Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) menurut Sistem Kesehatan
Nasional (SKN) dalam hierarki pelayanan kesehatan berkedudukan pada
tingkat pelayanan kesehatan pertama (Primary Health Care/ PHC), bertugas
menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan

mencakup

pelayanan

kesehatan

perorangan

dan

masyarakat. Upaya kesehatan wajib puskesmas diantaranya adalah upaya


promosi kesehatan, upaya kesehatan lingkungan, gizi, pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular, upaya kesehatan ibu, anak dan KB.
Untuk memenuhi tujuan tersebut, Puskesmas memerlukan suatu
sistem manajerial yang tertata dengan baik. Melalui kegiatan stase Ilmu
Kesehatan Masyarakat (IKM) inilah dokter muda diharapkan dapat
mempelajari mengenai kegiatan manajerial puskesmas.
B. Tujuan Pembelajaran
1.

Umum :
Mempelajari manajemen kerja puskesmas yang berkualitas dan optimal
sebagai usaha pencapaian tujuan pembangunan kesehatan kabupaten/kota..

2. Khusus :
a. Mengetahui struktur, tugas, dan fungsi masing-masing bagian di
Puskesmas Sukoharjo sebagai pelayanan kesehatan tingkat dasar yang
bersifat komprehensif dan holistik.
b. Mendapatkan gambaran pencapaian hasil mutu kegiatan serta
manajemen puskesmas.
c. Meningkatkan cakupan TB di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo.
d. Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang
penyakit TB.

C. Manfaat
Sebagai bahan pembelajaran untuk lebih memahami permasalahan, kendala,
dan solusi seputar kegiatan manajerial di Puskesmas sehingga mungkin
diperoleh ide-ide pemecahannya.

BAB II
PUSKESMAS SUKOHARJO
A. Keadaan Umum Puskesmas Sukoharjo
Puskesmas Sukoharjo adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan
Kabupaten Sukoharjo yang bertanggung jawab terhadap pembangunan
kesehatan di wilayah Kecamatan Sukoharjo. Puskesmas yang berlokasi di Jl.
Raya Solo Wonogiri No. 173A Begajah, Sukoharjo, Telp. (0271) 591028,
berperan menyelenggarakan upaya kesehatan yang bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
penduduk kecamatan Sukoharjo agar tercapai derajat kesehatan yang optimal.
Secara geografis, seluruh wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo adalah daerah
pemukiman penduduk dengan sebagian ada area persawahan dan tegalan,
sedangkan topografi Puskesmas Sukoharjo seluruhnya merupakan daerah
datar. Wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo meliputi 14 kalurahan dengan luas
wilayah 45,47 Km2, berada di wilayah Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten
Sukoharjo. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Bendosari, sebelah
barat dengan Kabupaten Klaten, sebelah utara dengan Kecamatan Grogol,
dan sebelah selatan dengan Kecamatan Nguter dan Kecamatan Tawangsari.
Sesuai dengan kebijakan dasar puskesmas (Keputusan Mentri
Kesehatan RI No. 128/Menkes/SK/II/2004) maka upaya kesehatan yang
diselenggarakan meliputi upaya kesehatan wajib, yaitu Promosi Kesehatan,
Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Ibu Anak dan KB, Perbaikan Gizi
Masyarakat, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular serta
Pengobatan dan didukung upaya pengembangan yang disesuaikan dengan
potensi dan permasalahan kesehatan di tingkat kabupaten dan kecamatan.

B. Visi dan Misi

1. Visi
Visi Puskesmas Sukoharjo dalam melaksanakan pembangunan kesehatan
adalah sebagai berikut :
Puskesmas Sukoharjo menuju masyarakat Sukoharjo sehat dan
mandiri dengan pelayanan prima
2. Misi
Untuk melaksanakan visi besar tersebut diwujudkan dalam beberapa misi
sebagai upaya untuk menuntun kebijakan puskesmas dalam pelaksanaan
pembangunan kesehatan, sebagai berikut :
a. Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan paripurna.
b. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan
kesehatan.
c. Meningkatkan

kemandirian

masyarakat

dalam

pembangunan

kesehatan.
C. Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk Kecamatan Sukoharjo berdasarkan data BPS tahun 2011
adalah 87.833 jiwa dengan komposisi penduduk menurut umur adalah
sebagai berikut :
Penduduk usia 0-4,9 tahun

: 10.276 jiwa (11,8%)

Penduduk usia 5-14,9 tahun

: 18.234 jiwa (18,5%)

Penduduk usia 15-24,9 tahun : 16.811 jiwa (19,1%)


Penduduk usia 25-55 tahun

: 33.621 jiwa (38,3%)

Penduduk usia 55-60 tahun

: 4.227 jiwa (4,8%)

Penduduk usia > 60 tahun

: 6.664 jiwa (7,6%)

Jumlah penduduk miskin di Kecamatan Sukoharjo berdasarkan data


keputusan Bupati Sukoharjo tahun 2010 adalah sebesar 26.071 jiwa / 7.419
KK (28% dari penduduk Kabupaten Sukoharjo). Kalurahan dengan penduduk
miskin terbanyak adalah Kalurahan Kriwen 2.731 jiwa (50%), Kalurahan
Sonorejo 2.266 jiwa (46%), dan Kalurahan Dukuh 2.627 jiwa (45%).

Sedangkan komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan adalah


sebagai berikut :
Tidak sekolah

: 1.036 jiwa (25,02%)

Tidak / belum tamat SD : 4.983 jiwa (21,15%)


SD

: 8.152 jiwa (20,32%)

SLTP

: 6.121 jiwa (14,41%)

SLTA

: 7.690 jiwa (14,43%)

Diploma

: 906 jiwa (2,44%)

Universitas

: 790 jiwa (2,22%)

D. Keadaan Sosial Ekonomi


Keadaan sosial ekonomi penduduk wilayah Puskesmas Sukoharjo sebagian
besar merupakan petani (20,97%). Berdasarkan jumlah penduduk menurut
golongan umur, maka angka beban tanggungan (dependency ratio) penduduk
Puskesmas Sukoharjo adalah sebesar 58,6 yang artinya setiap 100 orang
penduduk usia produktif menanggung 58 orang penduduk usia tidak
produktif.
E. Manajemen Puskesmas Sukoharjo
1. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan pilar penting dalam pelaksanaan
pembangunan kesehatan oleh karena itu pengaturan SDM sangat berperan
untuk menjamin terlaksananya perencanaan yang telah disusun.
a. Optimalisasi peran Tim Desa Puskesmas sebagai salah satu upaya
untuk mendorong pencapaian desa sehat.
b. Pembinaan

SDM

puskesmas

secara

profesionalisme

dan

berkesinambungan melalui peningkatan pertemuan teknis medis


program di puskesmas dan pelatihan teknis.
c. Keseimbangan peran fungsi pelayanan dan program setiap SDM
puskesmas.

2. Pembiayaan
Pembiayaan

operasional

puskesmas

digunakan

untuk

menjamin

kesinambungan pelaksanaan pelayanan kesehatan di dalam gedung, di luar


gedung, dan optimalisasi pelaksanaan program yang teralokasikan dalam
DPA APBD puskesmas. Beberapa hal yang masih menjadi permasalahan
antara lain :
a. Pemenuhan barang cetak masih belum sesuai kebutuhan puskesmas
(kartu rawat jalan, surat keterangan sehat, surat rujukan, family
folder).
b. Pemeliharaan

fisik

ringan

yang

bersifat

insidentil

untuk

PKD/pustu/puskesmas.
c. Biaya pajak PBB tanah puskesmas tidak teralokasi dalam DPA.
Pemenuhan kekurangan tersebut ada yang dapat teralokasi dalam anggaran
BOK tetapi ada yang tetap tidak dapat alokasi anggaran.
F. Upaya Pembangunan Puskesmas Sukoharjo
1. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
a. Revitalisasi Forum Kesehatan Desa (FKD) untuk mendorong
pemberdayaan masyarakat desa di bidang kesehatan.
b. Pendampingan FKD dalam penyusunan rencana kegiatan tahunan
agar menempatkan permasalahan prioritas tersebut dalam rencana
kegiatan FKD.
c. Pendampingan FKD dalam pengusulan rencana kegiatan FKD ke
musrenbang di setiap kalurahan.
d. Implementasi PHBS menuju terwujudnya desa siaga secara
bertahap dan berkesinambungan.
e. Promosi

kesehatan

untuk

mendukung

program

dengan

permasalahan kesehatan prioritas, yaitu DBD, TB paru, kematian


ibu/bayi/balita dan gizi buruk.

f. Menata jaminan pembiayaan kesehatan sehingga tepat sasaran dan


fungsi dengan cara kerjasama lintas sektoral terutama FKD dan
stake holder desa.
2. Program Kesehatan Lingkungan
a. Pelayanan konseling kesehatan lingkungan di puskesmas
b. Mapping daerah dan institusi sekolah dengan permasalahan
kesehatan lingkungan
c. Mendorong pemberdayaan masyarakat dan masyarakat sekolah
untuk menciptakan lingkungan sehat.
3. Program Kesehatan Ibu, Anak, Lansia, dan Gizi
a. Peningkatan kualitas pelayanan posyandu melalui peningkatan
kualitas kader posyandu.
b. Pelaksanaan pelayanan poli KIA dengan MTBS.
c. Peningkatan pelaksanaan SIDDITK di posyandu dan pembentukan
klinik tumbuh kembang anak di puskesmas.
d. Pembentukan kelas ibu hamil dan balita di desa.
e. Pelacakan bayi, balita, dan ibu hamil resiko tinggi.
f. Peningkatan kegiatan AMP secara rutin di puskesmas.
g. Pelayanan kesehatan peduli remaja dengan pembentukan klinik
PKPR di puskesmas, pembentukan kelompok konselor sebaya di
sekolah dan layanan konseling di puskesmas melalui tatap muka
dan SMS.
h. Peningkatan kegiatan penyuluhan kesehatan pada posyandu lansia.
4. Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
a. Peningkatan kerja sama lintas sektor dan institusi pelayanan
kesehatan swasta dalam upaya

peningkatan pemberdayaan

masyarakat untuk pencegahan dan penanggulangan penyakit.


b. Secara bertahap membentuk sistem surveilans melalui kader
kesehatan sebagai upaya deteksi dini, penjaringan kasus dan
pelaporan cepat KLB.

c. Peningkatan kerjasama dengan institusi pelayanan kesehatan


swasta dalam penjaringan dan pengobatan TB.
5. Program Pelayanan Pengobatan
a. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan disertai pengembangan
sarana pendukung, yaitu laboratorium dan kesehatan gigi.
b. Sinergi pelaksanaan pelayanan pengobatan untuk mendukung
pelaksanaan program prioritas.
c. Peningkatan kualitas dan kompetensi SDM untuk mendorong
pelayanan yang profesional.
G. Sarana dan Prasarana Puskesmas Sukoharjo
1. Sarana Fisik
a. Puskesmas induk dan unit layanan
Puskesmas Begajah digunakan sebagai pusat manajemen Puskesmas
Sukoharjo dan puskesmas utara sebagai unit layanan puskesmas. Unit
layanan puskesmas utara sangat berpotensi untuk dikembangkan
terutama untuk pelayanan konsultasi yang mendukung program, yaitu
poli konsultasi kesling, poli ANC terpadu, dan poli konsultasi PKPR
dengan rencana menempati bangunan BRI setelah direhab atau setelah
dibangun perluasan gedung puskesmas sampai ke BRI. Sementara iyu,
rumah dinas di Begajah direncanakan akan diusulkan perbaikan untuk
menunjang pelaksanaan KIA gizi.
b. Puskesmas pembantu, terdapat di :
Pustu Banmati
Pustu Combongan
Pustu Joho
Pustu Cuplik
Pustu Sonorejo
c. Puskesmas keliling, terdapat di :
Kalurahan Jetis

Kalurahan Mandan
Kalurahan Begajah
Kalurahan Kenep
d. Poliklinik kesehatan desa dengan bangunan fisik :
Kalurahan Banmati
Kalurahan Begajah
Kalurahan Kenep
Kalurahan Joho
Kalurahan Bulakrejo
Kalurahan Dukuh
Kalurahan Bulakan
Kalurahan Combongan menjadi satu dengan pustu
Kalurahan Sonorejo menjadi satu dengan pustu
Kalurahan Gayam menempati satu ruangan di komplek kalurahan
Kalurahan Sukoharjo menempati satu ruangan di komplek kalurahan
Kalurahan Mandan menempati satu ruangan di komplek kalurahan
Kalurahan Jetis menempati satu ruangan di komplek kalurahan
Kalurahan Kriwen menempati satu ruangan di komplek kalurahan
2. Sarana Alat Kesehatan
Sarana alat kesehatan yang masih diperlukan adalah alat kesehatan gigi
(scaler ultrasonik) dan alat pendukung layanan obat (pembuat puyer).
3. Sarana Mebelair Puskesmas
Sarana mebelair (meja, kursi) masih diperlukan di puskesmas, yaitu
untuk aula dan ruang administrasi serta di PKD. Beberapa PKD dibangun
tanpa dialokasikan sarana mebelair pendukungnya.
4. Sarana Komputer dan Perlengkapannya
Dengan adanya program SIMPUS online di unit layanan puskesmas
utara, maka untuk administrasi perkantoran dan pembuatan SPJ
kekurangan komputer karena hanya teralokasi 1 unit.

5. Sarana Kendaraan Roda Empat


Terdapat 2 buah sarana kendaraan roda 4 atau pusling yang digunakan
untuk memperlancar operasional kegiatan di luar gedung.
6. Sarana Kendaraan Roda Dua
Terdapat 18 buah kendaraan roda 2 dengan pengalokasian diproritaskan
kepada petugas program dengan kegiatan lebih banyak di luar gedung
untuk memperlancar operasional pelaksanaan kegiatan.
H. Fungsi Puskesmas Sukoharjo
Fungsi Puskesmas Sukoharjo :
1. Pusat penggerak pembanguan berwawasan kesehatan
2. Pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat
3. Pusat pelayanan kesehatan dasar strata pertama

10

I.

Susunan Organisasi

11

12

J.

Prioritas Kinerja Puskesmas Sukoharjo


Prioritas kinerja Puskesmas Sukoharjo didasarkan pada prinsip paradigma
sehat serta diimplementasikan pada sistem PHBS dalam Program Kalurahan
Sehat untuk mendorong pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan
terutama upaya promotif dan preventif. Berikut adalah prioritas kerja pada
Puskesmas Sukoharjo pada tahun 2012:
1. Mengedepankan upaya promosi kesehatan untuk meningkatkan
kewaspadaan dan peran serta masyarakat dalam program pembangunan
kesehatan.
2. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di dalam gedung maupun
di luar gedung untuk meningkatkan daya tawar puskesmas dan daya
dorong puskesmas dalam melaksanakan program kesehatan lingkungan.
3. Mengembangkan sistem informasi kesehatan menuju keterpaduan data
kesehatan di puskesmas sebagai data dasar untuk perencanaan kegiatan
dan pengambilan keputusan.
4. Mengoptimalkan peran FKD sebagai faktor yang berperan dalam
surveilans kesehatan.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. TUBERKULOSIS

13

1. Etiologi
Merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacteriom tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
2. Epidemiologi
Sampai saat ini diperkirakan sepertiga penduduk dunia terinfeksi
kuman TB. Dari jumlah tersebut sekitar 95% kasus TB dan 98% kematian
akibat TB terjadi di Negara berkembang. TB juga lebih banyak menyerang
usia

produktif

yang

menyebabkan

penurunan

produktivitas

dan

pendapatan.
Hampir 10 tahun lamanya Indonesia menempati urutan ke-3
sedunia dalam hal jumlah penderita tuberkulosis (TB). Baru pada tahun ini
turun ke peringkat ke-5 dan masuk dalam milestone atau pencapaian
kinerja 1 tahun Kementerian Kesehatan. Berdasarkan Data Badan
Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2007 menyatakan jumlah penderita
Tuberkulosis di Indonesia sekitar 528 ribu atau berada di posisi tiga di
dunia setelah India dan Cina.
Laporan WHO pada tahun 2009, mencatat peringkat Indonesia
menurun ke posisi lima dengan jumlah penderita TBC sebesar 429 ribu
orang. Lima negara dengan jumlah terbesar kasus insiden pada tahun 2009
adalah India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria dan Indonesia (WHO Global
Tuberculosis Control, 2010).
3. Cara Penularan
Sumber penularan TB adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu
batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar
3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi pada ruangan dimana
percikan dahak berada dalam waktu yang cukup lama. Ventilasi dapat
mengurangi jumlah percikan, dan sinar matahari dapat langsung
membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam
keadaan gelap dan lembab (Tim Field Lab FK UNS, 2011).

14

Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB


ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup
udara tersebut (Tim Field Lab FK UNS, 2011).
4. Risiko Penularan TB
Risiko penularan TB tergantung tingkat pajanan dengan percikan
dahak. Pada pasien TB paru BTA positif, risiko penularan lebih besar dari
BTA negative. Risiko penularan tiap tahun ditunjukkan dengan Annual
Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang
berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10
orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. ARTI di Indonesia
bervariasi antara 1-3%. Infeksi TB dibuktikan dengan reaksi tuberculin
negative menjadi positif (Tim Field Lab FK UNS, 2011).
5. Upaya Penanggulanangan TB
Beberapa panduan OAT jangka pendek yang direkomendasikan
WHO merupakan hasil uji coba di beberapa negara, yang terutama
dilakukan oleh IUAT-LD di Afrika dan juga di Sulawesi. Panduan OAT
jangka pendek ini jika dilakukan dengan baik dan betul akan memberikan
hasil yang bagus, angka kesembuhan lebih dari 85%. Hal ini telah terbukti
di beberapa negara termasuk Indonesia, khususnya Sulawesi.
Kunci utama keberhasilan adalah keyakinan bahwa penderita TB
minum semua obatnya sesuai dengan anjuran yang telah ditetapkan.
Artinya harus ada seseorang yang ikut mengawasi atau memantau
penderita saat dia minum obatnya. Inilah dasar strategi DOTS.
Strategi

DOTS

(Direct

Observed

Treatment

Short-Course

Chemotherapy), terbukti efektif sebagai strategi penanggulangan TB.


Strategi DOTS ini telah diadopsi dan dimanfaatkan oleh banyak negara
dengan hasil yang bagus, termasuk di negara-negara maju seperti Amerika
Serikat.
Strategi DOTS terdiri atas 5 komponen, yaitu:
1. Dukungan politik para pimpinan wilayah di setiap jenjang
Dengan keterlibatan pimpinan wilayah, TB akan menjadi salah satu

15

prioritas utama dalam program kesehatan, dan akan tersedia dana yang
sangat diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan strategi DOTS.
2. Mikroskop
Mikroskop merupakan komponen utama untuk mendiagnosa penyakit
TB melalui pemeriksaan dahak lansung pada penderita tersangka TB.
3. Pengawas Minum Obat (PMO)
PMO ini yang akan ikut mengawasi penderita minum seluruh obatnya.
Keberadaan PMO ini untuk memastikan bahwa penderita betul minum
obatnya dan bisa diharapkan akan sembuh pada masa akhir
pengobatannya. PMO haruslah orang yang dikenal dan dipercaya oleh
penderita maupun oleh petugas kesehatan. Mereka bisa petugas
kesehatan sendiri, keluarga, tokoh masyarakat maupun tokoh agama.
4. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan ini merupakan bagian dari sistem survailans
penyakit TB. Dengan rekam medik yang dicatat dengan baik dan benar
akan bisa dipantau kemajuan pengobatan penderita, pemeriksaan follow
up, sehingga akhirnya penderita dinyatakan sembuh atau selesai
pengobatannya.
5. Panduan OAT jangka pendek
Panduan OAT jangka pendek yang benar, termasuk dosis dan jangka
waktu pengobatan yang tepat sangat penting dalam keberhasilan
pengobatan penderita. Kelangsungan persediaan panduan OAT jangka
pendek harus selalu terjamin.
Strategi umum program pengendalian TB 2011-2014 adalah
ekspansi. Fase ekspansi pada periode 2011-2014 ini bertujuan untuk
konsolidasi program dan akselerasi implementasi inisiatif-inisiatif baru
sesuai dengan strategi Stop TB terbaru, yaitu Menuju Akses Universal:
pelayanan DOTS harus tersedia untuk seluruh pasien TB, tanpa
memandang latar belakang sosial ekonomi, karakteristik demografi,
wilayah geografi dan kondisi klinis. Pelayanan DOTS yang bermutu tinggi
bagi kelompok-kelompok yang rentan (misalnya anak, daerah kumuh

16

perkotaan, wanita, masyarakat miskin dan tidak tercakup asuransi) harus


mendapat prioritas tinggi.
Strategi nasional program pengendalian TB nasional terdiri dari 7
strategi, terdiri dari 4 strategi umum dan didukung oleh 3 strategi
fungsional. Ketujuh strategi ini berkesinambungan dengan strategi
nasional sebelumnya, dengan rumusan strategi yang mempertajam respons
terhadap tantangan pada saat ini. Strategi nasional program pengendalian
TB nasional sebagai berikut:
1. Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu.
2. Menghadapi tantangan TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan kebutuhan
masyarakat miskin serta rentan lainnya.
3. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, masyarakat
(sukarela), perusahaan dan swasta melalui pendekatan Public-Private
Mix dan menjamin kepatuhan terhadap International Standards for TB
Care.
4. Memberdayakan masyarakat dan pasien TB.
5. Memberikan kontribusi dalam penguatan sistem kesehatan dan
manajemen program pengendalian TB.
6. Mendorong komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap program
TB.
7. Mendorong penelitian, pengembangan dan pemanfaatan informasi
strategis.
Strategi 1 sampai dengan strategi 4 merupakan strategi umum,
dimana strategi ini harus didukung oleh strategi fungsional yang terdapat
pada strategi 5 sampai dengan strategi 7 untuk memperkuat fungsi-fungsi
manajerial dalam program pengendalian TB (Kemenkes RI, 2011).
6.

Indikator Program Penanganan TB


1. Angka Penjaringan Suspek
Adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara
100.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Angka

17

ini digunakan untuk mengetahui upaya penemuan pasien dalam suatu


wilayah tertentu dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu
ke waktu. Rumus: Jumlah suspek yang diperiksa / jumlah penduduk x
100.000.
2. Proporsi Pasien TB BTA Positif diantara Suspek
Adalah prosentase pasien TB BTA positif yang ditemukan
diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. Angka ini
menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien
serta kepekaan menetapkan criteria suspek. Rumus: Jumlah pasien TB
BTA positif yang ditemukan / jumlah seluruh suspek TB yang
diperiksa x 100%.
Angka ini sekitar 5-15%, bila angka ini terlalu kecil
kemungkinan disebabkan:
-

Penjaringan suspek terlalu longgar, banyak orang yang tidak


memenuhi criteria suspek

Ada masalah pemeriksaan lab (negative palsu)

Bila angka ini terlalu besar kemungkinan disebabkan:


-

Pejaringan terlalu ketat

Ada masalah pemeriksaan lab (positif palsu)

3. Proporsi pasien TB Paru BTA positif diantara semua pasien TB Paru


Tercatat/Diobati
Adalah prosentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif
diantara semua pasien tuberculosis paru tercatat. Indikator ini
menggambarkan prioritas penemuan pasien tuberculosis yang menular
diantara seluruh pasien TB Paru yang diobati.
4. Proporsi Pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB
Prosentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien
TB tercatat. Rumus: Jumlah pasien TB anak (<15 tahun) yang
ditemukan / Jumlah seluruh pasien TB tercatat x 100%.

18

Angka ini sebagai salah satu indicator untuk menggambarkan


ketepatan diagnosis TB pada anak yang berkisar 15%. Bila angka ini
terlalu besar berarti terjadi overdiagnosis.
5. Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate)
Prosentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan
diobati dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan
ada di wilayah tersebut. Case Detection Rate menggambarkan
penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. Rumus:
Jumlah pasien baru TB BTA positif yang dilaporkan dalam TB.07 /
Perkiraan jumlah pasien baru TB BTA positif x 100%.
Target CDR program penanggulangan TB minimal 70%.
6. Angka Notifikasi Kasus
Angka yang menunjukkan umlah pasien baru yang ditemukan
dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu.
Angka ini apabila dikumpulkan serial, akan menggambarkan
kecendrungan penemuan kasus dari tahun ke tahun di wilayah tersebut.
Rumus: Jumlah pasien baru TB paru BTA positif yang konversi /
Jumlah pasien baru TB paru yang diobati x 100%.
7. Angka Konversi
Prosentase pasien baru TB paru BTA positif yang mengalami
perubahan menjadi BTA negative setelah menjalani masa pengobatan
intensif. Indikator ini berguna untuk mengetahui secara cepat hasil
pengobatan dan untuk mengetahui apakah PMO dilakukan dengan
benar. Rumus: Jumlah pasien baru TB paru BTA positif yang
konversi / Jumlah pasien baru TB paru yang diobati x 100%. Angka
minimal yang harus dicapai adalah 80%.
8. Angka Kesembuhan (Cure Rate)
Angka yang menunjukkan prosentase pasien baru TB paru BTA
positif yang sembuh setelah usai masa pengobatan, diantara pasien
baru TB paru BTA positif yang tercatat. Rumus: Jumlah pasien baru

19

TB paru BTA positif yang sembuh / Jumlah pasien baru TB paru yang
diobati x 100%. Angka minimal yang harus dicapai adalah 85%.
9. Angka Keberhasilan Pengobatan
Adalah angka yang menunjukkan prosentase pasien baru TB
paru BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh
maupun pengobatan lengkap) diantara pasien baru TB paru BTA
positif yang tercatat. Dengan demikian angka ni merupakan
penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap.
Cara perhitungan untuk pasien baru BTA positif dengan pengobatan
kategori

1.

Rumus:

Jumlah

pasien

baru

TB

BTA positif

(sembuh+pengobatan lengkap) / Jumlah pasien baru TB paru yang


diobati x 100%.

20

B. PROBLEM SOLVING CYCLE (PSC)


Problem solving cycle

adalah suatu metode pemecahan masalah

dengan mengidentifikasi masalah yang paling diprioritaskan, kemudian


mengidentifikasi solusi/jalan keluar dari masalah tersebut, baru kemudian
dilakukan pelaksanaan pemecahan masalah tersebut (Azwar, 1996).
Karakteristik pokok dari problem solving cycle yang harus dipenuhi
yaitu (Suriyasa, 2002):
1). Objektif
Karakteristik Objektif adalah yang menunjukkan pada fakta yang ada.
2). Sistematis
Ada dua tipe, sistematis dalam kegiatan dan sistematis dalam sasaran.
System yang dipakai adalah SWOT (Strengh, Weakness, Opportunity,
Threat).
3). Terpadu
Karakteristik terpadu adalah menunjuk pada pemecahan masalah yang
dilaksanakan secara terpadu, dengan melihat secara komprehensif dan
holistik, melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Sehingga masalah
kesehatan bukan hanya merupakan tanggung jawab Puskesmas sebagai
pelaksana Primary Health Center.
4). Berkesinambungan
Dalam menyelesaikan suatu masalah Problem Solving Cycle tidak hanya
melihat secara retrospective tetapi juga secara prospektif. Penyelesaian
Masalah tersebut dilakukan secara berkesinambungan dimana masalah
yang

belum diselesaikan berusaha diselesaikan dengan paripurna

mengutamakan promotif dan preventif tanpa mengurangi kuratif dan


rehabilitatif.
a. Analisis SWOT

21

Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat,


dilakukan kajian secara seksama dengan analisis SWOT, dengan unsurunsur sebagai berikut (Azwar, 1996):
SW

SO

WO

+/+

-/+

ST

WT

+/-

-/-

OT
O

S
Strength

: Kekuatan yang dimiliki

W = Weakness
dimiliki

: Kelemahan yang

O = Opportunity : Peluang yang dimiliki


T = Threat

: Ancaman yang dimiliki

SWOT merupakan akronim dari strength (kekuatan) dan weakness


(kelemahan) dalam organisasi puskesmas, serta opportunity (peluang) dan
threat (ancaman) dari lingkungan eksternal yang dihadapi organisasi
puskesmas.
Analisis SWOT merupakan alat yang ampuh dalam melakukan analisis
strategis.

Keampuhan

tesebut

terletak

pada

kemampuan

untuk

memaksimalkan peranan faktor kekuatan dan memanfaatkan peluang serta


berperan untuk meminimalisasi kelemahan organisasi dan menekan dampak
ancaman yang timbul dan harus dihadapi. Analisis SWOT dapat diterapkan
dalam tiga bentuk untuk menentukan keputusan stategis. Pertama, analisis
SWOT memungkinkan penggunaan kerangka berpikir yang logis dan holistik
yang menyangkut situasi tempat organisasi berada, identifikasi dan analisis
berbagai alternatif yang layak untuk dipertimbangkan, dan menentukan
pilihan alternatif yang diperkirakan paling ampuh. Kedua, perbandingan
secara sistematis antara peluang dan ancaman eksternal di salah satu pihak
serta kekuatan dan kelemahan internal di pihak yang lain. Ketiga, analisis
SWOT memungkinkan untuk melihat posisi organisasi secara menyeluruh dari
aspek produk dan atau jasa yang dihasilkan dan pasar yang dilayani.

22

Untuk mengidentifikasi dan memaksimalkan peranan faktor kekuatan


organisasi dan memanfaatkan peluang serta meminimalkan kelemahan
internal organisasi dan menekan dampak ancaman eksternal organisasi maka
dilakukan kajian secara seksama dengan analisis SWOT, dengan unsur-unsur
sebagai berikut:
1. Kekuatan (strength)
Yang dimaksud kekuatan (strength) adalah berbagai kelebihan
internal organisasi yang bersifat khas, yang dimiliki oleh suatu organisasi
yang apabila dimanfaatkan akan berperan besar tidak hanya dalam
memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi,
tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki organisasi.
2. Kelemahan (weakness)
Yang dimaksud dengan kelemahan (weakness) adalah berbagai
kekurangan internal organisasi yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu
organisasi yang apabila diatasi akan berperan besar tidak hanya dalam
memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi,
tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi.
3. Kesempatan (opportunity)
Yang dimaksud dengan kesempatan (opportunity) adalah peluang
eksternal organisasi yang bersifat positif yang dihadapi oleh suatu
organisasi, yang apabila dapat dimanfaatkan akan besar peranannya dalam
mencapai tujuan organisasi.
4. Ancaman (threat)
Yang dimaksud dengan ancaman (threat) adalah kendala eksternal
organisasi yang bersifat negatif yang dihadapi oleh suatu organisasi yang
apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan
organisasi (Azwar, 1996).

23

BAB II
PENETAPAN PRIORITAS MASALAH

A. Pengumpulan dan Pengolahan Data


1.

INPUT
a.

Sumber daya manusia (Men)


Puskesmas Sukoharjo memiliki ---- sumer daya manusia yang
terdiri dari 4 dokter, 14 perawat, 33 bidan, ---- laboran.

b.

Peralatan Penunjang (Material)


Puskesmas memiliki laboratorium baik di puskesmas pusat
maupun di puskesmas pembantu. Laboratorium sudah dilengkapi
dengan 2 buah mikroskop, objek glass, deck glass maupun reagen yang
dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan sputum BTA (Zien
Nielshen) dengan jumlah yang cukup. Kaliberasi peralatan di
labratorium Puskesmas Sukoharjo dilakukan setahun sekali.

c.

Pendanaan (Money)
Sumber dana untuk program TB di Puskesmas Sukoharjo berasal
dari APBD dan BOK.

d.

Hubungan dengan instansi terkait


(Method)
Puskesmas Sukoharjo bekerjasama dengan bidan desa, kader,
praktek swasta dokter dan praktek swasta bidan dalam menjalankan
program TB.

2.

PROSES
Puskesmas Sukoharjo telah menetapkan sistem DOTS untuk
penatalakanaan dan penanganan kasus TB.
a. Kesulitan dalam screening penegakan diagnostik DOTS (sulit
mengeluarkan dahak)

24

b. Obat kadaluarsa
Obat yang dikirimkan ke Puskesmas
masa

kadaluarsa

sehingga

seringkali sudah mendekati

untuk

menyelesaikan

program

pengobatan selama 6 bulan, Puskesmas harus mengambil stok obat


baru.
c. Kurangnya kepatuhan pasien untuk menjalankan pengobatan selama
6 bulan
d. Kurangnya

pendataan

untuk

menilai

indikator

pencapaian

penanggulangan TB
e. Kurangnya keaktifan kader dalam penjaringan suspek TB
Kader di Puskesmas Sukoharjo masih pasif dalam mencari suspek.
Di samping itu, sebagian kader merasa jijik dengan sampel sputum.
.
3.

OUTPUT
Hasil kegiatan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Tuberkulosis paru 2012 didapatkan dari data sekunder bidang pencegahan
dan pemberantasan penyakit menular langsung (P2ML) Puskesmas
Sukoharjo.
Tabel 2.1 Hasil kegiatan P2ML TB Paru 2012

No

Kegiatan /Program

Sasara
n

Target
(%)

Hasi
l

P2ML TB Paru
1

Jumlah suspek diperiksa

878

70%

92

11 %

Jumlah suspek BTA (+) / CDR

94

70%

43

45 %

Proporsi BTA(+) diantara suspect

492

10%

39

8%

diperiksa

(Data sekunder Plan of Action Puskesmas Sukoharjo, 2012)

25

B. Pemilihan Prioritas Masalah


Berdasar data yang didapat di atas, dapat disimpulkan bahwa masih
ada beberapa permasalahan pada Program Pencegahan dan Pemberantasan
Penyakit Tuberkulosis paru di puskesmas Sukoharjo yang perlu mendapat
perhatian :
1. Kesulitan dalam pengambilan sampel dahak.
2. Jumlah laboran di Puskesmas Sukoharjo hanya 1 orang dimana laboran
tersebut melayani semua pemeriksaan laboratorium, tidak hanya proses
pengolahan sampel BTA, sehingga proses pengolahan sampel BTA
menjadi lebih lama.
3. Kurangnya koordinasi antara puskesmas Sukoharjo dengan Praktek
swasta, seperti dokter, klinik, maupun bidan di Sukoharjo dalam
pelaksanaan program DOTS dan pelaporan kasus TB.
4. Kurangnya pengetahuan, kesadaran, dan kemauan kader dalam membantu
pelaksanaan program TB
5. Kurangnya pengetahuan serta kesadaran masyarakat tentang penyakit TB.
6. Jumlah suspek yang diperiksa pada tahun 2012 sejumlah 92, yang hanya
memenuhi 11% dari target 878.
7. Jumlah suspek BTA(+)/CDR pada tahun 2012 sejumlah 43, dimana
memenuhi 45% dari target yang diinginkan sejumlah 94.
Untuk mencari alternatif pemecahan masalah ini kita perlu melihat
sumber-sumber permasalahan tersebut dalam diagram tulang ikan sebagai
berikut :
1

3
CDR
dibawah
target
yang
diharapkan

Gambar 2.1. Diagram Tulang Ikan


Keterangan:
4
5
6
1. Program TB hanya mengandalkan Passive Case Finding (PCF) untuk
menjaring kasus
2. Penerapan estimasi prevalensi kasus BTA positif TB yang seragam di
seluruh Indonesia, yaitu 107 kasus/100.000 penduduk, untuk semua kota,
kabupaten dan kecamatan

26

3. Keakuratan sampel dahak pasien suspek BTA positif yang


kurang baik yang disebabkan karena sarana dan prasarana
yang kurang memadai dan sampel yang kurang baik
4. Kurangnya informasi dan pengetahuan para kader TB,
petugas P2TB, dan masyarakat mengenai Tuberkulosis
5. Sistem pendataan dan pelaporan yang masih belum
terperinci

dan

dimanfaatkan

dengan

baik

untuk

perencanaan pemberantasan dan pencegahan


6. Kepatuhan para dokter, spesialis, dan RS swasta masih rendah dalam
menerapkan prosedur standar DOTS dalam pemeriksaan, diagnosis,
maupun pencatatan dan pelaporan pasien TB.
Tabel 2.4 Sumber Masalah
NO.

Sumber Masalah

Mengandalkan PCF

Estimasi prevalensi kasus BTA positif yang seragam

Kekuratan sampel yang kurang

Kurangnya

informasi

dan

pengetahuan

kader

TB,

petugas P2TB, dan masyarakat


5

Sistem pendataan dan pelaporan yang belum terperinci

Kepatuhan petugas kesehatan yang rendah

C. Analisis SWOT
Tabel 2.5 Analisis SWOT Puskesmas Kedawung II

SW

OT

Kekuatan (S)

Kelemahan (W)

Ada tenaga profesional


Adanya fasilitas penunjang puskesmas
(laboratorium)
Adanya OAT gratis
Tersedianya dana (JKMM / APBD)
Terjangkaunya pelayanan kesehatan
(pustu/pusling)

27

Survailans TB belum optimal


Tidak adanya kader kesehatan
khusus untuk penanganan TB
Kepercayaan terhadap puskesmas
rendah

Peluang (O)

Strategi SO

Strategi WO

Komitmen yang tinggi


dari kader kesehatan
dalam hal
pemberantasan TB

Meningkatkan kerjasama dengan RS /


DPS
Terus memberikan pembekalan dan
pelatihan bagi para `kader
Penggunaan dana secara optimal

Ancaman (T)

Strategi ST

Optimalkan tenaga yang ada


sesuai dengan tugas pokok
Meningkatkan kualitas Kerjasama
dengan Toma, Toga dan kader
dengan promosi lewat penyuluhan
TBC
Meningkatkan peran serta kader
dalam mendukung program P2TB
Strategi WT

Adanya stigma di
Melakukan survei sejauh mana
masyarakat tentang
pengetahuan masyarakat tentang
penyakit TBC
penyakit TB
Tingkat sosial ekonomi Pendekatan secara personal
melalui kader-kader desa agar
masyarakat yang rendah
dimana masih ada
kader dapat memberi
rumah yang tidak sehat
penyuluhan saat ada kegiatankegiatan masyarakat (misal
Kurangnya kerjasama
rapat karang taruna, rapat PKK,
dengan RS Paru
rapat ketua RT, dsb)
Meningkatkan penyuluhan di
kantong-kantong TB
BAB III

Memperbaiki perencanaan dan


strategi program penyuluhan
Meningkatkan komunikasi dan
koordinasi yang jelas dengan
pelayanan kesehatan swasta di
wilayah binaan Puskesmas
Kedawung II
Adanya penyuluhan rutin

PENETAPAN PRIORITAS JALAN KELUAR

A. Alternatif Jalan Keluar


Dari

perhitungan

berbagai

masalah

yang

dapat

menyebabkan jumlah penemuan kasus baru suspek BTA positif


(Case Detection Rate, CDR) di bawah target yang diharapkan,
didapatkan bahwa permasalahan pertama yaitu program TB yang
hanya mengandalkan Passive Case Finding (PCF) untuk menjaring
kasus

merupakan

penyebab

terbanyak

rendahnya

CDR

di

Puskesmas Kedawung II. Selanjutnya kami mencoba menganalisis


beberapa alternatif penyelesaian untuk masalah tersebut.
Tabel 3.1. Alternatif Pemecahan Masalah

Masalah
Program TB hanya

Alternatif pemecahan masalah


1. Petugas P2TB paru dan kader melakukan

28

mengandalkan

Active Case Finding (ACF)


2. Status
Posyandu
Mandiri

Passive Case

ditingkatkan

Finding (PCF) untuk

dapat

perannya

menjadi

Posyandu Mandiri Plus Penanggulangan

menjaring kasus

TB

untuk

meningkatkan

penjaringan

kasus di tingkat dasar


3. Mencari dan menambah kader baru dan
membekalinya

dengan

pengetahuan

dan

tentang

tuberkulosis,

pelatihan

dimana tiap kader bertanggung jawab


atas sejumlah keluarga tertentu dan
melaporkan apabila menjumpai suspek
TB paru.
4. Pemberian

reward bagi

kader

dan

petugas

puskesmas yang menemukan pasien suspek BTA


positif, sehingga mereka berlomba-lomba untuk
menemukan pasien suspek BTA postif paru.

B. Pemilihan Prioritas Jalan Keluar


Alternatif pemecahan masalah diatas apabila dilaksanakan
dengan tepat diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan
angka

CDR

yang

masih

di

bawah

target.

Namun,

untuk

melaksanakan pemecahan masalah tersebut secara bersamaan


akan sangat sulit. Untuk itu perlu dipilih prioritas pemecahan
masalah yang paling sesuai untuk Puskesmas Kedawung II.
Tabel 3.2. Matrikulasi Alternatif Pemecahan Masalah

29

Efective cost

Petugas P2TB paru dan kader


melakukan Active Case Finding
(ACF)
Status Posyandu Mandiri dapat
ditingkatkan
perannya
menjadi
Posyandu
Mandiri
Plus
Penanggulangan
TB
untuk
meningkatkan penjaringan kasus di
tingkat dasar
Mencari dan menambah kader baru
dan
membekalinya
dengan
pengetahuan dan pelatihan tentang
tuberculosis, dimana tiap kader
bertanggung jawab atas sejumlah
keluarga tertentu dan melaporkan
apabila menjumpai suspek TB paru.
Pemberian reward bagi kader dan
petugas
puskesmas
yang
menemukan pasien suspek BTA
positif, sehingga mereka berlombalomba untuk menemukan pasien
suspek BTA postifif

Vulnerability

ALTERNATIF PEMECAHAN
MASALAH

24

16

Magnitude

NO.

Importancy

Pentingnya
Masalah
TOTAL

Berdasarkan matriks di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa


apabila petugas P2TB dan kader melakukan Active Case Finding
(ACF) dapat menjadi solusi yang paling efektif dalam meningkatkan
angka penjaringan kasus (CDR) agar mencapai target. Namun
demikian, keempat alternatif pemecahan di atas harus dilakukan
secara simultan agar tercapai hasil yang optimal.

30

BAB IV
PLAN OF ACTION

Dari data dan analisis PSC kasus CDR kasus TB dibawah target
yang diharapkan di Puskesmas Kedawung II, usulan kegiatan yang akan
dilaksanakan untuk menangani masalah ini adalah dengan melakukan
Active Case Finding (ACF) oleh petugas P2TB paru dan kader. Adapun
rinciannya adalah sebagai berikut:
Kegiatan 1: Petugas P2TB dan kader melakukan Active Case
Finding (ACF)
a. Tujuan
Meningkatkan jumlah temuan pasien suspek BTA (+)
b. Sasaran
Seluruh masyarakat di wilayah binaan Puskesmas Kedawung II
c. Materi
Pencarian pasien-pasien suspek BTA (+) yang memiliki tanda-tanda
dan gejala klinis TB paru
d. Pelaksana
Petugas Petugas P2TB Puskesmas dan kader

e. Waktu dan lokasi


Seluruh masyarakat di wilayah binaan Puskesmas Kedawung II
f. Biaya
Biaya diperoleh dari Biaya Operasional Kesehatan

Kegiatan 2 : Peningkatan status dan peran Posyandu Mandiri


menjadi Posyandu Mandiri Plus Penanggulangan TB

31

a. Tujuan
Meningkatkan penjaringan kasus di tingkat dasar

b. Materi
Pemberian

informasi

dan

penyuluhan

mengenai

Tuberkulosis

terhadap petugas posyandu


c. Sasaran
Seluruh posyandu di wilayah binaan Puskesmas Kedawung II
d. Pelaksana
Seluruh posyandu di wilayah binaan Puskesmas Kedawung II
e. Waktu
1 kali
f. Biaya
Rp. 670.000,00
g. Lokasi
Seluruh posyandu di wilayah binaan Puskesmas Kedawung II

Kegiatan

Mencari

dan

menambah

kader

baru

dan

membekalinya dengan pengetahuan dan pelatihan tentang


Tuberkulosis, di mana tiap kader bertanggung jawab atas
sejumlah keluarga tertentu dan melaporkan apabila menjumpai
suspek TB paru.
a.

Tujuan
Meningkatkan kontrol atau pengawasan yang lebih ketat terhadap
masyarakat sehingga kasus TB yang mungkin ada dapat terdeteksi
dengan segera

32

b. Materi
Perekrutan kembali sejumlah kader
Pengawasan dan kontrol terhadap keluarga, serta pemberian
rujukan segera ke Puskesmas apabila ada masyarakat dengan
tanda-tanda dan gejala TB paru
Setiap kader bertanggung jawab terhadap 5-10 keluarga
c. Sasaran
seluruh masyarakat di wilayah binaan Puskesmas Kedawung II
d. Pelaksana
Petugas P2TB Paru Puskesmas dan kader
e. Waktu
3 kali/ tahun
f. Biaya
Rp. 600.000,00

g. Lokasi
Puskesmas Kedawung II

Kegiatan 4 : Pemberian reward bagi kader dan petugas


puskesmas

yang

menemukan

pasien

suspek

BTA

positif,

sehingga mereka berlomba-lomba untuk menemukan pasien


suspek BTA postifif
a. Tujuan

33

Meningkatkan semangat, kesadaran, dan keinginan kader serta


petugas Puskesmas untuk mencari pasien-pasien suspek BTA (+)
b. Materi
Poemberian reward berupa bingkisan atau uang tunai kepada kader
atau petugas yang paling banyak menemukan pasien BTA (+)
c. Sasaran
Petugas puskesmas dan kader
d. Pelaksana
Koordinator P2TB paru
e. Waktu
1 kali/bulan
f.

Biaya
Rp. 1.200.000, 00

g. Lokasi
Seluruh daerah wilayah binaan Puskesmas Kedawung II

BAB III
METODE PEMECAHAN MASALAH

A. Metode `
Metode pemecahan masalah yang dipakai adalah problem solving
cycle, meliputi langkah langkah sebagai berikut :
1.

Menetapkan prioritas masalah dengan teknik kajian data.


B. Melakukan pengumpulan data
C. Melakukan pengolahan data
D. Melakukan penyajian data

34

E. Memilih prioritas masalah


2.

Menetapkan prioritas jalan keluar


a. Menyusun alternatif jalan keluar
b. Memilih prioritas jalan keluar
c. Melakukan uji lapangan
d. Memperbaiki prioritas jalan keluar
e. Menyusun uraian rencana prioritas jalan keluar

3. Melakukan upaya pemecahan masalah


(Azwar A, 1996)
B. Lokasi dan Waktu Kegiatan
Kegiatan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo tepatnya di desa
Gayam Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo. Waktu pelaksanaannya
pada tanggal 19 Oktober 26 Oktober 2012 saat menjalankan kepaniteraan
Ilmu Kesehatan Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo.
C. Subjek Masalah
Desa Siaga Kelurahan Gayam Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo.

D. Sumber Data
Sumber data sekunder : data kegiatan desa Siaga Kelurahan Gayam
Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2010-2012.
E. Definisi Operasional
1. Desa Siaga
Desa siaga adalah suatu kondisi masyarakat tingkat desa atau kelurahan
yang memiliki kesiapan sumber daya potensial dan kemampuan mengatasi
masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara
mandiri.

35

2. Strata Desa Siaga


Atas dasar kriteria desa dan kelurahan siaga aktif yang telah ditetapkan,
maka pentahapan dalam pengembangan desa atau kelurahan siaga aktif
terbagi atas :
Desa atau kelurahan siaga aktif pratama
Desa atau kelurahan siaga aktif madya
Desa atau kelurahan siaga aktif purnama
Desa atau kelurahan siaga aktif mandiri
3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang
dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang
menjadikan seseorang, keluarga, atau masyarakat mampu menolong
dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan
kesehatan masyarakat.
4.

Puskesmas
Puskesmas adalah suatu unit organisasi yang bergerak dalam pelayanan
kesehatan yang berada di garda terdepan dan mempunyai misi sebagai
pusat pengembangan pelayanan kesehatan, yang melaksanakan pembinaan
dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat
di suatu wilayah kerja tertentu yang telah ditentukan secara mandiri dalam
BAB IV
HASIL KEGIATAN DAN ANALISA PENYEBAB MASALAH

A. Pengumpulan dan Pengolahan Data


1. Keadaan Geografi
Desa Gayam termasuk dalam Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo.
Desa Gayam mempunyai luas wilayah 203.0560 Ha yang terdiri dari :
Tanah sawah

: 90.1250 Ha

Tanah Pekarangan

: 86.1220 Ha

36

Sungai, jalan, makam : 26.8180 Ha


2. Keadaan Demografi
Desa Gayam termasuk dalam Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo
terbagi menjadi 4 lingkungan, 14 RW, dan 43 RT. Desa Gayam terdapat
2.819 KK dengan jumlah penduduk 10.014 jiwa, yang terdiri dari 4.913
laki-laki (49 %) dan 5.101 (51 %) perempuan.
3. Matriks Hasil Penilaian Desa Siaga Gayam 2012
STRATA PRATAMA
Indikator
a. Sudah memiliki Tenaga Profesional Kesehatan

Ya

Tidak

(Dokter /Perawat /Bidan yang dapat memberikan


Pelayanan

Kesehatan

dasar,

bencana

dan

kegawatdaruratan kesehatan sesuai kewenangan.


b. Sudah ada pelayanan kesehatan dasar,tetapi belum

setiap hari
c. Sudah memiliki FKD/FKK, tetapi belum berjalan
d. Sudah memiliki kader kesehatan minimal 2 (dua)

orang
e. Sudah ada partisipasi / peran aktif masyarakat di

bidang kesehatan minimal 1 (satu) kegiatan


f. Sudah memiliki kegiatan UKBM minimal

Posyandu
g. Pencapain Rumah Tangga Sehat (Strata utama dan

Paripurna) kurang dari 20%.


h. Sudah ada penyediaan dana untuk mengatasi

masalah kesehatan, bencana, kegawatdaruratan dan


faktor resiko yang bersumber dari ADD

STRATA MADYA
Indikator
a. Sudah memiliki Tenaga Profesional Kesehatan
(Dokter /Perawat /Bidan yang dapat memberikan
Pelayanan

Kesehatan

dasar,

37

bencana

dan

Ya

Tidak

kegawatdaruratan kesehatan sesuai kewenangan,


serta

memfasilitasi

masyarakat

melaui

kegiatan
FKD/FKK

pemberdayaan
untuk

kegiatan

(SMD,MMD)
b. Sudah ada PKD (pelayanan kesehatan dasar) sarana

kesehatan lain/tenaga professional yang memberikan


pelayanan kesehatan dasar setiap hari.
c. Sudah memiliki FKD/FKK yang sudah melakukan

kegiatan SMD,MMD dan mempunyai rencana kerja


bidang kesehatan.
d. FKD/FKK sudah

koordinasi

minimal 6 bulan sekali


e. Sudah memiliki kader kesehatan minimal 3-5 orang
f. Sudah
memiliki
peraturan
di
Tingkat

Desa/Kelurahan tentang Kesehatan


g. Sudah ada partisipasi / peran aktif masyarakat di

bidang kesehatan minimal 2 (dua) kegiatan


h. Sudah ada peran aktif minimal 1 (satu) dari

organisasi masyarakat (ormas)


i. Sudah memiliki kegiatan UKBM minimal Posyandu

dan 2 (dua) jenis UKBM lainnya aktif.


j. Pencapain Rumah Tangga Sehat (Strata utama dan

Paripurna ) 20%. s/d 30%.


k. Sudah melaksanakan 1(satu)

kegiatan

Surveilans.
l. Sudah ada penyediaan dana untuk mengatasi

melakukan

rapat

jenis

masalah kesehatan, bencana, kegawatdaruratan dan


faktor resiko yang bersumber dari ADD, dan dari
swadaya masyarakat atau dunia usaha.

STRATA PURNAMA
Indikator
a. Sudah memiliki Tenaga Profesional Kesehatan
(Dokter /Perawat /Bidan yang dapat memberikan

38

Ya

Tidak

Pelayanan

Kesehatan

dasar,

bencana

dan

kegawatdaruratan kesehatan sesuai kewenangan,


serta

memfasilitasi

masyarakat

melaui

kegiatan
FKD/FKK

pemberdayaan
untuk

kegiatan

SMD,MMD & UKBM


b. Sudah ada PKD (pelayanan kesehatan dasar) sarana

kesehatan lain/tenaga professional yang memberikan


pelayanan kesehatan dasar setiap hari.
c. Sudah memiliki FKD/FKK yang sudah melakukan

kegiatan SMD,MMD dan mempunyai rencana kerja


bidang kesehatan.
d. Sudah melaksanakan kegiatan SMD dan MMD

minimal 1 (satu) tahun sekali.


e. FKD/FKK sudah melakukan rapat koordinasi 3 (tiga)

bulan sekali
f. Sudah memiliki kader kesehatan minimal 6-8 orang
g. Sudah
memiliki
peraturan
di
Tingkat

Desa/Kelurahan tentang Kesehatan dan terealisasi.


h. Sudah ada partisipasi / peran aktif masyarakat di

bidang kesehatan minimal 3 (tiga) kegiatan


i. Sudah ada peran aktif minimal 2 (dua) dari

organisasi masyarakat (ormas)


j. Sudah memiliki kegiatan UKBM minimal Posyandu

dan 3 (tiga) jenis UKBM lainnya aktif.


k. Pencapain Rumah Tangga Sehat (Strata utama dan

Paripurna ) 30%. s/d 40%.


l. Sudah melaksanakan 2

kegiatan

Surveilans.
m. Sudah ada penyediaan dana untuk mengatasi

(dua)

jenis

masalah kesehatan, bencana, kegawatdaruratan dan


faktor resiko yang bersumber dari ADD, dan dari
swadaya masyarakat atau dunia usaha.

STRATA MANDIRI

39

Indikator
a. Sudah memiliki Tenaga Profesional Kesehatan

Ya

Tidak

(Dokter /Perawat /Bidan yang dapat memberikan


Pelayanan

Kesehatan

dasar,

bencana

dan

kegawatdaruratan kesehatan sesuai kewenangan,


serta

memfasilitasi

masyarakat

melaui

kegiatan
FKD/FKK

pemberdayaan
untuk

kegiatan

SMD,MMD,UKBM dan Surveilans.


b. Sudah ada PKD (pelayanan kesehatan dasar) sarana

kesehatan lain/tenaga professional yang memberikan


pelayanan kesehatan dasar setiap hari.
c. Sudah memiliki FKD/Kelurahan (FKD/FKK) yang
sudah

melakukan

kegiatan

SMD,MMD

dan

melaksanakan kegiatan sesuai rencana kerja bidang


kesehatan.
d. Sudah melaksanakan kegiatan SMD dan MMD

minimal 1 (satu) tahun sekali dan jika ada masalah


Kes.
e. FKD/FKK sudah melakukan rapat koordinasi 1

(satu) bulan sekali


f. Sudah memiliki kader kesehatan minimal 9 orang

atau lebih.
g. Sudah
memiliki

Tingkat

Desa/Kelurahan tentang Kesehatan dan terealisasi.


h. Sudah ada partisipasi / peran aktif masyarakat di

bidang kesehatan minimal 3 (tiga) kegiatan


i. Sudah ada peran aktif lebih dari 2 (dua) organisasi

masyarakat (ormas)
j. Sudah memiliki kegiatan UKBM minimal Posyandu

dan 3 (tiga) jenis UKBM lainnya aktif.


k. Pencapain Rumah Tangga Sehat (Strata utama dan

Paripurna ) lebih dari 40%.


l. Sudah melaksanakan lebih dari 2 (dua) jenis kegiatan

peraturan

di

Surveilans.
m. Sudah ada penyediaan dana untuk mengatasi

40

masalah kesehatan, bencana, kegawatdaruratan dan


faktor resiko yang bersumber dari ADD, dan dari
swadaya masyarakat atau dunia usaha dan sumber
lainnya.

Simpulan : Desa Siaga Gayam termasuk dalam kategori Desa Siaga


Purnama
2) Komponen Desa Siaga Kelurahan Gayam
a.

Forum Kesehatan Desa (FKD)


Pengurus Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Desa Siaga
Kelurahan Gayam telah terbentuk sejak 26 juli 2007. Peran dan
tugasnya :
Menyusun kebijakan
Mengumpulkan informasi dan menggali potensi desa
Memadukan potensi dan kegiatan kelurahan
Identifikasi masalah, menyusun pemecahan masalah, dan
kesepakatan bersama
Koordinasi, pembinaan, penggerakan, dan pengembangan
kegiatan
Mengembangkan sisem kesehatan desa

b.

Poliklinik Kesehatan Desa (PKD)


Peran dan tugas :
Melakukan upaya promotif
Melakukan upaya preventif
Melakukan upaya kuratif dan rehabilitatif

c.

Kader Kesehatan RT
Pembentukan kader kesehatan tingkat Rukun Tetangga (RT)
Kelurahan Gayam sejumlah 43 kader. Adapun peran dan tugasnya
sebagai berikut :

41

Melakukan surveilans/ pengamatan penyakit


Melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan
Melakukan pemutakhiran data sasaran
Melakukan kunjungan dan menghadiri pertemuan rutin
kelompok masyarakat
3) Pembentukan dan Jenjang Desa Siaga Kelurahan Gayam
a. Sosialisasi Desa Siaga pada tanggal 19 Mei 2007
b. Pembentukan Pokjanal pada tanggal 26 juli 2007
c. Rakor Pokja Desa Siaga pada tanggal 25 Agustus 2007
d. Pembentukan Kader Kesehatan RT
e. Pembentukan Mobil sebagai Ambulans Desa
f. Pelatihan Kader Kesehatan RT Siaga
g. Pelatihan Pokja dalam rangka pengembangan Desa Siaga
h. Pembentukan Kelompok Donor Darah
i. Berdirinya PKD
j. Pembentukan kader Lingkungan Sehat
k. Pelatihan FKD dalam Penanganan Kasus DBD
4) Kegiatan Desa Siaga Kelurahan Gayam
a. Pelayanan Kesehatan Dasar
b. Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan UKBM
c. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Program Kerja
a.

Konsolidasi Organisasi
Rakor Pokja Kelurahan Desa Siaga Aktif Gayam setahun 2 kali
yaitu bulan Januri dan Juni
Rapat Pengurus Pleno Pokja 4 bula sekali yaitu pada bulan
April, Agustus, dan Desember
Rapat pengurus harian secara berkala
Pertemuan temporer bila diperlukan

b.

Pelayanan Kesehatan Dasar

42

1) Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil


2) Pelayanan Kesehatan Ibu Menyusui
3) Pelayanan Kesehatan untuk Anak
c.

Surveilans/ Pengamatan Penyakit dan


Pendataan

d.

Penyuluhan Kesehatan/ PHBS


Hasil Rekapitulasi Pendataan Rumah Tangga Sehat (PHBS) Kelurahan
Gayam Bulan Juni 2012 dengan jumlah KK Keseluruhan 2.819 KK
dan jumlah KK yang didata 430 KK.
Indikator PHBS
Persalinan Nakes

Jumlah KK
430

K4

28

ASI Ekslusif

426

Timbangan Balita

430

Gizi Seimbang

430

Air Bersih

430

Jamban Sehat

430

Sampah

430

Lantai Rumah

430

Aktivitas Fisik

403

Tidak Merokok

410

Cuci Tangan

425

Gosok Gigi

430

Miras/ Narkoba

430

JPK

301

PSN

430
Jumlah KK

Strata Desa Siaga


Sehat Pratama
Sehat Madya
Sehat Utama

428

Sehat Paripurna

43

e.

Pendanaan
Sumber dana :
Utama : swadaya masyarakat
Kelurahan Gayam sebagai penanggung jawab Pengembangan
Kelurahan Siaga Aktif
Bantuan dari Puskesmas
Dana Sehat/ Dana Sosial dari RT
Sebagian SHU dari koperasi yang ada

B. Permasalahan Kelurahan Gayam dalam Implementasi Desa Siaga


1.

Masalah Pendanaan

2.

Strategi implementasi PHBS yang efektif dan efisien khususnya dalam


penerapan lingkungan bebas rokok di Kelurahan Gayam

3.

Keterlibatan seluruh komponen masyarakat dalam implementasi Desa


Siaga termasuk kesadaran masyarakat untuk berparadigma sehat.

C. Analisis SWOT
1. Analisis Visi Dan Misi
Visi
Mengembangkan kepedulian dan kesiapsiagaan masyarakat desa dalam
mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan
kesehatan secara mandiri untuk mewujudkan desa sehat.
Misi
1.

Optimalisasi peran PKD atau potensi sejenis, dalam pemberdayaan


masyarakat dan mendorong pembangunan kesehatan di desa serta
rujukan pertama pelayanan kesehatan bermutu bagi masyarakat.

2.

Terbentuknya forum kesehatan desa yang berperan aktif menggerakkan


pembangunan kesehatan di tingkat desa.

44

3.

Berkembangnya kegiatan gotong royong masyarakat untuk mencegah


dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawat-daruratan
kesehatan.

4.

Berkembangnya upaya kesehatan baik promotif, preventif, kuratif, dan


rehabilitatif yang dilaksanakan oleh masyarakat.

5.

Berkembangnya pengamatan dan pemantauan oleh masyarakat dalam


deteksi dini, kewaspadaan dini, dan kesiapsiagaan terhadap masalah
kesehatan, bencana, dan kegawat-daruratan kesehatan.

6.

Berkembangnya kemandirian masyarakat dalam pembiayaan kesehatan.

Tujuan
Mewujudkan masyarakat kelurahan Gayam yang sehat, peduli, dan
tanggap terhadap permasalahan kesehatan wilayahnya
Tabel 1. Analisis SWOT Visi dan Misi Program
STRENGTH

WEAKNESS

Adanya Visi Desa Siaga Gayam yaitu


mewujudkan masyarakat kelurahan
Gayam yang sehat, peduli, dan
tanggap
terhadap
permasalahan
kesehatan wilayahnya

Terdapat
kecenderungan
fluktuasi
semangat dari masyarakat desa Gayam
dalam mewujudkan visi desa Siaga

OPPORTUNITY

THREAT

Kerjasama
lintas
sektoral
untuk
mewujudkan tujuan program desa Siaga
Kelurahan Gayam

Dana yang dibutuhkan untuk


mewujudkan program-program desa
Siaga cukup besar

2. Analisis Sasaran Program


Semua individu dan keluarga di desa, pihak-pihak yang berpengaruh, serta
pihak-pihak yang memberikan dukungan material dan spiritual. Total
jumlah KK di kelurahan Gayam sebanyak 2.819 KK dan jumlah penduduk

45

10.014 jiwa, yang terdiri dari 4.913 laki-laki (49 %) dan 5.101 (51 %)
perempuan.

SASARAN PROGRAM
A. Kegiatan I : Kunjungan Rumah dan Penyuluhan tentang Rumah
Tangga Sehat
a. Tujuan
Meningkatkan pengetahuan warga masyarakat khususnya desa Gayam
Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo tentang Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS) dalam rumah tangga.
b. Sasaran
Rumah-rumah warga desa Gayam Kecamatan Sukoharjo Kabupaten
Sukoharjo
c. Pelaksana
Petugas dari Desa Siaga dibantu bidan Desa setempat
d. Waktu
2 bulan sekali
e. Biaya
B. Pelayanan Kesehatan Dasar
a. Tujuan
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar untuk masyarakat.
b. Sasaran
Ibu hamil dan ibu menyusui, balita dan anak, remaja, serta lansia.
c. Pelaksana
Petugas kesehatan dari puskesmas setempat, pengurus posyandu
maupun bidan desa.
d. Waktu
Rutin setiap bulan.
e. Biaya
Dari swadaya masyarakat dan kas desa.
C. Kegiatan III : Surveilans

46

a.

b.
c.
d.
e.

Tujuan
Melakukan pendataan secara aktif dan terus menerus mengenai suatu
penyakit atau masalah kesehatan.
Sasaran
Data penyakit
Pelaksana
Petugas kesehatan dibantu kader setempat.
Waktu
Minimal satu tahun sekali
Biaya
Bantuan dari Kelurahan Gayam dan Puskesmas

D. Kegiataan IV : Pemberdayaan Masyarakat


a. Tujuan
Mengoptimalkan peran masyarakat dalam upaya peningkatan derajat
b.
c.
d.
e.

kesehatan.
Sasaran
Semua anggota masyarakat desa Gayam.
Pelaksana
Petugas desa Siaga beserta petugas kesehatan setempat.
Waktu
Rutin setiap bulan.
Biaya
Dari kelurahan Gayam.

Tabel 2. Analisis SWOT Sasaran Program


STRENGTH

WEAKNESS

1) Adanya sasaran yang jelas pada


program-program
meningkatkan
kesehatan masyaraka.
2) Adanya sosialisasi program kepada
warga desa melalui kader-kader RT
agar
semua
warga
mengetahui
program-program desa siaga
3) Monitoring dan evaluasi dilaksanakan
rutin setiap tahun.
OPPORTUNITY

Dana yang dibutuhkan cukup besar.

THREAT

(1) Memiliki beberapa macam program


untuk pemberdayaan masyarakat.
(2) Memiliki beberapa macam program
untuk pelayanan kesehatan dasar.

47

Keterlibatan warga masyarakat secara


penuh terhadap pelaksanaan programprogram desa siaga masih menjadi
tantangan bagi pengurus

(3) Letak PKD maupun tempa posyandu


yang strategis.
(4) Tingkat
kepercayaan
masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan yang
cukup tinggi.
3. Analisis Sumber Daya Desa Siaga Gayam
Kepala desa beserta perangkat desa Gayam
Anggota FKD Kelurahan Gayam

daftar

pengurus

terlampir
Bidan Desa Gayam

: 2 orang bidan desa

Kader kesehatan RT di Desa Gayam : 43 kader


Tabel 3. Analisis SWOT Sumber Daya Desa Siaga Kelurahan Gayam
STRENGTH

WEAKNESS

(1) Tersedianya bidan desa aktif di desa


Gayam
(2) Memiliki ketua FKD yang cukup
kompeten dan bertanggung jawab
(3) Adanya komitmen yang tinggi dari
pengurus Desa Siaga dalam pelaksanaan
program
(4) Penyuluh program di masyarakat
memiliki latar belakang pendidikan yang
tepat.
OPPORTUNITY

(1) Jumlah kader kesehatan untuk


surveilans masih kurang
memadai.
(2) Belum ada pelatihan yang rutin
untuk kader kesehatan dalam
rangka surveilans

THREAT

Adanya pelatihan pelatihan untuk kader


kesehatan dalam pelaksanaan programprogram Desa Siaga
4. Analisis Sarana Dan Prasarana
1. Sarana kesehatan
a. Rumah Sakit

: 0 unit

b. Rumah Bersalin

: 1 unit

c. Apotik

: 21 unit

48

Kesulitan mengkoordinasikan
pengurus-pengurus program kegiatan
Desa Siaga

2. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM)


a. Posyandu Lansia

: 4 buah

b. Posyandu Balita

: 13 buah

Tabel 4. Analisis SWOT Sarana dan Prasarana


STRENGTH

WEAKNESS

(1) Adanya posyandu aktif dan PKD di


desa Gayam
(2) Adanya laboratorium dan rumah sakit
yang mudah dijangkau masyarakat
OPPORTUNITY

(1) Tidak mempunyai banyak leaflet


untuk penyuluhan.
(2) Biaya untuk melengkapi atau
revitalisasi sarana dan prasarana
cukup besar
THREAT

Kerjasama lintas unit / program dalam


Desa Siaga.

5. Analisis Anggaran
Pemasukan :
Swadaya masyarakat
Kelurahan Gayam sebagai penanggung jawab Pengembangan
Kelurahan Siaga Aktif
Bantuan dari Puskesmas
Dana Sehat/ Dana Sosial dari RT
Sebagian SHU dari koperasi yang ada
Tabel 5. Analisis SWOT Anggaran
STRENGTH
Tersedianya beberapa
anggaran Desa Siaga

WEAKNESS
sumber

OPPORTUNITY

Terbatasnya dana dari Kelurahan dan pihak


lain untuk pengembangan Desa Siaga
karena pembiayaan program lain
THREAT

49

(1) Adanya donatur dari warga sekitar


atau tokoh masyarakat
(2) Dapat dilakukan kerjasama dengan
pihak swasta maupun LPM dalam
mendukung
program-program
desa siaga.
(3) Alokasi dana yang tepat guna dan
tepat sasaran

50

Tidak terlaksananya programprogram desa siaga secara


optimal karena sumber dana yang
terbatas

BAB V
PLAN OF ACTION

A. Kegiatan I : Jimpitan RT
1. Tujuan
Mengumpulkan dana rutin dari warga masing-masing RT sekaligus
bisa digunakan untuk wadah pertemuan warga dengan kader-kader
masing-masing RT dalam rangka perwujudan desa siaga.
2. Sasaran
Setiap warga masing-masing RT.
3. Pelaksana
Ketua RT dibantu kader masing-masing.
4. Waktu
Setiap bulan.
5. Biaya
B. Kegiatan II : Kunjungan Rumah dan Penyuluhan tentang Rumah
Tangga Sehat
1. Tujuan
Meningkatkan pengetahuan warga masyarakat khususnya desa Gayam
Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo tentang Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS) dalam rumah tangga.
2. Sasaran
Rumah-rumah warga desa Gayam Kecamatan Sukoharjo Kabupaten
Sukoharjo
3. Pelaksana
Petugas dari Desa Siaga dibantu bidan Desa setempat
4. Waktu
2 bulan sekali
5. Biaya
C. Pelayanan Kesehatan Dasar
1.
2.

Tujuan
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar untuk masyarakat.
Sasaran
Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil

51

a. Memotivasi pemeriksaan kehamilan dan pemberian vitamin


secara berkala.
b. Memberikan pertolongan dan persalinan/ membawa ke

3.

4.
5.

rumah sakit/ tenaga kesehatan.


Pelayanan Kesehatan Ibu Menyusui
a. Sosialisasi makanan bergizi
b. Pemberian vitamin
Pelayanan Kesehatan untuk Anak, Remaja, dan Lansia
c. Peningkatan keaktifan posyandu balita
d. Peningkatan keaktifan posyandu lansia
e. Perintisan posyandu remaja
Pelaksana
Petugas kesehatan dari puskesmas setempat, pengurus posyandu
maupun bidan desa.
Waktu
Rutin setiap bulan.
Biaya
Dari swadaya masyarakat dan kas desa.

D. Kegiataan IV : Pemberdayaan Masyarakat


1. Tujuan
Mengoptimalkan peran masyarakat dalam upaya peningkatan derajat
kesehatan.
2. Sasaran
Semua anggota masyarakat desa Gayam. Dilakukan motivasi/
penggerakan warga masyarakat Gayam untuk pencegahan timbulnya
penyakit dengan cara :
PSN dalam rumah/ kebersihan tandon air tiap 3 hari sekali.
Kebersihan lingkungan rumah setiap seminggu sekali.
Kerja bakti untuk kebersihan lingkungan sebulan sekali.
Menggerakkan olahraga masyarakat seperti jalan kaki setiap pagi,
sepeda santai seminggu sekali, senam sehat Indonesia bagi lansia
seminggu 3x.
3. Pelaksana
Petugas desa Siaga beserta petugas kesehatan setempat.
4. Waktu
Rutin setiap bulan.
5. Biaya
Dari swadaya masyarakat dan kelurahan Gayam.

52

BAB VI
PENUTUP
A.

Simpulan
1. Desa Siaga adalah suatu kondisi masyarakat tingkat desa atau
kelurahan yang memiliki kesiapan sumber daya potensial dan
kemampuan

mengatasi

masalah

kesehatan,

bencana

dan

kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri.


2. Komponen Desa Siaga di Kelurahan Gayam :
FKD
PKD
Kader Kesehatan RT
3. Jumlah Rumah Tangga Sehat Utama di Gayam sebanyak 95% dan
Rumah Tangga Sehat Paripurna sebanyak 5%.

53

4. Secara umum, jumlah rumah tangga yang melaksanakan PHBS di


desa Gayam rata-rata setiap indikator sekitar 85%.
5. Desa Siaga Kelurahan Gayam Kecamatan Sukoharjo Kabupaten
Sukoharjo baru termasuk dalam Desa Siaga Aktif Purnama.
6. Permasalahan Kelurahan Gayam dalam pencapaian Strata Desa
Siaga Aktif Mandiri di antaranya adalah belum melaksanakan
kegiatan FKD/FKK rutin minimal 1 (satu) bulan sekali dan juga
belum memiliki sumber dana yang berasal dari dunia usaha.

B. Saran
1. Mencanangkan program pelaksanakan kegiatan FKD/FKK rutin
minimal 1 (satu) bulan sekali.
2. Mengupayakan dunia usaha untuk ikut berperan serta menjadi sumber
dana

untuk

mengatasi

masalah

kesehatan,

bencana,

dan

kegawatdaruratan, dan pelaksanaan program-program desa siaga.


3. Peningkatan penyuluhan kesehatan terutama PHBS bentuk leaflet
kepada semua rumah tangga untuk mendorong masyarakat selalu
berperilaku hidup bersih dan sehat.
4. Bidan desa melakukan pemantauan rutin dan kunjungan rumah untuk
memantau masyarakat yang mempunyai risti dalam masalah kesehatan.
5. FKD bersama tokoh masyarakat rutin melakukan evaluasi semua
keberhasilan pelaksanaan program desa siaga secara rutin .
6. Kader-kader Desa Siaga setiap RT berperan dalam memotivasi
masyarakat agar segera ke pelayanan kesehatan terdekat jika
mengalami masalah kesehatan.
7. Perlunya tenaga surveilans yang kompeten untuk melakukan pendataan
penyakit atau maslaah kesehatan di wilayah desa Gayam.
8. Rutin dilakukan jimpitan RT demi terlaksananya program-program
Desa Siaga dan juga sebagai wadah pertemuan dan penyuluhan antara
kader-kader RT dengan warga masyarakat.

54

DAFTAR PUSTAKA

Akhsanu

Ilham,

2008.

Kebijakan

Kesehatan-Definisi

Puskesmas.

www.kebijakankesehatan.co.cc/2008/09/definisi-puskesmas.html (9 april
2011).
Astuti, Sri. 2006. Pengembangan Desa Siaga dan Pos Kesehatan Desa. Jakarta:
Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Azwar, Azrul. 1996. Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Sinar
Harapan.
Dinkes RI. 2004. Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

55

DKP Jateng. 2010. Pedoman Pelaksanaan Desa Siaga. Semarang: Dinas


Kesehatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Puskesmas Sukoharjo. 2012. Bimbingan Teknis Terpadu Puskesmas Sukoharjo
Tahun 2012. Sukoharjo: Puskesmas Sukoharjo.
Puskesmas Sukoharjo. 2012. Profil Kesehatan Puskesmas Sukoharjo Kecamatan
Sukoharjo. Sukoharjo: Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo.
Yunia, et al. 2012. Pedoman Pelaksanaan, Pengembangan, dan Penentuan Strata
Desa Siaga Aktif Kabupaten Sukoharjo. Sukoharjo: Dinas Kesehatan
Kabupaten Sukoharjo.

Lampiran 1. Susunan Pengurus Desa Siaga Kelurahan Gayam


SUSUNAN PENGURUS
POKJA KELUARGA DESA SIAGA AKTIF
KELURAHAN GAYAM KABUPATEN SUKOHARJO
1. Pembina

: SUKAMDI, SIP (Lurah Gayam)

2. Ketua

: Drs. H. SAIRIN

3. Wakil Ketua

: SUMARTI SUKAMDI, S.Pd

4. Sekretaris

: SRI HARTINI, S.Sos, MM

5. Wakil Sekretaris

: DARYATI

6. Bendahara

: SURANI

7. Wakil Bendahara

: SUNARING ASRIANI, A.Md

8. Anggota

56

a. Koordinator Surveilans

: HENDRATI

b. Koordinator Gotong Royong

: SURATNO

c. Koordinator Upaya Kesehatan

: RUSMANITA

d. Koordinator Pembiayaan Kesehatan

: SAHIRNO, S.Pd

9. Kader Kesehatan
a. Koordinator Kader PHBS

: TRI WINARNI

b. Koordinator Kader Posyandu Balita

: SRI RIYANI

c. Koordinator Kader Posyandu Lansia

: SRI DJATINI

d. Koordinator Kader Toga

: Ir. LASMIYATI

e. Koordinator Kader Pemantau Jentik

: JUMINAH

f. Koordinator Kader Pemuda Siaga

: PURWONO

57