Anda di halaman 1dari 16

Reproduksi Ikan

Reproduksi ikan dilakukan secara eksternal. Dalam hal


ini, ikan jantan dan betina akan saling mendekat satu
sama lain, kemudian ikan betina akan mengeluarkan
telur.
Menurut Stacey (1984), beberapa faktor eksternal
yang berperan penting bagi keberhasilan proses
reproduksi ikan adalah (1) Photo periode; (2) Suhu; (3)
Substrat pemijahan; (4) Ketersediaan makanan; (5)
Faktor sosial (hubungan antar individu); dan (6)
Salinitas.

Pembagian Tahap Kematangan


Gonad
Tingkat Kematangan Gonad menunjukkan suatu
tingkatan kematangan seksual ikan. Sebagian
besar hasil metabolisme digunakan selama
fase perkembangkan gonad. Umumnya
pertambahan berat gonad pada ikan betina
sebesar 10-25% dari berat tubuh, sedangkan
untuk ikan jantan berkisar antara 5-10%.

Pembagian tahap kematangan gonad dilakukan


dalam dua cara, yakni analisis laboratorium dan
pengamatan visual. Cara yang umum digunakan
ialah metode pengamatan visual berdasarkan
ukuran & penampakan gonad, sebagai catatan
metode ini bersifat subyektif.

Pengamatan Kematangan Gonad


Secara Histologi
Pengamatan secara histologi dilakukan di
laboratorium. Dari penelitian secara histologi
akan diketahui anatomi perkembangan gonad
yang lebih jelas dan mendetail. Penentuan
tingkat kematangan gonad secara histologi
jarang sekali digunakan kecuali untuk
penelitian yang memerlukan keterangan yang
sangat khusus.

Pengamatan Kematangan Gonad


Secara Morfologi
Pengamatan secara morfologi dapat dilakukan
baik di laboratorium maupun di lapangan. Hasil
pengamatan secara morfologi tidak sedetail
cara histologi, namun cara morfologi ini banyak
dilakukan oleh peneliti. Dasar yang dipakai
untuk menentukan tingkat kematangan gonad
dengan cara morfologi adalah bentuk, ukuran
panjang dan berat, warna dan perkembangan
isi gonad yang dapat dilihat.

Klasifikasi Telur
Telur ikan adalah sel gamet betina yang
mempunyai program perkembangan untuk
mejadi individu baru, stelah program
perkembangan tersebut diaktifkan oleh
spermatozoa.

Telur ikan dapat dikelompokan berdasarkan sifat-sifatnya


(Wahyuningsih et al, 2006), yaitu :
1. Sistem pengelompokan berdasarkan jumlah kuning
telurnya:
Oligolecithal : Telur dengan kuning telur sangat sedikit
jumlahnya, contoh ikan Amphioxus.
Telolecithal : Telur dengan ukuran kuning telur lebih
banyak dari oligolecithal. Umunya jenis telur ini banyak
dijumpai di daerah empat musim, contoh ikan Sturgeon.
Makrolecithal : Telur dengan kuning telur relatif banyak
dan keping sitoplasma di bagian kutub animanya. Telur
semacam ini banyak terdapat pada kebanyakan ikan.

Sistem yang berdasarkan jumlah kuning telur namun


dikelaskan lebih lanjut berdasarkan berat jenisnya :
Non Bouyant : telur yang tenggelam ke dasar saat
dikeluarkan dari induknya. Contoh telur ikan trout dan ikan
salmon.
Semi Bouyant : telur tenggelam ke dasar perlahanperlahan, mudah tersangkut dan umumnya telur berukuran
kecil, contoh telur ikan coregonus.
Terapung : telur dilengkapi dengan butir minyak yang besar
sehingga dapat terapung. Umumnya terdapat pada ikanikan yang hidup di laut.

Telur dikelompokan berdasarkan kualitas kulit luarnya :


Non Adhesive : telur sedikit adhesive pada waktu pengerasan cangkangnya,
namun kemudian setelah itu telur sama sekali tidak menempel pada apapun
juga, contoh telur ikan salmon.
Adhesive : setelah proses pengerasan cangkang, telur bersifat lengket
sehingga akan mudah menempel pada daun, akar dan sebagainya, contoh
telur ikan mas (Cyprinus carpio).
Bertangkai : telur ini merupakan keragaman dari telur adhesive, terdapat
suatu bentuk tangkai kecil untuk menempelkan telur pada substrat.
Telur Berenang : terdapat filamen yang panjang untuk menempel pada
substrat atau filament tersebut untuk membantu telur terapung sehingga
sampai ke tempat yang dapat ditempelinya, contoh telur ikan hiu
(Scylliohinus sp.).
Gumpalan Lendir : telur-telur diletakan pada rangkaian lendir atau
gumpalan lendir, contoh telur ikan lele.

Analisa Tingkat Kematangan Gonad


Analisis Tingkat Kematangan Gonad
Berdasarkan Morfologi
Tingkat kematangan gonad dipaparkan
berdasarkan pengamatan morfologi, yaitu
bentuk, ukuran panjang, berat, dan warna lalu
dihubungkan dengan Gonado Somatic Index.

Analisis Tingkat Kematangan Gonad


Menggunakan Gonado Somatic Index (GSI)

Semakin bertambah panjang dan berat tubuh


maka tingkat kematangan gonad makin tinggi
dan nilai GSI semakin bertambah.

Ikan jantan umumnya mempunyai nilai GSI yang lebih


rendah dibandingkan dengan ikan betina. Nilai IKG
atau GSI dari ikan bervariasi tergantung dari nilai
kematangannya. IKG pada ikan jantan lebih kecil
daripada ikan betina, hal ini karena bobot gonad ikan
betina lebih besar. Ikan betina memiliki ukuran gonad
yang lebih besar dibanding ikan jantan karena pada
ikan betina terjadi proses vitelogenesis, yaitu
terjadinya pengendapan kuning telur pada tiap-tiap
individu telur.

Analisa Pola Kebiasaan Makanan Ikan


(Food Habits)
Analisa pola kebiasan makanan ikan dipakai
dalam menentukan gizi alamiah ikan itu.
Makanan dapat menjadi faktor penentu bagi
pertumbuhan, kondisi ikan, dan populasi ikan
tersebut. Jenis makanan satu spesies ikan
biasanya tergantung pada umur, tempat dan
waktu dimana ikan tersebut berada (Effendie,
1979).

Analisa Hubungan Panjang Berat


Pertumbuhan adalah perubahan ukuran
individu, biasanya pertumbuhan diukur dalam
satuan panjang, berat dan atau energi.
Hubungan panjang dan berat ikan memberikan
suatu petunjuk tentang keadaan ikan. Analisa
hubungan panjang dan berat ikan mempunyai
nilai praktis yang memungkinkan untuk
mengubah nilai panjang kedalam berat ikan
atau sebaliknya

DAFTAR PUSTAKA
Ardiwinata. 1984. Embriologi Perbandingan. Armica. Bandung.
Effendi, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Kanisius. Yayasan
Pustaka Nusatama, Jogjakarta.
Mujimin, 2008. Menghitung Fekunditas Telur Ikan . Teknisi
Litkayasa Akuakultur. Vol. 3. No. 1.
Suminto, et al. 2010. Prosentase Perbedaan Pengaruh Tingkat
Kematangan Gonad Terhadap Fertilitas dan Daya Tetas Telur
Dalam Pembenahan Buatan Abalone (Haliotis asinina) .
Jakarta.