Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PRODUKSI SAPI POTONG DAN KERBAU


Kerbau Lumpur

Disusun oleh :
Kelas: D
Kel: 8
Etya Nurrimas G

200110130333

Risa Gunawan

200110130334

Dina Rachdayanti

200110130335

Eko Rustianto

200110130336

Santy Rosita

200110130338

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014

I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kerbau (Bubalus bubalis) merupakan salah satu jenis ternak yang

kegunaannya sangat beragam mulai dari membajak sawah, alat transportasi,


sebagai sumber daging dan susu, sampai dengan kulitnya digunakan sebagai
bahan baku industri. Pada mulanya ternak kerbau diburu untuk dijadikan bahan
konsumsi sedangkan kulitnya dijadikan bahan pakaian akan tetapi kesulitan
memburu membuat manusia berusaha untuk berada dekat dengan sumber
makanan yang akhirnya dilakukanlah domestikasi terhadap kerbau. (Dhanda, 2006)
Terdapat beberapa jenis dari kerbau yaitu kerbau sungai (B. bubalis
bubalis) yang berasal dari Asia Selatan, kerbau rawa (B. bubalis carabanesis) dari
Asia Tenggara dan kerbau lumpur (B. bubalis arnee). Berdasarkan jenis kerbau
tersebut, maka penting untuk mengetahui klasifikasi dan juga perbedaan dari
setiap jenis kerbau. Untuk itu akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini
menegenai kerbau lumpur.
1.2

Rumusan Masalah
1. Bagaimana klasifikasi kerbau lumpur.
2. Bagaimana ciri-ciri dan karakteristik kerbau lumpur.
3. Bagaimana produksi kerbau lumpur.
4. Bagaimana produksi susu kerbau lumpur.
5. Bagaimana cara pemeliharaan kerbau lumpur.

1.3

Tujuan
1. Mengetahui klasifikasi kerbau lumpur.
2. Mengetahui ciri-ciri dan karakteristik kerbau lumpur.
3. Mengetahui produksi kerbau lumpur.
4. Mengetahui produksi susu kerbau lumpur.
5. Mengetahui cara pemeliharaan kerbau lumpur.
II
PEMBAHASAN

2.1

Klasifikasi Kerbau Lumpur


Klasifikasi ilmiah kerbau lumpur adalah sebagai berikut menurut Kerr

(1972) dalam Izza (2011) :


Kerajaan

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Mammalia

Ordo

: Artiodactyla

Famili

: Bovidae

Subfamili

: Bovinae

Genus

: Bubalus

Spesies

: B. bubalis

2.2

Ciri-ciri dan Karakteristik Kerbau Lumpur


Kerbau Lumpur (Swamp buffalo) memiliki ciri-ciri warna kulit coklat

kehitam-hitaman, tubuhnya relatif pendek, kaki pendek, serta tanduknya agak


melengkung. Berat badan kerbau dewasa berkisar antara 300-600 kg tergantung
kondisi dan genetis ternak. Berkaitan dengan produksi susu yaitu ambing
berjumlah empat, tidak terlalu besar, warna ambing putih kemerahan, letak di
belakang (dekat kaki belakang) dan simetris, dan puting susu relatif panjang.
Namun ambing susu kerbau rawa atau kerbau lumpur kurang berkembang dengan
baik, kecil, dan terlalu jauh dekat kaki belakang. Jumlah kromosom kerbau
lumpur yaitu 48 sedangkan kerbau sungai memiliki 50 jumlah kromosom
(Praharani, 2008).
Kerbau lumpur ditandai dengan sifatnya yang senang berkubang dalam
lumpur. Jenis kerbau lumpur banyak terdapat diseluruh Indonesia dan Asia
Tenggara. Pada umumnya kerbau lumpur merupakan tipe kerja yang ulet, baik
sebagai pengolah (membajak) sawah maupun sebagai penarik gerobak. Kerbau
lumpur cocok pula sebagai penghasil daging (Sunari, 2001).

Kerbau yang ada di Kalimantan Selatan termasuk dalam kelompok kerbau


rawa atau kerbau lumpur. Data di bawah ini memperlihatkan karakteristik kerbau
rawa di Kalimantan Selatan.
1. Bentuk tubuh : Persegi panjang (agak persegi).
2. Warna bulu : Untuk kerbau yang berumur di bawah 2,5 tahun warna bulu krem
atau coklat muda, untuk kerbau yang umurnya di atas 2,5 tahun warna
bulunya lebih coklat kelabu kehitaman, semakin tua maka warna semakin
kelam.
3.

Panjang bulu : Yang masih muda lebih panjang dibanding yang tua (4-5 cm).

4.

Kepala : Besar dan tampak agresif.

5.

Muka : Segitiga panjang dan cembung.

6. Dahi : Lebar dan ditumbuhi bulu yang lebat & rapi sehingga kelihatan seperti
disisir.
7. Daun telinga : Ada yang runcing & tumpul bagian ujungnya, warna kecoklatan
dan merah, yang berwarna merah sangat galak. Jumlah 2 buah. bentuk telinga
ke samping dan mengarah keatas.
8.

Mulut : Lebar dan tumpul.

9.

Leher : Pendek, besar, di bagian pangkal leber bagian bawah dengan badan
ada garis seperti kalung yang berwarna putih.

10. Mata : Berbentuk bulat dan berwarna coklat kehitaman dengan bagian pinggir
ditumbuhi bulu bagian hitam berwarna hitam dan bagian luar berwarna coklat
ada bulu mata tapi jarang dan panjang alis ada tapi beragam ada yang tebal
dan tipis sorot mata sayu.
11. Tanduk : Berbentuk agak pipih pada pangkalnya serta bulat dan runcing pada
ujungnya, tumbuh mengarah kesamping kemudian lurus kebelakang,
berjumlah 2 buah. Panjang tanduk tergantung umur, pada umumnya semakin
tua maka makin panjang tanduknya.
12. Kaki : Depan lurus sampai lotot sedang belakang agak miring kebelakang
denghan warna putih dari lotot sampai teracak.

13. Teracak : Melebar keluar dan bagian atas (seperti jempol) bagian depan lebih
panjang & besar dari bagian belakang.
14. Pangkal ekor : Seperti cembung dan dalam keaadan buntuing tua berubah
menjadi sangat cekung.
15. Punggung : Ditumbuhi bulu yang lebat dan tumbuhnya mengarah ke depan.
16. Dada : Berwarna putih kemerahan (merah muda).
17. Perut : Besar, menunjukkan kemampuan kerbau dalam mengkonsumsi pakan
lebih banyak, warnanya sama dengan bagian punggung yang coklat mengarah
ke arah kelabu kehitaman.
18. Ambing: Berjumlah empat, tidak terlalu besar, warna putih kemerahmudaan,
letak di belakang (dekat kaki belakang) dan simetris. Puting susu relatif
panjang.
2.3

Produksi Kerbau Lumpur


Kerbau lumpur dipelihara terutama sebagai ternak kerja dan untuk

produksi daging, namun di beberapa daerah kerbau ini juga diperah (Sjamsul dan
Talib, 2008; Wirdahayati, 2008). Kerbau lumpur juga terdapat di daerah Nusa
Tenggara Barat dan susu kerbau digunakan dalam pembuatan dodol untuk
keperluan keluarga peternak, selain itu sebagai bahan dasar pembuatan bahan
pangan lokal berupa palopo dan untuk permen susu (Muthalib, 2012).
Susu kerbau banyak digunakan oleh manusia untuk pembuatan keju jenis
Mozzarella di Italia, Karnal di India, dan Domiati di Mesir. Keju yang dihasilkan
dari susu kerbau seringkali dinilai jelek karena mengalami proses penggumpalan
(renneting) yang terlalu cepat. Hal ini dikarenakan di dalam susu kerbau
mengandung Ca lebih tinggi dari susu sapi sehingga mengakibatkan waktu
gumpal yang lebih cepat atau bisa juga menyebabkan terjadinya proteolisis,
rendahnya kemampuan mengikat air, dan tingginya nilai tegangan permukaan dari
gumpalan keju. Selain itu keju yang dibuat dari susu kerbau cenderung memiliki
tekstur yang keras dan kering serta lambat dalam pematangan. Produk susu

kerbau lainnya yaitu zabadi/laban dari Mesir, susu bubuk, susu kental (condensed
milk), mentega, yoghurt di Amerika dan es krim.
2.4

Produksi Susu Kerbau Lumpur


Laktasi ialah kombinasi proses sekresi air susu dari seekor induk ternak.

Periode laktasi merupakan rentang masa laktasi pertama ke masa laktasi


berikutnya dan seterusnya. Lama laktasi kerbau lumpur di Asia Tenggara yaitu 711 bulan (Chantalakhana, 1980) dan 10 bulan, masa bunting sekitar 12 bulan.
(Madamba dan Eusebio, 1980) dalam Ibrahim (2008). Produksi susu dipengaruhi
oleh faktor genetik dan faktor lingkungan termasuk manajemen pemeliharaannya
(Arman, Gamarius, Ratna, Robertus, 2012). Ditambahkan oleh Izza (2011) bahwa
produksi susu dipengaruhi oleh breed atau bangsa kerbau, umur beranak pertama
kali, musim beranak, periode laktasi dan tatalaksana pemberian pakan. Produksi
susu kerbau lumpur 1,0-2,5 liter/hari, produksi susu kerbau sungai yaitu 4-15
liter/hari sedangkan pada kerbau hasil persilangan (crossbreed) yaitu 3-4 liter/hari
(Sjamsul dan Talib, 2007). Susu kerbau memiliki kadar kolesterol 43%, jauh lebih
rendah dibandingkan dengan susu sapi (Ridwan dan Chalid, 2007).
Laktasi terjadi pada waktu kelahiran bersamaan dengan penurunan kadar
progesteron dan esterogen di dalam darah dan peningkatan prolaktin atau hormon
laktogenik dari kelenjar hipofisa. Dengan menggunakan hormon estrogen dan
progesteron, kelenjar susu hewan betina dara dapat ditumbuhkan dan
dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat dibuat berlaktasi. Oleh karena itu
dimungkinkan secara buatan, merangsang pertumbuhan kelenjar susu dan
menyuruh kelenjar tersebut mengeluarkan susu.
Faktor yang mempengaruhi laktasi :
1. Kebakaan : Kesanggupan untuk menghasilkan susu tergantung dari kondisi
genetik hewan.
2. Jaringan sekresi : faktor dasar yang membatasi laktasi adalah jumlah jaringan
kelenjar. Kelenjar susu yang kecil tidak menguntungkan dalam laktasi, karena

ketidaksanggupannya untuk menghasilkan cukup banyak susu dan maupun


menyimpannya.
3. Keadaan dan Persistensi laktasi : Beberapa sapi sangat persisten dan laju
penurunan sekresi susunya lambat ( 2-4 % dari produksi bulanan sebelumnya).
4. Penyakit : Penyakit apat mempengaruhi denyut jantung dan dengan demikian
mempengaruhi peredaran darah melalui kelenjar susu.
5. Makanan : Laju sintesis dan difusi berbagai komposisi susu tergantung pada
konsentrasi precursor susu dalam darah.
2.5

Pemeliharaan Kerbau Lumpur


Ternak kerbau lumpur merupakan ternak lokal yang hidup pada daerah

lembab, khususnya di daerah yang beriklim tropis. Kerbau lumpur sangat


menyukai air dan berpotensi untuk dikembangkan di pedesaan. Hal ini
sehubungan dengan peran yang ditunjukkan ternak kerbau sebagai penghasil
daging, susu dan tenaga kerja, sehingga ternak ini bisa juga disebut sebagai hewan
triguna. Selain itu hasil ikutan ternak kerbau yang memiliki potensi adalah kulit.
Kulit mempunyai potensi ekonomi yang cukup baik dan merupakan salah satu
komoditi ekspor juga sebagai bahan baku industri perkulitan dalam negeri
(Baruselli, 2001).
Di Indonesia kerbau memiliki peranan yang cukup penting bagi kehidupan
manusia, dari segi sosial maupun ekonomi dengan sistem pemeliharaan yang
bersifat tradisional dan merupakan peternakan rakyat. Keistimewaannya
dibandingkan sapi yaitu kemampuannya dalam memanfaatkan serat kasar, daya
adaptasinya terhadap daerah yang berkondisi buruk, serta bobot badannya yang
relatif besar sehingga memungkinkan untuk dikembangkan sebagai ternak
penghasil daging yang baik (Lita, 2009).
Salah satu daerah yang memiliki potensi untuk pengembangan ternak
kerbau adalah Kabupaten Malang. Hal tersebut dilihat dari segi kondisi
geografisnya yang merupakan daerah lembab dan mempunyai areal persawahan
yang cukup luas, diantaranya di Kecamatan Karangploso dan Kromengan,

terutama padi yang ditanam sepanjang tahun. Namun, jika ditinjau dari jumlah
populasinya yang sangat rendah yaitu hanya berjumlah 2.445 ekor jika
dibandingkan dengan populasi sapi perah sejumlah lebih dari 100.000 ekor maka
pemanfaatan lahan potensial ini terlihat kurang efektif (Disnak, 2013). Padahal
jika dikembangkan dengan baik, ternak ini akan mampu menopang program
swasembada daging dan peningkatan gizi masyarakat melalui penyediaan sumber
protein hewani yang variatif. Apalagi jika ditinjau dari kandungan gizinya, hasil
ternak kerbau lumpur ini mempunyai keunggulan dibandingkan hasil ternak sapi.
Hal tersebut ditunjukan dari hasil penelitian Reggeti dan Rodrigues (2004) dalam
Praharani, (2009) meliputi umur potong yang rendah (24 bulan, sapi 48 bulan) dan
mortalitas pra-sapihnya sebesar 1,4% (sapi 10%), sedangkan keunggulan gizinya
menurut laporan Nanda dan Nakao (2003) dalam Praharani, (2009) yaitu
kandungan protein daging dan susu yang tinggi yaitu sebesar 26,8% untuk daging
dan 31% untuk susu (protein daging sapi sebesar 24%, protein susu sapi 26,5%).
Sedangkan jumlah lemak dagingnya yaitu sebesar 1,8% dan lemak susunya
sebesar 40% (lemak daging sapi sebesar 20,69%, lemak susu sapi sebesar 1,4%).

III
KESIMPULAN
1. Kerbau Lumpur termasuk mamalia dengan famili Bovidae.
2. Kerbau lumpur (Bubalus bubalis) memiliki ciri-ciri warna kulit coklat
kehitam-hitaman, tubuhnya relatif pendek dan kaki pendek serta
tanduknya sedikit melenkung.
3. Kerbau lumpur disebut juga ternak triguna karena dapat menghasilkan
daging, susu yang dapat dijadikan dalam pembuatan dodol dan keju, dan
juga sebagai ternak pekerja.
4. Lama laktasi kerbau lumpur di Asia Tenggara yaitu 7-11 bulan. Produksi
susu dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan termasuk
manajemen pemeliharaannya.
5. Ternak kerbau lumpur merupakan ternak lokal yang hidup pada daerah
lembab, khususnya di daerah yang beriklim tropis. Kerbau lumpur sangat
menyukai air dan berpotensi untuk dikembangkan di pedesaan.

DAFTAR PUSTAKA
Arman, Z., B.A. Gamarius, J, Ratna, dan B, Robertus.

2008. Ciri dan

Karakteristik Kerbau. Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Joint

Program PPPPTK Pertanian Cianjur dengan Universitas Pendidikan


Indonesia
Baruselli, P.S., V.H. Barnabe, R.C. Barnabe, J.A. Visintin, J.R. Molero-Filho and
R. Porto. 2001. Effect of Body Condition Score at Calving on Postpartum
Reproductive Performance in Buffalo. J. Buffalo 17: 53-65.
Dhanda. O. P. 2006. Buffalo Production Scenario in India Opportunities and
Challenges. Proceedings International Seminar The Artificial Reprodictive
Biotechnologies

for

Buffaloes. ICARD

and

FFTC-ASPAC

Bogor, Indonesia. August 29 - 31, 2006. : 159 - 167.


Ibrahim, L. 2008. Produksi susu, reproduksi dan manajemen kerbau perah di
Sumatera Barat. Fakultas Peternakan. Universitas Andalas. Padang.
Jurnal Peternakan Vol. 5 : 1-9.
Izza, 2008. http://www.Susu Kerbau. Html. Izzati_Izzul_Hawa. (diakses 15
Oktober 2012).
Lita, M. 2009. Produktivitas Kerbau Rawa di Kecamatan Muara Muntai,
Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. IPB. Bogor.
Muthalib, A. 2012. Potensi sumber daya ternak kerbau di Nusa Tenggara Barat.
Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Lokakarya Nasional
Usaha Ternak Kerbau Mendukung Kecukupan Daging Sapi. Nusa
Tenggara Barat.
Praharani, L. 2008. Tinjauan performa persilangan kerbau sungai x kerbau
lumpur. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau. Bogor.
Ridwan dan Chalid. 2007. Ternak kerbau, ternak potensial masa depan di
Indonesia. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau.
Jakarta.

Sjamsul, B. dan C. Talib. 2007. Strategi Pengembangan Pembibitan Ternak


Kerbau. Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak
Kerbau. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.
Sunari. 2001. Beternak Kerbau. JP Books: Surabaya

LAMPIRAN

Gambar 1. Kerbau lumpur betina