Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. STATUS GIZI
1. Pengertian status gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan
dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2003). Keadaan gizi seseorang dapat
di katakan baik bila terdapat keseimbangan antara perkembangan fisik dan
perkembangan mental intelektual (Kardjati, dkk, 1985).
Status gizi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu konsumsi makanan dan
kesehatan. Konsumsi makanan dipengaruhi zat gizi dalam makanan, program
pemberian makanan dalam keluarga, kebiasaan makan, pemeliharaan,
kesehatan, daya beli keluarga dan lingkungan fisik dan sosial (Supariasa, dkk,
2002)
2. Penilaian status gizi
Penilaian status gizi di masyarakat dapat dilakukan secara langsung
maupun tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi
menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik.
Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung yaitu survei konsumsi
makanan, statistik vital dan faktor ekologi (Supariasa, dkk, 2002)
a.

Penilaian status gizi secara langsung

1. Penilaian secara antropometri


Merupakan pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari
berbagai tingkat umur antara lain : Berat badan, tinggi badan, lingkar
lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit. Antropometri telah lama di
kenal sebagai indikator sederhana untuk penilaian status gizi perorangan
maupun masyarakat. Antropometri sangat umum di gunakan untuk
mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan
energi dan protein. (Supariasa, dkk, 2002)

Kelemahan

dan

kelebihan

masing-masing

indeks

seperti

diuraikan berikut ini :


a. Berat badan menurut umur (BB/U)
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran
masa tubuh. Masa tubuh sangat sensitive terhadap perubahan-perubahan yang
menadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu
makan atau menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi dan lebih
menggambarkan status gizi seseorang saat ini (current nutritional status)
(Supariasa, dkk, 2002)
1. Kelebihan
a. Lebih mudah dan lebih di mengerti oleh masyarakat.
b. Baik untuk mengukur status gizi akut maupun kronis.
c. Berat badan dapat berfluktuasi.
d. Sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil.
e. Dapat mendeteksi kegemukan.
2. Kelemahan
a. Dapat mengakibatkan interpretasi satatus gizi yang keliru bila terdapat
asites odema.
b. Data umur sulit ditaksir secara tepat karena pencatatan umur yang
belum baik.
c. Memerlukan data umur yang akurat, terutama untuk anak-anak dibawah
5 tahun.
d. Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, karena pengaruh pakaian
atau gerakan pada saat penimbangan.
b. Tinggi badan menurut umur (TB/U)
Merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan skeletal. Pada
keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur.
Tinggi badan kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu
yang pendek. Indek ini menggambarkan status gizi masa lalu dan lebih erat
kaitannya dengan status sosial ekonomi (Supariasa, dkk, 2002)
1. Kelebihan
a. baik untuk menilai status gizi masa lampau.

b. Ukuran panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah didapat.


2. Kelemahan
a.
b.

Tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak munkin turun


Pengukuran relatif sulit dilakukan karena anak harus berdiri

tegak sehingga diperlukan dua orang untuk melakukannya.


c. Ketepatan umur sulit didapat
c. Berat badan menurut umur (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan. Dalam
keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan
tinggi badan dengan kecepatan tertentu (Supariasa, dkk, 2002)
1. Kelebihan
a.

Tidak memerlukan data umum

b.

Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal, dan

kurus).
2. Kelemahan
a.

Tidak dapat memberikan gambaran, apakah anak tersebut

pendek, cukup tinggi badan atau kelebihan tinggi badan karena faktor
umur tidak dipertimbangkan.
b.

Kesulitan dalam melakukan pengukuran panjang atau tinggi

badan pada kelompok balita.


c.

Membutuhkan dua macam alat ukur.

d.

Pengukuran relatif lebih lama.

e.

Membutuhkan dua orang untuk melakukannya.

f.

Sering

terjadi

kesalahan

dalam

pembacaan

hasil

pengukuran, terutama bila dilakukan oleh kelompok non profesinal.


2. Penilaian secara klinis
Penilaian status gizi secara klinis yaitu penilaian yang mengamati
dan mengevaluasi tanda-tanda klinis atau perubahan fisik yang ditimbulkan
akibat gangguan kesehatan dan penyakit kurang gizi. Perubahan tersebut dapat
dilihat pada kulit atau jaringan epitel, yaitu jaringan yang membungkus

permukaan kulit tubuh seperti rambut, mata, muka, mulut, lidah, gigi dan lainlain serta kelenjar tiroid (Supariasa, dkk, 2002).
Pemeriksaan klinis terdiri dari dua bagian, yaitu:
a. Medical history (riwayat medis), yaitu catatan mengenai perkembangan
penyakit.
b. Pemeriksaan fisik, yaitu melihat dan mengamati gejala gangguan gizi baik
sign (gejala yang apat diamati) dan syimptom (gejala yang tidak dapat
diamati tetapi dirasakan oleh penderita gangguan gizi).
3. Penilaian secara biokimia
Pemeriksaan biokimia dalam penilaian status gizi memberikan hasil
yang lebih tepat dan objektif dari pada menilaian konsumsi pangan dan
pemeriksaan lain. Pemeriksaan biokimia dapat mendeteksi defisiensi zat gizi
lebih dini (Supariasa, dkk, 2002)
Pemeriksaan biokimia yang sering digunakan adalah tehnik
pengukuran kandungan sebagai zat gizi dan subtansi kimia lain dalam darah
dan urin (Supariasa, dkk, 2002). Namun pemeriksaan biokimia juga memiliki
kelemahan antara lain:
a. Pemeriksaan hanya biasa dilakukan setelah timbulnya gangguan
metabolisme.
b. Membutuhkan biaya yang cukup mahal.
c. Memerlukan tenaga yang ahli.
d. Kurang praktis dilakukan dilapangan.
e. Membutuhkan peralatan dan bahan yang lebih banyak dibandingkan
dengan pemeriksaan lain.
f. Belum ada keseragaman dalam memilih referensi (nilai normal).
4. Penilaian secara biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah melihat kemampuan fungsi
jaringan dan perubahan struktur. Tes kemampuan fungsi jaringan meliputi
kemampuan kerja dan energi serta adaptasi sikap. Tes perubahan struktur dapat

dilihat secara klinis seperti pengerasan kuku, pertumbuhan rambut tidak normal,
dan penurunan elastisitas kartilago, sedangkan yang tidak dapat dilihat secara
klinis biasanya dilakukan dengan pemeriksaan radiologi (Supariasa, dkk, 2002)
Penilaian status gizi secara biofisik sangat mahal, memerlukan tenaga
yang profesional dan dapat diterapkan dalam keadaan tertentu saja. Penilaian
biofisik dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu uji radiologi, tes fungsi fisik, dan
sitologi (Supariasa, dkk, 2002)
b. Penilaian status gizi secara tidak langsung
1. Statistik vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan
menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian
berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan
data lainnya yang berhubungan dengan gizi (Supariasa, dkk, 2002)
2. Faktor ekologi
Menurut Bengoa (dikutip oleh Jelliffe, 1966), mailnutrisi merupakan
masalah ekologi sebagai hasil yang saling mempengaruhi (Multiple
Overlapping) dan interaksi beberapa faktor fisik, biologi dan linkungan
budaya (Supariasa, dkk, 2002)
Jumlah makanan yang tersedia tergantung pada keadaan lingkungan
iklim, tanah, irigasi, penyimpanan, transportasi dan tingkat ekonomi dari
penduduk. Disamping itu, budaya juga berpengaruh seperti kebiasaan makan,
prioritas makanan dalam keluarga, distribusi dan pantangan makanan bagi
golongan rawan (Supariasa, dkk, 2002)
3. Survei konsumsi makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara
tidak langsung dengan menilai jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi dan
membandingkan dengan baku kecukupan, agar diketahui kecukupan gizi yang
dapat dipenuhi (Supariasa, dkk, 2002)
Metode yang digunakan untuk menggali informasi konsumsi pangan
seseorang atau sekelompok orang secara kuantitif (Supariasa, dkk, 2002)
adalah :

a. Metode Recall 24 jam


Prinsip dari metode recall 24 jam, dilakukan dengan mencatat jenis
dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu.
Agar responden dapat mengungkapkan jenis bahan makanan dan perkiraan
jumlah bahan makanan yang dikonsumsinya selama 24 jam yang lalu, maka
wawancara sebaiknya dilakukan oleh petugas yang sudah terlatih dengan
menggunakan kuesioner terstruktur.
Dengan recall 24 jam data yang diperoleh akan lebih bersifat kualitif.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan data kuantitif, maka jumlah konsumsi
makanan individu ditanyakan secara teliti dengan menggunakan alat Ukutan
Rumah Tangga (URT) (sendok, gelas, piring dan lain-lain) atau ukuran
lainnya yang dipergunakan sehari-hari. Dari Ukutan Rumah Tangga (URT)
jumlah pangan dikonversikan ke satuan berat (gram) dengan menggunakan
daftar Ukutan Rumah Tangga (URT) yang umum berlaku atau dibuat sendiri
pada waktu survei.
Apabila pengukuran hanya dilakukan 1 kali (1 24 jam), maka data
yang diperoleh kurang representatif untuk menggambarkan kebiasaan makan
individu. Oleh karena itu, recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang
dan harinya tidak berturut-turut.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam
tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran konsumsi zat gizi lebih
optimal an memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian
individu.
Metode recall mempunyai kelemahan dalam hal ketepatan, karena
keterangan-keterangan yang diperoleh sangat tergantung pada daya ingat
responden.
b. Perkiraan makanan (Estimated Food Records)
Metode ini disebut juga food record atau diary record, yang
digunakan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi. Pada metode ini
responden diminta untuk mencatat semua yang ia makan dan minum setiap
kali sebelum makan dalam Ukuran Rumah Tangga (URT) atau menimbang

10

dalam ukuran berat (gram) dalam periode tertentu (2-4 hari berturut-turut),
termasuk cara persiapan dan pengolahan makanan tersebut.

c. Penimbangan makanan (Food Weighing)


Pada metode penimbangan makanan, responden atau petugas
menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden
selama 1 hari.
Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari
tergantung dari tujuan, dana penelitian dan tenaga yang tersedia.
Yang harus diperhatikan dalam metode ini adalah, bila terdapat sisa makanan
setelah makan, maka perlu juga ditimbang sisa tersebut untuk mengetahui
jumlah sesungguhnya yang dikonsumsi. Kelebihan dari metode ini adalah data
yang

diperoleh

lebih

akurat/teliti,

sedangkan

kelemahannya

adalah

memerlukan waktu dan cukup mahal, disamping itu bila penimbangan


dilakukan dalam periode yang cukup lama, maka responden dapat merubah
kebiasaan mereka.
d. Metode pencatatan (Food Account)
Metode pencatatan dilakukan dengan cara keluarga mencatat seiap
hari semua makanan yang dibeli, diterima dari orang lain ataupun dari
produksi sendari. Jumlah makanan dicatat dalam Ukuran Rumah Tangga
(URT),

termasuk

harga

eceran

makanan

tersebut.

Cara

ini

tidak

memperhitungkan makanan cadangan yang ada di rumah tangga dan juga


tidak memperhatikan makanan dan minuman yang di konsumsi di luar rumah
dan rusak, terbuang/tersisa atau diberikan pada binatang peliharaan.
e. Metode inventaris (Inventory Method)
Metode iventaris disebut juga log book method. Prinsipnya dengan
cara menghitung/mengkur semua persediaan makanan di rumah tangga (berat
dan jenisnya) mulai dari awal sampai akhir survei. Semua makanan yang
diterima, dibeli dari produk sendiri di catat dan dihitung/ditimbang setiap hari
selama periode pengumpulan data (biasanya sekitar satu minggu). Semua
makanan yang terbuang, tersisa dan busuk selama penyimpanan dan diberikan

11

kepada orang lain atau binatang peliharaan juga dihitung. Pencatatan dapat
dilakukan oleh petugas atau responden yang sudah mampu atau sudah dilatih
dan tidak buta huruf.
f. Pencatatan makanan rumah tangga (Household Food Recard)
Pengukuran dengan metode ini dilakukan sedikitnya dalam periode
satu minggu oleh responden. Dilaksanakan dengan menimbang atau mengukur
dengan Ukuran Rumah Tangga (URT) dengan makann yang ada dirumah dan
termasuk cara pengolahannya.
Metode ini tidak memperhitungkan sisa makanan yang terbuang dan
dimakan oleh binatang peliharaan. Metode ini dianjurkan untuk daerah
tertentu, dimana tidak banyak variasi penggunaan bahan makanan dalam
keluarga dan masyarakat sudah bisa membaca dan menulis.
3. Klasifikasi status gizi
Kasifikasi status gizi menurut standar WHO-NCHS berdasarkan Widya
Karya Nasional Pangan dan Gizi adalah sebagai berikut:
1.

Gizi lebih >2,0 SD

2.

Gizi baik -2,0 SD s/d + 2 SD

3.

Gizi kurzng < -2,0 SD - 3 SD

4.

Gizi buruk < -3,0 SD

Sumber: Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 2000


4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi
a. Secara langsung:
Makanan anak dan penyakit yang mungkin di derita anak.
Timbulnya gizi kurang tidak hanya karena makanan yang kurang, tetapi juga
karena penyakit. Anak-anak yang mendapat makanan yang cukup baik tetapi
sering diserang diare atau demam, akhirnya dapat menderita kurang gizi.
Demikian juga pada anak-anak yang makan tidak cukup baik, maka daya
tahan tubuhnya dapat melemah. Dalam keadaan demikian mudah diserang

12

infeksi yang dapat mengurangi nafsu makan, dan akhirnya dapat menderita
kurang gizi (Word Health Organization, 2000)
b. Secara tidak langsung
Ketahanan pangan dikeluarga, pola pengasuhan anak, serta
pelayanan kesehatan lingkungan. Ketahanan pangan keluarga adalah
kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota
keluarganya dalam jumlah maupun mutu gizinya yang cukup baik. Pola
pengasuhan anak adalah kemampuan keluarga dan masyarakat untuk
menyediakan waktu, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat
tumbuh kembang dengan sebaik-baiknya secara fisik, mental dan sosial.
Pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan adalah tersedianya air bersih
dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga
yang membutuhkan. Ketiga faktor penyebab tidak langsung tersebut
berkaitan dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan keterampilan
keluarga. Makin tinggi pendidikan, pengetahuan dan keterampilan, makin
baik pola pengasuhan anak dan makin banyak keluarga memanfaatkan
pelayanan kesehatan yang ada (Word Health Organization, 2000)
B. KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN
a. Konsumsi energi
Manusia membutuhkan energi untuk mempertahankan hidup,
menunjang pertumbuhan dan melakukan aktifitas fisik. Energi diperoleh
dari karbohidrat, lemak dan protein yang ada di dalam bahan makanan.
Kandungan karboidrat, lemak dan protein suatu bahan makanan
menentukan nilai energinya (Almatsier, 2001)
Keseimbangan energi dicapai bila energi yang masuk ke dalam
tubuh melalui makanan sama dengan energi yang di keluarkan. Tubuh
akan mengalami keseimbangan negatif bila konsumsi energi melalui
makanan kurang dari energi yang di keluarkan. Akibatnya, berat badan
kurang dari berat badan seharusnya (ideal). Bila terjadi pada bayi dan
anak-anak akan menghambat pertumbuhan. Gejala yang di timbulkan pada
anak-anak adalah kurang perhatian, gelisah, lemah, cengeng, kurang

13

bersemangat dan penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi.


Akibat berat pada bayi disebut marasmus (Almatsier, 2001)

b. Konsumsi protein
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian
terbesar tubuh sesudah air. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat di
gantikan oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan
jaringan tubuh (Almatsier, 2001)
Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam
jumlah maupun mutu, tetapi hanya merupakan 18,4 % konsumsi protein ratarata penduduk Indonesia. Sedangkan bahan makanan nabati yang kaya dalam
protein adalah kacang-kacangan, dengan konstribusinya rata-rata terhadap
konsumsi protein hanya 9,9 % (Sunita Almatsier, 2001)
Kekurangan protein banyak terdapat pada masyarakat sosial ekonomi
rendah. Kekurangan protein murni pada stadium berat menyebabkan
kwashiorkor pada anak-anak dibawah lima tahun (Almatsier, 2001)
C. Tingkat Konsumsi Energi dan Protein
Keadaan kesehatan gizi tergantung dari tingkat konsumsi. Tingkat
konsumsi ditentukan oleh kualitas serta kuantitas hidangan. Kualitas hiangan
menunjukkan adanya sumua zat gizi yang diperlukan tubuh dalam susunan
hidangan dan perbandingannya yang satu terhadap yang lain (Sediaoetama,
2000)
Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang. Status
gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat
gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan
fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum
(Almatsier, 2003)
Kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG) adalah kecukupan rata-rata zat
gizi setiap hari bagi semua orang menurut gologan umur, jenis kelamin,

14

ukuran tubuh dan aktifitas untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal
(Almatsier, 2003)

Angka kecukupan gizi yang dianjurkan didasarkan pada patokan berat


badan untuk masing-masing kelompok umur, gender dan aktifitas fisik. Patokan
berat badan tersebut didasarkan pada berat badan orang-orang yang mewakili
sebagian besar penduduk yang mempunyai derajat kesehatan yang optimal
(Almatsier, 2003)
Angka Kecukupan Gizi (AKG) balita umur 0-9 tahun seperti terlihat pada
tabel 1.
TABEL 1
ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN
PER ORANG/PER HARI
umur
(tahun)
Berat Badan Tnggi Badan
Energi
Protein
0-5 bulan
5,5
60
560
12
6-12 bulan
8,5
71
800
15
1-3 tahun
12
90
1250
23
4-6 tahun
18
110
1750
32
7-9 tahun
24
120
1900
37
Sumber : Lembaga ilmu pengetahuan Indonesia, prosiding widyakarta
Nasional Pangan dan Gizi VI, 1998, hlm, 877.
D. Tingkat Konsumsi, Energi dan Status Gizi Anak Balita di Daerah Pantai
dan Daerah Pegunungan
Ketersediaan pangan dalam keluarga penting diperhatikan karena
konsumsi makanan sehari-hari harus selalu ada untuk kelangsungan hidup dan
ketahanan tubuh seluruh anggota keluarga terutama bagi golongan rentan
yaitu manula, ibu hamil ataupun menyusui serta bayi dan balita (Suharjo,
1989)
Balita, Ibu hamil, dan Ibu menyusui di kelompokkaan sebagai
golongan penduduk yang rawan terhadap kekurangan gizi terutama

15

Kekurangan Energi Protein (KEP), khususnya banyak terjadi pada balita.


penyebab timbulnya gizi kurang anak balita lebih komplek, tidak cukup
dengan memperbaiki aspek makanan, tetapi juga lingkungan hidup anak
seperti pola pengasuhan, pendidikan Ibu, air bersih dan kesehatan lingkungan
serta mutu pelayanan kesehatan (Soekirman, 2000)
Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah salah satu masalah gizi
kurang akibat konsumsi makanan yang tidak cukup mengandung energi dan
protein serta karena gangguan kesehatan. Masalah gizi ini banyak di jumpai di
negara-negara miskin dan diderita baik oleh orang dewasa, terutama wanita
maupun anak-anak, khususnya anak dibawah lima tahun (Soekirman, 2000)
Persediaan dan pengadaan pangan sangat dipengaruhi oleh faktor
geografis, kesuburan tanah, yang dapat mempengaruhi jenis tanaman dan
jumlah produksi di suatu daerah. Demikian pula dengan sumber daya perairan
di tempat tersebut antara lain protein hewani yang penting (Budiyanto, 2001) .
Sebagian masyarakat pantai adalah nelayan, dan sebagian kecilnya
ada yang bertani sawah dan lading, bertani tambak atau berdagang. Sedangkan
masyarakat pegunungan atau dataran tinggi sebagian besar adalah bertani
sawah atau ladang. Masyarakat di daerah pantai banyak mengkonsumsi
pangan laut antara lain ikan. Ikan sebagai salah satu sumber gizi hasil laut
mempunyai kandungan protein cukup tinggi (basah sekitar 17 %, dan kering
40 %), dan mutu serta susunan asam aminonya cukup baik. Kandungan
iodium ikan laut 28 kali kandungan iodium ikan darat. Sementara kandungan
iodium rumput laut sekitar 2.400-155.000 kali kandungan iodium sayuran
yang tumbuh di daratan. Dengan kandungan vitamin A, iodium dan mineralmineral penting lainnya, berarti ikan mempunyai potensi cukup baik untuk
menanggulangi masalah gizi kurang (Soekirman, 2000)
Dengan keadaan demikian konsumsi energi dan protein balita di daerah
pantai

dan

daerah

pegunungan

akan

berbeda

dan

mempengaruhi status gizi balita di kedua daerah tersebut.

akhirnya

akan

16

A. Kerangka Teori
Gambar : Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi
(Sumber: Supariasa,dkk, 2002)
Status Gizi

Konsumsi

Infeksi

Ketersediaan pangan

Pola asuh

PelayananKes
& Sanitasi lingk

Pendapatan
Pendidikan/Pengetahuan
Iklim, Kesuburan tanah, Sosial budaya

Keadaan geografi
Pantai
Pegunungan

F. Kerangka Konsep
Variabel Bebas

Variabel Terikat

Daerah Pantai

Tingkat Konsumsi Energi

Daerah Pegunungan

Tingkat Konsumsi protein


Status Gizi

17

G. Hipotesis
1. Ada perbedaan tingkat konsumsi energi anak balita di daerah pantai dan
daerah pegunungan.
2. Ada perbedaan tingkat konsumsi protein anak balita di daerah pantai dan
daerah pegunungan.
3. Ada perbedaan status gizi anak balita di daerah pantai dan daerah
pegunungan.