Anda di halaman 1dari 78

Laporan Kasus

Epilepsi
Mochamad Ainun Najib

2009730029
Pembimbing : dr. Yunetti, Sp.A

Identitas
Nama : An. S. H.
Umur : 2 tahun 3 bulan
TTL : Bekasi , 12-10-2012
Jenis kelamin : Perempuan
Nama ayah : Tn. S
Usia : 40 tahun
Pekerjaan : Buruh
Nama Ibu : Ny. N
Pekerjaan Ibu : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jati Bening RT 04 RW 14
Tanggal masuk RS : 17 Januari 2015 pukul
07.00 WIB
Dokter yang merawat : Dr. Yunetti, Sp. A

Anamnesis

Aloanamnesis
Keluhan Utama
Kejang 1 jam SMRS

Aloanamnesis
Riwayat penyakit sekarang
Menurut orang tua, pasien tiba-tiba mengalami kejang saat
pasien sedang menonton tv, kejang berlangsung 40
menit, saat tiba di IGD RS Pondok Kopi pasien sudah tidak
kejang, kejadian ini diawali dengan mata melirik ke arah
kanan, kemudian pasien menjadi tidak bisa diajak
berkomunkasi, berlangsung sekitar 5 menit, setelah itu
tangan dan kaki kanan menjadi mengepal dan kaku tidak
disertai kelojotan, tangan dan kaki kiri terlihat
lemas,berlangsung sekitar 40 menit, kemudian kejang
berhenti sendiri saat dalam perjalanan dibawa ke RS.
Setelah kejang pasien menjadi seperti termenung dan
kemudian menjadi tertidur.
Tidak ada demam, riwayat terbentur kepala sebelum
kejang tidak ada, riwayat muntah-muntah tidak ada, BAB
dan BAK tidak ada keluhan.

Aloanamnesis
Riwayat Penyakit Dahulu

Umur 6 bulan
Os kejang tiba-tiba tanpa disertai demam, penyakit penyerta lain,
ataupun trauma kepala, kejang 1 x, durasi 15 menit.
Umur 1 tahun
Os kembali kejang tiba-tiba tanpa disertai demam atau sakit lain ,
kejang 1x, durasi 15 menit. Pasien dirawat. Pasien didiagnosa epilepsi
oleh dokter. Diharuskan perawatan selama 2 tahun. Namun pasien
hanya berobat selama 1 bulan karena merasa sudah sembuh.
EEG, hasil mendukung dengan gejala klinis epilepsi
Usia 1 tahun 11 bulan
Os mengalami kejang kembali, kejang tiba-tiba tanpa demam, kejang
1x dengan durasi 30 menit, dibawa ke klinik di berikan stesolid 5 mg.
Diberikan surat rujukan ke RS, akan tetapi orang tua membawa pasien
pulang kerumah tanpa melanjutkan pemeriksaan selanjutnya.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Adik kandung dari ibu pasien pernah menderita epilepsi

Aloanamnesis
Riwayat Pengobatan :
Usia satu tahun sudah di diagnosis
epilepsi
oleh
dokter,
direncanakan
pengobatan selama 2 tahun. Namun pasien
hanya berobat selama 1 bulan.
Riwayat Kehamilan Ibu :
Ibu pasien rutin ANC di puskesmas , tidak
terdapat kelainan/penyulit pada saat masa
kehamilan. Tidak mengkonsumsi obat-obatan
dan jamu yang mempengaruhi janin, tidak
merokok dan menkonsumsi alkohol.

Aloanamnesis
Riwayat Kelahiran

Pasien
lahir
ditolong
dokter
kandungan, lahir spontan, cukup
bulan, saat lahir langsung menangis,
BBL 2600gr, PB 48 cm. tidak ada
kelainan atau cacat bawaan.
Riwayat Alergi

Pasien tidak memiliki riwayat alergi

Aloanamnesis
Riwayat makanan

ASI eksklusif 1 bulan


Usia 1 bulan sudah diberikan susu formula
Usia > 4 bulan diberikan bubur susu
Usia > 6 bulan diberikan nasi tim
Usia 15 bulan diberikan nasi keluarga

Aloanamnesis
Riwayat tumbuh kembang

Usia 3 bulan sudah berekasi terhadap bunyi


Usia 6 bulan sudah bisa mengangkat kepala
Usia 9 bulan sudah bisa merangkak
1 tahun bisa bicara tapi kata-kata tidak jelas, sampai saat ini
baru bisa menyebutkan beberapa kata saja seperti ibu,
ayah, makan.
Menurut keterangan dari orang tuanya, pasien bisa berjalan
sekitar usia 18 bulan, apabila berjalan sediki menyeret kaki
sebelah kanan.
Usia 2 tahun masih belum bisa meloncat, tidak terlalu aktif
seperti teman seusianya.
Gerakan halus seperti memegang bola dan mainan tidak
terlalu baik.

Aloanamnesis
Riwayat Psikososial
Pasien lebih senang menyendiri dari pada
bergaul dengan teman-temannya. Tidak seaktif
jika dibandingan dengan teman seusianya.
Riwayat Imunisasi
BCG 1x usia 1 bulan skar 3 mm
DPT 3x usia 2,4, dan 6 bulan
Polio 4x usia 0, 2, 4, dan 6 bulan
Hepatitis B 3x usia 0,1 dan 6 bulan
Campak 1x usia 9 bulan
Kesan sesuai dengan program imunisasi pemerintah

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
Kesadaran : somnolen (E3V3M5)
Keadaan Umum : Sakit sedang
Tanda vital:
Nadi : 96 x/menit, kuat angkat,
teratur
Respirasi : 30 x/menit
Jenis/tipe : thorakal
Suhu : 36.7 oC

STATUS ANTROPOMETRI
BB: 14 kg
TB : 90 cm
Status Gizi
BB/U : 14/13 x 100 % = 107 (baik)
TB/U: 90/92 x 100 % = 98 (baik)
BB/TB : 15/14 x 100% = 107 (baik)
LK : 47 cm (normocephal)
Sumber : NCHS
Kesimpulan status gizi
BB/U : gizi baik
TB/U : gizi baik
BB/TB : gizi baik

kulit : tidak ada sianosis, turgor kulit normal


kelenjar limfe : tidak ada pembesara KGB.
Kepala : normochepal
Ubun-ubun: menutup.
Rambut : rambut pendek, warna hitam,
tidak
rontok, distribusi merata.
Mata : tidak cekung, konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik,pupil
isokhor, diameter 3
mm, reflek cahaya (+/+)
Hidung : tidak ada deviasi septum, sekret
(-),
epistaksis (-), napas cuping hidung (-)
Telinga : Normotia, sekret (-/-), serumen (-/-)
Mulut : Bibir kering, sianosis (-),perdarahan
mukosa (-), perdarahan gusi (-).

Leher : pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar


tyroid (-)
Thorax :
I : Simetris dextra-sinistra, tidak ada bagian dada yang
tertinggal saat bernapas, retraksi dinding dada (-),
scar (-), otot bantu pernapasan (-)
P : Tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, vocal
fremitus sama dextra-sinistra.
P : Sonor pada semua lapang paru, batas sonorsetinggi ICS 6 linea midclavicularis dextra
A:

Vesikuler (+/+), ronkhi -/-, wheezing -/-

pekak

Jantung
I : Iktus kordis tidak terlihat
P : iktus kordis teraba 1 jari ke arah medial
LMCS ICS IV
P : Batas jantung kiri atas di LMCS ICS II
Batas jantung kanan di linea
parasternalis dextra ICS IV
Batas jantung kiri bawah di LMCS ICS IV
A : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur
(-), gallop (-)

Pemeriksaan Fisik
Abdomen :
I : perut terlihat datar
P : supel, nyeri tekan (-), turgor kulit baik,
hepar & lien tidak teraba
P : Tympani
A : BU (+) normal

Pemeriksaan Fisik
Ekstr. Atas :
Akral hangat , RCT< 2
detik, terdapat
kelemahan di tangan

kanan.
edema (-)
Ekstr. Bawah :

Akral hangat , RCT<


2 detik, terdapat
kelemahan di kaki
kanan.
edema (-)

Otot
: tidak ada
atrofi.
Tulang : tidak ada
deformitas.
Sendi : tidak ada
tandatanda
peradangan

Pemeriksaan neurologis
Refleks
Fisiologis

Tungkai
kanan

Tungkai
kiri

Lengan
kanan

Lengan
kiri

Patela

Bicep

Tricep

Lengan
kanan

Lengan
kiri

Achiles

Refleks
patologis

Tungkai
kanan

Tungkai
kiri

Babinski

Oppenhei
m

Hoffamn
tromner

Chadook

Gordon

Scaffer

Meningeal sign
Kaku kuduk

(-)

Lassegue

> 70/> 70

Kernig

>135/>135

Brudzinski 1

(-)

Brudzinski 2

(-)

Nervus
I
II

III, IV, VI

V
VII

Tidak dilakukan
Visus : tidak diperiksa
Lapang pandang : normal
Warna : tidak diperiksa
Pupil : refleks cahaya langsung +/+,
nistagmus tidak ada
Gerak bola mata : baik ke segala
arah
Motorik : baik
Refleks kornea : +/+
Angkat alis, kerut dahi : tidak
dilakukan
Tutup mata : baik, simetris
Kembung pipi : tidak dilakukan
Rasa 2/3 anterior tidak dilakukan

Nervus
VIII

IX, X

XI

XII

Suara bisikan : tidak dilakukan


Rinne, webber, schwabach: tidak
dilakukan
Berdiri dengan mata terbuka : tidak
dilakukan
Berdiri dengan mata tertutup : tidak
dilakukan
Arkus faring : simetris
Uvula : terletak ditengah, simetris
Disfonia : tidak ada
Disfagia : tidak ada
Menoleh kanan-kiri : dapat melawan
tahanan
Angkat bahu : dapat melawan tahanan
Lidah : tidak ada deviasi, vasikulasi, atrofi
maupun tremor

Pemeriksaan Fisik
Genitalia
A1M1P1
Anorektal
Tidak ada tandatanda inflamasi

Pemeriksaan penunjang
.

Hb

17,7

(10,5-13,5)

Leukosit

13,7

(6-15)

Ht

37

(36-44)

Trombosit

276000

(200000475000)

Natrium

140

(32-145)

Kalium

4,06

(3.50-5.50)

clorida

110

(98-110)

Basofil

0,3

(0.0-1)

Eosinofil

0,7

(1-3)

Neutrofil

70,7

(37-72)

Limfosit

22

(25-50)

monosit

6,3

(1-6)

Gula darah

133

33-111

Resume
Anak perempuan, usia 2 tahun 3 bulan,
kejang satu jam sebelum masuk rumah sakit,
kejang dengan frekuensi satu kali, berlangsung
selama lebih dari 30 menit, kejang pada bagian
tubuh
sebelah
kanan,
ketika
kejang
berlangsung tangan kanan menjadi mengepal
dan kaku pada tangan dan kaki kanan,
sebelum kejang pasien melirik ke arah kanan,
pandangan kosong dan tidak bisa diajak
berkomunikasi, setelah kejang kesadaran
menjadi menurun, pasien tertidur.

Resume
riwayat kejang tiba-tiba pada usia 6 bulan, usia
1 tahun kembali kejang, dilakukan pemeriksaan
EEG didiagnosa dokter epilepsi, direncanakan
terapi OAE selama 2 tahun, namun pasien
hanya menjalankannya 1 bulan. Usia 1 tahun
11 bulan pasien kembali mengalami kejang
secara tiba tiba, frekuensi 1 kali, dengan durasi
> 15 menit.
adik dari ibu pasien menderita epilepsi
riwayat kehamilan dan persalinan baik. Asi
eksklusif hanya sampai usia 1 bulan.

Resume
Pada pemeriksaan fisik didapatkan
suhu 36,7C dan tanda vital lain
normal. Lingkar kepala 47 cm
(normocephal), pada pemeriksaan
nerologis refleks fisiologis baik, refleks
patologis tidak ada, dan meningeal
sign tidak ada. Pada pemeriksaan
laboratorium
darah
lengkap
didapatkan leukosit yang meningkat.

Diagnosa
DIAGNOSA KERJA masuk RS
epilepsi tipe kejang parsial
kompleks.
DIAGNOSA BANDING : sinkop

Rencana pemeriksaan
Pemeriksaan SGOT/SGPT, fungsi
ginjal
EEG
CT scanning/ MRI

Terapi di IGD
Medikamentosa
Oksigen 2 liter/menit
IVFD Kaen 3A 1000 cc/hari = 15 tpm
Sibital( fenobarbital)dosis (210mg/kgbb/hari) 2x 60 mg
Terapi lebih lanjut pasien di rawat

Follow up
Tgl/Jam

17.01.201
5
19.00

Pasien
tidak
kejang
lagi,dema
m hilang
timbul
keluhan (-)

KU : Sakit ringan
Kesadaran : CM
S : 37,8 C
N : 100x/mnt
RR : 30 x/mnt
Pemeriksaan fisik
dan neurologis
kesan normal.

Kejang
O2 nasal 2L/mnt
berulang
Infus K1B 1200
dx Epilepsi cc/hari
Paracetamol syr 3x1
1/2 cth
Cefotaxim 2x500mg
Luminal 75 mg 2x1
(diberikan 12 jam
setelah pemberian
sibital)

18.01.201
5

Tidak ada
kejang,
demam
tidak ada,
makan
dan
minum (+)

KU : Sakit ringan
Kesadaran : CM
S : 36,7C
N : 90x/mnt
RR : 30 x/mnt
Pemeriksaan fisik
dan neurologis
kesan normal.

Kejang
berulang
dx.
Epilepsi

Terapi lanjut

Tgl/Jam
19.01.2015

S
Tidak ada
kejang,
demam tidak
ada, makan
dan minum
(+)
Hasil EEG :
epilepsi

O
KU : Sakit ringan
Kesadaran : CM
S : 36,7C
N : 96 x/mnt
RR : 28 x/mnt

A
Kejang
berulang
dx.
Epilepsi

P
Terapi lanjut
Pasien
diizinkan
pulang.
(rawat jalan

Terapi
Medikamentosa
Oksigen 2 liter/menit
IVFD Kaen 1B 1000 cc/hari = 15 tpm
Fenobarbital (luminal) 2x75 mg
Cefotaxim 2x500 mg dosis (50-100
mg/kgbb/hari)
Paracetamol syr (140-210 mg/x)

DIAGNOSA KERJA keluar RS


epilepsi tipe kejang parsial
kompleks.
Penatalaksanaan :
Pengobatan dengan obat anti epilepsi
selama 2 tahun.

Komunikasi &edukasi
Patuh terhadap pengobatan karena
pengobatan akan berlangsung lama.
Apabila timbul kejang segera bawa
ke dokter terdekat.

Prognosis
Dubia ad bonam
Pada
penelitian
terbaru
memperlihatkan bahwa 70% kejang
yang terjadi pada anak-anak dan
dewasa yang baru terdiagnosis
epilepsy dapat dikontrol dengan baik
oleh pengobatan. Dan 30% orang
yang
mengalami
kejang
tidak
memberikan
responyang
baik
dengan pengobatan yang tersedia

Analsisa Kasus

Pada anamnesis didapatkan


Riwayat kejang berulang tanpa demam, pada
kasus dibuktikan dengan mengalami kejang
lebih dari 2 kali dalam satu tahun tanpa
disertai dengan demam disetiap kejang.
tidak terlihat gelisah, sebelum kejang pasieng
terdiam selama 5 menit, tidak dapat diajak
berkomunikasi, bola mata melirik ke arah
kanan, bagian tubuh kanan menjadi lemas,
kemudian terjadi kejang 30 menit, tangan
menjadi mengepal, tidak kolojotan. Setelah
kejang terjadi penurunan kesadaran, pasien
tertidur.
adik dari ibu pasien menderita epilepsi

Menurut International League Against Epilepsy


(ILAE) dan International Bureau for Epilepsy
(IBE) pada tahun 2005 epilepsi didefinisikan
sebagai suatu kelainan otak yang ditandai
oleh adanya faktor predisposisi yang dapat
mencetuskan kejang epileptik, perubahan
neurobiologis, kognitif, psikologis dan adanya
konsekuensi sosial yang diakibatkannya.
Definisi ini membutuhkan sedikitnya satu
riwayat kejang epilepsi sebelumnya. 5
Status epileptikus merupakan kejang yang
terjadi > 30 menit atau kejang berulang tanpa
disertai pemulihan kesadaran diantara dua
serangan kejang.5

Kejang parsial
Merupakan kejang dengan onset lokal
pada satu bagian tubuh dan biasanya
disetai dengan aura .
Kejang parsial sederhana tanpa disertai
penurunan kesadaran
Kejang parsial kompleks disertai dengan
penurunan kesadaran.
dari anamnesis didapatkan tipe kejang
yakni kejang parsial kompleks

Etiologi

Diklasifikasikan epilepsi idiopati, riwayat kehamilan, kelahiran tidak


mendukung, tidak ada riwayat jatuh dengan kepala terbentur.

Kesimpulan analisa kasus dari


anamnesis
Bahwa didapatkan kesesuaian
anamnesis pada kasus dengan teori.

Analisa kasus pemeriksaan


fisik
Pada keaadaan umum,tanda-tanda vital
dan status generalis secara sistematis
dalam batas normal.
Pada pemeriksaan neurologi juga tidak
didapatkan adanya kelainan
Kesimpulan : bawha didapatkan kesesuaian
pemeriksaan fisik pada kasus dengan
pemeriksaan fisik pada teori yang
dijelaskan.

Analisa kasus pada pemeriksaan


penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan
hasil dalam batas normal. Pada teori
dijelaskan
bahwa
pemeriksaan
darah
dilakukan untuk mengetahui faktor etiologi.
Perlu diperiksa kadar glukosa dan elektrolit
yang memudahkan timbulnya kejang.
Pada pasien ini tidak ditemukan penurunan
atau peningkatan kadar elektrolit, begitu pula
kadar glukosa darh pasien tidak menurun.
Sehingga dapat disingkirkan faktor gangguan
elektrolit dan hipoglikemi pada pasien ini

DIAGNOSIS
Epilepsi

Sinkop

Awal epilepsi biasanya


mendadak, mungkin ada aura
singkat.

Awal sinkop bertahap, berangsurangsur merasa gelap, kepanasan,


mual, penglihatan kabur dan
berkeringat.

Fenomena motorik pada epilepsi


seringkali tonik atau tonik klonik;
gerakan klonik sering menonjol
dengan amplitudo dan frekuensi
yang khas

Fenomena motorik pada sinkop


biasanya flaksid.

inkontinesia biasa terjadi pada


epilepsi

Jarang terjadi pada sinkop

Lama seranagn epilepsi beberapa


menit

Biasanya sekitar 10 detik

Lidah tergigit biasa terjadi pada


epilepsi

Anagt jarang kejadian lidah


tergigit

Muntah tidak biasa pada epilepsi

Sering terjadi pada sinkop

Pasca serangan seringkali


mengantuk, bingung, tertidur

Cepat sadar dan tidak bingung

Pencetus epilepsi tidak biasa

Nyeri, emosi

Analisa kasus pada


penatalaksanaan di UGD
Infus KAEN 3A diberikan karena
glukosa darah pasien lebih tinggi dari
nilai normal dan elektrolit dalam
batas normal
Rumatan dengan bb 14 kg = 1200
cc/hari
JENIS
DEKTROS Na
K
Ca
Cl
LAK
A
KAEN
Pada
kasus 60
diberikan
KAEN
3A
1000
3A 27
10
50
20
cc/hari
JENIS
DEKTROS Na
K
Ca
Cl
Lak
A
Kaen 1B

37,5

38,5

38,5

Pasien diberikan luminal 75 mg x 2 untuk anti


konvulsan yang long acting untuk mencegah
kejang yang berulang dalam jangka waktu yang
lama, dengan cara memblokir pelepasan
muatan listrik di otak.
Luminal, golongan fenobarbital. Merupakan
antikonvlusi terkuat, long acting, efektif untuk
semua bangkitan epilepsi kecuali bangkitan
lena.
Merupakan obat terpilih untuk epilepsi parsial
kompleks.
Efek samping pada anak adalah agitasi

Pada kasus kejang yang terjadi


termasuk kejang parsial akan tetapi
pasien di tatalaksana dengan
pengobatan fenobarbital sementara
pada rujukan disebutkan bahwa drug
of choice adalah

Dosis fenobarbital anak 5-10


mg/kgbb/hari = 70-140 mg/hari
Pada kasus diberikan 150 mg/hari

Analisa kasus pada rencana


pemeriksaan
SGOT/SGPT
dapat digunakan untuk mengetahui
apakah hati bekerja dengan baik
karena akan diberikan pengobatan
jangka panjang.

EEG
EEG adalah pemeriksaan penting
untuk diagnosis epilepsy karena EEG
dapat merekam aktivitas listrik pada
otak. EEG aman digunakan dan
tanpa rasa sakit.

EEG memperlihatkan pola normal dan


abnormal dari aktivitas listrik otak.
Beberapa pola abnormal mungkin
terjadi dengan beberapa kondisi yang
berbeda tidak hanya pada kejang.
Seperti pada trauma kepala, stroke,
tumor otak atau kejang. Ahli saraf
mungkin
akan
mengartikan
gelombang
sebagai
bentuk
abnormalitas epilepsy atau gelombang
epilepsy. Hal ini termasuk spike, sharp
waves and spike-and wave discharge.

Gelombang spike dan sharp pada


area spesifik diotak seperti pada
lobus temporal kiri mengindikasikan
kejang parsial mungkin berasal dari
area tersebut. Disisi lain, kejang
umum primer diperkirakan dari
lepasan gelombang spike and wave
yang menyebar luas pada kedua
hemisfer otak. Terutama jika berasal
dari kedua hemisfer pada saat yang

Tinjauan Pustaka

Definisi

Epidemiologi

Klasifikasi*
*menurut International Leugeu Against Epilepsy (ILAE) 1981

Patogenesis
Kejang disebabkan karena ada
ketidakseimbangan antara
pengaruh inhibisi dan
eksitatori pada otak
Ketidakseimbangan bisa terjadi
karena :
Kurangnya transmisi
inhibitori
Contoh: setelah pemberian
antagonis GABA, atau selama
penghentian pemberian agonis
GABA (alkohol, benzodiazepin)

Meningkatnya aksi eksitatori


meningkatnya aksi

Gejala

Diagnosis

Protokol penatalaksanaan kejang akut


dan status epileptikus pada anak
Pastikan jalan napas, pernapasan dan sirkulasi baik
1-5 mnt

Diazepam
Midazolam

0,3 mg/kg iv, maks 10 mg


0,5-0,75 mg/kg PR
0,2 mg/kg im

Kejang belum berhenti dalam 10-15 mnt


10 mnt

Diazepam

15 menit

Midazolam
fenitoin

35 mnt

fenobarbital

0,3 mg/kg iv, maks 10 mg


0,5-0,75 mg/kg PR
0,2 mg/kg im
20 mg/kg iv max 1 gr
iv drip 20 mnt dalam 50 ml NaCl
20 mg/kg iv, bolus 5-10 mnt

Bila dalam 10 menit masih terjadi kejang lanjutkan ke tahap terapi


epileptikus refrakter
Midazolam

bolus 0.2 mg/kg dilanjutkan drip 0.02-0.4 mg/kg/jam

Pendekatan monoterapi
Tujuan utama : mengendalikan bangkitan
epilepsi dg satu jenis obat
Obat yg dipilih adl obat yg terbaik atau paling
sesuai utk bangkitan tertentu dan penderita
sendiri
Apabila obat pertama jelas2 terbukti tdk
efektif setelah mencapai dosis maksimum,
maka obat jenis kedua harus diberikan
Penghentian obat pertama secara mendadak
tidak dianjurkan karena akan menimbulkan
bangkitan ulang, penurunan dosis dianjurkan
20% dari dosis total harian setiap 5 kali waktu
paruh obat

Tatalaksana terapi
Non farmakologi:
Amati faktor pemicu
Menghindari faktor pemicu (jika ada),
misalnya : stress, OR, konsumsi kopi
atau alkohol, perubahan jadwal tidur,
terlambat makan, dll.

Farmakologi : menggunakan obatobat antiepilepsi

Obat-obat anti epilepsi


Obat-obat yang meningkatkan inaktivasi kanal Na +:
Inaktivasi kanal Na menurunkan kemampuan
syaraf untuk menghantarkan muatan listrik
Contoh: fenitoin, karbamazepin, lamotrigin,
okskarbazepin, valproat
Obat-obat yang meningkatkan transmisi inhibitori
GABAergik:
agonis reseptor GABA meningkatkan transmisi
inhibitori dg mengaktifkan kerja reseptor GABA
contoh: benzodiazepin, barbiturat

menghambat GABA transaminase


konsentrasi GABA meningkat
contoh: Vigabatrin
menghambat GABA transporter
memperlama aksi GABA contoh:
Tiagabin
meningkatkan konsentrasi GABA
pada cairan cerebrospinal pasien
mungkin dg menstimulasi pelepasan
GABA dari non-vesikular pool
contoh: Gabapentin

Pemilihan obat : Tergantung pada jenis epilepsinya


Kejang Umum (generalized seizures)
Kejang
parsial
Drug of
choice

Alternativ
es

Tonic-clonic

Abscense

Karbamazepi
Valproat
Etosuksimid
n
Karbamazepi
Valproat
Fenitoin
n
Valproat
Fenitoin
Lamotrigin
Gabapentin
Topiramat
Tiagabin
Primidon
Fenobarbital

Lamotrigin
Topiramat
Primidon
Fenobarbital

Clonazepa
m
Lamotrigin

Myoclonic,
atonic
Valproat

Klonazepa
m
Lamotrigin
Topiramat
Felbamat

DOSIS OBAT ANTIEPILEPSI

Fenobarbital : 2-10 mg/kgBB/hari


Fenitoin : 5-10 mg/kgBB/hari
Karbamazepin : 10-30 mg/kgBB/hari
Asam Valproat : 15-30 mg/kgBB/hari
Nitrazepam : 0,1-1 mg/kgBB/hari
Klonazepam : 0,03-0,1 mg/kgBB/hari
Primidon: 15-30 mg/kgBB/hari
ACTH : 10-30 mg/kgBB/hari
Asetazolamid : 20-25 mg/kgBB/hari

PERDOSSI. Pedoman Tatalaksana Epilepsi. Ed.


3. Jakarta. 2008

ALGORITMA
Diagnosa positif
TATALAKSANA
Mulai pengobatan dg satu AED
EPILEPSI
Pilih berdasar klasifikasi kejang
dan efek samping

Ya

Sembuh ?

Efek samping dapat ditoleransi ?


Ya

Tidak

Kualitas hidup Turunkan dosis


optimal ?
Ya

Tidak

Lanjutk
an
terapi
lanjut

Pertimbangka
n,
Atasi dg tepat

Tidak

Efek samping dapat ditolerans


Ya

Tingkatkan
dosis
Hentikan
AED1
Tetap
gunakan
AED2

Tidak
Turunkan dosis
Tambah AED 2

Sembuh?
Ya

Tidak

lanjut

lanjutan
Lanjutk
an
terapi

Tidak sembuh

Efek samping dapat ditoleransi

Tidak kambuh
Selama > 2 th ?
ya

tidak

Hentikan Kembali ke
pengobatanAssesment
awal

Tidak

Ya

Hentikan AED yang tdk Tingkatkan dosis


efektif,
AED2, cek interaks
Tambahkan AED2 yang
Cek kepatuhan
lain
Sembuh ?
Ya

Tidak

Lanjutkan terapi Rekonfirmasi diagnosis,


Pertimbangkan pembedahan
Atau AED lain

Pemberian obat antiepilepsi pada


anak
Terjadi defisiensi kognitif spesifik akibat :
bangkitan epilepsi, faktor etiologi, munculnya
bangkitan pada usia dini, sering mengalami
bangkitan, dan obat antiepilepsi
Pengaruh beberapa obat antiepilepsi :
Fenobarbital hiperaktif
Fenitoin (dosis tinggi)enselofati progresif,
retardasi mental dan penurunan kemampuan
membaca
Karbamazepin dan asam valproat gangguan
kognitif ringan
Valproat (dosis tinggi)mengganggu fungsi
motorik

Efek obat antiepilepsi pada


anak
Jurnal Pediatr Neurologi. th 2008 :
obat2 antiepilepsi (asam valproat,
carbamazepin, oxcarbazepin) dapat
menurunkan densitas tulang pada
anak.
Perlu monitoring pemakaian jangka
panjang pada anak, di samping perlu
dipertimbangkan pemberian
suplemen utk tulang.

Syarat-syarat penghentian obat


antiepilepsi
Penderita sekurang-kurangnya 2 tahun
bebas bangkitan
Gambaran EEG normal
Harus dilakukan secara bertahap,
umumnya 25 % dari dosis semula setiap
bulan dalam jang waktu 3-6 bulan
Bila penderita menggunakan lebih dari 1
OAE maka penghentian dimulai dari 1
OAE yang bukan utama

Prognosis
Semakin tua, semakin tinggi
kemungkinan kekambuhannya
Epilepsi simtomatik
Penggunaan lebih dari 1 OAE
Masih mendapatkan satu atau lebih
bangkitan setelah diberikan terapi.
Kekambuhan akan semakin kecil
kemungkinannya apabila penderita
telah bebas bangkitan 3-5 tahun.

Daftar pustaka
http://www.epilepsy.ca/eng/content/sheet.html
http://www.searo.who.int/LinkFiles/Technical_documents_Ment-134.pdf
Tjahjadi,P.,Dikot,Y,Gunawan,D. Gambaran Umum Mengenai Epilepsi. In : Kapita Selekta Neurologi.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. 2005. p119-127.
Heilbroner, Peter. Seizures, Epilepsy, and Related Disorder, Pediatric Neurology: Essentials for General
Practice. 1st ed. 2007
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15816939
Octaviana F. Epilepsi. In: Medicinus Scientific Journal of pharmaceutical development and medical
application. Vol.21 Nov-Des 2008. p.121-2.
http://www.who.int/mental_health/neurology/epilepsy_atlas_introdion.pdf
http://www.epilepsyfoundation.org/about/statistics.cfm
http://epilepsiindonesia.com/pengobatan/epilepsi-dan-anak/pahami-gejala-epilepsi-pada-anak-2
http://www.epilepsysociety.org.uk/AboutEpilepsy/Whatisepilepsy/Causesofepilepsy
Shorvon SD. HANDBOOK OF Epilepsy Treatment Forms, Causes and Therapy in Children and Adults.2nd ed.
America: Blackwell Publishing Ltd. 2005
Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Prose-Proses Penyakit. Ed: 6. Jakarta: EGC
Aminoff MJ dkk. Clinical Neurology. 6th ed. New York: McGraw-Hill.
Wilkinson I. Essential neurology. 4th ed. USA: Blackwell Publishing. 2005
PERDOSSI. Pedoman Tatalaksana Epilepsi. Ed. 3. Jakarta. 2008
http://www.medscape.com/viewarticle/726809
Kliegman. Treatment of Epilepsy.Nelson Textbook of Pediatrics. Philadelphia: Saundres Elsevier.
2008. 593(6)