Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Prolaps uteri yaitu turunnya uterus kedalam introitus vaginae. Hal ini dapat mempengaruhi
kualitas hidup yang sebabkan dari gejala akibat dari penekanan dan ketidaknyamanan dari
prolaps uteri tersebut.1 Prolaps uteri merupakan salah satu dari prolaps organ pelvis dan menjadi
kasus nomor dua tersering setelah cystourethrocele (bladder and urethral prolapse). Prolaps
2

uterus dapat disebabkan karena kelemahan otot, fasia, dan ligemen penyokongnya.

Prolaps organ pelvis adalah masalah umum yang terjadi pada 40% wanita yang berusia
lebih dari 50 tahun. Risiko pada wanita yang menjalani pembedahan POP sekitar 11% dan terjadi
rekurensi sekitar 30%. Risiko POP, meningkat seiring dengan seringnya persalinan pervaginam,
usia tua dan wanita yang obesitas. Kelainan POP ini membuat kualitas hidup menjadi berkurang,
ketidaknyamanan, psikologi dan complain seksual, dan juga kehidupan social menjadi terbatasi.
Kelainan POP didefinisikan sebagai penurunan satu atau lebih organ dari pelvis. Dinding anterior
vagina prolapse. Segmen apikal merupakan uterus atau post histerektomi vaginal cuff. Dinding
posterior dari vagina yang berasal dari rectum tapi dapat juga berasal dari kompartemen lainnya.4
Frekuensi prolapsus genitalia di beberapa negara berlainan, seperti dilaporkan di klinik
Gynecologie et Obstetrique Geneva insidesnya 5,7%, dan pada priode yang sama di Hambrug
5,4%, Roma 6,4%. Dilaporkan di Mesir, India, dan Jepang kejadiannya cukup tinggi, sedangkan
pada orang Negro Amerika, Indonesia kurang. Penyebabnya terutama adalah melahirkan dan
pekerjaan yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat serta kelemahan dari
ligamentum-ligamentum karena hormonal pada usia lanjut.5
The Oxford Family Planning Association menyatakan di Inggris lebih dari 17.000
perempuan berumur 25-39 yang terkena kelainan prolapse uterus. Angka insidensi dari rawatan
rumah sakit dengan kasus prolapse 20,4/10.000 dan angka insidensi dari pembedahan yang
prolapse 16,2/10.000. Banyak penelitian tidak menyebutkan antara prolapse organ pelvis dan
prolapse uteri secara terpisah, yang mana sekarang jadinya sulit untuk menentukan angka
insidensi yang sebenarnya. Regresi spontan dapat terjadi pada umumnya, terutama pada prolapse
grade 1, angka progresi adalah 1,9/100 pertahun dan angka regresi 48/100 pertahun. Tidak
semua prolaps bersifat progresif.6

Batu urin mempengaruhi sekitar 5% dari populasi barat. Kalkulus tersebut terbentuk dari
kalsium pada 70% kasus, asam urat 20%, magnesium ammonium fosfat (struvit) 10% dan sistin
kurang dari 1%. Urine merupakan cairan yang stabil dan variasi pada saturasi yang berbeda, pH
urin dan konsentrasi pada inhibitor kristalisasi dapat menyebabkan kerusakan pada
keseimbangan yang akhirnya dapat menyebabkan terjadinya batu.7
Batu saluran kemih jarang terjadi pada negara berkembang dan pada orang tua biasanya
terjadi akibat adanya hubungan dengan obstruksi dari kandung kemih, kronik infeksi atau
kehadiran adanya kopus alienum pada vesika.8 Ini dapat terjadi pada anak-anak dan berkaitran
dengan malnutrisi, khususnya kekurangan makanan protein.9 Gejala klinis dapat asimtomatik.
Adapun gejala seperti nyeri suprapubic, dysuria, hematuria, dan aliran urin yang melemah,
hesitansi, frekuensi, urgensi dan nyeri dapat terjadi pada 50% lebih.7
Hubungan batu vesika urinaria besar dan prolaps uterovaginal adalah kejadian yang sangat
jarang. Batu vesikalis berat > 100 g merupakan temuan yang tidak biasa dalam praktek urologi
modern. Lama berdiri uterovaginal prolaps dan outlet kandung kemih obstruksi, ditambah
dengan infeksi kronis diduga menjadi faktor penyebab. Temuan anatomi biasanya berhubungan
dengan kalkulus vesikalis adalah sistokel, enterocele prolaps uterovaginal atau temuan operasi
uretra sebelum semua yang berkontribusi terhadap peningkatan urin sisa.19

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Prolaps Organ Panggul
2.1.1. Definisi

Prolaps organ panggul merupakan turunnya atau herniasi isi organ panggul melalui
saluran vagina akibat kelemahan pada struktur penyokong dasar panggul. Adapun yang termasuk
didalamnya adalah berupa sistokel, uretrokel, prolapse uterus, rektokel, dan enterokel.5
2.1.2. Epidemiologi
Prolaps organ panggul merupakan masalah kesehatan yang mempengaruhi jutaan wanita
di seluruh dunia. Amerika Serikat , itu adalah indikasi dikutip paling umum ketiga untuk
histerektomi. Selain itu , seorang wanita memiliki risiko seumur hidup diperkirakan 11 persen
untuk menjalani operasi untuk prolaps atau inkontinensia. Meskipun data terbatas , studi
menunjukkan bahwa prevalensi prolaps organ panggul meningkat sejalan dengan usia.
Mengingat link kondisi untuk usia dan perubahan demografi di Amerika Serikat , prevalensi
gangguan dasar panggul pasti akan tumbuh.10
Frekuensi prolapsus genitalia di beberapa negara berlainan, seperti dilaporkan di klinik
Gynecologie et Obstetrique Geneva insidesnya 5,7%, dan pada priode yang sama di Hambrug
5,4%, Roma 6,4%. Dilaporkan di Mesir, India, dan Jepang kejadiannya cukup tinggi, sedangkan
pada orang Negro Amerika, Indonesia kurang. Penyebabnya terutama adalah melahirkan dan
pekerjaan yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat serta kelemahan dari
ligamentum-ligamentum karena hormonal pada usia lanjut.5
2.1.3. Anatomi Organ Panggul
Posisi serta letak uterus dan vagina dipertahankan oleh ligament, fasia serta otot-otot
dasar panggul. Dibagi 4 golongan yaitu:5
1. Ligamen-ligamen yang terletak dalam rongga perut dan ditutupi oleh peritoneum yaitu
ligamentum rotundum , ligamentum sakrouterina, ligamentum kardinale, ligamentum
latum, dan ligament tum infundibulo pelvikum.
2. Jaringan-jaringan yang menunjang vagina yaitu fasia yang terdapat antara dinding depan
vagina dan dasar kandung kemih (fasia puboservikalis) dan fasia yang terdapat antara
dinding belakang vagina dan rectum (fasia rektovaginalis)
3. Kantong Douglas
4. Otot-otot dasar panggul, terutama otot levator ani
Ligamentum latum dan rotundum

Ligamentum latum yang banyak berisi pembuluh darah dan pembuluh getah bening,
hanya sedikit memberi bantuan pada system alat genitalia dalam keadaan normal kecuali dalam
keadaan patologis. Pada keadaan tertentu seperti adanya ruang, atau endometriosis ia dapat
menggantung uterus pada tempatnya sehingga tidak terjadi prolapse. Sedangkan ligamentum
rotundum bukan ligament tetapi terdiri dari otot-otot polos dan berfungsi memberi bantuan untuk
mempertahankan uterus tetap anteversi.5
Ligamentum kardinale dan sakrouterina
Kedua ligament ini merupakan ligamentum yang sangat kuat terdiri dari jaringan ikat,
termasuk fasia endopelvik. Ligamentum kardinale terbentang dari serviks bagian lateral hingga
dinding panggul. Sedang ligamentum sakrouterina terletak setinggi ostium uteri internum,
terbentang dari serviks ke dinding belakang sampai tulang sacrum. Ligamentum kardinale dan
sakrouterina, bersama-sama berfungsi mempertahankan uterus agar tetap dalam posisi dan letak
di atas otot levator ani dan levator plate (lembaran levator) dengan fiksasi ke dinding panggul.5
Fasia-fasia yang mempertahankan posisi vagina
Fasia puboservikalis membentang dari belakang simfisis ke serviks uteri melalui bagian
bawah kandung kencing, lalu melingkari urethra menuju ke dinding depan vagina. Dibelakang
antara vagina dan rectum terdapat fasia rektovaginalis. Kelemahan pada fasia puboservikalis
dapat menyebabkan kandung kemih dan juga urethra menonjol kearah lumen vagina, sedang
kelemahan pada fasia akan menyebabkan menonjolnya rectum ke arah lumen vagina.5
Kantong Douglas
Kavum douglas dilapisi oleh peritoneum yang berupa kantong buntu yang terletak antara
ligamentum sakrouterinum disebelah kanan dan kiri, vagina bagian atas di depan, dan rectum
belakang. Di daerah ini, oleh karena tidak ada otot atau fasia, tekanan intraabdominal yang
meninggi dapat menyebabkan hernia (enterokel).5
Otot dasar panggul
Dasar panggul terdiri dari diafragma pelvis, diafragma urogenital dan otot penutup
gentalia eksterna. Diafragma pelvis merupakan penutup bagian bawah dari rongga perut, dan
terdiri dari otot levator ani, koksigeus, dan fasia endopelvik. Otot levator ani terbagi jadi
illiokoksigeus, pubokoksigeus, dan puborektalis, walaupun lebih jauh subdivisinya disebut
pubourethralis dan pubovaginalis dimana serabut-serabut levator ani berinsersi dalam fasia yang
menutup urethra dan vagina. Otot levator ani ini kanan kiri membentuk levator plate yang kuat

sekali dan terbentang mulai dari titik penggabungannya di belakang hiatus levator dan terus ke
belakang dan berinsersi di tulang koksigeus, Central perineal body, dan pada ligamen
anokoksigeus. Rektum dan vagina lewat melalui hiatus ini.5
Diatas otot levator ani bersandar vagina bagian atas dan rectum yang dalam keadaan
normal berada pada posisi horizontal dan parallel dengan levator plate. Levator ani dalam
keadaan normal berfungsi:5
1. Mengerutkan lumen rectum, vagina, urethra dengan cara menariknya ke arah dinding
tulang pubis sehingga organ-organ pelvis di atasnya tidak dapat turun (prolaps).
2. Mengimbangkan tekanan intraabdominal dan tekanan atmosfer sehingga ligamenligamen tidak perlu bekerja mempertahankan letak organ-organ pelvik diatasnya.
3. Sebagai sandaran dari uterus, vagina bagian atas, rectum dan kandung kemih. Bila otot
levator rusak atau mengalami defek maka ligamen seperti ligamen kardinale, sakrouterina
dan fasia akan mempunyai kerja beban yang berat untuk mempertahankan organ-organ
yang digantungnnya, sebaliknya selama otot-otot levator ani normal, ligamen-ligamen
dan fasia tersebut otomatis dalam istirahat atau tidak berfungsi banyak.. Dibawah otot
levator ani terdapat diafragma urogenital yang menutup hiatus genitalis, dan memberi
bantuan pada levator ani untuk mempertahankan organ-organ diatasnya. Diafragma
urogenitas terdiri dari fasia yang kuat dengan otot transversa perinei, berjalan antara
arkus pubis kanan-kiri. Diafragma urogenitalis ini juga berfungsi memberi bantuan pada
levator ani menahan organ-organ pelvis.

2.1.4 Faktor Risiko


Adapun yang dapat menjadi faktor risiko pada kelainan prolaps organ pelvis adalah
kehamilan, melahirkan secara pervaginam, menopause, hipoestrogen, penuaan, penyakit paru
obstruksi kronik, peningkatan tekanan intraabdomen secara kronik, konstipasi, obesitas, trauma
lantai panggul, faktor genetic, ras, penyakit jaringan ikat, histerektomi, spina bifida, dan wanita
perokok. Adapun menurut penelitian terbaru yang dilakukan Ward et al. (2014) bahwasannya ada
hubungan terhadapa reseptor estrogen alpha rs2228480 GA, COL3A1 exon, dan kromosom
9q21.10,11
Multiparitas
Persalinan vagina merupakan faktor risiko yang paling sering dikutip. Tidak ada
kesepakatan apakah itu kehamilan atau proses melahirkan itu sendiri yang merupakan
predisposisi disfungsi dasar panggul. Namun, banyak penelitian telah jelas menunjukkan bahwa
melahirkan meningkatkan kecenderungan wanita untuk terjadinya POP. Sebagai contoh, di
Pelvic Organ Studi Support (POSST), meningkatkan paritas dikaitkan dengan memajukan
prolaps. Selain itu, risiko POP meningkat 1,2 kali dengan masing-masing persalinan pervaginam.
Studi perencanaan kohort keluarga Oxford dari 17.000 wanita menunjukkan bahwa dibandingkan
dengan wanita nulipara, orang-orang dengan dua pengiriman mengalami peningkatan delapan
kali lipat di rumah sakit untuk POP.10
Risiko obstetric
Meskipun kelahiran pervaginam terlibat dalam risiko seumur hidup seorang wanita untuk
terjadinya POP, faktor risiko obstetri spesifik tetap kontroversial. Ini termasuk makrosomia,
persalinan kala dua yang lama, episiotomi, anal sphincter laserasi, analgesia epidural ,
penggunaan forsep, dan stimulasi oksitosin. Masing-masing merupakan faktor risiko yang
diusulkan, meskipun tidak secara definitif terbukti. Seperti kita menunggu penelitian lebih lanjut,
kita dapat mengantisipasi bahwa meskipun masing-masing mungkin memiliki dampak penting,
itu adalah jumlah kumulatif dari semua peristiwa yang terjadi sebagai janin melintasi jalan lahir
yang merupakan predisposisi dari POP.10
Umur
Seperti dijelaskan sebelumnya usia lanjut juga merupakan faktor risiko dalam terjadinya
POP. Pada wanita berusia 20 sampai 59 tahun, kejadian POP berlipat ganda dengan setiap
dekade. Seperti risiko lainnya untuk terjadinya POP, penuaan adalah proses yang kompleks.

Insiden meningkat dapat dihasilkan dari penuaan dan degeneratif proses fisiologis serta
hipoestrogenisme. Memisahkan efek kurang estrogen dari efek dari proses penuaan yang
bermasalah.
Ras
Perbedaan ras prevalensi POP telah dibuktikan dalam beberapa penelitian. Perempuan
kulit hitam dan Asia menunjukkan risiko terendah, sedangkan wanita Hispanik tampaknya
memiliki risiko tertinggi. Meskipun perbedaan dalam kandungan kolagen telah dibuktikan antara
ras, perbedaan ras di panggul tulang juga mungkin memainkan peran. Misalnya, perempuan kulit
hitam lebih sering memiliki lengkungan kemaluan yang sempit dan panggul android atau
antropoid. Bentuk-bentuk ini adalah pelindung terhadap POP dibandingkan dengan panggul
ginekoid khas kebanyakan wanita Kaukasia.10
Peningkatan tekanan intra abdomen
Kronis peningkatan tekanan intra-abdominal diyakini berperan dalam patogenesis POP.
Kondisi ini hadir dengan obesitas, sembelit kronis, batuk kronis, dan angkat berat yang berulang.
Sejumlah penelitian mengidentifikasi obesitas sebagai faktor risiko independen untuk stres
inkontinensia urin. Namun, hubungan dengan perkembangan POP kurang jelas. Sehubungan
dengan mengangkat, sebuah studi Denmark menunjukkan bahwa asisten perawat yang terlibat
dengan angkat berat berulang yang pada peningkatan risiko untuk menjalani intervensi bedah
untuk prolaps. Selain itu, merokok dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) juga telah terlibat
dalam pengembangan POP, meskipun beberapa data yang mendukung hubungan ini. Demikian
pula, meskipun hasil batuk kronis pada peningkatan berulang tekanan intra-abdomen, tidak ada
mekanisme yang jelas telah dibuktikan. Beberapa percaya bahwa senyawa kimia yang dihirup
dalam tembakau dapat menyebabkan perubahan yang mengarah pada POP daripada batuk kronis
itu sendiri.10
2.1.5. Patofisiologi
Dukungan organ panggul dipertahankan oleh interaksi yang kompleks antara levator ani,
jaringan ikat, vagina, dan lantai panggul. Namun, mekanisme ini belum sepenuhnya dijelaskan.
Ketika otot-otot levator ani memiliki tonus yang normal dan vagina memiliki kedalaman yang
cukup, vagina bagian atas hampir horisontal pada wanita. Ini menciptakan " flap - valve " efek di
mana vagina bagian atas dikompresi terhadap pelat levator selama periode peningkatan intra
tekanan - perut . Hal ini berteori bahwa ketika otot-otot levator ani kehilangan tonus, vagina

jatuh dari horisontal ke posisi semi vertikal. Ini melebar atau membuka prolaps hiatus genital dan
organ viseral. Tanpa dukungan yang memadai levator ani, fascia visceral yang lengket dengan
panggul dan menjadi tegang dan akhirnya gagal.10
Otot rangka merupakan jaringan dinamis yang terus-menerus melakukan remodeling dan
regenerasi. Populasi heterogen serat dengan fungsi yang berbeda memungkinkan otot rangka
untuk beradaptasi dengan situasi yang berbeda, seperti peregangan dan beban mekanik.
Kerusakan otot levator ani berikut cedera jaringan otot langsung atau mungkin akibat dari
kerusakan pasokan saraf. Persalinan vagina memiliki potensi untuk menyebabkan jenis
kerusakan. Namun, tidak jelas apa efek kondisi patologis lainnya, seperti peningkatan kronis
tekanan intra - abdomen , mungkin pada otot levator ani.10
Trauma langsung
Cedera langsung ke otot-otot levator ani diyakini terjadi selama persalinan tahap kedua.
Otot mengalami peregangan yang signifikan sebagai kepala janin mengalami distensi dasar
panggul. Secara khusus, model - simulasi komputer yang menciptakan tekanan kerja
menunjukkan bahwa, dari otot levator ani, otot-otot pubococcygeus medial menjalani paling
peregangan. Hal ini menunjukkan bahwa otot-otot levator ani sebenarnya merombak dan sembuh
dalam beberapa wanita setelah melahirkan pervaginam.12
Hal ini tampaknya benar fungsional. Wanita postpartum telah ditemukan mengalami
penurunan kekuatan otot dasar panggul setelah melahirkan tetapi kembalinya fungsi kembali saat
10 minggu. Namun, juga kemungkinan bahwa dalam beberapa kasus cedera peregangan
permanen terjadi. Bukti untuk ini disarankan oleh pengamatan klinis yang wanita multipara
memiliki hiatus genital melebar dibandingkan dengan wanita nulipara.10
Cedera saraf
Cedera saraf adalah diduga faktor risiko POP. Selain studi anatomi, saraf pudenda latency
motor terminal (PNTML) dan elektromiografi (EMG). Elektromiografi, telah digunakan untuk
menyelidiki kerusakan saraf setelah persalinan pervaginam. Dari penelitian tersebut, ada bukti
bahwa neuropati pudenda dikaitkan dengan persalinan pervaginam. Diusulkan bahwa cedera
peregangan saraf pudenda terjadi selama persalinan tahap kedua karena saraf adalah tetap saat
keluar kanal Alcock. Peregangan kronis dengan buang air besar juga telah dikaitkan dengan
denervasi otot panggul. Mengedan Kelebihan dan keturunan perineal dapat meregangkan saraf
pudenda dan mengakibatkan neuropati. Namun, meskipun asosiasi ini antara neuropati dan

10

persalinan pervaginam atau sembelit kronis, data pendukung asosiasi atau sebab-akibat antara
neuropati pudenda dan POP yang kurang.10
Disfungsi otot polos
Kelainan pada anatomi, fisiologi, dan biologi sel dari dinding vagina otot polos dapat
berkontribusi untuk terjadinya POP. Sebagai contoh, serat otot polos yang timbul dari dinding
vagina melekat pada kompleks levator ani. Disfungsi otot polos ini dapat mempengaruhi fungsi
dari vagina lateral dinding samping panggul. Selain itu, fraksi otot polos di muskularis dari
anterior dan dinding vagina posterior puncak pada wanita dengan prolaps yang menurun
dibandingkan dengan wanita tanpa prolaps. Penurunan kadar otot polos ligamentum putaran pada
wanita dengan POP juga telah dijelaskan.10
Abnormalitas Jaringan Ikat
Jaringan ikat panggul terdiri dari kolagen, elastin, otot polos, dan microfiber, yang
berlabuh di matriks ekstraselular polisakarida. Jaringan ikat yang berinvestasi organ panggul
memberikan dukungan anatomi besar dari panggul dan isinya. Ada bukti yang menunjukkan
kelainan jaringan ikat dan perbaikan jaringan ikat dapat mempengaruhi perempuan untuk
prolaps. Wanita dengan gangguan jaringan ikat seperti Ehlers - Danlos atau sindrom Marfan
lebih mungkin untuk mengembangkan POP dan inkontinensia urin.10
Kandungan kolagen menurun ditemukan pada wanita dengan stres inkontinensia urin dan
POP. Dibandingkan dengan wanita menampilkan dukungan organ panggul normal, mereka
dengan prolaps ditemukan memiliki kurang jumlah kolagen dalam "fasia pubocervical" mereka
serta jenis yang lebih lemah dari kolagen. Ini mungkin menjadi sekunder untuk meningkatkan
degradasi kolagen. Secara khusus, analisis kolagen dalam prolapsing jaringan telah menemukan
perbedaan struktural, biokimia, dan kuantitatif dalam kandungan kolagen.10
2.1.6. Diagnosis
Prolaps organ panggul melibatkan beberapa sistem anatomi dan fungsional , dan
umumnya terkait dengan genitourinaria, pencernaan, dan gejala muskuloskeletal. Prolaps jarang
menyebabkan morbiditas atau mortalitas berat, namun dapat sangat mengurangi kualitas hidup.
Oleh karena itu, evaluasi awal harus menyertakan penilaian hati-hati gejala - prolaps terkait dan
mempengaruhi mereka pada aktivitas sehari-hari.
Adapun gejala-gejala yang terdapat pada pasien berupa adanya pembengkakan pada
vagina atau adanya sesuatu yang turun dan terasa berat, terkait system kemih (inkontinensia urin,

11

frekuensi, hesitansi, prolonged stream), terkait pencernaan (inkontinesia alfi, sulit buang air
besar, frekuensi buang air besar), terkait hubungan seksual (dyspareunia, kekurangan sensasi,
kekurangan lubrikasi, tidak bisa mencapai orgasme), nyeri panggul, nyeri pada vagina, nyeri
tulang punggung. 13
Pemeriksaan fisik
Panggul Pemeriksaan prolaps organ dimulai dengan meminta seorang wanita untuk
mencoba manuver Valsava sebelum menempatkan spekulum dalam vagina. Pasien yang tidak
mampu menyelesaikan manuver Valsava memadai diminta untuk batuk. Dengan pemeriksaan
spekulum, struktur secara artifisial diangkat, didukung, atau mengungsi. Dapat dinilai
bahwasannya prolapse terjadi pada bagian anterior, posterior, ataupun dari tempat uterus dan
juga dapat dinilai prolapse terjadi belum keluar dari vagina ataupun sudah keluar. Pemeriksaan
untuk menentukan adanya defek atau tidak pada lantai organ panggul juga dapat dinilai.10
2.1.7. Tatalaksana
Bagi wanita yang tidak menunjukkan gejala atau gejala ringan, manajemen menunggu
sesuai. Namun, bagi wanita dengan prolaps signifikan atau bagi mereka dengan gejala
mengganggu , terapi non-bedah atau bedah dapat dipilih . Pilihan pengobatan tergantung pada
jenis dan tingkat keparahan gejala, usia dan komorbiditas medis, keinginan untuk fungsi masa
depan seksual dan/atau kesuburan, dan faktor risiko kekambuhan. Pengobatan harus berusaha
untuk memberikan bantuan gejala, tetapi manfaat terapi harus selalu lebih besar daripada risiko.10
Pengobatan pada asimtomatik
Dalam kasus asimtomatik prolaps organ panggul, Harapan waspada dianjurkan. Hal ini
melibatkan memeriksa pasien secara berkala untuk mendeteksi perkembangan apapun prolaps
tersebut, serta bertanya tentang gejala apapun yang mungkin saja berkembang. Pasien juga
harusmenyarankan pada penurunan berat badan, modifikasi diet dan panggul latihan dasar.14
Pengobatan pada simtomatik
Intervensi biasanya diindikasikan jika pasien memiliki gejala; ini mungkin atau tidak
melibatkan tindakan operasi. Pilihan modalitas pengobatan biasanya tergantung pada jenis dan
ukuran prolaps tersebut, organ-organ yang terdapat dalam prolaps, kehadiran dan tingkat
keparahan gejala, usia pasien, keinginan untuk melakukan hubungan seksual di masa depan dan
kesuburan, serta adanya kondisi medis lainnya. Sebelum operasi, perempuan harus dievaluasi

12

untuk stres inkontinensia urin dan, jika ada, mungkin memiliki operasi anti-inkontinensia
bersamaan. Pada wanita tanpa inkontinensia stres, inkontinensia laten dapat menjadi jelas
perbaikan prolaps.14
Manajemen non bedah
Manajemen non-bedah termasuk konservatif manajemen perubahan gaya hidup seperti
sebagai kehilangan berat badan, modifikasi diet untuk mencegah sembelit, pengobatan penyakit
kronis seperti batuk kronis, memberikan panggul lantai otot pelatihan, terapi estrogen, serta
penggunaan intervensi mekanik seperti pessaries.14 Penggunaan stimulasi listrik tidak lagi
dianjurkan karena telah terbukti tidak efektif. Sebuah tinjauan sistematis Database Cochrane
memiliki menunjukkan beberapa bukti yang menunjukkan positif pengaruh pelatihan otot dasar
panggul untuk prolapse gejala dan keparahan. Enam bulan diawasi latihan organ dasar panggul
memiliki manfaat dalam hal ditingkatkan anatomi dan mengurangi gejala segera setelah
intervensi. Latihan ini juga dapat mengurangi tingkat keparahan. Namun, tidak ada bukti lebih
lanjut dari khasiat dan efektivitas biaya untuk gejala prolaps dalam jangka menengah dan
panjang yang tersedia.15
Manajemen pembedahan
Tindakan pembedahan dibagi atas 2 tujuan, yaitu obliterasi dan rekonstruksi pada bagian
yang prolaps.
Obliterasi
Pendekatan obliterasi termasuk Lefort kolpokleisis dan colpocleisis komplit. Prosedur ini
melibatkan penghapusan epitel vagina yang luas, penjahitan anterior dan dinding vagina
posterior bersama-sama, menghilangkan tempat vagina, dan efektif menutup vagina. Prosedur
obliteratif hanya cocok untuk pasien lanjut usia atau medis dikompromikan, yang tidak memiliki
keinginan masa depan untuk kegiatan coital.
Prosedur obliteratif secara teknis lebih mudah, membutuhkan waktu tidak banyak, dan
menawarkan tingkat keberhasilan lebih baik dibandingkan dengan prosedur rekonstruksi. Tingkat
keberhasilan untuk rentang kolpokleisis 91-100 persen, meskipun kualitas penelitian berbasis
bukti yang mendukung ini tidak banyak. Kurang dari 10 persen pasien mengungkapkan
menyesal setelah colpocleisis, sering karena hilangnya aktivitas coital. Stres laten inkontinensia
urin dapat membuka kedok dengan kolpokleisis karena traksi ke bawah pada uretra.16
Pembedahan rekonstruksi

13

Operasi rekonstruksi ini berusaha untuk mengembalikan anatomi panggul normal dan
lebih sering dilakukan daripada prosedur obliterasi pada prolapse organ panggul. Vagina, perut,
dan pendekatan laparoskopi dapat digunakan dan seleksi individual. Namun, di Amerika Serikat,
pendekatan vagina lebih disukai oleh sebagian besar untuk perbaikan prolaps. Keputusan untuk
melanjutkan dengan pendekatan vagina atau perut tergantung pada beberapa faktor termasuk
karakteristik unik pasien dan keahlian dokter bedah. Dalam kasus tertentu, pendekatan perut
tampaknya memiliki keuntungan yang jelas. Ini termasuk wanita dengan kegagalan sebelumnya
pendekatan vagina, vagina singkat, atau mereka diyakini berisiko lebih tinggi untuk kambuh,
seperti perempuan muda dengan prolaps parah. Sebaliknya, pendekatan vagina biasanya
menawarkan waktu operasi lebih singkat dan kembali cepat untuk kegiatan sehari-hari. Untuk
memperbaiki kompartemen anterior digunakan kolporaphy anterior dan untuk memperbaiki
posterior digunakan kolporaphy posterior.10
2.1.8. Komplikasi
Komplikasi yang didapat jia dilakukan tindakan kolporaphy anterior yaitu kerusakan
pada kandung kemih, uretra, dan ureter. Kerusakan yang ditimbulkan pada uretra dan kandung
kemih jarang didapatkan pada pasien. Sebaiknya pada pasien yang dilakukan kolporaphy anterior
dipakaikan kateter pada uretra untuk mencegah voiding. Pada pasien yang dilakukan kolporahy
posterior terdapat komplikasi berupa erosi.17
2.1.9. Prognosis
Pada kasus prolaps organ panggul tindakan pembedahan yang diambil mempunyai
tingkat keberhasilan yang tinggi untuk mengatasi masalah tersebut. Banyak cara yang dapat
dipakai pada pasien dengan prolaps organ panggul tetapi ini tergantung dari operator dan pasien
yang ditangani tersebut.17
2.2. Batu Saluran Kemih
2.2.1 Pendahuluan
Penyakit batu saluran kemih sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan zaman Mesir
kuno. Penyakit ini menyerang penduduk di dunia tidak terkecuali dengan Indonesia. Angka
kejadian penyakit ini tidak sama di berbagai belahan bumi. Di Negara-negara berkembang
banyak dijumpai pasien batubuli-buli sedangkan di Negara maju lebih banyak dijumpai penyakit
batu saluran kemih atas; hal ini dikaitkan dengan aktivitas dan status gizi di Negara tersebut.

14

Angka kejadian di Amerika Serikat 5-10% penduduknya menderita penyakit ini


sedangkan didunia rata-rata terdapat 1-12% penduduk yang menderita batu saluran kemih.
Penyakit ini merupakan penyakit tiga terbesar di bidang urologi.
2.2.2 Etiologi
Secara epidemiologis ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran
kemih. Faktor dibagi atas 2 yaitu, faktor ekstrinsik dan intrinsik. Faktor intrinsik seperti
herediter, umur yang terjadi sering pada usia 30-50 tahun, dan jenis kelamin yang biasanya
sering pada laki-laki disbanding pada wanita. Faktor ekstrinsik seperti geografi, iklim dan
temperatur, asupan air, diet, dan pekerjaan.
2.2.3 Patofisiologi
Secara teoritis batu dapat terbentuk di seluruh saluran kemih terutama pada tempattempat yang sering mengalami hambatan aliran urin (stasis urin) pada system kalises ginjal atau
buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises (stenosis uretero-pelvis), divertike,
obstruksi infravesika kronis seperti pada hyperplasia prostat benigna, striktura, dan bulibulineurogenik merupakan keadaan-keadan yang memudahkan terjadinya pembentukan batu.
Batu terdiri atas Kristal yang tersusun oleh bahan organic maupun anorganik yang terlarut di
dalam urin. Kristal-kristal tersebut tetap dalam keadaan metastable (tetap terlarut) dalam urin
jika tidak ada keadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi Kristal. Kristal-kristal
ini saling mengadakan presipitasi bentuk inti yang kemudian akan mengadakan agregasi, dan
menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi Kristal yang besar. Meskipun ukurannya cukup
besar, agregat belum mampu menyumbat saluran kemih, untuk itu batu tersebut menempel pada
epitel dan dari situ akhirnya menarik bahan lain sehingga akhirnya mampu membuat obstruksi
saluran kemih.
Kondisi metastable dipengaruhi ileh suhu, pH larutan, adanya koloid di dalam urin,
konsentrasi solute dalam urin, laju aliran urin di dalam saluran kemih, atau adanya korpus
alienum di dalam saluran kemih yang bertindak sebagai batu. Lebih dari 80% batu saluran kemih
terdiri atas batu kalsium, baik yang berikatan dengan oksalat maupun dengan fosfat, membentuk
batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat sedangkan sisanya berasal dari batu asam urat, batu
magnesium ammonium fosfat, batu xanthyn, batu sistein, dan batu jenis lainnya.
Batu Kalsium

15

Batu jenis ini paling banyak dijumpai, yaitu kurang lebih 70-80% dari seluruh batu
saluran kemih. Kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat, atau
campuran dari kedua unsur tersebut. Faktor terjadinya batu kalsium yaitu, hiperkalsiuri,
hiperoksalauria, hiperurikosuria, hipositaturia, dan hipomagnesiuria.
Batu Struvit
Batu ini disebut juga batu infeksi karena terbentuknya batu ini disebabkan oleh adanya
infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi ini adalah kuman golongan pemecah urea atau
urea splitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urin menjadi bersuasana basa
melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Suasana basa ini memudahkan garam-garam
magnesium, ammonium, fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium ammonium fosfat
(MAP) atau (Mg NH4 PO4- H2O) dan karbonat apatit. Karena terdiri atas tiga kation (kalsium,
magnesium, dan ammonium) batu jenis ini disebut batu triple phosphate. Kuman yang dapat
memecah urea, Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas dan Stafilokokus.
Batu asam urat
Batu asam urat merupakan 5-10% dari seluruh batu saluran kemih. Diantara 75-80% batu
asam urat terdiri atas asam urat murni dan sisanya merupakan campuran kalsium oksalat.
Penyakit batu asam urat ini banyak terkena pada gout, mieloproliferatif, pasien dengan terapi
kanker, dan penggunaan obat sulfinpyrazone, thiazide, dan salisilat.
Batu jenis lainnya
Batu sistin, batu xanthin, batu triamterene, dan batu silikat sangat jarang dijumpai. Batu
sistin didapatkan karena kelainan metabolism sistin, yaitu kelainan dalam absorbs sistin di
mukosa usus. Demikian batu xanthin terbentik karena penyakit bawaan berupa defisiensi enzim
xanthin oksidase yang mengkatalisis perubahan hipoxanthin menjadi xanthin dan xanthin
menjadi asam urat.
2.2.4 Diagnosis
Batu urethra biasanya berasal dari batu ginjal/batu ureter yang turun ke buli-buli,
kemudian masuk ke urethra. Batu urethra yang merupakan batu primer terbentuk di uretra sangat
jarang kecuali jika terbentuk di dalam divertikel urethra. Keluhan yang disampaikan pasien
berupa miksi tiba-tiba berhenti hingga terjadi retensi urin, yang mungkin sebelumnya didahului
dengan nyeri pinggang. Jika batu berasal dari ureter yang turun ke buli-buli kemudian ke urethra,

16

biasanya pasien mengeluh nyeri pinggang sebelum mengeluh kesulitan miksi. Batu yang berada
pada urethra anterior terkadang tampak pada meatus urethra eksterna.
Pemeriksaan penunjang
Foto polos abdomen
Pembuatan foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya batu
radioopak di saluran kemih.
Pielografi intra vena
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai keadaan anatomi dan fungsi ginjal. Selain itu,
foto ini dapat mendeteksi adanya batu semi opak ataupun batu opak yang tidak dapat terlihat
oleh foto polos perut.
Ultrasonography
USG dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan PIV, pada alergi
kontras, faal ginjal menurun, dan pada wanita yang sedang hamil. Pemeriksaan USG dapat
menilai hidronefrosis, pionefrosis, atau pengkerutan ginjal.
2.2.5. Tatalaksana
Medikamentosa
Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang ukurannya kurang dari 5mm karena
diharapkan batu dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan untuk mengurangi nyeri,
memperlancar aliran urin dengan pemberian diuretikum, dan minum banyak supaya dapat
mendorong batu keluar dari saluran kemih.
Endourologi
Merupakan tindakan invasive minimal untuk mengeluarkan batu saluran kemih yang
terdiri atas memecah batu dan kemudian mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang
dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih. Pengambilan batu di urethra dengan cara litotripsi
dengan memasukkan alat pemecah batu kedalam buli. Pecahan batu dikeluarkan dengan
evakuator Ellik.
2.2.6. Pencegahan
Setelah batu dikeluarkan dari saluran kemih, tindakan selanjutnya yang tidak kalah
penting adalah upaya menghindari timbulnya kekambuhan. Angka kekambuhan batu saluran
kemih rata-rata 7% per tahun atau kurang 50% dalam 10 tahun. Pencegahan yang dilakukan
adalah berdasarkan atas kandungan unsur yang menyusun batu saluran kemih yang diperoleh

17

dari analisis batu. Pencegahan dengan menghindari dehidrasi dengan minum cukup dan
diusahakan produksi urin 2-3 liter per hari, diet untuk mengurangi zat-zat pembuat batu, aktivitas
harian yang cukup, dan pemberian medikamentosa.

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas Pasien
Nama

: Ny. H

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 74 Tahun

Tempat/ Tanggal Lahir : 7 Januari 1951


Alamat

: Desa Ateuk Lunglie, Aceh Bear

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Agama

: Islam

Perkawinan

: Kawin

No. CM

: 1-02-53-14

Tanggal masuk dirawat : 05 November 2014


Tanggal keluar

: 09 November 2014

Pendidikan

: SMP

3.2 Daftar Masalah.


No
.

Masalah
Prolaps

1.

Uteri

Sistorektokel

grade

Tanggal

Grade
IV

IV,
dengan

05/11/2014

Uretrolitiasis
Tabel 3.1 Daftar masalah
3.3 Data Dasar.
3.3.1 Anamnesis
Keluhan utama: Keluar benjolan pada kemaluan, sulit BAK dan BAB

1.1. Riwayat Penyakit Sekarang

18

Keluar benjolan dari kemaluan sejak kurang lebih 1 tahun yang lalu. Dua bulan terakhir
benjolan yang keluar mulai terasa nyeri. Nyeri saat buang air kecil dan tidak puas ketika
miksi dan sulit buang air besar juga dirasakan. Dua bulan yang lalu riwayat pasien pernah
mengeluarkan pasir saat berkemih, sejak itu pasien mulai nyeri pinggang menjalar sampai ke
punggung dan satu bulan terakhir tampak benda keras berwarna putih menyerupai batu pada
saluran berkemih pasien yang semakin hari terasa semakin membesar. Sejak itu pasien tidak
bisa merasakan buang air kecil, terkadang ngompol dan terasa nyeri hebat saat buang air
kecil. Tidak ada riwayat batuk lama. Pasien mempunyai riwayat mengangkat barang berat
yaitu gabah dan padi karena pekerjaan pasien sebagai petani. Pasien juga mengaku jarang
minum air putih. Tidak ada riwayat penyakit hipertensi, penyakit jantung, diabetes, maupun
asma pada pasien maupun keluarga. Pasien sudah menopouse sejak 20 tahun yang lalu.
Pasien menikah 1x, dan suami sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Pasien tidak pernah
menggunakan KB sebelumnya. Pasien mempunyai 5 orang anak yang seluruhnya lahir secara
pervaginam, tidak ada satupun berat badan anak yang ditimbang saat persalinan dikarenakan
persalinan ditolong oleh tenaga tradisional anak tertua berumur 42 tahun dan yang termuda
berumur 30 tahun.

1.2. Riwayat Haid


Sudah menopause selama 20 tahun
1.3. Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali, usia nikah lupa, telah meninggal 10 tahun
1.4. Riwayat Obstetri
P5A0
I.
II.
III.
IV.
V.

Perempuan, 42 th, lahir spontan BBL : lupa


Perempuan 40 th, lahir spontan, BBL : lupa
Laki laki 36 tahun lahir spontan, BBL : lupa
Perempuan 33 tahun, lahir spontan, BBL : lupa
Perempuan 30 tahun, lahir spontan BBL : lupa

19

1.5. Riwayat KB
Tidak ada

1.6. Riwayat Penyakit Dahulu


Batuk lama (-), penyakit jaringan ikat (-), konstipasi (+)
1.7. Riwayat Penggunaan Obat
Disangkal
1.8. Riwayat Operasi
Belum pernah operasi
1.9. Riwayat Penyakit Keluarga
Disangkal
3.4 Pemeriksaan Ginekologi.
a. Status Praesens
Keadaan Umum

: Baik, kesadaran compos mentis

Tekanan Darah

: 110 / 70 mmHg

Nadi

: 86 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 36,5oC

Berat Badan

: 48 kg

Tinggi Badan

: 150 cm

BMI

: 19,1

b. Status Internus
Pemeriksaan
Kulit

Hasil
Pucat Negatif, sianosis Negatif, ikterik Negatif, turgor

Kepala
Rambut
Mata

cukup
Normocephali
Hitam, tidak mudah dicabut, distribusi merata
Konjungtiva anemis (Negatif / Negatif), sklera ikterik
(Negatif / Negatif), pupil isokor diameter 2 mm, reflex

20

Mulut

cahaya (Positif/Positif)
Sianosis (Negatif), pucat (Negatif), karies dentis

Leher

(Negatif) gigi geligi lengkap


Simetris, trakea ditengah, JVP tidak meningkat,

Paru

massa (Negatif)
Vesikuler (Positif/Positif), ronkhi (Negatif / Negatif),

Jantung

wheezing (Negatif / Negatif)


BJ I > BJ II di mitral, murmur (Negatif), gallop

Abdomen

(Negatif)
Soepel, H/L/R tidak teraba, timpani, bising usus

Sistem

4x/menit
Terlampir di bawah

urogenital
Ekstremitas

Edema (Negatif), sianosis (Negatif), pucat (Negatif),


kekuatan otot (5/5)
Tabel 3.2 Status internus

Genetalia dan anus


I
: tampak massa keluar dari introitus vagina, tanda infeksi (-)
VT
: tidak dilakukan
Io
: tidak dilakukan
3.5 Pemeriksaan Penunjang.
3.5.1 Foto Pelvis dan thoraks

21

Foto pelvis AP
Tampak gambaran radioopak pada bagian urethra
Tidak tampak garis fraktur pada foto
Foto kesan batu urethrolithiasis
Foto thoraks
Jantung dan Pulmo dalam batas normal
Foto kesan dalam batas normal
Gambar 3.2 Foto pelvis dan thoraks
3.5.2 Laboratorium.
Hb

Tanggal

(g/dL)

Ht (%)

Eritrosi

Leukosi

Trombosit

CT/BT

UR/C
R

03/11/2014

12,2

36

4,2

5,7

290

7/2

07/11/2014

9,3

27

3,1

10,3

231

21/0,4

Tabel 3.2 Hasil laboratorium


3.6 Diagnosis Sementara.
Prolapsus uteri grade IV + Sistorektokel grade IV+ Urethrolithiasis
3.7 Penatalaksanaan.
a. Rencana Diagnostik

Observasi tanda vital

Cek darah rutin.

Konsul Jantung

Konsul Anestesi

22

b. Rencana Terapi

IVFD RL 20 gtt
Ceftriaxone 2 g/24 jam (Pre OP)
Levofloxacin 1 x 500 mg
Asam mefenamat 3 x 500 mg
Paracetamol 3 x 500 mg
Omeprazole 2 x 20 mg
Tindakan pembedahan TVH + kolporhaphy anterior dan posterior + sistoskopi

c. Rencana Edukasi
Menjelaskan pada keluarga tentang rencana yang akan di lakukan dan efek

yang akan terjadi setelah dilakukan operasi


Motivasi untuk tetap semangat.

3.8 Laporan Operasi Transvaginal histerektomi, kolposkopi anterior, posterior


dan sistoskopi
Kamis , 6 November 2014 pkl. 13.00 wib

Pasien di anestesi spinal dan dalam posisi litotomi

A dan antisepsis daerah operasi

Pengososngan buli-buli

Melakukan sistoskopi oleh divisi urologi tampak mukosa hiperemis, trabekulasi (+) berat,
divertikel (+), dan massa (-)

Dilakukan transvaginal histerektomi

Insisi elips pada mukosa vagina

Pemisahan mukosa vagina dari serviks dan vesika

Ligamentum kardinale dan sakrouterina klem, potong, dan dijahit

Pembuluh darah uterus klem, potong, dan dijahit

Tuba fallopi, ligamentum ovarii propium, dan ligamentum rotundum klem, potong,
dan dijahit

Uterus dipotong , dilanjutkan dengan reperitonisasi dengan vikril no. 1

Dilanjutkan dengan kolposkopi anterior dan posterior

23

Operasi selesai

Perdarahan 100 cc, urin 500 cc

Tiga jam sebelum dilakukan operasi, batu keluar secara spontan dari uretra. Dilakukan
penilaian oleh urologis maka diputuskan untuk melakukan sistokopi diagnostik. Dari sistoskopi
diagnostik didapatkan mukosa tampak hiperemis, tampak trabekulasi berat, tampak divertikel
dan tidak tampak massa pada vesika urinaria. Setelah dilakukan sistoskopi diagnostik, prosedur
dilanjutkan dengan Histerektomi transvaginal, kolporafi anterior dan kolporafi posterior. Setelah
prosedur dilakukan, perawatan dilakukan selama 3 hari. Pasien pulang dalam keadaan umum
baik, haemodinamik stabil, dan tidak terdapat perdarahan aktif pervaginam. Pemasangan folley
chateter dilakukan menetap selama 2 minggu.

24

Gambar intraoperatif terlihat uterus diangkat dan uterus selanjutnya dibawa ke lab PA untuk
dianalisa

BAB IV
PEMBAHASAN
Dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang maka pada pasien ini di
diagnosis dengan prolaps uteri grade 4, sistorektokel grade 4 dengan uretrolitiasis. Maka pada
pasien ini untuk uretrolitiasis direncanakan untuk dilakukan litotripsi dilanjutkan dengan
sistoskopi diagnostik, sedangkan untuk prolaps uteri grade 4 dan sistokel grade 4 akan
direncanakan untuk dilakukan Trans Vaginal Hysterectomy dilanjutkan dengan colporaphy
anterior dan posterior. Pada anamnesa didapatkan adanya keluar benjolan, sulit BAB dan BAK
yang terjadi lebi kurang selama 1 tahun ini, ini merupakan tanda dan gejala yang sering
dikeluhkan pada pasien dengan prolapse organ panggul.
Pada pemeriksaan fisik status interna dalam batas normal, status ginekologis didapatkan
inspeksi uterus keluar seluruhnya di depan introitus vagina, tidak tampak inflamasi. Tampak pula
batu dengan diameter 3 cm pada orifisium uretra eksterna. Penilaian skoring menurut Baden-

25

Walker menunjukkan derajat IV yaitu ujung prolaps lebih dari setengahnya ada di luar vagina.
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 12.2 gr/dl, leukosit 12.800/ul, trombosit 189.000/ul,
Ht 36%, CT/BT 8/2, GDS 104 gr/dl. Pada pemeriksaan foto polos abdomen pelviks didapatkan
kesan uretrolitiasis. Ini sesuai dengan teori bahwa prolapse organ panggul dapat terlihat ada
benjolan yang keluar dari vagina dan batu juga terdapat pada keadaan mata telanjang dan
didukung oleh adanya pemeriksaan foto pelvis AP.
Mekanisme utama terjadinya prolaps organ panggul yaitu kerusakan otot dan saraf
levator ani, penurunan tonus dan kekuatan otot levator ani, mekanisme lain yaitu muscle disuse
atrophy yaitu muscle descent dan penebalan levator hiatus, juga terjadi peningkatan
intraabdomen maka jaringan penyambung meregang dan robek. Keadaan tersebut ditunjukkan
dari riwayat pasien yang suka mengangkat berat seperti gabah dan padi juga riwayat pasien
melakukan persalinan sebanyak 5 kali secara pervaginam.
Riwayat pasien konstipasi atau adanya kebiasaan mengedan juga mengakibatkan
peningkatan tekanan intraabdomen, rusaknya sokongan jaringan penyambung, juga kerusakan
saraf akibat regangan kronik. Angkat berat dapat mengakibatkan tekanan berlebihan pada dasar
panggul, juga defek dan kelemahan dasar panggul.
Kehamilan dan persalinan kerusakan otot dan fasia dasar panggul. Ada hubungan
statistik bermakna antara jumlah paritas yang banyak dengan prolaps. Kejadian prolaps organ
panggul pada sectio caesarea inpartu mencapai 7%. Menurut Sultan prolaps organ panggul paling
banyak dipengaruhi oleh persalinan pertama (berdasarkan pengukuran masa laten ujung akhir
saraf motorik), oleh karena turunnya perineum saat partus. Tidak ada perbedaan cara partus
terhadap terjadinya prolaps organ panggul.
Proses penuaan menjadi salah satu faktor terjadinya prolaps organ panggul. Pada proses
penuaan terjadi penurunan kadar estrogen pada keadaan paska menopouse. Proses penuaan juga
menyebabkan penurunan fisiologis struktur anatomi dasar panggul yang dapat mengakibatkan
disfunsi dasar panggul. Menurut Copas P, fasia levator ani mengandung reseptor estrogen,
progesteron, dan androgen. Serat levator ani tidak memiliki reseptor estrogen. Dinding vagina
dan ligamen sakrouterina juga mempunyai reseptor estrogen, maka proses menopouse
menurunkan produksi hormon hormon diatas yang dapat menyebabkan terjadinya prolaps organ
panggul. Ini terlihat pada pasien ini memiliki umur 74 tahun dan angka kejadian terbanyak
prolapse diatas 60 tahun.

26

Secara epidemiologi terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran
kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari
tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Pada pasien ini
faktor instrinsik yang ditemukan yaitu usia tua, tetapi faktor lain yaitu lebih banyak ditemukan
pada laki-laki tidak terdapat pada pasien ini. Sedangkan faktor ekstrinsik yang ditemui pada
pasien ini adalah kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang
dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden BSK. Riwayat pasien jarang minum air putih dan
tinggal di daerah yang dekat dengan pegunungan.
Pemeriksaan radiologi wajib pada pasien yang dicurigai mempunyai batu yaitu
pemeriksaan rontgen BNO dan Ultrasonografi. Hampir semua BSK merupakan batu
radioopaque, terbukti dari pemeriksaan BNO yang dilakukan pada pasien tersebut.
Batu kandung kemih jarang yang memiliki berat diatas > 100 g. Batu kandung kemih
merupakan 5% dari seluruh batu saluran kemih. Insiden lithiasis kemih perempuan sangat
rendah; 95% dari semua batu kandung kemih terjadi pada pria. Rasio antara laki-laki banding
perempuan sekitar 3: 1. Prolaps yang lama dan obstruksi kandung kemih, ditambah dengan
infeksi kronis diduga menjadi faktor yang saling menguatkan. Kasus batu vesikalis
mengakibatkan azotemia dan retensi urin dan obstruktif uropati telah dilaporkan. Beberapa batu
vesika menyebabkan distosia mekanik selama persalinan, cystitis berulang selama lebih dari satu
dekade dan fistula vesikovaginal telah dilaporkan pada literature. Studi pencitraan awal pilihan
adalah radiografi polos dari ginjal, ureter dan kandung kemih (KUB) karena itu adalah tes
radiologi paling murah dan paling mudah untuk mendapatkan. Radiografi panggul, termasuk
jaringan prolaps dijamin dalam pra operasi kerja-up pada pasien dengan procidentia.
Pada analisis diatas kemungkinan hubungannya adalah prolaps organ panggul
menyebabkan timbulnya berupa batu vesika yang akhirnya turun ke urethra dan menyebabkan
adanya obstruksi pada saat pasien berkemih selain adanya sistokel itu sendiri.
Pemberian terapi ceftriakson 2g/ 24 jam sebagai antibiotic profilaksis sebelum operasi.
Levofloxacin 1 x 500 mg sebagai pengobatan saluran kemih, asam mefenamat digunakan
sebagai anti nyeri post operatif, parasetamol juga digunakan kombinasi untuk keluhan nyeri pada
pasien. Tindakan pembedahan TVH + kolporhaphy anterior dan posterior + sistoskopi
dipakai untuk terapi pada prolapse organ panggul.

27

BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Prolaps organ panggul merupakan turunnya atau herniasi isi organ panggul melalui
saluran vagina akibat kelemahan pada struktur penyokong dasar panggul. Tindakan terbagi dua
yaitu, observasi dan tindakan operasi. Batu saluran merupakan penyakit yang lumayan banyak
pada Negara berkembang dan pengobatan pada urethrolithiasis dapat menggunakan endourologi
dengan litrotripsy untuk memecahkan batu tersebut.