Anda di halaman 1dari 23

ABSTRAK

Latar Belakang Peraturan pemerintah no 28 tahun 2004 tentang keamana, mutu


dan gizi panagn pada bab 1 pasal 1 meyebutkan, yang dimakasud dengan bahan
tambahan pangan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam makanan untuk
memepengaruhi sifat atau bentuk pangan atau produk makanan. Namun sering kali
produsen

melakukan

kecurangan

terhadap

pembuatan

produknya

dengan

menambahkan BTP yang tidak alami dan itu membahayakan bagi konsumen.
Tujuan. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui berbagai Bahan
tambahan makanan pada produksi makanan.
Metode. Jenis penulisan makalah adalah tinjauan teori dari beberapa pustaka.
Analisis data dilakukan secara deskriptif.
Hasil. Bahan tambahan pangan adalah senyawa yang sengaja ditambahklan ke
dalam makanan dengan jumlah dan ukuran tertentu dan terlibat dalam proses
pengolahan,

pengemasan,

dan

penyimpanan.

Bahan

ini

berfungsi

untuk

memperbaiki warna, bentuk, cita rasa, dan tekstur, serta memperpanjang masa
simpan, dan bukan merupakan banah (ingredient) utama. Bahan tambahan pangan
yang sering digunakan produsen adalah pengawet formalin dan boraks, pewarna
sintetis Rhodamin B dan pemanis buatan sakarin.
Kesimpulan. Penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang dilakukan oleh
produsen makanan berbahaya bagi kesehatan tubuh.
Kata kunci : BTP, Formalin, Boraks, Rhodamin B, Sakarin

TINJAUAN TEORI
Peraturan pemerintah no 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi
pangan pada bab 1 pasal 1 menyebutkan, yang dimaksud dengan bahan tambahan
pangan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam makanan untuk mempengaruhi
sifat atau bentuk pangan atau produk makanan.
Menurut FAO di dalam Furia (1980), bahan tambahan pangan adalah
senyawa yang sengaja ditambahklan ke dalam makanan dengan jumlah dan ukuran
tertentu dan terlibat dalam proses pengolahan, pengemasan, dan penyimpanan.
Bahan ini berfungsi untuk memperbauiki waran, bentuk, cita rasa, dan tekstur, serta
memperpanjang masa simpan, dan bukan merupakan banah (ingredient) utama.
Pemakaian bahan tambahan pangan (BTP) di Indonesia diatur oleh Departemen
Kesehatan.

Sementara,

pengawasannya

dilakukan

oleh

Direktorat

Jendral

Pengawasan Obat dan Makanan (Dirjen POM).


Fungsi BTP berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomer
235/MEN.KES/PER/VI/1979, tanggal 19 Juni 1979, yaitu sebagai :
1. Antioksidan

8. Pengawet

2. Anti kempal

9.

Pengelmusi,

pemantap,

dan

pengental
3. Pengasam, penetral dan pendapar

10. Pengeras

4. Enzim

11. Pewarna alami dan sintetik

5. Pemanis buatan

12. Seskuestran

6. Pemutih dan pematang

13. Bahan tambahan lain

7. Penambah gizi
Penggunaan BTP dapat dibenarkan apabila :
1. Dimaksudkan untuk mencapai masing-masing tujuan penggunaan dalam
pengolahan\
2. Tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang salah atau
tidak memenuhi persyaratan
3. Tidak digunakan untuk menyembunyikan cara kerja yang bertentangan dengan
cara produksi yang baik untuk makanan
4. Tidak digunakan untuk menyembunyikan kerusakan makanan

Adapun tujuan penambahan BTP secara umum adalah :


1. Meningkatkan nilai gizi makanan
2. Memperbaiki nilai estetika dan sensori makanan
3. Memperpanjang umur simpan (shelf life) makanan.
Beberapa bahan tambahan makanan mempunyai pengaruh yang kurang
baik terhadap kesehatan manusia; karena itu pemerintah (Departemen Kesehatan)
telah mengatur/menetapkan jenis-jenis bahan tambahan makanan yang boleh dan
tidak boleh digunakan dalam pengolahan makanan .Bahan tambahan yang dilarang
digunakan dalam makanan adalah pengawet (formalin dan Boraks) pewarna sintetis
(Rhodamin B) dan pemanis buatan (Sakarin).
Formaldehid yang lebih dikenal dengan nama formalin ini adalah salah satu
zat tambahan makanan yang dilarang. Meskipun sebagian banyak orang sudah
mengetahui terutama produsen bahwa zat ini berbahaya jika digunakan sebagai
pengawet, namun penggunaannya bukannya menurun namun malah semakin
meningkat dengan alasan harganya yang relatif murah dibanding pengawet yang
tidak dilarang dan dengan kelebihan. Formalin sebenarnya bukan merupakan bahan
tambahan makanan, bahkan merupakan zat yang tidak boleh ditambahkan pada
makanan.
Formalin mudah larut dalam air sampai kadar 55 %, sangat reaktif dalam
suasana alkalis, serta bersifat sebagai zat pereduksi yang kuat, mudah menguap
karena titik didihnya rendah. Peraturan Menteri Kesehatan sudah menyatakan
bahwa formalin merupakan bahan tambahan makanan terlarang, ternyata pada
kenyataannya masih banyak para pedagang/produsen makanan yang nakal tetap
menggunakan zat berbahaya ini.
Formalin digunakan sebagai pengawet makanan, selain itu zat ini juga bisa
meningkatkan tekstur kekenyalan produk pangan sehingga tampilannya lebih
menarik (walaupun kadang bau khas makanan itu sendiri menjadi berubah karena
formalin). Makanan yang rawan dicampur bahan berbahaya ini biasanya seperti
bahan makanan basah seperti ikan, mie, tahu hingga jajanan anak di sekolah.
Selain formalin pengawet yang sering digunakan oleh produsen adalah
Boraks. Boraks (Na2B4O7) dengan nama kimia natrium tetra bonat, natrium biborat,

natrium piroborat merupakan senyawa kimia yang berbentuk kristal dan berwarna
putih dan jika dilarutkan dalam air menjadi natrium hidroksida serta asam boraks.
Boraks pada dasarnya merupakan bahan untuk pembuat solder, bahan pembersih,
pengawet kayu, pengontrol kecoa, dan bahan pembuatan kaca. Dengan sifat fisik
dan sifat kimia yang dimiliki, boraks digunakan sebagai bahan campuran untuk
pembuatan benda-benda tersebut.
Boraks pada dasarnya merupakan bahan untuk pembuat solder, bahan
pembersih, pengawet kayu, pengontrol kecoa, dan bahan pembuatan kaca. Dengan
sifat fisik dan sifat kimia yang dimiliki, boraks digunakan sebagai bahan campuran
untuk pembuatan benda-benda tersebut. Boraks sedikit larut dalam air, namun bisa
bermanfaat jika sudah dilarutkan dalam air. Umumnya juga digunakan untuk mematri
logam, proses pembuatan gelas dan enamel, sebagai pengawet kayu, serta
pembasmi kecoa. Boraks biasanya digunakan sebagai bahan pembersih atau
antiseptik yang berupa hablur (kristal) berwarna kuning atau serbuk berwarna
cokelat, yang bisa juga digunakan membantu melelehkan zat padat. Jika dikonsumsi
manusia dapat menimbulkan berbagai penyakit. Sebab, boraks dapat merusak
jaringan syaraf, ginjal, dan hati.
Pemanis adalah zat makanan yang rendah akan energi, rasa manisnya 180
skali sukrose, yang disebut dengan aspartame (phenylalanyl-aspartic acid
dipeptide). Salah satu pemanis buatan adalah sakarin. Sakarin adalah zat pemanis
buatan dari garam natrium dari asam sakarin berbentuk bubuk kristal putih, tidak
berbau dan sangat manis. Pemanis buatan ini mempunyai tingkat kemanisan 550
kali gula biasa. Penggunaan sakarin tergantung intensitas kemanisan yang
dikehendaki. Pada konsentrasi tinggi, sakarin akan menimbulkan rasa pahit-getir
(nimbrah), hal ini disebabkan oleh kemurnian yang rendah dari proses sintesis
(Winarno, 1991). Natrium sakarin didalam tubuh tidak mengalami metabolisme
sehingga diekskresikan melalui urine tanpa perubahan kimia (Cahyadi, 2006).
Meskipun pemakaian sakarin diperbolehkan sebagai bahan tambahan makanan
namun pemakaiannya harus dibatasi karena mempunyai efek yang membahayakan
kesehatan.

Zat pewarna makanan adalah zat warna yang dicampurkan kedalam makanan.
Menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988, zat pewarna makanan adalah
bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada
makanan.
Jenis pewarna yang sering digunakan dalam produk pangan diantaranya
Rhodamin B yang dimana Rhodamin B merupakan zat pewarna berupa serbuk
kristal berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau, serta mudah larut dalam
larutan warna merah terang berfluoresan sebagai bahan pewarna tekstil atau
pakaian.Rhodamin B bersifat karsinogenik sehingga dalam penggunaan jangka
panjang dapat menyebabkan kanker. Rhodamin B merupakan bahan tambahan
pangan (BTP) yang dilarang penggunaannya dalam makanan (PeraturanMenkes
No.1168/Menkes/ PER/ X/ 1999).

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dengan berkembangnya jaman, saat ini sangat banyak produk pangan cepat
saji atau istilahnya makanan instan, tentu saja hal ini dipengaruhi oleh pola hidup

masyarakat yang menginginkan segalanya berjalan dengan cepat. Hal ini lah
yang menyebabkan

produsen makanan memanfaatkan kesempatan untuk

berbuat kecurangan dengan menambahkan Bahan Tambahan Pangan (BTP)


yang berbahaya .
Produsen menambahkan BTP kedalam produk makanan dengan latar
belakang yang berbeda-beda. Namun sebenarnya bagi konsumen penambahan
bahn tersebut tidak semuanya diperlukan. Bahkan, sering kali ada bahan yang
justru membahyakan konsumen. Oleh karena itu, penggunaan bahan tambahan
pangan dalam proses produksi pangan perlu diwaspadai bersama, baik oleh
produsen maupun konsumen.
Dulu, bahan tambahan pangan masih terbatas berupa bahan alami.
Dengan berkembangnya teknologi, produk instan sangat digemari oleh
masyarakat karena mudah, cepat dan murah. Inilah salah satu faktor pemicu
semakin berkembang dan dibutuhkannya BTP. Kemudian, muncul ekstrak
bahan tamabahan pangan, dari bahan alami maupun hasil sintetis kimia. BTP
alami dan sintetis sering kali sulit dibedakan karena memiliki aroma, rasa, warna
dan sifat yang hamper sama. Diperlukan suatu kejelian bagi konsumen untuk
membedakan apakah makanan yang hendak dibelinya megandung BTP alami
atau sintetis.
Penggunaan BTP dewasa ini sangat beragam, dari pengawet sampai
pemberi aroma dan pewarana. Berkembangnya BTP mendorong pula
perkembangan makanan hasil olahan pabrik, yakni bertambah aneka ragam
jenisnya

serta

ragam

citarasa

maupun

kenampakannnya.

Sayangnya

penggunaan BTP sering kali berakibat buruk bagi kesehatan. Beberapa faktor
penyebabnya adalah sebagai berikut :
1. Penggunaan bahan yang sebenarnya bukan untuk pangan, karena alas an
ekonomi. Sebagai contoh

penggunaan pewarna tekstil untuk bahan

makanan Karena harganya lebih murah dari pewarna makanan.


2. Kurangnya

sosialisasi

tentang

dosis,

manfaat

dan

bahaya

akibat

penggunaan BTP secara salah.


3. Agar tampilan makanan lebih menarik dan tahan lama

4. Untuk mencari keuntungan yang lebih


B. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian Bahan Tambahan Pangan (BTP) dan mengetahui
kegunaan penggolongan Bahan Tambahan Pangan (BTP).
2. Mengetahui pengertian pewarna makanan, pemanis buatan, pengawet
3. Mengetahui jenis-jenis pangan yang menjadi sasaran penggunaan Bahan
Tambahan Makanan (BTP) berbahaya pada proses pembuatannya.
4. Mengetahui dampak negatif dari penggunaan Bahan tambahan pangan
berbahaya pada produk pangan.
C. MANFAAT
1. Dapat mengetahui apa itu pewarna makanan, pemanis buatan dan
pengawet
2. Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan Bahan Tambahan Pangan
dan dapat mengetahui penggolongan Bahan Tambahan Pangan (BTP).
3. Dapat mengetahui ciri-ciri makanan dengan menggunakan Bahan
Tambahan Pangan (BTP) berbahaya sehingga dapat menghindarinya.
4. Dapat menghindari secara langsung penggunaan Bahan Tambahan
5.

Pangan (BTP) berbahaya pada produk pangan.


Dapat menambah wawasan dengan mengetahui dampak yang diakibatkan

dari penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) pada produk pangan.


6. Dapat membantu pencegahan dan pemberantasan penggunaan Bahan
Tambahan Pangan (BTP) berbahaya dengan berbagai solusi yang telah
dipikirkan.

BAB II
ISI
A. Bahan Tambahan Pangan Berupa Pengawet
1. Formalin
Formaldehid yang lebih dikenal dengan nama formalin ini adalah
salah satu zat tambahan makanan yang dilarang. Meskipun sebagian banyak
orang sudah mengetahui terutama produsen bahwa zat ini berbahaya jika
digunakan sebagai pengawet, namun penggunaannya bukannya menurun
namun malah semakin meningkat dengan alasan harganya yang relatif

murah dibanding pengawet yang tidak dilarang dan dengan kelebihan.


Formalin sebenarnya bukan merupakan bahan tambahan makanan, bahkan
merupakan zat yang tidak boleh ditambahkan pada makanan. Memang
orang yang mengkonsumsi bahan pangan (makanan) seperti tahu, mie,
bakso, ayam, ikan dan bahkan permen, yang berformalin dalam beberapa
kali saja belum merasakan akibatnya. Tapi efek dari bahan pangan
(makanan) berformalin baru bisa terasa beberapa tahun kemudian. Formalin
dapat bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pencernaan dan saluran
pernafasan. Di dalam tubuh cepat teroksidasi membentuk asam format
terutama di hati dan sel darah merah. Pemakaian pada makanan dapat
mengakibatkan keracunan pada tubuh manusia, yaitu rasa sakit perut yang
akut disertai muntah-muntah, timbulnya depresi susunan syaraf atau
kegagalan peredaran darah.
Hasil penelitian BPOM dari 700 sampel produk makanan yang diambil
dari Jawa, Sulawesi Selatan dan Lampung, 56 persen diantaranya
mengandung bahan formalin. Bahkan 70 persen mie basah diawetkan
dengan formalin. Penelitian yang dilakukan oleh Balai Besar POM DKI
Jakarta juga menyebutkan, delapan merek Mie dan Tahu yang dipasarkan di
Jakarta mengandung formalin. BPOM Makasar juga menemukan ikan asin
kering di pasar swalayan dan tradisional ternyata juga mengandung formalin.
Contoh bahan makanan yang mengandung formalin :
a. Tahu
Formalin memang terbukti mampu memperpanjang umur simpan tahu,
seperti dibuktikan oleh hasil penelitian Winarno tahun 1978 berikut ini:
perendaman dalam larutan formalin 2% selama 3 menit saja, terbukti
mampu memperpanjang umur simpan tahu sampai 4 5 hari, sedangkan
tahu yang direndam air hanya mampu bertahan 1 2 hari.
b. Ikan Asin
Penggunaan formalin oleh para produsen ikan asin dikarenakan cara
produksinya masih manual, pengeringan ikan masih sangat tergantung
dari cuaca. Kalau musim hujan, pengeringan bisa berhari-hari. Begitu air

hujan turun, menutupi ikan-ikan yang tengah dijemur itu dengan plastik
agar tidak basah. Jika proses penjemuran kurang sempurna, bahan
makanan akan mudah ditumbuhi jamur. Bahan makanan menjadi mudah
penyok dan hancur, terutama apabila cara pengemasannya tidak rapi dan
harus dikirim ke luar kota. Akibatnya, ikan asin itu pun tidak laku di
pasaran. Dengan membubuhkan formalin, bahan pengawet bukan untuk
makanan maka ikan tidak ditumbuhi jamur dan lebih awet. Pemakaian
formalin juga dipercaya dapat mempercepat proses pengeringan dan
membuat tampilan fisik tidak cepat rusak. Selain itu, dengan proses
penggaraman dan penjemuran pada pembuatan ikan asin, rendemen
yang tersisa kurang dari separuh. Bila bahan bakunya seratus kilogram
saat masih basah, setelah jadi ikan asin tinggal 40 persen atau 40 kg,
kehilangan 60 kg itu sangat merugikan karena harga jual menggunakan
satuan kilogram. Jika memakai formalin, rendemen bisa mencapai 75
persen.
c. Mie basah
Ciri-ciri mie segar atau mie basah yang berformalin :
1.

Saat dipegang mie terasa sangat kenyal atau liat.

2.

Selain aroma terigu biasanya tercium aroma seperti obat


meskipun sudah berulang kali dibilas air bahkan direbus.

3.

Mie sangat liat saat dipotong dengan sendok. Tekstur kenyalnya


mirip karet karena yang alami kenyalnya berasal dari gluten
tepung terigu.

4.

Mie tahan disimpan atau dibiarkan dalam suhu ruangan selama 12 hari

Ciri-ciri mie yang tidak mengandung formalin


1.

Saat dipegang mie terasa lembut teksturnya.

2.

Beraroma tepung terigu dan sedikit bau anyir telur.

3.

Mi mudah sekali putus atau patah karena tidak terlalu liat. Tekstur
liatnya dari gluten tepung dan telur ayam.

4.

Saat direbus airnya agak keruh karena ada tepung terigu dan telur
yang ikut terlarut di dalamnya.

5.

Mie tidak tahan disimpan lama, mudah sekali berjamur terutama


jika memakai telur.

6.

Rasanya gurih, empuk dan lembut karena memakai telur.

2. Boraks
Boraks (Na2B4O7) dengan nama kimia natrium tetra bonat, natrium
biborat, natrium piroborat merupakan senyawa kimia yang berbentuk kristal
dan berwarna putih dan jika dilarutkan dalam air menjadi natrium hidroksida
serta asam boraks. Natrium hidroksida dan asam boraks masing-masing
bersifat antiseptik, sehingga banyak digunakan oleh industri farmasi sebagai
ramuan obat misalnya : salep, bedak, larutan kompres, dan obat pencuci
mata. Penggunaan boraks di industri farmasi ini sudah sangat dikenal. Hal ini
dikarenakan banyaknya boraks yang dijual di pasaran dan harganya yang
sangat murah.
Karakteristik Boraks, antara lain:
- berbentuk kristal putih
- tidak berbau
- larut dalam air
- stabil pada suhu serta tekanan normal
Boraks pada dasarnya merupakan bahan untuk pembuat solder, bahan
pembersih, pengawet kayu, pengontrol kecoa, dan bahan pembuatan kaca.
Dengan sifat fisik dan sifat kimia yang dimiliki, boraks digunakan sebagai
bahan campuran untuk pembuatan benda-benda tersebut. Boraks sedikit
larut dalam air, namun bisa bermanfaat jika sudah dilarutkan dalam air.
Umumnya juga digunakan untuk mematri logam, proses pembuatan gelas
dan enamel, sebagai pengawet kayu, serta pembasmi kecoa. Boraks
biasanya digunakan sebagai bahan pembersih atau antiseptik yang berupa
hablur (kristal) berwarna kuning atau serbuk berwarna cokelat, yang bisa
juga digunakan membantu melelehkan zat padat.
Ironisnya boraks

sudah

sejak

dahulu

digunakan

masyarakat

Indonesia untuk bahan baku pembuatan gendar nasi, atau kerupuk gendar.
Masyarakat Jawa sering menyebutnya karak atau lempeng. Air bleng (pijer)

10

yang dipakai dalam pembuatan karak atau gendar ini adalah boraks. Saat ini
penggunaan boraks tidak hanya di karak atau lempeng saja, tetapi sudah
banyak digunakan dalam berbagai makanan bahkan pada makanan yang
digemari dan sering dikonsumsi masyarakat sehari-hari.
Berikut contoh makanan yang mengandung boraks :
-

Mie basah yang mengandung boraks ciri-cirinya adalah :


a. Tekstur sangat kenyal,Biasanya mie tersebut lebih mengkilat, dan
b. tidak cepat putus.
Bakso yang mengandung boraks ciri-cirinya adalah:
a. Tekstur sangat kenyal
b. Warnanya tidak kecoklatan seperti penggunaan daging didalamnya.
Lontong yang mengandung boraks ciri-cirinya antara lain :
a. Tekstur sangat kenyal
b. Rasanya tajam. Misal sangat gurih dan memberikan rasa yang getir
Kerupuk yang mengandung boraks ciri-cirinya adalah :
a. Tekstur sangat kenyal,
b. Dapat memberikan rasa getir.
Tahu yang mengandung boraks ciri-cirinya adalah :
a. Bentuknya sangat bagus,Kenyal tapi tidak padat,
b. Tidak mudah hancur dan awet sampai 3 hari pada suhu kamar dan
bisa tahan 15 hari dalam kulkas,
c. Bau agak menyengat
d. Aroma kedelai sudah tak terasa lagi.
ikan asin yang mengandung boraks cirri-cirinya adalah :
a. Ikan berwarna bersih cerah,
b. Tidak mempunyai bau khas ikan,
c. Awet sampai kurang lebih dari 1 bulan pada suhu kamar (25C),
d. Tidak mudah hancur,dan tidak dihinggapi lalat.
Ayam potong yang ada boraksnya cirri-cirinya adalah:
a. Warnanya putih bersih,
b. Teksturnya kencang,tidak dihinggapi lalat,
c. tidak mudah busuk atau awet dalam beberapa hari.

Mengidentifikasi boraks dalam makanan dapat dilakukan di laboratorium


dengan beberapa metode yaitu :
1. Metode nyala api
Alat dan bahan

yaitu

cawan

petri,pinset,furnace,mortar

dan

penggerus,korek api,pipet ukur,kompor, H2SO4 10ml,Metanol 2ml, Air


Kapur Jenuh, Kertas Lakmus.

11

Cara Pengujian :
- Setelah itu tumbuk sample hingga halus dengan mortar,setelah itu
-

timbang sample hingga 3gram.


Sample dimasukan kedalam cawan petri, dan atur pH dengan
menambahkan Air kapur jenuh hingga suasana menjadi asam,lalu

diukur dengan kertas lakmus.


Setelah bersifat asam, kemudian masukkan cawan petri ke dalam

furnace.
Setelah itu tambahkan 5 ml H2SO4 pekat,setelah itu aduk hingga
homogen hingga larutan menjadi asam (lakmus biru menjadi merah),

tambahkan 10 ml Methanol kemudian nyalakan.


Jika nyala api berwarna hijau maka dalam bahan tersebut positive

mengandung boraks.
2. Menggunakan kunyit
Menguji dengan menggunakan

kunyit

dapat

dilakukan

oleh

masyarakat sendiri tanpa harus ke laboratorium. Berikut ini cara yang


dapat digunakan dalam mengidentifikasi kunyit:
- Pertama kita harus menyiapkan bahan

dan

alat

untuk

mengidentifikasinya.alat dan bahan tersebut adalah kunyit,kertas


saring serta sedikit boraks untuk kontrol positif. Setelah menyiapkan
alat dan bahan tersebut kita dapat mengujinya dengan cara kita harus
membuat kertas tumerik. Setelah itu ambil beberapa potongan kunyit
yang berukuran sedang. Setelah itu tumbuk kunyit hingga halus lalu
saring kunyit dan peras hingga mengeluarkan cairan yang berwarna
kuning. Kemudian, celupkan kertas saring ke dalam cairan kunyit
-

tersebut dan keringkan. Hasil dari proses ini disebut kertas tumerik.
Kedua kita buat kertas yang berfungsi sebagai kontrol positif dengan
memasukkan satu sendok teh boraks ke dalam gelas yang berisi air
dan aduk larutan boraks hingga merata,teteskan pada kertas tumerik
yang sudah disiapkan.Setelah itu kita amati perubahan warna pada
kertas tumerik.warna yang dihasilkan dari kertas tersebut akan
menghasilkan kontrol positif.kemudian kita tumbuk bahan yang akan
kita uji dan beri sedikit air.Setelah itu kita teteskan air laurutan dari

12

bahan makanan yang diuji tersebut pada kertas tumerik yang sudah
-

disiapkan.
Ketiga amati perubahan warna apa yang terjadi pada kertas
tumerik.Apabila warnanya sama dengan pada kertas tumerik kontrol
positif, maka bahan makanan tersebut mengandung boraks. Apabila
tidak sama warnanya, berarti bahan makanan tersebut tidak

mengandung boraks.
B. Bahan Tambahan Pangan Berupa Pewarna Sintetis
Zat pewarna makanan adalah zat warna yang dicampurkan kedalam
makanan. Menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988, zat pewarna
makanan adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau
memberi warna pada makanan.
Menurut Winarno (1997), yang dimaksud dengan zat pewarna
makanan adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau
memberi warna pada makanan. Penambahan warna pada makanan
dimaksudkan untuk memperbaiki warna makanan yang berubah atau
menjadi pucat selama proses pengolahan atau untuk memberi warna pada
makanan yang tidak berwarna agar kelihatan lebih menarik.
Penampilan makanan, termasuk warnanya, sangat berpengaruh
untuk menggugah selera. Penambahan zat pewarna pada makanan
bertujuan agar makanan lebih menarik. Zat pewarna sendiri secara luas
digunakan di seluruh dunia. Di Indonesia, sejak dahulu orang banyak
menggunakan pewarna makanan tradisional yang berasal dari bahan alami,
misalnya kunyit untuk warna kuning, daun suji untuk warna hijau dan daun
jambu untuk warna merah. Pewarna alami ini aman dikonsumsi namun
mempunyai kelemahan, yakni ketersediaannya terbatas, dan warnanya tidak
homogen sehingga tidak cocok digunakan untuk industri makanan dan
minuman.

Penggunaan

bahan

alami

untuk

produk

massal

akan

meningkatkan biaya produksi menjadi lebih mahal dan lebih sulit karena sifat
pewarna alami tidak homogen sehingga sulit menghasilkan warna yang
stabil. Kemajuan teknologi pangan pangan memungkinkan zat pewarna

13

dibuat secara sintetis. Dalam jumlah yang sedikit, suatu zat kimia bisa
memberi warna yang stabil pada produk
pangan. Dengan demikian produsen bisa menggunakan lebih banyak pilihan
warna untuk menarik perhatian konsumen.
Penggunaan zat pewarna sintetis seharusnya telah melalui suatu
pengujian secara intensif untuk menjamin keamanannya. Karakteristik dari
zat pewarna sintetis adalah warnanya lebih cerah, lebih homogen dan
memiliki variasi warna yang lebih banyak bila dibandingkan dengan zat
pewarna alami. Disamping itu penggunaan zat pewarna sintetis pada
makanan bila dihitung berdasarkan harga per unit dan efisiensi produksi
akan jauh lebih murah bila dibandingkan dengan zat pewarna alami. Para
konsumen pun hendaknya selalu mendapatkan informasi tentang komponenkomponen

yang

terkandung

dalam

zat

pewarna

sintetis

tersebut.

Pemerintah sendiri telah mengatur penggunaan zat pewarna dalam


makanan.
Jenis

pewarna

yang

sering

digunakan

dalam

produk

pangan

diantaranya Rhodamin B yang dimana Rhodamin B merupakan zat pewarna


berupa serbuk kristal berwarna hijau atau ungu kemerahan, tidak berbau,
serta mudah larut dalam larutan warna merah terang berfluoresan sebagai
bahan pewarna tekstil atau pakaian.Rhodamin B bersifat karsinogenik
sehingga dalam penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kanker.
Rhodamin B merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang
penggunaannya dalam makanan (PeraturanMenkes No.1168/Menkes/ PER/
X/ 1999).
Penggunaan rhodamin B dalam pangan tentunya berbahaya bagi
kesehatan. Adanya produsen pangan yang masih menggunakan rhodamin B
pada produknya mungkin dapat disebabkan oleh pengetahuan yang tidak
memadai mengenai bahaya penggunaan bahan kimia tersebut pada
kesehatan dan juga karena tingkat kesadaran masyarakat yang masih
rendah.Selain itu, rhodamin B sering digunakan sebagai pewarna makanan

14

karena harganya relatif lebih murah daripada pewarna sintetis untuk pangan,
warna yang dihasilkan lebih menarik dan tingkat stabilitas warnanya lebih
baik dari pada pewarna alami.
Rhodamin B sering disalah gunakan pada pembuatan kerupuk,
terasi,cabe merah giling, agar-agar, aromanis / kembang gula, manisan,
sosis, sirup, minuman, dan lain-lain. Beberapa produsen makanan dan
minuman masih menggunakan zat warna sintesis rhodamin B yang dilarang
tersebut untuk produknya dengan alasan zat warna tersebut memiliki warna
yang cerah, praktis digunakan, harganya relatif murah, serta tersedia dalam
kemasan kecil di pasaran sehingga memungkinkan masyarakat umum untuk
membelinya.
Ciri-ciri pangan yang mengandung rhodamin B antara lain :
1. Warnanya cerah mengkilap
2. Terlihat lebih mencolok
3. Warna terlihat tidak homogen (rata)
4. Ada gumpalan warna pada produk
5. Bila dikonsumsi rasanya sedikit lebih pahit.
C. Bahan Tambahan Pangan Berupa Pemanis
Pemanis adalah zat makanan yang rendah akan energi, rasa manisnya
180 skali sukrose, yang disebut dengan aspartame (phenylalanyl-aspartic
acid dipeptide). Sebagai substitusi untuk sakarin, aspartame mempunyai satu
kekekurangan karena kehilangan rasa manisnya (karena terhidrolisis) kalau
lama diekspos dengan air atau panas, oleh karena itu tidak dapat digunakan
secara baik dalam persiapan produk suatu bahan makanan.
Sakarin adalah zat pemanis buatan dari garam natrium dari asam
sakarin berbentuk bubuk kristal putih, tidak berbau dan sangat manis.
Pemanis buatan ini mempunyai tingkat kemanisan 550 kali gula biasa. Oleh
karena itu sangat populer dipakaisebagai bahan pengganti gula.
Sakarin sebagai pemanis buatan biasanya dalam bentuk garam berupa
kalsium, kalium, dan natrium sakarin. Secara umum, garam sakarin
berbentuk kristal putih, tidak berbau atau berbau aromatik lemah, dan mudah

15

larut dalam air, serta berasa manis. Sakarin memiliki tingkat kemanisan relatif
sebesar 300 sampai dengan 500 kali tingkat kemanisan sukrosa tanpa nilai
kalori (SNI 01-6993-2004). Penggunaan sakarin tergantung intensitas
kemanisan yang dikehendaki. Pada konsentrasi tinggi, sakarin akan
menimbulkan rasa pahit-getir (nimbrah), hal ini disebabkan oleh kemurnian
yang rendah dari proses sintesis. Natrium sakarin didalam tubuh tidak
mengalami metabolisme sehingga diekskresikan melalui urine tanpa
perubahan kimia. Meskipun pemakaian sakarin diperbolehkan sebagai bahan
tambahan makanan namun pemakaiannya harus dibatasi karena mempunyai
efek yang membahayakan kesehatan.
Contoh Bahan Makanan yang Menggunakan Pemanis Sakarin :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

permen,
gulali,
minuman sirup,
gula kapas
Okky Jelly drink
Okky Bolo Drink
Yulie Jelly
Donna Jelly
Lotte Juicy Fresh
10 Yuppy Gummy Candies
11 Alloy Jelly dan Inaco Jely
12 Es krim
Ciri-ciri bahan makanan yang mengandung sakarin :
1. Memiliki rasa manis yang pekat
Pemanis buatan memiliki rasa manis yang berlebihan dan sangat pekat.
Bahkan, tak jarang rasa manisnya cenderung membuat rasa eneg
setelah mengonsumsinya.
2. Ada rasa pahit yang tertinggal
Pemanis buatan yang terkandung dalam makanan atau minuman akan
meninggalkan sisa rasa pahit dalam mulut. Hal ini disebabkan adanya
kandungan bahan kimia sebagai bahan baku pemanis buatan tersebut.
3. Membuat tenggorokan menjadi kering
Salah satu ciri yang bisa membuat kita "menangkap basah" adanya
pemanis buatan adalah tenggorokan yang terasa kering setelah

16

menyantapnya. Otomatis Anda pun akan merasakan haus yang amat


sangat. Jika tidak segera minum air putih, biasanya akan timbul serangan
batuk dan penyakit tenggorokan lainnya.

BAB III
A. Dampak Penggunaan Bahan Pengawet
1. Formalin
a. Jika terhirup dapat menimbulkan rasa terbakar pada hidung dan
tenggorokan, sukar bernafas, nafas ppendek, atau kanker paru- paru.
b. Jika terkena kulit, dapat menimbulkan kemerahan, gatal, dan kulit
terbakar.
c. Jika terkena mata, menjadi kemerahan, gatal, mata berair, kerusakan
mata, dan kebutaan.
d. Jika tertelan, menyebabkan mual, muntah, perut perih, diare, sakit
kepala, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan syaraf, kulit
membiru, hilangnya pandangan, kejang, dan kematian.
2. Boraks
a. Keadaan umum: lemah, sianosis, hipotensi

17

b. Terhirup: iritasi membran mukosa, tenggorokan sakit, dan batuk, efek


pada sistem saraf pusat berupa hiperaktifitas, agitasi dan kejang. Aritmia
berupa atrial fibrilasi, syok dan asidosis metabolik. Kematian dapat terjadi
c.

setelah pemaparan, akibat syok, depresi saraf pusat atau gagal ginjal.
Kontak dengan kulit: Eritrodemik rash (merah), iritasi dan gejala seperti

orang mabuk, deskuamasi dalam 3-5 hari setelah pemaparan.


d. Tertelan: mual, muntah, diare, gangguan pencernaan, denyut nadi tidak
beraturan, nyeri kepala, gangguan pendengaran dan penglihatan,
sianosis, kejang dan koma. Keracunan berat dan kematian umumnya
terjadi pada bayi dan anak-anak dalam 1-7 hari setelah penelanan,
sedangkan pada orang dewasa jarang terjadi.
Dalam jumlah banyak boraks dapat menimbulkan keracunan kronis akibat
timbunan boraks, antara lain:
-

Demam

anuria (tidak terbentuknya urin)

Koma

merangsang sistem saraf pusat

menimbulkan depresi

tekanan darah turun

kerusakan ginjal

pingsan

kematian.

B. Dampak Penggunaan Bahan Pewarna


Penggunaan Rhodamine B dalam produk pangan dilarang karena bersifat
karsinogenik kuat, dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati hingga kanker
hati. Beberapa sifat berbahaya dari Rhodamin B seperti menyebabkan iritasi bila
terkena mata, menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit hampir
mirip dengan sifat dari Klorin yang seperti disebutkan di atas berikatan dalam
struktur Rhodamin B. Penyebab lain senyawa ini begitu berbahaya jika
dikonsumsi adalah senyawa tersebut adalah senyawa yang radikal. Senyawa
radikal adalah senyawa yang tidak stabil. Dalam struktur Rhodamin kita ketahui
mengandung klorin (senyawa halogen), sifat halogen adalah mudah bereaksi

18

atau memiliki reaktivitas yang tinggi maka dengan demikian senyawa tersebut
karena merupakan senyawa yang radikal akan berusaha mencapai kestabilan
dalam tubuh dengan berikatan dengan senyawa-senyawa dalam tubuh kita
sehingga pada akhirnya akan memicukan kepada manusia.
Bahaya jangka pendek diantaranya adalah mual, muntah, sakit perut, dan
tekanan darah rendah. Sedangkan bahaya jangka panjangnya adalah kanker.
Tanda-tanda dan gejala akut bila terpapar RhodaminB :
1. Jika terhirup dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan.
2. Jika terkena kulit dapat menimbulkan iritasi pada kulit.
3. Jika terkena mata dapat menimbulkan iritasi padamata, mata kemerahan,
udem pada kelopak mata.
4. Jika tertelan dapat menimbulkan gejala keracunan dan air seni berwarna
merah a tau merah muda.
C. Dampak Penggunaan Bahan Pemanis
Apabila pemanis buatan ini dikonsumsi secara berlebihan akan berdampak
buruk pada tubuh, seperti:
1. Penggunaan sakarin dan siklamat secara berlebihan menyebabkan kanker
kandung kemih, migrain, tremor, kehilangan daya ingat, bingung, insomnia,
iritasi, asma, hipertensi, diare, sakit perut, alergi, impotensi, gangguan
seksual, kebotakan dan kanker otak.
2.

Kerusakan otak yang berakibat cacat mental

3. Kanker payudara
4.

Antropi (terjadinya pengecilan testikular dan kerusakan kromosom)

19

KESIMPULAN
Bahan tambahan pangan (BTP) adalah senyawa yang sengaja ditambahklan ke
dalam makanan dengan jumlah dan ukuran tertentu dan terlibat dalam proses
pengolahan,

pengemasan,

dan

penyimpanan.

Bahan

ini

berfungsi

untuk

memperbauiki warna, bentuk, cita rasa, dan tekstur, serta memperpanjang masa
simpan, dan bukan merupakan banah (ingredient) utama. Namun, sekarang ini
banyak produsen menambahkan BTP kedalam produk makanan dengan latar
belakang yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penggunaan bahan tambahan
pangan dalam proses produksi pangan perlu diwaspadai bersama, baik oleh
produsen maupun konsumen.
Penggunaan BTP sangat beragam, dari pengawet ( Boraks dan Formalin) ,
pemanis (Sakarin) dan pewarna (Rhodamin B). Berkembangnya BTP mendorong

20

pula perkembangan makanan hasil olahan pabrik, yakni bertambah aneka ragam
jenisnya serta ragam citarasa maupun kenampakannnya. Sayangnya penggunaan
BTP sering kali berakibat buruk bagi kesehatan.
Dampak dari penggunaan bahan pengawet boraks dan formalin adalah
kerusakan pada organ ginjal, kanker, kerusakan saraf, dsb ; Penggunaan bahan
pewarna Rhodamin B adalah kanker, mual, muntah, sakit perut dan tekanan darah
rendah ; Penggunaan bahan pemanis Sakarin adalah kanker, kerusakan otak dan
atropi.

DAFTAR PUSTAKA
Hastuti, Sri. Analisis kualitatif dan kuantitatif formaldehide pada ikan asin di Madura.
AGROINTEK. 2010. 4(02); 132-137.
Silalahi, Jarsen., Meliala, Immanuel dan Panjaitan, Labora. Pemeriksaan Boraks di
dalam Bakso Medan. Majalah Kedokteran Indon. 2010. 60(11); 521-525.
Singgih, Haryadi. Uji Kandungan Formalin Pada Ikan Asin Menggunakan Sensor
Warna dengan Bantuan FMR. 2013. 11(01); 55-70.
Anonim. 2013. Zat Pemanis Buatan . http://www.psychologymania.com. Diakses
pada 15 maret 2014.
Anonim.

2013.

Makanan

yang

Mengandung

Pemanis

Buatan.

http://female.kompas.com. Diakses pada 14 maret 2014.


Ariyani,

Eka.

2012.

Bahaya

Zat

Pewarna

pada

Makanan.

http://putuekaariyani.blogspot.com. Diakses pada 15 maret 2014.

21

Cintya, Henny. 2013. Formalin dalam Bahan Makanan. https://www.academia.edu.


Diakses pada tanggal 16 maret 2014.
Hidayah,

Laili.

2013.

Pewarna

Makanan

yang

Diperbolehkan.

http://lailihidayah59.blogspot.com. Diakses pada 15 maret 2014.

Puspitojati, Endah. 2013. Mie Formalin. http://stppyogyakarta.ac.id. Diakses pada


tanggal 16 maret 2014.

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkah
limpahan karunia-Nya kepada kami sehingga penyusunan Makalah Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi Mutahir Pangan, Gizi dan Kesehatan tentang kecurangan produsen
pada produksi makanan ini bisa kami selesaikan dengan lancar dan tanpa halangan
suatu apapun.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
kami dalam pembuatan makalah ini. Terutama kepada para dosen Dr.Ir. Irianton
Aritonang, M.Kes, Ir. I Made Alit Gunawan, Isti Suryani, DCN, M.Kes, Agus
Wijanarka, S.SiT, M.Kes selaku pembimbing mata kuliah Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi Mutahir Pangan, Gizi dan Kesehatan dan sekaligus sebagai pembimbing
dalam

pembuatan

makalah

ini.

Makalah

ini

bertujuan

untuk

membantu

mahasiswa/mahasiswi dalam memahami kecurangan yang dilakukan produsen


makanan.
Kami sudah berusaha semaksimal mungkin agar dapat memberikan hasil yang
memuaskan. Namun kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, guna kesempurnaannya maka kami
22

mengharapkankan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Penulis

23

Anda mungkin juga menyukai