Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH ASUHAN KEBIDANA PATOLOGI

TENTANG ASUHAN KEBIDANAN PADA PENYAKIT ADNEXSITIS

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 3

1.
2.
3.
4.
5.
6.

ARTIS PURNAMA SARI


ANGGIE KARTINA PRATIWI
ENI DARMAWATI
RIRIN PRASTIANA
RINA SUTRISNA
FITRI WIJI UTAMI

STIKES TRI MANDIRI SAKTI BENGKULU


DIII KEBIDANAN
2012/2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang

alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul ASUHAN KEBIDANAN PADA


PENYAKIT ADNEXSITIS.
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang
ASUHAN KEBIDANAN PADA ADNEXSITIS.Kami menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Bengkulu, Januari 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................................................................................i


DAFTAR ISI.........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................................................4
1.3 Tujuan .............................................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................5
2.1 Definisi Adnexsitis............................................................................................................5
2.2 Etiologi..............................................................................................................................5
2.3 Patofisiologis....................................................................................................................5
3.1 Asuhan kebidanan pada adnexsitis..................................................................................9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Aktivitas seksual merupakan kebutuhan biologis setiap manusia untuk mendapatkan
keturunan. Namun, masalah seksual dalam kehidupan rumah tangga seringkali mengalami
hambatan atau gangguan karena salah satu pihak (suami atau isteri) atau bahkan keduanya,
mengalami gangguan seksual. Jika tidak segera diobati, masalah tersebut dapat saja
menyebabkan terjadinya keretakan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, alangkah baiknya
apabila kita dapat mengenal organ reproduksi dengan baik sehingga kita dapat melakukan
deteksi dini apabila terdapat gangguan pada organ reproduksi.
Menurut (Winkjosastro,Hanifa.Hal.396,2007) prevalensi adneksitis di Indonesia sebesar
1 : 1000 wanita dan rata-rata terjadi pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan
seksual. Adneksitis bila tidak ditangani dengan baik akan menyebar keorgan lain disekitarnya
seperti misalnya ruptur piosalping atau abses ovarium, dan terjadinya gejala-gejala ileus
karena perlekatan, serta terjadinya appendisitis akuta dan salpingo ooforitis akuta. Maka dari
itu sangat diperlukan peran tenaga kesehatan dalam membantu perawatan klien adneksitis
dengan baik agar radangnya tidak menyebar ke organ lain dan para tenaga kesehatan dapat
memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Salah satu tenaga kesehatan yang dapat
memberikan asuhan secara komprehensif yaitu bidan melalui asuhan kebidanan yang sudah
dimilikinya
1.2 Rumusan Masalah
Apa definisi adneksitis?
Bagaimana penyebab terjadinya adneksitis?
Bagaimana gejala jika seorang wanita mengalami adneksitis?
Bagaimana penatalaksanaan jika wanita menderita adneksitis?
1.3 Tujuan

Mahasiswa dapat memahami definisi adneksitis


Mahasiswa dapat mengetahui penyebab terjadinya adneksitis
Mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala jika seorang wanita mengalami

adneksitis
Mahasiswa mengetahui mengenai penatalaksanaan jika seorang wanita menderita
adneksitis
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Adnexitis adalah suatu radang pada tuba fallopi dan radang ovarium yang biasanya
terjadi bersamaan. Radang ini kebanyakan akibat infeksi yang menjalar keatas dari uterus,
walaupun infeksi ini bisa datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah atau menjalar
dari jaringan sekitarnya.
Adnexitis adalah infeksi atau radang pada adnexa rahim. Adnexa adalah jaringan yang
berada di sekitar rahim, termasuk tuba fallopi dan ovarium. Istilah lain dari adnexitis antara
lain: pelvic inflammatory disease, salpingitis, parametritis, salpingo-oophoritis.
2.2 Etiologi
Sebab yang paling banyak terdapat adalah infeksi gonorroe dan infeksi puerperal dan
postpartum. Kira-kira 10% infeksi disebabkan oleh tuberculosis. Selanjutnya bisa timbul
radang adnexa sebagai akibat tindakan kerokan, laparotomi, pemasangan IUD serta perluasan
radang dari alat yang letaknya tidak jauh seperti appendiks.
Pada wanita rongga perut langsung berhubungan dengan dunia luar dengan perantara
traktus genetalia. Radang atau infeksi rongga perut disebabkan oleh :
1. Sifat bactericide dari vagina yang mempunyai pH rendah.
2. Lendir yang kental dan liat pada canalis servicalis yang menghalangi naiknya kumankuman.
Adapun bakteri yang biasanya menyebabkan terjadinya penyakit ini adalah Baktery
Gonorrhea dan Bakteri Chalmydia.
2.3 Patofisiologi
Radang tuba fallopii dan radang ovarium biasanya terjadi bersamaan. Radang itu
kebanyakan akibat infeksi yang menjalar ke atas dari uterus, walaupun infeksi ini juga bisa
datang dari tempat ekstra vaginal lewat jalan darah, atau menjalar dari jaringan jaringan
sekitarnya.
Pada salpingo ooforitis akuta gonorea ke tuba dari uterus melalui mukosa. Pada
endosalping tampak edema serta hiperemi dan infiltrasi leukosit, pada infeksi yang ringan
epitel masih utuh, tetapi pada infeksi yang lebih berat kelihatan degenarasi epitel yang
kemudian menghilang pada daerah yang agak luas dan ikut juga terlihat lapisan otot dan
serosa. Dalam hal yang akhir ini dijumpai eksudat purulen yang dapat keluar melalui ostium
tuba abdominalis dan menyebabkan peradangan di sekitarnya.
Infeksi ini menjalar dari serviks uteri atau kavum uteri dengan jalan darah atau limfe ke
parametrium terus ke tuba dan dapat pula ke peritonium pelvik. Disini timbul salpingitis

interstialis akuta, mesosalping dan dinding tuba menebal menunjukkan infiltrasi leukosit,
tetapi mukosa seringkali normal. (Sarwono.Winkjosastro, Hanifa Hal 287. 2007).
2.4 Gambaran Klinis
Gambaran klinik adnexitis akut ialah demam, leukositosis dan rasa nyeri disebelah
kanan atau kiri uterus, penyakit tersebut tidak jarang dijumpai terdapat pada kedua adneksa,
setelah lewat beberapa hari dijumpai pula tumor dengan batas yang tidak jelas dan nyeri
tekan. Pada pemeriksaan air kencing biasanya menunjukkan sel-sel radang pada pielitis. Pada
torsi adneksa timbul rasa nyeri mendadak dan apabila defence musculaire tidak terlalu keras,
dapat diraba nyeri tekan dengan batas nyeri tekan yang nyata.(Sarwono. Winkjosastro,
Hanifa. Hal 288.2007).
2.5 Jenis Adnekitis
Penyakit adneksitis atau salpingo ooporitis terbagi atas :
2.5.1 Salpingo ooporitis akuta
Salpingo ooporitis akuta yang disebabkan oleh gonorroe sampai ke tuba dari uterus
sampai ke mukosa. Pada gonoroe ada kecenderungan perlekatan fimbria pada ostium tuba
abdominalis yang menyebabkan penutupan ostium itu. Nanah yang terkumpul dalam tuba
menyebabkan terjadi piosalping. Pada salpingitis gonoroika ada kecenderungan bahwa
gonokokus menghilang dalam waktu yang singkat, biasanya 10 hari sehingga pembiakan
negative. Salpingitis akut banyak ditemukan pada infeksi puerperal atau pada abortus septic
ada juga disebabkan oleh berbagai tierti kerokan. Infeksi dapat disebabkan oleh bermacam
kuman seperti streptokokus ( aerobic dan anaaerobic ), stafilokokus, e. choli, clostridium
wechii, dan lain-lain. Infeksi ini menjalar dari servik uteri atau kavum uteri dengan jalan
darah atau limfe ke parametrium terus ke tuba dan dapat pula ke peritoneum pelvic. Disini
timbul salpingitis interstitial akuta ; mesosalping dan dinding tuba menebal dan menunjukkan
infiltrasi leukosit, tetapi mukosa sering kali normal. Hal ini merupakan perbedaan yang nyata
dengan salpingitis gonoroika, dimana radang terutama terdapat pada mukosa dengan sering
terjadi penyumbatan lumen tuba.( Sarwono. Winkjosastro, Hanifa.Hal 287.2007).
2.5.2 Salpingo ooporitis kronika
Dapat dibedakan pembagian antara:
a)

Hidrosalping
Pada hidrosalping terdapat penutupan ostium tuba abdominalis. Sebagian dari epitel

mukosa tuba masih berfungsi dan mengeluarkan cairan akibat retensi cairan tersebut dalam
tuba. Hidrosalping sering kali ditemukan bilateral, berbentuk seperti pipa tembakau dan dapat
menjadi sebesar jeruk keprok. Hidrosalping dapat berupa hidrosalping simpleks dan

hidrosalping follikularis. Pada hidrosalping simpleks terdapat satu ruangan berdinding tipis,
sedang hidrosalping follikularis terbagi dalam ruangan kecil.
b)

Piosalping
Piosalping dalam stadium menahun merupakan kantong dengan dinding tebal yang

berisi nanah. Pada piosalping biasanya terdapat perlekatan dengan jaringan disekitarnya. Pada
salpingitis interstialis kronika dinding tuba menebal dan tampak fibrosis dan dapat pula
ditemukan pengumpulan nanah sedikit di tengah tengah jaringan otot.
c)

Salpingitis interstisialis kronika


Pada salpingitis interstialis kronika dinding tuba menebal dan tampak fibrosis dan dapat

pula ditemukan pengumpulan nanah sedikit ditengah-tengah jaringan otot. Terdapat pula
perlekatan dengan-dengan jaringan-jaringan disekitarnya, seperti ovarium, uterus, dan usus.
d)

Kista tubo ovarial, abses tubo ovarial.


Pada kista tubo ovarial, hidrosalping bersatu dengan kista folikel ovarium, sedang pada

abses tubo ovarial piosalping bersatu dengan abses ovarium.Abses ovarium yang jarang
terdapat sendiri,dari stadium akut dapat memasuki stadium menahun.
e)

Salpingitis tuberkulosa
Salpingitis tuberkulosa merupakan bagian penting dari tuberkulosis genetalis.

(Sarwono.Winkjosastro, Hanifa.Hal 289,2007).


2.6 Gejala Adnexitis
1. Kram atau nyeri perut bagian bawah yang tidak berhubungan dengan haid(bukan pre
2.
3.
4.
5.
6.
7.

menstrual syndrome)
Keluar cairan kental berwarna kekuningan dari vagina
Nyeri saat berhubungan intim
Demam
Nyeri punggung
Leukosit tinggi
Setelah beberapa hari dijumpai tumor dengna batas yang tidak jelas dan nyeri tekan

2.7 Komplikasi
Pembedahan pada salpingo-ooforitis akuta perlu dilakukan apabila:
a)
Jika terjadi ruptur atau abses ovarium
b)
Jika terjadi gejala-gejala ileus karena perlekatan
c)
Jika terjadi kesukaran untuk membedakan antara apendiksitis akuta dan adneksitis
akuta.
Gejala; nyeri kencing, rasa tidak enak di bawah perut, demam, ada lendir/bercak
keputihan di celana dalam yang terasa panas, infeksi yang mengenai organ-organ dalam
panggul/ reproduksi. Penyebab infeksi lanjutan dari saluran kencing dan daerah vagina.

Selain itu komplikasi yang terjadi dapat berupa appendisitis akuta, pielitis akuta, torsi
adneksa dan kehamilan ektopik yang terganggu.
2.8 Pemeriksaan Penunjang
1. USG
2. UKG
3. Kuldoskopi dan laparoskopi tidak berarti keculi bilamana pemeriksaan tersebut tidak
dilakukan pemeriksaan biopsi.
2.9 Penatalaksanaan
Penanganan utama yang dianjurkan adalah TAH + BSO + OM + APP (Total Abdominal
Hysterectomy + Bilateral Salpingo-Oophorectomy + Omentectomy + Appendectomy). Dapat
dipertimbangkan (optional) instilasi phosphor-32 radioaktif atau khemoterapi profikalis.
Sayatan dinding perut harus longitidunal di linea mediana, cukup panjang untuk
memungkinkan mengadakan eksplorasi secara gentle (lembut) seluruh rongga perut dan
panggul, khususnya di daerah subdifragmatika dan mengirimkan sampel cucian rongga perut
untuk pemeriksaan sitologi eksfoliatif. Bila perlu dapat dilakukan biopsy pada jaringan yang
dicurigai. Radioaterapi akhir-akhir ini tidak mendapat tempat dalam penanganan tumor ganas
tuba dan ovarium karena sifat biologic tumor dan menyebar melalui selaput perut (surface
spreader). Radiasi ini akan merusak alat-alat vital dalam rongga perut, khususnya usus-usus,
hati dan ginjal. Dengan shielding (perlindungan) alat vital tersebut, akan menyebabkan
kurangnya dosis radiasi. Radioterapi hanya dikerjakan pada tumor bed dan pada jenis
histologik keganasan tertentu seperti disgerminoma.
Penyakit ini dapat diterapi dengan pemberian antibiotika. Tergantung dari derajat
penyakitnya, biasanya diberikan suntikan antibiotik kemudian diikuti dengan pemberian obat
oral selama 10-14 hari. Beberapa kasus memerlukan operasi untuk menghilangkan organ
sumber infeksi, ini dilakukan jika terapi secara konvensional(pemberian antibiotik) tidak
berhasil. Jika terinfeksi penyakit ini melalui hubunganseksual, maka pasangannya juga harus
mendapat terapi pengobatan, sehingga tidak terinfeksi terus menerus. Operasi radikal
( histerektomi dan salpingo ooforektomi bilateral ) pada wanita yang sudah hampir
menopause. Pada wanita yang lebih muda hanya adnexia dengan kelainan yang nyata yang
diangkat.
BAB III
ASUHAN KEBIDANAN PADA NY S USIA 21 TAHUN
PIA0 DENGAN ADNEKSITIS
I.

SUBYEKTIF

Tanggal : 10 Januari 2015 Tempat: BPM

Pukul : 15.00 WIB

1.

2.

Identitas
Nama Ibu

: Ny S

Nama Suami

: Tn T

Umur

: 21 Thn

Umur

: 23 Thn

Suku/bangsa

:Indonesia

Suku/bangsa

:Indonesia

Agama

:Islam

Agama

:Islam

Pendidikan

:SMA

Pendidikan

:SMA

Pekerjaan

:IRT

Pekerjaan

:Swasta

Alamat

: Jl.Indah Barat

Alamat

:Jl.IndahBarat

No. telp.

: (-)

No. telp.

:031-7689956

No. register

: 2030

No. register

: (-)

Keluhan utama

Ibu mengatakan merasa nyeri hebat di daerah perut bawah, serta demam sejak 4 hari yang
lalu, rasa nyeri bertambah keras pada saat melakukan pekerjaan yang berat-berat dan disertai
dengan sakit pinggang dan keputihan.
3.

Pola Kesehatan Fungsional

Pola Fungsi KesehatanSebelu Sehat


1.Pola Nutrisi

2.Pola Eliminasi
3.Pola Istirahat

Selama Sakit
Ibu tidak mau makan,
Ibu makan porsi cukup 3x/hari,
makan
2x/hari,
minum 6 gelas/hari
minum 5 gelas/hari

BAB 2BAK 2-3x/hari

BAK 1-2x/hari

BAK 5BAB 1-2x/hari

BAB 1-2x/hari

Tidur sTidur siang 3 jam


Tidur Tidur malam 7 jam

4.Pola Aktivitas

5.Pola seksual

Ibu melakukan aktifitas rumah tangga

Ibu melakukan hubungan seksual 34x/seminggu

Ibu tidak pernah tidur


siang
Tidur malam 5 jam
Ibu hanya melakukan
pekerjaan yg ringan
saja
Ibu

tidak

mau

melakukan hubungan
seksual

6.

Pola

persepsi

dan

pemeliharaan kesehatan :
merokok,

alcohol,

narkoba, obat obatan,


jamu, binatang peliharaan
7.

Riwayat penyakit sistemik yang pernah di derita : Tidak ada


1.

Jantung

2.

Ginjal

3.

Asma

4.

TBC

5. Hepatitis
6. DM
7. Hipertensi

8.

8. TORCH
Riwayat kesehatan dan penyakit keluarga : Tidak ada

a. Riwayat KB :
Pernah menggunakan KB AKDR yaitu IUD sudah 1 tahun
II.

OBYEKTIF

1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum
: baik
b. Kesadaran : composmentis
c. Tanda tanda vital
Tekanan darah : 110/90 mmHg.
Nadi
: 100 kali/menit
Pernafasan
: 20 Kali / menit
Suhu
: 38 0C
d. Antropometri
BB periksa yang lalu : 57 kg

2.

BB sekarang

: 56 kg

Tinggi Badan

: 156 cm

Pemeriksaan Fisik (Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi)

a. Wajah

: simetris, terlihat pucat

b.Rambut

: bersih, tidak ada ketombe

c. Mata

: bentuk simetris, konjungtiva pucat, sclera tidak ikterik

d.Mulut & gigi : bersih, tidak ada caries dan stomatitis


e. Telinga

: simetris, tidak ada serumen

f. Hidung

: simetris, tidak ada nyeri tekan, bersih, fungsi penciuman baik

g.Dada

: bentuk simetris, tidak ada tarikan dinding dada

h.Abdomen

:tidak ada bekas luka oprasi, ada nyeri tekan pada perut bagian bawah,

kembung
i. Genetalia

: terdapat flour albus, nyeri tekan

j. Ekstremitas : tidak ada odema, fungsi pergerakan baik


III. ASSESMENT
1. Interpretasi Data Dasar
a.

Diagnosa : Ny S dengan adneksitis

b. Masalah

: Gangguan rasa nyaman, kepercayaan diri

Kebutuhan :
- Meyakinkan ibu bahwa bidan akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu ibu
mengatasi masalahnya dan ibu tidak perlu takut.
- Memberikan penyuluhan tentang maksud, tujuan dilakukan terapi serta prosesnya.
2. Antisipasi terhadap diagnosa/masalah potensial
Piosalping
Abses ovarium
3. Identifikasi kebutuhan akan tindakan segera/kolaborasi/rujukan
Kolaborasi dengan dokter SpOG
IV. PLANNING
Tujuan

: Setelah di berikan asuhan kebidanan dapat meringankan beban ibu

Kriteria Hasil : - ibu merasa tenang tidak cemas mengenai keadaanya


- KU Ibu
- ibu dapat beraktifitas seperti biasa serta rasa nyeri dapat berkurang

1. Intervensi
A. Jalin hubungan baik dengan px dan keluarga
R/ untuk memudahkan petugas dalam melakukan pemeriksaan

B. Jelaskan mengenai keadaan ibu sekarang kepada keluarga


R/ agar ibu dan keluaga tidak cemas dengan keadaanya
C. Jelaskan penyebab terjadinya adneksitis kepada keluarga
R/ agar keluarga mengetahui penyebab terjadinya adneksitis
D. Lakukan konseling kebutuhan nutrisi, istirahat, serta kebersihan
R/ agar kebutuhan istirahat dan nutrisi ibu dapat terpenuhi dengan baik dan cukup
E. Kolaborasi dengan dokter
R/ untuk mengatasi masalah dengan mencegah komplikasi
2. Implementasi
a) Menjalin hubungan baik dengan keluarga dengan cara memberi salam
b) Menjelaskan mengenai keadaan ibu sekarang kepada keluarga
Ibu dalam keadaan kurang stabil kesehatannya
c) Menjelaskan penyebab terjadinya adneksitis kepada keluarga
Salah satu penyebab terjadinya adneksitis antara lain :
1. Kurangnya personal hygine
2. Adanya infeksi yg di sebabkan oleh bakteri seperti Gonorrhea, Chalmydia
d) Melakukan konseing kebutuhan nutrisi dan istitahat serta kebersihan
Memberitahu kepada ibu agar istirahat yang cukup tidur siang 3 jam dan tidur
malam 7-8 jam.
Memberitahu kepada ibu agar makan cukup 3x/hari dengan porsi cukup
Menjaga kebersihan pada daerah genetalia
e) Melakukan kolaborasi dengan dokter
Jika terjadi masalah yang lebih parah bisa melakukan tindakan segera
3.
Evaluasi
S :pasien mengatakan sudah tidak cemas lagi
O :K/U Ibu sudah baik ibu dapat mengulang penjelasan yang diberikan oleh bidan
A :Ny S Usia 21 tahun dengan Adneksitis
P :lakukan konseling mengenai istirahat dan nutrisi
Makan 3x/hari, tidur malam 7-8 jam/hari
f) Mengajak keluarga untuk menjaga kondisi ibu
g) Memberikan terapi
Amoxan 31 amp
Gentamicin 280 gr
Analgetika jenis Antrain 31 amp (Diberikan secara IV)
h) Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan segera sesuai dengan advice dokter

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Adneksitis atau Salpingo-ooforitis adalah radang pada tuba falopi dan radang ovarium
yang terjadi secara bersamaan, biasa terjadi karena infeksi yang menjalar ke atas sampai
uterus, atau akibat tindakan post kuretase maupun post pemasangan alat kontrasepsi (IUD).
Salah satu tenaga kesehatan yang dapat memberikan asuhan secara komprehensif yaitu
bidan melalui asuhan kebidanan yang sudah dimilikinya. Beberapa peran bidan diantaranya

yaitu peran bidan sebagai pengelola dimana bidan memiliki beberapa tugas salah satunya
tugas kolaborasi. Didalam kolaborasi ini bidan harus menerapkan manajemen kebidanan pada
setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga serta
memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dan pertolongan pertama pada
kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan tim medis lain.

DAFTAR PUSTAKA
Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan. Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sastrawinata, sulaiman. 1981. Ginekologi. Bandung : Elstar offset
Sarwono,Winkjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo