Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kinerja suatu perusahaan dalam memanfaatkan aset-asetnya untuk
menghasilkan laba tergambar dari informasi yang terdapat di laporan keuangan.
Salah satu informasi yang terdapat di laporan keuangan adalah laba. Informasi
mengenai laba bertujuan untuk menilai kinerja perusahaan serta sebagai
pertimbangan untuk pengambilan keputusan ekonomi dan bisnis. Dalam melakukan
pertimbangan berinvestasi, perhatian investor sering terpusat pada informasi laba
yang dihasilkan oleh perusahaan tanpa memperhatikan prosedur akuntansi yang
digunakan untuk menghasilkan laba tersebut (Sulistiyawati, 2013).
Laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan merupakan laba yang
dihasilkan dengan metode akrual. Menurut Dechow (1994), laba akrual dianggap
sebagai ukuran yang lebih baik dibandingkan dengan arus kas dari aktivitas operasi
karena akrual mempertimbangkan masalah waktu, tidak seperti yang terdapat dalam
arus kas dari aktivitas operasional. SAK (Standar Akuntansi Keuangan), memberikan
fleksibilitas bagi manajemen untuk memilih kebijakan akuntansi yang sesuai dengan
keadaan perusahaan. Fleksibilitas itulah yang dimanfaatkan oleh manajemen untuk
melakukan manajemen laba (earnings management). Bentuk dari manajemen laba
yang kerap dilakukan oleh manajer adalah perataan laba. Perataan laba atau income
smoothing sendiri bisa didefinisikan sebagai cara yang digunakan manajemen untuk
mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan
baik secara artificial (melalui metode akuntansi) maupun dengan real yaitu melalui
transaksi ekonomi (Purwanto, 2005).
Perataan laba dilakukan oleh manajer karena terjadi fluktuasi laba didalam
perusahaan dan perilaku tersebut kerap dianggap normal oleh perusahaan (Schroeder,

2
2009). Sedangkan menurut Atik (2008), manajemen tertarik melakukan praktik
perataan laba karena investor cenderung tertarik pada laba yang rata dan tidak
berfluktuasi.
Berdasarkan survei literatur, ada beberapa faktor yang diduga

berpengaruh terhadap perataan laba, diantaranya; risiko keuangan, nilai


perusahaan, struktur kepemilikan dan ukuran perusahaan. Merdistuti (2004) dan
Cahyani (2012) menyimpulkan bahwa perusahaan yang mempunyai risiko
keuangan cenderung melakukan perataan laba untuk menghindari terjadinya
pelanggaran perjanjian utang yang sudah disepakati antara manajemen dengan
kreditor. Hal ini bertentangan dengan penelitian Masodah (2007) dan Santoso
(2009) yang menyimpulkan bahwa risiko keuangan tidak berpengaruh terhadap
perataan laba.
Aji dan Mita (2010) menemukan semakin tinggi nilai perusahaan maka
kecenderungan melakukan perataan laba lebih besar, dikarenakan nilai perusahaan
dianggap baik apabila laba yang dihasilkan perusahaan tersebut stabil sehingga
menarik minat manajemen untuk melakukan perataan laba. Nilai perusahaan yang
baik berarti citra perusahaan dianggap baik bagi investor sehingga investor
berkeinginan membeli saham tersebut. Penelitian ini bertentangan dengan
penelitian Sulistiyawati (2013) yang menyimpulkan bahwa nilai perusahaan tidak
berpengaruh terhadap perataan laba
Suryandari (2012) menyebutkan bahwa perusahaan dengan ukuran yang
lebih besar dan memiliki industri yang strategis tidak mampu untuk melakukan
perataan laba karena aktifitasnya mendapat perhatian besar dari investor,
pemerintah dan masyarakat, hal yang sama juga disimpulkan oleh Dewi dan
Sujana (2014). Sedangkan Rachadi (2009) menyebutkan bahwa ukuran

3
perusahaan tidak berpengaruh signifkan terhadap perataan laba, hal ini senada
dengan penelitian Utomo dan Siregar (2004).
Menurut Brochet dan Gildao (2004), manajemen yang memiliki saham
perusahaan memiliki informasi mengenai perusahaan lebih banyak dibandingkan
pemilik non-institusi lainnya. Hasil penelitian yang sama juga dikemukakann oleh
Peranasari dan Dharmadiaksa (2014). Namun, Aji dan Mita (2010) menyimpulkan
bahwa struktur kepemilikan manajerial terbukti tidak berpengaruh terhadap
perataan laba.
Berdasarkan hasil penelitian yang selama ini dilakukan oleh penelitipeneliti terdahulu tentang perataan laba yang hasilnya kontradiktif satu dengan
lainnya. Maka peneliti termotivasi untuk menguji kembali faktor-faktor yang
mempengaruhi perataan laba. Perusahaan manufaktur dipilih sebagai objek
penelitian karena perusahaan manufaktur paling banyak jumlahnya dan dominan
di Indonesia sehingga persaingan menjadi lebih ketat. Selain itu, perusahaan
manufaktur mempunyai tingkat kompleksitas yang tinggi dalam kegiatan
perusahaan. Kegiatan perusahaan manufaktur bermula dari proses pembelian
bahan baku hingga proses pengolahan menjadi barang jadi. Harga beli bahan baku
yang cenderung tidak stabil akan mempengaruhi tingkat penghasilan sehingga,
perusahaan memiliki motivasi atau dorongan untuk melakukan perataan laba
(Yuyeta, 2011). Berdasarkan latar belakang diatas, penulis bermaksud melakukan
penelitian dengan judul Pengaruh Risiko Keuangan, Nilai Perusahaan,
Ukuran Perusahaan dan Struktur Kepemilikan terhadap Perataan Laba
pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
1.2 Rumusan Masalah

4
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka
permasalahan yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Apakah risiko keuangan, nilai perusahaan, ukuran perusahaan dan struktur
kepemilikan secara bersama-sama berpengaruh terhadap perataan laba pada
perusahan manufaktur yang terdaftar di BEI (Bursa Efek Indonesia) periode
2011-2013.
2. Apakah risiko keuangan berpengaruh terhadap perataan laba pada perusahan
manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2011-2013.
3. Apakah nilai perusahaan berpengaruh terhadap perataan laba pada perusahan
manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2011-2013.
4. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap perataan laba pada
perusahan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2011-2013.
5. Apakah struktur kepemilikan berpengaruh terhadap perataan laba pada
perusahan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2011-2013.

1.3 Tujuan Penelitian


Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dijelaskan sebelumnya,
tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh:
1. Risiko keuangan, nilai perusahaan, ukuran perusahaan dan struktur
kepemilikan secara bersama-sama terhadap perataan laba pada perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2011-2013
2. Risiko keuangan terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI periode 2011-2013.

5
3. Nilai perusahaan terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI periode 2011-2013.
4. Ukuran perusahaan terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI periode 2011-2013.
5. Struktur kepemilikan terhadap perataan laba pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar di BEI periode 2011-2013.
1.4 Kegunaan Hasil Penelitian
1.4.1 Kegunaan Praktisi
Bagi praktisi penelitian ini dapat memberikan manfaat, antara lain:
1. Bagi investor dan calon investor yang melakukan investasi di pasar modal
dimana hasil penelitian ini dapat memberikan masukan didalam pembuatan
keputusan investasi serta dalam pengelolaan portofolio saham yang
dimilikinya.
2. Bagi pengembangan informasi pasar modal mengenai praktik perataan laba
dalam analisis kinerja perusahaan perusahaan publik di Indonesia.
3. Bagi Bape pam (Badan Pengawas Pasar Modal) selaku pengawas pasar modal
di Indonesia khususnya di BEI dalam menggunakan wewenangnya untuk
membuat peraturan atau kebijakan atas laporan keuangan yang diterbitkan
oleh emiten.
1.4.2

Kegunaan Akademis
Bagi akademisi, terdapat beberapa manfaat hasil penelitian yang dapat

diperoleh, yaitu:
1. Menambah

wawasan

dan

pengetahuan

tentang

faktor-faktor

yang

mempengaruhi perataan laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di


BEI.
2. Sebagai referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya.