Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang
terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di
Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di
Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura
dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain
sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan
maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir,
dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari
tepung bulir dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang
dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa
genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.
Berdasarkan temuan-temuan genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui
bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan).
Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu
teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu,
dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4.000 tahun yang lalu.

[1]

Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung budidaya (Zea mays ssp. mays)
merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam
proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7.000 tahun oleh penduduk
asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp.
mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua
spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi
menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat
hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 kultivar jagung, baik yang
terbentuk secara alami maupun dirakit melalui pemuliaan tanaman.

A. Deskripsi
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya
diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap
pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
1

Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung


umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai
tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas
sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan
(seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
Bunga betina jagung berupa "tongkol" yang terbungkus oleh semacam
pelepah dengan "rambut". Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik.
Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m
meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah
cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang
membantu menyangga tegaknya tanaman.
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu,
namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak
tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas
terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh
namun tidak banyak mengandung lignin.
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara
pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang
daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun
jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma
dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam
respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin)
dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas
bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh
sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak
tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning
dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari
buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya
dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga
betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol
produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung
siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).
B. Keanekaragaman

Jagung dikelompokkan berdasarkan tipe bulir. Jagung yang dibudidayakan


memiliki sifat bulir/biji yang bermacam-macam. Di dunia terdapat enam
kelompok kultivar jagung yang dikenal hingga sekarang, berdasarkan karakteristik
endosperma yang membentuk bulirnya:
1. Indentata (Dent, "gigi-kuda")
2. Indurata (Flint, "mutiara")
3. Saccharata (Sweet, "manis")
4. Everta (Popcorn, "berondong")
5. Amylacea (Flour corn, "tepung")
6. Glutinosa (Sticky corn, "ketan")
7. Tunicata (Podcorn, merupakan kultivar yang paling primitif dan anggota
subspesies yang berbeda dari jagung budidaya lainnya)
Dipandang dari bagaimana suatu kultivar ("varietas") jagung dibuat dikenal
berbagai tipe kultivar:
1. galur murni, merupakan hasil seleksi terbaik dari galur-galur terpilih
2. komposit, dibuat dari campuran beberapa populasi jagung unggul yang
diseleksi untuk keseragaman dan sifat-sifat unggul
3. sintetik, dibuat dari gabungan beberapa galur jagung yang memiliki
keunggulan umum (daya gabung umum) dan seragam
4. hibrida, merupakan keturunan langsung (F1) dari persilangan dua, tiga,
atau empat galur yang diketahui menghasilkan efek heterosis.
Warna bulir jagung ditentukan oleh warna endosperma dan lapisan
terluarnya (aleuron), mulai dari putih, kuning, jingga, merah cerah, merah darah,
ungu, hingga ungu kehitaman. Satu tongkol jagung dapat memiliki bermacammacam bulir dengan warna berbeda-beda, karena setiap bulir terbentuk dari
penyerbukan oleh serbuk sari yang berbeda-beda.
C. Kandungan gizi
Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada
endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan
kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa
dan amilopektin.
Kandungan gizi Jagung per 100 gram bahan adalah:[3]
Kalori : 355 Kalori
Protein : 9,2 gr
Lemak : 3,9 gr
Karbohidrat : 73,7 gr
Kalsium : 10 mg
Fosfor : 256 mg
Ferrum : 2,4 mg

Vitamin A : 510 SI
Vitamin B1 : 0,38 mg
Air : 12 gr

1.2 Tujuan

Untuk melatih mahasiswa bertanam dan budidaya tanaman jagung


Mengetahui pertumbuhan tanaman jagung dari pembibitan hingga tumbuhnya
malay

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Jagung
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Angiospermae

Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Monocotyledoneae
: Graminae
: Graminaceae
: Zea
: Zea mays L.

2.2 Morfologi Jagung


1. Tinggi Jagung
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung
umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai
tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas
sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan
(seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
2. Struktur Akar
Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m
meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah

cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang
membantu menyangga tegaknya tanaman.
3. Struktur Batang
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu,
namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak
tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas
terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh
namun tidak banyak mengandung lignin.
4. Struktur Daun
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara
pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang
daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun
jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma
dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam
respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.
5. Struktur Bunga
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin)
dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas
bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh
sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak
tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning
dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari
buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya
dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga
betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol
produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung
siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).
2.3 Syarat Tumbuh Jagung
Jagung di Indonesia kebanyakan ditanam di dataran rendah baik di tegalan,
sawah tadah hujan maupun sawah irigasi. Sebagian terdapat juga di daerah
pegunungan pada ketinggian 1000- 1800 m di atas permukaan laut.
a. Tanah

Tanah yang dikehendaki adalah gembur dan subur, karena tanaman jagung
memerlukan aerasi dan drainase yang baik. Jagung dapat tumbuh baik pada
berbagai macam tanah. Tanah lempung berdebu adalah yang paling baik bagi
pertumbuhannya. Tanah-tanah berat masih dapat ditanami jagung dengan
pengerjaan tanah lebih sering selama pertumbuhannya, sehingga aerasi dalam
tanah berlangsung dengan baik. Air tanah yang berlebihan dibuang melalui
saluran drainenase yang dibuat dinatar barisan jagung. Kemasaman tanah (pH)
yang terbaik untiik jagung adalah sekittir 5,5 - 7,0. Tanah dengan kemiringan
tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan tegak lurus
terhadap miringnya tanah, derigan maksud untuk mencegah keganasan erosi yang
terjadi pada waktu turun hujan besar.
b. Iklim
Iklim Faktor-faktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan pembagian
dari sinar matahari dan curah hujan, temperatur, kelembaban dan angin. Tempat
penanaman jagung harus mendapatkan sinar matahari cukup dan jangan
terlindung oleh pohon-Pohonan atau bangunan. Bila tidak terdapat penyinaran
dari matahari, hasilnya akan berkurang. Temperatur optimum untuk pertumbuhan
jagung adalah antara 23 - 27 C.
2.4 Hama Penyakit
Hama dan penyakit penting pada tanaman jagung adalah: Hama. Lalat
bibit (Atherigona exigua Stein) Setelah 4-5 hari ditanam biasanya biji mulai
tumbuh. Penyemprotan untuk mencegah/memberantas lalat bibit segera dilakukan
setelah biji tumbuh dan tersembul di atas tanah. Penyemprotan dilakukan dengan
interval 2-3 hari sekali. Pestisida dipergunakan adalah Basudin (Diazinon),
Surecide dan lain-lain, dengan dosis 1,5- 2,5 cc/ liter air. Serangan lalat bibit ini
berlangsung sampai tanaman berumur tanaman 3 minggu. Ulat Agrotis (agrotis
Sp ) , Hama ini menyerang pada waktu tanaman masih kecil. Dapat diberantas
dengan cara mencari dan membunuh ulatnya, yang biasanya terdapat di dalam
tanah atau sebelum ditanami, tanah diberi insektisida terlebih dahulu. Ulat daun
(Prodenia litura F). Menyerang pupuk daun pada waktu tanaman berumur 1 (satu)
bulan. Pemberantasan agar dilakukan secepatnya dengan insektisida seperti
terdapat pada serangan lalat bibit. Penggerek daun (Sesamia inferens WLK).
Menyerang pada waktu tanaman telah berbunga. Tindakan pencegahan dapat
6

dilakukan dengan penyemprotan segera setelah terlihat adanya telur-telur yang


biasanya terletak di bawah daun pada saat menjelang berbunga. Ulat tanah
(Leucania unipuncta, HAW) Menyerang daun tanaman dewasa, biasanya pada
malam hari, sampai mencapai jumlah ratusan. Penyemprotan harus dilakukan
setelah gejala pertama terlihat dan jangan sampai terlambat. Ulat tongkol
(Heliothis

armigera),

Merupakan,

ulat

perusak

tongkol

yang

penting.

Penyemprotan harus segera dilakukan bilamana terlihat telur-telur yang biasanya


diletakkan pada rambut (silk) dan bakal buah atau tongkol: Secara umum,
penyemprotan

sebaiknya

dilakukan

bilaman

diperlukan

saja,

sehingga

penggunaan- pertisida lebih efisien. Waktu yang baik untuk menyemprot adalah
pagi hari antara jam 06.00 - 09;00 atau sore hari jam 16.00 -18.00 Penyakit:
Penyakit terpenting pada jagung adalah penyakit bulai, atau downy mildew
(Sclerospora maydis Palm). Tanaman yang terserang- daun-daunnya herwarna
kuning keputih-putihan bergaris-garis klorotis sejajar dengan arah urat daun. Pada
bagian bawah daun terdapat Konidia berwarna putih seperti butiran-butiran
tepung: Menyerang tanaman.muda sampai umur 45 hari. Serangan pada
tanaman semasa kecil sering mengakibatkan kematian: Serangan pada tanaman
yang lebih besar mengakibatkan pertumbuhan tongkol yang tidak sempurna.
Pemberantasan , dengan fungisida atau bahan kimia lain yang efektif sampai saat
ini belum diketemukan. Usaha pemberantasannya yang dilakukan adalah dengan
mencabut dan membakar tanaman yang terserang dan menanam kembali dengan
varitas yang tahan. Dewasa ini terdapat beberapa. varitas yang tahan seperti
DMR.S, DMR:3, dan beberapa varitas-hasil persilangan yang masih dalam
pengujian (Harapan, DMR dan sebagainya). 2. Penyakit-penyakit penting yang
terdapat pada jagung di antaranya adalah becak daun (Helminthosporium sp) dan
karat daun (Puccinia sorghi Sehw).
2.5 Teknik Budidaya
A. Pedoman Budidaya
Benih Benih diambil hanya dari tanaman dan tongkol yang baik dan sehat
saja. Pilihlah tongkol-tongkol yang besar, barisan biji lurus dan penuh, tertutup
rapat - oleh kelobotnya, dan cukup tua. Dari tongkol.-tongkol terpilih, pisahkanlah
biji-biji kecil yang terdapat pada bagian pangkal dan ujung dari tongkol. Hanya
biji yang rata besarnya dan sehat saja diambil sebagai benih. Bila jumlah tongkol
7

terpilih sangat terbatas, dapat juga digunakan semua biji yang terdapat pada
tongkol tersebut. Benih harus cukup sehat dan kering, bertenaga tumbuh lebih dari
90%, murni dan bebas dari kotoran. Pada dewasa ini terdapat benih-benih varitas
unggul yang cocok untuk dataran rendah dengan umur dipanen (110 hari), seperti,
Harapan, Metro, Bogor Composite-2 dan yang berumur ,genjah adalah:
Penjalinan, Genjah, Kretek, Genjah Kertas, Bogor Comopsit-10, dll dan
untuk.dataran tinggi adalah: Bastar Kuning, Bima, Pandu Kimia Putih" Rocol dan
lain-lain., Waktu tanam. Waktu tanam yang baik adalah sebagai berikut: a.
Ditegalan, jagung ditanam pada musim labuhan/ permulaan musim hujan yaitu.
pada bulan September/Nopember. Pengerjaan tanah hendaknya dilakukan jauh
sebelumnya, sehingga tanah dalam keadaan siap tanam. Pada waktu hujan sudah
mulai turun. Kelambatan penanaman jagung labuhan sampai dengan bulan
Desember mengakibatkan tanaman menderita serangan penyakit bulai (Downy
mildew) yang berat dan dapat mengakibatkan kegagalan total. Penanaman jagung
ditegalan dapat pula dilakukan, pada musim. marengan/saat musim hujan hampir
berakhir, pada bulan Februari - April. b. Ditanah sawah biasanya jagung ditanam
dalam tiga musirn yaitu pada musim labuhan, sebelum padi musim penghujan
ditanam, pada musim marengan setelah padi musim penghujan dipanen dan juga
pada musim kemarau. Untuk peneneman musim labuhan sebaiknya digunakan
varitas Genjah atau varitas unggul agak dalam yang dipungut muda, sehingga
tersedia cukup waktu untuk persiapan penanaman padi sawah. Cara bertanam dan
pemeliharaan tanaman. a. Pengolahan tanah: Pada waktu pengolahan, keadaan
tanah hendaknya tidak terlampau basah tetapi harus cukup lembab sehingga
mudah dikerjakan, dan tidak lengket, sampai tanah menjadi cukup gembur. Pada
tanah-tanah berpasir atau tanah ringan tidak banyak diperlukan pengerjaan tanah.
Pada tanah-tanah berat dengan kelebihan air, perlu dibuat saluran penuntas air.
Pembuatan saluran dan pembumbunan yang tepat dapat menghindarkan terjadinya
genangan air yang sangat merugikan bagi pertumbuhan tanaman jagung.
Pengolahan tanah untuk jagung labuhan harus tepat dan cepat dapat dilakukan
karena hujan kadangkala datang lebih awal. Bilamana tidak sempat untuk
mengerjakan tanah secara keseluruhan karena waktu tanam mendesak, maka
pengerjaan tanah dapat dilakukan hanya pada barisan yang akan ditanami saja

sedalam 15 - 20 cm sampai tanah menjadi cukup gembur. Berdasarkan hasil


penelitian pada tanah: latosol dan aridosol cara ini memberikan hasil yang tidak
berbeda nyata dengan pengerjaan tanah yang biasa. b. Jarak tanam Varitas yang
berbeda umurnya mempunyai optimum populasi yang berbeda. Bagi varitas yang
berumur dalam ( 110 hari) seperti Harapan Bogor, Composite populasi optimum
adalah 50.000 tanaman/ha, ditanam dengan jarak 100 x 40 cm. dengan 2
tanaman per lubang atau 75 x 25 cm dengan 1(satu) tanaman per lubang. Varitas
yang berumur tengahan (80 - 90 hari) seperti Panjalinan dan Genjah Kretek,
optimum populasi adalah t 70.000. tanaman/ha, ditanam dengan jarak tanam 75 x
20 cm dengan 1 (satu) tanaman per lubang. Bagi vartias yang berumur genjah (70
- 80 hari) seperti Genjah Madura, populasi dapat ditingkatkan sampai 100.000
tanaman/ha, bahkan pada tanah yang subur dapat mencapai 200.000 tanaman/ha,
dengan jarak tanam 50 x 20 cm atau 50 x 10 cm dengan 1 (satu) tanaman per
lubang;. Benih ditanam 2 -3 biji per lubang, kemudian diperjarang pada umur 2 3 minggu setelah tanam, di mana ditinggalkan tanaman yang tegap dan sehat saja
sehingga mencapai populasi yang diinginkan sesuai dengan jarak tanam yang
digunakan. Dalamnya penanaman adalah 3 cm.
B. Pemeliharaan
Pemupukan. Tanaman jagung tidak akan memberikan hasil maksimal
manakala unsur hara yang diperlukan tidak cukup tersedia. Pemupukan dapat
meningkatkan hasil panen secara kwantitatif maupun kwalitatif. Pemberian pupuk
Nitrogen merupakan, kunci utama dalam usaha meningkatkan produksi.
Pemberian pupuk phosphat dan kalium bersama-sama dengan nitrogen
memberikari hasil yang lebih baik. Tanaman yang kekurangan unsur nitrogen,
akan nampak kerdil, warna daun hijau muda kekuning-kuningan, buah terbentuk
sebelum waktunya dan tidak sempurna: Gejala kekurangan unsur, phosphat. jelas
terlihat terutama pada waktu tanaman masih muda di mana daun-daunnya
berwarna ungu dan akan berubah hijau kembali seperti biasa bilamana kemudian
tanaman-mendapatkan cukup, phosphat. Tanaman yang kekurangan kalium
memberikan gambaran seolah-olah layu, bagian tepi dari daun mula-mula menjadi
kuning (chlorosis), kemudian berubah menjadi kecoklat-coklatan dan bagian daun
yang sudah mati akan gugur. Dosis pupuk yang diperlukan berbeda-beda:
tergantung dari pada tingkat kesuburan dan jenis tanah. Untuk sementara secara

umum dapat dianjurkan, pemakaian pupuk sebanyak 90-120 kg.N, 30 - 45 kg.


P2O5 dan 0-25 kg K2O per Ha. Pada tanah-tanah yang cukup mengandung akan
kalium, pemupukan dengan unsur ini dapat ditiadakan. Pupuk diberikan secara
ditugal sedalam 10 cm, pada kedua sisi tanaman dengan jarak 7 cm, Pada jarak
tanam yang rapat pupuk dapat diberikan di dalam larikan yang dibuat di kiri
kanan barisan tanaman: Pupuk N sebaiknya diberikan dua kali yaitu:1/3 bagian
pada waktu tanam bersama-sama dengan seluruh pupuk P dan K, kemudian 2/3
bagian pupuk N diberikan pada waktu tanaman berumur 1 bulan, di dalam lubang
atau larikan sedalam 10 cm pada jarak 15 cm dari barisan tanaman. Penyiangan
dan Pembumbunan: Untuk memperoleh hasil yang tinggi, pertanaman harus
bersih dari segala macam tumbuhan/rumput pengganggu. Salah satu herbisida
yang baik untuk memberantas tumbuhan pengganggu, pada jggung, adalah
Gramoxone, yang disemprotkan pada waktu tanaman berumur 3 dan 5
minggu,masing-masing sebanyak 11/2 liter yang dilarutkan dalam 400 - 500 liter
air/ ha. Penyiangan dengan tangan (hand weeding) yang pertama dilakukan pada
umur 15 hari dan harus, dijaga agar, jangan sampai mengganggu/merusak akar
tanaman. Penyiangan kedua dilakukan sekaligus dengan pembumbunan pada
waktu pemupukan kedua: Pembumbunan ini berguna untuk memperkokoh batang
dalam menghadapi angin besar, juga dimaksudkan untuk memperbaiki drainase
dan mempermudah pengairan bilama diperlukan

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu Dan Tempat

10

Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan fakultas pertanian


universitas padjadjaran, Ciparanje Kec Jatinangor Kab Sumedang. penelitian
dilaksakan selama kurang lebih 3 bulan sampai masa panen, mulai dari tanggal 18
September 2014 sampai dengan tanggal 27 Nopember 2014.
3.2 Bahan Dan Alat
Dalam praktikum dasar-dasar agronomi penanaman jagung ini kami juga
menggunakan alat dan bahan yaitu :
Bahan yang di gunakan :

Air
Pupuk urea
Pupuk SP36
Pupuk kandang
Pupuk KCl
Bibit jagung hibrida
Pupuk NPK

Alat yang digunakan :

Cangkul
Parang
Tali Raffia
Ajir (dari bambu)
Tugal
Bambu
Alat tulis

3.3 Metode Penelitian

Kami membersihan lahan dari tanaman liar dengan menggunakan parang dan

cangkul
Setelah itu kami membajak tanah dengan menggunakan cangkul, kami
membuat bedengan yang berukuran 2m x 1m per plot dengan ketinggian 30

cm dengan menggunakan meteran dari bambu.


Kami memberikan pupuk kandang sebanyak 1 ember per petakan.
Benih jagung kami tanam dengan jarak tanam 40cm x 60cm per lobang tanam
dicampur dengan Furadan dengan menggunakan tugal. yang diisi jagung 1

tanaman per lubang.


Kedalaman benih jagung kira-kira 5cm dari permukaan tanah. Setelah itu
kami membuat pembatas lahan untuk tiap kelompok dengan membuat parit2
di pinggiran petakan dengan menggunakan tali raffia.
11

Setelah benih di tanam kami menyiram tanaman jagung sehari 1x yaitu pada
sore hari agar tanaman jagung tidak kekurangan air akibat dari penguapan dan

fotosintesis.
Pada saat tanaman jagung berumur 2 minggu kami memberikan pupuk

anorganik yaitu pupuk urea, pupuk SP36, pupuk KCl.


Setelah itu kami ukur mulai dari tanaman jagung tumbuh, pengukuran kami

lakukan setiap minggu.


Kami mengambil tanaman sampelnya saja yang di sebut petak panen.
Kami amati terus pertumbuhan jagung, sambil terus membersihkan gulma.
ketika memasuki masa panen, lihat jika rambut jagung sudah coklat dan
mongering, berarti jagung telah masak dan siap buat di panen.

3.4 Pelaksaan Penelitian


A. Persiapan Areal Tanam
Lahan tempat pelaksanaan penelitian dibersihkan dari gulma dan kotoran,
kemudian dicangkul dengan kedalaman kurang lebih 15-30 cm yang dilakukan 2
kali pengemburan. Kemudian lahan tersebut diratakan lalu dibuat petakan
percobaan yang berukuran 3 X 4 cm, tinggi 30 cm, sebanyak 1 petakan yang
berisi 3 larikan.
B. Pemberian N-urea dan Furadan
Pemberian Furadan dilakukan serempak pada saat tanam dan N-Urea pada
saat umur 2 minggu, dengan cara pemberian pada larikan antar baris tanaman.
C. Penanaman
Benih jagung ditanam dengan cara ditugal dengan kedalaman 3 cm, tiap
lubang tugalan ditanam 1 butir benih dengan jarak tanam 60 X 40 cm.
D. Pemupukan
Pemupukan dilakukan pada saat tanam dengan dosis masing masing untuk
urea 150 kg per ha-1 SP 36 100 kg per ha-1, dan KCL 50 kg per ha-1. Pemberian
pupuk dengan cara ditugal pada bagian sisi masing-masing tanaman dengan jarak
2 cm dengan kedalaman 5 cm.
E. Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan meliputi kegiatan penyiraman, penyulaman, penyiangan,
pembumbunan dan pengendalian hama penyakit. Penyiraman dilakukan sekali per
hari tetapi bila hujan dan tanah cukup basah maka penyiraman tidak perlu
dilakukan. Penyulaman dilakukan 1 minggu setelah tanam. Penyiangan dilakukan
setiap satu seminggu sekali. Pembumbunan dilakukan pada saat tanaman berumur

12

cukup besar sekitar 4 minggu setelah tanam. Pengendalian hama dan penyakit
tidak dilakukan.
F. Pemanenan
Pemanenan dilakukan setelah tanaman memenuhi kriteria panen yaitu
kelobot tongkol sudah berwarna kuning atau putih kekuning-kuningan. Bila
kelobot tongkol dikupas akan tampak biji jagung berwarna kuning, bijinya sudah
cukup keras dan mengkilap.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hari/
Tanggal

23-10-1014
30-10-2014
06-11-2014
13-11-2014
20-11-2014
27-11-2014

TINGGI TANAMAN JAGUNG


Baris 1 (cm)

Baris 2 (cm)

Baris 3 (cm)

88
123

80
103

77
98

77,5
102

64
104

75
118

74
115

69
106

67
99

4.2 Pembahasan
Luas petakan adalah (2m x 1m) pada penanaman jagung di pilih jarak
tanam (40cm x 60cm) sehingga per petakan dapat diisi 40 lubang tanaman jagung.
jarak tanam ini dipilih karena jarak tanam dapat mempengaruhi populasi tanaman,
efisiensi penggunaan cahaya, perkembangan hama penyakit, juga mempengaruhi
kompetesi antara tanaman di sebelahnya dalam menyerap air dan unsur hara.

13

Tiap kelompok di berikan 1 petakan dimana petakan diisi 30 tanaman


jagung dimana tiap lobang di isi 1 tanaman jagung. Pada penanaman jagung ini
kami hanya meneliti perkembangan pertumbuhan jagung hanya tinggi tanaman
saja.
Tinggi tanaman
Dari data yang didapat bahwa tinggi batang antara larikan 1, larikan 2 dan
larikan 3 hampir sama tetapi ada beberapa tanaman yang tingginya berbeda karena
tanaman tersebut hasil penyulaman.
Dalam pemeliharaan tanaman jagung sendiri banyak dilakukan berbagai
aspek perlakuan diantaranya Penyiangan dilakukan 1 minggu sekali. Penyiangan
pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil,
garpu dll. Penyulaman dilakukan seminggu setelah tanam. Penyiraman dilakukan
setiap hari sekali kecuali bila tanah telah lembab. Pembumbunan dilakukan
bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman
tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah
karena adanya aerasi.
Kendala di lapangan
Hasil panen jagung tidak dapat kami bahas karena hasil atau produksi
jagung belum dipanen. tetapi pada saat proses budidaya kendala yang kami alami
yaitu tanaman jagungnya dimakan hama sehingga tanaman menjadi berlubang
pada tiap daunnya. kemudia pada saat memasuki musim hujan lahan kami terkena
longsor jadi harus di rapihkan kembali, terdapat banyak katak mati disekitar
lahan, sulitnya mendapatkan sumber air/ terlalu jauh dalam proses pengambilan
air untuk menyiram. lahan yang digunakan untuk pertanaman tidak cukup baik
sehingga diperlukan perlakuan khusus.

14

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil yang telah kami teliti dalam praktikum Teknologi Produksi
Tanaman II kami tarik kesimpulan yaitu : Dalam proses penanaman jagung perlu
diperhatikan beberapa faktor, agar tanamannya dapat tumbuh dengan baik dan
menghasilkan panen yang maksimal. Faktor-faktor yang diperhatikan adalah :
o Jarak tanam
o Perbandingan antara luas lahan dan pemberian pupuk NPK
o Pengendalian hama dan penyakit
5.2 Saran
Inilah hasil penelitian dari kelompok kami mengenai budidaya tanaman
jagung, semoga hasil penelitian kami ini dapat bermanfaat bagi kami dan juga
bagi petani sebagai landasan dasar pengetahuan budidaya jagung.

DAFTAR PUSTAKA
Inayati,Uli Khusna. 2010. Laporan Praktikum Dasar Dasar Agronomi (Agh
200) Tumpangsari Antara Jagung Manis Dengan Kacang Tanah.
Departemen Agronomi & Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor. (Diakses pada 01 Desember 2014).
15

Anonym, 2011a. Jagung. http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung. (Diakses Pada


30 November 2014).
Anonym, 2011b. Karakteristik Biji Jagung.http://www.plantamor.com/index.php?
plant=1301. (Diakses Pada Tanggal 30 November 2014).
http://news.nationalgeographic.com/news/2006/03/0302_060302_peru_corn.html]
(Diakses pada 30 November 2014)
James, M. G.. "Characterization of the Maize Gene sugary1, a Determinant of
Starch Composition in Kernels". The Plant Cell 7 (4): 417-429.
Sumber Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
(diakses pada 01 desember 2014)
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/09/time/0
91302/idnews/876754/idkanal/317
(diakses pada 01 Desember 2014)
http://www.kontan.co.id/index.php/bisnis/news/37303/Produksi-Jagung
Nasional-Terganjal-Cuaca (diakses pada 05 Desember 2014)
http://www.grains.org/corn (diakses pada 05 Desember 2014)

LAMPIRAN GAMBAR
A. Proses Pengolahan Tanah

B. Proses Penanaman

16

C. Proses Pertumbuhan Tanaman

D. Pemeliharaan Tanaman

E. Hama Dan Penyakit

17

F. Akhir Penelitian

18