Anda di halaman 1dari 6

EKLAMPSIA

Terapi
Tatalaksana eklampsia butuh penanganan segera. Tujuan dari terapi ini
ialah:

mengontrol kejang

mencegah trauma maternal

koreksi hipoksia dan asidosis

kontrol hipertensi berat

terminasi kehamilan

Metode terapi
1.

Mengontrol kejang

Magnesium sulfat diberikan secara parenteral. Ini merupakan


terapi pilihan untuk mengatasi kejang. Terapi alternatifnya adalah
phenytoin.

Durasi terapi adalah 24 jam untuk post partum atau 24 jam


setelah kejang postpartum

Loading dose MgSO4 adalah 6 gr selama 15-20 menit secara IV.


Jika pasien mengalamai kejang setelah pemberian loading dose,
dapat diberikan MgSO4 secara bolus 2 gr.

Jika kejang terjadi selama pasien menerima profilaksis MgSO4 ,


dapat ditambahkan 2 gr MgSO4 yang diberikan secara perlahanlahan, dengan kecepatan tidak lebih dari 1 gr/menit.

Phenytoin secara IV digunakan untuk mengobati kejang yang


refrakter terhadap MgSO4.

Syarat pemberian Magnesium Sulfat:

Harus tersedia antidotum Magnesium Sulfat yaitu Kalsium


Glukonas 10%, diberikan iv secara perlahan, apabila terdapat
tanda tanda intoksikasi MgSO4.
Refleks patella (+)
Frekuensi pernafasan > 16 kali / menit.
Produksi urin > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya ( 0,5 cc/ kg BB/
jam ). Pemberian Magnesium Sulfat sampai 20 gr tidak perlu
mempertimbangkan diuresis.

2.

Proteksi pasien dari trauma selama kejang untuk mencegah laserasi

oral
3.

Mengontrol jalan nafas dan ventilasi


Pulse oximetri harus digunakan atau dinilai level arterial blood gas.
Pasien membutuhkan oksigen melalui masker atau endotracheal
tube. Kesulitan dalam oksigenasi pasien dengan kejang berulang
membutuhkan pemeriksaan radiografi dada untuk menyingkirkan
pneumonia aspirasi.

4.

Terapi hipertensi
Antihipertensi diberikan jika tekanan darah diastolik > 110 mmHg.
Dapat diberikan nifedipin sublingual 10 mg. Setelah 1 jam, jika
tekanan darah masih tinggi dapat diberikan nifedipin ulangan 5-10
mg sublingual atau oral dengan interval 1 jam, 2 jam atau 3 jam
sesuai kebutuhan. Penurunan tekanan darah tidak boleh terlalu
agresif. Tekanan darah diastolik jangan kurang dari 90 mmHg,
penurunan tekanan darah maksimal 30%. Penggunaan nifedipine
sangat dianjurkan karena harganya murah, mudah didapat dan
mudah pengaturan dosisnya dengan efektifitas yang cukup baik.

5.

Batasi cairan, kecuali pada kasus kehilangan cairan berlebihan.

Auskultasi paru secara rutin untuk menyingkirkan edema pulmo,


penting dilakukan sama seperti monitoring output urine dengan
kateter Foley. Infus Ringer Asetat atau Ringer Laktat. Jumlah cairan
dalam 24 jam sekitar 2000 ml, berpedoman kepada diuresis,
insensible water loss dan CVP .
6.

Terminasi kehamilan
Semua kehamilan dengan eklamsia harus diakhiri tanpa
memandang
kehamilan

umur

kehamilan

dilakukan

bila

dan

sudah

keadaan

janin.

stabilisasi

Terminasi

(pemulihan

hemodinamika dan metabolisme ibu, yaitu 4-8 jam setelah salah


satu atau lebih keadaan dibawah ini :
Setelah pemberian obat anti kejang terakhir.
Setelah kejang terakhir.
Setelah pemberian obat-obat anti hipertensi terakhir.
Penderita mulai sadar ( responsif dan orientasi ).
Terminasi

kehamilan

dapat

dilakukan

dengan

cara

seksio

cesarea ataupun per vaginam asalkan tidak ada komplikasi maternal


atau fetal. Setelah episode akut eklampsia, terjadi bradikardi pada
fetal dan membaik spontan setelah 3-5 menit. Terminasi kehamilan
segera tidak perlu dilakukan saat terjadi bradikardi fetal, tapi jika
bradikardi bertahan lebih dari 10 menit maka perlu curiga abruptio
plasenta.

Perawatan Pasca Persalinan


Bila persalinan terjadi pervaginam, monitoring tanda-tanda vital
dilakukan sebagaimana lazimnya. Pemeriksaan laboratorium dikerjakan
setelah 1 x 24 jam persalinan. Biasanya perbaikan segera terjadi setelah
24 - 48 jam pasca persalinan.

PREEKLAMPSIA
Terapi

Untuk hipertensi yang tidak berat (TD 140-159/90-109 mmHg)


1. Terapi antihipertensi harus bisa menurunkan SBP sampai 130-155
mmHg dan DBP pada 80-105 mmHg)
2. Terapi inisial bisa dengan salah satu dari agen antihipertensi
seperti : methyldopa, labetalol, beta blockers (metoprolol, pindolol,
propanolol) dan calcium channel blocker (nifedipine).
3. Sebaiknya ACE inhibitor dan ARB (angiotensin receptor blocker)
tidak digunakan.
4. Atenolol dan prazosin tidak direkomendasikan.

Untuk hipertensi berat (SBP > 160 mmHg atau DBP > 110 mmHg)
1. TD harus diturunkan sampai SBP < 160 mmhg dan DBP < 110
mmHg)
2. Terapi inisial dengan antihipertensi seperti labetalol, nifedipine
capsule, nifedipine PA tablet atau hydralazine.
3. MgSO4 tidak direkomendasikan sebagai anti hipertensi.

HIPERTENSI GESTASIONAL
Penatalaksanaan
1. Deteksi prenatal dini
Secara tradisional, waktu pemeriksaan prenatal dijadwalkan setiap 4
minggu sampai usia kehamilan 28 minggu, kemudian setiap 2 minggu
sampai usia kehamilan 36 minggu, setelah itu setiap minggu. Bila
ditemukan hipertensi yang nyata (140/90 mmHg) sering dirawat
inapkan 2-3 hari untuk mengevaluasi keparahan hipertensi
kehamilannya yang baru muncul. Mereka dengan penyakit berat
persisten diawasi secara lebih ketat dan banyak yang diterminasi
kehamilannya. Sebaliknya, wanita dengan penyakit ringan sering
ditangani sebagai pasien rawat jalan, kecuali bila hipertensi semakin
nyata, timbul gangguan penglihatan, atau rasa tidak enak di
epigastrium.
2. Penatalaksanaan di rumah sakit

Perlu dipertimbangkan bagi wanita dengan hipertensi awitan baru


apabila hipertensinya menetap atau memburuk atau timbul
proteinuria. Evaluasi sistematik yang dilakukan mencakup:
- Pemeriksaan terinci diikuti oleh pemantauan setiap hari untuk
mencari temuan-temuan klinis seperti nyeri kepala, gangguan
penglihatan, nyeri epigastrium, dan pertambahan berat yang pesat
- BB saat masuk dan kemudian tiap hari
- Analisis untuk proteinuria saat masuk dan kemudian paling tidak
setiap 2 hari
- Pengukuran TD dalam posisi duduk deengan ukuran manset yang
sesuai setiap 4 jam, kecuali antara tengah malam dan pagi hari
- Pengukuran kreatinin plasma atau serum, hematokrit, trombosit,
dan enzim hati dalam serum, dan frekuensi yang ditentukan oleh
keparahan hipertensi
- Evaluasi yang sering terhadap ukuran janin dan volume cairan
amnion, baik secara klinis maupun USG
Tirah baring total diperlukan dan pasien tidak diberi sedative. Asupan
natrium dan cairan jangan dibatasi atau dipaksakan.
3. Terapi Obat antihipertensi
Merupakan
upaya memperlama kehamilan dan memodifikasi
prognosis perinatal pada kehamilan dengan penyulit hipertensi.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penurunan tekanan darah
ibu akibat terapi dapat merugikan pertumbuhan janin. Pemakaian ACEI
selama trimester kedua dan ketiga harus dihindari, karena dapat
menyebabkan oligohidramnion, pertumbuhan janin terhambat,
malformasi tulang, konyraktur ekstremitas, duktus arteriosus paten
menetap, hipoplasia paru, sindrom gawat napas, hipotensi neonates
berkepanjangan, dan kematian neonates.
Obat antihipertensi yang masih dapat digunakan:
- Hidralazin untuk mengendalikan hipertensi berat
Diberikan secara IV bila TD sistolik menetap 160 mmHG
dan/atau TD diastolic >105 mmHg. Respon baik bila terjadi penurunan
TD diastolic menjadi 90 atau 100 mmHg, tapi jangan lebih rendah
karena akan mengganggu perfusi plasenta. Diberikan dengan dosis
awal 5 mg.

HIPERTENSI KRONIK
Tata Laksana
Penanganan tergantung pada keadaan klinik, beratnya hipertensi,
umur kehamilan dan resiko ibu serta janinnya. Penanganan yang diberikan
dapat berupa pengawasan yang ketat, pembatasan aktivitas fisik, tirah
baring miring ke kiri. Dalam keadaan ini dianjurkan diet normal tanpa
pembatasan garam.
Pada hipertensi kronik yang hamil dengan tekanan darah yang
tinggi, pengobatan sebelumnya dianjurkan untuk diteruskan. Akan tetapi

pada tekanan darah yang tidak terlalu tinggi, harus berhati-hati, bila perlu
dilakukan pengurangan dosis. Tekanan darah yang terlalu rendah beresiko
mengurangi
perfusi
utero-plasenta
yang
dapat
mengganggu
perkembangan janin.

SUPERIMPOSED PREEKLAMPSIA
b. Penanganan Umum:

Jika tekanan sistolik > 110 mmHg, berikan antihipetensi sampai


tekanan diastolic antara 90 100 mmHg;

Pasang infuse RL (dg jarum besar no.16 atau lebih) dan infuse
dipertahankan 1,5 2 liter / 24 jam

Prinsip dalam pengukuran keseimbangan cairan; jangan sampai


overload

Kateterisasi
proteinuria

Observasi tanda vital, reflex dan denyut jantung janin setiap 1 jam

Auskultasi paru guna mencari tanda edema paru. Adanya krepitasi


merupakan tanda adanya edema paru. Bila terdapat edema paru,
hentikan pemberian cairan dan berikan diuretic (mis: Furosemide 40
mg IV)

Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan. Jika pembekuan


tidak terjadi setelah 7 menit, kemungkinan teradi koagulopati.

urine

guna

mengukur

volume

dan

pemeriksaan

c. Manajemen Hipertensi Kronik pada Kehamilan:


Tujuan :

Stabilisasi tekanan diastolic diantara kisaran 90 -100 mmHg

Monitor agar jangan sampai terjadi superimposed pre-clampsia atau


bahkan eklampsia

Monitor kondisi ibu dan kondisi janin