Anda di halaman 1dari 18

PENGOLAHAN LIMBAH

SECARA BIOLOGIS Bag. I


Agus Prasetya,
Prasetya, PhD.
MTPPL
Jurusan Teknik Kimia FTFT-UGM
April 2005

Sources of Waste
(in Chemical Industries)
Waste from
the Process

Waste from
Utility

in Reactor
in Separation
and Recycling
systems
in Process
Operations

Furnace
Steam Boiler

Gas Turbine

Diesel Engines
Stack

PENGKATEGORIAN KONSTITUEN
DALAM AIR LIMBAH

Estimasi Kandungan Organik dalam Limbah


Parameter pengukuran kualitas limbah berdasar kandungan senyawa organik:

(a). BOD (Biological Oxygen Demand)


Mengukur jumlah O2 dibutuhkan untuk menguraikan senyawa organik
secara biologis (biodegradasi)
Dapat juga digunakan untuk mengukur:
- karbon organik yang dapat terbiodegradasi
- senyawa-senyawa nitrogen yang dapat teroksidasi.
Umumnya diukur pada masa inkubasi 5 hari pada 20oC.
(b). COD (Chemically Oxygen Demand)
Mengukur total karbon organik dalam limbah yang dapat teroksidasi secara
kimiawi (senyawa karbon selain bahan-bahan aromatik, misalnya: benzene)
Dapat juga untuk mengukur senyawa lain yang dapat tereduksi (e.g. sulfida,
sulfit, besi ferro)

(c). TOC (Total Organic Carbon)


Mengukur total karbon organik yang ada dalam limbah, sebagai CO2.

(d). TOD (Total Oxygen Demand)


Mengukur total karbon organik; dan juga
Nitrogen dan Sulfur (N dan S) yang tidak teroksidasi.

Proses Umum Pengolahan Air Limbah


Primary Treatment
Menyiapkan air limbah untuk pengolahan secara biologis.
Hanya melibatkan proses-proses fisis (screening, sedimentasi, flotasi untuk
mengeluarkan minyak, oli dan padatan tersuspensi) dan sedikit proses kimia
(e.g. netralisasi)

Secondary Treatment
Proses degradasi biologis senyawa organik terlarut (dinyatakan dalam BOD)
Biodegradasi:
- Aerobik : dilakukan dalam ruang terbuka (Kolam dengan aerator)
- Anaerobik : dilakukan dalam tangki tertutup, Kolam Anaerobik
- Kombinasi Aerobik-Anaerobik

Tertiary Treatment
Untuk mengeluarkan residu-residu tertentu, e.g. padatan koloidal, trace
senyawa organik non-biodegradable.
Melibatkan proses fisis dan kimiawi (e.g. adsorpsi, ion-exchange, stripping,
distilasi), dan kadang2 proses biologis.

Wastewater Treatment Systems

PRIMARY

TERTIARY

Ada banyak
pilihan
teknologi/
proses

Ada banyak
pilihan
teknologi/
proses

SECONDARY
(BIOLOGICAL
TREATMENT)
Ada banyak
pilihan teknologi/
proses

Discharge to
environment

Pemilihan Proses
Pemilihan teknologi proses tergantung pada :

Karakteristik air limbah

Bentuk polutan: padatan tersuspensi, koloid, larut


Biodegradability senyawa organik yang ada dalam limbah
Toksisitas dari senyawa organik dan/atau anorganik dalam limbah.

Kualitas Effluent yang diinginkan

Mempertimbangkan batasan baku mutu yang diijinkan


Mempertimbangkan dampaknya dimasa depan

Harga dan Ketersediaan Bahan/Lahan

Satu atau lebih kombinasi proses dapat digunakan, jika lahan untuk
pengolahan air limbah sangat terbatas dan atau mahal.

Prosedur evaluasi sederhana untuk pemilihan


teknologi pengolahan air limbah industri

Kualitas maksimum effluent air limbah yang dapat dicapai


pada berbagai proses pengolahan limbah

Mekanisme Penghilangan Limbah


Secara Biologis
Proses-proses yang terjadi selama limbah cair berkontak
dengan kumpulan mikrobia/mikroorganisme:

Sorpsi
Stripping
Biodegradasi

Sorpsi
Peristiwa terjerapnya (adsorption) senyawa-senyawa organik

dan logam berat dalam limbah secara fisis pada dinding selsel mikrobia.
Biasanya kuantitasnya terbatas kuantitasnya (dan dalam
proses biologis penguraian senyawa organik bukan merupakan
mekanisme utama).
Mungkin cukup signifikan untuk toxic organic.
Merupakan mekanisme utama penghilangan logam-logam
berat dalam limbah. Pada proses sorpsi, logam berat akan
membentuk senyawa kompleks dengan dinding-dinding sel
mikroorganisme.

Stripping
Yaitu peristiwa keluarnya/terpisahnya senyawa karbon
organik volatil dari senyawa non-volatil dalam limbah oleh
sel-sel mikroorganisme
Merupakan Mekanisme yang cukup signifikan untuk senyawa
karbon organik yang volatil (VOC= Volatile Organic Carbon).
Biasanya terjadi secara simultan dengan proses biodegradasi.

Biodegradasi/bio-dekomposisi
Yaitu peristiwa penguraian senyawa-senyawa organik dalam
limbah oleh mikroorganisme pengurai.
Merupakan mekanisme yang paling signifikan pada
pengolahan limbah secara biologis.
FOKUS PEMBAHASAN: PROSES BIODEGRADASI

Perbandingan mekanisme removal (penghilangan) berbagai jenis


polutan oleh lumpur aktif (activated sludge)

SEKILAS TENTANG PROSES


PERURAIAN SECARA BIOLOGIS
Oksidasi Biologis/Bio-oksidasi:
Penguraian bahan-bahan organik dalam limbah dengan proses oksidasi
yang dilakukan oleh dan dalam mikrobia secara biologis.
Biodegradasi:
Peristiwa penguraian senyawa-senyawa organik dalam limbah oleh
mikroorganisme pengurai.
Merupakan mekanisme yang paling signifikan pada pengolahan
limbah secara biologis.
Dapat terjadi secara:
- Aerob
: perlu oksigen
- An-aerob : tidak perlu oksigen
- An-oxic : gabungan aerob dan an-aerob.

Biodegradasi AEROB
Ada 2 langkah proses, yaitu:
Proses pembentukan sel-sel baru (sintesis):
a (sel-sel baru) + CO2 + H2O
senyawa2 + aO2 +N+P + Energy
sel-sel
+ residu2 terlarut
organik
mikro organisme
non-biodegradable
Proses penguraian sel-sel mikroorganisme karena reaksi autooksidasi (respirasi/endogenesis).
sel-sel mikro + bO2
organisme

CO2 + H2O + N + P
+ Energy
+ residu2 seluler
non-biodegradable

Konsumsi O2 diperlukan untuk:


Suplai untuk sintesis/pembentukan sel-sel baru
Respirasi endogenesis (auto-oksidasi), dimana sel-sel mikroorganisme
terurai untuk menghasilkan energi.

Oksidasi Biologis/Bio-oksidasi Diagram Skematis:

Biodegradasi An-aerob
Dekomposisi An-aerob
Adalah proses terurainya senyawa-senyawa organik oleh mikrobia
tanpa adanya oksigen.
Ada dua proses biologis yang terjadi dalam peristiwa ini, yaitu:
Peruraian senyawa-senyawa organik menjadi asam-asam
organik oleh mikrobia fakultatif.
Peruraian asam-asam organik oleh bakteri-bakteri anaerob
(misalnya: bakteri pembentuk metan) menjadi metan dan padatan
stabil.
Senyawa2
asam-asam organik
mikrobia CH4 + padatan stabil
organik mikrobia + CO2 + H2S
fakultatif

pembentuk
metan

Biodegradasi An-aerob Diagram Skematis:

Dekomposisi Anoxic
Adalah sebuah proses biologis
dimana mikroorganisme tertentu
mengambil oksigen yang
terdapat dalam senyawasenyawa tertentu (misalnya
nitrit dan nitrat) dan nutrien
untuk aktivitas biologisnya.
Senyawa-senyawa yang terurai
akan menghasilkan gas nitrogen,
CO2, padatan stabil dan
mikroorganisme dalam jumlah
yang lebih banyak.

Nitrifikasi

: senyawa2 nitrogen senyawa2 nitrit + nitrat

De-nitrifikasi: senyawa2 nitrit + nitrat N2, N2O dll.

10

Mekanisme BOD Removal dengan Bio-Oksidasi


Removal BOD oleh lumpur biologis (lumpur aktif= biological
sludge= activated sludge) terjadi dalam 2 fasa:
1. Pengurangan BOD secara CEPAT akibat removal dari suspended,
colloidal and soluble BOD, karena:
- enmeshment (terperangkapnya) padatan tersuspensi dalam
floc lumpur aktif.
- removal partikel-partikel koloid karena adsorpsi fisis dan/atau
kimia pada permukaan floc lumpur aktif.
- Biosorpsi (adsorpsi biologis) dari senyawa organik terlarut oleh
sel-sel mikroorganisme.
Ketiga mekanisme diatas terjadi secara bersamaan.
2. Pengurangan sisa BOD secara LAMBAT tetapi konstan, karena
peruraian senyawa organik terlarut oleh mikroorganisme.

Kurva skematik proses Bio-oksidasi


Linear
removal

Declinin
g
removal

S0

Endogeneous
phase

Biosorption

Synthesis of
stored BOD

X0

Berat
sel total

Oxygen
uptake
rate
Organic
substrat
remaining

Besarnya kecepatan penurunan BOD pada tahap ini akan sangat tergantung pada:
Sifat-sifat dari senyawa-senyawa organik yang ada
Konsentrasi lumpur aktif (active sludge)

11

Proses perombakan senyawa-senyawa organik oleh


mikroorganisme pada lumpur aktif

Beberapa jenis mikroorganisme (mikrobia) yang banyak terdapat dalam


lumpur aktif adalah: paramecium, berbagai jenis bacteria dan amoeba.

Paramecium

Bacteria
agen pengurai utama
pada limbah.

Amoeba

12

Variabel-variabel yang berpengaruh


terhadap Bio-oksidasi

Temperatur
pH
Toksisitas senyawa dalam limbah
(biasanya: fenol, logam berat, garam-garam
anorganik, amoniak)
Kualitas lumpur aktif

Temperatur
Ada 3 daerah suhu untuk proses biodegradasi:
- Mesofilik
: 4 39oC
- Termofilik
: 40 55oC
- Psikrofilik
: dibawah 4oC
Kebanyakan proses biodegradasi berlangsung pada zone mesofilik.
- Suhu ideal: 31oC (reaksi biologis paling cepat)
- Pada suhu > 36oC, floc-floc mikrobia akan mulai rusak
penurunan kecepatan pengendapan secara signifikan.
- Suhu dalam proses aerobik dijaga 35,5oC.

pH

- Kisaran pH: 5 9.
- Kecepatan reaksi optimum: pH 6,5 8,5.

13

Toksisitas
Toksisitas (sifat meracuni) limbah dalam proses bio-oksidasi dapat
terjadi karena adanya senyawa-senyawa organik tertentu
dengan konsentrasi tinggi misalnya:
Fenol.
Adanya fenol dengan konsentrasi tinggi dapat meracuni mikrobia,
sehingga menghalangi (inhibit) proses bio-oksidasi. Tetapi fenol
dalam konsentrasi rendah adalah biodegradable (dapat diuraikan oleh
mikrobia)
Logam berat.
Logam berat yang teradsorpsi pada permukaan dinding sel
mikroorganisme akan menghalangi jalannya reaksi bio-oksidasi.
Batasan konsentrasi toksik dari logam berat sangat tergantung pada
kondisi operasinya. Pada sistem lumpur aktif, konsentrasi logam berat
yang rendahpun dapat meracuni.

Garam-garam anorganik dan amoniak.


Garam-garam anorganik pada konsentrasi cukup tinggi dapat
menunjukan retardasi terhadap reaksi bio-oksidasi (menghalangi
reaksi dan menurunkan kecepatan penghilangan BOD (BODremoval)).
Kandungan garam anorganik yang tinggi juga dapat menyebabkan
meningkatnya padatan tersuspensi (suspended solid) dalam arus
effluent (arus limbah meninggalkan sistem).
Untuk mengatasi/menghindari kondisi toksik, maka limbah yang baru
masuk ke sistem (misalnya: kolam limbah) diusahakan tercampur
sesempurna mungkin dengan limbah yang sudah ada dalam sistem
sehingga terjadi efek pengenceran!

Kualitas Lumpur Aktif (Active Sludge Quality)

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kinerja (performance) lumpur


aktif adalah kemampuan lumpur tsb berflokulasi secara efektif. Kecepatan
pengendapan dan kompaksi (kemampuan memadat) akan sangat terpengaruh
oleh ukuran floc-floc biologis yang ada. Semakin besar ukuran floc, semakin
mudah lumpur tsb dipisahkan (dengan sedimentator/thickener/clarifier atau
centrifuge).

14

Ukuran floc, selain dipengaruhi oleh kondisi operasi (pH, suhu) dan
keadaan limbah (e.g. toksisitas), juga dipengaruhi oleh umur
lumpur aktif tersebut.

Koloni bakteri pada berbagai umur floc lumpur aktif.

Penggolongan floc lumpur aktif berdasarkan ukuran floc dan panjang


filamen (rambut-rambut mikrobia):
Filamentous bulking:
Mikrobia tumbuh terlalu cepat (overgrowth).
Biasanya merupakan hasil complete mixed processes atau karena
kurang nutrien dan konsentrasi substrat biodegradable organics
terlalu tinggi; disertai kelarutan O2 yang tinggi dalam limbah.
Paling umum dijumpai pada lumpur aktif
Non-bulking:
Jumlah nutrient dan substrat cukup.
Biasanya dijumpai pada sistim mixed flow.
Pin-point:
Hasil dari kekurangan makanan (baik substrat maupun nutrien).
Rasio makanan dan massa lumpur organik (F/M) sangat rendah, atau
Hasil penggunaan lumpur aktif yang terlalu lama (long sludge age
operation).

15

Filamentous Bulking

Filament
Backbone

Extended
Filament

Dispersed
particles

Pin Point

Nonbulking

NITRIFIKASI & DENITRIFIKASI


Nitrifikasi
Yaitu proses oksidasi
biologis NH3 menjadi nitrat,
dengan nitrit sebagai hasil
antara.
Dapat terjadi bersamaan
dengan BOD-removal.
Jauh lebih lambat
dibandingkan dengan BODremoval.
Denitrifikasi
Yaitu reaksi peruraian NO3
menjadi N2 dan gas-gas lain
oleh mikrobia.

16

Mikrorganisme yang terlibat dalam NITRIFIKASI:

Nitrosomonas:
2NH4+ + 3O2 2NO2- + 4H+ + 2H2O
Reaksi pembentukan nitrit
Reaksi berjalan lambat, sehingga menjadi pengontrol kecepatan nitrifikasi
keseluruhan.
Nitrobacter:

2NO2-+ O2 2NO3- (pembentukan nitrat)

Suhu: 5 45oC, suhu optimum: 25 35oC


Pada umumnya akan meningkatkan keasaman limbah (karena munculnya
nitrit dan nitrat).
Untuk menjaga pH, maka perlu dimasukkan larutan alkali (biasanya dalam
bentuk larutan Ca(OH)2/lime solution).

Beberapa
senyawa
organik yang
menghambat
reaksi
Nitrifikasi
dengan Lumpur
Aktif.

17

DENITRIFIKASI
Merupakan proses yang sangat sensitif dan sulit, oleh karena itu kontrol
terhadap parameter-parameter proses harus dilakukan dengan ketat.
Mikrobia denitrifikasi sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan pH. pH
optimum 6.0-8.0.
Terjadi pada kondisi anoxic (tidak ada oksigen terlarut dalam limbah), oleh
mikrobia heterotropik yang mampu mengubah nitrat sebagai sumber energi.
Biasanya perlu ditambahkan sumber karbon dari luar (misal: metanol,
diperlukan sebanyak 3-4 g methanol/g nitrat yang harus di-removed ).
Dapat juga terjadi pada keadaan aerobik jika:
(1). Tersedianya fraksi anoxic pada floc-floc biologis.
(2). Adanya karbon (C) sebagai substrate.
Meskipun demikian, denitrifikasi sebaiknya dilakukan pada kondisi anoxic
yang ketat.

18