Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya geokimia mempelajari mempelajari komposisi-komposisi kimia
bagian dari bumi misalnya pada lithosfer yang sebagian besar komposisi kimianya
adalah silikat serta pada daerah stalaktit dan stalagmit banyak ditemukan CaCO3.
Eksplorasi geokimia khusus mengkonsentrasikan pada pengukuran kelimpahan,
distribusi dan migrasi unsur-unsur bijih atau unsur-unsur yang berhubungan erat
dengan bijih dengan tujuan mendeteksi endapan bijih. Dalam pengertian yang lebih
sempit eksplorasi geokimia adalah pengukuran secara sistematis satu atau lebih unsur
jejak dalam batuan, tanah, sedimen sungai aktif, vegetasi, air, atau gas, untuk
mendapatkan anomali geokimia, yaitu konsentrasi abnormal dari unsur tertentu yang
kontras terhadap lingkungannya (background geokimia).
Pembahasan Geokimia akan selalu menjadikan bumi sebagai fokus perhatian
sekaligus obyek penelitian. Sehingga sangat perlu untuk mempelajari karakteristik
bumi yang mencakup sikap fisik dan kimia.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan penyusunan tugas ini, antara lain :
a) Mengetahui definisi geokimia eksplorasi.
b) Mengetahui konsep dasar geokimia eksplorasi.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Eksplorasi Geokimia

Eksplorasi atau prospeksi geokimia didefinisikan sebagai pengukuran


sistematis terhadap satu atau lebih trace elements (unsur-unsur jejak) dalam batuan,
soil, sedimen sungai, vegetasi, air atau gas dengan tujuan untuk menentukan
anomali-anomali geokimia (Levinson, 1974; Rose et al, 1979; Joyce, 1984;
Chaussier, 1987).
Sedangkan anomali geokimia adalah konsentrasi abnormal dari unsur-unsur
tertentu yang sangat kontras dengan lingkungannya, yang dipercaya mengindikasikan
hadirnya endapan mineral atau bijih. Pembentukan anomali ini dihasilkan oleh
mobilitas dan dispersi unsur-unsur yang terkonsentrasi dalam zona-zona mineralisasi
(Levinson, 1974; Rose et al, 1979; Joyce, 1984; Chaussier, 1987).
Dari definisi di atas diketahui bahwa salah satu

bagian

dari

eksplorasi/prospeksi geokimia adalah metoda sedimen sungai (stream sediment


survey), di mana pengukuran, analisis, dan interpretasi dilakukan berdasarkan
sampel-sampel sedimen sungai yang diambil secara sistematis (Levinson, 1974;
Joyce, 1984; Evans, 1995).
Konsentrasi-konsentrasi anomali dari unsur-unsur yang dideteksi dalam
survei sedimen biasanya telah terpindahkan ke arah bawah (hilir), sehingga
diperlukan metoda-metoda survei lain sebagai alternatif atau pelengkap, seperti
metoda geokimia lainnya, geofisika, atau geologi tindak-lanjut. Sehubungan dengan
hal tersebut, geokimia eksplorasi tidaklah secara langsung bertujuan untuk mencari
mineralisasi, tetapi hanya mencari indikasi-indikasi (anomali) yang bisa dipakai
sebagai acuan untuk menentukan daerah prospek mineralisasi. Olehnya itu bantuan
dari data-data metoda survei lainnya sangat dibutuhkan, terutama data geologi
(Levinson, 1974; Joyce, 1984; Peter, 1987).
Eksplorasi geokimia ini dilakukan dengan maksud kita dapat menganalisis
didaerah/batuan/lapisan mana yang memiliki kandungan kandungan kimia.
Contohnya: unsur-unsur bijih besi, minyak bumi, gas alam dan lain lain. Dimana
keberadaan unsur unsur tersebut berada dalam kondisi yang tidak tetap, melainkan
selalu bermigrasi yang merupakan akbat dari aktivitas lempeng bumi yang berada
diatas magma. Kondisi yang tidak stabil ini menyebabkan pergerakan - pergerakan
lempeng bumi yang nantinya akan mempengaruhi kondisi unsur - unsur yang berada

didalam lempeng bumi. Sehingga eksplorasi geokimia perlu dilakukan untuk


menghindari kesalahan lokasi eksplorasi.
2.2

Dispersi Geokimia
Dispersi geokimia adalah proses menyeluruh tentang transpor dan atau

fraksinasi unsur-unsur. Dispersi dapat terjadi secara mekanis (contohnya pergerakan


pasir di sungai) dan kimiawi (contohnya disolusi, difusi dan pengendapan dalam
larutan). Tipe dispersi ini mempengaruhi pemilihan metode pengambilan conto,
pemilihan lokasi conto, pemilihan fraksi ukuran dsb.
Joyce (1984) mendefinisikan dispersi geokimia sebagai proses total yang
mencakup transportasi dan/atau fraksinasi dari unsur-unsur, sedangkan Rose et al
(1979) mendefinisikannya sebagai proses di mana atom-atom dan partikel-partikel
bergerak menuju ke lokasi atau lingkungan geokimia yang baru. Berdasarkan
prosesnya Joyce (1984) dan Chaussier (1987) membagi dispersi menjadi dua jenis,
yaitu dispersi mekanik (contohnya pergerakan butiran-butiran pasir dalam sungai)
dan dispersi kimia (contohnya dissolusi, difusi, dan presipitasi dalam larutan).
Sedangkan berdasarkan hubungannya dengan lingkungan geokimia, beberapa ahli
seperti Levinson, 1974; Rose et al, 1979; Chaussier, 1987; dan A. Djunuddin, 1998
membagi dispersi ke dalam dua kelompok, yaitu dispersi primer yang berhubungan
dengan lingkungan geokimia primer (bawah permukaan) dan dispersi sekunder yang
berhubungan dengan lingkungan geokimia sekunder (di permukaan).
Proses dispersi tersebut selain dipengaruhi oleh tingkat mobilitas unsur yang
terangkut, juga akan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berhubungan dengan
media dispersinya, antara lain tingkat keasaman, yang selalu berubah tergantung
lingkungan geokimianya. Sebagai contoh air hujan bersifat agak asam, tanah penutup
sebagian bumi tingkat keasamannya sedang, air yang mengalir (termasuk sungai)
umumnya netral, dan air laut bersifat alkali (Joyce, 1984). Tingkat keasaman ini
sangat penting untuk dipertimbangkan, karena di samping berhubungan dengan
dispersi, juga berpengaruh terhadap tingkat mobilitas unsur. Untuk daerah-daerah di
Indonesia yang beriklim tropis, berdasarkan hasil survei geokimia regional yang
telah dilakukan oleh Departemen Pertambangan dan Energi berkerjasama dengan

UNDP, umumnya sedimen sungai mempunyai tingkat keasaman yang netral, kecuali
sungai-sungai yang melalui daerah batugamping (Johnson et al, 1986 dalam A.
Djunuddin, 1998).
Contohnya dalam survey drainage pertanyaan muncul apakah conto diambil
dari air atau sedimen ; jika sedimen yang dipilih, haris diketahui apakah
pengendapan unsur yang dicari sensitif terhadap variasi pH (contohnya adsorpsi Cu
oleh lempung) atau kecepatan aliran sungai (contohnya dispersi Sn sebagai butiran
detrital dari kasiterit). Jika adsorpsi dari ion-ion yang ikut diendapkan dicari dalam
tanah atau sedimen, maka fraksi yang halus yang diutamakan; jika unsur yang dicari
hadir dalam mineral yang resisten, maka fraksi yang kasar kemungkinan
mengandung unsur yang dicari.