Anda di halaman 1dari 8

Syekh Kholil 1

Jumat, 05 September 2008


Judul Buku : DARI KANJENG SUNAN SAMPAI ROMO KIAI I SYAIKHONA MUHAMMAD
KHOLIL BANGKALAN
Penulis
: K.H. ALI BIN BADRI AZMATKHAN
Penerbit
: IKAZHI & YAYASAN SYAIKHONA MUHAMMAD KHOLIL BANGKALAN
Cetakan Pertama: Shafar 1428 / Maret 2007 ***********
PENDAHULUAN Buku di tangan pembaca ini adalah lanjutan dari buku saya yang berjudul
“ Dari Kanjeng Nabi Sampai Kanjeng Sunan & rdquo; (DKNSKS), sebuah buku
tentang study sejarah dan telaah budaya leluhur keluarga Azmatkhan Al-Alawi AlHusaini, yaitu keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alawi Amil Faqih bin
Muhammad Shahib Mirbath Al-Alawi Al-Husaini. Buku DKNSKS memang semacam buku
keluarga, namun karena melibatkan tokoh-tokoh Walisongo penyebar Islam di Jawa
dan sekitarnya, maka buku itu juga sangat layak untuk dibaca oleh muslimin Indonesia
pada umumnya, apalagi buku itu memuat perjalaan estafet tugas da’wah yang
diemban oleh kerturunan Rasulullah SAW secara turun temurun hingga pada sebagian
besar anggota Walisongo, dilengkapi dengan banyak hikmah yang dikutip dari cara pikir,
cara hidup dan cara bergaul mereka. Buku “Dari Kanjeng Sunan Sampai Romo
Kiai” ini saya buat berseri, memuat tokoh-tokoh dan ulama keturunan Rasulullah
SAW dari keluarga Azmatkhan, yaitu Kiai-kiai keturunan Sunansunan yang tergabung dalam rumpun leluhur keluarga Azmatkhan Indonesia. Dan buku
di hadapan pembaca ini adalah buku seri pertama menyusul -insyaallah- seri-seri
berikutnya memuat sejarah dan riwayat hidup Kiai-kiai yang lain. Ide menulis buku ini
berawal ketika pengurus Yayasan Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Kaltim meminta
saya untuk memeriksa buku “Surat Kepada Anjing Hitam” karya Saifur
Rachman, cetakan Pustaka Ciganjur, untuk
dicetak ulang. Kebetulan saya memang sedang berencana untuk menulis buku serial
untuk lanjutan buku DKNSKS, dan saya belum menentukan sejarah siapa yang akan saya
tulis dalam seri pertama. Maka sayapun mendapatkan ide untuk menulis tentang Syekh
Kholil untuk seri pertama. Setelah isktikharah dan datang ke Bangkalan untuk
pengumpulan data, akhirnya dalam waktu kurang lebih dua minggu buku ini selesai saya
tulis. Buku ini terdiri dari lima bab: Bab I : Sekilas sejarah estafet da’wah mulai
dari Rasulullah hingga para Sunan sampai Syekh Kholil. Bab II : Silsilah nasab Syekh
Kholil. Bab III : Latar belakang keluarga dan riwayat hidup Syekh Kholil. Bab IV :
Kumpulan sebagian cerita karomah Syekh Kholil. Bab V : Generasi keluarga dan
penerus perjuangan Syekh Kholil. Saya ucapkan banyak
terima kasih kepada Kiai-kiai Bangkalan yang telah membantu saya dengan memberi
data-data dan riwayat yang saya perlukan dalam penulisan buku ini. Mereka adalah
cucu-cucu Syekh Kholil sendiri, diantaranya adalah: 1. K.H. Fuad bin K.H. Amin bin KH.
Imron bin Syekh Kholil. 2. K.H. Thoha bin K.H. Kholili bin K.H. Abdul Lathif bin K.H.
Muhammad Thoha dengan Nyai Khotimah binti Syekh Kholil. 3. K.H. Ali bin K.H. Kholil
bin K.H. Yasin dengan Nyai Asma’ binti Syekh Kholil. 4. dan K.H. ar. Yusuf bin
K.H. Nashir bin K.H. Yasin dengan Nyai Asma’ binti Syekh Kholil. Saya ucapkan
terima kasih juga kepada yang terhormat Ketua Majlis Niqabah Rabithah Aal Azmatkhan
(Ikatan Keluarga Azmatkhan)
Indonesia, K.H. Ahmad Ridho bin Shonhaji Azmatkhan, atas dukungannya hingga
diterbitkannya buku ini.
Semoga buku ini bermanfaat bagi saya dan pembaca. Amien. Cirebon, Jum’at 28
Muharram 1428 / 16 Pebruari Ali bin Badri bin Masyhuri Azmatkhan ESTAFET
DA’WAH DARI RASULULLAH S.A.W. HINGGA PARA SUNAN SAMPAI PARA KIAI
KETURUNAN RASULULLAH SAW Semua orang Madura dan hampir seluruh orang
Jawa,khususnya kaum santri, pasti mengenal nama Syekh Muhammad Kholil yang oleh
kebanyakan orang lebih dikenal dengan sebutan “Syaikona Kholil
Bangkalan”. Dalam paket-paket ziarah makam-makam wali Madura, makam
Syekh Kholil termasuk tiga “ makam besar” yang pasti masuk dalam
program, selain Makam Syekh Batu Ampar Pamekasan dan Syekh Yusuf Sumenep.
Mengingat nasab Syekh Kholil yang bersambung pada Al-Husain bin Fathimah binti
Rasulillah SAW, maka saya rasa akan lebih mengasyikkan kalau kita membicarakan
tentang dua hal

yang berkaitan dengan Syekh Kholil sebagai cucu Rasulullah SAW. Pertama, bahwa
Syekh Kholil dan cucu-cucu Rasulullah lainnya -yang memiliki nasab jelasmembuktikan kebenaran janji Allah untuk meberi keturunan yang banyak kepada
Rasulullah SAW. Kedua, bahwa Rasulullah SAW tidak hanya cukup bangga dengan jumlah
keturunan yang banyak, melainkan beliau akan lebih bangga karena ternyata banyak
sekali dari keturunan beliau yang menjadi orang berprestasi. Tentang dua hal ini,
sebenarnya saya telah menulisnya dalam buku saya yang berjudul “Dari Kanjeng
Nabi Sampai Kanjeng Sunan”. Namun masih sangat pas untuk dibicarakan
kembali pada buku ini. Keturunan
Rasulullah memenuhi belahan bumi. Ketika Al-Qasim, putra Rasulullah SAW, wafat dalam
usia masih kecil, terdengarlah berita duka itu oleh beberapa tokoh musyrikin, diantara
mereka adalah Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il. Mereka kegirangan dengan
berita itu, mereka mengejek Rasulullah SAW dengan mengatakan bahwa beliau tidak lagi
memiliki anak laki-laki yang dapat melanjutkan generasi keluarga beliau, sementara
orang Arab pada masa itu merasa bangga bila memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan
garis keturunan mereka. Untuk menjawab ejekan Abu Lahab dan ‘Ash bin
Wa’il itu, Allah menurunkan surat Al-Kautsar yang ayat pertamanya berbunyi:
%PFQN' #N9R7NJRFN'CN 'DRCNHR+N1N “Sesungguhnya Kami memberimu
karunia yang agung.”
Al-Kautsar artinya karunia yang agung, dan karunia yang dimaksud dalam ayat itu
adalah bahwa Allah akan member banyak keturunan pada Rasulullah SAW melalui putri
beliau, Fatimah Az-Zahra’. Sementara Abu lahab dan lsquo; Ash bin Wa’il
dinyatakan oleh ayat terakhir surat Al-Kautsar, bahwa justru merekalah yang tidak akan
memiliki keturunan, yaitu ayat.. %PFQN 4N'FP&NCN GOHN 'D#N(R*N1O
“Sesungguhnya orang yang mengejekmu itulah yang tidak sempurna (putus
keturunan).” Benarlah apa yang difirmankan oleh Allah, sampai kini keturunan
Rasulullah SAW, melalui Al-Hasan dan Al-Husain putra Fatimah Az-Zahra’, benarbenar memenuhi belahan bumi, baik mereka yang dikenal sebagai cucu Rasulullah oleh
masyarakat, maupun yang tidak.
Sekedar gambaran, saya memiliki banyak data tentang silsilah Ulama-ulama Pesantren
yang dikenal sebagai & ldquo; Kiai & rdquo; Indonesia, khususnya Jawa (termasuk
Madura), Hampir seratus persen dari mereka memiliki garis nasab pada Rasulullah SAW,
seperti Kiai-kiai keturunan keluarga Azmatkhan, Basyaiban dan sebagainya. Kemudian,
di berbagai daerah, kaum santri sangat didominan oleh keluarga-keluarga yang bernasab
sama dengan Kiai-kiai itu, bedanya hanya karena beberapa generasi sebelum mereka
tidak berprestasi seperti leluhur & ldquo; keluarga
Welcome to www.azmatkhanalhusaini.com|Dari sebuah keluarga untuk umat
http://azmatkhanalhusaini.com
Menggunakan Joomla!
Generated: 23 March, 2009, 05:20
Page 2
Kiai”, sehingga setelah selisih beberapa generasi, merekapun tidak dikenal
sebagai “keluarga Kiai”,
tapi hanya sebagai “keluarga santri”. Di Madura ada semacam
“pepatah” yang mengatakan
bahwa kalau ada santri yang sampai bisa membaca “kitab kuning” maka
pasti dia punya nasab pada
“Bhujuk”. Bhujuk adalah julukan buat Ulama-ulama zaman dulu yang
membabat alas dan
berda’wah di Madura. Semua Bhujuk Madura memiliki nasab pada Rasulullah
SAW. Kebanyakan mereka
keturunan Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus.
“Pepatah” itu memang hanya
dibicarakan di kalangan “orang awam”, namun kenyataan memang sangat
mendukung, hampir semua
masyarakat santri di Madura adalah keturunan “Bhujuk”, sehingga tidak
mustahil apabila di Madura orang
yang memiliki “darah Rasulullah” lebih banyak daripada yang tidak. Saya
banyak mendapati

perkampungan yang mayoritas penduduknya masih satu rumpun dari keturunan seorang
Bhujuk yang bernasab pada
semisal Sunan Ampel dan sebagainya. Mungkin hal itu akan menimbulkan pertanyaan
“mengapa bisa
demikian?”. Maka jawabannya adalah bahwa keluarga Bhujuk dan Kiai Madura
dari zaman dulu memiliki anak
lebih banyak daripada orang biasa, apalagi hampir semua mereka dari zaman dulu
-bahkan banyak juga yang sampai
sekarang- memiliki istri lebih dari satu, maka tentu saja setelah puluhan generasi maka
keturunan Bhujuk-bhujuk itu lebih
mendominan pulau Madura. Kalau ada yang berkata bahwa tidak semua Kiai keturunan
“Sunan” itu
bergaris laki-laki, bahkan kebanyakan mereka (?) adalah keturunan
“Sunan” dari perempuan, maka
pertanyaan itu justru dijawab dengan pertanyaan “kenapa kalau bergaris
perempuan?”. Islam dan
“budaya berpendidikan” telah “sepakat” untuk membenarkan
“status
keturunan” dari garis perempuan. Apabila ada orang yang membedabedakan
garis laki-laki dan perempuan maka
berarti orang itu bukan penganut paham Islam yang sebenarnya dan bukan pula
penganut “budaya
berpendidikan.” Dan lebih “tidak berpendidikan” lagi orang yang
mengatakan bahwa hubungan
nasab keturunan anak perempuan terputus dari ayah si perempuan. Paham ini berakibat
pada penolakan terhadap
keturunan Rasulullah sebagai Ahlulbayt, ada banyak orang Arab awam yang berkata
bahwa Rasulullah SAW tidak
memiliki keturunan dari anak laki-laki, Hasan-Husain adalah putra Fathimah yang berarti
putus nasab dari Rasulullah
SAW. Paham ini sebenarnya adalah warisan bangsa Arab jahiliyah yang pernah
diabadikan dalam syair mereka:
(NF@OHRFN' (NFOHR #N(RFN'&PFN' HN(N@FN'*OFN' (NFOHRGOFQN #N(RFN'!O
'D1PQ,N'DP 'D#N(N'9P/P
“Anak-anak kami adalah keturunan dari anak-anak laki-laki kami. Adapun anakanak perempuan kami,
keturunan mereka adalah anak-anak orang lain.” Cucu dari anak perempuan itu
hanya keluar dari deretan
daftar ahli waris, dalam istilah ilmu “Fara’idh” disebut
“mahjub” (terhalang untuk
mendapat warisan). Namun dalam deretan “dzurriyyah” (keturunan), cucu
dari anak perempuan tidak beda
dengan cucu dari anak laki-laki; mereka sama-sama cucu yang akan dipanggil
“anakku” oleh kakek yang
sama. Apabila kakek mereka adalah orang shaleh maka mereka sama-sama masuk
dalam daftar keturunan yang akan
mendapat berkah dan syafa’at leluhurnya, sebagaimana firman Allah:
HN'DQN0PJRFN "ENFOHR'
HN'*QN(N9N*RGOER 0O1QPJQN*OGOER (P%PJREN'FM #NDR-NBRFN' (PGPER
0O1QPJQN*NGOER ..
“Dan orang-orang yang beriman dan anak-cucu mereka mengikuti mereka dengan
beriman, maka Kami
gabungkan anak cucu mereka itu dengan mereka .. “ (Q.S. Ath-Thur : 21) Jadi,
madzhab kita adalah bahwa
cucu dari garis perempuan dan dari garis laki-laki itu sama-sama cucu, kalau kakek
mereka ulama shaleh maka insyaallah- mereka sama-sama akan mendapat berkah. Termasuk anak cucu Rasulullah
SAW, baik yang garis
silsilahnya laki-laki semua hingga ke Rasulullah SAW, maupun yang melaui garis
perempuan. Madzhab ini telah lama
dianut oleh Kiai-kiai keturunan Walisongo, terbukti dengan banyaknya kiai-kiai yang
menulis nasab mereka yang

bersambung pada Walisongo melalui garis perempuan. Terbukti pula dengan yang
dikenal oleh Kiai-kiai bahwa Syekh
Kholil adalah cucu Sunan Gunung Jati, padahal nasab Syekh Kholil pada Sunan
Gunung Jati melalui garis perempuan,
sedangkan dari garis laki-laki bernasab pada Sunan Kudus. Madzhab ini baru tergeser
sejak kedatangan orang-orang
Arab pendatang baru. Kebetulan, mereka datang dari sebuah budaya dan adat yang
memarginkan nasab garis
perempuan. Terus terang saja, di hadapan mereka, pada umumnya keturunan Walisongo
kalah fasih didalam berbahasa
Arab, penampilan dan perawakan juga kalah, ditambah lagi darah keturuan Walisongo
telah banyak bercampur dengan
darah pribumi yang “dingin”, membuat mereka pada umumnya
berpembawaan lembut. Nah, hal itulah
yang membuat keturunan Walisongo sering mengalah pada orang Arab pendatang baru,
termasuk mengalah dengan
klaim mereka bahwa pendapat yang benar adalah “terputusnya nasab garis
perempuan”. Bahkan
sebagian keturunan Walisongo -tentu saja yang tidak ‘alim-, saya lihat mereka
bukan mengalah, akan tetapi lebih
pas disebut “dibodohi”, mau-maunya mereka mecampakkan madzhab
leluhur demi mengikuti madzhab
baru yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kekuatan argumentasinya. Namun,
kenyataan juga membuktikan bahwa
ikut-ikutan mereka itu hanya ketika berhubungan dengan orang Arab pendatang baru.
Terbukti dengan komentar
seorang santri Madura yang saya anggap mewakili santri lain yang semadzhab, santri
itu pernah berkata pada
seseorang anak pasangan lelaki Madura dan perempuan Arab: “Kamu bukan
keturunan Arab, soalnya ibu kamu
yang Arab.” Sementara ketika ia ditanya tentang siapakah Kiai Abdullah Sachal,
maka kontan saja santri itu
menjawab: “Kiai Abdullah Sachal adalah keturunan Syekh Kholil
Bangkalan.” Padahal dia tahu persis
bahwa Kiai Abdullah Sachal adalah cucu Syekh Kholil dari garis ibu. Mengapa kalau
ibunya orang Arab disebut bukan
keturunan Arab, sedangkan kalau ibunya bernasab pada Syekh Kholil disebut
keturunan Syekh Kholil?! Tidak ada
seorangpun santri Madura yang berpikir -apalagi sampai berani bilang- bahwa Kiai
Abdullah Sachal putus nasab dari
Syekh Kholil. Ini menunjukkan kerancuan dan keraguan si santri didalam bermadzhab,
karena memang pada dasarnya
semua santri Jawa dan Madura lebih cenderung pada madzhab Kiai-kiai yang diwarisi
secara turun temurun sejak
Walisongo, bahwa tidak ada bedanya antara garis laki-laki dan garis perempuan, kecuali
dalam bab waris yang memang
telah dibedakan oleh Islam dengan suatu alasan yang positif dan rasional. Kembali ke
bab kita, bahwa di Madura
banyak terdapat keluarga-keluarga yang memiliki nasab pada Rasulullah, maka seperti di
Madura, begitu pula yang
Welcome to www.azmatkhanalhusaini.com|Dari sebuah keluarga untuk umat
http://azmatkhanalhusaini.com
Menggunakan Joomla!
Generated: 23 March, 2009, 05:20
terjadi di berbagai wilayah masyarakat Pesantren lainnya di Jawa. Maka bayangkan saja,
betapa keturunan Rasulullah
SAW telah memenuhi pulau Jawa, belum lagi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan lainlain. Ditambah dengan
“jamaah habaib” yang memang sudah dikenal dengan “status
menonjol” sebagai keturunan

Rasulullah SAW. Ini yang terjadi di Indonesia, dan demikian pula di negeri-negeri non
Arab yang lain, seperti Malaysia,
Brunei, Singapura, Thailand, Filipina, India, Pakistan, Afrika dan sebagainya. Banyak dari
mereka yang sudah membaur
dengan penduduk setempat sehingga mereka tidak lagi dikenal sebagai
“Habib”, “Sayyid”
atau julukan-julukan lainnya. Dalam kitabnya, “’Allimu Auladakum
Mahabbata Aalin Nabi”, Syekh
Page 3
Muhammad Abduh Yamani mengatakan bahwa di Afrika banyak terdapat orang-orang
kulit hitam yang ternayata
memegang sisilsilah pada Rasulullah. Hal itu dikarenakan leluhur mereka berbaur
dengan orang kulit hitam, bergaul dan
menikah dalam rangka menjalin hubungan sebagai jembatan da’wah. Kenyataan
ini menyimpulkan bahwa masih
banyak keturunan Rasulullah SAW yang tidak terdata dan tidak dikenal. Itu adalah
gambaran jumlah keturunan
Rasulullah SAW yang keluar dari tanah Arab dan tidak dikenal sebagai orang Arab.
Jumlah yang amat besar ditambah
dengan jumlah keturunan Rasulullah SAW yang di Arab. Maka kenyataan ini
membenarkan apa yang dinyatakan oleh
Allah SWT dalam surat Al-Kautsar, bahwa Rasulullah SAW akan diberi karunia agung
dengan memiliki keturunan yang
amat banyak. Sehingga kalau saja beliau dan orang-orang sezaman beliau masih hidup
saat ini, maka beliau akan
memiliki keluarga terbesar yang tak tertandingi oleh yang lain. Bisa jadi, bila kita
mengumpulkan semua keturunan
Rasulullah SAW sejak zaman beliau hingga kini, kemudian kita mengumpulkan seratus
orang dari sahabat-sahabat
beliau beserta keturunan mereka hingga kini, maka jumlah keturunan beliau akan
mengalahkan keturunan seratus orang
sahabat beliau. Anak cucu berprestasi Banyak anak itu identik dengan
“barokah”, dan memang dapat
dikatakan demikian, karena keturunan beriman itu sangat bermanfaat, walaupun mereka
tidak sampai menjadi orangorang hebat dan berprestasi. Adapun Rasulullah SAW, beliau tidak hanya bisa bangga
dengan banyak keturunan,
melainkan beliau lebih bangga lagi karena ternyata keturunan beliau banyak melahirkan
orang-orang hebat dan
berprestasi. Sebagai orang Asia, kita pantas tahu siapa orang-orang yang berjasa
mengislamkan negeri-negeri Asia ini.
Maka ketahuilah bahwa hampir semua mereka adalah keturunan Rasulullah SAW. Sering
terjadi perselisihan pendapat
tentang dari mana datangnya para penyebar Islam di negeri-negeri Asia, termasuk
Indonesia. Namun kalau diteliti maka
perselisihan itu ibarat tiga orang buta yang menggambarkan bentuk gajah. Yang
pertama berkata bahwa gajah itu mirip
daun yang lebar dan tebal, karena ia hanya pernah meraba telinga gajah. Yang kedua
berkata bahwa gajah itu mirip
cambuk, karena ia hanya pernah memegang ekornya. Yang ketiga berkata bahwa gajah
itu mirip pipa tapi lunak, karena
ia hanya pernah memegang belalainya. Demikianlah perumpamaan orang-orang yang
berselisih pendapat tentang dari
mana asal para pembawa Islam ke Indonesia. Ada yang berkata bahwa mereka berasal
dari India, karena ditemukan
batu-batu ukir khas Gujarat pada makam-makam mereka. Ada yang berkata bahwa
mereka berasal dari Persia, karena
di Persia terdapat sebuah perkampungan kuno yang dikenal dengan sebutan Kampung
Jawi. Ada yang berkata bahwa
mereka berasal dari Cina, karena Sunan Ampel adalah kelahiran Cina. Yang lain berkata
bahwa semua itu salah,

adapun yang benar adalah bahwa mereka berasal dari Arab. Semua pendapat itu
sebenarnya sama-sama benar.
Namun lebih gamblangnya adalah bahwa para penyebar Islam itu berasal dari Arab,
mereka keluar dari Arab dan mulai
masuk ke tanah India, kemudian mereka atau generasi penerus mereka melanjutkan
da’wah ke tanah Persia dan
daratan Cina sampai akhirnya masuk ke Indonesia. Kebanyakan mereka adalah keluarga
Ahlul-bayt (keluarga
Rasulullah SAW) keturunan Al-Husain, mereka datang dengan berbagai “profesi
lahiriah”, ada yang tampil
sebagai pedagang, politikus, pelancong dan sebaginya. Namun misi utama mereka
adalah memperkenalkan Islam pada
penduduk negeri-negeri. Sejarah mencatat bahwa kedatangan Sayyid Abdul Malik bin
Alawi ‘Ammil-faqih (kakek
keluarga Azmatkhan) mengawali sejarah Islam di India, sejarah juga mencatat
bagaimana putra beliau, Sayyid Abdullah
Azmatkhan, bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, kemudian keturunan beliau
juga mewarnai sejarah
da’wah di Pilihpina, Indonesia dan sekitarnya. Dalam buku berjudul
“Pembahasan Tuntas Perihal
Khilafiyah”, H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini menukil perkataan Van den Berg, bahwa
pengaruh islam di kalangan
pribumi Indonesia bersumber dari kaum Alawiyyin yang bergelar “Sayyid”
dan “Syarif”.
Berkat upaya dan kegiatan mereka itulah agama Islam tersebar di kalangan Kerajaan
Hindu di pulau Jawa dan di pulaupulau lainnya. Meskipun ada orang-orang lainnya yang berasal dari Hadhramaut, mereka
tidak mempunyai pengaruh
yang kuat. Kenyataan besarnya pengaruh kaum “Sayyid” dan kaum
“Syarif” terpulang pada
martabat mereka sebagai keturunan seorang Nabi dan Rasul pembawa agama Islam,
yakni Nabi Muhammad SAW. AlHamid juga menukil perkataaan Snouck Hurgronje yang menyatakan bahwa sebagian
besar penyebar agama Islam
datang dari negeri jauh. Kebanyakan mereka dipanggil “Sayyid” karena
mereka dari keturunan Al-Husain
bin Ali, cucu Nabi Muhammad. Tidak sedikit dari mereka yang sukses berda’wah
dengan memanfaatkan
kedudukan, merekapun menunjukkan kecakapan mereka didalam hal memimpin hingga
merekapun dipercaya untuk
memimpin sebuah Kerajaan, dan setelah mereka menjadi penguasa maka merekapun
menerapkan hukum Islam
sebagai landasan pemerintahan Kerajaan mereka. Buku “Sejarah Serawak”
di perpustakaan
“Rafles”, di Singapura, menyebutkan bahwa Sultan Barakat adalah seorang
keturunan Al-Husain.
Dijelaskan pula bahwa beliau datang dari Tha’if dengan sebuah kapal perang
yang sangat terkenal pada saat itu.
Nasab beliau adalah Barakat bin Thahir bin Isma’il (terkenal dengan nama julukan
“Al-Bashriy“) bin
Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir. Disebutkan pula bahwa kaum Syarif di Makkah pada
umumnya adalah keturunan AlHasan, mereka tidak melakukan penyebaran Islam ke seberang lautan. Adapun yang
menyebarkan Islam hingga ke
seberang lautan adalah kaum Sayyid keturunan Al-Husain yang berasal dari
Hadhramaut. Kegiatan itu lebih gencar
mereka lakukan setelah terjadinya penyerbuan kaum Khawarij sekte Abadhiyyah
terhadap Hadhramaut. Kota tempat
mereka bermukim adalah Bait Al-Jabir, termasuk pusat perniagaan di negeri itu. Mereka
mengumpulkan bekal dari
Mirbath, kemudian diangkut dengan kafilah ke Yaman. Disebutkan pula: Sejarah kaum
muslimin Filipina dan sejarah

Sulu menyebutkan bahwa mereka berasal dari keturunan ‘Abdullah bin Alawi
Ammul-Faqih bin muhammad
Welcome to www.azmatkhanalhusaini.com|Dari sebuah keluarga untuk umat
http://azmatkhanalhusaini.com
Menggunakan Joomla!
Generated: 23 March, 2009, 05:20
Shahib Mirbath. Sayyid Abdullah bin Alawi adalah bersaudara dengan Sayyid Abdul Malik
(kakek marga Azmatkhan)

Page 4
dan Sayyid Abdurrahman (kakek marga Al-Haddad dsb.). Semula, keturunan Sayyid
Abdullah dianggap telah putus
generasi, karena mereka meninggalkan Hadhramaut dan tidak ada kabar tentang
mereka, sehingga pada beberapa
generasi yang lalu Ulama ahli nasab tidak mencatat Sayyid Abdullah sebagai nenek
moyang yang memiliki keturunan.
Namun kini mereka telah mengetahui bahwa sejarah Filipina telah mencatat keberadaan
keturunan beliau, walaupun
sampai saat ini saya belum tahu apakah mereka sudah mengadakan kontak dengan
keluarga yang di Yaman atau tidak.
Saya pernah beberapakali melihat poster silsilah di beberapa rumah Habib, dimana distu
ada kesalahan dengan
menulis Abdullah ini sebagai pemilik gelar “Azmatkhan”, mungkin
penyusunnya salah menukil atau tertukar
nama dengan Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan, karena memang
–nampaknya- nama belakang Azmatkhan
lebih populer ditulis dibelakang nama Abdullah bin Abdul Malik ketimbang dibelakang
nama Abdul Malik-nya. Mungkin
hal itu membuat penyusun poster itu menganggap bahwa Abdullah adalah orang
pertama yang bergelar Azmatkhan,
dan Abdullah pun tertukar lagi antara Abdullah bin Abdul Malik dan Abdullah bin Alawi
(saudara Abdul Malik). Maka bagi
yang memiliki poster itu saya harap untuk mencoretnya dan memberi catatan sebagai
koreksi agar tidak terjadi
kesalahan didalam mengambil referensi. Da’i-da’i Ahlul-bayt bukan hanya
memperkenalkan Islam pada
orang-orang Asia, melainkan mereka juga mengajarkan budaya pelestarian dan
pembukuan sejarah. Al-Hamid menukil
bahwa di dalam buku berjudul “Department of The Interior Ethnological Survey
Publication Studies in Moro History
Law Relegioan“ (Manila Bireau of Republic Printing 1905), didalam menyebut
sejarah Mindanau, Naqeeb M.
Saleeby berkata: “Sebelum kedatangan Islam tidak terdapat data sejarah yang
akurat, dan tidak terdapat pula
kisah atau cerita-cerita yang diingat orang. Setelah kedatangan Islam barulah tampak
penyebaran ilmu (pengetahuan),
peradaban dan berbagai kegiatan. Undang-undang Dasar yang baru ditetapkan bagi
negara, ketentuan-ketentuan
hukum tertulis ditetapkan dan silsilah serta cabang-cabang keturunan dari orang besar
dibakukan, kemudian dengan
hati-hati dan dijaga baik-baik oleh semua Sultan dan para bangsawan”. Silsilah
tersebut dibakukan dalam sebuah
catatan sejarah yang tertulis dengan bahasa Melayu tinggi, terjemahannya dalam
bahasa Indonesia adalah sebagai

berikut: “Alhamdulillah, saya yakin sepenuhnya bahwa Allah menjadi saksi atas
saya. Buku catatan ini berisi
silsilah Rasulullah SAW (yaitu mereka) yang tiba di Mindanau. Sebagaimana diketahui,
Rasulullah SAW mempunyai
seorang putri bernama Fatimah Az-Zahra. Putri itu melahirkan dua orang Syarif... dst.
Keturunan dari Muhammad (AlBaqir) putra (Ali) Zainal Abidin (yakni mereka yang datang dari Johor) ialah Ahmad bin
Abdullah bin Muhammad bin Ali
bin Abdullah (Saudara Sayyid Abdul Malik Azmatkhan) bin Alawi Ammil-Faqih...
dst.” Dalam bukunya,
“Sejarah Umat Islam”, HAMKA mengatakan bahwa banyak kaum Sadah
(Alawiyyin) dan keturunan para
sahabat Nabi yang datang dari Malabar. Dikatakan juga bahwa Syarif Ali AdDa’iyah menikah dengan keponakan
Sultan Muhammad, Sultan Brunai. Kemudian setelah Sultan Muhammad wafat maka
Kesultanan diserahkan kepada
adik Sultan Muhammad yang bernama Ahmad, setelah Sultan Ahmad meninggal maka
dinobatkanlah Syarif Ali sebagai
Sultan, maka beliaupun menjadi Sultan ketiga Brunai Darussalam. Syarif Ali adalah
seorang keturunan Al-Hasan, marga
beliau adalah Al-Bulkhi atau Al-Bulqiyah. Dengan huruf latin mereka biasa menulisnya
“Al-Bolkiah”, seperti
Sultan Hasan Al-Bolkiah. HAMKA juga mengatakan bahwa orang-orang keturunan Arab,
khususnya kaum Sayyid,
mendapatkan kedudukan dan martabat sangat terhormat. Keturunan mereka memegang
tampuk kesultanan Aceh.
Sultan yang pertama adalah Sultan Badrul Alam Asy-Syarif Hasyim Jamalullail (16991702). Demikian pula dengan
Sultan-sultan Kesultanan Siak, Kesultanan Perlis dan Kesultanan Pontianak, mereka
adalah kaum Alawiyyin. Dari
riwayat-riwayat itu, kita dapat membayangkan bagaimana senyum Rasulullah SAW
ketika beliau menyaksikan keturunan
beliau telah memenuhi dan menerangi bumi ini dengan cahaya Islam. Termasuk cucu
beliau, Syekh Kholil Bangkalan,
yang telah banyak berjasa menyebarkan ilmu dan da’wah Islam di pulau
Madura, Jawa dan sekitarnya. [*]
Welcome to www.azmatkhanalhusaini.com|Dari sebuah keluarga untuk umat
http://azmatkhanalhusaini.com
Menggunakan Joomla!
Generated: 23 March, 2009, 05:20