Anda di halaman 1dari 3

Hamidin Hasan Iqbal

210110140220
Jurnalistik B

Komunikasi lintas budaya


Verbal
(Pengalaman Pribadi)
Sewaktu saya di SMA, saya memiliki teman yang berasal dari Betawi asli dia
bernama Ali. Ketika saya sedang bermain dirumah nya ia mengajak saya untuk mencari
makan disekitar dekat rumahnya. Saya pun bertanya,
saya : naek apa kita kesana?
ali pun menjawab pertanyaan saya dengan bahasa betawi yang sering dia pakai kalau
sedang berada di lingkungan rumahnya yang memang orang betawi semua.
Ali : orang Cuma di depan aje, kite ngesot aja dah.
Saya : ngapain ngesot ditengah jalan, jalan kaki aja weh.
Dia pun menjawab dengan malu-malu dan sambil tertawa.
Ali : ya itu maksudnya gw. Hehe
Tenyata ngesot itu menurut bahasa betawi adalah berjalan kaki. Dan setelah kejadian itu
saya selalu mengejek ali dengan kata ngesot.

Verbal
(Pengalaman pribadi)
Pada saat berlibur bersama teman sma ke Bali, ketika sesampainya disana teman
saya mengajak makan disebuah restoran yang tidak jauh dari bandara sekaligus ia sudah
ditunggu saudaranya yang tinggal di Bali. Sesampainya saya disana saya dan teman-teman
langsung bertemu saudara teman saya dan menyuruh kami memesan makanan sebanyakbanyaknya. Kesempatan ini tentu saja tidak akan saya sia-siakan, saya memesan makanan
yang cukup banyak. Setelah saya selesai makan saya berkata kenyang banget dengan
suara yang cukup keras. Saya menjadi heran mengapa setelah saya berkata kenyang
orang-orang yang ada disekitar melihat saya dengan tersenyum? Di dalam hati saya
bertanya tanya kenapa orang-orang pada ketawa.
Saudara teman saya memberi tahu bahwa arti kenyang dalam bahasa bali adalah
terangsang. Pada saat itu saya menjadi malu dan langsung meminta teman saya untuk
cepat-cepat pergi dari restoran tersebut. Di perjalanan kami terus tertawa akibat kejadian
yang tadi itu.

Kepercayaan
(pengalaman teman)
Baru-baru ini teman saya mengunjungi suku baduy yang berada di kampung cibeo,
Kabupaten lebak, Provinsi Banten. Teman saya begitu terkesima manakala mereka masih
memegang teguh adat istiadat di tengah modernisasi saat ini. Orang baduy memang banyak
yang menikah muda atau istilahnya pernikahan dini. Lanjut ke cerita awal, teman saya
mengobrol dengan salah satu penduduk suku baduy ia bercerita bahwa menikah di baduy
dalam tidak melalui proses pacaran tetapi dijodohkan langsung dengan orang tua. Dan
pastinya dijodohkan dengan orang baduy dalam juga.
"kalau ga suka sama jodohnya bagaimana?" salah satu teman saya bertanya
"ya hanya di pendam saja dalam hati" safri pun menjawab dengan malu-malu

walau begitu, safri bercerita bahwa kehidupannya setelah menikah seperti orang pacaran.
tak ada perselisihan dari mereka bahkan selalu menerima kekurangan maupun kelebihan
dari pasangan masing-masing. so sweet!