Anda di halaman 1dari 32

WRAP UP SKENARIO 1

AIR KENCING KEMERAHAN

Oleh

: B1

Ketua

: Muhammad Fajar Ramadhan

1102011259

Sekretaris

: R. Agil Widjaya

1102012221

Anggota

: Muhammad Badar

1102009181

Mediani Nurdianty Sari

1102012160

Mentari Amir

1102012161

Metty Tusiana

1102012162

Mety Munahari

1102012163

Radian Rendra Tukan

1102012222

Rahmat Handi Saputra

1102012223

UNIVERSITAS YARSI
FAKULTAS KEDOKTERAN
TAHUN PELAJARAN 2013-2014

SKENARIO 1

MENCEGAH PENYAKIT DENGAN DISUNTIK


Seorang bayi berumur 3 hari mendapat vaksinasi BCG di lengan kanan atas untuk
mencegah penyakit dan mendapatkan kekebalan. Empat minggu kemudian bayi tersebut dibawa
kembali ke RS karena timbul benjolan di ketiak kanan. Setelah Dokter melakukan pemeriksaan
didapatkan pembesaran nodus limfatikus di region aksila dekstra. Hal ini disebabkan adanya
reaksi terhadap antigen yang terdapat dalam vaksin tersebut dan menimbulkan respon imun
tubuh.

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Organ Limfoid


1.1 Memahami Anatomi Secara Makroskopik
1.2 Memahami Anatomi Secara Mikroskopik
LI 2. Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Imunitas
2.1 Klasifikasi Sistem Imun
2.2 Sifat Umum
2.3 Fungsi Sistem Imun
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Antigen
3.1 Definisi Antigen
3.2 Klasifikasi Antigen
LI 4. Memahami dan Menjelaskan Antibodi
4.1 Definisi
4.2 Klasifikasi
4.3 Mekanisme Kerja Antibodi
LI 5. Memahami dan Menjelaskan Vaksin dan Imunisasi
5.1 Vaksin
5.2 Imunisasi
LI 6. Memahami dan Menjelaskan Vaksin dan Imunisasi dalam Pandangan Islam

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Organ Limfoid


1.1 Memahami Anatomi Secara Makroskopik
Sistem limfatikus adalah sistem sirkulasi sekunder pada tubuh yang berfungsi
mengalirkan cairan limfa atau disebut juga sebagai getah bening yang ada di dalam tubuh. Cairan
limfe berasal dari plasma darah yang keluar dari pembuluh darah kapiler arteriole sistem
kardivaskular ke dalam jaringan sekitarnya.
Jaringan limfoid terdiri dari 4 buah, yaitu dan ini termasuk dari organ limfois sekundr atau
perifer:
1. Limfonodus
Terletak disekitar pembuluh darah yang berfungsi untuk memproduksi limfosit dan anti
bodi untuk mencegah penyebaran infeksi lanjutan, menyaring aliran limfatik sekurangkurangnya oleh satu nodus sebelum dikembalikan kedalam aliran darah melalui duktus torasikus,
sehingga dapat mencegah penyebaran infeksi lebih luas. Terdapat permukaan cembung dan
bagian hillus (cekung) yang merupakan tempat masuknya pembuluh darah dan saluran limfe
eferen yang membawa aliran limfe keluar dari limfonodus. Saluran afferen memasuki
limfonodus pada daerah sepanjang permukaan cembung.
a. Bentuk Limfonodus
Oval seperti kacang tanah atau kacang merah dengan pinggiran cekung (hillus)
b. Ukuran Limfonodus
Sebesar kepala peniti atau buah kenari, dapat diraba pada daerah leher, axilla, dan
inguinal dalam keadaan infeksi.
Daerah tubuh yang terdapat limfonodus
1. Dilihat dari letaknya pada tubuh
a. Limfonodus superfisial
b. Limfonodus servikal (leher)
c. Limfonodus axilla (ketiak)
d. Limfonodus inguinal (lipat paha)
2. Limfonodus profundus
a. Limfonodus iliaka (berkenaan dengan ilium)
b. Limfonodus lumbal (sepanjang vertebra lumbalis)
c. Limfonodus torasikus (pada pangkal paru)
d. Limfonodus mesenterikus (melekat pada mesenterium usus halus
e. Limfonodus portal (pada fissura portal hepar/ celah porta hati)
3. Menurut Snells letak limfonodus terbagi atas

a. Kepala dan leher bagian lateral dan belakang yaitu di sepanjang


m.sternocleidomastoideus, lingual, pharynx, cavum nasi, palatum, muka,
mandibular/dasar mulut.
b. Extremitas superior yaitu manus, antebrachii, brachii, dan region axillaris.
c. Kelenjar mammae yaitu dibawah musculo pectoralis meliputi kulit dan otot.
d. Thorax yaitu meliputi dinding thorax, jantung, pericardium dan paru, pleura, esophagus
menuju aliran limfe thorax dan kelenjar mamae masuk ke dalam node limfaticus abterior
dan posterior.
e. Abdomen dan pelvis yaitu meliputi daerah peritoneum dan disekitar aorta, vena cava
inferior serta pembuluh darah intestinum. Aliram limfe superficialis bagian depan dan
lateral dan belakang diatas pusat masuk menuju nn II axillaris anterior dan posterior dan
dibawah pusat ke nn llmfatisi inguinalis superficialis.
f. Extremitas inferior yaitu disepanjang a,v tibialis, region popliteal, region inguinale.
Aliran limfe masuk limfonodus inguinale.
2. Lien

Merupakan organ limfoid yang terbesar, lunak, rapuh, vaskular berwarna


kemerahan karena banyak mengandung darah dan berbentuk oval. Pembesaran limpa
disebut dengan splenomegali. Pembesaran ini terdapat pada keaadan leukimia, cirrosis
hepatis, dan anemia berat.
a. Letak Timus
Regio hipochondrium sinistra intra peritoneal. Pada proyeksi costae 9, 10, dan 11.
Setinggi vertebrae thoracalis 11-12. Batas anterior yaitu gaster, ren sinistra, dan
flexura colli sinistra. Batas posterior yaitu diafragma, dan costae 9-12.
b. Ukuran Timus
Sebesar kepalan tangan masing-masing individu.
c. Fiksasi
1. Fiksasi lien ke renal melalui ligamentum renolienalis.
2. Fiksasi lien ke gaster melalui ligamentum gastrolienalis.
3. Fiksasi lien ke colon melalui ligamentum colic
d. Aliran darah
Aliran darah akan masuk kedaerah hillus lienalis yaitu arteri lienalis dan keluar
melalui vena lienalis ke vena porta menuju hati.

Lien dibungkus oleh jaringan perlekatan peritoneum pada permukaan yang disebut
kapsula lienalis dan lien memiliki serat otot polos yang membantu pengaturan volume
darah didalam lien, juga serat kolagen dan elastis.
3. Thymus

Timus tumbuh terus hingga pubertas. Setelah mulai pubertas, timus akan
mengalami involusi dan mengecil seiring umur kadang sampai tidak ditemukan. akan
tetapi masih berfungsi untuk menghasilkan limfosit T yang baru dan darah. Mempunyai 2
buah lobus, mempunyai bagian cortex dan medulla, berbentuk segitiga, gepeng dan
kemerahan. Thymus mempunyai 2 batasan, yaitu :
a. Batasan anterior : manubrium sterni dan rawan costae IV
b. Batasan atas : Regio colli inferior (trachea)
a. Letak Timus
Terdapat pada mediastinum superior, dorsal terhadap sternum. Dasar timus bersandar
pada perikardium, ventral dari arteri pulmonalis, aorta, dan trakea. Batas anterior yaitu
manubrium sterni, dan rawan costae IV. Batas Atas yaitu regio colli inferior (trachea).
b. Perdarahan Timus
Berasal dari arteri thymica cabang dari arteri thyroidea inferior dan mammaria
interna. Kembali melalui vena thyroidea inferior dan vena mammaria interna.

4. Tonsil

Tonsil terletak dalam satu lekukkan yang dikenal sengan Fossa Tonsilaris yamh
dibatasi 2 otot yang melengkung berbentuk arcus Palatoglosus dan arcus
Palatopharyngeus. Dasar fossa tonsilaris dinamakan dengan istilah Tonsila bed dan tonsil
termaksud salah satu dari organ limfoid yang terdiri atas 3 buah tonsila yaitu Tonsila
Palatina, Tonsila Lingualis, Tonsila Pharyngealis. Ketiga tonsil tersebut membentuk
cincin pada saluran limf yang dikenal dengan Ring of Waldeyer hal ini yang
menyebabkan jika salah satu dari ketiga tonsila ini terinfeksi dua tonsila yang lain juga
ikut meradang. Organ limfoid yang terdiri atas 3 buah tonsila, yaitu :
a. Tonsila palatine
1. Terletak pada dinding lateralis, orofaring dekstra dan sinistra
2. Terletak dalam satu lekukan yang dikenal dengan fossa tonsilaris, dasar dari
lekukan itu adal tonsil bed
3. Tonsil membuka ke cavum oris terdiri dari 12-15 crypta tonsilaris
4. Ditutupi oleh selapis jaringan ikat fibrosa yang berbentuk capsula
5. Persyarafan tonsil oleh N IX (Glossopharyngues) dan N palatinus (N V2)
6. Pendarahan berasal dari arteria tonsilaris cabang a.maxillaris externa (facialis)
dan arteria tonsilaris vabang a.pharyngica ascendens lingualis
b. Tonsila inguialis
1. Terletak dibelakang lidah, 1/3 bagian posterior, tidak mempunya papilla
sehingga terlihat permukaan berbenjol-benjol (folikel).
2. Pendarahan tonsil berasal dari arteria dorsalis lingue (cabang arteria lingualis),
arteria carotis eksterna

c. Tonsila pharyngealis
1. Terdapat di daerah nasofaring dibelakang pintu hidung belakang
2. Bila membesar disebut adenoid, dapat menyebabkan sesak nafas karena dapat
menyumbat pintu nares posterior (choanae), terletak di daerah nasopharynx,
tepatnya diatas torus tobarius dan OPTA
Perdarahan tonsil yaitu aliran darah berasal dari arteri tonsillaris yang merupakan
cabang dari arteri maxillaris externa (fascialis) dan arteri pharyngica ascendens lingualis.
1.2 Memahami Anatomi Secara Mikroskopik
1. LIMFONODUS
A. Korteks
a. Korteks luar : - susunan limfosit membentuk nodulus limfatikus.
- Terlihat terang, ada limfosit besar dan mikrofag : germinal
center. Germinal center adalah terjadi diferensiasi limfosit B
menjadi sel plasma.
b. Korteks dalam : - limfosit difus, dan didominasi oleh limfosit T.
B. Medula
Terdapat korda medularis yang menjadi dinding dari sinus-sinus medularis.

2. LIEN
Lien berwarna merah tua karena banyak mengandung darah.
Tampak bintik2 putih dlm parenkim nodulus limfatikus (pulpa putih/pulpa alba)
Pulpa alba tdp dlm jaringan merah tua yg penuh dg darah pulpa merah/pulpa rubra.
Pulpa rubra tda bangunan memanjang yaitu Korda limpa (korda billroth) yg tdpt diantara
sinusoid

3. THYMUS
a. Cortex : zona merah yang gelap dan terdapat banyak limfosit T.
b. Medula : zona pusat yang terang, dan terdapat badan hassal.

4. TONSIL
a. Tonsil lingualis
Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.
Terdapat di 1/3 bagian posterior lidah.
Limfonodulus umumnya mempunyai germinal center yang umumnya terisi

limfosit dan sel plasma.


Lebih kecil dan banyak dan masing mempunyai kriptus.

b. Tonsil palatina
Epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.
Terletak di dinding lateral faring.
Bagian melipat jauh masuk kedalam disebut kriptus
Terdapat germinal center

c. Tonsila faringea atau adenoid


Epitel bertingkat torak bersilia dengan sel goblet.
Terletak dipermukaan medial dari dinding dorsal nasofaring.
LI 2. Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Imunitas
2.1 Klasifikasi Sistem Imun
A. SIstem imun non spesifik
Disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah ada dan
siap berfungsi sejak lahir.
1. Pertahanan Fisik/Mekanik
kulit, selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan bersin : garis pertama terdepan
terhadap infeksi.
2. Pertahanan Biokimia
a. As.lemak pada kel.sebaseus di kulit : mempunyai efek denaturasi terhadap protein
membran
b. Lisozim dalam keringat, ludah, air mata, dan air susu ibu : hancurkan lapisan
peptidoglikan dinding bakteri positif gram
c. ASI-->laktooksidase dan as.neuraminik : antibakterial terhadap e.coli dan
stapilococus
d. Saliva-->laktooksidase : merusak dinding dan menimbulkan kebocoran
sitoplasma , dan berfungsi sebagai opsonin dalam lisis sel mikroba
e. HCL , enzim proteolitik, antibodi, empedu dalam usus halus, menciptakan
lingkungan yang dapat mencegah infeksi banyak mikroba
f. Mukus yang kental melindingi sel epitel mukosa dapat menangkap bakteri dan
bahan lainnya --> dikeluarkan oleh silia

3. Pertahanan Humoral
Molekul larut yang diproduksi ditempat infeksi atau cedera dan berfungsi lokal
a. Komplemen
Berbagai bahan dalam sirkulasi seperti lektin, interferon, CRP.
Berperan sebagai opsonin yang meningkatkan fagositosis, sebagai faktor
kemotaktik dan juga menimbulkan lisis bakteri dan parasit
b. Protein Fase Akut
APP : kadar beberapa protein dan serum
APRP : bila protein naik atau turun selama fase akut
Berperan sebagai antimirobial dalam serum yang meningkat dengan cepat setelah
sistem imun nonspesifik diaktifkan.
Contoh ; CRP , Lektin
c. Protein fase akut lain
mengurangi cedera jaringan dan meningkatkan resolusi, dan perbaikan cedera
inflamasi. Contoh; haptoglobin, amiloid serum A.
d. Mediator asal fosfolipid
Untuk produksi PG dan LTR --> meningkatkan permeabilitas vaskular dan
vasodilatasi.
e. Sitokin IL-1 , IL-6 , IL-a
Sebagai proinflamasi : merangsang hati untuk mengeluarkan protein fase akut.
4. Pertahanan Seluler
a. Fagosit mononuklear
Terdiri atas monosit dalam sirkuasi dan makrofag dalam jaringan. Pada dasarnya,
monosit dan makrofag sama-sama mempunyai fungsi yg sama, yaituuntuk
fagositosis mikroba patogen, melepas mediator inflamasi dan sitokin,
sertamempresentasikan antigen dari patogen yg dicerna kepada sel limfosit T.
Penghancurankuman(fagosit) dilakukan dengan membentuk fagolisoson, yaitu
fusi antar fagosom ygdidalamnya terdapat patogen dan lisosom, yg akan
mendestruksi patogen, baik dengan mengunakan enzim pencernaan dari lisosom
maupun menggunakan spesies oksigen reaktif.Hal ini juga mengawali
pengelepasan mediator inflamasi maupun sitokin yg akanmenginduksi baik sel-sel
imun spesifik maupun nonspesifik lainnya.
b. Fagosit Polimorfonuklear atau Granulocyte
Merupakan 60-70% dari seluruh jumlah darah putih normal dan dapat keluar dari
pembuluh darah(kemotaksis/responinflamasi). Granulosit dibagi menurut
pewarnaan histologiknya menjadi neutrofil, eosinofildan basofil.Sel-sel ini
mempunyai granul-granul yg mengandung enzim pencernaan.
c. Neutrofil
Merupakan sel pertama yg dikerahkan ketempat bakteri masuk. Fungsi
utamaneutrofil adalah fagositosis, baik dengan jalur oksigen dependen dan
independen. Neutrofil jgdapat mengenal patogen scr langsung.
d. Eosinofil

e.

f.

g.

h.

Merupakan 2-5% dari sel darah putih orangsehat. Eosinofil jg berfungsi sebagai
fagosit, dengan cara melepaskan isi granul nya yg bersifat toksik ke sel sasaran.
Sel ini berperan penting pada infeksi parasit.
Basofil
Berjumlah sangat sedikit,sekitar <0,5% dari seluruh sel darah putih. Basofil dapat
berfungsi sebagai fagosit dengan memiliki enzim pencernaan(protease) tapi fungsi
utamanyadengan melepas mediator inflamasi, seperti histamin,leukotrien,heparin,
dll.
Sel mast
Sel mast adalah sel yg dalam struktur, fungsi dan proliferasinya serupa dengansel
basofil, bedanya adalah sel mast hanya ditemukan dalam jaringan yg berhubungan
dengan pembuluh darah. Sel mast diaktifkan dengan pengaruh PAF, C3a,C5a dan
mediator lainnya.Bila sudah teraktivasi, maka sel mast akan degranulasi
mengeluarkan berbagai sitokin yg berperan dalam proses inflamasi.
Sel Natural Killer (NK)
Termasuk sel limfosit karena berkembang dari sel asal progenitor yg sama dengan
sel B dan T. Sel NK dapatmengenali dan membunuh berbagai selyg sudah
terinfeksi tanpa bantuan tambahan untuk aktivasinya. Sel NK mengandung
perforinyg dapat melubangi membran sel sasaran dan granzim untuk sitotoksik,
sama seperti Th. Selini memproduksi IFN- dan TNF- yg merupakan sitokin
proinflamasi serta berperan dalam pengaktifan makrofag dan regulator sel Th
Sel Dendritik(SD)
Merupakan antigen presenting cell(APC) paling efektif karenaletaknya yg
strategis di tempat-tempat mikroba masuk tubuh. SD mengenali
antigen,mengawali respon imunitas seluler dan humoral yg mengaktifkan sel T
dan sel B. APCmempresentasikan peptida antigen ke sel T CD4 melalui MHC-II
atau ke sel T CD* melaluiMHC-I, sehingga dapat mengaktifkan kedua sel
tersebut.

B. Sistem imun spesifik


Timbulnya sensitifitas setelah terkena pajanan pertama kali.
1. Sistem imun spesifik humoral
Sel B melepas antibodi untuk menyingkirkan mikroba ekstraselular
2. Sistem imun spesifik selular
Sel T mengaktifkan makrofag sebagai efektor untuk menghancurkan
mikroba atau mengaktifkan sel CTC/Tc sebagai efektor yang
menghancurkan sel terinfeksi.
2.2 Sifat Umum
A. Imunitas aktif, akibat kontak langsung dengan mikroorganisme sehingga tubuh
memproduksi sendiri antibodinya.

1. Imunitas aktif didapat secara alami, jika terpapar suatu penyakit dan system
imun memproduksi antibody serta limfosit khusus. Bisa bersifat sementara
atau seumur hidup.
2. Imunitas aktif didapat secara buatan, hasil vaksinasi, vaksin dapat
merangsang respon imun, tetapi tidak menyebabkan penyakit.
B. Imunitas pasif, terjadi jika antibody dipindah dari satu individu ke individu lainnnya.
1. Imunitas pasif alami, terjadi pada janin saat antibody IgG ibu masuk ke
plasenta.
2. Imunitas pasif buatan, diberikan melalui injeksi antibody yang diproduksi
oleh orang yang kebal karena terpapar suatu antigen.
2.3 Fungsi Sistem Imun
1. Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan &
menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur,
dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh.
2. Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak untuk perbaikan jaringan.
3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.
Sasaran utama: bakteri patogen & virus.
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Antigen
3.1 Definisi Antigen
Imunogenitas merupakan kemampuan menginduksi respon imun humoral (sel B
memproduksi Ig) dan selular (aktivasi sel T melepaskan sitokin), sedangkan antigenitas
merupakan bahan yang dapat menginduksi respon imun spesifik. Semua molekul yang
bersifat imunogenitas juga memiliki sifat antigenitas, namun tidak sebaliknya. Antigen
merupakan bahan asing yang dikenal dan merupakan target yang akan dihancurkan oleh
sistem kekebalan tubuh.
Antigen ditemukan di permukaan seluruh sel, tetapi dalam keadaan normal,
sistem kekebalan seseorang tidak bereaksi terhadap selnya sendiri. Sehingga dapat
dikatakan antigen merupakan sebuah zat yang menstimulasi tanggapan imun, terutama
dalam produksi antibodi. Antigen biasanya protein atau polisakarida, tetapi dapat juga

berupa molekul lainnya, termasuk molekul kecil (hapten) dipasangkan ke proteinpembawa.


Antigen dibedakan menjadi imunogen dan hapten. Untuk memicu respon
antibody, bahan kecil (hapten) tersebut perlu diikat oleh molekul besar (molekul
pembawa). Hapten membentuk epitope pada molekul pembawa yg dikenal system imun
dan merangsang pembentukan antibody. Respon sel B terhadap hapten memerlukan
protein pembawa untuk dapat dipresentasikan ke sel Th.
Epitop atau determinan antigen adalah bagian dari antigen yang dapat
membuat kontak fisik dengan reseptor antibody, menginduksi pembentukan antibody yg
dapat diikat dgn spesifik. Paratop adalah bagian dari antibody yang mengikat epitop.

3.2 Klasifikasi Antigen


a. Pembagian antigen menurut epitop
1. Unideterminan, univalent = hanya satu jenis determinan/epitop pada satu
molekul
2. Unideterminan, multivalent = hanya satu jenis determinan tetapi dua atau
lebih determinan tersebut ditemukan pada satu molekul
3. Multideterminan, univalent = banyak epitop yang bermacam-macam tetapi
hanya satu dari setiap macamnya (kebanyakan protein)
4. Multideterminan, multivalent = banyak macam determinan dan banyak dari
setiap macam pada satu molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi
dan kompleks secara kimiawi)
b. Pembagian antigen menurut spesifiksitas
1. Heteroantigen = dimiliki oleh banyak spesies
2. Xenoantigen = dimiliki spesies tertentu
3. Aloantigen (isoantigen) = spesifik untuk individu dalam satu spesies
4. Antigen organ spesifik = dimiliki organ tertentu
5. Autoantigen = dimiliki alat tubuh sendiri
c. Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T
1. T dependent = memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih dahulu untuk
dapat menimbulkan respons antibody. Kebanyakan antigen protein
termasuk dalam golongan ini
2. T independent = dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk
membentuk antibody. Kebanyakan antigen golongan ini berupa molekul
besar poliremik yang dipecah di dalam tubuh secara perlahan-lahan,
misalnya lipopolisakarida, ficcol, dekstran, levan dan flagelin polimerik
bakteri

d. Pembagian antigen menurut sifat kimiawi


1. Hidrat arang (polisakarida) = pada umumnya imunogenik, glikoprotein
yang merupakan bagian permukaan sel banyak mikroorganisme dapat
menimbulkan respon imun terutama pembentukan antibody. Contoh lain
adalah respon imun yang ditimbulkan golongan darah ABO, sifat antigen
dan spesifitas imunnya berasal dari polisakarida pada permukaan sel darah
merah
2. Lipid = biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat
protein pembawa. Lipid dianggap hapten, contohnya adalah sfingolipid
3. Asam nukleat = tidak imunogenik, tetapi bisa menjadi imunogenik bila
diikat protein molekul pembawa. DNA dalam bentuk heliksnya biasanya
tidak imunogenik. Respons imun terhadap DNA terjadi pada penderita LES
4. Protein = biasanya imunogenik dan umumnya multideterminan dan
univalent

LI 4. Memahami dan Menjelaskan Antibodi


4.1 Definisi
Antibodi adalah molekul immunoglobulin yang bereaksi dengan antigen spesifik yang
menginduksi sintesisnya dan dengan molekul yang sama; digolongkan menurut cara kerja
seperti agglutinin, bakteriolisin, hemolisin, opsonin, atau presipitin. Antibodi disintesis
oleh limfosit B yang telah diaktifkan dengan pengikatan antigen pada reseptor permukaan
sel. Antibodi biasanya disingkat penulisaanya menjadi Ab.

4.2 Klasifikasi

Keterangan gambar :
unit dasar antibody yang terdiri dari 2 rantai berat dan 2 rantai ringan yang identic diikat
jadi satu oleh ikatan disulfide.
2 jenis rantai ringan (kappa dan lambda) terdiri dari 230 asam amino.
5 jenis rantai berat, yg tergantung pada kelima jenis immunoglobulin : IgM, IgG, IgE,
IgA, IgD yg terdiri dari 450-600 asam amino. (sehingga panjang rantai berat adalah dua
kali rantai ringan).
1. Immunoglobin G (IgG)
Adalah immunoglobin utama pada serum manusia yang meliputi sekitar 7080%
dari seluruh immunoglobin. Setiap molekul IgG terdiri dari 2 rantai, yaitu rantai L dan 2
rantai H yang dihubungkan oleh ikatan sulfida (formula molekul H2L2). Karena
mempunyai 2 tempat pengikatan yang identik, immunoglobulin bersifat divalen.
Berdasarkan pada perbedaan anigenik rantai H dan pada jumlah dan lokasi ikatan
disulfida, ada 4 sub kelas IgG, yaitu IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4. Sebagian besar IgG
adalah IgG1 (65%). Antibodi IgG2 ditunjukkan pada antigen polisakarida yang
merupakan bagian sistem pertahanan penting terhadap bakteri berkapsul.
IgG merupakan antibodi terpenting pada respons imun sekunder dan juga
merupakan antibodi penting untuk pertahanan terhadap bakteri dan virus. IgG adalah
satu-satunya antibodi yang dapat melewati plasenta. Antibodi ini memberikan imunitas
pasif yang tinggi pada bayi baru lahir.
IgG yang tersebar merata di intravaskular dan ekstravaskular merupakan satusatunya kelas antibodi yang bersifat antitoksin. IgG dapat mengopsonosasi karena
mempunyai reseptor rantai gama H pada permukaan fagosit, sedangkan IgM tidak dapat
secara langsung mengopsonisasi karena tidak mempunyai reseptor rantai mikro H pada
permukaan fagosit.
2. Immunoglobin A (IgA)
Merupakan immunoglobin utama pada sekret, seperti kolostrum, saliva, air mata,
dan sekret saluran perrnapasan, gastrointestinal, dan genitalia. IgA melindungi membran

mukosa dari bakteri dan virus. Setiap molekul IgA sekretonik (berat molekul 400.000)
terdiri dari 2 unit H2L2, satu molekul rantai J (joining, penghubung), dan komponen
sekretonik. Komponen sekretonik adalah suatu polipeptida yang disintesis oleh sel-sel
epitel yang dilewati perjalanan IgA ke permukaan mukosa. Komponen sekretonik ini juga
memproteksi IgA dari degradasi di saluran intestinal. Dalam serum, IgA berada dalam
bentuk monomer H2L2 (BM 170.000)
3. Immunoglobin M (IgM)
Adalah immunoglobin utama yang diproduksi pada awal respons primer. IgM
dapat ditemukan sebagai monomer pada permukaan hampir semua sel B dan tempatnya
berfungsi sebagai reseptor pengikatan antigen. Pada serum, IgM merupakan pentamer
yang terdiri dari 5 unit H2L2 ditambah satu molekul rantai J (joining, penghubung).
Pentamer ini mempunyai 10 tempat pengikatan antigen dan 5-10 valensi. IgM merupakan
immunoglobin paling penting untuk aglutinasi, fiksasi komplemen, dan reaksi antibodi
lain. IgM merupakan antibodi penting untuk pertahanan terhadap virus dan bakteri. IgM
dapat diproduksi oleh janin pada beberapa infeksi tertentu. IgM mempunyai aviditas
tertinggi karena interaksinya dengan antigen dapat melibatkan ke tempat terikatnya
sekaligus.
4. Immunoglobin D (IgD)
Sejauh ini belum diketahui fungsi antibodi immunoglobulin ini. Yang diketahui
hanyalah fungsinya sebagai reseptor antigen karena dapat ditemukan pada permukaan
beberapa limfosi B. Jumlahnya dalam serum sangat terbatas.
5. Immunoglobulin E (IgE)
Regio Fc IgE berikatan dengan permukaan sel mast dan basofil. IgE yang terikat
berfungsi sebagai reseptor antigen (alergen) dan kompleks antigen-antibodinya memicu
terjadinya respons alergi melalui pelepasan mediator. Jumlah IgE pada serum normal
sangat sedikit (sekitar 0,004%), tetapi penderita reaksi alergi dapat mempunyai IgE dalam
jumlah yang sangat meningkat. IgE juga dapat dijumpai pada sekresi eksterna.
Konsentrasi IgE serum juga meningkat pada infeksi cacing. IgE tidak dapat memfiksasi
komplemen maupun melewati plasenta.
4.3 Mekanisme Kerja Antibodi
Antibodi diproduksi melalui proses yang disebut seleksi klonal (clonal selection). Setiap
individu mempunyai jumlah besar limfosit B (sekitar 10 7). Setiap sel B mempunyai
reseptor permukaan (IgM dan IgD) yang dapat bereaksi terhadap satu antigen (atau
kelompok antigen yang serupa).
Suatu antigen akan bereaksi dengan limfosit B yang mempunyai reseptor permukaan
yang paling sesuai. Setelah berikatan dengan antigen, sel B akan terstimulasi untuk
berpoliferasi dan membentuk klon sel. Sel-sel B yang terpilih ini akan segera berubah
menjadi sel plasma dan mensekresi antibodi yang spesifik terhadap antigen. Sel plasma

mensintesis immunoglobin dengan spesifitas antigenik yang sama dengan yang dibawa
oleh sel B yang di seleksi. Spesifisitas antigenik tidak akan berubah meskipun terjadi
perubahan kelas rantai berat antibodi.

LI 5. Memahami dan Menjelaskan Vaksin dan Imunisasi


5.1 Vaksin
Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit.
Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi
terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga
membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak. Vaksin
secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih
besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak
penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.
Tujuan vaksin:
a. Mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang
b. Menghilangkan penyakit tertentu pada populasi

Vaksin berasal dari bibit penyakit yang dilemahkan atau dimatikan sehingga tidak
berbahaya bagi manusia. Sebagian besar vaksin mengandung zat-zat seperti :
a. Antigen imunisasi aktif yang akan berperan aktif merangsang pembentukan
antibody
b. Cairan suspense atau pelarut yang dapat mengandung protein atau derivate lain
dari media dimana vaksin tersebut dibiakan, misalnya antigen telur adatu dari
biakan jaringan
c. Pengawet, stabilizier, dan antibiotic yang digunakan untuk mencegah
pertumbuhan bakteri atau untuk menstabilkan antigen. Zat-zat ini hanya
dibutuhkan dalam jumlah sedikit
d. Adjuvant, adalah zat untuk meningkatkan derajat antigen dan untuk
memperpanjang efek stimulasi antigen. Adjuvant yang sering digunakan adalah
adjuvant alumunium.
Hal-hal yang dapat merusak vaksin yaitu panas (semua jenis vaksin), sinar matahari
(vaksin BCG dan vaksin campak), pembekuan (vaksin yang dibuat dari toksid, vaksin
DPT), dan desinfekatan atau antiseptic.
Tempat dan rute pemberian vaksin
Vaksin yang diberikan secara subkutan dan intaramuskular biasanya disuntikan pada sisi
anterolateral paha atau daerah deltoidnlengan atas, karena daerah tersebut paling
terhindar dari pembuluh darah besar atau serabut saraf utama. Vaksin yang mengandung
adjuvant harus disuntikan secaraIM yang dalam. Bila diberikan vaksin secara bersamaan,
tiap suntikkan harus disuntikan pada sisi yang berbedadan dengan menggunakan spuit
yang berbeda.

Klasifikasi vaksin
Jenis vaksin

Penyakit
Campak, parotitis,

Vaksin hidup

polio(sabin), virus rota,


rubella, yellow fever,
tuberkolosis

Keuntungan

Kerugian
Memerlukan alat

Respon imun kuat, sering

pendingin untuk

seumur hidup dengan

menyimpan dan dapat

bebrapa dosis

berubah menjadi bentuk


virulen

Respons imun lebih


Vaksin mati

Kolera, influenza,

Stabil, aman dibanding

lemah dibanding vaksin

hepatitis A, pes, polio,

vaksin hidup, tidak

hidup, biasanya

(salk), rabies

memerlukan alat pendingin.

diperlukan suntikan
booster.

Respons imun dipacu untuk

Toksoid

Difteri, tetanus

Subunit (eksotoksin

Hepatitis B, pertusis, S.

yang diinaktifkan)

pneumoni

Konjugat

H. influenza B, S.
Pneumoni

mengenal toksin bakteri


Antigen spesifik
menurunkan kemungkinan
efek samping

Sulit untuk
dikembangkan

Memacu sistem imun bayi


untuk mengenak sistem
teetentu
Respons imun humoral dan

DNA

Dalam uji klinis

selular kuat, relatif tidak


mahal untuk

Belumdiperoleh

manufaktur
Menyerupai infeksi
Vektor rekombinan

Dalam uji klinis

alamiah,menghasilkan

Belumdiperoleh

respon imun kuat.

Vaksin Virus
Kelas vaksin
Virus vaksin hidup

Virus
Adenovirus

Catatan
Imunisasi aktif menggunakan

Cacar air

galur tidak virulen yang

Campak

dilemahka. Efektif memacu

Parotitis

respons antibodi dan limfosit

Polio

sitotoksit

Rotavirus

Rubella
Cacar, Yellow fever

Hepatitis A
Virus vaksin mati

Influenza
Polio
Rabies

Vaksin subunit

Adenovirus

Vaksin polipeptida

Hepatitis B

Vaksin DNA
(hanya evaluasi)

HIV

Imunisasi aktif menggunakan


partikel virus panas atau kimia
yang tidak aktif. Vaksinasi
dapat dikombinasikan dengan
virus lainnya (polivalen)
Imunisasi aktif menggunakan
protein yang dimurnikan
Imunisasi aktif menggunakan
sintesa urutan protein
polipeptida
Penelitian: bermanfaat untuk
memacu respon Tc

Hepatitis A

Antibodi pasif

Hepatitis B

Penyuntikan antibodi yang

Campak

dimurnikan hasil dari sumber

Parotitis

lainnya. Hanya sementara dan

Rabies

hanya sedikit bermanfaat

RSV

diberikan setelah awitan

Rubella

penyakit.

Varisella zoster
5.2 Imunisasi
a. Imunisasi BCG

Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis


(TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. BCG ulangan tidak
dianjurkan karena keberhasilannya diragukan.

Vaksin disuntikkan secara intrakutan pada lengan atas, untuk bayi berumur
kurang dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,05 mL dan untuk anak berumur lebih
dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL.
Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang
dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis.
Kontraindikasi untuk vaksinasi BCG adalah penderita gangguan sistem
kekebalan (misalnya penderita leukemia, penderita yang menjalani pengobatan
steroid jangka panjang, penderita infeksi HIV).
Reaksi yang mungkin terjadi:
1) Reaksi lokal : 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat penyuntikan
timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudian benjolan
ini berubah menjadi pustula (gelembung berisi nanah), lalu pecah dan
membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan
dalam waktu 8-12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut.
2) Reaksi regional : pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau leher, tanpa
disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan menghilang dalam waktu 3-6
bulan.

Komplikasi yang mungkin timbul adalah:


Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena
penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan.
Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan
aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat.
Limfadenitis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau
dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2-6 bulan.
b. Imunisasi DPT

Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri,
pertusis dan tetanus.
Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat
menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal.
Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai
dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking.
Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan
batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis
juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan
kerusakan otak.
Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang
serta kejang.

Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur
kurang dari 7 tahun.Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang
disuntikkan pada otot lengan atau paha.
Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan
(DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4
minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia
prasekolah (5-6 tahun).
Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya
diberikan DT, bukan DPT.
Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster
vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya
memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan
booster).
Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung
vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun.
DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau
nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi
karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin.
Pada kurang dari 1% penyuntikan, DTP menyebabkan komplikasi berikut :
o demam tinggi (lebih dari 40,5 Celsius)
o kejang
o kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah
mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya)
o syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon).

Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi DPT bisa
ditunda sampai anak sehat. Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau
perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau
kejangnya bisa dikendalikan.
1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan,
nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan. Untuk mengatasi
nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen).
Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres
hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang
bersangkutan.

c. Imunisasi DT

Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh


kuman penyebab difteri dan tetanus.

Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh
atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima
imunisasi difteri dan tetanus.
Cara pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan imunisasi DPT.
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak 0,5 mL. Vaksin ini tidak
boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau menderita demam
tinggi. Efek samping yang mungkin terjadi adalah demam ringan dan
pembengkakan lokal di tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung selama 12 hari.

d. Imunisasi TT

Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap


penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk
pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus.
Kepada ibu hamil, imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat
kehamilan berumur 7 bulan dan 8 bulan. Vaksin ini disuntikkan pada otot paha
atau lengan sebanyak 0,5 mL. Efek samping dari tetanus toksoid adalah reaksi
lokal pada tempat penyuntikan, yaitu berupa kemerahan, pembengkakan dan rasa
nyeri.

e. Imunisasi Polio

Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis.


Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun
kedua lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot
pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian.
Terdapat 2 macam vaksin polio :
o IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio
yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan
o OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang
telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.
Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk
monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.
Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak
kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah
imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat
meninggalkan SD (12 tahun).
Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2
tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang
berisi air gula.
Kontra indikasi pemberian vaksin polio:
o Diare berat

o Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi,


kortikosteroid)
o Kehamilan.

Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan kejang-kejang.


Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan
primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan
kekuatan antibobi sampai pada tingkat yang tertinggi.
Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa tidak
perlu dilakukan pemberian booster secara rutin, kecuali jika dia hendak bepergian
ke daerah dimana polio masih banyak ditemukan. Kepada orang dewasa yang
belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan perlu menjalani imunisasi,
sebaiknya hanya diberikan IPV. Kepada orang yang pernah mengalami reaksi
alergi hebat (anafilaktik) setelah pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atau
neomisin, tidak boleh diberikan IPV. Sebaiknya diberikan OPV. Kepada penderita
gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia,
kanker, limfoma), dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepada
orang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atau
obat imunosupresan lainnya.
IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare.
Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya pelaksanaan
imunisasi ditunda sampai mereka benar-benar pulih.
IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang
biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari.

f. Imunisasi Campak

Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak


(tampek).
Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan
atau lebih. Pada kejadian luar biasa dapat diberikan pada umur 6 bulan dan
diulangi 6 bulan kemudian.
Vaksin disuntikkan secara subkutan dalam sebanyak 0,5 mL.
Kontra indikasi pemberian vaksin campak :
o infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38?Celsius
o gangguan sistem kekebalan
o pemakaian obat imunosupresan
o alergi terhadap protein telur
o hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin
o wanita hamil.
Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit, diare,
konjungtivitis dan gejala kataral serta ensefalitis (jarang).

g. Imunisasi MMR

Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan


campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali.
Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair.
Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa
menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan
kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan
pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan
bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan
pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada
buah zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (rubella) menyebabkan
demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher.
Rubella juga bisa menyebakban pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.
Jika seorang wanita hamil menderita rubella, bisa terjadi keguguran atau kelainan
bawaan pada bayi yang dilahirkannya (buta atau tuli). Terdapat dugaan bahwa
vaksin MMR bisa menyebabkan autisme, tetapi penelitian membuktikan bahwa
tidak ada hubungan antara autisme dengan pemberian vaksin MMR.
Vaksin MMR adalah vaksin 3-in-1 yang melindungi anak terhadap campak,
gondongan dan campak Jerman. Vaksin tunggal untuk setiap komponen MMR
hanya digunakan pada keadaan tertentu, misalnya jika dianggap perlu
memberikan imunisasi kepada bayi yang berumur 9-12 bulan.
Suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur 12-15 bulan. Suntikan
pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup yang adekuat,
karena itu diberikan suntikan kedua pada saat anak berumur 4-6 tahun (sebelum
masuk SD) atau pada saat anak berumur 11-13 tahun (sebelum masuk SMP).
Imunisasi MMR juga diberikan kepada orang dewasa yang berumur 18 tahun atau
lebih atau lahir sesudah tahun 1956 dan tidak yakin akan status imunisasinya atau
baru menerima 1 kali suntikan MMR sebelum masuk SD.
Dewasa yang lahir pada tahun 1956 atau sebelum tahun 1956, diduga telah
memiliki kekebalan karena banyak dari mereka yang telah menderita penyakit
tersebut pada masa kanak-kanak. Pada 90-98% orang yang menerimanya,
suntikan MMR akan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap campak,
campak Jerman dan gondongan.
Suntikan kedua diberikan untuk memberikan perlindungan adekuat yang tidak
dapat dipenuhi oleh suntikan pertama.
Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh masing-masing komponen vaksin:
o Komponen campak
1-2 minggu setelah menjalani imunisasi, mungkin akan timbul ruam kulit.
Hal ini terjadi pada sekitar 5% anak-anak yang menerima suntikan MMR.
Demam 39,50 Celsius atau lebih tanpa gejala lainnya bisa terjadi pada 515% anak yang menerima suntikan MMR. Demam ini biasanya muncul
dalam waktu 1-2 minggu setelah disuntik dan berlangsung hanya selama
1-2 hari. Efek samping tersebut jarang terjadi pada suntikan MMR kedua.

o Komponen gondongan
Pembengkakan ringan pada kelenjar di pipi dan dan dibawah rahang,
berlangsung selama beberapa hari dan terjadi dalam waktu 1-2 minggu
setelah menerima suntikan MMR.
o Komponen campak Jerman
Pembengkakan kelenjar getah bening dan atau ruam kulit yang
berlangsung selama 1-3 hari, timbul dalam waktu 1-2 mingu setelah
menerima suntikan MMR. Hal ini terjadi pada 14-15% anak yang
mendapat suntikan MMR.
Nyeri atau kekakuan sendi yang ringan selama beberapa hari, timbul
dalam waktu 1-3 minggu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini hanya
ditemukan pada 1% anak-anak yang menerima suntikan MMR, tetapi
terjadi pada 25% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Kadang
nyeri/kekakuan sendi ini terus berlangsung selama beberapa bulan (hilangtimbul).
Artritis (pembengkakan sendi disertai nyeri) berlangsung selama 1 minggu
dan terjadi pada kurang dari 1% anak-anak tetapi ditemukan pada 10%
orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Jarang terjadi kerusakan
sendi akibat artritis ini.
Nyeri atau mati rasa pada tangan atau kaki selama beberapa hari lebih
sering ditemukan pada orang dewasa.
Meskipun jarang, setelah menerima suntikan MMR, anak-anak yang
berumur dibawah 6 tahun bisa mengalami aktivitas kejang (misalnya
kedutan). Hal ini biasanya terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah
suntikan diberikan dan biasanya berhubungan dengan demam tinggi.

Keuntungan dari vaksin MMR lebih besar jika dibandingkan dengan efek
samping yang ditimbulkannya. Campak, gondongan dan campak Jerman
merupakan penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi yang sangat serius.
Jika anak sakit, imunisasi sebaiknya ditunda sampai anak pulih. Imunisasi MMR
sebaiknya tidak diberikan kepada:
o anak yang alergi terhadap telur, gelatin atau antibiotik neomisin
o anak yang 3 bulan yang lalu menerima gamma globulin
o anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh akibat kanker, leukemia,
limfoma maupun akibat obat prednison, steroid, kemoterapi, terapi
penyinaran atau obati imunosupresan.
o wanita hamil atau wanita yang 3 bulan kemudian hamil.

h. Imunisasi Hib

Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b.


Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan
berat yang bisa menyebabkan anak tersedak.

Vaksin Hib diberikan sebanyak 3 kali suntikan, biasanya pada saat anak berumur
2, 4 dan 6 bulan.

i. Imunisasi Varisella

Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air.


Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara
perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.
Anak yang berumur 12-18 bulan dan belum pernah menderita cacar air dianjurkan
untuk menjalani imunisasi varisella. Anak-anak yang mendapatkan suntikan
varisella sebelum berumur 13 tahun hanya memerlukan 1 dosis vaksin. Kepada
anak-anak yang berumur 13 tahun atau lebih, yang belum pernah mendapatkan
vaksinasi varisella dan belum pernah menderita cacar air, sebaiknya diberikan 2
dosis vaksin dengan selang waktu 4-8 minggu.
Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster dan sangat menular. Biasanya
infeksi bersifat ringan dan tidak berakibat fatal; tetapi pada sejumlah kasus terjadi
penyakit yang sangat serius sehingga penderitanya harus dirawat di rumah sakit
dan beberapa diantaranya meninggal. Cacar air pada orang dewasa cenderung
menimbulkan komplikasi yang lebih serius.
Vaksin ini 90-100% efektif mencegah terjadinya cacar air. Terdapat sejumlah kecil
orang yang menderita cacar air meskipun telah mendapatkan suntikan varisella;
tetapi kasusnya biasanya ringan, hanya menimbulkan beberapa lepuhan (kasus
yang komplit biasanya menimbulkan 250-500 lepuhan yang terasa gatal) dan
masa pemulihannya biasanya lebih cepat.
Vaksin varisella memberikan kekebalan jangka panjang, diperkirakan selama 1020 tahun, mungkin juga seumur hidup.
Efek samping dari vaksin varisella biasanya ringan, yaitu berupa :
o demam
o nyeri dan pembengkakan di tempat penyuntikan
o ruam cacar air yang terlokalisir di tempat penyuntikan.
Efek samping yang lebih berat adalah :
o kejang demam, yang bisa terjadi dalam waktu 1-6 minggu setelah
penyuntikan
o pneumonia
o reaksi alergi sejati (anafilaksis), yang bisa menyebabkan gangguan
pernafasan, kaligata, bersin, denyut jantung yang cepat, pusing dan
perubahan perilaku. Hal ini bisa terjadi dalam waktu beberapa menit
sampai beberapa jam setelah suntikan dilakukan dan sangat jarang terjadi.
o ensefalitis
o penurunan koordinasi otot.

Imunisasi varisella sebaiknya tidak diberikan kepada :


Wanita hamil atau wanita menyusui
Anak-anak atau orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan yang
lemah atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan
imunosupresif bawaan
Anak-anak atau orang dewasa yang alergi terhadap antibiotik neomisin
atau gelatin karena vaksin mengandung sejumlah kecil kedua bahan
tersebut
Anak-anak atau orang dewasa yang menderita penyakit serius, kanker atau
gangguan sistem kekebalan tubuh (misalnya AIDS)
Anak-anak atau orang dewasa yang sedang mengkonsumsi kortikosteroid
Setiap orang yang baru saja menjalani transfusi darah atau komponen
darah lainnya
Anak-anak atau orang dewasa yang 3-6 bulan yang lalu menerima
suntikan immunoglobulin.

j. Imunisasi HBV

Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah


suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian.
Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya memiliki
HBsAg negatif, bisa diberikan pada saat bayi berumur 2 bulan. Imunisasi dasar
diberikan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 bulan antara suntikan HBV I
dengan HBV II, serta selang waktu 5 bulan antara suntikan HBV II dengan HBV
III. Imunisasi ulangan diberikan 5 tahun setelah suntikan HBV III. Sebelum
memberikan imunisasi ulangan dianjurkan untuk memeriksa kadar HBsAg.
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha.
Kepada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, diberikan vaksin HBV
pada lengan kiri dan 0,5 mL HBIG (hepatitis B immune globulin) pada lengan
kanan, dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada saat anak
berumur 1-2 bulan, dosis ketiga diberikan pada saat anak berumur 6 bulan.
Kepada bayi yang lahir dari ibu yang status HBsAgnya tidak diketahui, diberikan
HBV I dalam waktu 12 jam setelah lahir. Pada saat persalinan, contoh darah ibu
diambil untuk menentukan status HBsAgnya; jika positif, maka segera diberikan
HBIG (sebelum bayi berumur lebih dari 1 minggu). Pemberian imunisasi kepada
anak yang sakit berat sebaiknya ditunda sampai anak benar-benar pulih. Vaksin
HBV dapat diberikan kepada ibu hamil.
Efek samping dari vaksin HBV adalah efek lokal (nyeri di tempat suntikan) dan
sistemis (demam ringan, lesu, perasaan tidak enak pada saluran pencernaan), yang
akan hilang dalam beberapa hari.

k. Imunisasi Pneumokokus Konjugata

Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang


sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit
yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah).
Kepada bayi dan balita diberikan 4 dosis vaksin. Vaksin ini juga dapat digunakan
pada anak-anak yang lebih besar yang memiliki resiko terhadap terjadinya infeksi
pneumokokus.

LI 6. Memahami dan Menjelaskan Vaksin dan Imunisasi dalam Pandangan Islam


Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri dari
penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari
itu dari racun dan sihir(HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).
Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyariatkannya mengambil sebab untuk
membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga kalau dikhawatirkan
terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat
tatkala terkena penyakit.
Boleh dalam kondisi darurat dalil firman Allah : Sesungguhnya Allah telah
menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa
kamu memakannya. (QS. Al- Anam [6]:119)
1. Penggunaan Vaksin Polio Khusus (IPV)
Setelah sekelumit informasi tantang imunisasi di atas, sekarang kita masuk
kepada
permasalahan inti yang menjadi polemik hangat akhir-akhir ini, yaitu
imunisasi dengan menggunakan vaksin polio khusus (IPV) yang dalam proses
pembuatannya menggunakan
enzim yang berasal dari babi. Bagaimanakah
gambaran permasalahan yang sebenarnya ?
Dan bagaimanakah status
hukumnya?
2. Dhorurat dalam Obat
Dhorurat (darurat) adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman,
yaitu ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang
larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada badanya,
hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan:
Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang
Namun kaidah ini harus memenuhi dua persyaratan: tidak ada pengganti lainya yang

boleh (mubah/halal) dan mencukupkan sekadar untuk kebutuhan saja.


Oleh karena itu, al-Izzu bin Abdus Salam mengatakan : Seandainya seorang terdesak
untuk makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan jiwa dan
anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis.20
3. Kemudahan Saat Kesempitan
Sesungguhnya syariat islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali dalildalil yang mendasari hal ini, bahkan Imam asy-Syathibi mengatakan: Dalil-dalil
tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang pasti.20
Semua syariat itu mudah. Namun, apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan
kemudahan lagi. Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syafii tatkala berkata :
Kaidah syariat itu dibangun (di atas dasar) bahwa segala sesuatu apabila sempit
maka menjadi luas.21
tentang hukum imunisasi IPV ini, yaitu kami memandang bolehnya imunisasi jenis
ini dengan alasan-alasan sebagai berikut :
1.Imunisasi ini sangat dibutuhkan sekali sebagaimana penelitian ilmu kedokteran.
2.Bahan haram yang ada telah lebur dengan bahan-bahan lainnya.
3.Belum ditemukan pengganti lainnya yang mubah.
4.Hal ini termasuk dalam kondisi darurat.
5.Sesuai dengan kemudahan syariat di kala ada kesulitan.