Anda di halaman 1dari 2

Flavor atau Essence adalah kesan sensorik dari makanan atau minuman yang di proses secara

kimia (sintetis) agar menyerupai rasa dari bahan alaminya, dan biasanya rasa dari sebuah agen
flavor/essence ditentukan oleh indera perasa dari penampakan, rasa dan baunya. Indera perasa
yang mendeteksi rasa di mulut dan tenggorokan serta suhu dan tekstur dari sebuah flavorist, juga
sangat penting dalam menentukan keseluruhan kualitas rasa dari sebuah flavor/essence tersebut,
dengan demikian, rasa dari sebuah bahan alami dapat diubah menjadi bahan buatan atau bahan
sintetis (proses kimia) yang mampu menciptakan kesan rasa yang hampir sama dengan bahan
alaminya.
Flavorist/essence didefinisikan sebagai zat yang memberikan rasa substansi lain, mengubah
karakteristik zat terlarut, menyebabkan ia menjadi manis, asam dll.
Meskipun istilah flavor/essence dalam bahasa umum menunjukkan sensasi kimia dari
gabungan rasa dan bau, namun kualitas rasa dari flavorist/essence tersebut lebih baik dari bahan
alaminya, Karena biaya tinggi atau kurang tersedianya ekstrak rasa alami, maka diciptakanlah
ekstrak rasa buatan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, ekstrak rasa buatan yang paling
komersial adalah sifat-identik, yang berarti bahwa ekstrak rasa buatan tersebut adalah
produk/hasil kimia yang setara dengan rasa alami tetapi disintetis secara kimia dan bukan
diekstrak dari sumber bahan alami.
Kebanyakan rasa buatan adalah campuran khusus dan sering terdiri dari
senyawa kompleks tunggal dari rasa alami yang digabungkan bersama-sama
baik meniru atau meningkatkan rasa dari bahan alaminya. Campuran ini
dirumuskan untuk memberikan rasa yang unik dari suatu produk
makanan/minuman dan untuk menjaga konsistensi rasa antara batch produk
yang berbeda atau setelah perubahan resep agar kualitasnya terjaga,
berbagai macam senyawa kimia yang dapat dijadikan sebagai
flavor/essence dari bahan alaminya dapat dilihat pada table di bawah

Senyawa yang digunakan untuk menghasilkan rasa buatan hampir sama


dengan yang terjadi secara alami. Ini telah dikemukakan bahwa rasa buatan
mungkin lebih aman untuk dikonsumsi daripada rasa alami karena standar
kemurnian dan konsistensi campuran yang ditegakkan baik oleh perusahaan
atau oleh hukum. Rasa alami mungkin masih mengandung kotoran dari
sumbernya, sementara rasa buatan biasanya lebih murni dalam proses

pembuataanya dan diharuskan untuk menjalani tes lebih dahulu sebelum


dijual untuk dikonsumsi.