Anda di halaman 1dari 4

AHLU SUNNAH WAL JAMAAH

Disusun Oleh :
Ihtisyam Manaf Khoirunnisa
Lian Firmana Malo
M Irfan Hilmy Yusuf
M Rizal Firdaus

SMAN CAHAYA MADANI BANTEN BOARDING SCHOOL


Jl. Raya Pandeglang-Labuan km.3 Kuranten Majasari Pandeglang banten

BAB I
AHLUSUNNAH WAL JAMAAH

1.1 Pengertian Ahlu Sunnah Wal Jamaah


Secara teoritis, sebenarnya makna ahlu sunnah wal jamaah sendiri sudah muncul sejak
zaman Rasulullah saw dan para sahabat pertama kali mendirikan negara islam di madinah.
Hal ini berkaitan dengan terminologi ahlu sunnah wal jamaah itu sendiri yang berarti
pemegang sunnah Rasul dan pengikut jamaah mayoritas umat islam. Namun, paham ahlu
sunnah wal jamaah baru dikenal secara khusus pada masa islam klasik terutama ketika
paham mutazilah sedang tumbuh subur di kekhilafahan abbasiyah pada saat itu. Pada saat
itu, kata ahlu sunnah wal jamaah menunjukkan bahwa orang-orang yang menganut paham
ini adalah orang yang terlepas dari pengaruh aliran-aliran yang saat itu sedang tumbuh subur
seperti khawari, murjiah, mutazilah, dan lain-lain serta menunjukkan bahwa orang yang
menganut ajaran ini adalah orang yangg hanya berpegang teguh pada apa-apa yang telah di
tetapkan pada zaman Rasul melalui Al-Quran, hadits, serta berpegang pada kesepakatan
mayoritas umat islam melalui Ijma dan Qiyas para Ulama besar.
Terminologi Ahlu Sunnah wal Jamaah, berasal dari dua kata, yaitu ahlu sunnah, dan
jamaah. Ahlu sunnah disini berarti orang yang berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah
saw dan para sahabat serta tabiin yang selamat atau telah jelas kebenarannya. Sedangkan
jamaah disini dapat berarti suatu perkumpulan atau masyarakat yang terkumpul dalam
kebaikan bersama dan merupakan mayoritas dari keseluruhan masyarakat yang terkumpul di
dalam daerah tersebut.
Sedangkan menurut istilah, dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin,
Ahlussunnah wal jamaah adalah orang yang mengamalkan sunah Rasulullah dan berkumpul
di dalamnya dengan beribadah kepada Allah baik dalam masalah aqidah (keyakinan),
perkataan, perbuatan, dan panutannya adalah Shalafusshalih dari sahabat, tabiin dan pengikut
tabiin.
1.2 Sejarah Ahlu Sunnah Wal Jamaah
Seperti yang telah dijelaskan di dalam bagian sebelumnya, bahwa sebetulnya, paham
ahlu sunnah wal jamaah adalah paham yang muncul sejak zaman Nabi Muhammad saw dan

para sahabat. Artinya, paham ini adalah paham yang muncul pertama kali sebelum
munculnya aliran-aliran lain dalam islam. Namun, kata ahlu sunnah wal jamaah itu sendiri
baru muncul ketika aliran mutazilah di tentang oleh seorang mantan pengikutnya sendiri
yaitu Abu Hasan Al-Asyari.
Sebagai seorang pengikut mutazilah, tentunya Al-Asyari mengetahui paham
mutazilah secara mendalam. Hal ini di dukung pula oleh kedudukannya sebagai murid
seorang pemuka aliran Mutazilah yaitu Al-Jubbai. Namun, di karenakan oleh beberapa
sebab, terutama setelah memperoleh jawaban yang tidak memuaskan setelah berdebat dengan
al-Jubbai mengenai masalah kedudukan orang mukmin, orang kafir dan anak kecil di akhirat
serta mimpinya bertemu Rasulullah yang memberitahu Al-Asyari bahwa aliran mutazilah
adalah paham yang salah dan paham Ahlu Haditslah yang benar.
Setelah mengalami dua persitiwa tersebut, akhirnya Al-Asyari memutuskan untuk
keluar dari aliran mutazilah dan mendirikan ahlu sunnah wal jamaah serta menyebarkannya
di kehirupan masyarakat terutama masyarakat irak saat itu yang kebanyakan menganut
paham mutazilah.
Namun, sebelum Al-Asyari mendirikan paham ahlu sunnah wal jamaah sebagai
penentang paham mutazilah, ulama-ulama besar islam lainnya telah berusaha menentang
paham ini sebelumnya terutama pada saat kekhilafahan Al-Mamun, khalifah ketujuh bani
Abbasiyah. Salah satunya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Saat itu, banyak sekali ulamaulama yang dijebloskan kedalam penjara dan disiksa dikarenakan menentang paham
mutazilah yang saat itu menjadi aliran resmi banu Abbas.
Walaupun saat itu paham ahlusunnah wal jamaah mendapat tantangan keras dair para
penguasa, hal ini tidak menyebabkan masyarakat meninggalkan paham ini. Bahkan, semakin
banyak masyarakat yang menganut dan mempercayai paham ahlu sunnah wal jamaah
dikarenakan masyarakat yang saat itu mempunyai pola pikir yang sederhana, leboih memilih
ahlusunnah wal jamaah yang mempunyai landasan berpikir yang sederhana dan mempunyai
sumber yang jelas dibanding paham mutazilah yang mengedepankan logika dan kemampuan
berpikir yang tinggi.
Paham ahlusunnah wal jamaah mulai berkembang dengan pesat ketika masa Khalifah
Al-mutawakkil, khalifah ke sepuluh banu Abbasiyah. Pada saat itu ahlusunnah wal jamaah
ditetapkan sebagai mazhab resmi kekhilafahan bani abbasiyah. Para pengikut ahlusunnah wal

jamaah mulai menyebarkan paham ini secara intensif ke dalam masyarakat sehingga menjadi
kelompok mayoritas dari saat itu hingg adunia modern sekarang ini.
1.3 Perkembangan Ahlusunnah Wal Jamaah Selanjutnya
Setelah Al-Asyari menyatakan diri keluar dari aliran mutazilah dan mendirikan paham
ahlusunnah wal jamaah, Al-Asyari kemudian mengembangkan paham ini kepada muridmuridnya. Salah satunya Abu Hasan Al-Mathuridiy yang kemudian mendirikan paham
Maturidiyah sebagai bagian dari salah satu aliran ahlusunnah wal jamaah. Paham AslAsyari sendiri kemudian dikenal sebagai Asyariyah yang kemudian keduanya (asyariyah
dan maturidyah) menjadi dua bagian ahlu sunnah wal jamaah. Hal ini tidak berpengaruh
apapun terhadap kedudukan seseorang yang menganut salah satu dari keduanya sebagai
pengikut ahlusunnah wal jamaah atau bukan. Hal ini dikarenakan paham Asyariyah dan
mathuridiyah hanya berbeda dalam masalah furui aqidah dan bukan dalam masalah Ushuli
aqidah. Artinya, apapun aliran yang dianut di antara kedua aliran ini tidak akan mengelurakan
seseorang dari kedudukannya sebagai pengikut paham ahlusunnah wal jamaah.
1.4 Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah