Anda di halaman 1dari 3

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi

a. Pengaruh faktor bawaan


Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa individu-individu yang berasal dari suatu
keluarga, atau bersanak saudara, nilai dalam tes IQ mereka berkolerasi tinggi ( + 0,50 ),
orang yang kembar ( + 0,90 ) yang tidak bersanak saudara ( + 0,20 ), anak yang diadopsi
korelasi dengan orang tua angkatnya ( + 0,10 + 0,20 ).
b. Pengaruh faktor lingkungan
Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Oleh karena itu ada
hubungan antara pemberian makanan bergizi dengan intelegensi seseorang. Pemberian
makanan bergizi ini merupakan salah satu pengaruh lingkungan yang amat penting selain
guru, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga
memegang peranan yang amat penting, seperti pendidikan, latihan berbagai keterampilan,
dan lain-lain (khususnya pada masa-masa peka).
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan
sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa
terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi.
Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga
memegang peranan yang amat penting.
Prestasi seseorang ditentukan juga oleh tingkat kecerdasannya (Intelegensi). Walaupun
mereka memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan orang tuanya memberi
kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya, tetapi kecerdasan mereka
yang terbatas tidak memungkinkannya untuk mencapai keunggulan. Tingkat Kecerdasan
Tingkat kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan
gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua
pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang; terutama tahun-tahun
pertama dari kehidupan mempunyai dampak kuat terhadap kecerdasan seseorang). Secara
umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. kemampuan untuk berpikir abstrak


2. Kemampuan untuk menangkap hubungan-hubungan
3. Kemampuan menyesuaikan diri terhadap situasi - situasi baru
Perumusan pertama melihat inteligensi sebagai kemampuan berpikir. Perumusan kedua
sebagai kemampuan untuk belajar dan perumusan ketiga sebagai kemampuan untuk
menyesuaikan diri. Ketiga-tiganaya menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi,
namun ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri
seseorang tergantung dari kemampuannya untuk berpikir dan belajar. Sejauh mana
seseorang dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya akan menentukan penyesuaian
dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, dan cara mengajukan pertanyaan,
kemampuan memecahkan masalah, dan sebagainya mencerminkan kecerdasan. Akan
tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan kecerdasan seseorang
berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian belum tentu tepat pula. Oleh
karena itu, para ahli telah menyusun bermacam-macam tes inteligensi yang
memungkinkan kita dalam waktu yang relatif cepat mengetahui tingkat kecerdasan
seseorang. Inteligensi seseorang biasanya dinyatakan dalam suatu kosien inteligensi
Intelligence Quotient(IQ).
Apakah hanya kecerdasan (yang diukur dengan tes intelegensi dan menghasilkan IQ)
yang menentukan keberbakatan seseorang ? barangkali untuk bakat intelektual masih
tepat jika IQ menjadi kriteria (patokan) utama, tetapi belum tentu untuk bakat seni, bakat
kreatif-produktif, dan bakat kepemimpinan. Memang dulu para ahli cenderung untuk
mengidentifikasi bakat intelektual berdasarkan tes intelegensi semata-mata, dalam
penelitian jangka panjangnya mengenai keberbakatan menetapkan IQ 140 untuk
membedakan antara yang berbakat dan tidak. Akan tetapi, akhir-akhir ini para ahli makin
menyadari bahwa keberbakatan adalah sesuatu yang majemuk, artinya meliputi macammacam ranah atau aspek, tidak hanya kecerdasan.

c. Stabilitas intelegensi dan IQ


Intelegensi bukanlah IQ. Intelegensi merupakan suatu konsep umum tentang kemampuan
individu, sedang IQ hanyalah hasil dari suatu tes intelegensi itu (yang notabene hanya
mengukur sebagai kelompok dari intelegensi). Stabilitas inyelegensi tergantung
perkembangan organik otak.
d. Pengaruh faktor kematangan
Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ
(fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan
menjalankan fungsinya.
e. Pengaruh faktor pembentukan
Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi
perkembangan intelegensi.
f. Minat dan pembawaan yang khas
Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi
perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif-motif) yang
mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar.
g. Kebebasan
Kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode yang tertentu dalam
memecahkan masalah-masalah. Manusia mempunyai kebebasan memilih metode, juga
bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya.
Semua faktor tersebut di atas bersangkutan satu sama lain. Untuk menentukan intelegensi
atau tidaknya seorang individu, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada salah satu
faktor tersebut, karena intelegensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi turut serta
menentukan dalam perbuatan intelegensi seseorang.