Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Wilayah pesisir merupakan wilayah yang penting tetapi rentan (vulnerable) terhadap
gangguan. Karena rentan terhadap gangguan wilayah ini mudah berubah, baik dalam skala
temporal maupun spasial. Perubahan di wilayah pesisir dipicu karena adanya berbagai
kegiatan seperti industri, perumahan, transportasi, pelabuhan, budidaya tambak, pertanian,
pariwisata dan berbagai aktivitas manusia lainnya.
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi kepulauan yang terletak di
sebelah selatan wilayah Indonesia memiliki luas wilayah laut 200.000 km 2 (di luar ZEEI) di
dalamnya memiliki sumberdaya kelautan dan perikanan yang dapat dikembangkan untuk
kepentingan masyarakat dengan mengoptimalisasikan pemanfaatan sumberdaya kelautan
dengan tetap mempertahankan daya dukung lingkungan pesisir dan laut bagi kepentingan
masyarakat serta menambah devisa bagi daerah NTT (Risamasu, 2014).
Kota Kupang adalah ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia dan
merupakan kota yang terbesar di pesisir Teluk Kupang, di bagian barat laut pulau Timor.
Luas wilayahnya adalah 180,27 km dengan jumlah penduduk sekitar 450.000 jiwa (Anonim,
2012). Daerah ini terbagi menjadi 6 kecamatan dan 50 kelurahan. Dalam RPJMD Kota
Kupang sendiri pada tahun 2007 menyebutkan bahwa secara administrasi Kota Kupang
berfungsi sebagai pusat pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kota Kupang. Ini
menjadikan Kota Kupang sebagai pusat dari kegiatan perekonomian, pendidikan dan sektor
jasa yang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat dari daerah-daerah lain khususnya di
wilayah Nusa Tenggara Timur. Salah satu wilayah kelurahan di Kota Kupang yang dianggap
strategis dalam kegiatan sosial ekonomi penduduk kota Kupang adalah Kelurahan Oesapa.
Wilayah pesisir Pantai Oesapa merupakan suatu kawasan yang termasuk dalam
lingkup kawasan Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang, dimana perairan pesisir dan
lautnya

terdapat berbagai ekosistem seperti mangrove, padang lamun (seagrass), algae

(seaweed), pantai berpasir, pantai berbatu, estuari dan jenis ekosistem lainnya, beserta
berbagai jenis ikan, udang, moluska dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi kehidupan masyarakat setempat (Risamasu, 2010).
Kondisi lingkungan pemukiman masyarakat pesisir di Indonesia secara umum,
khususnya nelayan masih belum tertata dengan baik dan terkesan kumuh. Kondisi sosial
ekonomi masyarakatnya relatif berada dalam tingkat kesejahteraan rendah (Fahrudin, 2008).
Berdasarkan letak demografi kelurahan Oesapa sebagian besarnya terdiri dari wilayah pesisir
1

dimana masyarakat bertempat tinggal di pesisir bekerja sebagai nelayan dan menggantungkan
hidupnya pada hasil laut. Di Kelurahan Oesapa terdapat 542 KK dari 8 RT yang bermukim di
wilayah pesisir pantai (Anonim,2010).
Penelitian Baun (2008), menyatakan bahwa Sanitasi pemukiman pesisir di Kota
Kupang belum memadai, terjadinya pembuangan sampah organik dan anorganik ke pesisir
pantai yang dapat menyebabkan timbulnya polusi tanah, air dan udara. Masyarakat yang
berada di wilayah pesisir cenderung memanfaatkan pantai sebagai tempat pembuangan
kotoran atau sampah termasuk tinja. Pemukiman

nelayan pantai di Kelurahan Oesapa

letaknya di kawasan daratan pantai, cenderung mengikuti tepian pantai sehingga terbentuk
pemukiman linear di sepanjang pantai. Kondisi permukiman pesisir Kelurahan Oesapa tidak
tertata dengan baik, konstruksi bangunannya semi permanent, serta ketersediaan
prasarananya tidak memadai dan kurangnya cakupan kepemilikan jamban. Selanjutnya Baun
menjelaskan bahwa, adanya pemukiman-pemukiman kumuh di kawasan pesisir Kota Kupang
termasuk di kelurahan Oesapa, yang tidak sesuai dengan syarat-syarat kesehatan merupakan
salah satu akibat dari pendapatan masyarakat pesisir yang rendah. Selain itu dipengaruhi juga
dengan rendahnya pendidikan, serta pengetahuan masyarakat di wilayah pesisir.
Pola pemanfaatan sumberdaya serta aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat
setempat khususnya masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Pantai

tidak lagi

memperhatikan azas kelestarian lingkungan karena terbentur dengan tekanan hidup yang
semakin hari semakin susah. Akibat dari banyaknya kegiatan yang dilakukan di wilayah
pesisir, maka kerusakan lingkungan pesisir dan lautpun semakin parah. Akibat dari pola
pemanfaatan yang kurang bijaksana ini maka diperkirakan akan memberikan dampak pada
terjadinya degradasi sumberdaya ikan dan ekosistem pesisir dan laut, kerusakan lingkungan
pesisir, penurunan produksi ikan dan banyak hal yang dirasakan saat ini (Risamasu, 2010).
Berdasarkan hal yang dipaparkan di atas, maka penulis terdorong untuk melakukan
analisis untuk mengetahui kondisi lingkungan kelurahan Oesapa sebagai salah satu wilayah
pesisir di kota Kupang agar pola pengembangan wilayah ini dapat dipikirkan dengan baik
untuk memenuhi kebutuhan sosial ekonomi masyarakat dengan memperhatikan kelestarian
dan daya dukung lingkungannya.
1.2 Rumusan Masalah
Kelurahan Oesapa diketahui merupakan suatu kawasan yang termasuk dalam lingkup
kawasan Taman Wisata Alam Laut Teluk Kupang, dimana perairan pesisir dan lautnya
terdapat berbagai kekayaan keanekaragaman hayati yang secara langsung memberikan
2

kontribusi besar dalam meningkatkan pertumbuhan kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya


kini telah digunakan sebagai areal untuk perkembangan pembangunan seperti pemukiman,
areal pasar dan lainnya yang dengan sendirinya dapat memicu kerusakan berbagai ekosistem
pesisir di dalamnya karena pembuangan sampah maupun limbah ke laut. Selain itu, dengan
meningkatnya kegiatan sosial ekonomi di wilayah itu akan memicu bertambahnya
pemukiman di sekitarnya yang memicu juga meningkatnya interaksi masyarakat dengan
alam, sehingga selain peningkatan limbah (tinja) manusia yang terlalu ke berdekatan ataupun
langsung ke arah laut, juga memicu pengrusakan ekosistem mangrove untuk dijadikan
sebagai kayu api dan kebutuhan lainnya.
Oleh karena itu, penulis mencoba merumuskan beberapa pokok permasalahan yang
dijadikan acuan dalam kegiatan kajian ini, antara lain:
1. Aktivitas apa saja yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah pesisir Pantai Oesapa?
2. Dampak apa saja yang dapat ditimbulkan dari aktivitas masyarakat Pesisir Oesapa?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini antara lain adalah:
1. Untuk mengetahui jenis kegiatan/aktivitas masyarakat di wilayah pesisir Oesapa.
2. Untuk mengetahui dampak dari aktivitas masyarakat di wilayah pesisir Oesapa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penataan Ruang
Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara, termasuk ruang
di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup,
melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. (UU 26/2007 tentang penataan
Ruang. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Dalam Pasal 3 UU 26 tahun 2007 Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk
mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan
berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan:
a. terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
b. terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan
dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan
c. terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Dalam Pasal 6 (1) UU 26 tahun 2007 menyebutkan bahwwa penataan ruang
diselenggarakan dengan memperhatikan:
a. kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang rentan terhadap bencana;
b. potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan; kondisi
ekonomi, sosial, budaya, politik, hukum, pertahanan keamanan, lingkungan hidup, serta
ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai satu kesatuan; dan
c. geostrategi, geopolitik, dan geoekonomi.
2.2 Kawasan Pesisir
Sorenson dan Mc. Creary dalam Clark (1996: 1) The part of the land affected by its
proximity to the landany area in which processes depending on the interaction between
land and sea are most intense. Diartikan bahwa daerah pesisir atau zone pesisir adalah
daerah intervensi atau daerah transisi yang merupakan bagian daratan yang dipengaruhi oleh
kedekatannya dengan daratan, dimana prosesnya bergantung pada interaksi antara daratan
dan lautan.
Ketchum dalam Kay dan Alder (1999: 2) The band of dry land adjancent ocean
space (water dan submerged land) in wich terrestrial processes and land uses directly affect
oceanic processes and uses, and vice versa. Diartikan bahwa wilayah pesisir adalah wilayah
4

yang merupakan tanda atau batasan wilayah daratan dan wilayah perairan yang mana proses
kegiatan atau aktivitas bumi dan penggunaan lahan masih mempengaruhi proses dan fungsi
kelautan.
Pengertian wilayah pesisir menurut kesepakatan terakhir internasional adalah
merupakan wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang
masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang surut, dan ke arah laut meliputi daerah
paparan benua (continental shelf) (Beatley et al, dalam Dahuri, dkk, 2001: 9).
Menurut Suprihayono(2007: 14) wilayah pesisir adalah wilayah pertemuan antara
daratan dan laut ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun
terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan
perembesan air asin. Sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang
masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air
tawar, maupun yang disebabkan karena kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan
dan pencemaran.
Menurut Soegiarto (Dahuri, dkk, 2001: 9) yang juga merupakan pengertian wilayah
pesisir yang dianut di Indonesia adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dimana
wilayah pesisir ke arah darat meliputi daratan, baik kering maupun terendam air yang masih
dipengaruhi sifatsifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin, sedangkan
ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses
alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan
oleh kegiatan manusia di darat seperti pengundulan hutan dan pencemaran.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa wilayah
pesisir merupakan wilayah yang unik karena merupakan tempat percampuran antara daratan
dan lautan, hal ini berpengaruh terhadap kondisi fisik dimana pada umumnya daerah yang
berada di sekitar laut memiliki kontur yang relatif datar. Adanya kondisi seperti ini sangat
mendukung bagi wilayah pesisir dijadikan daerah yang potensial dalam pengembangan
wilayah keseluruhan. Hal ini menunjukan garis batas nyata wilayah pesisir tidak ada. Batas
wilayah pesisir hanyalah garis khayalan yang letaknya ditentukan oleh kondisi dan situasi
setempat.
Di daerah pesisir yang landai dengan sungai besar, garis batas ini dapat berada jauh
dari garis pantai. Sebaliknya di tempat yang berpantai curam dan langsung berbatasan dengan
laut dalam, wilayah pesisirnya akan sempit. Menurut UU No. 27 Tahun 2007 Tentang,
batasan wilayah pesisir, kearah daratan mencakup wilayah administrasi daratan dan kearah

perairan laut sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau
kearah perairan kepulauan.
2.3 Penggunaan Lahan Kawasan Pesisir
Penggunaan lahan dalam arti ruang merupakan cerminan dari produk aktivitas ekonomi
masyarakat serta interaksinya secara ruang dan waktu. Dinamika perubahan penggunaan
lahan sangat dipengaruhi oleh faktor manusia seperti pertumbuhan penduduk (jumlah dan
distribusinya), pertumbuhan ekonomi dan juga dipengaruhi oleh faktor fisik seperti topografi,
jenis tanah, dan iklim (Skole dan Tucker dalam Rais, 2004: 157).
Key dan Alder (1998: 25) membagi penggunaan lahan pesisir menjadi beberapa
fungsi yaitu :
1. Eksploitasi Sumber daya (perikanan, hutan, gas dan minyak serta pertambangan).
2. Sumber daya pesisir yang dapat diperbaharui adalah eksploitasi primer dalam sektor
perikanan komersial, penghidupan, dan rekreasi perikanan serta industry budidaya air.
Sedangkan yang dapat diperbaharui adalah minyak dan pertambangan.
3. Infrastruktur (transportasi, pelabuhan sungai, pelabuhan laut, pertahanan, dan program
perlindungan garis pantai)
4. Pembangunan infrastruktur utama di pesisir meliputi : Pelabuhan sungai dan laut, fasilitas
yang mendukung untuk operasional dari sistem transportasi yang bermacam-macam, jalan
dan jembatan serta instalasi pertahanan.
5. Pariwisata dan Rekreasi. Berkembangnya pariwisata merupakan sumber potensial bagi
pendapatan negara karena potensi pariwisata banyak menarik turis untuk berkunjung
sehingga dalam pengembangannya memerlukan faktor-faktor pariwisata yang secara
langsung berdampak pada penggunaan lahan.
6. Konservasi alam dan Perlindungan Sumber Daya Alam. Hanya sedikit sumber daya alam
di pesisir yang dikembangkan untuk melindungi kawasan pesisir tersebut (Konservasi
area sedikit).
Kegiatan pembangunan yang banyak dilakukan di kawasan pesisir menurut Dahuri et
al (2001: 122) adalah
a. Pembangunan kawasan permukiman.
Sejalan dengan semakin meningkatnya kebutuhan penduduk akan fasilitas tempat tinggal.
Namun

pengembangan

kawasan

permukiman

dilakukan

hanyamdengan

mempertimbangkan kepentingan jangka pendek tanpa memperhatikan kelestarian


lingkungan untuk masa mendatang. Dengan adanya pengembangan kawasan permukiman
6

ini, dampak lain yang mungkin timbul adalah pencemaran perairan oleh limbah rumah
tangga.
b. Kegiatan Industri
Pembangunan kawasan industri di kawasan pesisir pada dasarnya ditujukan untuk
meningkatkan atau memperkokoh program industrialisasi dalam rangka mengantisipasi
pergeseran

struktur

ekonomi

nasional

dari

dominan primary

based

industri

menuju secondary based industri dan tertiary based industri, menyediakan kawasan
industri yang memiliki akses yang baik terhadap bahan baku, air untuk proses produksi
dan pembuangan limbah dan transportasi untuk produksi maupun bahan baku.
c. Kegiatan rekreasi dan pariwisata bahari
Hal ini sekalian bertujuan untuk menciptakan kawasan lindung bagi biota yang hidup
pada ekosistem laut dalam cakupan pesisir.
d. Konversi hutan menjadi lahan pertambakan tanpa memperhatikan terganggunya fungsi
ekologis hutan mangrove terhadap lingkungan fisik biologis.

BAB III
METODOLOGI KEGIATAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan pada hari sabtu Tanggal 29 November 2014 dari pukul 08.00 sampai
selesai, yang bertempat di wilayah pesisir pantai Oesapa Kecamatan Kelapa Lima Kota
Kupang.
3.2 Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peralatan tulis menulis dan
kamera digital. Peralatan tulis menulis digunakan untuk mencatat data hasil observasi dan
kamera digital digunakan untuk dokumentasi objek observasi.
3.3 Objek Pengamatan
Objek pengamatan dalam kegiatan survey adalah meliputi :
1. Aktivitas Masyarakat setempat
2. Dampak yang ditimbulkan dari aktivitas masyarakat pesisir
3.4 Prosedur Kerja
1. Pengamatan aktivitas masyarakat yaitu:
Pengamtan dilakukan untuk melihat aktivitas masyarakat di pesisir Oesapa.
2. Pengamatan kondisi Lingkungan:
3. Pengamatan kondisi atau karakter wilayah pesisir setempat, ekosistem dan kondisi biota
yang ada, serta perubahan yang diakibatkan oleh kegiatan masyarakat yang tinggal dan
bermukim di sekitar areal ters.ebut dan dampak dari kegiatan sosial ekonomi di dalam
wilayah tersebut
3.5 Analisis Data
Data yang diperoleh dianalsis dengan menggunakan analisis deskriptif dan studi pustaka.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Keadaan Umum Wilayah Pesisir Pantai Oesapa
Kondisi geomorfologi pantai Oesapa adalah berupa pantai datar dengan endapan lumpur
berpasir, sehingga banyak ditumbuhi berbagai macam vegetasi mangrove dan lamun di di
dalamnya. Jenis mangrove yang mendominasi wilayah ini adalah Jenis Rhizophora. Cerops
dan Avicenia. Sedangkan jenis lamun yang mendominasi wilayah ini adalah Enhalus acordies
dan Halodule uninervis. Selain jenis mangrove dan jenis lamun yang ada, banyak juga
terdapat berbagai jenis organisme yang hidup di dalamnya. Organisme-organisme tersebut
diantaranya berupa organisme makro dan organisme mikro. Organisme makro meliputi jenisjenis ikan, bivalvia, oyster (tiram) dan lain-lain. Sedangkan dari jenis mikro misalnya berupa
plankton dan bakteri.
4.2 Aktivitas Masyarakat di Wilayah Pesisir Pantai Oesapa
Hasil observasi memperlihatkan bahwa masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah pesisir
pantai Oesapa umumnya adalah masyarakat pendatang yang berasal dari etnis bugis.
Aktivitas yang dilakukan oleh masayarkat setempat adalah berdagang. Dan dari aktivitas
tersebut diketahui pula bahwa masyarakat setempat umumnya membuang sampah dan limbah
rumah tangga yang langsung menuju ke laut. Hasil wawancara dengan masyarakat setempat
bahwa kebiasaan membuang sampah dan limbah tersebut ke laut disebakan karena tidak
adanya penyediaan sarana penampung sampah dan limbah, sehingga alternatif yang mereka
lakukan adalah sampah dan limbah rumah tangga tersebut langsung di buang ke laut. Namun
juga penulis berpikir bahwa kegiatan membuang sampah tersebut juga diakibatkan oleh
ketidaksadaran masyarakat di wilayah tersebut untuk menjaga kebersihan lingkungannya.

Gambar 1. Sampah dan limbah yang dibuang oleh masyarakat di wilayah pesisir Pantai
Oesapa

Selain aktivitas membuang sampah dan limbah ke laut ada juga aktivitas-aktivitas lain
yang dilakukan oleh masyarakat setempat misalnya penebangan mangrove lalu kayunya
diambil untuk keperluan kayu bakar dan penebangan mangrove untuk membuka areal-areal
untuk tempat berlabunya kapal.

Gambar 2. Penebangan pohon mangrove untuk kayu bakar


dan pembukaan areal untuk berlabunya kapal Nelayan
Kegiatan yang cenderung merusak ini dilakukan masyarakat diakibatkan kurangnya
pemahaman masyarakat umum tentang pentingnya kebersihan dan juga masyarakat yang
berada di wilayah tersebut masih mememgang pada prinsip-prinsip atau pola tingkah laku
deterministik yang tidak menyadari akan pentingnya lingkungan pesisir dan laut yang
merupakan penopang kehidupan bagi mereka, sebab pesisir dan laut memilki potensi
sumberdaya yang tinggi. Hal ini apabila dibiarkan secara terus menerus akan menyeababkan
terjadinya pencemaran perairan pesisir, pencemaran udara, gangguan kesehatan masyarakat
dan degradasi lingkungan pesisir.
4.3 Dampak yang Ditimbulkan dari Aktivitas Masyarakat di Wilayah Pesisir Pantai
Oesapa
Dampak yang dtimbulkan dari aktivitas-aktivitas masyarakat di wilayah pesisir Pantai Oesapa
terhadap kondisi lingkungan pesisir adalah :
1. Terjdinya penumpukan sampah di Wilayah Pesisir Pantai Oesapa.

Gambar 3. Sampah yang berserakan di Pesisir Pantai Oesapa

10

Gambar di atas menunjukkan bahwa terdapat sampah-sampah yang berserakan di areal pasar
Oesapa yang menyebabkan kekumuhan dan bau busuk di sekitar wilayah tersebut. Keadaan
ini apabila tidak ditanggulangi dengan baik maka akan menyebabkan terjadinya pencemaran
udara, gangguan pada kesehatan masyarakat, dan degradasi wilayah pantai.
2. Terjadinya abrasi pantai sebagai akibat dari penebangan mangrove untuk kayu bakar dan
pembukaan lahan untuk berlabunya kapal nelayan

Gambar 4. Tembok penyangga


Gambar ini menunjukkan bahwa pondasi penyangga ombak dan gelombak hancur akibat
aktivitas pasang surut. Hancurnya pondasi penyangga ombak dan gelombang ini disebabkan
karena tidak adanya tumbuhan penyangga daratan seperti mangrove yang dapat menahan
lajunya ombak

dan gelombang menuju

gelombang yang hancur ke daratan. Hilangnya

tumbuhan penyangga daratan seperti mangrove ini diakibatkan oleh kebiasaan masyarakat
yang menebang mangrove untuk kayu bakar dan penebangan untuk membuka areal
berlabunya kapal nelayan, sehingga areal-areal tersebut terlihat kosong. Dengan adanya areal
yang kosong tersebut, maka ombak dan gelombang yang datang akan langsung ke daratan
dan kemudian menghancurkan tembok atau pondasi tersebut.
Alternatif dari pembuatan tembok ini memang diketahui adalah untuk menahan terpaan
ombak atau gelombang ke daratan. Namun perlu di ketahui pula bahwa tembok yang kokoh
sekalipun tanpa di dukung dengan pohon pohon penyangga seperti mangrove di depannya
pasti suatu ketika akan hancur dan roboh pula. Sebab, ombak dan gelombang yang datang itu
bukan hanya satu kali melainkan setiap hari.
Hal di atas, apabila tidak ditanggulangi dari sekarang maka akan menyebakan abrasi
pada lingkungan pantai yang kemudian akan memberikan efek pada penurunan kualitas
lingkungan pesisir (degradasi)

11

3. Terjadi pencemaran dan kerusakan ekosistem akibat pembuangan sampah ke laut


Aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir pantai Oesapa
seperti aktivitas pemukiman, pemasaran dan perdagangan yang dimana pembuangan sampahsampah plastik, bekas-bekas pukat yang tidak dipakai, kaleng-kaleng bekas, bekas-bekas
gardus dan limbah rumah tangga langsung ke laut mengakibatkan terjadinya penurunan
kualitas lingkungan yang akan berdampak pada perubahan atau terganggunya kondisi
ekosistem yang ada di wilayah pesisir.

Gambar 5. Sampah yang tersangkut


Gambar di samping ini menunjukkan bahwa terdapat sampah plastik dan potongan jaring
yang tersangkut pada anakan mangrove. Tersangkutnya sampah plastik dan potongan jaring
pada anakan mangrove ini dapat meneyababkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup dari
anakan mangrove terganggu. Tumbuhan mangrove yang masih tergolong anakan
membutuhkan kondisi lingkungan yang baik untuk pertumbuhannya,

sehingga

apabila

kondisi lingkungannya karena adanya sampah, maka dapat menghambat pertumbuhannya


bahkan mematikan anakan mangrove tersebut. Dengan adanya kondisi seperti ini, maka akan
menyebabkan terjadinya degradasi habitat.
Kondisi substart dalam hal ini untuk pertumbuhan mangrove di wilayah pesisir,
sangat bergantung juga pada sumbangan bahan masukan dari daratan. Di wilayah pesisir
Pantai Oesapa selain terdapat sampah-sampah dan limbah limbah yang berserakan ada juga
terdapat kegiatan labu kapal nelayan yang meberi efek pada tumpahan minyak di wilayah
pesisir tersebut. Minyak merupakan salah satu bahan cair yang mengandung racun, sehingga
ketika terbuang dan masuk ke dalam substart, akan menyebabkan terjadinya gangguan pada
sistem penguraian bahan organik. Memang, di ketahui bahwa bakteri merupakan
mikroorganisme pengurai yang hidup pada kondisi yang anaerobik atau pada kondisi yang
bau busuk, akan tetapi dalam proses penguraian, bakteri mempunyai titik jenuh, sehingga
apabila pembuangan samaph maupun limbah dari daratan berupa limbah deterjen, limbah
minyak dari aktivitas labuh kapal yang semakin hari terus berjalan, maka akan menyebabkan
12

proses penguraian bahan organik menjadi nutrient untuk pertumbuhan dan kelangsungan
hidup pohon mangrovepun akan mengalami gangguan yang kemudian berefek pada kematian
pohon mangrove tersebut. Dengan adanya kematian pohon mangrove tersebut maka akan
menyebabkan terjadinya perubahan pada ekosistem mangrove tersebut misalnya terjadinya
perubahan pola zonasi maupun degradasi habitat.
Minyak merupakan salah satu bahan cair yang mengandung racun, sehingga ketika
terbuang dan masuk ke dalam laut akan terakumulasi untuk masuk pula ke dalam substart,
yang kemudian menyebabkan terjadinya gangguan pada sistem penguraian bahan organic
oleh bakteri. Bakteri merupakan mikroorganisme pengurai yang hidup pada kondisi yang
anaerobik atau pada kondisi yang bau busuk, akan tetapi dalam proses penguraian. Bakteri
mempunyai titik jenuh, sehingga apabila pembuangan sampah maupun limbah dari daratan
berupa limbah deterjen, limbah minyak dari aktivitas labuh kapal yang semakin hari terus
berjalan, maka akan menghambat proses penguraian bahan organik menjadi nutrient untuk
pertumbuhan dan kelangsungan hidup vegetasi lamunpun akan mengalami gangguan yang
kemudian berefek pada kematian vegetasi lamun tersebut. Dengan adanya kematian adanya
kematian vegetasi lamun tersebut, maka akan menyebabkan terjadinya perubahan pada
ekosistem padang lamun yang merupakan habitat bagi biota-biota laut.

13

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kondisi geomorfologi pantai Oesapa yang merupakan dataran dengan endapan lumpur
berpasir memungkinkan untuk ditumbuhi berbagai macam vegetasi mangrove dan lamun di
di dalamnya. Namun apabila masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah pesisir pantai
Oesapa tetap membuang sampah dan limbah rumah tangga yang langsung menuju ke laut dan
juga tetap melakukan aktivitas penebangan mangrove untuk keperluan kayu bakar dan untuk
membuka areal-areal untuk tempat berlabunya kapal maka akan mengakibatkan terjadinya
kekumuhan dan bau busuk di wilayah pesisir pantai oesapa, terjadinya abrasi pantai,
terjadinya perubahan kondisi ekosistem baik ekosistem mangrove maupun padang lamun dan
kematian biota-biota peraiaran seperti tiram bakau, kerang bakau dan kerang bulu, dan akan
berujung pada terjadinya degradasi lingkungan, degradasi habitat dan degradasi sumberdaya
di wilayah pesisir Oesapa.

5.2 Saran
Sumberdaya alam pesisir dan laut merupakan salah satu aset yang bermanfaat untuk
pengembangan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh
karena itu, upaya pelestarian (konservasi) kawasan pesisir dan laut ini perlu dilakukan guna
menjaga kesinambungan kehidupan manusia serta menjaga kelestarian sumberdaya alam
pesisir dan laut beserta ekosistemnya secara berkelanjutan. Serta pemerintah harus mau
merubah pola ruang yang ada di wilayah pesisir Oesapa demi kelangsungan lingkungannya.

14

DAFTAR PUSTAKA

Clark, Jhon R. 1996. Coastal Zone Management Handbook. New York : Lewis Publisher.
Dadi R. N. 2014. Analisis Kepadatan dan Keragaman Perifiton pada Media Penempelan
(Akar, Batang, dan Daun Mangrove) di Pesisir Pantai Oesapa, Kota Kupang.
(Skripsi). Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Kelautan dan Perikanan.
Universitas Nusa Cendana. Kupang.
Dahuri. dkk., 2001. Sumber Daya Pesisir Dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta : PT Pradnya
Paramita.
Djojodipuro, Marsudi. 1992. Teori Lokasi. Jakarta : Lembaga Penerbit fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
Hantoro, wahyoe. 2004. Pengaruh Karakteristik Laut dan Pantai terhadap Perkembangan
Kawasan
Kota
Pantai.
http://sim.nilim.go.jp/GE/SEMI3/PROSIDING/01WAHYU.doc. Di akses tanggal 28 November 2014.
Hartshorn, Truman A. 1980. Interpreting The City, An Urban Geography. Jhon and Sons.
Kay, Robert and Jacqueline Alder. 1999. Coastal Planing and Management. London :
Penerbit E & FN Spon Press.
Rais, Jacub. 2004. Menata Ruang Laut Terpadu. Jakarta : Penerbit PT Pradnya Paramita.
Risamasu L. J. Fonny., 2010. Peranan Konservasi Kawasan Dalam Pengelolaan Wilayah
Pesisir. Makalah Seminar. Jurusan Perikanan dan Kelauatan. Fakultas Pertanian.
Universitas Nusa Cendana. Kupang.
Risamasu L. J. Fonny., 2014. Kajian Kondisi Sumberdaya Kelautan Dan Perikanan Di
Provinsi Nusa Tenggara Timur. Universitas Nusa Cendana. Kupang.
Salikin, Karwan A. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Supriharyono. 2002. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir
Tropis. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
. 2007. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan
Permukiman.
UU No. 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam hayati dan Ekosistemnya
Undang-Undang Republik Indonesia No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

15