Anda di halaman 1dari 9

LO 4

DERMATITIS NUMULER
I.

DEFINISI
Dermatitis berupa lesi berbentuk mata uang (coin) atau agak lonjong,

berbatas tegas dengan efloresensi berupa papulovesikel, biasanya mudah


pecah sehingga basah (oozing). 1
II.

EPIDEMIOLOGI
Dermatitis numularis pada orang dewasa terjadi lebih sering pada pria

daripada wanita. Usia puncak awitan pada kedua jenis kelamin antara 55 dan
65 tahun; pada wanita puncak terjadi juga pada usia 15 sampai 25 tahun.
Dermatitis numularis tidak biasa ditemukan pada anak, bila ada timbulnya
jarang pada usia sebelum setahun; umumnya kejadian meningkat seiring
dengan meningkatnya usia. 1
III.

ETIOLOGI
Penyebabnya tidak diketahui, banyak faktor yang ikut berperan. Diduga

stafilokokus dan mikrokokus ikut berperan mengingat jumlah koloninya meningkat


walaupun tanda infeksi secara klinis tidak tampak. Mungkin juga lewat mekanisme
hipersensitivitas. Eksaserbasi terjadi bila koloni bakteri meningkat di atas 10 juta
kuman/cm2. Dermatitis kontak mungkin ikut memegang peranan pada berbagai kasus
dermatitis numularis misalnya alergi terhadap nikel, krom, kobal, demikian pula
iritasi dengan wol dan sabun. Trauma fisis dan kimiawi .mungkin juga berperan
terutama bila terjadi di tangan, dapat pula pada cedera lama atau jaringan parut.1
Bila pada bangsa atau ras yaitu dengan kebiasaan minum minuman beralkohol
lebih mudah terkena penyakit dan dapat mengakibatkan eksaserbasi. Pada daerah /
musim/ iklim biasanya daerah dengan kelembaban rendah atau daerah dengan iklim
panas dapat pula memicu terjadinya kekambuhan.

Sedangkan pada lingkungan

biasanya pada sejumlah kasus ketegangan jiwa, stres emosional juga mempermudah
terjadinya penyakit.2
IV.

PATOFISIOLOGI 4
Dermatitis numular merupakan suatu kondisi yang terbatas pada

epidermis dan dermis saja. Hanya sedikit diketahui patofisiologi dari penyakit
ini, tetapi sering bersamaan dengan kondisi kulit yang kering. Adanya fissura
pada permukaan kulit yang kering dan gatal dapat menyebabkan masuknya
alergen dan mempengaruhi terjadinya peradangan pada kulit. Suatu penelitian
menunjukkan dermatitis numularis meningkat pada pasien dengan usia yang
lebih tua terutama yang sangat sensitif dengan bahan-bahan pencetus alergi.
Barrier pada kulit yang lemah pada kasus ini menyebabkan peningkatan
untuk terjadinya dermatitis kontak alergi oleh bahan-bahan yang mengandung
metal.
Karena pada dermatitis numular terdapat sensasi gatal, telah dilakukan
penelitianmengenai peran mast cell pada proses penyakit ini dan ditemukan
adanya peningkatan jumlah mast cell pada area lesi dibandingkan area yang
tidak mengalami lesi pada pasien yang menderita dermatitis numularis. Suatu
penelitian juga mengidentifikasi adanya peran neurogenik yang menyebabkan
inflamasi pada dermatitis numular dan dermatitis atopik dengan mencari
hubungan antara mast cell dengan saraf sensoris dan mengidentifikasi
distribusi neuropeptida pada epidermis dan dermis dari pasien dengan
dermatitis numular. Peneliti mengemukakan hipotesa bahwa pelepasan
histamin dan mediator inflamasi lainnya dari mast cell yang kemudian
berinteraksi dengan neural C- fibers dapat menimbulkan gatal. Para peneliti
juga mengemukakan bahwa kontak dermal antara mast cell dan saraf,
meningkat pada daerah lesi maupun non lesi pada penderita dermatitis
numular. Substansi P dan kalsitonin terikat rantai peptide meningkat pada
daerah lesi dibandingkan pada non lesi pada penderita dermatitis numular.

Neuropeptida ini dapat menstimulasi pelepasan sitokin lain sehingga memicu


timbulnya inflamasi.
Penelitian lain telah menunjukkan bahwa adanya mast cell pada dermis
dari

pasien

dermatitis

numular

menurunkan

aktivitas

enzim chymase,

mengakibatkan menurunnya kemampuan menguraikan neuropeptida dan


protein. Disregulasi ini dapat menyebabkan menurunnya kemampuan enzim
untuk menekan proses inflamasi.
V.

MANIFESTASI KLINIS
Penderita dermatitis numularis umumnya mengeluh sangat gatal. Lesi akut

berupa vesikel dan papulovesikel (0,3-1,0), kemudian membesar dengan cara


berkonfluensi atau meluas ke samping, membentuk satu lesi karakteritis seperti uang
logam (coin), eritematosa, sedikit edematosa, dan berbatas tegas. Lambat laun vesikel
pecah terjadi eksudasi, kemudian mongering menjadi krusta kekuningan. Ukuran
garis tengah lesi dapat mencapai 5 cm jarang sampai 10 cm. Penyembuhan dimulai
dari tengah sehingga terkesan menyerupai lesi dermatomikosis. Lesi lama berupa
likenifikasi dan skuama. Jumlah lesi dapat hanya satu dapat pula banyak dan tersebar,
bilateral atau simetris dengan ukuran yang bervariasi mulai dari miliar sampai
numular bahkan plakat. Tempat predileksi biasanya pada tungkai bawah, badan,
lengan termasuk punggung tangan. Dermatitis numularis cenderung hilang timbul
dan ada yang terus menerus kecuali dalam periode pengobatan. Bila terjadi
kekambuhan umumnya akan timbul pada tempat semula. Lesi dapat pula terjadi pada
tempat yang mengalami trauma (fenomena kobner) juga bisa mengakibatkan kulit
kemerahan. 1
Distribusinya adalah bagian ekstensor ekstremitas atas, terutama bagian dorsal
tangan, dan badan. Pada laki-laki, sering timbul di daerah ekstremitas bagian bawah.
Lesinya dapat dimulai satu atau beberapa, kemudian dapat menyebar dalam beberapa
hari atau bulan.3

VI.

DIAGNOSIS
Dermatitis numular dapat didiagnosis berdasarkan anamnesis dan

gejala klinis. 4,5 Tingkat gatal dan terjadinya likenifikasi akan membedakannya
dari neurodermatitis. Distribusi lesi biasanya pada kedua lutut, kedua siku
dan kulit kepala. Pada psoriasis, lesinya kering, skuamanya lebih tebal dan
iritasinya

lebih

ringan, patch

test dan prick

test akan

membantu

mengidentifikasikan penderita dengan dermatitis kontak 4


Pemeriksaan kulit2
Liokalisasi: punggung kaki, punggung tangan, bagian ekstensor ekstremitas,
bokong dan bahu. Efloresensi/sifat-sifatnya: macula eritematosa aksudatif, besarnya
nummular hingga plakat. Terkadang hiperpigmentasi, likenifikasi berbatas tegas
sebesar uang logam
Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan laboratorium, tidak ada penemuan yang spesifik.


Untuk membedakannya dengan penyakit lain, seperti dermatitis karena kontak
diperlukan patch testdan prick test untuk mengidentifikasikan bahan kontak.
Pemeriksaan KOH untuk membedakan tinea dengan dermatitis numular yang
mempunyai gambaran penyembuhan di tengah. Jika ada kondisi lain yang
sangat mirip

dengan penyakit ini sehingga sulit untuk menentukan

diagnosisnya (contohnya pada tinea, psoriasis) dapat dilakukan biopsi.


Gambaran histopatologi2
Epidermis: hyperkeratosis, akantosis, edema interselular dan pada dermis terjadi
pelebaran ujung pembuluh darah dan sebukan sel-sel radang limfosit, monosit.

VII.DIAGNOSISBANDING

Diagnosis banding dari penyakit ini antara lain :


1. Liken simpleks kronikus (neurodermatitis)
Biasanya jarang, lesinya kering berupa plak yang likenifikasi dengan
distribusi tertentu.

Gambar 3 :Bentuk lesi dari neurodermatitis pada daerah tengkuk leher,


pergelangan tangan dan punggung kaki

2. Dermatitis kontak alergi.


Morfologi klinis primer antara dermatitis kontak dan dermatitis nummular
sering sulit untuk dibedakan. Pada dermatitis kontak biasanya lokal, dan
ditemukan riwayat kontak sebelumnya. Untuk membedakan dapat dilakukan
pemeriksaan patch test atau prick test

Gambar 4 :Bentuk lesi dari dermatitis kontak alergi yang lesinya

muncul akibat penggunaan plester dan reaksi sinar matahari.

3. Pitiriasis rosea
Merupakan peradangan yang ringan dengan penyebab yang belum
diketahui. Banyak diderita oleh wanita yang berusia antara 15 dan 40 tahun
terutama pada musim semi dan musim gugur. Gambaran klinisnya bisa
menyerupai dermatitis numular. Tetapi umumnya terdapat sebuah lesi yang
besar yang mendahului terjadinya lesi yang lain. Lesi tambahan cenderung
mengikuti garis kulit dengan distribusi pohon cemara dan biasanya disertai
dengan rasa gatal yang ringan. Lesi-lesi tunggal berwarna merah muda terang
dengan skuama halus. Bisa juga lebih eritematus. Pitiriasis rosea berakhir
antara 3-8 minggu dengan penyembuhan spontan.

Gambar 6 :Bentuk lesi pada pitiriasis rosea dengan lesi awalnya lebih
besar dan mengikuti garis kulit yang berbentuk seperti pohon cemara.

4.Dermatitis atopik
Umumnya pada pasien dengan lesi pada tangan. Patch test dan prick
test dapat membantu jika terdapat riwayat dermatitis atopik

Gambar 7 : Bentuk lesi dermatitis atopik persisten pada daerah


telapak tangan dan daerah dada

5.

Tinea pedis : pinggir aktif, bagian tengah agak menyembuh, dapat dicari hifadari
sediaan langsung.

VIII.

PENATALAKSANAAN
Terapi bertujuan untuk rehidrasi kulit, pembenahan lapisan lemak epidermis

dan penanggulangan infeksi. Penatalaksanaan pasien dermatitis numuler difokuskan


pada gejala yang mendasari. Sehingga, sedapat-dapatnya mencari penyebab atau
faktor yang memprovokasi.
Bila kulit kering, diberi pelembab atau emolien.

Digunakan untuk

mengurangi kekeringan pada kulit. Contoh emolien yang sering digunakan antara
lain; aqueous cream, gliserine dan cetomacrogol cream.
Secara topical lesi dapat diobati dengan obat anti-inflamasi, misalnya preparat
ter, glukokortikoid, takrolimus, atau pemikrolimus.

Bila lesi masih eksudatif,

sebaiknya dikompres dahulu misalnya dengan larutan permanganas kalikus 1:10.000.


Kalau ditemukan infeksi bacterial, diberikan antibiotik secara sistemik, misalnya
dicloxacilin dosis 125-500mg, 4x1 selama 7-10 hari. Kortikosteroid sistemik hanya
diberikan pada kasus yang berat dan refrakter, dalam jangka pendek. Pruritus dapat
diobati dengan antihistamin golongan H1, misalnya hidroksisin HCl (dosis 25100mg, 4x1 selama 6 hari).1
IX.

PROGNOSIS
Dari suatu pengamatan sejumlah penderita yang diikuti selama berbagai

interval sampai dua tahun, didapati bahwa 22% sembuh, 25%pernah sembuh untuk
beberapa minggu sampai tahun, 53% tidak pernah bebas dari lesi kecuali masih dalam
pengobatan.1

Sekali seseorang menderita dermatitis numuler, resiko kekambuhannya tinggi.


Munculnya kembali rasa gatal pada lesi lama atau terbentuknya lesi baru adalah
bagian dari perjalanan penyakit.

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda, Adhi.dr. Prof. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Ed.5, Jakarta;
FKUI.2007. hal 148-50.
2. Siregar, R.S. Atlas berwarna saripati kulit, Ed.2. Jakarta: EGC.2004. hal
120-3
3. Harahap Marwali. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates. 2000. Hal 1924.
4. www. Scribd.com/doc/39995543/Dermatitis-Numularis

5. McKoy,

Karen.2009,

NumularDermatitis.

[akses:

www.merckmanuals.com/profesional/sec10/ch114g. hmtl.

01-03-2008].