Anda di halaman 1dari 8

BAHASA PERGAULAN, BAHASA LISAN DAN

TULISAN
I.

Pendahuluan
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang mempunyai peranan penting
dalam kehidupan manusia. Manusia sudah menggunakan bahasa sebagai alat
komunikasi antar sesamanya sejak berabad-abad silam. Bahasa hadir sejalan dengan
sejarah sosial komunitas-komunitas masyarakat atau bangsa. Pemahaman bahasa
sebagai fungsi sosial menjadi hal pokok manusia untuk mengadakan interaksi sosial
dengan sesamanya. Bahkan bahasa itu tidak pernah lepas dari manusia, dalam arti, tidak
ada kegiatan manusia yang tidak di sertai bahasa.
Bahasa bersifat arbitrer yang bisa di artikan sewenang-wenang, berubah-ubah,
tidak tetap, mana suka. Oleh karena itu, bahasa sangat terkait dengan budaya dan
sosial ekonomi suatu masyarakat penggunanya. Hal ini memungkinkan adanya
diferensiasi kosakata antara satu daerah dengan daerah yang lain. Di samping itu
keheterogenitasan bangsa Indonesia penyebab utama bagi keberagaman bahasa-bahasa
di Indonesia.

II.

Pengertian
Ragam bahasa merupakan salah satu dari bagian dari variasi bahasa yang
berkenaan dengan penggunaannya, pemakaiannya atau fungsinya (fungsiolek), atau
register.
Perkembangan bahasa yang tergantung pada pemakainya, bahasa itu terikat
secara sosial, dikontruksi, dan direkonstruksi dalam kondisi sosial tertentu daripada
tertata menurut hukum yang diatur secara ilmiah dan universal. Disamping fungsi
sosial, bahasa tidak terlepas dari perkembangan budaya manusia. Bahasa berkembang
sejalan dengan perkembangan budaya manusia. Bahasa dalam suatu masa tertentu
mewadahi apa yang terjadi di dalam masyarakat.
Dalam masyarakat tutur tertentu, masih mengenal system sratafikasi yang kental,
misalnya bagi masyarakat bangsawan atau golongan priyayi. Sebagaimana

bagi

kelompok tutur, bahasa tutur generasi tua berbeda bahasa tutur generasi muda.
Umumnya perbedaan itu menonjol pada fitur linguistik antara keduanya. Fitur
kebahasaan generasi tua jarang di temukan pada generasi muda, begitu pula sebaliknya,
fitur linguistik generasi muda jarang di gunakan oleh generasi tua.

Salah satu ciri atau sifat bahasa yang hidup dan dipakai di dalam masyarakat, apa
pun dan di manapun bahasa tersebut digunakan, akan selalu terus mengalami
perubahan. Bahasa akan terus berkembang dan memiliki aneka ragam atau variasi, baik
berdasarkan kondisi sosiologis maupun kondisi psikologis dari penggunanya. Oleh
karena itu, dikenal ada variasi atau ragam bahasa pedagang, ragam bahasa
pejabat/politikus, ragam bahasa anak-anak, termasuk ragam bahasa gaul.
III.

Bahasa Gaul
Di dalam suatu masyarakat terdapat dua klasifikasi situasi pemakaian bahasa:
1.
Situasi resmi atau formal, pada situasi ini seseorang dituntut untuk
menggunakan bahasa baku, yang disebabkan oleh situasi resmi, misalnya:
pada acara seminar, pidato kenegaraan bagi kepala Negara, dalam acara
2.

rapat, dan lain sebagainya.


Situasi tidak resmi atau informal, pemakaian bahasa tidak resmi di
pengaruhi oleh situasi tidak resmi. Kuantitas pemakaian bahasa ini banyak
tergantung pada tingkat keakraban pelaku yang terlibat dalam komunikasi,
pada bahasa tidak resmi bahasa baku di kesampingkan dan tidak lagi
memperhatikan kaidah-kaidah bahasa akan tetapi yang diprioritaskan
adalah antara pemakai bahasa dan yang lawan bicaranya bisa saling
mengerti. Situasi pemakaian bahasa ini digunakan misalnya, pada
komunikasi remaja di sebuah mal, interaksi penjual dan pembeli, dan lainlain. Dari ragam tidak resmi tersebut, selanjutnya memunculkan istilah yang
disebut dengan istilah bahasa gaul.

Bahasa gaul remaja merupakan bentuk bahasa tidak resmi yang Hampir semua
istilah yang digunakan bahasa rahasia di antara mereka yang bertujuan untuk
menghindari campur tangan orang lain. Oleh karenanya bahasa gaul remaja
berkembang seiring dengan perkembangan zaman, maka bahasa gaul dari masa ke
masa berbeda. Tidak mengherankan apabila bahasa gaul remaja digunakan dalam
lingkungan dan kelompok sosial terbatas, yaitu kelompok remaja. Hal ini berarti bahwa
bahasa gaul hanya digunakan pada kelompok sosial yang menciptakannya. Anggota di
luar kelompok sosial tersebut sulit untuk memahami makna bahasa tersebut.
Saat ini bahasa gaul telah banyak terasimilasi dan menjadi umum. Bahasa gaul
sering digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan
sosial bahkan dalam media-media populer serperti TV, radio, dunia perfilman nasional,
dan digunakan sebagai publikasi yang ditujukan untuk kalangan remaja oleh majalah-

majalah remaja populer. Oleh sebab itu, bahasa gaul dapat disimpulkan sebagai bahasa
utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh setiap orang dalam kehidupan
sehari-hari.
Seperti halnya bahasa lain, bahasa gaul juga mengalami perkembangan.
Perkembangan tersebut dapat berupa penambahan dan pengurangan kosakata. Tidak
sedikit kata-kata yang akan menjadi kuno (usang) yang disebabkan oleh trend dan
perkembangan zaman. Maka dari itu, setiap generasi akan memiliki ciri tersendiri
sebagai identitas yang membedakan dari kelompok lain. Dalam hal ini, bahasalah
sebagai representatifnya.
Namun tidak dapat di pungkiri bahwa kehadiran bahasa gaul menimbulkan
kekhawatiran tersendiri akan terkikisnya bahasa Indonesia yang baik dan benar di
tengah arus globalisasi. Kecenderungan masyarakat ataupun para pelajar menggunakan
bahasa asing dalam percakapan sehari-hari semakin tinggi. Dan yang lebih parah makin
berkembangnya bahasa slank atau bahasa gaul yang mencampuradukkan bahasa
daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
Bahasa gaul sebenarnya sudah ada sejak tahun 1970-an. Awalnya istilah-istilah
dalam bahasa gaul itu digunakan untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas
tertentu. Tapi karena intensitas pemakaian tinggi, maka istilah-istilah tersebut menjadi
bahasa sehari-hari.
Hal ini sejalan dengan halaman Wilimedia Ensiklopedi Indonesia (2006), yang
menyatakan bahwa bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia
sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an.
Dalam sebuah milis (2006) disebutkan bahwa bahasa gaul memiliki sejarah
sebelum penggunaannya populer seperti sekarang ini. Sebagai bahan teori, berikut
adalah sejarah kata bahasa gaul tersebut:
1. Nih Yee
Ucapan ini terkenal di tahun 1980-an, tepatnya November 1985. Pertama
kali yang mengucapkan kata tersebut adalah seorang pelawak bernama
Diran. Selanjutnya dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah dan popular
hingga saat ini.
2. Memble dan Kece
Dalam milis tersebut dinyatakan bahwa kata memble dan kece merupakan
kata-kata ciptaan khas Jaja Mihardja. Pada tahun 1986, muncul sebuah film
berjudul Memble tapi Kece yang diperankan oleh Jaja Mihardja ditemani
oleh Dorce Gamalama.

3. Booo
Kata ini popular pada pertengahan awal 1990-an. Penutur pertama kata
Booadalah grup GSP yang beranggotakan Hennyta Tarigan dan Rina
Gunawan. Kemudian kata-kata dilanjutkan oleh Lenong Rumpi dan
menjadi popular di lingkungan pergaulan kalangan artis. Salah seorang artis
bernama Titi DJ kemudian disebut sebagai artis yang benar-benar
mempopulerkan kata ini.

4.

Nek
Setelah kata Boo popular, tak lama kemudian muncul kata-kata Nek...
yang dipopulerkan anak-anak SMA di pertengahan 90-an. Kata Nek
pertama kali di ucapkan oleh Budi Hartadi seorang remaja di kawasan
kebayoran yang tinggal bersama neneknya. Oleh karena itu, lelaki yang
latah tersebut sering mengucapkan kata Nek

5. Jayus
Di akhir dekade 90-an dan di awal abad 21, ucapan jayus sangat popular.
Kata ini dapat berarti sebagai lawakan yang tidak lucu, atau tingkah laku
yang disengaca untuk menarik perhatian, tetapi justru membosankan.
Kelompok yang pertama kali mengucapkan kata ini adalah kelompok anak
SMU yang bergaul di kitaran Kemang.
Asal mula kata ini dari Herman Setiabudhi. Dirinya dipanggil oleh temantemannya Jayus. Hal ini karena ayahnya bernama Jayus Kelana, seorang
pelukis di kawasan Blok M. Herman atau Jayus selalu melakukan hal-hal
yang aneh-aneh dengan maksud mencari perhatian, tetapi justru menjadikan
bosan teman-temannya. Salah satu temannya bernama Sonny Hassan atau
Oni Acan sering memberi komentar jayus kepada Herman. Ucapan Oni
Acan inilah yang kemudian diikuti teman-temannya di daerah Sajam,
Kemang lalu kemudian merambat populer di lingkungan anak-anak SMU
sekitar.
6. Jaim
Ucapan jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs. Sutoko Purwosasmito,
seorang pejabat di sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada
anak buahnya untuk menjaga tingkah laku atau menjaga image gitu.
7. Gitu Loh(GL)

Kata GL pertama kali diucapin oleh Gina Natasha seorang remaja SMP di
kawasan Kebayoran. Gina mempunyai seorang

kakak bernama Ronny

Baskara seorang pekerja event organizer. Sedangkan Ronny punya teman


kantor bernama Siska Utami. Suatu hari Siska bertandang ke rumah Ronny.
Ketika dia bertemu Gina, Siska bertanya dimana kakaknya, lantas Gina
ngejawab di kamar, Gitu Loh. Esoknya si Siska di kantor ikut-ikutan latah
dia ngucapin kata Gitu Lohdi tiap akhir pembicaraan.
IV.

Bahasa Lisan & Tulisan


Ragam Bahasa Lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media
lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu
pemahaman. Ciri-ciri ragam bahasa lisan diantaranya Memerlukan kehadiran orang
lain, Unsur gramatikal tidak dinyatakan secara lengkap, Terikat ruang dan waktu dan
Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara. Ragam bahasa lisan memiliki beberapa
kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan ragam bahasa lisan diantaranya sebagai
berikut:

Dapat disesuaikan dengan situasi.

Faktor efisiensi.

Faktor kejelasan karena pembicara menambahkan unsur lain berupa tekan dan
gerak anggota badan agar pendengar mengerti apa yang dikatakan seperti situasi,
mimik dan gerak-gerak pembicara.

Faktor kecepatan, pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang
dibicarakannya.

Lebih bebas bentuknya karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa
yang dituturkan oleh penutur.

Penggunaan bahasa lisan bisa berdasarkan pengetahuan dan penafsiran dari


informasi audit, visual dan kognitif.

Sedangkan kelemahan ragam bahasa lisan diantaranya sebagai berikut:

Bahasa lisan berisi beberapa kalimat yang tidak lengkap, bahkan terdapat frasefrase sederhana.

Penutur sering mengulangi beberapa kalimat.

Tidak semua orang bisa melakukan bahasa lisan secara baik.

Aturan-aturan bahasa yang dilakukan seringkali menggunakan ragam tidak


formal.
Ragam bahasa tulis adalah ragam bahasa yang digunakan melalui media tulis,

tidak terkait ruang dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur sampai pada
sasaran secara visual atau bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan
huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara
penulisan dan kosakata. Ciri-ciri ragam bahasa tulis adalah sebagai berikut:
a. Tidak memerlukan kehadiran orang lain.
b. Unsur gramatikal dinyatakan secara lengkap.
c. Tidak terikat ruang dan waktu
d. Dipengaruhi oleh tanda baca atau ejaan.
Sama halnya dengan ragam bahasa lisan, ragam bahasa tulis juga memiliki
kelemahan dan kelebihan. Adapun kelebihan dari ragam bahasa tulis diantaranya:

Informasi yang disajikan bisa dipilih untuk dikemas sebagai media atau materi
yang menarik dan menyenangkan.

Umumnya memiliki kedekatan budaya dengan kehidupan masyarakat.

Sebagai sarana memperkaya kosakata.

Dapat digunakan untuk menyampaikan maksud, membeberkan informasi atau


mengungkap unsur-unsur emosi sehingga mampu mencanggihkan wawasan
pembaca.

Sedangkan kelemahan dari ragam bahasa tulis siantaranya sebagai berikut:

Alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada
akibatnya bahasa tulisan harus disusun lebih sempurna.

Tidak mampu menyajikan berita secara lugas, jernih dan jujur, jika harus
mengikuti kaidah-kaidah bahasa yang dianggap cenderung miskin daya pikat dan
nilai jual.

Yang tidak ada dalam bahasa tulisan tidak dapat diperjelas/ditolong, oleh karena
itu dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar.
Berdasarkan beberapa ciri serta kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh

ragam bahasa lisan maupun tulis, berikut ini dapat disimpulkan beberapa perbedaan
diantara kedua ragam bahasa tersebut.

Bahasa lisan didukung isyarat paralinguistik.

Bahasa tulis dapat menyimpan informasi tanpa bergantung pada ruang dan waktu.

Bahasa tulis dapat memindahkan bahasa dari bentuk oral ke bentuk visual,
memungkinkan kata-kata lepas dari konteks aslinya.

Sintaksis bahasa lisan kurang terstruktur dibandingkan dengan sintaksis bahasa


tulis.

Bahasa tulis banyak mengandung penanda metalingual yang menghubungkan


antara frasa-klausa.

Struktur bahasa tulis umumnya subjek-predikat, bahasa lisan memiliki struktur


topik-sebutan (topic-comment) (Givon).

Bahasa lisan jarang menggunakan konstruksi pasif.

Bahasa lisan sering mengulangi bentuk sintaksis.

Bahasa lisan dapat diperhalus sambil terus berbicara.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.psychologymania.com/2012/12/sejarah-bahasa-gaul.html

2. http://niethazakia.blogspot.com/2013/03/ragam-bahasa-kajian-tentang-bahasagaul.html
3. http://afifahputeri.wordpress.com/2013/10/19/perbedaan-ragam-bahasa-lisan-danragam-bahasa-tulis/