek Eng Beng, sehingga Siauw
Tjeng Hong sendiri sampai merasa, si anak sekolah bersikap sedikit keterlaluan.
Mendengar perkataan yang dingin itu, kedua perwira jadi merasa sangat girang. Sembari
rangkap kedua tangannya, salah seorang berkata: "Kami adalah anggauta dari Gielimkoen
(Pasukan pengawal kaizar) dan menerima perintah Bansweeya (Kaizar) buat antar serupa
barang ke Lhasa. Tapi di tengah jalan, barang itu kena dirampas oleh bangsat tua ini.
Maka itu, kami memohon bantuan tuan."
Si anak sekolah kembali keluarkan satu gerendengan dan berkata dengan tawar: "Yah,
aku tahu!"
Si pengemis tertawa dingin dan niat lantas lampiaskan amarahnya. Tapi mendadak si
anak sekolah maju dua tindak, dan setahu bagaimana, dengan sekali berkelebat,
tangannya sudah dapat rampas peti merah itu dari cekatannya Bek Eng Beng! Bagaimana
tinggi kepandaiannya Bek Eng Beng sudah sukar diukur, tapi toh, barang yang dicekal
olehnya, sudah dapat dirampas secara begitu gampang! Hal itu bukan saja sudah
membikin Siauw Tjeng Hong jadi terkejut, tapi kedua perwira dan kedua boesoe pun
sampai keluarkan teriakan tertahan dan loncat mundur beberapa tindak.
Si anak sekolah cepat bagaikan kilat, si pengemis pun tidak kurang cepatnya. Hampir
pada saat yang berbareng, tongkatnya si pengemis berkelebat dan menimpa gegernya si
anak sekolah. Melihat bahaya itu Siauw Tjeng Hong yang pernah ditolong jiwanya, tanpa
merasa keluarkan teriakan "Ayo!"
Tanpa menengok, si anak sekolah menyampok dengan tangannya, sedang badannya
sudah melesat setombak lebih. Betul indah gerakannya itu! Pada sebelum si pengemis
tarik pulang tongkatnya, ia sudah berkata dengan suara nyaring: "Sungguh Thiekoay sian
bukannya cuma nama kosong!"
Tjeng Hong terkejut. Si pengemis aneh ternyata memang benar Thiekoay sian adanya!
Sementara itu, si anak sekolah sudah berkata lagi sembari tertawa: "Sekarang aku mau
lihat, barang luar biasa apakah yang membikin kalian jadi berebut sampai begitu." Ia
menepok dan peti merah itu lantas terbuka. Ia ambil isinya, banting di atas tanah dan
dengan satu suara krontangan benda itu pecah jadi delapan potong!

Bek Eng Beng keluarkan teriakan kaget. "Ah, bukannya guci emas!" ia berseru. Si
pengemis aneh juga kelihatan tidak kurang kagetnya. Ia goyang-goyang tongkatnya,
tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tjeng Hong mengawasi dan ternyata yang hancur itu
adalah vas porselen biasa. Ia sungguh heran, kenapa mereka berebuti barang begitu.
Sesudah banting vas porselen itu, si anak sekolah dongakkan kepalanya dan tertawa
nyaring. "Bibit bencana hilang, pertempuran berhenti," kata ia. "Kejadian ini bisa keja
Louw Tiong Lian 51 jaman sekarang jadi mati tertawa. Ha, ha! Sungguh menggembirakan!
Sekarang aku permisi pergi!" Ia kebaskan tangan bajunya, badannya melesat seperti
seekor burung dan berlalu seperti terbang.
Mendadak Bek Eng Beng menggereng. "Kau sudah nyebur ke dalam air, mana bisa begitu
gampang lepaskan senjata?" ia membentak sembari mengudak. Dua perwira dan dua
boesoe Nepal juga turut memburu sembari berteriak-teriak, sehingga suaranya
berkumandang jauh di padang rumput yang luas itu.
Si pengemis aneh ketruk tongkatnya di atas tanah, tapi badannya tidak bergerak. Melihat
begitu, Siauw Tjeng Hong yang tadinya mau ikut mengubar, jadi urungkan niatannya.
Selagi ia niat menegur, kedua matanya si pengemis mendadak mendelik.
"Hm, apa kau rasa bisa menyandak?" katanya dengan suara tawar. "Simpan tenagamu
buat pertemuan di Thian-ouw!"
Sehabis berkata begitu, tiba-tiba ia angkat tongkatnya dan sabet pinggangnya Siauw
Tjeng Hong. Pukulan ini bukan saja datangnya tidak diduga-duga, tapi juga cepat
bagaikan kilat, sehingga biarpun mempunyai kepandaian yang lebih tinggi, Siauw Tjeng
Hong tidak akan dapat loloskan diri. Dengan satu suara "buk", tongkatnya si pengemis
sudah mampir di pundaknya. Ketika tongkat itu menyambar, dengan perasaan mencelos,
Siauw Tjeng Hong berkata dalam hatinya: "Tak dinyana aku mesti mati secara
mengecewakan di tempat ini!"
Tapi aneh, sungguh aneh, ketika tongkat itu mampir di pundaknya, ia bukan rasakan
pukulan biasa, tapi semacam dorongan hebat yang membikin badannya ngapung
beberapa tombak tingginya! Sebagai ahli silat, selagi berada di tengah udara, Tjeng Hong
putar badannya yang lantas turun ke bumi tanpa mendapat luka apa-apa! Dan waktu ia
mengawasi sekelilingnya, si pengemis sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Sungguh heran hatinya Tjeng Hong. Jika si pengemis mempunyai dendaman, kenapa ia
tidak turunkan tangan jahat?
Kalau tidak mempunyai ganjelan, kenapa juga ia permainkan dirinya? Biarpun sudah lama
tenggelam timbul dalam kalangan Kangouw, kali ini benar-benar ia tidak mengerti.
Sekarang marilah kita tengok rumah penginapan itu yang menjadi kacau balau lantaran
terjadinya pertempuran yang berlangsung dari dalam sampai diluar.
Tak usah dibilang lagi, pemilik rumah penginapan dan para tetamu jadi ketakutan
setengah mati dan pada mengumpat sambil sesepkan kepala. Sesudah orang-orang yang
berkelahi pergi jauh, barulah pemilik hotel berani muncul sembari bawa lampu buat
periksa keadaan rumah penginapannya. Ia lihat kamarnya Bek Eng Beng, kamar kedua
perwira, dua boesoe dan kamarnya si pengemis semuanya terpentang dengan tidak ada
manusianya. "Sudahlah! Sudahlah! Aku sudah duga, si pengemis bukannya orang baik!"
ia kata sembari banting kaki. Ia tidak berani maki itu pembesar militer, itu kedua boesoe
dan Siamkam Tayhiap Bek Eng Beng, maka si pengemis yang menjadi korban.
Tapi si pelayan kelihatannya masih mempunyai liangsim (perasaan hati). "Berat peraknya
ada dua belas tail, aku sudah timbang," kata ia.

Mendengar perkataan itu, paras mukanya si pemilik hotel jadi berobah. Buru-buru ia lari
masuk ke kamarnya, akan kemudian keluar lagi sembari berteriak-teriak: "Bangsat!
Bangsat besar! Dia berani colong perakku!"
Ternyata pemilik hotel adalah seorang sekaker yang suka sekali tukarkan perak hancur
dengan goanpo (potongan perak besar) buat disimpan. Beberapa hari berselang, ia baru
saja tukarkan sepotong goanpo yang beratnya dua belas tail. Barusan waktu dicari,
potongan perak itu lenyap! Tak usah. disangsikan lagi, potongan perak itu tentu sudah
dicuri oleh si pengemis! Sembari memaki, si pemilik hotel menangis pikirkan peraknya
yang hilang.
Tan Thian Oe yang dengar itu semua, berkata dalam hatinya: "Pengemis aneh itu liehay
sekali, akan tetapi, dengan mau tidur dan makan gratis, ia agaknya keterlaluan." Sebagai
seorang pemuda yang berhati kasihan, tanpa pikirkan segala akibatnya, ia lantas berjalan
keluar dari kamarnya dan berkata: "Tiam tjoedjin (pemilik hotel) tak usah bersedih hati
dan mencaci maki. Goanpo itu biarlah aku yang ganti. Mpe pengemis adalah seorang
tjianpwee-ku (orang tingkatan lebih tua). Adatnya aneh sekali dan aku rasa ia sengaja
main-main dengan kau."
Si pemilik hotel merasa heran, kenapa Thian Oe yang pakaiannya indah seperti seorang
kongtjoe hartawan bisa kenal pengemis itu. Tapi mendengar kerugiannya bakal ditutup, ia
jadi kegirangan setengah mati dan haturkan ribu-ribu terima kasih, tanpa berani menanya
melit-melit.
Waktu Thian Oe balik ke kamarnya, fajar sudah menyingsing, tapi gurunya belum juga
balik, sehingga hatinya merasa sangat kuatir. Mendadak ia dengar suara orang tertawa di
luar jendela. "Bocah ini hatinya baik sekali!" kata orang itu.
"Tjianpwee siapakah yang bicara?" ia menanya dengan perasaan terkejut. Ia tolak jendela
dan melongok keluar, tapi tidak kelihatan bayangan manusia. Begitu balik lagi badannya,
ia lihat satu bungkusan di atas meja kecil, di pinggir pembaringan. Bungkusan itu ternyata
berisi baju bulu onta yang ia hadiahkan kepada si pengemis dan sepotong goanpo! Thian
Oe terkesiap dan berkata: "Ah, tjianpwee itu benar-benar luar biasa."
Sesudah siang, barulah Siauw Tjeng Hong kembali di rumah penginapan. Guru dan murid
saling tuturkan pengalamannya yang semalam dan kedua-duanya merasa sangat heran.
Mereka tak tahu, apa pengemis itu kawan atau lawan. Mereka tak dapat tebak, kenapa
Bek Eng Beng, dua perwira dan dua boesoe Nepal sampai perebutkan satu vas porselen
biasa. Sesudah bersantap pagi, dengan perasaan masgul mereka lalu teruskan
perjalanan.
Sesudah berjalan lagi setengah bulan, tibalah mereka di sebelah utara barat Lhasa. Jauhjauh mereka lihat satu gunung tinggi menghadang jalanan.
Itulah gunung Nyenchin Dangla yang tingginya cuma kalah dari gunung Himalaya. Waktu
itu sudah masuk musim panas. Di kaki gunung ratusan macam kembang berbunga indah
sekali, sedang di lamping gunung, air yang bening laksana kaca mengalir legat-legot di
antara batu-batu dan hawa udara kira-kira bersamaan dengan hawa musim semi di
daerah Kanglam. Tapi di sebelah atas, salju putih masih menutupi puncak gunung yang
tinggi, sehingga memberi pemandangan yang istimewa sekali.
"Aku dengar, Lootjianpwee Koei Hoa Seng berdiam di gunung ini." kata Siauw Tjeng Hong.
"Aku hanya berharap beliau masih hidup, supaya dapat menolong kesukaranku ini."
Guru dan murid yang sudah siap sedia dengan alat-alat, lantas mulai mendaki gunung.
Sesudah berjalan tiga hari, barulah mereka tiba di pinggang gunung. Dari situ, mereka

dapat lihat sungai es yang melingkar-lingkar seperti naga perak dan mengasih lihat lain
pemandangan yang mengherankan. Lapisan atas sungai es itu sudah menjadi lumer
lantaran kena sorotnya matahari yang hangat. Tapi kembang salju dari puncak gunung
selembar-selembar melayang turun ke bawah, seakan-akan lembaran-lembaran kertas
kristal yang jatuh di atas muka sungai es itu. Lembaran-lembaran salju itu segera menjadi
keras, yang tidak lama kemudian menjadi lumer pula lantaran hangatnya sang matahari.
Maka itulah, sedari dahulu sampai sekarang sungai es di pegunungan Nyenchin Dangla
selalu tidak berobah. Disorot sinar matahari, lapisan es itu merupakan benda transparan
yang berwarna hijau muda dan keindahannya sungguh sukar dilukiskan dengan sang
kalam. Salju dari permulaan musim panas sifatnya lebih keras dan basah, dan di
dalamnya mengandung lebih banyak air, sehingga pada sebelumnya menjadi es, salju itu
seperti juga bunga-bunga bwee yang ngambang di atas sungai es. Maka itulah, ada satu
syair yang berbunyi kira-kira seperti berikut:
Salju musim semi di tengah udara berterbangan, Sekuntum-kuntum bagaikan bunga yang
sedang mekar. Sehingga orang yang kurang pengetahuan.
Akan kira mereka itu bunga sungguhan.
Itulah syair yang sering diucapkan oleh mereka yang menyaksikan pemandangan yang
menakjubkan itu.
Selagi guru dan murid puaskan matanya, di sebelah bawah pinggang gunung mendadak
terdengar suara apa-apa. Dua orang berpakaian warna-abu-abu kelihatan loncat ke atas
puncak di seberang. Pegunungan Nyenchin Dangla penuh dengan puncak-puncak yang
antaranya cuma berjarak kira-kira satu li satu antara lainnya. Di lain saat, dua bayangan
orang itu sudah masuk ke mulut gunung dan tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Tjeng Hong dan Thian Oe merasa heran. Sementara itu, tiba-tiba kuping mereka
menangkap suaranya tetabuhan khim yang datang dari tempat jauh.
Mereka lantas saja tujukan tindakan ke arah tetabuhan itu. Semakin lama berjalan,
semakin hangat hawa udara. "Beberapa hari yang lalu, makin tinggi, kita merasa makin
dingin. Tapi kenapa sekarang, sesudah tiba di pinggang gunung, hawa jadi berbalik
hangat?" tanya Thian Oe.
"Mungkin di bawah tanah ini terdapat sebuah gunung berapi," menerangkan Tjeng Hong.
Dengan perlahan, suara khim jadi semakin tedas kedengarannya. Sebagai satu ahli, Thian
Oe lantas mengetahui bahwa tetabuhan itu adalah o-khim yang bertali lima.
Suaranya tetabuhan itu sangat menyedihkan hati, dan sesudah mendengari berapa lama,
hatinya Thian Oe jadi bergoncang, sebab ia merasa pernah mendengar suara seperti itu.
Mendadak, suara khim diiring dengan nyanyian yang seperti berikut:
Di bawah sungai es seekor anak kambing.
Kehilangan ayah, kehilangan bunda.
Sang elang memburu dia. Mau dicengkeram, dijadikan santapan.
Pengtjoan Thianlie oh, ciciku yang mulia!
Dengarkah kau teriakannya yang menyayatkan hati.
Tahukah kau penderitaannya? Tolonglah usir sang elang yang jahat,

Selama hidup dia tak akan melupakannya.


Thian Oe kenali. Suara itu keluar dari mulutnya Chena, itu gadis Tsang yang aneh.
"Soehoe", kata ia dengan kaget tercampur girang. "Dengarlah! Nyanyian itu adalah
permintaan tolong kepada Pengtjoan Thianlie. Tak salah lagi, Pengtjoan Thianlie berdiam
di ini tempat! Hai! Gadis itu sungguh hebat penderitaannya. Nyanyian itu mengunjuk,
bahwa ia kembali diubar orang."
Tanpa tunggu jawaban gurunya, Thian Oe cabut dua hoeito dan berlari-lari ke arah suara
nyanyian itu. Sesudah lewati satu lembah gunung, matanya dapat lihat satu telaga yang
sangat luas, yang seputarnya dikitari gunung. Telaga itu adalah telaga yang paling tinggi
dalam dunia, yang dalam bahasa Tibet dinamakan Tengri Nor. Telaga tersebut terletak di
tempat yang tingginya lebih dari 4.672 kaki, sehingga lebih tinggi 800 kaki lebih dari
telaga Titicaca, di antara Peru dan Bolivia di Amerika Selatan. Telaga inilah yang orang
Han namakan Thian-ouw, atau Telaga Langit.
Air telaga bening jernih seperti kaca, sedang ombak halus menyapu ke sana-sini tak
hentihentinya. Di tengah telaga terdapat lempengan-lempengan es yang mengambang,
yang berkilatkilat, lantaran tertojo sinarnya sang matahari. Air telaga seakan-akan
menempel dengan tepian langit, sang langit menempel dengan air telaga. Thian Oe jadi
seperti orang kesima. "Tempat ini benar-benar bagaikan surga. Apakah benar Pengtjoan
Thianlie tinggal disini?" kata ia dalam hatinya.
Di pinggir telaga penuh dengan rumput hijau dan pohon-pohon bunga yang menyiarkan
bau harum sekali. Dan di antara pohon-pohon kembang itu, kelihatan berkibar-kibar
selendang sutera putih dari seorang wanita.
"Nona Chena! Aku disini!" berseru Thian Oe. Baru saja gadis itu menengok, kembali
terdengar lain suara: "Nona Chena! Kami pun berada disini!" Berbareng dengan itu, dari
gombolan pohon loncat keluar dua orang tinggi besar yang berpakaian warna abu-abu.
Sembari nyengir, mereka tubruk Chena.
Thian Oe membentak sembari menimpuk dengan kedua hoeito-nya. Kedua orang itu
mengebut dengan tali pinggangnya dan kedua golok terbang tersampok jatuh ke dalam
telaga.
Dalam kagetnya, Thian Oe dengar satu orang berteriak kesakitan, sedang yang satunya
jatuh menggelinding ke bawah tanjakan. Orang yang membantu Thian Oe adalah Siauw
Tjeng Hong yang telah timpuk jitu jalanan darah kedua orang itu dengan cabang pohon.
Kedua orang itu sebenarnya bukan makanan empuk, tapi lantaran mereka sedang
perhatikan hoeito-nya Thian Oe dan juga sebab tenaga dalamnya Tjeng Hong ada cukup
tinggi, maka biarpun jaraknya jauh, jalanan darahnya kena ketotok juga dan dirasakan
sakit bukan main, walaupun tidak sampai roboh klengar. Mereka tahu sedang berhadapan
dengan orang pandai dan buru-buru kabur buat minta bala bantuan.
Gadis Tsang itu berlari-lari dengan paras muka ketakutan. "Sudah tak ada apa-apa lagi.
Musuh sudah kena diusir oleh guru," kata Thian Oe. Melihat sikap muridnya, Tjeng Hong
jadi ingat pengalamannya sendiri, ketika diam-diam ia mencintai Tjia ln Tjin. Ia segera
jalan perlahan sekali, supaya tidak mengganggu kedua orang muda.
Sekonyong-konyong dari gombolan pohon berkelebat bayangan orang. "Timpukan bagus!
Timpukan Bagus! Sahabat-sahabat lama sekarang bertemu kembali!" demikian
kedengaran satu orang berkata.
Hatinya Tjeng Hong mencelos. Dua orang kelihatan muncul. Pada mukanya orang yang
jalan di depan terdapat tapak golok tapak jalak, satu matanya buta, mukanya

menyeringai, sehingga kelihatannya menakuti sekali. Orang itu bukan lain daripada Loei
Tjin Tjoe, pentolan nomor satu dari tingkatan kedua Boetong pay dan yang ditakuti oleh
Siauw Tjeng Hong. Orang yang jalan belakangan adalah Tjoei In Tjoe yang sudah sembuh
lantaran kasiatnya soatlian dan tangannya mencekal satu gendewa dengan tali baru.
Diudak oleh Tan Thian Oe, gadis Tsang itu berlari-lari lewat di pinggirnya Tjoei In Tjoe,
yang berkata sembari tertawa: "Sanma! Terima kasih buat soatlian-mu." Sesudah Chena
lewat, ia kebaskan gendewanya dan papaki Thian Oe. "Oe-djie, balik!" berseru Siauw
Tjeng Hong. Thian Oe hampiri gurunya, sedang si nona lari terus.
Loei Tjin Tjoe cabut pedangnya dan setindak demi setindak ia mendekati Siauw Tjeng
Hong.
"Kejadian pada tahun itu, sebenarnya sudah terjadi lantaran tidak sengaja. Loei Toako
buat apalah mendendam sampai begitu," kata Tjeng Hong.
Loei Tjin Tjoe keluarkan satu suara "htn" dan spier mukanya berkerut, sehingga
macamnya menakuti sekali. "Kalau kau tidak ingin aku menaruh dendam, tidak sukar,"
kata ia dengan suara tawar. "Kau kemari dan kasih aku bacok mukamu dua kali dan
kemudian korek biji matamu."
"Itu toh bukan dilakukan olehku," sahut Tjeng Hong. "Aku cuma secara tidak disengaja
sudah membantu Tjia In Tjin."
Matanya Loei Tjin Tjoe yang tinggal satu mendelik. Ia jadi semakin gusar ketika Tjeng
Hong sebutkan namanya Tjia In Tjin. Ia dahulu adalah seorang lelaki yang berparas cakap
sekali dan sekarang jadi tidak keruan macam. Sedang Tjia In Tjin tidak dapat dicari,
semua amarahnya jadi tumplek ke atas kepalanya Tjeng Hong.
Sesudah datang dekat, ia menuding sembari berkata: "Sahabat, kepandaianmu tidak
mundur, sedang akupun sudah berlatih beberapa macam ilmu. Belasan tahun berselang
kita pernah bertanding dan sekarang aku kembali mau persembahkan kebodohanku."
Pedang lantas berkelebat dan ia kirim satu serangan membinasakan.
"Loei Toako kau mendesak siauwtee (adik) sampai di satu pojokan," kata Tjeng Hong
sembari meringis.
Loei Tjin Tjoe kirim tiga serangan beruntun yang semuanya dapat dikelit oleh Tjeng Hong.
Bacokan Loei Tjin Tjoe yang satu lebih cepat dari yang lain dan serangan ke empat, dalam
gerakan Pekhong koandjit (Bianglala tembuskan matahari), menikam jalanan darah
Tongboen hiat pada dadanya Siauw Tjeng Hong. Serangan itu hebat luar biasa dan
kelihatannya Tjeng Hong tidak akan dapat singkirkan dirinya lagi. Mendadak ia putar
badan sembari mengebut dan ribuan benang halus lantas gulung pedangnya Loei Tjin
Tjoe.
Oleh karena kuatirkan pembalasan, belasan tahun lamanya Tjeng Hong pikirkan cara buat
jatuhkan musuh. Ilmu silatnya Loei Tjin Tjoe banyak lebih tinggi, sehingga kemungkinan
satusatunya adalah melawan dengan tipu. Dengan terus kelit tiga serangan, ia sengaja
perlihatkan rasa ketakutan, dan ketika musuh menikam habis dengan pedangnya, barulah
ia menggulung dengan kebutannya. Harus diketahui, bahwa kebutannya Siauw Tjeng
Hong adalah mustika dalam Rimba Persilatan. Hudtim itu rupanya mirip dengan buntut
kuda, tapi sebenarnya terbuat dari benang-benang emas hitam yang luar biasa uletnya
dan tak dapat diputuskan dengan senjata tajam. Melihat ilmu pukulannya yang sudah
dilatih belasan tahun, mendapat hasil, hatinya Tjeng Hong jadi girang sekali.

Loei Tjin Tjoe tertawa dingin dan lantas kerahkan tenaganya sembari betot pedangnya. Di
lain saat, ribuan benang halus pada berterbangan di tengah udara!
Tjeng Hong mencelos hatinya. Ia tak duga, tenaga dalamnya begitu tinggi. Sementara itu
musuh kembali sudah menyerang tiga kali beruntun dan ia tidak dapat berbuat lain
daripada putar hudtim-nya buat menjaga diri, tanpa mampu balas menyerang lagi.
Semakin lama Loei Tjin Tjoe menyerang semakin cepat. Tjeng Hong terus mundur dan
dari kepalanya keluar uap putih, yang menandakan ia sudah kerahkan setaker tenaga
yang berada dalam dirinya. Sesudah lewat kurang lebih tiga puluh jurus, Loei Tjin Tjoe
mendadak meniup dengan mulutnya, sedang pedangnya berbareng membabat. Saat itu
juga, sebagian hudtim-nya Tjeng Hong terbabat putus dan benang-benangnya
berterbangan bagaikan rumput. Jika benangbenang hudtim-nya Tjeng Hong berkumpul
jadi satu, senjata yang paling tajam tak akan dapat memutuskannya. Akan tetapi,
sesudah kena ditiup buyar oleh Loei Tjin Tjoe yang berbareng kerahkan tenaga dalamnya
ke badan pedang, hudtim itu jadi seperti sesapu yang terbuka ikatannya dan tak sukar
buat dibabat putus.
Bukan main sakit hatinya Tjeng Hong yang tidak berani berkelahi lagi. "Baiklah, aku
terima nasib!" kata ia dengan suara sedih.
Loei Tjin Tjoe keluarkan tertawa nyaring. Ia maju dua tindak dan matanya mengawasi
musuhnya. "Baiklah," kata ia sembari kebas pedangnya. "Aku akan kirim dua sabetan
tapak jalak ke mukamu seperti contoh mukaku sendiri. Tjoei Hiantee, mari sini!
Saksikanlah bagaimana aku turunkan tangan!"
Satu perasaan dingin bagaikan es dirasakan oleh Tjeng Hong. Ia meramkan kedua
matanya, tak berani ia lihat pedangnya musuh yang mengkilap.
Tiba-tiba saja ia dengar suara "tring" dan Loei Tjin Tjoe kedengaran membentak: "Bocah
dari mana berani membokong aku!"
Tjeng Hong buka kedua matanya dan lihat ujung pedangnya musuh miring dan tergetar
tak hentinya, dengan keluarkan sedikit suara mengaung. Teranglah bagi Siauw Tjeng
Hong, bahwa pedangnya Loei Tjin Tjoe kena terpukul miring dengan semacam senjata
rahasia. Heran benar hatinya. Siapakah yang mempunyai tenaga dalam sedemikian tinggi
sehingga dapat pukul miring senjatanya Loei Tjin Tjoe?
Baru saja Loei Tjin Tjoe habis membentak, satu suara menyahut: "Apa matamu buta?
Tuanmu berada disini." Loei Tjin Tjoe menengok dan lihat satu orang berdiri di sebelah
kanannya.
Orang itu adalah satu pengemis yang mukanya seperti pantat kuali, rambutnya awutawutan,
hidungnya dongak ke atas, sedang bajunya penuh tambalan. Tjeng Hong kaget berbareng
girang. "Thiekoay sian datang, tak tahu apa ia kawan atau lawan," kata ia dalam hatinya.
Tapi ia, yang sudah tinggal tunggu kebinasaannya, tidak jadi lebih keder hatinya. Taruh
kata si pengemis datang sebagai musuh, buntutnya toh sama saja. Adalah Loei Tjin Tjoe
yang merasa kaget dan bersangsi.
Dengan terpincang-pincang si pengemis menghampiri.
Biarpun tahu orang genggam niatan kurang baik, tapi dengan andalkan kepandaiannya
yang tinggi, Loei Tjin Tjoe tidak jadi keder.

"Siauw Tjeng Hong, boleh juga kau!" kata ia sembari tertawa dingin. "Tak kukira, kau
sudah sediakan sahabatmu." Ia lirik Tjoei In Tjoe, supaya kawannya bersiap untuk
bertempur.
"Ha, ha!" tertawa si pengemis. "Hari ini aku bukan mau bantu orang berkelahi, tapi mau
menerima gebukan. Eh, bukankah kau niat kirim dua bacokan pada mukanya?"
"Apa?" kata Loei Tjin Tjoe. "Apa kau tidak tega dan mau gulung tangan baju?"
Si pengemis lagi-lagi tertawa.
"Aku pengemis miskin mana punya begitu banyak sahabat?" kata ia. "Cuma saja, aku lihat
ini Siauw sinshe mempunyai paras muka yang begitu halus, dan seperti juga kau, dahulu
tentunya cakap sekali. Kalau mukanya dibacok, bukankah sayang sekali? Ha! Aku adalah
seorang yang sangat tahu diri. Aku tahu romanku jelek dan tak pernah ngimpi akan
dicintai oleh wanita cantik. Maka itu, andaikata di atas mukaku tambah dua tapak golok,
muka yang sudah jelek tidak akan bertambah banyak lebih jelek. Ha! Biarlah aku talangi
dua bacokan itu, hayolah gunakan pedangmu! Eh, Siauw sinshe! Mau apa kau awasi aku?
Apa kau tak suka hati pernah digebuk olehku? Kalau tak suka hati, kau boleh lantas turun
tangan!"
Siauw Tjeng Hong turunkan hudtim-nya. "Tak berani," kata ia sembari mundur.
Mendengar sepatah-sepatah perkataannya si pengemis mengandung ejekan, Loei Tjin
Tjoe lantas saja menjadi gusar.
"Baiklah! Kalau kau sendiri yang minta, lihatlah pedangku!" ia membentak, sembari
menyabet dengan pedangnya yang menyambar bagaikan kilat. Si pengemis angkat
tongkatnya dan dengan suara "trang", lelatu api muncrat berhamburan, sedang badannya
Loei Tjin Tjoe melesat ke udara. Selagi badannya masih berada di tengah udara, dengan
satu gerakan Pengpok kioesiauw (Garuda terbang ke sembilan lapis langit), pedangnya
menikam ke bawah.
"Bagus!" berteriak si pengemis yang lantas papaki dengan tongkatnya yang menotok ke
pusarnya musuh. Buat tolong dirinya, Loei Tjin Tjoe poksay (jungkir balik) turun dan
pedangnya menyambar ke pundaknya si pengemis. Sembari merengketkan sedikit
pundaknya, si pengemis menyampok dengan tongkat, sehingga pedang dan tongkat
kebentrok sedikit. Semua pukulan itu adalah pukulan yang membinasakan dan sudah
terjadi dalam tempo yang sangat cepat, sehingga Siauw Tjeng Hong merasa sangat
kagum dalam hatinya.
Sesudah lewat beberapa gebrakan lagi, Loei Tjin Tjoe mendadak berseru dengan suara
kaget: "Apakah kau Thiekoay sian?"
"Apa?" kata si pengemis. "Kalau kau tidak berani bacok mukaku, akulah yang akan gebuk
bebokongmu tiga kali buat ajar adat!"
Loei Tjin Tjoe gusar sangat. "Biarpun kau Thiekoay sian, aku tak takut!" ia membentak
sembari menikam. Si pengemis loncat sembari menyapu dengan tongkatnya dan mereka
kembali bertempur dengan sengit sekali, sehingga Siauw Tjeng Hong yang menyaksikan
merasa matanya berkunang-kunang. Pedang dan tongkat berkelebat-kelebat dan siapa
yang meleng sedikit saja, jiwanya tentu akan segera melayang.
Siauw Tjeng Hong cekal keras hudtim-nya, sedang Tjoei In Tjoe pegang gendewanya.
Mata mereka mengawasi jalannya pertempuran sambil siap sedia.

Sesudah lewat kurang lebih setengah jam, di atas kepalanya Loei Tjin Tjoe keluar uap
putih, sedang gerakan tongkatnya si pengemis jadi semakin perlahan. Siauw Tjeng Hong
keluarkan napas lega dan berkata dalam hatinya: "Untung juga Thiekoay sian masih lebih
unggul setingkat." Walaupun gerakannya terlebih lambat, pukulannya si pengemis
malahan jadi semakin berat. Pedangnya Loei Tjin Tjoe sekarang sudah kena didesak
dengan sang tongkat.
Berbeda dengan gurunya, Tan Thian Oe tidak pusatkan perhatian kepada gelanggang
pertempuran. Badannya berada disitu, tapi hatinya terus memikiri gadis Tsang itu, yang
sekarang sudah tidak kelihatan lagi bayang-bayangannya.
Permukaan Tengri Nor, atau Thian-ouw, luar biasa luasnya.
Thian Oe lihat, di pojokan utara barat dari telaga tersebut, terdapat satu sungai es yang
kelihatannya seperti satu Thianho (Milky way), yang terbentang nyungsang. Sungai es itu
dari puncak gunung mengalir ke bawah, laksana satu air tumpah. Bisa jadi lantaran
adanya hawa yang lebih hangat, berbeda dari yang lain, sebagian es di sungai tersebut
pada lumer. Di lapisan sebelah bawah, esnya keras seperti bukit-bukit, tapi di lapisan
atas, es itu lumer menjadi kepingan-kepingan besar dan kecil, yang dengan suara ribut
mengalir ke sebelah bawah dan terus masuk kedalam telaga. Itulah sebabnya, kenapa di
tengah telaga terdapat banyak kepingankepingan es yang pada ngambang.
Thian Oe dongak mengawasi ke atas. Di bagian atas dari sungai es, yaitu yang
berdekatan dengan puncak gunung, lapat-lapat seperti juga berdiri sebuah keraton, atau
sedikitnya satu gedung yang sangat besar. Cuma saja lantaran jaraknya terlalu jauh,
Thian Oe tak dapat melihat tegas dan tak dapat menentukan, apakah yang kelihatan itu
ada gedung-gedung atau cuma batubatu belaka.
Mendadak kupingnya dengar suara tindakan dan suara orang bicara. Di tempat, dari
mana gadis Tsang itu keluar, muncul sererotan orang yang sedang mendaki gunung. Yang
paling depan adalah tiga orang yang jalan berbaris. Dua orang yang di kiri dan kanan
adalah mereka yang tadi ditimpuk jatuh oleh gurunya, sedang orang yang berjalan di
tengah adalah satu Lhama yang memakai jubah panjang warna merah. Setiba di pinggir
telaga, mereka awasi pertempuran antara si pengemis dan Loei Tjin Tjoe, dan kemudian,
tanpa mengeluarkan sepatah kata, mereka lantas jalan menuju ke arah sungai es.
Di belakangnya tiga orang itu, terdapat dua boesoe Nepal yang Thian Oe pernah ketemu
dalam rumah penginapan di Shigatse. Tangannya kedua boesoe memegang hio Tibet,
sikapnya menghormat sekali dan tanpa menengok, mereka terus menuju ke arah sungai
es, dengan mulut kemak-kemik, seperti juga orang yang sedang berdoa.
Di belakangnya kedua boesoe terdapat lima atau enam orang. Antara mereka, ada
pemuda cakap, ada orang kasar, ada pendeta dan sebagainya.
Waktu tiba disitu, mereka kelihatannya ketarik dengan pertempuran antara si pengemis
dan Loei Tjin Tjoe. Mereka berhenti sebentar. Ada yang rundingkan jalannya pertempuran,
sembari menunjuk-nunjuk, ada juga yang cuma omong-omong antara kawannya.
"Dua manusia ini benar tak tahu diri," demikian Thian Oe dengar seorang berkata. "Kodok
buduk mau makan daging angsa langit! Mereka kelihatannya sudah mendahului kita."
Belum sempat orang itu tutup mulutnya, dengan tongkatnya Thiekoay sian sontek
sepotong batu yang lantas menyambar ke arah orang yang barusan bicara. "Bagus!"
berseru orang itu sembari menyampok dengan dua tangannya dan batu itu terpental
jatuh ke jurang.

Disontek oleh Thiekoay sian yang mempunyai tenaga dalam sedemikian tinggi, batu itu
mempunyai tenaga ratusan kati dan menyambar luar biasa cepatnya. Bahwa orang itu
dapat menyampok dengan gampang saja, merupakan bukti bahwa ilmu silatnya tidaklah
lemah. Siauw Tjeng Hong sungguh tak mengerti, kenapa di tempat itu muncul begitu
banyak orang pandai dengan berbareng.
Sesudah lihat tindakannya Thiekoay sian, orang-orang itu tidak banyak bicara dan lalu
menuju ke arah sungai es. Thian Oe dengar, sembari jalan mereka itu beromong-omong.
"Bagaimana sih macamnya Pengtjoan Thianlie?" kata seorang.
"Namanya begitu bagus, orangnya tentu juga cantik," sahut seorang lain.
"Ah, kalau jelek, aku serahkan saja pada kau," kata seorang lagi.
"Jangan terburu napsu. Pengtjoan Thianlie kita belum pernah lihat. Tapi nona Chena sudah
cantik luar biasa," kata yang lain. Demikianlah mereka bicara sembari tertawa-tawa,
sampai suaranya tidak kedengaran lagi.
Thian Oe kaget sekali, "Ah kalau begitu mereka maui Pengtjoan Thianlie dan niat rampas
juga nona Tsang itu," kata ia dalam hatinya.
Terhadap Pengtjoan Thianlie, Thian Oe cuma sangat kepengen tahu. Akan tetapi terhadap
Chena, ia mempunyai serupa perasaan yang sukar dilukiskan. Ia lirik gurunya yang
ternyata sedang pusatkan seluruh perhatiannya kepada pertempuran.
Siapa yang bakal menang dan siapa yang bakal kalah, sekarang sudah kelihatan nyata.
Thiekoay sian jadi semakin gagah, tongkatnya menyambar-nyambar seperti ular dan
naga, sesuatu sabetan mengeluarkan kesiuran angin yang menderu-deru, sehingga di
empat penjuru seperti juga penuh dengan bayangan Thiekoay sian dan tongkat itu
berubah menjadi puluhan batang. Loei Tjin Tjoe sudah terkurung dalam sinar tongkat dan
lingkaran sabetan pedangnya semakin lama jadi semakin ciut. Cuma saja, lantaran ilmu
pedangnya memang sudah sampai pada puncak yang tinggi, maka biarpun keteter,
tongkatnya Thiekoay sian masih belum dapat tembuskan sinar pedangnya.
Thian Oe tak mempunyai kegembiraan buat menyaksikan jalannya pertempuran. Matanya
ditujukan ke arah tempat sungai es masuk ke dalam telaga. Mendadak, kupingnya
mendengar suara luar biasa, sedang matanya dapat lihat bahwa di aliran atas sungai es
itu, terdapat satu titik hitam yang turut mengalir *ke bawah. Dengan perlahan titik hitam
itu menjadi besar dan ternyata adalah sebuah perahu kecil yang di dalamnya berduduk
tiga orang.
Mukanya ketiga orang itu belum kelihatan nyata, akan tetapi, kecuali dua boesoe Nepal
yang masih berlutut, lain-lain orang keluarkan teriakan girang, sedang semua mata
ditujukan kepada sungai es.
"Apa yang datang Pengtjoan Thianlie?" tanya Thian Oe dalam hatinya.
Sebagaimana diketahui, aliran air sungai es, yang dari puncak gunung turun ke bawah,
deras luar biasa. Di lapisan atas terdapat banyak kepingan-kepingan es, sedang di lapisan
bawah sembunyi bukit-bukit es. Jika kebentur dengan kepingan es, apalagi bukit es,
jangan kata perahu kecil, perahu besar pun akan segera menjadi hancur. Tapi heran
sungguh, perahu kecil itu seperti juga sedang laju di atas sungai biasa yang tenang
airnya. Begitu lekas sang perahu mendekati, kepingan-kepingan es itu lantas minggir
sendirinya, seperti juga didorong dengan satu tenaga yang tidak kelihatan!

Biarpun tidak tahu cara bagaimana, Thian Oe mengerti, bahwa hal itu sudah terjadi
lantaran di dalam perahu terdapat orang yang kepandaiannya tidak dapat diukur
bagaimana tingginya.
Tak lama kemudian, perahu itu sudah datang dekat. Dalam perahu kecil terdapat tiga
wanita. Di sebelah kiri adalah Chena yang mukanya sekarang tersungging dengan
senyuman girang. Di sebelah kanan berdiri seorang wanita, yang dalam usia
pertengahan, romannya masih cantik sekali. Yang paling luar biasa adalah wanita yang di
sama tengah. Rambutnya awut-awutan dan berdiri seperti jarum, mukanya putih meletak
seperti juga bukan muka manusia, kedua tangannya dirangkap di dada dan sepuluh
jerijinya seperti juga cakar ayam, dan dengan mata yang mengawasi ke depan, rupanya
wanita itu sungguh seperti satu mayat yang baru keluar dari kuburan. Orang-orang yang
melihat semua keluarkan teriakan tertahan, bahna kagetnya. Tiga orang yang hatinya
lebih kecil lantas saja balik badannya dan turun gunung.
"Apa Pengtjoan Thianlie berada di perahu itu?" tanya Thian Oe dalam hatinya. "Kalau ia
ada disitu, jika bukan si wanita usia pertengahan, tentulah juga wanita yang seperti
mayat."
Mendadak, gurunya keluarkan satu seruan kaget. Thian Oe menengok dan lihat muka
gurunya pucat bagaikan mayat, kaki tangannya gemetar, seperti orang yang sakit keras.
"Ah, sungguh tak dinyana, aku bisa bertemu ia di tempat ini!" demikian gurunya berkata
seorang diri.
"Soehoe, siapa yang kau maksudkan?" tanya Thian Oe.
"Gobie Lihiap Tjia In Tjin!" sahut sang guru.
"Apa wanita yang di tengah?" tanya lagi sang murid.
"Bukan, yang sebelah kanan," sahut Siauw Tjeng Hong. "Mukanya masih sama saja
seperti pada belasan tahun berselang."
Thian Oe terkejut. "Apakah wanita yang di tengah Pengtjoan Thianlie adanya?" tanya ia
dalam hatinya.
Perahu itu sekarang sudah terpisah cuma belasan tombak saja dan sudah hampir masuk
ke dalam telaga. Lhama yang memakai jubah merah mendadak membentak:
"Yang mana Pengtjoan Thianlie?" Sehabis membentak begitu, badannya melesat ke arah
sungai es, kedua kakinya menotol kepingan es yang ngambang dan dengan kecepatan
kilat memburu ke arah perahu. Begitu berhadapan, ia angkat tangannya yang seperti
kipas, yang menyambar ke arah Tjia In Tjin. Rupanya si Lhama menduga, bahwa Tjia In
Tjin adalah Pengtjoan Thianlie. Dengan pukulan Lengshan tjiang (Pukulan gunung
Lengshan), tangannya si Lhama menyambar, sehingga Siauw Tjeng Hong keluarkan satu
teriakan kaget.
Tjia In Tjin tertawa tawar, tapi sebelum ia dapat bergerak, wanita yang di tengah sudah
pentil sekeping es ke arah uluhatinya Lhama itu. Dengan satu teriakan menyayatkan hati,
ia terguling dan badannya tersapu air yang mengalir ke bawah deras luar biasa. Mungkin
sekali badannya kebentur bukit es, sebab warna air lantas berobah merah!
Bukan main terkejutnya Siauw Tjeng Hong. Harus diketahui, bahwa orang yang belajarkan
ilmu pukulan Lengshan tjiang, tentu mesti mempunyai juga ilmu Kimtjiongto dan
Tiatposan (dua macam ilmu weduk), dan badannya dapat melawan tekanan ribuan kati.
Ditimpuk dengan senjata rahasia, paling banyak kulitnya merasa sedikit gatal-gatal. Tapi,
siapa nyana, dengan kepingan es yang begitu kecil, ia roboh dan melayang jiwanya!

Orang-orang yang berkumpul di pinggir telaga, dapat dibagi menjadi tiga rombongan.
Satu rombongan adalah itu kedua boesoe Nepal yang masih terus berlutut sembari
tundukkan kepalanya. Lain rombongan adalah si Lhama yang sudah binasa dan dua orang
Tibet yang ubarubar Chena. Mereka itu adalah orang-orangnya Touwsoe di Sakya yang
diperintah buat bekuk gadis tersebut. Rombongan ketiga yaitu orang-orang, yang lantaran
dengar nama wanginya Pengtjoan Thianlie sudah datang buat coba-coba meminang
dengan niatan merampas juga Chena yang cantik. Melihat liehaynya wanita dalam perahu
itu, orang-orang rombongan kedua dan ketiga jadi ketakutan bukan main. Ada yang
ketakutan sampai kaki tangannya lemas, ada yang lantas balik badannya buat kabur dan
ada juga, yang lebih besar nyalinya, ingin menjajal-jajal dengan jalan mengerubuti.
Sementara itu, jerijinya Chena kelihatan menuding dua kali. "Yang mau menangkap aku
adalah dua orang itu," kata ia. Wanita yang mukanya seperti mayat, lantas pungut
kepingan es yang dipentil dengan jerijinya. Dua orang Tibet itu, yang baru tiga kali
melangkah dalam percobaan kabur, kena kesambar jitu dan lantas terguling sembari
muntahkan darah hidup!
"Orang-orang itu semuanya bukan orang baik-baik," berkata Tjia In Tjin. Wanita itu
kembali ayun tangan kanan dan tangan kirinya dan kepingan-kepingan es menyambar
bagaikan kilat. Dalam tempo sekejapan, kecuali kedua boesoe Nepal, semua orang sudah
kena dihantam kepingan es. Dua antaranya yang mempunyai kepandaian lebih tinggi,
masih dapat kabur dengan menderita luka berat. Yang lainnya semua roboh binasa!
Kejadian itu ada begitu mengejutkan, sehingga bukan saja Siauw Tjeng Hong dan Tan
Thian Oe mengawasi dengan mulut ternganga, tapi Thiekoay sian dan Loei Tjin Tjoe pun
jadi lebih lambat serang menyerangnya.
Ketiga wanita itu lantas mendarat dan naik dari gili-gili dengan tindakan perlahan. Saat
itu, kedua matanya Siauw Tjeng Hong kebentrok dengan matanya Tjia In Tjin, yang
mengawasi dengan paras muka seperti tertawa, tapi bukannya tertawa. Pada saat itu,
perasaan mencinta dan membenci mengaduk jadi satu. Hatinya Tjeng Hong niat
memanggil, tapi mulutnya seperti terkancing. Tjia In Tjin cuma manggut-manggutkan
sedikit kepalanya dan bersama dua kawannya terus menghampiri gelanggang
pertempuran.
Semakin dekat, mukanya wanita itu jadi semakin hebat. In Tjin berkata sembari tertawa:
"Hei kawan hidup! Pengtjoan Thianlie sudah datang. Apa kau enak hati masih terus
hinakan anak cucunya? Lekas simpan tongkat pemukul anjing itu!"
Mendengar perkataan itu, hatinya Tjeng Hong mencelos. Ia sama sekali tidak mengimpi,
bahwa wanita yang begitu cantik seperti Tjia In Tjin sudah mau menjadi isterinya
Thiekoay sian yang begitu jelek rupanya. Thian Oe juga tidak kurang kagetnya. Sekarang
dapat dipastikan, bahwa Pengtjoan Thianlie adalah itu wanita yang mukanya seperti
mayat.
Mendadak gadis Tsang itu berkata sembari tertawa: "Thianlie tjietjie, anak muda itu
adalah orang baik. Tjietjie, jangan bikin takut padanya."
Tiba-tiba Pengtjoan Thianlie usap kepalanya dan rambutnya yang seperti rumput jatuh ke
bawah. Rambut itu adalah rambut palsu. Ia buka jubah luarnya dan usap kedua
tangannya. Sekarang kelihatan, bahwa jeriji-jeriji yang seperti cakar ayam adalah jeriji
palsu dari sarung tangan. Paling belakang ia usap mukanya dan locoti satu kedok. Pada
saat itu, Tan Thian Oe jadi kesima!
Disitu ia berdiri, cantik dan agung laksana satu dewi atau bidadari. Badannya yang
langsing ditutup dengan baju warna biru telaga, mukanya bundar laksana rembulan

tanggal lima belas, kedua alisnya panjang dan lentik, biji matanya yang bersinar terang
berwarna agak kebiru-biruan, mulutnya kecil seperti buah engtoh yang masak, yang
agaknya selalu tersungging senyuman, rambutnya yang hitam jengat dikepang jadi dua
cacing yang pada ujungnya diikat dengan sutera merah, kulitnya halus ibarat batu kemala
yang bersinar terang lantaran kena sorotnya salju dan sebagai pelengkap dari itu semua,
gerakannya ayu dan halus! Tan Thian Oe sering bayangkan kecantikannya Pengtjoan
Thianlie, tapi apa yang sekarang ia saksikan adalah melebihi dari segala lamunannya.
Pengtjoan Thianlie menyapu dengan matanya dan berkata: "Tolong berhenti bertempur!"
suaranya halus, tapi sangat berpengaruh.
Thiekoay sian tarik pulang tongkatnya dan loncat berdiri di dampingnya Tjia In Tjin. Loei
Tjin Tjoe juga lintangkan pedangnya di depan dada dengan paras muka yang heran sekali.
Pengtjoan Thianlie kerutkan alisnya dan berkata: "Loei Tjin Tjoe, lepaskan pedangmu.
Berlutut tiga kali di hadapan Siauw sinshe dan lantas turun gunung!" Ia ucapkan
perkataannya dengan lagu suara seperti seorang tingkatan lebih tua kepada orang dari
tingkatan lebih muda.
Loei Tjin Tjoe terkesiap. Lantaran terlalu gusar, ia jadi tertawa besar. "Siapa kau?" ia
tanya. "Dengan andalkan apakah, kau berani perintah aku berlutut di hadapannya?"
Loei Tjin Tjoe adalah jago terutama dari tingkatan kedua partai Boetong pay. Di
sebelahnya itu, usianya sudah empat puluh tahun lebih, sedang Pengtjoan Thianlie baru
kirarkira berusia dua puluh tahun. Juga harus diingat, bahwa sudah banyak tahun ia
mendapat nama besar di kalangan Kangouw, sehingga adatnya jadi sombong sekali. Maka
itulah dapat dimengerti, perutnya seperti mau meledak waktu dengar perkataannya nona
yang cantik itu. . "Apa bunyinya larangan kedua belas dari Boetong pay?" tanya Pengtjoan
Thianlie. Bunyinya larangan ke 12 adalah: "Harus dapat membedakan yang mana benar,
yang mana salah. Dalam segala urusan, harus tanya diri sendiri, apakah ada berbuat
kesalahan atau tidak. Dilarang, dengan andalkan kekuatan, menghina orang." Loei Tjin
Tjoe terkejut. Ia merasa heran, kenapa wanita itu yang tinggal di atas Puncak Es, bisa
mengetahui larangan-larangan dari partainya.
"Urusanmu aku sudah tahu semuanya," berkata lagi Pengtjoan Thianlie. "Asal mulanya
adalah salahmu sendiri. Tapi lantaran ingat walaupun hatimu kurang baik, tapi kau
bukannya melakukan kedosaan besar, dan juga sebab dalam urusan itu terselip
tangannya orang jahat, maka aku ampuni kau dari hukuman mati. Hayo lekas haturkan
maaf kepada Siauw sinshe!"
Matanya Loei Tjin Tjoe yang tinggal satu, mendelik. "Biarpun andaikata kau ini adalah
tjianpwee dari Boetong pay, kau masih tidak dapat campur urusanku," kata ia dengan
suara keras. "Perlu apa aku ladeni omongan segala perempuan yang masih ada
pupuknya!"
Paras mukanya Pengtjoan Thianlie berubah. "Murid siapa kau? Berani buka suara begitu
besar!" kata ia.
Loei Tjin Tjoe lintangkan pedangnya sembari mengawasi dengan sorot mata gusar dan
tidak sahuti pertanyaannya Pengtjoan Thianlie. Lantaran begitu, Thiekoay sian lantas
talangi: "Dia adalah muridnya tjiangboen (pemimpin) Boetong pay, Hian In Toodjin." Hian
In adalah soetit-nya (keponakan murid) Moh Tjoan Seng. Biarpun memegang tampuk
pimpinan, tapi lantaran suka sekali berkelana, ia jadi tidak banyak mengurus urusan
partai, dan dari sebab begitu, semakin lama Loei Tjin Tjoe jadi semakin besar kepala.
"Apa yah?" kata Pengtjoan Thianlie sembari tertawa. "Aku dengar peraturan Boetong pay
dijaga dengan keras sekali, sedang perbedaan antara tingkatan tua dan muda sangat

diindahkan. Apakah sekarang keadaan sudah berobah? Kalau begitu, orang-orang tua dari
partaimu sudah tak dapat mengurus kau, akulah yang mau talangi mereka mengurus
kau!"
Loei Tjin Tjoe tidak dapat menahan sabar lagi. Ia -kebas pedangnya dan loncat maju.
"Baiklah! Cobalah! Aku Loei Tjin Tjoe bersedia buat terima pengajaranmu!" ia berteriak.
"Oh, kalau begitu kau mau adu pedang denganku?" tanya Pengtjoan Thianlie sembari
tertawa. Ketika itu kedua tangannya kosong, sedang ia pun tidak membawa senjata.
Selagi Tjia In Tjin mau serahkan pedangnya, Pengtjoan Thianlie berkata: "Tak usah!" Ia
lantas jalan menuju ke pinggir telaga dan jumput sepotong es, yang berbentuk toya.
Dengan menabas beberapa kali sama tangannya, potongan es jadi merupakan sebatang
pedang.
Sembari mesem Thianlie sabetkan pedang es itu. "Loei Tjin Tjoe," kata ia. "Jika kau dapat
melayani aku dalam sepuluh jurus, aku akan biarkan kau berbuat sesuka hati terhadap
Siauw sinshe." Waktu itu adalah kira-kira tengah hari dan sang matahari pancarkan
sinarnya yang hangat dan gilang gemilang. Sedang kepingan-kepingan es yang
ngambang di atas sungai es sudah mulai lumer, apalagi es yang tercekal dalam tangan,
yang menerima hawa hangat dari badan manusia.
Mendengar perkataannya Thianlie, Siauw Tjeng Hong jadi terkejut. "Taruh kata Loei Tjin
Tjoe tak dapat putuskan pedang es itu, dalam tempo cepat es itu toh akan menjadi lumer.
Bukankah dengan demikian Pengtjoan Thianlie bikin jiwaku jadi seperti lelucon?"
Loei Tjin Tjoe lantas saja tertawa besar. "Baiklah," kata ia. "Inilah ada perjanjian yang
dikatakan olehmu sendiri. Dan di pihakku, jika dalam sepuluh jurus aku tak dapat
putuskan pedang es itu, aku akan berlutut di hadapanmu!"
"Kemauanku adalah kau mesti berlutut di hadapan Siauw sinshe," kata Thianlie.
"Sudah, jangan banyak bacot. Aku turut segala perkataanmu. Sambutlah!" Pedangnya
lantas berkelebat dan coba tabas pedang es itu. "Jurus pertama!" Thiekoay sian
menghitung dengan suara keras.
Sabetan pertama cepat bukan main, ditambah dengan tenaga dalam yang sudah dilatih
oleh Loei Tjin Tjoe puluhan tahun lamanya.
Jangan kata es, biarpun senjata logam akan putus kena sabetannya itu. "Bagus!" kata
Thianlie sembari mesem dan pedang es berkelebat meluncur ke arah jalanan darah
Hiankie hiat di bagian dada. Serangan itu dilakukan dari suatu kedudukan (posisi) yang
tak dapat diduga, sedang Hiankie hiat adalah jalanan darah yang kalau ketotol dapat
membinasakan orang. Loei Tjin Tjoe terkesiap. Dengan Seantero kemampuannya ia
membungkuk buat tarik pulang tenaganya yang sudah dikeluarkan, dan dengan
lintangkan pedangnya serta menggunakan banyak tenaga, barulah ia dapat punahkan
serangan yang sangat berbahaya itu. Sembari mesem, Pengtjoan Thianlie tarik pulang
pedang esnya dan gebrakan pertama sudah selesai.
Sesudah bikin rapi lagi kedudukannya, Loei Tjin Tjoe mendadak lakukan tiga serangan
beruntun. Itulah serangan dari ilmu pedang Lianhoan Tokbeng Kiamhoat (Ilmu pedang
berantai membetot jiwa), yang sangat hebat dan sukar dijaga.
"Ilmu pedangmu masih jauh dari sempurna," kata Thianlie sembari tertawa. Badannya
bergerak dan dalam sekejap sudah membalas dengan tiga serangan pula. Setiap
serangan berbeda satu dengan lainnya dan perubahan itu dibikin selagi sang pedang es
tengah menyambar. Sedang serangan Loei Tjin Tjoe dengan mudah dapat dipunahkan,
serangannya Thianlie sudah membikin matanya Tjin Tjoe menjadi kabur, sehingga ia

terpaksa main mundur dan main kelit. Sementara itu, Thiekoay sian sudah menghitung
empat kali.
Loei Tjin Tjoe terkesiap sebab ternyata ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie adalah ilmu
pedang Tatmo Kiamhoat dari Boetong pay! Tatmo Kiamhoat yang tulen telah menjadi
hilang pada jaman Kerajaan Goan, dan baru pada permulaan Kaisar Konghie (Tjeng),
barulah Sin Liong Tjoe dapat cari lagi itu ilmu pedang yang sejati, yang belakangan
diwariskan kepada Koei Tiong Beng. Lantaran begitu, Koei Tiong Beng menjadi leluhur dari
Boetong pay cabang Utara. Tapi oleh karena Tatmo Kiamhoat luar biasa sukarnya dan di
sebelahnya itu, pulangnya lagi ilmu pedang tersebut belum berapa lama, maka selama
beberapa puluh tahun, jumlahnya orang yang benarbenar sudah dapat mewarisi tidaklah
lebih dari beberapa orang saja.
Loei Tjin Tjoe adalah murid dari Boetong pay cabang Selatan. Walaupun ilmu pedang
Boetong Selatan dan Boetong Utara belakangan berendeng bersama-sama, akan tetapi,
pengetahuan orang-orang cabang Selatan terhadap Tatmo Kiamhoat ada lebih rendah
daripada orang-orang cabang Utara. Loei Tjin Tjoe sendiri tentu saja pernah belajarkan
Tatmo Kiamhoat, tapi belum sampai pada puncak yang tinggi. Ketika lihat ilmu pedangnya
Pengtjoan Thianlie malahan lebih tinggi dari gurunya sendiri, dapat dimengerti kalau Loei
Tjin Tjoe jadi kaget bukan main.
"Apakah tidak bisa jadi, perempuan ini benar-benar orang tingkatan atas dari -Boetong
pay?" tanya ia dalam hatinya. Mendadakan saja, ia ingat satu hal dan hatinya jadi lebih
bingung lagi. Tapi, selagi ia mau buka mulut buat menanya, ia lihat Thiekoay sian
mengawasi padanya dengan meseman mengejek, sehingga hatinya jadi panas sekali.
"Baiklah! Biar aku buang-buangan jiwaku sekali ini," demikian ia kata dalam hatinya.
Ketika itu Thianlie berdiri dengan sikap tenang, ujung pedangnya menuding dirinya, tapi
tidak mau bergerak lebih dahulu. Inilah ada sikapnya orang dari tingkatan lebih tua jika
menghadapi orang tingkatan muda.
Dengan adanya kelambatan begitu, pedang es yang dicekal oleh
Thianlie sudah lumer sebagian dan air es tak hentinya mengetel-ngetel. Pedang es itu
sudah jadi lebih tipis dan lebih kecil. Tiba-tiba saja Loei Tjin Tjoe ingat suatu cara yang
sangat beracun.
"Baiklah!" kata ia dalam hatinya. "Bagus sekali jika kau tidak mau menyerang. Aku pun
tidak mau buka serangan. Asal pedang esmu lumer, tanpa bertempur aku sudah dapat
kemenangan!" Sebelum bertempur, mereka sudah janji bahwa pertempuran dilakukan
dengan menggunakan pedang. Maka itu, jika pedang esnya Thianlie lumer sampai habis
dan belum bisa dapat kemenangan, Loei Tjin Tjoe tidak bisa disalahkan menarik
keuntungan dengan akal bulus.
"Hei! Loei Tjin Tjoe. Kau kenapa?" tanya Thiekoay sian dengan paras muka gusar. Yang
ditanya tidak meladeni. Ia cekal pedangnya dan mengawasi Thianlie dengan mata tajam.
Tapi Pengtjoan Thianlie tidak menjadi gusar. Sebaliknya, ia kembali mesem. "Dengan
adanya niatanmu yang kurang baik, baiklah aku wakilkan Hian In Tootiang memberi
pelajaran kepadamu," kata ia. Sehabis berkata begitu, kedua jerijinya mementil dan air es
menyambar ke arah Tjin Tjoe. Mendadakan saja ia rasakan kedua matanya kabur,
beberapa ketel air es mengenakan tepat pada mukanya dan sakitnya menembus ke
tulang-tulang. Dalam keadaan yang kabur itu, Pengtjoan Thianliee mendadak kirim satu
serangan aneh.
Sebagaimana biasanya orang yang pandai silat, reaksi badan dan tangannya semua
terjadi tanpa merasa. Begitu ada gerakan musuh, gerakan membela diri muncul secara

otomatis. Demikianlah, begitu lihat Thianlie bergerak, tangannya Loei Tjin Tjoe yang
mencekal pedang juga lantas bergerak buat mendahului menyerang.
Tapi baru saja pedangnya menyambar sampai di tengah jalan, ia ingat bahwa dengan
berbuat begitu, ia jadi masuk dalam perangkap. Ia niat tarik pulang pedangnya, tapi
sudah tidak keburu. Hampir pada detik yang bersamaan, ia rasakan tenggorokannya
dingin. Pedang esnya Pengtjoan Thianlie ternyata sudah menempel pada tenggorokannya!
Tenggorokan adalah bagian tubuh manusia yang lemah dan jika Thianlie sedikit saja
menggunakan tenaganya, jiwanya Loei Tjin Tjoe akan segera melayang!
Thianlie tertawa sembari berkata: "Sebenarnya aku mau lihat kepandaianmu dalam
sepuluh jurus, buat mendapat tahu sampai bagaimana jauh majunya pelajaranmu. Tapi
lantaran hatimu kurang bersih, aku kurangkan separuh dan cuma jajal kau dalam lima
jurus? Apa di hari kemudian kau masih berani kurang ajar terhadap orang yang lebih
tinggi tingkatannya? Apa kau masih berani hinakan orang dengan andalkan
kegagahanmu?"
"Kau, apakah kau puterinya Koei Soesioktjouw?" tanya Loei Tjin Tjoe dengan suara
gemetar.
"Kau menebak jitu," sahut Thianlie. "Koei Soesioktjouw" yang disebutkan oleh Loei Tjin
Tjoe adalah Koei Hoa Seng. Di antara tiga saudara dalam keluarga Koei, Koei Hoa Seng
yang paling muda usianya, tapi yang paling tinggi kepandaiannya dalam ilmu pedang.
Loei Tjin Tjoe pernah dengar penuturannya orang tua-tua, bahwa Koei Hoa Seng telah
meninggalkan daerah Tionggoan dengan hati penuh kegusaran. Dan sungguh tidak
terduga, puterinya Koei Hoa Seng bisa berada di Thian-ouw.
Loei Tjin Tjoe keluarkan helahan napas dan lemparkan pedangnya.
Sesudah itu, ia hampiri Pengtjoan Thianlie dan berlutut tiga kali. Pedang es sudah lumer
dan cuma ketinggalan satu kepingan kecil saja. Sembari tertawa Thianlie gosok kedua
telapakan tangannya dan es yang ketinggalan lantas lumer menjadi air. Mendadak
mukanya berubah dan membentak: "Kau belum mau jalankan kehormatan kepada Siauw
sinshe?"
Mukanya Loei Tjin Tjoe pucat seperti kertas. Tanpa berkata suatu apa, ia lari menghampiri
Siauw Tjeng Hong dan berlutut tiga kali. Mendadak ia membungkuk, jumput pedang yang
menggeletak di atas tanah dan gorok lehernya sendiri.
Harus diingat, bahwa nasibnya Loei Tjin Tjoe ada buruk sekali. Ia bukan saja gagal dalam
percintaan, tapi malahan juga kena dirusak mukanya oleh wanita yang ia pernah
cintakan. Maka itu, perasaan cinta berobah jadi satu dendaman hebat. Di sebelahnya
membenci Gobie Liehiap Tjia In Tjin, kegusarannya ditujukan terhadap Siauw Tjeng Hong.
Sesudah menaruh dendam belasan tahun, ia sekarang dapat ketemukan musuhnya, tapi
siapa nyana, selagi mau bikin pembalasan, ia bertemu dengan Pengtjoan Thianlie dan
mengalami lagi penghinaan yang begitu besar. Maka tidaklah heran, dalam putus harapan
dan kegusaran, ia jadi nekat dan mengambil putusan pendek.
Siauw Tjeng Hong keluarkan teriakan tertahan. Ia tak keburu menolong, sebab
gerakannya Loei Tjin Tjoe terlalu cepat. Mendadak dengan satu suara "trang" dan
muncratnya kepingan es, pedangnya Loei Tjin Tjoe jatuh di atas tanah. Orang yang
menolong bukan lain daripada Pengtjoan Thianlie yang telah menimpuk dengan sekeping
es.
"Manusia tak punya nyali!" berkata si nona. "Kalau kepandaian kurang, apa tak bisa
dipelajari lagi?"

Mendengar perkataan itu, matanya Loei Tjin Tjoe berkunang-kunang dan dadanya
dirasakan seperti mau meledak. "Benar," kata ia dalam hatinya. "Kalau aku bunuh diri, ia
akan kira aku benar-benar tidak mempunyai nyali."
Sementara itu, Pengtjoan Thianlie berkata pula: "Kalau kau harus mendapat hukuman
mati lantaran dosamu, siang-siang aku sudah jatuhkan hukuman mati. Tidak perlu kau
sendiri yang turun tangan, Segala kejadian pada tahun itu sudah dituturkan oleh Thiekoay
sian suami isteri kepadaku. Dalam urusan itu, hatimu memang mengandung niatan yang
kurang baik, tapi kau sendiri tidak mengetahui, bahwa dalam urusan itu, kau sudah
dipermainkan oleh seorang jahat. Sungguh kau harus dikasihani dan ditertawai dengan
berbareng. Apa kau tahu bagaimana maksud hatinya Ong Lioe Tjoe? Kalau kau ingin tahu,
pada Tiongtjhioe (pertengahan musim rontok, atau Bulan Delapan tanggal 15) tahun ini,
kau boleh pergi ke Chaklun buat mencari tahu."
Loei Tjin Tjoe terperanjat mendengar omongan itu. "Ong Lioe Tjoe sudah binasa, cara
bagaimana orang masih bisa dapat mengetahui isi hatinya," pikir ia. "Cara bagaimana,
dengan pergi ke Chaklun, aku bisa mendapat tahu isi hatinya Ong Lioe Tjoe yang
sekarang sudah tidak ada lagi dalam dunia?" Dengan timbulnya perasaan heran, ia tidak
ingat lagi soal membunuh diri. Sesudah pungut pedangnya, bersama Tjoei In Tjoe, ia
segera turun gunung sembari tundukkan kepala.
Ketika itu Siauw Tjeng Hong seperti juga berada dalam mengimpi. Ia lihat Tjia In Tjin dan
Thiekoay sian bicara dengan suara perlahan sembari tertawa-tawa, dengan tingkah laku
yang hangat sekali. Menyaksikan itu, hatinya seperti diremas-remas. "Suatu orang
mempunyai nasib sendiri-sendiri dan segala apa tidak dapat dipaksa," pikir Tjeng Hong.
"Walaupun Thiekoay sian beroman buruk, akan tetapi ia adalah murid yang mewarisi
kepandaiannya Kanglam Tayhiap Kam Hong Tie sehingga dengan jadi pasangannya Tjia In
Tjin, ia tidaklah membikin turun derajatnya Gobie Liehiap."
Mengingat bahwa bekas kecintaannya sekarang sudah mendapat pasangan yang
setimpal, hatinya Siauw Tjeng Hong jadi tenang. Mendadak ia lihat Thiekoay sian
menghampiri dengan terpincang-pincang dan memberi hormat sesudah berhadapan.
Siauw Tjeng Hong buru-buru balas hormatnya, sambil ucapkan perkataan-perkataan
merendah.
"Siauw loote," katanya sembari tertawa. "Apakah kau tahu kenapa aku sudah gebuk kau
dan sekarang memberi hormat padamu?"
Siauw Tjeng Hong gaga-gugu dan tak tahu harus menjawab bagaimana. Thiekoay sian
tertawa lagi dan berkata: "Aku tahu, bahwa aku adalah seorang yang berparas buruk
sekali. Maka itu, maka itu..."
Sebelum ia dapat teruskan omongannya, Tjia In Tjin sudah membentak: "Setan tak kenal
malu! Apa kau mau ditertawakan orang? Tutup mulutmu!" Sang isteri membentak begitu,
sebab mengetahui, kalau si suami bicara terus, ia bakal jadi jengah sekali. Thiekoay sian
tahu parasnya jelek sekali. Apa mau, ia dapat isteri yang sangat cantik. Sebagai seorang
yang mempunyai adat aneh, dalam hatinya timbul rasa cemburu yang aneh pula. Hatinya
belum merasa puas kalau belum hantam siapa juga yang pernah jatuh hati pada isterinya
itu. Siauw Tjeng Hong mana tahu adatnya Thiekoay sian yang luar biasa itu.
Dengan omongannya diputuskan oleh sang isteri, Thiekoay sian tertawa meringis.
"Baiklah," kata ia. "Aku tak omong lagi sebabnya kenapa aku memukul kau. Sekarang aku
mau bicara tentang kenapa aku jalankan kehormatan padamu. Hei, Siauw Tjeng Hong,
berapa usiamu sekarang?"
Siauw Tjeng Hong kembali terkejut. "Buat apa dia tanya begitu?" pikirnya. "Siauwtee
sekarang baru berusia empat puluh lebih sedikit," ia jawab.

"Kalau begitu, kau banyak lebih muda dari aku," kata Thiekoay sian. "Sungguh kasihan,
rupamu sudah kelihatan begitu tua, dan rambutmu sudah putih semua. Aku dengar, pada
belasan tahun berselang, kau masih jadi pemuda yang cakap sekali."
Mukanya Siauw Tjeng Hong yang putih mendadakan saja bersemu merah. "Itu semua
lantaran gara-gara isterimu," kata ia dalam hatinya.
"Siauw loote," kata lagi Thiekoay sian. "Aku tahu adanya perasaan kecewa dalam hatimu.
Maka itu, isteriku minta aku wakilkan ia menjalankan kehormatan di hadapanmu buat
meminta maaf. Ia kata, hatinya merasa sangat tidak enak lantaran sudah menyeret kau
kedalam gelombang. Dari sebab begitu, di sebelahnya meminta maaf, isteriku ingin
persembahkan serupa barang kepada kau."
Sehabis berkata begitu, ia rogoh sakunya, keluarkan satu kotak batu kemala yang lantas
diserahkan kepada Siauw Tjeng Hong. "Bukalah!" kata ia.
Siauw Tjeng Hong buka dan kotak itu berisi sekuntum bunga warna merah darah yang
sebesar mangkok. Heran sekali hatinya Siauw Tjeng Hong yang tak tahu harganya hadiah
itu.
"Itu adalah kembang dewa Yoetam Sianhoa," menerangkan Thiekoay sian. "Orang yang
makan kembang itu, rambut putih bisa berobah jadi hitam, sedang parasnya yang tua
dapat berobah menjadi muda lagi. Aku si jelek tak gunanya makan bunga itu, maka aku
rela mempersembahkan kepada kau."
Waktu masih muda, Tjia In Tjin digelarkan Tokbeng Siantjoe (Dewi tukang betot jiwa
orang). Hatinya kejam dan tangannya telengas. Pada belasan tahun berselang, tanpa
pikir-pikir lagi ia turunkan tangannya secara ganas, dan sebagai akibatnya, Siauw Tjeng
Hong yang kena getahnya. Tapi sesudah menikah, adatnya jadi berubah. Saban-saban
ingat Siauw Tjeng Hong, hatinya merasa menyesal sekali. Satu ketika, bersama suaminya,
ia berkelana di daerah Utara barat. Waktu pesiar di pegunungan Thiansan, ia telah
dapatkan kembang itu dan lantas saja ia mengambil putusan buat menghadiahkan
kepada Tjeng Hong buat menebus dosa.
"Ah, kalau begitu kembang ini Yoetam Sianhoa?" kata Tjeng Hong dengan perasaan
terkejut tercampur girang. Ia jadi ingat penuturannya orang-orang tua, bahwa buat satu
kali mekar, kembang itu harus melalui tempo 60 tahun. Pada seratus tahun lebih yang
lalu, leluhur Boetong pay Toh It Hang ingin petik kembang itu buat dipersembahkan
kepada Pekhoat Molie, tapi sesudah menunggu seluruh penghidupannya, kembang itu
belum mekar juga. Belakangan Thiansan Liehiap Ie Lan Tjoe telah dapatkan dan makan
kembang tersebut, sehingga sampai mati rambutnya masih tetap tidak berobah putih.
Sekarang bukan saja ia dapat lihat benda yang langka itu, tapi juga bisa punyakan
sebagai hadiah dari Thiekoay sian.
Siauw Tjeng Hong mengawasi kembang itu dengan mata mendelong. Ia tak berani
menerima. Tjia In Tjin menghampiri dengan perlahan dan berkata sesudah berhadapan:
"Tjeng Hong! Kau makanlah. Pada lima tahun berselang, di Soetjoan barat aku telah
bertemu piauwmoay-mu (saudara misan perempuan) Gouw Tjiang Sian, yang tanyakan
keselamatanmu. Ibumu juga sekarang masih kuat dan sehat. Apakah kau tidak niat
pulang buat tengok mereka?"
Hatinya Tjeng Hong lantas saja tergerak. Secara mendadakan saja, ia jadi ingat kepada
orang tua, famili, sahabat dan kampung kelahirannya. "Sekarang sedang permusuhan
sudah menjadi beres, memang seharusnya aku pulang," kata ia dalam hatinya. "Lantaran
gara-gara dia, aku telah menderita begitu hebat, maka adalah sepantasnya saja, jika aku
menerima hadiahnya itu." Memikir begitu, ia lantas ambil kembang.-tersebut dan berkata

sambil dongakkan kepala dan menghela napas: "Terombang-ambing di dunia Kangouw


puluhan tahun lamanya. Bermula ketemu, rambut belum putih, usia masih muda."
"Maka sekarang lebih baik pulang, buat cari kawan memain waktu masih kecil," In Tjin
sambungi.
"Benar, benar!" kata Tjeng Hong sembari tertawa berkakakan. "Perkataanmu benar
sekali! Oedjie, gurumu sekarang mau berpisahan denganmu!"
Selama setengah harian itu, Thian Oe telah saksikan banyak sekali kejadian
mengherankan, sehingga ia seperti juga sedang mengimpi. Sekarang mendadak ia
dengar gurunya mau pulang ke kampung kelahirannya, maka ia jadi sangat kaget dan
buat beberapa saat, tidak dapat mengucapkan sepatah kata. Siauw Tjeng Hong juga
merasa berat buat berpisahkan dengan murid yang baik itu.
"Muridmu itu sangat baik hatinya dan aku sangat penuju padanya," kata Thiekoay sian
sembari tertawa. "Aku si pengemis, kalau lihat barang baik, memang lantas mau
meminta, Siauw Loote, serahkan saja muridmu kepadaku."
"Sungguh mujur jika kau sudi menerima Oe-djie sebagai murid," kata Tjeng Hong dengan
girang sekali. "Oe-djie, lekas berlutut!"
"Soehoe," kata Thian Oe dengan suara sedih. "Apakah benar kau mau pulang?"
"Kalau tidak pulang, aku mau bikin apa disini?" jawab sang guru. "Aku pun merasa sangat
berat harus berpisahan dengan kau, tapi oleh karena orang tuamu berada di daerah ini,
aku tentu tak dapat ajak kau pergi bersama-sama."
"Ha, bocah," kata Thiekoay sian. "Apa kau tidak.suka angkat pengemis busuk sebagai
gurumu?"
Thian Oe buru-buru membantah pernyataan itu dan segera berlutut di hadapan Thiekoay
sian.
"Aku tidak begitu sabar sebagai gurumu," kata si pengemis sembari tertawa terbahakbahak. "Sebagai muridku, kau mesti mengemis nasi dan uang, dan kalau tidak dengar
kata, aku akan hantam pantatmu dengan tongkat ini."
"Jangan bikin takut anak baik ini," kata Tjia In Tjin. "Aku bicara terus terang, kalau kau
sengaja cari, biar kau jalan sampai pecah sepatu besi, tak nanti kau dapat ketemukan
murid yang begini baik."
Sembari tahan air matanya, Siauw Tjeng Hong awasi sang murid dan kemudian bekas
kecintaannya. "Nah, sekarang aku berangkat saja," kata ia dengan suara sedih. "Oe-djie,
kau harus dengar segala perintah gurumu. Kalau ada jodoh, di belakang hari .kita akan
bertemu pula."
Tidak lama sesudah pulang ke kampung kelahirannya, Siauw Tjeng Hong telah dapat
pasangan yang setimpal sekali dan berkat latihannya yang terus menerus, di kemudian
hari, ia jadi seorang yang ilmu silatnya paling tinggi dalam Tjengshia pay.
Sesudah Siauw Tjeng Hong berangkat, sembari tertawa Thiekoay sian berkata: "Mau
pergi, pergi saja, buat apa begitu rewel-rewel."
"Kau lihat, ada orang yang lebih rewel lagi," berbisik isterinya.

Thiekoay sian menoleh dan lihat kedua boesoe Nepal, yang tadi berlutut di pinggir telaga,
sekarang sedang bicara sama Pengtjoan Thianlie dengan suara perlahan. Pengtjoan
Thianlie sendiri sedang dongakkan kepalanya, sikapnya tawar dan seperti acuh tak acuh.
Tapi kedua boesoe terus bicara sembari pentang-pentang tangan, seperti orang yang
sedang memohonmohon, dengan paras muka yang bingung sekali. Thiekoay sian tidak
mengerti bahasa Nepal, sehingga biarpun pasang kuping, ia sama sekali tidak mengerti
apa yang sedang dibicarakan. Thian Oe sudah berdiam tujuh delapan tahun di Tibet, yang
sering dikunjungi oleh pedagang Nepal, sehingga sedikit-sedikit ia mengenal juga bahasa
itu. Ia pun turut pasang kuping dan dapat tangkap beberapa perkataan, seperti "guci
emas", "ayahanda raja" dan sebagainya, tapi tidak dapat hubungkan perkataan-perkataan
itu sampai dapat dimengerti apa maksudnya.
Mendadak ia ingat perebutan guci porselen di Shigatse antara Bek Tayhiap, Thiekoay sian
dan yang lain-lain. "Apakah urusan yang sedang dibicarakan oleh kedua boesoe
mempunyai hubungan dengan guci porselen itu?" ia tanya dalam hatinya. "Tapi guci itu
adalah porselen, dan bukannya emas. Apa artinya itu perkataan ayahanda raja?"
Sedang Thian Oe diliputi perasaan heran, Pengtjoan Thianlie, yang rupanya sudah tidak
sabaran, membentak dalam bahasa Nepal: "Kecuali Puncak Es roboh, aku tak nanti turun
dari gunung ini." Bentakan itu dikeluarkan dengan keras, sehingga Thian Oe dapat dengar
nyata sekali.
"Pergi! Pergi! Kalian pergi pulang," kata lagi Pengtjoan Thianlie. Suaranya tidak keras, tapi
berpengaruh sekali dan diucapkan dengan sikap angker, seperti juga seorang jenderal
yang sedang pimpin ratusan laksa tentara.
Kedua boesoe itu saling mengawasi. Mereka mundur tanpa berani buka suara lagi, sedang
pada paras mukanya terbayang perasaan putus harapan.
Sesudah itu, dengan muka yang bersorot sedih, seperti juga hatinya sedang dipengaruhi
oleh serupa perasaan, Pengtjoan Thianlie petik sekuntum bunga yang ia lemparkan ke
telaga dan jatuh pada tempat, dimana sungai es masuk ke dalam telaga. Bunga itu
digulung pusar air akan kemudian selembar-lembar terombang-ambing, menurut
alirannya gelombang-gelombang halus.
Thian Oe jadi bergidik sebab ia ingat: "Jika benda tak berjiwa (sang kembang) bisa
bernasib sedemikian, apa lagi manusia?" la lihat itu gunung salju dengan puncaknya yang
menjulang menembus awan dan hawanya dingin bukan main, akan tetapi di tempat
dimana ia berdiri, sang telaga dengan kembang-kembangnya memberi suatu
pemandangan dari musim semi. Dan di pinggir telaga berdiri seorang wanita cantik yang
hidup sendirian di atas Puncak Es. Keadaan sedemikian seakan-akan merupakan suatu
musim semi dalam musim dingin, cuma sayang, pemandangan yang begitu indah, tidak
banyak diketahui oleh manusia dalam dunia. Bahwa dalam gunung salju terdapat telaga
Thian-ouw, sudah merupakan kejadian yang mengherankan. Akan tetapi, bahwa di atas
sungai es hidup seorang bidadari, ada lebih mengherankan lagi! Apakah Bidadari dari
Sungai es ini akan mendapat nasib seperti sang kembang, yang terbuka dan rontok
sendirinya, akan kemudian terombang-ambing menurut alirannya air?
Selagi Thian Oe ngelamun begitu, kupingnya mendadak dengar Pengtjoan Thianlie
berkata lagi: "Aku sebenarnya tidak pernah menerima tetamu, akan tetapi, lantaran Kam
Tayhiap dan ayahku adalah sahabat-sahabat baik, maka, Thiekoay sian, sebab atas
perintahnya Kam Tayhiap dengan susah payah kau sudah mencari aku, dengan
melanggar kebiasaan, aku sekarang undang kalian berdua suami isteri buat menginap di
rumahku beberapa hari."
Sesudah Koei Hoa Seng menghilang, kedua kandanya telah mencari ubak-ubakan dan
memesan kawan-kawannya buat bantu mencari. Salah seorang yang pernah diminta

bantuannya, adalah Kam Hong Tie. Selama tiga puluh tahun Hong Tie sudah berdaya
tanpa mendapat hasil. Ia adalah seorang ksatria yang pegang teguh janjinya, maka itu,
pada sebelum menutup mata, ia telah pesan muridnya supaya sang murid talangi ia
melakukan satu pekerjaan yang belum dapat dipenuhi. Thiekoay sian tidak sia-siakan
pesanan gurunya. Belakangan ia mendapat warta, bahwa di atas sungai es ada hidup
seorang wanita yang mendapat julukan Pengtjoan Thianlie. Ia menduga, bahwa wanita itu
sepuluh sembilan adalah puterinya Koei Hoa Seng. Pada waktu ia sedang bertempur
melawan Loei Tjin Tjoe, isterinya justru sedang menemui Bidadari dari Sungai es itu.
"Sudah lama aku pangeni tempat ini yang seperti surga, akan tetapi aku tidak berani
membuka mulut," kata Thiekoay sian sembari tertawa. "Maka itu, tentu saja aku merasa
sangat girang, jika kau sudi menerima kami berdiam beberapa hari."
"Kalau begitu, marilah kita turun ke perahu," kata Pengtjoan Thianlie. "Kau adalah
muridnya Thiekoay sian dan juga sahabatnya Chena moaymoay. Maka itu, kaupun boleh
ikut." Thian Oe bermula merasa sedikit bersangsi, akan tetapi, ia lantas turut turun ke
dalam perahu, tanpa berkata suatu apa.
Waktu itu sudah lewat tengah hari. Kepingan-kepingan es yang mengambang di atas
sungai jadi semakin lumer dan air mengalir semakin deras, dari puncak gunung menyapu
ke bawah. "Naik ke atas dengan melawan aliran air ada banyak lebih sukar dari turun ke
bawah," pikir Thian Oe. "Biarpun ilmu silatnya Pengtjoan Thianlie ada sedemikian tinggi,
tapi apakah ia mampu bikin perahu itu manjat ke atas? Apakah ia bukan terdiri dari darah
dan daging seperti manusia biasa?"
Selagi hatinya sangat bersangsi, kupingnya sudah dengar Pengtjoan Thianlie berkata:
"Semua orang duduk biar benar. Perahu mulai jalan."
Sehabis berkata begitu, dengan sebatang kejen batu kemala, ia totol sekeping es dan
perahu itu lantas meluncur beberapa tombak jauhnya. Mendadak perahu terpukul arus
dan mundur lagi setombak lebih. Pengtjoan Thianlie sapu kepingan-kepingan es yang
ngambang akan kemudian menotol lagi dengan kejennya dan sang perahu kembali
meluncur beberapa tombak.
Thian Oe lihat Pengtjoan Thianlie pusatkan Seantero perhatiannya dan menggunakan
banyak sekali tenaga, sedang orang-orang yang berduduk di dalam perahu semuanya
berpeluk tangan. "Sedang dia begitu capai, bagaimana kita bisa enak diam saja?" kata
Thian Oe dalam hatinya.
Tiba-tiba arus yang sangat keras menerjang hebat sekali, sehingga sang perahu terputarputar dalam pusar air dan air yang muncrat membasahi mukanya semua orang.
Thian Oe terkesiap. Melihat tongkat besi gurunya yang disenderkan di pinggir perahu,
tanpa banyak pikir, ia lantas jumput tongkat itu, yang ternyata sangat berat, buat bantu
mendorong. Tapi begitu lekas ia mendorong dengan tongkat, sang perahu bergoncang
dan berputar keras, dan dengan dibarengi sama sambaran satu gelombang, sebagian
badan perahu tenggelam di dalam air, tapi untung timbul lagi dengan goncangan keras.
"Kau cari mampus?" membentak Thiekoay sian sembari rampas tongkat itu dari tangan
muridnya.
"Maksudnya baik sekali, kau tak usah marahi dia," kata Pengtjoan Thianlie sembari
tertawa.
Thian Oe rasakan mukanya panas lantaran malu. Ketika itu, setahu bagaimana, badannya
perahu sudah tetap kembali, sehingga hatinya jadi legaan. Sekonyong-konyong satu arus
yang lebih hebat daripada tadi, menyambar dari sebelah kiri. Thian Oe mencelos dan

berkata dalam hatinya: "Sekarang matilah!" Mukanya jadi pucat seperti kertas. Tiba-tiba
badannya perahu terlempar ke atas, seperti juga terbang di tengah udara, dan di lain
saat, sudah hinggap di muka air dengan selamat dan terpisah agak jauh dari tempat tadi!
Bukan main herannya Thian Oe. Melihat keheranan pemuda itu, Chena berkata sembari
tertawa: "Waktu pertama datang, aku pun sudah dibikin kaget setengah mati oleh arus
itu. Belakangan barulah aku mendapat tahu, bahwa tanpa adanya arus tersebut, sang
perahu malahan tak dapat naik turun."
Pengtjoan Thianlie yang sedari kecil hidup di tempat tersebut, mengenal baik sifatnya
arus sungai, yang mempunyai tenaga menyapu balik. Sifatnya arus sungai tersebut
adalah ibarat sifatnya angin puyuh yang terputar, dan dalam putarannya itu, dapat
melempar sang perahu ke sebelah atas. Maka itu, dalam menjalankan perahu di sungai
es, biarpun benar seorang harus mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi, tetapi kejadian
tersebut bukanlah suatu kejadian yang mujijat.
Belum cukup sejam, perahu sudah tiba di puncak gunung. Keraton yang nangkring di
puncak terbuat dari kristal, marmer atau balokan-balokan es, sehingga di dalamnya jadi
terang benderang, dan jika tertojo sinarnya matahari, keraton itu berkredepan dalam
rupa-rupa warna. Sungguh satu pemandangan yang langka! Melihat itu semua, Thian Oe
yang tadinya sudah lelah sekali, mendadak jadi segar kembali. "Dengan berdiam seorang
diri dalam keraton ini, apakah Pengtjoan Thianlie tidak merasa kesepian?" tanya ia dalam
hatinya.
"Thianlie tjietjie," kata Chena sembari tertawa. "Jika kau sudi menerima aku sebagai
pelayan, aku rela berdiam di tempat ini seumur hidupku."
"Anak otak!" menyahut Pengtjoan Thianlie sembari mesem. "Mana kau bisa betah tinggal
di tempat ini? Dan bukankah kau siang malam terus pikirkan soal membalas sakit hatinya
kedua orang tuamu?" Mendengar omongan itu, Chena tidak berkata suatu apa lagi.
"Aku dengar kau selalu memanggil aku sebagai Thianlie tjietjie." Berkata lagi Pengtjoan
Thianlie. "Apa dengan memanggil begitu, kau tidak kuatir orang nanti mentertawakan?
Aku cuma bertempat tinggal di Pengtjoan (Sungai es), dan manalah boleh disebut
bidadari (Thianlie). Aku sebenarnya she Koei bernama Peng Go. Thiekoay sian berdua
suami isteri juga rasanya belum mengetahui namaku."
"Nama itu sungguh bagus," kata Tjia In Tjin sembari tertawa. "Tapi kau benar-benar cantik
laksana bidadari, maka biarlah aku memanggil saja Thianlie tjietjie."
Pengtjoan Thianlie segera anter semua tetamunya masuk ke dalam keraton. Berbareng
dengan tepukan kedua tangannya, di depan saban keraton lantas muncul satu wanita
muda, yang berpakaian indah sekali. Walaupun di antara bangunan-bangunan terdapat
banyak pintu, tapi oleh karena keraton tersebut terbuat dari bahan-bahan yang terang
seperti kristal dan es, maka semua wanita itu lapat-lapat bisa dilihat. Semua dayang itu,
yang rata-rata berparas cantik, berpakaian secara luar biasa, bukan pakaian Tibet
maupun Han, dan sekali lihat lantas dapat diketahui, bahwa mereka itu bukannya orang
Tionghoa.
Thian Oe rasakan seperti masuk ke dalam surga. "Kalau begitu, Pengtjoan Thianlie
bukannya hidup sendirian," kata ia dalam hatinya. "Cuma dari manakah ia dapatkan
begitu banyak nonanona?"
"Kalian tentu capai sekali, maka biarlah kalian mengasoh dahulu," kata Pengtjoan
Thianlie.

Suami isteri Thiekoay sian, Tan Thian Oe dan Chena lalu diantar oleh dayang-dayang itu
ke gedung-gedung yang terpisah. Sesudah melalui jalanan bulak-belok dengan diantar
oleh sang dayang, Thian Oe tiba di satu kebun kembang. Bunga-bunga dan rumputrumput yang tumbuh disitu dengan warna-warni yang gilang gemilang, hampir semua
belum pernah dilihat oleh Thian Oe.
"Siangkong (tuan) masuklah ke dalam gedung ini buat mengasoh," kata dayang itu. "Jika
siangkong memerlukan aku, tarik saja tali tembaga yang terdapat di pojokan. Jalanan
disini banyak belitannya, dan jika siangkong mau jalan-jalan di dalam taman, ingatkan
saja tanda itu, supaya tak kesasar." Sembari berkata begitu, jerijinya menunjuk ke atas
gedung, dimana terukir satu singa-singaan batu. Ternyata di atas saban gedung terdapat
ukiran-ukiran binatang yang berlainan. Ada ukiran kuda, macan, burung Hong dan
sebagainya. Biarpun bukannya orang Tionghoa, akan tetapi dayang itu dapat bicara
bahasa Pakkhia dengan lancar sekali. Sesudah memesan begitu, ia lantas undurkan diri.
Thian Oe tolak pintu dan masuk ke dalam gedung. Hatinya kaget lantaran beberapa
pemuda kelihatan mendatangi ke arah ia. Tapi segera juga ia mengerti, bahwa semua
pemuda itu adalah bayangannya sendiri, lantaran di empat penjuru tembok dipasang
kaca yang sangat besar. Gedung itu dihias indah sekali dengan perabotan yang mahal
harganya. Dalam kamar tidur, kasurnya terbuat dari sutera mahal dengan kelambu sulam,
sedang di atas meja tulis terdapat satu vas yang ditancapkan semacam bunga luar biasa,
yang menyiarkan bau harum sekali. Di atas tembok tergantung sebuah lonceng dari
negara Barat yang mengeluarkan suara "tik-tak, tik-tak" tak henti-hentinya. Pada jaman
itu, yaitu jaman Kaizar Kianliong, masih sedikit sekali lonceng Barat yang di impor ke
Tiongkok. Pertama kali Thian Oe lihat lonceng itu adalah di rumahnya Touwsoe.
Selainnya itu, di atas tembok juga terdapat sepasang gambar lukisan dengan sajak yang
tulisannya indah sekali.
Gambar yang satu memperlihatkan seorang pemuda yang memakai baju warna kuning,
sedang pada pinggangnya tergantung sebatang pedang panjang. Romannya pemuda itu
bukan saja cakap, tapi juga angker sekali. Gambar yang lain adalah gambarnya seorang
wanita yang pakai pakaian kuno. Dengan kedua alis yang bengkok dan potongan muka
seperti kuaci, wanita itu cantik luar biasa dan matanya sedikit mirip dengan Pengtjoan
Thianlie.
Sajak yang tertulis pada kedua gambar itu seperti juga buah kalamnya seorang wanita
dan berbunyi seperti berikut:
Mengangkat cawan berpisahan.
Nyanyikan lagu berpisahan.
Bisiki kata-kata berpisahan, Siapakah yang membuat lagu itu, seperti seekor burung
berkelebat di atas air dan menghilang dalam sekejapan mata? Tjioe Nio nyanyikan lagu
Kim Louw.
Nyanyian berakhir, penonton bubar, cuma ketinggalan beberapa puncak gunung yang
hijau.
Tapi kumandangnya sang lagu tak putus-putusnya,
Sampai mengimpi tiba di kota Pakkhia.
Cawan penuh, tapi toh kosong. Nyanyian merdu, toh kosong juga,
Tetabuhan khim indah, pun kosong.

Rembulan terang, akhirnya kosong juga.


Semua orang sudah bubaran dari taman bunga anggrek dan ketinggalan debu yang
berhamburan.
Musim dingin meliputi daerah Kanglam,
Dalam liati mengutuk salju dan angin yang meresap ke tulang-tulang.
Orang yang dicinta berada di ujung langit.
Siapa lagi yang dapat hiburi hatinya anak yang terlantar?
Sebagai peringatan dari marhum ayah dan ibu,
Hoan Lian.
Tan Thian Oe sekarang tahu, bahwa lelaki dan wanita itu adalah kakek dan neneknya
Pengtjoan Thianlie, yaitu Koei Tiong Beng dan isterinya Moh Hoan Lian, sedang sajak itu
adalah buah kalam ayahnya Moh Hoan Lian, yaitu Moh Pie Kiang.
Hatinya Thian Oe diliputi dengan perasaan heran yang sangat besar. Bahwa Pengtjoan
Thianlie adalah cucu perempuannya Koei Tiong Beng, sudah merupakan satu hal yang
mengherankan. Akan tetapi, keraton di puncak gunung dengan dayang-dayangnya yang
terdiri dari wanita-wanita asing, merupakan keheranan yang lebih besar lagi. Walaupun
asal-usulnya Pengtjoan Thianlie sudah terbentet sekali, akan tetapi, dalam
keseluruhannya, ia masih merupakan satu teka-teki.
Malam itu, sesudah bersantap dengan hidangan yang diantar oleh sang dayang, Thian Oe
gulak-gulik di atas pembaringan dan tidak dapat tidur pulas. Ia ingat Chena, itu gadis
Tsang yang aneh, ia ingat Pengtjoan Thianlie yang diliputi rahasia, ia ingat suami isteri
Thiekoay sian, ia ingat macam-macam hal yang datang saling-susul dalam otaknya.
Ia melongok keluar jendela dan saksikan satu dunia yang diselimuti dengan sinar perak.
Dengan sinar salju yang datang dari atas puncak gunung, ditambah sama bunga-bunga
yang memenuhi seluruh taman, Thian Oe merasa seperti juga berada di tengah-tengah
dunia kaca dengan warna-warninya yang indah luar biasa.
Seperti dibetot besi berani, Thian Oe pakai jubah luarnya dan dengan tindakan perlahan,
ia keluar dari gedung itu buat menikmati pemandangan alam yang seindah itu.
Mendadak kupingnya dengar orang bicara yang datang dari kejauhan. Thian Oe lalu
mengumpat di belakangnya satu gunung-gunungan dan lihat dua bayangan orang sedang
mendatangi ke arah ia. Yang jalan duluan adalah Pengtjoan Thianlie, sedang yang
belakangan bukan lain daripada Thiekoay sian. Thian Oe merasa heran. Ada urusan apa,
mereka jalan-jalan dalam taman, di tengah malam buta itu?
Dalam jarak belasan tombak dari tempat sembunyinya Thian Oe, mereka mendadak
berhenti. "Terima kasih banyak buat berita yang kau sampaikan," demikian kedengaran
Pengtjoan Thianlie berkata. "Dan terima kasih juga kepada paman-paman sekalian yang
sudah begitu memperhatikan diriku. Tapi aku sudah bersumpah, bahwa selama hidup, aku
tidak nanti turun dari gunung ini."
"Tapi... Tapi guci emas itu ada luar biasa pentingnya," kata Thiekoay sian. "Dahulu, pada
jaman tujuh ahli pedang turun dari gunung Thiansan, kakek dan nenekmu, bersama-sama
Leng Bwee Hong Tayhiap, dengan bersatu padu sudah melawan kerajaan Tjeng. Kau

sendiri adalah cucunya Koei Tayhiap. Apakah kau tega melihat Tibet menjadi jajahannya
bangsa Boan? Begitu lekas guci emas itu tiba, tamatlah riwayatnya Tibet."
"Aku tidak urus urusan begitu," kata Pengtjoan Thianlie dengan suara tawar.
Thiekoay sian menghela napas. Baru ia mau buka mulut, Pengtjoan Thianlie sudah
mendahului:
"Kecuali Puncak Es roboh, putusanku tak dapat dirobah lagi. Sebenarnya terhadap kalian
suami isteri yang jauh-jauh sudah datang disini, aku harus penuhkan kewajiban sebagai
tuan-rumah buat melayani beberapa hari Cuma menyesal, lantaran dahulu aku pernah
bersumpah, bahwa siapa saja yang berani membujuk aku turun gunung, biarpun ia adalah
seorang dari tingkatan yang lebih tua, aku tak dapat menahan lagi padanya. Thiekoay
sian! Terima kasih buat kebaikan hatimu, tapi besok aku akan perintah dayang antar
kalian turun gunung dan di kemudian hari tak usah datang lagi disini."
Thian Oe tak dapat lihat mukanya Pengtjoan Thianlie yang berdiri membelakangi ia.
Suaranya halus, tapi tegas, seperti satu ratu yang sedang keluarkan firman.
Thiekoay sian berdiri diam tanpa menjawab sepatah kata. Thian Oe juga merasa heran,
kenapa seorang wanita yang begitu cantik bisa bersikap sedemikian keras dan
mengeluarkan kata-kata yang terang-terangan mengusir tetamunya. Ia merasa berat buat
tinggalkan tempat itu yang sepera surga, terutama itu gadis Tsang yang aneh. Hatinya
merasa sedih, sebab ingat besok ia harus berlalu bersama-sama gurunya dan tak akan
bisa datang lagi ke tempat itu.
Sesudah lewat sekian lama, barulah kedengaran Thiekoay sian berkata: "Sesudah berbuat
kesalahan terhadap nona, aku tak berani meminta maaf. Aku akan turut apa yang
diinginkan oleh nona." Sesudah itu lantas kedengaran suara tindakan kaki yang semakin
lama jadi semakin jauh, dan waktu Thian Oe melongok dari gunung-gunungan, kedua
orang itu sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Sembari tarik napas panjang, Thian Oe keluar dari tempat mengumpatnya. Tiba-tiba, dari
antara pohon-pohon kembang muncul satu orang. Baru saja ia niat menyingkir, orang itu
sudah menanya dengan suara nyaring: "Kau belum tidur?"
Thian Oe mengawasi dan ia itu adalah Chena, yang kepalanya dibungkus dengan sutera
putih, sedang kedua matanya yang jeli bersinar terang dalam malam yang remangremang itu dan pada mulutnya tersungging meseman yang sukar dijajaki.
"Terima kasih buat budimu yang beberapa kali sudah menolong jiwaku," katanya sembari
mesem. "Cuma sayang besok kau sudah harus berlalu dari sini."
"Hm," kata Thian Oe. "Apa kau juga dengar pembicaraan yang barusan?"
Chena manggutkan kepalanya dan berkata: " Menurut Thianlie tjietjie, jiwanya gurumu
berada dalam bahaya, jika ia teruskan niatannya buat merampas guci emas itu. Ia bilang,
kau haruslah berlaku hati-hati."
Thian Oe terkejut. "Aku sungguh tidak mengerti persoalan ini," kata ia. "Barang apakah
adanya guci emas itu yang mau direbut?"
"Apa kau belum pernah dengar halnya guci emas itu?" menegasi Chena.
"Belum," jawab Thian Oe. Chena kerutkan alisnya dan paras mukanya berobah jadi
sungguhsungguh sekali.

"Apakah kau tahu, bahwa Dalai Lama, Panchen Lama, Hutuketu dan lain-lain Budha hidup
semuanya menjalankan lahir mengulang (reinkarnasi) "?" tanya Chena dengan suara
perlahan.
Sebagai orang yang menjadi besar di Tibet, Thian Oe tentu saja mengetahui kepercayaan
itu. Ia menggutkan kepalanya dan Chena berkata pula: "Oleh karena dalam soal
reinkarnasi ini seringsering timbul percekcokan, maka kaizar Tjeng mengirimkan sebuah
guci emas buat mengakhiri segala pertentangan. Manakala timbul percekcokan, maka
Naichung yang berhak harus menulis nama-namanya semua calon di atas sepotong
kertas yang sesudah digulung, dikasih masuk ke dalam guci emas itu. Kemudian, di
hadapan orang banyak diambillah salah satu gulungan kertas dan calon yang namanya
kena diambil dianggap sebagai Budha hidup yang tulen. Aku dapat dengar, guci emas itu
sudah dikirim dari Pakkhia dan setibanya di Lhasa akan disambut secara besar-besaran
oleh Dalai Lama dan lain-lain pembesar, akan kemudian ditaruh dalam Gereja Pusat di
Lhasa. Dengan demikian, guci tersebut akan menjadi semacam benda suci yang sifatnya
abadi. Kau tentu mengerti, bahwa pengiriman barang yang begitu penting tentu saja
bakal dilindungi oleh pengawal-pengawal yang berkepandaian tinggi. Maka itu, bukankah
gurumu seperti mau antarkan jiwa, jika ia coba merampasnya?"
Thian Oe tadinya niat menanya, cara bagaimana Chena bisa mengetahui persoalan itu.
Akan tetapi mengingat gadis tersebut adalah puterinya Raja muda Chinpu, Thian Oe jadi
urungkan niatannya.
Ayahnya Thian Oe adalah seorang pembesar yang dikirim oleh Kaizar Kianliong ke Tibet
sebagai Amban. Walaupun hatinya merasa tidak puas terhadap bangsa Boan, akan tetapi
ia merasa, tindakannya kaisar Boan di ini kali tidaklah boleh terlalu disalahkan, sebab
sedikitnya dapat menyingkirkan segala pertentangan di Tibet. Maka itu, ia tidak mengerti
sebab apa gurunya niat rampas guci emas tersebut.
"Kita orang Tibet paling memuja Budha hidup," kata lagi Chena sesudah menghela napas
panjang. "Jika orang Han bikin rusak guci emas itu atau merampas benda suci kita, maka
permusuhan antara bangsa Tibet dan Han akan jadi semakin dalam. Aku dengar, di antara
kau orang Han terdapat sejumlah pendekar yang merasa kuatir, bahwa sesudah
menerima guci emas itu, pemerintahan yang berdasarkan keagamaan di Tibet akan jatuh
di bawah perintahnya kerajaan Tjeng dan Tibet akan jadi semacam jajahannya bangsa
Boan. Dari sebab begitu, mereka mati-matian mau merampas guci emas itu. Cuma aku
kuatir, maksud yang baik itu akan dianggap sebagai maksud jahat oleh orang Tibet. Maka
itu, aku rasa lebih baik kau bujuk supaya gurumu batalkan niatannya."
"Adatnya guruku sangat luar biasa dan sebagai murid baru, cara bagaimana aku berani
membuka mulut?" kata Thian Oe.
Kedua orang muda berdiam buat beberapa lama. "Chena," kata Thian Oe. "Cara
bagaimana kau jadi bermusuhan dengan Touwsoe di Sakya?" Baru saja ucapkan
perkataan itu, Thian Oe lantas merasa menyesal sebab kuatir ia sudah melewati batas
kesopanan.
Tapi Chena kelihatannya tidak merasa tersinggung. "Kau sudah menolong jiwaku dalam
rumahnya Touwsoe, maka biarpun kau tidak menanya, aku seharusnya memberitahukan
padamu," katanya dengan suara perlahan. "Biarlah sekarang aku tuturkan satu cerita,
yang selainnya Thianlie tjietjie, kau adalah orang kedua yang pernah mendengar ini.
"Dahulu, yaitu pada jaman kerajaan Tong, suku Tukuhun (daerah Koko Nor) telah
menyerang Tibet. Satu panglima Tibet yang gagah perkasa sudah berhasil pukul mundur
musuh yang menyerang itu. Tak lama kemudian, raja Tibet mengadakan pesta pernikahan
besar dan permaisurinya adalah Puteri Boenseng dari Kaisar Tong. Dengan menggunakan
kesempatan itu sang raja memberi hadiah kepada mereka yang berjasa. Panglima yang

sudah pukul mundur serangan Tukuhun adalah orang yang paling berjasa, maka Raja
Tibet menghadiahkan ia sebidang tanah yang luasnya ditentukan dengan larinya seekor
kuda dalam tempo seharian. Panglima tersebut tersohor mahir dalam ilmu menunggang
kuda dan sepanjang cerita, dalam tempo seharian kudanya dapat melalui satu lingkaran
dari 5000 li lebih. Tanah yang seluas itu segera dihadiahkan kepadanya dan ia diberi
pangkat Hoan-ong (raja muda). Panglima tersebut adalah leluhurku.
"Tanah dan pangkat itu dipegang turun menurun. Ayahku adalah turunan yang ke 50. Ia
berkuasa atas empat Touwsoe, antaranya Touwsoe di Sakya yang mempunyai pengaruh
paling besar. Isterinya Touwsoe Sakya itu adalah puterinya paman misananku. Lantaran
adanya hubungan pangkat dan hubungan keluarga, maka kedua keluarga bergaul dengan
sangat rapat.
"Ayahku suka sekali berburu. Siapa nyana, pada satu hari ketika sedang mengubar seekor
rase bulu emas, kepalanya kebentur cabang pohon dan ia terguling dari kudanya akan
terus meninggal dunia.
"Aku tak mempunyai saudara lelaki, maka setelah diadakan perundingan, telah disetujui
bahwa kedudukan ayahku harus diwarisi kepada pamanku, dan jika sang paman
meninggal dunia, kepada saudara-saudara misananku.
"Tapi siapa kira beberapa kejadian ajaib terjadi dengan beruntun. Pertama, sehabis
minum semangkok susu kuda, badan pamanku mendadak pada matang biru dan
bengkak-bengkak dan meninggal dunia tidak lama kemudian. Sesudah itu, beberapa
saudara misananku dengan beruntun meninggal secara luar biasa sekali. Badan mereka
pada matang biru, sedang darah keluar dari lubang mulut, kuping, hidung dan
sebagainya. Orang-orang tua bilang, kejadian ini adalah akibat gangguan setan memedi,
maka sekeluarga kita pada mengumpat dalam sebuah gereja yang terletak di dalam
pekarangan gedung. Sebuah kunci besar dipasang diluar gereja dan di seputar tembok
disebarkan kapur. Katanya, penjagaan itu dapat menahan masuknya kawanan setan. Ah,
sungguh menakutkan hari-hari yang seram itu!"
Thian Oe bergidik. Keindahan alam yang terbentang di depannya segera juga berobah jadi
pemandangan yang menyeramkan.
"Demikianlah saudara-saudara misananku satu persatu binasa secara mengerikan itu,"
Chena lanjutkan penuturannya. "Aku ingat, itu hari, saudara misananku yang terakhir,
yang baru saja berusia tiga tahun, juga tidak terluput dari kebinasaan. Bukan main rasa
takutku. Aku merasa, bahwa aku sendiri pun tidak akan hidup lama lagi di dalam dunia.
"Hari itu adalah hari
Hoeihoentjee 81 ayah. Sebenarnya satu sembahyangan harus dibikin dalam gedung raja
muda, akan tetapi, berhubung dengan terjadinya kejadian-kejadian hebat, kami tidak
berani mengisar dari dalam gereja, sedang orang luar pun tak berani datang di rumah
kita.
"Tapi masih ada satu orang yang tidak takut. Orang itu adalah koekoe-ku (paman, saudara
lelaki dari ibu) yang bernama Lochu. Apa kau pernah dengar namanya?"
"Ya," menyahut Thian Oe. "Ayah kata, ia adalah orang gagah nomor satu di bawah
perintahnya Chinpu. Menurut katanya soehoe, ia adalah seorang kenamaan dari
Thianliong pay."
"Ilmu kepandaian koekoe sangat tinggi," kata Chena sambil manggutkan kepalanya, "Ia
juga tidak takuti segala setan memedi. Hari itu ia kebetulan datang dan turut
bersembahyang pada malam itu.

"Hatiku selalu ketakutan. Biasanya setiap malam aku tidur bersama ibu di satu kamar.
Tapi malam itu, koekoe yang temani aku, sedang ibu mau menjaga meja sembahyang
sampai jam lima pagi bersama dua dayang.
"Malam itu aku tak dapat pulas. Saban kesiuran angin atau bergoyangnya rumput
membuat aku kaget dan menduga kedatangannya roh ayah. Aku ingat, bahwa semasa
hidupnya ayah sangat mencintai aku, dan sekarang, sesudah menjadi roh halus, ia
haruslah menjaga aku, menjaga juga ibuku, supaya kita jangan diganggu oleh segala
setan keliaran.
"Jam tiga sudah lewat dan jam empat menyusul. Semua bujang sudah pada tidur,
sehingga keadaan jadi sunyi senyap, sedang di luar cuma kedengaran suara ketakketiknya sang lonceng. Dalam kamar terdapat dua pembaringan kayu. Aku tidur di
pembaringan sebelah dalam, sedang koekoe di pembaringan sebelah luar. Aku mengintip
dari sela-sela pintu dan lihat api lilin bergoyang-goyang. Mengingat seramnya keadaan
diluar, aku mau teriaki ibu supaya masuk saja ke dalam buat temani aku. Tapi sebelum
dapat buka suara, api lilin mendadak padam semuanya!
"Berbareng dengan itu, aku dengar teriakan ibu yang membikin bulu badanku jadi berdiri.
Tibatiba koekoe membentak sembari menjotos, sehingga tiang ranjang sempal. Sekarang
aku dapat lihat, satu bayangan hitam sudah bertempur seru dengan koekoe.
"Sesudah bertempur beberapa lama, koekoe desak dia keluar kamar dan mereka terus
berkelahi dengan hebatnya. Setiap pukulan mengeluarkan deruan angin dan mataku tak
dapat membedakan, yang mana koekoe, yang mana musuh. Perabot rumah tangga
banyak yang hancur lantaran kepukul atau ketendang. Tiba-tiba aku dengar teriakan
koekoe yang menyeramkan. Semangatku terbang, hampir-hampir aku pingsan, sebab
duga koekoe kena dirobohkan. Tapi, sesudah teriakan itu, keadaan jadi sunyi kembali. Aku
buka kedua mataku dan merasa satu orang usap-usap kepalaku."
"Apa koekoe?" Thian Oe menanya tanpa merasa.
Chena tarik napas panjang dan menyahut: "Benar, ia adalah koekoe. Napasnya sengalsengal dan suaranya gemetar waktu ia berkata: "Chena, aku... Lekas ikut padaku." Ketika
itu, aku sudah jadi begitu ketakutan, sehingga kedua kakiku menjadi lemas. Koekoe
pondong aku dan berjalan keluar. "Mana ibu? Ajaklah ibu bersama-sama," kata aku.
Koekoe tidak menjawab. Ia buka pintu gereja dan lantas loncat ke atas punggung kuda,
yang lantas dikaburkan secepat bisa. Belakangan aku baru tahu, bahwa ibu dan dua
dayang semuanya binasa dalam tangannya pembunuh. Si pembunuh sebenarnya maui
juga jiwaku, dan kalau tidak ada koekoe, sekarang aku tentu sudah tidak hidup lagi.
Koekoe terus kaburkan kudanya dan dalam tempo semalaman sudah melalui lebih dari
dua ratus li. Disitu barulah ia memberitahukan aku, bahwa paman dan saudara-saudara
misanan semua binasa dalam tangannya pembunuh itu, yang mempunyai semacam ilmu
pukulan sangat beracun yang dinamakan Tjit-im tjiang. Siapa yang kena pukulan itu,
sekujur badannya lantas matang biru dan dari lubang-lubang tubuhnya mengeluarkan
darah! Tak usah dibilang lagi, si korban tidak akan dapat ditolong jiwanya. Dengan
taruhkan jiwanya, koekoe lawan pembunuh itu, yang dapat juga dipukul mundur, tapi
koekoe sendiri sudah kena satu pukulannya.
"Semangatku rasanya terbang dan buru-buru tanya bagaimana baiknya. Koekoe
menerangkan, bahwa lantaran mempunyai tenaga dalam yang cukup kuat, maka ia masih
bisa tahan tujuh hari lamanya. Koekoe dengar, di pegunungan Nyenchin Dangla terdapat
satu telaga Thian-ouw dan di pinggir telaga tersebut hidup seorang dewi. Sepanjang
cerita, air suci dari telaga tersebut dan bunga Mantolo yang tumbuh di atas gunung dapat
mengobati macam-macam penyakit. Lantaran tidak terdapat lain jalan lagi, dengan tidak

perdulikan benar atau tidaknya cerita itu, sambil mendukung diriku, koekoe panjat
gunung
Nyenchin Dangla. Waktu matanya melihat air telaga, mendadak koekoe keluarkan
teriakan dan jatuh pingsan, mungkin lantaran lukanya dan kecapaian, tercampur dengan
perasaan girang sudah bisa sampai di telaga tersebut. Sembari menangis, aku coba bikin
sadar padanya. Lantaran lapar dan lelah, sesudah menangis beberapa lama, aku pun
jatuh pingsan.
"Tak tahu sudah selang berapa lama, perlahan-lahan aku jadi sadar. Koekoe sudah tidak
berada disitu, tapi di hadapanku berdiri seorang wanita yang parasnya cantik sekali. Aku
menduga, ia itu tentu sang dewi yang bertempat tinggal di pinggir telaga. 'Sianlie tjietjie,
mana koekoe-ku?' aku menanya. Ia mesem dan menyahut: 'Apa ia koekoe-mu? Aku
bukannya dewi. Aku she Koei bernama Peng Go. Orang luar namakan aku sebagai
Pengtjoan Thianlie.' Mendengar begitu, aku segera berkata kembali: 'Kalau begitu,
Thianlie tjietjie, dimanakah adanya koekoe?' 'Aku belum pernah permisikan orang luar
naik disini, maka itu aku sudah usir koekoe-mu ke bawah gunung,' jawab Pengtjoan
Thianlie. Kembali aku menangis keras. 'Jangan nangis,' ia membujuk. 'Aku sudah obati
lukanya koekoe-mu dan sekarang jiwanya sudah ketolongan. Kalau bukannya begitu, cara
bagaimana ia bisa turun dari gunung ini?' Aku merasa heran mendengar cara-caranya
Thianlie tjietjie, yang sesudah menolong, lalu mengusir koekoe. 'Thianlie tjietjie apakah
kau akan usir juga diriku?' aku menanya. Waktu itu, aku tidak mengerti barang sedikit
ilmu silat, sehingga kalau benar diusir, aku tentu mesti binasa, kalau tidak lantaran
terpleset jatuh, tentu juga lantaran kelaparan.
"Pengtjoan Thianlie kembali mesem dan berkata dengan suara halus: 'Aku dan kau ada
berjodoh, maka aku bersedia buat menahan dirimu untuk sementara waktu.' Belakangan
aku baru mendapat tahu, bahwa Thianlie tjietjie belum pernah bergaul dengan orang luar
dan ia ingin sekali mengetahui keadaan dalam dunia. Selainnya itu, ia juga merasa
senang terhadapku sebab mataku mirip sekali dengan matanya. Itulah sebabnya, maka ia
sudi menahan aku."
Mendengar begitu, Thian Oe segera awasi kedua matanya Chena yang bundar dan besar,
dengan kedua biji mata yang warnanya sedikit blau. Kalau biji mata itu sedang memain,
orang seperti juga melihat dua gumpalan air perak putih yang memeluk dua titik hitam,
sedang bergulikan ke kiri-kanan. Sungguh indah kedua mata itu dan benar mirip dengan
matanya Pengtjoan Thianlie.
Diimplang dengan mata tajam oleh Thian Oe, paras mukanya Chena jadi bersemu merah.
"Lantaran lihat ia bersikap ramah tamah, aku segera berdiam padanya dan ceritakan
segala asalusulku," kata lagi Chena sembari tundukkan kepala.
"Belakangan bagaimana?" tanya Thian Oe.
"Biarpun ia belum mengasih lihat kepandaian luar biasa, aku sudah merasa, Pengtjoan
Thianlie bukannya sembarang orang," kata lagi Chena. "Aku segera memohon buat
menjadi muridnya, tapi ia mengatakan ia selamanya tidak suka campur urusan dunia dan
tidak ingin menjadi guru. Sesudah aku memohon berulang-ulang, ia berkata: 'Baiklah,
lantaran aku merasa kasihan akan nasibmu, sebagai seorang saudara, aku akan turunkan
pelajaran ilmu silat secara lisan kepadamu, buat tiga hari lamanya. Berapa banyak
pelajaran kau bisa dapat selama tiga hari itu, tergantung atas untungmu.' Demikianlah ia
lalu turunkan pelajaran ilmu silat secara lisan kepadaku. Sebulan lamanya aku berdiam
dalam keraton Thianlie tjietjie, dimana diam-diam aku berlatih di bawah petunjuk para
dayangnya. Dalam tempo yang sangat pendek itu, benar saja aku sudah mendapat
kemajuan yang sangat besar. Sebetulnya Thianlie tjietjie masih mau menahan padaku,
tapi lantaran hatiku sangat ingin membalas sakit hati secepat mungkin, maka, tanpa
mendengar nasihatnya, aku lalu turun gunung. Dan tak dinyana, benar saja ilmu silatku

masih terlalu rendah, sehingga bukan saja aku sudah gagal dalam percobaan membalas
sakit hati, tapi juga hampirhampir jiwaku sendiri turut melayang."
Harus diketahui, bahwa ilmu silatnya Chena pada ketika itu, sudah terhitung tinggi. Ilmu
entengi badannya sudah berada di sebelah atasan Thian Oe. Mendengar penuturan itu,
hatinya Thian Oejadi kagum sekali. "Ia cuma belajar tiga hari, tapi ilmunya sudah begitu
tinggi," kata Thian Oe dalam hatinya. "Dari sini bisa dilihat, bahwa kepandaiannya
Pengtjoan Thianlie sungguhsungguh sukar diukur bagaimana dalamnya. Dan
kecerdasannya Chena mungkin sukar dicari keduanya dalam dunia ini."
"Sesudah turun gunung barulah aku mendapat tahu, bahwa segala kebencanaan dalam
keluargaku adalah perbuatannya Touwsoe di Sakya," demikian Chena teruskan
penuturannya. "Sesudah peristiwa hebat pada malam itu, kapan ibuku binasa dan aku
sendiri hilang, sedang sang paman dan saudara-saudara misanan sudah binasa terlebih
dahulu, maka di antara keluarga dekat, sudah tidak ada orang lagi yang berhak mewarisi
kedudukan Raja muda Chinpu. Pada besokan harinya, dengan membawa satu pasukan
tentara, Touwsoe Sakya angkat paman misananku (yang bukan lain dari mertua sang
Touwsoe) menjadi raja muda. Orang-orang sekaumku tidak ada yang berani membantah
lantaran takuti pengaruh dan kekuasaannya yang besar. Paman misananku sudah berusia
60 tahun lebih dan adalah ibarat api lilin di tengah-tengah angin. Touwsoe Sakya segera
perintah anak lelakinya yang sulung menjadi Chiepa (semacam kuasa). Secara merdu
dikatakan, bahwa sang cucu membantu kakek, akan tetapi sebenarbenarnya si cuculah
yang menjadi raja muda dan sudah rampas banyak sekali tanahnya Raja muda Chinpu.
Mendengar itu, aku tak dapat menahan sabar lagi. Bagaimana buntutnya sudah diketahui
olehmu, sehingga aku tak perlu menuturkan lagi."
"Apa Pengtjoan Thianlie meluluskan buat turunkan lagi ilmu silatnya kepadamu?" tanya
Thian Oe.
"Ia sudah meluluskan buat mengajar lagi tiga hari lamanya," jawab Chena "Sesudah itu,
apa aku mampu membalas sakit hati atau tidak, adalah urusanku sendiri."
"Biarlah aku saja yang balaskan sakit hatimu," kata Thian Oe dengan suara terharu.
Chena mesem dan berkata: "Apa? Terima kasih banyak buat kebaikanmu. Cuma saja, buat
balas sakit hatinya orang tua, kalau bukan terlalu terpaksa, aku tidak mau pinjam
tangannya orang lain. Selainnya itu, Touwsoe di Sakya mempunyai banyak sekali orang
pandai, antaranya itu pembunuh yang mempunyai ilmu Tjit-im tjiang. Dengan ilmu silat
yang dipunyai oleh kau dan aku, biarpun kita belajar lagi tiga sampai lima tahun, aku rasa
belum tentu dapat menandingi dia."
Mengingat kepandaiannya yang masih sangat rendah dan sudah keluarkan omongan
besar, Thian Oe jadi merasa jengah sekali.
Di bawah sinarnya sang rembulan, Thian Oe dapat lihat sorot sangat berterima kasih
dalam kedua matanya Chena yang jeli. "Bukankah besok kau akan ikut gurumu berlalu
dari sini?" ia tanya dengan suara perlahan.
Hatinya Thian Oe bergoncang. "Benar, besok aku sudah mesti berlalu," katanya dengan
suara serak. Tapi baru ia habis ucapkan perkataannya, di sebelah kejauhan mendadak
terdengar bentakannya Thiekoay sian.
Keraton kristal dari Pengtjoan Thianlie adalah keraton yang transparan dan terang
benderang.
Jauh di tengah-tengah taman terlihat dua bayangan orang yang sedang bertempur hebat.
Satu antaranya yang bersenjata tongkat besi, yang diputar seperti titiran cepatnya,

adalah Thiekoay sian. Yang satunya lagi berbadan tinggi besar, seperti juga bukan
badannya orang Han, dan memakai jubah pertapaan yang berwarna merah. Di antara
sinar rembulan yang seperti perak, warna merah itu kelihatan menyolok sekali, seakanakan segumpal awan merah yang memain di antara awan-awan putih.
"Dengan dapat panjat sungai es dan bisa masuk ke dalam keraton ini, kepandaiannya
orang itu mestinya tinggi sekali," kata Thian Oe dalam hatinya dengan perasaan kaget.
"Peraturan Thianlie tjietjie ada sangat keras, tapi kenapa ia belum juga keluar dan biarkan
orang itu bikin ribut dalam keratonnya?" kata Chena dengan suara heran.
Chena kenal baik jalanan dalam keraton. Sesudah bulak-belok bersama-sama Thian Oe
mereka tiba dalam taman di depannya keraton dengan ukiran kuda emas. Orang yang
sedang berkelahi sama Thiekoay sian adalah satu Hoantjeng (pendeta asing), yang
hidungnya berpatok, mulutnya lebar dan romannya jelek sekali. Ia bersenjata sianthung
(tongkat pertapaan) yang banyak lebih kecil dari tongkatnya Thiekoay sian, tapi yang
dengan mudah dapat punahkan sesuatu serangan.
Tidak jauh dari situ, di kaki satu gunung-gunungan, berdiri dua orang lain yang mulutnya
menggerendeng sembari rangkap kedua tangannya. Mereka itu adalah kedua boesoe
Nepal yang kita sudah kenal.
Thian Oe merasa heran sekali, kenapa kedua boesoe itu, yang kelihatannya sangat
memuja Pengtjoan Thianlie, berani ikut si pendeta masuk ke dalam keraton tanpa permisi.
"Dua boesoe itu memanggil Koksoe (Guru negara) kepada si pendeta," berbisik Chena.
"Mereka kata apa?" tanya Thian Oe.
"Aku pun tak dengar terang. Rupa-rupanya mereka sedang membujuk supaya si Koksoe
jangan berkelahi terus." jawab Chena.
Semakin berkelahi, Thiekoay sian jadi semakin bersemangat. Tongkatnya terputar
bagaikan titiran yang kurung badannya si pendeta, dan pada saat-saat beradunya kedua
tongkat, sang kuping menjadi pengeng lantaran kerasnya suara.
Dalam tempo sekejap, mereka sudah bertempur kurang lebih 50 jurus. Makin lama Thian
Oe jadi makin heran. Suara beradunya tongkat ada cukup keras buat bikin sadar orang
yang tidur bagaimana nyenyak pun. Tapi, bukan saja Pengtjoan Thianlie, malahan sang
dayang pun tidak kelihatan mata hidungnya.
"Chena," kata Thian Oe yang sudah tidak dapat menahan sabar lagi. "Perlukah panggil
kau punya Thianlie tjietjie?"
"Gerak-geriknya Thianlie tjietjie sangat luar biasa," jawab Chena. "Sekarang ia belum
keluar, tentulah juga ada sebab lain."
Tiba-tiba kedua tongkat beradu luar biasa kerasnya, sehingga membikin pengeng
kupingnya Thian Oe dan Chena. Di lain saat, si pendeta sudah bersila di atas tanah,
sedang sianthung-nya digoyang-goyang dengan perlahan. Dengan kumis yang berdiri,
Thiekoay sian menubruk dan menghantam dengan sepenuh tenaga.
Melihat begitu, Thian Oe jadi girang dan berkata dalam hatinya: "Sekarang tak perlu lagi
bantuannya Pengtjoan Thianlie. Manusia itu sudah bukan tandingannya guruku lagi."
Tapi ia tidak tahu, justru pada saat itu gurunya berada dalam keadaan kejepit. Sebagai
murid kepala dari Kam Hong Tie, tenaga dalamnya Thiekoay sian tidak ada tandingannya,
baik di sebelah selatan, "maupun di sebelah utara Sungai Besar. Tapi tak nyana,

berhadapan dengan pendeta asing itu, ia tidak bisa mendapat angin. Ia menyerang
sehebat-hebatnya dengan menggunakan tenaga Kimkong Toalek, akan tetapi semua
serangannya dengan gampang dapat dipunahkan oleh si pendeta
Dua puluh tahun lebih Thiekoay sian malang melintang dalam dunia Kangouw, dan inilah
buat pertama kali ia bertemu musuh yang tangguh, sehingga dengan terpaksa, ia mesti
gunakan juga Hokmo Tianghoat (Ilmu silat tongkat takluki iblis).
Hokmo Tianghoat adalah gubahan Tokpie Sinnie (Malaikat Wanita Lengan Satu, gurunya
Delapan Pendekar Kanglam) dan kemudian dipelajari dan ditambah lagi oleh Liauw In
Hweeshio. Ilmu tongkat tersebut mempunyai 108 jalan dan setiap pukulan mempunyai
tenaga yang seribu kati beratnya. Selainnya itu, kepala dan ujung tongkat juga dapat
digunakan buat menotok jalanan darahnya musuh. Ilmu silat tersebut luar biasa
liehaynya, tapi juga sangat memakan tenaga dalam. Sesudah bersilat habis 108 jalan,
orang mesti mengasoh sedikitnya tiga hari buat dapat pulang lagi tenaganya. Itulah
sebabnya kenapa Thiekoay sian jarang sekali menggunakan Hokmo Tianghoat itu.
Sekarang dengan terpaksa ia gunakan juga! Mendadakan saja, sang tongkat
menyambarnyambar bagaikan hujan dan angin dan benar saja si pendeta menjadi ripuh.
Thiekoay sian segera kerahkan tenaga dalam yang lebih besar buat hantam jatuh
padanya. Tiba-tiba si pendeta terputar dan lantas bersila di atas tanah sambil meremkan
mata dan tundukkan kepalanya, seperti juga orang lagi bersemedhi, sedang tongkatnya
digoyang-goyang dengan perlahan.
Thiekoay sian adalah seorang yang berpengalaman, tapi melihat begitu, hatinya jadi
terkejut. "Apa maunya dia?" ia tanya dalam hatinya.
Di lain saat, ia rasakan serangan-serangannya kena ditutup dan satu tenaga yang sangat
besar terasa menolak dirinya. Semakin hebat ia menghantam, semakin besar lagi tenaga
yang menolak itu. Tongkatnya si pendeta yang digoyang-goyang dengan perlahan
merupakan satu tembok tembaga yang tak dapat ditembuskan dengan serangan apapun
juga.
Thiekoay sian terkesiap dan menyerang semakin gencar. Dalam sekejap ia sudah gunakan
habis 36 jalan yang pertama. 108 jalan Hokmo Tianghoat dipecah jadi tiga bagian. Bagian
pertama, yang terdiri dari 36 jalan, adalah serangan-serangan hebat yang menggunakan
tenaga Kimkong.
Kalau ini tidak berhasil, lantas menyusul bagian kedua, yang juga terdiri dari 36 jalan.
Pukulanpukulan dari bagian kedua ini semuanya dikeluarkan dengan menggunakan
tenaga lweekeh (tenaga dalam) yang sejati, dan hebatnya bukan kepalang, sehingga satu
batu besar bisa hancur lebur kalau kena pukulan itu. Pukulan-pukulan dari bagian pertama
semuanya mengeluarkan suara angin yang keras, tapi pukulan-pukulan bagian kedua
sama sekali tidak menerbitkan suara, sehingga jadi lebih sukar dijaganya. Tapi sungguh
heran, biarpun ia meremkan mata dan tundukkan kepala, bebokongnya si pendeta seperti
juga ada matanya, sehingga tidak perduli pukulan Thiekoay sian datang dari mana, ia
selalu dapat mengebas dengan tongkatnya. Selainnya begitu, tenaga yang menolak juga
jadi bertambah besar dan beberapa kali hampir-hampir tongkatnya Thiekoay sian terlepas
dari tangannya!
Ilmu yang digunakan oleh si pendeta adalah ilmu Yoga dari India, yang dicampur dengan
ilmu silat Djioekang (ilmu silat lembek) dari cabang silat Bittjong di Tibet. Djioekang ini
juga adalah satu ilmu silat lweekeh yang sangat tinggi, tapi berbeda dengan lweekeh dari
Tiongkok asli. Orang yang mempelajari Djioekang, paling terutama harus melatih isi
perutnya Kalau ilmunya sudah tinggi, ia bisa dimasukkan di dalam peti yang kemudian
direndam dalam laut, dan sesudah tiga hari diangkat lagi, ia masih hidup seperti biasa.
Yang paling sukar dipelajari adalah menghentikan jalannya

pernapasan. Orang yang sudah berlatih sampai di puncak itu, badannya seperti juga
badan dewa yang tidak bisa rusak.
Ilmunya si pendeta belum sampai pada puncaknya, akan tetapi, dibanding dengan tenaga
Thiekoay sian, ia sudah menang seurat. Ilmu yang dikeluarkan oleh si pendeta
memerlukan kedudukan sila buat mengerahkan napas, yang semakin lama mengeluarkan
tenaga semakin besar. Itulah sebabnya, walaupun Hokmo Tianghoat makin lama jadi
makin hebat, tapi masih terus dapat dipukul mundur oleh tenaga dalamnya si pendeta.
Dengan cepat, 36 jalan yang kedua juga sudah digunakan hampir habis. Di atas
kepalanya Thiekoay sian sudah kelihatan keluar uap putih, tapi Pengtjoan Thianlie belum
juga muncul. Melihat begitu, hatinya Thiekoay sian jadi berdongkol. "Kalau begitu, buat
apa aku campur urusannya?" kata ia dalam hatinya. Memikir begitu, ia ambil putusan
buat tidak keluarkan bagian ketiga dari Hokmo Tianghoat dan sembari sabetkan
tongkatnya, ia niat loncat keluar dari gelanggang.
Tapi siapa nyana usaha itu tidak berhasil! Sianthung si pendeta jubah merah seperti juga
mempunyai tenaga menghisap dan ia tidak dapat loloskan diri!
Kaget dan gusarnya Thiekoay sian teraduk menjadi satu. Buru-buru ia kerahkan tenaga
dalam dan kebas tongkatnya, yang bisa bergoyang tapi tidak bisa copot sebab tenaga
yang menghisap jadi semakin kuat. Maka itu, Thiekoay sian tak dapat berbuat lain
daripada tambah tenaganya buat layani lawanan itu dan kemudian keluarkan bagian
ketiga dari Hokmo Tianghoat.
Bagian ketiga inilah yang paling memakan tenaga dalam. Thian Oe lihat pukulan-pukulan
kedua lawanan itu jadi semakin perlahan. Si pendeta masih terus meremkan mata dan
tundukkan kepala, tapi sekarang uap putih juga sudah muncul di atas kepalanya, sedang
napasnya mulai sengalsengal. Tapi keadaan gurunya ada terlebih menyedihkan.
Pakaiannya Thiekoay sian sudah cipruk dengan keringat yang terus mengetel-ngetel
sebesar kacang. Saban kali gerakkan tongkatnya, buku-buku tulangnya kedengaran
peratak-perotok.
Biarpun Thian Oe belum mengerti ilmu silat tinggi, tapi ia tahu keadaan gurunya sudah
kepayahan.
Lewat beberapa saat lagi, si pendeta mendadak buka kedua matanya dan membentak:
"Roboh kau!"
Thiekoay sian sempoyongan dan badannya bergoyang-goyang. Ia kertek giginya,
tongkatnya membuat setengah lingkaran dan terus menindih ke jurusan bawah. "Belum
tentu aku roboh!" kata ia. Waktu itu Thiekoay sian menyerang dengan pukulan yang ke
96, yaitu Hangliong Hokhouw (Pukulan takluki naga dan macan), dan Seantero tenaga
dalamnya dipusatkan kepada kepala tongkat.
Si pendeta mesem tawar dan berkata: "Apa kau mau cari mampus?" Ia lantas angkat
sianthung-nya ke atas dan bentur tongkatnya Thiekoay sian. Sungguh aneh, tongkatnya
Thiekoay sian yang sebesar mangkok lantas melengkung dengan perlahan!
Mukanya Thiekoay sian jadi pias. Mendadak, dengan satu suara "trang!", tongkatnya
Thiekoay sian terpisah dari tempelan tongkat lawannya, sedang si pendeta loncat mundur
beberapa tindak, tongkatnya diturunkan ke bawah dan ia berdiri dengan sikap hormat.
Thian Oe heran sungguh melihat perubahan yang begitu mendadak.
Waktu menoleh, ia segera tahu sebabnya. Dengan memakai jubah sutera putih, Pengtjoan
Thianlie kelihatan muncul dari antara pohon-pohon kembang dengan tindakan perlahan,

sedang di dampingnya kelihatan isterinya Thiekoay sian, Gobie Liehiap Tjia In Tjin.
Sembari keluarkan teriakan perlahan, Tjia In Tjin loncat dan pegang tangan suaminya.
Dengan berpegangan tangan, mereka berdua lalu bersila di atas tanah sambil jalankan
napasnya.
Pengtjoan Thianlie tertawa dingin. Setindak demi setindak, ia menghampiri. Kedua boesoe
Nepal itu ketakutan sekali. Sembari rangkap kedua tangannya, mereka berlutut dan
meratap seperti juga sedang memohon ampun.
Sambil cekal tongkatnya, si pendeta juga memberi hormat dan keluarkan sehelai firman
warna kuning dari kantongnya dan ucapkan beberapa perkataan.
Chena keluarkan suara kaget dan berbisik di kupingnya Thian Oe: "Ini Hoantjeng
menggunakan panggilan puteri terhadap Thianlie tjietjie dan minta ia menerima firman.
Sungguh mengherankan."
Pengtjoan Thianlie terima firman itu, yang sesudah dibaca selewatan lantas dipulangkan
lagi. Mukanya si pendeta jadi merah dan ia ketruk tongkatnya di atas tanah. "Kita orang
tidak bisa biarkan guci emasnya Kaizar Tjeng tiba di Lhasa," kata ia dalam bahasa Nepal.
"Raja telah memerintahkan supaya kau turun gunung buat memberi bantuan. Apakah kau
tidak sudi meluluskan?" Dengan adanya Chena sebagai juru bahasa, Thian Oe juga
mengerti apa yang dikatakan oleh pendeta itu.
Paras mukanya Pengtjoan Thianlie berobah sedikit, tapi pada bibirnya masih terus
tersungging senyuman. Si pendeta jubah merah kelihatannya mau buka mulut lagi, tapi
Pengtjoan Thianlie sudah menuding dengan jerijinya dan berkata dengan suara tawar:
"Semua orang menggelinding turun dari gunung ini!"
Di bawah sinar rembulan yang putih dingin, mukanya si pendeta yang barusan merah
sekarang berubah menjadi hijau, sehingga kelihatannya menakuti sekali! "Lihatlah,
lantaran malu ia jadi gusar," berbisik Chena di kupingnya Thian Oe.
Sebagai Koksoe (Guru negara) dari negara Nepal, manalah si pendeta dapat menelan
hinaan itu? Amarahnya meluap luber, sehingga jerijinya jadi gemetar. Mendadak ia
dongak dan tertawa terbahak-bahak akan kemudian menuding sambil membentak: "Kau,
kau suruh aku menggelinding turun? Raja sendiri tak berani berlaku begitu kurang ajar
terhadapku!"
"Tak salah," kata Pengtjoan Thianlie. "Aku perintah kau menggelinding turun dari sini.
Habis kau mau apa? Aku sebenarnya sudah beri muka yang sangat besar kepadamu
dengan membiarkan kau masuk ke dalam keraton ini dan menemui aku. Apa kau tidak
kenal puas? Aku sudah bersumpah, bahwa siapapun berani membujuk aku turun gunung,
ia itu mesti berlalu dari sini. Kau pun tak terkecuali."
Si pendeta kembali tertawa berkakakan seperti orang kalap. Ia ketruk lagi tongkatnya,
sehingga mengeluarkan suara yang sangat nyaring. Sesudah itu ia manggutkan .kepala
dan berkata dengan suara nyaring: "Dari tempat yang jauhnya laksaan li, aku datang
disini buat menemui Paduka Puteri. Memang juga hatiku tidak mengenal kepuasan. Aku
dengar ilmu silatnya Paduka Puteri terhitung nomor satu di daerah Tiongkok dan wilayah
Barat. Maka itu, aku sekarang ingin sekali dapat menambah pengalaman."
"Apa?" menegasi Pengtjoan Thianlie. Ia tertawa dingin dan tepuk kedua tangannya sambil
berseru: "Kemari!"
Di lain saat, sembilan dayang sudah kelihatan muncul. Pengtjoan Thianlie dongakkan
kepalanya dan kebaskan tangannya dengan sikap agung. "Usir ini pendeta liar!" ia
memerintah.

"Ah, kalau begitu kau tidak sudi turun tangan sendiri?" kata si pendeta. "Dengan
demikian, undanganku yang barusan agaknya terlalu melanggar pri kesopanan. Maka itu,
dengan tidak mengimbangi kebodohan sendiri, aku mohon belas kasihannya Paduka
Puteri."
Kedua boesoe Nepal itu ketakutan setengah mati dan membujuk-bujuk supaya Koksoe
nya menyingkir saja, tapi si pendeta tidak meladeni.
Pengtjoan Thianlie ambil sikap acuh tak acuh. Begitu ia kebaskan tangannya, sembilan
dayang itu lantas kurung si pendeta. Kedua matanya yang angker dan tajam laksana
pedang, kemudian mengawasi si pendeta yang tanpa merasa lantas mundur beberapa
tindak. Sembilan dayang itu lalu gerakkan tangannya seperti orang menggebah ayam,
sehingga si pendeta menjadi kalap lantaran gusarnya. "Baiklah!" ia membentak. "Biarlah
lebih dahulu aku minta pengajaran dari dayang-dayangmu dan kemudian barulah minta
pengajarannya Paduka Puteri sendiri."
Sebaliknya dari meladeni omongan si pendeta, Pengtjoan Thianlie hampiri Chena yang
lantas dipegang tangannya.
"Perhatikanlah, kiamhoat yang mereka gunakan, semuanya diajarkan olehku," kata ia
dengan suara menyayang. Thian Oe merasa bahwa sikapnya Pengtjoan Thianlie terhadap
Chena benarbenar seperti sikap seorang kakak terhadap adiknya sendiri dan berbeda
seperti langit dan bumi dengan keangkerannya yang barusan. "Sifatnya Pengtjoan
Thianlie benar-benar tak dapat ditebak," demikian Thian Oe pikir dalam hatinya.
Si pendeta kebaskan tongkatnya dan pasang kuda-kuda, tapi tidak lantas menyerang,
mungkin sebab mau pertahankan kedudukannya sebagai seorang yang lebih tua.
Apa yang mengherankan adalah pedangnya sembilan dayang yang semuanya seperti
kristal, dan begitu digerakkan, sinar serta hawa dingin menyambar-nyambar sehingga
Thian Oe jadi bergidik. Di lain saat, ia rasakan dirinya seperti juga masuk ke dalam jurang
es dan giginya bercakrukan. Ia lirik Chena dan gadis itu juga ternyata gemetaran sekujur
badannya lantaran kedinginan.
Pengtjoan Thianlie berkata sembari tertawa; "Aku lupa kalian belum dapat lawan hawa ini.
Biarlah kalian menahan buat sementara waktu."
Mendadak, bagaikan kilat jerijinya menotok batang lehernya Thian Oe.
Thian Oe terperanjat, sebab begitu kena, ia rasakan seperti juga kena listrik dan sekujur
badan jadi kesemutan. Tapi di lain saat, semacam hawa panas naik dari tantian (bagian
pusar) dan mengalir di seluruh badannya. Ia rasakan jantung mengetok keras dan
darahnya mengalir lebih deras, seperti orang habis lari keras. Di luar hawa sangat dingin,
tapi badan berasa panas. Chena juga sudah mendapat totokan begitu. Ia sudah tidak
gemetaran dan kedua pipinya bersemu merah.
Thian Oe pernah dengar penuturan gurunya, bahwa orang yang mempunyai lweekang
(ilmu dalam) sangat tinggi, bukan saja dapat membinasakan manusia dengan totokannya,
tapi juga bisa mengobati penyakit dengan totokan itu. Waktu mendengar itu, ia anggap
penuturan tersebut seperti cerita dongeng. Tapi sekarang, sesudah mengalami sendiri,
barulah ia percaya, bahwa dalam dunia benar-benar ada kepandaian yang sedemikian
tinggi.
"Thianlie tjietjie, apakah mereka menggunakan pedang es?" tanya Chena. Ia menanya
begitu sebab sudah pernah lihat Pengtjoan Thianlie robohkan Loei Tjin Tjoe dengan

sebatang pedang es. Thian Oe juga sebenarnya ingin majukan pertanyaan begitu, maka
itu, ia sangat perhatikan jawabannya Pengtjoan Thianlie.
"Ah, manalah mereka mempunyai kepandaian begitu tinggi?" jawab Pengtjoan Thianlie
sembari tertawa. "Pedang mereka adalah buatanku sendiri yang diberi nama Pengpok
Hankong kiam (Pedang Roh Es Sinar Dingin). Pedang tersebut dibuat dari Oen-giok (Batu
kemala hangat) yang sudah ribuan tahun tuanya dan merupakan keluaran istimewa dari
gunung ini. Batu kemala tersebut, yang ribuan tahun teruruk es, harus diolah tiga tahun
lamanya barulah menjadi pedang yang demikian. Ituiah sebabnya kenapa kalau
digerakkan, pedang tersebut lantas keluarkan hawa dingin yang sangat hebat. Orang
yang belum mempelajari Iweekang yang tinggi tidak bisa tahan hawa itu."
Melihat sinar dan merasa hawanya sembilan batang pedang itu, si pendeta jubah merah
juga kelihatannya sangat terkejut. Tapi berkat lweekangnya, ia tidak takuti hawa itu.
Sembilan batang pedang yang bagian kepalanya bersambung dengan bagian buntut,
segera merupakan satu jala yang bersinar terang dan yang dengan perlahan menjadi
semakin ciut.
Pendeta jubah merah tak dapat menahan sabar lagi. Dengan pukulan Lekhoa hongkouw
(Dengan tenaga menggurat perbatasan), sianthung-nya mendorong keluar. Dengan
beberapa suara kerontangan, empat batang pedang beradu dengan tongkat itu. Melihat
tongkatnya yang mempunyai tenaga ribuan kati, kena ditahan oleh empat dayang itu,
hatinya si pendeta merasa heran. Berbareng dengan itu, empat pedang dari garisan
belakang, menikam bagaikan kilat cepatnya. Sembari berkelit, si pendeta sampok pedang
yang datang dari belakang dan pentil miring pedang yang datang dari sebelah depan.
Tapi dua pedang dari kiri dan kanan sudah menyambar ke badannya!
"Bagus!" berseru Thian Oe.
"Anak-anak, awas!" Pengtjoan Thianlie berteriak hampir berbareng.
Pada detik itu, ke empat dayang kelihatan loncat dengan berbareng, sedang si pendeta,
sembari membentak keras, menyerang seperti hujan angin dengan tangan dan
sianthung-nya.
Ternyata, dengan mahir dalam ilmu Yoga, ototnya si pendeta dapat berobah-robah
menurut sukanya. Pada waktu pedangnya nempel pada jubahnya si pendeta, kedua
dayang yang menyerang dari kiri dan kanan mendadak rasakan ujung pedang mereka
terpeleset, sebab otot pundaknya si pendeta mendadak berubah bentuknya dan jadi lebih
besar beberapa dim.
Berbareng dengan itu, si pendeta lalu menyerang dengan tongkat dan tangannya sembari
kerahkan tenaga dalamnya.
Si pendeta sama sekali tidak duga, dayang-dayang itu mempunyai ilmu entengi badan
begitu tinggi. Begitu tongkatnya menyambar, mereka sudah menghilang ke empat
penjuru seperti cecapung menotol air atau kupu-kupu berterbangan di antara bungabunga, sebentar ke kiri sebentar ke kanan, sebentar berkumpul sebentar berpencaran.
Beberapa kali ia kirim pukulanpukulan hebat, tapi semuanya jatuh di tempat kosong, dan
tanpa merasa, ia sendirilah yang berbalik kena dikepung di sama tengah.
Dengan perasaan sangat berdongkol, ia lalu bersila di atas tanah dengan niatan
menggunakan ilmu yang tadi ia gunakan terhadap Thiekoay sian. Akan tetapi, melayani
sembilan orang sangat berbeda dengan melawan satu orang. Sembilan dayang itu
bergerak tak hentinya dan tikamantikaman pedang mereka selalu ditujukan ke arah
jalanan darah yang berbahaya. Oleh karena ilmu Yoga si pendeta belum sampai pada
puncaknya, maka adalah sangat sukar buat ia menutup semua jalanan darahnya dan

berbareng meladeni sembilan lawanan itu. Demikianlah, menghadapi serangan yang


bertubi-tubi, sesudah bersila sementara waktu, ia terpaksa loncat bangun lagi sembari
putar tongkatnya. Sesudah bertempur beberapa gebrakan, ia bersila lagi, akan kemudian
loncat bangun kembali. Kejadian itu terulang sampai beberapa kali, sehingga kelihatannya
lucu sekali sampai Thian Oe yang tak tahan buat tidak tertawa berkakakan.
Bukan main gusarnya si pendeta mendengar hinaan itu. "Biar aku lukakan dua orang lebih
dahulu," kata ia dalam hatinya sembari loncat bangun dan putar tongkatnya. Ia
mengamuk seperti kerbau gila, seakan-akan sudah tidak pcrdulikan lagi keselamatannya
sendiri dan turunkan tangannya tanpa sungkan-sungkan lagi. Disurung dengan hawa
amarah, bukan main hebat pukulan-pukulan tongkatnya, sehingga sembilan dayang itu
tidak berani menyambut lagi dan cuma berkelit ke sana-sini. Melihat begitu, Thian Oe jadi
terkejut. "Kalau terus begini, satu dua orang tentu akan kena terpukul," kata ia dalam
hatinya.
Tapi Pengtjoan Thianlie tetap tenang dan pada bibirnya terus tersungging meseman yang
manis.
Mendadakan, satu perobahan terlihat dalam barisannya sembilan dayang itu. Sekarang
mereka berlari-lari di empat penjuru, sebentar berkumpul sebentar berpencaran, dan
gunakan batu-batu hiasan taman sebagai tameng mereka. Barisan itu berobah-robah
bentuknya tak henti-hentinya, sehingga matanya orang yang menyaksikan jadi
kekunangan. Dengan gerak-gerakannya yang seperti kilat, itu sembilan dayang berobah
seperti ratusan orang, dengan selendang suteranya yang berkibar-kibar dan pakaiannya
berkelebat-kelebat, sehingga dalam taman itu seperti juga sedang dipertunjukan tarian
"Bidadari Menyebar Bunga."
Thickoay sian sebenarnya sedang bersila sembari meramkan mata dan jalankan
pernapasannya. Dengan adanya perobahan itu, ia buka kedua matanya dan hatinya
merasa sangat heran. Ia heran oleh karena barisannya sembilan dayang itu ada miripmirip dengan barisan Pattintouw dari Tjoekat Boehouw (Tjoekat Boehouw adalah Tjoekat
Liang atau Khong Beng, koensoe Lauw Pie dari jaman Samkok). Cuma mirip dan tidak
seluruhnya bersamaan dengan Pattintouw. Kedudukannya delapan dayang adalah sesuai
dengan kedudukan delapan pintu, yaitu Hioe, Seng, Siang, Touw, Sie, Keng, Kheng dan
Kay. Delapan pintu ini saling bantu satu sama lainnya. Perbedaan dengan Pattintouw
adalah kelebihan satu orang dalam barisan itu. Dayang yang ke sembilan tidak ikut
bergerak. Ia menjaga di sama tengah dan seperti juga otaknya barisan itu.
Si pendeta juga rupanya mendapat lihat kedudukannya barisan itu, maka ia terus cecar
dayang yang berdiri di tengah buat coba menjatuhkannya. Tapi barisan itu berobah luar
biasa cepatnya. Begitu ia bergerak ke timur, musuh yang di sebelah barat lantas meluruk.
Begitu ia ke barat, pedang dari sebelah timur dan selatan lantas menyambar.
Biar bagaimanapun juga, ilmu silatnya si pendeta memang ada sangat tinggi. Tanpa
mengenal barisan itu, ia terus mengamuk dan tongkatnya sapu segala apa yang
menghadang di tengah jalan, sehingga banyak gunung-gunungan dan batu-batu hiasan
taman jadi hancur lebur.
Pengtjoan Thianlie kerutkan kedua alisnya dan paras mukanya jadi berobah. Di lain saat,
dayang yang menjadi kepala kedengaran membentak: "Kau benar keterlaluan! Keindahan
taman ini sampai menjadi rusak." Sehabis membentak, ia mementil dengan dua jerijinya
dan beberapa sinar terang menyambar ke arah pendeta itu.
"Senjata rahasia mana bisa celakakan aku?" kata si pendeta sembari tertawa dan lalu
putar tongkatnya seperti titiran. Senjata rahasia itu, yang masing-masing sebesar
mutiara, terus menyambar-nyambar dan jadi hancur lantaran sampokannya tongkat. Dan

dalam kehancurannya itu, sinar dan hawa yang sangat dingin menyambar-nyambar,
sehingga si pendeta sendiri sampai bergidik.
Di atas puncak gunung dari Telaga Thian-ouw terdapat semacam es yang ribuan tahun
tak pernah lumer. "Jantung"-nya es itulah yang diambil oleh Pengtjoan Thianlie dan diolah
menjadi serupa senjata rahasia yang tidak ada keduanya dalam dunia dan diberi nama
Pengpok Sintan (Peluru malaikat roh-nya es). Dalam pembuatan lain-lain senjata rahasia
di muka bumi, tak perduli senjata rahasia buat lukakan musuh atau buat memukul jalanan
darah, yang diperhatikan adalah kejituannya dan ketajamannya senjata rahasia tersebut.
Cuma Pengpok Sintan yang lain dari yang lain. Yang diandalkan adalah hawa dinginnya
yang sangat luar biasa. Begitu lekas senjata rahasia itu tersampok, keluarlah hawa dingin
yang menusuk ke tulang-tulang dan hebatnya bukan buatan.
Dengan tenaga dalam yang dipunyai olehnya, si pendeta sebenarnya masih dapat
melawan hawa dingin itu. Cuma saja, lantaran mesti layani serangannya sembilan musuh,
ia tak dapat pusatkan perhatiannya buat kerahkan tenaga dalamnya. Di sebelahnya itu,
lantaran Pengpok Hankong kiam juga adalah senjata yang mengeluarkan hawa dingin,
maka hawa dingin itu makin lama jadi makin hebat, sehingga badannya si pendeta jadi
gemetaran dan giginya bercakrukan. Bagaikan orang edan, ia terus mengamuk. Dari
jidatnya keringat turun berketel-ketel, tapi badannya tetap gemetaran.
Pengtjoan Thianlie mesem dan berkata pada Chena: "Dia anggap dengan gunakan tenaga
Iweekeh, dia bisa keluarkan hawa panas buat melawan hawa dingin itu. Tapi dia tak tahu,
dengan demikian, dingin dan panas jadi berkelahi dan bisa mencelakakan. Ini kali, biarpun
tidak menjadi mati, rasanya dia bakal sakit keras beberapa hari."
Thian Oe yang hatinya sangat mulia lantas saja berkata: "Kalau begitu, ampuni sajalah
ia."
"Kau mintakan ampun?" kata Chena sembari melirik. Pengtjoan Thianlie tidak berkata
apa-apa dan cuma mesem.
Semakin lama pendeta itu kelihatan semakin lelah. Sesudah bertempur lagi beberapa
lama, dayang yang menjadi pemimpin membentak: "Robohlah!" Ia ayun tangannya dan
sebutir peluru kembali menyambar. Jantungnya si pendeta gemetar, kedua kakinya lemas,
kepalanya terputar dan badannya bergoyang-goyang seperti mau jatuh.
"Berhenti!" Pengtjoan Thianlie membentak.
Di lain saat, sembilan dayang itu sudah tarik pulang pedangnya dan berdiri berbaris di
kedua pinggirnya Pengtjoan Thianlie.
Mukanya si pendeta jadi seperti kepiting direbus. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia
tarik napas panjang beberapa kali, memberi hormat kepada Pengtjoan Thianlie dan lantas
lari keluar dari keraton es. Kedua boesoe Nepal juga lalu memberi hormat dan dengan
paras muka ketakutan lalu mengikut di belakangnya si pendeta. Dalam sekejap, keadaan
kembali menjadi sunyi.
"Dengan dapat menerobos masuk kedalam keraton, kepandaiannya orang itu tidaklah
rendah," berkata Chena sembari tertawa.
"Tak bakal ada orang kedua yang bisa masuk secara begitu," kata Pengtjoan Thianlie.
"Sebenarnya akulah yang sengaja membiarkan dia masuk. Kalau bukannya begitu,
walaupun dia bisa menyebrangi sungai es, tak nanti dia dapat tembus barisan Kioethian
Hianlie (Dewi sembilan lapisan langit)."

Mendengar omongan temberang itu, Thiekoay sian tertawa dalam hatinya. "Kalau begitu,
ia merobah sedikit Pattintouw Tjoekat Boehouw dan ganti namanya," kata Thiekoay sian
dalam hatinya. "Liehay memang cukup liehay, tapi kalau mau dibilang barisan itu dapat
menahan semua orang pandai dalam dunia, rasanya terlalu terkebur."
Thiekoay sian adalah murid kepala Kam Hong Tie dan pengalamannya luas sekali. Ia
yakin, bahwa kepandaian manusia tak ada batasnya dan di luar langit masih terdapat
langit. Maka itu, ia tidak sependapat dengan temberangnya Pengtjoan Thianlie.
Sementara itu, Pengtjoan Thianlie berpaling kepada Thiekoay sian dan bibirnya bergerak
seperti orang mau bicara. Tapi lantaran lihat mukanya Thiekoay sian yang sangat pucat,
ia urungkan niatannya dan lantas jalan menghampiri.
"Dia menghaturkan banyak terima kasih buat budimu," berkata Tjia In Tjin. "Tapi sekarang
dia belum bisa jalan, maka aku mohon kau suka kirim dua dayang buat antar dia turun
gunung."
Pengtjoan Thianlie awasi mukanya Thiekoay sian dan kemudian berkata: "Masih untung
kau cuma jalankan 96 jurus Hokmo Tianghoat. Kalau kau jalankan habis 108 jurus, biarpun
diberi obat dewa, tidak nanti kau dapat pulang tenagamu yang sediakala. Sekarang
benar-benar kau tidak boleh berangkat."
"Apa?" Tjia In Tjin menegasi dengan suara kaget.
"Tak apa-apa," sahut yang ditanya dengan suara tawar. "Cuma lantaran gunakan tenaga
melewati batas, jalanan darahnya jadi kalang kabut dan isi perutnya bergerak. Kalau ia
turun gunung juga, begitu kena goncangan di sungai es, walaupun tidak sampai menjadi
mati, rasanya ia akan bercacat seumur hidup dan tidak akan bisa jalan lagi, meskipun
memakai tongkat. Berkat tenaga dalamnya yang sangat kuat, dengan mengasoh lima hari
dan ditambah sama obat, aku rasa ia akan jadi sembuh kembali. Baiklah aku beri tempo
lima hari lagi." Ia lantas gapekan satu dayang dan memberi perintah: "Bereskan satu
kamar supaya ia bisa atur pernapasannya --siapapun tak boleh ganggu padanya. Dan
juga pinjamkan Oen-giok padanya."
Sesudah memesan begitu, ia berpaling pada Tjia In Tjin dan berkata sembari tertawa:
"Kali ini "menyimpang dari kebiasaan, aku permisikan kalian berdiam lima hari lagi.
Sesudah lewat lima hari, kalian boleh turun gunung dengan tak usah pamitan!"
Mendengar perkataannya Pengtjoan Thianlie, Tjia In Tjin merasa sangat terkejut, sebab ia
tidak duga, suaminya mendapat luka di dalam yang begitu berat. Di satu pihak sikapnya
Pengtjoan Thianlie seperti juga kurang mempunyai perasaan kemanusiaan, akan tetapi di
lain pihak, ia rela meminjamkan mustika Oen-giok buat mengobati suaminya, satu
pertolongan yang penuh pri kemanusiaan.
Maka itulah, perkataan-perkataannya Pengtjoan Thianlie membikin Thiekoay sian suami
isteri tak tahu mesti menangis atau tertawa. Perasaan berdongkol dan berterima kasih
tercampur menjadi satu.
"Kau boleh rawat ia, dan kalau tidak ada urusan penting jangan cari padaku," kata lagi
Pengtjoan Thianlie yang lantas saja berlalu dengan dayang-dayangnya.
Dahulu, sifatnya Tjia In Tjin juga sombong dan dingin. Sesudah mendapat banyak
pengalaman pahit getir, ia berobah banyak, akan tetapi toh ia masih tak dapat menelan
kesombongan orang yang ditujukan kepadanya. Tidak dinyana, kali ini sesudah melalui
perjalanan laksaan li, ia sudah mendapat perlakuan sedemikian, cuma lantaran
membujuk supaya Pengtjoan Thianlie suka turun gunung. Semakin diingat, ia jadi semakin
mendeluh dan hampir-hampir saja ia keluarkan perkataan perkataan keras buat

menimpali. Cuma saja, walaupun Pengtjoan Thianlie sepuluh kali lipat lebih angkuh dari
ianya, keangkuhan itu keluar dengan sewajarnya. Sikapnya yang agung tanpa dibuat-buat
membikin orang jadi tidak berani banyak rewel terhadapnya. Tjia In Tjin coba tahan
perasaan mendeluhnya yang malang di tengah uluhatinya, dan beberapa saat kemudian
dengan satu suara "wah!", ia muntahkan cairan pahit yang naik dari kantong nasinya.
"Soenio (isteri dari guru), kau kenapa?" tanya Thian Oe dengan perasaan kaget. Mukanya
Tjia In Tjin pucat, disusul dengan semu merah. "Anak kecil jangan campur urusan lain
orang," kata ia sembari kebaskan tangannya dan lalu ajak sang dayang tuntun Thiekoay
sian pergi ke kamar buat mengasoh.
Dengan rasa masgul Thian Oe berdiri bengong.
"Sesudah repot setengah malaman, kau pun harus mengasoh," kata Chena. "Besok aku
akan ajak kau jalan-jalan buat saksikan pemandangan-pemandangan luar biasa dalam
keraton." Sehabis berkata begitu, ia lantas berlalu.
Thian Oe awasi belakangnya si nona, yang semakin lama jadi semakin jauh dan akhirnya
menghilang di antara pohon-pohon kembang. Ia ingat, lima hari lagi ia toh bakal turun
gunung juga, dan berhubung dengan kekeliruan gurunya terhadap Pengtjoan Thianlie,
mulai waktu itu ia tidak akan dapat bertemu lagi. Mengingat begitu, hatinya jadi semakin
masgul.
Pada besokan paginya, begitu mcndusin ia melongok keluar jendela dan kedua matanya
kembali saksikan pemandangan luar biasa. Di bawah sorotnya matahari, keraton es yang
terang benderang mengeluarkan cahaya aneka warna, sehingga Thian Oe merasa
seakan-akan berada dalam dunia dongengan. Tidak lama kemudian, sang dayang
antarkan makanan pagi yang terdiri dari dua buah merah yang sangat besar. Dua buah itu
bukan saja rasanya manis, tapi baunya pun harum sekali.
Sebagaimana telah dijanjikan, Chena menyamper dan ajak ia keluar jalan-jalan. Sesudah
berdiam di keraton es, walaupun pada sinar matanya masih terdapat sorot kesedihan,
Chena sudah banyak lebih gembira. Ia jalan perlahan-lahan sembari omong-omong dan
tertawa-tawa, seperti juga pohon yang sudah dapat hawanya musim semi yang
menyegarkan.
Adalah sukar buat melukiskan pemandangan-pemandangan indah permai di sekitar
keraton itu. Pendopo-pendopo yang mungil, jalanan-jalanan bulat-belit yang terawat baik,
jendela-jendela dengan macam-macam ukiran, gunung-gunungan dan batu-batu
perhiasan yang hampir semuanya terbuat dari kristal, beberapa air mancur yang tersebar
di seluruh taman, solokansolokan dan empang-empang yang airnya jernih bagaikan kaca.
"Air pengempang dan solokan semuanya ditarik naik dari Thian-ouw, makanya jernih luar
biasa," kata Chena. "Aku paling suka minum air itu."
Buat memperlengkap keindahan disitu, di seluruh taman penuh dengan pohon-pohon
bebuahan dan pohon-pohon kembang yang menyiarkan bebauan sangat harum. "Tempat
ini seperti juga tempat dewa-dewa, maka tidaklah heran kalau Pengtjoan Thianlie sungkan
turun gunung," kata Thian Oe sembari tertawa.
Demikianlah mereka pesiar ke sana-sini dan kalau merasa lapar mereka petik buah-buah
matang buat tangsel perut. Oleh karena luasnya, sesudah jalan setengah harian mereka
belum juga dapat putari habis seluruh wilayah keraton itu.
Selagi enak jalan, hidungnya Thian Oe mendadak dapat endus bebauan yang sangat luar
biasa, harumnya melebihi bunga yang paling harum, tapi bagaimana harumnya, tak
mungkin dapat dilukiskan. Thian Oe segera cepatkan tindakannya dan menuju ke arah

keluarnya wewangian itu. Beberapa saat kemudian, matanya dapat lihat sebuah
bangunan yang sangat berbedaan dengan semua gedung yang berada disitu. Bangunan
tersebut berbentuk gereja yang atapnya lancip, dan kalau lain-lain bangunan semuanya
terbuat dari kristal, marmer atau es yang keras, adalah bangunan itu berwarna hitam,
sehingga kelihatan menyolok sekali. Wewangian yang luar biasa itu ternyata keluar dari
rumah tersebut.
Dengan perasaan heran Thian Oe coba menolak pintunya. Parasnya Chena berobah
dengan mendadak dan buru-buru mencegah. "Waktu aku berdiam disini pertama kali,
Thianlie tjietjie pernah memesan, bahwa aku boleh pergi kemana juga, cuma ke dalam
rumah itu aku tidak boleh masuk," kata Chena dengan suara berbisik.
"Kenapa?" tanya Thian Oe.
"Siapa tahu?" kata Chena.
"Menurut katanya para dayang, saban malam Tje-it (Tanggal 1 penanggalan Imlek, bulan
gelap), ia pergi sendirian ke dalam rumah itu, dimana ia berdiam kira-kira satu jam
lamanya. Apa yang ia lakukan, tak ada yang berani menanya. Dari dayang-dayang itu aku
mendapat tahu, bahwa rumah itu terbuat dari semacam kayu garu, yang kalau dibakar,
baunya yang harum bisa diendus dari tempat belasan li jauhnya."
Mendengar penuturan itu, hatinya Thian Oe jadi lebih-lebih heran lagi.
Malam itu, Thian Oe tidak dapat tidur lantaran tidak dapat melupakan rumah yang penuh
tekateki itu. Dalam layap-layap ia masuk ke dalam dunia impian, la mengimpi lihat
Pengtjoan Thianlie pasang hio dan bersembahyang dalam rumah itu, dengan di dampingi
oleh Chena. Setahu bagaimana, ia sendiri juga berada dalam rumah tersebut. Mendadak
Pengtjoan Thianlie cabut sebatang pedang yang sinarnya bergemilapan dan tikam
uluhatinya. Rambutnya Pengtjoan Thianlie mendadak berobah jadi ular terbang yang tak
dapat dihitung berapa banyaknya dan terbang menyambar ke arah dirinya. Chena
keluarkan teriakan kaget dan rumah itu mendadak roboh, dengan sebatang balok
wuwungan menindih dirinya sendiri. Dalam mengimpinya Thian Oe berteriak-teriak dan
berontak-rontak.
"Jangan ngigo! Bangun, hayo bangun!" mendadak ia dengar suaranya satu wanita di
kupingnya. Thian Oe sadar. Ia buka kedua matanya dan ternyata Chena berdiri di
hadapannya.
"Hayo, bangun!" kata si nona sembari goyang-goyang badannya. "Seorang aneh kembali
masuk ke dalam keraton es tanpa permisi!"
Begitu mendengar, Thian Oe hilang ngantuknya. Ada orang lagi! "Apa dia sudah bisa
seberangi sungai es dan terobos barisan Kioethian Hianlie yang dipasang di sebelah luar?"
tanya Thian Oe.
"Kalau bukan sudah menerobos barisan itu, cara bagaimana ia bisa sampai di keraton
es?" jawab Chena. "Sekarang lonceng pertandaan bahaya sudah dipukul dan Thianlie
tjiitjie segera juga akan keluar!"
Thian Oe buru-buru pakai baju luarnya dan ikut Chena berlari-lari keluar. Sembilan dayang
yang kemarin sudah mengambil masing-masing kedudukannya dan seorang pemuda
yang memakai baju putih berada di tengah-tengah mereka. Waktu itu mereka belum
bergebrak. Begitu lihat, Thian Oe keluarkan teriakan tertahan.
"Kenapa?" tanya Chena.

"Aku kenal orang itu!" jawabnya.


Si pemuda baju putih juga rupanya sudah lihat Thian Oe, sebab ia lantas menengok
sembari mesem. Orang itu bukan lain daripada si anak sekolah yang pernah tolong
jiwanya Siauw Tjeng Hong dengan jarum emas dan yang pernah bikin repot Bek Tayhiap
dan yang lain-lain di kota Shigatse.
"Siapa ia?" tanya lagi Chena.
"Aku tak tahu namanya," jawab Thian Oe. "Tapi ia pernah tolong jiwanya guruku. Aku rasa
ia adalah seorang baik."
"Wah, celaka!" kata Chena. "Menurut dayang-dayang, Thianlie tjietjie merasa sangat
gusar dan mengatakan, bahwa orang itu harus diajar adat sekeras-kerasnya. Tanpa
memberi hajaran keras, keraton es bisa-bisa tidak aman lagi. Garisan pertahanan keraton
es, semakin ke belakang, semakin kuat. Ini dayang-dayang keraton sangat tinggi ilmu
silatnya. Aku kuatir, kalau toh tidak sampai mati, orang itu akan luka berat!"
Sembilan dayang itu lantas cabut pedangnya, tapi mendadak hentikan gerakannya.
Keadaan jadi sunyi senyap, sehingga kalau sebatang jarum jatuh di atas tanah, suaranya
akan bisa terdengar nyata. Thian Oe menoleh dan lihat Pengtjoan Thianlie sudah berjalan
keluar dengan paras muka yang penuh kegusaran.
Begitu lihat si pemuda, ia keluarkan satu seruan perlahan. Sikapnya lantas berobah,
seperti orang yang sedang merasa heran. Pengtjoan Thianlie tadinya kira, bahwa orang
yang datang adalah sebangsa pendeta jubah merah. Tapi tidak terduga, yang ia
ketemukan adalah seorang pemuda Han yang parasnya cakap sekali.
"Tanpa latihan puluhan tahun, tak gampang-gampang orang bisa lewati sungai es dan
terobos barisan depan," pikir ia dalam hatinya. "Apakah pemuda ini yang usianya
sepantaran denganku mempunyai kepandaian yang lebih tinggi dari si pendeta jubah
merah?"
Dua pasang mata lantas kebentrok. Pemuda baju putih itu tertawa dan menanya: "Apa
kau ini majikan dari keraton es? Kenapa kau begitu lambat menyambut tetamu?"
"Siapa kau?" Pengtjoan Thianlie balas tanya. "Ada urusan apa kau datang disini?"
"Jika aku menyebutkan namaku, kau tentu akan terlebih tidak sungkan-sungkan lagi
terhadapku," kata pemuda itu. "Biar bagaimana juga, lambat laun aku harus
memberitahukan, asal saja kau suka luluskan satu permintaanku."
"Permintaan apa?" tanya Pengtjoan Thianlie.
"Apa kau tahu halnya guci emas?" si pemuda balas tanya.
Pengtjoan Thianlie kerutkan kedua alisnya. "Ah, lagi-lagi guci emas!" katanya. "Benar
menyebalkan. Apakah kau mau minta aku turun gunung buat rampas guci emas itu?
Kalian bermusuhan sama bangsa Boan, sama aku tak ada sangkut pautnya."
"Kau menebak salah," kata si pemuda sembari mesem. "Aku mau minta kau turun
gunung, justru buat melindungi guci emas itu! Orang Nepal mau rampas guci itu.
Beberapa hiapkek tolol, seperti sebangsa Thiekoay sian, juga ingin merampas. Dengan
sendirian saja, aku repot. Maka itu, kau mestilah turun gunung buat membantu!"
Caranya si pemuda seperti juga sedang minta bantuan dengan satu sahabat karib, yang
seolaholah tidak boleh tidak meluluskan. Pengtjoan Thianlie merasa gusar sekali,

sehingga kedua alisnya berdiri. "Dengan memiliki ilmu silat seperti sekarang, boleh
dibilang kepandaianmu sudah lumayan. Lekas berlalu, supaya kau tidak, menyesal," kata
Pengtjoan Thianlie sembari kebaskan tangannya. Bahwa ia tidak lantas memberi perintah
kepada sembilan dayangnya buat mengusir dengan kekerasan, Pengtjoan Thianlie
sebenarnya sudah berlaku sungkan sekali.
Tapi, sebaliknya dari mundur, pemuda itu malahan maju setindak dan pada kedua
bibirnya terus tersungging senyuman. "Apa? Apakah kau tak sudi memberi muka
padaku?" tanya ia.
Pengtjoan Thianlie berobah parasnya. Dayang yang jadi pemimpin lantas saja
membentak: "Kau benar tak mengenal kesopanan? Apa benar-benar kau mau kami
mengusir dengan kekerasan?"
Si pemuda berbangkes dan berkata sembari tertawa: "Naik gampang, turun sukar. Hari ini
aku sudah capai sekali dan ingin tidur sebentaran!"
Sang dayang tepuk kedua tangannya dan barisan itu segera mulai bergerak. Delapan
batang pedang yang hawanya dingin lantas saja menyambar bagaikan kilat.
"Dingin! Dingin! Ah, hilanglah perasaan ngantukku!" berseru si pemuda yang badannya
lantas saja berkelebat-kelebat di antara sinarnya pedang-pedang itu. Sebagaimana
diketahui, seranganserangannya barisan itu hebat sekali dan delapan pedang
menyambar-nyambar saling susul bagaikan gelombang. Sang pedang cepat, tapi si
pemuda lebih cepat lagi. Ujung pedang kelihatannya sudah menempel pada badannya, en
toh pada detik yang terakhir, ia selalu dapat mengegos dengan tepat sekali. Melihat
begitu, mau tak mau, Pengtjoan Thianlie jadi merasa kagum. Semakin lama serangan
delapan pedang jadi semakin seru dan badannya si pemuda seperti juga sudah dikurung
sinar pedang yang seperti jala.
Thian Oe amat berkuatir. "Chena tjietjie," berbisik ia. "Dapatkah kau menolong padaku
buat minta Pengtjoan Thianlie hentikan pertempuran?" Chena tidak menyahut. Ia cuma
gelenggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba si pemuda tertawa terbahak-bahak. "Ilmu pedang bagus! Sungguh bagus
sekali!" ia berseru. "Sekarang maafkan padaku."
Setahu bagaimana, selagi ia kelit delapan batang Pengpok Hankong kiam, tahu-tahu
tangannya sudah mencekal sebatang pedang panjang, yang mengeluarkan sinar
berkeredepan dan mengaung kapan dikebaskan. "Pedang bagus!" Pengtjoan Thianlie
berkata tanpa merasa.
Sesudah mengebas sekali, si pemuda membuat satu lingkaran bundar dengan pedangnya
dan di lain saat, dengan suara berkrontangan, pedangnya dua dayang sudah terbabat
putus! Semua dayang terkesiap dan lantas pada loncat mundur. Dengan kecepatan yang
tak dapat dilukiskan dan pengetahuan akan Pattintouw dari Tjoekat Boehouw, ia
menindak di pintu Hioe, biluk di pintu Kay, putari pintu Sie, injak pintu Seng dan lantas
balas menyerang. Di lain saat, pedangnya dayang yang menjaga pintu Keng dan pintu
Siang sudah terbabat putus.
Dayang yang menjaga di tengah-tengah lantas saja timpukkan Pengpok Sintan dengan
gerakan Thianli Sanhoa (Bidadari sebar kembang). Di tengah udara lantas saja penuh
dengan peluru yang seperti mutiara dan bersinar terang.
Si pemuda juga lantas ayun tangannya dan lepaskan senjata rahasianya. Pengpok Sintan
sudah luar biasa, tapi senjata rahasianya si pemuda lebih luar biasa lagi. Senjata rahasia

itu ada sedemikian halus, sehingga tak dapat dikenali dengan sang mata, dan yang
terlihat cuma sinar emas yang berkredep. Dalam tempo sekejapan, Pengpok Sintan sudah
tidak kelihatan lagi.
Pengtjoan Thianlie terkesiap sebab lihat tenaga dalam si pemuda yang luar biasa
besarnya. Senjata rahasia itu macamnya seperti rumput bong (rumput buat bikin kasut).
Begitu nempel, Pengpok Sintan lantas mental beberapa tombak dan jatuh di atas tanah!
Hatinya si nona jadi tergoncang, sebab ia mendadak ingat penuturan mendiang ayahnya
mengenai Thiansan Sinbong (Bong malaikat dari gunung Thiansan), semacam senjata
rahasia ahli-ahli pedang Thiansan, yang kalau dilepaskan mengeluarkan sinar merah yang
mengkredep. Mengingat begitu, pandangannya terhadap pemuda itu lantas jadi lain.
Di lain saat, badannya si pemuda mendadak terputar-putar seperti kilat. Para dayang
cuma merasa bayangannya berkelebat dan empat batang Pengpok Hankong kiam sudah
pindah ke dalam tangannya si pemuda!
Bukan main kagetnya Pengtjoan Thianlie. "Berhenti!" ia berseru. Dengan satu kelebatan,
si pemuda sudah berdiri tegak di luar barisan dan sembari tertawa ia mengawasi
Pengtjoan Thianlie. "Kenapa?" ia tanya.
"Tak apa-apa," jawabnya dengan tawar. "Perkataanku tak dapat dirobah lagi."
"Kalau begitu kau mau turun tangan sendiri buat mengusir aku?" tanya si pemuda.
"Benar," jawabnya. "Kau masuk dengan kekerasan, maka tuan rumah juga harus
mengusir dengan kekerasan."
"Tak ada yang lebih baik daripada itu," kata si pemuda sembari tertawa. "Aku jadi dapat
kesempatan buat tambah pengalaman dan saksikan Tatmo Kiamhoat yang sudah hilang
dari wilayah Tiongkok."
Ia sama sekali tidak keder menghadapi sorot matanya Pengtjoan Thianlie yang dingin.
Pada kedua bibirnya terus tersungging senyuman dan balas mengawasi dengan mata
tajam.
Thian Oe dan Chena duga Pengtjoan Thianlie akan segera turun tangan. Tapi tak dinyana,
sembari menyapu dengan matanya yang bagus, Pengtjoan Thianlie berkata: "Sesudah
menyebrangi sungai es dan bertempur lama, kau tentu lelah sekali. Maka itu biarlah
besok tengah hari kau datang lagi!"
Si pemuda memberi hormat dan berkata sembari tertawa: "Baiklah. Kalau kau perintah
aku datang lagi, aku tentu datang." Sesudah kasih masuk pedangnya ke dalam sarung, ia
putar badannya, tapi sebelum berjalan pergi, ia berkata pula sembari mesem: "Masih
boleh jugalah perlakuan itu terhadap seorang sahabat."
"Apa kau bilang?" tanya Pengtjoan Thianlie.
"Tak apa-apa," sahutnya. "Dalam dunia ini, memang ada manusia yang tidak tergerak
perasaannya biarpun ia bertemu dengan sahabat yang saling mengenal isi sang hati. Kau
hidup tanpa sahabat dalam keraton yang begini indah. Itulah yang dinamakan
kekurangan dalam serba kecukupan."
Mukanya Pengtjoan Thianlie bersemu merah. Perkataan itu kena betul pada uluhatinya.
Memang juga, sedari ayah dan ibunya meninggal dunia, tak ada seorangpun terhadap
siapa ia dapat tumpleki isi hatinya. Saban-saban bertemu dengan malam terang bulan,
mau tak mau ia merasakan juga satu kesepian.

"Kau terlalu rewel," kata Pengtjoan Thianlie. "Siapa suruh kau campur urusan lain orang?"
Sehabis berkata begitu, tanpa merasa ia melangkah beberapa tindak, mengikuti si
pemuda yang sedang naik ke atas jembatan yang terbentang di atas satu pengempang
teratai. Di sebelahnya pohon-pohon teratai yang sedang berbunga, atas empang itu
terdapat beberapa macam pohon air yang bunganya luar biasa dan menyiarkan bau
harum sekali. Di atas jembatan itu terdapat satu pendopo yang di kedua sampingnya
tergantung sepasang lian (toeilian) yang bunyinya seperti berikut:
Sinar rembulan, harumnya bunga
semua masuk impian. Keraton dewi,
ranggon indah sama-sama datangkan kedinginan.
"Perkataannya cukup bagus, cuma kurang cocok sama keadaannya," kata si pemuda
sembari tertawa. Ia tak tahu bahwa toeilian itu adalah buah kalamnya Pengtjoan Thianlie
sendiri. Moh Hoan Lian, neneknya Pengtjoan Thianlie, adalah satu tjaylie (wanita pintar)
yang tersohor namanya. Sebagai satu cucu yang mewarisi pelajaran keluarganya, sedari
kecil Koei Peng Go (Pengtjoan Thianlie) sudah belajar membuat syair, menabuh khim dan
main tiokie. Semua toeilian yang terdapat dalam keraton itu adalah buah kalamnya
sendiri. Lantaran begitu, tidaklah heran kalau ia jadi merasa berdongkol waktu dengar
celaannya si pemuda.
Ia maju lebih dekat dan menanya dengan suara menantang: "Kenapa tak cocok sama
keadaannya? Coba kau bilang?"
"Sinar rembulan dan harumnya bunga bisa diketemukan dimana juga," menerangkan
pemuda itu. "Keraton dewi dan ranggon indah juga cuma kata-kata yang melukiskan
keindahannya suatu gedung dan dapat digunakan di segala tempat. Maka itulah,
perkataan-perkataan tersebut tidak cukup melukisi pemandangan istimewa yang terdapat
disini. Apalagi, toeilian tersebut cuma melukis pemandangan dan tidak melukis manusia.
Itulah yang aku namakan satu cacat dalam keindahan."
Walaupun bersifat sangat angkuh, tapi Pengtjoan Thianlie adalah seorang gadis yang suci
bersih. Mendengar penjelasannya si pemuda yang beralasan, ia jadi mesem dan berkata:
"Kalau begitu, cobalah kau tolong bikinkan gantinya."
Baru saja si pemuda mau buka mulurnya, satu dayang menyeletuk: "Apakah kau tahu,
bahwa toeilian itu digubah berdasarkan namanya orang? Tak gampang mengubah itu."
"Jangan banyak bacot," membentak Pengtjoan Thianlie sembari lirik dayangnya. Sesudah
itu, ia berpaling kepada si pemuda dan berkata: "Cobalah kau sebutkan syairmu buat
gantikan sepasang lian itu, supaya aku dapat menimbang apa cocok dengan
pemandangan disini."
"Kalau begitu, baiklah aku mempersembahkan kebodohanku," kata si pemuda sembari
mesem dan lalu bersyair:
"Sinar bulan atas sungai es, dewi rembulan turun,
Bidadari menyebar bunga. Sang penyair datang."
Sehabis bersyair, ia tertawa dan berkata pula: "Walaupun kata-katanya tidak begitu
bagus, tapi sang manusia yang disebutkan dalam lian itu betul-betul cantik luar biasa,
sehingga aku rasa, toeilian ini bolehlah juga."

Hatinya Pengtjoan Thianlie bergoncang dan mukanya jadi bersemu dadu. Syair yang
disebutkan barusan bukan saja terdapat kata-kata "Pengtjoan Thianlie," tapi juga
menggenggam namanya sendiri, yaitu Peng Go. (Sungai es = Pengtjoan, Bidadari =
Thianlie, Es = Peng, yang kalau digabung dengan Go-Dewi rembulan --menjadi Peng Go).
Syair tersebut terang-terangan digubah untuk dirinya sendiri dan di dalamnya
menggenggam arti, bahwa si penyair mengagumi ia. Sinar rembulan di atas sungai es
adalah seperti sang dewi rembulan sudah turun ke muka bumi. Belakangan disebutkan,
bidadari sebarkan bunga, sehingga menyebabkan datangnya si penyair. Dengan berkata
begitu, si pemuda mau bilang, bahwa ia datang kesitu lantaran kagumi Pengtjoan
Thianlie. Akan tetapi, orang tidak dapat katakan ia memberi umpakan murah, sebab syair
itu memang sesuai dengan keadaannya. Maka itulah, diamdiam Koei Peng Go kagumi
kepintarannya pemuda itu.
"Nah, sekarang aku sudah persembahkan syairku," kata si pemuda sembari berpaling
kepada sang dayang. "Barusan kau bilang, lian ini dibuat berdasarkan nama orang. Nama
siapa? Apa boleh kau memberitahukan?" Dayang itu tidak menjawab, tapi tekap mulutnya
sambil tertawa.
"Biarlah aku saja yang memberitahukan," Pengtjoan Thianlie menyelak. "Kata-kata dalam
toeilian itu aku gubah berdasarkan namanya. Dalam taman ini ada dua belas
pemandangan istimewa. Di saban tempat ada toeilian dan setiap toeilian digubah
berdasarkan namanya dayangdayangku."
"Sinar rembulan, harumnya bunga semua masuk impian,
keraton dewi, ranggon indah sama-sama datangkan kedinginan,"
demikian si pemuda ulangi bunyinya toeilian itu dan kemudian berkata sambil menunjuk
si dayang: "Kalau begitu, namamu Goat Sian." (Rembulan = Goat, Dewi = Sian, kalau
digabung jadi satu ialah Goat Sian).
"Benar," sahut sang dayang sembari manggutkan kepala.
"Bagus," kata si pemuda, "Sekarang izinkan aku mempersembahkan lagi kebodohanku
dan mengubah sepasang lian untukmu." Ia mesem-mesem dan sambung omongannya:
"Aku ingat syairnya seorang dahulu kala. Biarlah aku pinjam syair itu untuk
mengubahnya. Dengarlah:
"Sinar bulan tiada cacatnya, jendela jodoh, pintu merah, setiap tahun dikitari.
Sang dewi patah hatinya, lautan blau, langit biru, saban malam dipikiri.
Demikian ia mengubah toeilian tersebut. Kalau perkataan "bulan" (goat) digabung sama
perkataan "dewi" (sian), jadilah Goat Sian, namanya dayang itu.
"Lautan blau, langit biru, saban malam dipikiri" adalah sebagian dari syairnya Lie Gie San
yang berbunyi seperti berikut:
"Sang bidadari menyesal sudah curi obat mustajab,
lautan blau, langit biru, saban malam dipikiri."
Dengan mengubah syair tersebut si pemuda ejek Pengtjoan Thianlie seperti satu bidadari,
yang dengan penuh kesunyian berdiam dalam keraton es seorang diri. Pengtjoan Thianlie
kerutkan kedua alisnya. Tanpa merasa, ia sudah mengikuti si pemuda menyeberangi

jembatan itu! Dengan main bersyair secara begitu, dimanalah adanya sifat permusuhan
antara mereka berdua?
Sesudah menyebrang jembatan, si pemuda lalu angkat kedua tangannya dan berkata
sembari tertawa: "Tak usah mengantar terlebih jauh dan tak usah kalian mengusir. Aku
sekarang mau pergi, besok tengah hari aku akan balik buat penuhi janji."
Mukanya Pengtjoan Thianlie kembali bersemu dadu. Si pemuda baju putih lalu pentang
kedua kakinya dan dalam sekejap sudah hilang dari pemandangan.
Sesudah sang tetamu berlalu, semua orang dalam keraton ramai bicarakan ia, antaranya
juga Tan Thian Oe. Ilmu silatnya si pemuda baju putih dan Pengtjoan Thianlie tak dapat
diukur bagaimana tingginya, maka besok tentulah juga bakal terjadi pertempuran yang
sangat hebat.
Pada esokan harinya, sebelum tengah hari, Chena sudah samper Thian Oe buat diajak
saksikan keramaian. Baru saja menginjak taman, kuping mereka sudah dengar suara
tetabuhan khim yang merdu sekali.
"Apakah khim itu dipentil oleh Thianlie tjietjie? Main khim pagi-pagi adalah diluar
kebiasaannya," kata Chena.
Mereka pasang kuping dan ternyata yang sedang diperdengarkan adalah lagu "Tjioelam"
dari Siekeng (Kitab Syair). Nyanyian dari lagu tersebut berbunyi kira-kira seperti berikut:
Di Selatan ada pohon tinggi, tapi
tak ada tempat meneduh.
Di Hankiang si cantik berenang,
tak mungkin dapat diubar.
Ibarat luasnya Sungai Hansoei,
jangan harap dapat
menyeberang.
Ibarat panjangnya Sungai Tiangkang,
jangan harap dapat diputari.
Syair itu melukiskan seorang gadis angkuh, yang hatinya tak dapat dicuri oleh lelaki mana
juga. Kata-kata yang digunakan dalam syair itu semuanya petunjuk yang samar-samar.
"Kenapa Pengtjoan Thianlie mainkan lagu itu?" tanya Thian Oe dalam hatinya. "Apakah ia
ibaratkan dirinya seperti itu gadis Hankiang? Memang juga, jika dibandingkan, Pengtjoan
(Sungai es) adalah lebih sukar diseberangi daripada Hankiang."
Ketika itu, matahari sudah berada di tengah-tengah langit dan suara khim mendadak
berhenti. Seluruh taman diliputi kesunyian dan semua orang berdebar hatinya, sebab saat
pertemuan antara Pengtjoan Thianlie dan si pemuda baju putih sudah tiba.
Mendadak dari kejauhan terdengar suara suling yang merdu sekali. Lagu itupun adalah
petikan dari Kitab Siekeng dan syairnya berbunyi kira-kira sebagai berikut:
Kembang putih putih, embun menjadi es.

Jiwa hatiku, berada di seberang. Melawan arus air, aku mencari ia, terputar-putar jauh
sekali.
Mengikuti arus air, aku mencari ia, terombang-ambing di tengah air yang tiada tepiannya.
Syair itu adalah syair percintaan yang melukiskan seorang lelaki sedang cari
kecintaannya, yang boleh dipandang, tapi tidak boleh dipegang, penuh dengan perasaan
cinta dan sedih dengan berbareng.
Begitu suara suling berhenti dalam taman sudah tambah satu orang lagi, yaitu si pemuda
baju putih, yang satu tangannya memegang suling batu kemala, sedang di pinggangnya
tergantung sebatang pedang panjang, sehingga ia kelihatannya jadi lebih cakap dan
angker.
"Nona pandai benar mementil khim, sehingga hampir-hampir aku lupa soal adu pedang,"
kata ia sembari pegang gagang pedangnya.
"Kau juga pandai meniup suling," sahut Pengtjoan Thianlie dengan suara tawar. "Ilmu
pedangmu tentulah juga lebih tinggi lagi, maka itu, lebih-lebih aku harus minta
pengajaranmu."
Diam-diam Thian Oe tertawa dalam hatinya. Yang satu pentil khim, yang lain tiup suling,
manalah seperti dua musuh yang mau bertempur?
"Kalau turut kemauanmu, bukankah itu terlalu gila?" kata si pemuda.
"Kau mau aku turun gunung, bukankah itu pun terlalu gila?" kata
Pengtjoan Thianlie. "Jika kau sungkan adu pedang, aku pun tidak memaksa. Pergilah,
disini bukan tempatmu."
Si pemuda baju putih geleng-gelengkan kepalanya dan berkata sembari tertawa: "Kecuali
adu pedang, apakah tidak ada lain jalan buat undang kau turun gunung? Baiklah, kita janji
saja begini: Jika aku kalah, aku tidak akan mengganggu lagi. Kalau kau kalah, kau harus
bantu aku melindungi guci emas itu."
Pengtjoan Thianlie kerutkan alisnya dan berkata: "Memang juga dalam dunia ini tak
hentinya manusia main rebut-rebutan, sehingga aku merasa mendeluh sekali. Baiklah,
cabut pedangmu." Didengar dari lagu omongannya, Pengtjoan Thianlie seolah-olah
merasa, bahwa dalam pertempuran sebentar, ia pasti menjadi pihak yang menang.
Sehabis berkata begitu, ia lantas cabut pedangnya yang lantas mengeluarkan sinar
berkilaukilauan dan hawa dingin yang sangat hebat. Pedangnya Pengtjoan Thianlie juga
adalah Pengpok Hankong kiam, tapi tidak sama dengan pedang yang digunakan oleh para
dayangnya. Pedang itu terbuat dari sarinya lima macam logam dan diolah di dalam gua
es dan umbul dingin. Thian Oe dan Chena sebenarnya sudah telan pel Liokyang wan yang
dapat menahan segala rupa hawa dingin, tapi toh mereka masih bergidik begitu lekas
pedang itu dicabut dari sarungnya.
Si pemuda bersikap tenang sekali, sembari mesem-mesem ia tarik keluar pedangnya
sendiri. Ia berdiri di sebelah bawah, ia berkata: "Silahkan!"
Pengtjoan Thianlie menuding dengan pedangnya yang bagaikan kilat, lantas saja
menyambar. Sebelum Thian Oc dapat melihat tegas, badannya si pemuda sudah ngapung
ke atas beberapa kaki tingginya, sedang Pengpok Hankong kiam lewat di bawah kakinya.
Tanpa merasa, Pengtjoan

Thianlie keluarkan satu seruan heran, sebab barusan ia sudah menyerang dengan
serangan Tatmo Kiamhoat yang sangat liehay. Satu serangan itu menuju ke arah tiga
jalanan darah musuh yang membinasakan, tapi tidak dinyana, serangan sehebat itu dapat
disingkirkan secara begitu gampang oleh si pemuda baju putih.
Hampir berbareng, dengan satu siulan panjang, si pemuda balas menyerang. Ia kirim dua
tikaman ke sebelah kiri, dua tikaman ke sebelah kanan dan satu tikaman di tengahtengah, setiap serangan di kirim dengan gerakan yang berbeda-beda. Dengan satu
teriakan "Bagus!", Pengpok Hankong kiam berkelebat-kelebat ke kiri kanan dengan
gerakan yang berobah-robah luar biasa cepat, dan di lain saat, pedang itu kembali
kelihatan menyambar lehernya si pemuda. "Sungguh indah Tatmo Kiamhoat!" berseru si
pemuda sembari tertawa dan dengan gampang ia sudah loloskan diri dari serangan
Pengtjoan Thianlie.
Pengtjoan Thianlie heran bukan main. Pemuda itu mengetahui kiamhoat-nya, akan tetapi,
ia sendiri tidak tahu, ilmu pedang apa yang sedang digunakan oleh pemuda tersebut.
Dengan demikian, kesombongannya lantas hilang beberapa bagian.
Si pemuda kembali keluarkan siulan panjang dan mulai menyerang secara hebat.
Pedangnya menyambar-nyambar seperti hujan angin, sehingga matanya orang yang
melihat menjadi kabur. Pengtjoan Thianlie jadi sengit. Cara bersilatnya mendadak berobah
dan di lain saat, bayangannya dan sinar pedang berkelebat-kelebat seperti titiran, seolaholah dalam taman itu muncul bayangannya puluhan Pengtjoan Thianlie.
"Dengan sesungguhnya Pengtjoan Thianlie bukan cuma mempunyai nama kosong," kata
si pemuda dalam hatinya dengan perasaan heran. "Ia ternyata sudah tambahkan banyak
pukulanpukulan luar biasa ke dalam Tatmo Kiamhoat." Memang juga, kedua orang tuanya
Pengtjoan Thianlie sudah tambahkan banyak pukulan heran-heran ke dalam Tatmo
Kiamhoat. Dengan gunakan ilmu pedang Tatmo sebagai dasar, kedua orang tua itu sudah
menambah dengan sarinya ilmu pedang di Tibet yang agak berlainan dengan ilmu
pedang dari Tiongkok asli.
Demikianlah kedua ahli pedang bertempur dengan luar biasa sengitnya. Masing-masing
keluarkan segala rupa ilmu simpanannya tanpa mendapat hasil. Menit lepas menit, jam
lepas jam, dari tengah hari mereka sudah berkelahi sampai hampir magrib, tapi keduaduanya masih tetap segar dan belum ada yang keteter.
Mendadak satu suara sangat nyaring akibat bentrokan kedua pedang, terdengar. Dengan
berbareng, mereka loncat mundur beberapa tindak dan masing-masing periksa
pedangnya yang ternyata sama kuatnya dan masih tetap utuh seperti biasa.
"Apakah hari ini kita boleh berhenti dahulu?" tanya si pemuda baju putih sembari tertawa.
"Hari ini belum dapat keputusan siapa menang, siapa kalah. Besok kau datang lagi,"
sahut Pengtjoan Thianlie.
"Hatiku merasa tidak tega," kata lagi si pemuda. "Dengan bertempur disini kita bikin
rusak pemandangan indah dari keratonmu."
Mendengar perkataan itu, para dayang baru memperhatikan itu gunung-gunungan dan
batubatu hiasan yang ternyata benar sudah banyak somplak lantaran tertabas pedang.
"Kita enak-enakan, adu pedang, batu-batu indah yang jadi korban. Sungguh sayang!" kata
si pemuda.

"Kalau begitu, sudahlah, jangan bertempur lagi," kata Pengtjoan Thianlie.


"Kau belum menangkan aku dan kau juga sungkan turun gunung. Habis bagaimanakah
baiknya?" kata si pemuda sembari mesem-mesem.
Pengtjoan Thianlie kerutkan alisnya. "Apa kau tidak bisa turun gunung sendiri?" kata ia
dengan suara tidak sabaran.
"Sebenarnya aku ingin sekali ikat tali persahabatan dengan kau," kata si pemuda.
"Sesudah turun gunung, cara bagaimana aku dapat menemui kau lagi? Di sebelahnya itu,
ketemu tandingan setimpal adalah salah satu kejadian paling menggembirakan dalam
penghidupan manusia. Sesudah turun gunung, cara bagaimana aku bisa cari lagi satu
tandingan seperti kau?"
"Habis bagaimana pendapatmu?" Pengtjoan Thianlie menanya tanpa merasa.
"Selama dua hari ini, kau jadi tuan rumah, sedang aku sebagai tetamu," sahut si pemuda.
"Walaupun perlakuanmu terhadap tetamu ada kurang sopan, akan tetapi aku merasa
berwajib undang kau satu kali. Maka pada besok tengah hari, aku undang kau datang ke
lembah es buat mendapat suatu keputusan. Disitu, biarpun andaikata kau tabas rata
Puncak Es, masih tidak ada halangannya. Dengan begitu, kita tak usah bertempur di
tempat ini dan merusak keindahan keratonmu."
Dengan berkata begitu, ia seperti mau bilang, bahwa hari itu, lantaran kuatir bikin rusak
keindahan keraton, ia belum keluarkan semua kepandaiannya.
Pengtjoan Thianlie mengerti maksud tersembunyi dari omongan si si pemuda. "Baiklah,
aku iringi Keinginanmu!" jawab ia dengan suara bcrdongkol. Begitu habis bicara, ia lantas
ingat, bahwa ia sekarang toh sudah kena juga dipancing keluar dari keratonnya!
Dengan sikap tenang, kedua matanya si pemuda mengawasi gunung-gunungan dan batubatu hiasan yang ada pada rusak akibat pertempuran. Mendadak ia tertawa dan berkata:
"Hiasan sebuah taman adalah ibarat pakaiannya seorang gadis, yang saban-saban harus
ditukar coraknya. Kerusakan ini ada juga baiknya supaya dapat dihias baru." Tanpa
perdulikan didengar atau tidak oleh Pengtjoan Thianlie, ia lantas saja bicara panjang lebar
mengenai cara-cara menghias taman.
Memang juga rencana menghias keraton disusun sendiri oleh Pengtjoan Thianlie yang
kemudian perintah dayang-dayangnya buat mengerjakannya. Mendengar perundingannya
si pemuda yang sangat menarik, dayang-dayang itu lantas pada mendekati dan
berkumpul di seputar ia. Pengtjoan Thianlie berdongkol bukan main, tapi ia merasa
kurang enak buat semprot dayang-dayangnya di hadapan orang luar.
Sesudah bicara beberapa lama, si pemuda mendadak membungkuk dan berkata: "Sayang
sekali kau tidak sudi menerima tetamu. Malam ini baiklah aku tidur lagi di bawahnya
Puncak Es!"
"Yah, pergilah!" kata Pengtjoan Thianlie dengan suara gusar.
"Terhadap sahabat, kau benar tak sungkan-sungkan lagi," kata si pemuda sembari
mesem. "Baiklah, aku pun merasa sangat capai dan ingin tidur. Sedang tuan rumah
sungkan menerima tetamu, aku pun paling baik jalan. Tapi besok, janganlah lupa
janjimu!"
Sehabis berkata begitu, ia berlalu dengan jalan perlahan-lahan, sedang mulutnya tak
hentinya bicarakan bunga-bunga dan pohon-pohon dalam taman itu. Sebentar ia

ceritakan cara menggunting daun-daun kembang ini, sebentar ia bentangkan cara


merawat pohon itu. Bicaranya bukan saja sangat menarik, tapi juga memperlihatkan satu
pengetahuan yang mendalam mengenai ilmu tumbuh-tumbuhan, sehingga para dayang
yang mendengari jadi bengong, dan tanpa merasa mereka ikuti pemuda itu, seperti juga
sedang mewakili sang majikan buat mengantar tetamu.
Pengtjoan Thianlie jadi sangat gusar. Ia menghampiri dengan niat panggil pulang
dayangdayangnya.
Mendadak si pemuda hentikan tindakannya di depan satu gerbang. Di belakangnya
gerbang itu terdapat beberapa puluh pohon anggrek hitam yang menyiarkan bau harum
sekali. "Pemandangan disini luar biasa bagusnya. Kenapa tidak dibuat toeilian?" kata si
pemuda sembari tertawa.
Pengtjoan Thianlie lirik padanya, tapi tidak berkata apa-apa. "Dalam dua hari memang
juga mau ditulis dan kemudian dicukil," sahut satu dayang. "Paduka Puteri bilang..."
"Jangan banyak bacot!" membentak sang majikan.
"Ah, kalau begitu belum ditulis beres," kata si pemuda. "Nama dayang mana yang kau
ingin gunakan buat toeilian itu?"
Kembali Pengtjoan Thianlie lirik padanya. "Aku lihat kau sudah kepengen sekali," ia
mendadak berkata. "Nah, coba kau tolong karangkan."
Si pemuda tertawa nyaring. "Baiklah," kata ia. "Lagi-lagi kau mau uji aku. Aku ini memang
tak tahu diri. Nah, biarlah aku coba persembahkan kebodohanku."
Satu dayang lantas menunjuk dan berkata: "Toeilian yang mau dibuat menggunakan
namanya. Ia bernama Hoei Kheng."
Si pemuda berpikir. Dua huruf itu, yang satu huruf "kosong", yang lain huruf "berisi",
benarbenar sukar di-toei (dipasangkan). Hoei Kheng adalah dayang yang biasanya
membantu Pengtjoan Thianlie mengambil kertas dan menggosok bak dalam kamar tulis,
sehingga sedikit banyak ia mengerti juga syair. "Tak bisa dapat?" ia tanya sembari
tertawa.
"Kalau dipaksa-paksa bisa juga," jawab si pemuda. "Gerbang ini sangat tinggi, maka perlu
dibikin toeilian yang agak panjang. Begini sajalah:
"Bakat kepintaran lebih berharga dari bunga anggrek. Yang bergoyang tertiup angin di
pegunungan kosong.
Rembulan benar terang, tapi sang hati berada dalam kesedihan.
Awan yang indah menyinari lautan perak.
Melayang-layang di selebar langit.
Pergi ke Yauwtie tiada jalanannya,
mundar-mandir (seperti awan) tiada juntrungannya."
Demikianlah huruf pertama "Kepintaran" (Hoei) dari syair yang kesatu ditimpali dengan
huruf pertama "Indah" (Kheng) dari syair yang kedua, sehingga dapatlah "Hoei Kheng"
atau namanya dayang itu.

Arti toeilian tersebut kembali mengenakan Pcngtjoan Thianlie. Si pemuda umpamakan ia


seperti lembah kosong dan anggrek yang sunyi dengan cuma sang rembulan yang
menjadi kawannya, sehingga menambahkan kesedihan.
Pengtjoan Thianlie tidak berkata apa-apa. Ia berdiri bengong seperti orang yang sedang
ngelamun.
Sembari menuding ke satu tempat, si dayang kembali berkata:" Eh, coba karang lagi buat
tempat itu. Kau harus gunakan namanya saudariku, Yoe Pcng." Tempat itu adalah satu
pendopo delapan pasegi yang berdiri di atas satu empang teratai, yang penuh dengan
pohon-pohon teratai dan rumput air yang dinamakan "peng".
"Huruf Yoe Peng juga satu kosong dan satu berisi, sehingga lebih-lebih sukar
dipasangkan," kata si pemuda sembari tertawa. "Baik juga pemandangan disitu dapat
dipinjam buat menggubahnya. Kau dengarlah:
"Lembah sunyi, gunung belukar. Sinar rembulan menindih lain-lain warna.
Batang peng (rumput), daun teratai.
Suara hujan menutup suara teratai."
Dengan begitu huruf Yoe (Sunyi) dipasangi dengan huruf Peng (namanya semacam
rumput).
Lembah sunyi, gunung belukar,
batang rumput (peng), daun teratai,
masing-masing sudah merupakan toei (pasangan). Perkataan yang di sebelah bawah, si
pemuda pinjam karangannya seorang penyair jaman dahulu yang berbunyi:
Yang ketinggalan hanya bunga teratai yang sudah rontok,
sambil mendengari jatuhnya sang hujan.
Dengan demikian, syair itu bukan saja cocok dengan pemandangannya, tapi juga
mengenakan dirinya Pengtjoan Thianlie. Si pemuda seolah-olah mau menyatakan
simpatinya kepada ia, yang dengan penuh kesunyian, bertempat tinggal dalam keraton
es. Hatinya si nona jadi tergoncang. Ia tidak kira, pemuda itu mempunyai kepandaian
sedemikian tinggi, baik dalam ilmu surat, maupun dalam ilmu silat.
"Sudahlah, jangan mengantar terus," kata si pemuda sembari angkat kedua tangannya.
"Terima kasih, terima kasih."
Pengtjoan Thianlie jadi tersadar. Tanpa merasa, -ia ternyata sudah ikut menyeberangi
jembatan batu giok putih. Mendadakan saja mukanya jadi bersemu dadu dan berkata
dengan suara tawar: "Piara semangatmu, besok kita adu pedang lagi."
"Baiklah," kata ia sembari berjalan pergi dan di lain saat, ia sudah menghilang di antara
pepohonan.
Seperti orang yang kehilangan apa-apa, si nona berdiri di atas jembatan. Ia dongak ke
atas dan memandang itu lembaran-lembaran awan yang mengambang, dengan paras
muka sedih.

Sesudah si pemuda baju putih berlalu, Thian Oe jadi masgul lantaran ingat, bahwa besok
ia sudah mesti meninggalkan tempat itu. Ia lantas balik ke kamarnya buat mengasoh.
Selagi rebahrebahan, mendadak seorang dayang datang dan memberitahukan, bahwa
Pengtjoan Thianlie undang ia bersantap malam.
Dalam beberapa hari itu, barang santapan selamanya diantar oleh seorang dayang dan ia
selalu makan seorang diri dalam kamarnya. Maka itu, ia merasa agak heran mendengar
undangannya Pengtjoan Thianlie.
Tanpa berkata suatu apa, ia buru-buru salin pakaian dan ikut sang dayang pergi ke
keratonnya Pengtjoan Thianlie. Sesudah jalan bulak-belok, mereka tiba pada satu telaga
es. Di kakinya puncak gunung Nyenchin Dangla terdapat satu gunung api, sehingga
pemandangan dalam keraton adalah lain dari yang lain. Dengan hawanya yang hangat,
disitu terdapat bunga-bunga yang mekar sepanjang tahun dan rumput-rumput yang tetap
hijau sepanjang masa. Di tengah telaga terdapat teratai putih, teratai merah, bunga
Mantolo yang harum luar biasa, dan lain-lain bunga yang anehaneh. Di sebelahnya itu,
kepingan-kepingan es kelihatan kelap-kelip di tengah telaga, dan jika sang angin meniup
dengan perlahan, bebauan yang harum menyambar-nyambar ke dalam hidung. Sungguh
orang tak tahu, musim apa adanya itu? Apa musim semi, apa musim rontok, apa musim
dingin atau musim panas!
Di dekat telaga terdapat satu pendopo yang terbuat dari batu giok putih mulus. Disorot
dengan sinar matahari magrib, pendopo itu mengeluarkan warna-warni yang luar biasa
indahnya.
Di tengah pendopo dipasang satu meja makan, dimana terlihat, di sebelahnya Pengtjoan
Thianlie, Thiekoay sian suami isteri. Thian Oe lantas memberi hormat dan mengambil
tempat duduk di samping gurunya. Selain masih sedikit layu, paras mukanya Thiekoay
sian sudah pulih seperti biasa.
"Keadaan gurumu sekarang sudah tidak berbahaya lagi," kata Pengtjoan Thianlie.
"Terima kasih dan itu semua adalah berkat bantuannya Oen-giok yang usianya laksaan
tahun," kata Thiekoay sian. "Kalau tidak ada mustika itu, aku masih harus mengasoh
beberapa hari lagi." Suaranya tawar sekali yang mana menandakan perasaan
berdongkolnya, sebab Pengtjoan Thianlie sudah bataskan tempo berdiamnya dalam
keraton es.
Pengtjoan Thianlie lirik padanya dan berkata lagi: "Masih ada sedikit hawa dingin yang
belum habis. Kau masih harus minum air godokan rumput Sinlongtjo. Rumput itu bisa
didapat di sebelah selatan Puncak Es dan besok aku akan titahkan dayang antar In Tjin
tjietjie pergi memetiknya."
"Terima kasih," sahut In Tjin dengan pendek.
"Besok aku sudah janjikan orang buat mengadu pedang di bawah Puncak Es dan mungkin
pulangnya laat sekali," kata Pengtjoan Thianlie. "Lusa pagi kalian harus berangkat, maka
itu, aku siapkan meja perjamuan ini buat memberi selamat jalan."
Thiekoay sian suami isteri lantas saja bangun berdiri dan membungkuk sebagai
pernyataan terima kasih. Sikap mereka kaku sekali, tapi Pengtjoan Thianlie kelihatannya
tidak memperdulikan.
Setelah undang tetamunya minum segelas arak, ia berkata: "Thiekoay sian, kau sudah
berkelana di seluruh negeri dan kenal baik segala ilmu pedang dari macam-macam partai.
Sekarang aku menemui semacam ilmu pedang, yang aku tak kenal. Apa kau tahu ilmu

pedang apa adanya itu?" Sehabis berkata begitu, ia lalu petakan beberapa macam
pukulan yang luar biasa. "Ilmu pedang itu adalah ilmu pedangnya si pemuda yang sudah
janjikan aku buat mengadu pedang," ia sambung keterangannya. "Selain itu, ia
mempunyai senjata rahasia yang juga luar biasa. Senjata itu mengeluarkan sinar emas
hitam!"
"Aku tahu. In Tjin sudah dengar penuturannya dayangmu," sahut Thiekoay sian.
"Jika kau kenal, coba beritahukan padaku namanya ilmu pedang itu," kata Pengtjoan
Thianlie. "Dan lagi, apa namanya senjata rahasia itu? Apa di dalamnya tidak terdapat
cacat yang bisa diserang?"
"Oh, kalau begitu kau mau minta pengajaranku?" kata Thiekoay sian dalam hatinya.
"Biarlah aku gertak padanya!" Memikir begitu, ia lantas saja berkata: "Ilmu pedang itu
adalah ilmu pedang Thiansan yang kesohor di kolong langit. Kiamhoat tersebut adalah
gubahan tjianpwee Hoei Beng Siansu, yang telah petik sarinya berbagai macam ilmu
pedang dan tambah sama gubahannya sendiri. Di kolong langit ini, tidak ada satu
manusia yang dapat pecahkan ilmu pedang itu!"
Pengtjoan Thianlie keluarkan suara di hidung dan berkata: "Oh, kalau begitu Thiansan
Kiamhoat!" Harus diketahui bahwa ayahnya Pengtjoan Thianlie dahulu pernah dikalahkan
oleh Tong Siauw Lan dan Phang Eng dari Thiansan pay. Itulah sebabnya ia sudah kabur ke
Tibet dengan niatan memetik ilmu pedang daerah Barat buat dicampur sama Tatmo
Kiamhoat, akan kemudian digubah menjadi semacam ilmu pedang baru guna diadu lagi
sama Thiansan Kiamhoat. Sedari kecil Pengtjoan Thianlie sudah dengar namanya
Thiansan pay dan tak diduga, pemuda itu adalah orang dari partai tersebut. 91
"Senjata rahasia itu mempunyai asal-usul yang lebih besar lagi," Thiekoay sian sambung
keterangannya. "Namanya Thiansan Sinbong dan bahannya cuma bisa didapat di
Thiansan. Bukan emas dan juga bukan besi, tapi sifatnya lebih keras dan emas dan besi.
Bentuknya juga macammacam, ada yang panjang seperti anak panah, ada yang bundar
seperti mutiara. Dahulu Leng Bwee Hong Tayhiap mendapat nama besarnya lantaran
Thiansan Sinbong dan dari sini bisa dilihat liehaynya senjata rahasia itu."
Mendengar pujiannya Thiekoay sian, Pengtjoan Thianlie mendeluh dan berkata dengan
suara tawar: "Ah, belum tentu tak ada tandingannya di kolong langit!"
"Dengan ilmu silatmu yang merangkap dua macam ilmu silat, mungkin sekali masih
setanding," kata Thiekoay sian. "Cuma saja dalam dunia persilatan, jika kita menemui
lawanan tangguh, pada sebelum ingat kemenangan, lebih dahulu kita harus berjaga-jaga
akan kekalahan, maka itu, terlebih baik kau berlaku sedikit hati-hati." Dengan berkata
begitu, Thiekoay sian seperti juga mau bilang, ia bukan tandingannya pemuda tersebut.
Pengtjoan Thianlie merasa tak senang dan kembali ia keluarkan suara di hidung.
Sebenarnya ia mau tanyakan dua rupa hal. Pertama, asal-usul ilmu pedangnya pemuda
itu, dan kedua, cacatnya ilmu pedang tersebut. Sekarang, soal pertama ia sudah
mengetahui, tapi dalam soal kedua, menurut Thiekoay sian ilmu pedang itu sudah
mencapai puncak kesempurnaan dan sama sekali tidak ada cacatnya. Maka tidaklah
heran ia jadi merasa sangat berdongkol dan berkata dengan suara kaku: "Dalam dunia
tidak ada ilmu pedang yang tidak dapat dipecahkan. Setiap ilmu silat mesti ada lawannya
yang dapat menaklukinya. Tapi biar bagaimanapun juga, aku harus menyatakan terima
kasih buat segala pengunjukanmu. Sekarang marilah aku undang kalian suami isteri
minum kering tiga cangkir arak. Pertama buat membilang terima kasih, dan kedua, buat
memberi selamat jalan." Seorang dayang lantas menuang arak dan mereka lalu minum
kering tiga gelas.

Mendadak terjadi perubahan pada dirinya Tjia In Tjin, yang seperti juga tidak kuat tahan
pengaruhnya alkohol. Ia bangun dan menuju ke pinggir telaga, tapi sebelum sampai
disitu, ia sudah muntahkan arak dan makanan dari dalam perutnya.
"Arak itu dibuat olehku sendiri dengan mengambil sarinya ratusan bunga," kata Pengtjoan
Thianlie. "Sifatnya halus sekali dan bukannya arak yang keras. Kenapa In Tjin tjietjie jadi
tak tahan?"
Dengan badan bergoyang-goyang dan satu tangannya memegang uluhati, Tjia In Tjin
balik ke meja perjamuan dengan muka pucat.
"Kenapa?" tanya Thiekoay sian. Mukanya si isteri menjadi merah, tapi tidak menyahut.
Dilihat macamnya, ia sama sekali bukan mabok arak. Pengtjoan Thianlie lantas perintah
satu dayang ambil es dan selampe, tapi In Tjin goyang tangannya dan berkata: "Tak usah!
Tak usah!"
"Bukankah kau mabok arak? Dikompres sama es, maboknya bisa lantas hilang," kata
Pengtjoan Thianlie.
Mukanya In Tjin jadi semakin merah. Ia cuma geleng-gelengkan kepalanya. Melihat
begitu, sang suami agak mendusin dan lantas berkata: "Ah, aku tahu. Coba aku tebak
penyakitmu."
Kuatir suaminya bicara terus terang, buru-buru In Tjin berbisik: "Jangan ribut! Aku... Aku
ada..."
"Ada apa?" tanya Pengtjoan Thianlie.
In Tjin jadi semakin kemalu-maluan. Hal yang sebenarnya, ia sedang ngidam dan baru
saja hamil. Mereka sudah menikah banyak tahun dan usianya Thiekoay sian sudah
mendekati setengah abad, tanpa mempunyai anak. Maka itu, tentu saja ia jadi girang
sekali, dan dalam kegembiraannya, ia keja jatuh cangkir arak, untung tidak sampai pecah.
Melihat begitu, Thian Oe dan Pengtjoan Thianlie jadi sangat heran.
"Ada soal apa kau bergirang sampai begitu?" tanya si nona sembari melirik.
"Kesehatanmu belum pulih betul, tidak boleh terlalu girang atau terlalu gusar. Baiklah,
sekarang sudah laat, aku harus lantas balik ke keraton. Lusa pagi kalian boleh lantas
turun gunung dan tak usah menemui aku lagi."
Perjamuan lantas dibubarkan dengan kurang kegembiraan. Malam itu, Pengtjoan Thianlie
tak dapat tidur pulas, begitu juga Thian Oe. Hatinya sedih lantaran ingat, lusa pagi ia
sudah mesti berlalu dari tempat itu. Ia ingat besok Pengtjoan Thianlie dan pemuda baju
putih itu akan bertempur kembali. Hatinya ingin sekali menyaksikan keramaian itu, tapi ia
tak tahu, apa
Pengtjoan Thianlie kasih permisi atau tidak. Ia ingat juga Chena, itu gadis Tsang yang luar
biasa dan sangat menarik hatinya. Rupa-rupa pikiran mengaduk dalam otaknya. Ia
meramkan kedua matanya, tapi sebaliknya dari pulas, ia jadi semakin segar.
Dengan perasaan kewalahan, ia lalu bangun, pakai baju luarnya dan keluar jalan-jalan di
dalam taman. Tanpa merasa, kakinya menuju ke arah gedung yang aneh itu. Rembulan
yang sangat terang menyelimuti bumi dengan sinarnya yang seperti perak. Mendadak ia
dengar suara tindakan dan buru-buru ia mengumpat di belakangnya satu gununggunungan. Di lain saat, pintunya gedung itu mendadak terbuka dan seorang wanita yang
memakai baju putih kelihatan keluar. Wanita itu adalah Pengtjoan Thianlie sendiri.

Dari Chena, Thian Oe sudah mengetahui bahwa saban malam Tje-it, Pengtjoan Thianlie
masuk ke gedung itu seorang diri dan berdiam kurang lebih satu jam lamanya. Apa yang
dilakukan olehnya, tidak diketahui oleh siapa juga.
"Ah, kalau ia tahu aku mengumpat disini, ia tentu akan menuduh aku mau curi
rahasianya," kata Thian Oe dalam hatinya. "Adatnya sangat luar biasa. Ia tentu akan
memberi hukuman berat!" Thian Oe jadi ketakutan. Ia tak berani bergerak dan tahan
napasnya.
Dengan paras muka sedih, Pengtjoan Thianlie jalan mendekati tempat mengumpatnya
Thian Oe. Jantungnya Thian Oe mengetok lebih keras. Mendadak, dalam jarak kurang
lebih setombak dari Thian Oe, ia berhenti dan keluarkan satu seruan perlahan. Thian Oe
terbang semangatnya dan keringat dingin mengucur keluar dari dahinya, la duga,
Pengtjoan Thianlie sudah mengetahui tempat
mengumpatnya. Dengan hati berdebar, ia mengintip dari sela-sela batu. Matanya
mendadak lihat bayangannya seorang wanita lain, yang sedang menuju ke arah utara
barat, yaitu ke jurusan gedung tempat mengasohnya. Thian Oe terkejut.
"Chena! Kenapa tengah malam buta kau masih jalan-jalan?" demikian kedengaran
Pengtjoan Thianlie menanya.
Thian Oe lega. "Chena tentulah mau cari aku," kata ia dalam hatinya. "Tak tahu, ia mau
omong apa. Ah, tinggal besok sehari. Lusa sudah tak dapat bertemu lagi dengan ia."
"Thianlie tjietjie," demikian kedengaran Chena menyahut. "Aku cari kau terputar-putar,
tak tahunya kau berada disini."
Thian Oe mesem. Gadis itu ternyata pandai juga berdusta.
"Ada apa kau cari aku?" tanya Pengtjoan Thianlie.
"Apa tjietjie sudah mempunyai pegangan buat kalahkan musuh?" Chena balas menanya.
"Oh, kalau begitu kau pikirkan soal itu?" kata Pengtjoan Thianlie. "Legakan hatimu.
Walaupun andaikata aku tidak bisa menang, tapi aku pun tidak akan sampai kena
dijatuhkan oleh pemuda itu."
"Maka itulah..." Kata Chena seraya tertawa, tapi tidak teruskan omongannya.
"Maka apa?"
"Maka itulah, pertempuran besok tentu luar biasa menariknya," kata Chena. "Aku ingin
sekali... Aku kepengen..."
"Ingin nonton?"
"Benar, tjietjie," kata Chena. "Aku anggap, kalau tidak saksikan pertempuran itu, mungkin
selama hidupku, aku tak akan dapat saksikan pertempuran yang sedemikian hebatnya."
Hatinya Pengtjoan Thianlie sebenarnya lagi pepat sekali. Tapi melihat Chena begitu
pandang tinggi pertempuran antara ia dan si pemuda dan begitu kagumi ilmu pedangnya,
tanpa terasa ia jadi tertawa. "Aku sebenarnya tidak permisikan siapa juga pergi melihat,
tapi sekarang aku bikin kecualian," kata ia. "Baiklah, besok kau dan seorang dayangku
boleh nonton dari puncak gunung di sebelah barat."

"Bukankah puncak gunung itu jaraknya jauh sekali dari tempat adu pedang?" tanya Chena
dengan suara agak tidak puas.
"Puncak itu memang tinggi dan dari situ kau dapat saksikan jalannya pertempuran," kata
Pengtjoan Thianlie. "Terhadap kau, aku sudah bikin kecualian itu. Apa kau masih belum
merasa puas? Mari, ikut aku pulang. Aku akan ajarkan lagi serupa ilmu pedang. Aku sudah
janji akan ajar kau tiga hari lagi. Sesudah pelajaran ini, aku sudah penuhi janji itu."
Mereka berdua lantas berjalan pergi. Keadaan kembali sunyi senyap. Sesudah
mengumpat beberapa lama lagi, barulah Thian Oe berani keluar. Wewangian yang keluar
dari rumah aneh itu jadi semakin keras dan seakan-akan mempunyai serupa tenaga
membetot. Tanpa merasa Thian Oe menghampiri pintunya dan tangannya meraba-raba
gelang-gelangan pintu. Gelang-gelangan pintu ternyata bisa terputar. Iseng-iseng ia putarputar dan sesudah memutar dua kali, sang pintu mendadak bergerak dan terbuka
sendirinya!
Thian Oe kaget dan mau lantas lari, tapi setahu bagaimana, kakinya seperti juga dibetot.
Ditambah dengan keinginan mengetahui rahasia gedung itu, tanpa merasa ia sudah
bertindak masuk.
Keadaan dalam gedung itu seperti juga sebuah gereja. Di tengah-tengah terdapat
patungnya seorang wanita yang mukanya bundar seperti rembulan, sedang rambutnya
yang berwarna emas terurai di kedua pundaknya. Dari mukanya ternyata wanita itu
adalah seorang wanita asing.
Selagi Thian Oe memandang dengan penuh keheranan, mendadak ia dengar suara orang
batuk di belakangnya.
Ia menengok dan Pengtjoan Thianlie berdiri disitu dengan paras muka sangat gusar!
Semangatnya Thian Oe terbang. "Nyalimu benar besar," Pengtjoan Thianlie berkata
dengan suara tawar. "Mau apa kau masuk kesini?"
Thian Oe gugup dan menyahut dengan suara terputus-putus: "Aku... aku... tidak tahu
tidak boleh masuk kesini."
Pengtjoan Thianlie keluarkan suara di hidung. "Tak tahu?" ia menegasi. "Chena belum
pernah beritahukan kau? Aku tak percaya! Kalau dia tidak memberitahukan, dialah yang
bersalah. Aku nanti tanyakan dia. Aku tak percaya Chena begitu ceroboh. Hayo, bicara
saja terus terang, jangan salahkan orang yang tidak berdosa."
Thian Oe memang tidak biasa berdusta dan di sebelahnya itu, ia juga kuatir Pengtjoan
Thianlie nanti salahkan Chena. Maka itu, lantas saja ia berkata: "Benar, barusan aku
berdusta. Pada hari pertama, Chena sudah memberitahukan."
Pengtjoan Thianlie jadi semakin gusar. "Tapi kenapa kau toh sudah mencuri masuk?" ia
membentak. "Hm! Kau orang, guru dan murid, memang bukannya orang baik. Apa
gurumu yang ajar kau masuk kesini?"
"Bukan," jawab Thian Oe. "Aku sendiri yang mau masuk disini. Disurung dengan hati yang
kepengen tahu, tanpa merasa aku sudah masuk kesini."
Sesudah bicara begitu, keberanian Thian Oe pulang kembali. Sekarang ia dapat
memandang keadaan disitu dengan hati yang lebih tenang. Di empat pojokan gedung itu
dipasang lampulampu, sedang pada temboknya terdapat mutiara-mutiara yang
mengeluarkan sinar terang. Sesudah berdiam beberapa hari di keraton es, baru ini kali

Thian Oe lihat Pengtjoan Thianlie gusar. Kedua sinar matanya yang tajam dan dingin
seperti es seperti juga menembus sampai pada uluhatinya.
Mendadak ia rasakan lehernya ditepuk dan sekujur badannya jadi kesemutan dan lemas.
Ternyata badannya sudah diangkat naik oleh Pengtjoan Thianlie. Di bawah pimpinan
Siauw Tjeng Hong, ia sudah belajar silat tujuh atau delapan tahun lamanya. Dalam
kalangan Kangouw yang biasa, ilmu silatnya sudah boleh dibilang lumayan. Tapi sekarang,
menghadapi Pengtjoan Thianlie, ia sama sekali tidak berdaya dan badannya diangkat
begitu rupa, seperti juga anak ayam disambar ulung-ulung.
"Kalau toh kau suka datang kesini, biarlah kau jangan keluar lagi!" kata Pengtjoan Thianlie
dengan suara tawar. Sehabis berkata begitu, ia putar badannya Thian Oe dua kali di
tengah udara. Thian Oe rasakan kepalanya puyeng dan sebelum dapat berbuat suatu apa,
ia rasakan badannya ambruk, sebab Pengtjoan Thianlie sudah banting ia ke atas lantai.
Thian Oe keluarkan teriakan ngeri, semangatnya terbang dan ia duga jiwanya akan
segera melayang. Tapi, begitu lekas badannya mengenakan lantai, disitu mendadak
terbuka satu lubang dan badannya lantas masuk ke dalam lubang itu. Waktu jatuh di
dasar lubang, ia rasakan sakit, tapi belakangan ternyata tidak mendapat luka yang
berarti.
Ia bangun dengan perlahan. Gua itu gelap petang. Ia tak dapat lihat tangannya sendiri.
Lubang di atas sudah tertutup kembali. Beberapa saat kemudian, sayup-sayup ia dengar
suara tindakan. Rupanya Pengtjoan Thianlie sudah berlalu dari situ.
Belum berapa lama, hawa dingin dan hawa basah menyerang hebat sekali. Buru-buru ia
bersila dan jalankan pernapasannya. Baik juga ia sudah mempunyai dasar ilmu dalam
(lweekang), sehingga beberapa saat kemudian ia rasakan badannya jadi cnakan dan tidak
begitu menderita lagi dari hawa dingin dan basah itu.
Perasaan takut dan menyesal mengaduk dalam pikirannya Thian Oe. Mengingat
perkataan "kau jangan keluar lagi," ia jadi bergidik. Apa benar ia bakal dipenjarakan disitu
seumur hidup? Ia lantas saja ingat ayahnya, gurunya, soenio-nya (Tjia In Tjin) dan Chena.
Dengan mereka itu, ia tak akan dapat bertemu kembali! Thian Oe sebenarnya masih
bersifat satu bocah. Mengingat begitu, ia lantas saja kucurkan air mata dan menangis
segak-seguk.
Tak tahu sudah lewat beberapa lama, kupingnya mendadak dengar suara tindakan orang
di atas. Ia susut air matanya dan berkata dalam hatinya: "Ah, kalau Pengtjoan Thianlie
lihat aku menangis, ia tentu akan tertawakan aku." Ia tidak merasa sakit hati, tapi ia pun
sungkan perlihatkan kelemahannya di hadapan Pengtjoan Thianlie. Berpikir begitu, ia
segera bersila dan meramkan kedua matanya.
Suara kaki yang barusan kedengaran mendekati, sekarang jadi semakin jauh dan akhirnya
tidak kedengaran lagi. Thian Oe tentu saja tidak mengetahui, bahwa suara kaki itu adalah
tindakannya Chena dan satu dayangnya Pengtjoan Thianlie. Ilmu silat mereka belum
seberapa tinggi dan tindakannya masih berat, sehingga Thian Oe dapat mendengarnya.
Mereka berdua bangun sebelum fajar dan buru-buru pergi ke puncak gunung yang
terletak di sampingnya Puncak Es, buat saksikan adu pedang antara Pengtjoan Thianlie
dan si pemuda baju putih yang akan dilangsungkan pada waktu tengah hari.
Dengan perasaan kecewa, Thian Oe terus bersemedhi. Tidak lama kemudian, kupingnya
dapat dengar suara nyanyiannya burung-burung yang baru sadar dari tidurnya.
Mendengar nyanyian itu, hatinya Thian Oe kembali jadi sedih dan ia berkata dalam
hatinya: "Satu penyair ahala Tong ada bilang:

Tidur di musim semi, tak tahu datangnya sang fajar, di segala tempat terdengar suara
nyanyian burung-burung, semalam turun hujan dan angin, tahukah kau berapa banyak
bunga jatuh berhamburan?
Keadaan diluar tentulah indah sekali, akan tetapi keadaanku sekarang justru sebaliknya
dari keindahan itu. Dengan mendengar suaranya burung-burung itu, langit tentunya
sudah menjadi terang. Semalam Chena mencari aku, tapi manalah ia tahu, sekarang aku
sedang terkurung disini dan seluruh malam belum dapat pulas barang sekejap! Semalam
sama sekali tidak ada hujan maupun angin. Tapi pengalamanku semalam adalah ibarat
topan yang sangat hebat!"
Demikianlah Thian Oe ngelamun seorang diri. Matanya pedas dan badannya lelah, tapi ia
tidak rasakan ngantuk. Ia duduk terpekur seorang diri dalam gua yang gelap itu dan
rasakan sang tempo jalan luar biasa perlahan.
Sesudah lewat lagi tak tahu berapa lama, ia mendadak ingat pula itu adu pedang antara
Pengtjoan Thianlie dan si pemuda baju putih. "Ah, sekarang tentunya mereka sudah
bertempur di kakinya Puncak Es," kata ia dalam hatinya. "Sayang sungguh kedua mataku
tidak mempunyai rejeki buat menyaksikan."
Mendadak, mendadakan saja di dalam tanah terdengar suara luar biasa, yang semakin
lama jadi semakin keras. Di lain saat, dinding gua bergoyang-goyang. Thian Oe terkesiap
dan hatinya penuh tanda tanya. Tiba-tiba dari dalam tanah muncul keluar hawa yang
panas. Ia jadi semakin heran. Suara gemuruh jadi semakin keras. Sekarang, bukan saja
dinding, tapi lantainya gua pun turut bergoyang-goyang. Sekonyong-konyong, dengan
satu suara gedubrakan, beberapa batu dinding mental keluar dan sinar matahari masuk
dari lubang itu! Badannya Thian Oe pun terpelanting di atas lantai lantaran goncangan
yang sangat keras.
"Ah, inilah gempa bumi!" Thian Oe berteriak dengan suara di tenggorokan.
Di bawah tanah dari wilayah Tibet memang banyak terdapat gunung-gunung api yang
masih bekerja. Itulah sebabnya, maka di Tibet sering terjadi gempa bumi besar dan kecil.
Thian Oe juga mengetahui kenyataan itu, akan tetapi ia sendiri belum pernah mengalami
kejadian tersebut. Mengingat gempa bumi, semangatnya Thian Oe kembali terbang.
Badannya jadi gemetar. Rasa takutnya malahan melebihi itu rasa takut, ketika ia baru
dipergoki oleh Pengtjoan Thianlie dalam rumah terlarang itu.
Di lain saat, satu suara menggeleger yang luar biasa hebatnya terdengar. Suara itu ada
terlebih hebat dari apa yang satu manusia pernah bayangkan. Bumi bergoyang-goyang
dan seakan-akan segera terbalik. Seperti orang kalap, Thian Oe tutup kedua kupingnya.
Kepalanya puyeng, matanya berkunang-kunang dan ia roboh dalam keadaan pingsan!
Perlahan-perlahan ia sadar. Dengan hati kebat-kebit, ia merayap keluar dari dinding yang
melekah. Ia lihat udara ditutup dengan semacam debu warna kuning, sehingga sinarnya
matahari turut berwarna kuning. Dilihat dari duduknya matahari, itu tempo sudah magrib.
Thian Oe lantas kerahkan tenaganya buat kasih jalan darahnya. Ia bangun berdiri dan
jalan beberapa tindak sambil memandang keadaan di seputarnya.
Itu gedung aneh yang atapnya lancip sudah miring dindingnya, tapi tidak sampai roboh.
Thian Oe tidak mempunyai kegembiraan lagi buat masuk ke dalamnya, tapi lantas pergi
ke taman sambil berlari-lari. Disitu banyak sekali gunung-gunungan dan batu-batu hiasan
yang pada terguling dan rusak. Beberapa keraton juga sudah berobah jadi tumpukan
puing, tapi ada juga yang masih utuh. Thian Oe memanggil-manggil sekeras suara, tapi
tidak mendapat jawaban. Seluruh keraton es jadi sunyi senyap. Bukan main takutnya

Thian Oe. Ia berlari-lari ke sana-sini seperti orang gila, mulutnya memanggil-manggil


Chena dan gurunya, tapi tak satu manusia ia dapat ketemukan, malahan burung-burung
dan binatangbinatang lainnya juga rupanya sudah pada kabur.
Dan ketika Thian Oe dongak, kedua matanya lihat satu pemandangan yang lebih
mengejutkan lagi. Itu Puncak Es yang putih dan menjulang ke awan, yang tadinya
berhadapan dengan keraton es, sekarang sudah tidak kelihatan bayang-bayangannya
lagi! Puncak Es itu, yang siang malam pancarkan sinar dingin, merupakan salah satu
pemandangan luar biasa dari pegunungan Nyenchin Dangla. Thian Oe ketakutan, tapi
sekarang ketakutannya itu dicampur dengan perasaan sayang.
Ia lalu naik ke tempat yang lebih tinggi dan memandang ke arah yang lebih jauh. Secara
menakjubkan, di selebar gunung, balokan-balokan es raksasa masih terus menggelinding
ke bawah. Ia juga lihat bahwa di seputar keraton bertambah banyak sekali batu besar. Ia
mengetahui, bahwa batu-batu itu terbang melayang waktu Puncak Es sedang roboh.
Masih untung ada beberapa keraton yang tidak ketimpa batu dan keraton-keraton itulah
yang masih tinggal utuh.
Melihat perobahan yang hebat itu, Thian Oe jadi kcsima dan bengong sekian lama. Ia
ingat, waktu Puncak Es yang tingginya ribuan tombak ambruk, Pengtjoan Thianlie dan si
pemuda baju putih tentunya juga sedang bertempur di kakinya puncak tersebut. Ketimpa
secara begitu, bukankah badan mereka dengan segera jadi perkedel? Walaupun ia baru
saja kena disemprot dan dihukum oleh si jelita, akan tetapi mengingat kecantikannya,
usianya yang masih begitu muda dan kepandaiannya yang sedemikian tinggi, tanpa
merasa Thian Oe dongak ke atas dan berkata dengan suara gemetar "Oh, Thian, kenapa
begitu tega?" la juga ingat Chena yang menonton pertempuran dari puncak gunung yang
terletak di sebelahnya Puncak Es. Apakah ia bisa terlolos dari mala petaka itu? Depan
matanya lantas saja terbayang senyuman aneh dari gadis Tsang itu, yang ia pertama
bertemu di atas padang rumput. Dan di sebelahnya Chena, berbayang pula Pengtjoan
Thianlie yang cantik dan agung laksana ratu. Thian Oe bergidik dan tak berani ngelamun
terlebih jauh.
Lantaran perutnya lapar, Thian Oe lalu petik dua buah, yang sesudahnya dimakan,
memberikan ia tenaga baru. Ia kembali jalan terputar-putar seraya memanggilmanggil,
dengan harapan kalaukalau bisa bertemu manusia yang masih hidup. Tapi jangan kata
manusia, binatang pun ia tidak ketemu. Cuma pohon-pohon dan bunga-bunga masih
tetap seperti kemarin, masih terus siarkan keharumannya yang luar biasa. Yang paling
mengherankan Thian Oe adalah: Sesudah berputaran di seluruh keraton, ia tidak
ketemukan barang satu mayat! Apakah semua dayang dari seluruh keraton dapat
menghilang dengan begitu saja? Taruh kata mereka semua binasa ketimpa reruntuk
rumah atau batu-batu besar, mayatnya mesti dapat diketemukan juga. Walaupun tidak
banyak, satu dua toh mestinya dapat diketemukan. Tapi kenyataannya: Thian Oe tak
ketemukan barang satu mayat! Andaikata mereka bisa kabur, sekarang toh mestinya
sudah ada yang pulang buat lihat-lihat keadaan. Waktu itu, rembulan sudah naik tinggi
dan belum ada barang satu manusia yang kelihatan balik. Itulah benar-benar membikin
Thian Oe jadi pusing sekali. Ia tidak mengerti apa artinya semua kejadian itu.
"Apa kau sedang mengimpi?" ia tanya dirinya. Ia gigit jerijinya dan segera berteriak
kesakitan. Nyatalah ia bukannya lagi mengimpi!
Puteri Malam naik semakin tinggi dan debu kuning yang muncrat keluar dari peledakan
gunung dengan perlahan disapu bersih oleh sang angin malam. Di bawah sinar rembulan
yang laksana perak, keraton es masih tetap indah, biarpun keindahan sekarang adalah
kenangan yang menyedihkan. Thian Oe kembali jadi seperti orang kalap. Ia berlari-lari lagi
sembari memanggilmanggil. Ia agaknya tidak mengenal capai.

Tiba-tiba di antara kesunyian malam yang menyeramkan, satu suara perlahan


kedengaran: "Oe-djie, apakah kau?"
Hatinya Thian Oe terkesiap. Suara itu adalah seperti barang yang paling berharga dalam
dunia ini. Ia memburu ke tempat dari mana suara itu datang, yaitu dari bawah
reruntuknya satu kamar yang roboh.
Thian Oe buru-buru gali puing itu dan didalamnya ia ketemukan Thiekoay sian yang rebah
dengan pakaian ternoda darah.
"Soehoe! Kau?" tanya Thian Oe dengan suara terharu.
"Benar. Aku," jawab sang guru. "Coba minta sedikit makanan. Oh, ambil air lebih dahulu."
Thian Oe lantas petik dua buah dan gunakan selembar daun buat ambil air telaga yang
lantas diberikan kepada gurunya. Sesudah mengasoh beberapa saat, Thiekoay sian
berkata: "Kita berdua guru dan murid, sekarang sudah lolos dari mala petaka. Tapi apakah
masih ada lain orang yang hidup?"
Thian Oe lantas saja tuturkan segala pengalamannya. Thiekoay sian menghela napas dan
berkata pula: "Pengtjoan Thianlie telah bilang, bahwa ia tidak akan turun gunung, kecuali
jika Puncak Es roboh. Sekarang puncak itu sudah ambruk, cuma barangkali ia sudah
terpendam buat selamanya dan tidak dapat lagi turun gunung." Sehabis berkata begitu,
ia ingat isterinya yang sedang cari obat, ketika terjadinya gempa bumi. Mengingat begitu,
hatinya jadi sangat kuatirkan keselamatannya sang isteri.
"Soehoe, apa kau terluka?" tanya Thian Oe.
"Masih bagus cuma luka sedikit kena ketimpa batu," sahut sang guru. Tapi sebenarnya,
lukanya Thiekoay sian tidaklah enteng. Sedang kesehatannya belum pulih, ia kembali
mesti terima goncangan hebat di dalam tubuhnya lantaran gempa bumi itu. Walaupun
berkat lweekang-nya yang sangat dalam, ia masih dapat selamatkan jiwanya, akan tetapi
tenaga latihan sepuluh tahun jadi musnah karenanya. Dan kalau Thiekoay sian masih
dapat berjalan, itu hanya terjadi berkat pertolongan sang tongkat.
Dengan perlahan guru dan murid berjalan didalam keraton dengan mulut terus
memanggilmanggil, tapi hasilnya nihil.
"Aku mendadak rasakan tanah goyang pada waktu sedang melatih diri di dalam kamar
buat mengobati lukaku," demikian Thiekoay sian tuturkan pengalamannya. "Sesudah itu,
aku dengar suara berlari-larinya dan teriakan para dayang, dan di antara teriakan itu, aku
dengar suara orang memanggil-manggil namaku. Ketika itu, latihanku sedang mencapai
puncak yang sangat penting, dan jika aku menyahut, akibatnya bisa hebat sekali. Maka
itu aku teruskan latihan itu. Selagi aku mau akhiri latihan menurut peraturan dan
kemudian mau pergi keluar.buat menanyakan, kejadian hebat sudah keburu terjadi.
Kamarku sendiri turut ambruk."
Mendengar keterangannya sang guru, Thian Oe jadi menarik kesimpulan, bahwa pada
waktu terjadinya gempa bumi, di dalam keraton masih terdapat banyak dayang. Tapi
kemana perginya mereka?
Sesudah mengasoh semalaman, pada hari kedua, mereka keluar buat membikin
pemeriksaan terlebih lanjut. Kecuali beberapa keraton yang roboh, kerugian harta benda
agaknya tidak terlalu besar. Kawanan burung juga sudah mulai balik kesitu. Persediaan
bahan makanan didalam keraton adalah lebih dari cukup, sehingga mereka boleh tidak
usah kuatir.

"Soehoe, apa yang kita harus perbuat?" tanya Thian Oe sesudah selesai dengan
pemeriksaannya.
Thiekoay sian tertawa getir dan berkata: "Menurut perintahnya Pengtjoan Thianlie, hari ini
aku mesti turun gunung. Akan tetapi, dengan kepandaianku seperti sekarang ini, aku tak
akan bisa turun gunung pada sebelumnya berlatih sepuluh tahun lamanya."
Thian Oe lantas ingat bahayanya sungai es yang tidak akan dapat dilewati oleh orang
yang tidak mempunyai ilmu silat sangat tinggi atau oleh orang yang tidak mengetahui
sifatnya sang air.
"Oleh karena terjadinya perobahan yang tidak terduga, maka kita tidak dapat berbuat lain
daripada langgar perintahnya Pengtjoan Thianlie," kata lagi Thiekoay sian sembari
tertawa getir. "Kita tidak dapat berbuat lain daripada terus berdiam disini. Aku cuma
berharap Pengtjoan Thianlie masih hidup, supaya ia dapat menolong kita keluar dari
tempat ini." Tapi harapan itu hanya tinggal harapan belaka. Sesudah lewat tujuh hari,
jangan sentara Pengtjoan Thianlie, dayangnya saja tak seorang yang muncul. Selama
hari-hari itu, Thiekoay sian terus menerus berlatih dan akhirnya ia dapat usir keluar sisa
hawa dingin yang masih mengeram dalam tubuhnya.
Tak usah dibilang lagi, Thian Oe bukan main merasa kesepian. Hari itu, ia kembali berada
di depannya itu gedung yang penuh rahasia. Sebagaimana diketahui gedung itu belum
roboh, cuma dindingnya saja yang sudah miring. Mengingat pengalamannya, sebenarnya
Thian Oe tidak mempunyai perasaan senang terhadap gedung itu, akan tetapi ia merasa
tidak tahan buat tidak tolak pintunya dan masuk ke dalam.
Keadaan dalam gedung masih tetap seperti sediakala. Patungnya wanita itu masih berdiri
seperti biasa. Sekarang, tanpa kuatirkan suatu apa, ia dapat meneliti keadaan disitu. Ia
lihat pada dinding yang miring penuh dengan macam-macam ukiran manusia yang
sedang bersilat dengan gunakan pedang. Diteliti dari gambar-gambar itu, gerakangerakan ilmu pedang tersebut sangat berbeda dengan ilmu pedang yang dikenal di
Tiongkok.
"Inilah tentu ilmu pedang yang digubah oleh kedua orang tuanya Pengtjoan Thianlie,"
kata Thian Oe seorang diri. "Tidak heran kalau ia larang orang masuk kesini. Ia sering
datang buat bersembahyang. Patung itu tentulah patung ibunya."
Memikir begitu, asal-usulnya Pengtjoan Thianlie kelihatannya jadi lebih sulit lagi buat
diketahui. Sebab tidak niat belajarkan ilmu pedangnya lain orang, sesudah mengawasi
beberapa lama, Thian Oe segera keluar dari gedung itu buat pergi cari gurunya.
Sesudah berlatih tujuh hari, Thiekoay sian sudah dapat usir sisa hawa dingin dalam
tubuhnya. Biarpun tenaga dalamnya berkurang banyak, tapi sekarang ia dapat bergerak
pula dengan leluasa dan tidak usah lagi dapat pertolongannya tongkat.
Begitu bertemu dengan gurunya, Thian Oe segera ceritakan apa yang dilihat dalam
gedung aneh itu.
Buat beberapa saat Thiekoay sian tidak berkata apa-apa. Mendadak ia berkata: "Aku rasa
kau harus angkat satu guru lagi."
"Apa? Apa soehoe sudah tidak mau akui aku sebagai murid lagi?" tanya Thian Oe dengan
suara kaget.
"Bukan," kata Thiekoay sian. "Dengarlah perkataanku dahulu. Ilmu silat tidak ada
batasnya. Andaikata kau sudah dapatkan semua pelajaranku dan sudah mempunyai
kepandaian yang bersamaan dengan aku, toh kepandaianmu itu masih belum cukup buat

bertanding dengan ahli silat kelas utama. Jangan sentara Pengtjoan Thianlie dan itu
pemuda baju putih yang ilmu silatnya luar biasa tinggi, sedang kepandaiannya itu Ihama
jubah merah saja masih berada di sebelah atasanku."
Thian Oe tidak berkata apa-apa. la tahu gurunya bicara dengan sejujurnya.
"Kau tahu, tenaga dalamku belum pulih kembali," sang guru berkata pula. "Aku harus
berlatih lagi kira-kira sepuluh tahun, barulah ada harapan bisa turun dari gunung ini.
Dalam tempo sepuluh tahun, kalau ada musuh datang mengganggu, cara bagaimana kita
dapat melawannya. Itulah sebabnya kenapa aku ingin kau belajarkan lain macam ilmu
silat yang tinggi dan angkat lagi seorang guru lain."
"Dalam keraton es ini cuma terdapat kita berdua. Siapakah adanya guru baru itu?" tanya
Thian Oe dengan perasaan heran.
"Pengtjoan Thianlie!" jawabnya.
Thian Oe terkejut, tapi lekas juga ia mengerti maksudnya Thiekoay sian.
"Mati hidupnya Pengtjoan Thianlie belum ketahuan. Cara bagaimana kita boleh pelajari
ilmu pedangnya?" kata Thian Oe sembari gelengkan kepalanya.
"Justru lantaran begitu, kau mesti pelajari ilmu pedangnya," jawab Thiekoay sian.
"Cobalah kau pikir: Kalau Pengtjoan Thianlie benar sudah mati dan semua dayangnya pun
ikut binasa, bukankah ilmu pedang itu akan jadi hilang dari muka bumi? Buat menggubah
ilmu pedang yang luar biasa itu, ayah ibunya Pengtjoan Thianlie sudah gunakan banyak
tenaga, pikiran dan tempo. Kalau ilmu pedangnya sampai hilang dari muka bumi, di alam
baka rohnya kedua orang tua itu tentu tidak akan merasa senang. Selain itu, kehilangan
tersebut juga merupakan satu kerugian yang sangat besar bagi dunia persilatan."
Mendengar keterangan yang beralasan itu, Thian Oe merasa takluk terhadap gurunya
yang berpemandangan jauh. Maka itu, mereka berdua lalu pergi ke gedung itu buat
meneliti gambargambar di dinding.
Dapat dimengerti, bahwa ilmu pedang yang diukir itu ada sangat sulit dan tak mungkin
dapat dipelajari oleh orang yang belum mempunyai dasar-dasar yang kuat. Tapi Thiekoay
sian adalah murid utama yang mewarisi kepandaiannya Kanglam Tayhiap Kam Hong Tie.
Apa yang dipelajari oleh Thiekoay sian adalah ilmu silat yang tulen. Dalam dunia
persilatan, walaupun berbagai cabang mempunyai macam-macam cara yang istimewa,
akan tetapi dasar-dasarnya tidak berbeda banyak. Demikianlah, sesudah mempelajari tiga
hari lamanya, Thiekoay sian sudah dapat menyelami artinya gambar-gambar itu.
Lebih dahulu ia ajarkan Thian Oe ilmu melatih napas dari lweekeh (ilmu silat dalam).
Sesudah belajar tujuh delapan tahun di bawah pimpinan Siauw Tjeng Hong, Thian Oe
sudah mempunyai dasar-dasar lweekang. Ditambah dengan petunjuk-petunjuk Thiekoay
sian, ia dapat kemajuan sangat pesat dan dalam tempo sebulan, ia sudah siap sedia buat
mulai belajarkan ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie.
Mulai waktu itu, setiap hari Thian Oe belajar dua rupa ilmu silat. Di waktu pagi, ia belajar
ilmu silatnya Thiekoay sian, sedang pada sorenya, ia belajar ilmu pedangnya Pengtjoan
Thianlie. Dengan kerepotan sedemikian, tanpa terasa tiga bulan sudah berlalu.
Pada suatu malam, sedang Thiekoay sian berlatih sendirian, Thian Oe jalan-jalan di dalam
taman. Sinar rembulan terang sekali dan bunga-bunga siarkan bebauan yang sangat
harum. Sesudah selang beberapa bulan, keadaan dalam taman sudah mulai pulih seperti
dahulu, sedang burung-burung juga sudah pada balik kesitu.

Melihat pemandangan itu, hatinya Thian Oe jadi sedih sekali. Pada tiga bulan berselang,
adalah Chena yang ajak ia jalan-jalan dalam taman tersebut, tapi sekarang, ia berada
seorang diri, sedang nasibnya gadis itu belum ketahuan bagaimana jadinya. Ia ingat juga
itu dayang-dayang yang seperti lenyap dari muka bumi.
Thian Oe jalan tanpa tujuan, sedang hatinya ngelamun ke sana-sini. Mendadak hidungnya
dapat endus semacam wewangian yang datang dari satu pojok taman. Sesudah berdiam
tiga bulan lamanya, ia sudah kenal baik segala tumbuh-tumbuhan yang terdapat di situ.
Ia sudah dapat membedakan wanginya macam-macam bunga. Tapi wewangian yang baru
ia endus adalah wewangian yang ia belum kenal. Dengan perasaan heran, ia segera
menuju ke pojok taman, dari mana harum-haruman itu datang.
Setibanya disitu ia lihat satu pohon besar yang berdiri mencil. Apa yang luar biasa adalah
pada pohon itu terdapat satu buah tunggal, besarnya seperti mangkok dan warnanya
merah terang. Buah itulah yang menyiarkan bau harum. Thian Oe segera panjat pohon itu
dan petik buah tersebut, yang harumnya seakan-akan menembus sampai ke uluhatinya.
Ia masukkan ke dalam mulutnya dan terus digigit. Buah itu ternyata bukan saja harum
dan manis luar biasa, tapi juga mempunyai semacam hawa menyegarkan yang seakanakan menembus sampai di pusarnya. Sesudah makan habis Thian Oe lalu turun dan coba
mencari-cari lagi. Tapi seluruh taman cuma terdapat satu pohon begitu yang berbuah
tunggal.
Lewat beberapa saat, mendadak ia rasakan perutnya sakit. "Apa aku kena makan buah
beracun?" tanya ia dalam hatinya dan lalu buru-buru pergi cari gurunya. Tapi baru saja lari
puluhan tindak, perutnya jadi semakin mules dan bersuara tak henti-hentinya. Ia tak
tahan lagi dan lalu buang-buang air besar.
Sesudah buang air besar, ia bangun dan berjalan pergi. Mendadak ia rasakan satu
perobahan yang benar-benar menakjubkan. Badannya dirasakan enteng luar biasa! Ia
coba-coba enjot badannya dan tubuhnya lantas melesat ke atas dan hinggap di atasnya
satu pohon besar. Tingginya pohon itu ada lebih dari dua tombak. Biasanya, paling tinggi
ia cuma dapat melompat kurang lebih satu tombak, tapi sekarang, sesudah makan buah
itu, dengan gampang ia dapat melompat dua tombak lebih.
Ia jadi kaget tercampur girang dan buru-buru cari gurunya, kepada siapa ia segera
tuturkan pengalamannya yang luar biasa.
Mendengar penuturan itu, Thiekoay sian segera jajal muridnya dan ternyata omongannya
tidak dusta. Sang guru juga turut bergirang dan berkata: "Keunggulan ilmu pedangnya
Pengtjoan Thianlie berdasarkan kegesitannya. Aku sebenarnya sedang pikiri kau punya
ilmu entengi badan yang belum mempunyai dasar yang kuat. Tak dinyana kau sudah
mendapat berkah yang begitu luar biasa! Sekarang, sebegitu jauh mengenai ilmu entengi
badan, walaupun kau belum bisa dapat menandingi Pengtjoan Thianlie dan itu pemuda
baju putih, sedikitnya kau sudah berada di sebelah atasanku!"
Pada esokan paginya, waktu berlatih lagi ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie, benar saja
ia rasakan latihannya berjalan banyak lebih licin berkat kegesitannya yang berlipat ganda.
Hari itu, sesudah makan malam, seorang diri ia pergi -lagi ke taman buat berlatih pula
dengan pedangnya. Semakin ia bersilat, semakin cepat gerak-gerakannya, dan semua
pukulan-pukulan yang sukar dapat ia jalankan secara otomatis.
"Sungguh indah ilmu pedang itu!" mendadak terdengar suaranya satu orang. Thian Oe
menoleh dan orang itu ternyata adalah Thiekoay sian.
"Kau sudah mendapat kemajuan pesat sekali," kata Thiekoay sian. "Kalau dilihat begini,
tidak usah sepuluh tahun, kita sudah bisa turun dari gunung ini. Cuma saja, biarpun ilmu

entengi badanmu sudah maju jauh, kuping dan mata belum terlatih cukup. Barusan,
sesudah aku berada dekat sekali denganmu, barulah kau mengetahui."
Sehabis berkata begitu, Thiekoay sian segera turunkan serupa ilmu buat melatih kuping
kepada muridnya itu. Dengan ilmu tersebut, orang dapat membedakan macam-macam
senjata seperti senjata rahasia, dengan cuma dengar suara anginnya senjata itu. Sesudah
memberi semua petunjuk secara terang, Thian Oe segera berlatih dengan ilmu baru itu.
"Sekarang aku mau coba padamu," kata Thiekoay sian. "Coba kau balik badan dan aku
akan datang dari sebelah belakang. Begitu dengar suaranya angin, kau mesti lantas
menimpuk dengan batu. Aku mau lihat, apa kau dapat menimpuk jitu atau tidak."
Thiekoay sian lantas pergi ke tempat yang agak jauh, sedang sang murid berdiri
menunggu.
Lewat beberapa saat, Thian Oe mendadak dengar suara tindakan yang sangat enteng
mendatangi dari samping, la kaget dan kata dalam hatinya: "Kenapa terdengar
tindakannya dua orang? Apa soehoe sengaja keluarkan ilmu luar biasa, atau kupingku
belum terlatih baik?"
Sementara itu, suara tindakan jadi semakin dekat. Thian Oe tak sempat memikir
panjangpanjang lagi. Ia ayun tangannya dan menimpuk. Tiba-tiba terdengar suara
tertawa aneh dan batu itu terpukul balik. Didengar dari anginnya, batu itu menyambar ke
arah Thian Oe luar biasa cepatnya. Ia terkesiap dan tidak mengerti kenapa gurunya
menghantam begitu hebat.
Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar bentakannya Thiekoay sian: "Pendeta
jahat! Jangan lukakan muridku!" Berbareng dengan itu satu senjata rahasia menyambar
dan kebentrok dengan batu itu. Kedua-duanya kemudian jatuh kedalam telaga es.
Thian Oe berbalik. Segera juga ia jadi ternganga bahna kagetnya. Orang yang muncui dari
samping bukan gurunya, tapi itu pendeta jubah merah yang pernah datang ke keraton es
dan belakangan kena diusir oleh Pengtjoan Thianlie! Di belakangnya pendeta itu
mengikuti satu boesoe yang berusia muda. Kedua orang itu mengawasi ia sembari
menyeringai, sedang gurunya memburu dari sebelah belakang dengan paras muka kaget
dan heran.
Sembari tertawa tawar, pendeta itu ucapkan beberapa perkataan pada Thiekoay sian
yang tidak mengetahui apa yang dikatakan olehnya sehingga ia cuma geleng-gelengkan
kepalanya. Thian Oe yang mengerti juga sedikit bahasa Nepal lantas berkata: "Soehoe, ia
datang buat cari tahu dimana adanya Pengtjoan Thianlie."
Thiekoay sian segera menuding ke arah bekas Puncak Es dengan tongkatnya dan
gerakgerakkan tangannya buat memberitahu, bahwa Puncak Es itu ambruk dan mungkin
Pengtjoan Thianlie sudah mati tertindih gunung yang ambruk itu.
Paras mukanya si pendeta lantas berobah gusar, sedang si boesoe ucapkan beberapa
perkataan sembari tunjuk-tunjuk Thiekoay sian. Pendeta itu kelihatan jadi lebih gusar lagi.
Mendadak dalam bahasa Tibet, ia ucapkan perkataan "guci emas" dan tangannya
membuat satu gerakan merampas.
Perkataan "guci emas" dan gerakan itu membikin Thiekoay sian mengerti apa yang
dimaksudkan oleh si pendeta yang seperti juga mau menanya: "Apa kau niat merampas
guci emas?"
Thiekoay sian adalah seorang pendekar yang telah mewarisi kepandaiannya Kanglam
Tayhiap Kam Hong Tie. Ia tahu dirinya berada dalam bahaya, tapi ia pantang berdusta.
Maka itu, dengan suara angkuh ia segera berkata:

"Tidak salah! Aku memang mau rampas guci emas itu!"


Pendeta jubah merah itu menggereng dan lantas menyapu dengan sianthung-nya. Dalam
hal ini telah terbit salah mengerti. Dari gerakan tangannya Thiekoay sian, si pendeta
anggap Pengtjoan
Thianlie sudah kena dibinasakan olehnya. Di sebelahnya itu, kisikan sang boesoe muda,
bahwa Thiekoay sian niat merampas guci emas, ternyata benar. Demikianlah, dengan
adanya dua macam kegusaran yang menjadi satu, tanpa menyelidiki lebih lanjut, si
pendeta lalu membuka serangan. Di lain pihak, Thiekoay sian yang mempunyai ganjelan,
juga jadi sangat gusar melihat caranya si pendeta yang datang-datang sudah menyerang
membabi buta. Ia kerahkan tenaganya dan menyampok sama tongkat besinya. Dengan
satu suara keras, kedua senjata kebentrok dan Thiekoay sian terhuyung beberapa tindak.
Bukan main kagetnya Thian Oe. Ia tahu tenaga gurunya belum pulih dan bukan
tandingannya si pendeta. Di antara suara beradunya senjata, ia dengar sang guru
berseru: "Oe-djie! Lari! Kalau tidak dengar perkataanku, aku tidak akui lagi kau sebagai
murid!"
Tan Thian Oe tahu, bahwa dengan berseru begitu sang guru ingin selamatkan jiwanya.
Sebagai seorang yang sangat tebal pribudinya, manalah ia tega tinggalkan gurunya
dalam' keadaan yang berbahaya itu. Sebaliknya dari angkat kaki, ia berdiri dengan mulut
ternganga. Sementara itu, kedua orang sudah bertempur belasan jurus.
Si boesoe muda menyender di satu pohon, matanya menyapu ke arah Thian Oe. Dengan
menyaksikan cara bagaimana batu yang ditimpukkan oleh Thian Oe, kena dibikin
terpental oleh si pendeta, ia mengetahui ilmunya Thian Oe masih cetek. Ia jadi tidak
memandang mata dan perhatiannya lalu dipusatkan kepada gelanggang pertempuran." .
Dalam tempo sekejap, Thiekoay sian dan si pendeta' sudah bertempur kurang lebih dua
puluh jurus. Walaupun mesti saban-saban mundur, tapi gerakan-gerakannya Thiekoay
sian sama sekali tidak jadi kalut dan masih dapat menyambut serta membalas sesuatu
serangan.
Mendadak dalam gelanggang pertempuran terjadi perobahan yang membikin Thian Oe
jadi terkesiap. Muka gurunya kelihatan menyeramkan sekali, kedua kakinya bertindak
menurut kedudukan Ngoheng Patkwa, sedang tongkatnya diputar keras sehingga
menerbitkan angin yang menderu-deru. Ia tahu sang guru sedang bersilat dengan ilmu
Hokmo Tianghoat yang paling banyak meminta tenaga lweekeh. Ia ingat, sesudah
gurunya pertama kali bertempur melawan si pendeta, Pengtjoan Thianlie pernah
mengatakan, bahwa masih untung Thiekoay sian baru keluarkan sembilan puluh enam
jurus Hokmo
Tianghoat, sebab kalau sampai di jalankan seluruhnya, yaitu sampai seratus delapan
jurus, Thiekoay sian tentu akan menderita sakit berat. Dan sekarang, dengan kesehatan
yang belum pulih, sang guru kembali menggunakan ilmu silat tersebut. Ia mengetahui
hebatnya bahaya yang mengancam dan niat segera membantu, akan tetapi, sebelum ia
bergerak, gurunya sudah deliki padanya. Ia mengerti, delikan mata itu merupakan satu
tegoran lantaran ia tidak buru-buru angkat kaki. Saat itu, satu bentrokan senjata yang
sangat keras terdengar dan kedua lawan sama-sama mundur beberapa tindak dengan
badan sempoyongan, tapi lekas juga mereka maju kembali dan bertempur semakin
sengit.
Bahwa dengan pertaruhkan jiwanya Thiekoay sian sudah keluarkan Hokmo Tianghoat
adalah buat membikin muridnya dapat tempo untuk melarikan diri. Tapi tidak dinyana,
lantaran perasaan cinta terhadap sang guru, si murid jadi tidak dengar kata dan rela

binasa bersama-sama. Thiekoay sian mengeluh dalam hatinya. Di satu pihak ia terharu
sangat melihat pribudinya sang murid, di lain pihak ia berdongkol lantaran kebandelannya
Thian Oe. Dan sungguh kasihan, biarpun hatinya mau, Thiekoay sian tidak 179
dapat bicara lagi dengan muridnya, sebab seluruh perhatiannya harus dipusatkan kepada
sang lawan.
Sebagaimana diketahui, Hokmo Tianghoat terbagi jadi tiga bagian. Bagian pertama yang
terdiri dari tiga puluh enam jurus dengan lekas sudah dijalankan habis, dan bagian kedua
yang juga terdiri dari tiga puluh enam jurus, segera menyusul. Sambil kertek gigi
Thiekoay sian kerahkan tenaga lweekeh yang diperlukan buat jalankan bagian kedua dari
Hokmo Tianghoat. Oleh karena hatinya sudah mengambil putusan buat berkelahi sampai
mati, tak tahu dari mana datangnya, tenaganya jadi bertambah berlipat ganda, sehingga
buat sementara dapat juga ia mempertahankan dirinya.
Tiba-tiba si pendeta jubah merah keluarkan tertawa aneh dan sianthung-nya menyambar
ke atas buat totok tongkatnya Thiekoay sian. Ketika itu bajunya Thiekoay sian sudah
basah dengan keringat yang terus turun berketel-ketel dari badannya. Melihat sambaran
senjata lawan, sambil membentak keras, ia menyampok dengan tongkatnya. Sianthungnya si pendeta dapat dibikin terpental, tapi tongkat itu yang sebesar mangkok sudah jadi
sedikit bengkok! Melihat begitu, jantungnya Thian Oe memukul semakin keras.
Tidak lama kemudian, bagian kedua Hokmo Tianghoat juga sudah habis dijalankan.
Sekarang pertempuran berobah sifatnya. Tongkatnya Thiekoay sian bergerak perlahanlahan seperti juga beratnya ribuan kati. Saban kali badannya bergerak, tulangnya
kedengaran berkrotokan, sedang urat-urat pada timbul di kepalanya, dan itu semua
menandakan, bahwa ia sedang menggunakan seluruh tenaga yang masih ketinggalan
dalam badannya. Si pendeta jubah merah juga hilang segala sikapnya yang memandang
enteng dan tumplek semua perhatiannya kepada gerakan sang lawan. Seperti dalam
pertempuran yang dahulu, ia kembali keluarkan ilmu Yoga dengan duduk bersila dan
goyang-goyang senjatanya. Seperti kena dibetot, semakin lama Thiekoay sian semakin
mendekati si pendeta. Hatinya terkesiap, la sudah kerahkan semua tenaga dalamnya, tapi
lantaran memangnya kalah tenaga, sekarang ia tidak dapat melawan lagi betotan itu.
Sedapat mungkin, ia berusaha buat loloskan diri, tapi tongkatnya terus kena ditempel
senjata musuh dan tak dapat lolos. Ia tahu, begitu lekas badannya kena dibetot cukup
dekat, si pendeta akan segera turunkan pukulan yang membinasakan. Ketika itu dari 108
jurus Hokmo Tianghoat, ia sudah jalankan jurus yang ke-106.
Dengan Seantero semangatnya dipusatkan kepada senjatanya, si pendeta mendadak
membetot keras sembari membentak: "Robohlah!"
Thian Oe lihat badan gurunya bergoyang-goyang, sedang kepalanya tunduk ke depan
seperti juga akan segera terguling di hadapannya si pendeta. Semangatnya Thian Oe
terbang. Segala rupa perhitungan lenyap dari otaknya. Dengan sekali jejak kakinya,
badannya melesat seperti anak panah dan pedangnya tikam jalanan darah Liongtjong
hiat yang terletak di bawah dadanya si pendeta. Dalam serangan itu Thian Oe cuma ingat
menolong gurunya. Ia tidak perhitungkan lagi jiwanya. Ia malahan tidak perhitungkan
apakah serangan itu bisa berhasil atau tidak.
Tapi, di luar semua dugaan, begitu pedangnya Thian Oe menyambar, begitu juga
terdengar teriakan si pendeta yang badannya terpental tiga tombak jauhnya.
Oleh karena jarak dimana Thian Oe berdiri ada beberapa tombak dan juga sebab
mengetahui ilmu silatnya pemuda itu masih sangat cetek, si pendeta jubah merah sama
sekali tidak memandang mata padanya. Selainnya itu, kawannya, yaitu si boesoe muda,
juga berada disitu, sehingga lebih-lebih ia tidak menjaga-jaga serangannya Thian Oe. Ia
tentu saja tidak mengetahui, bahwa sesudah makan buah mujijat, walaupun ilmu silatnya

tidak seberapa, ilmu entengi badannya Thian Oe sudah boleh berendeng sama ahli silat
kelas utama. Dengan sekali loncat saja, ia sudah lalui jarak tiga tombak itu dan kirim
tikamannya dengan sepenuh tenaga. Si boesoe muda sudah tidak keburu menolong,
sedang si pendeta, yang lagi pusatkan Seantero perhatiannya kepada Thiekoay sian guna
robohkan lawanan itu, sudah tidak dapat menangkis lagi dan jalanan darahnya kena
ditikam secara telak sekali!
Sebenarnya dengan tenaga dalam yang dipunyai oleh si pendeta, tikaman Thian Oe
belum cukup buat robohkan padanya. Akan tetapi, pada ketika badannya bergoyang
akibat tikaman itu, Thiekoay sian tidak mau kasih lewat kesempatan yang baik itu dan
lantas kirim satu sabetan ke arah dadanya dengan gunakan jurus ke-107 dari Hokmo
Tianghoat. Dengan dua serangan hebat yang datang hampir berbareng, andaikata si
pendeta mempunyai badan tembaga, ia toh tidak akan dapat pertahankan dirinya lagi.
Masih untung, berkat ilmu silatnya yang sangat tinggi, ia tidak lantas jadi binasa. Tapi
biarpun begitu, ia muntahkan darah hidup dan tenaga dalamnya menjadi buyar, sehingga
ilmu silatnya tidak akan dapat pulang kembali, jika ia tidak berlatih lagi dari tiga sampai
lima tahun.
Thian Oe kaget berbareng girang. Baru saja ia niat menghampiri gurunya, mendadakan
Thiekoay sian berteriak: "Minggir!"
Thian Oe menoleh dan satu bayangan hitam sedang menubruk ke arah ia. Pada saat itu,
Thiekoay sian menimpuk dan tongkat besinya melesat bagaikan kilat. Itulah jurus Sinmo
kwiwie (Siluman balik ke kedudukannya), yaitu jurus penghabisan dari Hokmo Tianghoat.
Sebegitu jauh, belum pernah Hokmo Tianghoat, digunakan sampai pada jurus
penghabisan. Kalau toh jurus ke-108 sampai digunakan juga, itu berarti yang
menggunakannya bersedia buat binasa bersama-sama sang lawan. Thiekoay sian
menimpuk dengan pakai semua sisa tenaga yang ia dapat kumpulkan dalam dirinya.
Dapat dimengerti, kalau si boesoe muda tak dapat loloskan diri dari serangan yang
sedemikian hebat. Tongkatnya Thiekoay sian mengenakan dadanya dan dari depan terus
tembus sampai ke belakang. Dengan satu teriakan ngeri, ia roboh binasa.
Selama hidupnya, belum pernah Thian Oe lihat pemandangan yang begitu mengerikan.
Kaki tangannya lemas dan ia tidak berani menengok lagi. Di lain saat, ia dengar suara
berkereseknya daun-daun. Rupanya si pendeta jubah merah sudah melarikan diri.
Keadaan kembali jadi sunyi-senyap. Thiekoay sian menghela napas dan memanggil: "Oedjie, mari!"
Thian Oe lihat gurunya sedang menyender di satu pohon dengan muka yang pias seperti
kertas. Ia seperti juga seorang yang sedang menderita sakit keras dan keadaannya
banyak lebih hebat daripada waktu bertempur dengan si pendeta jubah merah pertama
kali.
Thian Oe menghampiri dan menanya dengan suara terharu: "Soehoe, bagaimana
keadaanmu?"
"Muridku," jawab sang guru. "Malam ini adalah malam perpisahan kita!"
Sang murid lantas saja menangis dan air matanya mengucur deras. Thiekoay sian
terharu, tapi ia lantas tertawa dan berkata dengan suara lemah: "Dalam dunia ini, tidak
ada perjamuan yang tidak ada akhirnya. Kejadian begini tidak berharga buat ditangisi."
"Tenaga dalam soehoe ada sangat kuat dan di dalam keraton terdapat banyak sekali
obatobatan. Biarlah aku bawa kemari seraup obat-obatan supaya soehoe bisa lihat yang
mana dapat digunakan," kata Thian Oe dengan suara sedih.

Thiekoay sian geleng-gelengkan kepalanya dan berkata: "Dalam keadaan badan yang
belum pulih kembali, barusan aku sudah jalankan habis seratus delapan jurus Hokmo
Tianghoat. Biarpun aku makan semua obat mujijat dalam dunia ini, aku tidak dapat
ditolong lagi. Aku tidak mempunyai banyak tempo lagi. Lebih baik kau dengar apa yang
aku mau pesan kepadamu."
Sembari tahan air matanya, Thian Oe manggutkan kepalanya.
Biarpun kita baru menjadi guru murid tiga bulan lamanya, aku sudah mengetahui bahwa
kau mempunyai pribudi yang sangat tinggi," kata sang guru. "Aku berani pastikan, bahwa
di belakang hari kau akan berhasil dalam penghidupanmu. Sekarang aku mau minta satu
pertolonganmu."
"Soehoe bilang saja," kata Thian Oe.
"Jika Tuhan menaruh belas kasihan, sehingga isteriku tidak sampai turut binasa, dan kalau
di kemudian hari kau bertemu dengan soenio-mu, bilang padanya, bahwa aku pesan
supaya dia rawat anak kita baik-baik. Sesudah berusia sepuluh tahun, suruh anak itu
angkat kau sebagai guru," demikian Thiekoay sian memberi pesanannya.
Thian Oe kaget sebab sebegitu jauh, gurunya belum pernah bilang mempunyai anak.
Akan tetapi, dalam keadaan begitu, ia tentu saja tidak mau menanya melit-melit. Ia cuma
manggutmanggutkan kepalanya, sebagai tanda bersedia buat turut pesanan itu.
"Semua pelajaran ilmu silatku, aku sudah turunkan kepada kau," kata lagi sang guru.
"Ilmu tongkatku juga kau sudah mengerti semua. Biarlah kau turunkan ilmu silat itu
kepada anakku. Tongkat ini kau simpan baik-baik. Nanti, kalau anak itu sudah besar,
serahkanlah kepadanya dan bentahukan, bahwa itulah ada warisan dari soetjouw-nya.
Mengenai si pendeta itu, meskipun malam ini dia bisa loloskan diri, tapi dia pasti akan jadi
orang yang bercacat. Maka itu, siapa juga tidak usah membikin pembalasan apa-apa. Apa
kau bersedia buat jadi gurunya anakku itu?"
"Jika murid bisa turun dari gunung ini dengan masih bernyawa, pesanan soehoe murid
akan jalankan satu persatu," jawab Thian Oe dengan suara sedih sekali.
Thiekoay sian tertawa dan paras mukanya kelihatan terang. Ia kumpulkan tenaganya dan
kemudian berkata pula: "Dahulu aku pernah terima pesanannya soetjouw-mu dan Moh
Tjoan Seng lootjianpwee buat coba cari turunannya Koei Hoa Seng tjianpwee. Sekarang
kita sudah mengetahui, bahwa Pengtjoan Thianlie adalah puterinya Koei tjianpwee. Maka
itu andaikata Pengtjoan Thianlie masih hidup, kau mesti cari padanya dan sampaikan
penuturanku ini. Sekarang Puncak Es sudah roboh dan ia merdeka buat cari pamannya."
Thian Oe kembali manggutkan kepalanya. Mulutnya seperti terkancing lantaran
perasaannya yang sangat terharu. Thiekoay sian meramkan matanya dan napasnya jadi
semakin perlahan. Dengan hati-hati, Thian Oe dukung gurunya itu.
Sesudah lewat beberapa saat, dengan suara terputus-putus Thiekoay sian berkata: "Itu...
itu guci emas. Aku sendiri tidak tahu harus membantu pihak yang mana. Tapi, biar
bagaimanapun juga tidak boleh dibiarkan jatuh ke dalam tangan orang luar. Itu... itu
pemuda baju putih... omongannya ada juga benarnya. Kau... kau pergilah cari padanya..."
Semakin lama suaranya semakin perlahan dan belum habis ia bicara, kedua kakinya
berkelejet dan Thiekoay sian tinggalkan dunia ini buat selama-lamanya.
Thian Oe menangis menggerung-gerung dan kemudian kubur jenazah gurunya dalam
taman itu. Ia juga galikan lubang buat kubur jenazahnya itu boesoe muda. Sesudah beres
mengubur, ia bersihkan semua bekas-bekas darah dan ambil tongkat gurunya. Ia dongak
dan lihat sang rembulan sudah doyong ke barat, bintang-bintang sudah mulai menghilang

dan sang malam sudah mulai terganti sama fajar. Tanpa juntrungan, ia jalan ke sana-sini.
Dalam keraton es yang sedemikian luas, sekarang cuma ketinggalan ia seorang diri.
Hatinya sedih berbareng takut. Keraton dan tamannya yang begitu indah sekarang hilang
keindahannya dan ia segera mengambil keputusan buat segera menyingkir dari tempat
itu.
Baru saja matahari mengintip di sebelah timur, Thian Oe lantas bebenah. Ia bekal
makanan kering, bereskan barang-barangnya dan keluar dari keraton es. Tapi baru saja
jalan puluhan tindak, ia sudah mandek lagi. "Dengan kepandaianku ini, cara bagaimana
aku bisa seberangi sungai es?" tanya ia dalam hatinya. Tapi, buat berdiam seorang diri
dalam keraton itu dengan peringatan-peringatannya yang hebat, benar-benar ia tidak
mau.
Selagi hatinya bersangsi, mendadak di bawah tanah timbul suara yang aneh. Suara itu,
yang Thian Oe tak dapat tebak suara apa, sebentar muncul dan sebentar hilang. "Apa
mau gempa bumi lagi? Tapi kenapa suaranya tidak jadi lebih keras?" tanya ia dalam
hatinya. Dengan hati berdebardebar, ia lari. Mendadak suara itu muncul lagi, tapi di lain
saat, sudah menghilang pula.
Thian Oe tetapkan hatinya. Sekarang ia tahu pasti, bahwa suara itu bukannya gempa
bumi. la jadi semakin heran. Dalam keraton tersimpan banyak sekali mustika. Apakah
datang orang jahat yang niat mencuri barang-barang berharga itu? Walaupun ia sudah
mengambil putusan buat tidak berdiam lebih lama lagi, akan tetapi, sesudah tinggal tiga
bulan lamanya dalam keraton itu, setahu bagaimana, dalam hatinya timbul semacam
perasaan menyayang yang luar biasa. Ia tahu, bahwa sesudah ia pergi, keraton yang
seperti surga itu mungkin akan menjadi sarangnya kawanan tikus, akan tetapi, sebegitu
lama ia masih berada disitu, ia tidak mau orang merusak atau menduduki keraton
tersebut. Maka itulah, ia lalu berjalan balik ke keraton es.
Begitu masuk ke dalam taman, suara di dalam tanah kedengaran lagi. "Apa manusia?
Kalau manusia, pasti tidak bisa berada di dalam tanah," pikir Thian Oe. Sesudah
ketelanjur balik, ia segera ambil putusan buat memeriksa di dalam keraton. Baru saja tiba
di dekat telaga es, kupingnya mendadak dengar suara tindakan manusia. Ia terkesiap dan
dengan indap-indap menghampiri suara itu. Oleh karena ia apal betul dengan jalananjalanan disitu dan juga sebab ilmu entengi badannya sudah sempurna, maka gerakannya
tidak dapat diketahui oleh tetamutetamu yang baru datang itu.
Di depannya itu gedung aneh yang atapnya lancip, Thian Oe lihat berdiri tiga orang. Yang
di tengah berbadan gemuk dan bukan lain daripada Nyepa Omateng. Dua orang yang
berdiri di kedua sampingnya Omateng adalah itu dua boesoe Nepal yang kita sudah kenal.
"Suara apa itu?" tanya Omateng. "Apa bukan gempa bumi lagi?"
"Rasanya bukannya gempa bumi," sahut boesoe yang berusia lebih tua. Mereka berbicara
dalam bahasa Tibet yang dapat dimengerti juga oleh Thian Oe.
"Barusan kita ketemukan darah yang masih baru di atas tanah, rupa-rupanya disini masih
ada manusianya," kata lagi Omateng. "Tapi heran, tidak ada bayangannya barang satu
manusia."
Kedua boesoe itu rangkap tangannya dan berteriak: "Pengtjoan Thianlie!" Tapi kecuali
kumandang suaranya tidak terdengar suatu apa lagi. Mereka lantas saja perlihatkan paras
muka ketakutan. "Jika Paduka Puteri masih berada disini, ia tentu akan keluar," kata yang
satu. "Apa mungkin ia sudah jadi korban bencana alam?" sahut yang lain. "Ah, kalau
sampai kejadian begitu, bagaimana kita mesti bicara dengan Paduka Raja!"

Thian Oe segera mengetahui, bahwa kedua boesoe itu mendapat perintah rajanya buat
mencari Pengtjoan Thianlic. Tapi, apa yang ia tidak mengerti, kenapa juga Omateng mesti
ikut-ikutan. Biarpun Nyepa itu pernah menolong Chena, setahu bagaimana, Thian Oe
sangat membenci dia. Dalam hatinya ia merasa, orang itu licik sekali. Mukanya manis,
hatinya busuk.
"Tak perduli Paduka Puteri ada atau tidak, marilah kita bikin pemeriksaan," kata Omateng.
"Tidak bisa," kata boesoe yang lebih tua. "Tempat ini adalah tempat suci dari agama
negara kita. Tanpa permisinya Paduka Puteri, siapa juga tidak boleh masuk kesitu."
"Tempat ini sudah tidak ada majikannya. Halangan apa kalau kita masuk buat lihat-lihat?"
kata Omateng.
Sebagaimana diketahui, pintu gedung sudah rusak lantaran gempa bumi. Sembari
nyengir kepada dua boesoe itu, Omateng segera pentang langkahnya buat masuk ke
dalam.
Mengingat akan larangannya
Pengtjoan Thianlie dan juga sebab kuatir Omateng curi kiamhoat yang terdapat disitu,
Thian Oe lantas saja loncat keluar seraya membentak: "Omateng! Besar sungguh
nyalimu!"
Omateng berpaling dengan paras muka terkejut. Tapi begitu lihat siapa yang datang, ia
lantas tertawa. "Tan kongtjoe, kau?" kata ia. "Mana Chena?"
"Jangan bicara yang tidak perlu," kata Thian Oe. "Kau orang keluar dari sini!"
"Ah, itulah heran!" kata Omateng. "Apa kau sudah jadi majikan dari keraton ini?"
"Tak usah perduli! Kau orang mau pergi atau tidak?" kata lagi Thian Oe dengan suara
gusar.
"Dan atas alasan apa kau mau campur-campur urusanku?" kata Omateng sembari
tertawa. Mulutnya tertawa, tapi tangannya lantas mencabut golok.
Thian Oe naik darahnya. "Pergi!" ia membentak sembari menikam dengan pedangnya.
"Waduh, Tan kongtjoe!" kata Omateng sembari tertawa besar. "Kau mau main-main
senjata?" Omateng yang pernah saksikan ilmu silatnya Thian Oe sedikitpun tidak pandang
mata pemuda itu. Ia merasa pasti akan dapat robohkan Thian Oe dengan sekali jurus. Tapi
Thian Oe sekarang bukannya Thian Oe dahulu. Serangannya adalah satu jurus aneh dari
Tatmo Kiamhoat. Ujung pedang berkelebat seperti juga mau menabas ke kiri, tapi berbalik
membabat ke kanan dan tanpa tercegah lagi, pundaknya Omateng kena digores. Bagus
juga ilmunya Thian Oe belum cukup tinggi, sedang Omateng pun bukannya lawanan
lemah. Kalau bukannya begitu, tabasan yang barusan tentu sudah kutungkan pundaknya.
Mukanya Omateng segera berobah pucat. Buru-buru ia pusatkan Seantero perhatian buat
lawan pemuda itu yang tadinya dipandang rendah dan dengan beruntun kirim tiga
bacokan. Tapi biar bagaimanapun juga, kiamhoat-nya Thian Oe ada lebih tinggi dan ia
terus kena didesak mundur. Kedua boesoe Nepal yang menonton dari pinggiran jadi heran
tidak habisnya.
"Anak ini adalah anaknya pembesar Boantjeng," berseru Omateng. "Dia sudah mencuri
masuk disini dan sudah belajarkan juga ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie. Tidak bisa

salah lagi dialah yang membunuh Pengtjoan Thianlie yang sedang terluka akibat gempa
bumi. Dia rupanya ingin merampas keraton ini dan pandang dirinya sebagai majikan!"
Oboran itu, yang sebenarnya sama sekali tidak beralasan, benar-benar sudah membikin
panas hatinya kedua boesoe itu. Mereka cabut goloknya yang berbentuk bulan sisir dan
menyerang dengan berbareng.
"Dengar dahulu keteranganku!" berseru Thian Oe.
"Mau bicara apa lagi?" membentak Omateng yang terus mencecer sehebat bisa supaya
pemuda itu tidak sempat bicara. Thian Oe bukannya seorang yang pandai omong dan
juga memang sebenarnya ia sudah curi belajar kiamhoat-nya Pengtjoan Thianlie. Lantaran
begitu, ia tidak dapat memberi keterangan yang memuaskan, sedang ketiga musuhnya
terus menyerang dengan sengit dan tidak memberi kesempatan buat ia bicara panjangpanjang. Demikianlah dengan pedang di tangan kiri dan tongkat gurunya di tangan
kanan, Thian Oe melawan dengan keluarkan dua macam ilmu silat dengan berbareng,
yaitu ilmu pedang Tatmo dan ilmu tongkatnya Thiekoay sian. Dalam sekejap saja, tiga
puluh jurus sudah lewat.
Akan tetapi, meskipun sudah mengetahui jalan-jalannya kedua ilmu silat yang sangat
tinggi itu, Thian Oe belum matang betul dan tenaga dalamnya juga belum cukup kuat.
Maka itulah, semakin lama ia berkelahi, semakin ia rasakan tidak tahan dikerubuti oleh
ketiga lawan itu. Kedua boesoe Nepal agaknya masih sungkan-sungkan dan cuma tangkistangkis saja serangan-serangannya Thian Oe. Tapi tidak begitu dengan Omateng yang
sungguh-sungguh maui jiwanya pemuda itu. Setiap serangannya adalah serangan yang
membinasakan, yang ditujukan kepada bagian-bagian badan yang lemah. Melihat Thian
Oe mulai keteter, pada bibirnya tersungging senyuman yang licik sekali.
Tiba-tiba itu suara di dalam tanah kedengaran lagi, sekali ini lebih keras dan nyata.
Keempat orang yang sedang bertempur kaget dan pada loncat keluar dari gelanggang,
sehingga Thian Oe bisa buang napasnya. Selagi Thian Oe mau buka mulutnya guna
memberi keterangan, mendadak suara itu berhenti dan Omateng segera membentak:
"Lebih baik bekuk dahulu manusia ini, baru bikin penyelidikan." Sehabis membentak, ia
lantas menyerang, diturut oleh kedua boesoe Nepal. Napasnya Thian Oe sengal-sengal
dan keadaannya jadi semakin berbahaya.
"Lekas lepas senjatamu, supaya tak usah menderita lebih lanjut!" berseru Omateng.
Bukan main berdongkolnya Thian Oe. Pedangnya berkelebat laksana kilat, Omateng coba
kelit tapi pundaknya kembali tergores ujung pedang! Sembari berteriak-teriak kesakitan ia
membentak: "Binatang! Kalau belum dihajar, memang kau belum kenal takut. Lihat, aku
putuskan kedua lenganmu!"
Dengan dilindungi oleh kedua boesoe Nepal, kakinya menginjak kedudukan Tiongkiong
dan lantas menyabet dengan senjatanya. Melihat dua kali Thian Oe melukakan Omateng,
kedua boesoe Nepal juga jadi berdongkol dan segera menyerang tanpa sungkan-sungkan
lagi.
Thian Oe jadi lelah dan jatuh di bawah angin. Ia menghela napas dan duga bakal binasa di
tempat itu. Girang sekali hatinya Omateng. Sembari menyeringai, ia sabetkan goloknya
ke arah pundaknya Thian Oe. Lantaran kena didesak dengan dua goloknya si boesoe
Nepal, sekali ini Thian Oe tidak mampu menangkis lagi. Pada saat yang sangat
berbahaya, mendadakan saja Omateng dan kedua boesoe itu keluarkan teriakan kaget
dan hentikan serangannya.
"Mau apa kamu orang datang kesini? Apa mau cari mampus?" demikian Thian Oe dengar
bentakan yang halus nyaring. Ia menengok dan lihat dayang-dayang keraton es pada

meluber keluar dari antara pohon-pohon kembang, sedang orang yang barusan
membentak adalah Goat Sian, yaitu dayang dari kamar tulisnya Pengtjoan Thianlie!
Thian Oe kaget berbareng girang. Munculnya para dayang itu membikin ia merasa seperti
juga berada dalam impian.
Pada waktu kedua orang tuanya Pengtjoan Thianlie masih hidup, mereka sudah bersiapsiap buat menghadapi gempa bumi yang hebat. Di bawah keraton terdapat satu gua es
yang ribuan tahun tidak pernah mengenal sinarnya matahari. Ayah ibunya Pengtjoan
Thianlie mengetahui, bahwa sebuah gunung berapi yang masih bekerja terletak di
dekatnya Puncak Es dan terpisah kira-kira lima puluh li dari keraton. Kalau sampai gunung
berapi itu meledak dan terjadi gempa bumi, keraton es bakal turut tergetar, akan tetapi
kerusakannya tidak bakal seberapa besar. Sebagai penjagaan terhadap batu-batu yang
terlempar akibat robohnya Puncak Es, siang-siang mereka sudah siapkan tempat
mengumpat di gua itu. Mereka membuka satu jalanan di bawah tanah yang di tembok
dengan batu gunung yang sangat keras. Dalam gua itu selalu sedia bahan makanan buat
beberapa bulan lamanya, sedang sebagai air minum, orang dapat menggunakan es yang
dilumerkan. Demikianlah, sedari puluhan tahun berselang persiapan buat menghadapi
gempa bumi sudah dibikin dengan seksama.
Maka itulah, pada waktu terjadinya gempa bumi, kecuali Thiekoay sian yang sedang
berlatih seorang diri dalam kamarnya dan Tan Thian Oe yang berada di dalam guanya
gedung terlarang, semua dayang menyelamatkan dirinya dengan masuk ke dalam gua es
itu. Tapi biar bagaimanapun juga, perhitungan manusia tak dapat melampaui maunya
takdir. Sebagai akibat gempa bumi yang sangat hebat, sebagian tanah melesak ke bawah
dan tutup jalanan di bawah tanah itu. Masih untung jumlahnya dayang cukup banyak dan
dengan bekerja sama-sama, tiga bulan lamanya mereka gali tanah yang menutupi
jalanan. Suara luar biasa yang didengar Thian Oe dan yang lain-lain adalah suara
menggali tanah.
Begitu muncul di muka bumi, para dayang itu jadi sangat kaget lantaran lihat
kedatangannya itu beberapa tetamu yang tidak diundang. Dengan dikepalai oleh Goat
Sian, sembilan dayang segera cabut Pengpok Hankong kiam dan mengambil tempatnya
masing-masing dalam barisan Kioethian Hianlie. Hawa yang luar biasa dinginnya lantas
saja menyambar-nyambar sehingga Omateng dan kedua boesoe itu pada menggetget.
Thian Oe yang sudah belajarkan ilmu silatnya Pengtjoan Thianlie dan telan beberapa pel
mustajab, dapat melawan hawa yang dingin itu.
Dayang yang menjadi kepala membentak dan mengebas dengan Hankong kiam buat
segera turun tangan. Omateng bercakrukan giginya dan tak dapat mengeluarkan sepatah
kata. Kedua boesoe Nepal itu buru-buru meratap meminta ampun dan memberitahu
maksud kedatangannya.
Di antara dayang-dayang ada seorang yang pernah dengar penuturan Pengtjoan Thianlie
mengenai asal-usulnya kedua boesoe itu dan lalu memberitahukan kepada dayang
kepala. Dayang kepala itu segera teriaki satu tanda perintah dan barisan Kioethian Hianlie
lantas terpencar. "Kalau bukannya mengetahui bahwa kau orang tidak bermaksud jahat,
sudah pasti kau tidak bisa pulang kembali," membentak ia. "Baiklah! Sekarang kau orang
boleh pergi. Tapi kalau berani datang lagi, kami tentu tidak akan berlaku sungkan lagi."
Boesoe Nepal yang berusia lebih tua mau coba buka mulutnya lagi, tapi sudah didahului
oleh salah seorang dayang. "Kongtjoe (Puteri) kami tak perlu diurus oleh kau orang," kata
ia, sembari kebaskan Pengpok Hankong kiam. Omateng tak tahan lagi dinginnya hawa.
Sembari berteriak keras, ia kabur secepat bisa. Kedua boesoe menghela napas panjang.
Mereka rangkap kedua tangannya buat memberi hormat ke arah gedung terlarang dan

lalu berjalan pergi. Sekarang cuma ketinggalan Tan Thian Oe seorang yang berdiri
bengong di hadapannya para dayang itu.
Goat Sian mengawasi padanya dan berkata: "Kau masih berada disini?"
"Sungguh beruntung aku lolos dari bencana alam dan buat sementara terpaksa berdiam
disini lantaran tidak bisa keluar," sahut Thian Oe. "Buat kelancangan itu, aku mohon
dimaafkan."
"Kenapa kau curi belajarkan ilmu pedang kita?" tanya lagi Goat Sian.
"Aku duga kalian tidak akan kembali lagi," sahut Thian Oe. "Dan lantaran kuatir ilmu
pedang itu menjadi lenyap dari muka bumi..."
Thian Oe yang tidak pandai bicara tidak dapat teruskan perkataannya, lantaran sejumlah
dayang sudah naik amarahnya dan pada mencaci dirinya. "Hm!" kata yang satu. "Kau
masih begitu kecil, tapi hatimu sudah begitu tidak baik. Kau harap-harapkan supaya kami
mati semuanya!"
"Kami perlakukan kau sebagai tetamu terhormat, tapi kau sudah mencuri masuk ke dalam
tempat pemujaan yang suci dan malahan mempunyai niatan buat menduduki keraton es
ini!" kata yang lain. Beberapa dayang yang pemandangannya sempit lantas saja mau
cabut pedangnya buat mengusir Thian Oe.
Dikerubuti secara begitu, Thian Oe tak dapat buka suara. Baik juga dayang kepala masih
mempunyai rasa kasihan. Sembari kebas tangan bajunya, ia berkata dengan suara
angker: "Sesudah kau mencuri masuk ke dalam tempat pemujaan, Puteri kami
sebenarnya niat kurung kau seumur hidup. Sekarang, sesudah kau curi ilmu pedangnya,
kami tak dapat berlaku sungkan lagi. Cuma saja, lantaran mengingat kau adalah tetamu
Puteri kami, maka tanpa diminta kami suka ampuni jiwamu. Tapi kau tak dapat berdiam
lebih lama di tempat ini!"
Harus diketahui, bahwa peraturannya Pengtjoan Thianlie biasa dipegang keras sekali,
sehingga meskipun ia sendiri tidak berada dalam keraton itu, para dayangnya tidak
berani langgar segala peraturannya. Satu dua dayang yang sifatnya agak sombong sudah
bantu menggebah Thian Oe dengan sikap keren sekali.
Diperlakukan secara begitu, Thian Oe naik darahnya. "Akupun mau berlalu," ia berkata
dengan suara angkuh. "Cuma saja lantaran kalian belum balik, aku kuatir sembarang
orang masuk disini, sehingga aku jadi berdiam sampai di ini hari."
"Kalau begitu kau adalah seorang yang berpahala." kata satu dayang dengan suara
menyindir.
"Pujian itu tak dapat aku menerima," jawabnya dengan suara kaku. "Cuma saja lantaran
ingin melindungi keraton ini, guruku sudah korbankan jiwanya di tempat ini. Sesudah aku
berlalu, harap kalian tolong lihat-lihat kuburannya." Sesudah berkata begitu, air matanya
menetes turun dari kedua pipinya.
"Ha! Thiekoay sian meninggal dunia?" tanya Goat Sian dengan suara kaget. "Ia binasa
cara bagaimana?"
Dengan ringkas Thian Oe segera tuturkan apa yang sudah terjadi. Mendengar begitu
hatinya Goat Sian jadi menyesal sudah perlakukan pemuda itu secara sedemikian kasar,
akan tetapi, dayang itu yang coba tiru-tiru majikannya, sungkan tarik pulang
perkataannya. Di sebelahnya itu, mengingat semua penghuni keraton semuanya wanita,

sedang Thian Oe adalah lelaki satusatunya, maka ia juga merasa tidak enak buat
menahan pemuda itu.
"Baiklah," kata ia. "Aku berjanji akan rawat baik-baik kuburannya Thiekoay sian. Kau
berangkatlah!
Apa perlu aku perintah orang antar padamu?"
"Tak usah," sahut Thian Oe yang masih berdongkol.
"Apa Paduka Puteri pernah pulang kesini?" tanya lagi Goat Sian.
"Tidak," jawabnya dengan pendek.
Goat Sian terkesiap dan berkata dengan suara sedih: "Paduka Puteri pernah
mengeluarkan perintah, bahwa tak perduli ia ada atau tidak, kami tidak dapat turun dari
gunung ini. Perintahnya itu kami tidak berani langgar. Sesudah kau turun gunung,
manakala Puteri kami masih berada dalam dunia, tolong kau coba menyelidiki."
Mendengar begitu, depan matanya Thian Oe lantas terbayang parasnya Pengtjoan
Thianlie. Walaupun hatinya dingin, paras itu sangat mengesankan. Ia angkuh dan tinggi
hati, tapi keangkuhannya keluar secara wajar dan bukannya kesombongan dibuat-buat
dari beberapa orang dayangnya. Mengingat begitu, hatinya menjadi lemas dan ia
menjawab dengan suara terharu: "Aku mengerti. Aku akan perhatikan pesanan itu."
Sehabis berkata begitu, dengan menggendol bungkusannya dan tengteng tongkat
gurunya, tanpa menengok lagi Thian Oe lantas berjalan keluar dari keraton es. Selagi
berjalan, ia dengar helahan napas dari beberapa dayang. "Ah, di antara dayang-dayang
itu terdapat juga orang-orang yang baik hatinya," ia menggerendeng dan hatinya jadi
terhibur.
Dengan hati sedih, ia jalan perlahan-lahan. Mengingat bahayanya sungai es, ia jadi
berkuatir. Dengan kepandaiannya yang begitu cetek, dapatkah ia lewati sungai tersebut?
Cuma saja lantaran tadi sudah menampik dengan penuh keangkuhan, ia jadi merasa tidak
enak buat balik lagi guna minta pengantar.
Thian Oe naik gunung pada permulaan musim panas, dan sekarang, sesudah lewat tiga
bulan, sudah masuk musim rontok. Di atas gunung, salju putih bertumpuk-tumpuk, di
lereng gunung daun-daun berwarna kemerah-merahan. Dengan perasaan masgul, Thian
Oe berjalan terus. Mendadak matanya dapat lihat asap hitam mengebul ke tengah udara.
Ternyata sesudah robohnya Puncak Es, disitu muncul sebuah kawah yang semburkan api
dan asap, yang sehingga sekarang masih belum padam.
Thian Oe ternganga dan menghela napas berulang-ulang. Ia ingat Pengtjoan Thianlie dan
si pemuda baju putih yang hari itu mengadu pedang di bawahnya Puncak Es tersebut.
"Mereka lebih banyak mati daripada hidup," kata Thian Oe dalam hatinya. Ia pun ingat
sang soenio (Tjia In Tjin) dan Chena dan hatinya jadi merasa lebih tidak enak.
"Harap saja Tuhan melindungi mereka," kata ia dalam hatinya. "Kalau mereka masih
hidup, walaupun mesti pergi ke ujung langit, aku tentu akan mencarinya."
Tapi bagaimana ia dapat lewati sungai es yang sangat berbahaya itu. Dengan pikiran
kusut dan bimbang, ia tujukan tindakannya ke bawah gunung. Sesudah jalan beberapa
lama, ia merasa kedudukan bumi sudah berobah dan tidak bersamaan lagi dengan
keadaan pada waktu ia naik ke keraton es.

Itu sungai es yang berbahaya sebenarnya terletak tidak terlalu jauh dari keraton. Ia ingat,
dekat sungai tersebut terdapat satu hutan pohon yanglioe, sedang di pinggir sungai
berdiri satu pohon lioe yang sangat besar, dimana tertambat sebuah perahu kecil. Tapi
sekarang, dimanakah adanya sungai es tersebut?
Bukan main herannya Thian Oe, tapi ia berjalan terus. Sesudah jalan lagi kira-kira
setengah jam, mendadakan saja di depan matanya terbentang satu telaga yang luar
biasa luasnya, sehingga air telaga seperti juga menempel dengan tepian langit dan tepian
langit menempel dengan telaga. Kepingan-kepingan es yang warnanya gilang gemilang
lantaran disorot sinarnya matahari, kelihatan ngambang di atas telaga itu. Dan telaga itu
bukan lain daripada Thian-ouw, Telaga Langit atau Tengri Nor!
Sesudah memandang beberapa lama seperti orang mengimpi, Thian Oe mengetahui apa
sebabnya. Robohnya puncak telah merobah kedudukan bumi banyak sekali. Sungai es itu,
yang turun dari atas gunung terus sampai di Thian-ouw, ternyata sudah diuruk dengan
Puncak Es yang roboh itu! Demikianlah, dengan urukan tanah Puncak Es, satu jalanan
telah terbuka antara keraton es dan telaga Thian-ouw!
Bukan main girangnya Thian Oe: "Tak heran kalau itu dua boesoe dan Omateng bisa
datang ke keraton es," kata ia dalam hatinya.
Keadaan Thian-ouw masih tetap seperti sediakala, dengan airnya yang bening dan
pohonpohon dan rumputnya yang berwarna hijau. Thian Oe duduk mengasoh di pinggir
telaga dan isikan kantong kulitnya dengan air yang bening. Lama sekali ia duduk
termenung disitu dan sampai lewat lohor barulah berjalan lagi.
Selang tiga hari, tibalah Thian Oe di kaki gunung. Oleh karena mati hidupnya Pengtjoan
Thianlie belum diketahui dan sukar mencarinya kalau bukan bertemu secara kebetulan,
maka ia lalu ambil putusan buat langsung pergi ke Lhasa. Lhasa adalah ibukota Tibet
dimana berdiam jenderal Hok Kong An bersama pasukannya. Pada harian kantor Amban
dirusak oleh Tjoei In Tjoe dan Ong Lioe Tjoe, ayahnya Thian Oe (Tan Teng Kie) segera
meninggalkan Sakya buat pergi ke Lhasa guna melaporkan kejadian itu kepada Hok Kong
An. Sebagaimana diketahui, hal itu telah diberitahukan kepada Thian Oe oleh si kacung
Kang Lam. Itulah sebabnya kenapa sekarang ia ambil putusan buat langsung pergi ke
Lhasa dengan maksud menemui ayahnya.
Sesudah berjalan lagi tujuh delapan hari, ia tiba di satu kota Chaklun yang terletak antara
Shigatse dan Lhasa. Tibet adalah satu tempat yang tidak banyak penduduknya. Sebuah
kota yang dinamakan kota besar kebanyakan hanya mempunyai beberapa ratus rumah
penduduk. Chaklun juga terhitung kota besar, akan tetapi, di situ cuma terdapat satu
rumah penginapan. Thian Oe minta satu kamar dalam rumah penginapan itu dan sesudah
makan malam, ia lalu rebahkan dirinya di atas pembaringan lantaran merasa capai
sesudah lakukan perjalanan seharian suntuk.
Tapi baru saja rebahkan diri, ia dengar suara rintihan di kamar sebelah. Dengan heran, ia
panggil Tiam Siauwdjie (pelayan hotel) dan lalu menanyakan siapa yang sakit.
"Mereka adalah dua pembesar ketentaraan dan sudah sakit tiga hari," sahut Tiam Siauw
Djie.
"Mendapat sakit di tengah perjalanan adalah kejadian yang menyedihkan," kata Thian Oe.
"Apa disini tidak ada tabib?"
"Ada satu dua, tapi tak ada yang tahu penyakit apa," sahut si pelayan. "Sesudah
bongmeh (periksa nadi), ia tidak berani tulis surat obat."

"Penyakit apa?" kata Thian Oe. "Kalau diceritakan sangat luar biasa," Tiam Siauw Djie
berkata dengan suara perlahan. "Hari itu, kedua perwira tersebut yang menginap disini
minum arak di ruangan luar. Kau tahu, hotel ini juga menjual arak dan makanan buat
melayani orang-orang yang kebetulan mampir disini. Tiba-tiba datang seorang wanita
muda yang rupanya mampir buat makan dan minum. Ia kelihatannya seperti orang asing,
hidungnya mancung dan matanya rada-rada berwarna blau. Sembari nyengir, kedua
perwira itu keluarkan beberapa perkataan mengejek. Wanita itu tidak jadi gusar, ia cuma
tertawa dingin dan berkata: "Kalian suka main-main disini. Biarlah kalian mengasoh
beberapa hari." Sehabis berkata begitu, tak tahu ia gunakan ilmu apa, mendadakan saja
di depannya kedua perwira itu berkelebat sinar yang sangat dingin. Aku yang menonton
dari sebelah kejauhan juga rasakan hawa yang sangat dingin. Wanita itu lalu lemparkan
sepotong perak di atas meja dan berlalu dengan cepat. Sembari berteriak-teriak
kedinginan kedua perwira itu lari masuk ke dalam kamar dan gulung dirinya dengan
selimut, tapi itu semua ternyata tidak menolong. Selama tiga hari, mereka berada dalam
keadaan ngelindur, badannya sebentar panas, sebentar dingin. Coba pikir, apa bukannya
luar biasa?"
Thian Oe kaget berbareng girang. Yang dilepaskan oleh wanita itu tentulah juga Pengpok
Sintan. Apa ia bukannya Pengtjoan Thianlie?
"Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan. Coba aku periksa penyakitnya," kata ia kepada
sang pelayan.
Tiam Siauw Djie antar Thian Oe ke kamar sebelah dan berkata: "Tuan, ada satu tuan mau
periksa penyakitmu."
Kedua perwira itu buka kedua matanya. Tiba-tiba mereka keluarkan suara teriakan
tertahan. "Siapa kau?" tanya satu antaranya.
Thian Oe mengawasi dan kenali, bahwa mereka itu adalah dua perwira yang mengantar
guci emas, yang tempo hari ia bertemu dalam penginapan di Shigatse.
"Ayahku Tan Teng Kie adalah Soanwiesoe (Amban) pada suku Sakya," sahut Thian Oe.
"Namaku Thian Oe. Kita sudah pernah bertemu di Shigatse."
Pada malam itu, ketika Siauw Tjeng Hong turut bertempur, Thian Oe tidak munculkan
muka, sehingga kedua perwira itu tidak menaruh curiga apa-apa. Sesudah Thian Oe
perkenalkan dirinya, salah seorang lantas berkata: "Oh, kalau begitu Tan Kongtjoe?" Ia lalu
minta Tiam Siauwdjie berlalu dari kamar itu dan kemudian menanya pula: "Ada urusan
apa Tan-heng datang kesini?"
Selagi bicara, mereka diserang lagi dengan kedinginan, sehinggga giginya pada
bercakrukan. Thian Oe tidak tega dan segera berkata: "Penyakit begini siauwtee mengerti
juga sedikit."
la lalu keluarkan dua butir pel yang berwarna biru dan berikan kepada mereka. Beberapa
saat sesudah menelan pel itu, dalam badan mereka muncul semacam hawa panas yang
menembus sampai di pusar. Kedua perwira itu mempunyai lweekang yang cukup tinggi.
Buru-buru mereka kerahkan pernapasannya buat bikin hawa panas itu mengalir terus
sampai ke tangan dan kaki. Semakin lama mereka rasakan semakin segar.
"Besok, sesudah semua hawa dingin keluar, kesehatan djiewie taydjin (kedua tuan
pembesar) akan pulih kembali," kata Thian Oe.
Kedua perwira itu yang satu bernama Mauwyan dan yang satunya lagi bernama Lunpo
-adalah ahli silat di bawah perintahnya jenderal Hok Kong An. Jika hari itu mereka
waspada dan kerahkan tenaga dalamnya buat melindungi badannya, meskipun kena

serangan Pengpok Sintan, mereka tidak akan menderita begitu hebat. Waktu itu, lantaran
sedang gembira minum arak dan juga sebab tidak menduga wanita itu berkepandaian
tinggi, mereka jadi tidak berjaga-jaga. Sesudah hawa dingin menyerang masuk ke dalam
sumsum, barulah mereka kerahkan tenaganya buat melawan, tapi sudah kasep.
Sekarang, begitu telan pelnya Thian Oe, mereka rasakan banyak entengan dan mereka
tentu saja jadi merasa sangat heran. Mereka lantas ingat, bahwa si orang tua yang turut
bertempur di Shigatse adalah kawannya Thian Oe. Tanpa merasa, mereka terkesiap dan
salah seorang menanya lagi: "Sebenarnya kau siapa?"
"Bukankah aku sudah beritahukan?" kata Thian Oe.
"Apa benar kau Tan Kongtjoe?" Mauwyan menegasi.
"Jika kalian tidak percaya, nanti setibanya di Lhasa kita boleh sama-sama pergi ke
kantornya Hok Tayswee buat cari ayahku," kata Thian Oe.
"Tapi cara bagaimana kau bisa mempunyai yowan (pel) yang dapat punahkan ilmunya
wanita siluman itu?" tanya Lunpo.
Sebelumnya para dayang Pengtjoan Thianlie keluar dari gua es, Thian Oe telah
ketemukan banyak sekali yowan dalam keraton es. Ia ambil seraup dan simpan dalam
bungkusannya. Ia kenali, bahwa di antara yowan itu terdapat Yanghowan, yaitu pel buat
lawan hawa dingin. Pel itulah yang ia berikan kepada Mauwyan dan Lunpo.
Didedas secara begitu, Thian Oe gelagapan dan tidak tahu mesti menyahut bagaimana.
Kedua perwira jadi semakin curiga dan Mauwyan membentak: "Apa kau di kirim oleh
wanita siluman itu?"
Baru saja Mauwyan habis ucapkan perkataannya, di luar jendela mendadakan terdengar
suara tertawanya seorang wanita yang lantas membentak: "Inilah yang dinamakan sang
anjing gigit Lu Tong Pin. Kau tidak mengenal kebaikannya orang. Aku kirim obat, kau
berbalik mencaci aku. Apa kau mau sakit lagi beberapa hari?"
Kedua perwira itu yang badannya masih sangat lemas, jadi kaget sekali dan tidak berani
buka suara lagi.
"Orang yang curi lengtan (pel mustajab), lekas keluar ketemui aku," demikian terdengar
lagi suaranya wanita itu, yang lagu suaranya mirip-mirip dengan suaranya Pengtjoan
Thianlie.
Dengan hati berdebar-debar, Thian Oe loncat keluar kamar, tapi wanita itu sudah loncat
naik ke atas genteng. Buru-buru ia balik ke kamarnya buat ambil buntalannya, dan
sesudah lemparkan uang penginapan, ia lantas memburu. Wanita itu lari sangat keras,
tapi untung ilmu entengi badannya Thian Oe sudah maju jauh, sehingga begitu keluar dari
pintu kota, ia dapat menyandak.
Wanita itu menengok dan berkata sembari tertawa: "Ilmu silatmu sudah banyak maju.
Apa Puteri kami yang memberi pelajaran? Apa ia sudah balik ke keraton?"
Di bawahnya sinar rembulan, Thian Oe kenali bahwa wanita itu adalah Yoe Peng,
dayangnya Pengtjoan Thianlie yang sangat disayang. Sedari kecil ia ikuti majikannya dan
di antara para dayang, ilmu surat dan ilmu silatnya terhitung salah seorang dari kelas
satu. Pada harian gempa bumi, ia diperintah Pengtjoan Thianlie buat menemani Tjia In
Tjin pergi petik daun obat.

Thian Oe tentu saja merasa sangat girang dapat bertemu dengan ianya. Tapi mendengar
pertanyaannya, ia jadi jengah dan berkata: "Aku curi belajar. Apakah kau mau jalankan
perintah majikanmu buat menghukum aku?"
Yoe Peng tertawa-tawa dan menyahut: "Puteri kami sebenarnya sangat sayang kau.
Sebetulbetulnya, ia sudah perintah aku ajarkan kau beberapa macam ilmu silat,
sebelumnya kau meninggalkan keraton. Cuma menyesal malam itu kau mencuri masuk
ke dalam tempat pemujaan, sehingga Kongtjoe jadi gusar sekali. Menurut dugaanku, ia
cuma mau gertak kau, dan sehabis mengadu pedang, rasanya ia akan segera lepaskan
kau dari kurungan. Sesudah mengalami bencana alam yang hebat, tak dinyana kau dan
aku masih bisa hidup terus. Cobalah tuturkan pengalaman dalam keraton selama tiga
bulan yang lalu."
Thian Oe segera tuturkan segala kejadian secara ringkas. "Aku sudah duga semua
saudarasaudara tidak akan sampai binasa," kata Yoe Peng setelah dengar penuturan
Thian Oe. "Sebetulbetulnya, waktu itu aku cuma kuatirkan keselamatanmu yang sedang
dikurung dalam gua. Jika kau sampai kenapa-kenapa, Kongtjoe tentu akan merasa tidak
enak hati."
"Dan bagaimana dengan Pengtjoan Thianlie?" tanya Thian Oe.
Yoe Peng geleng-gelengkan kepalanya dan menyahut: "Selagi menemani soenio-mu
memetik daun obat, aku lihat tanda-tanda bakal terjadinya gempa bumi. Maka itu, buruburu kita naik perahu dan turun ke telaga Thian-ouw. Aku sama sekali tidak mengetahui
keadaannya Kongtjoe."
Thian Oe merasa putus harapan. "Soenio-ku?" ia tanya lagi.
"Ia sudah pulang ke Soetjoan buat tunggu lahirnya anak yang sedang dikandung," sahut
Yoe Peng.
Mendengar begitu, Thian Oe jadi sadar. Ia sekarang mengetahui, bahwa soenio-nya
sedang hamil, sehingga tidaklah heran gurunya sudah tinggalkan pesanan begitu
kepadanya.
"Tak lama lagi kau akan mempunyai soetee atau soemoay. Apa kau tidak girang?" kata
Yoe Peng sembari tertawa.
Mengingat kebinasaan yang menyedihkan dari gurunya, hatinya Thian Oe kembali merasa
sedih. "Tapi kenapa kau tidak buru-buru balik ke keraton?" tanya ia dengan suara
menegor.
"Kau tahu, hari itu gunung berapi meledak dan gempa bumi yang hebat telah terjadi,"
menerangkan Yoe Peng. "Sesudah gempa bumi itu, di selebar gunung penuh dengan batubatu dan lahar yang sangat panas. Selainnya itu, jalanan juga sudah tertutup semuanya.
Melihat begitu, kita tahu tidak akan bisa naik ke gunung pada sebelumnya lahar itu
menjadi dingin. Soenio-mu sedang hamil, mana bisa ia berdiam lama-lama di daerah
pegunungan yang tidak mempunyai tempat meneduh. Aku tahu dalam keraton sudah siap
sedia tempat berlindung, sehingga, kecuali pikirkan keselamatanmu, aku anggap
keselamatan para saudara dan Thiekoay sian sudah terjamin. Aku segera bujuk soenio-mu
supaya pulang lebih dahulu ke Soetjoan buat melahirkan dan begitu ada kemungkinan,
aku percaya Thiekoay sian juga akan segera menyusul."
"Tapi guruku tak akan bisa pulang lagi," kata Thian Oe dengan suara serak.
Mendengar kebinasaannya Thiekoay sian, Yoe Peng juga merasa sangat terharu. Ia berdiri
bengong beberapa saat dan kemudian menanya: "Kemana kau mau pergi?"

"Ke Lhasa. Dan kau?" Thian Oe balas tanya.


"Aku tak tahu mau pergi kemana," jawab Yoe Peng sembari tertawa. "Sebetulnya, aku
cuma niat berdiam di daerah ini buat sementara waktu dan lantas pulang begitu lekas
lahar menjadi dingin dan keras."
"Sekarang, selainnya satu kawah yang masih semburkan api dan asap, di atas gunung
sudah tidak terdapat lahar panas lagi," menerangkan Thian Oe.
"Itulah aku tidak tahu," kata Yoe Peng. "Aku sebetulnya niat menunggu sampai musim
semi baru pulang buat lihat-lihat keadaan." Ia berdiam beberapa saat dan kemudian
berkata lagi sembari mesem: "Apa kau masih ingat itu toeilian yang digubah oleh si
pemuda baju putih dengan mengambil namaku? Ia persamakan diriku seperti seorang
wanita suci yang berdiam dalam lembah gunung yang sunyi. Tapi sebenar-benarnya,
sebagai manusia biasa, aku pun ingin sekali melihat-lihat keadaan di dunia luar. Selama
berdiam begitu banyak tahun dalam keraton, sering-sering aku merasa sangat kesepian."
Dengan senyumannya yang manis, di bawah sinarnya sang bulan, Yoe Peng seakan-akan
satu bocah yang nakal. Hatinya Thian Oe juga masih bebocahan. Ia tertawa dan berkata:
"Hm! Kau rupanya ingin menggunakan kesempatan ini buat jalan-jalan. Di seluruh Tibet,
Lhasa-lah yang paling ramai. Disitu terdapat gereja
Lhama yang luar biasa indahnya. Paling baik kau ikut aku pergi ke Lhasa."
"Bagus! Kita juga bisa sekalian dengar-dengar halnya Kongtjoe," sahut Yoe Peng dengan
suara girang.
Mendengar namanya Pengtjoan Thianlie, hatinya Thian Oe jadi berdebar. Ia berdiam
beberapa saat dan kemudian berkata sambil menghela napas: "Tu hari mereka sedang
adu pedang di kakinya Puncak Es. Apa mereka bisa selamatkan diri?"
"Puteri kami bergelar Pengtjoan Thianlie (Bidadari dari Sungai Es)," kata Yoe Peng.
"Meskipun ia tidak dapat disamakan seperti sebangsa dewi, akan tetapi kepandaiannya
sesungguhnya tak dapat diukur bagaimana dalamnya. Aku sama sekali tidak percaya ia
sampai hilang jiwa lantaran bencana alam itu." Dari perkataan dan sikapnya, Yoe Peng
kelihatan pandang majikannya betulbetul seperti seorang dewi, sehingga Thian Oe jadi
terpengaruh dan tidak percaya lagi Pengtjoan Thianlie binasa dalam gempa bumi. Dengan
demikian, hatinya jadi legaan.
"Kau lihat Puteri kami bertempur seru dengan si pemuda baju putih, tapi janganlah kau
anggap mereka berkelahi seperti musuh," kata Yoe Peng sembari tertawa. "Aku sudah
dapat lihat, Kongtjoe sebenarnya suka pemuda itu!"
Thian Oe tertawa besar seraya berkata: "Kau ini benar-benar setan yang cerdik!"
"Kau juga setan pintar yang berlagak bodoh," membalas Yoe Peng. "Kau mencintai siapa,
aku juga sudah tahu."
Paras mukanya Thian Oe lantas berubah guram. "Ilmu kepandaiannya Chena masih
sangat cetek. Belum tentu ia dapat loloskan diri," katanya dengan suara perlahan.
"Orang baik tentu akan dilindungi Tuhan. Kalau belum takdirnya mati, ia tentu tidak akan
mati," kata Yoe Peng dengan suara menghibur. Kata-kata itu sebenarnya cuma merupakan
hiburan belaka, akan tetapi, sesudah mendengar, hatinya Thian Oe jadi terhibur juga.

Sesudah berjalan beberapa lama, Thian Oe menanya: "Kau selalu memanggil Pengtjoan
Thianlie sebagai Paduka Puteri. Bolehkah aku mendapat tahu, ia sebenarnya puteri dari
negara mana? Kenapa ia mempunyai kedudukan Kongtjoe, sedang ayahnya hanya
seorang pendekar dalam Rimba Persilatan?"
"Baiklah," sahut Yoe Peng. "Buat hilangkan kesepian, aku akan ceritakan asal-usulnya
Kongtjoe."
Demikianlah, dengan diterangi sinar bulan yang bagaikan perak, Yoe Peng segera jalan
lebih dekat dengan Thian Oe dan mulai dengan penuturannya:
"Pada tiga puluh tahun yang lalu, di negara Nepal hidup seorang puteri raja yang
bernama Hoa Giok. Ia diberi nama Hoa Giok oleh karena raja sangat mengagumi sifat ke
Tionghoa-an dan juga oleh karena sang puteri berparas sangat cantik, ibarat batu giok
dari bangsa Han. Sesudah besar, Hoa Giok Kongtjoe menjadi seorang gadis yang boenboe
songtjoan (mahir dalam ilmu surat dan ilmu silat). Ia belajar ilmu surat dari guru-guru
yang sengaja diundang dari Tiongkok, sehingga ia bukan saja apal macam-macam kitab,
tapi juga pandai menggubah syair-syair Tionghoa. Buat menjadi guru silatnya, Raja Nepal
undang ahli silat dari negara Arab. Di sebelahnya itu, ia tentu saja mahir dalam ilmu
menunggang kuda dan ilmu memanah yang menjadi kesukaannya.
"Sang tempo berjalan cepat sekali. Dalam tempo sekejap, sang puteri sudah berusia
delapan belas tahun. Para pemuda di Nepal tentu saja sangat ingin dapatkan Hoa Giok
sebagai isterinya, akan tetapi, tak ada barang satu yang dipenuju oleh sang puteri. Tahun
lepas tahun dan Hoa Giok sudah berusia dua puluh dua tahun. Raja Nepal yang cuma
mempunyai seorang puteri jadi merasa bingung juga. Supaya puterinya tidak sia-siakan
usia muda, ia niat pilih satu Hoema (menantu raja) dan kemudian paksa supaya puterinya
mau menikah dengan pemuda pilihannya itu. Akan tetapi, Hoa Giok menolak dengan
keras dan ajukan satu usul balasan.
"Sesuai dengan apa yang ia sering baca dalam buku-buku Tionghoa, ia ingin memilih
sendiri suaminya dengan berdirikan loeitay. Ia usulkan kepada ayahnya, supaya
dibcrdirikan dua loeitay, yaitu loeitay buat adu ilmu surat dan loeitay buat adu ilmu silat.
Setiap calon harus lebih dahulu dijajal ilmu silatnya, dan jika lulus, baru dicoba ilmu
suratnya. Dalam ilmu silat, sesudah lulus beberapa ujian sulit, seorang calon harus adu
pedang dengan ia sendiri, dan kalau menang, barulah diuji ilmu suratnya. Dalam ilmu
surat, satu calon bukan saja harus mahir dalam kesusasteraan Nepal, tapi juga mesti
mengenal kitab-kitab dan syair Tionghoa. Di antara orang Nepal memang banyak yang
mengenal bahasa Tionghoa, tapi pengetahuan mereka kebanyakan sangat cetek dan
manalah bisa gampang-gampang lulus dari ujiannya sang pulen. Selama dua tahun,
jumlah pemuda yang majukan lamaran semuanya ada seratus dua puluh empat orang,
tapi yang berhak adu pedang dengan sang puteri cuma ada tujuh orang, sedang yang
bisa menangkan Hoa Giok cuma tiga orang saja. Akhirnya ketiga orang itu jatuh
semuanya dalam ujian kesusasteraan Tionghoa.
"Raja jadi bingung sekali dan belakangan malahan permisikan masuknya calon-calon
bangsa Han. Tapi semua calon Tionghoa pun siang-siang sudah pada roboh dalam ujian
ilmu silat.
"Tanpa merasa, usianya Kongtjoe sudah menanjak jadi dua puluh empat tahun. Pada
suatu hari, dengan suara sungguh-sungguh Raja Nepal berkata kepada puterinya:
'Sekarang kau sudah gagal dalam usaha memilih Hoema, maka sepantasnya kau
serahkan urusan itu ke dalam tanganku. Aku tak dapat permisikan kau membuka loeitay
terus-menerus dalam tempo yang tidak terbatas.' Hoa Giok lalu minta tempo seratus hari
lagi, dan kalau sudah lewat seratus hari lagi ia belum juga berhasil, barulah ayah dan
anak berunding lagi. Akan tetapi, diam-diam Kongtjoe yang beradat tinggi dan agung itu
sudah mengambil putusan pasti buat tidak menikah dengan lelaki sembarangan, dan jika

sesudah seratus hari ia beium juga berhasil, ia rela menjadi pendeta dan tidak menikah
seumur hidupnya.
"Sesudah lewat sembilan puluh sembilan hari belum juga ada calon yang berhasil,
sehingga Kongtjoe sendiri juga merasa putus harapan. Pada hari yang ke seratus
mendadak datang satu calon bangsa Han yang mukanya penuh debu dan mengatakan,
bahwa ia baru saja tiba dari tempat jauh dan ingin ajukan diri sebagai seorang calon.
Dalam ujian ilmu silat, pemuda itu ternyata pandai menunggang kuda dan memanah,
sedang kedua tangannya sanggup angkat batu yang beratnya ribuan kati. Sesudah lulus
berbagai ujian berat, ia akhirnya berhadapan dengan puteri Hoa Giok sendiri. Ia layani
sang puteri dari tengah hari sampai magrib dan akhirnya secara indah sekali, ia sontek
tutupan mukanya Puteri dengan ujung pedangnya.
"Ketika dijajal ilmu suratnya, Puteri Hoa Giok sendiri sampai merasa sangat kagum. Ia
ternyata mengenal baik kesusasteraan Nepal dan tentu saja sangat mahir dalam
kesusasteraan Tionghoa dan malahan banyak penjelasan-penjelasan yang belum dikenal
oleh sang puteri sendiri. "Sekarang tinggal dua ujian terakhir buat coba kecepatan
otakmu" kata Puteri Hoa Giok. "Jika kau lulus, kau..." Kongtjoe tidak dapat teruskan
perkataannya dan mukanya jadi bersemu merah. Pemuda itu lantas saja minta ia
keluarkan dua ujian terakhir itu..."
"Pemuda itu tentulah juga ayahnya Pengtjoan Thianlie, Koei Hoa Seng Tayhiap," Thian Oe
potong penuturan orang. "Koei Tayhiap sedari kecil mendapat didikan langsung dari
ibunya sendiri, maka tidaklah heran kalau ia mempunyai pengetahuan tinggi sekali dalam
ilmu surat dan ilmu silat. Apakah adanya itu dua ujian terakhir?"
"Ujian yang pertama ialah Kongtjoe rninta Koei Tayhiap menggubah sepasang toeilian,"
Yoe Peng lanjutkan penuturannya. "Toeilian tersebut harus digubah dengan menggunakan
namanya, yaitu Hoa Giok. Buat itu Koei Tayhiap diberi tempo sepasangan hio, dan kalau
sampai hio terbakar habis, toeilian belum selesai, Koei Tayhiap jatuh dari ujian itu.
Sesudah mendengar penjelasan Kongtjoe, Koei Tayhiap segera berkata: "Toeilian itu sudah
ada, cuma mungkin kata-katanya sedikit menyinggung, sehingga aku mohon Paduka
Puteri sudi maafkan." Sehabis berkata begitu, Koei Tayhiap segera menulis toeilian yang
bunyinya seperti berikut:
"Gunung indah, pemandangan permai,
siapakah yang mau diajak pesiar?
Melihat pohon Buhdi berkembang, Sa Kya bermesem simpul.
Suling giok (batu kemala), suaranya merdu,
mengundang tetamu turut bersuka ria.
Mendengar Siang Djie mementil khim, Tjoe Tjin meniup suling."
"Pada baris pertama dari toeilian itu, Koei Tayhiap telah mengambil petikan dari kitab
Budha, sedang pada baris kedua, ia menggunakan hikayatnya Soema Siang Djie yang
meminang Tjo Boen Koen dengan mementil khim dan hikayatnya Tjoe Tjin yang dengan
meniup suling, telah mengundang burung Hong buat melamar puterinya Raja muda Tjin
Bok Kong, yang bernama Long Giok. Demikianlah, pada baris kedua itu, Koei Tayhiap telah
kutib cara melamar isteri dari dua orang dahulu kala itu. Ketika ia menulis habis, hio baru
saja terbakar sepertiga. Begitu membaca toeilian tersebut, Hoa Giok Kongtjoe tertawa
dengan paras muka girang dan lalu maju dengan ujian yang kedua, yaitu ujian yang
paling akhir." (Perkataan "indah" -hoa --dari baris pertama, jika dirangkap dengan
perkataan "giok" dari baris kedua, jadilah Hoa Giok, yaitu namanya sang puteri).

Thian Oe tertawa seraya berkata: "Kalau begitu tidak heran Pengtjoan Thianlie begitu
suka menggubah toeilian dari namanya orang. Tak tahunya ia mewarisi kesukaan itu dari
ayah ibunya."
"Kedatangan si pemuda baju putih ke keraton es adalah seperti kedatangan Koei Tayhiap
ke Nepal buat meminang dirinya Kongtjoe," kata Yoe Peng.
"Tapi bagaimana dengan ujian kedua?" tanya Thian Oe dengan suara tidak sabaran.
"Hayolah jangan omongi segala hal yang tidak ada perlunya."
"Cerita ini adalah cerita didalam cerita," demikian Yoe Peng lanjutkan penuturannya.
"Pendahuluan dari ujian kedua ialah satu cerita dahulu kala. Cerita itu belum berakhir dan
dapat di akhiri menurut sukanya orang. Dengan lain perkataan, cerita itu bisa berakhir
girang dan juga bisa berakhir sedih. Buat uji kecerdasan otaknya, Kongtjoe minta Koei
Tayhiap menulis akhirnya cerita itu."
"Cerita itu adalah begini: Dahulu kala, seorang puteri diam-diam jatuh cinta kepada
seorang boesoe (pahlawan). Tidak terduga, boesoe itu bercintaan dengan satu dayang.
Apa mau rahasia ini terbuka. Dalam kegusarannya, sang puteri beritahukan ayahnya.
Kedosaan itu adalah kedosaan besar dan si boesoe harus mendapat hukuman berat.
"Akan tetapi, negeri itu mempunyai cara menghukum yang sangat luar biasa. Mereka
percaya, bahwa di langit terdapat dewa yang memegang nasibnya manusia. Apakah
terdakwa berdosa atau tidak juga diputuskan oleh sang dewa itu. Caranya adalah begini:
Si terdakwa dilepaskan di atas satu lapangan terbuka yang sangat luas. Di sebelah kiri
dan kanannya lapangan tersebut terdapat satu pintu. Dalam pintu yang satu ditaruh
seekor singa kelaparan, sehingga kalau si terdakwa masuk kesitu, ia tentu akan dibeset
dan dimakan oleh singa tersebut. Dalam pintu yang satunya lagi terdapat satu jalanan
yang menerus keluar lapangan. Jika si terdakwa masuk di pintu itu, ia segera dapat
pulang kemerdekaannya dan segala tuduhan dibikin habis. Menurut kepercayaan, orang
itu mendapat berkahnya dewa dan siapa yang mendapat berkahnya dewa, bukannya
seorang jahat."
"Oleh karena tidak mengetahui bahwa puterinya mencintai si boesoe dan juga oleh
karena sangat sayang pahlawan itu, maka raja sengaja menaruh belas kasihan yang
istimewa. Seperti biasa, dalam pintu yang satu ditaruh seekor singa kelaparan. Akan
tetapi, dalam pintu yang satunya lagi, raja perintah taruh si dayang kecintaannya boesoe
itu. Jika boesoe itu masuk ke dalam pintu yang terisi singa, memang sudah nasibnya ia
mesti binasa dan dewa anggap ia berdosa. Akan tetapi, manakala ia masuk ke dalam
pintu yang berisi dayang, maka bukan saja ia akan memperoleh kemerdekaannya, tapi
juga diperbolehkan menikah dengan kecintaannya itu."
"Pada harian penentuan nasibnya boesoe tersebut, sang puteri juga turut menonton.
Panggungnya keluarga raja berdiri di tengah-tengah antara kedua pintu nasib. Waktu
lewat di depan panggung, boesoe tersebut mengawasi sang puteri dengan sorot mata
mohon dikasihani. Kongtjoe itu tahu pintu mana yang berisi singa dan pintu mana yang
berisi dayang."
"Saat itu, nasibnya si boesoe terletak dalam tangannya Kongtjoe. Dengan sekali tunjuk, ia
dapat memutuskan, apa boesoe itu mati atau hidup. Pintu manakah yang akan ditunjuk
oleh sang puteri? Di satu pihak, hatinya gusar dan sakit hati lantaran perbuatannya
boesoe itu, ditambah pula dengan perasaan mengiri terhadap sang dayang yang sudah
merebut kecintaannya. Akan tetapi di lain pihak, dengan cintanya yang sangat besar,
dimana ia tega kalau boesoe itu sampai dibeset singa?"

"Pada saat itu, dua rupa pemandangan berkelebat di depan matanya Kongtjoe. Di ini
detik, ia lihat boesoe itu menikah dengan sang dayang dengan penuh kecintaan dan
kemanisan. Di lain detik, ia lihat tubuh yang berlumuran darah dari boesoe tersebut,
akibat dibeset singa. Ketika ia dongakkan kepalanya, ia lihat sorot mata yang memohon
kasihan dari kecintaannya itu. Pintu manakah yang sang puteri harus tunjuk?"
Thian Oe sudah dibikin begitu ketarik dengan cerita itu, sehingga ia mendengari dengan
mata mendelong dan mulut ternganga, dan tanpa merasa, hatinya berdebar-debar dan
turut memikiri, pintu mana yang harus ditunjuk oleh Kongtjoe.
Yoe Peng tertawa dan berkata pula: "Waktu itu, pertanyaannya Hoa Giok Kongtjoe juga
adalah sedemikian. 'Andaikata kau jadi puteri itu,' kata Puteri Hoa Giok kepada Koei
Tayhiap, 'pintu manakah yang kau akan tunjuk?' Jawabannya Koei Tayhiap haruslah cocok
dengan pendapatnya sang puteri yang menurut sukanya dapat memutuskan sendiri, apa
jawaban Koei Tayhiap benar atau salah.
"Pertanyaan itu bukan main sukarnya. Tidak perduli pintu mana juga yang ditunjuk oleh
Koei Tayhiap, Hoa Giok Kongtjoe bisa bilang ia tidak mengerti soal cinta. Soal cinta dapat
ditafsirkan secara berbeda-beda, menurut pendapat pribadi dari sesuatu orang. Sebagai
contoh, jika sang puteri dalam cerita itu menunjuk pintu yang ada singanya, maka dapat
ditafsirkan, bahwa ia menunjuk pintu itu lantaran mencinta, sebab cinta menimbulkan
cemburu dan cinta yang sangat dapat menimbulkan kebencian yang sangat. Jika sang
puteri tunjuk pintu yang berisi dayang, itu juga bisa ditafsirkan bahwa ia menunjuk pintu
itu lantaran mencinta, sebab orang yang betulbetul mencinta selamanya bersedia buat
mengampuni orang yang dicinta, dan di sebelahnya itu, cinta berarti juga pengorbanan
guna keberuntungannya orang yang dicinta. Tapi bagaimanakah pendapat Hoa Giok
Kongtjoe mengenai soal itu? Itulah ada soal sulit yang mesti ditebak dengan jitu oleh Koei
Tayhiap!"
"Koei Tayhiap memikir beberapa saat dan kemudian tanya Hoa Giok Kongtjoe: 'Puteri
dalam cerita itu, apakah puteri dari negara Timur atau puteri dari negara Barat?' Cerita itu
sebenarnya adalah cerita dari Eropa yang belakangan masuk ke Timur dan menjadi bahan
dari berbagai penulis. Koei Tayhiap mengetahui sumbernya cerita itu, akan tetapi ia
sengaja menanya begitu."
"Hoa Giok Kongtjoe yang tidak mengerti maksudnya segera balas menanya: 'Kalau puteri
Timur bagaimana? Kalau puteri Barat bagaimana?' Koei Tayhiap tertawa dan menyahut:
'Kalau sang puteri adalah puteri dari negara Timur, ia tentu akan tunjuk pintu yang berisi
dayang. Tapi jika ia adalah puteri dari Barat, ia tentu akan tunjuk pintu yang ada
singanya. Orang Timur biasanya lebih bersedia saling mengampuni, sedang kaum
wanitanya kebanyakan berhati welas asih, sehingga sepuluh sembilan ia tidak akan tega
melihat kecintaannya dibeset singa. Di lain pihak, cintanya wanita negara Barat bersifat
monopoli, yaitu tidak sudi membagi kepada lain orang. Orang Barat suka mengatakan
bahwa cinta adalah seperti biji mata dan disitu tidak boleh menyelip barang sebutir pasir.
Maka itulah, jika sang puteri adalah puteri negara Barat, sepuluh sembilan ia akan tunjuk
pintu yang berisi singa, sebab ia kebanyakan lebih suka kecintaannya binasa daripada
direbut oleh lain perempuan. Akan tetapi, jika boesoe itu adalah seorang Tionghoa, siangsiang ia tentu dapat mengetahui kecintaannya sang puteri, sehingga kejadian itu
sebenarnya tidak usah terjadi!"
"Bukan main licinnya jawaban itu. Tapi Koei Tayhiap sebenarnya boleh tidak usah susahsusah. Kita bisa duga, tak perduli Koei Tayhiap menjawab bagaimana juga, Hoa Giok
Kongtjoe tentu akan merasa puas."
"Begitulah Hoa Giok Kongtjoe segera menetapkan Koei Tayhiap sebagai Hoema. Bukan
main girangnya raja. Waktu dilangsungkan pesta pernikahan, tiga hari libur diberikan di
seluruh negeri dan semua orang pada bersuka ria. Pada lain tahunnya, Hoa Giok Kongtjoe

melahirkan seorang puteri yang diberi nama Peng Go oleh Koei Tayhiap. Ia itulah yang
belakangan dikenal sebagai Pengtjoan Thianlie. Raja tidak mempunyai anak lelaki. Hoa
Giok Kongtjoe adalah anaknya yang tunggal. Dari sebab begitu, sang cucu Peng Go juga
diberi gelaran Kongtjoe."
"Kedua mempelai hidup beruntung sekali dan tidak terasa lima tahun sudah lewat.
Usianya raja sudah lanjut dan ia merasa jengkel memikiri soal ahli waris yang harus
gantikan ia menjadi raja."
"Dalam banyak negara, seorang puteri dapat naik ke atas tahta. Akan tetapi, menurut
kebiasaan di Tiongkok, cuma orang lelaki yang boleh menjadi kaizar. Sudah lama Nepal
kena pengaruhnya kebudayaan Tionghoa, sehingga soal itu menjadi pertentangan antara
dua partai. Satu partai menghendaki supaya Hoa Giok Kongtjoe gantikan ayahnya, sedang
lain pihak ingin Raja Nepal angkat keponakan lelakinya sebagai ahli waris. Keponakan itu
sudah lama sekali incarincar tahta kerajaan. Dia sudah mempunyai banyak sekali koncokonco dan tukang pukul. Tak usah dibilang lagi, dia sangat membenci Hoa Giok Kongtjoe.
Pertentangan antara kedua partai semakin lama jadi semakin hebat, sehingga dalam
kerajaan Nepal yang tenteram jadi timbul hujan angin."
"Hoa Giok Kongtjoe yang tidak tega melihat negaranya terancam bahaya, segera
berdamai dengan Hoema. Koei Tayhiap anjurkan isterinya melepaskan haknya dan samasama menyingkirkan diri ke Tibet. Kedua suami isteri itu, yang mempunyai ilmu silat
sangat tinggi, telah melebur ilmu pedang Tionghoa dan ilmu pedang daerah Barat
menjadi satu dan menggubah satu ilmu pedang baru. Hoa Giok menyetujui pikiran
suaminya. Ia pun merasa, bahwa hidup tenteram bersama-sama suaminya yang tercinta,
ada lebih beruntung daripada menjadi ratu. Maka itulah, ia tinggalkan sepucuk surat buat
ayahandanya dan diam-diam tinggalkan keraton bersama suami, puterinya dan sejumlah
dayang. Selama hidup dalam keraton, sang puteri sangat dicintai orang. Waktu mau
berangkat, beberapa puluh dayangnya berkeras mau mengikut juga, sehingga ia terpaksa
mesti mengajak."
"Sesudah keraton es berdiri, sejumlah dayang yang usianya lebih tua telah pulang ke
Nepal buat sementara waktu, guna memilih sejumlah anak perempuan dari kalangan
keluarga mereka buat diajak datang ke keraton supaya dapat mengawani Puteri Peng Go.
Anak-anak perempuan itu menjadi besar bersama-sama Pengtjoan Thianlie dan mereka
semuanya mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi."
"Sesudah Hoa Giok Kongtjoe meninggalkan keraton tiga tahun lamanya, Raja Nepal wafat
dan keponakan lelakinya naik ke atas tahta sebagai gantinya."
"Menurut katanya orang, begitu naik tahta, raja baru coba menyelidiki dimana adanya
Koei Tayhiap suami isteri, akan tetapi mana dia bisa mencarinya. Sesudah berdiam di atas
Thian-ouw, hatinya Kongtjoe menjadi lebih tawar terhadap segala urusan ke negaraan. Ia
lebih-lebih tidak sudi balik ke negaranya, ketika dapat dengar bahwa saudara misanannya
adalah satu raja yang kejam dan sombong. Hoa Giok Kongtjoe meninggal dunia terlebih
dahulu dari Koei Hoema. Waktu mau menutup mata, ia tinggalkan pesanan, bahwa,
kecuali kalau Puncak Es roboh, semua penghuni dari keraton es tidak boleh turun gunung.
Sesudah isterinya meninggal dunia, Koei Tayhiap berdirikan sebuah kuil yang berbentuk
kuil Nepal dalam taman keraton. Selainnya membuat sebuah patung isterinya guna
pemujaan, ia ukir ilmu pedang gubahannya pada dinding kuil tersebut. Kecuali Pengtjoan
Thianlie, tak ada lain orang yang boleh masuk kedalam kuil tersebut yang jadi semacam
tempat terlarang.
"Lewat setahun sesudah meninggalnya sang puteri, Koei Tayhiap susul isterinya ke alam
baka dan Pengtjoan Thianlie menjadi majikan tunggal dari keraton es. Seperti kedua
orang tuanya, ia juga sangat suka dengan kesusasteraan Tionghoa dan semua dayangdayangnya diberikan nama Han."

Demikian penuturan mengenai riwayatnya Pengtjoan Thianlie yang diberikan oleh Yoe
Peng.
"Apa cerita itu cukup menarik?" tanya Yoe Peng dengan tertawa sedih, setelah selesai
dengan ceritanya.
Sesudah berdiam beberapa saat, Thian Oe berkata: "Cerita ini juga belum berakhir.
Seperti juga cerita si boesoe, cerita Pengtjoan Thianlie juga bisa berakhir sedih atau
berakhir girang."
"Bagaimana?" tanya Yoe Peng.
"Perangkapan jodoh antara dua orang yang berlainan bangsa dan kemudian hidup seperti
di dalam surga, ceritamu luar biasa indahnya," menerangkan Thian Oe. "Sepasang
merpati itu kemudian dapat satu puteri yaitu Pengtjoan Thianlie yang benar-benar
seperti satu bidadari dari kahyangan. Jika Pengtjoan Thianlie dan si pemuda baju putih
bisa terangkap jodoh dan dapat hidup seperti Koei Tayhiap dan Hoa Giok Kongtjoe, maka
cerita ini berakhir girang. Akan tetapi, jika Pengtjoan Thianlie tak dapat loloskan diri dari
bencana gempa bumi dan binasa secara kecewa sekali, maka cerita ini berakhir sedih."
"Tentu bisa lolos! Tentu bisa lolos!" Yoe Peng berkata dengan suara tetap.
"Harap saja begitu," berkata Thian Oe sembari dongakkan kepalanya. Dengan hati sedih
ia mengawasi itu rembulan yang sinarnya dingin. Mendadakan saja ia ingat cerita tentang
ia sendiri dan Chena. Ia juga tak tahu, apa cerita itu akan berakhir sedih atau akan
berakhir girang.
Thian Oe bengong terlongong-longong. Lama, lama sekali ia tak dapat keluarkan sepatah
kata.
"Anak tolol!" kata Yoe Peng sembari towel pipinya. "Apa yang kau lagi pikirkan."
Mendadak ia lihat paras mukanya Thian Oe berobah, seperti juga sedang mendengari
apa-apa. Yoe Peng juga pasang kupingnya dan sudah dengar suara itu. "Ih! Ada orang!" ia
berbisik di kupingnya Thian Oe. Mereka berdua lantas saja loncat dan sembunyikan
dirinya di belakang satu batu besar.
Di lain saat, beberapa bayangan orang kelihatan berkelebat mendatangi. Di sebelah timur
terdengar dua tepukan tangan, sedang di sebelah barat juga terdengar dua tepukan
tangan.
"Mari kita ke tempat yang lebih tinggi, supaya tak dapat dilihat oleh mereka," kata Thian
Oe. Dengan menggunakan ilmu entengi badan yang sangat tinggi, seperti monyet mereka
naik ke lereng gunung dan mengumpat di belakangnya satu batu besar, dari mana,
dengan bantuan sinar rembulan, mereka dapat lihat keadaan di sebelah bawah dengan
nyata sekali.
Dengan beruntun, bayangan-bayangan hitam itu berhenti di tempat dimana barusan
Thian Oe dan Yoe Peng berdiri. Mereka lalu bersila di atas tanah dalam bentuk satu
lingkaran bundar.
"Dilihat begini, mereka rupanya mau berunding," berbisik Thian
Oe, yang mempunyai lebih banyak pengetahuan daripada Yoe Peng tentang kebiasaan
orang-orang Kangouw, berkat pengunjukannya Thiekoay sian.

Mendadak Yoe Peng tertawa dan berkata: "Pedagang-pedagang dari Eropa yang sangat
tahayul, sangat tidak menyukai hari Jumat dan angka tiga belas. Mereka anggap, hari
Jumat dan angka tiga belas membawa kesialan. Coba lihat! Mereka itu berjumlah tiga
belas orang dan kalau tidak salah, hari ini adalah hari Jumat."
"Mana boleh!" kata Thian Oe. "Kalau toh benar-benar sial, aku anggap cuma kebetulan
saja." Mendengar Yoe Peng menyebutkan hari, tiba-tiba Thian Oe ingat apa-apa. "Eh,"
katanya. "Tanggal berapa ini? Tanggal penanggalan Tionghoa (Imlek)."
"Tak ingat," jawab Yoe Peng. "Penanggalan Tionghoa rewel sekali, ada bulan besar, bulan
kecil. Cuma semalam dan pagi tadi di dalam kota aku lihat banyak orang Han membeli
kue, katanya mau digunakan buat sembahyang Tiongtjhioe (Pertengahan Musim Rontok)."
"Dengan Puteri Kecil (Pengtjoan Thianlie) kau pernah baca banyak bukunya orang Han,
apa kau tidak tahu bahwa perayaan Tiongtjhioe adalah salah satu perayaan bangsa Han
yang sangat penting?" kata Thian Oe. "Apa kau tak tahu, perayaan itu jatuh pada Pegwee
Tjapgo (bulan delapan tanggal lima belas)?"
"Aku tahu," jawab Yoe Peng. "Tapi ada urusan apa dengan Pegwee Tjapgo? Perlu apa kau
begitu perhatikan penanggalan?"
"Aku jadi ingat perkataannya Pengtjoan Thianlie," jawab Thian Oe. "Ah, aku kuatir benarbenar ada alamat jelek!"
Yoe Peng jadi merasa heran sekali. "Apa?", tanya ia. "Pengtjoan Thianlie pernah bilang
apa?"
"Apa kau tidak ingat kejadian pada harian aku tiba di keraton es?" tanya Thian Oe. "Hari
itu guruku yang pertama (Siauw Tjeng Hong) telah bertemu musuhnya, yang belakangan
diusir oleh Pengtjoan Thianlie."
"Aku tidak turut menyaksikan," kata Yoe Peng. "Baru belakangan aku dengar
penuturannya Kongtjoe. Ia bilang musuhnya Siauw Soehoe bernama Loei Tjin Tjoe. Nama
itu kedengarannya luar biasa sekali."
"Benar", kata Thian Oe. "Musuhnya Siauw Soehoe semuanya ada tiga orang. Satu
bernama Loei Tjin Tjoe, satu bernama Tjoei In Tjoe dan satunya lagi bernama Ong Lioe
Tjoe, yang sudah kena dibinasakan oleh guruku. Yang hari itu kita bertemu di Thian-ouw
adalah Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe. Orang yang turun tangan cuma Loei Tjin Tjoe
seorang. Dengan gunakan pedang es, Pengtjoan Thianlie telah robohkan Loei Tjin Tjoe
yang mungkin lantaran malu, mau coba bunuh diri. Pengtjoan Thianlie menolong dan
mengatakan, bahwa ia sebenarnya sudah kena dipermainkan oleh Ong Lioe Tjoe dan
kalau mau tahu terang duduk persoalan, ia boleh datang di Chaklun pada tanggal Pegwee
Tjapgo tahun ini. Nah, tempat ini adalah Chaklun dan justru Pegwee Tjapgo!"
Yoe Peng merasa heran sekali dan berkata: "Puteri Kecil selamanya belum pernah turun
gunung, cara bagaimana ia bisa mengetahui kejadian yang bakal terjadi pada malam ini?"
Tapi lantaran percaya Thian Oe tidak berdusta, ia menanya pula: "Coba kau lihat, apa di
antara tiga belas orang itu terdapat Loei Tjin Tjoe?"
Thian Oe mengawasi dan lalu geleng-gelengkan kepalanya. "Tak ada," katanya. "Heran
betul! Apa ia tidak datang? Sst! Diam! Mereka sudah mulai bicara."
Ketiga belas orang itu pasang hio, rupanya sedang jalankan semacam upacara. "Kenapa
Ong Lioe Tjoe sampai sekarang belum datang?" demikian terdengar suaranya satu orang.
Thian Oe terkejut. Rupanya mereka belum mengetahui, bahwa Ong Lioe Tjoe sudah
binasa.

"Mana boleh tidak datang?" kata seorang lain. "Ia sendiri yang janjikan supaya malam ini
kita berkumpul disini."
"Tak usah tunggu padanya," kata orang yang pertama. "Mari kita mulai. Bermula Hok
Tayswee (Jenderal Hok, yaitu Hok Kong An) mau perintah kita melindungi itu guci emas,
tapi sekarang tidak perlu lagi. Ia perintah kita memberitahukan kawan-kawan, supaya
pada sebelum buntut tahun, semua kawan pada pergi ke Sinkiang."
"Kenapa tenaga kita tidak dipakai lagi?" tanya seorang.
"Aku dengar suku Hapsatkek di Sinkiang memberontak," jawab orang yang pertama.
"Dalam pemberontakan itu ada turut sejumlah murid-murid Boetong pay. Buat
menghadapi mereka itu, Hok Tayswee memerlukan sekali tenaga kita. Maka itu, Hok
Tayswee bukannya pandang kita rendah. Saudara tak usah banyak pikiran."
Mendengar perkataan itu, hatinya Thian Oe jadi berdebar. Ia ingat penuturannya Siauw
Tjeng Hong dan Thiekoay sian tentang riwayatnya berbagai partai Rimba Persilatan. Partai
Boetong dahulu sebenarnya mempunyai peraturan keras yang melarang murid-muridnya
mencampuri urusan negara dan politik. Belakangan, pada buntutnya ahala Beng dan
permulaan dinasti Tjeng, muncul seorang pendekar Boetong yang bernama Toh It Hang.
Oleh karena mencintai Liehiap Giok Lo Sat, yang belakangan dikenal sebagai Pekhoat
Molie (Siluman Perempuan Rambut Putih), ia tinggalkan Boetongsan dan pergi ke
Sinkiang, dimana ia berdirikan satu partai baru yang membantu Yo In Tjong (muridnya
Hoei Beng Siansu) melawan tentara Boantjeng. Demikianlah peraturan Boetong pay yang
lama telah jadi berobah. Hal itu terjadi pada kira-kira seratus tahun berselang.
Belakangan Koei Tiong Beng menjadi Tjiangboen (pemimpin) Boetong pay dan
mempunyai banyak sekali murid di wilayah Sinkiang. Sebagian besar murid-murid itu
adalah pencinta-pencinta negeri yang tentangkan pemerintahan Boantjeng. Itulah
sebabnya kenapa cabang Boetong di Sinkiang lebih dihargai rakyat daripada Partai
Boetong di Tionggoan (wilayah Tiongkok asli).
"Kalau begitu orang-orang itu maui tentang murid-murid Boetong," kata Thian Oe dalam
hatinya. "Tapi ada hubungan apa sama Ong Lioe Tjoe? Ong Lioe Tjoe adalah saudara
angkatnya Loei Tjin Tjoe dari Boetong pay, sehingga sebenar-benarnya ia pun ada
musuhnya orang-orang yang sedang berunding itu."
Selagi hatinya bimbang, kupingnya sudah dengar lagi perkataannya satu orang: "Kita tak
dapat menghadapi Boetong pay, tanpa Ong Lioe Tjoe. Kenapa sih ia belum juga datang?
Apa ia sudah kena ditarik ke pihak Boetong?"
Orang yang macamnya seperti toako (saudara tua) berkata sembari tertawa: "Saudara
janganlah terlalu bercuriga. Ong Lioe Tjoe adalah tokoh dari partai Khongtong pay kita.
Dengan banyak susah, sudah hampir dua puluh tahun ia mendekati orang-orang Boetong
pay, dengan tujuan mempelajari rahasia ilmu pedang Boetong. Jika kita dapat melayani
pukulan-pukulan aneh dari ilmu pedang Boetong, kita jadi mempunyai pegangan dalam
usaha menindas pemberontakan di Sinkiang. Ong Lioe Tjoe sudah janjikan supaya kita
berkumpul disini, aku rasa ia tidak akan hilang kepercayaan."
"Pada musim semi tahun ini, ada orang lihat ia datang bersama-sama dua saudara
angkatnya," berkata lagi seorang lain. "Tapi dalam beberapa bulan, lantas tidak ada
wartanya lagi. Apakah sudah terjadi kejadian di luar dugaan?"
"Kejadian apa?" tanya seorang. "Mungkin ia kena ditahan oleh Loei Tjin Tjoe dan tak dapat
loloskan diri," kata orang itu. "Dalam soal ini ada satu hal yang hiantee (adik) tidak
mengetahui," menerangkan sang toako. "Tujuannya Loei Tjin Tjoe adalah membalas sakit
hati dan ia tak nanti mau campur-campur urusan negeri. Kedatangannya bersama-sama

Ong Lioe Tjoe adalah buat membalas sakit hati terhadap Siauw Tjeng Hong. Mereka sudah
datang disini beberapa bulan lamanya, sehingga aku duga ia sudah balas sakit hatinya
dan sudah pulang ke kampungnya. Pada musim semi yang baru lalu, Ong Lioe Tjoe telah
memberi warta begitu kepadaku dan mengatakan juga, bahwa ia akan berdiam terus
disini dan tidak akan ikut Loei Tjin Tjoe pulang ke Soetjoan."
Mendengar pembicaraan itu, bulu badannya Thian Oe jadi pada berdiri. Ia sama sekali
tidak menduga, bahwa dalam kalangan Kangouw terdapat orang-orang yang begitu
macam. Ia bayangkan bagaimana gusarnya Loei Tjin Tjoe andaikata ia dapat mendengar
perundingan tersebut. Meskipun Tan Thian Oe adalah puteranya seorang pembesar
Boantjeng, akan tetapi oleh karena sedari kecil ia telah mendapat didikannya Siauw Tjeng
Hong, diam-diam hatinya membenci pemerintahan yang menjajah bangsa Han itu.
Sang rembulan dengan perlahan doyong ke barat. Ketiga belas orang itu jadi semakin
gelisah dan masing-masing lalu utarakan pikirannya tentang tidak munculnya Ong Lioe
Tjoe. Yang satu kata begini, yang lain kata begitu, sedang yang satunya lagi berkata
dengan suara keras: "Aku tak percaya ilmu pedang Boetong begitu liehay. Jika Ong Lioe
Tjoe tidak datang, apakah kita tidak berani pergi ke Sinkiang?"
Di antara ramainya suara orang bicara, mendadak terdengar suara tertawa dingin dan
dari belakangnya batu-batu loncat keluar dua orang! Pada mukanya orang yang jalan
duluan terdapat tanda tapak golok, sehingga mukanya jadi menyeramkan sekali. Orang
itu bukan lain daripada Loei Tjin Tjoe, jagoan nomor satu dari turunan kedua partai
Boetong pay dan saudara angkatnya Ong Lioe Tjoe! Orang yang jalan belakangan dengan
satu tangan mencekal gendewa, adalah Tjoei In Tjoe, ahli silat Gobie pay.
Ketiga belas orang Khongtong pay itu hampir berbareng loncat bangun dengan perasaan
kaget sekali. Yang menjadi kepala, yaitu Tjiangboen (pemimpin) Khongtong pay yang
bernama Tio Leng Koen, segera berseru sembari rangkap tangannya: "Ah, kalau begitu
orang sendiri! Loei Toako, Tjoei Toako, lagi kapan kalian datang?"
"Kami sudah datang lama sekali," jawab Loei Tjin Tjoe dengan suara tawar.
"Kenapa tidak lantas datang duduk-duduk disini?" tanya Tio Leng Koen.
"Lantaran aku tidak berani menjadi orang sendirimu," jawab Loei Tjin Tjoe dengan
menyindir.
Paras mukanya Tio Leng Koen berobah mendadak. Ia tahu, pembicaraan tadi tentu sudah
dapat didengar oleh Loei Tjin Tjoe dan satu pertempuran hebat tidak akan dapat
disingkirkan lagi. Ia segera kasih tanda dengan lirikan mata kepada kawan-kawannya dan
berkata dengan suara nyaring: "Oleh karena Loei Toako pernahkan diri sebagai orang luar,
maka dapatkah aku menanya, dengan maksud apa Toako datang pada malam ini?"
"Aku sengaja datang buat memberitahukan kau orang, bahwa Ong Lioe Tjoe tidak bisa
datang pada malam ini," jawab Loei Tjin Tjoe dengan suara tawar. "Nanti juga dia tidak
akan bisa datang!"
"Apa?" Tio Leng Koen menegasi.
"Kalau mau cari dia, kau orang boleh pergi menghadap Giam Loo Ong (Raja Akhirat) di
neraka!" jawabnya.
"Binatang!" membentak Tio Leng Koen. "Besar benar nyalimu! Sesudah membunuh, kau
masih berani datang kemari." Dengan sekali kebas tangannya, saudara-saudaranya lantas
bergerak mengurung Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe.

Loei Tjin Tjoe dongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. "Sungguh sayang
bukannya tanganku sendiri yang membinasakan padanya!" katanya dengan suara
menyesal. Perasaan kecewanya sukar dilukiskan bagaimana besarnya. Mengimpi pun ia
tak pernah mengimpi, bahwa orang yang sudah jadi saudara angkatnya hampir dua puluh
tahun, sebenar-benarnya adalah mata-mata dari Khongtong pay. Hatinya sedih dan suara
tertawanya kedengaran menyayatkan hati.
"Ong Lioe Tjoe bukan dibunuh olehmu?" tanya Tio Leng Koen dengan terkejut. Pertanyaan
itu disusul dengan bentakannya lain-lain jago Khongtong pay yang memaki dan menanya
siapa yang sudah membunuh Ong Lioe Tjoe.
Loei Tjin Tjoe adalah seorang yang beradat angkuh dan dalam kegusarannya, ia sungkan
banyak bicara lagi. "Biarpun dimampuskan, Ong Lioe Tjoe belum habis bayar dosanya,"
kata ia dengan suara tawar. "Siapa juga boleh bunuh padanya. Kalau kau orang mau balas
sakit hati, terjang saja diriku!"
Dengan gusar Tio Leng Koen angkat tangannya dan lantas menerjang. Loei Tjin Tjoe
lantas tempel pundak dengan Tjoei In Tjoe dan segera putar pedangnya.
Tio Leng Koen adalah Tjiangboen (Pemimpin) Khongtong pay, sehingga dapat dimengerti
kalau ilmu silat dan tenaga dalamnya sudah sampai di puncak yang tinggi. Melihat
serangan musuh yang hebat, tangan kirinya menyambar sembari tekuk dua jerijinya dan
coba cangkol lengannya Loei Tjin Tjoe dengan ilmu Siauwkinna Tjhioehoat (Ilmu
Menangkap dengan tangan). Berbareng dengan itu, pedangnya yang dipegang dengan
tangan kanan, menuding dengan gerakan Wankiong siapeng (Pentang gendewa
memanah garuda). Maksudnya gerakan itu ialah, begitu lekas Loei Tjin Tjoe bergerak
menyerang, pedang tersebut akan mendahului. Tapi tidak dinyana, Tatmo Kiamhoat yang
digunakan oleh Loei Tjin Tjoe tidak bergerak menurut jalannya ilmu pedang biasa.
Mendadakan saja, pedangnya Loei Tjin Tjoe berbalik dan papas pundak satu soeteenya
Tio Leng Koen yang sedang menyerang dari sebelah kanan. Dengan suara "brt", baju
dengan dagingnya sudah sempoak!
Tio Leng Koen loncat sembari berteriak: "Serang dari empat penjuru!" Dua belas murid
Khongtong pay segera terbagi jadi tiga rombongan dengan empat orang setiap
rombongan dan mereka lalu menyerang bagaikan gelombang, Tio Leng Koen sendiri
berdiri di sama tengah buat amat-amati serangan-serangannya Loei Tjin Tjoe yang luar
biasa. Sambil tempel pundak, Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe tancap kakinya di atas tanah
dan melawan secara nekat.
Sesudah menonton beberapa lama Yoe Peng berbisik di kupingnya Thian Oe: "Walaupun
kiamhoat-nya Loei Tjin Tjoe cukup mahir, ia kelihatannya belum mendapat sumsumnya
Tatmo Kiamhoat yang tulen." Thian Oe manggut-manggutkan kepalanya dan berkata:
"Aku rasa Loei Tjin Tjoe masih bisa bertahan setengah jam lagi, tapi Tjoei In Tjoe sudah
sangat kepayahan." Tali gendewanya Tjoei In Tjoe terbuat dari urat binatang Kauw dan
benang emas hitam, sehingga sebenarnya adalah semacam senjata mustika yang dapat
membetot serta memutuskan senjata musuh. Dalam pertempuran di Sakya, tali gendewa
itu telah diputuskan dengan hudtim-nya Siauw Tjeng Hong. Belakangan ia perbaiki dan
sambung tali itu, akan tetapi, kekuatannya sudah banyak berkurang. Kalau bertemu sama
lawanan setanding, dengan menggunakan gendewa tersebut, memang Tjoei In Tjoe bisa
menang seurat Akan tetapi, dengan dikerubuti begitu banyak orang, gendewa tersebut
tentu saja tidak dapat menolong banyak dan semakin lama ia jadi semakin kepayahan.
Keadaannya Loei Tjin Tjoe cuma mendingan sedikit. Tiga belas orang itu semuanya adalah
jago-jago dari Khongtong pay. Kalau satu lawan satu, memang mereka semua bukannya
tandingan Loei Tjin Tjoe. Akan tetapi, dengan mengerubuti dan menyerang saling ganti
seperti gelombang, mereka segera berada di atas angin.

Selagi pertempuran berlangsung sedang serunya, badannya Tio Leng Koen mendadak
"terbang" ke atas dan selagi tubuhnya melayang ke bawah, pedangnya menyambar ke
arah tengah-tengah antara Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe, dengan pukulan Hoenkang
toanlioe (Membendung sungai memutuskan aliran). Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe yang
repot melayani serangan bergelombang, tidak keburu menangkis lagi dan terpaksa
masing-masing mengegos ke depan buat singkirkan sambaran pedang. Dengan demikian,
mereka jadi terpisah satu sama lainnya. Hampir berbareng, kedua belas musuhnya
meluruk, sehingga mereka tidak dapat tempel pundak kembali.
Tio Leng Koen tertawa terbahak-bahak sembari pimpin kawan-kawannya mengepung
secara rapat sekali. Dengan andalkan pukulan-pukulan aneh dari Tatmo Kiamhoat, buat
sementara Loei Tjin Tjoe masih dapat pertahankan diri. Tapi keadaannya Tjoei ln Tjoe
tidak sedemikian, la kelihatannya sudah kewalahan dan tali gendewanya tak hentinya
berbunyi "ting-tang, ting-tang." Beberapa saat kemudian, dengan satu teriakan kesakitan,
pundak kirinya kena dipapas pedang, sedang gendewanya pecah tersabet golok.
"Tjoei Loojie!" membentak Tio Leng Koen. "Kau bukannya penjahat utama. Lepaskan
gendewamu! Aku akan ampuni jiwamu!"
"Kau mau aku menakluk terhadap kawanan tikus?" jawabnya sembari tertawa getir. "Hm!
Tjoei In Tjoe boleh mati, tapi tak sudi dihinakan oleh manusia sebangsa kau!"
"Bagus! Itulah baru saudaraku!" berseru Loei Tjin Tjoe sembari menerjang secara nekat
buat menggabungkan dirinya sama saudaranya itu. Akan tetapi, ia tidak berhasil lantaran
sudah keburu dicegat oleh Tio Leng Koen.
Terhadap Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe, Thian Oe tidak mempunyai rasa simpati. Akan
tetapi, sesudah menyaksikan pertempuran tersebut, ia kagumkan juga keangkuhannya
kedua orang itu, yang ternyata masih mempunyai tulang punggung.
Lewat lagi beberapa saat, keadaan kedua orang itu, lebih-lebih Tjoei In Tjoe, jadi semakin
berbahaya. Suara tali gendewanya Tjoei In Tjoe sudah kedengaran dengkek dan
sumbang.
"Orang itu bisa hilang jiwa sembarang waktu," kata Yoe Peng. "Eh, kau tak mau
membantu?"
"Apa?" Thian Oe menegasi.
"Asalnya ilmu pedang Pengtjoan Thianlie adalah dari Boetong," kata Yoe Peng. "Kau sudah
belajarkan ilmu pedang tersebut, sehingga sama Loei Tjin Tjoe kau masih terhitung
saudara seperguruan."
"Baik, kita menyerbu bersama-sama!" kata Thian Oe yang lantas munculkan dirinya di
atas batu. "Loei Tjin Tjoe!" ia berseru. "Jangan takut! Aku menolong!"
Orang-orang Khongtong pay, Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe terkejut semuanya. Mereka
dongak dan lihat sepasang orang muda, satu lelaki dan satu perempuan, sedang berlarilari ke arah mereka. Di bawahnya sinar bulan, muka mereka dapat dilihat nyata sekali.
Hatinya Loei Tjin Tjoe tergetar. "Aku kira siapa, tak tahunya murid Siauw Tjeng Hong,"
kata ia dalam hatinya. Harus diketahui, bahwa Loei Tjin Tjoe adalah seorang beradat
tinggi yang anggap ilmu silatnya sudah sempurna sekali. Sedang sang guru ia tak
pandang sebelah mata, cara bagaimana ia dapat hargakan muridnya Siauw Tjcng Hong?
Di lain pihak, melihat yang datang adalah orang-orang yang baru berusia belasan tahun,
Tio Leng Koen jadi tertawa besar. "Apa kamu tahu berapa tingginya langit dan berapa

tebalnya bumi?" katanya sembari tertawa bergelak-gelak. "Bau susumu belum hilang,
sudah berani datang kesini buat cari mampus!"
"Tan kongtjoe! Lekas menyingkir!" Loei Tjin Tjoe juga berseru. "Tolong beritahukan
gurumu, aku sudah tidak membenci ia!"
"Lantaran kau sudah tidak membenci soehoe, maka aku mau menolong," jawab Thian Oe
yang bagaikan kilat sudah menikam Tio Leng Koen dengan pedangnya. Sembari kebas
tangannya, Tio Leng Koen menyampok dengan pedangnya buat bikin terpental
senjatanya Thian Oe. Tapi siapa nyana gerakan pedangnya Thian Oe malahan lebih aneh
daripada pedangnya Loei Tjin Tjoe. Tibatiba saja, ujung pedangnya tukar haluan dan
sambar dadanya Tio Leng Koen, yang jadi terbang semangatnya sebab sama sekali tak
menduga bakal diserang secara begitu. Sebagai orang yang berpengalaman dan tinggi
ilmunya, dalam bahaya ia tak jadi gugup. Dengan gerakan Tiatpankio (Jembatan papan
besi), badannya melenggak ke belakang sampai hampir nempel ke tanah. Jantungnya
tergetar, sebab meskipun bagaimana cepat juga gerakannya, toh rambutnya masih kena
terpapas juga! Begitu lekas pedangnya Thian Oe lewat, Tio Leng Koen segera berdiri pula
sembari menyapu dengan tangannya. Ujung pedangnya Thian Oe, yang baru disabetkan
lagi, jadi mencong sebab kena getaran pukulan musuh. Hal ini sudah terjadi lantaran
tenaga dalamnya Thian Oe belum cukup kuat, meskipun ilmu pedangnya sangat luar
biasa. Melihat pemimpinnya hampir-hampir binasa dalam tangannya satu bocah, semua
murid Khongtong pay jadi kaget bukan main.
"Hati-hati terhadap bocah ini!" Tio Leng Koen kasih peringatan sembari loncat tinggi.
Yoe Peng sudah lantas loncat menyerbu dan berkata sembari tertawa: "Masih ada aku!
Aku mau menyerang dengan senjata rahasia. Kau orang juga harus berlaku hati-hati!"
Senjata rahasia adalah senjata yang digunakan buat membokong musuh. Dimana ada
orang mau lepas senjata rahasia lebih dahulu memberitahukan kepada
musuhnya? Tio Leng Koen jadi merasa geli dan tertawa terbahak-bahak. "Bocah!"
katanya. "Kau punya senjata apa? Coba kasih 'ku lihat."
Yoe Peng mementil dengan jerijinya dan di tengah udara lantas terdengar suara "srr, srr".
Menduga serangan jarum, Tio Leng Koen putar pedangnya buat melindungi badan.
Dengan suara "peletak!", senjata rahasia itu yang berbentuk bundar seperti mutiara,
hancur kena terpukul pedang. Berbareng dengan itu, semacam hawa yang luar biasa
dinginnya menyambar-nyambar, sehingga Tio Leng Koen jadi bergidik. Itulah bukan lain
dari Pengpok Sintan yang tiada keduanya dalam dunia!
Tio Leng Koen terkesiap. "Ilmu iblis!" ia berteriak. "Kepung! Jangan kasih dia menimpuk
lagi!"
Yoe Peng mementil kembali dan lepaskan empat butir Pengpok Sintan. Tiga antaranya
mengenakan tiga orang, sedang yang keempat kena dipukul jatuh dengan Kimtjhie piauwnya Tio Leng Koen. Tiga orang itu yang tenaga dalamnya belum seberapa, lantas saja
gemetar sekujur badannya, tapi dari janggutnya mengeluarkan keringat yang turun
berketel-ketel.
"Kalau setiap orang aku persen dua peluru, mereka tak akan dapat tahan lagi," katanya
Yoe Peng dalam hatinya. "Cuma sayang, persediaanku tak mencukupi."
Pengpok Sintan dibuat dari "rohnya es" yang diambil oleh Pengtjoan Thianlie dalam gua
es yang dalamnya ribuan tombak. Di seluruh dunia, bahan tersebut cuma bisa didapatkan
di daerah Nyenchin Dangla. Dalam sakunya, Yoe Peng cuma membawa belasan peluru.
Berbeda dengan senjata rahasia lainnya yang bisa diambil pulang, begitu dilepaskan

Pengpok Sintan lantas meledak dan musnah. Sekali lepas berarti hilangnya satu peluru.
Maka itu, mau tidak mau Yoe Peng harus irit, dan selagi ia bersangsi, gelombang musuh
yang kedua sudah meluruk dan kepung padanya.
Sembari membentak, Yoe Peng cabut Pengpok Hankong kiam yang lantas saja
mengeluarkan sinar gemerlapan yang sangat dingin, sehingga empat musuhnya kembali
bergidik. Pedang tersebut dibuat dari Oen-giok (Batu kemala hangat), yaitu keluaran
istimewa dari Puncak Es. Sesudah direndam di dalam Hantjoan (Umbul dingin) dan diolah
tiga tahun lamanya, barulah pembuatannya selesai. Dari sebab begitu, Pengpok Hankong
kiam mengeluarkan semacam hawa dingin, yang, meskipun tidak sehebat Pengpok
Sintan, dapat mencelakakan orang-orang yang tenaga dalamnya belum kuat betul.
Ketiga belas jago Khongtong pay rata-rata sudah mempunyai lweekang yang kuat,
sehingga, biarpun merasa sangat tidak enak diserang sinar dan hawa dingin, mereka
masih dapat mempertahankan diri. Di bawah pimpinan Tio Leng Koen, mereka dipecah
jadi empat rombongan dan kepung empat musuhnya itu.
Thian Oe dan Yoe Pcng segera keluarkan Tokboen Kiamhoat (Ilmu pedang tunggal) dari
Pengtjoan Thianlie dengan pukulan-pukulannya yang aneh-aneh. Sesudah bertempur
kurang lebih lima puluh jurus, murid-murid Khongtong pay masih belum dapat
mengetahui, ilmu pedang apa adanya itu! Tio Leng Koen sendiri juga merasa bingung.
"Ilmu siluman! Ilmu siluman!" ia berkata sembari geleng-gelengkan kepala.
"Ilmu siluman apa!" membentak Yoe Peng sembari mementil lagi dengan dua jerijinya.
Dua butir Pengpok Sintan menyambar. Buru-buru Leng Koen lepaskan dua Kimtjhie piauw.
Sebutir peluru kena terpukul jatuh, tapi sebutir lagi keburu meledak sendiri dan
mengenakan tepat mukanya Tio Leng Koen. Seperti kena arus listrik, hawa dingin yang
sangat hebat masuk ke dalam dua biji matanya, dan ia lantas tak dapat membuka
matanya lagi.
Saat itu, dengan gerakan Pengho kiattang (Sungai es membeku), Yoe Peng putar
pedangnya dan menyerang dari tiga jurusan, yaitu dari atas, tengah dan bawah. Pukulan
ini adalah salah satu pukulan paling luar biasa dari ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie.
Diserang dari tiga jurusan hampir berbareng, pihak musuh jadi kabur penglihatannya, dan
dalam usaha sambutannya, ia bisa membikin kesalahan yang dapat mencelakakan dirinya
sendiri. Yoe Peng keluarkan pukulan itu dengan maksud buat lebih dahulu merobohkan Tio
Leng Koen, yang jadi pemimpin dari ketiga belas musuh itu.
Akan tetapi, tidak dinyana, baru saja pedangnya bergerak, badannya Tio Leng Koen
berkelebat dan tangannya sudah menyambar dari sebelah kanan. Thian Oe coba
menolong, tapi sudah tidak keburu. Dengan suara "plak!", pundaknya Yoe Peng kena
terpukul, sehingga terhuyung dan Pengpok Hankong kiam hampir-hampir jatuh dari
tangannya.
Keliehayannya pukulan Pengho kiattang ialah dapat membikin kabur penglihatan musuh.
Dalam serangan itu, Yoe Peng tidak ingat, bahwa lantaran kedua matanya musuh tertutup
rapat akibat serangan Pengpok Sintan, Tio Leng Koen jadi tidak kena dibikin bingung.
Sementara itu, dalam kedudukannya yang sangat berbahaya, ia sudah keluarkan pukulan
Bittjiong tjiang dari Khongtong pay. Masih untung, lantaran matanya rapat, arah
tangannya jadi kurang tepat dan cuma mengenakan pundak. Kalau lebih ke bawah
beberapa dim saja, tangannya bisa menghantam dada dan Yoe Peng bisa dapat luka
berat.
Sesudah berhasil, Leng Koen loncat mundur beberapa tindak dan kucek-kucek matanya
yang penglihatannya jadi samar-samar dan seperti juga melihat uap putih, la kaget
berbareng gusar dan membentak dengan suara keras: "Perempuan kejam! Kalau tak
korek biji matamu, aku tak puas!" la segera teriaki kawan-kawannya buat kepung Yoe

Peng secara lebih keras, sedang ia sendiri, dengan andalkan ilmu "Membedakan
datangnya senjata dengan mendengari sambaran angin," sudah turut menerjang.
Walaupun Yoe Peng merupakan salah satu dayang terkemuka dalam keraton es, akan
tetapi ilmu silatnya masih kacek jauh jika dibandingkan dengan musuh-musuhnya. Maka
itu, begitu dikepung sungguh-sungguh, ia lantas berada di bawah angin. Buat sementara
waktu, ia masih bisa pertahankan diri dengan andalkan kegesitannya, akan tetapi, ia
sudah tidak mempunyai tempo buat menimpuk lagi dengan Pengpok Sintan.
Thian Oe terkejut dan menyerang dengan mati-matian dengan gunakan segala rupa
pukulannya Pcngtjoan Thianlie yang luar biasa. Di antara dayang-dayang, meskipun
mendapat didikan langsung dari Pengtjoan Thianlie, akan tetapi tidak ada barang seorang
yang belajarkan seluruh Tokboen Kiamhoat. Di lain pihak, Thian Oe mencuri belajar dari
gambar-gambar di dinding gedung terlarang. Maka itu dibandingkan dengan para dayang,
ia dapat lebih banyak sumsumnya ilmu pedang tersebut. Dalam terjangannya yang matimatian, ia sudah berhasil membuka satu jalanan dan dapat mempersatukan dirinya sama
Yoe Peng. Oleh karena mesti meladeni Thian Oe dan Yoe Peng yang mengamuk seperti
kerbau edan, barisannya Khongtong pay jadi kalut, sehingga Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In
Tjoe juga dapat menerjang keluar dan gabungkan diri sama Thian Oe dan Yoe Peng.
Dengan demikian, ke empat orang itu menjadi dua pasangan, yang, dengan saling tempel
pundak, melawan serangan-serangannya ketiga belas jago Khongtong pay.
Loei Tjin Tjoe sama sekali tidak pernah mengimpi, bahwa dalam tempo beberapa bulan
saja, ilmu silatnya Thian Oe sudah maju begitu jauh dan kelihatannya sudah berada di
sebelah atasan gurunya sendiri. Semangatnya jadi terbangun dan ia dapat menyerang
dan membela diri secara rapi. Tjoei In Tjoe pun dapat pulang ketenangannya dan tali
gendewanya kembali bersuara nyaring.
Dengan perlahan sinar bulan condong ke sebelah barat dan mereka sudah bertempur
lebih dari satu jam. Perlahan tapi tentu, keadaan di gelanggang kembali berobah.
Sesudah berkelahi begitu lama, Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe jadi lelah. Oleh karena
tenaga dalamnya belum begitu kuat, Thian Oe dan Yoe Peng juga sekarang cuma dapat
membela diri.
Tio Leng Koen dan kawan-kawannya jadi girang dan mereka menyerang semakin hebat.
"Perempuan siluman! Sekarang baru kau tahu keliehayan kami! Lekas keluarkan obat
pemunah!" berseru Tio Leng Koen. Dengan andalkan Iweekang-nya yang sangat tinggi,
buat sementara ia masih dapat menahan hawa dinginnya Pengpok Sintan. Tapi
belakangan, ia rasakan kedua biji matanya seperti juga ditusuk-tusuk jarum sehingga ia
kuatir menjadi buta, jika terlambat pengobatannya. Maka itu, ia mendesak hebat dan mau
paksa Yoe Peng keluarkan obatnya.
Yoe Peng ambil sikap acuh tak acuh. "Obat apa?" tanya ia sembari tertawa.
"Kau tak mau keluarkan?" kata Tio Leng Koen. "Kalau kau tidak keluarkan, biarpun buta,
aku masih dapat membunuh engkau!" Sembari tekap matanya dengan tangan kiri,
pedangnya kembali menyerang hebat dengan pukulan-pukulan yang membinasakan.
Ketika itu, matanya sudah jadi bengkak seperti buah engtoh dan hatinya takut bukan
main.
Yoe Peng benar nakal. Dalam keadaan yang berbahaya, ia masih bisa tertawa. "Ha! Tadi
aku sudah suruh kau hati-hati!" katanya. "Kau sendiri yang tak hati-hati, sekarang
berbalik salahkan orang!" sembari tempel pundak dengan Thian Oe, ia kembali singkirkan
beberapa serangan. "Hai, aku dengar lelaki Han lebih suka keluarkan darah daripada
keluarkan air mata. Tapi kau lebih suka menangis! Apa tak malu?" Yoe Peng mengejek
pula.

Tio Leng Koen jadi seperti orang kalap. Bersama empat saudaranya, ia menyerang seperti
macan edan, sehingga Thian Oe dan Yoe Peng jadi benar-benar kedesak.
"Aku lihat kau, benar-benar kasihan! Biarlah aku berikan obat pemunah!" kata Yoe Peng.
"Mari!" Leng Koen membentak.
"Galak benar, kau!" kata Yoe Peng. Kalau kau minta baik-baik, mungkin aku mau juga
kasihkan."
"Yah, hayo kasihkan!" kata Tio Leng Koen dengan suara lebih lunak.
"Mana bisa begitu gampang!" kata Yoe Peng sembari nyengir. "Kau lebih dahulu harus
minta maaf pada Loei-ya dan bersumpah tak akan pergi ke Sinkiang buat satrukan orangorang Boetong. Kau pun harus minta maaf kepada kami. Sesudah itu, barulah aku mau
kasihkan obatku."
Tio Leng Koen sangat bersangsi. Ia tak tahu mesti ambil jalanan yang mana. Ia paksakan
membuka kedua matanya dan samar-samar lihat cara bersilatnya Loei Tjin Tjoe sudah
menjadi kalut.
"Lebih dahulu mampuskan siluman perempuan ini!" mendadak ia berseru sesudah
mengambil putusan. "Saudara Thio, Oey dan Yo, kau bertiga pergi layani itu dua manusia.
Cukup kalau kau bikin mereka tak bisa membantu kedua bocah ini!"
Sehabis memerintah begitu, di bawah pimpinannya sendiri, sepuluh jagoan Khongtong
pay segera meluruk mengepung Thian Oe dan Yoe Peng. Maksudnya Tio Leng Koen adalah
coba membinasakan Yoe Peng selekas mungkin supaya bisa ambil obat pemunah dari
badannya.
Akan tetapi, ilmu silatnya Pengtjoan Thianlie ada sangat luar biasa dan tak gampanggampang dapat dipecahkan dalam tempo yang pendek. Tio Leng Koen jadi bingung sekali
dan dengan sepenuh tenaga, ia cecer kedua orang muda itu dengan pukulan-pukulan
yang paling hebat. Belasan jurus kembali lewat. Thian Oe dan Yoe Peng sengal-sengal dan
mereka tahu, tak akan dapat pertahankan diri lebih lama lagi. Di lain pihak, kedua biji
matanya Tio Leng Koen juga dirasakan semakin sakit, sehingga kedua belah pihak jadi
sama-sama bingungnya.
Dalam keadaan yang sangat genting, mendadak terdengar suara nyanyian:
"Pada malam Tiongtjhioe sama-sama memandang bidan, tapi kenapa hawa pedang
melonjak ke tengah awan?"
Suara itu kedengarannya datang dari tempat yang sangat jauh, dengan kecepatan luar
biasa. Begitu nyanyian berhenti, seorang pemuda baju putih dengan mulut tersungging
senyuman, sudah berada disitu.
Kecepatan bergeraknya pemuda itu, membikin semua orang jadi terkejut. Tio Leng Koen
loncat mundur tiga tindak dan berkata sembari lintangkan pedangnya: "Sahabat dari
mana adanya tuan? Pengajaran apakah yang tuan hendak berikan kepada kami?"
Pemuda itu tertawa dingin seraya menyahut dengan suara nyaring: "Kedatanganku
adalah buat memberi sedikit pengajaran kepada kau orang. Khongtong pay adalah salah
satu partai besar dalam Rimba Persilatan dan dengan banyak susah payah partai itu telah
diberdirikan. Pada jaman yang lampau, Tjiangboen Khongtong pay, Ouw Bong Tootiang,
adalah seorang pendeta beribadat yang menjaga keras peraturan partai. Akan tetapi,

begitu pimpinan jatuh ke dalam tanganmu, orang-orang Khongtong pay lantas saja
lakukan segala perbuatan yang tidak pantas. Apa kamu orang tidak merasa malu kepada
leluhurmu yang sudah berada di alam baka?"
Pemuda baju putih itu baru saja berusia kurang lebih dua puluh tahun, akan tetapi ia
bawa sikap seperti caranya seorang tingkatan tua bicara terhadap orang dari tingkatan
muda. Maka tidaklah heran jika Tio Leng Koen lantas naik darahnya dan ia dongak
sembari tertawa besar. "Dengan berkata begitu, tuan rupanya ingin membersihkan rumah
tangga Khongtong pay!" katanya dengan suara dingin.
"Benar," jawab si pemuda dengan suara sungguh-sungguh. "Lantaran tidak tega melihat
seluruh Khongtong pay dikorbankan dalam tanganmu, maka tanpa perdulikan kecapaian,
aku sengaja datang kesini buat mengurus kamu orang!"
Harus diketahui, bahwa menurut peraturan Rimba Persilatan, pekerjaan "membersihkan
rumah tangga" hanya dapat dilakukan oleh tetua dari partai itu sendiri. Manakala seorang
luar hendak "membersihkan rumah tangga" partai lain, maka orang itu haruslah seorang
yang tingkatannya sangat tinggi dengan mempunyai ilmu silat yang dapat menindih
semua anggauta dari partai yang mau dibersihkan. Maka itu, dapat dimengerti jika
perkataannya si pemuda bukan saja sudah membikin gusarnya Tio Leng Koen, tapi juga
sudah keja dua belas orang Khongtong pay yang berada disitu, jadi mata merah.
Sembari paksa buka kedua matanya, Tio Leng Koen tertawa terbahak-bahak dan
menuding dengan pedangnya.
"Sungguh malu, sebagai Tjiangboen dari Khongtong pay, aku mesti membikin
Lootjianpwee jadi berabe buat membersihkan rumah tangga kita!" ia berseru sekeras
suara. "Cuma saja aku orang she Tio sangat kepala batu dan sukar menerima
pengajaranmu! Maaf, maaf, aku yang rendah terpaksa menolak segala kemauanmu!"
Mendengar perkataan pemimpinnya, semua murid Khongtong pay jadi tertawa keras.
Mereka ejek si pemuda yang dianggap sangat tidak tahu diri.
Tapi si pemuda tetap berlaku tenang. Ia menyapu dengan matanya dan berkata pula:
"Apa kau orang benar-benar mau aku turun tangan?"
"Binatang!" membentak Tio Leng Koen. "Kau betul-betul sudah bosan hidup! Cabut
pedangmu! Lihat, apa kau ajar aku, atau aku mengajar kamu!"
Si pemuda tertawa besar. "Buat menghadapi orang-orang seperti kau, perlu apa aku
mencabut pedang?" katanya. "Thian Oe! Kau semua menyingkir, supaya tak
menghalangkan gerakanku. Tio Leng Koen! Panggil semua kawanmu, supaya aku tak usah
turun tangan dua kali!"
Thian Oe manggutkan kepalanya dan sembari tarik tangannya Yoe Peng, ia segera loncat
keluar dari gelanggang. Bukan main herannya Loei Tjin Tjoe. "Apa pemuda itu berotak
miring?" tanya ia dalam hatinya. Selagi terheran-heran, mendadakan kupingnya dengar
teriakan Thian Oe: "Loei Toako! Lekas mundur!" Mau tidak mau, ia lantas turut loncat
keluar dari kalangan.
Pada saat itu, ketiga belas jago Khongtong pay sudah meluruk ke arah si pemuda itu.
Dengan mata berkilat, pemuda itu ayun satu tangannya dan di tengah udara lantas
terdengar suara "srr, srr, srr!" Buat keheranannya semua penonton, hampir pada detik
yang bersamaan, tiga belas orang itu, terhitung juga Tio Leng Koen, keluarkan teriakan
kesakitan dan roboh menggoser di atas tanah!
Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe ternganga bahna herannya.

"Tio Leng Koen! Apa kau menyerah?" tanya si pemuda sembari tertawa.
Sebagai orang yang mempunyai tenaga dalam yang lebih kuat daripada saudarasaudaranya, dengan paksakan diri, Tio Leng Koen bisa juga bangun duduk. "Terima kasih
buat pengajaranmu," kata ia. "Jika kami tidak binasa, kejadian ini tentulah tak dapat
dilupakan. Dapatkah aku mendapat tahu nama tuan yang mulia?"
Sebagai Tjiangboen dari satu partai, dalam kekalahannya, ia masih tidak lupa buat
keluarkan kata-kata yang sesuai dengan kebiasaan Rimba Persilatan. Dengan berkata
begitu, ia rnemberitahu, bahwa sebegitu lama masih hidup, ia tentu akan membalas sakit
hati.
"Kamu orang mau balas sakit hati? Jangan ngimpi!" kata si pemuda dengan suara tawar.
"Semua tulang pundakmu sudah kena ditobloskan! Yah, mati sih tidak, tapi buat bisa
bersilat lagi, jangan kau harap! Pulanglah dan hidup tenteram!"
Baru perkataan itu habis diucapkan, semua orang kembali terkejut. Bahwa dengan sekali
gerakkan tangan, si pemuda sudah dapat robohkan tiga belas ahli silat Khongtong pay,
sudah sangat luar biasa. Tapi, bahwa semua senjata rahasianya dengan tepat
mengenakan tulang pundak orang, adalah satu kepandaian yang sungguh tak dapat
dibayangkan bagaimana tingginya!
Tanpa merasa Tio Leng Koen meraba tulang pundaknya, dan benar saja, tulang itu sudah
hancur dan sakitnya sampai membikin ia keluarkan air mata. Ia mengetahui, sekarang ia
sudah jadi orang bercacat seumur hidup, ilmu silatnya musnah dan ia cuma bisa hidup
seperti orang biasa.
Si pemuda baju putih mesem dan berkata: "Aku sudah ampuni jiwamu, apa kau masih
tidak merasa puas? Pulanglah dan hidup secara tenteram."
Bukan main sedihnya Tio Leng Koen. "Apakah tuan dapat menaruh belas kasihan buat
perlihatkan senjata rahasia itu, supaya kita dapat membuka mata kita?", katanya dengan
suara perlahan.
Pemuda itu kembali mesem. Mendadak ia cabut pedangnya yang lantas pancarkan sinar
terang ke empat penjuru. "Barusan aku tak gunakan ia. Sekarang perlu digunakan,"
katanya.
Hatinya Leng Koen berdebar-debar dan sebelum ia tahu si pemuda mau berbuat apa,
ujung pedang sudah sontek pundaknya dan ia merasa seperti juga serupa benda panjang
loncat keluar dari daging pundak. Pemuda itu pegang benda tersebut dengan kedua
jerijinya dan goyanggoyang di depan matanya Tio Leng Koen. "Sudah lihat?" tanya ia.
Senjata rahasia itu bukannya emas dan juga bukannya besi. Warnanya hitam dan
bentuknya kecil panjang seperti anak panah tanpa bulu. Dengan senjata itu, si pemuda
ketok pedangnya yang lantas saja keluarkan suara mengaung yang sangat jernih dan
bersih.
Tio Leng Koen pucat bagaikan mayat. "Ah", ia berseru dengan suara di tenggorokan.
"Thiansan Sinbong dan Yoeliong kiam!"
"Benar," kata si pemuda. "Apa sekarang kau sudah tahu asal-usulku?"
Pedang Yoeliong kiam adalah senjata mustika yang dipandang suci dalam kalangan partai
Thiansan pay. Siapa yang membawa senjata itu, ia tak bisa lain daripada ahli waris tulen
dari Thiansan pay. Tjiangboen Thiansan pay di waktu itu adalah Tong Siauw Lan yang

tingkatannya dua kali lebih tinggi dari Tio Leng Koen. Maka itu, jika si pemuda adalah
muridnya Tong Siauw Lan, tingkatannya berada lebih atas daripada Tio Leng Koen.
Dengan cepat si pemuda keluarkan dua belas Thiansan Sinbong lainnya dari pundaknya
lain-lain jago Khongtong pay.
"Dia sudah tidak mempunyai ilmu silat lagi dan tak dapat jadi bibit penyakit. Tak usah
bikin matanya menjadi buta," kata si pemuda sembari berpaling pada Yoe Peng.
"Baik," sahut Yoe Peng sembari keluarkan sebutir Yangho wan yang lantas diberikan
kepada Tio Leng Koen. "Telan ini dan mengasoh tiga hari," katanya.
Tio Leng Koen kucek-kucek matanya, sikapnya seperti seekor ayam jantan yang baru
dipecundangkan. Sesudah memberi hormat kepada si pemuda baju putih, dengan
dipepayang oleh kawan-kawannya, ia segera berlalu dari situ. Si pemuda tertawa
bergelak-gelak dan berkata kepada Thian Oe: "Pertempuran yang barusan sungguh
menyenangkan! Eh, bocah, nasibmu benar-benar baik. Baru berdiam di keraton es tiga
bulan, ilmu silatmu sudah maju begitu jauh."
"Bukankah kau berada sama-sama Pengtjoan Thianlie?" tanya Thian Oe.
"Dialah yang tak sudi berada sama-sama aku," sahut si pemuda sembari tertawa. "Aku
justru mau tanya keterangan mengenai dirinya dari kalian."
Yoe Peng terkejut dan buru-buru menanya: "Bukankah pada hari itu kau sedang adu
pedang dengan Kongtjoe kami?"
"Janji adu pedang harus ditangguhkan sampai di lain hari," sahut si pemuda.
"Meskipun adu pedang tidak dapat dilangsungkan, tapi kau toh mesti bertemu muka
dengan ianya!" kata Yoe Peng lagi.
"Sebelum tiba di kakinya Puncak Es, aku sudah rasakan alamat bakal adanya gempa
bumi," menerangkan si pemuda. "Apa kau kira aku masih berani maju terus buat cari
mati?"
"Kalau begitu, jadi kau tak pernah lihat padanya?" Thian Oe menegasi.
"Ah, buat apa kau begitu berkuatir?" katanya dengan suara jengkel. "Sedang aku dapat
loloskan diri, apa kau kira ia tak mampu selamatkan jiwanya? Hari itu, selagi aku kabur ke
arah utara, aku lihat bayangannya kabur ke jurusan selatan. Belakangan, sesudah gunung
berapi meledak, biarpun mau, aku pun tak akan dapat mencarinya. Barulah sekarang aku
mendapat tahu, ia belum balik ke keraton es."
Mendengar keterangan si pemuda, bahwa Pengtjoan Thianlie sudah terlolos dari bencana
alam, hatinya Thian Oe dan Yoe Peng menjadi lega.
"Apakah kalian mau pergi ke Lhasa?" tanya si pemuda.
Thian Oe manggutkan kepalanya, sedang si pemuda berdiam beberapa saat seperti orang
lagi berpikir. Mendadak ia keluarkan satu kotak sulam dari sakunya dan berkata: "Ayahmu
berada di tempatnya Hok Kong An. Sekarang aku mau minta pertolonganmu buat
serahkan kotak ini kepada Hok Kong An, supaya aku tak usah berabe mundar-mandir."
Thian Oe sambuti kotak itu, dan selagi mau menanya, si pemuda sudah mendahului
sembari tertawa: "Kasihkan saja padanya. Percayalah, barang ini mempunyai banyak
kebaikan bagi ayahmu. Di belakang hari kita bakal bertemu pula. Kau tak usah banyak

menanya." Ia berpaling kepada Loei Tjin Tjoe dan lanjutkan perkataannya: "Kau juga
harus segera pulang ke Soetjoan. Jika bertemu dengan Moh Tayhiap, tolong sampaikan
salamku kepadanya." Sehabis berkata begitu, ia angkat kedua tangannya dan dalam
sekejap, ia sudah lenyap dari pemandangan.
Sesudah dapat banyak pengalaman pahit getir, habislah segala kesombongannya Loei
Tjin Tjoe. Dengan mulut ternganga dan hati yang kagum tak habisnya, ia awasi
bayangannya si pemuda baju putih yang melesat seperti anak panah. Sesudah mengasoh
beberapa lama, keempat orang lantas berpisahan. Loei Tjin Tjoe dan Tjoei In Tjoe menuju
ke Soetjoan, sedang Thian Oe dan Yoe Peng teruskan perjalanan ke Lhasa.
Tanpa mendapat rintangan suatu apa, pada satu magrib Thian Oe dan Yoe Peng tiba di
ibukota Tibet itu. Begitu masuk ke dalam kota, selagi Thian Oe mau tanya orang dimana
letaknya markas besar Hok Kong An, Yoe Peng mendadak berkata: "Kenapa begitu
terburu-buru? Marilah kita pesiar barang semalaman, buat lihat-lihat pemandangan Lhasa
di waktu malam. Biarlah besok saja cari ayahmu."
Thian Oe mesem. Ia jadi ingat janjinya buat ajak Yoe Peng pesiar di kota Lhasa dan ia juga
merasa, bahwa begitu lekas sudah masuk ke markas besarnya Hok Kong An, mereka tidak
dapat keluar masuk lagi sesuka hati. Maka itu, tanpa membantah, ia lantas tuntun
tangannya Yoe Peng dan keliling di seputar kota.
Sebagai ibukota Tibet, Lhasa dikurung oleh bukit-bukit yang tingginya dari empat sampai
lima ribu kaki. Rumah-rumah yang papak dan tenda-tenda di sana-sini memperlihatkan
pemandangan yang lain daripada apa yang terlihat di Tiongkok Asli. Di waktu malam,
sinar lilin yang muncul dari beribu-ribu tenda memberi satu pemandangan yang sangat
luar biasa. Keraton Potala yang berdiri di atas bukit dan atapnya mengeluarkan sinar
emas berkredepan, kelihatannya angker dan indah sekali.
"Mari kita pergi kesana," mengajak Yoe Peng.
"Itulah keratonnya Budha Hidup, mana boleh orang sembarangan masuk," menerangkan
Thian Oe. "Mari kita pergi ke lapangan yang terletak di sebelah bawahnya."
Lapangan yang terletak di bawahnya Keraton Potala adalah pusatnya keramaian dari kota
Lhasa. Di seputar lapangan berdiri tenda-tenda yang berjejer-jejer, sedang di tengahtengah terdapat macam-macam pedagang yang gelar barang-barangnya di atas tanah. Di
sebelahnya itu, terdapat juga rombongan-rombongan penyanyi, wayang, dangsu dan
sebagainya. Yoe Peng yang biasa berdiam dalam keraton yang sepi, tentu saja belum
pernah saksikan keramaian yang sedemikian rupa. Ia merasa, keindahan bilang ribu lilin
dan lampu yang gilang-gemilang adalah lebih mengagumkan dari apa yang dapat dilihat
di keraton es. Sesudah nonton orang India bermain ular, mereka pergi saksikan
pertunjukan yang diberikan oleh rombongan orang-orang Hapsatkek dari Sinkiang. Yang
satu kasih lihat kepandaian menelan pedang, sedang yang lain semburkan api menyala
dari mulutnya. Orang itu kasih masuk sebatang pedang yang panjangnya tiga kaki ke
dalam mulutnya. Pedang itu amblas dan yang ketinggalan di luar mulut cuma gagangnya
saja yang pendek.
"Ah!" kata Yoe Peng dengan suara kagum. "Ilmu silatnya orang itu kelihatannya melebihi
si pemuda baju putih!"
"Bukan ilmu sejati, semacam sulap," menerangkan Thian Oe sembari tertawa. Baru saja
Thian Oe berkata begitu, orang itu cabut pedangnya yang lantas ditekuk-tekuk. Ternyata
pedang itu terbuat dari timah tipis yang sangat lemas. Yoe Peng tertawa terbahak-bahak
dan hatinya girang sekali. Mendadak ia rasakan badannya disenggol orang dan ketika ia
meraba dengan tangannya,

Pengpok Hankong kiam sudah lenyap!


Bukan main kagetnya Yoe Peng. Ia menengok dan lihat Thian Oe sedang cekal satu orang
sembari membentak: "Dia!" Tak salah lagi orang itu adalah si pencopet, sebab sarung
pedang kelihatan nongol di bawah jubahnya yang panjang. Yoe Peng enjot badannya buat
rebut pulang pedangnya. Tiba-tiba orang itu tertawa nyaring dan dengan sekali goyang
badannya, ia sudah terlepas dari cekalannya Thian Oe, akan kemudian kabur dengan
menyelesap di antara orang banyak. Thian Oe ternganga sambil pegangi jubahnya si
copet, yang tenyata sudah akali ia dengan tipu "Tonggeret lepaskan kulit." Selagi Thian
Oe pegang tangan jubahnya dan hendak membekuk dengan cekalan Kinna hoat, si copet
loloskan tangannya dari tangan jubah dan kabur dengan tinggalkan jubahnya.
Sembari berteriak "tangkap!", Thian Oe loncat memburu. Meskipun ilmu entengi
badannya sudah cukup tinggi, tapi si copet terlebih gesit lagi dan dalam tempo sekejap, ia
sudah kabur keluar dari antara orang banyak. Thian Oe mengubar terus tanpa perdulikan
beberapa orang yang jadi terpelanting lantaran ditubruk olehnya. Di lain saat, ia lihat si
copet sudah loncat ke atas sebuah tenda. Pencopetan adalah kejadian lumrah di tempat
tersebut dan orang banyak mengambil sikap acuh tak acuh, malahan beberapa antaranya
yang kena dibikin terpelanting jadi berbalik maki Thian Oe yang dikatakan ceroboh.
Dengan berdiri di atas tenda, si copet buat main Pengpok Hankong kiam dan mulutnya
memuji tak hentinya: "Pedang bagus! Sungguh bagus!" Dengan gusar, Yoe Peng dan
Thian Oe loncat ke atas tenda itu, tapi si copet yang luar biasa gesitnya, sudah pindah ke
lain tenda dan dengan beberapa lompatan, ia sudah turun ke atas lapangan yang terletak
di belakangnya tenda-tenda.
Thian Oe terkejut. Ilmu entengi badannya si copet ternyata tidak berada di sebelah
bawahnya! Lapangan tersebut terletak di bawahnya suatu bukit, di atas mana berdiri
keraton Potala. Si copet lari dengan mendaki tanjakan gunung, tapi ia menuju ke arah
selatan barat dan bukannya ke jurusan Potala.
Thian Oe dan Yoe Peng mengubar terus sekeras-kerasnya, tapi mereka tetap ketinggalan
di belakang dalam jarak beberapa tombak. "Orang ini mungkin bukan copet sewajar,"
kata Thian Oe. "Tak perduli," kata Yoe Peng. "Dia sudah curi pedangku, aku mesti merebut
pulang."
Mereka terus ubar-ubaran, dari depan sampai di belakang bukit dan akhirnya masuk ke
satu daerah pegunungan yang sangat sepi.
"Sahabat!" Thian Oe berteriak. "Sudahlah, jangan main-main!"
Orang itu tidak meladeni dan lari terus, sambil mencekal Pengpok Hankong kiam yang
sinarnya menerangi jalanan. Sesudah kabur lagi beberapa lama, si copet mendadak
berhenti di depannya satu rumah, yang mengeluarkan sinar lilin. Bentuknya rumah itu
agak luar biasa, bukan pasegi tapi bundar seperti tenda, sedang seputarnya dikurung
tembok. Si copet mendadak lompati tembok dan masuk ke dalam.
"Ha! Inilah sarangnya!" berseru Yoe Peng sembari enjot badannya. Thian Oe mau
mencegah, tapi sudah tidak keburu, sehingga ia pun lantas turut loncat.
Begitu masuk, mereka menghadapi penerangan yang menyilaukan mata. Di ruangan
tengah terpasang dua baris lilin sebesar lengan, sehingga ruangan itu jadi terang seperti
siang. Di tengah ruangan duduk seorang pembesar militer Boan dan si copet
menyerahkan Pengpok Hankong kiam kepadanya. Orang itu meneliti pedang tersebut dan
berkata: "Benar! Benar pedang ini! Apa wanita itu datang bersama-sama?" Sebagaimana
diketahui, Pengpok Hankong kiam mengeluarkan sinar dingin yang luar biasa dan dapat
membikin pingsan orang yang belum mempunyai cukup tenaga dalam. Tapi pembesar itu,

yang lantas cabut pedang tersebut dari sarungnya dan bulangbalingkan beberapa lama,
seperti juga tidak merasakan suatu apa.
Yoe Peng memburu bagaikan terbang seraya membentak: "Pulangkan pedangku!"
Pembesar itu mengawasi dengan mata tajam dan berkata: "Apa pedang ini milikmu? Ah,
tak benar!"
"Kenapa tak benar?" tanya Yoe Peng.
Si pembesar mengawasi pula dan lalu berkata: "Coba kau jalan dua tindak."
Bukan main gusarnya Yoe Peng yang segera enjot badannya sembari ayun tangannya
buat melepaskan dua butir Pengpok S intan, yang satu menyambar ke arah si pembesar
dan yang satunya lagi ke jurusan si copet.
Sungguh sebet gerakannya pembesar tersebut! Dengan satu gerakan kilat, tangannya
sudah menyambar ke depannya si copet, dan dengan gerakan Tjianpie Djie Lay (Djie Lay
Hud dengan seribu tangan), ia sudah sambuti kedua senjata rahasianya Yoe Peng! Ia
pencet dan kedua Pengpok Sintan lantas meledak dalam telapakan tangannya!
Gelombang demi gelombang, hawa yang sangat dingin keluar dari sela-sela jarinya.
"Sekarang kau tahu keliehayanku!" kata Yoe Peng sembari tertawa. "Hayo, pulangkan
pedangku!" Dari jarak beberapa kaki, hawa dinginnya Pengpok Sintan sudah menusuk
sampai ke tulang-tulang, apa lagi jika peluru itu meledak didalam tangan. Yoe Peng
merasa pasti, pembesar itu tak akan dapat mempertahankan dirinya lagi dan bakal
segera memohon ampun. Tapi tak dinyana, sedikitpun ia tidak kelihatan kedinginan, dan
seperti juga tidak terjadi apa-apa, ia susut kedua tangannya yang penuh air es di bajunya.
"Ah!" kata ia. "Baik juga ketemu aku. Kalau lain orang, biar tak mati, sedikitnya mesti
sakit keras."
Thian Oe terkesiap. Dengan meledakkan Pengpok Sintan secara demikian, kepandaiannya
orang itu kelihatannya tidak berada di sebelah bawahnya si pemuda baju putih.
Baru saja ia niat memberi hormat, Yoe Peng sudah kebaskan tangan kirinya dan membuat
setengah lingkaran dengan tangan kanannya, akan kemudian loncat menerjang. Itulah
satu pukulan yang sangat liehay dari Tatmo Tjianghoat. "Ah! Ini jadi semakin tak benar!"
kata si pembesar sembari lonjorkan tangannya buat tangkap lengannya Yoe Peng.
Thian Oe terkejut melihat gerakan orang yang sangat hebat. Dalam kebingungannya
tanpa memikir lagi, ia enjot badannya sembari mencabut pedang. "Sungguh indah!"
berseru pembesar itu. "Di antara tingkatan muda, kepandaian seperti ini sungguh jarang
terdapat!" Selagi mulutnya bicara, tangan kirinya bekerja terus. Mendadakan saja, Thian
Oe rasakan jari-jarinya terbuka dan pedangnya sudah pindah ke tangannya orang itu,
sedang lengannya pun kena tercekal!
Demikianlah dengan satu gerakan saja, orang itu sudah dapat cekal lengannya Yoe Peng
dan Thian Oe yang lalu dilemparkan. Belum sempat berteriak, mereka sudah jatuh duduk
di atas kursi, tanpa mendapat luka sedikit pun!
Thian Oe dan Yoe Peng mengawasi dengan mata mendelong dan mulut ternganga.
Mereka hampir tak percaya, bahwa dalam dunia masih ada orang yang mempunyai
kepandaian begitu tinggi.
Pembesar itu mesem dan berkata: "Tak susah buat dapat pulang kedua pedang ini. Aku
cuma mau minta kalian bicara sebenarnya. Siapakah adanya kalian?"

"Ayahku adalah Tan Teng Kie, Soanwiesoe dari Sakya," sahut Thian Oe. Orang itu
keluarkan satu seruan kaget dan berkata: "Ah, kalau begitu kau adalah Tan Kongtjoe. Maaf
buat perbuatanku yang barusan." Ia lalu berpaling kepada Yoe Peng dan menanya: "Dan
kau?"
Lantaran masih berdongkol, Yoe Peng tutup mulutnya. "Kekeliruanku yang tadi sudah
terjadi lantaran adanya salah mengerti," kata si pembesar dengan suara halus. "Aku
menduga, kau adalah seorang wanita lain, tapi siapa nyana, biarpun pedangmu mirip
dengan pedangnya, ilmu silatmu masih kacek terlalu jauh dengan ilmu silatnya! Itu
sebabnya kenapa barusan aku bilang, tak benar."
Begitu mendengar perkataannya si pembesar, Thian Oe dan Yoe Peng loncat bangun
dengan berbareng. "Wanita siapa yang kau ketemu?" tanya Yoe Peng.
"Bagaimana sebenarnya hubungan antara kau dan wanita itu?" ia balas menanya.
"Aku adalah dayangnya," jawab Yoe Peng.
Pembesar itu manggut-manggutkan kepalanya seraya berkata: "Nah, kalau begitu barulah
benar. Siapakah adanya majikanmu?"
Oleh karena tidak kenal siapa adanya orang itu, hatinya Yoe Peng jadi sangsi. "Aku she
Liong, namaku Leng Kiauw," ia perkenalkan dirinya sembari mesem. "Banyak sahabat
bilang namaku sukar diingat, dan oleh karena aku adalah anak yang ketiga, mereka pada
panggil aku Liong Sam. Bukankah Tan Kongtjoe sudah pernah dengar namaku yang
rendah?"
Thian Oe jadi berdebar hatinya. Ia sama sekali tak duga, bahwa pembesar yang
kelihatannya begitu sederhana adalah orang luar biasa nomor satu di bawah perintahnya
Hok Kong An --Liong Sam Sianseng yang kesohor namanya!
Dari ayahnya, Thian Oe pernah dengar, bahwa di bawah perintahnya panglima besar
tersebut terdapat seorang pandai yang tak mau munculkan mukanya. Orang itu dikenal
sebagai Liong Sam Sianseng. Pangkatnya kecil saja, yaitu pangkat Tjamtjan (semacam
penulis), tapi pengaruhnya sangat besar dan semua nasehatnya selalu diturut oleh Hok
Tayswee. Banyak sekali usaha yang berfaedah di daerah perbatasan keluar dari otaknya.
Menurut katanya orang, kepandaian Liong Sam tak dapat diukur bagaimana tingginya.
Tugas Hok Kong An di Lhasa adalah tugas yang bukan main beratnya, akan tetapi, selama
beberapa tahun, ia selalu dapat lakukan pekerjaannya secara licin, dan ini, menurut
katanya orang, sebagian besar adalah berkat bantuannya Liong Sam Sianseng. Namanya
Liong Sam tidak banyak dikenal orang dan cuma diketahui oleh beberapa pembesar
penting di bawahnya Hok Kong An. Dahulu, setiap kali Siauw Tjeng Hong dan Tan Thian Oe
bicara mengenai dirinya Liong Sam, mereka selalu merasa sangsi, apakah benar orang itu
mempunyai kepandaian yang tinggi. Mereka anggap, manakala benar ia mempunyai
kepandaian seperti yang diagulkan orang, Liong Sam tentu tak akan sudi bekerja sebagai
satu Tjamtjan di bawahnya Hok Tayswee.
Tapi belakangan, ketika berada di keraton es, Thiekoay sian pernah utarakan perasaan
kagumnya terhadap Liong Sam. Dikatakan olehnya, bahwa Liong Sam adalah seperti satu
naga malaikat, yang kelihatan kepalanya, tapi tak kelihatan buntutnya. Ketika itu, Thian
Oe pernah tanyakan asal-usulnya Liong Sam, akan tetapi sang guru sungkan banyak
bicara dan cuma gelenggelengkan kepalanya. Ia cuma bilang, kalau nanti sudah turun
gunung, ia mau bawa Thian Oe pergi ketemukan orang pandai itu. Cuma sungguh
menyesal, sebelum niatan itu terwujut, Thiekoay sian sudah tinggalkan dunia ini buat
selamalamanya. Dan sekarang, secara kebetulan sekali, dengan matanya sendiri, Thian
Oe dapat saksikan kepandaiannya Liong Leng Kiauw.

"Sesudah aku perkenalkan diri, apakah kau dapat memberitahukan namanya


majikanmu?" tanya Liong Sam sembari tertawa. Yoe Peng masih juga belum menyahut. Ia
hanya mengawasi dengan perasaan bimbang.
"Lagi kapan kau bertemu ia?" tanya Thian Oe.
"Apa kau kenal majikannya?" Liong Sam balas menanya.
"Majikannya adalah Pengtjoan Thianlie!" jawabnya.
Liong Sam kelihatan terkejut. "Hm!" ia menggerendeng. "Aku kira Pengtjoan Thianlie
cuma cerita burung. Tak tahunya, benar ada orangnya!"
"Lagi kapan kau bertemu Kongtjoe kami?" tanya Yoe Peng.
"Tiga hari yang lalu, di waktu malam," sahutnya.
"Bagaimana bertemunya?" tanya lagi Yoe Peng.
"Ia datang disini dan ambil serupa barang," menerangkan Liong Sam.
"Ia ambil barangmu?" tanya Yoe Peng sembari tertawa dingin, lantaran ia sama sekali tak
percaya. Puterinya mau mengambil barang lain orang.
"Barang apa?" tanya Thian Oe.
"Bukan barang terlalu penting, cuma aku tak mau ia mengambilnya," sahut Liong Sam
secara menyimpang. "Cuma sayang, aku tak dapat tahan padanya."
Pada tiga malam yang lalu, seorang wanita telah satroni rumahnya Liong Sam dan curi
satu rencana cara bagaimana Hok Tayswee akan menyambut guci emas yang di kirim dari
Pakkhia. Rencana itu telah disusun oleh Liong Sam sendiri. Wanita tersebut mempunyai
ilmu entengi badan yang luar biasa tingginya dan menggunakan sebatang pedang yang
mengeluarkan sinar terang serta hawa dingin. Liong Sam mengubar dan sesudah
beberapa gebrakan, ia masih belum dapat jatuhkan wanita itu. Dalam kegelapan malam,
ia tak dapat lihat tegas mukanya wanita tersebut yang mendadak tertawa bergelak-gelak
dan berkata: "Cuma sebegini ilmunya Naga Malaikat!" Sehabis berkata begitu, ia
menyerang dengan serangan aneh, sehingga Liong Sam terpaksa loncat mundur, dan
dengan gunakan kesempatan itu, ia enjot badannya dan menghilang di tempat gelap.
Kejadian itu sudah membikin Liong Sam yang pandai dan banyak pengalamannya jadi
garukgaruk kepalanya. Itu sebabnya kenapa sudah terjadi salah mengerti dan Yoe Peng,
yang diduga adalah wanita itu sebab mempunyai pedang yang mirip dengan pedangnya
wanita tersebut, sudah dipancing datang kesitu.
Sesudah Liong Leng Kiauw tuturkan duduknya persoalan, semua orang jadi bengong
dengan masing-masing mempunyai pendapat sendiri-sendiri. Thian Oe sendiri sudah
merasa pasti, bahwa wanita itu adalah Pengtjoan Thianlie. Di lain pihak, Yoe Peng tidak
percaya omongannya tuan rumah, bahwa Pengtjoan Thianlie datang menyatroni buat
mencuri barangnya. "Bukankah di keraton es bertumpuk-tumpuk macam-macam
mustika? Mana bisa dipercaya, Kongtjoe mau curi barangnya!" kata Yoe Peng dalam
hatinya. Tapi Yoe Peng tidak tahu, bahwa rencana yang dicuri oleh Pengtjoan Thianlie ada
lebih berharga dari mustika apapun juga. Sementara itu, Liong Leng Kiauw tak habis
mengerti, kenapa Pengtjoan Thianlie sudah curi rencananya. Apakah ia mau campur
tangan? Mengingat ilmu silatnya Pengtjoan Thianlie yang sangat tinggi, mau tak mau
hatinya jadi keder juga.

Matanya Liong Sam yang sangat tajam dapat lihat kesangsiannya Yoe Peng, tapi ia tidak
kata apa-apa dan lantas pulangkan Pengpok Hankong kiam. Selagi Thian Oe mau
pamitan, Liong Sam sudah mendahului dengan berkata: "Tan Kongtjoe, jika kalian tak
mencela tempatku yang buruk, aku undang kalian mengasoh semalaman disini. Besok
aku akan antar kau pergi ke gedungnya Hok Tayswee. Mungkin sekali ayahmu juga berada
disitu."
"Apa ayah tinggal disitu?" tanya Thian Oe.
"Bukan," sahut Liong Sam. "Ia menyewa rumah lain. Besok Hok Tayswee mau berunding
dengan ia, dan aku dengar, tak lama lagi ia sudah boleh balik ke Sakya.
Besok paginya, bersama Liong Sam, Thian Oe pergi ke gedungnya Hok Kong An, sedang
Yoe Peng menunggu di rumah. Gedungnya Hok Tayswee terletak di tengah-tengah kota
dan berdekatan dengan Gereja Besar (Thaytjiauw Sie). Di tengah jalan Liong Leng Kiauw
tanyakan mengenai Pengtjoan Thianlie dan dijawab dengan sejujurnya oleh Thian Oe.
Setibanya di gedung Hok Kong An, Liong Sam minta Thian Oe menunggu di kamar peranti
tetamu menulis nama. Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul dan undang Thian Oe
masuk ke dalam. Baru saja kakinya menginjak undakan batu, ia dengar suaranya Liong
Sam yang berkata sembari tertawa: "Tan Taydjin, aku bilang hari ini kau bakal dapat
kegirangan besar, tapi kau tidak mau percaya.
Coba lihat, siapa yang datang! Begitu masuk, ia lihat di tengah-tengah ruangan
berduduk seorang pembesar Boantjiu yang berusia kurang lebih 40 tahun. Ia berwajah
angker sekali, tapi pada keangkeran itu terselip sinar kejengkelan. Orang yang duduk di
sebelahnya pembesar Boan tersebut bukan lain daripada ayahnya sendiri, Tan li-ny Kie.
Melihat puteranya, Teng kie girang tak terhingga. "Oe-djie!" ia berseru. "Lekas memberi
hormat kepada Hok Tayswee!" Thian Oesegera jalankan peradatan sesuai dengan adat
istiadat, dan sesudah itu, ia lalu berdiri di samping ayahnya.
Hok Tayswee lirik Thian Oe dan berkata: "Dengan lihat romannya Tan Sieheng, dengan
sesungguhnya burung Hong muda boleh berendeng dengan Hong tua. Aku berani bilang,
di belakang hari nama dan keberuntungannya Tan Sieheng akan berada di sebelah
atasannya Taydjin sendiri. Sungguh aku harus memberi selamat kepada Taydjin."
"Buat itu semua kami ayah dan anak tentu saja harus mengandal kepada bantuannya
Tayswee," sahut Teng Kie.
Thian Oe sebal mendengar kata-kata yang manis-manis dari kalangan pembesar negeri,
maka itu, tanpa menunggu sampai Hok Kong An membuka mulut lagi, ia sudah
mendahului. "Hok Tayswee," katanya. "Ada orang minta aku sampaikan serupa barang
kepadamu."
"Ada orang minta kau sampaikan barang kepadaku?" menegasi panglima itu dengan
suara heran. "Barang apa?"
Thian Oe rogoh sakunya dan keluarkan kotak sulam yang ia terima dari si pemuda baju
putih dan serahkan itu kepada Hok Kong An, yang lantas buka tutupnya. Kotak itu
ternyata berisi sejilid buku. Begitu membaca, paras mukanya Hok Kong An jadi berobah,
dan sembari pegang buku itu dengan satu tangannya, ia menanya dengan suara tidak
sabaran: "Siapa yang berikan buku ini?" Pada mukanya panglima itu, yang tadi kelihatan
begitu tenang, sekarang terlukis perasaan kaget dan girang. Teng Kie gelisah dan awasi
puteranya.

"Yang memberikan adalah seorang muda yang kelihatannya seperti anak sekolah, yang
aku ketemu di tengah jalan," menerangkan Thian Oe.
Tan Teng Kie yang tidak mengetahui apa isinya buku itu, jadi merasa bingung dan tidak
mengerti, cara bagaimana puteranya boleh sembarangan terima saja barangnya orang
yang tak dikenal, buat disampaikan kepada panglima besar itu. Tapi Hok Kong An tidak
jadi gusar dan tangannya menggape kepada Liong Leng Kiauw, yang, begitu lihat isinya
buku tersebut, segera berkata dengan suara girang: "Hok Tayswee, sekarang kau sudah
boleh legakan hati. Tan Kongtjoe, sahabatmu sudah banyak membantu kami."
"Urusan ini, benar-benar mengherankan," kata lagi Hok Kong An. "Tan Sieheng, aku minta
kau bicara terus terang. Siapakah adanya sahabatmu itu?"
"Aku bertemu padanya secara kebetulan saja dan tak mengetahui asal-usulnya," sahut
Thian Oe.
"Aku rasa orang itu adalah seorang pendekar yang berkepandaian sangat tinggi," berkata
Liong Sam. "Menurut pendapatku, buku ini bukannya dicuri olehnya."
"Bagaimana kau tahu?" tanya Hok Kong An.
"Jika ia yang curi, tentu ia tak akan kirim pulang dengan begitu saja," jawab Liong Sam.
Hok Kong An diam, ia rupanya sedang berpikir keras.
"Orang luar biasa dalam kalangan Kangouw, sering lakukan perbuatan yang luar biasa
pula," kata lagi Liong Leng Kiauw. "Aku rasa Tan Sieheng sudah bicara sejujurnya,
sehingga Tayswee tak usah sangsikan lagi. Menurut anggapanku, kita memerlukan juga
bantuannya Tan Sieheng."
"Benar," sahut Hok Kong An. "Sekarang lebih baik kita rundingkan soal cara bagaimana
harus menyambut guci emas itu. Tan Sieheng duduklah."
"Aku mohon tanya, buku apakah itu sebenarnya?" tanya Tan Teng Kie yang sudah tak
dapat menahan sabar lagi.
"Ini adalah firman yang dikirim oleh Hongsiang (kaizar)," sahut Hok Kong An.
Teng Kie keluarkan teriakan kaget dan mukanya jadi pucat. Cara bagaimana firman yang
begitu penting bisa jatuh di tangan orang sembarangan, dan malahan, nyasar juga ke
dalam tangannya puteranya sendiri?
Hatinya jadi berdebar-debar, ia tak tahu apa sedang menghadapi kecelakaan atau
kegirangan.
"Dalam firman ini ditulis dengan terang seluruh perjalanannya guci emas itu," Hok Kong
An lanjutkan keterangannya. "Segala jalanan yang diambil dan tempat mengasoh pada
setiap hari semuanya ditentukan secara jelas sekali. Menurut rencana ini, tanggal satu
lain tahun, guci emas tersebut sudah mesti tiba di Lhasa dan kita ditugaskan buat
menyambut dari tempat lima ratus li jauhnya dari sini. Setibanya disini, guci itu harus
ditaruh di Gereja Besar dan segala upacaranya juga sudah ditentukan dalam firman ini.
Sedari mendapat laporan yang duluan, aku sudah tahu, bahwa guci itu sudah berangkat
dari kota raja. Tadi aku justru sedang buat pikiran, kenapa firman ini belum juga datang,
tapi sekarang hatiku sudah menjadi lega."
Tan Teng Kie gemetaran dan keringat dingin keluar dari dahinya. Ia lirik kotak itu dan
kemudian lirik puteranya sendiri. Sementara itu Hok Kong An sudah berkata lagi: "Cuma

saja, sekarang kita tahu terang, bahwa firman ini sudah kena dirampas orang di tengah
jalan. Dimana adanya pengawal yang melindungi firman, kita tidak mengetahui, dan jika
Hongsiang menyelidiki, kedosaan ini tidaklah enteng."
"Tayswee tak usah kuatir," kata Liong Leng Kiauw. "Biar bagaimana pun juga, firman itu
sekarang sudah berada dalam tangan kita. Di kemudian hari, kalau pengawalnya datang,
kita anggap saja dialah yang sudah antar sampai kesini. Aku rasa, dia juga takut memikul
kedosaan buat ketidak becusannya. Maka itu, soal hilangnya firman di tengah jalan tentu
tidak akan sampai diketahui oleh Hongsiang."
"Bagaimana kau dapat pastikan, pengawal yang mengantar firman masih hidup atau
sudah mati?" tanya Hok Kong An.
"Menurut peraturan dalam kalangan Kangouw, kalau pengawal itu kena dibinasakan,
dalam kotak tentu mesti ditaruh pisau atau lain benda buat memberitahukannya,"
menerangkan Liong Leng Kiauw.
Hok Kong An cuma menggerendeng dan tidak berkata apa-apa lagi. Ia tidak begitu
percaya dipegangnya peraturan begitu dalam kalangan Kangouw, cuma saja, oleh karena
keadaannya ada sedemikian, ia juga tidak dapat berbuat lain daripada tunggu
perkembangan selanjutnya.
"Apa yang aku kuatirkan adalah kemungkinan hilangnya guci emas di tengah jalan," kata
Liong Sam.
"Tak boleh terjadi!" kata Hok Kong An. "Kalau sampai dirampok di tengah jalan, kita
pembesarpembesar yang bertugas di Seetjong (Tibet) bisa kehilangan kepala! Liong
Tjamtjan, apakah kita tetap akan menyambut guci itu menurut rencana yang sudah
ditetapkan?" Hok Kong An tak tahu, bahwa rencana itu sudah kena dicuri oleh Pengtjoan
Thianlie. Kalau tahu, ia tentu akan jadi lebih kaget lagi.
Liong Leng Kiauw diam beberapa saat dan matanya lirik Thian Oe. "Yah, kita turut rencana
semula, dengan sedikit perobahan," sahutnya.
"Perobahan apa?" tanya Hok Kong An.
"Menurut rencana semula, aku menetap di Lhasa buat bantu Tayswee pimpin upacara
penyambutan," sahut Liong Leng Kiauw. "Sekarang dirobah, biarlah aku yang pergi
menyambut guci emas itu."
Matanya Hok Kong An memain dan hatinya bimbang. Liong Leng Kiauw adalah pengawal
pribadinya, dan tanpa kawalannya, ia kuatir keselamatannya terancam.
Melihat panglima itu bersangsi, Liong Leng Kiauw segera berkata: "Kalau toh ada orang
maui guci itu, percobaan merampas tentu dilakukan... di tengah jalan. Penjagaan disini
ada cukup kuat, sehingga aku rasa Tayswee tak usah berkuatir. Di sebelahnya itu, aku
akan minta soetee-ku bantu mengawal Tayswee. Andaikata sampai ada penjahat, aku
anggap ia masih dapat menghadapinya,"
Soetee-nya Liong Leng Kiauw bernama Gan Lok, yaitu orang yang telah copet pedangnya
Yoe Peng. Biarpun ilmu silatnya masih kacek jauh dengan sang soeheng, ia mempunyai
ilmu entengi badan yang istimewa. Walaupun mengetahui kepandaiannya Gan Lok masih
kalah dengan soeheng-nya, tapi mengingat pentingnya guci itu, yang memang juga harus
dilindungi oleh orang semacam Liong Leng Kiauw, Hok Kong An segera manggutkan
kepalanya buat menyatakan persetujuannya.
"Aku pun ingin minta bantuannya Tan Kongtjoe," kata Liong Sam.

Tan Tang Kie kaget dan buru-buru berkata: "Anakku bisa apa?"
"Orang bilang, mengetahui anak tidak melebihi ayahnya," kata Liong Sam sembari
tertawa. "Tan Kongtjoe mempunyai kepandaian sangat tinggi, maka buat apalah Taydjin
berlaku begitu sungkan!"
"Pujian Liong Sianseng tentu tak salah," Hok Kong An sambungi. "Baiklah, kita atur begitu
saja."
Liong Leng Kiauw mesem dan berkata pula: "Di sebelahnya itu, kita pun perlu minta
bantuannya Tan Taydjin."
"Sebagai pembesar sipil, aku bisa membantu apa?" kata Teng Kie.
"Kalau sudah tiba temponya, aku bersama Tan Kongtjoe dan beberapa pengikut akan
berangkat lebih dahulu buat membuka jalan," kata Liong Leng Kiauw. "Tan Taydjin sendiri
boleh pimpin seribu serdadu pilihan buat menyambut di tempat lima ratus li jauhnya.
Berhubung dengan itu, aku minta Hok Tayswee suka angkat Tan Taydjin sebagai utusan
istimewa buat menyambut guci emas itu."
"Liong Sianseng, kau... kau jangan main-main," kata Teng Kie dengan suara gugup.
"Bagaimana aku bisa pimpin pasukan tentara?"
"Tan Taydjin, aku bukan minta kau pergi perang atau atur barisan," jawabnya sembari
mesem. "Bawa serdadu ada apa sukarnya? Tan Taydjin adalah seorang keluaran Hanlim
yang hafal dalam segala rupa adat istiadat dan upacara. Menurut pendapatku, kau adalah
calon satu-satunya yang paling cocok buat menjadi utusan istimewa guna menyambut
guci emas itu."
Tan Tang Kie cuma berpangkat Soanwiesoe (Amban) pada sekte Sakya, yaitu pangkat sipil
kelas empat. Menurut kepantasan, pangkatnya memang tidak cukup tinggi buat menjadi
utusan guna menyambut kiriman yang begitu penting dari sang kaizar. Akan tetapi,
sebagaimana diketahui, Hok Kong An biasanya selalu turut nasehatnya Liong Sam, maka
kali ini pun ia segera menyetujui. Ia merasa, bahwa dengan terlebih dahulu minta
bantuannya sang putera dan kemudian memberi tugas kepada sang ayah, Liong Leng
Kiauw tentu mempunyai perhitungan yang sudah dipikir masak-masak, dan di sebelahnya
itu, firman kaizar telah didapat pulang dari tangannya Thian Oe, yang menerimanya dari
seorang lain, sehingga biar bagaimanapun juga, Thian Oe tentu masih mempunyai
hubungan apa-apa dengan orang tersebut. Dengan diangkatnya Teng Kie sebagai utusan,
sang putera tentulah juga akan mengeluarkan segala tenaganya buat bantu melindungi
keselamatannya guci emas itu. Demikianlah jalan pikirannya Hok Kong An ketika ia
memberi persetujuannya. Saat itu juga, ia perintah seorang pegawai menulis satu surat
pengangkatan.
"Banyak tahun Tan Taydjin menderita dalam menjalankan tugas di daerah perbatasan,"
kata Hok Kong An sembari tertawa. "Ini kali Taydjin menjalankan tugas yang sangat berat
dan penting dan pahala Taydjin tentu akan sangat dihargakan oleh Hongsiang. Sesudah
selesai, terdapat kemungkinan besar Taydjin akan dapat pulang pangkat yang dahulu atau
malahan akan diberi pangkat yang terlebih tinggi. Inilah benar-benar satu kesempatan
sangat baik bagi Taydjin."
Teng Kie anggap omongannya panglima itu ada benarnya, maka, walaupun mengetahui
beratnya tugas, ia lantas menerima tanpa rewel lagi.
"Jika Tan Kongtjoe mempunyai sahabat, aku pun ingin minta bantuannya," kata Liong Leng
Kiauw, Thian Oe tahu, bahwa sahabat yang dimaksudkan adalah Yoe Peng. Ingat Yoe

Peng, ia jadi ingat Pengtjoan Thianlie dan hatinya lantas jadi bergoncang. Ia ingat, bahwa
Thiekoay sian telah membujuk supaya Pengtjoan Thianlie bantu merampas guci itu,
sedang si pemuda baju putih minta ia melindunginya, tapi kedua usul itu sudah ditolak
secara mentah-mentah. Apa yang mengherankan, kenapa sekarang ia curi rencananya
Liong Sam? Apa ia niat merampas guci emas itu? Kalau benar, bagaimanakah baiknya?
Dan sikap apa yang akan diambil oleh Yoe Peng? Itulah ada pertanyaan-pertanyaan yang
mengaduk dalam otaknya Thian Oe. Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat lain, oleh karena
ayahnya sudah terima perbaik tugas tersebut.
Sesudah beres berunding dan minum teh, Teng Kie lantas pamitan dan pulang bersamasama puteranya. "Urusan ini benar-benar di luar dugaan," katanya kepada sang putera.
"Sedari tiba di Lhasa, berulang kali aku telah ajukan permohonan kepada Hok Tayswee
supaya ia bikin betul kantor Soanwiesoe yang rusak dan tambah penjagaan. Kalau tak
diluluskan, aku minta ia bebaskan saja tugasku dan kirim aku pulang ke kampung kita.
Tapi ia tidak mau pecat padaku dan juga sungkan luluskan permohonan yang pertama.
Dengan begitu, bulan lewat bulan, aku tetap luntang-lantung dan makan gaji buta. Aku
sungguh merasa tidak betah, tapi siapa nyana hari ini aku mendapat tugas yang begitu
berat."
"Yah, sesudah kita menerima, jalan satu-satunya adalah coba menunaikan tugas itu
sebaik bisa," kata sang putera. "Dan bagaimana dengan keadaan di Sakya?"
"Aku dengar, sesudah aku meninggalkan Sakya, Touwsoe semakin pentang pengaruhnya,
sebab sudah tidak ada orang yang menjadi rintangan," jawab Teng Kie. "Cuma saja, ia
kelihatannya tak dapat melupakan kau. Bulan yang lalu, ia malahan kirim orang buat
menanyakan keadaanmu." Thian Oe jadi ingat cara bagaimana ia mau dipaksa menikah
dengan puterinya Touwsoe itu, sehingga tanpa merasa, ia jadi tertawa getir.
Rumah yang disewa oleh Tan Teng Kie cuma terpisah dua jalanan dengan gedung Hok
Tayswee. Rumah itu adalah rumah penduduk biasa yang sangat sederhana, dan oleh
karena Teng Kie kempes kantongnya, ia cuma ambil seorang pelayan buat bantu
mengurus rumahnya. Perabotan rumah juga sangat sederhana dan berbeda jauh dengan
kemewahan kantor Soanwiesoe. Baru saja mereka masuk ke dalam mereka lihat seorang
wanita muda yang berdiri di tengah ruangan sembari tertawa. Wanita itu adalah Yoe
Peng!
Tan Teng Kie terkesiap, sedang puteranya lantas buru-buru berkata: "Nona ini adalah
kawanku yang datang bersama-sama ke Lhasa. Eh, bagaimana kau bisa datang kesini?"
"Lantaran tak sabaran menunggu di rumahnya keluarga Liong, aku tanyakan dimana
letaknya rumahmu dan lantas pergi cari sendiri," menerangkan Yoe Peng. "Apa orang tua
ini ayahmu?"
Sesudah berkata begitu, ia segera memberi hormat menurut adat istiadat bangsa Han.
Teng Kie lihat gadis itu berparas cantik dan sikapnya gagah, sehingga jika dibandingkan
dengan puterinya Touwsoe, ia menang beberapa kali lipat. "Kalau dipasangi dengan Thian
Oe memang pantas sekali, cuma gerak-geriknya terlalu luar biasa," kata Teng Kie dalam
hatinya.
Melihat ayahnya mengawasi dengan mata mendelong, Thian Oe jadi tertawa dan berkata:
"Ayah, dia adalah satu bidadari!"
"Foei! Jangan omong kosong!" membentak Yoe Peng sembari monyongkan mulutnya.
Melihat lagak orang yang masih kekanak-kanakan, Teng Kie jadi tertawa lebar. "Memang
juga seperti bidadari!" katanya.

"Ah, Looyatjoe (panggilan menghormat terhadap orang tua) juga suka guyon-guyon!" kata
Yoe Peng.
"Ayah, memang benar ia adalah satu bidadari, kalau tak percaya, dengarlah ceritaku,"
kata sang putera yang lantas saja tuturkan segala pengalamannya dalam keraton es
selama beberapa bulan. Teng Kie mendengari dengan mulut ternganga dan hampirhampir tidak mau percaya cerita itu yang seperti cerita dongeng.
Mulai waktu itu, Yoe Peng berdiam di rumahnya Teng Kie dan bersama Thian Oe, diamdiam ia coba cari keterangan tentang halnya Pengtjoan Thianlie, tapi sebegitu jauh,
uasaha itu tidak berhasil. Tanpa terasa musim dingin sudah hampir lewat dan tempo yang
ditetapkan buat menyambut guci emas sudah hampir tiba.
Menurut rencana, Liong Leng Kiauw, Thian Oe dan Yoe Peng berangkat satu hari lebih
dahulu buat membuka jalan. Sebelum berangkat, pemuda itu beritahukan kekuatirannya
kalau-kalau Pengtjoan Thianlie benar niat merampas guci itu, kepada Yoe Peng. "Kalau
benar Kongtjoe datang, aku pasti berdiri di pihaknya," kata Yoe Peng. "Jika ia mau
merampas guci itu, aku tentu akan membantu. Manakala sampai kejadian begitu, kau
buru-buru kabur dan aku berjanji tidak akan menyerang dirimu." Mendengar jawaban
orang, hatinya Thian Oe jadi lebih kesal.
Liong Leng Kiauw pilih tiga ekor kuda Tibet yang paling baik buat dijadikan tunggangan
dan mereka berangkat pada Capdjiegwee Tjapgo (bulan dua belas tanggal lima belas),
supaya dapat bertemu dengan rombongan yang mengantar guci itu di mulutnya gunung
Tantat san pada tangal dua puluh tiga. Jalanan gunung luar biasa sukarnya dengan jurangjurang yang berbahaya dan pegunungan itu dikenal sebagai tempat keluar masuknya
kawanan kecu.
Dalam perjalanan, Liong Leng Kiauw dan Thian Oe merasa cocok sekali, tapi Yoe Peng
selalu mengambil sikap tawar. Berhubung dengan musim dingin, jalanan tertutup salju,
dan perjalanan jadi terlebih sukar lagi. Masih untung, ilmu silatnya Thian Oe sudah maju
banyak, sehingga ia dapat menahan segala penderitaan dengan tidak banyak susah.
Di sepanjang jalan Liong Sam berlaku sangat hati-hati, dan ditambah sama sukarnya
jalanan gunung, mereka maju lambat sekali. Sesudah berjalan tujuh hari, barulah mereka
dapat lalui kurang lebih empat ratus li. Hari itu, mereka masuklah di dalam daerah
pegunungan Tantat san. "Sesudah lewati jalanan ini, besok pagi kita akan tiba di mulut
gunung dan dapat persatukan diri dengan mereka," kata Liong Sam.
"Siapakah yang dikirim buat antar guci itu dari kota raja?" tanya Thian Oe.
"Aku dengar, pimpinan rombongan berada dalam tangannya Raja muda Ho Sek Tjin-ong
dan delapan pengawal utama dari keraton juga datang semuanya," sahut Liong Leng
Kiauw.
"Bagaimana kepandaiannya delapan pengawal itu?" tanya Thian Oe.
Liong Leng Kiauw tertawa dan menjawab: "Sudah lama mereka dapat nama besar dan
rasanya kepandaian mereka tidak berada di sebelah bawah kita." Didengar dari lagu
suaranya, Thian Oe merasa Liong Sam tidak terlalu pandang mata kepada delapan orang
itu.
Jalanan di sebelah depan diapit dua puncak gunung dan jalanan gunung lugat-legot
seperti ular. Sesudah lewati satu lembah, mereka lihat tiga penunggang kuda yang jalan
berbaris, semua berpakaian hitam, sedang tudungnya pun berwarna hitam, sehingga
kelihatannya menyolok sekali di atas jalanan yang tertutup salju putih. Mendadak, orang
yang jalan paling dahulu menengok ke belakang dan begitu lihat mukanya, Thian Oe

keluarkan satu seruan tertahan, sebab ia kenali, orang itu bukan lain daripada Siamkam
Tayhiap Bek eng Beng, yang tempo hari ia ketemu di shigatse. Untung juga, malam ini
Thjian Oe tidak munculkan muka, sehingga sesudah menengok sekali, Bek Eng Beng tidak
perhatikan mereka lagi dan terus teriaki dua kawannya supaya berjalan terlebih cepat.
"Yang di sebelah depan adalah Siamkam Tayhiap Bek Eng Beng," kata Thian Oe dengan
suara perlahan.
"Kau kenal tidak sedikit orang," kata Liong Sam sembari tertawa. "Walaupun mendapat
julukan Siamkam Tayhiap, Bek Eng Beng tidak seberapa liehay. Dua kawannya yang jalan
belakangan banyak lebih tinggi kepandaiannya."
"Siapa mereka?" tanya Thian Oe.
"Dilihat dari bebokongnya, mereka agaknya seperti dua jagoan dari Tjionglam pay, yaitu
Boesie Hengtee (dua saudara she Boe)," sahut Liong Sam. Boe-sie Hengtee adalah
turunannya Tayhiap Boe Goan Eng yang hidup pada jamannya Kaizar Soentie dan
keluarga Boe biasanya hidup mengumpat dalam pegunungan Tjionglam san, tapi tak
dinyana, sekarang kedua jagonya berada di Tibet.
Di sebelah depan adalah jalanan sempit yang bulak-biluk seperti usus kambing dan diapit
oleh dua puncak gunung. Mendadak terdengar suara kelenengan kuda dan seekor kuda
Arab yang tinggi besar kelihatan mendatangi, dengan seorang penunggangnya yang
memakai jubah pertapaan warna merah. Hampir berbareng Thian Oe dan Yoe Peng
keluarkan teriakan tertahan. "Ah, dia!" berseru mereka. Orang itu bukan lain daripada
Hoantjeng jubah merah yang pernah dua kali menyatroni keraton es dan binasakan
Thiekoay sian! Thian Oe merasa heran sekali, sebab, ketika mau lepaskan napasnya yang
penghabisan, Thiekoay sian bilang, bahwa paderi itu telah mendapat luka berat dan harus
berlatih lagi dari tiga sampai lima tahun buat dapat pulang tenaganya. Tapi baru saja
berselang empat bulan, ia kelihatannya sudah sama gagahnya seperti sebelum mendapat
luka.
Sembari membentak keras, paderi itu kaburkan kudanya. Bek Eng Beng tidak keburu
menyingkir dan hampir-hampir saja ia jatuh terguling. Dengan sangat gusar, Siamkam
Tayhiap angkat tangannya dan hantam kepalanya kuda itu. Bagaikan kilat, si paderi
gerakkan tangannya, sedang badannya Bek Eng Beng kelihatan ngapung ke tengah
udara. Hampir pada detik yang bersamaan, kedua saudara Boe loncat dari
tunggangannya dan dua pasang tangan menyambar dengan berbareng. Paderi itu
keluarkan teriakan keras dan jatuh terguling dari kudanya.
"Binatang tak kenal aturan!" kedua saudara Boe membentak. Mereka bergerak dengan
berbareng, yang satu menendang dengan kaki kirinya, sedang yang lain menyepak sama
kaki kanannya. Si paderi buru-buru putar badannya buat sambut kedua serangan yang
hebat itu.
Mendadak kuda Arab itu berbenger keras. Ternyata lantaran kaget, bintang itu terpeleset
dan jatuh menggelinding ke bawah tanjakan. Di sebelah bawah tanjakan terdapat jurang
yang dalamnya ratusan tombak, sehingga kalau dia sampai jatuh kesitu, badannya tentu
akan hancur lebur. Si paderi terkesiap dan terlalu gugup buat bisa menolong
tunggangannya. Tiba-tiba badannya kedua saudara Boe melesat ke bawah seperti anak
panah. Yang satu tangkap kaki belakang kanan, sedang yang lain cekal kaki belakang
kirinya sang kuda, dan kemudian, sembari kerahkan tenaga dalamnya, dengan berbareng
mereka lemparkan kuda itu ke atas! Tenaga yang dikeluarkan tidak kebanyakan atau
kesedikitan dan kuda itu hinggap di atas tanah tanpa mendapat luka! Sesudah lihat
kepandaian orang yang istimewa itu, si paderi tidak berani banyak tingkah lagi. Tanpa
keluarkan sepatah kata, ia hampiri kudanya. Ketika itu, Bek Eng Beng juga sudah duduk di
atas sela, dan selagi ia mau menghalangi si paderi, Boe-sie Hengtee mencegah dengan

berkata: "Bek Toako, biarkan manusia itu berlalu." Bek Eng Beng tundukkan kepalanya
dan berbareng dengan berkesiurnya angin, badannya si paderi sudah melesat di atasan
kepalanya dan hinggap di atas punggung kuda.
Liong Leng Kiauw tertawa dan berkata: "Hoantjeng itu cukup liehay. Kalau satu lawan
satu, Boe-sie Hengtee tentu tidak bisa gampang-gampang dapat kemenangan." Melihat
musuh besar yang sudah binasakan gurunya, Thian Oe jadi merah matanya. Si paderi pun
kelihatannya kaget ketika dapat lihat Thian Oe bersama Yoe Peng dan lantas keprak
kudanya. Thian Oe cabut pedangnya yang lantas diputar buat sambut kedatangan musuh.
Mendadak kedengaran bentakan Liong Leng Kiauw dalam bahasa Nepal: "Bangsat gundul
minggir!" Thian Oe cepat, tapi tangannya Liong Sam terlebih cepat lagi. Dengan gerakan
menuntun kambing, ia angkat si paderi dari atas kuda dan terus dilemparkan ke belakang,
sedang sang kuda lari terus. Ilmunya paderi itu sesungguhnya tinggi sekali. Selagi
badannya berada di tengah udara, dengan gerakan Leehie hoansin (Ikan Leehie balik
badan), ia hinggap dengan selamat di atas punggung kudanya yang sedang lari keras!
Cuma saja, lantaran sudah beruntun dua kali kena tubruk tembok, semangatnya jadi
merosot dan ia cuma menengok ke belakang dan awasi Liong Leng Kiauw dengan sorot
mata gusar.
Liong Sam tak ladeni dia dan perintah Thian Oe berjalan terus. "Permusuhan apakah
terdapat antara kau dan Hoantjeng itu?" tanya Liong Sam.
"Ia binasakan guruku," jawab Thian Oe.
Liong Sam heran mendengar pengakuan itu. Benar si pendeta ada terlebih liehay
daripada Thian Oe, tapi keunggulan itu cuma terletak kepada tenaga dalam yang hanya
bisa didapat dengan latihan lama. Jika dilihat ilmu silatnya Thian Oe yang mempunyai
pukulan-pukulan sangat aneh, gurunya tentu adalah seorang ahli silat kelas satu dalam
Rimba Persilatan. Tapi kenapa ia kena dibinasakan oleh paderi tersebut? Ia heran, tapi
tidak mau menanya pula, sebab bukan temponya buat bicara panjang-panjang. "Sekarang
bukan waktunya membalas sakit hati," kata ia. "Hayolah kita jalan terus."
Thian Oe tidak membantah dan mereka lalu teruskan perjalanan. Ketika itu, Bek Eng Beng
bertiga sudah lewati lembah gunung. Kedua saudara Boe menoleh ke belakang dan dari
sikapnya, ternyata mereka juga sedang dihinggapi perasaan heran.
"Ikuti tiga penunggang kuda itu, cuma jangan terlalu dekat," kata Liong Leng Kiauw.
"Liong Sianseng, ilmu apa yang barusan kau gunakan?" tanya Thian Oe.
Liong Sam tertawa dan menyahut: "Pukulan Soentjhioe kianyo (pukulan menuntun
kambing) yang sanggat sederhana. Kesalahan paderi itu ialah dia terlalu tidak pandang
mata kepada kita dan menerjang tanpa bikin persediaan. Maka itulah, dengan meminjam
tenaganya sendiri, sekali gentak saja aku sudah berhasil keja dia jungkir balik." Liong Sam
bicara secara merendah sekali, akan tetapi, Thian Oe mengetahui, bahwa ia mempunyai
kepandaian yang sukar diukur bagaimana tingginya, lantaran dengan pukulan yang begitu
sederhana, ia sudah bisa robohkan satu musuh yang begitu liehay. Dengan demikian,
Thian Oe jadi lebih-lebih kagumi orang pandai itu.
Sesudah berjalan beberapa lama, tiba-tiba terdengar pula suara kelenengan kuda. Mereka
menengok dan lihat si paderi jubah merah balik lagi dan sedang mengikuti dari sebelah
kejauhan.
"Paderi itu adalah Guru Negara dari Nepal dan dia bermaksud buat merampas guci emas
itu," kata Thian Oe.

"Jangan perdulikan padanya," kata Liong Sam. "Kepandaiannya belum cukup buat bikin
kita berkuatir. Di sebelah depan mungkin sekali bakal muncul lain-lain orang yang lebih
liehay dan kita harus sangat berhati-hati."
Sesudah lewati lagi beberapa lembah, tiga penunggang kuda yang jalan di depan
mendadak tahan tunggangannya. Liong Sam lantas beri tanda supaya Thian Oe dan Yoe
Peng pun tahan kuda mereka dan mengawasi gerak-gerik ketiga orang itu dari jarak
belasan tombak jauhnya.
Mereka lihat, di mulutnya lembah, bersender pada satu batu besar terdapat seorang
paderi kurus kering yang mukanya hitam dan berpakaian seperti paderi berkelana dari
India. Di atas tanah terdapat satu paso pecah dan sebatang tongkat bambu, sedang si
paderi sendiri lagi angsurkan kedua tangannya seperti juga lagi minta sedekah.
Bek Eng Beng dan Boe-sie Hengtee saling awasi. "Kasihlah," kata Boe Lootoa (saudara
she Boe yang lebih tua). Bek Tayhiap keluarkan sepotong perak yang lantas dilemparkan
ke dalam paso. Paderi itu menggerendeng dan mendadak lonjorkan tangannya buat usap
kepalanya Bek Eng Beng. Bek Tayhiap yang tidak kenal kebiasaan "memberi berkah" dari
paderi India, buru-buru mengkeretkan lehernya dan tangannya si paderi jadi kena usap
pundaknya. Bek Eng Beng terkesiap lantaran rasakan pundaknya seperti kena arus listrik
dan ia loncat setombak lebih tingginya sembari berteriak: "Ilmu iblis! Ilmu iblis!"
"Kami juga mau memberi sedekah," kata kedua saudara Boe sembari keluarkan seraup
perak hancur yang lantas dilemparkan ke arah paderi itu. Dengan sikap tenang, si paderi
kebas kedua tangan bajunya dan semua perak itu masuk ke dalamnya, dan kemudian,
dengan miringkan tangan bajunya, ia tuang semua perak kedalam paso.
Kedua saudara Boe barusan menimpuk dengan ilmu Thianlie Sanhoa (bidadari menyebar
kembang), yaitu serupa ilmu menimpuk senjata rahasia yang sangat tinggi. Dengan
disertai tenaga dalam, perak hancur itu ada lebih liehay daripada puluhan piauw. Tapi si
paderi dapat menyambut dengan begitu gampang, sehingga kedua saudara Boe jadi
kaget sekali.
Paderi itu lalu menghampiri dengan perlahan sembari angsurkan kedua tangannya buat
"memberi berkah". "Tak usah banyak peradatan," berkata Boe-sie Hengtee sembari
menangkis dengan gerakan tangan Toalek Kimkong.
Begitu kebentrok, kedua saudara Boe rasakan tangannya seperti memukul kapas
sehingga mereka jadi terkejut. Mendadak semacam tenaga yang sangat besar mendorong
mereka. Buruburu mereka tarik pulang tenaga yang sudah dikeluarkan dan-berbareng
loncat mundur setombak lebih. Mereka jalankan pernapasannya dan mengetahui tidak
sampai mendapat luka. Mereka lantas saja cemplak kudanya dan berlalu tanpa menengok
lagi.
Sembari menuntun kuda, Liong Leng Kiauw menghampiri. Paderi itu kembali keluarkan
beberapa patah perkataan yang tak dapat dimengerti dan angsurkan kedua tangannya.
Liong Sam segera keluarkan seraup perak hancur, dan seperti caranya Boe-sie Hengtee,
ia lemparkan ke arah sang paderi. Thian Oe dan Yoe Peng merasa heran, lantaran,
sesudah ada contohnya Boe-sie Hengtee, Liong Sam masih juga mau menggunakan
gerakan Thianlie Sanhoa waktu melemparkan peraknya. Si paderi lalu kebas tangan
bajunya, dan seperti tadi, semua perak lantas masuk ke dalamnya. Mendadak terdengar
suara "bret" dan baju paderinya robek sedikit, sedang sebagian perak moncor keluar.
Si paderi tertawa terbahak-bahak. "Bagus! Sungguh bagus!" Ia berseru sembari acungkan
jempol tangannya. Ia pentang telapakan tangannya yang lantas turun perlahan-lahan
buat "memberi berkah".

Barusan Liong Leng Kiauw telah gunakan ilmu melepaskan senjata rahasia yang istimewa
sekali. Ia timpukkan seraup perak hancur itu dengan sekali timpuk, akan tetapi, setiap
keping menyambar dengan tenaga yang berlainan beratnya. Selainnya itu, pada sebelum
menimpuk, lebih dahulu ia pencet sekeping perak dengan dua jarinya, sehingga kepingan
perak itu menjadi gepeng seperti Kimtjhie piauw (piauw uang tembaga) dan sangat tajam.
Itulah sebabnya, kenapa kepingan itu dapat merobek bajunya si paderi. Tentu saja Thian
Oe tak dapat lihat itu semua, sedang si paderi sendiri jadi sangat terkejut.
Melihat tangan orang yang turun perlahan-lahan, Liong Leng Kiauw segera angkat
tangannya buat menangkis sembari berkata dengan tertawa: "Jangan! Aku tak berani
terima!" Begitu kebentrok, mereka sama-sama rasakan seperti dilanggar arus listrik dan
kedua-duanya mundur beberapa tindak. Liong Sam balas memberi hormat dan lantas
teriaki supaya Thian Oe dan Yoe Peng buru-buru berangkat. Si paderi lalu punguti perak
yang berantakan dan kembali menyender di batu besar sembari meramkan kedua
matanya, buat tunggu kedatangannya lain orang.
"Orang macam apa adanya paderi itu?" tanya Thian Oe sesudah mereka jalan beberapa
jauh.
"Aku cuma harap
kedatangannya disini tidak mempunyai hubungan dengan guci emas," sahut Liong Sam.
"Kepandaian yang barusan diperlihatkan olehnya adalah ilmu Yoga yang tidak kalah
dengan Hianboen lweekang dari Tiongkok. Jika kedatangannya adalah buat mencampuri
urusan guci emas, kita sunguh bakal ketemu lawanan berat." Sesudah mereka lalui dua
lembah gunung, tibatiba mereka dengar teriakannya si paderi jubah merah. Waktu Liong
Sam bertiga menoleh ke belakang, mereka lihat paderi itu menggemblok di punggung
kuda tanpa bisa angkat kepalanya lagi!
"Hoantjeng itu tentulah juga unjuk kegalakannya, sehingga ia dipersen sedikit berkah,"
kata Liong Sam sembari tertawa.
Thian Oe juga turut tertawa dan berkata: "Paderi itu memberi berkah seperti juga
pembesar ujian menguji calonnya. Setiap orang yang lewat tentu mesti diujinya. Ah,
caranya benar aneh sekali."
"Kalau Pengtjoan Thianlie yang lewat disitu, aku rasa dia bakal telan tulang," Yoe Peng
beri pendapatnya. Liong Sam tidak turut bicara, ia seperti sedang berpikir keras.
Malam itu mereka menginap dalam gunung Tantat san dengan memasang tenda. Pada
esok paginya, ternyata si paderi jubah merah, Bek Eng Beng dan kedua saudara Boe
sudah tidak kelihatan mata hidungnya. Liong Sam menghela napas dan sembari
mengawasi keadaan di seputarnya, ia berkata: "Marilah kita berangkat pada sebelumnya
matahari keluar, supaya bisa tiba terlebih siang di mulut gunung guna menanti
kedatangannya guci emas!"
Baru saja matahari munculkan diri, mereka sudah tiba di mulutnya selat Tantat san.
"Kalian tunggu disini sebentaran, aku mau lihat-lihat di sebelah depan," kata Liong Sam.
Belum habis perkataannya, dalam selat gunung tiba-tiba terdengar suaranya kaki kuda
yang sangat ramai. "Heran benar!" kata Liong Leng Kiauw dengan suara kaget. "Menurut
rencana, rombongan pengantar guci akan tiba pada waktu tengah hari. Kenapa mereka
sudah sampai begini pagi?" Sementara itu debu tebal sudah mengebul ke tengah udara
dan ribuan kuda dengan penunggangnya lapat-lapat sudah bisa terlihat. Hatinya Thian Oe
berdebar-debar, ia kuatir timbul kesulitan yang bisa rembet diri ayahnya dan berbareng
harapkan munculnya Pengtjoan Thianlie.

Selat gunung itu berbentuk seperti terompet, di dalamnya sempit, di luarnya lebar.
Barisan Gielimkoen yang mengawal guci emas itu, terbagi jadi dua pasukan yang keluar
dari mulut selat secara angker sekali, seperti dua ekor naga. Ribuan bendera seakan-akan
menutupi sinarnya matahari, sedang ribuan kuda dengan para penunggangnya yang
berpakaian indah dan beroman keren, tak hentinya berbenger-benger. Di antara barisan
itu terdapat sehelai bendera kuning yang berkibar-kibar menurut tiupannya angin dan di
belakangnya bendera, tertampak empat payung sulam warna kuning, yang mendahului
empat ekor kuda bulu putih. Sekali lihat saja, orang akan mengetahui, bahwa salah satu
dari empat kuda itu menggendol guci emas di bebokongnya.
"Utusan istimewa belum datang, apakah kita boleh menyambut lebih dahulu?" tanya
Thian Oe.
"Tunggu dahulu," jawab Liong Sam.
Baru saja pasukan Gielimkoen berbaris di mulut selat, tiba-tiba terdengar suara riuh dan
serombongan orang menerjang keluar dari lereng gunung, dengan dikepalai oleh si
pendeta jubah merah. Sambil putar sianthung-nya, ia menerjang masuk ke dalam
pasukan Boan, dengan dilindungi oleh enam boesoe Nepal yang bersenjata golok bulan
sebelah. Bagian depan Gielimkoen segera menjadi kacau. Dua perwira, yang satu
bersenjata tongkat besi dan yang lain cekal golok, loncat keluar dan tahan majunya si
pendeta. Dengan sepenuh tenaga, si pendeta jubah merah sampok dua senjata
musuhnya yang lantas terpental, tapi untung tidak sampai terlepas. "Bangsat Hoan!
Besar benar nyalimu berani coba-coba merampas guci emas!" membentak satu perwira
sembari kebaskan tangannya dan Gielimkoen lantas bergerak. Pasukan anak panah
segera maju ke depan, sehingga enam boesoe Nepal itu jadi tertahan di luar sebab
dihujani anak panah, sedang si pendeta jubah merah dikepung oleh kedua perwira di
tengah-tengah.
Sembari mengumpat di belakang batu, Liong Sam bertiga tonton pertempuran itu.
"Apa kita perlu membantu?" tanya Thian Oe.
"Coba kita tonton dahulu kepandaiannya delapan pengawal istana," sahut Liong Sam.
Pertempuran berlangsung dengan sangat seru, tapi lekas juga kedua perwira itu berada di
bawah angin.
"Dua perwira itu adalah Tiatkoay Thio Hoa (Thio Hoa si Tongkat Besi) dan Tanto Tjioe Ngo
(Tjioe Ngo si Golok Tunggal), yaitu dua antara delapan pengawal istana yang utama,"
menerangkan Liong Sam. "Kalau sedang berkelahi, mereka biasanya tak suka orang
membantu, tapi sekarang rupanya kebiasaan itu tak akan dapat dipertahankan lagi."
Semakin lama, serangan si pendeta jubah merah jadi semakin hebat. Tongkatnya seperti
juga berobah jadi puluhan batang dan menyambar-nyambar dengan disertai sama deruan
angin yang santer, sehingga kedua perwira itu seakan-akan terkurung dalam bayangan
tongkat. Selagi ia mau turunkan tangan yang membinasakan, tiba-tiba dari belakang
barisan Boan muncul seekor kuda, yang dikaburkan keras sekali. Sebelum sang kuda tiba
di gelanggang pertempuran, badannya si penunggang sudah melesat ke tengah udara.
"Sungguh indah gerakan Tian-ek mo-in itu (Pentang sayap mengusap awan)!" memuji
Thian Oe.
Bagaikan sehelai bianglala putih, pedangnya orang itu menyambar. Si pendeta angkat
sianthung-nya dalam gerakan Kiehwee liauwthian (Angkat obor menerangi langit) buat
sambut serangan musuh. Tiba-tiba dengan satu suara "srt", satu benda hitam ngapung ke
udara, mengikuti berkelebatnya sinar bianglala putih. Ternyata, topinya si pendeta yang
pesegi delapan sudah kena disontek dan dibabat putus dengan pedangnya orang itu.

"Orang itu adalah jagoan kedua, Ginhong kiam (Pedang Bianglala Putih) Yoe It Gok," kata
Liong Sam. "Sekarang si Hoantjeng ketemu tandingan berat." Benar saja dalam tempo
sekejap keadaan jadi berobah. Si pendeta terus main mundur dan sekarang cuma dapat
membela dirinya saja, tanpa mampu balas menyerang. Yoe It Gok adalah jagoan kelas
satu dari Siauwlim pay dengan mempunyai ilmu pedang Lianhoan Kiamhoat (Ilmu pedang
berantai) yang liehay bukan main.
Selagi si pendeta terdesak hebat, tiba-tiba kembali terdengar suara riuh dan dari sebelah
selatan dan utara muncul keluar sejumlah orang. Rombongan sebelah selatan dipimpin
oleh Siamkam Tayhiap Bek Eng Beng, sedang yang datang dari sebelah utara berada di
bawah pimpinannya Boe-sie Hengtee. Liong Leng Kiauw mengawasi dan berkata sembari
tertawa: "Si tua she Bek benar-benar banyak kawannya. Jago-jago dari Lima Propinsi
Utara agaknya semua turun kesini." Sementara itu, kedua rombongan itu sudah
menyerbu sehingga barisan Gielimkoen kembali menjadi kalut.
Dengan satu tanda kebutan dari bendera pasukan tengah, delapan jagoan istana lantas
dipecah buat sambut kedua serangan itu. Rombongannya Bek Eng Beng ditahan oleh satu
pasukan di bawah pimpinannya satu perwira yang bersenjata bandringan dan mereka
lantas saja bertempur hebat. Boe-sie Hengtee yang gagah luar biasa dapat menyerbu
terus sampai di tengah-tengahnya pasukan Boan. Dengan bekerja sama, kedua
pedangnya menyambar ke kanan kiri bagaikan hujan dan angin. Selagi mereka
mengamuk hebat, dari belakang barisan muncul dua perwira yang lantas tahan majunya
kedua saudara itu. Mereka itu adalah dua anggauta dari delapan jagoan istana, yang satu
bersenjata golok bergigi seperti gergaji, sedang yang lain mencekal pedang.
"Yang merintangkan aku, mampus, yang menyingkir, selamat!" membentak kedua
saudara Boe sambil menyabet dengan pedangnya. Dengan satu suara krontrangan,
giginya golok kena tersabet putus, sedang pedangnya perwira yang satunya lagi kena
dibikin terpental ke tengah udara. Buruburu mereka bilukkan kudanya, tapi gerakannya
Boe-sie Hengtee luar biasa cepat, dan berbareng sama berkelebatnya sinar pedang,
kedua perwira itu kena bacokan dan roboh dari atas kudanya.
Sesudah robohkan kedua musuhnya, Boe-sie Hengtee segera menerjang ke pasukan
tengah, ke arah empat kuda putih itu.
Dengan hati terkejut, Yoe It Gok tinggalkan si pendeta j ubah merah dan balik badannya
buat cegat kedua saudara Boe itu. Tapi Boe-sie Hengtee bergerak luar biasa cepat,
mereka menubruk ke kiri dan ke kanan dan segera sudah mendekati bendera kuning yang
berkibar-kibar di pasukan tengah.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan dan seorang perwira yang berpakaian kebesaran kelas
tiga, loncat keluar dari tengah-tengah pasukan Boan. Ia itu berkumis merah dan
tangannya mencekal senjata yang rupanya aneh sekali. "Kau orang adalah bangsa Han,
tapi kenapa sudi membantu orang asing buat merebut guci emas!" ia membentak
sembari cegat majunya Boe-sie Hengtee. Suaranya orang itu luar biasa nyaring dan
terdengar jelas di antara gemuruhnya pertempuran.
Kedua saudara Boe balas membentak: "Hei, kau juga bangsa Han, tapi kenapa kesudian
menjadi budaknya bangsa Boan? Kami pasti tak akan permisikan guci emas itu diantar ke
Lhasa. Majikanmu sudah duduki Tionggoan, apa dia belum puas? Dia sekarang masih mau
telan juga Sinkiang, Mongolia dan Tibet! Merampas guci itu adalah kemauannya kami
sendiri, sama sekali tidak ada hubungannya sama pendeta asing itu. Kau jangan omong
besar, sambutlah senjataku!"

Perwira kumis merah itu tertawa terbahak-bahak. "Kamu orang sudah sekongkol sama
bangsa asing dan memberontak, dan sekarang coba goyang lidah di hadapanku," kata ia.
"Kalau benar kau punya kepandaian, ambillah guci emas itu dari tanganku!"
Boe-sie Hengtee tahu mereka sedang berhadapan sama lawanan berat, dengan
berbareng kedua pedang mereka menyambar, yang satu membabat, yang lain menikam,
sehingga gerakannya kedua pedang itu merupakan setengah lingkaran yang bekerja
sama, menyambar ke arah pingangnya perwira itu. Si perwira dengan cepat sodok masuk
senjatanya ke dalam setengah lingkaran itu dan kedua pedangnya Boe-sie Hengtee lantas
saja terpencar dan suara mengaungnya logam akibat bentrokan senjata kedengaran lama
sekali.
Liong Leng Kiauw mengawasi sembari manggut-manggutkan kepalanya, sedang Thian Oe
berkata sembari tertawa: " Orang itu tak usah malu menjadi kepala dari delapan
pengawal istana, benar-benar ilmu silatnya liehay."
Ilmu silatnya Boe-sie Hengtee adalah warisan dari leluhurnya dan liehaynya bukan main.
Dalam sekejap, mereka berdua sudah kirim beberapa serangan berbahaya dengan
beruntun. Senjata aneh dari perwira itu ada lebih pendek dari toya biasa, tapi lebih
panjang dari Poankoan pit (senjata yang macamnya seperti pit, pena Tionghoa yang
terbuat dari bulu). Di atasnya tongkat itu penuh dengan gaetan-gaetan mengkilap yang
biasa digunakan buat cangkol senjata musuh. Maka itu, walaupun ilmu silatnya sangat
tinggi, mau tidak mau Boe-sie Hengtee harus berlaku sangat hati-hati.
"Apa namanya senjata perwira itu? Kenapa begitu liehay?" tanya Thian Oe.
"Perwira itu bernama Tjiauw Tjoen Loei, kepala dari delapan pengawal keraton," sahut
Liong Leng Kiauw sembari tertawa. "Tenaga dalamnya tidak kalah dari Boe-sie Hengtee,
sehingga biarpun ia menggunakan senjata biasa, dua saudara Boe tidak nanti bisa
mendapat kemenangan. Dengan gunakan Longgee pang (Tongkat gigi anjing hutan) yang
terutama digunakan buat menindih senjata sebangsa golok, dalam lima puluh jurus, Boesie hengtee bakal menjadi kalah."
Sementara itu, barisan Tjeng sudah menjadi teguh kembali. Bek Eng Beng dan
kawankawannya terkepung di tengah-tengah, sedang si pendeta jubah merah bersama
enam boesoe Nepal kena ditahan di luar barisan.
"Dilihat begini, kita boleh tak usah keluar membantu," kata Thian Oe.
"Mana bisa begitu mudah," sahut Liong Leng Kiauw dengan paras muka guram. Baru saja
ia habis ucapkan perkataannya, di mulut gunung sebelah timur sudah terlihat munculnya
tiga orang yang pakai pakaian seperti Lhama Tibet, cuma warnanya putih.
Kaum Lhama di Tibet terbagi jadi dua sekte, yaitu Sekte Topi Merah dan Sekte Topi
Kuning. Warna jubahnya, kalau bukan merah, tentulah kuning. Lhama yang pakai jubah
putih, Thian Oe belum pernah lihat dan jadi merasa sangat heran.
"Ah, Hoat-ong (raja) dari Tjenghay (Kokonor) juga kirim orang buat ngaduk di air keruh,"
kata Liong Leng Kiauw. "Kalau begini, kita toh mesti turun tangan juga!"
Thian Oe terkejut dan segera ingat sejarah agama Lhama yang pernah dituturkan
kepadanya oleh ayahnya.
Ketika itu, Dalai Lhama dan Panchen Lhama merupakan kepala dari Sekte Topi Kuning di
Tibet. Sekte Topi Merah telah mendapat kekuasaan pada jaman kerajaan Goan. Akan
tetapi, di sebelahnya kedua sekte itu masih ada satu sekte lain, yaitu Sekte Topi Putih,
yang pentang pengaruh sesudah jaman Sekte Topi Merah dan sebelum Sekte Topi Kuning.

Di jaman Kerajaan Beng, Sekte Topi Putihlah yang berkuasa di Tibet. Pada jaman Kaizar
Beng yang terakhir, yaitu pada tahun ke-16 dari Kaizar Tjongtjeng, Dalai Lhama ke lima
telah minta bantuannya Kushi Khan, seorang pangeran Mongol dari Kokonor, buat
tergulingkan kekuasaannya Hoat-ong (Raja Tsang-Pa). Mulai waktu itulah, Sekte Topi
Kuning (atau Gelupa) berkuasa di Tibet. Sesudah diusir dari Tibet, orang-orang Sekte Topi
Putih lari ke Tjenghay dan tancap kaki disitu dengan pemimpinnya yang dikenal dengan
nama Hoat-ong.
Mengingat sejarah itu, Thian Oe jadi tidak merasa heran lagi melihat datangnya ketiga
Lhama yang berjubah putih. "Kalau sampai guci emas kena dirampas oleh mereka, Tibet
bakal jadi kalut sekali," pikir Thian Oe.
Ketiga Lhama itu bukan main garangnya. Mereka semua menggunakan Kiuhoan Sekthung
(tongkat timah) yang mengeluarkan suara keras waktu diputar.
"Kita harus pasang mata," berbisik Leng Kiauw sembari cekal gagang pedangnya.
Dalam tempo sekejap, mereka bertiga sudah menerjang masuk ke dalam barisan Tjeng.
Dengan ajak sejumlah boesoe, Yoe It Gok coba tahan mereka, akan tetapi, baru saja
beberapa gebrakan, ia dan kawan-kawannya sudah terdesak mundur.
Selagi kegentingan memuncak, di atas gunung mendadak berkelebat satu bayangan
hitam.
"Celaka!" berseru Liong Leng Kiauw sembari cabut pedangnya dan lantas pentang kedua
kakinya. Thian Oe dan Yoe Peng lantas saja mengikuti dari belakang. Thian Oe merasa
heran sekali, kenapa Liong Leng Kiauw yang begitu tenang, jadi begitu kaget setelah lihat
berkelebatnya bayangan hitam tersebut. Siapakah musuh itu?
Kecepatan bayangan hitam itu sungguh sukar dilukiskan. Barusan saja ia terlihat di atas
gunung Tantat san yang terpisah ribuan kaki dari selat. Mula-mula cuma terlihat satu titik
hitam. Dalam sekejap, seluruh badannya sudah dapat dilihat, dan di lain saat, ia sudah
berada di lereng gunung. Begitu lihat romannya. Thian Oe terkesiap. Ia itu bukan lain
daripada si pendeta India berkelana, yang kemarin mereka bertemu di tengah jalan. Di
belakangnya pendeta itu kelihatan mengikuti beberapa bayangan hitam lain.
"Dia satu saja sudah sukar dilawan, bagaimana dengan kawan-kawannya," kata Thian Oe
dalam hatinya. "Kalau begini, guci emas sukar dilindungi lagi."
Gerakan Liong Leng Kiauw cepat bagaikan angin. Sembari acungkan pedangnya, ia
menerjang masuk ke dalam barisan. "Atas titahnya Hok Tayswee, aku datang disini buat
menyambut guci emas!" ia berseru. Dengan serentak, Gielimkoen terpecah dua buat
memberi jalan kepadanya.
Mendengar bentakan Liong Leng Kiauw, tiga Lhama jubah putih yang sudah berada di
dalam barisan, segera menengok dan tiga batang sekthung menghantam dengan
berbareng. Liong Leng Kiauw, yang tidak ingin bertempur sama tiga Lhama itu, lantas
tekan ujung pedangnya pada salah satu sekthung dan badannya segera melesat ke
tengah udara. Dengan satu gerakan Koetjoe hoansin (Anak ayam putar badan) yang
sangat indah, badannya sudah
"terbang" melewati kepalanya tiga Lhama tersebut, akan kemudian langsung memburu
ke pasukan tengah.
Thian Oe dan Yoe Peng yang datang belakangan sudah bertemu dengan enam boesoe
Nepal di luar barisan. Mereka berdiri berjajar sambil cekal goloknya yang berbentuk bulan
sebelah.

"Siauw Kongtjoe akan segera datang. Kenapa kau orang tidak mau lantas melarikan diri?"
berkata Yoe Peng dalam bahasa Nepal.
Enam boesoe itu terkejut. "Jangan percaya omongannya!" membentak si pendeta jubah
merah. "Pengtjoan Thianlie siang-siang sudah ditelan gunung berapi!"
Tanpa berkata satu apa lagi, Yoe Peng lantas lepaskan dua butir Pengpok Sintan. Enam
boesoe itu jadi bergidik dan dua antaranya, yang pernah turut si pendeta jubah merah
naik ke keraton es dan mengenali Yoe Peng, sudah jadi begitu ketakutan, sehingga
badannya bergoyang-goyang. Dengan menggunakan kesempatan itu, Thian Oe dan Yoe
Peng segera menerjang masuk ke dalam barisan.
Dalam barisan sedang terjadi pertempuran campur aduk. Oleh karena tidak ingin
kebentrok dengan jago-jago Lima Propinsi Utara, Thian Oe segera teriaki Yoe Peng: "Mari
kita gempur itu Hoantjeng!"
Oleh karena dibukakan jalan oleh tentara Tjeng, Thian Oe dan Yoe Peng bisa masuk
secara gampang. Selagi mereka mau menerobos lebih jauh, tiga Lhama jubah putih
mendadak menengok. "Bocah, lekas pergi!" kata satu antaranya yang menjadi pemimpin
dan yang lantas menghantam dengan tongkatnya. Thian Oe dan Yoe Peng rasakan satu
tenaga yang luar biasa besar menyapu pedang mereka, yang lantas terbang ke tengah
udara. Ternyata, lantaran lihat usia mereka yang masih begitu muda, si Lhama tidak tega
turunkan tangan jahat dan cuma bikin terpental saja pedang mereka.
Selagi Lhama itu tertawa girang, dengan berbareng Yoe Peng lepaskan tiga Pengpok
Sintan. Tiga Lhama tersebut mana tahu dalam dunia ada senjata rahasia yang begitu
liehay. Diserang selagi tidak bersedia, tiga peluru itu dengan tepat mengenakan dada
mereka yang terbuka lebar. Mendadakan saja, mereka rasakan menyambarnya hawa
yang luar biasa dingin, sehingga badan mereka jadi gemetaran. Dengan gunakan
kesempatan itu, Thian Oe dan Yoe Peng sambut pedang mereka yang sedang jatuh ke
bawah dan lalu menerjang ke sebelah depan.
Begitu menerobos ke dalam barisan, pendeta berkelana itu segera kasih lihat kepandaian
yang menakjubkan. Dengan tongkat bambunya, ia menotol ke kanan dan ke kiri, dan
serdadu-serdadu Gielimkoen yang berada dalam jarak tujuh tindak dari ianya, begitu kena
ditotol, begitu roboh. Mukanya Tjiauw Tjoen Loei jadi pucat bagaikan kertas. Sembari
menyampok dengan Longgee pang-nya, ia tinggalkan kedua saudara Boe dan coba cegat
si pendeta.
Pada saat tersebut, Liong Leng Kiauw juga sudah tiba disitu dan lantas papaki kedua
saudara Boe yang baru saja ditinggalkan oleh Tjiauw Tjoen Loei. Kedua pedangnya
saudara Boe lantas bekerja sama. Pedang kiri menikam dengan gerakan Lioeseng kangoat
(Bintang sapu ubar bulan), sedang pedang kanan menyambar dengan gerakan Tjietian
hoei-in (Kilat terbang di awan).
Pedangnya Liong Leng Kiauw terputar dan dengan satu sinar dingin, kedua pedang yang
barusan bersatu jadi berpencar. Begitu berpencar, kedua pedang terus menikam jalanan
darahnya Liong Leng Kiauw. Dalam ilmu pedang, serangan pada jalanan darah dari jarak
yang begitu dekat adalah serangan yang luar biasa sukar ditangkisnya. Tapi ilmu
pedangnya Liong Leng Kiauw sangat luar biasa. Dengan sedikit gerakan, ujung
pedangnya sudah bentur ujung pedangnya Boe Lootoa, sehingga mengeluarkan suara
"trang" yang sangat nyaring. Berbareng dengan itu, dengan gunakan tenaga berbaliknya
sang pedang, gagang pedangnya Liong Leng Kiauw bentur ujung pedangnya Boe Loodjie,
yang lantas menjadi miring! Gerakan itu dilakukan dalam waktu yang luar biasa tepatnya,
sehingga Boe-sie Hengtee merasa sangat terkejut.

"Minggir!" berseru Liong Leng Kiauw sembari mendesak dengan tiga serangan kilat. Di
antara ahli-ahli silat kelas utama, satu dua gebrakan saja sudah cukup buat mengetahui
isinya pihak lawan. Demikianlah Boe-sie Hengtee segera mengetahui, bahwa ilmu silatnya
sang lawan ada banyak lebih tinggi dari mereka dan bahwa sang lawan itu masih berlaku
sungkan dan tidak mau turunkan tangan jahat. Dengan berbareng, mereka loncat ke
samping buat membuka jalan. "Terima kasih," berkata Liong Leng Kiauw sembari loncat.
Sekarang marilah kita tengok Tjiauw Tjoen Loei, yang sesudah tinggalkan Boe-sie
Hengtee, lantas cegat majunya si pendeta berkelana. Saat itu, si pendeta sudah totok
roboh dua pengawal yang melindungi guci emas. Melihat sambarannya Tjiauw Tjoen Loei,
dengan sikap acuh tak acuh, ia angkat tongkat bambunya yang lantas menyambar ke
arah jalanan darah Honghoe hiat. Buat ahli-ahli silat, ilmu menotok jalanan darah adalah
ilmu yang biasa saja. Akan tetapi, bahwa dalam perkelahian campur aduk di antara ribuan
orang, si pendeta masih dapat kirim totokan yang begitu tepat, adalah satu kejadian yang
langka dalam Rimba Persilatan.
Tjiauw Tjoen Loei tak berani berayal lagi. Ia segera kerahkan tenaga dalamnya terus
sampai di ujung Longgee pang, yang lantas digunakan buat tempel tongkat bambunya si
pendeta. Dengan seluruh tenaga, ia menekuk buat mematahkan tongkat musuh. Tapi
siapa nyana, Longgee pang itu seperti juga kena dihisap dan nempel keras pada sang
tongkat. Tjiauw Tjoen Loei rasakan bukan saja tenaganya hilang tapi juga tekanan tenaga
musuh yang luar biasa besarnya. Ia betot Longgee pang-nya tapi tak dapat terlepas lagi!
Ia tahu, lweekang si pendeta ada banyak lebih tinggi dan jika bertahan sedikit lama lagi.
Ia akan mendapat luka di dalam badan.
Selagi ia kebingungan, mendadak berkelebat satu sinar hijau dan dengan suara "srt",
pedangnya Liong Leng Kiauw menyambar di tengah-tengah dan pencarkan Longgee pang
dari tempelannya tongkat bambu. "Tjiauw Taydjin, pergilah lindungi guci emas," berkata
Liong Leng Kiauw sembari tertawa
Melihat pada tongkatnya terdapat tanda goresan pedang, pendeta itu merasa agak
terkejut tapi begitu lekas mendapat tahu siapa lawannya, ia lantas tertawa terbahakbahak. "Ah, kau pun datang!" katanya.
"Kemarin kau jajal aku, hari ini akulah yang mau jajal padamu," kata Liong Leng Kiauw
sembari menyabet dengan pedangnya, yang lantas ditangkis sama tongkatnya si
pendeta. Menurut pantas, begitu kebentrok sama pedang, tongkat bambu mestinya lantas
putus. Akan tetapi, sampokannya si pendeta disertai dengan tenaga dalam yang luar
biasa hebatnya, sehingga begitu lekas kedua senjata kebentrok, badannya Liong Leng
Kiauw jadi sempoyongan tiga tindak.
Di lain saat, tongkatnya si pendeta kembali menyambar. Dengan tangan kiri mencekal
pedang, Leng Kiauw mementil sama dua jerijinya dan tongkat musuh segera terpentil
miring. "Bagus!" berseru si pendeta dengan perasaan kagum sebab barusan ia menyabet
dengan gunakan tenaga dalam yang cukup besar dan tidak nyana lawannya dapat
punahkan serangan itu sama satu pentilan jeriji. Bagaikan kilat, Leng Kiauw kirim tiga
serangan, dengan setiap serangan berisi tiga sambaran yang menuju ke arah sembilan
jalanan darah. Si pendeta berkelana juga benar-benar ahli silat kelas utama. Dengan
sekali putar tongkatnya, ia kirim empat serangan membalas dan punahkan semua
totokan lawannya. Kedua lawan itu merupakan tandingan setimpal sehingga buat
sementara waktu sukar dilihat siapa yang lebih unggul.
Sekarang marilah kita tengok Thian Oe dan Yoe Peng, yang sesudah lewatkan tiga Lhama
jubah putih, lantas saja terjang si pendeta jubah merah. "Waktu kau menyatroni keraton
es, jiwamu sudah diberi ampun. Apa kau lupa pesanan Kongtjoe kami?" membentak Yoe
Peng. Pesanan Pengtjoan Thianlie pada waktu itu adalah supaya ia buru-buru pulang ke
Nepal dan jangan campur-campur urusan guci emas. Sebagaimana diketahui, Hoantjeng

itu adalah Koksoe (Guru Negara) dari Nepal dan selama hidupnya, baru dua kali ia
mengalami kekalahan di keraton es. Maka itu, lantas ia menjadi gusar, ketika Yoe Peng
sebut-sebut kejadian tersebut.
"Perempuan tak kenal mampus!" ia membentak. "Biar aku kirim kau pulang ke akherat,
supaya bisa bertemu dengan Kongtjoe-mu!" Ia berkata begitu lantaran menduga pasti,
Pengtjoan Thianlie mesti binasa waktu terjadi gempa bumi.
Melihat musuh besar yang sudah binasakan gurunya, Thian Oe jadi seperti orang kalap.
Sebelum si pendeta jubah merah bergerak, ia sudah dahului dengan serangan yang
membinasakan. Sama gerakan Totjoan pengpo (Bikin terbalik sungai es), sinar pedangnya
berkelebat-kelebat menyambar dari empat penjuru. Si pendeta jubah merah terkesiap
dan berkata dalam hatinya: "Baru saja berdiam beberapa bulan di keraton es, ilmu
silatnya ini bocah sudah maju begitu jauh!" Buru-buru ia menyampok dengan sianthungnya. Pada saat itu, serupa hawa yang luar biasa dinginnya mendadak menyambar,
sehingga ia jadi bergidik dan gerakan tongkatnya jadi agak terlambat. Tapi meskipun
begitu, pedangnya Thian Oe kena tersampok juga dan ia rasakan tangannya sakit sekali.
Tenaga dalamnya si pendeta jubah merah sebenarnya ada beberapa kali lipat lebih tinggi
dari Thian Oe. Akan tetapi, lantaran pertama ia sudah capai sekali, kedua lantaran ilmu
silatnya Thian Oe memang sudah maju jauh dan ketiga lantaran Thian Oe mendapat
bantuannya Yoe Peng, maka dalam pertempuran itu, si pendeta jubah merah sama sekali
tidak bisa berada di atas angin. Harus diketahui, bahwa di antara dayang-dayangnya
Pengtjoan Thianlie, Yoe Peng mempunyai ilmu silat yang paling tinggi, sedang Pengpok
Hankong kiam juga merupakan senjata luar biasa yang meminta banyak tenaganya
musuh guna melawan hawa dinginnya yang sangat hebat.
Waktu itu, pertempuran campur aduk di selat gunung sedang berlangsung dengan
serunya. Thian Oe dan Yoe Peng yang sedang pusatkan seluruh perhatiannya guna
melayani musuh, tidak mempunyai tempo buat memperhatikan lain bagian. Tiba-tiba
terdengar suara teriakan riuh di antara tentara Tjeng dan ribuan orang bergerak seperti
gelombang. Thian Oe dan Yoe Peng melirik. Ternyata itu tiga Lhama jubah putih sudah
berhasil menerjang masuk ke pasukan tengah dan sudah rampas itu tiga kuda putih, satu
antaranya menggendol bungkusan besar yang ditutup sama sutera sulam warna kuning.
Tjiauw Tjoen Loei, kepala delapan pengwal istana, kelihatan sedang ubar kuda putih itu,
sembari keluarkan satu teriakan geledek. Thian Oe terkejut dan menduga bahwa
bungkusan itu tentulah juga berisi guci emas. Di lain saat, ketiga Lhama jubah putih itu
sudah duduk di punggung kuda, yang sembari berbenger keras, sudah lantas menerjang
keluar.
Dengan sekuat tenaga Tjiauw Tjoen Loei coba menyandak, tapi ketinggalan jauh dan tiga
kuda putih tersebut kelihatannya akan segera dapat menerjang keluar dari barisan Tjeng.
Sembari berteriak keras, Liong Leng Kiauw keluarkan ilmu pedang Tjiauwhoen Sippat
tjiauw (Ilmu pedang tarik nyawa yang mempunyai delapan belas macam pukulan).
Delapan belas pukulan itu, yang satu lebih cepat dari yang lain, terutama digunakan buat
menikam jalanan darah musuh. Liehay memang luar biasa liehay, tapi sangat meminta
tenaga dalam. Baru saja ia keluarkan pukulan yang ke tujuh, yaitu Toeihoen tokpok
(Memburu roh menarik sukma), napasnya si pendeta berkelana sudah sengal-sengal dan
sembari kebas tongkatnya, ia loncat minggir buat kasih Liong Leng Kiauw lewat.
Liong Leng Kiauw jadi heran bukan main. Ia mengetahui, bahwa tenaga dalamnya si
pendeta berkelana kira-kira setanding dengan tenaganya sendiri. Menurut taksirannya,
sesudah jalankan habis itu delapan belas pukulan, barulah ada kemungkinan si pendeta
dapat dipukul mundur. Maka itu, ia merasa sangat tidak mengerti, kenapa sebelum ilmu
pedangnya di jalankan separoh, si pendeta sudah keteter. Liong Leng Kiauw adalah ahli
silat kelas berat dan tak gampang orang dapat kelabui padanya. Panca inderanya yang

sangat tajam sudah dapat tangkap, bahwa sengalsengalnya si pendeta adalah sengalsengal yang dibuat-buat. Tapi kenapa toh ia berlagak kalah? Tapi ketika itu, ia tidak
sempat buat berpikir banyak-banyak. Dengan gunakan ilmu entengi badan, bagaikan kilat
ia molos dari antara badan-badan manusia dan kejar tiga Lhama jubah putih itu.
Dalam tempo sekejap, ia sudah menyandak dan kemudian lewati Tjiauw Tjoen Loei. Selagi
lewat, lapat-lapat ia dengar Tjiauw Tjoen Loei berkata: "Biarkan mereka pergi." Leng
Kiauw yang sedang bergerak luar biasa cepat, tidak dapat lantas hentikan tindakannya,
akan tetapi, ketika menengok, ia lihat Tjiauw Tjoen Loei masih terus mengubar sembari
acungkan tongkatnya.
Hatinya Liong Leng Kiauw jadi merasa sangat heran. "Apa aku dengar salah?" tanya ia
dalam hatinya. "Tjiauw Tjoen Loei adalah pemimpin dari para pengawal istana dan tugas
terutama dalam melindungi guci emas itu jatuh di atas pundaknya. Tapi kenapa ia kata
'Biarkan mereka pergi'? Dan kalau toh sudah berkata begitu, kenapa ia masih mengubar
terus?"
Biarpun hatinya heran, ia mengejar terus dan dalam tempo sekejap sudah dapat candak
tiga kuda putih itu. Ketiga Lhama bilukkan kudanya dan tiga batang Kioehoan Sekthung
menyambar dengan berbareng. Dengan gerakan Tianghong kengthian (Bianglala
membentang di langit), Liong Leng Kiauw menggurat dengan pedangnya dan tiga batang
toya timah itu lantas tersampok miring. Meskipun berhasil menangkis serangannya
musuh, tapi Leng Kiauw rasakan tangannya tergetar lantaran tiga musuh itu bukan ahli
silat sembarangan dan lebih pula, sang musuh duduk di atas kuda, sedang ia sendiri
berjalan kaki. Mendadak ia dengar teriakannya Tjiauw Tjoen Loei. Ketika menengok, ia
lihat pengawal istana itu menggape dengan paras muka kebingungan.
Leng Kiauw heran bukan main, sehingga gerakan pedangnya jadi agak lambat. Dengan
menggunakan kesempatan itu, ketiga Lhama jubah putih putar kudanya yang lalu
dikaburkan seperti terbang. Dalam tempo sekejap mereka sudah lewati mulut selat
gunung yang seperti terompet. Pertahanan tentara disitu agak tipis, sehingga dengan
tidak banyak sukar mereka dapat menerjang keluar.
Liong Leng Kiauw mendadakan saja ingat apa-apa. "Ah, apakah mereka bukan gunakan
siasat pancing macan keluar gunung?" tanya ia dalam hatinya. "Apakah bungkusan yang
digendol kuda putih bukannya berisi guci emas?" Akan tetapi, walaupun hatinya berpikir
begitu, ia masih sangat bersangsi lantaran urusan ini adalah urusan yang sangat besar
dan jika guci emas sampai kena dirampas, semua pembesar Tjeng yang berada di Tibet
harus turut pikul kedosaannya.
Sedang Liong Leng Kiauw berada dalam kesangsian, tiga Lhama itu yang sudah
menerjang keluar dari kepungan, sedang mendaki satu tanjakan. Melihat guci emas kena
dirampas, beberapa ribu serdadu Gielimkoen lantas saja menjadi kalut. Seluruh barisan
lantas saja dirobah, pasukan belakang jadi pasukan depan, sedang yang di depan
mengambil kedudukan di sebelah belakang. Laksaan anak panah menyambar dengan
berbareng dan ribuan kuda coba mengubar ketiga Lhama itu. Akan tetapi, tiga kuda putih
yang ditunggangi oleh mereka adalah kuda-kuda pilihan dari istal keraton kaizar. Bagaikan
kilat, tiga binatang itu sudah naik di atas tanjakan dan tentara Gielimkoen ketinggalan
jauh sekali.
Pada saat yang sangat genting, di atas tanjakan mendadak terdengar siulan yang nyaring
dan panjang dan di tengah jalan tiba-tiba muncul seorang pemuda yang pakai baju putih.
Dengan sekali ayun tangannya, tiga kuda putih itu berjingkrak dan berbenger keras.
Dengan gusar, tiga Lhama jubah putih menyapu dengan tongkatnya. Mendadak si
pemuda ayun kedua tangannya dengan berbareng dan tiga sinar hitam merah

menyambar, masing-masing mengenakan tepat tiga tongkat itu. Tiga Lhama rasakan
tangannya sakit dan tongkat mereka hampir-hampir saja terlepas dari tangannya.
Di bawah selat tiba-tiba terdengar suara teriakan orang: "Thiansan Sinbong! Thiansan
Sinbong!"
Sedang ketiga Lhama itu terkejut, si pemuda sudah berkata sembari tertawa: "Serahkan
guci emas itu dan lantas berlalu dari sini!"
Tiga Lhama itu yang merasa sudah kantongi hasil, mana mau gampang-gampang
menyerah. Mereka keprak kudanya yang lantas saja pentang kakinya dan menerjang.
Si pemuda baju putih tertawa tawar dan berkata: "Kau orang benar-benar kepengen
dihajar, baru mau mengerti?" Ia ayun tangan kanannya dan tiga sinar hitam merah
kembali menyambar. Tiga Lhama itu coba menyampok dengan tongkatnya, tapi luput,
dan hampir pada saat itu juga, tiga tunggangannya berjingkrak sambil berbenger keras
diikuti dengan robohnya ketiga Lhama itu.
Liong Leng Kiauw kaget berbareng girang dan mengetahui, bahwa si pemuda itu adalah
murid dari Thiansan pay. Ia pun mengetahui, bahwa kepandaiannya pemuda tersebut ada
lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri dan sudah cukup buat melayani tiga Lhama
tersebut, sehingga hatinya jadi merasa lega. Tapi, baru saja ia mau maju menghampiri,
dari lereng gunung mendadakan muncul lima pendeta India dan semuanya memakai
jubah pertapaan warna hitam dan bersenjata tongkat bambu. Mereka itu ternyata adalah
murid-muridnya si pendeta berkelana.
Biarpun Liong Leng Kiauw berkepandaian tinggi, akan tetapi dengan dikerubuti oleh lima
ahli silat kelas satu yang bekerja sama secara erat sekali, tak gampang ia bisa buru-buru
loloskan diri. Dilihat dari cara berkelahinya, lima pendeta India itu kelihatannya mau "ikat"
Liong Leng Kiauw di luar barisan, supaya ia tak dapat masuk lagi ke pasukan tengah.
Dengan begitu, hatinya Liong Leng Kiauw jadi sangsi dan curiga. Sesudah bertempur
beberapa gebrakan, ia dengar bentakannya si pemuda baju putih dan tiga ekor kuda putih
itu sudah balik ke barisan Tjeng. Sejumlah serdadu lantas menyambut dan bungkusan
yang digendol oleh salah satu kuda, masih tetap berada di atas punggungnya kuda itu.
Tiga Lhama jubah putih kelihatan masih sangat penasaran dan ubar si pemuda dengan
tindakan sempoyongan. Si pemuda balik badannya dan berkata sembari tertawa: "Lekas
pulang ke Tjenghay. Kau orang semua sudah kena Sinbong. Dengan mengasoh empat
puluh sembilan hari, mungkin kau orang akan sembuh kembali. Yang paling penting
adalah jiwamu sendiri, buat apa kau orang terus ubar-ubar aku."
Tiga Lhama itu tahu, mereka sudah kena senjata rahasia. Cuma saja, dengan andalkan
ilmu Kimtjiongto (semacam ilmu weduk), mereka percaya senjata rahasia itu tidak akan
dapat celakakan dirinya dan sesudah pekerjaannya selesai, mereka masih dapat
mencabutnya. Itulah sebabnya, mereka tidak begitu percaya perkataannya si pemuda
baju putih. Mereka cuma kuatir, kalau-kalau senjata rahasia itu mengandung racun.
Dengan adanya kekuatiran tersebut, mereka jadi lebih ingin bertempur pula buat paksa si
pemuda keluarkan obat pemunah.
Gerakannya si pemuda baju putih cepat luar biasa dan dalam tempo sekejap, ia sudah
masuk ke pasukan tengah. Lima pendeta India yang lagi kepung Liong Leng Kiauw dengan
lantas berpencaran. Selagi Liong Leng Kiauw mau menghaturkan terima kasih, mendadak
ia dengar teriakannya Boe-sie Hengtee: "Keng Thian-heng, sungguh kebetulan kau juga
datang disini! Bungkusan yang digendong oleh kuda putih itu berisi guci emas. Lekas
rampas guci itu!"

Liong Leng Kiauw terkesiap seperti orang disambar geledek. Ilmu silatnya si pemuda itu
lebih hebat daripada si pendeta berkelana. Jika ia sampai turun tangan, siapakah yang
dapat mencegahnya?
"Saudara-saudara Boe, Bek Lootjianpwee," kata si pemuda itu sembari tertawa. "Aku
sekarang ingin ajukan satu permohonan pada kalian. Aku mohon kalian bubar saja dan
biarkan guci emas itu tiba di Lhasa!"
Perkataan itu sudah membikin semua orang gagah dari Lima Propinsi Utara jadi terkesiap.
"Apa?" berteriak Bek Eng Beng. "Kau mau bantu kerajaan Tjeng melindungi guci emas
itu?"
"Benar!" jawabnya dengan tenang. "Aku datang buat melindungi guci emas itu."
"Tong Sieheng!" berseru Boe sie Hengtee. "Dengan membantu kerajaan Tjeng, apakah
kau masih ada muka buat menemui ayahmu?"
"Inilah justru kemauan ayahku sendiri," jawab si pemuda sembari tertawa. "Boe Lootoa,
sekarang lebih baik kalian bubaran saja dahulu. Sebentar kita bertemu, di gunung depan,
supaya aku dapat memberi penjelasan terlebih lanjut."
"Aku tak percaya!" membentak Boe-sie Hengtee dengan suara keras.
Semua orang gagah kawan-kawannya Bek Eng Beng jadi heran bukan main dan mereka
mulai saling menyatakan pikirannya. "Oh, kalau begitu ia adalah puteranya Tayhiap Tong
Siauw Lan?" kata yang satu.
"Cara bagaimana Tong Tayhiap bisa permisikan puteranya menjadi kuku garuda kerajaan
Tjeng? Apakah ia bukan satu penipu yang menggunakan namanya Tong Tayhiap?" tanya
seorang lain.
"Ah," kata orang ketiga. "Dilihat dari ilmu silatnya dan didengar panggilannya Boe-sie
Hengtee, pasti tulen puteranya Tong Tayhiap. Hm! Anak poethauw (tidak berbakti)!"
Demikianlah mereka berunding dan pertempuran terhenti buat sementara waktu.
Pemuda itu memang benar adalah putera tunggal dari Tong Siauw Lan, tjiangboen
(pemimpin) dari Thiansan pay. Namanya pemuda itu adalah Tong Keng Thian. Dengan
keluarga Boe, Tong Siauw Lan mempunyai hubungan yang sangat rapat, dan ketika masih
kecil Boe-sie Hengtee pernah naik ke Thiansan buat menemui Tong Siauw Lan dan oleh
karena itu, mereka jadi kenal Keng Thian. Oleh karena Keng Thian baru pertama kali
terjun ke dalam kalangan Kangouw, maka banyak tjianpwee dan orang gagah masih
belum tahu asal-usulnya. Mereka ingat, dahulu Tong Siauw Lan bersama-sama Kam Hong
Tie, Lu Soe Nio dan lain-lain pendekar sudah musuhi kerajaan Tjeng secara hebat dan
pernah lakukan pekerjaan yang menggemparkan seluruh negeri. Salah satu antara tiga
pendekar wanita yang menyatroni keraton kaizar dan kemudian bunuh mati kaizar
Yongtjeng, adalah isteri Tong Siauw Lan sendiri. Sedang kepalanya kaizar, ayah ibunya
masih berani kutungkan, mana bisa jadi mereka sekarang permisikan sang putera
melindungi guci emas dari kerajaan Tjeng? Dengan adanya pendapat begitu, semua
orang gagah sukar percaya keterangannya Keng Thian dan mereka mengawasi pemuda
itu dengan sorot mata gusar. Keadaan yang sunyi senyap menakuti sekali, seperti juga
mendung tebal yang tinggal tunggu turunnya hujan lebat.
Keng Thian mesem, tapi selagi ia mau buka suara, mendadakan saja terdengar teriakan
kaget dari Tjiauw Tjoen Loei dan para perwira yang berkumpul di bawah bendera kuning
jadi kalang kabut. Seluruh pasukan tengah lantas saja menjadi kalut.

Ternyata dengan gunakan kesempatan selagi semua orang perhatikan puteranya Tong
Siauw Lan, si pendeta berkelana loncat ke atas satu kereta keledai. Dari dalam kereta
lantas menyambar dua martil besi, yang dengan gampang dibikin terpental sama satu
sampokan tongkat. Dengan sekali kasih masuk tangannya ke dalam kereta, si pendeta
tarik keluar dan terus lemparkan dua perwira yang menjaga dalam kereta itu!
Dua perwira itu juga bukannya sembarang orang. Begitu jatuh, dengan gerakan Leehie
tahteng (Ikan leehie meletik), ia sudah loncat bangun dan terus menubruk ke dalam
kereta, tapi si pendeta sudah keburu loncat keluar dan kabur ke jurusan barat.
Semua itu terjadi dengan luar biasa cepatnya. Baru saja Tjiauw Tjoen Loei dan lain-lain
perwira mengetahui kejadian itu, si pendeta sudah kabur puluhan tombak jauhnya. Ia
putar tongkat bambunya dan semua serdadu
Gielimkoen, yang berada dalam jarak delapan kaki dari dirinya, begitu kebentur tongkat,
begitu rebah. Oleh karena di sekitar itu tidak terdapat lawanan yang mempunyai ilmu silat
berarti, maka ia kelihatannya akan segera dapat menoblos keluar dari barisan Tjeng.
Sembari keluarkan teriakan kaget, Tong Keng Thian cabut pedangnya dan terus
mengubar. Kereta yang tadi diserbu oleh si pendeta berkelana sebenarnya adalah kereta
yang paling jelek kelihatannya, seperti juga kereta rumput. Bukan saja tendanya tua dan
pada robek, tapi keledainya pun kurus kering. Akan tetapi, guci emas yang tulen justru
terdapat dalam kereta tersebut. Bungkusan indah yang digendong kuda putih hanya satu
siasat buat kelabui orang. Itu sebabnya, biarpun diluar Tjiauw Tjoen Loei kelihatan
bingung dan ubar tiga Lhama jubah putih yang merampas tiga kuda putih itu, dalam
hatinya ia merasa girang dan ingin supaya mereka buru-buru pergi supaya lawanan berat
jadi berkurang. Menyerbunya lima pendeta India jubah hitam, yaitu murid-muridnya si
pendeta berkelana, bertujuan memecah perhatian orang, supaya sang guru dapat
menyerbu kereta itu dan rampas guci emas yang lagi diincar. Pendeta berkelana itu
bukannya pendeta biasa. Ia adalah ahli Yoga yang sengaja di kirim oleh raja Kalimpong,
India. Raja tersebut mempunyai angan-angan berkuasa di Tibet dan dari sebab begitu, ia
mengirim orang-orangnya buat coba rampas guci emas kiriman kaizar Tjeng.
Tong Keng Thian yang sudah kuntit lama barisan Tjeng itu, mengetahui rahasia tersebut.
Maka itulah, begitu lihat si pendeta serbu kereta keledai, ia jadi terkejut dan cabut
pedangnya buat mengubar. Di lain saat, Liong Leng Kiauw juga sudah turut memburu
bagaikan terbang.
Seperti sudah direncanakan lebih dahulu, begitu lihat gurunya berhasil, lima murid itu
lantas saja cegat Keng Thian dan Leng Kiauw. Walaupun ilmu silat mereka masih kalah
jauh sekali jika dibanding dengan Keng Thian dan Leng Kiauw, akan tetapi oleh karena
adanya kerja sama dalam menggunakan Ilmu Tongkat Tiantiok (Ilmu tongkat India) yang
seperti berantai dengan kepala dan buntut berhubungan satu sama lainnya, maka buat
sementara waktu, Leng Kiauw dan Keng Thian kena juga "diikat" oleh mereka. Selagi Keng
Thian mau turunkan tangan membinasakan, tiga Lhama jubah putih tiba-tiba datang
menyerbu, sehingga mereka berdua jadi dikerubuti delapan orang. Dengan demikian,
mereka jadi lebih sukar menoblos dan pada ketika itu, si pendeta berkelana sudah berada
di luar barisan pasukan Tjeng.
"Apa kau orang sudah bosan hidup!" membentak Keng Thian. "Kau bertiga sudah kena
Thiansan Sinbong yang sekarang sudah masuk di jalanan darah. Jika kau orang pulang
dan mengasoh sambil kerahkan pernapasan, mungkin masih bisa ditolong. Tapi kalau kau
orang masih mau bertempur terus dan Sinbong sampai menusuk ke jantung, biar ada
obat apapun juga, jiwamu tidak akan dapat ditolong lagi!" Tapi tiga Lhama itu, yang
sangat andalkan lweekang-nya yang tinggi, sudah tidak ladeni peringatannya Keng Thian
dan terus menyerang dengan sengit.

Ketika itu, si pendeta berkelana sudah keluar dari mulut selat dan sedang mendaki
tanjakan dengan cepat sekali. Ia bakal segera tiba di lereng gunung dan kalau ia sudah
berada disitu, biarpun bisa terlepas dari "ikatannya" itu delapan musuh, Keng Thian dan
Leng Kiauw tidak bakal dapat menyandak lagi.
Hampir berbareng dengan siulan panjang yang dikeluarkan oleh si pendeta berkelana,
dari lereng gunung kembali muncul lima orang pendeta India. Ternyata dalam rencana
merebut guci emas, ia sudah bikin persiapan yang sangat rapi dengan membawa sepuluh
orang muridnya, yang dibagi jadi dua rombongan. Lima orang ikut masuk ke dalam
barisan Tjeng, sedang lima murid lainnya menunggu di lereng gunung buat menyambut.
Sepuluh murid itu sebenarnya disiapkan buat cegat delapan pengawal istana atau cegat
musuh-musuh yang menjaga di bagian belakang. Akan tetapi, sebagaimana diketahui,
delapan pengawal istana telah dibikin repot oleh rombongannya Bek Eng Beng, sehingga
pertahanan di bagian belakang jadi kosong sama sekali.
Begitu lekas si pendeta berkelana dan lima muridnya tiba di lereng gunung, lima pendeta
India yang kepung Keng Thian dan Leng Kiauw, lantas mulai mundur, tapi tiga Lhama
jubah putih masih saja menyerang secara hebat.
"Hei!" berseru Keng Thian. "Coba kau bertiga rasakan, ada apa di jalanan darah
Thiansoan hiat, di bawah tulang dada."
Tiga Lhama itu kaget dan benar saja di dekat jalanan darah itu, mereka merasa baal dan
gatal, seperti juga ada binatang semut sedang berjalan, dan semakin lama perasaan itu
jadi semakin hebat. Tiga orang itu adalah ahli silat kelas satu dan mereka segera
mengetahui, bahwa senjata rahasia musuh sedang berjalan dalam badan mereka dengan
mengikuti jalanan darah. Bukan main kagetnya mereka dan gerakannya lantas menjadi
lambat. Pada saat itu, lima pendeta India sedang berusaha buat kabur, tapi belum dapat
kesempatannya. Mendadak dengan satu bentakan keras, Tong Keng Thian menyabet
dengan Yoeliong kiam yang mengeluarkan sinar panjang bagai bianglala "Rasakan
tiamhoat-ku. Roboh!" Keng Thian berseru. Dengan satu getaran tangan, pedangnya totok
jalanan darah lima pendeta itu yang hampir berbareng roboh di atas tanah! Tiga Lhama
jubah putih terkesiap dan buru-buru loncat minggir, sedang Liong Leng Kiauw dan Tong
Keng Thian lantas loncat melewati dirinya.
Ketika itu, si pendeta berkelana sudah tiba di lereng gunung. Tingginya gunung Tantat san
ada ribuan kaki dan buat mendaki setengah gunung, orang biasa harus gunakan tempo
setengah hari. Leng Kiauw dan Keng Thian belum berada di kaki gunung, sehingga
biarpun mereka mempunyai ilmu entengi badan yang lebih tinggi lagi, mereka tidak akan
dapat menyandak pendeta itu. Selainnya berteriak-teriak, tentara Tjeng tidak dapat
berbuat suatu apa, sedang orang-orang gagah dari Utara barat pun hanya dapat
mengawasi dengan perasaan gusar. Berhubung dengan terampasnya guci emas,
pertempuran lantas berhenti dengan sendirinya.
Selagi semua orang menahan napas, mendadak di antara suasana gunung yang sunyi
senyap terdengar suara khim yang merdu sekali. Tiga ribu serdadu Tjeng dan seratus
lebih orang gagah jadi terkejut dan menduga-duga siapa yang menabuh tabuh-tabuhan
itu. Tapi orang yang paling kaget adalah Tong Keng Thian, sebab ia kenali, bahwa lagu itu
adalah lagu yang ia pernah dengar ketika bertemu Pengtjoan Thianlie buat pertama kali.
Tanpa merasa, ia hentikan tindakannya dan dongak mengawasi ke atas.
Tiba-tiba di atas puncak gunung yang ditutup awan putih muncul bayangannya seorang
wanita, yang memakai jubah biru laut dengan ikatan pinggang sutera merah. Dengan
sekelebatan saja ia sudah kenali, bahwa wanita itu adalah wanita yang siang malam ia tak
dapat lupakan Pengtjoan Thianlie! Semua orang dongak memandang ke atas dan

biarpun disitu terdapat ribuan manusia dan kuda, keadaan ada sedemikian sunyinya,
sehingga andaikata jatuh sebatang jarum, suaranya akan dapat didengar.
Kecepatan bergeraknya Pengtjoan Thianlie sukar dapat dilukiskan. Orang-orang yang
berada di bawah cuma dapat lihat pakaiannya yang berkibar-kibar, seolah-olah ia sedang
terbang turun dengan mengikuti alirannya sang angin. Dalam tempo sekejap, ia sudah
tiba di lereng gunung dan berhadapan sama si pendeta berkelana dan lima muridnya.
Si pendeta India juga kelihatannya terkejut. "Serahkan guci emas itu dan pergi dari sini!"
berkata Pengtjoan Thianlie dengan suara tawar. Suaranya lemah lembut, tapi tak
mengenal kompromi, sedang sikapnya seakan-akan seorang ratu yang sedang
mengeluarkan perintah.
Si pendeta berkelana terkesiap dan sembari kebas tangannya, enam batang tongkat
bambu lantas menyambar dengan berbareng. Sesudah lihat ilmu entengi badannya
Pengtjoan Thianlie, ia mengetahui sedang berhadapan sama musuh yang luar biasa
tangguhnya. Maka itu, dengan mengebas tangan, ia beri tanda supaya lima muridnya
turun tangan dengan berbareng. Mereka menyerang dengan Barisan Tongkat Thaythianlo
(Jaring langit besar), yaitu suatu ilmu yang paling -istimewa dari Ilmu Tongkat Tiantiok.
Dengan sambaran enam tongkat itu, biarpun seorang mempunyai tiga kepala enam
tangan juga masih sukar menjaganya.
Bukan main kagetnya Leng Kiauw dan Keng Thian. Mereka tak nyana, begitu berhadapan,
enam pendeta India itu sudah turunkan tangan yang sedemikian kejam. Mendadak,
badannya Pengtjoan Thianlie kelihatan berkelebat dan jerijinya mementil. Hampir
berbareng terdengar jeritan kesakitan dan lima badan manusia tergelincir ke bawah
gunung seperti layangan putus!
Ternyata, melihat serangan musuh yang telengas, Pengtjoan Thianlie jadi sangat gusar
dan melepaskan Pengpok Sintan, senjata rahasia yang tiada keduanya dalam dunia.
Tenaga dalamnya Pengtjoan Thianlie berlipat-lipat lebih kuat daripada Yoe Peng. Maka itu,
biarpun sama-sama Pengpok Sintan, bekerjanya lain sekali. Jika senjata itu dilepaskan
oleh Yoe Peng, paling banyak muridnya si pendeta berkelana gemetar badannya dan
masih dapat pertahankan diri. Tapi dengan dilepaskan oleh Pengtjoan Thianlie, Sintan itu
masuk ke dalam jalanan darah dan sang darah lantas membeku, sehingga tidaklah heran
jika lima pendeta itu lantas roboh terguling ke dalam jurang.
Si pendeta berkelana juga kena satu Sintan dan rasakan hawa dingin luar biasa yang
meresap ke tulang-tulang. Akan tetapi, lantaran mempunyai ilmu Yoga yang sangat tinggi,
ia masih dapat pertahankan diri dan menyerang terus. Sembari tertawa tawar, Pengtjoan
Thianlie buka ikatan pinggangnya yang lantas menyambar-nyambar seperti naga sedang
memain di tengah udara. Di lain saat, tongkatnya si pendeta sudah kena digulung dan
biarpun ia gunakan Seantero tenaga dalam, ia tidak berhasil lepaskan tongkatnya dari
gulungan itu.
Pengtjoan Thianlie juga merasa heran sebab ia pun tidak berhasil betot terlepas
tongkatnya si pendeta. Sembari keluarkan seruan "ih!" ia lepaskan lagi dua butir Pengpok
Sintan. Si pendeta yang tongkatnya masih tergulung, tidak dapat berkelit dan dua peluru
itu mengenai tepat pada jalanan darah Soankhie hiat di dada dan Thiantjoe hiat, di
belakang otak. Seketika itu juga, ia bergidik beberapa kali. Buru-buru, ia kerahkan
khiekang (tenaga napas), tapi tidak dapat segera pulihkan kekuatannya.
"Masih belum mau menyerah?" membentak Pengtjoan Thianlie sembari cabut pedangnya.
Dengan sekali kebas, bagaikan halimun, sinar dan hawa dingin seperti juga tutup seluruh
badannya si pendeta. Ketika itu, dari dalam jurang sayup-sayup terdengar suara jeritan
lima muridnya si pendeta yang sedang melarikan diri dengan dapat luka-luka berat.

Sambil menghela napas panjang, si pendeta masukkan tangan kirinya ke dalam kantong.
Di lain saat, ia sudah keluarkan sebuah guci emas bertahta batu-batu permata yang
pancarkan sinar gilang gemilang ke empat penjuru. Pengtjoan Thianlie sambuti guci emas
itu dan kemudian gentak ikatan pinggangnya buat lepaskan tongkatnya si pendeta. Ia
miringkan sedikit badannya buat memberi jalan kepada si pendeta yang segera kabur
secepat mungkin.
Sesudah kasih masuk Pengpok Hankong kiam ke dalam sarung dan dengan sebelah
tangan memegang guci emas, Pengtjoan Thianlie melayang turun ke bawah. Hosek Tjinong, raja muda yang pimpin barisan Tjeng segera memberi perintah supaya pasukan
belakang jadi pasukan depan, yang kemudian dipecah jadi dua sayap buat kurung
Pengtjoan Thianlie guna ditanya maksud kedatangannya dan buat rampas pulang guci
emas itu.
Sekarang marilah kita tengok Thian Oe dan Yoe Peng yang kerubuti si pendeta jubah
merah. Mengingat sakit hati gurunya. Thian Oe menyerang sehebat mungkin dengan
pusatkan seluruh perhatiannya kepada musuh. Meskipun di lain gelanggang dengan
dengan beruntun sudah terjadi banyak perobahan luar biasa, ia sama sekali tidak mau
perdulikan dan terus cecar si pendeta jubah merah dengan setaker tenaganya. Pendeta
itu adalah orang yang pertama menyerbu dan sesudah bertempur lama, baru ia bertemu
Thian Oe dan Yoe Peng yang serang padanya dengan mata merah.
Selagi berkelahi mati hidup, pertempuran di seluruh garisan mendadak berhenti dan
keadaan jadi sunyi senyap. Hal itu sudah terjadi oleh karena munculnya Pengtjoan
Thianlie. Yoe Peng melirik dan kegirangannya meluap-luap. "Thian Oe! Lihat siapa yang
datang!" ia berteriak seperti orang kalap. Mau tak mau, si pendeta jubah merah juga turut
menengok dan begitu lihat siapa yang muncul, semangatnya terbang. "Pengtjoan
Thianlie!" berseru Thian Oe sembari menikam dengan gerakan Pengho kiattang (Sungai
es membeku). Oleh karena hatinya sedang gemetar dan tidak nyana bakal diserang
secara begitu, si pendeta jubah merah tidak keburu berkelit atau menangkis dan tak
ampun lagi, pedangnya Thian Oe bersarang di dadanya! "Suruh kau nyingkir, kau tak mau
nyingkir, sekarang sudah terlambat," berkata Yoe Peng sembari menikam dengan
pedangnya yang juga mengenai tepat pada dadanya. Dengan satu teriakan keras, ia
roboh dan badannya yang besar ditendang Thian Oe yang sudah balaskan sakit hati
gurunya. Sesudah itu, sembari tuntun tangannya Yoe Peng, Thian Oe berlari-lari
menghampiri Pengtjoan Thianlie.
Sembari cekal pedangnya, Liong Leng Kiauw mau bergerak. Tong Keng Thian mendekati
dan berbisik: "Lekas tahan tentara negeri. Biar aku yang sambut padanya. Aku rasa ia
tidak mempunyai niatan kurang baik."
Leng Kiauw merasa sangsi. Ia sekarang kenali bahwa Pengtjoan Thianlie adalah itu wanita
yang sudah curi rencana menyambut guci emas. Di satu pihak, ia tidak percaya kalau
Pengtjoan Thianlie mau membantu pihaknya, akan tetapi, di lain pihak, ia merasa heran,
kenapa sesudah dapat rampas guci emas itu, sebaliknya dari kabur, Pengtjoan Thianlie
malahan datang menghampiri. Ketika itu, delapan pengawal istana sudah loncat keluar
dari barisan dan maju mengurung dari kiri dan kanan. Mendadak, Boe-sie Hengtee juga
loncat keluar dari dalam barisan dan seperti angin puyuh mereka mendahului delapan
pengawal istana. Di belakang mereka ikut belasan orang gagah dari Utara barat.
Dengan anggapan bahwa Pengtjoan Thianlie adalah orang kalangan sendiri, sembari
pegang gagang pedangnya, Boe-sie Hengtee memberi hormat dan berkata: "Terima kasih
banyak buat bantuan Liehiap (pendekar wanita). Harap serahkan guci emas itu kepadaku.
Sekarang pekerjaan kita sudah selesai dan Liehiap boleh mundur bersama-sama
rombongan kita." Dengan berkata begitu, kedua saudara Boe mempunyai maksud yang
baik sekali. Melihat delapan pengawal istana sudah bersiap buat mengepung, mereka
berkuatir Pengtjoan Thianlie tidak gampang dapat loloskan diri, lantaran tangannya

memegang guci emas yang menjadi bulan-bulanan perebutan. Maka itu, mereka minta si
jelita serahkan guci tersebut kepadanya, supaya kawan-kawannya dapat melindungi ia
mengundurkan diri.
Tapi tak dinyana, Pengtjoan Thianlie hanya kerutkan kedua alisnya dan menanya: "Siapa
kau?"
Sementara itu tentara Tjeng sudah mulai maju mengurung. Boe-sie Hengtee jadi bingung
sekali dan menyahut dengan pendek: "Kami adalah kawan-kawan yang mau rebut guci
itu. Segala omongan yang tidak perlu bisa ditunda sampai sebentar." Sehabis berkata
begitu, mereka angsurkan tangan buat sambuti guci emas itu.
"Kau orang mau minggir atau tidak?" kata Pengtjoan Thianlie sembari mementil dengan
jerijinya dan lepaskan dua butir Pengpok Sintan. Kedua saudara Boe lantas saja rasakan
hawa dingin yang meresap sampai ke tulang dan roboh seketika itu juga. Kawankawannya jadi terkejut dan memburu. Pengtjoan Thianlie mementil lagi beberapa kali dan
lima enam orang lantas turut terjungkal. Kawan-kawannya yang lain jadi keder dan pada
loncat minggir, sedang Pengtjoan Thianlie terus bertindak maju.
Bek Eng Beng kaget tercampur gusar, sedang pemimpin tentara Tjeng jadi bukan main
girangnya. Mereka sama sekali tidak mengimpi, bahwa Pengtjoan Thianlie berdiri di
pihaknya. Tjiauw Tjoen Loei keprak kudanya dan memberi hormat sembari peluk
senjatanya. "Liehiap benarbenar mengerti kesetiaan kepada negara dan sudah membantu
kerajaan dalam merebut pulang guci emas itu," katanya dengan sikap hormat. "Pahala itu
bukannya kecil dan dengan jalan ini, aku Tjiauw Tjoen Loei memberi hormat. Aku adalah
tongleng (pemimpin) dari pengawal-pengawal istana dan mohon Liehiap serahkan guci itu
kepadaku." Ia lantas angsurkan tangannya buat ambil guci tersebut.
Tapi seperti tadi, di luar dugaan, Pengtjoan Thianlie cuma kerutkan alisnya dan berkata
dengan suara tawar: "Aku tak perduli tongleng atau bukan tongleng. Aku tidak
mempunyai tempo buat saling menghormat denganmu!" Dengan sekali mementil, Tjiauw
Tjoen Loei bergidik dan lantas jatuh terguling dari kudanya. Semua pengawal istana
terkesiap, beberapa antaranya buru-buru menolong pemimpinnya, sedang yang lain
serang Pengtjoan Thianlie. Sembari mesem tawar, Pengtjoan Thianlie mementil beberapa
kali dan beberapa pengawal istana lantas roboh kejengkang.
Melihat itu semua, tentara Tjeng jadi seperti orang kesima. Mereka tidak menduga, bahwa
wanita yang begitu cantik bisa mempunyai kepandaian yang begitu tinggi. Mereka berdiri
bengong dan tidak berani bergerak buat melepaskan anak panah atau angkat senjata.
Bek Eng Beng jadi kaget berbareng girang. Tiba-tiba Tong Keng Thian menghampiri dan
berkata sembari rangkap kedua tangannya: "Bek Tayhiap, hari ini biar bagaimanapun juga
kita tidak boleh rampas guci emas itu. Mohon Bek Tayhiap keluarkan perintah supaya
semua saudarasaudara lantas undurkan diri."
"Hm!" menggerendeng Bek Eng Beng dengan berdongkol sekali. "Aku tak nyana kau
sekarang jadi kaki tangan kerajaan Tjeng." Ia angkat tangannya buat menghantam Keng
Thian, yang buruburu gunakan tiga jerijinya buat tekan kepalannya Bek Eng Beng dan
berkata dengan suara perlahan: "Antara dua mara bahaya, kita harus pilih yang lebih
enteng. Lebih baik kerajaan Tjeng yang menguasai Tibet daripada satu negara asing. Guci
emas itu benar-benar tidak boleh diganggu."
Bek Eng Beng terkesiap, sehingga keringat dingin mengucur di seluruh badannya. "Tapi,
Boesie Hengtee sudah kena senjata rahasianya perempuan itu. Sakit hati ini bagaimana
boleh tidak dibalas?" kata ia.

"Serahkan padaku, aku akan sembuhkan mereka," kata Tong Keng Thian. "Lekas mundur!
Lekas mundur!"
Bek Eng Beng berdiam beberapa saat dan memikir bulak-balik. Dalam usaha merampas
guci emas, tujuan mereka adalah buat tentangkan keinginan bangsa Boan untuk berkuasa
di Tibet. Tapi tidak dinyana, urusan itu mempunyai latar belakang yang sedemikian ruwet.
Nepal dan Kalimpong juga ingin pentang pengaruh di Tibet dan coba merampas guci
tersebut. Dilihat dari sudut itu, sikapnya Keng Thian yang lebih suka Tibet dikuasai oleh
bangsa Boan daripada bangsa lain, agaknya cukup beralasan. Sesudah menimbangnimbang beberapa saat, ia lantas saja berkata: "Baiklah, aku setujui pendapatmu. Kami
tunggu kau di gunung depan." Dengan sekali memberi tanda, orang-orang gagah dari
Lima Propinsi Utara lantas pada mundur ke gunung depan sambil mendukung Boe-sie
Hengtee.
Pada waktu Keng Thian sedang membujuk Bek Eng Beng, Liong Leng Kiauw juga lagi
bujuk Hosek Tjin-ong supaya ia tahan majunya Gielimkoen dan biarkan Pengtjoan Thianlie
masuk ke dalam barisan. Melihat liehaynya wanita itu dan juga sebab sekarang guci emas
berada dalam tangannya, sehingga andaikata ia dapat dibekuk atau dibinasakan, tapi
kalau guci itu sampai menjadi rusak, semua pengantarnya akan turut berdosa, maka,
sesudah memikir beberapa saat, ia segera menyetujui perkataannya Liong Leng Kiauw
dan memberi perintah supaya semua serdadu jangan bergerak.
Thian Oe dan Yoe Peng yang berdiri di dalam barisan tiba-tiba lihat sayap depannya
pasukan Tjeng mendadak terpencar dan membuka satu jalanan buat Pengtjoan Thianlie.
"Dilihat begini, barisan Tjeng seperti benar-benar sedang menyambut seorang Paduka
Puteri," kata Thian Oe sembari tertawa.
"Ia toh memang seorang puteri," sahut Yoe Peng. "Ah, ia kelihatannya sedang cari orang."
Dengan satu tangan memegang guci emas, perlahan-lahan Pengtjoan Thianlie masuk ke
dalam barisan Tjeng dengan sikap agung sekali. Dengan kedua matanya yang angker, ia
menyapu segala orang yang berada disitu. Mendadak ia hentikan tindakannya dan
mengawasi satu orang yang berdiri disitu. Thian Oe kegirangan dan berbisik di kupingnya
Yoe Peng: "Ah, kalau begitu ia sedang cari dia!"
"Siapa?" tanya Yoe Peng.
"Pemuda baju putih," sahut Thian Oe.
Benar saja Yoe Peng lihat majikannya sedang mengawasi si pemuda baju putih. Ia
sebenarnya mau teriaki majikannya itu, tapi sudah ditahan oleh suasana yang tegang dan
sunyi senyap.
"Hm! Kau juga berada disini?" kata Peijgtjoan Thianlie sembari mesem.
"Jah, kau pun sudah turun gunung," jawab Keng Thian. Dua pasang mata kebentrok dan
paras mukanya Pengtjoan Thianlie segera bersemu dadu.
"Aku tak mempunyai perkataan yang tepat buat menyatakan rasa terima kasih," kata
Keng Thian sambil tertawa. "Sungguh beruntung, guci emas sudah dapat direbut pulang.
Buat bantuanmu di ini hari, bukan saja aku, tapi semua pembesar di Tibet juga ingin
haturkan banyak terima kasih."
Pengtjoan Thianlie juga tertawa dan kemudian berkata dengan sikap acuh tak acuh: "Ada
hubungan apa guci emas ini dengan diriku? Aku juga merampas ini bukan untuk mereka.
Siapa mau mereka haturkan terima kasih. Berapa harganya guci ini, sehingga dijadikan

barang rebutan oleh semua orang? Aku sendiri tak kesudian. Pada beberapa bulan
berselang, kau pernah bantu menyusun beberapa toeilian untuk keraton es. Mengetahui
bahwa kau juga sangat inginkan guci emas ini, maka aku mau serahkan kepadamu
sebagai tanda terima kasih. Mulai dari sekarang, kedua belah pihak tidak berhutang budi
lagi. Kau juga tidak perlu banyak rewel-rewel lagi."
Sembari tertawa Keng Thian sambuti guci emas itu yang diangsurkan kepadanya. "Eh," ia
kata. "Kau lupakan satu urusan. Janji kita buat adu pedang di kakinya Puncak Es, belum
dipenuhi!"
Pengtjoan Thianlie kerutkan alis. "Kau masih mau bertanding?" tanya ia. "Baiklah, malam
ini jam tiga kau boleh datang ke atas gunung ini."
Ia kembali menyapu dengan matanya dan kali ini ia lihat Thian Oe dan Yoe Peng yang
berdiri di antara orang banyak. Pertemuan yang tidak diduga-duga membikin ia agak
kaget dan lalu gapekan tangannya buat memanggil mereka.
"Kenapa kau berada disini?" ia tanya Yoe Peng.
"Hari itu, ketika aku antar Tjia Kouwkouw memetik daun obat, Puncak Es mendadak roboh
dan gunung berapi meledak," menerangkan Yoe Peng. "Terhalang dengan lahar panas,
aku jadi tidak bisa pulang dan belakangan datang kesini."
"Dan kau?" tanya Pengtjoan Thianlie sembari mengawasi Thian Oe.
Thian Oe yang tidak tahu mesti mulai dari mana, lantas menyahut dengan suara gugup:
"Aku sebenarnya belum dilepaskan olehmu. Cuma saja lantaran terjadinya gempa bumi,
aku terpaksa lari keluar juga. Kalau kau mau menghukum, boleh hukum sekarang.
Kejadian yang lain-lainnya semuanya diketahui oleh dayangmu."
"Baiklah," kata Pengtjoan Thianlie. "Buat bicara sebenar-benarnya, aku kuatir kau tidak
dapat loloskan diri. Kau sudah langgar peraturanku, sebenarnya harus dipenjarakan
seumur hidup. Akan tetapi, sesudah lewati bencana itu, kau seperti juga sudah mati satu
kali. Semua kedosaanmu yang sudah-sudah aku sudah coret dan sekarang kau merdeka
buat pergi kemana juga." Ia berpaling pada Yoe Peng dan berkata pula: "Kau sekarang
boleh ikut aku pulang ke gunung."
Mendengar perkataan majikannya, hatinya Yoe Peng mencelos. Sedari turun gunung, ia
telah dapat banyak kegembiraan, terutama sesudah bertemu Thian Oe yang merupakan
sahabat baik sekali. Hatinya merasa sangat berat buat segera berpisahan, akan tetapi, ia
tentu saja tidak berani membantah perintah majikannya, sehingga ia lantas saja
menyanggupi sembari tundukkan kepalanya.
Pengtjoan Thianlie lihat itu semua, tapi ia tidak berkata apa-apa dan lantas tuntun
tangannya Yoe Peng buat diajak pergi.
"Tahan!" kata Tong Keng Thian.
"Apa?" menegasi Pengtjoan Thianlie. "Kau terlalu tidak sabar dan mau bertempur disini?"
"Bukan," sahut Keng Thian sembari tertawa. "Pengpok Sintan-mu terlalu hebat!"
Pengtjoan Thianlie merasa bangga sekali dan lalu berkata: "Kalau kau takut, aku berjanji
tidak akan gunakan Sintan."
"Kau salah tangkap maksudku," kata Keng Thian. "Pengpok Sintan telah lukakan banyak
sahabatku. Aku mau minta obat buat mengobati mereka."

"Oh begitu? Baiklah, ambil obat ini," kata si jelita sembari angsurkan sebungkus obat,
yang diterima oleh Keng Thian sambil menghaturkan banyak terima kasih.
"Manusia dalam dunia memang banyak rewel," menggerendeng Pengtjoan Thianlie
seorang diri.
"Aku mau rewel lagi sekali. Jangan lupa janjian malam ini," kata Keng Thian sembari
tertawa.
Pengtjoan Thianlie juga jadi turut tertawa dan kemudian, dengan sikap kemalu-maluan ia
berlalu sembari menuntun Yoe Peng.
Tiba-tiba, dari dalam barisan loncat keluar enam boesoe Nepal yang lantas berlutut di
hadapan Pengtjoan Thianlie sembari acungkan kedua tangannya di atasan kepala dan
mulutnya keluarkan suara ratapan. Hosek Tjin-ong heran dan tanya Liong Leng Kiauw:
"Apa perlu kita bekuk itu beberapa penjahat?"
"Urusan hari ini kita harus serahkan kepada putusannya Pengtjoan Thianlie," berbisik Leng
Kiauw. "Kalau bertindak salah, bisa terjadi perobahan yang kurang enak."
Hosek Tjin-ong merasa jengah, tapi lantaran sudah dapat pulang guci emas itu, hatinya
sudah merasa sangat puas dan tidak membantah nasehat itu. "Apa wanita itu dipanggil
Pengtjoan Thianlie? Namanya luar biasa betul," ia akhirnya kata sembari tertawa.
Pembicaraan antara Pengtjoan Thianlie dan enam boesoe Nepal cuma dapat dimengerti
oleh Liong Leng Kiauw, Tong Keng Thian dan Yoe Peng. Mereka itu memohon supaya sang
puteri suka pulang ke negerinya.
"Apa yang aku sudah bilang, aku tak akan robah," sahut sang puteri dengan suara tawar.
"Pergi pulang dan beritahukan rajamu, supaya ia baik-baik saja mengurus negara."
Enam boesoe itu tidak berani buka suara lagi.
"Mana Koksoe-mu?" tanya Pengtjoan Thianlie.
"Ia sudah binasa," jawab satu boesoe sembari mengawasi Thian Oe.
"Aku yang bunuh ia," Yoe Peng menyelak.
"Dia memang suka cari urusan," kata Pengtjoan Thianlie. "Buat apa rebut-rebut guci
emas? Pergi beritahukan rajamu, mengurus negeri sendiri saja sudah cukup meminta
tenaga dan pikiran, buat apa mengaduk di Tibet? Koksoe-nya binasa memang ada
baiknya, supaya ia dapat sedikit pelajaran."
Mendengar perkataan itu, Liong Leng Kiauw terkejut, sedang Tong Keng Thian bergirang.
Leng Kiauw terkejut lantaran Pengtjoan Thianlie yang ilmu silatnya begitu tinggi, adalah
seorang puteri dari negara Nepal, sedang Keng Thian bergirang, sebab, biarpun si jelita
sudah mengatakan tidak mau campur urusan dunia, sekarang ia toh telah membantu
usahanya.
Sesudah berkata begitu, Pengtjoan Thianlie kebas tangannya dan enam boesoe Nepal itu,
seperti orang baru dibebaskan dari hukuman, lantas buru-buru undurkan diri dengan
sikap hormat sekali, akan kemudian kabur secepat mungkin. Atas perintah panglimanya,
pasukan Tjeng membuka satu jalan untuk mereka.

"Hayolah kita berangkat!" kata Pengtjoan Thianlie sembari menengok kepada dayangnya
dan mereka berlalu dengan tindakan perlahan. Ribuan tentara Gielimkoen tahan
napasnya, mata mereka mengawasi bayangannya kedua wanita cantik itu dengan
perasaan agak menyesal, bahwa mereka berdua sudah berlalu sedemikian cepat.
Hatinya Thian Oe berdebar-debar dan perasaannya sukar dilukiskan. Seperti kehilangan
semangat, dengan mata mendelong ia mengawasi sang puteri bersama dayangnya yang
sedang berjalan keluar dari selat gunung. Mendadak Yoe Peng menengok sembari tertawa
dan kedua matanya yang bagus kebentrok dengan matanya Thian Oe. Si anak muda
goncang hatinya, tapi saat itu juga ia ingat Chena, itu gadis Tsang yang aneh dan yang
sudah tarik seluruh perhatiannya. Chena yang pendiam adalah ibarat lembah gunung
yang sunyi senyap, sedang Yoe Peng yang nakal dan lincah adalah seakan-akan bunga
mawar di musim panas. Hatinya Thian Oe jadi merasa sangat terharu, ia meramkan kedua
matanya dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar Chena masih hidup dalam
dunia ini.
Beberapa saat kemudian, Pengtjoan Thianlie dan Yoe Peng sudah berada di lereng gunung
dan kemudian mereka menghilang di antara pohon-pohon yang rindang.
Hosek Tjin-ong tarik napas lega dan lantas bereskan pasukannya yang telah jadi sedikit
kacau akibat pertempuran. Sesudah itu, ia hampiri Tong Keng Thian dengan niat
mengambil pulang guci emas itu dari tangannya si pemuda. Tapi ia jadi sangat kecele,
lantaran Keng Thian cuma manggutkan sedikit kepalanya secara tawar dan berbalik
serahkan guci emas itu kepada Liong Leng Kiauw. "Jagalah hati-hati, jangan hilang lagi,"
katanya sembari tertawa. Leng Kiauw sambuti barang berharga itu, yang kemudian lalu
dipasrahkan kepada Hosek Tjin-ong.
"Bolehkah aku mendapat tahu Hiapsoe (pendekar) empunya she dan nama yang mulia?"
tanya Hosek Tjin-ong dengan sikap menghormat. "Kali ini Hiapsoe sudah membuat pahala
yang sangat besar dan Siauw-ong (raja muda, bahasakan dirinya sendiri) akan
melaporkan kepada Hongsiang (kaizar) yang tentu akan memberi hadiah sepantasnya."
"Aku adalah rakyat kecil dari pegunungan yang sudah biasa dengan hidup merdeka dan
tidak inginkan nama maupun harta," jawab Keng Thian dengan suara tawar. "Jika ada
hadiah apa-apa, tolong bagikan saja hadiah itu kepada para serdadu yang bantu
mengawal guci emas itu." Ia keluarkan beberapa butir yowan (pel) yang lalu diserahkan
kepada Liong Leng Kiauw seraya berkata; "Inilah obat buat orang-orang yang kena
Pengpok Sintan. Telan saja dengan air matang dan orang itu akan segera sembuh. Liongheng, aku mau berangkat lebih dahulu, biarlah kita bertemu pula di lain kali."
Melihat sikapnya pemuda itu yang sangat tawar terhadap dirinya, tapi sedemikian hangat
terhadap Liong Leng Kiauw, hatinya Hosek Tjin-ong jadi merasa sangat tidak senang.
Baru saja Keng Thian berjalan beberapa tindak, Leng Kiauw mendadak berseru: "Tongheng, tunggu dahulu!"
"Ada apa?" tanya Keng Thian sembari berbalik.
Liong Leng Kiauw keluarkan satu kotak batu pualam yang besarnya lima tjoen pesegi dan
angsurkan itu kepada Keng Thian sembari berkata: "Harap Tong-heng suka ambil barang
ini."
Parasnya Keng Thian lantas saja berobah kurang senang dan ia berkata dengan suara
kaku: "Apakah aku membayar pulang guci emas dengan mengharap hadiah?"
"Ini bukanlah hadiah dari aku sendiri," sahut Leng Kiauw sembari tertawa. "Ini adalah
barang lama milik keluargamu, yang secara kebetulan sudah jatuh ke dalam tanganku.

Puluhan tahun aku tolong simpan dan sekarang mau dibayar pulang. Jika kau merasa
sangsi, tanyalah ayahmu."
Keng Thian jadi merasa sangat bimbang. "Didengar dari omongannya, barang ini
bukanlah barang biasa," kata ia dalam hatinya. "Ilmu silatnya ayahku, dalam jaman ini
sukar dicari tandingannya. Apakah mungkin, barangnya sendiri jatuh ke dalam tangan lain
orang? Ilmu silatnya Liong Leng Kiauw tidak berada di sebelah bawahku, sedang gerakgeriknya aneh sekali. Apa mungkin orang yang berkepandaian seperti ia, sudi bekerja di
bawah perintahnya Hok Kong An dengan satu pangkat yang tidak besar dan tidak kecil?
Apakah tidak bisa jadi ia ada seorang yang mempunyai asal-usul besar?" Dengan hati
yang penuh pertanyaan, akhirnya Keng Thian mengambil putusan buat terima kotak batu
pualam itu.
Saat itu, di sebelah belakang mendadak terdengar tiga dentuman meriam, dan ketika
Keng Thian menengok, ia lihat satu pasukan tentara yang kelihatannya angker sekali,
sedang masuk ke dalam selat gunung.
"Utusan istimewa buat menyambut guci emas sudah tiba," kata Liong Leng Kiauw.
"Siapa utusan itu?" tanya Keng Thian.
Leng Kiauw menggape dan Thian Oe lantas keluar dari dalam barisan. "Utusan itu adalah
ayahnya," kata Leng Kiauw.
Thian Oe segera maju menghampiri dan menghaturkan terima kasih buat pertolongan
Keng Thian yang tempo hari sudah tolong jiwanya.
"Ilmu silatmu sudah maju jauh sekali," kata Keng Thian sembari tertawa. "Dengan adanya
kau dan Liong Loosam, guci emas itu pasti akan dapat diantar sampai di Lhasa dengan
selamat. Aku jadi tak usah buat pikiran dan sekarang aku mau berlalu saja." Ia
manggutkan kepalanya kepada Liong Leng Kiauw dan lalu berjalan pergi. Hosek Tjin-ong
jadi merasa lebih tidak senang, tapi sebab harus buruburu menyambut utusan, ia jadi
tidak mempunyai tempo buat perhatikan Tong Keng Thian lagi.
Setibanya di gunung depan, Keng Thian segera bertemu dengan Bek Eng Beng dan lainlain orang gagah dari Utara barat. Semua orang merasa sangat mendongkol dan mereka
ramai-ramai sesalkan pemuda itu. Keng Thian lalu memberi penjelasan berulang-ulang
kenapa mereka sekarang tidak boleh rampas guci emas itu dan kemudian lalu keluarkan
yowan pemberiannya Pengtjoan Thainli buat mengobati orang-orang yang kena Pengpok
Sintan.
Boe-sie Hengtee adalah orang-orang yang sangat terbuka dan sesudah mendengar
penjelasannya Keng Thian yang dianggap beralasan, lantas saja mereka berkata sembari
tertawa: "Tong Sieheng benar berpemandangan sangat jauh yang tidak dipunyai oleh
orang-orang seperti kami. Dalam urusan di ini hari, kamilah yang bertindak salah."
Keng Thian merasa senang dalam hatinya dan lalu berkata sembari membungkuk: "Buat
luka yang sudah diderita oleh saudara, dengan jalan ini aku menghaturkan maaf."
"Cara bagaimana kami dapat sesalkan Ioohcng?" kata Boe-sie Hengtee sembari tertawa.
"Pernah apakah wanita itu dengan Tong heng? Sehingga Tong-heng sudah haturkan maaf
guna ianya?"
Mukanya Reng Thian lantas jadi berobah merah.
"Biarpun dalam bantuannya kepada Tong-heng, maksudnya wanita itu adalah sangat baik,
tapi tangannya terlalu kejam," kata Boe-sie Hengtee. "Jika ada kesempatan, kami ingin

minta pengajaran lagi dari ianya. Kita semua adalah turunannya Thiansan Tjitkiam (Tujuh
Pendekar Pedang dari Thiansan), maka itu kalau temponya tiba, Tong-heng tak boleh
membantu orang luar!"
"Ah, janganlah kau main-main, saudaraku," berkata Keng Thian, yang merasa geli dan
berkata dalam hatinya: "Inilah yang dinamakan sang air mau rendam kelenteng Raja
Naga. Kau tidak tahu, semuanya orang sendiri. Ia adalah cucu perempuannya Koei Tiong
Beng dan kalau dihitunghitung tingkatannya masih lebih atas dari kau berdua."
Sesudah berpisahan dengan kawanan orang gagah dari Utara barat, seorang diri Keng
Thian mendaki gunung. Sembari jalan, ia ingat halnya Liong Leng Kiauw yang membikin
hatinya jadi penuh dengan kesangsian. Ia buka kotak batu pualam itu yang didalamnya
ternyata terisi sepotong batu giok (batu pualam) yang luar biasa indah dan berwarna biru
hijau. Di tengahtengah giok itu terdapat sebuah cap merah dengan ukiran huruf-huruf
kuno yang berbunyi: "Sioe Beng Ie Thian, Kok Oen Kioe Tiang (Terima firman dari Langit,
rejeki negara kekal abadi). Membaca itu, Keng Thian jadi seperti orang terkesima.
Harganya giok itu yang sukar ditaksir berapa besarnya tidaklah cukup buat membikin ia
menjadi heran, akan tetapi, huruf-huruf itulah yang keja Keng Thian jadi bukan main
terkejutnya, sebab tak bisa salah lagi, barang itu adalah miliknya kaizar.
"Kenapa Liong Loosam bilang, barang ini adalah barang keluargaku?" tanya ia dalam
hatinya. Mendadakan saja, ia ingat cerita ibunya (Phang Eng) yang sering tuturkan sepak
terjang ayahnya waktu masih muda. Ibunya pernah ceritakan, bahwa dahulu sang ayah
pernah dihadiahkan sepotong batu giok oleh Kaizar Konghie. Apakah giok itu adalah giok
hadiah Konghie?
Tong Siauw Lan (ayahnya Keng Thian) sebenarnya adalah putera (tidak resmi) Kaizar
Konghie. Pada ketika Tong Siauw Lan masuk ke dalam keraton buat menemui ibunya,
Konghie pernah hadiahkan giok itu kepadanya. Oleh karena tidak ingin sang putera
mengetahui urusan itu yang cuma dapat menambahkan kejengkelan, maka saban-saban
ceritakan halnya giok tersebut, Tong Siauw Lan dan Phang Eng cuma mengatakan, bahwa
lantaran secara kebetulan sudah menolong Konghie dalam peristiwa perebutan tahta
antara putera-putera kaizar, maka kaizar tersebut telah hadiahkan giok itu kepadanya.
Latar belakang yang sebenarnya sama sekali tidak pernah disebutsebut. Sebab-sebab
hilangnya giok tersebut, Keng Thian juga belum pernah dengar dari kedua orang tuanya.
Maka itulah, ia jadi merasa sangat heran dan terutama merasa sangat tidak mengerti,
kenapa barang itu bisa jatuh kedalam tangannya Liong Leng Kiauw.
Keng Thian putar otaknya sampai ia jadi uring-uringan, tapi lekas juga ia menjadi sadar
dan berkata seorang diri sembari tertawa: "Ah, kenapa juga aku jadi begitu tolol? Dengan
menanyakan ayah dan ibu, segala apa tentu akan menjadi terang. Buat apa aku capaikan
pikiran?" Ia lantas masukkan kotak itu ke dalam sakunya dan terus mendaki gunung.
Sesudah lewat magrib, sang rembulan mulai naik dan mengintip dari antara sela-sela
puncak gunung. Di gunung itu juga terdapat satu sungai es, yang meskipun tidak seindah
sungai es pegunungan Nyenchin Dangla, toh sudah memberi suatu pemandangan yang
menggetarkan jiwanya Keng Thian. Bagaikan seekor naga perak, sungai es itu putari
lereng gunung dan dengan sinar es dan sinar rembulan yang saling menyoroti, keindahan
pemandangan alam itu benar-benar mempengaruhi orang yang sedang menanggung
rindu.
Mengingat Pengtjoan Thianlie, Keng Thian mendapat suatu perasaan yang sukar
dilukiskan dan tanpa merasa mulutnya ucapkan suatu syair:
"Sinar rembulan atas sungai es, dewi rembulan turun, bidadari menyebar bunga, sang
penyair datang.

Ah, walaupun bagaimana juga, aku akan undang dewi rembulan turun ke atas bumi."
Tiba-tiba, dari puncak gunung, sayup-sayup terdengar suara khim yang dibawa angin
masuk ke dalam kupingnya Keng Thian. Di antara suara tabuh-tabuhan yang merdu itu,
lapat-lapat terdengar suara nyanyian Yoe Peng:
Lilin pendek di belakang sekosol akan padam dalam sekejap. Bintang pagi kelak-kelik
akan segera mengundurkan diri, Sang bidadari menyesal sudah curi obat mustajab,
Lautan blau, langit biru, saban malam dipikiri.
Nyanyian itu adalah berdasarkan Syair Dewi Rembulan, buah kalamnya Lie Sian Djin, satu
penyair dari ahala Tong. Ketika naik di keraton es, Keng Thian pernah petik baris terakhir
dari syair tersebut buat menggubah toeilian untuk namanya Yoe Peng. Mendengar sang
majikan mementil khim, sedang sang dayang nyanyikan syair tersebut, Keng Thian jadi
tertawa dan berkata dalam hatinya: "Ah, Konghan Siantjoe sekarang sudah ingin turun ke
dunia." Ia pentang langkahnya dan berlari-lari menuju ke arah suara khim itu.
Selagi enak lari, tiba-tiba saja ia dengar suara kresekan di sebelah depannya, pada jarak
belasan tombak, dan berbareng dengan itu, dua bayangan manusia yang pakai pakaian
hijau kelihatan berkelebat dengan gunakan ilmu entengi badan yang paling tinggi, yaitu
Tengpeng touwsoei (Menyeberangi sungai dengan menginjak rumput). Dengan ilmu
tersebut, mereka dapat berlari-lari di atas rumput-rumput yang tinggi. Di lain saat, kedua
orang itu sudah menghilang di antara pepohonan. Keng Thian terkejut, sebab ia dapat
kenyataan, bahwa ilmu entengi badannya kedua orang itu sedikitnya tidak berada di
sebelah bawah ia. Kenapa malam-malam mereka berada di gunung belukar itu?
Dengan cepat dan hati-hati Keng Thian menguntit dari belakang. Jauh-jauh ia lihat kedua
orang itu sedang mengumpat di antara alang-alang dan saling berbisik. Keng Thian
menghampiri lebih dekat dan tahan napasnya buat mendengari apa yang dibicarakan
oleh mereka.
"Aku dengar hari ini semua orang dari Utara barat pada turun tangan buat rampas guci
emas," demikian dengar suaranya seorang lelaki tua. "Tjiauw Tjoen Loei dan kawankawannya hampirhampir dapat malu besar, kalau tidak ditolong oleh Liong Loosam yang
keluarkan kepandaiannya, sehingga guci yang hilang dapat dirampas kembali. Dilihat
begitu, Liong Loosam benar-benar tidak boleh dipandang rendah."
Keng Thian tertawa dalam hatinya. Hal yang menarik perhatiannya, adalah disebutsebutnya nama Liong Leng Kiauw.
"Yah, memang juga mencurigakan," kata seorang perempuan. "Kenapa Liong Loosam
yang begitu tinggi kepandaiannya rela bekerja sebagai Tjamtjan di bawah perintahnya
Hok Kong An? Memang mencurigakan. Tak heran jika Hoei Tjongkoan minta kita keluar
buat selidiki asal-usulnya. Kiranya Hongsiang pun sudah merasa curiga."
Keng Thian sekarang mengerti, bahwa kedua orang itu adalah kaki tangannya keraton
Tjeng yang ilmu silatnya lebih tinggi dari delapan pengawal istana.
Beberapa saat kemudian, di atas gunung kembali terdengar suara khim dan kali ini, lagu
yang dimainkan berdasarkan sajak Souw Tong Po yang berbunyi seperti berikut:
Antara dahan pohon Tong mengintip sang rembulan.
Larut malam, keadaaan penuh dengan kesunyian.
Kadang-kadang terlihat orang pertapaan mundar-mandir sendirian.

Atau sang burung Hong yang melayang-layang tanpa juntrungan.


Dalam kagetnya, sang burung menengok ke belakang.
Hatinya sedih, tiada manusia mengetahui perasaannya.
Mencari-cari, belum juga dapat sang cabang.
Lebih baik menclok di pulau mencil dengan air di seputarnya.
Arti sajak yang mengharukan membikin suara khim penuh dengan kesedihan, sehingga
Keng Thian jadi terpesona.
"Besok malam kita sudah mesti tiba di Lhasa, tapi kau mau juga dengari orang main
khim," kata si wanita. "Apakah maksudmu yang sebenarnya?"
"Aku dengar hari ini ada seorang wanita yang bantu turun tangan," sahut yang lelaki.
"Mungkin sekali, yang dimaksudkan adalah orang yang sedang mementil khim. Sudah
ketelanjur lewat disini, kita tidak boleh tidak menyelidiki."
"Hm!" kata si wanita dengan suara di hidung. "Kalau yang pentil khim segala lelaki bau,
kau tentu tidak kesudian naik kesini!"
Cara bicaranya kedua orang itu yang mengunjuk, bahwa mereka adalah suami isteri,
sudah membikin Keng Thian jadi terkejut. "Di daerah perbatasan sebelah barat, suami
isteri kenamaan yang berusia seperti mereka, kecuali lethio dan Iebo (Lie Tie dan Phang
Lin) dan ayah ibuku, cuma ada pasangan In Leng Tjoe dari Lengsan pay di Tjenghay," kata
ia dalam hatinya. "Apakah mereka itu benar-benar suami isteri In Leng Tjoe yang sudah
kena ditarik oleh bangsa Boan?"
"Ah, kau orang apa!" si lelaki membentak. "Wanita yang sedang pentil khim itu, kalau
bukannya Pengtjoan Thianlie, tentulah juga seorang yang mempunyai asal-usul besar.
Sesudah menerima firmannya Hongsiang, kita harus bertindak secara hati-hati sekali.
Kebetulan lewat disini, tidak dapat tidak kita mesti menyelidiki sampai terang betul."
"Hongsiang perintah kau selidiki asal-usulnya Liong Loosam dan bukannya wanita itu,"
sahut si wanita dengan suara berdongkol.
"Liong Loosam sekarang sedang repot melindungi guci emas dan tentu tak duga diamdiam ada orang yang incar padanya," kata yang lelaki dengan suara membujuk. "Begitu
tiba di Lhasa, kita tentu akan berhasil. Apalagi Lootoa sudah mendahului kita. Sudahlah,
kau tak usah kuatir. Aku rasa perlu kita tengok wanita itu, mungkin sekali kita dapat
beberapa keterangan penting tentang Liong Loosam dari mulutnya." Sehabis berkata
begitu, ia lantas loncat keluar dari tempat sembunyinya, diikuti oleh si wanita.
Pengtjoan Thianlie yang sudah mulai berdongkol lantaran sehabis mainkan dua lagu, Keng
Thian belum juga kelihatan muncul, merasa terkejut melihat munculnya sepasang lelaki
dan perempuan yang beroman jelek sekali. Yang lelaki nyengir-nyengir sembari
perlihatkan giginya yang tonggos, sehingga si nona jadi gusar sekali.
Melihat kecantikannya Pengtjoan Thianlie dan lagak suaminya, si wanita naik darahnya
dan lantas menanya dengan suara kaku: "Hei! Apakah kau yang hari ini membantu Liong
Loosam melindungi guci emas?"
Pengtjoan Thianlie tertawa tawar dan membentak: "Anjing! Berani betul kau orang curi
dengar aku mementil khim! Hayo, menggelinding turun dari sini!" Berbareng dengan
bentakan itu, ia ayun tangannya dan dua butir Pengpok Sintan lantas menyambar.

Sesuai dengan dugaannya Keng Thian, mereka itu memang juga adalah suami isteri In
Leng Tjoe. Sebagai pemimpin dari suatu partai, mereka tentu tidak dapat menerima
hinaan. Tapi belum sempat turun tangan, mereka sudah rasakan menyambarnya hawa
yang sangat dingin, sehingga mereka jadi terkejut dan buru-buru tutup semua jalanan
darahnya, tapi meskipun begitu, mereka toh masih bergidik juga.
Melihat dua pelurunya tak dapat robohkan mereka, Pengtjoan Thianlie merasa agak kaget
dan segera lepaskan lagi dua butir Pengpok Sintan dengan gunakan tenaga dalam yang
lebih besar. In Leng Tjoe kelit dan Sintan meledak di pinggir badannya. Isterinya, yang
lebih sebet, sudah buka ikatan pinggangnya yang digunakan buat gulung Sintan yang
satunya lagi. Dengan sekali kedut Pengpok Sintan meledak di dalam ikatan pinggang,
yang segera digunakan sebagai pian lemas (djoanpian) buat menghantam Pengtjoan
Thianlie.
Pengtjoan Thianlie juga lantas buka ikatan pinggangnya, yang, bagaikan seekor naga,
papaki ikatan pinggangnya musuh. Di lain saat, kedua ikatan pinggang sudah
menyambar-nyambar di tengah udara dengan kecepatan kilat, sehingga memberi
pemandangan yang indah sekali.
"Apakah kau bukan Pengtjoan Thianlie?" membentak In Leng Tjoe.
"Kau sudah tahu aku siapa, kenapa tak mau buru-buru menggelinding dari sini," sahut si
nona.
"Biarpun kau benar-benar bidadari dari atas langit, aku toh mau jajal-jajal dahulu
kepandaianmu," kata In Leng Tjoe sembari tertawa tawar. Ia lantas cabut sepasang
Poankoan pit (senjata yang merupakan pit) dari pinggangnya dan coba totok dua jalanan
darah di bebokongnya Pengtjoan Thianlie.
Sambaran Poankoan pit yang disertai dengan tenaga dalam yang hebat, sudah membikin
Pengtjoan Thianlie jadi terkesiap. Ia tak duga, si lelaki yang mukanya jelek itu adalah ahli
menotok jalanan darah. Lantaran begitu, ia tidak berani memandang enteng lagi
lawannya dan sembari putar badan, ia cabut Pengpok Hankong kiam. In Leng Tjoe
rangkap kedua senjata yang lantas diacungkan buat papaki
Hankong kiam dengan gerakan Hoenka kimliang (Menunjang penglari emas). Dengan
latihan puluhan tahun, sambaran Poankoan pit itu mempunyai tenaga ribuan kati dan In
Leng Tjoe menduga, bahwa dengan sekali bentur saja, ia akan dapat patahkan pedangnya
Pengtjoan Thianlie. Tapi si jelita yang gerakannya luar biasa gesit sudah egos pedangnya
dan berbareng dengan berkelebatnya sang pedang, In Leng Tjoe kembali bergidik
lantaran sambaran hawa dingin. Di lain saat, dengan beruntun Pengtjoan Thianlie kirim
tiga serangan, sehingga dari menyerang, In Leng Tjoe berbalik harus membela diri.
Dengan kedua kaki menginjak kedudukan Patkwa, ia terpaksa mundur, tapi Poankoan pitnya sudah tutup rapat seluruh badannya dan ujung senjata itu terus bayangi jalanan
darah musuhnya yang dapat ditotok begitu lekas ada kesempatan.
Ilmu silat isterinya In Leng Tjoe, yang bernama San Tjeng Nio, tidak berada di sebelah
bawah suaminya. Melihat liehaynya sang lawan, buru-buru ia kedut ikatan pinggangnya
yang lantas jadi lempang bagaikan pit dan mulai bersilat dengan ilmu Hoeiliong Pianhoat
(Ilmu silat pian naga terbang). San Tjeng Nio adalah ahli Djioekang (Ilmu silat lembek)
dari Bittjong pay di Tibet. Dengan "kelemasan," ia dapat tindih "kekerasan" dan dengan
ilmu itu yang mempunyai delapan rupa jalan, ikatan pinggangnya bukan saja dapat
mainkan peranan beberapa macam senjata, tapi juga dapat digunakan buat merebut
senjata musuh. Dibanding dengan djoanpian biasa, ikatan pinggang tersebut lebih liehay
ratusan kali lipat.

Oleh karena harus layani dua lawanan berat, pembelaan ikatan pinggangnya Pengtjoan
Thianlie jadi kurang rapat. Melihat kesempatan itu, San Tjeng Nio segera kedut
senjatanya, yang seperti seekor ular terbang, lantas menyambar ke arah matanya musuh.
Dalam keadaan terdesak, Pengtjoan Thianlie terpaksa gunakan Pengpok Hankong kiam
buat menyabet dua kali ke kanan dengan gerakan Soathoa lioktjoet (Kembang salju
berhamburan ke enam penjuru), ke kiri dengan gerakan Kisoei lengpeng (Air membeku
jadi es) dan dua serangan itu berubah jadi delapan rupa serangan yang menyambarnyambar secara berantai. San Tjeng Nio tidak berani terlalu mendesak, buru-buru ia tarik
pulang ikatan pinggangnya buat lindungi diri.
Baru saja singkirkan gencatan si isteri, sang suami sudah mendesak dengan kedua
senjatanya yang makin lama jadi makin hebat menyerangnya, sehingga Pengtjoan
Thianlie jadi tidak mempunyai kesempatan lagi buat lakukan serangan membalas.
Dalam tempo sekejap, mereka sudah bertempur kurang lebih lima puluh jurus. Kedua
belah pihak sama-sama merasa kaget dan heran. In Leng Tjoe suami isteri adalah jagoan
kelas berat yang sudah dapat nama lama sekali di daerah perbatasan barat, maka dapat
dimengerti, jika mereka merasa kaget melihat tangguhnya Pengtjoan Thianlie yang tidak
dapat dijatuhkan biarpun dikerubuti berdua. Di lain pihak, si nona juga tidak kurang
kagetnya sebab ilmu pedangnya yang begitu liehay masih juga belum dapat robohkan
dua lawanan itu.
Keng Thian yang mengintip dari belakang batu, terus mengawasi jalannya pertempuran
dengan mata tidak berkesip. Ia lihat, makin lama serangan In Leng Tjoe suami isteri jadi
makin hebat. Sesuatu sambaran Poankoan pit ditujukan kepada jalanan darah, sedang
ikatan pinggangnya San Tjeng Nio selalu siap sedia buat masuk ke tempat kosong.
Demikianlah, perlahan-lahan Pengtjoan Thianlie jadi berada di bawah angin. Tapi, berkat
ilmu silatnya yang luar biasa, setiap kali keteter, muncullah pukulan-pukulannya yang
aneh, yang tak dikenal oleh In Leng Tjoe suami isteri, sehingga, walaupun sudah berada
di atas angin, mereka selalu mesti berlaku sangat hati-hati buat menjaga seranganserangan yang tidak diduga-duga.
Keng Thian tumplek seluruh perhatiannya dan diam-diam coba meraba-raba ilmu
pedangnya Pengtjoan Thianlie. "Ah," ia menghela napas. "Tadinya aku kira Thiansan
Kiamhoat adalah ilmu pedang yang tiada keduanya dalam dunia. Tapi sekarang aku dapat
kenyataan, banyak pukulannya Pengtjoan Thianlie yang lebih unggul daripada ilmu
pedang Thiansan. Benar-benar pelajaran tidak ada batasnya."
Jika mau dirundingkan soal ilmu pedang, ilmu pedangnya Pengtjoan Thianlie memang
sedikit lebih unggul dalam hal keanehannya dan perobahan-perobahannya yang luar
biasa. Akan tetapi, mengenai luasnya, dalamnya dan teguhnya, kiamhoat-nya si jelita
masih belum dapat menyusul Thiansan Kiamhoat. Jika bertemu dengan lawan yang ilmu
silatnya lebih tinggi, seorang ahli Thiansan Kiamhoat masih dapat membela diri dengan
penjagaannya yang sangat rapat. Di lain pihak, kiamhoat-nya Pengtjoan Thianlie ada lebih
liehay dalam penyerangan, tapi masih kurang sempurna dalam pembelaan diri, jika
bertemu dengan lawanan yang lebih kuat.
Ilmunya suami isteri In Leng Tjoe adalah kira-kira sctanding dengan si pendeta berkelana
dan Liong Leng Kiauw. Jika satu lawan satu, dalam seratus jurus, ia tentu roboh dalam
tangannya Pengtjoan Thianlie. Akan tetapi dengan mengerubuti, kedudukannya suami
isteri itu jadi terlebih unggul. Cuma saja, berkat kiamhoat-nya si nona yang luar biasa dan
ditambah lagi sama Pengpok Hankong kiam yang istimewa, maka buat sementara mereka
masih belum dapat menarik keuntungan dari keunggulan itu.
Dengan perlahan, sang rembulan sudah mulai doyong ke barat. Sesudah bertempur
kurang lebih seratus jurus, Pengtjoan Thianlie mulai merasa lelah dan napasnya jadi
sedikit sengal-sengal. "Kenapa si pemuda baju putih belum juga datang?" ia tanya dalam

hatinya yang mulai jadi jengkel, sehingga tidak dapat pusatkan lagi Seantero
perhatiannya kepada pertempuran yang sedang berlangsung dengan hebatnya.
In Leng Tjoe suami isteri adalah orang-orang yang sudah kawakan dalam pertempuran.
Begitu lihat kesempatan, mereka lalu mendesak semakin hebat. Sepasang Poankoan pit In
Leng Tjoe terus tindih pedangnya si nona buat cegah ia keluarkan pukulan-pukulannya
yang aneh, sedang ikatan pinggangnya San Tjeng Nio terus menyambar-nyambar ke
bagian-bagian yang agak lowong. Yoe Peng yang sedari tadi menonton, dengan sikap
acuh tak acuh, sekarang mulai kuatirkan keselamatan majikannya.
Sekonyong-konyong dengan gerakan Lioeseng poengoat (Bintang sapu mengubar bulan),
kedua Poankoan pit menyambar ke arah kepalanya Pengtjoan Thianlie, dan hampir
berbareng, ikatan pinggangnya San Tjeng Nio melesat ke garisan dalam dari pembelaan
si nona. Saat itu, pedangnya Pengtjoan Thianlie yang sedang digunakan di garisan luar
buat tangkis Poankoan pit, sudah tidak keburu ditarik pulang guna singkirkan
sambarannya ikatan pinggang. Yoe Peng terkesiap dan keluarkan satu teriakan: "Celaka!"
Pada detik itulah, Pengtjoan Thianlie keluarkan pukulan yang benar-benar istimewa.
Dengan sekali getarkan gagang pedangnya, begitu bentur Poankoan pit musuh, dari
Pengpok Hankong kiam seperti juga terbang keluar ratusan "kembang pedang" yang
sinarnya bergemilapan dan menyilaukan mata. Satu batang pedang itu seakan-akan
berobah jadi ratusan batang pedang. Inilah pukulan Pengho kaytang (Sungai es melumer),
yaitu pukulan istimewa dari Pengtjoan Kiamhoat yang digunakan buat menolong diri
dalam bahaya. Ketika itu, jika In Leng Tjoe teruskan juga serangannya, batok kepalanya si
jelita memang bisa menjadi toblos, tapi mereka pun pasti bakal jadi korbannya Pengpok
Hankong kiam. Mereka berdua tidak berani berlaku mati-matian lantaran, pertama,
mereka tidak kenal ilmu pukulannya Pengtjoan Thianlie, ditambah sama silaunya sang
mata lantaran sinar Hankong kiam sehingga mereka tidak dapat lihat tegas badannya
musuh, dan kedua, sebagai ahli-ahli kawakan dalam Rimba Persilatan, mereka selalu taat
pada nasehat yang berbunyi: Sebelum menghitung kemenangan, hitunglah kekalahan.
Demikianlah buru-buru mereka tarik pulang senjatanya dan tutup rapat dirinya. Pada saat
itulah, dari belakang batu besar keluar satu teriakan: "Bagus!" yang keluar dari mulutnya
Tong Keng Thian. In Leng Tjoe dan isterinya terkesiap. Sembari pentang senjatanya, In
Leng Tjoe membentak dengan suara keras: "Lengsan pay In Leng Tjoe ada disini. Sahabat,
keluarlah buat menemui aku."
In Leng Tjoe adalah seorang yang sudah dapat nama besar lama sekali di daerah
perbatasan sebelah barat dan dengan perkenalkan dirinya, ia berharap, orang yang
sembunyi akan merasa jeri. Tapi tak dinyana, baru ia tutup mulutnya, dua sinar terang
menyambar dan kedua senjatanya kena terpukul miring, sehingga garisan pembelaannya
jadi terbuka, dan berbareng dengan itu, Pengpok Hankong kiam sudah menerobos masuk
bagaikan kilat.
In Leng Tjoe terbang semangatnya. Matanya silau dan hawa dingin menyambar ke
uluhatinya, sehingga .ia tak dapat membela dirinya lagi. "Binasalah aku!" ia mengeluh.
Mendadakan terdengar suara terbesetnya kain dan sinar pedang berkelebat di atasan
kepalanya. Sebagai seorang yang tinggi ilmu silatnya, pada saat itulah, dengan gerakan
Yauwtjoe hoansin (Elang balik badannya), In Leng Tjoe jejak kedua kakinya dan badannya
melesat beberapa tombak, akan kemudian jatuh menggelinding ke bawah tanjakan.
Suara terbesetnya kain yang didengar oleh In Leng Tjoe muncul ketika ikatan
pinggangnya San Tjeng Nio dibabat putus dengan Hankong kiam. Barusan, melihat
suaminya berada dalam bahaya, San Tjeng Nio kerahkan tenaga dalamnya dan bagaikan
sebatang pedang, ikatan pinggangnya sambar kedua matanya Pengtjoan Thianlie, yang

lantas papaki dengan Hankong kiam. Oleh karena adanya pertolongan sang isteri, In Leng
Tjoe jadi dapat loloskan dirinya.
Sambil lempar ikatan pinggangnya yang sudah tinggal sepotong, San Tjeng Nio turut
loncat turun ke bawah tanjakan. Mereka menengok ke atas dan lihat Pengtjoan Thianlie
mau mengubar, tapi dicegah oleh seorang pemuda baju putih.
In Leng Tjoe cabut senjata rahasia yang menancap pada kedua senjatanya dan begitu
lihat, ia terkesiap. "Hei!" ia berseru. "Thiansan Tong Siauw Lan masih pernah apa dengan
kau?"
"Aku wakili ayah buat menanyakan keselamatannya kedua Lootjianpwee," sahut Keng
Thian. "Harap kedua Lootjianpwee sudi maafkan kekurang ajaranku."
In Leng Tjoe suami isteri saling mengawasi. Biar bagaimanapun juga, mereka belum
mempunyai nyali buat coba-coba bentur Tayhiap Tong Siauw Lan, apalagi ilmu silatnya si
pemuda sendiri sudah cukup tinggi dan dapat pukul miring kedua Poankoan pit dengan
Thiansan Sinbong. Di sebelahnya itu, mereka juga harus perhitungkan Pengtjoan Thianlie
yang terus mengawasi dengan mata beringas. Keringat dingin keluar dari dahinya In Leng
Tjoe. Tapi buat tutup perasaan malunya, ia membentak dengan suara keras: "Baiklah! Aku
sungkan berurusan sama segala bocah. Aku akan bikin perhitungan dengan ayahmu
sendiri!"
Pengtjoan Thianlie tertawa tawar dan berkata: "Penjahat gundul! Kau masih berani
banyak bacot? Apa kau mau rasakan lagi pedangku?"
Mendengar perkataan "penjahat gundul," In Leng Tjoe terkejut dan lantas raba kepalanya.
Hatinya mencelos sebab ia dapat kenyataan, rambutnya sudah kelimis dan tanpa berani
mengeluarkan sepatah kata lagi, ia tarik tangan isterinya dan menyingkir secepat bisa.
"Dua bangsat itu sudah berani curi dengar suara khim-ku, biarpun senjatanya sudah
diputuskan dan rambutnya dipapas, hatiku rasanya belum merasa puas," berkata
Pengtjoan Thianlie dengan suara mendongkol.
"Dalam dunia ini masih banyak orang-orang yang terlebih jahat daripada mereka," kata
Keng Thian sembari tertawa. "Mana boleh kau selalu turuti napsu amarahmu."
Lewat beberapa saat, Keng Thian berkata pula sembari tertawa: "Apakah kau mementil
khim hanya untuk didengar olehku? Sungguh sayang aku bukannya Pek Gee (Djie Pek
Gee, seorang ahli khim dari jaman Liatkok), sehingga tidak mengetahui dimana adanya
hati tetabuhan tersebut."
Mukanya si jelita lantas saja bersemu dadu. "Cis" katanya. "Siapa yang pentil khim untuk
kau? Eh, apa kau mau adu pedang lagi?"
"Tak usah," sahut Keng Thian. "Barusan aku sudah saksikan kepandaianmu yang sejati
dan benar-benar tinggi sekali. Aku sekarang mengaku kalah."
"Aku paling benci orang yang bicara lain, hatinya lain," kata lagi si nona. "Dalam hati, kau
tentu kata: "Kepandaiannya Pengtjoan Thianlie cuma sebegitu saja? Mana bisa
menangkan Thiansan Kiamhoat?"
Keng Thian jadi tertawa keras. "Ah!" katanya. "Kalau begitu kau mempunyai ilmu
membaca hati orang! Tapi, kali ini kau membaca salah. Barusan hatiku kata: "Kiamhoatnya Pengtjoan Thianlie benar-benar liehay. Dalam tiga sampai lima tahun, aku belum
dapat menangkan dia."

Pengtjoan Thianlie menghela napas, sebab dalam hatinya, ia justru sedang pikir apa yang
dikatakan oleh Keng Thian. Sesudah meneliti ilmunya si pemuda, ia merasa, bahwa
meskipun tak usah kalah, akan tetapi buat bisa dapat jatuhkan Keng Thian, paling
sedikitnya ia harus berlatih antara tiga sampai lima tahun lagi. Dan ia merasa tercengang,
sebab apa yang lagi dipikir sudah dikatakan oleh Keng Thian.
"Kenapa tarik napas?" tanya Keng Thian.
Si nona tak menyahut. Lewat beberapa saat mendadak ia berkata: "Kalau begitu, kau
adalah puteranya Thiansan Tong Tayhiap."
"Sekarang kita sama-sama sudah mengetahui asal-usul masing-masing dan kita
sebenarnya bukan orang luar," kata Keng Thian. "Ayahku mempunyai matan buat satu
tempo kumpulkan semua turunan dan murid-muridnya Thiansan Tjitkiam. Jika niatan itu
terwujud, aku akan ajak kau, supaya dapat berkenalan dengan sahabat-sahabatnya
mendiang ayahmu."
Mendengar itu, parasnya Pengtjoan Thianlie segera jadi berobah. "Ayahku sudah
singkirkan diri ke daerah perbatasan dan sedari dahulu ia sudah tidak anggap dirinya
sebagai orang Thiansan pay," katanya. "Cara bagaimana aku dapat hadiri pertemuan itu?"
Keng Thian terkejut, ia tak mengerti, kenapa si nona boleh keluarkan perkataan begitu.
Tapi ia lihat Pengtjoan Thianlie bicara dengan sungguh-sungguh, sehingga ia tak menanya
apa-apa lagi.
Keng Thian tidak mengetahui, bahwa ayahnya si nona, yaitu Koei Hoa Seng, dahulu justru
pernah dijatuhkan oleh ayah ibunya sendiri. Dengan perasaan mendongkol, Koei Tayhiap
pergi ke lain negara dengan tujuan mempelajari ilmu pedang daerah sebelah barat guna
digabung dengan ilmu pedangnya sendiri, supaya bisa menggubah serupa ilmu pedang
yang lebih unggul dari Thiansan Kiamhoat.
Kedua matanya Pengtjoan Thianlie mengawasi ke arah jauh, seakan-akan ia sedang
berpikir keras. Beberapa saat kemudian, ia berkata dengan suara agak terharu:
"Berjodoh, manusia berkumpul. Jodoh habis, berpisah kembali. Satu kali kau pernah naik
ke atas Puncak Es dan aku telah membalas budi dengan ambil pulang guci emas. Dengan
demikian, kita sudah rampungkan sekelumit lelakon hidup ini. Kita tak usah adu pedang
lagi dan biarlah kita berpisahan sebagai sahabat."
Nepal adalah satu negara yang banyak kena pengaruhnya agama Budha, sehingga
sebagai seorang Puteri Nepal, Pengtjoan Thianlie pun kena pengaruh agama tersebut.
Keng Thian tercengang mendengar kata-kata itu dan buat beberapa saat, ia tak dapat
membuka suara.
"Puncak Es sudah roboh dan kau sendiri sudah masuk lagi ke dalam dunia pergaulan,"
berkata Keng Thian sembari mesem. "Apakah jodoh dalam dunia dapat berakhir dengan
begitu saja? Meskipun keraton es ada cukup indah, akan tetapi dingin dan sunyi.
Andaikata benar-benar di belakang hari kau bisa jadi seorang bidadari, paling banyak kau
jadi seperti bidadari dari rembulan. Dan sebagaimana kau mengetahui, bidadari rembulan
saja masih kadang-kadang merasa kesepian, masih saban malam pikiri lautan blau dan
langit biru! Apakah, selainnya keraton es, dalam dunia sudah tidak ada lain tempat yang
cocok bagi dirimu?"
Hatinya Pengtjoan Thianlie bergoncang keras, sehingga dadanya turun naik terlebih
cepat. Ia angkat kepalanya dan mengawasi si pemuda, yang dengan pakaiannya yang
serba putih dan parasnya yang cakap sekali, kelihatan angker dan agung di bawahnya
sinar rembulan yang laksana perak. Ketika itu, Keng Thian pun sedang mengawasi ia
dengan sorot matanya yang bening, sehingga dua pasang mata segera kebentrok. Paras

mukanya Pengtjoan Thianlie kembali bersemu dadu dan pikirannya jadi semakin kusut.
Hatinya merasa berat, akan tetapi, ia sendiri tidak mengetahui, apa yang dibuat berat.
Apakah keindahan dunia? Apakah pemuda itu dengan kata-katanya dan cara-caranya
yang sangat menarik hati? Tapi, bukankah pemuda itu adalah seorang, dengan siapa ia
harus ukur tenaga supaya tidak sia-siakan capai lelah ayahnya sendiri? Mengingat begitu,
si nona rasakan kepalanya pusing.
"Apakah kau tidak mau pergi ketemui kedua pamanmu?" tanya Keng Thian mendadakan.
"Yang satu berada di Soetjoan, sedang , yang lain di Ouwpak. Puluhan tahun mereka pikiri
ayahmu dan pesan banyak sahabatnya buat bantu mencari. Gurunya Thian Oe, yaitu
Thiekoay sian, yang juga pernah terima pesanan begitu, sudah naik ke atas Puncak Es
tanpa perdulikan bahaya, sehingga akhirnya ia mesti membuang jiwa di dalam keraton
es. Apakah sesudah mengetahui itu, hatimu sedikitpun tidak jadi tergerak?"
"Apa? Thiekoay sian mati di keraton es?" tanya si nona dengan suara terkejut.
"Benar," menyeletuk Yoe Peng. "Guna melindungi keraton es, Thiekoay sian telah binasa
dalam tangannya si pendeta jubah merah." Si dayang lalu tuturkan segala apa yang ia
dapat dengar dari Thian Oe, mengenai kebinasaannya Thiekoay sian.
Mendengar penuturan itu, Pengtjoan Thianlie jadi merasa jengah. Ia ingat budinya
Thiekoay sian suami isteri yang sudah begitu sudi gawe buat mendaki Puncak Es, guna
kepentingan lain orang, sehingga akhirnya sang suami harus membuang jiwa secara
kecewa sekali.
"Jika kedua pamanmu mengetahui, mereka mempunyai satu keponakan yang begitu
pintar, mereka tentulah juga akan merasa girang sekali," Keng Thian teruskan
bujukannya. "Apa benarbenar kau tidak kepengen menemui pamili di Tiongkok?"
"Aku tak tahu dimana mereka tinggal, bagaimana bisa mencarinya?" kata Pengtjoan
Thianlie akhir-akhir.
Melihat si nona sudah tergerak hatinya, Keng Thian jadi girang sekali. "Itulah, jodoh kita
memang belum habis dan kita tidak dapat lantas berpisahan," katanya. "Biarlah aku antar
kau pergi cari kedua pamanmu itu. Lebih dahulu kita pergi cari ke Soetjoan barat buat cari
Moh Tjoan Seng Tayhiap dan sesudah itu, baru kita mendaki Boetong san buat menemui
Tjio Kong Seng Tayhiap."
Mukanya si nona jadi merah lantaran kemalu-maluan. Ia berdiri bengong buat beberapa
saat dan kemudian berkata dengan suara perlahan: "Baiklah. Kapan kita berangkat?"
"Pada sebelum aku antar kau cari kedua pamanmu, lebih dahulu kau harus kawani aku
pergi cari seorang lain," sahut Keng Thian.
"Siapa? Apa jauh?" tanya si nona.
"Orang yang aku mau cari adalah Liong Leng Kiauw," menerangkan Keng Thian "Sekarang
kita pergi dahulu ke Lhasa. Perjalanan itu tidak meminta tempo terlalu lama."
"Guci emas toh sudah dipulangkan, buat apa cari ia lagi?" tanya Pengtjoan Thianlie.
"Asal-usulnya Liong Leng Kiauw sangat mencurigakan," kata Keng Thian. "Apa kau tahu,
maksud kedatangan suami isteri In Leng Tjoe adalah buat menyusahkan padanya?"
Sesudah itu, ia lalu tuturkan segala apa yang ia dengar dari mulutnya kedua suami isteri
tersebut. "Ilmu silatnya suami isteri In Leng Tjoe adalah lebih tinggi dari delapan
pengawal istana," Keng Thian sambung penuturannya. "Tapi sebaliknya dari perintah
mereka lindungi guci emas, kaizar Boan suruh mereka pergi menyelidiki asal-usulnya

Liong Loosam. Dari sini dapat dilihat, bahwa di matanya kaizar, pentingnya penyelidikan
itu tidak kalah dari pentingnya guci emas. Itulah sebabnya kenapa aku merasa perlu buat
coba pecahkan teka-teki itu."
"Ah, kau memang sangat usilan!" kata si nona sembari kerutkan alisnya.
"Biarpun kau tak sudi, tapi kali ini toh kau harus antarkan aku," kata Keng Thian sembari
tertawa.
"Kenapa?" tanya Pengtjoan Thianlie.
"Supaya kita sama-sama tak usah menanggung budi," sahut Keng Thian. "Jika dikemudian
hari, kau kebetulan ingin adu pedang lagi denganku, kau jadi bisa buka mulut tanpa
sungkan-sungkan lagi!"
"Cis" membentak si nona sembari tertawa. "Kau benar jail. Baiklah, aku luluskan
permintaanmu."
Demikianlah mereka bertiga lantas berangkat dan tiba di Lhasa pada malaman Tahun
Baru. Ketika itu, ibukota Tibet, sedang berada dalam suasana pesta. Jalanan-jalanan
penuh dengan rakyat yang keluar buat saksikan keramaian, rumah-rumah pasang lampu
terang-terang dan di segala tempat terlihat menguleknya asap hio yang dibakar tak hentihentinya. Pusatnya keramaian terletak di sekitar Kelenteng Thaytjiauw sie yang dipajang
indah sekali dengan lampu-lampu yang beraneka warna. Gelombang manusia semuanya
mengalir ke kelenteng tersebut yang sudah jadi penuh sesak dengan rakyat yang bersuka
ria --ada yang sembahyang, ada yang menari-nari di tengah jalan atau menyanyi sekeras
suara.
"Sekali ini kaizar Boan telah bertindak secara tepat sekali," kata Keng Thian dalam
hatinya. "Dengan mengirim guci emas, pemerintahan keagamaan di Tibet jadi berada di
bawah pimpinan langsung dari pemerintah pusat di Pakkhia, sehingga Tiongkok dan Tibet
tak dapat dipisahkan lagi. Tak heran kalau rakyat jadi begitu girang." Dalam kepuasannya,
si pemuda merasa sedikit menyesal, bahwa mereka datang terlambat sedikit sehingga
tidak dapat saksikan upacara penyambutan guci emas yang tiba di Lhasa pada siang
harinya.
Sesudah lihat-lihat keramaian buat sementara waktu, mereka bertiga lalu menuju ke
lapangan yang terletak di bawahnya Keraton Potala. Sesudah lewati lapangan tersebut,
mereka tiba pada satu daerah pegunungan di sebelah utara Gunung Anggur. Mereka terus
mendaki satu tanjakan, di atas mana berdiri sebuah rumah yang berbentuk bundar dan
terkurung tembok, yaitu rumahnya Liong Leng Kiauw. Sesudah pesan supaya Yoe Peng
tunggu di lapangan di kaki gunung, bersama Pengtjoan Thianlie, dengan gunakan ilmu
entengi badan, Keng Thian segera masuk ke dalam pekarangan dengan loncati tembok.
Keadaan disitu sangat sunyi, mungkin para penghuninya pada pergi nonton keramaian.
Waktu tiba di dekat kamar tulisnya Liong Sam, kuping mereka mendadak dengar suara
tindakan orang yang jalan mundar-mandir di dalam kamar tersebut. Mereka segera loncat
ke atas payon rumah dan sembari cantelkan kaki kepada payon, mereka mengintip ke
dalam. Ilmu entengi badannya Pengtjoan Thianlie dan Tong Keng Thian boleh dibilang
sudah mencapai puncak kesempurnaan, sehingga walaupun Liong Leng Kiauw berilmu
tinggi, ia masih belum mengetahui kedatangannya kedua tetamu tersebut.
Di dalam kamar, tuan rumah kelihatan jalan mundar-mandir tak hentinya, dengan paras
muka yang sangat guram. Keng Thian merasa sangat heran kenapa, sesudah guci emas
berada dalam Gereja Besar, Leng Kiauw masih kelihatan begitu bersusah hati.

Sekonyong-konyong dari sebelah luar kedengaran suara tindakan orang Buru-buru


Pengtjoan Thianlie dan Keng Thian naik ke atas dan mengumpat di pancoran air. Tirai
disingkap dan seorang yang tinggi kurus kelihatan masuk ke dalam. Ia itu adalah Gan Lok,
soetee-nya Liong Sam, yang pernah curi pedangnya Yoe Peng.
"Soetee belum tidur!" tanya Leng Kiauw sembari menghela napas.
"Selama setengah bulan, aku sangat kuatirkan keselamatan soeheng, tapi sekarang aku
dapat bernapas lega," sahutnya.
Leng Kiauw meringis dan berkata: "Sesudah tibanya guci emas, urusan kita justru baru
mulai main!"
"Menurut pendapatku, lebih baik kita singkirkan diri dahulu buat sementara waktu," kata
Gan Lok.
"Apa kau takut?" tanya sang soeheng.
"Bukannya takut," jawabnya. "Cuma dalam beberapa hari, aku seperti dapat firasat,
bahwa rahasia kita sudah diketahui orang."
"Hok Tayswee sama sekali tidak merasa curiga," menghibur Leng Kiauw. "Kau tak usah
pikir yang tidak-tidak."
Gan Lok diam, mulutnya bergerak, tapi ia tidak jadi bicara.
"Belasan tahun lamanya kita mengumpat di gedungnya pembesar negeri," kata pula
Liong Leng Kiauw. "Buat apa? Sekarang kita sudah mempunyai dasar yang kuat, dan di
sebelahnya itu, sesuai sama rencanaku, kita sudah dapat menyambut guci emas dengan
selamat. Mulai dari sekarang, Hok Tayswee akan lebih perlu sama tenaga kita. Andaikata
sampai timbul badai, aku rasa kita masih dapat lewati dengan selamat. Kau takut apa?"
"Aku harap saja begitu," kata sang soetee dengan paras lesu.
"Aku perintah kau adakan hubungan dengan berbagai Touwsoe, apa jalannya urusan
cukup licin?" tanya Leng Kiauw.
"Boleh juga," sahutnya.
"Dalam gedung Tayswee ada aku. Kali ini kita harus bertindak," kata lagi Leng Kiauw.
"Dalam gedung Tayswee besok bakal diadakan pertemuan Tahun Baru, sembari memberi
hadiah kepada perwira dan serdadu yang berjasa," kata Gan Lok. "Soeheng, baik kau
pergi tidur."
"Dan kau?" tanya Leng Kiauw.
"Dalam pertemuan besok, soeheng pegang peranan terutama, sedang aku cuma ambil
peranan pembantu, sehingga datang terlambat masih tidak apa," kata sang soetee. "Aku
masih mau pergi meronda."
Leng Kiauw tertawa dan berkata: "Kau memang terlalu hati-hati. Apa sekiranya masih ada
orang yang berani datang disini?"
"Apa soeheng lupa kejadian bulan yang lalu?" Gan Lok balas menanya.

"Dalam dunia ada berapa Pengtjoan Thianlie?" kata Leng Kiauw. "Selainnya itu, Pengtjoan
Thianlie pun tidak mengandung maksud jahat."
"Biarpun begitu, aku rasa lebih hati-hati ada lebih baik," kata Gan Lok yang lantas berlalu
sesudah ucapkan selamat tidur.
Sesudah mendengar pembicaraan antara kedua saudara seperguruan itu, hatinya Tong
Keng Thian jadi semakin bimbang. Pekerjaan apakah yang mau dilakukan oleh Liong Leng
Kiauw? Siapa sebenarnya dia? Selagi hatinya bersangsi, mendadak tuan rumah
menggerendeng seorang diri: "Balik bumi, gulung langit adalah pekerjaanku. Ha, ha!
Dengan sampainya guci emas, tibalah temponya buat memperlihatkan kesaktianku!"
Keng Thian terkesiap. "Liong Loosam benar temberang!" katanya di dalam hati. "Apa ia
mau berontak? Tapi, di tempat ini dan dalam tempo begini, manalah bisa berontak?"
Keng Thian sangsi sekali, ia tak dapat ambil putusan, apakah baik loncat turun buat
menemui orang yang luar biasa itu. Mendadak, di sebelah kejauhan terdengar suara
teriakannya Gan Lok, yang seperti juga kena dipukul orang. Liong Leng Kiauw loncat dan
selagi mau singkap tirai, sedang suara teriakan masih berkumandang di dalam telinga,
tiba-tiba kedengaran suara tertawa menyeramkan. Tertawa itu, yang mula-mula terdengar
di tempat agak jauh, tahu-tahu sudah berada di depan rumah, dan dari sini dapat dilihat,
bahwa gerakannya orang yang tertawa sungguh luar biasa cepat, sehingga Pengtjoan
Thianlie dan Tong Keng Thian sendiri merasa sangat terkejut.
Walaupun ilmu silatnya Gan Lok masih kalah setingkat dari Liong Leng Kiauw, akan tetapi
ia sudah terhitung seorang ahli kelas satu. Bahwa dalam sekejap saja, ia sudah dapat
dirobohkan, merupakan suatu petunjuk, bahwa ia sudah bertemu dengan musuh yang
bukan main liehaynya.
Saat itu, dalam tangannya, Keng Thian cekal dua batang Thiansan Sinbong, sedang
Pengtjoan Thianlie genggam dua butir Pengpok Sintan, siap sedia buat menimpuk
sembarang waktu. Keng Thian kedipi matanya, supaya si nona suka bersabar buat
sementara waktu.
Begitu tiba, orang itu lantas menerobos masuk dan berhadapan dengan Leng Kiauw yang
sedang mau singkap tirai. Beberapa sinar perak kelihatan menyambar dan orang itu
berseru: "Sungguh indah gerakan Patpie Lo Tjia Tjopo (Lo Tjia yang mempunyai delapan
tangan menangkap mustika). Apakah gurumu Tong Loodjie dari Soetjoan?"
Di bawahnya sinar rembulan yang remang-remang, orang itu kelihatan berbadan tinggi
kurus, mukanya dekok, kedua matanya berkilat seperti api, sedang rambutnya awutawutan, sehingga rupanya jadi menakuti sekali.
Tong Keng Thian heran. Senjata rahasia yang dilepaskan oleh tetamu malam itu, adalah
paku Samleng Touwkoet teng yang selalu digunakan buat timpuk jalanan darah musuh.
Tapi hal ini tidak mengherankan. Apa yang mengherankan adalah cara menyambut
senjata rahasia yang diperlihatkan oleh Liong Leng Kiauw, yang dengan sekali bergerak,
sudah dapat tangkap enam batang paku tersebut. Itulah ada gerakan istimewa dari
keluarga Tong di Soetjoan, yang terkenal sebagai ahli senjata rahasia yang kenamaan.
Keng Thian pernah dengar penuturan ayahnya, bahwa dalam keluarga Tong terdapat
seorang tertua bernama Tong Kim Hong, yang, sebagai putera kedua, jadi dikenal sebagai
Longsin Tong Loodjie. Dahulu, dengan gendewa dan peluru, nama Tong Loodjie pernah
menggetarkan seluruh dunia Kangouw. "Tong Loodjie" yang disebutkan oleh tetamu
malam itu, sudah tentu Tong Kim Hong adanya. Akan tetapi, jika masih hidup, waktu ini
Tong Kim Hong sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun. Apakah bisa jadi, Leng
Kiauw muridnya orang tua itu?

Liong Leng Kiauw rangkap kedua tangannya dan membungkuk, seraya menyahut secara
hormat sekali: "Benar. Ia adalah guruku. Apakah aku boleh tanya, ada urusan apa
Lootjianpwee datang kesini dan siapa adanya Lootjianpwee?"
Orang itu tertawa seram dan berkata: "Sepuluh tahun kau berada di luar Tiongkok.
Apakah masih belum tahu, siapa adanya aku?" Ia angkat kedua tangannya yang digoyang
beberapa kali di depan matanya Liong Sam. Kedua telapak tangan itu berwarna merah
bagaikan darah, seperti juga tidak berkulit lagi, dan di bawah sinar bulan, tangan itu
kelihatan terang sekali.
Bukan main terkejutnya Keng Thian.
"Ah, kalau begitu Hiatsintjoe Tjianpwee yang datang!" demikian terdengar suaranya Leng
Kiauw. "Harap sudi maafkan ketololan boanpwee (orang dari tingkatan lebih rendah) yang
sudah tidak menyambut dari tempat jauh."
Hiatsintjoe adalah satu memedi besar yang lama hidup mengumpat di daerah perbatasan
Tibet. Ilmu yang dipelajari olehnya ada sangat aneh. Ia keset kulit kedua kaki tangannya
yang kemudian direndam didalam cair dari macam-macam rumput beracun, sampai
akhirnya kaki tangannya berwarna merah darah. Siapa saja yang kena dilanggar kaki
tangan beracun itu, jangan harap bisa hidup terus. Jago-jago Kangouw pada umumnya
sangat segani ia dan kasih julukan Hiatsintjoe (Si Malaikat Darah) kepadanya. Namanya
yang sebenarnya tidak ada orang yang mengetahui.
Pada ketika Tong Siauw Lan (ayahnya Tong Keng Thian) mulai munculkan diri dalam
kalangan Kangouw, Hiatsintjoe sudah malang melintang di daerah Tiongkok Utara barat,
tapi kemudian, dengan mendadak, orang tak pernah dengar apa-apa lagi tentang dirinya.
Sepanjang warta, ia sembunyi sesudah kena dihajar oleh Bu Kheng Yao, salah seorang
pendekar wanita dari Thiansan Tjitkiam, akan tetapi, cara bagaimana dia dihajar, tak ada
seorang yang mengetahui terang. Sesudah Tong Siauw Lan undurkan diri dari pergaulan
umum dan hidup sembunyi di Thiansan, selama beberapa belas tahun beberapa antara
tujuh pendekar pedang itu meninggal dunia dengan beruntun, antaranya Liehiap Ie Lan
Tjoe dan Bu Kheng Yao sendiri. Sesudah itu, Hiatsintjoe barulah kelihatan muncul kembali
di dunia Kangouw. Satu waktu, ia pernah tantang Tong Siauw Lan buat adu silat, akan
tetapi Tong Tayhiap sungkan ladeni padanya, sehingga ia pun tak dapat berbuat suatu
apa. Siapa nyana, malam itu puteranya Tong Tayhiap dapat ketemui ia di rumahnya Liong
Leng Kiauw.
Hiatsintjoe tertawa terbahak-bahak dan berkata dengan suara angkuh: "Sesudah
mengetahui siapa adanya aku, kau sekarang harus turut segala perintahku. Pekerjaan apa
yang kau lakukan selama belasan tahun di Tibet, kau mesti tuturkan secara terus terang."
"Bilang belas tahun aku bekerja di bawah perintahnya Hok Tayswee," sahut Leng Kiauw
dengan suara sabar. "Segala pekerjaan yang dilakukan olehku, semuanya diketahui oleh
Hok Tayswee. Jika Lootjianpwee tidak percaya, pergilah tanyakan sendiri kepada Hok
Tayswee."
Hiatsintjoe tertawa dingin seraya berkata: "Apa kau mau takut-takuti aku dengan
namanya Hok Kong An? Kau bisa kelabui Hok Kong An, tapi tak dapat abui Thiantjoe (Anak
Langit, yaitu kaizar). Apakah kau rasa aku tak tahu, bahwa kau sembunyi disini dengan
gunakan nama samaran?"
Leng Kiauw terkejut, akan tetapi ia masih dapat pertahankan ketenangannya dan
menyahut dengan suara tetap: "Aku sungguh tak mengerti maksudnya Lootjianpwee. Aku
sama sekali tidak melanggar undang-undang negeri. Apa perlunya menggunakan nama
samaran?"

Dalam penyelidikannya, Hiatsintjoe mengetahui, bahwa Tong Kim Hong sudah meninggal
dunia pada beberapa belas tahun berselang dan bahwa Liong Leng Kiauw adalah
muridnya jago silat itu. Akan tetapi, ia masih belum dapat menyelidiki asal usulnya Liong
Leng Kiauw yang sebenarnya. Mendengar perkataan Liong Sam yang membikin ia jadi
tidak berdaya, hawa amarahnya mendadak naik dan ia tidak ingat lagi pesan Tjongkoan
istana buat bertindak secara hati-hati dalam penyelidikannya.
"Hm!" katanya dengan suara di hidung. "Pandai benar kau goyang lidah buat cuci bersih
dirimu! Baiklah, sekarang kau ikut saja padaku. Apa kau berdosa atau tidak, nanti ada
orang yang memutuskannya."
"Kalau begitu, Lootjianpwee harus minta permisi dahulu dari Hok Tayswee," kata Leng
Kiauw.
Hiatsintjoe lantas saja jadi gusar sekali. "Kau mau gunakan Hok Kong An sebagai tameng
pelindung?" ia membentak. "Belum tentu Hok Kong An bisa lindungi dirimu! Sekarang
pendek saja: Kau mau ikut atau tidak?"
"Boanpwee bukannya mau melawan perintah Lootjianpwee," sahut Leng Kiauw. "Cuma
saja berhubung dengan tugasku, aku tidak berani sembarangan berlalu dari sini."
"Segala pangkat yang tak ada artinya! Sembarang waktu bisa dicopot!" membentak
Hiatsintjoe.
"Walaupun dicopot, tapi toh harus ada surat pemecatan resmi atau atas perintahnya
Tayswee," kata Leng Kiauw lagi. "Menurut undang-undang kerajaan Tjeng, segala
pembesar negeri, tak perduli pangkat tinggi atau rendah, dilarang sembarangan
meninggalkan tugasnya, jika tidak ada perintah dari pihak atasannya. Dan justru oleh
karena pangkatku kecil, maka aku terlebih tidak berani sembarangan berlalu menurut
suka sendiri."
Darahnya Hiatsintjoe jadi naik tinggi. "Hm!" ia membentak. "Kau rupanya andali betul Hok
Tayswee-mu! Ini Hok Tayswee, itu Hok Tayswee! Aku tak perduli Hok Tayswee-mu atau
undangundangmu. Aku kasih tahu terang-terangan: Jika malam ini kau tidak ikut aku, kau
sendirilah yang sengaja mencari susah!"
"Aku lebih suka terima hukuman Lootjianpwee daripada melanggar peraturan Kaizar,"
sahut Leng Kiauw dengan suara tetap.
"Peraturan Kaizar!" Hiatsintjoe berkata dengan suara tawar. "Akulah peraturan Kaizar!"
Tibatiba ia lonjorkan tangannya yang sebesar kipas dan coba cengkeram kepalanya Leng
Kiauw.
Leng Kiauw yang sudah siap sedia lantas kebaskan tangan bajunya yang gulung dan
sampok tangannya Hiatsintjoe.
"Bagus!" berkata Hiatsintjoe sembari tertawa dingin. "Sekarang kau berani lawan padaku
dengan segala ilmu silat kucing pincang dari Tong Loodjie!" Leng Kiauw sudah cepat, tapi
tangannya Hiatsintjoe lebih cepat lagi dan di lain saat, tangannya sudah menyambar ke
arah dadanya Leng Kiauw. Dengan sebet Liong Sam loncat ke pinggir lantaran ia tidak
berani bentur tangan yang sangat beracun itu. Dengan cepat enam tujuh jurus sudah
lewat dan buat keheranannya Pengtjoan Thianlie serta Tong Keng Thian, mereka sudah
dengar suara napas sengal-sengal dari Liong Leng Kiauw.
Menurut taksirannya Pengtjoan Thianlie, meskipun Leng Kiauw kalah dari musuhnya, akan
tetapi ia sedikitnya bisa melayani sampai kira-kira lima puluh jurus. Maka itu, ia jadi
sangat heran ketika dengar suara napasnya Liong Sam, sedang pertempuran baru saja

berjalan beberapa jurus. Dalam keheranannya itu, tanpa merasa si nona keluarkan suara
"ih" yang sangat perlahan.
"Hm!" berkata Hiatsintjoe sembari tertawa seram. "Kalau begitu kau masih mempunyai
kawan? Bagus! Suruh dia turun sekalian!" Sedang mulutnya bicara, tangannya dikasih
kerja lebih keras dan dengan satu suara "breet!", tangan bajunya Liong Sam terbeset!
Leng Kiauw terkesiap dan terus mundur dengan didesak oleh lawannya.
Pada saat itulah, dengan diiringi tertawa nyaring, badannya Pengtjoan Thianlie dan Tong
Keng Thian melayang turun ke bawah. Melihat datangnya penolong yang tidak didugaduga itu, Liong Sam jadi bengong seperti orang terkesima.
Hiatsintjoe juga tidak kurang kagetnya. Ia terutama merasa kaget melihat kecantikannya
si nona yang seakan-akan bidadari dari kahyangan. Hampir ia tak percaya, bahwa dalam
dunia terdapat wanita yang sedemikian cantik. Ia kucek-kucek kedua matanya dan
kemudian mengawasi Pengtjoan Thianlie dengan tidak berkesip.
"Lihat apa? Biar aku hantam dahulu mata anjingmu!" membentak Pengtjoan Thianlie
sembari mementil dengan dua jerijinya.
Hiatsintjoe benar liehay. Meskipun diserang secara mendadak selagi bengong, ia masih
dapat selamatkan dirinya. Dengan gerakan Honghong tiamtauw (Burung hong manggut),
ia kasih lewat kedua Pengpok Sintan yang kemudian ditangkap dengan tangan kirinya. Ia
cuma keluarkan suara "ih" ketika kedua peluru meledak dalam telapakan tangannya dan
air es mengetel keluar dari selasela jerijinya. Di lain saat, tangan kanannya sudah
memukul. Ia memukul dari jarak yang jauhnya kira-kira satu tombak, tapi toh tenaganya
menyambar hebat ke arah dadanya si nona.
Bukan main kagetnya Pengtjoan Thianlie. Pengpok Sintan yang barusan dilepaskan
olehnya, tidak akan dapat disambut oleh orang-orang yang mempunyai kepandaian
seperti Liong Leng Kiauw atau Tong Keng Thian. Tapi Hiatsintjoe sudah dapat sambuti itu
secara tenang sekali. Di sebelahnya itu, apa yang membikin si nona menjadi kaget adalah
hawa sangat panas yang menyertai angin pukulannya Hiatsintjoe, sehingga ia merasa
napasnya agak sesak. Buru-buru ia kerahkan tenaganya dan kelit pukulan musuh dengan
gunakan ilmu entengi badan.
"Pendeta siluman!" ia membentak sesudah kelit tiga pukulan. "Sekarang coba rasakan
pedangku!"
Hiatsintjoe juga kagum melihat kegesitan si nona yang dengan mudah sudah dapat
loloskan diri dari tiga pukulannya yang sangat hebat. Di lain saat, berbareng dengan
berkredepnya satu sinar terang, Pengpok Hankong kiam sudah menyambar ke arah
mukanya!
Hiatsintjoe menyampok dengan kedua tangannya Angin panas dan hawa dingin lantas
saja kebentrok! Dalam tempo sekejap, mereka sudah bertempur kurang lebih dua puluh
jurus tanpa ada yang keteter.
Sedari jatuh dalam tangannya Bu Kheng Yao pada tiga puluh tahun berselang, barulah
sekarang Hiatsintjoe bertemu dengan lawan berat. Oleh karena begitu, semangatnya jadi
terbangun dan ia tertawa terbahak-bahak. "Bagus! Bagus!" ia berseru. "Aku justru sedang
kepanasan, terima kasih kau tolong kipasi!"
Pengtjoan Thianlie jadi meluap dan dengan mata mendelik, ia putar Hankong kiam
bagaikan titiran dan menyerang dengan Tokboen Kiamhoat yang merangkap ilmu pedang
Tatmo, ilmu pedang Eropa Barat serta ilmu pedang Arab menjadi satu. Diserang secara

begitu, Hiatsintjoe tidak berani main-main lagi dan lantas pusatkan perhatiannya buat
sambut serangannya si nona yang menyambar-nyambar seperti hujan dan angin.
Sesudah bertempur lagi beberapa saat, Hiatsintjoe berkata dengan suara kagum: "Bagus!
Kau bisa lawan aku lebih dari lima puluh jurus, di antara tingkatan orang-orang muda,
boleh dibilang kaulah yang nomor satu. Siapa kau? Siapa gurumu?"
Pengtjoan Thianlie tertawa tawar dan berkata: "Bukan gampang kau mempunyai ilmu silat
seperti ini. Maka itu, lebih baik kau berlalu dan jangan rewel disini." Mulutnya bicara,
pedangnya terus mencecer secara hebat.
"Bocah tak kenal mampus!" membentak Hiatsintjoe. "Kau jadi banyak tingkah dan tak
tahu Tjouwsoeya sengaja ampuni jiwamu!" Sehabis membentak begitu, ia empos
semangatnya, sehingga pukulannya jadi bertambah berat dan anginnya jadi semakin
panas. Buat sementara Pengtjoan Thianlie masih dapat melayani, tapi keringat sudah
mulai mengucur dari badannya
Selagi Pengtjoan Thianlie bertempur hebat melawan Hiatsintjoe, Keng Thian tarik
tangannya Leng Kiauw dan berkata dengan suara perlahan: "Liong Sam Sianseng. Siapa
sebenarnya kau?"
"Apakah kau juga tidak percaya padaku?" tanya Leng Kiauw sembari mesem. "Kasihkan
batu giok itu kepada ayahmu dan ia tentu akan segera mengetahui asal-usulku."
"Bukan, bukan tidak percaya padamu," jawab Keng Thian. "Aku bukannya mau selidiki
asalusulmu. Aku hanya mau memberitahu, bahwa kerajaan Tjeng sangat perhatikan
gerak-gerikmu dan kaki tangannya yang dikirim bukan cuma Hiatsintjoe seorang. Jika
benar kau mempunyai niatan apa-apa yang dianggap 'berdosa besar' oleh kaizar,
sekarang kau masih mempunyai kesempatan buat melarikan diri. Kami berdua akan tahan
Hiatsintjoe dan kawan-kawannya."
Liong Sam tidak menyahut, kedua biji matanya memain seperti orang yang sedang
berpikir keras. Mendadak ia cekal tangannya Keng Thian keras-keras dan berkata dengan
suara terharu: "Saudara Tong, terima kasih banyak-banyak. Aku tak dapat melarikan diri.
Kalian boleh tak usah perdulikan aku."
Mendengar jawaban itu, hatinya Keng Thian jadi semakin bimbang dan benar-benar tidak
dapat meraba siapa adanya Liong Sam. Jika mau anggap ia sebagai salah seorang
pendekar dari kalangan Rimba Persilatan, jago-jago dari Utara barat tak ada barang satu
yang kenal padanya Jika mau dikatakan ia sebagai seorang yang membela Hok Kong An
secara mati-matian, secara diam-diam ia perintah soetee-nya mengadakan hubungan
dengan berbagai Touwsoe. Jika mau mencap ia sebagai kaki tangannya negara asing buat
membikin kacau Tibet, ia toh sudah melindungi guci emas secara begitu sungguhsungguh. Jika mau dibilang ia sebagai seorang yang mempunyai angan-angan besar dan
hendak gunakan Tibet sebagai pangkalan buat melawan kerajaan Tjeng, temponya justru
tidak sesuai untuk melakukan pekerjaan yang besar itu. Demikianlah semakin memikir
Keng Thian jadi semakin tidak mengerti dan tak tahu harus bersikap bagaimana terhadap
orang yang gerak-geriknya luar biasa itu.
Selagi Keng Thian pikiri perkataan yang cocok buat coba menanyakan lebih jauh, satu
perobahan terjadi dalam gelanggang pertempuran.
Sekarang, cepat bagaikan kilat, mereka berkelahi secara renggang dan main udakudakan, sehingga, dengan berkelebat-kelebatnya bayangan mereka, dalam gelanggang
seperti juga sedang bertempur puluhan orang. Meskipun ilmu pedangnya si nona luar
biasa tinggi, akan tetapi, dengan mengandalkan latihan puluhan tahun dan kedua

tangannya yang beracun, dalam suatu pertempuran yang lama, perlahan-lahan


Hiatsintjoe dapat mendesak lawannya
"Jika kelanggar tangannya memedi itu, orang bisa lantas binasa," kata Liong Sam. "Kalian
lebih baik menyingkir dan tak usah menempuh bahaya guna kepentinganku. Aku sendiri
mempunyai daya buat menghadapi ia."
Keng Thian tak menyahut sebab seluruh perhatiannya sedang dipusatkan ke arah
gelanggang pertempuran. Ia lihat kedua matanya si nona yang mengandung sinar
menegur, sedang awasi ia. Ia tahu adatnya Pengtjoan Thianlie yang selamanya sungkan
menyingkir walaupun keadaannya terdesak, maka itu, sembari berpaling kepada Liong
Sam, ia berkata sembari mesem: "Aku akan segera berlalu, sesudah mengusir
Hiatsintjoe!"
Sehabis berkata begitu, ia enjot badannya dan menerjang ke dalam gelanggang, sembari
ayun satu tangannya.
Selagi enak desak lawannya buat coba rebut Pengpok Hankong kiam, Hiatsintjoe
mendadak lihat menyambarnya satu sinar terang, yang disertai dengan sambaran angin
yang sangat hebat. Ia sudah angkat tangannya buat menyambut, tapi buru-buru
urungkan niatannya sebab merasa telapakan tangannya bakal ditembuskan oleh senjata
rahasia itu yang menyambar sedemikian hebat!
Tapi dalam bahaya, Hiatsintjoe tak jadi bingung. Ia pentil pedangnya Pengtjoan Thianlie
yang lantas jadi miring, dan Thiansan Sinbong lewat di tempat kosong antara mereka dan
amblas di satu tiang batu!
Pentilan Hiatsintjoe merupakan satu gerakan yang sangat sempurna dan indah luar biasa.
Gerakan pedangnya Pengtjoan Thianlie cepat seperti angin, tetapi ia masih dapat
mementil secara tepat sekali. Jika kurang tepat sedikit saja, jerijinya bisa terpapas kutung.
Apa yang lebih luar biasa adalah: Ujung Pengpok Hankong kiam yang miring tepat sekali
mengenakan Thiansan Sinbong yang sedang menyambar!
Keng Thian terkesiap dan berkata dalam hatinya: "Ilmunya memedi ini sungguh tinggi!"
Tapi Hiatsintjoe juga tidak kurang kagetnya. Baru saja ia anggap si nona adalah jago
nomor satu di antara orang-orang tingkatan muda. Tidak dinyana, tenaga dalamnya si
pemuda malahan ada lebih tinggi daripada Pengtjoan Thianlie.
Begitu lihat Sinbong tidak mengenai sasarannya, Keng Thian segera cabut Yoeliong kiam,
pedang mustika dari gunung Thiansan, yang dibuat oleh Hoei Beng Siansu dengan
mengambil sarinya lima macam logam utama. Pedang itu keluar dari sarungnya disertai
dengan sinar yang menyilaukan mata dan terus menyambar bagaikan seekor naga yang
memain di tengah udara. Tangannya Hiatsintjoe yang sedang memukul hampir-hampir
saja kena digores ujung Yoeliong kiam. Buru-buru ia putar badannya buat sampok
Pengpok Hankong kiam, akan kemudian menggunakan kedua tangannya buat dorong
pedangnya Keng Thian yang sudah menyambar lagi. Kesiuran angin yang sangat panas
menyambar keras, sehingga Keng Thian terpaksa mundur beberapa tindak.
"Sungguh berbahaya!"
menggercndeng Hiatsintjoe sembari menyerang pula dan kedua kakinya menginjak
kedudukan Ngoheng Patkwa.
Sekarang Tong Keng Thian mendapat tahu, kenapa belum sepuluh jurus, Liong Leng
Kiauvv sudah sengal-sengal napasnya. Ia tentu merasa tidak tahan dengan hawa yang
sangat panas itu.

Lweekang Thiansan pay adalah ilmu tulen dari satu cabang persilatan yang sejati.
Walaupun latihannya Keng Thian masih belum sempurna betul, akan tetapi berkat ajaran
yang teliti dari kedua orang tuanya, begitu lekas ia pusatkan seluruh semangatnya,
segera juga ia dapat melawan hawa panas yang luar biasa itu. Dengan kerja sama antara
Hankong kiam dan Yoeliong kiam, serangan-serangan kedua orang muda itu jadi semakin
berat bagi Hiatsintjoe. Jika satu lawan satu, memang juga Hiatsintjoe menang setingkat.
Tapi dengan dikerubuti dua orang, ia tidak gampang-gampang bisa berada di atas angin
lagi.
Semakin lama, pertempuran jadi semakin seru. Pengtjoan Thianhc yang tidak takuti hawa
panas, terus mendesak dengan pedangnya yang menyambar-nyambar bagaikan rantai,
sehingga mau tidak mau, Hiatsintjoe mesti berkelahi sembari mundur. Sesudah lewat
beberapa jurus, Hiatsintjoe sudah mundur sampai di pinggir tembok dan tak dapat
mundur lebih jauh lagi.
Dalam keadaan yang semakin berbahaya, mendadak di luar terdengar satu suara aneh,
disusul dengan munculnya dua orang dalam gelanggang pertempuran. Mereka itu bukan
lain dari In Leng Tjoe bersama isterinya!
Semangatnya Hiatsintjoe terbangun dan tertawa terbahak-bahak. Akan tetapi, In Leng
Tjoe suami isteri tidak lantas menyerbu, mereka berhenti di luar gelanggang dan berdiri
nonton.
"Kalau kalian takut dapat urusan, lebih baik jangan datang disini," kata Hiatsintjoe dengan
perasaan mendongkol.
"Toako," kata In Leng Tjoe. "Orang yang sedang berkelahi dengan kau adalah puteranya
Tong Siauw Lan Tayhiap."
Hiatsintjoe berobah parasnya. Mendadak ia tertawa besar dan berkata: "Kalian takut
padanya, tapi aku tak takut. Sungguh percuma kau jadi pemimpin dari satu partai, belum
apa-apa sudah kena dibikin ketakutan oleh namanya Tong Siauw Lan. Baiklah! Jika kau tak
berani langgar orang Thiansan pay, biarlah aku yang layani." Dengan berkata begitu,
Hiatsintjoe bermaksud supaya In Leng Tjoe berdua pergi layani Pengtjoan Thianlie.
In Leng Tjoe jengah kena disikat begitu, tapi itulah justru ada keinginannya. Ia tertawa
tengal dan berkata buat tutup malu: "Kami bukan takut, cuma sungkan berpandangan
seperti orang dari tingkatan muda."
"Segala orang muda yang kurang ajar, kita pantas mengajar adat," kata Hiatsintjoe.
"Baiklah, hari ini lebih dahulu aku bekuk anaknya Tong Siauw Lan dan kirim dia pulang ke
Thiansan, dengan kasih tegoran kepada ayahnya yang tak mampu mengajar anak."
In Leng Tjoe suami isteri tidak berkata apa-apa lagi dan lantas terjang Pengtjoan Thianlie
sesudah hunus senjatanya. Pertempuran lantas berobah. Kalau tadi Hiatsintjoe cuma bisa
membela diri, sekarang ia lantas saja buka serangan-serangan hebat terhadap Keng
Thian.
Sembari tertawa dingin, Keng Thian lantas robah cara bersilatnya. Yoeliong kiam diputar
seperti titiran dan badannya seperti juga dikurung dengan sinar pedang yang putih. Itulah
ilmu pedang Thaysiebie yang paling liehay dalam Thiansan Kiamhoat, yang istimewa
digunakan jika bertemu dengan lawan yang lebih tinggi ilmunya. Pembelaan Thaysiebie
yang sangat rapat bagaikan tembok tembaga, sukar dapat ditembuskan oleh orang yang
punya kepandaian bagaimana tinggi pun. Tapi ilmu Thaysiebie bukan cuma buat membela
diri. Dalam gerakannya yang laksana kilat, begitu ada tempat kosong, ilmu itu juga dapat
digunakan buat menyerang musuh.

Serangannya Hiatsintjoe semakin lama jadi semakin berat, tapi sesudah lewat kurang
lebih tiga puluh jurus, Keng Thian masih tetap tidak bergeming. Cuma saja, walaupun
tangannya Hiatsintjoe tidak dapat masuk ke dalam tembok pedang, akan tetapi hawanya
yang panas terus menyambarnyambar, sehingga, meskipun Keng Thian kerahkan
seantero tenaga dalamnya, perlahan-lahan ia mulai merasa tak tahan. Kalau tadi ia dapat
pertahankan diri selama ratusan jurus adalah berkat hawa dingin yang keluar dari
Pengpok Hankong kiam.
Di lain pihak, Pengtjoan Thianlie pun sudah mulai jatuh di bawah angin, cuma keadaannya
masih mendingan sedikit daripada Tong Keng Thian. San Tjeng Nio yang sangat
mendongkol lantaran lihat kecantikannya si nona, terus menerus kirim serangan
membinasakan dengan ikatan pinggangnya. Kedua Poankoan pilnya In Leng Tjoe yang
terutama digunakan buat totok tiga puluh enam jalanan darah, juga terus menyambarnyambar seperti rantai, sehingga si nona jadi sangat repot.
Dengan gunakan seantero tenaga dan kepandaian, Keng Thian kembali sudah layani
musuhnya lebih dari lima puluh jurus. Matanya sudah merah dan keringat ngucur dari
badannya. Ia melirik dan lihat Liong Leng Kiauw sedang nyender enak-enakan di tembok
kamar tulisnya. Keng Thian mendongkol berbareng heran, sebab ia tidak melarikan diri,
tapi juga tidak mau membantu. Keng Thian juga lihat Pengtjoan Thianlie sudah kena
didesak oleh dua musuhnya, sehingga hatinya menjadi bingung. Dalam pertempuran
antara ahli-ahli silat kelas satu, pantangan paling besar adalah perasaan bingung atau
gusar. Demikianlah, begitu lekas hatinya bingung, gerakan pedangnya Keng Thian
menjadi kalut dan pada garisan pembelaannya segera terbuka beberapa kekosongan.
Hiatsintjoe tentu saja sungkan sia-siakan kesempatan yang baik. Sambil membentak
keras, ia kirim satu pukulan hebat di antara kekosongan itu. Akan tetapi, mendadak saja
sinar pedang kelihatan tergetar dan bagaikan kembang api, dari atas menyambar ke
bawah. Hiatsintjoe jadi kekunangan, di delapan penjuru ia seperti lihat bayangan orang
dan tak tahu musuhnya berada dimana. la terkesiap, tak berani teruskan pukulannya dan
tarik pulang tangannya buat menjaga diri.
Pada saat itulah, dengan suara "srr, srr," dua Thiansan Sinbong menyambar ke arah
suami isteri In Leng Tjoe. Mereka itu, yang tahu liehaynya senjata rahasia tersebut, buruburu loncat minggir, dan dengan gunakan kesempatan tersebut, Keng Thian segera loncat
dan persatukan dirinya dengan Pengtjoan Thianlie.
Pukulan yang barusan dikeluarkan oleh Keng Thian cuma digunakan jika sangat terpaksa,
lantaran banyak juga bahayanya. Namanya pukulan itu adalah Tiansia sengtjie (Kilat
menyambar, bintang mengubar), yaitu satu pukulan dari ilmu pedang Toeihong (Memburu
angin) dari Thiansan Kiamhoat. Pukulan tersebut terdiri dari beberapa puluh gerakan
gertakan, dalam artian, ujung pedang kelihatan bergerak, tapi bukannya benar-benar
menyerang masuk. Oleh karena bergeraknya luar biasa cepat, maka di matanya musuh,
seolah-olah puluhan pedang menyambar dirinya dari berbagai jurusan. Pukulan ini cuma
dapat menyilaukan mata musuh dan bukan benarbenar dapat melukakan orang. Jika sang
lawan mengetahui siasat tersebut dan terus mengirim serangan, pihak yang
menggunakannya bisa jadi celaka. Sebab keliwat terpaksa, Keng Thian mendadak tukar
ilmu pedang Thaysiebie dengan ilmu pedang Toeihong, dan benar-benar saja, lantaran tak
mengenal Thiansan Kiamhoat, Hiatsintjoe sudah kena dikelabui. Waktu ia sadar, Keng
Thian sudah berdampingan dengan Pengtjoan Thianlie dan mengawasi padanya sembari
mesemmesem.
Hiatsintjoe jadi seperti orang kalap. Sembari berteriak-teriak, ia menerjang pula, diikuti
oleh suami isteri In Leng Tjoe yang kembali mau coba kepung Pengtjoan Thianlie, tapi
sudah keburu dicegat oleh Tong Keng Thian. Di lain pihak, baru saja badannya Hiatsintjoe
bergerak, sembari mesem tawar Pengtjoan Thianlie lepaskan enam butir Pengpok Sintan

dengan berbareng. Hiatsintjoe menyampok dengan kedua tangannya dan enam Sintan itu
meledak di atas kepalanya dengan berbareng. Hawa dingin lantas menyambar ke empat
penjuru dan badannya Hiatsintjoe seperti juga tertutup uap warna abu-abu yang luar
biasa dinginnya. Biar bagaimana liehay, Hiatsintjoe ternyata masih tidak cukup kuat buat
tahan perledakan enam butir Sintan itu dan mau tidak mau badannya jadi bergidik.
Biarpun tidak sampai mendapat luka di dalam, tapi ia toh rasakan napasnya agak sesak.
Satu perobahan kembali terjadi dalam pertempuran. Biarpun tidak berada di atas angin,
sekarang Tong Keng Thian dan Pengtjoan Thianlie tidak sampai jadi keteter. Hal ini
disebabkan lantaran adanya Pengpok Hankong kiam yang dapat melawan hawa panas
dari pukulannya Hiatsintjoe dan juga lantaran tenaga dalamnya Hiatsintjoe sudah
mendapat sedikit pukulan, akibat serangan enam butir Pengpok Sintan.

CATATAN
1) Amban, semacam duta sipil, pertama dikirim kc Tibi-i oleh Kaizar Yong Tjeng dalam
tahun 1726 buat damaikan golom-an golongan yang bercekcokan.
2) Menurut sejarah, orang Gurkha menyerang Tibet dalam tahun 1791. Pada tahun
berikutnya, Kaizar Kian Liong kirim dua panglimanya yang paling pandai, yaitu Fu Kang An
(Hok Kong Au) dan Hai Lan Tsa, dengan 10.000 tentara lebih. Mereka usir pasukan Gurkha
sampai di dekat Katmandu (ibukota Nepal) dan kemudian mengadakan perdamaian
dengan syarat-syarat enteng.
3) Khata, atau selendang sutera, adalah barang penting dalam pergaulan di Tibet.
Semuanya ada tiga macam khata. Pertama dari sutera tulen, panjang 12 kaki, lebar 3
kaki, tersulam, dipersembahkan hanya kepada orang-orang yang berkedudukan paling
tinggi, seperti Dalai Lama, Panchen Lama dsb. Yang kedua, juga dari sutera, panjangnya 9
kaki, lebar 3 kaki, digunakan sebagai hadiah di kalangan atas. Yang ketiga, terbuat dari
campuran sutera dan linen, bentuknya banyak lebih kecil, digunakan di kalangan
bawahan.
Cara mempersembahkannya juga tiga cara. Kepada orang atasan, kedua tangan diangkat
sampai ke jidat. Kepada pantaran, diangsurkan secara biasa dan yang memberi juga
menerima khata dari yang diberikan. Kepada orang bawahan, khata itu diselendangkan di
belakang leher.
4) Cerita tentang Kam Hong Tie, Liauw In dan Lu Soe Nio dapat diikuti dalam cerita
Kangouw Sam Liehiap (Tiga Dara Pendekar)
5) Louw Tiong Lian adalah seorang ternama dari negara Tjee, pada jaman Tjiankok. Ia
terkenal sebagai seorang yang suka menolong orang dan damaikan segala percekcokan.
6) Kisah cinta To It Hang dan Pekhoat Molie dan kisah bunga Yoetam Sianhoa dapat diikuti
dalam cerita Giok Lo Sat, Pek Hoat Mo Lie, Tjau Guan Enghiong dan Thian San Tjit Kiam.
7) Kapan seorang Dalai Lama meninggal dunia, rohnya lahir kembali (reinkarnasi). Yang
menjadi soal adalah cara bagaimana harus mencari Dalai Lama itu dalam inkarnasinya
yang baru. Banyak jalan digunakan untuk meramalkan, akan tetapi yang lebih dipercaya
adalah Naichung (semacam ahli nujum negara) dan visi yang dapat dilihat di Telaga
Lhamo Namtso, yang terletak di sebelah selatan timur Lhasa. Dalam usaha mencari
inkarnasi baru dari Dalai Lama, sesudah bersembahyang, seorang pembesar tinggi Tibet
lantas bersila di pinggir telaga buat tunggu visi. Visi yang

.muncul bisa berupa simbol keagamaan, roman manusia dan scbagainya, yang
belakangan digunakan sebagai petunjuk buat mencari Dalai Lama baru. Dalam usaha itu
sering muncul beberapa calon, sehingga menimbulkan pertentangan. Buat mengakhiri
pertentangan itu, dalam tahun 1792, Kaisar Kian Liong telah memerintahkan penarikan
lotre dari sebuah guci emas, yang dihadiahkan oleh kaisar tersebut. Namanya semua
calon ditulis di atas sepotong kertas yang kemudian dimasukkan kedalam guci, yang
ditaroh di depan patung Sakya Muni dalam Gereja Pusat. Sesudah bersembahyang tujuh
hari, salah satu Amban ambil satu gulung kertas dari dalam guci tersebut dan calon yang
namanya kena diambil dianggap sebagai Dalai Lama
8) Menurut ketahayulan orang Tibet, sesudah meninggal 28 hari, roh yang meninggal
pulang dan harus dibikin Hoeihoentjie (sembahyang roh yang pulang).
9) Adu pedang antara Koei Hoa Seng (ayah Pengtjoan Thianlie) dan Tong Siauw Lan (Teng
Hiau Lan) dan Phang Eng dapat diikuti dalam cerita Kangouw Sam Liehiap (Tiga Dara
Pendekar). Sedangkan perantauan Koei Hoa Seng ke Tibet dan Nepal dapat diikuti dalam
kisah Peng Pok Han Kong Kiam (Pedang Inti Es).
Selagi pertempuran berlangsung dengan hebatnya, di luar mendadak terdengar suara
ributribut dan beberapa saat kemudian, berbareng dengan terbukanya pintu samping,
serombongan pembesar negeri kelihatan masuk. Orang yang jalan paling depan memakai
bulu burung pada topinya dan mengenakan baju makwa warna kuning, sehingga dapat
diketahui, ia itu adalah seorang pembesar sipil dari tingkatan kedua. Di belakangnya
mengikuti tujuh atau delapan pembesar militer, antaranya terdapat Gan Lok, yang
meskipun mukanya sangat pucat, masih dapat pertahankan dirinya.
Pembesar sipil tinggi itu adalah orang yang berkuasa pada bahagian hukum dalam
kantornya Hok Kong An dan kedudukannya bersamaan dengan hakim dari pengadilan
tinggi, namanya Tjong Lok dan masih mempunyai ikatan keluarga dengan kaizar Boan.
Beberapa perwira yang ikut padanya adalah rekan-rekannya Liong Leng Kiauw. Ternyata,
sesudah kena pukulannya Hiatsintjoe, sambil pertahankan diri sekuat tenaga, Gan Lok
terus pergi ke kantornya Hok Tayswee buat memberi laporan dan undang mereka datang
guna memberi pertolongan.
"Siapa kau? Kenapa bikin ribut disini?" membentak Tjong Lok.
Sembari mesem, Keng Thian tarik pulang pedangnya dan bersama Pengtjoan Thianlie
lantas loncat keluar dari gelanggang pertempuran. "Siapa adanya kami, aku rasa sudah
diketahui oleh orang-orang yang ikut padamu," jawab Keng Thian. Beberapa perwira itu
lantas saja kenali mereka dan salah seorang lantas berkata: "Mereka adalah kedua orang
gagah yang telah bantu lindungi guci emas di gunung Tantat san."
Tjong Lok lirik Pengtjoan Thianlie dan lantas tertawa sembari manggut-manggutkan
kepalanya. "Bagus," katanya. "Kalau begitu kalian adalah orang-orang yang berjasa."
Sehabis berkata begitu, ia awasi Hiatsintjoe dan membentak: "Nyalimu benar besar!
Malammalam berani satroni rumahnya pembesar negeri dan coba lakukan pembunuhan!
Kau betul-betul sudah tidak pandang lagi undang-undang kaizar."
"Undang-undang kaizar?" Hiatsintjoe mengulangi perkataan orang. "Aku justru datang
kemari atas perintah kaizarmu!"
"Andaikata kau seorang Kimtjhee Taydjin (utusan kaizar), kau toh tidak boleh berlaku
begitu kurang ajar!" berteriak Tjong Lok dengan gusar sekali.
Beberapa perwira itu juga naik darahnya dan siap sedia buat lantas turun tangan. "Orang
yang dikirim dari istana, mana bisa begitu biadab," kata satu antaranya. "Kalau dia benar

terima perintahnya kaizar, tak mungkin tidak diketahui oleh Hok Tayswee," sahut yang
lain.
Bukan main gusarnya Hiatsintjoe yang lantas saja lemparkan surat perintah yang ia dapat
dan Tjongkoan istana. Melihat surat perintah itu tulen adanya, Tjong Lok jadi terkesiap
dan suaranya lantas berobah lunak. "Tapi, apa maksudnya kalian datang kemari?" tanya
ia.
"Orang itu sangat mencurigakan," jawab Hiatsintjoe sembari tuding Liong Leng Kiauw.
"Belasan tahun dia malang melintang di Tibet, kenapa kau orang tidak mengetahui,
sampai kaizar sendiri yang mesti turun tangan. Kau orang malu atau tidak?"
"Dusta Taydjin," berkata Leng Kiauw dengan suara dingin. "Mereka bertiga adalah
manusiamanusia busuk dalam Rimba Persilatan dan dahulu mempunyai ganjelan pribadi
dengan aku. Sekarang, sesudah dapat masuk ke dalam kalangan istana, mereka mau
gunakan kedudukannya buat membalas sakit hati pribadi dan palsukan perintah kaizar.
Coba Taydjin tanya, apakah mereka mempunyai surat perintah buat menangkap aku?"
Terhadap Liong Leng Kiauw, istana Tjeng sebenarnya cuma bercuriga dan sama sekali
belum mengetahui siapa adanya ia dan apa kesalahannya. Maka itu, Tjongkoan istana
cuma menyampaikan perintah rahasia kaizar yang ingin supaya asal-usulnya Liong Sam
diselidiki sampai terang dan sama sekali bukannya surat perintah menangkapnya.
Hiatsintjoe terkejut dan lantas menyahut dengan sembarangan: "Apa perlunya segala
surat perintah, sedang yang mau dibekuk cuma seorang yang pangkatnya begitu kecil?"
Sebagai seorang yang ulung dalam kalangan pembesar negeri, Tjong Lok jadi merasa
sangat bimbang. Jika Hiatsintjoe tidak berdusta, ia bisa mendapat dosa besar atas
tuduhan melindungi tangkapan kaizar. Tapi, jika Hiatsintjoe main gila dan ia biarkan saja
Liong Leng Kiauw dibekuk, Hok Tayswee tentu akan gusar sekali. Walaupun Leng Kiauw
berpangkat rendah, siapa juga mengetahui, bahwa ia itu adalah tangan kanannya Hok
Tayswee yang sangat disayang.
Sesudah berpikir beberapa saat, Tjong Lok segera ambil jalan yang paling selamat. "Hok
Tayswee adalah orang yang sangat berpengaruh dan disayang oleh kaisar," katanya di
dalam hati. "Biarlah dia saja yang memutuskan." Siasat kelit dan timpakan tanggung
jawab ke pundak lain orang adalah semacam modal yang sangat dikenal dalam kalangan
pembesar Tjeng.
Sesudah memikir begitu, ia lantas berkata: "Kalian masing-masing mempunyai alasan
sendirisendiri, sehingga aku juga merasa sukar buat memutuskannya Akan tetapi, semua
urusan di Tibet, menurut perintah Kaizar berada di bawah kekuasaan Hok Tayswee. Jika
benar kalian datang disini buat menangkap orang, menurut pantas kalian lebih dahulu
harus melaporkan kepada Hok Tayswee. Baiklah, besok pagi semua orang ikut aku pergi
menghadap Hok Tayswee dan sekarang aku larang kalian bertempur lagi."
Meskipun Hiatsintjoe beradat angkuh, akan tetapi ia masih indahkan juga pangkatnya
Tjong Lok. Maka itu, ia lantas menyetujui dengan berkata: "Baiklah, aku rasa Hok Tayswee
pun tak nanti mau lindungi orang yang mau ditangkap oleh Kaizar."
Tjong Lok berpaling kepada Pengtjoan Thianlie seraya berkata: "Kedua giesoe (orang
gagah) juga aku harap suka datang bersama-sama buat menjadi saksi."
"Siapa mau begitu banyak rewel," sahut si nona.
Keng Thian tertawa dan berkata sembari membungkuk: "Kami berdua adalah rakyat
pegunungan yang tidak biasa bertemu dengan pembesar negeri. Maka itu, kami harap

Taydjin suka bebaskan kami dari tugas tersebut dan sekarang juga kami ingin pamitan."
Sehabis berkata begitu, ia jejak kedua kakinya dan badannya lantas melesat, diikuti oleh
Pengtjoan Thianlie. Ketika menengok di waktu hinggap di atas tembok, Keng Thian lihat
Leng Kiauw manggutkan kepalanya sembari tertawa, dengan sorot mata yang
mengandung perasaan berterima kasih.
Hatinya Keng Thian jadi semakin tidak mengerti dan di sepanjang jalan terus putar
otaknya.
"Liong Loosam boleh dibilang satu manusia jempolan, cuma kenapa ia tak mau singkirkan
diri?" kata Pengtjoan Thianlie.
"Aku lihat ia adalah seorang yang bijaksana sekali," sahut Keng Thian. "Sesudah urusan
ini jatuh ke dalam tangannya Hok Kong An, keadaan akan jadi berobah baik."
Mereka omong-omong sembari jalan dan tidak lama kemudian sudah tiba di kakinya
Gunung Anggur. Penerangan Keraton Potala pancarkan sinarnya sampai ke lapangan yang
terletak di kaki gunung, dimana Yoe Peng disuruh tunggu majikannya.
Jauh-jauh mereka lihat di kaki gunung terdapat dua bayangan hitam yang sangat
berdekatan satu sama lain, seperti sedang bicara dengan suara perlahan.
"Dilihat dari bayangannya, orang itu seperti lelaki," kata Pengtjoan Thianlie sembari
tertawa. "Kenapa Yoe Peng kelihatan begitu rapat?" Dengan tindakan perlahan Pengtjoan
Thianlie mendekati dan segera juga ia dapat dengar suaranya sang dayang: "Kongtjoe
bilang buat sementara tidak balik dahulu ke keraton es. Katanya, mau pergi ke Soetjoan.
Mungkin sekali aku akan diajak dan mulai dari sekarang, kita lebih sukar bertemu muka
lagi."
"Jika kau bertemu dengan Chena, aku mohon kau pesan ia pergi ke Sakya buat menemui
aku," kata bayangan hitam yang lain.
"Apakah kau cuma pikiri Chena Tjietjie seorang?" kata Yoe Peng sembari tertawa.
Pengtjoan Thianlie merasa sangat geli dan tanpa merasa ia jadi tertawa.
"Ada orang!" kata bayangan hitam itu sembari loncat dan raba gagang pedangnya, tapi
Pengtjoan Thianlie sudah mendahului loncat keluar dan berkata sembari tertawa: "Thian
Oe, ilmumu benar sudah maju jauh. Apakah itu semua curian dari keraton es?"
Bayangan hitam itu memang juga Thian Oe adanya Ia juga dapat dengar, bahwa Liong
Leng Kiauw telah menemui urusan sulit dan ia sengaja datang buat coba menyelidiki. Tapi
baru saja tiba di kaki gunung, ia sudah bertemu dengan Yoe Peng yang memberitahu,
bahwa majikannya bersama Tong Keng Thian sudah pergi ke rumahnya Liong Sam.
Mendengar begitu, hatinya Thian Oe menjadi lega dan ia segera pasang omong dengan
sahabatnya itu. Thian Oe dan Yoe Peng pandang Pengtjoan Thianlie dan Keng Thian
seperti dewi dan dewa dan mereka yakin, bahwa dengan bantuan kedua orang itu, segala
urusannya Liong Sam akan segera dapat dibikin beres. Mereka sama sekali tidak nyana,
bahwa persoalan Leng Kiauw mempunyai latar belakang yang sedemikian sulit.
Thian Oe kaget bukan main waktu lihat munculnya Pengtjoan Thianlie. "Aku sangat
berhutang budi dengan gurumu dan tidak akan dapat membalasnya," kata si nona
dengan suara terharu. "Biarpun tanpa permisi, kau sudah belajar ilmu silatku, akan tetapi,
mengingat hal itu terjadi sesudah gempa bumi dan juga lantaran kau belajar dengan
tujuan menyelamatkan ilmu silatku, maka aku tidak salahkan padamu. Aku cuma mau
tanya, perlu apa kau datang kemari?"

"Bagaimana dengan keselamatannya Liong Sam Sianseng," Thian Oe balas tanya. "Aku
lihat, ia adalah seorang baik. Apakah kalian sudah membantu ia?"
Ketika itu Tong Keng Thian sudah muncul dan ia berkata sembari tertawa: "Anak ini
mempunyai hati yang hangat."
"Akan tetapi, kau lebih baik jangan campur-campur urusan ini," kata Pengtjoan Thianlie.
Mendengar itu, Thian Oe jadi tercengang.
"Kali ini ayahmu telah berpahala besar dan tentu akan sangat dihargai oleh Hok Kong An
dan Hosek Tjin-ong," kata lagi Keng Thian. "Kalau nanti diberi hadiah, aku rasa paling
sedikit ia akan dapat pulang pangkatnya yang dahulu, sehingga kau, ayah dan anak, bisa
pulang ke negeri sendiri."
Tan Teng Kie, ayahnya Thian Oe dahulu berpangkat Tjiesoe di kota raja. Oleh karena
berani menentang dorna Ho Koen di hadapan kaisar, belakangan ia disingkirkan ke Tibet
dan sampai sekarang sudah ada sepuluh tahun. Tak usah dibilang lagi, ayah dan anak
sangat kangen dengan kampungnya dan berharap-harap satu ketika akan dapat
kesempatan buat pulang kembali ke Tiongkok. Keng Thian berkata begitu lantaran tahu
rahasia hatinya Teng Kie dan puteranya.
Thian Oe tertawa getir dan berkata: "Ho Koen sedang disayang dan pengaruhnya besar
sekali, maka itu, manalah kami bisa pulang dengan gampang-gampang. Ayahku benar
sudah dapat kembali pangkatnya, cuma sayang bukannya pangkat Tjiesoe."
"Pangkat apa?" tanya Keng Thian.
"Pangkat Soanwiesoe pada sekte Sakya," sahutnya. "Hok Tayswee sudah menyetujui buat
bikin betul kantor Soanwiesoe dan kirim satu pasukan tentara guna antar ayah balik ke
Sakya. Aku rasa, beberapa hari lagi kami sudah harus berangkat. Kepada ayah, Hok
Tayswee telah berkata begini: 'Di Sakya kau sudah kehilangan serdadu dan kehilangan
muka, sehingga sebenarnya kau berdosa. Jasamu di ini kali digunakan buat menebus dosa
itu dan dalam hal ini, Kaizar sudah bersikap sangat longgar terhadapmu. Maka itu,
pergilah ke Sakya dan bekerja baik-baik untuk dua tiga tahun lagi. Waktu itu aku akan
majukan usul kembali, supaya kau bisa dipermisikan pulang.' Demikian katanya Hok
Tayswee. Hm! Ayahku bisa bilang apa lagi? Ia cuma bisa menurut perintah."
"Hai!" Keng Thian menghela napas. "Aku tak nyana, dalam kalangan pembesar Tjeng,
hadiah dan hukuman diberikan secara begitu serampangan! Tapi pekerjaan di Sakya toh
bukannya pekerjaan terlalu berat, sedang kalian sudah berdiam disana kurang lebih
sepuluh tahun lamanya, maka apa sebab kau kelihatannya begitu jengkel?"
Thian Oe tidak menjawab, la cuma kerutkan kedua alisnya.
"Kau tak tahu!" Yoe Peng mendadak menyeletuk sembari tertawa. "Touwsoe di Sakya
ingin rangkap puterinya dengan ia, sedang anak tolol itu sudah penuju lain orang, la tentu
kuatir rewel lagi, kalau balik ke Sakya. Anak goblok! Lain orang mau, tapi tidak bisa,
kenapa juga kau begitu susah-susah hati!"
Sebagaimana diketahui, Yoe Peng pernah bergaul rapat sekali dengan Thian Ce, sehingga
ia jadi mengetahui segala isi hatinya anak muda itu. Paras mukanya Thian Oe jadi merah
seperti kepiting direbus, ketika dengar si nakal buka rahasia.
Pengtjoan Thianlie jadi turut tertawa dan berkata: "Aku kira urusan apa, tak tahunya
segala urusan kecil. Apa kau tidak punya kaki? Kalau tak mau, apa kau tak bisa kabur?"

Si nona omong seenaknya saja lantaran, ia tak tahu seluk-beluknya kalangan pembesar
yang sulit sekali. Buat Thian Oe, perkataannya Pengtjoan Thianlie malah telah menambah
kejengkelannya.
"Kau pulang saja," kata Keng Thian. "Mari! Aku ajarkan kau satu siasat yang sangat baik!"
Ia tarik tangannya Thian Oe dan bicara dengan bisik-bisik di kuping orang.
"Hm! Kau memang paling senang main gila!" kata Pengtjoan Thianlie. "Siasat busuk apa
yang kau ajarkan padanya, sampai takut didengar orang?"
"Rahasia langit tak boleh dipecahkan!" Keng Thian nyengir. "Siasatku ini tak boleh
didengar oleh kalian."
"Siapa kesudian!" kata si nona sembari merengut.
Benar saja, sesudah dibisiki Keng Thian, parasnya Thian Oe jadi lebih terang. "Tapi,
Omateng pun sangat sukar dihadapinya," kata ia.
"Jangan takut," membujuk Keng Thian. "Ilmu silatmu sekarang sudah bukan tandingannya
Omateng lagi. Kau cuma perlu berlaku sedikit hati-hati buat jaga segala akal busuknya."
Ketika itu, sang rembulan sudah selam ke barat, sedang di tepi langit sebelah timur sudah
kelihatan sinar terang. Oleh karena kuatir ayahnya buat pikiran, Thian Oe lantas saja
pamitan dengan tiga sahabatnya itu.
Keng Thian ulap-ulapkan tangan sampai anak muda itu berjalan jauh, sedang Yoe Peng
mengawasi kawannya sambil berdiri bengong dengan paras muka sedih.
"Anak otak!" kata Pengtjoan Thianlie sembari tertawa. "Satu anaknya Touwsoe saja sudah
bikin dia jadi ubanan, apa kau mau tambah kejengkelannya lagi?"
"Kongtjoe, kau sungguh jail!" kata Yoe Peng sembari monyongkan mulutnya.
Pada waktu mereka bertiga tiba di pusatnya kota Lhasa, langit sudah terang dan orangorang yang pada pelesir seluruh malam sudah pada bubar.
Tiga hari kemudian, mereka tinggalkan Lhasa buat teruskan perjalanan ke Sinkiang.
Selama tiga hari itu, mereka menyelidiki persoalannya Liong Leng Kiauw dan dapat tahu
perkaranya sudah jatuh ke dalam tangannya Hok Kong An. Buat sementara waktu Liong
Sam ditahan dalam penjara sebab Hok Kong An mau tanyakan dahulu pikirannya kaizar,
dan perjalanan pergi pulang ke kota raja akan meminta tempo setengah tahun. Sebab
mengetahui keselamatannya Leng Kiauw sudah terjamin, maka Keng Thian bertiga lantas
berangkat dengan hati lega.
Ketika itu adalah permulaan musim semi. Meskipun salju belum lumer semuanya, akan
tetapi jalanan sudah lebih gampang dilintasi. Sesudah berjalan sepuluh hari lebih, mereka
sudah lewati wilayah Tibet dari sebelah selatan dan masuk ke dalam daerah Sinkiang.
Keadaan bumi jadi berobah. Mereka sekarang berada di lautan pasir kuning dengan
gunung yang berderet-deret "Tiongkok benar-benar besar," kata Pengtjoan Thianlie sambil
menghela napas. "Gunung apakah itu yang puncaknya menjulang awan?"
"Itulah gunung Thiansan yang kesohor dalam dunia," jawab Keng Thian. "Deretan gunung
yang berada di sekitar ini semuanya adalah cabang-cabangnya

Thiansan yang panjangnya lebih dari tiga ribu li. Jarak antara puncak selatan dan puncak
utara ada kira-kira seribu li."
Pengtjoan Thianlie sebenarnya sedang gembira, tapi begitu lekas ia dengar
disebutkannya Thiansan, parasnya lantas jadi berobah, tapi tak dapat dilihat oleh Keng
Thian yang lantas berkata lagi: "Dari sini kalau jalan terus ke jurusan timur, orang bisa
masuk ke dalam propinsi Kamsiok, dan dengan mengikuti jalanan canto (jalanan gunung
dengan jembatan-jembatan kayu buat lewati jurang-jurang) yang dahulu dibuat oleh
Kaisar Lauw Pang (pendiri kerajaan Han), orang bisa lantas masuk ke Soetjoan barat.
Kalau kita terus ambil jalanan ke arah utara, kita bisa tiba di gunung Thiansan. Peng Go
Tjietjie, apakah kau tak mau jalan-jalan dahulu di Thiansan?"
Mendadak saja, Pengtjoan Thianlie tertawa tawar. "Apakah kau kira semua orang yang
belajar ilmu silat harus berziarah di gunung Thiansan-mu?" katanya dengan suara kaku.
"Eh, eh. Kenapa kau kata begitu?" kata Keng Thian dengan perasaan heran. "Bukankah
mendiang ayahmu pun berasal dari partai Thiansan? Kenapa kau jadi bicara begitu?" Si
nona tak menjawab, sehingga Keng Thian jadi lebih bingung lagi.
Dalam perjalanan di padang pasir, puluhan li tidak bertemu manusia adalah kejadian
yang lumrah. Hari itu, sesudah jalan kurang lebih seratus li, Keng Thian bertiga cuma
dapat menemukan sebuah bukit yang dapat menahan angin dan pasir. Mereka lalu
pasang tenda di kakinya bukit itu, Pengtjoan Thianlie dan Yoe Peng satu tenda, sedang
Keng Thian pasang tendanya di tempat yang jauhnya kira-kira setengah li.
Malam itu, Pengtjoan Thianlie tak dapat tidur pulas dengan rupa-rupa pikiran datang
padanya berganti-ganti. Lantaran begitu, ia lalu pasang omong dengan dayangnya dan
goda Yoe Peng dengan mengatakan ia itu agaknya tak dapat berpisah dengan Thian
Oe. Yoe Peng membantah dan lalu balas goda majikannya, yang dikatakan sudah jatuh
cinta kepada Keng Thian.
Selagi mereka enak bercanda, dari kejauhan mendadak terdengar suara: "Uh! Uh!"
Pengtjoan Thianlie berobah parasnya dan lalu pasang kuping. Suara itu aneh
kedengarannya, mirip-mirip suara terompet tanduk, tapi juga seperti suara semacam
tetabuhan Nepal.
"Aku mau pergi lihat! Kau jangan bikin kaget Tong Siangkong," kata si nona sembari
sembat Pengpok Hankong kiam dan lalu loncat keluar dari tenda.
Sesudah lari kira-kira delapan li, Pengtjoan Thianlie lihat beberapa orang sedang
bertempur hebat di atas sebidang tanah rumput. Sesudah datang dekat, ia kenali, bahwa
mereka itu adalah dua boesoe Nepal yang sedang ukur tenaga sama dua saudara Boe.
Kedua boesoe itu bersenjata golok berbentuk bulan sisir, yang bagian atas gagangnya
kosong melompong, sehingga
mengeluarkan suara "uh, uh," setiap kali digerakkan. Saat itu, kedua boesoe itu sudah
kena didesak hebat oleh Boe-sie Hengtee yang pedangnya menyambar-nyambar
bagaikan kilat.
Begitu lihat kedatangannya Pengtjoan Thianlie, dua boesoe itu lantas berseru dalam
bahasa Nepal dan dijawab oleh si nona dalam bahasa itu juga, yang tidak dimengerti oleh
kedua saudara Boe.
Boe Loodjie yang adatnya berangasan lantas saja berteriak: "Hei! Kalau mau bicara, nanti
saja bicara sama Giam Loo-ong!" Sehabis membentak, ia menyabet dengan pedangnya
yang sambar batang lehernya boesoe yang barusan bicara. Saat itu goloknya justru kena

disampok oleh Boe Lootoa, sehingga ia tidak dapat menangkis lagi pedangnya Boe
Loodjie. Pada detik yang sangat berbahaya, Pengtjoan Thianlie mendadak berteriak:
"Tahan!" Sungguh cepat gerakannya si nona! Berbareng dengan bentakannya, pedangnya
sudah menyambar, sehingga kedua saudara Boe terpaksa loncat mundur.
"Perempuan siluman!" mereka membentak. "Kalau tidak dihajar, kau tentu kira di
Tiongkok tidak ada orang yang bisa takluki padamu!"
Berbareng dengan itu, pedangnya kedua saudara Boe sambar dadanya Pengtjoan Thianlie
dengan satu gerakan Tianghong koandjit (Bianglala tembuskan matahari), yaitu pukulan
membinasakan dari kiamhoat Tjionglam pay. Si nona merasa gusar sekali, sehingga
alisnya jadi berdiri. Mendadak, sembari empos semangatnya, ia getarkan Hankong kiam
yang berobah jadi seperti puluhan batang pedang. Boe-sie Hengtee terkesiap dan buruburu loncat ke samping buat hindarkan diri dari sambaran itu. Mereka tak nyana,
serangan Tianghong koandjit yang sedemikian hebat sudah dapat dipunahkan secara
begitu gampang.
Tapi si nona tidak berlaku kejam. Melihat musuhnya mundur, ia tidak susul dengan lain
serangan yang membinasakan. Ketika itu, kedua boesoe Nepal sudah berlutut di atas
tanah, dengan tak hentinya bicara dalam bahasanya. Sembari putar pedangnya buat
tangkis sesuatu serangan, Pengtjoan Thianlie juga ucapkan beberapa perkataan dalam
bahasa Nepal. Sesudah mendengar perkataannya kedua boesoe itu, paras mukanya si
nona yang tadi mengandung kegusaran, jadi berobah sabar sampai akhirnya ia
manggutkan kepalanya sembari mesem.
Di lain pihak, Boe-sie Hengtee jadi meluap darahnya dan mereka menyerang mati-matian
seperti orang kalap. Harus diketahui, bahwa mereka adalah turunan ahli silat kelas utama
dan biasanya mereka merasa sangat bangga dengan kepandaiannya yang dianggap
sudah tinggi sekali. Bahwa sekarang si nona layani mereka sembari bicara, seolah-olah
tidak memandang sebelah mata, oleh mereka dianggap seperti satu hinaan yang sangat
besar.
Melihat kedua lawannya menyerang seperti kerbau gila dengan pukulan-pukulan yang
sangat hebat, Pengtjoan Thianlie merasa agak terkejut dan tidak berani lagi melayani
secara sembarangan. Ia putar pedangnya seperti titiran dan badannya seperti juga
dikurung dengan sinar putih yang sangat dingin. Mendadak, sembari kebaskan tangannya
Pengtjoan Thianlie ucapkan beberapa perkataan Nepal dan kedua boesoe itu, seperti
orang hukuman yang dapat pengampunan, manggut-manggutkan kepalanya beberapa
kali, akan kemudian bangun berdiri dan terus kabur secepat mungkin. Boe-sie Hengtee
mau mengubar, tapi ditahan oleh si nona
Tiba-tiba Pengtjoan Thianlie tertawa sembari menyampok dengan pedangnya, sehingga
kedua saudara Boe rasakan tangannya kesemutan dan loncat mundur beberapa tindak.
"Aku sudah perintah dua boesoe itu pulang ke negerinya dan kalian pun lebih baik pulang
saja," katanya dalam bahasa Han, dengan suara halus, tapi mengandung nada
memerintah.
Sebagai turunan ahli silat kelas utama, dalam kalangan Kangouw, Boe-sie Hengtee
biasanya disegani orang dan kecuali beberapa orang dari tingkatan tua, siapapun tak
berani berlaku kurang ajar di hadapan mereka. Maka itu, walaupun si nona bicara halus,
mereka lantas saja menjadi gusar.
"Dua bangsat itu datang kemari buat mengacau dan kau sudah berani lepaskan mereka,"
membentak Boe Lootoa. "Sekarang, biarpun kau mau kabur, kami tak akan permisikan
lagi."

"Siluman perempuan!" Boe Loodjie sambung perkataan saudaranya. "Aku memang sudah
lihat, kau bukannya orang baik-baik. Tong Keng Thian sekarang tidak berada di
dampingmu. Kau mau cari dia buat mintakan ampun juga sudah tidak keburu lagi!"
Mendengar cacian itu, keruan saja si nona lantas menerjang pula.
Pada waktu Pengtjoan Thianlie rebut guci emas, ia telah perintah supaya boesoe-boesoe
Nepal itu segera pulang ke negerinya dan jangan mengacau lagi di Tiongkok. Maka itu,
ketika baru bertemu, ia merasa gusar lantaran anggap, mereka berdua sudah langgar
perintahnya. Akan tetapi, sesudah menanya terang, ia dapat kenyataan mereka bukannya
melanggar perintah. Mereka datang di Sinkiang buat samper beberapa kawannya yang
dikirim oleh Raja Nepal, guna pulang bersama-sama. Apa mau, di tengah jalan mereka
bertemu dengan kedua saudara Boe, yang duga mereka mengandung maksud kurang
baik. Dengan nasehatkan supaya Boe-sie Hengtee pulang saja, si nona sebenarnya
bermaksud baik dan tidak mau permusuhan jadi berlarut-larut.
Sebagai seorang yang adatnya tinggi, bukan main gusarnya Pengtjoan Thianlie
mendengar cacian itu yang bawa-bawa juga namanya Tong Keng Thian. Sesudah
bertempur lagi beberapa lama, sembari berseru keras, kedua saudara Boe pentang
langkah seribu, dengan tak hentinya memaki "perempuan siluman."
"Binatang tak kenal mampus!" kata si nona dalam hatinya. "Dengan pandang mukanya
Keng Thian, aku tidak ambil jiwa anjingmu. Tapi, kau mesti dihajar adat!" Ia empos
semangatnya dan terus mengubar. Begitu menyandak, ia totol bebokongnya kedua
saudara Boe dengan Hankong kiam dan hawa dingin yang sangat hebat meresap ke
tulang-tulang. Boe-sie Hengtee seperti juga tahu si nona tidak akan turunkan tangan jahat
dan begitu Hankong kiam menotol, mereka lantas berbalik buat menyampok dengan
pedangnya akan kemudian lari lagi. Sesudah ubar-ubaran lima enam li, beberapa kali
bebokongnya Boe-sie Hengtee kena ditotol, sehingga perlahanlahan mereka merasa tidak
tahan lagi dan gemetar sekujur badannya.
"Masih berani memaki?" tanya si nona* sembari tertawa.
Sekonyong-konyong kedua saudara Boe bersiul keras dan berbareng dengan itu, dari atas
satu gundukan tanah loncat keluar satu wanita muda. Di bawah sinarnya rembulan, dapat
dilihat ia memakai pakaian warna ungu dengan satu tusuk konde emas pada rambutnya,
parasnya cantik bagaikan gambar dan tertawanya manis seperti bunga yang baru mekar.
"Ah, dua bocah ini sekarang kena tubruk tembok," katanya sembari tunjuk kedua saudara
Boe. "Betul bikin malu orang! Hayo lekas mundur!"
"Kouwkouw (bibi)," kata kedua saudara Boe. "Perempuan siluman itu sangat liehay. Hatihati! Lebih baik undang Loodjinkee (orang tua)."
"Omong kosong!" membentak si Kouwkouw itu. "Lekas mundur! Masa buat urusan begini
kecil mesti seret-seret tangan orang tua?"
Dilihat dari paras mukanya, nona itu belum cukup berusia dua puluh tahun dan banyak
lebih muda dari Boe-sie Hengtee. Tapi didengar dari panggilan kedua saudara Boe, ia
mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dari mereka itu.
Melihat munculnya orang baru, Pengtjoan Thianlie segera hentikan tindakannya. Si nona
mengawasi Pengpok Hankong kiam seperti lagaknya satu bocah nakal dan berkata
sembari tertawa: "Pedangmu bagus sekali, mengkilap kredepan. Boleh dibuat main?
Dibuat dari apa sih?"

Tanpa merasa, Pengtjoan Thianlie jadi tertawa. "Pedang ini bukan barang mainan,"
katanya. "Aku suka hadiahkan padamu, tapi kau tentu tidak akan dapat pegang padanya.
Siapa kau?"
"Kenapa tak dapat?" kata si nona. "Ibu! Boleh aku ambil barangnya lain orang?"
Pengtjoan Thianlie terkejut dan ketika ia menengok, di atas gundukan tanah sudah berdiri
seorang wanita usia pertengahan yang mengenakan pakaian warna hitam dan rambutnya
diikat dengan sutera putih yang merupakan dua kupu-kupu. Pengtjoan Thianlie terkesiap,
la kagum, lantaran tanpa terdengar suara apa-pun, tahu-tahu nyonya itu sudah berdiri
disitu. Nyonya itu mengawasi padanya sembari mesem dan lagaknya tidak berbeda
dengan si nona muda. "Ada ibunya, ada anaknya," kata Pengtjoan Thianlie dalam hatinya.
"Coba lihat, ia mau apa."
"Bwee-djie (anak Bwee)," kata si nyonya sembari tertawa. "Kepandaiannya Tjietjie itu ada
lebih tinggi daripada kau. Jika tak percaya, coba jajal. Kau tak akan dapat ambil
barangnya. Eh, Toaboe, Siauw-boe, kenapa kau orang jadi berkelahi dengan ia?"
Boe-sie Hengtee maju mendekati dan bicara panjang lebar, antaranya terdengar
perkataan "perempuan siluman" yang diucapkan keras-keras dan rupanya disengaja
supaya dapat didengar oleh Pengtjoan Thianlie.
Pengtjoan Thianlie jadi gusar sekali, tapi sebelum sempat unjuk kegusarannya, si gadis
muda sudah berkata: "Ibu, kau selalu tidak memandang mata padaku. Aku bukan anakanak lagi. Cobalah aku jajal-jajal." Ia berpaling kepada Pengtjoan Thianlie dan berkata
sembari tertawa: "Tjietjie, pinjam pedangmu. Bolehkah?"
Mendadakan saja, ia loncat tinggi dan lalu menubruk dari tengah udara dalam gerakan
yang luar biasa cepatnya. Pengtjoan Thianlie terkejut dan menyabet dengan pedangnya.
"Ah, benar saja tak kena!" kata si gadis. Tiba-tiba, ia putar badannya yang masih berada
di tengah udara, tangan kirinya coba tepuk pundaknya Pengtjoan Thianlie, sedang lima
jerijinya tangan kanannya coba cekal ugal-ugalannya Peng Go.
Ilmu entengi badannya Pengtjoan Thianlie sudah jarang terdapat dalam dunia, akan
tetapi, ilmunya gadis itu, yang dapat menubruk bulak-balik seperti burung di tengah
udara, lebih-lebih mengherankan. Tiga kali Pengtjoan Thianlie menyabet dengan Hankong
kiam, tapi selalu dapat dikelit secara gampang sekali.
Sembari loncat pergi datang dan melesat ke sana-sini, seperti kupu-kupu berterbangan di
antara bunga-bunga, gadis itu kelit sabetan-sabetannya Hankong kiam, dengan
tangannya sabansaban menyambar buat coba rebut pedang tersebut.
"Sungguh indah gerakanmu!" memuji Pengtjoan Thianlie sembari tertawa.
"Bagus! Bagus sekali!" memuji wanita setengah tua itu. "Bwee-djie hati-hati! Itulah Tatmo
Kiamhoat!"
Ketika itu Pengtjoan Thianlie sudah mulai menyerang dengan pukulan-pukulan Tatmo
Kiamhoat yang terlebih hebat dan Hankong kiam menyambar-nyambar seperti hujan dan
angin. Lewat lagi beberapa saat, si gadis mulai kelihatan keteter. Melihat begitu,
Pengtjoan Thianlie yang memang tidak bermaksud jahat, lantas mau hentikan
serangannya, akan tetapi, sebelum ia tarik pulang pedangnya, gadis itu sudah berseru:
"Dengan tangan kosong aku tak dapat menangkan kau. Sekarang aku mau gunakan
pedang!" Berbareng dengan perkataannya itu, ia putar Imdannya di tengah udara dan
tahutahu tangannya sudah mencekal sebatang pedang pendek yang mengeluarkan sinar
berkredepan.

Ketika itu, Pengtjoan Thianlie sedang menyerang dengan gerakan Tjoenhong kiattang
(Angin musim semi buyarkan kedinginan) dan ujung pedangnya sambar kedua matanya
gadis itu.
Mendadak gadis itu menyampok dengan pedangnya dan terus menikam ke arah perutnya
Pengtjoan Thianlie. Buru-buru Pengtjoan Thianlie putar tangannya dan membuat satu
lingkaran dengan pedangnya, dengan tujuan menggulung pedang lawannya. Tapi, siapa
nyana, kiamhoatnya gadis itu tidak menurut peraturan yang biasa. Terang-terangan,
barusan ia menikam ke arah perut, tapi setahu bagaimana, ujung pedangnya miring
sedikit dan sambar dada! Bukan main kagetnya Pengtjoan Thianlie yang lantas sedot
napasnya dan otot dadanya "melesak" kira-kira satu dim dalamnya. Saat itu, ujung
pedang si gadis sudah menyentuh bajunya Pengtjoan Thianlie. Mendadak ia rasakan
ujung pedang seperti juga menikam kapas dan tenaga pedang sudah kena dibikin buyar,
sehingga ia jadi terkesiap!
Pada saat itulah, Pengtjoan Thianlie balik tangannya dan kirim pukulan Kisoei lengpeng
(Air membeku menjadi es), yang meskipun menyambarnya kelihatan enteng, disertai
tenaga dalam yang sangat kuat. Pengtjoan Thianlie duga gadis itu tidak akan dapat
menyambut pukulannya dan benar saja, ia lantas loncat mundur dua tindak dan
kemudian barulah menyambut dengan gerakan Hoeitouw imsan (Loncat melewati
gunung).
Hoeitouw imsan adalah satu pukulan biasa dari ilmu pedang Boetong yang dikenal baik
oleh Pengtjoan Thianlie. "Kau tak boleh gunakan pukulan itu," katanya sembari tertawa.
"Buat sambut seranganku, kau harus gunakan pukulan Hoayong kiatto (Di Hoayong
mencegat jalanan)." Dengan pukulan Hoeitouw imsan, si penyerang harus lebih dahulu
menikam dua kali ke sebelah kiri dan kemudian menikam satu kali ke sebelah kanan. Dua
tikaman yang pertama cuma gertakan dan tikaman yang ketiga barulah serangan yang
benar-benar. Oleh Karena mengetahui jalannya pukulan tersebut, Pengtjoan Thianlie
segera majukan dirinya buat tutup bagian kirinya, supaya dua tikaman gertakan menjadi
buyar dan tak dapat menikam lagi ke sebelah kanan. Tapi tak dinyana, gerakannya gadis
itu benar-benar luar biasa. Barusan, terang-terangan ia menikam dengan gerakan
Hoeitouw imsan, tapi tak diduga, begitu ujung pedangnya menyambar, arahnya lantas
berobah, yaitu menikam beruntun dua kali dari sebelah kanan.
Dalam pertempuran antara ahli dan ahli, yang paling berbahaya adalah taksiran yang
salah. Saat itu, Pengtjoan Thianlie sudah majukan dirinya dan perhatiannya ditujukan ke
sebelah kiri, sehingga bagian kanannya jadi terbuka. Buat menangkis dengan Hankong
kiam sudah tidak keburu lagi. Si gadis mesem dan coba sabet putus ikatan pinggangnya
Pengtjoan Thianlie.
"Bwee-djie, hati-hati!" mendadak si wanita setengah tua berteriak. Saat itu, ikatan
pinggangnya Pengtjoan Thianlie mendadak berkibar dan gulung gagang pedangnya si
gadis!
Barusan, jika gadis itu benar-benar menikam, Pengtjoan Thianlie pasti akan mendapat
luka. Tapi ia memang tidak mempunyai niatan kurang baik. Melihat ikatan pinggangnya
Pengtjoan Thianlie yang sangat indah, dalam kenakalannya, ia ambil putusan buat
putuskan ikatan pinggang itu. Tenaga dalamnya Pengtjoan Thianlie ada banyak lebih
tinggi daripada gadis itu. Semua bagian badannya sudah terlatih baik dan otot-ototnya
secara otomatis menurut segala kemauannya. Pada detik si gadis sedikit bersangsi, ia
sudah keburu kerahkan tenaga dalam di pinggangnya dan ikatan pinggang itu lantas
berobah menjadi senjata yang kebut dan gulung pedang sang lawan. Baik juga si gadis
sudah diperingati oleh ibunya, sehingga ia masih dapat loncat mundur pada saat yang
tepat.

Begitu lawannya mundur, Pengtjoan Thianlie segera mencecer dengan seranganserangan kilat dan tidak memberi kesempatan lagi kepada gadis itu buat keluarkan
pukulan-pukulannya yang aneh. Dengan cepat ia jadi keteter dan cuma dapat membela
diri saja.
"Kau curang!" berseru si gadis sembari monyongkan mulutnya. "Kenapa kau tak kasih aku
balas menyerang? Adu pedang cara begini, aku tak mau!"
"Cis" Pengtjoan Thianlie tertawa. "Baiklah. Aku berikan lagi kesempatan." Ia pertahankan
gerakan Hankong kiam dan buka lowongan supaya dapat diserang. Si gadis jadi gembira
dan dengan beruntun kirim tiga serangan yang masing-masing berbeda satu sama
lainnya. Serangan pertama adalah pukulan Bansoei tiauwtjong (Laksaan sungai mengalir
ke laut) dari kiamhoat Gobie pay, yang kedua Tjoenma poentjoan (Kuda bagus mengubar
mata air) dari Khongtong pay, sedang yang ketiga adalah Kimtjiam touwsie (Jarum emas
menolong manusia) dari Siongyang pay. Apa yang mengherankan adalah: Setiap
serangan berobah arahnya pada detik penghabisan, umpamanya serangan yang bermula
kelihatannya seperti Bansoei tiauwtjong mendadak berobah arahnya dan menikam dari
jurusan yang tidak diduga-duga. Pengtjoan Thianlie yang sudah siap sedia sudah dapat
loloskan diri dari serangan-serangan itu dengan gunakan ilmu entengi badannya. Tapi
lantaran dicecer, ia sekarang cuma dapat membela diri dan tidak sempat lagi balas
menyerang.
Hatinya Pengtjoan Thianlie mendadak bergoncang sebab ia ingat penuturan mendiang
ayahnya. Dahulu, ketika sedang rundingkan berbagai cabang persilatan di Tiongkok,
ayahnya pernah ceritakan halnya satu ilmu pedang tunggal gubahan Pekhoat Molie. Ilmu
pedang itu merupakan petikan dari sarinya macam-macam kiamhoat, yang kemudian
diolah lagi menjadi satu. Meskipun gerakannya bersamaan dengan gerakan macammacam kiamhoat itu, tapi arah serangannya, pada detik penghabisan, berbeda dan
malahan sebaliknya dari kiamhoat yang asli. "Apakah ilmu pedangnya nona ini ada ilmu
pedang Pekhoat Molie?" tanya Pengtjoan Thianlie dalam hatinya.
Tidak salah dugaannya si nona.
Ilmu pedang gadis muda itu memang juga ilmu pedangnya Pekhoat Molie. Buat ahli silat
biasa, biarpun kenal ilmu pedang tersebut, tak gampang-gampang dia dapat
melawannya. Tapi Pengtjoan Thianlie adalah lain dari yang lain. Dasar dari ilmu
pedangnya adalah Tatmo Kiamhoat yang sangat tinggi dan kiamhoat tersebut telah
dicampur dengan ilmu pedang Eropa dan Arab, sehingga jadi sangat luar biasa. Maka itu,
begitu lekas mengenali ilmu pedangnya lawan dan pusatkan semangatnya buat melayani,
si gadis tidak dapat berbuat banyak lagi dengan pukulanpukulan yang aneh.
Demikianlah sesudah lewat beberapa saat, gerakan pedangnya si gadis lantas mulai
kalut. "Mau bertempur terus?" tanya Pengtjoan Thianlie sembari tertawa.
Gadis itu tak menyahut, dengan mendadak badannya melesat tinggi dan selagi badannya
turun ke bawah, ia menikam dengan pedangnya. Ia ternyata gunakan ilmu aneh yang bisa
menubruk di tengah udara seperti burung, dicampur dengan ilmu pedangnya Pekhoat
Molie. Pengtjoan Thianlie terkesiap. Tanpa sempat berpikir lagi, badannya sudah turut
melesat ke udara dan membabat dengan gerakan Itwie touwkang (Rumput wie seberangi
sungai). Saat itu, mereka berdua samasama berada di tengah udara dan gerakan pedang
cepat bagaikan kilat. Begitu lekas pedangnya menyambar ke tenggorokan orang,
Pengtjoan Thianlie lantas merasa menyesal. Ia sama sekali tak bermusuhan dengan gadis
itu, kenapa juga turunkan tangan yang jahat? Ia mau tarik pulang pedangnya, tapi sudah
tidak keburu lagi!
Si gadis keluarkan satu teriakan kaget. "Bwee-djie, kau masih tak percaya aku?" demikian
ia dengar suara ibunya, dan berbareng, ia rasakan badannya diangkat dan dilemparkan,

akan kemudian hinggap di atas tanah tanpa kurang suatu apa. Ketika menengok, ia lihat
ibunya sudah berhadapan dengan Pengtjoan Thianlie.
Barusan, pada saat hatinya menyesal tapi pedangnya sudah tak dapat ditarik pulang,
tiba-tiba saja depan matanya Pengtjoan Thianlie berkelebat satu bayangan hitam, yang
menyelak di antara kedua batang pedang yang sudah hampir beradu dan sudah berhasil
menolong gadis itu. Pengtjoan Thianlie yang begitu liehay jadi kesima dan badannya kej
engkang ke belakang. "Hatihati!" ia dengar satu suara berbisik dan merasa badannya
didukung orang. Ia jungkir balik, akan kemudian hinggap di muka bumi dengan selamat.
Pengtjoan Thianlie mengawasi dengan berdebar-debar. Wanita setengah tua itu, yang
pakaiannya dan lagaknya seperti si wanita muda, ternyata mempunyai kepandaian yang
tak dapat diukur bagaimana dalamnya.
"Sungguh cantik! Apa kau sudah punya mertua?" tanya wanita itu sembari tertawa,
lagaknya mirip seperti bocah nakal.
Mukanya Pengtjoan Thianlie lantas saja bersemu merah. Sebagai seorang yang
mempunyai kedudukan puteri dan sedari kecil biasa dihormati oleh para dayangnya,
inilah buat pertama kali seorang yang baru ketemu berani guyon-guyon padanya.
Sesudah kenyang tertawa, wanita itu lalu berkata lagi: "Ilmu silatmu juga benar-benar
indah. Inilah baru boleh dibilang, kepandaian dan paras dua-dua jempol. Maukah kau
dicarikan mertua olehku?"
"Kau tua-tua kenapa bicara begitu sembarangan?" sahut si nona dengan perasaan
mendongkol. "Jika kau terus omong gila-gila, aku tak akan berlaku sungkan lagi!"
Wanita itu tertawa terbahak-bahak. "Usiamu masih begitu muda, kenapa begitu galak?"
katanya. "Sama seperti Tjietjie-ku. Titsoen-ku (cucu keponakan) namakan kau perempuan
siluman, tapi aku lihat kau seperti nenek bawel!"
Si nona jadi meluap darahnya dan lantas angkat pedangnya. Ia tahu bukan tandingan,
tapi amarahnya mesti dilampiaskan.
Wanita itu tapinya terus tertawa. "Terhadap anakku kau berlaku cukup sungkan," kata ia.
"Tapi terhadap titsoen-ku, tanganmu kejam sekali. Siapa gurumu?"
"Sudah! Sudah!" berteriak Pengtjoan Thianlie. "Memang aku hinakan titsoen-mu. Nah,
hukumlah aku!" Si nona yang beradat angkuh lantas saja menikam, meskipun tahu
bakalan kalah.
"Aku sungguh sayang padamu," kata si wanita yang terus kocok si nona. "Kau begitu
cantik, mana tega aku menghukum kau!" Sehabis berkata begitu, dengan mendadak ia
usap mukanya Pengtjoan Thianlie. Terang-terang, si nona lihat gerakan tangannya, tapi
toh ia tidak keburu kelit!
Sekarang Pengtjoan Thianlie benar-benar gusar. Seperti orang kalap ia putar pedangnya
dan menyerang dengan pukulan-pukulan yang membinasakan.
"Kau benar-benar marah?" tanya wanita itu sembari tertawa dan kembali usap kepala
orang. Pengtjoan Thianlie terus menerjang dan kirim beberapa tikaman. Wanita itu tidak
jadi gusar, ia cuma kelit dan mulutnya ngoceh lagi:
"Ah, pedangmu sungguh-sungguh bagus! Cuma sayang sekarang musim dingin. Kalau
musim panas tak perlu bawa-bawa kipas lagi. Dari apa dibuatnya? Coba kasih aku lihat!"

Pengtjoan Thianlie terkejut dan lantas putar Hankong kiam bagaikan titiran. "Aku mau
lihat cara bagaimana kau rebut pedangku," katanya didalam hati.
Tiba-tiba si nona endus bebauan yang sangat harum dan dengan satu suara "tring!"
Pengpok Hankong kiam sudah kena dipentil terbang dengan dua jerijinya dan kemudian
disambut dengan satu tangannya. "Benar-benar aku pusing," katanya sembari bulak-balik
pedang itu. "Benar-benar aku tak tahu, dibuat dari bahan apa."
Kaget dan gusarnya si nona ngaduk menjadi satu. Tanpa pikir akibatnya, ia menubruk
seperti macan edan. "Buat apa begitu kesusu! Aku toh tak inginkan milikmu!" kata lagi si
wanita setengah tua sembari tertawa. Ia angsurkan tangannya dan kembalikan pedang
itu.
Begitu terima pedangnya, begitu si nona menikam lagi. Bagaikan kilat, si wanita tangkap
lengannya dan berkata pula: "Coba aku lihat lagi. Aduh benar-benar cantik! Tugas
comblang pasti aku jalankan!" Sembari ngoceh, tangannya kembali usap mukanya
Pengtjoan Thianlie. Sesudah kenyang menggoda, ia lepaskan tangannya dan sedang
suara tertawanya masih kedengaran, bayangannya sudah menghilang dari
pemandangan!
Pengtjoan Thianlie celingukan. Boe-sie Hengtee dan si gadis juga sudah tidak berada
disitu. Rupanya mereka sudah berlalu, ketika si wanita setengah tua goda dirinya.
Si nona menghela napas berulang-ulang dan parasnya lesu sekali. "Ayah ibuku sudah
peras pikiran dan tenaga buat gubah ilmu pedang ini dengan anggapan tiada
bandingannya di dalam dunia," katanya dalam hati. "Tapi siapa nyana, wanita itu saja aku
sudah tidak mampu menangkan. Ah, kalau begini, keinginan ayahku rasanya tidak akan
terwujut."
Pengtjoan Thianlie tentu saja tidak tahu, bahwa ilmu silat dan tingkatannya wanita itu
cuma dapat direndengi oleh dua tiga orang saja dalam Rimba Persilatan.
Dengan hati mendeluh, si nona jalan balik ke tendanya. Ketika itu sudah lewat tengah
malam dan sang rembulan pancarkan sinarnya yang gilang gemilang, sehingga padang
pasir jadi seperti mandi dalam lautan perak, dalam suasana yang sunyi-senyap. Di
padang pasir, benda yang jauhnya beberapa li masih dapat dilihat. Kedua tenda yang
dipasang di kaki gunung jauh-jauh sudah kelihatan. Mendadak hatinya Pengtjoan Thianlie
bergoncang. Di depan tendanya Tong Keng Thian terdapat dua bayangan orang, satu
lelaki dan satu perempuan. Yang lelaki adalah Keng Thian, tapi potongan badan yang
perempuan, bukan potongan badannya Yoe Peng. Sesudah berlari-lari kurang lebih satu li
lagi, barulah ia dapat tahu, bahwa wanita itu adalah gadis yang barusan jadi lawannya!
Tadi, ketika Pengtjoan Thianlie keluar dari tendanya buat selidiki itu suara "uh, uh," Keng
Thian sedang gulak-gulik dalam tendanya dengan tidak dapat pulas. Otaknya selalu tak
dapat lupakan si nona yang sikapnya membikin ia tidak mengerti. Sedikit banyak, ia
sudah mengetahui asalusulnya, yaitu turunan dari jago partai Thiansan dan cucu
perempuannya Koei Tiong Beng. Tapi, kenapa terhadap Thiansan pay, si nona
kelihatannya adem sekali? Kenapa? Ia ingat, ketika mau turun gunung, ayah ibunya pesan
supaya ia cari tahu dimana adanya paman Koei Hoa Seng. Sekarang ia sudah dapat cari
puterinya Koei Hoa Seng, tetapi si nona tak sudi naik ke Thiansan buat menemui sahabatsahabat dari mendiang ayahnya. Kenapa?
Memikir pergi datang, pemuda itu jadi semakin jengkel. Jika lain orang, ia tentu sudah
memaksa buat mendapat tahu seterang-terangnya. Tapi terhadap Pengtjoan Thianlie, ia
benarbenar tak sanggup berlaku keras, oleh karena adanya keagungan si nona yang
wajar, yang membikin orang tidak berani rewel-rewel di hadapannya.

Dalam kekesalannya itu, Keng Thian jadi gusar pada dirinya sendiri. Kenapa, sesudah
kenal Pengtjoan Thianlie, ia jadi begitu tolol? Saat itu, dalam otaknya berkelebat
bayangannya seorang wanita lain, seorang gadis jelita yang usianya lebih muda dari
Pengtjoan Thianlie. Gadis itu adalah Lie Kim Bwee, puteri Ie-ie-nya (bibi) sendiri (puterinya
Lie Tie dan Phang Lin). Kim Bwee adalah kawan memainnya sedari kecil, tapi ia heran
sekali, terhadap nona itu, ia tidak mempunyai perasaan seperti yang dirasakan terhadap
Pengtjoan Thianlie.
Angin diluar tenda jadi semakin santer dan di antara suaranya angin, sayup-sayup, ia
dapat dengar suara "uh, uh." "Apakah itu bukan suara goloknya boesoe Nepal?" ia tanya
dalam hatinya. Dalam pertemuan di Shigatse dan di gunung Tantat san ketika bantu
merebut guci emas, ia tahu gagang goloknya boesoe Nepal berlubang dan mengeluarkan
suara "uh, uh," jika kesampok angin. Keng Thian heran. Kenapa mereka masih berada di
Tiongkok?
Ia keluar dan loncat ke atas tenda, dari mana ia lihat bayangannya Pengtjoan Thianlie
yang sedang berlari-lari ke arah utara barat. Tadinya ia mau mengubar, tapi kemudian
urungkan niatannya. Ia ingat, kedua boesoe Nepal adalah orang sebawahannya Pengtjoan
Thianlie, sehingga jika si nona datang, segala urusan tentu bisa menjadi beres. Di
sebelahnya itu, jika menguntit, ia kuatir si nona jadi gusar dan menganggap ia terlalu
mau tahu urusan lain orang. Mengingat begitu, ia urungkan niatannya dan dengan
tindakan perlahan, menuju ke tendanya Pengtjoan Thianlie.
Di luar tenda ia bertemu Yoe Peng yang kelihatannya bingung. "Ah, Tong Siangkong!"
katanya. "Kenapa malam-malam begini masih jalan-jalan?"
"Kau dengar itu suara "uh, uh," tanya Keng Thian.
"Dengar,"sahutnya. "Mungkin cuma suara burung."
"Kongtjoe-mu?" tanya Keng Thian sembari tertawa.
"Ia kecapaian dan sudah pulas," Yoe Peng mendusta. "Aku keluar lantaran dengar suara
tindakanmu. Baliklah, kalau kau bikin ia mendusin, ia bisa jadi gusar."
Keng Thian tertawa dan lantas balik ke tendanya. "Benar saja dia tak mau aku mendapat
tahu," kata pemuda itu dalam hatinya.
Biarpun mengetahui Pengtjoan
Thianlie bukan sedang menghadapi bahaya, Keng Thian tak dapat tetapkan hatinya. Ia
sulut sebatang lilin besar dan duduk termenung dalam tendanya.
Tak tahu sudah lewat beberapa lama, mendadak di luar tenda terdengar suara tindakan
yang sangat enteng dan kain tenda dipentil beberapa kali.
Keng Thian loncat bangun dan menanya: "Kau sudah pulang?" Ia heran. Sedang si nona
mau rahasiakan kepergiannya, kenapa sekarang ia datang pada tendanya? Tangannya
membuka tenda dan segera juga kupingnya dapat dengar suara tertawa yang sudah
dikenal baik. "Koko, kau sedang pikiri siapa?" tanya satu suara wanita.
"Ah, aku kira siapa, tak tahunya setan kecil!" kata Keng Thian sembari tertawa. Wanita itu
bukan lain daripada Lie Kim Bwee, adik misanannya (piauw).

"Tak salah omongannya Toa-boe dan Siauw-boe," kata Kim Bwee sembari tertawa hahahihi. "Ada dia, mesti ada kau. Mereka kata, tendamu mesti berdekatan dengan tendanya
dan benar saja tidak meleset. Eh, kau tahu bagaimana keadaannya
kecintaanmu sekarang? Aku sih tahu!"
Keng Thian bingung berbareng geli. "Kenapa? Kau ketemu padanya?" tanya ia sembari
pukul si nona dengan perlahan.
"Sudah punya kawan baru, kenapa kau jadi begitu galak? Sudahlah, aku tak mau bicara,"
Kim Bwee menggoda terus.
"Baiklah, Piauwmoay-ku yang manis," kata Keng Thian sambil membungkuk. "Aku minta
maaf. Puas? Hayo, lekas bilang."
Kim Bwee tertawa-tawa. "Tadi aku bertempur dengan dia," katanya. "Benar-benar hebat!
Aku rasa, kau juga bukan tandingannya. Hati-hati lho! Mesti siap-siap buat dihajar
olehnya!"
Keng Thian yang sangat kepengen tahu keadaannya Pengtjoan Thianlie, seperti juga tidak
dengar godaan adiknya. "Apa? Kau bertempur dengan ia? Dan dia?" tanya Keng Thian.
"Ibu sedang main-main dengan dia," jawabnya. "Kau tahu adat ibu. Tak tahu ia mau mainmain sampai kapan."
"Dan Boe-sie Hengtee?" Keng Thian tanya lagi.
"Kedua mustika itu bilang, lantaran kau lindungi 'si perempuan siluman', mereka sungkan
menemui kau," jawab Kim Bwee. "Tapi aku tahu, sebenar-benarnya mereka merasa jengah
lantaran kena dikalahkan oleh 'perempuan siluman' itu. Eh, siapa sih namanya? Aku
belum pernah lihat wanita yang begitu cantik.
Sungguh tak pantas Toa-boe dan Siauw-boe namakan ia 'perempuan siluman'."
Keng Thian yang sedang kebingungan, mana sempat ladeni godaan adiknya. Ia jalan
mundarmandir dan tarik napas berulang-ulang seraya berkata: "Hai, bagaimana baiknya?
Ie-ie bertempur dengan ia. Bagaimana baiknya?"
"Eh, kenapa kau begitu kebingungan?" kata Kim Bwee sembari tertawa. "Ibu toh bukan
mau binasakan padanya. Ibu sendiri bilang, dia cantik sekali. Ia cuma mau main-main
sedikit."
Tapi Keng Thian tidak dapat dihiburi dengan perkataan Kim Bwee. Ia kenal adatnya
Pengtjoan Thianlie yang tak dapat dipermainkan secara begitu. Ia merasa sangat jengkel,
kenapa semakin tua bibinya jadi semakin suka geguyonan. Ia rupanya lupa, bahwa di
waktu masih kecil, berkat sifat bibinya yang suka bercanda, ia sendiri jadi lebih dekat
dengan sang bibi daripada dengan ibunya sendiri.
Phang Lin dan Phang Eng (ibunya Keng Thian) adalah saudara kembar, tapi sifatnya
berbeda seperti langit dan bumi. Phang Eng pendiam dan sungguh-sungguh, Phang Lin
nakal dan berandalan. Sifat itu tidak berubah sampai Phang Lin berusia lanjut.
Boe Kheng Yab (ibunya Lie Tie atau neneknya Lie Kim Bwee) adalah murid penutup dari
Pekhoat Molie. Itu sebabnya kenapa Lie Kim Bwee paham ilmu silatnya Pekhoat Molie. Di
sebelahnya itu, ia juga dapat berbagai macam ilmu dari ibunya, antaranya ilmu berkelahi
di tengah udara seperti seekor burung. Ilmu tersebut didapat oleh Phang Lin dari Patpie

Sinmo (Memedi Delapan Tangan) Sat Thian Tjek. Phang Lin bukan saja turunkan ilmu
silatnya, tapi juga adatnya yang suka bercanda kepada puterinya itu.
Melihat piauwheng-nya kejengkelan, Kim Bwee jadi semakin bungah hatinya.
"Siapa suruh dia hinakan Toa-boe dan Siauw-boe," katanya sembari tertawa. "Kau tak lihat
cara bagaimana mereka dibikin kucar-kacir? Benar-benar bikin orang mendongkol!
Bebokongnya ditotol dengan pedang, tidak ditikam, cuma dipermainkan, seperti kucing
permainkan tikus. Aku sungguh tak sampai hati! Ibu tolong balaskan sakit hatinya. Eh, kau
belum beritahu, siapa sih namanya?"
"Ah, jangan begitu melit," Keng Thian menghela napas. "Semua orang sendiri. Namanya
Peng Go. Koei Tiong Beng yang setingkat dengan nenekmu, adalah kakeknya. Kalian
permainkan dia, Iethio tentu akan menegur."
"Kau mau mengadu?" tanya Kim Bwee sembari letletkan lidahnya. "Aku tak takut! Aku
takut pada ayah, tapi ayah takut pada ibu dan ibu takut padaku. Kau mengadu juga tak
ada gunanya."
Keng Thian benar-benar tidak berdaya. Ia cuma mengharap, di kemudian hari Pengtjoan
Thianlie akan mengetahui adatnya sang ie-ie yang suka memain dan dapat menyayang
bibinya itu. Memikir begitu, hatinya jadi lebih tenang.
"Eh, kenapa kalian bisa berada disini?" ia tanya sesudah berdiam beberapa saat.
"Piauwko," kata si nona sembari colek janggut kakaknya. "Kau benar sudah otak miring.
Masakan ujian tiga tahun sekali yang diadakan oleh ayahmu sendiri, kau sudah tidak ingat
lagi?"
Thiansan pay mempunyai anggauta yang berjumlah besar, yaitu turunan dan muridmuridnya Thiansan Tjitkiam (Tujuh Pendekar Pedang dari Thiansan). Sesudah Tong Siauw
Lan pimpin partai tersebut, tiga tahun sekali ia kumpulkan murid-murid Thiansan pay buat
diuji ilmu silatnya. Ini dinamakan Pertemuan Kecil. Saban sepuluh tahun sekali diadakan
Pertemuan Besar, dimana bukan saja murid-murid, tapi orang-orang dari tingkatan tua
juga diundang datang, seperti Moh Tjoan Seng, Tjio Kong Seng dan yang lain-lain.
Tahun itu ialah tahun Pertemuan Kecil. Tahun yang lalu, ketika mau turun gunung, Tong
Keng Thian telah dapat kelonggaran istimewa dari ayahnya buat tidak usah hadiri
Pertemuan Kecil itu, jika terpaksa. Kalau mungkin, ia tentu saja mesti pulang pada
temponya yang tepat, akan tetapi, kalau dalam usaha mencari Koei Hoa Seng ia berada di
tempat jauh, maka ia boleh tidak usah pulang ke Thiansan. Itulah sebabnya, kenapa Keng
Thian sudah lupakan hal tersebut.
Biarpun sudah dibikin sadar, tapi masih ada hal yang kurang dimengerti. "Ujian yang
dibuka oleh ayahku, ada hubungan apa dengan kedatangan kalian?" tanya ia.
"Apa benar kau belum pernah dengar penuturannya Iethio (ayahnya Keng Thian)?" tanya
Kim Bwee. "Biarlah aku ceritakan. Dahulu, Hoei-angkin
Lootjianpwee, yaitu soetji nenekku, pernah turunkan beberapa jurus ilmu silat kepada
suami isteri Huke-tsihu, pemimpin suku Hapsatkek. Isterinya Huke-tsihu, yang bernama
Mungmanlis, telah meninggal dunia pada kira-kira sepuluh tahun berselang. Waktu aku
masih kecil, aku pernah bertemu padanya yang datang buat sambangi nenek (Boe Kheng
Yao). Ketika nenek meninggal dunia, ia sudah terlalu tua buat bisa datang menyambangi."
"Tapi, kalian mempunyai hubungan apakah dengan Mungmanlis yang sudah mati?" tanya
Keng Thian dengan perasaan heran. "Apa kau mau cari ia di tempatnya Giam Loo-ong?"

"Eh, apa kau tolol atau berlagak tolol?" kata si nona sembari monyongkan mulutnya.
"Aku benar-benar tolol," jawab Keng Thian sembari tertawa.
"Nah, kalau begitu, kau dengarlah," kata Kim Bwee sembari mesem. "Mungmanlis benar
sudah meninggal dunia, tapi ia mempunyai anak cucu. Dari Hui-angkin Lootjianpwee, ia
cuma dapat beberapa jurus ilmu silat, sehingga tidak bisa dibilang menjadi murid dan
dengan demikian, ia pun tidak termasuk anggauta Thiansan pay. Belakangan, cucucucunya Mungmanlis mendapat tahu, bahwa Iethio dan Ie-ie tiga tahun sekali
mengadakan Pertemuan Kecil buat uji kepandaiannya murid-murid Thiansan dan juga
memberi petunjuk-petunjuk. Lantaran begitu, mereka ingin turut hadir dalam pertemuan
tersebut. Mengingat nenek, ibu sudah permisikan mereka datang. Belakangan, oleh
karena kuatir mereka tidak dapat cari tempat pertemuan, ibu segera mengambil putusan
buat sambut mereka. Tapi sebenarnya, ibu sudah merasa sangat kesepian dan kepengen
turun gunung buat main-main. Aku sendiri tentu saja merasa sangat girang bisa turut
jalan-jalan. Itu sebabnya kenapa sekarang kami berada disini. Sudah mengertikah kau?
Eh, aku dengar di sebelah depan adalah wilayahnya suku Hapsatkek. Apa benar?"
"Benar," sahut Keng Thian. "Ie-ie hapal benar keadaan di Sinkiang, buat apa kau tanyatanya aku?"
"Aku sudah sebal jalan di padang pasir ini," kata Kim Bwee sembari tertawa. "Aku
menanya sebab kuatir ibu dustai aku." Sesudah berdiam beberapa saat, ia berkata pula:
"Di tengah jalan, kami bertemu dengan Toa-boe dan Siauw-boe yang mengatakan sedang
ubar dua orang. Lantaran kami juga mau seberangi padang pasir ini, maka kami lantas
jalan bersama-sama. Tak dinyana, malam ini kami bertemu dengan wanita yang bernama
Koei Peng Go itu." . "Dan dimana adanya dua boesoe Nepal itu?" tanya Keng Thian.
"Boesoe Nepal?" menegasi si nona.
"Yah, itu dua orang yang diubar oleh Toa-boe dan Siauw-boe," jawab Keng Thian.
"Aku tak lihat," jawabnya. "Sesudah mereka ribut-ribut, barulah aku turun tangan."
Keng Thian jadi tertawa geli.
"Eh, kenapa kau tertawa?" tanya Kim Bwee. "Mungkin kedua boesoe itu sudah
dibinasakan oleh Toa-boe dan Siauw-boe, sehingga kau punya Peng Go Tjietjie menjadi
gusar."
Keng Thian tak mau ladeni ocehannya sang adik. Ia keluar dari tenda dan memandang ke
tempat jauh dengan paras muka guram. "Kenapa belum juga pulang?" ia berkata seorang
diri.
"Mungkin ibu belum cukup menggoda ia," kata si nona.
"Apa Ie-ie bakal datang kesini?" tanya Keng Thian.
Mendadak Kim Bwee pegang pundak kakaknya dan bisik-bisik di kupingnya: "Ibu bilang, ia
bersedia jadi comblang. Malam ini ia goda sang penganten dan lantaran kuatir kau berdua
menjadi gusar, ia tak mau datang kesini. Ibu perintah aku memberitahukan kau, supaya
ajak pengantenmu pulang ke Thiansan."
"Omong kosong!" membentak Keng Thian.

"Ah, bukan omong kosong!" jawab Kim Bwee. "Apakah sesudah tiba disini, kau tak mau
menemui Twathio dan Twa-ie?"
Keng Thian jadi kewalahan. Ia angkat tangannya seperti orang mau memukul dan si nakal
berlari-lari sembari berteriak-teriak. Pada saat itulah, mendadak berkelebat satu
bayangan orang yang memakai pakaian warna putih dan dalam sekejap sudah berada di
hadapan mereka.
Lie Kim Bwee berhenti tertawa. "Cepat benar kau balik!" katanya. Tong Keng Thian sendiri
sembari tertawa lantas maju menghampiri. Pengtjoan Thianlie awasi mereka dengan sorot
mata dingin dan mendadak, ia putar badannya dan berlalu tanpa berkata sepatah kata.
Sebenarnya, ia merasa suka terhadap Kim Bwee. Cuma saja, lantaran barusan ia lihat si
nona bercanda begitu hangat dengan Keng Thian, ditambah perkataan "cepat benar kau
balik," hatinya jadi berdongkol. Selainnya begitu, barusan ia sudah digoda pulang pergi
oleh ibunya Kim Bwee, sehingga amarahnya jadi naik. Ia jalan terus balik ke tenda dan
tidak ladeni teriakannya Keng Thian.
"Hebat benar adatnya!" kata Kim Bwee sembari letletkan lidah. "Tong Koko, aku sudah
bikin marah kau punya Peng Go Tjietjie. Tak berani aku berdiam lama-lama lagi disini."
Terhadap adik misan yang nakal itu, benar-benar Keng Thian tak berdaya. Ia cuma bisa
tertawa getir. Baru jalan beberapa tindak, si nona berpaling dan berkata pula: "Ingat! Ajak
isterimu supaya bisa berkenalan dengan saudara-saudara. Penemuan kali ini dibikin di
atas Puncak Onta dari gunung
Mostako. Yang bakal memberi ceramah tentang ilmu silat adalah ibumu sendiri.
Kesempatan itu benar-benar tidak boleh dilewati begitu saja." Sehabis berkata begitu,
dengan satu tertawa nyaring, si nakal lantas berlari-lari dengan gunakan ilmu entengi
badan dan dalam sekejap saja, ia sudah menghilang dari pemandangan.
Dengan pikiran kusut, perlahan-lahan KengThian hampiri tendanya Pengtjoan Thianlie.
Penerangan sudah padam, cuma lapat-lapat ia dengar suara tangisan.
"Peng Go Tjietjie," ia memanggil.
Tak ada sahutan. Ia memanggil lagi beberapa kali, tapi tetap si nona tidak menyahut,
cuma suara tangisan lantas berhenti. Keng Thian berdiri bengong di depan tenda.
Mendadak satu ingatan berkelebat di otaknya. "Piauwmoay guyon-guyon, tapi
perkataannya memang ada benarnya juga," katanya didalam hati. "Memang baik juga jika
aku bisa bawa Peng Go menemui ayah dan ibu. Ayah dan beberapa tjianpwee lainnya
sangat pikiri Koei Hoa Seng Pehpeh. Mereka tentu akan girang sekali kalau bisa bertemu
dengan puterinya Koei Pehpeh. Cuma saja, Peng Go selalu kelihatan kurang senang jika
dengar aku mau ke Thiansan dan Ie-ie baru saja permainkan dia. Sekarang ia tentu lebihlebih sungkan pergi ke Thiansan. Ah, bagaimanakah baiknya?"
Dalam kebimbangan, tangannya mendadak kena langgar batu giok pemberian Liong Sam
yang berada dalam kantongnya. "Perjalanan buat menemui Pehhu-nya (paman) Peng Go
mesti makan tempo beberapa bulan," pikir Keng Thian. "Kalau bisa pergi dahulu ke
Thiansan, dua urusan, bisa beres dengan berbareng, sedang ayah dan ibu juga tak usah
pikiri aku. Berbareng dengan itu, aku juga bisa tahu asal-usulnya Liong Sam Sianseng.
Tapi bagaimana membujuk Peng Go?"
Sesudah putar otaknya, tiba-tiba ia dapat jalan yang sangat baik. Ketika itu sang malam
sudah hampir terganti dengan siang.

Sesudah mendapat pikiran baik, Keng Thian jadi bersemangat. Ia tidak balik ke tendanya,
tapi jalan mundar-mandir di depan tenda si nona sampai fajar menyingsing. Begitu lekas
terang tanah, tenda tersingkap dan Yoe Peng munculkan diri. Ia merasa heran ketika lihat
Keng Thian masih berada disitu dan lalu berkata: "Kongtjoe bilang, kau tak usah kawani ia
lagi. Ia bisa pergi sendiri."
Tong Keng Thian tercengang. Ia tak duga hatinya Pengtjoan Thianlie begitu keras.
Sesudah putar otak setengah malaman, baru ia dapat satu tipu bagus, tapi sekarang jadi
sia-sia saja. Ia jadi bengong dan tak dapat mengeluarkan sepatah kata.
Melihat si pemuda jadi seperti orang linglung, Yoe Peng jadi kasihan berbareng geli. "Eh,
apa semalam kau tak tidur?" ia tanya.
Keng Thian tertawa getir. Ia tidak jawab pertanyaan orang, tapi berkata seorang diri:
"Keadaan sekarang bukannya seperti keadaan semalam, untuk siapakah 'ku gadangi sang
malam di tengah angin dan embun!"
Baru saja ia habis ucapkan perkataan begitu, tenda kembali terbuka dan Pengtjoan
Thianlie kelihatan berjalan keluar!
Hatinya si nona sebenarnya masih mendongkol, akan tetapi begitu dengar sajak yang
diucapkan oleh Keng Thian, ia jadi girang berbareng sedih, sehingga hampir-hampir ia
kucurkan air mata. Sajak itu adalah buah kalamnya Oey Tiong Tjek, seorang sastrawan
kenamaan pada jaman itu, yang dikenal bukan saja di sebelah selatan dan utara Sungai
Besar, tapi malahan sampai di daerah perbatasan yang jauh. Sedari usia sepuluh tahun,
pada waktu kedua orang tuanya masih hidup, Pengtjoan Thianlie sudah baca kumpulan
sajak-sajaknya Oey Tiong Tjek. Maka itulah, begitu dengar ucapannya Tong Keng Thian, ia
jadi merasa terharu, seolah-olah si pemuda yang sengaja menggubah sajak tersebut
untuk dirinya. "Ah, si tolol ternyata sudah gadangi malam di tengah angin dan embun
untuk diriku!" katanya didalam hati.
Melihat Pengtjoan Thianlie muncul waktu ia baru saja habis ucapkan perkataannya,
mukanya Keng Thian jadi bersemu merah lantaran jengah. "Peng Go Tjietjie! Pagi benar
kau sudah bangun!" katanya sembari menghampiri.
"Kau sendiri terlebih pagi," kata Yoe Peng. "Eh, Siauw Kongtjoe! Si tolol tak tidur seluruh
malam!"
Pengtjoan Thianlie lirik padanya, tapi tidak berkata suatu apa. Sesudah lewat sekian lama,
ia dongak dan berkata dengan suara tawar: "Terima kasih yang kau sudah kawani kami
selama banyak hari. Mulai dari sekarang, tak usah lagi. Kami sendiri bisa tanya-tanya
jalanan."
Keng Thian yang tajam kupingnya lantas bisa menangkap, bahwa biarpun suaranya
tawar, tapi cukup lunak."Di padang pasir, orang paling gampang kesasar," katanya
sembari tertawa. "Selainnya begitu, di tengah jalan kalian belum tentu bisa bertemu
orang-orang yang kenal jalan. Aku justru sedang senggang dan dengan mau sendiri, aku
bersedia jadi penunjuk jalan. Kenapa juga kalian mau jalan sendiri?"
Sekali ini, si nona kena dikalahkan juga. Sebenarnya, jika turuti adatnya, ia masih ingin
ngambek dan semprot si pemuda dengan beberapa perkataan tajam. Akan tetapi,
lantaran sungkan dikatakan jelus terhadap si nona cilik yang kelihatannya begitu rapat
dengan Keng Thian dan juga sebab merasa tidak tega buat keluarkan perkataan berat,
maka, sesudah dengar omongannya Keng Thian, ia manggut sedikit dan berkata dengan
suara perlahan: "Baiklah."

Sebagai orang yang belum pernah menjelajah di padang pasir, Pengtjoan Thianlie tidak
tahu ke arah mana mereka sedang berjalan, oleh karena di hadapan mereka cuma terlihat
lautan pasir yang seakan-akan tiada tepinya. Sesudah berjalan beberapa hari, deretan
gunung yang tadinya hanya kelihatan samar-samar jadi semakin nyata, sedang sebuah
gunung besar yang menjulang keawan semakin lama jadi semakin dekat.
"Bukankah kau bilang mau pergi ke Soetjoan?" tanya Pengtjoan Thianlie. "Tapi kenapa kita
agaknya mendekati Thiansan?"
"Dari sini Thiansan masih jauh sekali," jawab Keng Thian sembari tertawa. "Kita sekarang
sedang potong jalan, supaya lebih dekat."
Si nona yang tidak kenal jalan, tidak berkata apa-apa lagi dan terus mengikuti saja.
Selama beberapa hari yang pertama, sikapnya Pengtjoan Thianlie masih tawar, akan
tetapi, sesudah lewat belasan hari, ia dapat pulang kegembiraannya dan berjalan sembari
omong-omong dan tertawatawa. Sesudah seberangi lautan pasir, pada suatu hari tibalah
mereka di depannya satu gunung besar yang atasnya tertutup es dan salju. Pada
lerengnya gunung tersebut terdapat satu puncak tertutup salju yang bentuknya seperti
seekor onta, kepalanya di timur, buntutnya di sebelah barat.
Hatinya Pengtjoan Thianlie jadi curiga dan tanya: "Apakah ini bukannya Thiansan?"
"Bukan," jawab Keng Thian. Jika tak percaya, kau boleh tanya gembala." Di kaki gunung
itu .terdapat tanah rumput yang sangat subur, dimana orang sering dapat ketemukan
kaum gembala yang angon binatang piaraannya. Sesudah berjalan lagi beberapa li,
mereka bertemu serombongan orang yang sedang giring ontanya dan waktu ditanya,
mereka menerangkan, bahwa gunung itu adalah gunung Mostako, sedang puncak yang
seperti onta dinamakan Puncak Onta. Mendengar keterangan itu, hatinya Pengtjoan
Thianlie baru menjadi lega. Ia tidak tahu, bahwa gunung Mostako sebenarnya adalah
cabangnya Thiansan, sedang tempat itu sudah dekat sekali dari Puncak Selatan.
Pengtjoan Thianlie dongak mengawasi awan yang melayang hilir mudik, sedang salju
yang menutupi puncak menyiarkan ribuan warna gilang gemilang lantaran disoroti
sinarnya matahari. Melihat itu semua, mau tak mau, si nona jadi ingat keraton es dan
lama sekali ia berdiri disitu, menikmati pemandangan alam yang sangat indah.
"Gunung ini agaknya lebih tinggi dari Nyenchin Dangla!" katanya dengan suara kagum.
"Pemandangannya juga luar biasa indah! Cuma saja di Nyenchin Dangla terdapat Thianouw, yang merupakan timpalan tepat bagi sang gunung dan tak dapat dicari
bandingannya di lain tempat."
Keng Thian mesem dan berkata: "Di atas Puncak Onta terdapat sebuah telaga es, yang
meskipun tak dapat direndengkan dengan Thian-ouw, mempunyai semacam keindahan
yang sangat istimewa."
Si nona menengok dan tertawa. "Apa benar?" ia tanya, tapi lantas juga ia menghela
napas dan berkata lagi: "Cuma sayang kita mesti teruskan perjalanan."
Mendadak di atas gunung lapat-lapat terdengar suara seperti pecahnya kepingan es. "Ih!"
kata Yoe Peng. "Itulah suara hancurnya es lantaran kena diinjak orang. Apa di atas puncak
terdapat banyak manusia?"
"Telaga es yang barusan aku sebutkan, bukan cuma pemandangan-nya yang indah, tapi
juga mempunyai daya penarik lain, yaitu Soatlian (Teratai es) yang banyak tumbuh di
tengah telaga," menerangkan Keng Thian. "Pada permulaan musim semi, pemburu yang
nyalinya besar sering datang kesitu buat memetik Soatlian yang harganya sangat tinggi.
Didengar dari suaranya, orang yang berada di atas bukan cuma satu dua orang."

Thiansan Soatlian adalah semacam bunga yang langka dalam dunia, bukan saja warnanya
luar biasa indah, tapi juga merupakan satu obat yang tiada bandingannya. Soatlian dapat
menyembuhkan penyakit kurang darah, macam-macam luka dan punahkan racun.
Dalam keraton es terdapat macam-macam obat, di antaranya ada juga yang
menggunakan Soatlian sebagai campuran, tapi Pengtjoan Thianlie belum pernah lihat
Soatlian yang sedang mekar. Kegembiraannya si nona jadi terbangun dan ia berkata
sembari tertawa: "Kalau begitu, apa tidak baik kita korbankan tempo setengah hari buat
naik ke atas untuk melihat bunga yang langka itu?"
Keng Thian hampir bersorak lantaran girangnya, tapi sedapat mungkin, ia tahan perasaan
hatinya. "Jika Tjietjie ingin, aku bersedia buat mengantar," katanya dengan sikap tenang.
Oleh karena tertutup es, Puncak Onta luar biasa licinnya, sehingga sekalipun kawanan
binatang masih sukar manjat ke atas. Pemetik Soatlian biasanya mendaki gunung
beramai-ramai dengan hubungkan badan mereka satu sama lam dengan tambang yang
kuat. Mereka pacul es guna membuat tempat taruh kaki dan naik dengan perlahan sekali.
Akan tetapi, biarpun begitu, masih tidak jarang terjadi kecelakaan.
Tong Keng Thian bertiga yang mempunyai ilmu entengi badan sangat tinggi, masih
memerlukan satu jam lebih buat naik ke atas puncak.
Setibanya di atas, dengan hati terbuka, mereka pandang alam yang luas. Bagaikan
sehelai sutera putih, air yang sangat bening turun dengan perlahan dari atas gunung dan
masuk ke dalam satu telaga yang garis tengahnya beberapa puluh tombak. Di atas telaga
itu terlihat kepingankepingan es yang bersinar terang dan rontokan bunga yang
terombang-ambing kesana-sini, menuruti gerakannya sang air. Di sebelah sana terdapat
pohon-pohon bunga hutan yang tumbuh berdampingan dengan pohon-pohon berduri.
"Dimana adanya Soatlian?" tanya Pengtjoan Thianlie.
"Ah, semuanya sudah kena dipetik orang," jawab Keng Thian dengan suara menyesal. Si
nona merasa kecewa, akan tetapi, lantaran pemandangan disitu benar-benar indah, ia
merasa ada harganya juga buat datang ke tempat tersebut. Selagi pandang keadaan di
sekitarnya, mendadak ia lihat banyak tapak kaki di atas salju, dari pinggir telaga sampai
ke gerombolan pohon-pohon
kembang. Di sebelah belakang pohon-pohon kembang itu lapat-lapat masih terdengar
suara tindakan manusia.
"Sesudah tiba disini, kau sebenarnya harus melihat-lihat lebih banyak lagi," Keng Thian
mendadak berkata sembari tertawa. "Tempat ini adalah tempat asal dari partaimu."
"Apa?" menegasi si nona.
"Dahulu kakekmu bertemu dengan Soetjouw-mu, Sin Liong Tjoe, di ini tempat,"
menerangkan Keng Thian.
"Kalau begitu, di belakangnya pohon-pohon kembang itu mesti terdapat guanya
Soetjouw," kata Pengtjoan Thianlie yang lantas cabut pedangnya buat membabat pohonpohon itu dan lalu masuk ke dalamnya.
Baru masuk beberapa tindak, ia dapatkan satu jalanan kecil, yang dilihat dari tanahnya,
baru saja habis dibuat. Pengtjoan Thianlie jadi curiga.

Di belakangnya pohon-pohon kembang itu terdapat satu batu besar dan di atas batu
terpahat sebuah gua cetek yang bentuknya seperti manusia yang sedang bersemedhi.
Batu itu adalah tempat bersemedhinya Sin Liong Tjoe yang pernah bersila disitu sembilan
belas tahun lamanya, sehingga badannya jadi terpeta di atas batu. Belakangan dengan
turuti peta badan itu, muridmuridnya pahat batu itu dan membuat satu gua cetek.
Sesudah Sin Liong Tjoe meninggal dunia, ia tinggalkan sejilid kitab ilmu silat. Koei Tiong
Beng, kakeknya Pengtjoan Thianlie, adalah murid yang mewarisi kitab tersebut, sesudah
Sin Liong Tjoe menutup mata. Maka itulah, tempat tersebut dianggap sebagai tempat suci
dari Boetong pay cabang Utara.
Sesudah memberi hormat dengan berlutut tiga kali, Pengtjoan Thianlie putari batu itu.
Tibatiba, suara tindakan kaki jadi semakin jelas kedengarannya. Si nona angkat kepalanya
dan lihat belasan gua di lereng gunung seberang. Di depannya gua yang tengah,
dipasang satu tetarap bambu dan dalam tetarap itu kelihatan beberapa bayangan
manusia. Selainnya itu, ditanjakan gunung kelihatan sejumlah orang yang berjalan
berkelompok-kelompok, seperti juga sedang mau menghadiri serupa pertemuan.
Pengtjoan Thianlie jadi semakin curiga. Walaupun belum kenal seluk beluknya Kangouw,
akan tetapi dengan sekali lihat saja, ia sudah mengetahui, bahwa orang-orang itu
bukannya tukang cari Soatlian. Dengan mendadak, dalam hatinya muncul satu
pertanyaan: "Buat apa Tong Keng Thian pancing aku naik ke gunung itu?"
Mengingat begitu, si nona lantas lari seperti terbang dengan gunakan ilmu entengi badan
Tengpeng touwsoei (Menyeberangi sungai dengan menginjak rumput).
Mendadak ia dengar satu orang berseru: "Hei, siapa wanita itu? Orang luar toh tidak boleh
hadiri pertemuan!"
"Ah! Dia berani bawa pedang!" berteriak seorang lain.
Pengtjoan Thianlie jadi sangat gusar. Ia lihat dua pemuda yang mengenakan pakaian
hitam dan berdiri ditanjakan, sedang tunjuk-tunjuk dirinya. Selagi mau unjuk
kegusarannya, mendadak terdengar suara tertawa yang sangat nyaring. Orang yang
tertawa adalah satu gadis cilik yang bukan lain daripada Lie Kim Bwee. "Ha, Tong Koko!"
Ia berseru sembari gapekan Tong Keng Thian. "Benar saja kau turut nasehatku dan bawa
dia kemari. Hei! Kalian jangan pentang bacot! Bisa-bisa kalian digusari Tong Koko! Dia
bukan orang luar. Kau tahu dia siapa? Mari, mari! Aku beritahukan kalian!" Sehabis
berseru begitu, ia kembali tertawa nyaring dan mengedip matanya kepada kedua pemuda
yang berpakaian hitam, sehingga Pengtjoan Thianlie merasa ia sedang diejek. Di
belakangnya Lie Kim Bwee berdiri Boe-sie Hengtee dan dua orang lagi yang tidak dikenal.
Bukan main gusarnya Pengtjoan Thianlie. "Hm, Tong Keng Thian!" ia menggerendeng
dengan hati panas. "Berani benar kau permainkan aku! Kau pancing aku ke atas gunung
buat jadi buah tertawaan orang!" Ia enjot tubuhnya buat bikin perhitungan dengan Tong
Keng Thian yang dianggap kurang ajar sekali.
Ketika itu, Keng Thian sendiri sudah dicegat dan dikocok oleh Lie Kim Bwe. "Piauwmoay,
janganlah omong yang gila-gila!" kata Keng Thian berulang-ulang dengan suara
memohon.
Pengtjoan Thianlie jadi terlebih gusar lagi, tapi sebelum ia dapat datang dekat, di
depannya berkelebat bayangan orang dan seorang wanita setengah tua sudah berdiri di
hadapannya. Si nona kenali wanita itu sebagai orang yang pernah permainkan dirinya di
tengah jalan.
"Apakah kau datang bersama Keng-djie (anak Keng)?" tanya wanita itu sembari tertawa.

Seperti api disiram minyak, tanpa pikir panjang, Pengtjoan Thianlie ayun tangannya dan
lepaskan enam butir Pengpok Sintan dengan berbareng. Ia tahu, ilmu silatnya tidak
nempil dengan nyonya itu dan lantas mendahului dengan senjata rahasianya yang liehay.
"Apa artinya ini?" kata wanita itu sembari pentang lima jerijinya, yang bagaikan bunga
anggrek mendadak mekar, sudah pentil lima butir pelurunya Pengtjoan Thianlie. Sungguh
heran, begitu kena pentilan, lima peluru itu melayang-layang di tengah udara, tidak
meledak dan juga tidak jatuh ke tanah! Dari sini dapat dilihat, bahwa lweekang-nya
wanita itu sudah mencapai puncaknya
kesempurnaan. Tapi ini belum seberapa. Apa yang membikin Pengtjoan Thianlie jadi
terkesima adalah: Ketika Pengpok Sintan yang terakhir menyambar, wanita itu sanggap
dengan mulutnya dan terus telan peluru tersebut! "Sungguh menyegarkan!" katanya
sembari mesem. "Lebih menyegarkan dari air gunung."
Sebagaimana diketahui, Pengpok Sintan mempunyai hawa dingin yang luar biasa. Orang
yang lweekang-nya belum cukup, kena hawanya saja sudah menggeletak. Orang yang
lweekang-nya cukup tinggi kebanyakan mesti roboh, jika kena dihantam jalanan
darahnya. Maka itu, tidaklah heran jika Pengtjoan Thianlie sendiri jadi terkesima waktu
lihat wanita tersebut dapat menelan pelurunya, seperti orang telan sebutir es.
Tanpa berkata suatu apa, si nona lantas balik badannya dan terus kabur. Badannya wanita
itu mendadak melesat ke tengah udara sembari kebas tangannya dan lima butir Pengpok
Sintan lantas masuk kedalam tangan bajunya. "Senjata rahasia ini aku belum pernah
lihat," katanya sembari tertawa. "Nona, kita belum kenal satu sama lain, tapi kenapa,
begitu bertemu muka, kau lantas menyerang dengan senjata yang begitu hebat?"
Pengtjoan Thianlie yang pernah rasakan liehaynya wanita itu, lantas duga dirinya mau
dipermainkan lagi. Ia tahu tak akan dapat loloskan diri dan segera hentikan tindakannya.
"Jika kau benar-benar seorang pandai dari tingkatan tua, tidaklah pantas berulang kali kau
permainkan orang dari tingkatan muda," ia membentak. "Hm! Thiansan pay benar pandai
menghina pihak yang lemah. Sekarang aku baru percaya!"
Wanita itu terkejut dan berkata dalam hatinya: "Lagi kapan aku permainkan dia? Kenapa
dia memaki?"
Sebenarnya nyonya itu bukannya Phang Lin (ibunya Lie Kim Bwee), tapi Phang Eng,
ibunya Tong Keng Thian. Phang Lin dan Phang Eng adalah saudara kembar yang rupanya
bersamaan seperti pinang dibelah dua, tapi adatnya sangat berlainan bagaikan langit dan
bumi. Phang Eng adalah ahli warisnya Thiansan Liehiap Ie Lan Tjoe dan pernah dapat
pelajaran juga dari Lu Soe Nio, sehingga ilmu silatnya ada lebih tinggi dari suaminya, Tong
Siauw Lan, yang ketika itu jadi pemimpin dari Thiansan pay. Pada jaman itu, ilmu silatnya
Phang Eng tidak ada tandingannya di seluruh Tiongkok. Pertemuan di Puncak Onta pada
kali itu juga berada di bawah pimpinannya.
Melihat kegusarannya Pengtjoan Thianlie, Phang Eng yang lemah lembut berbalik jadi
kasihan. Tadinya ia ingin menanyakan lebih jauh, tapi sesudah dengar perkataannya si
nona, ia jadi mundur tiga tindak dan berkata sembari tertawa:
"Pemandanganmu terhadap Thiansan pay agaknya terlalu mendalam! Baiklah, aku
sungkan mendesak kau. Jika kau tak sudi, aku juga tak mau menanyakan asal-usulmu."
"Peng-djie, hayo turun gunung!" berseru Pengtjoan Thianlie sembari enjot badannya yang
lantas melesat belasan tombak jauhnya. Melihat begitu, Phang Eng sendiri jadi kagum
dan berkata dalam hatinya: "Ketika berusia seperti dia, ilmu entengi badanku masih
belum begitu tinggi."

Selagi lari, lapat-lapat Pengtjoan Thianlie dengar seruannya Keng Thian. Lantaran hatinya
panas, ia menengok pun tidak. Dalam tempo sekejap, ia sudah tiba di satu lembah. Tibatiba saja terdengar suara tertawa. "Bwee-djie bilang, kau tentu datang, aku tadinya belum
mau percaya," kata seorang wanita yang mendadak menghadang di tengah jalan.
"Sekarang benar-benar kau berada disini. Tugas comblang rasanya harus dilakukan juga!"
Sehabis berkata begitu, ia tertawa bergelak-gelak, sehingga dua pita kupu-kupu
bergoyang-goyang di atas kepalanya. Pengtjoan Thianlie tak tahu, bahwa wanita itu
adalah Phang Lin. Ia kira Phang Lin adalah wanita yang barusan telan Pengpok Sintan dan
yang sekarang sengaja cegat padanya dengan potong jalan. Ia egos badannya dan lari ke
arah tanjakan dan selagi mau mencaci, dari gundukan batu di tanjakan itu sekonyongkonyong loncat keluar satu orang yang ternyata Hiatsintjoe adanya!
Sesudah Liong Leng Kiauw ditahan oleh Hok Kong An, Hiatsintjoe tidak dapat berbuat
suatu apa. Ia cuma bisa perintah In Leng Tjoe pergi ke kota raja untuk memberi laporan
kepada Tjongkoan istana dan minta isterinya berdiam di Lhasa untuk mengamat-amati,
sedang ia sendiri segera kuntit Keng Thian dan Pengtjoan Thianlie, dengan harapan bisa
dapat bantuannya satu dua kawan di tengah jalan. Waktu Keng Thian bertiga tiba di atas
Puncak Onta, sebab tidak kenal jalan, ia baru sampai di pinggang gunung. Maka itulah,
sebelum sampai di atas, ia sudah bertemu dengan Pengtjoan Thianlie yang sedang kabur
ke bawah gunung Mostako.
Begitu bertemu si nona, Hiatsintjoe terkesiap. Tapi melihat Pengtjoan Thianlie cuma
sendirian dan juga rupanya baru kena dikalahkan orang, diam-diam ia bergirang. Ia lantas
loncat keluar dari tempat sembunyinya dan menghantam sama tangannya.
Melihat di depan dicegat musuh dan di belakang diubar orang, Pengtjoan Thianlie
mengeiuh. Ia tidak berani mundur lantaran wanita yang berada di belakangnya
merupakan lawanan yang terlalu berat dan sesudah berpikir beberapa saat, ia ambil
putusan untuk terjang musuh yang di depan. Dengan sekali ayun tangannya, ia lepaskan
tiga butir Pengpok Sintan dan sesudah cabut Pengpok Hankong kiam, ia segera
menerjang dengan sepenuh tenaga.
Mengetahui liehaynya peluru itu, Hiatsintjoe mengegos sembari maju setindak, sehingga
di lain saat, ia sudah berdampingan dengan si nona. Dengan ilmu Kinna Tjhioehoat (Ilmu
menangkap dengan tangan), ia sambar pedangnya Pengtjoan Thianlie.
Selagi si nona mau membabat sama pedangnya, mendadak ia rasakan lehernya ditiup
angin dingin dan kupingnya dengar orang berkata: "Hawa hari ini benar-benar luar biasa,
ada dingin, ada panas!" Itulah Phang Lin yang setelah melihat sambaran hawa panas dari
tangannya Hiatsintjoe dan hawa dingin dari Pengpok Hankong kiam, jadi timbul
kegembiraannya dan tiup lehernya kedua orang itu. Mendapat kesempatan, sembari kelit,
Pengtjoan Thianlie lalu kabur ke arah tanjakan.
Hiatsintjoe yang tidak kenal siapa adanya nyonya itu, bukan main gusarnya dan lalu
menghantam sama tangannya.
Sesudah tiba di tanjakan, lapat-lapat Pengtjoan Thianlie dengar teriakannya Keng Thian.
Hatinya jadi bergoncang dan ia pertahankan tindakannya. Sekonyong-konyong, dari ujung
tanjakan muncul keluar dua pemuda baju hitam yang tadi berada sama-sama Lie Kim
Bwee. "Tinggalkan pedangmu! Baru boleh turun gunung!" berseru salah satu pemuda itu.
Salah satu antara dua pemuda itu adalah kakaknya Lie Kim Bwee yang bernama Lie Tjeng
Lian, sedang yang satunya lagi adalah muridnya Tong Siauw Lan yang bernama Tjiong
Tian, cucu keponakannya Tjiong Ban Tong (Pemimpin Boekek pay). Mereka berdua yang
bersamaan usia dan bersamaan pula pakaiannya adalah seperti saudara kandung. Tadi
mereka sudah kena diobor oleh Boe-sie Hengtee dan sengaja cegat baliknya Pengtjoan
Thianlie untuk tolong balaskan sakit hatinya kedua saudara Boe itu.

Alisnya si nona jadi berdiri bahna gusarnya. "Aku tadinya tak percaya murid-murid
Thiansan begitu jago-jagoan!" katanya dengan suara tawar, la jejak kakinya dan bagaikan
kilat sudah berada di hadapannya kedua pemuda itu. Dengan gerakan Tjianli penghong
(Ribuan li es menutup), ia membuat satu lingkaran dengan pedangnya dan kedua pedang
lawannya lantas saja terkurung di dalam sinar Pengpok Hankong kiam. Tadi, jarak antara
Pengtjoan Thianlie dan kedua pemuda itu ada kira-kira belasan tombak. Jika si nona
menggunakan ilmu entengi badan yang biasa, mereka berdua masih mempunyai
kesempatan untuk bersiap. Tak dinyana, kali itu Pengtjoan Thianlie menggunakan Hoasoat
(Menyerosot di salju) yang tiada tandingannya dalam dunia dan lebih cepat daripada ilmu
Lioktee hoeiteng (Terbang di atas tanah). Suara dan manusianya tiba hampir berbareng
dan sebelum kedua pemuda dapat bergerak lebih jauh, pedang mereka sudah berada
dalam kurungan Hankong kiam. Mereka terkejut bukan main. Baru Hankong kiam diputar
beberapa kali, Lie Tjeng Lian dan Tjiong Tian sudah merasa kewalahan dan hampirhampir
saja pedangnya kena dibikin terpental. Si nona yang sedang panas hatinya tak
sungkansungkan lagi dan terus desak lawannya secara hebat.
Tjiong Tian yang berdiri di sebelah kanannya Pengtjoan Thianlie, adalah murid satusatunya dari Tong Siauw Lan. Walaupun ilmu silatnya belum matang seperti Tong Keng
Thian, tapi ia sudah dapat menyelami isinya Thiansan Kiamhoat. Selagi keteter, ia tak jadi
bingung dan mendadakan saja ingat satu cara untuk membela diri.
Tiba-tiba ia robah cara bersilatnya dan menyerang dengan gerakan Kanghay lengkong
(Sungai dan lautan membeku sinar). Pukulan itu adalah salah satu pukulan dari ilmu
pedang Thaysiebie yang digubah untuk pertahankan diri terhadap lawan yang lebih kuat.
Dengan Kanghay lengkong, semua tenaga dalam dipusatkan di ujung pedang. Pengtjoan
Thianlie yang sedang gembira jadi kaget sekali, ketika dapat kenyataan pedangnya lawan
tak dapat lagi disampok terpental. Di lain saat, Lie Tjeng Lian yang mempunyai
kepandaian lebih tinggi dari adiknya, tidak mau sia-siakan kesempatan yang baik dan lalu
kirim beberapa serangan dengan ilmu silatnya Pekhoat Molie.
Jika satu sama satu, memang kepandaiannya Pengtjoan Thianlie ada lebih tinggi dari
kedua pemuda itu. Akan tetapi dengan dua lawan satu, si nona jadi berada di bawah
angin. Barusan, berkat ilmu Hoasoat, ia dapat mendahului menyerang dan sudah bikin
dua lawannya menjadi repot. Tapi itu adalah untuk sementara waktu saja. Sesudah Tjiong
Tian dan Lie Tjeng Lian dapat tetapkan hatinya dan bersilat secara tenang, Pengtjoan
Thianlie mulai rasakan beratnya sang lawan. Akan tetapi, lantaran sudah pernah lihat cara
bersilatnya Lie Kim Bwee dan juga lantaran biasa bersilat di atas salju yang licin, sesudah
tiga puluh jurus, Pengtjoan Thianlie masih terus dapat melayani secara berimbang.
Melihat begitu, diam-diam Lie Tjeng Lian dan Tjiong Tian merasa terkejut berbareng
kagum. Pengtjoan Thianlie juga tidak kurang kagumnya dan mesti akui, bahwa muridmurid Thiansan pay benar-benar tidak boleh dipandang enteng. Sedang serunya mereka
bertempur, sekonyongkonyong terdengar suara teriakan seorang wanita dari atas
gunung: "Lian-djie! Tian-djie! Biarkan dia pergi! Lekas balik!"
Pengtjoan Thianlie terkesiap. Suara itu terang-terangan datang dari Puncak Onta yang
jauh, en toh kedengarannya seperti di dalam kuping! Apa yang lebih mengherankan
adalah: Wanita setengah tua itu toh sedang layani Hiatsintjoe di tanjakan gunung, tapi
kenapa sekarang suaranya datang dari atas gunung? Si nona tak tahu, bahwa yang
sedang layani Hiatsintjoe adalah Phang Lin, sedang yang panggil Tjeng Lian dan Tjiong
Tian adalah Phang Eng.
Mendengar panggilan itu, Tjeng Lian dan Tjiong Tian tak berani membantah. Mereka
mendesak hebat dengan berharap si nona mundur beberapa tindak, supaya dapat
undurkan diri. Tapi Pengtjoan Thianlie yang beradat tinggi bukan saja tidak mau
memberikan kesempatan, tapi malahan segera ambil putusan untuk jatuhkan lawannya.

Demikianlah, selagi kedua pemuda itu mau tarik pulang pedangnya, ia barengi dengan
dua kali babatan. Tjiong Tian masih dapat tolong dirinya, tapi Lie Tjeng Lian yang
terlambat sedikit kena disontek pedangnya yang lantas terbang ke tengah udara!
"Hm! Coba lihat siapa yang keok?" kata Pengtjoan Thianlie sembari menyingkir dengan
ilmu Hoasoat. Tjeng Lian berteriak-teriak bahna gusarnya, tapi ia tidak dapat berbuat lain
daripada pulang ke gunung bersama sahabatnya.
Sekarang marilah kita tengok Keng Thian yang tadinya dengan pancing Pengtjoan Thianlie
ke atas Puncak Onta, ingin
mempertemukan si nona dengan kedua orang tuanya, supaya dapat singkirkan ganjelan
yang dahulu. Tapi siapa nyana, si nona sudah keliru sangka ibunya sebagai bibinya dan
tanpa banyak bicara lantas menimpuk dengan Pengpok Sintan. Keng Thian tahu, ibunya
yang pendiam tidak boleh dibuat gegabah, beda jauh dengan bibinya yang suka
bercanda. Begitu lihat si jelita menimpuk, hatinya mencelos! la sangat kuatir, dengan
adanya peristiwa itu, sang ibu akan membenci kecintaannya. Dalam kebingungannya, ia
sudah diganggu oleh Kim Bwee yang nakal dan sesudah buang banyak tempo yang
berharga, barulah ia dapat mengubar.
Pengtjoan Thianlie lari terus tanpa ladeni segala teriakannya Keng Thian, yang juga tak
kenal sudah dan terus mengubar dengan sekuat tenaga. Semakin lama, jarak antara
mereka jadi semakin dekat dan sesudah Keng Thian berada belasan tombak dari dirinya,
barulah si nona menengok sembari keluarkan suara di hidung.
"Peng Go Tjietjie, dengarlah dahulu omonganku!" berseru Keng Thian.
Pengtjoan Thianlie pungut segumpal salju yang lantas ditimpukan ke mukanya si pemuda.
"Baru sekarang aku tahu kau siapa!" ia membentak. "Aku dibuat bahan guyonan olehmu!"
Dengan ilmu Hoasoat, ia kembali sudah terpisah jauh dari Keng Thian.
"Sesudah dengar omonganku, masih belum terlambat kalau kau mau pergi juga,"
mengeluh Keng Thian.
Si nona kembali menimpuk dengan bola salju. "Siapa mau dengar ocehanmu!"
membentak ia. "Sudah, kau jangan bicara lagi sama aku!"
Sebagai seorang yang masih mempunyai keangkuhan,
mendengar itu Keng Thian segera hentikan tindakannya. Sedang ia putar otaknya untuk
mencari lain jalan, dari atas Puncak Onta mendadak terdengar suara ibunya: "Keng-djie,
balik!" Beberapa saat kemudian, terdengar suara yang angker: "Keng-djie, tak boleh kau
halangi nona itu!" Itulah suara ayahnya, Tong Siauw Lan.
Waktu baru bertemu, Tong Siauw Lan suami isteri duga Pengtjoan Thianlie adalah sahabat
puteranya. Meskipun merasa kurang senang puteranya bawa-bawa orang luar kesitu,
mereka tidak merasa terlalu keberatan. Belakangan, setelah tanpa sebab, si nona
menyerang dengan Pcngpok Sintan, mereka jadi salah menaksir. Mereka taksir nona itu
adalah muridnya salah satu siapay (cabang persilatan yang kotor) yang sengaja dikirim
kesitu untuk coba mengacau. Mereka malahan menduga, bahwa nona itu sudah digiring
ke Puncak Onta oleh Keng Thian, supaya mereka dapat menjatuhkan hukuman. Akan
tetapi, mengingat tingkatannya yang tinggi dalam Rimba Persilatan, Tong Siauw Lan
suami isteri sungkan menyusahkan orang yang tingkatannya lebih rendah. Terlebih pula,
tadi Phang Eng sendiri sudah membiarkan ia turun gunung. Oleh karena begitu, mereka
lantas teriaki puteranya untuk larang sang putera menghalangi perginya si nona.

Keng Thian tentu saja tidak berani membantah perintah kedua orang tuanya. Dengan
mata mendelong, ia mengawasi si nona yang kabur dengan gunakan ilmu Hoasoat dan
dalam tempo sekejapan saja, badannya berubah seperti satu titik hitam, akan kemudian
menghilang dari pandangan.
Dengan pikiran kusut, perlahan-lahan Keng Thian mendaki gunung. Sesampainya di
pinggang gunung, ia bertemu bibinya yang sedang permainkan Hiatsintjoe. "Keng-djie!"
berseru sang bibi. "Lihat, aku sedang main-main dengan monyet tua ini. Lihat yang
benar! Pukulan ini mesti kau pelajari!" Sehabis berseru, ia tiup lawannya! Hiatsintjoe jadi
kalap. Dengan kuping yang sudah terlatih, ia tahu si nyonya sedang berada di
belakangnya. Sembari berbalik, ia menghantam dengan sekuat tenaga.
Phang Lin pentang tiga jerijinya dan dengan meniru caranya Niauw-eng (semacam burung
elang), ia sambar nadinya Hiatsintjoe. Nadi adalah bagian tubuh yang sangat berbahaya.
Jika nadi kena dicekel, biar bagaimana pandai pun, ia bakalan tidak berdaya lagi. Secepat
mungkin, Hiatsintjoe tarik pulang tangannya, tapi toh masih kena juga kepentil, sehingga
tanpa tercegah lagi, tangannya balik menggaplok mukanya yang lantas saja menjadi
bengkak!
"Pukulan itu dinamakan pukulan gaplok diri sendiri!" kata si nyonya sembari tertawa
besar. Tong Keng Thian sebenarnya lagi sangat jengkel. Tapi mendengar omongan bibinya
yang sangat jail itu, ia jadi tertawa berkakakan.
Puluhan tahun Hiatsintjoe berlatih dan sebegitu jauh ia merasa kepandaiannya sudah
tiada tandingannya lagi. Tapi siapa nyana, baru saja turun gunung, beruntun dua kali ia
kena tubruk tembok. Tidaklah heran jika ia jadi berteriak-teriak seperti orang gila dan
lantas ambil putusan untuk bertempur mati-matian. Lebih dahulu ia tutup semua bagian
badannya yang berbahaya dan kemudian kerahkan seluruh tenaga dalamnya sampai
pada kedua tangannya yang lantas digunakan untuk serang Phang Lin secara nekatnekatan. Bukan main hebatnya pukulan-pukulan itu. Keng Thian yang berdiri dalam jarak
tiga tombak, masih dapat rasakan hawa yang sangat panas!
"Aku sungguh sebal menghadapi setan kecil ini," kata Phang Lin sembari kerutkan alisnya.
"Anjing kecil bisa juga ngambek! Hm! Baiklah, aku kasih kau sedikit ajaran!" Ia berpaling
kepada Keng Thian dan berkata: "Eh, Keng-djie! Kau tahu, siapa adanya siluman tua ini?"
"Anjingnya kerajaan Tjeng," jawab sang keponakan.
Phang Lin tanya begitu lantaran mau menimbang berat entengnya hukuman yang ia mau
jatuhkan. Begitu dengar jawaban Keng Thian, ia tertawa gembira sekali.
"Bagus! Bagus!" katanya. "Kau andalkan kedua tangan anjingmu untuk hinakan orang,
baiklah aku putuskan dua tangan anjing itu!"
"Iebo (bibi), pakailah pedangku," kata Keng Thian.
"Hm, masakah untuk kutungkan tangan anjing saja aku memerlukan pedang wasiat," kata
si nyonya. "Kau lihat saja."
Phang Lin tertawa bergelak-gelak sehingga kedua kupu sutera yang dipasang pada
rambutnya, jadi tergoyang-goyang.
Mendadakan, ia raba kepalanya dan copotkan dua kupu-kupu itu, yang ternyata dibuat
dari puluhan lembar benang sutera berwarna. Ia buka benang-benang itu yang lantas saja
melayanglayang di tengah udara.

"Nah, kau lihat biar betul," kata sang bibi sembari menengok kepada Keng Thian. Kedua
tangannya pegang benang-benang itu yang lantas disabetkan ke arah Hiatsintjoe.
"Perempuan siluman! Sungguh kau menghina aku!" membentak Hiatsintjoe sembari
membabat dengan dua tangannya. Sedikitpun ia tidak percaya, benang yang begitu halus
dapat mengikat tangannya. Tapi siapa nyana, benang-benang itu yang tidak dapat
dicengkeram dan juga tidak dapat diputuskan dengan sabatan tangan, melayang terus ke
arah kedua tangannya yang dalam sekejap lantas kena terikat dan tidak dapat bergerak
lagi!
Ternyata, diam-diam Phang Lin sudah kerahkan tenaga dalamnya sampai pada benangbenang itu yang lantas berobah sifatnya seperti kawat baja. Demikianlah, seorang yang
tenaga dalamnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, dapat binasakan musuhnya
dengan selembar daun atau sekuntum bunga.
Dalam Rimba Persilatan, tidak ada orang yang mempunyai begitu banyak macam
kepandaian seperti Phang Lin. Ilmu yang barusan dikeluarkan olehnya berasal dari sekte
Topi Merah di Tibet. Orang Tibet suka tangkap badak dengan menggunakan laso. Oleh
karena sang badak mempunyai tenaga yang luar biasa besarnya, kecuali kalau kejirat kaki
depannya, tambang laso dengan mudah dapat dibikin putus olehnya. Melihat cara
menangkap badak itu, Tjouwsoe sekte Topi Merah yang bernama Khalpa segera
menggubah semacam ilmu untuk jirat nadinya musuh dengan tambang lemas. Jika nadi
kena diikat, biar orang itu mempunyai tenaga yang bagaimana besar juga, ia pasti tidak
berdaya lagi. Waktu masih kecil, selagi berdiam dalam gedungnya Soehongtjoe (putera
kaizar yang ke empat) In Tjeng (belakangan jadi kaizar Yongtjeng), Phang Lin telah
pelajari ilmu tersebut. Belakangan, sesudah undurkan diri ke Thiansan dan pelajari
Lweekeh Khiekang, ia dapat kerahkan tenaga dalamnya sampai pada benang-benang
halus yang lantas berobah sifatnya jadi seperti kawat baja.
Begitulah, dengan terjiratnya kedua nadi, darahnya Hiatsintjoe tidak dapat berjalan
benar, sehingga bukan saja ia rasakan kesakitan hebat, tapi napasnya juga lantas
menjadi sesak. Ia tak dapat kerahkan tenaga dalamnya, matanya melotot dan tak dapat
mengeluarkan suara.
Melihat begitu, Keng Thian taksir, setengah jam lagi, biarpun kedua tangannya tidak
sampai menjadi putus, Hiatsintjoe pasti akan binasa. Tiba-tiba dengan berkelebatnya
bayangan orang di puncak seberang, terdengar teriakan: "Lin-moay, guyonanmu sudah
sedikit keterlaluan!" Orang yang berseru begitu adalah Tong Siauw Lan.
"Kau tak tahu kejahatannya manusia ini," jawab Phang Lin. "Dia adalah kaki tangannya
bangsa Boan!"
Sesudah dapat tahu siapa yang terikat kedua tangannya, Tong Siauw Lan segera berseru
lagi: "Orang itu dahulu pernah dilepaskan oleh Popo-mu (mertuanya Phang Lin, Boe Kheng
Yao). Bukan gampang dia berlatih beberapa puluh tahun. Jika tidak melanggar kedosaan
besar, baik kau lepaskan padanya."
"Lin-moay!" Phang Eng turut berseru dari Puncak Onta. "Kau masih suka umbar adat
seperti anak-anak. Lepas padanya! Tak senang aku lihat paras mukanya."
Phang Lin paling segani kakaknya. Sembari mesem-mesem, ia lepaskan benangnya
seraya berkata: "Baiklah. Jika lain kali manusia ini satrukan Keng-djie, aku tak akan ladeni
lagi segala perintahmu."
Begitu lekas ikatan terbuka, Hiatsintjoe tarik napas dalam-dalam sembari loncat
menyingkir. Ia lihat di seputar nadinya terdapat tanda seperti kena dibakar dan ugalugalan tangannya masih sukar digerakkan. Mendengar

panggilannya Siauw Lan, ia tahu wanita itu adalah ie-ie-nya (saudara perempuan dari
isteri). Ia juga tahu, kepandaiannya Tong Siauw Lan suami isteri ada terlebih tinggi
daripada Phang Lin dan mengingat begitu, ia jadi bergidik, sebab dahulu ia pernah
tantang Siauw Lan mengadu silat. Tanpa berkata sepatah kata, buru-buru ia kabur ke
bawah gunung.
"Keng-djie, mari!" berseru Tong Siauw Lan sembari balik ke Puncak Onta dengan diikuti
oleh puteranya. Mereka masuk ke dalam gua tengah. Gua-gua itu semua dibuat untuk
keperluan pertemuan Thiansan pay kali itu. Gua yang di tengah adalah untuk Tong Siauw
Lan suami isteri.
Sesudah ajak puteranya masuk, Siauw Lan undang juga Lie Tie dan Phang Lin dan
kemudian barulah menanya: "Keng-djie, siapa nona itu? Apa kau kenal? Kenapa begitu
bertemu, dia lantas timpuk ibumu dengan peluru es?"
"Ia biasa dipanggil Pengtjoan Thianlie," jawab sang putera. Oleh karena sudah dua puluh
tahun Siauw Lan tidak pernah ceburkan diri ke dalam dunia Kangouw, ia jadi heran
mendengar nama itu. "Nama itu kedengarannya aneh sekali," katanya.
"Timpukannya indah sekali!" Phang Lin menyeletuk sembari tertawa.
"Apa?" tanya sang kakak. "Tjietjie, kaulah yang kena getahnya," kata Phang Lin sembari
ha-ha, hi-hi. "Dia sebenarnya mau hajar aku!"
Phang Eng kenal adat adiknya.
"Tentulah kau yang sudah ganggu padanya," kata ia. "Aku lihat dia, rasanya kasihan, tapi
kau permainkan padanya. Tua-tua tak tahu harga diri!"
"Tjietjie rewel sekali," jawab si adik. "Sang menantu belum masuk, kau sudah bantu dia
menyerang diriku. Aku cuma main-main
sedikit. Siapa hinakan padanya?" "Keng-djie, kalau begitu, nona itu benar kau yang bawa
kemari untuk menemui kami, bukan?"
Phang Eng tanya puteranya.
"Ibu jangan dengari omongannya Le-ie," jawab Keng Thian.
"Tjietjie, kau tak tahu, mereka berdua sudah bergaul rapat sekali dan luar biasa
manisnya!" menggoda Phang Lin yang lantas tuturkan segala pengalamannya waktu
bertemu Pengtjoan Thianlie pada malam itu. "Sekarang kau masih berani menyangkal,
bahwa dia memang dibawa olehmu kemari?" tanya si bibi sembari tunjuk keponakannya.
"Benar," jawab Keng Thian sembari tertawa. "Benar aku yang ajak ia datang kesini. Tapi
kalian belum tahu, siapa adanya ia."
"Kalau tahu, untuk apa kita tanya kau?" kata lagi Phang Lin.
"Ayah," kata Keng Thian. "Pada waktu kau perintah aku turun gunung, bukankah kau
pesan aku sekalian cari tahu dimana adanya Koei Hoa Seng Pehpeh? Koei Pehpeh sudah
meninggal dunia, Pengtjoan Thianlie adalah puteri tunggal dari Koei Pehpeh! Jadi dia
bukannya orang luar dan kalian tak dapat salahkan aku bawa-bawa orang luar datang
kemari."

Keterangan itu sudah membikin semua orang jadi girang tercampur kaget. Mereka lantas
saja minta keterangan yang lebih jelas. Keng Thian segera tuturkan segala
pengalamannya di keraton es, cara bagaimana ia minta si nona bantu lindungi guci emas
dan sebagainya. Ketika Keng Thian lukiskan keindahan keraton es yang seperti surga,
semua orang jadi terpesona dan seakan-akan sedang dengar cerita dongeng.
"Aku tak nyana, Koei Hoa Seng bisa mendapat pengalaman yang begitu luar biasa dan
mempunyai juga seorang puteri yang cantik bagaikan bidadari," kata Phang Eng.
"Nah, sekarang Tjietjie lekas-lekas perintah Keng-djie susul padanya," kata Phang Lin
dengan suara menggoda. "Kalau terlambat, bisa-bisa didahului orang!"
Keng Thian tak gubris godaan bibinya dan lantas berkata pada ayahnya: "Tapi ada satu
hal yang aku merasa sangat tidak mengerti. Kalau diusut, ia sebenarnya masih terhitung
anggauta dari keluarga Thiansan pay. Tapi kenapa, setiap kali aku menyebutkan namanya
Thiansan, ia lantas bersikap tawar dan seperti juga merasa kurang senang. Thiansan yang
menjadi tempat ziarahnya orang-orang Rimba Persilatan, di mata dia seakan-akan satu
tempat yang menyebalkan."
Tong Siauw Lan kerutkan alisnya. Ia juga tidak mengerti sikapnya Pengtjoan Thianlie yang
aneh. Phang Eng yang sangat cerdas lantas saja ingat satu kejadian dahulu. Ia tertawa
seraya berkata: "Lin-moay, urusan ini juga lantaran gara-garamu."
"Apa? Memang, segala apa kau salahkan aku!" kata sang adik sembari monyongkan
mulutnya.
"Keng-djie," kata Phang Eng pada puteranya. "Sekarang biarlah aku tuturkan satu cerita.
Pada kira-kira tiga puluh tahun berselang, ahli senjata rahasia nomor satu di kolong langit
adalah Tong Kim Hong dan dia mempunyai seorang menantu, Ong Go namanya, yang
telah lukakan ie-ie-mu dengan dengan jarum Pekbie tjiam. Dalam gusarnya, ie-ie-mu telah
bunuh mati padanya. Dengan bawa puterinya Tong Kim Hong datang untuk bikin
pembalasan. Ketika itu, aku sedang berdiam di rumahnya Shoatang Tayhiap Yo Tiong Eng.
Tong Kim Hong dan puterinya salah anggap diriku sebagai ie-ie-mu. Bersama Yo Tayhiap,
aku pukul mundur mereka dan salah mengerti serta sakit hati jadi semakin mendalam.
Koci Hoa Seng adalah sahabatnya keluarga Tong. Untuk kedua kalinya, mereka
menyatroni bersama-sama Koei Hoa Seng. Kami semua waktu itu tidak mengetahui,
bahwa Koei Hoa Seng adalah puteranya Koci Tiong Beng. Ilmu pedangnya Koei Hoa Seng
sangat liehay dan ia sudah bikin puterinya Yo Tayhiap kecebur di dalam telaga dan
kemudian diseret air deras." Berkata sampai disini, Phang Eng awasi suaminya sembari
tertawa. Puterinya Yo Tiong Eng, yang bernama Yo Lioe Tjeng, dahulu adalah tunangannya
Tong Siauw Lan dan sesudah pertunangan diputuskan, barulah Siauw Lan menikah sama
Phang Eng.
"Hari itu, ayahmu justru berada disitu," Phang Eng teruskan penuturannya. "Dalam
gusarnya, ia segera mau lakukan pertempuran mati hidup dengan Koei Hoa Seng.
Belakangan dengan gunakan Thiansan Kiamhoat kita desak ia sampai hampir-hampir
jatuh ke dalam telaga dan tewas jiwanya. Beruntung Lu Soe Nio keburu datang sehingga
jiwanya ketolongan. Sesudah lewat beberapa lama diketahui bahwa Yo Kouwkouw tidak
mati di dalam air. Sebab sudah lama, sekarang ternyata ayahmu sudah lupakan kejadian
itu. Sedari waktu itu, Koei Hoa Seng menghilang. Mungkin sekali, itulah kejadiannya yang
ia tak dapat lupakan."
"Oh, begitu?" kata Keng Thian. "Sekarang aku tak heran lagi." "Apa?" tanya ibunya. "Tak
heran kalau Koei Hoa Seng Pehpeh pergi merantau ke lain negara dan dengan memetik
bagian-bagian yang liehay dari ilmu pedang Tionghoa dan Barat, menggubah semacam
ilmu pedang baru," menerangkan sang putera. "Juga tak heran kalau Pengtjoan Thianlie
selalu ingin jajal ilmu silatku."

Tong Siauw Lan menghela napas. "Tak nyana Koei Hoa Seng mempunyai keinginan mau
menang yang begitu besar," katanya.
"Aku sendiri sebaliknya hargakan ia," kata sang isteri. "Dengan cara begitu, ilmu pedang
Tionghoa jadi bertambah maju. Bukankah kejadian itu harus dibuat girang?"
Siauw Lan manggut-manggutkan kepalanya, tapi tidak berkata suatu apa lagi.
"Ibu," Keng Thian mendadak berkata lagi. "Barusan kau bilang, ahli senjata rahasia nomor
satu di kolong langit adalah Tong Kim Hong. Apakah ia itu bukannya yang biasa dipanggil
Tong Djie Sianseng?"
"Bagaimana kau tahu?" tanya si ibu dengan perasaan heran.
"Apa Tong Djie Sianseng mempunyai murid?" Keng Thian menanya pula.
Paras mukanya Siauw Lan jadi sedikit berobah. "Keng-djie, dengan siapa kau sudah
bertemu?" tanya ia.
"Ada orang kasihkan aku semacam barang untuk diserahkan kepada ayah," menerangkan
sang putera. "Ia bilang, barang itu sebenarnya milik keluarga kita."
Semua orang jadi merasa heran. "Coba kasihkan kepadaku," kata Siauw Lan.
Keng Thian segera keluarkan batu giok yang ia dapat dari Liong Leng Kiauw dan serahkan
itu kepada ayahnya. Sesudah permainkan batu pualam tersebut dalam tangannya Siauw
Lan menghela napas dan segala kejadian di jaman lampau kembali terbayang di depan
matanya.
"Siapa yang kasih?" tanya Phang Eng.
"Orangnya Hok Kong An, yang dikenal sebagai Liong Leng Kiauw," jawab sang putera.
Siauw Lan geleng-gelengkan kepalanya. "She Liong?" ia menegasi. "Tidak, tak bisa. Orang
yang simpan Han-giok ini pasti bukannya orang biasa. Aku rasa, nama itu mesti nama
samaran."
"Benar, ayah," kata Keng Thian. "Hiatsintjoe pun bilang, ia tentu gunakan nama palsu. Ia
dikatakan sedang berusaha melakukan pekerjaan yang melanggar undang-undang. Tapi
Hiatsintjoe cuma tahu ia itu adalah muridnya Tong Kim Hong dan tak tahu namanya yang
sejati. Ayah, siapakah dia?"
"Puteranya Lian Keng Giauw!" jawab sang ayah.
Tong Keng Thian terkesiap mendengar nama itu. Lian Keng Giauw adalah jagoan yang
dahulu menjadi satru terutama dari suami isteri Tong Siauw Lan, Kanglam Tjithiap (Tujuh
Pendekar Kanglam) dan lain-lain orang gagah dari Rimba Persilatan. Cerita-cerita yang
menggetarkan hati dari orang she Lian itu, Keng Thian sudah sering dengar dari kedua
orang tuanya.
"Ah, puteranya Lian Keng Giauw!" kata Keng Thian. "Tak heran, kalau ia mengadakan
persekutuan dengan para Touwsoe di Lhasa. Dilihat begini, ia agaknya mau dirikan
kerajaan baru di daerah perbatasan, supaya jika berhasil dapat jatuhkan kerajaan Tjeng,
kalau gagal, bisa mundur dan jaga daerahnya sendiri. Tapinya, Tibet mempunyai latar
belakang yang sangat sulit.

Jika ia bergerak, kemungkinan besar orang luar akan gunakan kesempatan itu untuk
masuk ke
Tibet."
"Tak salah pandanganmu, anak," kata Tong Siauw Lan.
"Tapi kenapa kau bisa pastikan dia anaknya Lian Keng Giauw?" tanya Phang Lin.
"Pada waktu In Tjeng baru naik ke atas tahta kerajaan, diam-diam aku telah masuk ke
keraton," menerangkan Siauw Lan. "Disitu aku kena ditangkap oleh Haputo dan Liauw In.
Hangiok pemberian Kaizar Konghie kena dirampas oleh mereka. Lian Keng Giauw adalah
seperti juga majikannya kedua orang itu. Aku merasa pasti, batu giok tersebut tidak
diserahkan kepada Yong Tjeng, tapi kepada Lian Keng Giauw."
"Jika orang itu benar-benar puteranya Lian Keng Giauw dan hal ini dapat diketahui oleh si
kaizar, ia tentu mesti mati," kata lagi Phang Lin. "Bagaimana pikiranmu: Apa kau bersedia
menolong padanya atau tidak?"
"Musuh besar kita adalah ayahnya dan bukan dia," jawab Siauw Lan. "Dalam gerakannya
menentang kerajaan Tjeng, rasanya ia akan berusaha tarik tangan kita. Dengan
menyerahkan batu giok itu kepada Keng-djie, ia pasti mempunyai maksud yang dalam."
"Sudah terang, ia mau bergandengan tangan dengan kita," kata Phang Eng.
Mendadak Phang Lin menghela napas panjang. "Hm!" katanya. "Sampai sekarang begitu
dengar orang menyebut namanya Lian Keng Giauw, aku lantas merasa mendeluh. Harap
saja anaknya tidak seperti bapaknya."
Mendengar bibinya menghela napas panjang, Keng Thian jadi merasa agak heran, sebab
sang bibi biasanya tak kenal jengkel dan selalu suka bercanda. Keng Thian tidak tahu,
bahwa dahulu, waktu masih kecil, bibi itu dikukut dalam rumah keluarga Lian dan Lian
Keng Giauw adalah kawan bermainnya. Sesudah besar. Lian Keng Giauw jatuh cinta
padanya, tapi Phang Lin yang belakangan mengetahui bahwa orang she Lian itu busuk
hatinya, jadi berbalik benci padanya. Tapi biar bagaimana juga, sedikit banyak ia masih
ingat perhubungan yang dahulu. Maka itu, mendengar warta tentang puteranya Lian Keng
Giauw, ia jadi menarik napas panjang.
Phang Eng mesem melihat sikap adiknya. "Aku pun mengharap anaknya jangan turutturut kebusukan ayahnya," kata ia. "Tapi, oleh karena belum mengetahui benar latar
belakangnya, kita tidak boleh sembarangan menolong. Begini saja: Keng-djie, bukankah
kau mau pergi ke Soetjoan? Sekalian jalan, baik kau mampir pada keluarga Tong dan
beritahukan halnya Liong Leng Kiauw. Keluarga Tong adalah keluarga yang terkenal dalam
Rimba Persilatan dan menurut peraturan Kangouw, merekalah yang berhak campur
tangan."
Keng Thian yang tadinya kuatir kedua orang tuanya akan menahan ia, jadi merasa girang
sekali. Sesudah berdiam beberapa saat, Phang Eng tertawa seraya berkata: "Jika kau
bertemu dengan Koei Moaymoay (Pengtjoan Thianlie), bilanglah, bahwa aku sangat suka
padanya. Kau juga boleh minta Moh Pehpeh membujuk ia, supaya ganjelan dahulu dibikin
habis saja. Undanglah ia untuk datang kesini tiga tahun kemudian."
"Eh, Keng-djie," Phang Lin mendadak menyeletuk dengan paras sungguh-sungguh. "Aku
ajarkan kau satu siasat yang sangat bagus. Coba kau ajak ia adu pedang lagi dan sengaja
berlagak kalah dalam pertandingan itu. Aku merasa pasti, dengan jalan begitu hatinya
akan merasa puas."

Siauw Lan geleng-gelengkan kepalanya mendengar ajaran itu. "Ah, inilah yang dinamakan
orang tua tidak tahu tuanya," kata ia. "Sekarang kau berbalik mengajar anak-anak jadi
orang palsu." Mendengar tegoran itu, Phang Lin jadi tertawa geli sekali.
Pada besok harinya, Tong Keng Thian kembali turun dari Puncak Onta dan berjalan menuju
ke jurusan timur. Jalan yang semula diambilnya adalah dari Siamsay terus ke Soetjoan.
Akan tetapi, oleh karena sudah mengambil jalan mutar, maka sekarang ia harus masuk ke
Tjenghay, akan kemudian menuju ke Soetjoan barat.
Sesudah berjalan belasan hari, tibalah Keng Thian di padang rumput Tsaidam yang
terletak di Tjenghay tengah. Padang rumput itu luas luar biasa dan meskipun di sana-sini
terdapat pasir serta tanah yang berwarna kuning, akan tetapi pada umumnya daerah itu
gemuk tanahnya. Dengan hati yang lapang, Keng Thian larikan kudanya di padang
rumput itu, dengan saban-saban bertemu rombongan-rombongan kambing liar yang pada
lari serabutan jika bertemu manusia. Melihat itu semua, Keng Thian sungguh merasa tidak
mengerti, kenapa tanah yang sedemikian kaya dibiarkan tinggal tersia-sia.
Selagi enak berjalan, kupingnya mendadak mendengar suara kelenengan kuda dan
serombongan pelancong kelihatan mendatangi dari sebelah depan. Di antara mereka itu
terdapat lelaki dan perempuan, tua dan muda. Keng Thian merasa heran. "Sekarang
adalah permulaan musim semi dan menurut kebiasaan, hanya orang-orang dari sebelah
utara yang datang ke selatan," katanya di dalam hati. "Kenapa orang-orang ini dari
selatan datang kemari?"
Waktu hampir berpapasan, hatinya jadi lebih heran lagi, oleh karena mereka kelihatan
seperti orang sedang kebingungan, seolah-olah orang hukuman yang sedang melarikan
diri. Ia segera majukan kudanya dan menanya seorang tua yang berjalan paling depan.
Orang tua itu mengawasi ia seraya berkata: "Apakah kau sendirian?"
"Benar," sahut Keng Thian. "Bolehkah aku menanya, kenapa Loopeh meninggalkan daerah
selatan yang sangat subur? Apakah kalian hendak pergi ke Tibet untuk berdagang?"
Si tua menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jika kau seorang diri, tak halangan berjalan
terus," katanya. "Dua hari lagi, kau akan tiba di kota Naichi, satu kota besar yang berada
di bawah kekuasaan Tukuhun Khan."
"Kenapa, jika seorang diri tak ada halangan untuk aku berjalan terus?" tanya Keng Thian
dengan suara heran.
"Entah kenapa, sedari beberapa waktu berselang, Hoat-ong (Raja Agama) dari Lhama
sekte Topi Putih telah mencari wanita-wanita muda yang berparas cantik. Setiap wanita
yang datang dari tempat lain, asal ia berparas cantik, tak ampun akan ditangkap, jika
bertemu dengan orangorangnya Hoat-ong. Oleh karena itu, semua orang jadi ketakutan.
Ketika melewati kota itu, kami semua tak berani berhenti mengasoh dan terus kabur
secepat mungkin. Menurut pendengaran, lagi kemarin dulu, seorang tetamu wanita yang
berparas cantik dan pandai silat, sudah kena dibekuk oleh mereka!"
"Hoat-ong sekte Topi Putih toh bukannya kaizar, untuk apa ia mencari wanita-wanita
cantik?" menanya Keng Thian dengan penuh keheranan.
"Kami pun tak tahu," sahut orang tua itu. "Ada orang berkata, mereka mau
dipersembahkan kepada malaikat. Ah! Sungguh menakutkan! Baik juga, mereka hanya
menangkap wanita. Orang lelaki sama sekali tidak diganggu. Oleh karena itu, kau boleh
tak usah kuatir."

Keng Thian kerutkan alisnya, hatinya sangat bersangsi. "Hoat-ong sekte Topi Putih adalah
pemimpin dari satu cabang agama," katanya dalam hati. "Sungguh aku tak percaya, jika
ia dikatakan melakukan perbuatan yang tidak patut. Selain itu, agama Lhama masih
merupakan satu cabang dari agama Budha dan aku belum pernah mendengar kaum
Lhama memerlukan Tong-lamlie (anak lelaki dan perempuan) untuk sembahyangi
malaikat. Bagaimana sih, duduknya persoalan yang sebenarnya? Aku sebetulnya tak ingin
pergi ke Naichi, tapi ada baiknya juga jika aku mampir disitu untuk menyelidiki."
Memikir begitu, sesudah berpisah dengan rombongan itu, Keng Thian segera menuju ke
kota tersebut.
Pada esok harinya, kira-kira tengah hari, Keng Thian tiba di kota Naichi. Naichi terletak di
pinggir Tsaidam dan terhitung salah satu kota besar di wilayah Tjenghay, akan tetapi,
dengan jumlah penduduk yang belum cukup sepuluh ribu jiwa, Naichi tentu saja tak dapat
dibandingkan dengan kota-kota di wilayah Tionggoan.
Dalam kota tersebut hanya terdapat beberapa jalan dan kecuali rumah-rumah makan
serta penginapan, pintu rumah-rumah penduduk hampir semua terkunci rapat-rapat,
sehingga memberi kesan yang agak menyedihkan.
Keng Thian masuk ke sebuah rumah penginapan dan sesudah bersantap, ia memberi
persen yang lumayan kepada sang pelayan yang jadi girang sekali dan mulutnya lantas
saja terbuka.
"Aku dengar Hoat-ong sedang memilih wanita cantik, apa benar?" tanya Keng Thian.
"Benar," jawab si pelayan. "Apa kau tak lihat rumah-rumah yang pada terkunci? Wanita
muda tak berani keluar pintu. Tapi, kehebohan sudah lewat. Katanya, jumlah wanita yang
diperlukan, sudah cukup. Mulai hari ini, sudah tak ada lagi peristiwa Lhama menangkap
wanita muda."
"Kenapa mesti mengambil wanita-wanita cantik? Apa mau sembahyangi malaikat?"
menanya pula Keng Thian.
"Hoat-ong mengeluarkan perintah, siapa berani tanya-tanya?" jawabnya. "Hanya katanya,
dari Tibet datang satu Lhama Besar dan Hoat-ong hendak menyambut ia dengan segala
upacara. Dua hari lagi bakal ada satu perhimpuan besar. Aku tak tahu perhimpunan apa,
tapi yang pasti bukan sembahyang malaikat."
Mendengar keterangan itu, Keng Thian jadi semakin tidak mengerti.
Harus diketahui, pada buntutnya ahala Beng, yaitu pada jaman pemerintahan Kaizar
Tjong Tjeng. Lhama sekte Topi Putih telah diusir keluar dari Tibet oleh kaum Lhama sekte
Topi Kuning, yang kemudian berkuasa pada jaman itu (Kaizar Kian Liong). Selama seratus
tahun lebih, hubungan kedua sekte adalah seperti api dan air. Kenapa Lhama Besar sekte
Topi Kuning datang ke Naichi dan Hoat-ong Topi Putih mau menyambut dengan upacara
besar?
"Baik juga kau adalah seorang lelaki," kata lagi si pelayan. "Jika kau seorang wanita, bisabisa diculik tanpa diketahui oleh keluargamu. Dua hari berselang, seorang wanita yang
datang dari tempat lain sudah kena ditawan oleh beberapa Lhama. Wanita itu paham ilmu
silat."
Hati Keng Thian jadi bergoncang. "Bagaimana kau tahu ia pandai ilmu silat?" ia menanya.

"Kejadiannya di rumah makan seberang," jawab si pelayan. "Aku sendiri turut


menyaksikan peristiwa itu! Wanita itu mengenakan pakaian orang Tibet. Ia bukan hanya
pandai silat, tapi pandai juga ilmu siluman!"
"Omong kosong!" kata Keng Thian. "Siang hari bolong, dimana ada ilmu siluman?"
"Kau tak percaya?" kata si pelayan, sungguh-sungguh. "Aku lihat dengan mata sendiri.
Bermula, yang turun tangan adalah empat Lhama. Sekali bergebrak saja, dua antaranya
roboh. Kemudian ia ayun tangannya. Mendadak muncul hawa dingin yang sangat hebat
dan dua Lhama yang lain gemetar sekujur badannya. Apa itu bukan ilmu siluman?"
Begitu mendengar, Keng Thian terkesiap. Senjata rahasia itu sudah pasti Pengpok Sintan
adanya. Ia tak percaya, Pengtjoan Thianlie kena ditangkap. Apa Yoe Peng?
Sementara itu, si pelayan sudah berkata lagi: "Tapi, biar bagaimanapun juga, Yauwhoat
(ilmu siluman) tak dapat mengalahkan Hoedhoat (ilmu Budha). Sesudah empat Lhama
kecil itu dirobohkan, datang pula dua Lhama lainnya, sekali ini Lhama besar. Mereka tak
takut ilmu siluman itu Mereka hanya bergidik sedikit dan berhasil membekuk wanita itu."
"Agaknya mungkin benar-benar Yoe Peng-lah yang kena ditangkap," kata Keng Thian
dalam hatinya. "Sudah pasti Pengtjoan Thianlie tidak akan berpeluk tangan saja. Tak
nyana, aku dapat menemukan ia disini."
Tanpa membuang tempo, ia segera menanyakan dimana letaknya kuil Lhama.
"Apa tuan mau sembahyang?" tanya si pelayan. "Kuil itu biasanya sangat ramai, tapi
selama beberapa hari ini, sedikit sekali yang datang berkunjung. Sebagai tetamu dari
tempat lain, aku rasa tak ada halangannya kalau kau ingin pasang hio. Kuil itu adalah
gedung paling besar yang terdapat dalam kota ini. Memang juga, sesudah tiba disini, ada
harganya untuk jalan-jalan di kuil itu."
Sesudah mendapat keterangan tentang letaknya kuil itu, Keng Thian mengasoh sebentar
dan setelah makan tengah hari, ia segera pergi ke kuil itu.
Jika dibandingkan dengan Keraton Potala, kuil itu tentu masih kalah jauh. Akan tetapi,
menurut ukuran biasa, kuil itu sudah cukup besar dan indah. Puluhan gedung besar dan
kecil berdiri berjajar di lereng gunung dan seluruh bangunan itu kelihatan angker dan
mewah. Tiga gedung yang paling depan adalah tempat pemujaan yang penuh dengan
patung-patung Budha. Ketika Keng Thian datang, jumlah tetamu yang mau pasang hio,
boleh dikatakan banyak juga. Ia menempatkan dirinya di antara para tetamu itu, sambil
memasang kuping. Benar saja, ia mendengar banyak sekali pembicaraan tentang
ditangkapnya wanita-wanita muda. Akan tetapi, ia juga mendapat kenyataan, bahwa
mereka itu sangat menghormat terhadap Hoat-ong. Salah seorang malah berkata begini:
"Dalam bertindak begitu, Budha Hidup pasti mempunyai alasan kuat. Wanita-wanita itu
dapat dikatakan besar rejekinya oleh karena mereka sudah mendapat perhatiannya
Budha Hidup. Lebih baik kita jangan terlalu banyak bicara. Apa kau tak takut masuk ke
neraka?"
Sesudah memperhatikan kedudukan seluruh bangunan itu, Keng Thian segera balik ke
rumahpenginapan. Malam itu, kira-kira jam tiga, ia segera menukar pakaian untuk jalan
malam yang berwarna hitam dan memakai topeng, dan begitu beres berdandan, ia
segera pergi ke kuil Lhama dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Berhubung dengan banyaknya gedung-gedung, Keng Thian tidak dapat lantas
mengetahui dimana adanya gedung Hoat-ong. Ia loncat naik ke atas genteng sebuah
gedung yang paling besar dan memasang kupingnya. Sayup-sayup, ia mendengar suara

tabuh-tabuhan dan nyanyian di sebelah bawah. Sembari mengkerutkan alisnya, ia loncat


turun.
Tiba-tiba dari sebelah depan mendatangi dua orang Lhama. Buru-buru Keng Thian
berlindung di belakang pohon.
"Tak lama lagi kita akan mempunyai Wanita Suci," kata salah seorang Lhama. "Dengarlah!
Mereka membaca Keng (kitab suci) dan menyanyikan lagu-lagu Budha. Sungguh merdu!
'Ku dengar, mereka juga akan belajar menari. Mulai dari sekarang, jangan kuatir kesepian
lagi."
"Setan kecil!" membentak kawannya. "Jangan sekali-kali kau mengingat-ingat soal-soal
keduniawian. Kau tahu, melihat saja sudah berdosa!"
"Omong kosong!" jawab Lhama yang pertama. "Bukan aku, tapi kaulah yang hatinya
sudah bergoncang. Aku hanya mendengarkan dari jauh, tapi kau sendiri sudah tiga kali
lewat di depan gedungnya."
Dengan sekali mengenjot badan, Keng Thian sudah dapat merobohkan kedua Lhama itu.
"Jangan bersuara!" ia berbisik. "Jawab apa yang aku tanya. Mampus kau, jika berani
berteriak!"
Kedua Lhama itu jadi kesima dan mengawasi dengan mulut ternganga.
"Dari mana wanita Suci itu?" menanya Keng Thian. "Apa mereka adalah wanita-wanita
yang telah ditangkap beberapa hari berselang?"
Kedua Lhama itu manggut-manggutkan kepalanya.
"Dimana mereka dikurung?" Keng Thian menanya pula.
"Mereka di tempatkan di gedung Wanita Suci, yaitu gedung yang berdampingan dengan
gedungnya Hoat-ong," jawab Lhama yang satu.
"Kau adalah murid-murid Budha," berkata Keng Thian. "Untuk apa menangkap wanitawanita muda?"
"Itu semuanya adalah hokki (untung bagus) mereka," jawabnya. "Hoat-ong ingin
mengangkat mereka sebagai Wanita Suci rombongan pertama."
"Untuk apa Wanita Suci itu?" mendesak Keng Thian.
Kedua Lhama itu mengawasi Keng Thian dengan paras muka heran, seolah-olah
menganggap pemuda itu sebagai seorang tolol. "Ah! Apakah kau belum mengetahui?"
kata satu antaranya. "Yang lelaki menjadi Lhama, yang wanita menjadi Wanita Suci. Itu
toh sudah disebutkan dalam kitab suci. Sungguh heran, kau masih merasa perlu untuk
menanya lagi!"
Keng Thian terkejut dan segera ingat, bahwa memang benar dalam agama Lhama ada
beberapa cabang yang cara-caranya agak berlainan. Cabang (sekte) Topi Merah dan Topi
Kuning sama sekali tidak menerima murid wanita, tapi menurut kata orang-orang tua,
sekte Topi Putih biasa menerima penganut wanita. Oleh karena sudah seabad lamanya
sekte Topi Putih berada diluar Tibet, maka peraturan tersebut jarang sekali dibicarakan
orang, sehingga Keng Thian sendiri sampai menjadi lupa. Ia sekarang mengerti, bahwa
"Wanita Suci," atau Shengnu, berarti Lhama wanita.

Hati si pemuda menjadi lega. "Apakah tidak ada yang mengganggu mereka?" ia menanya
dengan suara lunak.
Walaupun sedang dicekal keras dengan tangan yang seperti jepitan besi, begitu
mendengar pertanyaan Keng Thian, kedua Lhama itu lantas saja menjadi gusar.
"Kau sungguh berdosa!" kata satu antaranya. "Berani sungguh kau mengeluarkan
perkataan begitu! Dalam istana Wanita Suci, lelaki mana juga tidak dipermisikan datang
berkunjung. Hanya beberapa Ibu Suci yang diperbolehkan masuk kesitu untuk mengajar
kitab suci dan lagu-lagu suci kepada mereka. Mereka baru boleh keluar jika ada
sembahyang atau upacara besar."
"Di antara yang kena ditangkap oleh kau orang, bukankah terdapat seorang wanita yang
pandai silat?" menanya Keng Thian, tanpa memperdulikan comelan orang.
"Yah, aku dengar memang begitu," jawab yang satu. "Akan tetapi, katanya ia tak sudi
menjadi Wanita Suci. Ini berarti ia tidak mempunyai jodoh dengan agama kita dan Budha
Hidup pun tak dapat memaksa padanya."
"Apa ia juga dikurung dalam istana Wanita Suci?" tanya Keng Thian.
"Mana aku tahu?" jawabnya. "Bukankah 'ku sudah kata, orang lelaki tak boleh datang
kesitu?"
Keng Thian percaya, bahwa Lhama itu bicara dengan sejujurnya, maka ia sungkan
mendesak lagi. Berselang beberapa saat, ia menanya pula: "Tapi, dimana istananya Hoatong?"
Dengan jerijinya, mereka menunjuk sebuah gedung besar yang terletak di tengah-tengah.
"Tapi, siapakah kau ini?" tanya mereka.
Sesudah mendapat keterangan yang diperlukan, Keng Thian tidak meladeni lagi dan
segera menotok Ah-hiat (jalanan darah yang membikin orang jadi gagu) mereka. Dengan
totokan itu, dalam tempo dua belas jam, kedua Lhama tersebut tidak akan dapat
bergerak atau berbicara.
Gedung yang di tengah-tengah itu terkurung tembok, dengan genteng kaca yang
berwarna kuning emas. Sesudah menyembunyikan kedua Lhama itu di belakang pohon,
Keng Thian segera melompati tembok dan masuk ke dalam pekarangan gedung.
Muka gedung itu ternyata dijaga oleh dua Lhama baju putih. Ilmu mengentengkan
badannya Keng Thian boleh dibilang sudah mencapai puncaknya
kesempurnaan, gerakannya cepat bagaikan kilat dan hinggapnya di atas bumi seperti
juga jatuhnya selembar daun kering. Tapi, meskipun begitu, kedua Lhama itu toh masih
dapat mengetahui kedatangan pemuda tersebut. Mereka agak kaget dan celingukan ke
empat penjuru. Keng Thian terkejut dan kemudian mengetahui, bahwa mereka adalah
orang-orang yang pernah turut dalam perebutan guci emas dan sudah pernah bertempur
dengan ia. Ia mengetahui, mereka mempunyai kepandaian yang cukup tinggi dan jika
kepergok, ia bakal jadi berabe.
Dalam pekarangan itu terdapat sebuah pohon tua yang berusia ratusan tahun, Keng Thian
mengenjot badannya dan seperti burung ia hinggap di sebuah cabang. Di ujung pohon
terdapat beberapa ekor burung besar yang sedang mengasoh dan kedatangan Keng
Thian, sudah membikin mereka mengebas-ngebaskan sayap. Keng Thian segera memetik
sehelai daun dan mementil dengan menggunakan tenaga dalamnya. Bagaikan senjata

rahasia, daun itu menyambar ke atas, sehingga burung-burung itu pada berterbangan
sambil berbunyi keras.
"Ah, benar saja burung-burung itu yang kurang ajar!" berkata kedua Lhama itu.
Tanpa mensia-siakan waktu, selagi kedua Lhama itu berdiri membelakangi ia, dengan
sekali mengenjot badan, Keng Thian sudah hinggap di atas genteng dan lalu bersembunyi
di pojok payon rumah.
Beberapa tombak dari tempat sembunyi Keng Thian terdapat sebuah kamar, dimana,
teraling tirai jendela, kelihatan dua bayangan manusia. Seorang berbadan tinggi besar,
yang sudah boleh dipastikan adalah Hoat-ong sendiri, duduk di tengah kamar, sedang
orang yang satunya lagi berdiri didampingnya.
Keng Thian segera pusatkan semangatnya untuk mendengarkan pembicaraan kedua
orang itu.
"Sesudah menunggu seratus tahun lebih, hari yang ditunggu akhirnya datang juga," kata
Hoatong. "Utusan Panchen telah mengundang kita pulang ke Tibet, dengan mengatakan,
bahwa mulai dari sekarang, kita jangan bertengkar lagi. Anan! Bagaimana pikiranmu?"
"Itulah memang kita semua harap-harapkan," sahut orang yang dipanggil Anan. "Akan
tetapi..."
"Tapi apa?" menanya Hoat-ong. "Apa pulangnya kita tidak cukup mentereng?"
"Bukan, bukan itu yang aku maksudkan," jawab Anan. "Tapi kedudukan kita disini adalah
kedudukan yang paling atas..."
"Dan kalau pulang, kita jadi berada di bawah orang lain," Hoat-ong menyambung. "Begitu
yang kau maksudkan? Aku sekarang memberitahukan kau, bahwa utusan itu sudah
menyampaikan pesan kedua Budha Hidup, bahwa mereka telah menyediakan tiga tempat
untuk kita mendirikan kuil. Aku anggap, tawaran itu cukup baik. Persoalan antara kita
sama kita, memang juga harus dipecahkan dengan saling mengalah. Sesudah bergulat
seabad lebih, aku sekarang sungkan mengangkat senjata lagi."
Mendengar itu, diam-diam Keng Thian memuji Raja agama itu, yang ternyata mempunyai
pandangan yang luas.
"Aku sendiri tak dapat berlalu dari sini," kata pula Hoat-ong. "Di kemudian hari, tiga
tempat itu di Tibet harus diurus olehmu."
Keng Thian melihat Anan merangkap kedua tangannya sambil membungkuk untuk
menghaturkan terima kasih.
Hoat-ong menghela napas panjang dan kemudian berkata pula: "Ah! Dengan dapat
pulang ke Tibet, terkabullah sudah angan-angan Tjouwsoe. Dan dengan mempunyai tiga
tempat itu, hatiku sudah merasa puas. Eh, bagaimana dengan rombongan Wanita Suci?"
"Kecuali beberapa orang, yang lain semuanya rela menurut perintah Budha Hidup," jawab
Anan.
"Tak boleh kita memaksa mereka," berkata Hoat-ong dengan suara halus. "Pada seratus
tahun yang lalu, yaitu pada waktu Tjouwsoe memegang tampuk pimpinan agama di Tibet,
para wanita pada berebut untuk menjadi Wanita Suci. Akan tetapi, keadaan disini, yang
penduduknya sebagian besar terdiri dari orang Han, berlainan dengan keadaan di Tibet.

Mereka tak mengetahui, kemuliaan seorang Wanita Suci sehingga tidaklah heran mereka
jadi ketakutan tak keruan. Itulah justru sebabnya, kenapa selama satu abad kami tidak
memilih Wanita Suci. Akan tetapi, oleh karena sekarang kita harus membuat persiapan
untuk pulang ke Tibet, maka tak dapat tidak, kita harus kembali pada kebiasaan lama.
Dalam upacara pembukaan kuil baru, kita mesti mempunyai rombongan Wanita Suci
untuk menjalankan upacara dengan nyanyian dan tarian."
"Oh! Kiranya begitu?" berkata Keng Thian dalam hatinya. "Hampir-hampir saja aku
menganggap mereka sebagai paderi cabul!"
"Benar," kata Anan. "Mereka ketakutan tak keruan. Sungguh tak bagus!"
"Kita tak boleh terlalu salahkan mereka," berkata Hoat-ong."Tak banyak orang Han yang
rela mengirim puteranya untuk menjadi Lhama. Apalagi puterinya! Mereka yang
menentang kebanyakan adalah orang-orang Han. Bukankah begitu?"
Anan manggut-manggutkan kepalanya. Sebelum ia keburu menjawab, Hoat-ong sudah
berkata pula: "Oleh karena terlalu repot, kita tidak memberi penjelasan terlebih dulu
kepada mereka. Ini sebenarnya adalah kurang betul.
Begini sajalah: Besok kita mengadakan sembahyang besar dan pergilah kau mengundang
para pemuka dan orang-orang tua di seluruh kota ini, supaya kita dapat memberi
keterangan kepada mereka. Gadis-gadis yang sungkan menjadi Wanita Suci boleh diambil
pulang oleh orang tuanya."
"Di antara yang menolak terdapat seorang gadis, yang bukan orang Han," melaporkan
Anan. "Dilihat dari pakaiannya, ia kelihatannya datang dari Tibet barat. Ketika mau
ditangkap, ia sudah hajar beberapa orang kita. Bagaimana? Apa ia pun dilepaskan saja?"
Mencaci atau memukul seorang Lhama adalah satu kedosaan besar di daerah itu,
sehingga Hoat-ong jadi bersangsi setelah mendengar laporan Anan. Berselang beberapa
saat, barulah ia berkata: "Lihat saja nanti. Tapi janganlah membikin susah padanya."
"Aku dengar ia tak mau makan," Anan berkata lagi.
"Oh, begitu?" Hoat-ong menegaskan. "Biarlah besok aku perintah seorang Ibu Suci pergi
membujuk ia."
Berkata sampai disitu, Hoat-ong mendadak bangun seraya berkata: "Tolong tuangkan
secangkir arak."
Di lain saat, dengan jerijinya menjepit cangkir, ia menghampiri jendela yang dibukanya
secara tiba-tiba. Dengan sekali mementil, cangkir itu melesat ke atas dan menyambar ke
arah Tong Keng Thian!
Bukan main kagetnya Keng Thian. Melesatnya cangkir tersebut disertai dengan suara
mengaung dan apa yang mengherankan, cangkir tersebut tepat menyambar ke arah jalan
darah Hiankie hiat, di dadanya Keng Thian. Pada sebelum sang cangkir mengenakan
dada, hidung Keng Thian mendadak mengendus bau wangi arak, dan berbareng dengan
itu, bagaikan air mancur, arak yang berada dalam cangkir, menyambar padanya!
Ternyata, dengan tenaga dalam yang luar biasa dan kepandaian menggunakan senjata
rahasia yang sudah mencapai puncaknya kesempurnaan, Hoat-ong sudah menyerang
Keng Thian bukan saja dengan cangkir, tapi juga dengan araknya.
Bagaikan kilat, Keng Thian mementil dan berkelit. Dengan terdengarnya suara "tring!"
cangkir itu hancur, tapi, biarpun gerakannya cukup cepat, tak urung bajunya kecipratan
juga beberapa tetes arak dan menjadi berlubang!

"Manusia dari mana yang mempunyai nyali begitu besar?" membentak Hoat-ong.
Berbareng dengan bentakannya bagaikan segundukan awan, badan Hoat-ong yang
berjubah merah sudah melesat ke atas. Ketika itu, kedua kaki Keng Thian masih
menyantel di payon sedang sebagian badannya masih menggelantung di luar genteng.
Dengan kedua tangannya, Hoat-ong mendorong dan lantas saja ia terkejut, oleh karena
badan Keng Thian tidak bergeming.
Dengan tangan kirinya tetap menahan kedua tangannya Keng Thian, tiba-tiba ia tarik
pulang tangan kanannya yang lalu digunakan untuk mengorek kedua mata Keng Thian.
Berbareng dengan itu, ia mengempos semangatnya dan menambahkan tenaga pada
tangan kirinya.
Di lain pihak, Keng Thian yang sedang bertahan dengan kedua tangannya mendadak
rasakan tekanan musuh di sebelah kiri menghilang dan tekanan di sebelah kanan
bertambah dua kali lipat. Pada detik itu juga badannya bergoyang-goyang. Lebih celaka
lagi, dua jeriji Hoat-ong dengan mendadak menyambar matanya!
Selagi Keng Thian hendak menurunkan tangan kejam untuk menolong diri, sekonyonykonyong ia ingat, bahwa orang berilmu itu adalah pemimpin dari satu cabang agama,
sehingga jika ia sampai celaka, akibatnya bakal jadi besar sekali. Mengingat hal itu, ia
lantas saja mengurungkan niatannya. Buru-buru ia tarik pulang tenaga dalamnya dan
menjejek kedua kakinya, sehingga badannya melesat ke atas, akan kemudian melayang
turun ke bawah.
Hoat-ong tertawa dingin, "Hm!" katanya didalam hati: "Meskipun dengan ilmu
mengentengkan badan, kau dapat meloloskan diri dari serangan jeriji, tapi punggungmu
dijual kepadaku!" Dengan gerakan Tjhioehoei pipee (Tangan merabu tali pipee), ia gasak
punggung Keng Thian.
Dengan terdengarnya suara "buk!" tubuh Keng Thian terpental keluar tembok, tapi, pada
saat yang sama, dengan satu teriakan keras, badan Hoat-ong pun roboh di atas genteng.
Ternyata, pada waktu punggungnya dihajar, Keng Thian membalik sebelah tangannya dan
mengebas dengan ilmu Hoedhiat (Mengebas jalanan darah), semacam ilmu istimewa dari
Thiansan pay. Dengan hanya satu kebasan itu, lima jerijinya sudah menotok lima jalan
darah Hoat-ong!
Buru-buru Hoat-ong menjalankan pernapasannya tiga kali, lima jalan darahnya sudah
kembali terbuka semua, tapi kaki tangannya masih dirasakan sangat lemas. Herannya
Hoat-ong tidak kepalang. Ia mengetahui, bahwa ilmu silat Keng Thian tidak berada di
sebelah bawahnya, dan jika mau, pemuda itu dapat memunahkan serangannya dengan
balas menyerang. Sungguh ia tak mengerti, kenapa Keng Thian seperti sengaja
menempuh bahaya dan memasang punggungnya?
Mendengar suara ribut-ribut dan melihat larinya Keng Thian, kedua Lhama yang menjaga
di luar segera bergerak untuk mengubar.
"Tolol!" membentak Hoat-ong. "Apa kau mau antarkan jiwa? Dia sudah kena pukulanku
dan akan binasa dalam tempo tiga hari."
Sehabis berkata begitu, ia menghela napas. "Tak gampang orang itu memiliki ilmu silat
yang sedemikian tinggi," katanya di dalam hati. "Entah siapa yang menyuruh ia datang
kesini, sehingga ia mesti korbankan jiwanya secara cuma-cuma. Sungguh sayang!" Dalam
hatinya, pemimpin agama tersebut merasa sangat menyesal, bahwa secara ketelanjur, ia
sudah menurunkan tangan yang begitu berat.

Keng Thian merasakan punggungnya sakit dan begitu tiba di rumah penginapan, ia
segera membuka Kimsie Djoanka, semacam baju kutang yang terbuat dari semacam
benang berwarna emas.
Dengan pertolongan sebuah kaca tembaga, ia melihat satu titik hitam di punggungnya.
Keng Thian kaget, tapi sesaat kemudian ia berkata seorang diri: "Baik juga ada ini Kimsie
Djoanka, jika tidak, isi perutku bisa terluka hebat. Sungguh tak terduga, tenaga dalamnya
Hoatong begitu dahsyat."
Kimsie Djoanka itu mempunyai riwayat yang menarik. Dulu, ketika Phang Eng dan Phang
Lin jangkep berusia satu tahun, Tjiong Ban Tong, pemimpin Boekek pay, telah
menghadiahkan dua rupa mustika dari Rimba Persilatan, yaitu, yang satu Kimsie Djoanka,
sedang yang lain golok Tokbeng Sinto. Pada hari itu, kedua saudara kembar itu dibiarkan
memilih sendiri dan sebagai hasilnya, Phang Eng mengambil Kimsie Djoanka, sedang
Phang Lin mengambil Tokbeng Sinto. Baju kutang tersebut terbuat dari bulu warna emas
yang diambil dari punggungnya Kimmo houw (semacam singa berbulu emas) di
pegunungan Himalaya. Djoanka itu, yang lemas dan enteng, tak dapat ditembuskan
senjata tajam juga tak dapat dihancurkan dengan pukulan. Dengan adanya lapisan baju
kutang itu, walaupun pukulan Hoat-ong sangat dahsyat, tenaganya sudah hilang separoh,
dan ditambah pula tenaga dalam Keng Thian sendiri, pukulan tersebut hanya dapat
menggetarkan isi perutnya, tapi tak sampai mencelakakannya. Buru-buru Keng Thian
mengerahkan jalan pernapasannya dan menelan sebutir Pekleng tan yang terbuat dari
Soatlian. Sesudah itu, dengan hati lega, ia tidur untuk mengasoh.
Pada besok paginya, si pelayan datang di kamar Keng Thian dan mereka lalu
membicarakan pula halnya Hoat-ong.
"Aku dengar, malam ini Hoat-ong akan mengadakan sembahyang besar," kata si pelayan.
"Mereka telah mengundang tetua-tetua kota ini dan para orang tua gadis-gadis yang kena
ditangkap, semuanya ada seratus orang lebih. Inilah satu kejadian yang baru pernah
terjadi. Besok pagi kita akan mengetahui, kenapa mereka menangkapi gadis-gadis
cantik."
"Mereka tidak mengundang kau, cara bagaimana kau bisa mengetahui begitu cepat?"
Keng Thian sengaja menanya.
"Biarpun aku sendiri tak diundang, tapi majikanku mendapat undangan," jawabnya. "Ialah
yang memberitahukan hal itu kepadaku."
Keng Thian jadi girang dan lalu menanyakan lebih jauh tentang si pemilik rumah
penginapan. Ia itu ternyata adalah seorang yang mempunyai kedudukan agak tinggi
dalam kota Naichi dan telah mewarisi perusahaan rumah penginapan dari orang tuanya.
Keng Thian juga mendapat tahu, bahwa orang bisa masuk ke dalam ruangan sembahyang
dengan memperlihatkan surat undangan, dan mengingat banyaknya orang yang
diundang, pemeriksaan tentu tidak dilakukan secara teliti.
Kira-kira magrib, diam-diam Keng Thian masuk ke kamar tidur si pemilik rumah
penginapan dan lalu bersembunyi di atas salah satu balok penyangga atap. Ia lihat,
dengan penuh kegirangan, orang itu mengeluarkan makwa hitam yang indah, sedang
surat undangan yang berwarna merah menggeletak di atas pembaringan. Keng Thian
segera memulung sedikit tanah yang melekat di tembok dan menimpuk jalan darah
Hoenswee hiat dari si pemilik rumah penginapan yang lantas saja terguling di atas lantai
dan akan tetap rebah selama dua belas jam.

Kemudian ia loncat turun dan sesudah membaringkan si pemilik rumah penginapan di


atas pembaringan, ia segera memakai pakaian orang itu yang memang sudah tersedia.
Untung juga, potongan badan si pemilik rumah penginapan tidak banyak berbeda dengan
potongan badannya. Selanjutnya, ia mengeluarkan sepotong Yayong tan yang lantas
dihancurkan dengan sedikit air teh dan kemudian dipoleskan pada mukanya. Yayong tan
atau obat untuk merubah paras muka adalah semacam perlengkapan dari kawanan
penjahat di jaman itu. Tong Siauw Lan, ayah Keng Thian, telah belajar membuat obat
tersebut dari Kam Hong Tie. Setelah merubah paras mukanya, dengan tangan mencekal
surat undangan itu, sembari mesem Keng Thian segera berangkat menuju ke kuil Lhama.
Cocok dengan dugaannya beberapa Lham? yang mendapat tugas untuk menyambut para
tamu, tidak banyak rewel dan semua tamu yang membawa surat undangan dipersilahkan
masuk tanpa pemeriksaan teliti.
Sebelum sembahyang, terlebih dulu diadakan perjamuan. Orang-orang yang dijamu di
gedung tengah adalah pemimpin-pemimpin dari berbagai kuil Lhama dan tamu-tamu
penting. Di gedung sebelah timur adalah tempat perjamuan untuk para tetua kota Naichi
dan ayah atau walinya gadisgadis yang telah ditangkap.
Sesudah para tamu minum beberapa gelas arak, murid kepala dari Hoat-ong, yaitu Anan
Tjoentjia (Tjoentjia adalah panggilan menghormat terhadap satu paderi atau Lhama),
datang sendiri untuk melayani para tamu.
"Hari ini adalah hari yang sangat menggembirakan," demikian Anan mulai dengan
pidatonya, sesudah mengajak para tamu mengeringkan segelas arak. "Hari ini kami ingin
mengumumkan suatu berita menggirangkan kepada kalian, yaitu: Budha Hidup di Tibet
sudah mengadakan perdamaian dengan Budha Hidup kita!"
Pengumuman itu disambut dengan sorak-sorai oleh para hadirin. Selama seratus tahun,
sudah puluhan kali kedua sekte bertempur hebat, sehingga menerbitkan kerugian jiwa
manusia dan harta benda yang tak dapat dihitung berapa banyaknya. Maka itu, tidaklah
heran jika berita tersebut disambut dengan kegirangan besar.
Akan tetapi, sesudah sorakan mereka, beberapa tetua lantas saja berkata: "Kami ingin
Budha Hidup menetap di Tjenghay dan tak mau beliau meninggalkan kami."
Anan mesem dan melanjutkan pidatonya: "Dalam perundingan perdamaian, Budha Hidup
Panchen sudah menyetujui untuk memberikan Chinka, Sakya dan Chinpu kepada kita,
supaya kita dapat mendirikan kuil-kuil yang seperlunya. Sesudah kuil-kuil selesai didirikan,
Hoat-ong tentu harus pergi ke Tibet untuk melakukan upacara pembukaan. Akan tetapi,
sesudah itu, beliau akan menyerahkan segala tugas mengurusnya kepadaku dan beliau
sendiri akan balik kesini untuk melindungi kalian selama-lamanya."
Pidato itu kembali disambut dengan tampik sorak yang bergemuruh. Apa yang
diumumkan oleh Anan Tjoentjia sudah diketahui oleh Tong Keng Thian. Yang belum
didengar olehnya adalah nama-nama ketiga tempat itu. Pada waktu Anan menyebutkan
Sakya hati Keng Thian bergoncang oleh karena ia ingat, bahwa Sakya adalah tempat
kedudukan ayah Tan Thian Oe.
Sesudah suara sorakan menjadi reda, Anan berkata pula: "Untuk keperluan upacara
pembukaan kuil baru itu di Tibet, maka mau tidak mau, kita harus mempertahankan
kebiasaan lama dan memilih Wanita-wanita Suci. Mereka yang dapat diangkat menjadi
Wanita Suci mempunyai rejeki besar dan mempunyai jodoh dengan Sang Budha. Akan
tetapi, Hoat-ong juga dapat mengerti jalan pikiran kalian, dan oleh karena itu, siapa saja
yang tak setuju puterinya menjadi Wanita Suci, dapat memberitahukannya secara
berterus terang dan beliau bersedia untuk melepaskan puteri-puteri mereka."

Keadaan sunyi senyap, tak ada yang berani menyatakan, pikirannya terlebih dahulu,
sehingga Anan Tjoentjia mengulangi pula pertanyaannya. Sebagai hasilnya, antara tiga
puluh enam ayah atau wali yang puterinya telah ditangkap, hanya tujuh yang
menyatakan ingin mengambil pulang puterinya. Belasan orang lainnya tidak berani
membuka suara, meskipun hatinya merasa tidak setuju, sedang beberapa belas ayahayah lain lagi menyatakan kegirangannya, bahwa puteri mereka ternyata berjodoh untuk
menjadi murid Sang Budha.
Sesudah beres, Anan segera mengajak para tamunya mengeringkan gelas arak sekali
lagi.
"Sekarang Hoat-ong mengundang kalian untuk bersembahyang," kata Anan sesudah
semua orang mencegluk araknya. "Kalian boleh masuk ke tempat sembahyang dan
berbaris dengan rapi di lorak depan. Sesudah kalian memasang hio, seorang Lhama akan
ambil hio itu dari tangan kalian dan menyampaikan semua nama."
Sehabis berkata begitu, Anan segera berjalan masuk, diikuti oleh semua orang, antaranya
tentu saja juga Keng Thian sendiri.
Ruangan sembahyang kelihatan angker sekali, dengan seratus lebih Lhama yang berbaris
di dalam ruangan dan seratus lebih tamu yang berdiri di lorak. Di belakang meja
sembahyang terdapat beberapa puluh patung Budha besar dan kecil.
Perlahan-lahan Raja agama itu berdiri dan berjalan menuju ke depan patung Djielayhoed.
Ia menyalakan sebatang hio yang besar dan lantas saja mulai bersembahyang.
Walaupun sudah pernah bertempur, baru sekarang Keng Thian melihat tegas muka Hoatong. Badan Raja agama itu tinggi dan besar, mukanya bundar bagaikan rembulan dan
kelihatan angker sekali. Diam-diam Keng Thian merasa girang, bahwa semalam ia tidak
menurunkan tangan jahat.
Sesudah Hoat-ong dan semua tamunya beres memasang hio, tiba-tiba terdengar suara
lonceng dan di lain saat, dari belakang meja sembahyang keluar dua baris wanita yang
mengenakan pakaian putih. Setiap baris terdiri dari delapan belas gadis yang dipimpin
oleh seorang Ibu Suci. Begitu tiba di depan meja sembahyang, mereka segera menari-nari
dan menyanyikan lagu-lagu Budha yang kedengarannya merdu dan melapangkan dada.
Berselang beberapa saat, Hoat-ong menepuk tangan dua kali sebagai tanda bahwa
upacara sudah berakhir dan wanita-wanita itu segera masuk pula ke dalam dengan
berbaris. Seorang Ibu Suci yang barusan memimpin salah satu barisan Wanita Suci, tidak
turut masuk ke dalam, tapi segera menghampiri Hoat-ong dan berbicara dengan bisikbisik.
Semua orang menahan napas, tak ada yang berani berbicara. Keng Thian segera
memusatkan semangatnya dan coba mendengarkan bisikan Ibu Suci itu.
"Aku sudah membujuk berulang-ulang, tapi ia masih juga sungkan menurut," katanya.
"Baiklah," kata Hoat-ong. "Coba kau ajak ia keluar."
Hati Keng Thian berdebar-debar, matanya mengawasi ke belakang meja sembahyang.
Apakah ia harus lantas menyerbu, begitu Yoe Peng muncul? Ia sungguh merasa sangat
sangsi dan tak dapat lantas mengambil putusan.
Mendadak ia dengar suara tindakan dan dari pojok meja sembahyang kelihatan keluar
dua orang wanita, yang satu adalah sang Ibu Suci, sedang yang lain adalah seorang

wanita muda yang berpakaian serba putih. Keadaan jadi sunyi senyap, ratusan pasang
mata mengawasi mereka.
Mulut nona itu, yang mengenakan pakaian wanita Tibet, ditutup rapat-rapat, kedua
matanya yang bening mengawasi ke depan dengan mendelong seperti juga orang yang
tak sadar akan dirinya, sedang paras mukanya adalah dingin bagaikan es. Muka gadis itu
hanya agak mirip dengan Pengtjoan Thianlie dan ia duga pasti bukannya Yoe Peng!
Keng Thian terkesiap lantaran barusan ia sudah menduga pasti, bahwa wanita itu tentu
bukan 4ain daripada Yoe Peng. Ia mengawasi si nona dengan tidak berkesip, lapat-lapat ia
ingat, seperti juga sudah pernah bertemu dengan wanita itu, akan tetapi ia lupa dimana
lagi kapan. Ia coba mengingat-ingat segala kejadian di keraton es. Satu hal yang ia dapat
pastikan, bahwa dayang Pengtjoan Thianlie yang turun gunung hanya Yoe Peng seorang.
Siapakah gadis yang menggunakan Pengpok Sintan, satu senjata rahasia yang hanya
terdapat di keraton es? Ia memutar otak tapi tetap tak dapat menjawab pertanyaan itu.
Dapat dimengerti jika Keng Thian tak ingat lagi siapa adanya gadis itu, yang bukan lain
daripada Chena, jantung hati Tan Thian Oe. Pada waktu ia naik ke keraton es, di antara
dayangdayang Pengtjoan Thianlie memang juga terdapat Chena. Akan tetapi, oleh karena
pada waktu itu seluruh perhatiannya ditujukan kepada Koei Peng Go seorang, maka dalam
pertemuan ini, ia tak dapat mengenali pula nona ini yang telah dijumpainya baru sekali
dua kali secara sepintas lalu.
"Inilah dia," berkata sang Ibu Suci sesudah berhadapan pula dengan Hoat-ong. "Ia bukan
saja cantik dan suci bersih, akan tetapi juga pandai bersilat, sehingga aku tadinya berniat
mengangkat ia sebagai Wanita Suci yang memimpin kuil di Sakya. Hanya sayang, ia tak
berjodoh dengan Sang Budha, sehingga kita pun tak dapat berbuat apa-apa."
Di antara begitu banyak orang yang berdiri di lorak, perkataan Ibu Suci hanya dapat
didengar oleh Keng Thian seorang.
Tiba-tiba mata Chena bergerak dengan perlahan dan lalu mengawasi Hoat-ong. Di lain
saat, mukanya terlihat seakan-akan kaget dan alisnya berkerut, seperti orang yang
sedang memikir apaapa. Akan tetapi, perobahan itu hanya terjadi dalam sekejap mata
dan parasnya segera juga berbalik dingin kembali.
Ketika itu, kedua Lhama yang dulu pernah bertempur melawan Keng Thian, berdiri di kiri
kanan Hoat-ong. "Gadis ini tak boleh dilepaskan," kata salah satu antaranya. "Ia pernah
melukakan beberapa Lhama dengan ilmu siluman."
Muka Hoat-ong yang angker kelihatan menyeramkan dan ia tidak menjawab perkataan
Lhama itu. Hati segenap hadirin jadi berdebar, mereka tak tahu, putusan apa yang akan
diambil.
Orang yang duduk berendeng dengan Hoat-ong adalah Khan (raja) dari Tukuhun. Sedari
Chena muncul, kedua matanya mengawasi gadis itu tanpa berkesip. Sekonyong-konyong
ia berdiri dan sembari merangkap kedua tangannya, ia berkata dengan suara perlahan:
"Aku memohon kemurahan Budha Hidup untuk mengampuni gadis itu. Izinkanlah aku
membawa ia ke istanaku untuk diberi nasehat. Izinkanlah aku menebus kedosaannya
dengan memperbarui istana Budha."
Pada jaman pemerintahan Tjeng, menurut kebiasaan di Tibet, Tjenghay dan tempattempat lain, Hoat-ong atau Raja agama, berkuasa atas keagamaan, sedang Khan, atau
Raja, menguasai urusan pemerintahan dan politik. Kekuasaan agama dipandang lebih
tinggi daripada kekuasaan politik, sehingga Raja agama mempunyai kedudukan yang
lebih tinggi daripada Raja manusia. Akan tetapi, pada waktu para Lhama sekte Topi Putih
melarikan diri ke Tjenghay, mereka sudah bisa menetap disitu karena bernaung di bawah

perlindungan Khan. Maka itulah, begitu mendengar perkataan Tukuhun Khan, Hoat-ong
segera kerutkan alisnya dan paras mukanya memperlihatkan kesangsian yang sangat
sukar di atasinya.
Sementara itu, setelah mendengar permintaan Tukuhun Khan, Tong Keng Thian lantas saja
naik darahnya. Ia merasa, raja itu mempunyai maksud yang kurang baik. Walaupun gadis
itu bukannya Yoe Peng, Keng Thian sangat tak setuju, jika ia terjatuh kedalam tangan
Khan itu. Selagi memutar otak untuk mencari jalan guna memberikan pertolongan, dari
antara tamu-tamu agung mendadak keluar satu orang yang, sesudah memberi hormat
kepada Hoat-ong, segera berkata dengan suara nyaring: "Perempuan siluman itu agaknya
mempunyai riwayat yang mencurigakan. Maka itu, aku memohon izin Budha Hidup untuk
menjajal padanya."
Keng Thian terkejut karena mengenali orang itu yang ternyata bukan lain daripada In
Leng Tjoe, yaitu konconya Hiatsintjoe, yang pernah berusaha menangkap Liong Leng
Kiauw.
Sebagaimana diketahui, In Leng Tjoe adalah kaki tangan Kaizar Boan yang berada dalam
perjalanan pulang ke kota raja, untuk melaporkan halnya Liong Leng Kiauw. Oleh karena
ia kenal Raja agama sekte Topi Putih, maka waktu tiba di Tjenghay, ia mampir dan turut
menghadiri upacara sembahyang itu.
Dalam perhubungan antara kerajaan Tjeng dan Tukuhun Khan, meskipun benar Khan
tersebut dapat dikatakan berdiri sendiri, akan tetapi secara resmi Tjenghay masih berada
dalam kekuasaan Kaizar Boan. Oleh karena itu, mengingat In Leng Tjoe adalah orang
penting dalam istana Tjeng, maka biarpun sangat gusar, Tukuhun tak berani sembarang
mengumbar napsunya. Parasnya lantas saja jadi berubah dan ia menanya dengan suara
dingin: "Cara bagaimana kau ingin menjajal ia?"
"Khan yang Besar tak usah kuatir," jawabnya. "Biarpun bagaimana juga, aku tak akan
merusak paras mukanya."
Dengan mengandalkan ilmu silatnya yang tinggi, tanpa memperdulikan kegusaran Khan
dan juga tanpa menunggu persetujuan Hoat-ong, ia segera menghampiri Chena dan
menotok dada gadis itu dengan kedua jerijinya.
Totokan itu adalah satu serangan hebat dan dilihat dari cara ia menurunkan tangan, In
Leng Tjoe kelihatannya ingin memaksa supaya Chena menangkis pukulannya.
Latar belakang dari tindakan itu adalah seperti berikut: Ketika baru tiba di kota Naichi, ia
mendengar halnya seorang wanita yang sudah merobohkan beberapa Lhama dengan
semacam senjata yang membikin orang kedinginan. Seperti Keng Thian, ia segera
menarik kesimpulan, bahwa wanita itu adalah Yoe Peng. Barusan, sesudah melihat Chena,
baru ia mengetahui, bahwa gadis itu bukan Yoe Peng. Akan tetapi, Pengpok Sintan adalah
senjata rahasia istimewa yang hanya terdapat di keraton es. Maka itu, meskipun Chena
bukan dayang Pengtjoan Thianlie, akan tetapi, dengan mempunyai Pengpok Sintan, ia
tentu mempunyai hubungan rapat dengan Koei Peng Go. Sebagaimana diketahui suami
isteri In Leng Tjoe pernah dihajar oleh Pengtjoan Thianlie dan mereka sangat membenci
gadis tersebut. Itulah sebabnya, mengapa lantas saja In Leng Tjoe mengambil putusan
untuk mempersulit Chena dan dengan totokannya itu, ia ingin mencari tahu, apakah ilmu
silat gadis itu sama dengan ilmu silat Koei Peng Go.
Melihat orang menurunkan tangan jahat. Tukuhun Khan lantas naik amarahnya. "Jangan
celakakan Wanita Suci!" ia membentak sembari loncat bangun dan teriaki orang-orangnya
supaya maju menolong.

In Leng Tjoe tidak memperdulikan bentakan itu dan dua jerijinya terus menotok dada
Chena. Tiba-tiba saja terdengar teriakan keras dan badan In Leng Tjoe melesat ke atas
setombak lebih, dan berbareng dengan itu, dua pahlawan Tukuhun Khan jatuh terlentang
tanpa bisa bangun lagi. Di lain saat, orang melihat In Leng Tjoe memegang pergelangan
tangannya, mukanya pucat dan keringatnya mengucur turun dari dahinya. Ia kelihatan
menderita kesakitan hebat dan tak dapat mengeluarkan sepatah kata.
Hoat-ong terkesiap, ia sungguh tak mengerti bagaimana bisa terjadi peristiwa begitu. Ia
kenal kepandaian In Leng Tjoe yang tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya
sendiri. Biarpun wanita itu pandai ilmu silat, ia mengetahui, bahwa kepandaiannya belum
seberapa dan masih kalah jauh dari kedua pahlawannya sendiri. Maka itu, ia tidak
mengerti, cara bagaimana In Leng Tjoe bisa kena dihajar secara begitu mudah. Dengan
matanya yang sangat tajam, ia mengetahui, bahwa In Leng Tjoe terluka pada jalan
darahnya akibat serangan senjata rahasia. Dan sungguh luar biasa, ia sendiri tak dapat
melihat, senjata apa yang sudah digunakan untuk menghantam In Leng Tjoe.
Dalam kagetnya, tanpa mengingat kedudukannya sebagai Budha Hidup, ia segera berdiri
dan menghampiri In Leng Tjoe guna menyelidiki terlebih jauh.
Sekonyong-konyong Chena merangkap kedua tangannya dan berkata dengan suara
halus: "Terima kasih untuk budi Budha Hidup yang sangat besar. Aku yang rendah mulai
dari sekarang bersedia untuk mempersembahkan jiwa dan raga kepada Sang Budha dan
bersedia pula untuk menjadi pengikutnya selama-lamanya."
Pernyataan Chena sudah membikin Ibu Suci dan semua Lhama jadi terkejut. Dua hari ia
tak makan dan tak minum, dua hari ia menolak segala rupa bujukan. Sungguh di luar
dugaan, bahwa pada saat itu, ia sudah menyatakan persetujuannya tanpa diminta lagi.
Begitu mendengar perkataan Chena, sang Ibu Suci segera mengucapkan doa, sebagai
tanda, bahwa keinginan gadis itu sudah diterimanya dan disetujui pula.
Sekonyong-konyong, Hoat-ong yang matanya sangat tajam melihat semacam perhiasan
luar biasa yang tergantung pada dada Chena. Perhiasan itu dibuat daripada sepotong
gading dan berbentuk bundar dengan ukiran huruf-huruf Sansekerta. Itulah sebuah
Lenghoe (jimat) untuk menjaga keselamatan yang biasa diberikan oleh pemimpin agama
Lhama kepada pengikutpengikutnya yang berjasa dan suci bersih. Dalam agama Lhama,
gajah putih dipandang sebagai hewan yang paling mulia.
Maka itu Lenghoe yang terbuat dari gading merupakan jimat yang dianggap paling tinggi
khasiatnya dan jarang diberikan kepada seorang wanita.
Chena adalah puteri tunggal Chinpu Hoan-ong, yang dulu paling berpengaruh dan paling
luas wilayahnya di Tibet. Semasa hidupnya, Chinpu banyak berjasa terhadap agama
Lhama dan itulah sebabnya, mengapa pada waktu Chena berusia tiga tahun, Panchen
Lhama telah menghadiahkan Lenghoe gading itu. Dalam kalangan Lhama terdapat suatu
kepercayaan, bahwa jimat tersebut mempunyai kekuatan untuk menolak segala "barang
kotor."
Walaupun pernah berseteru, sekte Topi Kuning dan Topi Putih bersumber satu. Dari sebab
begitu, Lenghoe yang diberikan oleh Raja agama sekte Topi Kuning atas nama Budha,
juga diindahkan oleh Raja agama dari sekte Topi Putih.
Ketika itu, Hoat-ong yang masih belum mengetahui asal-usul Chena, sudah menduga
bahwa gadis itu adalah Wanita Suci dari sekte Topi Kuning. Mendengar Chena bersedia
untuk menjadi Wanita Suci dari agamanya sendiri, sudah tentu saja ia jadi merasa girang
sekali. Tapi sebelum ia keburu membuka suara, In Leng Tjoe sudah berteriak-teriak seperti

orang gila. Ternyata, ia sudah berhasil membuka jalan darahnya dan dalam gusarnya, ia
sudah berteriak-teriak.
"Lukamu masih belum sembuh, tak dapat kau banyak bergerak," berkata Hoat-ong
dengan suara tawar.
In Leng Tjoe terkejut dan menghentikan teriakannya. Mendadak, Tukuhun Khan
menghampirinya dengan diikuti dua pahlawannya. "Bekuklah orang hutan ini!" ia
membentak. "Siapa berani mengganggu Wanita Suci kami!"
Selagi kedua pahlawan itu coba menangkap In Leng Tjoe, Tukuhun Khan mendekati
Chena.
Hoat-ong mesem dan berkata dengan suara nyaring: "Oh, Khan Yang Besar! Perkataanmu
tiada salahnya. Ia sekarang sudah menjadi Wanita Suci dari agama kami, siapa pun tak
boleh mengganggu padanya!"
Muka Khan lantas saja berubah, tapi ia tidak berani bergerak lebih jauh. "Sesudah ia
mendapat perlindungan Budha Hidup, aku pun tak mau banyak urusan lagi," katanya
dengan suara perlahan, tapi mukanya kelihatan menyeramkan sekali.
Heran sungguh hati semua Lhama yang berada disitu. Inilah untuk pertama kali mereka
menyaksikan bentrokan antara Hoat-ong dan Khan Yang Besar. Mereka merasa sangat
tidak mengerti, mengapa Tukuhun Khan rela berselisih dengan Hoat-ong untuk seorang
wanita yang sama sekali tidak diketahui siapa adanya.
Baru saja Tukuhun Khan memutar badan, tiba-tiba terdengar suara gedubrakan. Ternyata,
kedua pahlawannya yang mau membekuk In Leng Tjoe sudah dirobohkan orang yang mau
ditangkap.
Bukan main gusarnya Tukuhun Khan. Sedang terhadap sang Budha Hidup ia tak dapat
berbuat suatu apa, sekarang ia melampiaskan perasaan mendongkolnya terhadap In Leng
Tjoe.
"Bekuk padanya!" ia berteriak sekeras-kerasnya. Para
pahlawannya yang berjajar di lorak dengan serentak menyerbu ke atas untuk
menjalankan perintah sang raja.
Keng Thian menyaksikan semua kejadian itu dengan perasaan geli. "Aku mau lihat, cara
bagaimana Hoat-ong membereskan peristiwa ini," katanya di dalam hati.
Perlahan-lahan Raja agama itu menghampiri Tukuhun Khan. Mendadak, dua bayangan
melesat dari samping Hoat-ong dan bagaikan dua ekor garuda, mereka menyambar ke
arah Chena. Kedua bayangan itu adalah dua murid Hoat-ong, ialah Lhama jubah putih
yang pernah bertempur dengan Keng Thian pada waktu perebutan guci emas. Di waktu
itu, mereka berdua pernah mendapat bantuan In Leng Tjoe dan sekarang, ketika melihat
In Leng Tjoe mendapat luka, tanpa berpikir panjang lagi, mereka segera menyerang
Chena. Mereka menganggap In Leng Tjoe telah dilukakan oleh Chena dan sama sekali
tidak teringat, bahwa kepandaian ln Leng Tjoe masih lebih tinggi dari kepandaian mereka
sendiri dan tentu saja banyak lebih tinggi daripada kepandaian Chena. Di samping itu,
mereka sangat membenci Chena, oleh karena gadis itu pernah melukakan beberapa
Lhama. Barusan, melihat sikap Hoat-ong, mereka kuatir Raja agama itu akan
mengampuni Chena. Pada waktu menerjang, mereka belum mendengar terang perkataan
Hoat-ong yang diucapkan terhadap Tukuhun Khan dan mereka juga tidak memperhatikan
gading yang tergantung pada dada gadis tersebut.

Ketika Hoat-ong menghampiri Tukuhun Khan, ia sedang memutar otak untuk mencari
jalan guna meredakan keributan itu, maka ia tidak dapat melihat gerakan kedua Lhama
yang semberono itu dan waktu ia mengetahui adanya serangan tersebut, ia sudah tidak
keburu mencegah lagi.
Pada saat yang sangat genting, dari sebelah luar tiba-tiba terdengar suara tertawa yang
sangat nyaring, dan pada detik itu juga, kedua Lhama itu bergemetar sekujur badannya
dan meloncat setombak tingginya.
Semua orang terkesiap dan menengok ke arah suara tertawa itu. Mereka melihat dua
orang wanita muda, dengan muka bersenyum, sedang maju menghampiri dengan
tindakan ayu. Wanita yang berjalan di sebelah depan mengenakan pakaian warna biru
laut, mukanya bundar laksana bulan, alisnya melengkung dan kedua matanya yang
berwarna kebiru-biruan bersinar terang sekali. Dengan kecantikan-nya yang luar biasa
dan sikapnya yang agung, ia sudah membikin semua orang terpesona, antaranya In Leng
Tjoe sendiri yang mengawasi dengan mulut ternganga.
Wanita yang berjalan di sebelah belakang, memakai pakaian yang hampir sama dengan
wanita yang pertama, tetapi rambutnya dikepang dan diikat dengan sutera merah. Paras
mukanya, yang bagaikan paras bocah nakal, kelihatan seperti mau tertawa, tapi bukan
tertawa la mengikuti wanita yang pertama, seperti caranya seorang budak mengikuti
majikannya.
Melihat kedatangan mereka, Hoat-ong kaget tak kepalang. Harus diingat, bahwa dalam
ruangan itu terdapat empat sampai lima ratus orang dan halaman di luar gedung dijaga
oleh para Lhama yang jumlahnya tidak sedikit. Bahwa kedua wanita itu muncul secara
tiba-tiba tanpa diketahui dulu oleh orang lain, adalah kejadian yang benar-benar luar
biasa.
Tapi orang yang paling terpengaruh oleh kedatangannya kedua wanita itu mungkin adalah
Tong Keng Thian sendiri, oleh karena mereka bukan lain daripada Pengtjoan Thianlie dan
Yoe Peng! Dalam kaget dan girangnya, hampir-hampir ia berteriak.
Di lain saat, Koei Peng Go sudah berdiri di samping Chena. Begitu mengenali si nona yang
dulu sudah membantu melindungi guci emas, kedua Lhama jubah putih yang semberono
itu menjadi sangat gusar dan tanpa banyak bicara, mereka lalu menjotos.
Badan Pengtjoan Thianlie sama sekali tidak bergerak. Pada saat empat buah tinju hampir
mengenakan tubuhnya, tiba-tiba ia mengebas dengan tangan jubahnya dengan
menggunakan ilmu Tjiam-ic sippattiat (Delapan belas cara merobohkan musuh dengan
Kebasan baju), yaitu ilmu silat yang paling tinggi dan harus digunakan dengan tenaga
dalam yang sangat besar. Begitu dikebas, badan kedua Lhama itu yang seperti kerbau
besarnya lantas terpental serombak (Kulinya dan menggelinding sampai di kaki Hoat-ong.
Di lain saat, Pengtjoan Thianlie sudah menarik tangan Chena dan lalu bertindak keluar.
Ketika itu, mata semua orang sedang ditujukan kepada kedua Lhama itu yang kena
dibikin terpental oleh Koei Peng Go dan hanya Tong Keng Thian seorang yang terus
memperhatikan kedua wanita itu. Pada saat itu, Pengtjoan Thianlie agaknya tiba-tiba
melihat Lenghoe yang dipakai Chena dan ia mengeluarkan seruan tertahan. Di lain pihak,
Chena kelihatan mendekatkan mulutnya pada kuping Pengtjoan Thianlie dan telah
mengucapkan beberapa kata.
"Tahan!" berseru Hoat-ong, yang, dengan sekali menjejek kaki, sudah berdiri di samping
Pengtjoan Thianlie. Keng Thian kaget bukan main. Ilmu silat kedua orang itu hampir sama
tinggi dan jika mereka sampai bertempur, mungkin ia tak akan dapat memisahkan.

Sekonyong-konyong Chena mundur dua tindak dan sembari menyoja kepada Koei Peng
Go, ia berkata dengan suara nyaring: "Sioelie (paderi atau imam wanita) dari agama Topi
Putih memberi hormat kepada Hoehoat (Pelindung agama)."
Hoat-ong kaget dan mengawasi dada Peng Go, dimana kelihatan tergantung sebuah
Lenghoe yang mengeluarkan bau wangi-wangian halus. Itulah Pweyap Lenghoe (jimat
kitab Budha yang suci) yang oleh para penganut agama Budha dianggap sebagai
semacam mustika yang langka. Kecuali beberapa gelintir paderi suci, Budha Hidup atau
raja-raja yang sangat berjasa terhadap agama, semua pengikut agama Budha, dari hidup
sampai mati, belum tentu pernah melihat Lenghoe tersebut.
Pweeyap Lenghoe yang dipakai oleh Pengtjoan Thianlie adalah warisan ibunya, yaitu Hoa
Giok Kongtjoe. Nepal adalah negeri yang beragama Budha. Semasa hidupnya ayah Hoa
Giok adalah murid Budha yang taat pada agamanya dan dalam kedudukannya sebagai
raja Nepal membuat banyak sekali jasa terhadap agama. Itulah sebabnya, maka Raja
agama telah menghadiahkan Pweeyap Lenghoe kepadanya sebagai pernyataan terima
kasih dan penghargaan terhadap segala perbuatannya yang mulia. Sebagaimana
diketahui, raja tersebut semula ingin sekali menurut contoh raja-raja Barat dan hendak
mewariskan tahta kerajaan kepada puterinya yang tunggal. Oleh karena adanya niatan
tersebut, maka pada waktu usianya sudah lanjut, ia mewariskan Lenghoe itu kepada Hoa
Giok.
Pweeyap Lenghoe dari Pengtjoan Thianlie tidak dapat disamakan dengan Hoesin Lenghoe
(jimat untuk melindungi diri sendiri) dari Chena. Dengan memakai Lenghoe tersebut,
kedudukan Chena adalah sebagai seorang Wanita Suci, atau Shenglie, yang masih berada
di bawah kedudukan Lhama Besar. Di lain pihak, kedudukan Pengtjoan Thianlie
merupakan kedudukan Pelindung agama, atau Hoehoat, dan tingkatannya dapat dibilang
berendeng dengan tingkatan seorang Budha Hidup. Maka itulah, waktu Pengtjoan Thianlie
memberi hormat kepada Hoat-ong, Raja agama itu pun segera membalas dengan tidak
kurang hormatnya. Para tetamu, terhitung juga Tong Keng Thian, yang tidak mengetahui
tata tertib agama Lhama rata-rata merasa heran, ketika melihat Hoat-ong membalas
hormatnya Koei Peng Go.
Sementara itu, Keng Thian melihat Yoe Peng sedang kasak-kusuk dengan Chena. Mereka
bicara dengan berbisik dan menggunakan bahasa Tibet. Apa yang kuping Keng Thian
dapat menangkap hanya perkataan "Sakya" dan "Tan Thian Oe." Chena kelihatan
mengerutkan alisnya dan mengawasi Yoe Peng, seperti juga ia ingin meminta supaya
dayang Koei Peng Go itu jangan banyak berbicara.
"Hei! Siapa kau?" demikian terdengar bentakan Hoat-ong. Keng Thian yang sedang
memusatkan perhatiannya kepada kedua gadis itu, jadi gelagapan ketika melihat Raja
agama itu menuding padanya. Ternyata, untuk coba mendengar pembicaraan antara Yoe
Peng dan Chena, Keng Thian sudah melupakan dirinya dan maju terlebih jauh, sehingga ia
berada di garisan depan.
Hampir berbareng dengan bentakan Hoat-ong, sembari menggereng seperti harimau
terluka, In Leng Tjoe menerjang Pengtjoan Thianlie.
Hoat-ong mengebas dengan tangan jubahnya sambil membentak: "In Leng Tjoe! Jangan
kurang ajar!"
"Lihatlah! Apa ini"" berteriak In Leng Tjoe sembari memperlihatkan satu Sinbong yang
hitam bersinar. "Inilah Thiansan Sinbong! Sekarang terbukti, orang dari Thiansan pay,
bersama-sama perempuan siluman itu, sudah datang kemari untuk mengacau. Budha
Hidup! Kenapa kau tak mau lantas membekuk mereka?"

Ternyata, senjata rahasia yang barusan menghantam In Leng Tjoe adalah Thiansan
Sinbong yang dilepaskan oleh Tong Keng Thian. Sesudah dapat membuka jalan darahnya,
dalam kegusarannya ia segera menerjang Koei Peng Go, yang sangat dibencinya.
Dengan terkejut, Hoat-ong kembali mengebas dengan tangan jubanya. "In Leng Tjoe!" ia
membentak. "Jangan bicara gila-gila. Lieposat (Wanita mulia) ini adalah seorang
Pelindung agama."
Akibat kebasan Hoat-ong, In Leng Tjoe terhuyung beberapa tindak. Darahnya meluap, tapi
ia tidak berani mengumbar napsu amarahnya terhadap Raja agama itu.
Sesaat itu, para pahlawan Tukuhun Khan sudah menerjang In Leng Tjoe, yang, sambil
berteriak keras, menghantam kalang kabut, sehingga dalam sekejap mata, banyak yang
sudah terguling dengan mendapat luka-luka. Sesudah mengamuk hebat, In Leng Tjoe
segera lari ke lorak dan para tetamu lantas saja menjadi kalut.
Dalam keadaan yang sedemikian kalut, Tong Keng Thian masih tetap tenang dan kedua
matanya terus mengawasi Koei Peng Go. Barusan, ketika In Leng Tjoe menerjang
padanya, Pengtjoan Thianlie mengegoskan badan sembari mengebas tangan bajunya
yang panjang dan gerakannya itu seperti juga gerakan menyingkirkan diri dari serangan
musuh yang kuat. Akan tetapi sebenar-benarnya gerakan Peng Go ditujukan terhadap
Keng Thian, oleh karena, pada saat ia mengegos, tangan bajunya membuat saru huruf
"Tjauw" (lari) di tengah udara, dengan maksud supaya pemuda itu lekas-lekas melarikan
diri. Melihat itu, Keng Thian jadi semakin tidak mengerti.
Sebelum dapat memikirkan harus berbuat bagaimana, In Leng Tjoe sudah lari sampai di
hadapannya dengan diubar oleh dua Lhama. Dengan cepat, Keng Thian pasang kudakuda, dua jeriji tangan kirinya dipentang dan menyambar ke depan, sedang tangan
kanannya ditarik ke belakang, dalam gerakan mementang gendewa. Itulah pukulan
Thiansan pay yang paling liehay dan dikenal sebagai pukulan Houwtek siadjit (Houw Tek
memanah matahari). Kedua jeriji yang menghantam ke depan menggunakan ilmu Tiattjie
Sinkang (Ilmu jeriji besi), sedang sikutnya yang memukul ke belakang bekerja seperti satu
martil besi. Ilmu silat In Leng Tjoe memang sudah kalah setingkat dari Tong Keng Thian
dan ditambah dengan lukanya, ia lebih-lebih bukan tandingan pemuda itu. Melihat
sambaran kedua jeriji Keng Thian, dengan mengandalkan ilmu Tiatposan (Ilmu baju besi,
yaitu semacam ilmu weduk), In Leng Tjoe menyambut dengan pundaknya Berbareng
dengan satu suara "tak!" tulang pundak itu patah dan hampir-hampir ia roboh di atas
lantai. Pada detik itu, kedua Lhama yang mengubar juga sudah tiba dan sikut Keng Thian
membentur tepat sang Lhama yang jalan di depan. Dengan teriakan keras, ia jatuh
kejengkang dan badannya menubruk sang kawan yang berada di belakangnya, sehingga
tak ampun lagi, mereka berdua terguling dengan berbareng.
Biar bagaimanapun juga, In Leng Tjoe adalah pemimpin satu cabang persilatan dan ilmu
silatnya sudah mencapai tingkat yang tinggi. Demikianlah, walaupun tulangnya patah,
sesudah mengempos semangat, ia segera menerjang pula. Mendadak, dua sinar dingin
kelihatan menyambar. Keng Thian, yang menduga Pengtjoan Thianlie sedang membantu
ia, sudah tidak berjaga-jaga dan tahu-tahu mukanya basah dan bukan main dinginnya.
"Jangan membiarkan dia lari!" berteriak kedua Lhama yang barusan dirobohkan sikut
Keng Thian. Sekarang Hoat-ong sendiri sudah dapat mengenali, bahwa pemuda itu bukan
lain daripada si tetamu bertopeng yang semalam telah mengunjungi ia.
"Terima kasih atas bantuan Lieposat," berkata Hoat-ong sembari membungkuk dan lalu
bergerak untuk turun tangan sendiri.

Pengtjoan Thianlie mengawasi Raja agama itu sembari mesem. "Sesudah Budha Hidup
mengenali siapa adanya ia, kenapa juga masih mau turun tangan? Apakah Budha Hidup
masih ingin bertempur dengan agama Topi Kuning di Tibet?" menanya si nona.
Hoat-ong terkejut dan lalu balas menanya: "Kenapa Lieposat berkata begitu?"
"Apakah Budha Hidup mengetahui, bahwa orang itu sudah membantu kerajaan Tjeng dan
agama Topi Kuning untuk melindungi guci emas?" Pengtjoan Thianlie berkata pula
Waktu itu, kedua Lhama tadi sedang mencaci Keng Thian yang dulu telah melukakan
mereka dalam perebutan guci emas. Hoat-ong jadi semakin bersangsi, ia mengawasi
Pengtjoan Thianlie tanpa berkesip.
"Pada waktu guci emas direbut kembali, aku pun berada disitu," kata Pengtjoan Thianlie.
Soal inilah yang membikin Hoat-ong bersangsi. Dari murid-muridnya ia mendapat tahu,
bahwa dua lawan berat pada waktu itu adalah seorang dari Thiansan pay dan seorang
wanita yang dikenal sebagai Pengtjoan Thianlie. "Ia adalah Hoehoat dari agama Budha,
akan tetapi, siapakah yang sebenarnya dilindungi?" tanya Hoat-ong dalam hatinya.
"Apakah benar pernyataan In Leng Tjoe, bahwa ia datang unuk menyeterukan aku?"
Selagi Raja agama itu berada dalam kesangsian, Koei Peng Go sudah berkata pula:
"Agama Topi Kuning dan Topi Putih sebenar-benarnya bersumber satu. Sekarang, sesudah
diadakan perdamaian, Budha Hidup hendaknya jangan mempersulit orang itu. Bahwa guci
emas waktu ini berada di Lhasa, sebenarnya adalah suatu kejadian yang menguntungkan
bagi kedua belah pihak. Aku mohon Budha Hidup sudi memaafkan aku yang sudah
mencampuri urusan ini."
Hoat-ong adalah seorang yang sangat cerdas dan begitu mendengar perkataan Pengtjoan
Thianlie, ia segera menjadi sadar. "Benar!" katanya didalam hati. "Untung juga hari itu
mereka berdua sudah turun tangan. Andaikata waktu itu guci emas dapat direbut, cara
bagaimana dapat dicapai perdamaian seperti yang tercapai hari ini? Ah! Ternyata mereka
mempunyai pandangan yang sangat luas dan diam-diam sudah menyingkirkan akar
permusuhan antara kedua agama." Memikir begitu, ia lantas saja memberi hormat
kepada Koei Peng Go dan menepuk kedua tangannya untuk memanggil balik kedua
muridnya.
Tadi, ketika Pengtjoan Thianlie menimpuk mukanya dengan Pengpok Sintan guna
membuka rahasia penyamarannya, Keng Thian merasa sangat tidak mengerti, kenapa si
nona sudah bertindak begitu. Sesaat kemudian, ia menduga, bahwa Peng Go tidak sudi
bicara dengan ia dan ingin mendesak supaya ia berlalu dari tempat itu, dan berhubung
dengan dugaan tersebut, Keng Thian segera memutuskan untuk segera menyingkir. Akan
tetapi, ia sudah kena "diikat" oleh In Leng Tjoe dan kedua Lhama itu, sehingga untuk
sementara waktu, ia tak dapat meloloskan diri. Selagi bertempur hebat, ia tentu saja tidak
dapat mendengar pembicaraan antara Hoat-ong dan Peng Go dengan jelas. Tiba-tiba
Hoat-ong menepuk tangannya dan memanggil pulang kedua muridnya yang sedang
mengerubuti Keng Thian, sehingga pemuda itu, yang justru sedang berkuatir Hoat-ong
akan turut turun tangan sendiri, jadi merasa sangat heran.
Sesudah dua lawan itu meninggalkan gelanggang pertempuran, merobohkan In Leng Tjoe
sudah tidak merupakan soal lagi baginya. "Lootjianpwee, maafkan aku yang berlaku
kurang ajar," kata Keng Thian sembari tertawa dan mengirim dua pukulan berat, yang
telak mengenakan bagian tubuh yang berbahaya. Apa yang lebih hebat lagi, ialah pukulan
Keng Thian dengan menggunakan Imlat (Tenaga lembek), sehingga In Leng Tjoe semula
tidak merasakan apa-apa dan sesudah lewat beberapa saat, baru ia terkena pengaruh
pukulan itu. Sesaat itu, In Leng Tjoe bukan hanya menghadapi Keng Thian, akan tetapi
juga para pahlawan Tukuhun Khan juga sudah bergerak untuk membekuk ia.

Jalan yang paling selamat untuk In Leng Tjoe adalah meminta pertolongan Hoat-ong dan
berdiam beberapa hari dalam kuil untuk mengobati lukanya. Akan tetapi, sebagai seorang
yang angkuh, sebaliknya dari memohon pertolongan, ia menjejek kedua kakinya dan
melompati tembok, akan kemudian kabur tanpa menengok lagi. Tindakannya itu sudah
membikin lukanya jadi semakin berat dan ia terpaksa harus rebah sebulan lebih untuk
memulihkan kesehatannya. Akan tetapi, walaupun sudah sembuh, ilmu silatnya banyak
berkurang dan tugas melaporkan hal Liong Leng Kiauw kepada atasannya di kota raja, jadi
tertunda. Maka Tong Keng Thian sudah melukakan In Leng Tjoe juga lantaran ingin
memperlambat perjalanannya ke kota raja.
Sesudah In Leng Tjoe kabur, Keng Thian lantas saja mengenjot badannya yang segera
melesat keluar tembok. Selagi melompati tembok, ia menengok dan melihat si nona
mengawasi padanya sembari mesem.
Pada waktu Keng Thian kembali ke rumah penginapan, para pelayan sedang kebingungan
dalam usaha menolong majikannya. Semula, mereka hanya merasa heran melihat sang
majikan belum juga keluar dari kamarnya untuk memenuhi undangan Hoat-ong, tapi
mereka tak berani masuk kedalam kamar. Kemudian, sesudah siang berganti malam dan
sang majikan belum juga muncul, dengan memberanikan hati, salah seorang pegawai
masuk ke dalam kamar. Begitu masuk, ia terkejut oleh karena sang majikan sedang tidur
bagaikan mayat dan tak menjadi sadar meskipun dipanggil-panggil dengan suara keras.
Buru-buru ia keluar dan memberitahukan rekanrekannya yang jadi kebingungan dan
menduga majikan itu terkena "barang kotor." Salah seorang lantas pergi mengundang
dukun untuk mengusir setan atau memedi yang mengganggunya.
Keng Thian merasa geli dalam hatinya. Diam-diam ia mengembalikan surat undangan
Hoat-ong dan membuka jalan darah si pemilik rumah penginapan. Sesudah itu, tanpa
memperdulikan segala kekacauan, ia membereskan buntalannya dan tanpa pamitan lagi
segera berlalu dari penginapan itu, sesudah meninggalkan sepotong perak di atas meja.
Dalam peristiwa pada malam itu, ada banyak hal yang tidak dimengerti Keng Thian.
Pertama, siapakah gadis Tibet itu? Kenapa, sedang semula ia menolak begitu keras untuk
dijadikan Wanita Suci, akhirnya secara suka rela ia menyatakan suka menurut? Kedua,
sebagai seorang yang baru turun gunung, Pengtjoan Thianlie tak mengenal jalan. Kenapa
ia bisa datang ke kuil itu? Apakah kejadian itu hanya kejadian kebetulan saja? Ketiga, Koei
Peng Go bermula mendesak supaya ia cepat-cepat mengangkat kaki, tapi kemudian
mesem-mesem kepadanya. Apakah arti sikap itu? Selain itu, sedang Pengtjoan Thianlie
sendiri pernah membantu melindungi guci emas, kenapa Hoat-ong bersikap begitu
menghormat terhadapnya?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh Tong Keng Thian. "Jika dilihat
dari sikapnya, Peng Go pasti mengenal baik gadis Tibet itu," katanya didalam hati. "Tapi
gadis itu sudah pasti bukan dayangnya."
Berselang beberapa saat, kentongan berbunyi empat kali. Keng Thian lantas mengambil
keputusan dan tanpa bersangsi, ia segera menuju lagi ke kuil Lhama dengan gunakan
ilmu mengentengkan badan. Begitu tiba, ia pergi ke Istana Wanita Suci yang terletak di
sebelah timur. Ia sudah bertekad untuk menyelidiki hal ihwal gadis Tibet tersebut dalam
usaha mencari tahu dimana adanya Pengtjoan Thianlie.
Dengan sekali mengenjot badan, ia sudah hinggap di atas genteng istana. Ketika itu, para
Wanita Suci sudah berada dalam masing-masing kamarnya dan penerangan sudah
dipadamkan. Sesudah terjadinya peristiwa hebat tadi, para wanita itu ternyata tak dapat
tidur pulas dan masih terus membicarakan kejadian tadi dengan suara bisik-bisik. Sambil
merangkak di atas genteng, Keng Thian mendengar suara kasak-kusuk itu, akan tetapi ia

tidak mengetahui suara yang mana adalah suara si gadis Tibet dan ia juga tak berani
sembarang masuk ke dalam kamar orang.
Sambil menghela napas, Keng Thian mengangkat kepalanya. Mendadak, di sebuah loteng
kecil yang terletak di sebelah timur, terlihat api lampu yang berkelak-kelik. Buru-buru ia
menghampiri dan setelah datang dekat, lewat jendela kaca ia dapat kenyataan, bahwa di
kamar itu terdapat tiga wanita yang bukan lain daripada Pengtjoan Thianlie, Yoe Peng dan
si gadis Tibet yang sedang dicarinya.
Bukan main girangnya. Ia datang lebih dekat pula dan memasang kuping.
"Ini beberapa lembar adalah pelajaran menimpuk dengan senjata rahasia," demikian
kedengaran suara Pengtjoan Thianlie. "Simpanlah baik-baik."
"Budi Tjietjie yang sangat besar, sampai mati aku tak akan melupakan," kata sigadis
Tibet.
"Ah! Benar-benar mereka sudah saling mengenal," berkata Keng Thian dalam hatinya.
"Tapi kenapa ia turunkan pelajaran senjata rahasia, sedang ilmu silat ada begitu banyak
macamnya?"
Di lain saat terdengar suara tertawa Yoe Peng yang lalu berkata: "Kau hidup atau mati,
untuk aku tak ada halangannya. Tapi ada orang yang tidak rela, jika kau sampai menutup
mata!"
Dari luar jendela, Keng Thian melihat gadis Tibet itu menggebuk Yoe Peng yang mulutnya
usilan.
"Aku sama sekali tidak berdusta," kata pula Yoe Peng yang nakal. "Benar-benar ia sedang
menunggu kau dengan tidak sabar."
"Ah! Kalau begitu, ia sudah mempunyai kecintaan," kata Keng Thian dalam hatinya. "Tapi
siapa?" Walaupun pintar dan cerdas, Tong Keng Thian sedikitpun tidak menduga, bahwa
orang yang dimaksudkan Yoe Peng adalah Tan Thian Oe. Dengan mata sendiri, ia pernah
menyaksikan hubungan yang rapat antara Thian Oe dan Yoe Peng, sehingga ia sama
sekali tak mengira, bahwa kecintaan Thian Oe adalah si gadis Tibet.
"Yoe Peng!" demikian terdengar Pengtjoan Thianlie membentak. "Jangan bicara yang gilagila! Adik Chena, jagalah dirimu baik-baik!"
Keng Thian tahu, si nona sudah mau berlalu. Tiba-tiba kesunyian sang malam dipecahkan
suara bentakan yang keluar dari atas loteng. "Binatang!" membentak seorang wanita.
"Berani betul kau menggerayang kesini! Leng-ouw (Anjing sakti)! Gigit orang itu!"
Di lain saat, berbareng dengan suara menggeram yang dahsyat, empat ekor anjing
sebesar anak kerbau dan galak luar biasa, menerjang Keng Thian. Anjing itu adalah dari
daerah Tibet dan merupakan turunan dari perkawinan campuran antara anjing hutan dan
anjing biasa, dan itulah sebabnya, mengapa galaknya luar biasa.
Mereka mengepung Keng Thian dari empat penjuru, tak berbeda dengan cara manusia
yang berakal budi. Baru saja Keng Thian membikin terpental yang satu, dua ekor yang
lain sudah menubruk, yang satu coba menggigit lehernya, sedang yang lain menyambar
pundaknya. Buruburu Keng Thian membentur dengan pundaknya sembari mengebas
dengan tangan kirinya dan kedua anjing itu lantas saja terguling dengan terkuing-kuing.
Sekonyong-konyong di tengah udara terdengar suara hebat bagaikan guntur, dibarengi
dengan menubruknya seekor anjing yang agaknya menjadi pemimpin rombongan anjing

itu. Kedua matanya yang berwarna biru seperti juga mengeluarkan api dan tubrukannya
tidak kalah dengan tubrukan seekor harimau.
Keng Thian memutarkan badan dan pada saat dua kaki depan anjing itu hampir
mengenakan badannya, ia mengirimkan satu tendangan keras. Akan tetapi, binatang itu
yang sudah mendapat latihan lama, dapat mengegosi tendangan tersebut. Keng Thian
terkejut! "Cara berkelit anjing ini seperti juga manusia yang sudah belajar ilmu
mengentengkan badan sepuluh tahun lamanya," katanya di dalam hati. Mengingat ini,
dalam hatinya lantas timbul perasaan kasihan dan menyayangkan, jika binatang itu
sampai jadi celaka. Tendangan Keng Thian barusan adalah tendangan Wanyo Lianhoan
toeihoat, atau tendangan berantai. Sesudah tendangan kaki kiri meleset, kaki kanan
harus menyusul. Akan tetapi, oleh karena timbulnya perasaan itu, Keng Thian tidak
mengirimkan tendangan kedua. Di lain saat, anjing tersebut kembali sudah menubruk
secara hebat. Tiga kawannya yang barusan terguling sekarang sudah bangun kembali dan
sembari menyalak, mereka kembali menerjang Keng Thian.
Sesudah mendapat pengalaman pahit, bagaikan manusia, keempat anjing itu merobah
siasatnya. Sekarang mereka menggunakan siasat gerilya, yaitu buru-buru meloncat
mundur jika Keng Thian menghantam dengan tangan atau kakinya dan menyerobot
begitu lekas terbuka lowongan. Sesudah bertempur beberapa saat, karena mendengar
bentakan-bentakan di atas loteng yang sesuai benar dengan gerakan-gerakan kawanan
anjing itu, Keng Thian mengetahui, bahwa serangan itu dipimpin oleh seorang yang
bersembunyi di atas loteng. Sementara itu, para Wanita Suci sudah pada keluar dari
masing-masing kamarnya dan suara manusia menjadi semakin ramai.
Keng Thian merangkap kedua tangannya sambil mengerahkan tenaga dalam dari ilmu
Lweekee, sehingga keempat anjing itu tertolak mundur oleh satu tenaga yang tak
kelihatan dan tidak dapat mendekati ia lagi. "Kedatanganku ini adalah untuk menemui
seorang sahabat," ia berseru dengan suara nyaring. "Aku sama sekali tidak mempunyai
niatan kurang baik dan mengharap supaya pihak majikan yang terhormat sudi memanggil
pulang keempat anjing ini. Jika tidak, janganlah salahkan aku memukul anjing tanpa
memandang majikannya."
Baru saja Keng Thian berkata begitu, dari atas loteng melayang turun seorang wanita tua
yang mengenakan pakaian warna hijau dan tangannya mencekal sebatang pedang
panjang. "Binatang!" ia membentak. "Apakah belum cukup kau mengacau di ruangan
sembahyang maka datang lagi ke Istana Wanita Suci? Jagalah pedangku!" Berbareng
dengan makiannya ia menikam dengan ilmu pedang Thianliong pay dari Tibet.
Keng Thian berkelit dan pada saat itu, keempat ekor anjing sudah membantu menyerang.
Dengan sekali melirik, ia mengetahui, bahwa wanita tersebut adalah si Ibu Suci yang
sudah dilihatnya di ruangan sembahyang.
"Benar-benar aku datang untuk menemui seorang sahabat yang berada disitu!" berteriak
Keng Thian sembari menunjuk loteng.
(bu Suci menjadi gusar bukan main. "Jika kau berani keluarkan pula omongan kotor, kau
akan binasa tanpa mempunyai tempat untuk mengubur mayatmu!" ia mencaci.
Harus diingat, bahwa Wanita Suci dalam agama mereka dipandang sedemikian suci
bersih, sehingga seorang lelaki melirik saja sudah tidak diperbolehkan. Lantaran begitu,
mana boleh ia mempunyai sahabat lelaki yang tidak dikenal? Perkataan Keng Thian
merupakan pelanggaran besar terhadap agama tersebut dan di mata sang Ibu Suci, ia
adalah seorang bermoral bejat. Demikianlah, sambil menyerang dengan pedangnya
secara sengit, ia memimpin serangan keempat anjing itu, sehingga Keng Thian menjadi
sangat repot dan tidak mempunyai kesempatan untuk memberi penjelasan.

Pengtjoan Thianlie yang rupanya masih mendongkol tidak mau turun dari loteng untuk
memberikan pertolongan, sehingga kedudukan pemuda itu menjadi sulit sekali. Ia sangat
kuatir Hoat-ong keburu datang dan urusan bisa menjadi terlebih ruwet lagi.
Dalam mendongkolnya, dengan kedua tangan ia menangkap seekor anjing yang lalu
dilontarkan ke anjing lain hingga sembari berkuing-kuing, kedua binatang itu tergulingguling tanpa bisa bangun pula. Si Ibu Suci jadi sangat gusar dan lalu mengirim tiga
serangan berantai. Dengan gerakan Poanliong djiauwpo (Tindakan naga), Keng Thian
mengegos beberapa kali dan kemudian bagaikan seekor burung, ia melewati badan Ibu
Suci dan menyambar seekor anjing lagi dengan ilmu Siauwkinna (Ilmu menangkap).
Seperti tadi, ia mengangkat badan anjing itu yang lantas dilemparkan ke arah anjing yang
ke empat. Tapi tak dinyana, anjing terakhir itu adalah anjing yang paling liehay. Dengan
geraman hebat, dia meloncat tinggi dan terus menubruk Keng Thian. Loncatan tersebut
sudah membikin timpukan Keng Thian jatuh di tempat kosong dan kedua kaki depannya
sudah mengenakan baju pemuda itu.
Buru-buru Keng Thian mengeluarkan ilmu Tjiam-ie sippattiat-dengan lweekang-nya yang
sangat tinggi. Dengan sekali menggoyangkan badan, anjing itu sudah dilontarkannya
sejauh beberapa kaki dan dengan satu egosan, ia berkelit dari tikaman si Ibu Suci.
Mendadak suatu sinar dingin menyambar ke arahnya. Keng Thian tahu, benda itu adalah
Pengpok Sintan dan lantas menangkap dengan sebelah tangannya. Setelah Sintan itu
lumer, dalam tangannya ketinggalan serupa benda lain, sehingga hatinya menjadi kaget.
Mendadak terdengar suara Pengtjoan Thianlie yang ditujukan kepada Ibu Suci: "Ibu Suci!
Kau sedang repot, ijinkanlah aku berlalu lebih dulu!" Di lain saat, dua bayangan putih
kelihatan turun dari atas loteng dengan cepat sekali.
Melihat perginya dua wanita itu, Keng Thian tak mempunyai kegembiraan lagi untuk
berdiam lebih lama. Tiba-tiba ia menyerang secara hebat dan selagi si Ibu Suci meloncat
mundur, ia lantas mengenjot badannya untuk melarikan diri.
Ibu Suci itu meluap darahnya dan berseru: "Leng-ouw! Ubar bangsat itu!" Berbareng
dengan bentakannya, si Ibu Suci juga mengubar dengan diikuti empat anjingnya,
sehingga Keng Thian tak dapat mencapai maksudnya. Sementara itu, di Istana Wanita
Suci sudah terdengar suara lonceng tanda bahaya.
Keng Thian mengerutkan alisnya, tapi lekas juga ia mendapat suatu tipu. Selagi seekor
anjing menubruk, ia mengebas dan mendorong binatang itu ke arah Ibu Suci. Gerakannya
cepat luar biasa dan sebelum Ibu Suci melihat tegas, mulut anjing itu yang mengeluarkan
air liur sudah berada di depan mukanya yang lantas berlepotan air liur!
"Binatang!" berteriak Ibu Suci bagaikan kalap dan kedua tangannya mendorong anjing itu.
Di lain detik, berbareng dengan suara tertawanya yang nyaring,
Keng Thian sudah berada di luar tembok
Setibanya di luar, ia mengawasi ke empat penjuru, tapi Pengtjoan Thianlie sudah tak
kelihatan bayang-bayangannya lagi. Hal ini dapat dimengerti oleh karena ilmu
mengentengkan badan si nona memang setingkat dengan Keng Thian dan mereka berdua
sudah berlalu terlebih dulu. Dengan rasa putus harapan, pemuda itu menghela napas
berulang-ulang. Ia membuka tangannya dan ternyata, benda yang disertakan Pengpok
Sintan tadi adalah selembar kertas kecil.
Keng Thian membuka kertas itu dan dengan pertolongan sinar rembulan, ia membaca
tulisannya:
"Jangan campur urusan orang lain!"

Keng Thian meringis. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seorang diri: "Ah! Maksudku


hanyalah ingin menemui kau. Siapa kesudian campur-campur urusan orang lain? Hm! Jika
kau tak sudi menemui aku, aku tentu tak dapat memaksa. Tapi, kenapa beberapa kali kau
mempermainkan aku?"
Ia menengok ke belakang dan melihat seluruh istana Wanita Suci sudah terang
benderang. "Ah! Hoat-ong tentu akan mendongkol sekali," katanya di dalam hati. "Tak
dinyana, tanpa sengaja aku jadi menanam permusuhan. Jika si gadis Tibet rela menjadi
Wanita Suci, aku tentu tidak berhak untuk mencampuri urusannya lagi."
Demikianlah dengan perasaan tertindih, Keng Thian keluar dari kota Naichi dengan
menggunakan ilmu mengentengkan badan. Sembari jalan, ia teringat, bahwa tujuan
Pengtjoan Thianlie adalah Soetjoan barat untuk mencari pamannya, sehingga, meskipun
tak mengenal jalan, lama atau cepat pasti ia akan tiba juga disitu. "Paling benar sekarang
aku langsung menuju ke tempat Moh Pehpeh untuk menunggu kedatangannya," pikir ia.
Sesudah mengambil putusan itu, hatinya menjadi lebih lega dan ia lalu tidur di pinggir
jalan. Pada besok paginya, ia lantas berjalan menuju ke arah timur.
Sesudah melewati gunung Bayan Karasan, Keng Thian sudah berada di bagian barat
propinsi Soetjoan. Semenjak dulu, Soetjoan barat yang penuh gunung dikenal sebagai
tempatnya "manusia liar." Berhari-hari, Keng Thian berjalan tanpa menemui manusia.
Untung juga gunung itu kaya akan pohon-pohon buah sehingga ia dapat menghilangkan
rasa haus dengan memetik buahbuahan hutan dan rasa lapar dengan membakar daging
kambing hutan yang terdapat banyak sekali di pegunungan itu.
Sesudah lewat lagi beberapa hari, tibalah ia di gunung Tjiakdjie san yang sudah termasuk
wilayah bangsa Han.
Tjiakdjie san dikenal sebagai gunung yang sangat berbahaya dengan puncak-puncaknya
yang menjulang tinggi ke angkasa dan curam luar biasa. Jika seorang sudah tiba di
puncak yang tinggi dan memandang ke sebelah bawah, ia akan melihat gunung-gunung
yang tertutup salju seakanakan binatang-binatang raksasa yang berbulu putih sedang
mendekam di kaki gunung. Dimanamana orang dapat bertemu dengan batu-batu raksasa
yang beraneka bentuknya dan jika dipandang dari jauh, batu-batu itu seolah-olah sekosolsekosol yang diatur secara sedemikian indah oleh tangan sang alam sendiri.
Sesudah berjalan lagi dua hari, di suatu lereng, Keng Thian melihat mengepulnya asap.
Hatinya jadi girang, tapi di lain saat ia teringat, bahwa meskipun dilihatnya sangat dekat,
tempat itu mungkin baru dapat dicapai sesudah berjalan dua hari lagi.
Keng Thian mempercepat tindakannya dan sebelum berjalan berapa lama, cuaca
mendadak berobah gelap. Ternyata ia sekarang sudah masuk ke bagian yang paling
berbahaya dari gunung Tjiakdjie san. Jalan di tempat itu diapit dua puncak yang berdiri
hampir berdempetan, sehingga di tempat-tempat yang tersempit, lebarnya hanya dua
atau tiga kaki. Jalan itu bukan saja naik turun, tapi juga berbelit-belit dan penuh dengan
batu-batu. Belum juga berapa jauh, mendadak Keng Thian mendengar suara bernapasnya
manusia. Dengan kaget, ia berjalan lebih cepat.
Di lain saat, ia melihat seorang lelaki yang berpakaian rombeng sedang menyender pada
lamping gunung.
"Siapa kau?" menanya Keng Thian.
Orang itu mengucapkan beberapa patah kata yang tidak terang. Keng Thian mendekati.
Sekonyong-konyong ia mengangsurkan kedua tangannya seraya berkata: "Tolonglah aku
si pengemis!"

Keng Thian mengawasi dan ia terkesiap. Kedua lengan orang itu penuh dengan bisul-bisul
besar dan kecil. Sepuluh jerijinya bengkok, sedang di mukanya yang bersinar merah juga
terdapat banyak sekali bisul. Tak bisa salah lagi orang itu adalah penderita penyakit kusta
(lepra), sehingga Keng Thian yang gagah perkasa tanpa merasa mundur tiga tindak
bahna kagetnya.
Orang itu mengawasi dengan mata hampa sebagai tak ada semangatnya dan seolah-olah
sudah beberapa hari ia tak pernah ketemu nasi.
Sesudah dapat menetapkan hatinya, Keng Thian heran tak kepalang. Pertama, menurut
kebiasaan, penderita kusta kebanyakan terdapat di Tiongkok Selatan, sedang di daerah
Utara barat penyakit itu adalah hal yang langka sekali. Kedua, Tjiakdjie san adalah sebuah
gunung yang sangat berbahaya dan, kecuali orang yang berkepandaian tinggi, jarang ada
manusia yang mampu mendaki gunung tersebut. Tapi, baru saja mengingat itu, ia berkata
dalam hatinya sendiri: "Ah! Dia tentu adalah seorang yang melarikan diri karena desakan
masyarakat."
Pada jaman ini, kita semua mengetahui, bahwa penyakit kusta bukan disebabkan
pengaruh setan atau hukuman Tuhan. Akan tetapi, pada jaman itu, ialah jaman
pemerintahan Boan, orang masih percaya, bahwa kusta adalah satu penyakit yang
menandakan dosa seseorang dan seorang penderita kusta dipandang sebagai manusia
berbahaya, sehingga mesti dibakar hidup-hidup dan tulang-tulangnya harus dikubur di
dalam tanah. Di Tiongkok Utara barat jumlah penderita kusta ada sangat sedikit dan tidak
banyak orang yang mengetahui tanda-tanda penyakit tersebut. Maka itu, memang benar
ada sejumlah penderita kusta yang secara untung-untungan melarikan diri ke daerah
Utara barat untuk menyingkir dari buruan sesama manusia. Akan tetapi, oleh karena
macamnya si sakit memang sangat menakuti dan tak ada orang yang sudi memberi
tempat meneduh padanya, maka jarang sekali mereka bisa tiba di Utara barat dengan
masih bernapas.
Memikir begitu, dalam hati Keng Thian segera timbul rasa kasihan. "Dengan badan
menderita penyakit, ia lebih suka berkawan dengan binatang daripada dengan sesama
manusia yang selalu mengubar-ubarnya," katanya dalam hati. "Sungguh harus dikasihani!
Dan sungguh besar nyalinya!"
Ia segera mengeluarkan sepotong daging kambing dari sakunya dan berkata sembari
melemparkan daging itu kepada si sakit: "Ambillah. Di sebelah depan terdapat banyak
sekali buahbuahan. Kau bisa petik sendiri."
Melihat daging itu dilemparkan, orang itu tidak lantas memungut. Mendadak kedua biji
matanya bergerak dan... suatu sinar berkredep keluar dari kedua matanya! Keng Thian
terkejut oleh karena sinar yang sedemikian adalah sinar mata orang yang mempunyai
kepandaian silat sangat tinggi. Tapi, di lain saat, sorot kedua mata itu lantas berobah
menjadi sayu kembali dan perlahan-lahan ia membungkuk untuk memungut potongan
daging itu.
"Eh, siapa namamu?" menanya Keng Thian. "Apa kau pernah belajar silat?"
Orang itu seperti juga tak mendengar perkataan Keng Thian. Ia duduk di atas tanah
sembari makan daging itu secara rakus.
"Ah, guna apa aku tanya namanya?" kata Keng Thian dalam hatinya. "Andaikata benar ia
pandai ilmu silat, aku toh tak bisa berkawan dengan ia ini." Memikir begitu, ia lantas
bergerak untuk segera berlalu, tapi sebelum menindak, ia menengok ke belakang dulu. Di
luar segala dugaan, orang itu sedang mengawasi ia dengan sorot mata gusar dan
membenci. Keng Thian bergidik dan buru-buru berjalan pergi.

Sebelum berjalan herapa jauh, Keng Thian tiba-tiba mendengar suara menggelegar di
belakangnya dan ketika ia menengok, sebuah batu besar sedang menggelinding dari atas
ke arahnya. Sebagaimana diketahui, jalan gunung itu sangat sempit, sehingga ia tak
dapat menyingkir lagi. Oleh karena sudah tak ada jalan lain, buru-buru ia mengerahkan
tenaga dalamnya dan dengan kedua tangannya menyampok batu itu, yang lantas saja
terpental dan jatuh ke dalam jurang. Ia mendongak dan melihat si penderita kusta sedang
menyontek sebuah batu lain.
"Kau bikin apa?" membentak Keng Thian. Baru habis ia berkata begitu, batu tersebut
sudah menggelinding ke bawah dengan kecepatan kilat. Mau tidak mau, ia terpaksa
mengerahkan lagi tenaga dalamnya dan melontarkan pula batu itu. Pada waktu batu itu
terpental, tanah dan debu pada muncrat, sehingga Keng Thian harus meramkan kedua
matanya. Waktu ia membuka lagi matanya, orang itu sudah tak kelihatan bayangbayangannya.
Keng Thian gusar bukan main. "Hei! Binatang!" ia berseru sekeras-kerasnya. "Kita belum
pernah saling mengenal, kenapa juga kau mau mencelakakan aku!" Tapi hanya
kumandang suaranya yang kedengaran. Si penderita kusta tetap menghilang tanpa
bekas.
Sedari turun gunung, ia sudah mengalami banyak juga kejadian-kejadian mengherankan,
tapi tak ada yang seaneh ini. Bahwa orang itu tinggi ilmu silatnya, sudah tak usah
disangsikan pula. Tapi yang membikin Keng Thian tak habis mengerti, adalah: Terhadap
orang itu, ia tak pernah berdosa dan malah sudah melepas budi dengan memberikan
sepotong daging. Tapi kenapa, ia menurunkan tangan jahat? Apakah orang itu sudah
hilang sifat kemanusiaannya?
Tak lama kemudian, ia tiba di tempat terbuka dan jalan sudah tidak begitu berbahaya
seperti tadi. la sekarang sudah sampai di bagian selatan dari gunung Tjiakdjie san dan
sesudah mengasoh sebentar, ia segera meneruskan perjalananannya.
Kira-kira magrib pada hari kedua, ia sudah tiba di tengah-tengah gunung itu. Di satu
tanjakan ia menemukan sebuah rumah tanah yang berdiri sebelah menyebelah dengan
sebuah gubuk beratap alang-alang. Dari dalam rumah itu mengepul asap dan hidung
Keng Thian mengendus wanginya daging bakar dan nasi yang baru dimasak. Rumah
tersebut berbentuk istal kuda panjangnya kira-kira tiga tombak dan lebarnya setombak
lebih. Keng Thian mengetahui, bahwa rumah itu adalah semacam penginapan untuk
orang-orang yang mendaki gunung untuk memetik daun obat atau berburu binatang.
Sesudah berhari-hari lamanya menangsel perut dengan daging kering dan buah-buahan
hutan, Keng Thian ingin sekali makan nasi yang putih dan segera juga ia mengetuk pintu.
Tuan rumah adalah seorang yang usianya kurang lebih lima puluh tahun dengan caracaranya yang sederhana, seperti biasanya seorang pegunungan. Mendengar permintaan
menginap, lantas saja ia berkata sembari tertawa: "Beberapa bulan tak pernah ada
tetamu, sekali datang satu rombongan besar. Tuan, malam ini kau tak akan kesepian. Di
dalam sudah ada belasan orang, rombongan pedagang obat yang datang dari Selatan."
Sesudah memberikan sepotong perak untuk barang santapan, Keng Thian segera
bertindak masuk. Dalam ruangan itu berjajar belasan pikulan obat-obatan dan begitu ia
masuk, dua piauwsoe (orang yang bertugas sebagai pelindung) setengah tua terus
mengawasi gerak-geriknya. Tiba-tiba terdengar suara mendehem dari seorang piauwsoe
tua dan kedua kawannya itu lantas menundukkan kepala, seperti juga tidak melihat
masuknya seorang tetamu baru.
Selain ketiga piauwsoe itu, terdapat juga tujuh delapan orang lelaki yang berbadan kekar,
pada menggeletak di atas tanah dengan menggunakan pikulan sebagai bantal. Di

samping si piauwsoe tua duduk seorang pedagang yang berusia kira-kira lima puluh
tahun dan yang matanya terus melirik pedang Keng Thian.
Keng Thian memberi hormat dengan merangkap kedua tangannya. "Apakah
Saudarasaudara ingin pergi ke Tjenghay?" ia menanya sembari tertawa.
Si piauwsoe tua hanya manggutkan kepalanya sedikit, sedang si pedagang menjawab
dengan satu suara "hm."
"Aku sendiri ingin pergi ke Soetjoan barat," berkata pula Keng Thian. "Aku merasa sangat
beruntung malam ini dapat bertemu dengan kalian. Dengan mempunyai banyak kawan,
kita bisa tidur enak."
"Bagus! Bagus!" berkata si piauwsoe tua. "Apakah Saudara datang dari utara?"
"Benar. Jalanan gunung sukar sekali dilewati," sahut Keng Thian.
"Dengan berkelana seorang diri, nyali saudara benar-benar besar," berkata pula piauwsoe
itu. "Aku si tua mencari sesuap nasi dengan bekerja sebagai piauwsoe dan dalam
pekerjaan itu, aku hanya mengandalkan bantuan sahabat-sahabat. Aku mohon saudara
jangan mentertawakan diriku. Untuk bicara terus terang, jika harus berjalan seorang diri,
aku tak akan berani mendaki gunung Tjiakdjie san." Sehabis berkata begitu, kedua
matanya mengawasi Keng Thian dengan sorot tajam.
"Gila! Si tua menganggap diriku sebagai perampok!" berkata Keng Thian dalam hatinya.
Ia lantas saja menyoja dan berkata dengan suara hormat: "Loosoehoe janganlah bicara
begitu merendah. Dapatkah aku mendapat tahu she dan nama Loosoehoe yang mulia?"
"Aku she Kwee, namaku Tay Kie," jawabnya. "Dan siapakah adanya saudara?" Mendengar
pertanyaan orang, Keng Thian segera memperkenalkan dirinya secara terus terang.
Piauwsoe itu ternyata sungkan banyak bicara. Setiap pertanyaan, ia jawab dengan
singkat. Keng Thian mengetahui, bahwa dalam kalangan Kangouw orang selalu bercuriga
terhadap mereka yang belum dikenal dan ia pun mengetahui, bahwa dirinya sangat
dicurigai. Maka itu, ia tidak banyak menanya pula, hanya hatinya merasa agak heran,
oleh karena belum pernah mendengar nama Kwee Tay Kie.
Di daerah Seekong, Tibet, Tjenghay dan Sinkiang terdapat banyak sekali bahan obat yang
luar biasa, seperti nyali biruang dan sebagainya, tapi sangat kekurangan obat-obatan
biasa. Maka itu, setiap tahun seorang dua orang pedagang obat-obatan yang besar selalu
mengunjungi beberapa propinsi itu dengan membawa obat-obatan biasa, untuk ditukar
dengan bahan-bahan obat istimewa keluaran daerah tersebut. Setiap kali berdagang
paling sedikit harganya meliputi sepuluh laksa tail perak, sehingga piauwsoe yang
berkepandaian tanggung
tanggung, tak akan berani bertugas untuk melindungi rombongan pedagang tersebut.
Sesudah bersantap malam, rombongan pedagang lalu menyalakan perapian dan mereka
tidur di sekitar perapian itu, dengan para piauwsoe menjaga bergiliran. Keng Thian sendiri
lantas saja merebahkan diri di suatu sudut.
Baru saja ia meramkan mata, tiba-tiba di luar terdengar suara tindakan dan dua piauwsoe
setengah tua dengan serentak meloncat bangun. "Ada orang!" mereka berbisik.
"Jangan ribut!" membentak si piauwsoe tua.

Menurut kebiasaan rumah penginapan, untuk menggampangkan para tetamu yang keluar
masuk, daun pintu hanya dirapatkan. Suara tindakan itu cepat luar biasa dan dalam
sekejap, sudah tiba di depan pintu. Sebelum pintu ditolak, terdengar suara tertawa yang
sangat nyaring lebih dulu. Keng Thian dan semua orang merasa terkejut oleh karena
suara itu adalah suara seorang wanita.
Di lain saat, dua wanita masuk ke dalam, diikuti seorang lelaki. Kedua wanita itu, satu tua
dan satu muda, mempunyai paras muka yang hampir sama, sehingga dapat diduga,
bahwa mereka itu adalah ibu dan anak. Si wanita muda, yang pada rambutnya
ditancapkan sekuntum kembang hutan, berparas riang gembira dan begitu masuk, ia
berseru: "Ha! Begitu banyak orang? Benarbenar ramai!"
Wanita yang setengah tua, yang kedua alisnya bengkok dan mengenakan pakaian warna
dadu dengan sulaman kembang Botan, mengeluarkan suara "stt," sembari menempelkan
jerijinya pada mulutnya. "Perlahan sedikit!", katanya. "Jangan mengganggu tamu-tamu
lain!" Walaupun perkataannya merupakan perintah, akan tetapi paras mukanya mesemmesem dan sama sekali tak mempunyai keangkeran seorang ibu.
Keng Thian merasa geli. "Ie-ie-ku (Phang Lin) adalah satu manusia aneh," katanya di
dalam hati. "Wanita ini rasanya tak banyak beda dengan Ie-ie."
Pada pinggang kedua wanita itu tergantung gendewa dan sembari masuk, mereka
tertawa haha-hihi, seolah-olah sepasang bocah yang belum mengenal asam garam dunia.
Akan tetapi, meskipun lagaknya seperti anak-anak, mata mereka memancarkan sorot
keksatriaan. Orang lelaki yang mengikuti di belakang mereka berusia kurang lebih lima
puluh tahun dan berbadan tinggi besar. Ia tidak membawa senjata, akan tetapi dilihat dari
tindakannya yang mantap, sudah boleh dipastikan, bahwa ia seorang ahli silat yang
berkepandaian tinggi.
Rombongan pedagang obat belum ada yang tidur pulas. Begitu ketiga tamu itu masuk,
mereka semua membuka mata, terutama kedua piauwsoe setengah tua, yang terus
mengawasi mereka tanpa berkesip.
Si gadis mendadak tertawa nyaring seraya berseru: "Hei! Kalau mau lihat, lihatlah secara
berterang! Guna apa main sembunyi?"
Muka kedua piauwsoe itu lantas saja berobah merah dan matanya mendelik. Tapi sebelum
mereka membalas menyemprot, si orang tua yang berbadan tinggi besar buru-buru
menghampiri dan berkata sembari menyoja: "Anakku memang nakal sekali. Aku sangat
mengharap, mengingat usianya yang masih sangat muda, saudara-saudara sudi
memaafkannya." Sehabis berkata begitu, ia mendorong puterinya seraya membentak:
"Hee-djie! Lekas minta maaf pada sekalian paman!"
Melihat sikap ayah si nona yang sangat patut, si piauwsoe tua lantas saja berdiri dan
berkata sembari tertawa: "Anak-anak guyon-guyon, janganlah Looheng buat pikiran.
Kedua kawanku adalah orang-orang kasar yang tidak mengenal aturan. Nona! Aku pun
mengharap kau jangan menjadi gusar."
Dengan demikian, sengketa kecil itu sudah menjadi beres, orang-orang piauwkiok lantas
pada merebahkan diri lagi, sedang si nona terus mengikuti kedua orang tuanya.
Sembari berjalan, wanita setengah tua itu berkata kepada suaminya dengan suara yang
cukup keras untuk didengar oleh semua orang: "Loyatjoe! Kau sendiri yang terlalu rewel!
Kau sudah mengganggu semua orang yang ingin tidur." Nyonya itu yang sangat
menyayangi puterinya, sudah sangat mendongkol mendengar comelan sang suami dan
orang-orang piauwkiok mengetahui, bahwa perkataannya ditujukan kepada mereka.

"Dalam kalangan Kangouw, yang paling tak boleh dibuat gegabah adalah hweeshio,
toosu, sasterawan dan wanita," kata si piauwsoe tua dalam hatinya. "Kedua wania ini,
yang membawa gendewa, kelihatannya bukan penjual silat. Ah! Malam ini aku harus
berjaga-jaga."
Sesudah memilih suatu sudut, sang ibu dan puterinya segera menggelar tikar untuk
mengasoh. Sambil menyandar pada tembok, Keng Thian mengawasi mereka. Mendadak,
kedua mata si wanita setengah tua mengeluarkan sinar luar biasa dan setindak demi
setindak, ia menghampiri Keng Thian. Tiba-tiba ia menghentikan tindakannya dan
mengawasi pemuda itu dengan muka bersemu dadu dan sebelah tangannya memegang
koen, sebagai lagaknya seorang gadis muda yang bertemu dengan kecintaannya.
Pada saat itu, si orang tua yang berbadan tinggi besar menghampiri seraya berkata:
"Tjengmoay, lebih baik kita mengambil tempat di pojok sana." Sekonyong-konyong kedua
matanya bersinar dan seperti si wanita, ia pun mengawasi Keng Thian.
Keruan saja Keng Thian jadi kaget. "Ah! Kenapa begini lagaknya kedua orang tua ini?" ia
menanya dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, sembari tertawa si orang tua menyoja dan menanya: "Siauwko
(Saudara kecil), bolehkah aku mendapat tahu she-mu yang mulia?"
"Aku she Tong," jawab Keng Thian.
Si wanita mengeluarkan satu seruan tertahan dan menanya dengan suara tergugu: "Kau...
kau she Tong?"
"Perlahan sedikit!" membentak si tua.
"Tong Siangkong (tuan)," berkata pula wanita itu dengan suara terlebih perlahan. "Kau
datang dari mana dan sekarang mau pergi kemana?"
Sekonyong-konyong puterinya tertawa. "Ibu," katanya "Kenapa kau menanya begitu
melit?"
Keng Thian agak bersangsi, tapi akhirnya ia menyahut juga: "Aku datang dari Tibet dan
ingin pergi ke Soetjoan barat untuk mencari seorang sahabat."
"Hm," berkata pula si wanita setengah tua. "Dari Tibet? Dilihat dari gerak-gerikmu. Aku
rasa kau sudah pernah belajar ilmu silat dalam banyak tahun." Sembari berkata begitu, ia
mengawasi Yoeliong kiam yang digunakan sebagai bantal kepala oleh Keng Thian.
Gadis itu kembali tertawa nyaring dan berkata: "Ibu! Benar-benar kau sudah linglung!
Apakah kau tak lihat pedangnya? Perlu apa kau menanya lagi?"
"Aku berjalan seorang diri dan dengan membawa pedang, hatiku jadi lebih besar," kata
Keng Thian. "Manalah aku mempunyai kepandaian silat?"
Orang tua yang berbadan tinggi besar itu mesem-mesem, seolah-olah ingin memuji Keng
Thian yang bisa merendahkan diri dan berbareng menegur kedustaannya.
"Aku ingin menanyakan kau tentang satu orang yang she-nya sama dengan kau," kata
siwanita setengah tua. "Mungkin sekali ia masih tersangkut pamili dengan kau."
"Siapa?" menanya Keng Thian.
"Orang itu bernama Tong Siauw Lan!" sahutnya.

Keng Thian terkejut. Harus diketahui, bahwa kedua orang tua Keng Thian dulu pernah
mengamuk di istana kaizar dan sudah membinasakan Kaisar Yong Tjeng. Walaupun
kejadian itu sudah berselang banyak tahun, akan tetapi Tong Siauw Lan suami isteri masih
tetap merupakan orang buronan yang menjadi musuh kerajaan Boan. Oleh karena itu,
dapat dimengerti, bahwa Keng Thian tak berani membuka rahasia di depan sembarang
orang.
Wanita setengah tua itu mengawasi padanya dengan sorot mata tidak sabar dan dilihat
dari sikapnya, ia sama sekali tidak mengandung maksud yang kurang baik.
Sesudah dapat menetapkan hatinya, Keng Thian segera berkata sembari tertawa: "Nama
Tong Tayhiap aku sudah pernah dengar lama sekali. Ia adalah seorang pemimpin dari satu
cabang persilatan dan aku sangat kagum padanya. Hanya sayang sungguh, sampai
sebegitu jauh aku belum pernah dapat berjumpa."
Paras muka wanita setengah tua itu lantas saja berobah, seperti orang yang kecewa dan
putus harapan.
"Ibu!" kata puterinya. "Tong Pehpeh bertempat tinggal di atas gunung Thiansan, orang
biasa mana bisa jumpai ia? Tapi setiap kali bertemu orang yang datang dari Sinkiang atau
Tibet, kau selalu tak lupa untuk menanya. Apakah ibu tidak takut ditertawai orang?"
Mendengar ejekan itu, sang ibu jadi mendongkol. "Setan kecil!" ia membentak. "Sekarang
anak mau mengajar orang tua!"
Oleh karena kuatir didesak terus, Keng Thian lantas berlagak menguap, seperti orang
yang sudah sangat mengantuk, sehingga si orang tua jadi malu hati. "Hee-djie, Tjengmoay, besok pagi-pagi Siauwko tentu ingin meneruskan perjalannya dan kita pun harus
mengasoh." Sehabis berkata begitu, ia segera berjalan kembali ke tikarnya, diikuti kedua
wanita itu.
Sesudah mengalami beberapa kejadian luar biasa selama dua hari beruntun, mana Keng
Thian bisa cepat-cepat pulas. Ia putar otaknya, tapi tak juga dapat menebak siapa adanya
ketiga orang itu. Ia membuka matanya sedikit dan melihat kedua piauwsoe setengah tua
itu sedang duduk di pinggir perapian dengan tangan mencekal golok dan matanya seringsering melirik ke arah dua wanita itu. Si piauwsoe tua menggeros, tapi Keng Thian
mengetahui, ia hanya berlagak pulas.
Berselang beberapa lama para pegawai piauwkiok yang sudah kecapaian tak dapat
menahan pula perasaan ngantuknya dan sudah pada menggeros keras. Mendadak, Kwee
Tay Kie, si piauwsoe tua, membuka kedua matanya dan berkata dengan suara perlahan:
"Awas!" Ia segera mencekal hoentjwee-nya (pipa panjang), yang lalu diisikan tembako,
dinyalakan dan kemudian dihisap. Hoentjwee itu yang panjang dan kepalanya sebesar
cangkir teh, berwarna hitam mengkilap, sehingga dapat diduga, bahwa hoentjwee itu
bukan dibuat dari pada kayu, tapi dari pipa besi yang dapat digunakan sebagai senjata.
Sekonyong-konyong terdengar suara gedubrakan, disusul dengan terpentalnya daun
pintu, dan di lain saat, belasan orang menerobos masuk. Yang berjalan paling depan
adalah seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan berusia kira-kira empat puluh tahun.
Sembari mengacungkan gendewa yang dicekalnya, ia berseru sembari tertawa
berkakakan: "Bagus! Bagus! Kambing-kambing gemuk semuanya berkumpul dalam<