Anda di halaman 1dari 2

Inovasi Saat Menjadi Pemandu

Hal pertama yang akan saya lakukan ketika mendapatkan list anggota kelompok yang
akan saya pandu adalah mencoba untuk mengenal mereka terlebih dahulu melalui
media sosial. Saya bisa mencari mereka melalui facebook, twitter, ataupun instagram.
Dari hal tersebut, saya akan mendapatkan sedikit gambaran tentang mereka. Saya
dapat menerka kepribadian mereka secara sekilas sehingga nantinya saya dapat
mengetahui cara bersikap kepada mereka. Kemudian, saya akan mengirim pesan teks
kepada mereka untuk memberi tahu bahwa saya adalah pemandu mereka dan
meminta id line untuk membuat group line. Setelah itu, saya akan berusaha untuk
membentuk hubungan interpersonal yang baik dengan mereka. Tidak hanya hubungan
dengan anggota asuh saya, tetapi juga dengan pasangan pemandu saya. Sebelum
bertemu dengan anggota asuh saya, saya ingin mengajak makan siang pasangan
pemandu saya terlebih dahulu untuk mencairkan suasana (jika memang belum saling
mengenal atau sekedar tahu nama saja). Rencana saya sebelum pertemuan pertama
secara general di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah
mempertemukan saya, anggota asuh saya, dan pasangan pemandu saya. Apakah
tujuan dilakukan pertemuan ini? Tujuan terpenting adalah sebagai wadah untuk saling
mengenal untuk mengurangi bahkan menghilangkan suasana canggung saat bekerja
sama nantinya. Saya berniat mengajak mereka dan pasangan pemandu saya untuk
berwisata ke tempat menarik di Yogyakarta dan tempat yang sering didatangi oleh
mahasiswa Fakultas Kedokteran. Kami akan menggunakan trans jogja dalam
petualangan singkat ini. Kami akan berkunjung ke Benteng Vrederburg dan
melakukan photo hunting bersama. Setelah itu, kami akan berbincang santai di km 0
untuk lebih mengakrabkan diri. Tidak lupa juga, saya berencana untuk memberikan
mereka souvenir berupa gelang kembar berbeda warna (yang berada di Pasar
Malioboro) sebagai hadiah perkenalan. Warna yang berbeda memiliki makna bahwa
kami memang berasal dari daerah yang berbeda, tetapi pada akhirnya dapat disatukan
(analogikan dengan bentuk gelang yang sama atau kembar). Setelah itu, kami akan
melakukan makan siang di Ayam Geprek Bu Rum (tempat makan bersifat fleksibel,
tetapi harus khas tempat makan yang sering dikunjungi oleh mahasiswa Fakultas
Kedokteran, seperti Mie Ayam Kridosono, Mie Ayam Ungaran, dan lain-lain). Setelah
itu, kami akan pulang ke kediaman masing-masing. Berdasarkan rencana yang akan
saya lakukan di atas, memang terkesan seperti cara pendekatan kepada anak-anak.

Akan tetapi, yang ingin saya tekankan, bahwa saya ingin menciptakan suasana dan
lingkungan yang bersahabat dengan mereka. Saya berharap mereka memiliki kesan
pertama yang baik terhadap kota Jogjakarta, saya, dan pasangan pemandu saya. Saya
ingin mereka menganggap saya dan pasangan pemandu saya adalah teman untuk
mereka. Selanjutnya, saat pengerjaan tugas Morfogenesis, saya berkomitmen untuk
menemani mereka sampai tugas selesai dikerjakan. Saya juga berharap pasangan
pemandu saya dapat selalu ikut menemani anggota asuh kami. Dalam menghadapi
anggota asuh saya, di fase pengerjaan tugas ini, saya akan tetap menjadi diri saya
yang bersahabat, yang telah terdoktrin di pikiran mereka saat bertemu pertama kali
dengan saya, namun saya juga akan bersikap tegas dan memilih informasi apa yang
harus saya sampaikan dan tidak. Saya tidak ingin membuat mereka bersikap manja
akan sifat bersahabat yang saya tunjukkan. Saya ingin mereka melihat saya, pemandu
mereka, sebagai sosok panutan bahwa setiap orang harus memiliki hubungan
interpersonal yang baik dengan orang lain, apalagi saat mereka baru mengenal dan
ingin lebih mengetahui tentang sifat masing-masing. Kemudian, saya akan menjadi
pribadi yang bersifat active listening terhadap curahan hati mereka terkait masalah
tugas yang sulit dan melelahkan, hubungan interpersonal antar anggota yang mungkin
kurang menyenangkan, atau hal lain terkait perkuliahan yang akan mereka jalani.
Saya akan berusaha untuk membuka pikiran mereka tentang kehidupan perkuliahan
yang tentunya sangat berbeda dengan kehidupan SMA melalui cara saya bersikap.
Misalnya, saat mereka bertanya tentang bagaimana cara menyelesaikan suatu tugas,
saya tidak akan langsung memberitahu cara penyelesaiannya. Saya ingin membuat
mereka menjadi pribadi yang mandiri dan belajar bekerja sama dengan anggota lain
dalam menemukan solusi penyelesaian tugas. Namu, saya tidak akan meninggalkan
peran saya sebagai pemandu, saya tetap akan memberikan petunjuk agar mereka tetap
terarah dan mencapai tujuan diberikannya tugas tersebut. Kemudian, jika mereka
bercerita tentang ketidaknyamanan dengan anggota lain yang bersikap dominan atau
terlalu pasif, saya akan memberikan saran kepada mereka untuk berpikir dan bersikap
layaknya orang dewasa, bahwa bukan diri anggota lain yang bersikap dominan atau
terlalu pasif itu yang harus diubah, melainkan diri kita yang harus mau masuk ke
lingkungan mereka untuk menyadarkan dan memberi tahu melalui sikap kita yang
tersirat. Setelah berakhirnya kegiatan Morfogenesis, saya akan tetap menjalin tali
persaudaraan dengan mereka melalui temu kangen, wisata kuliner, jalan-jalan, dan
belajar bersama.