Anda di halaman 1dari 1

STASIUN KERETA API BANDARA KUALANAMU BANGGA JADI YANG PERTAMA

DI SUMATERA???
Seperti yang kita ketahui, bandara internasional Kualanamu telah selesai dibangun dan
diresmikan. Bandara ini menjadi satu-satunya bandara di Sumatera dengan fasilitas stasiun
kereta api di dalamnya. Adapun tujuan utama dibuatnya Stasiun Kereta Api ini adalah untuk
mengurangi kemacetan yang terjadi di kota Medan seiring dengan beroperasinya bandara
Kualanamu. Secara logika memang fasilitas ini seharusnya dapat mengurangi kemacetan
yang terjadi, namun kenyataannya kesiapan stasiun tidak sejalan dengan infrastruktur lainnya.
Yaitu jalan raya, jalur rel kereta api, dan yang paling utama, kurangnya lahan parkir.
Mengapa?
Yang pertama, pada awal promosi, stasiun ini menawarkan jadwal check-in yang fantastis
yaitu setiap 60 menit sekali. Kenyataannya interval keberangkatan kereta paling lama hampir
selama setiap 2 jam sekali. Kemungkinan yang paling mungkin, pemerintah juga tidak berani
ambil resiko akan adanya kemacetan di pintu perlintasan KA di jalan-jalan utama Kota
Medan jika setiap 60 menit sekali akan ada kereta api yang lewat dari dan menuju bandara
Kualanamu. Belum lagi kereta yang harus lewat dari daerah-daerah lain. Seperti misalnya di
pintu rel Jl.S.M. Raja dan Jl.Thamrin yang memang selalu macet dan ramai.
Yang kedua, dari penjelasan di atas, timbul lagi masalah. Yaitu, kebanyakan penumpang
memilih naik taksi atau minta dijemput daripada check-in di Stasiun KA Bandara Kualanamu
dan harus menunggu selama 2 jam. Hal ini juga tentu akan memperparah kemacetan di jalan
raya, terutama di Simpang Kayu Besar Kecamatan Tanjung Morawa dan daerah pintu tol
Amplas-Tanjung Morawa sebagai jalan utama dari arah Medan menuju bandara. Kemacetan
yang sangat parah ini saya alami sebagai pengguna jalan yang melewati jalan lintas ini setiap
hari menuju kampus.
Yang ketiga, selain kemacetan di daerah Tanjung Morawa, kemacetan parah juga terjadi di
area Stasiun Kota Medan dekat Lapangan Merdeka. Penyebabya adalah tidak tersedianya
lahan parkir untuk kendaraan-kendaraan yang akan menjemput dan mengantar penumpang
kereta. Ditambah dengan pengantar dan penjemput penumpang yang tetap menggunakan
akses kereta api khusus bandara Kualanamu. Sedangkan PT. KAI tidak mengizinkan
kendaran-kendaraan tersebut parkir di badan jalan depan stasiun. Memang kendaraan
terutama mobil bisa parkir di area Lapangan Merdeka. Namun tentu saja lahan parkir yang
dibutuhkan masih kurang.
Dalam kasus-kasus yang telah dijelaskan di atas, menurut saya tim proyek bandara
Kualanamu seharusnya mempertimbangkan lebih matang tentang proyek stasiun ini juga
akibat-akibat yang akan muncul jika infrastruktur kota yang lain tidak terpenuhi. Jadi dari
masalah di atas yang salah bukan hanya kesiapan sistem pengelolaan stasiun di bandara
melainkan juga kesiapan jalan-jalan pendukung. Dalam hal ini arsitek terutama yang
berhubungan dengan Urban Design sangat berperan dan turut bertanggung jawab dalam
mengatur tata Kota Medan seperti misalnya mempersiapkan jalan raya dan jalur kereta api
baru atau mengusahakan area parkir basement yang mungkin dapat mengatur Kota Medan
dengan adanya bandara Kualanamu ini. Fasilitas KA khusus bandara harus dipikirkan secara
lebih matang sebelum BERANI dibuat dan diresmikan. Stasiun KA dalam bandara
seharusnya dapat benar-benar mengatasi kemacetan dan memudahkan masyarakat. Bukan
hanya sebagai bangga-banggaan atau sumber penambah kekayaan bagi pihak tertentu.