Anda di halaman 1dari 2

Buletin Bina Qalbu

Tanya Jawab

Bagaimana Bersabar?
Assalamualaikum wr.wb.
Saya ingin tahu, apa arti sabar dalam
konteks Islam. Akhir-akhir ini, saya bingung
tentang arti sabar. Dalam budaya Jawa, sabar
diartikan nrimo ing pandum (terima apa
adanya). Mohon pencerahannya. (Juli)
Waalaikumussalam Wr. Wb
Saudari Juli, sabar adalah wajib hukumnya,
sama seperti wajibnya shalat. Sehingga dalam 2
ayat di al Baqarah Allah Taala mensejajarkan sabar
dengan shalat sebagai sebuah kewajiban kita. Dan
jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu.. (QS 2:45 & 153)
Banyak diantara kita sekarang ini yang
demikian berhati-hati dalam menjaga shalatnya,
namun disisi lain ia tidak pernah merasa berdosa
manakala tidak sabar terhadap sebuah persoalan.
Padahal sabar ini adalah merupakan gerbang
dari dilimpahkannya sifat-sifat baik dari Allah Taala
kepada manusia. Lihatlah ayat berikut:
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan
melainkan kepada orang-orang yang sabar dan
tidak dianugerahkan melainkan kepada orangorang yang mempunyai keberuntungan yang
besar. (QS. 41:35)
Dalam proses belajar sabar, memang seringkali
kita harus memulainya dengan ridla terhadap apa
yang Allah Taala berikan kepada kita. Tanpa
keluhan sedikitpun. Dalam bahasa jawa: nrimo in
pangdum. Baik itu keluhan yang keluar dari mulut
bahkan hanya merupakan lintasan dan goresan di
hati saja.
Mustahil seorang akan tahu hakikat sabar
kalau itu hanya dalam tataran teoritis dan dalil,
tanpa sebuah laku untuk berusaha menghadapi
masalah hidup ini. Mustahil seorang akan tahu
hakikat sabar kalau ia tidak belajar untuk ridla
terhadap apa-apa yang Allah Taala berikan
kepada kita.
Dengan tahap awal kita selalu ridla terhadap
apa yang diberikan Allah Taala kepada kita, sedikit
demi sedikit kita akan mulai mengenal guratan hati
kita. Ini hal yang sangat penting sekali dalam
mengimplementasikan kesabaran dalam hidup ini.
Apabila seorang telah mulai mengenal seluk beluk

guratan hatinya, maka ia akan benar-benar


menyadari kapan ia sabar dan kapan tidak.
Walaupun tampak lahirnya tenang, namun ia akan
sadar bahwa bathinnya tidak sabar. Atau dapat
pula terjadi secara fisik terdengar suaranya meninggi,
atau raut wajahnya demikian tegas, namun ia pun
sadar sepenuhnya bahwa tiada kemarahan dalam
hatinya.
Memang untuk bersabar ini tidak mudah. Allah
benar-benar akan menuji keteguhan kita dalam
mengalirkan kesabaran dari hati kita. Dia akan
menghadapkan kita dengan demikian banyak
persoalan hidup, yang sesungguhnya mendidik kita
untuk mencerminkan sifat-Nya ini dari diri kita.
Karena tiada seorang pun yang beriman tanpa diuji
oleh Allah Taala (QS 29:2)
Umumnya seorang yang terlalu kuat cintanya
kepada kehidupan dunia, yang mengagungkan
kehormatan dirinya , tidak akan menyediakan dirinya
untuk menjadi seorang yang sabar. Bahkan
kebanyakan orang seperti ini menganggap orang
yang berusaha untuk bersabar sebagai seorang
yang tidak tahu bagaimana harus hidup di dunia.
Ada persoalan yang perlu kita perhatikan,
ketika kita belajar bersabar. Yaitu biasanya
implikasinya adalah kecenderungan skeptis, apatis
dan tidak berprestasi . Hawa nafsu dalam wujud
kemalasan akan tumbuh berselarasan dengan
tumbuhnya kesabaran. Ibarat seorang menanam
padi, maka yang tumbuh bukan hanya padi tetapi
tumbuh pula rerumputan.
Pada saat inilah kita harus cermat untuk tetap
menyelaraskan antara sabar dalam aspek bathiniah
dan berprestasi dalam aspek lahiriah. Dan hal ini
cukup sulit untuk dilakukan, namun demikian
mudah manakala Allah Taala menolong kita.
Sebagai seorang muslim, sabar adalah
kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Muslim
artinya seorang yang memeluk agama Islam, tetapi
lebih substansial muslim berarti orang yang berserah
diri kepada Allah. Dan apabila mengacu kepada
makna substansialnya tentu kemusliman kita perlu
dipertanyakan manakala kita tidak berserah diri
kepada Allah. Dan untuk penyerahan diri kita
kepada Allah Taala dipersyaratkan sabar!
z
Wallahualam

Bina Qalbu -4-

Bina Qalbu

Edisi-01 Tahun ke-1


Ongkos Cetak Rp. 150
Terbit Setiap Jumat
binaqalbu@telkom.net

MENITI JALAN MENUJU HAMBA YANG BERSERAH DIRI

Keutamaan Sabar
Dari al Ihya Ulumuddin, Imam al Ghazaly

Allah Taala sesungguhnya telah menyifatkan


orang-orang yang sabar, dengan beberapa sifat.
Allah Taala menyebutkan sabar dalam Al Quran,
pada lebih tujuh puluh tempat. Ia menambahkan
lebih banyak derajat dan kebajikan kepada sabar.
Ia menjadikan derajat dan kebajikan itu
sebagai hasil (buah) dari sabar. Maka Allah Azza
wa Jalla berfirman:
Dan Kami jadikan di antara mereka itu
beberapa pemimpin yang akan memberikan
pimpinan dengan perintah Kami, yaitu ketika
mereka berhati teguh (sabar). (QS. 32:24).
Allah Taala berfirman: Dan telah sempurnalah
perkataan yang baik dari Tuhan engkau untuk Bani
Israil, disebabkan keteguhan hati (kesabaran)
mereka. (QS 7:137).
Allah Taala berfirman: Dan akan Kami berikan
kepada orang-orang yang sabar itu pembalasan,
menurut yang telah mereka kerjakan dengan
sebaik-baiknya. (QS.16:96).
Allah Taala berfirman: Kepada orang-orang
itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat,
disebabkan kesabaran mereka. (QS. 28:54)
Allah Taala berfirman: Sesungguhnya orangorang yang sabar itu, akan disempurnakan
pahalanya dengan tiada terhitung . (QS 39:10).
Maka tidak ada dari pendekatan diri manusia
kepada Allah (ibadah), melainkan pahalanya itu
ditentukan dengan kadar dan dapat dihitung, selain
sabar. Dan sesungguhnya adanya puasa itu
sebagian dari sabar dan puasa itu separuh sabar,
maka Allah Taala mengaitkan puasa itu bagi orangorang yang bersabar, bahwa Ia bersama mereka.
Allah Taala berfirman: Hendaklah kamu bersabar,
sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang
sabar. (QS. 8:46).
Allah Taala menggantungkan pertolongan
kepada sabar. Allah Taala berfirman:Ya! Kalau
kamu sabar dan memelihara diri, sedang mereka
datang kepadamu (menyerang) dengan cepatnya,

Tuhan akan membantu kamu dengan lima ribu


malaikat yang akan membinasakan. (QS. 3:125).
Allah Taala mengumpulkan bagi orang-orang
yang sabar, beberapa hal yang tidak
dikumpulkannya bagi orang-orang lain. Allah Taala
berfirman:Merekalah orang-orang yang
mendapat ampunan, kehormatan dan rahmat dari
Tuhan dan merekalah orang-orang yang
mendapat petunjuk. (QS. 2:157).
Adapun hadits-hadits yang menyangkut
dengan sabar, maka di antara lain, Nabi s.a.w.
bersabda : Sabar itu separuh iman.
Nabi s.a.w. bersabda : Dari yang sekurangkurangnya diberikan kepada kamu, ialah:
keyakinan dan kesungguhan sabar. Siapa yang
diberikan keberuntungan dari keyakinan dan
kesungguhan sabar itu, niscaya ia tidak peduli
dengan yang luput dari padanya, dari shalat malam
dan puasa siang. Dan engkau bersabar di atas
apa yang menimpa atas diri engkau, adalah lebih
aku sukai, daripada disempurnakan oleh setiap
orang daripada kamu, kepadaku, dengan seperti
amalan semua kamu. Akan tetapi aku takut, bahwa
dibukakan kepadamu dunia sesudahku. Lalu
sebagian kamu menetang sebagian yang lain.
Dan akan ditantang kamu oleh penduduk langit
(para malaikat) ketika itu. Maka siapa yang sabar
dan memperhitungkan diri, niscaya memperoleh
kesempurnaan pahalanya. Kemudian Nabi s.a.w.
membaca firman Allah Taala:
Apa yang di sisi kamu itu akan hilang dan

Berlangganan?
Hubungi Muh Akbar (451910
(Minimal 50 Eksemplar)

Bina Qalbu -1-

Buletin Bina Qalbu


apa yang di sisi Allah itu yang kekal. Dan akan
Kami berikan kepada orang-oang yang sabar itu
pembalasan, menurut yang telah mereka kerjakan
dengan sebaik-baiknya. (QS. 16:96).
Diriwayatkan Jabir, bahwa Nabi s.a.w
ditanyakan tentang iman, maka beliau menjawab:
Sabar dan suka memaafkan. Nabi s.a.w.
bersabda pula: amal yang paling utama ialah apa
yang dipaksakan diri daripadanya.
Dikatakan bahwa Allah Taala menurunkan
wahyu kepada nabi Daud a.s.: Berakhlaklah
dengan akhlak-KU! Sesungguhnya sebagian dari
akhlak-Ku, ialah, bahwa Aku Maha Sabar.
Pada hadits yang diriwayatkan Atha dari Ibnu
Abbas, bahwa ketika Rasulullah s.a.w. masuk ke
tempat orang-orang Anshar, lalu beliau bertanya:
Apakah kamu ini semua orang beriman?. Lalu
semua mereka diam. Maka menjawab Umar r.a.:
Ya, wahai Rasulullah!.
Nabi s.a.w. lalu bertanya: Apakah tandanya
keimanan kamu itu?
Mereka menjawab: Kami bersyukur atas
kelapangan. Kami bersabar atas percobaan. Dan
kami rela dengan ketetapan Tuhan (qadha Allah
Taala).
Lalu Nabi s.a.w. menjawab: Demi Tuhan
pemilik Kabah! Benar kamu itu orang beriman!.
Nabi s.a.w. bersabda: Pada kesabaran atas
yang tidak engkau sukai itu banyak kebajikan.
Isa Al-Masih a.s. berkata: Engkau
sesungguhnya tiada akan memperoleh apa yang
engkau sukai, selain dengan kesabaranmu atas
apa yang tiada engkau sukai.
Rasulullah s.a.w. bersabda: Jikalau sabar itu
seorang laki-laki, niscaya dia itu orang yang
pemurah. Dan Allah Taala menyukai orang-orang
yang sabar.
Adapun atsar, maka di antaranya ialah terdapat
pada surat khalifah Umar bin al-Khatab r.a. kepada
Abu Musa Al-Asyari r.a., yang bunyinya di antara
lain: Haruslah engkau bersabar! Dan ketahuilah,
bahwa sabar itu dua. Yang satu lebih utama dari
yang lain: sabar pada waktu musibah itu baik.
Dan yang lebih baik daripadanya lagi, ialah sabar

(menahan diri) dari yang diharamkan Allah Taala.


Dan ketahuilah, bahwa sabar itu yang memiliki
iman. Yang demikian itu, adalah bahwa takwa itu
kebajikan yang utama. Dan takwa itu dengan
sabar.
Ali r.a. berkata: Iman itu dibangun di atas
empat tiang: yakin, sabar, jihad dan adil. Ali r.a.
berkata pula: Sabar itu dari iman, adalah seperti
kedudukan kepala dari tubuh. Tidak ada tubuh
bagi orang yang tidak mempunyai kepala. Dan
tidak ada iman, bagi orang yang tiada mempunyai
kesabaran.
Umar r.a. berkata: Amat baiklah dua pikulan
yang sebanding dan amat baiklah tambahan bagi
orang-orang yang sabar. Dimaksudkan dengan
dua pikulan yang sebanding itu, ialah ampunan
dan rahmat. Dan dimaksudkan dengan tambahan
itu, ialah petunjuk. Dan tambahan itu, adalah apa
yang dibawa di atas dua pikulan yang sebanding
tadi atas unta.
Diisyaratkan oleh Umar r.a. dengan yang
demikian itu kepada firman Allah Taala: Merekalah
orang-orang yang mendapat ampunan dan
rahmat dari Tuhan dan merekalah orang-orang
yang mendapat petunjuk. (QS. 2:157).
Adalah Habib bin Abi Habib Al Bashari, apabila
membaca ayat di bawah ini:
Sesungguhnya dia (Ayub) kami dapati,
seorang yang sabar. Seorang hamba yang amat
baik. Sesungguhnya dia tetap kembali (kepada
Tuhan) (QS. 38:44). Lalu beliau menangis dan
berkata: Alangkah menakjubkan! Ia yang
memberi dan Ia yang memujinya.
Abud-Darda r.a mengatakan: Ketinggian iman
itu, ialah: sabar karena hukum Allah dan rela
dengan takdir Allah Taala.
Inilah penjelasan keutamaan sabar, dari segi
yang dinukilkan (dari ayat, hadits dan atsar).
Kesabaran adalah ibadah qalbu kita, ia merupakan
hal yang utama yang akan membawa seseorang
dianugerahkan sifat-sifat baik. Dan tentu kita tiada
pernah akan tahu faedah sabar, apabila kita tiada
pernah mencoba untuk sabar. Kiranya kita beroleh
taufik dari Allah SWT. z

Diterbitkan oleh PICTS Makassar Komp. Bosowa Indah Blok S-2 (Jl. Alauddin Teduh Bersinar) Makassar 0411-884525 Penanggung Jawab: Imam Suhadi
Pemimpin Redaksi: Abu Raihan Anggota Redaksi: Muh Jafar ST, Rusmin ST,
Muh Ilyas ST, Ria Hakim SE, Rosmiati Usaha: Nasluddin Distribusi: Zubaeruddin,
Laode M Arwan, Muh Akbar Rekening Bank: BCA KCU Makassar No. 0250986378
a.n Sri Ariyani Internet Site: http://makassar.paramartha.org

Bina Qalbu -2-

Buletin Bina Qalbu


Kisah Hikmah

Pengorbanan, Syarat Mengenal Allah


Setelah Nabi Ibrahim as diselamatkan Allah dari
pembakaran Firaun Namrud, ia mengorbankan
seribu ekor domba jantan, tiga ratus ekor sapi dan
seratus ekor unta sebagai wujud rasa syukurnya.
Tidak pernah ada orang yang lebih dermawan
daripada dia saat itu.
Ketika ditanya kenapa ia rela mengor-bankan
begitu banyak harta, Ibrahim menjawab, Saya telah
siap untuk berkorban nyawa bagi Tuhanku. Kenapa saya harus keberatan mengorbankan harta?
Lagi pula sebenarnya kekayaan siapakah yang
saya korbankan? Hidup dan segala hartaku semuanya kepunyaan Tuhan. Apa yang telah saya
korbankan tidak ada artinya. Saya bahkan akan
mengorbankan bagi Tuhan milikku yang paling
berharga. Jika saya mempunyai seorang anak,
saya akan mengorbankannya jika Tuhan
menghendaki.
Beberapa
tahun
kemudian,
Allah
menganugerahi Nabi Ibrahim as seorang putra
bernama Ismail. Setelah Ismail menjelang remaja.
Dalam sebuah mimpi Tuhan menyampaikan kepada
Nabi Ibrahim as, Penuhilah janjimu! Engkau
berkata jika engkau mempunyai seorang putra,
engkau akan mengorbankannya bagi-Ku.
Sekarang engkau harus memenuhi janjimu.
Tiga malam berturut-turut Tuhan datang lewat
mimpinya, menuntut janji Nabi Ibrahim as.
Pada hari ketiga Nabi Ibrahim as meminta
putranya Ismail untuk menemaninya ke tempat
pengorbanan. Di te-ngah perjalanan syaithan
muncul ke hadapan Ibrahim as dan mempertanyakan tentang kehendak Tuhan. Apa benar engkau
tega memotong leher satu-satunya putramu
sendiri? Bahkan seekor binatang pun tidak akan
melakukan hal itu. Ibrahim as menjawab,
Walaupun alasanmu tampak masuk akal dan
rasional, aku telah menerima perintah dari Tuhan
dan aku akan melaksanakan kehendak-Nya!
Syaithan segera pergi dari hadapan nabi Ibrahim
as. Akan tetapi ia tidak menyerah. Ia kemudian
mengganggu Siti Hajar ra, ibunda dan Nabi Ismail
as.
Ketika mereka tiba di tempat pengorbanan, Nabi
Ibrahim as bercerita kepada Nabi Ismail as tentang
mimpinya. Alih-alih memaksa putranya ke altar, Nabi
Ibrahim as malahan menanyakan kepada anaknya

apakah ia sukarela memenuhi kehendak Tuhan


dan bersedia mengorbankan dirinya sendiri. Dalam
ketundukan kepada ayahnya, Nabi Ismail as
mengajarkan kepada kita semua tentang
keberserahdirian yang luar biasa, sehingga bersedia
mengorbankan diri sendiri, demi kecintaan kepada
Tuhan dan kepatuhan kepada orangtua.
Nabi Ismail as setuju untuk dikorbankan. Ia
mengatakan kepada Nabi Ibrahim as untuk
mengikatnya erat-erat dengan tali, sehingga saat
ia sekarat nanti ia tidak akan melukai ayahnya. Ia
juga meminta ayahnya untuk menelingkupkan
wajahnya, agar Nabi Ibrahim as tidak perlu melihat
wajahnya, yang dapat membuat tangannya gemetar, sehingga tidak sanggup untuk menyembelih.
Nabi Ismail juga meminta ayahnya untuk
menyingsingkan jubahnya, sehingga ayahnya itu
tidak perlu kembali ke rumah dengan jubah yang
ternodai cipratan darahnya, yang dapat menambah
kesedihan ibundanya.
Nabi Ibrahim as sepakat dan sangat tersentuh
oleh keyakinan dan kasih sayang putranya. Ia
meletakkan putranya di atas altar dan berdoa
kepada Allah agar merahmati dirinya dan putrannya.
Ketika Nabi Ibrahim as mengangkat pisau
pengorbanannya, Allah berkata kepada para
malaikat-Nya, Lihatlah keyakinan dan cinta dari
khalil-Ku, Ibrahim. Ia bahkan rela mengorbankan
putra satu-satunya dalam kepatuhan dan
perintah-Ku! Kemudian Nabi Ibrahim as berupaya
untuk memotong leher putranya dengan pisau
pengorbanan yang setajam silet itu. Tidak ada
sesuatu pun yang terjadi. Bahkan leher Nabi Ismail as tergores pun tidak. Nabi Ibrahim as mencoba
sekali lagi, tetapi hasilnya sama saja. Ia mencoba
untuk ketiga kalinya, tetapi pisau itu tetap saja
tidak dapat memotong. Kemudian, Nabi Ibrahim as
memukulkan pisau tersebut kepada sebongkah
batu besar yang berada di dekatnya. Batu itupun
terbelah menjadi dua. Lalu muncullah Jibril as
kepada Nabi Ibrahim as seraya mewahyukan
bahwa Allah memerintahkannya untuk
mengorbankan seekor domba jantan sebagai
pengganti Nabi Ismail as, dan bahwa Allah
berkenan kepada mereka berdua. z
Dari Buku Cinta Bagai Anggur , Syaikh
Mozaffer Ozak, PICTS, Bandung 2000

Bina Qalbu -3-