Anda di halaman 1dari 17

Prinsip Kerja Trafo Arus (MV)

oleh Mas Bejo September 3, 2014

Trafo Arus tegangan menengah (Medium Voltage Current Transformer) adalah


sebuah trafo yang digunakan untuk mengkonversi arus bolak-balik yang nilainya puluhan
hingga ribuan ampere yang mengalir disisi primer, menjadi hanya 1 atau 5 ampere disisi
kumparan sekunder.
Dalam kondisi ideal, dengan tidak memperhatikan rugi-rugi yang muncul pada kumparan
sekunder dan primer, serta rugi-rugi yang muncul pada inti/core, maka besarnya arus
sekunder yang dibangkitkan oleh fluk magnetik akan berbanding linier dengan ratio dari
trafo arus tersebut dan memiliki sudut fasa yang sama.
Struktur Trafo Arus Tegangan Menengah.

Sebuah trafo arus tegangan menengah, akan terdiri dari beberapa bagian utama seperti
ditunjukkan pada Gbr1, yaitu:

Batang penghantar Primer (Primary Bus Bar) dan terminal Primer (Primary
Terminal).
Inti Sekunder(Secondary Core).

Kumparan Sekunder (Secondary Winding).

Material insulasi (insulation Material).

Terminal sekunder (Secondary Terminal) dan pelindungnya.

Informasi Product (Name Plate).

Prinsip Kerja Trafo Arus.


Prinsip kerja sebuah trafo arus dapat digambarkan sebagai berikut:

Trafo arus tegangan menengah bekerja berdasarkan prinsip kopling medan


magnetik. Pada saat arus bolak-balik mengalir di dalam batang penghantar primer
(primary bus bar), maka akan dibangkitkan medan magnetik disekitar batang
penghantar primer tersebut.
Medan magnetik tersebut akan memotong inti/core. Medan magnetik yang
menembus luasan tertentu dari inti/core akan membangkitkan fluk magnetik yang
mengalir diseluruh inti/core.
Fluk magnetik yang menembus kumparan sekunder akan membangkitkan
tegangan atau beda potensial dikedua ujung kumparan. Apabila pada sisi
kumparan sekunder diberi beban sehingga tercipta rangkaian tertutup/ close loop,
maka akan mengalir arus sekunder pada kumparan sekunder.

Formulasi Kesalahan Transformasi Arus.


Jika rugi-rugi yang muncul pada kumparan sekunder dan kumparan primer dianggap
tidak ada, maka perbandingan antara arus primer terhadap arus sekunder akan sama
dengan perbandingan antara jumlah kumparan sekunder dibagi dengan jumlah kumparan
primer seperti ditunjukkan pada Gbr2.

Dimana:
Ip adalah Arus Primer, Is adalah Arus Sekunder.
Ns adalah jumlah kumparan Sekunder, Np adalah jumlah kumparan primer.
Perbandingan dari Arus Primer terhadap arus sekunder disebut juga Rated ratio.
Dari persamaan diatas, maka besarnya arus sekunder Is yang akan mengalir disisi
sekunder adalah jumlah kumparan Primer Np dibagi jumlah kumparan sekunder Ns
dikalikan dengan arus yang mengalir disisi primer Ip atau dalam bentuk formulasi
menjadi:

Dimana:
Is adalah arus sekunder, Ip adalah arus sekunder
Np adalah Jumlah kumparan primer, Ns adalah jumlah kumparan sekunder.
Pada kenyataannya, tidak semua arus primer akan terduplikasi disisi kumparan sekunder.
Akan dibutuhkan suatu arus eksitasi Ie agar proses reproduksi arus sekunder dapat
terjadi. Dengan demikian, apabila arus eksitasi kita masukan dalam formulasi, besarnya
arus sekunder menjadi:

Dimana Ie adalah arus eksitasi yang dibutuhkan agar proses reproduksi arus sekunder
dapat terjadi. Karena Arus eksitasi tidak dapat diabaikan, maka proses reproduksi arus
sekunder akan mengalami kesalahan dan biasa disebut sebagai kesalahan transformasi
( transformation error). Selain daripada itu, akan terjadi juga pergeseran fasa. Kesalahan
pada fasa biasa disebut sebagai pergeseran fasa.
Jika disederhanakan, maka skematik diagram dari arus primer, arus eksitasi dan arus
sekunder ditunjukan pada garmbar dibawah ini;

Dari Gbr6. terlihat bahwa arus sekunder Is yang mengalir pada burden merupakan
perkalian antara ratio dengan arus primer dikurangi dengan arus eksitasi Ie yang diserap
oleh inti/core untuk membangkitkan arus sekunder.
Perhitungan Kesalahan Arus (Current Error/ Ratio Error).
Kesalahan arus atau kesalahan perbandingan adalah kesalahan yang ditimbulkan oleh
transformer dalam melakukan pengukuran disebabkan karena adanya kenyataan bahwa
aktual perbandingan transformasi adalah tidak sama dengan perbandingan transformasi
pengenal (Rated Transformation Ratio).
Kesalahan Arus (Current Error) atau kesalahan perbandingan (Ratio
Error) diekspresikan dalam persen (%) dan diformulasikan dengan persamaan sebagai
berikut:

Dimana:
Kn adalah Perbandingan transformasi pengenal (Rated Transformation Ratio).
Ip adalah arus primer actual/sebenarnya (Actual Primary Current).
Is adalah arus sekunder actual/sebenarnya (Actual Secondary Current) pada saat Ip
mengalir disisi primer dan kondisi pengukuran terjadi.

Ilustrasi sederhana dari penggunaan formulasi diatas adalah sebagai berikut:


Sebuah trafo arus dengan ratio 2000/5, memiliki tingkat kesalahan transformasi atau ratio
error sebesar 0.5%. Jika pada trafo tersebut mengalir arus primer sebesar 1900A,
berapakah arus sekunder sebenarnya yang akan mengalir pada sisi kumparan sekunder?
Penyelesaian:
Diketahui bahwa error ratio adalah 0.5%, rated ratio adalah 2000/5 dan arus primer
sebenarnya yang mengalir adalah 1950. Maka besarnya arus sekunder adalah:
(0.5 * 1950) = ((2000/5 * Is) 1950) * 100
975 /100 = 400 * Is 1950
9,75 + 1950 = 400Is
Is = 1957,75/400
Is = 4,8994A.
Dengan demikian, besarnya arus sekunder yang mengalir adalah 4,8994A ketika mengalir
arus di sisi primer sebesar 1950A.
Refferensi:
http://trafoinstrumen.files.wordpress.com

Mengenal Karakteristik Saturasi Dari


Trafo Arus (MV)
oleh Mas Bejo September 4, 2014

Satu bagian terpenting dalam pembahasan tentang trafo arus adalah mengenai
karakteristik saturasi dari suatu trafo arus.
Trafo arus tegangan menengah pada umumnya digunakan untuk dua tujuan utama, yaitu
untuk pegukuran (metering) dan untuk perlindungan atau proteksi.
Trafo arus untuk tujuan pengukuran dirancang untuk bekerja pada kondisi normal dimana
arus primer sebenarnya atau aktual arus primer yang mengalir pada belitan primer berada
pada kisaran arus primer pengenalnya (Rated Primary Current).
Trafo arus untuk tujuan proteksi dirancang untuk bekerja pada kondisi tidak normal
dimana arus primer sebenarnya atau aktual arus primer yang mengalir pada belitan primer
jauh lebih besar dari arus primer pengenalnya (Rated Primary Current).
Karakteristik Trafo Arus Untuk Pengukuran (Metering).
Sebuah trafo arus yang ditujukan untuk pengukuran arus harus memiliki karakteristik
dasar sebagai berikut:
1. Trafo arus untuk pengukuran atau metering harus memiliki tingkat ketelitian yang
tinggi pada kondisi kerja normal. Yang dimaksud kerja normal adalah kondisi
dimana arus yang mengalir di sisi primer berada pada kisaran arus primer
pengenalnya (Rated Primary Current), sehingga keluaran dari trafo arus tersebut
disekitar nilai arus sekunder pengenalnya, misalnya 1A atau 5A.
2. Trafo arus untuk pengukuran atau metering harus mampu memberikan
perlindungan yang baik kepada peralatan yang dihubungkan dengannya ketika
terjadi kegagalan atau kesalahan sistem. Trafo arus untuk pengukuran harus
memiliki tingkat kejenuhan yang rendah. Tingkat kejenuhan untuk trafo
pengukuran biasanya direpresentasikan dalam bentuk Factor Safety, yang biasa
disingkat FS. Trafo arus untuk pengukuran harus memiliki nilai FS yang sama
atau lebih kecil dari Nilai FS pengenal.
Karakteristik Trafo Arus Untuk Sistem Proteksi (Protection).

Sebuah trafo arus yang ditujukan untuk penggunaan sistem perlindungan atau proteksi,
maka karaketeristik yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
1. Trafo Arus untuk proteksi harus mampu dilewati oleh arus primer yang nilainya
puluhan kali lipat dari arus primer pengenalnya (Rated Primary Current) tanpa
mengalami kesalahan transformasi atau reproduksi arus disisi sekunder yang
sangat besar. Proses transformasi arus untuk proteksi tidak memerlukan tingkat
ketelitian yang tinggi. Trafo arus untuk proteksi di rancang untuk bekerja pada
saat kondisi tidak normal terjadi atau terjadinya gangguan (disturbance).
2. Trafo arus untuk proteksi harus memiliki tingkat kejenuhan yang tinggi. Dengan
tingginya tingkat kejenuhan yang dimiliki, maka trafo arus proteksi akan mampu
mereproduksi arus disisi sekunder dengan baik ketika terjadi lonjakan arus primer
ketika terjadi gangguan. Tingkat kejenuhan dari trafo arus kelas proteksi biasa
dikenal dengan istilah ALF (Accuracy Limit Factor). Trafo arus untuk proteksi
harus memiliki nilai ALF yang sama atau lebih besar dari nilai ALF Pengenal.
Kurva Magnetisasi dari Trafo Arus.
Gbr1 dibawah ini adalah perbandingan dari kurva magnetisasi trafo arus kelas metering
dengan kurva magnetisasi untuk proteksi/perlindungan.

Sumbu horisontal mewakili kekuatan atau intensitas medan magnetik (Magnetic Field
Intensity, H). Intensitas medan magnetik berbanding lurus dengan besaran arus, yaitu H
= N. I/l
Sumbu vertikal mewakili kerapatan medan magnetik (Magnetic Field Density, B).
Kerapatan medan magnetic berbanding lurus dengan besarnya tegangan induksi yang
dihasilkan oleh suatu kumparan, sesuai dengan persamaan:
V = 4.44. F.A. B. N

Kurva Saturasi Dari Trafo Arus Untuk Pengukuran (Measuring/Metering CT).


Pada gbr1 terlihat bahwa trafo arus untuk metering harus memiliki titik saturasi yang
rendah. Kenaikan intensitas medan magnetik H mengakibatkan kenaikan yang sangat
signifikan pada kenaikan kerapatan medan magnetic B. Selanjutnya, kenaikan kerapatan
medan magnetik B sangat kecil walaupun intensitas medan magnetic terus dinaikan.
Kondisi dimana kerapatan medan magnetic tidak banyak berubah ketika intensitas medan
magnetik ditingkatkan disebut kondisi saturasi atau jenuh.
Penjelasan lebih terinci mengenai Instrument Security Factor (IFS) dapat dilihat pada
bagian mengenal istilah dalam Trafo Arus Seri 2.
Kurva Saturasi Dari Trafo Arus Untuk Proteksi atau Perlindungan (Protection CT).
Pada gambar diatas terlihat bahwa untuk trafo arus penggunaan proteksi, harus memiliki
titik saturasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan trafo arus untuk pengukuran.
Trafo Arus untuk proteksi dirancang sedemikian rupa sehingga tegangan kerapatan
medan magneti B (Magnetid Field Density) akan mulai jenuh ketika intesitas medan
magnetiknya (magnetic Field intensity, H) jauh lebih besar dari kelas metering.
Titik jenuh untuk kelas proteksi direpresentasikan dengan istilah ALF (Accuracy Limit
Factor), yaitu perbandingan antara batas akurasi arus primer pengenal terhadap arus
primer pengenal.
Refferensi:
http://trafoinstrumen.wordpress.com

Kelas Ketelitian Trafo Arus (MV)


oleh Mas Bejo September 16, 2014

Sebagaimana dibahas pada materi sebelumnya (Prinsip Kerja Trafo Arus), Trafo Arus
Tegangan Menengah akan mentransformasikan arus primer yang bernilai ratusan hingga
ribuan ampere, menjadi arus sekunder yang bernilai jauh lebih kecil dan bisa ditangani
oleh peralatan ukur konvensional.
Pada umumnya, atas pertimbangan ekonomis, nilai keluaran arus sekunder suatu trafo
arus dibatasi pada nilai-nilai tertentu, misalnya 1A, 2A atau 5A. Untuk keperluan khusus
dan spesifik, adalah sangat dimungkinkan dibuat sebuah trafo arus yang arus sekundernya
diluar nilai tersebut diatas.
Dalam kondisi ideal, proses transformasi dari arus primer yang besar menjadi arus
sekunder yang kecil merupakan perbandingan atau rasio dari arus primer pengenal dan
arus sekunder pengenal. Sebagai contoh, jika kita mempunyai trafo arus dengan rasio
1000/5, maka artinya jika trafo tersebut dialiri arus primer sebesar 1000A, maka akan
mengalir arus sekunder sebesar 5A.
Pada kenyataannya, proses transformasi dari arus primer menjadi arus sekunder, selalu di
ikuti dengan rugi-rugi atau loss di setiap bagian trafo arus. Rugi-rugi yang muncul pada
trafo arus bisa berupa rugi pada kumparan primer-sekunder maupun rugi-rugi yang
muncul pada sisi inti/core. Akibat adanya rugi-rugi tersebut, maka besarnya arus
sekunder sebenarnya/aktual menjadi berbeda dengan nilai arus sekunder pengenal.
Perbedaan antara arus sekunder sebenarnya dgn arus sekunder pengenal inilah yang biasa
disebut kelas akurasi/ketelitian.
Kelas akurasi/ketelitian sebuah trafo arus disesuaikan dengan tujuan penggunaan dari
trafo arus tersebut. Standar IEC60044-1 mendefinisikan 2 buah kelas untuk sebuah trafo
arus, yaitu kelas metering (Metering Class) untuk pengukuran dan kelas proteksi
(Protection Class) untuk perlindungan sistem.
Kelas akurasi/ketelitian sebuah trafo Arus berdasarkan standar IEC60044-1.
Kelas Metering/Pengukuran.
Standar IEC60044-1 telah mensyaratkan beberapa kriteria terkait kelas akurasi dari
sebuah trafo arus yang digunakan untuk pengukuran/metering, yaitu:

1. Trafo arus yang digunakan untuk keperluan pengukuran/measurement, harus


memiliki tingkat kesalahan ratio (error ratio) dan pergeseran fasa (phase
displacement) yang lebih kecil dari table 1.
2. Nilai yang ditunjukan table 1 tersebut harus pada kondisi dimana trafo arus
tersebut terbebani oleh burden/load sebesar 25% dan 100% dari beban pengenal
(Rated Burden).
Standar IEC60044-1 membagi kelas metering/pengukuran menjadi beberapa kelas, yaitu
kelas 0.1, 0.2, 0.5, 1, 3 dan kelas khusus atau special, yaitu 0.2S dan 0.5S.

Kelas 0.1 > biasa digunakan untuk keperluan laboratory yang membutuhkan
tingkat ketelitian yang tinggi.
Kelas 0.2 dan 0.5 > biasa digunakan untuk keperluan meter pelanggan.

Kelas 1 dan 3 > biasa digunakan untuk keperluan industry.

Catatan:

Pergeseran fasa tidak didefinisikan untuk kelas 3 dan 5.

Tabel diatas berlaku untuk jangkauan beban dari 25% beban pengenal (rated
burden) hingga 100% beban pengenal (rated burden).

Kelas metering biasanya diikuti juga dengan parameter FS (Safety Factor).


Parameter ini erat kaitannya dengan fungsi trafo pengukuran untuk mampu
melindungi peralatan ukur yang terhubung dengannya pada saat terjadi arus lebih.
Lebih jelasnya, bisa dibaca kembali pada materi Mengenal Karakteristik Saturasi
dari Trafo Arus Tegangan Menengah.

Contoh penulisan spesifikasi untuk trafo arus jenis metering: 500/5A, 0.2FS5
20VA

Penjelasan spesifikasi diatas dan contoh perhitungan kesalahan rasio bisa di lihat
pada materi Penjelasan Spesifikasi Kelas Metering dan Perhitungan kesalahannya.

Kelas Proteksi (Protection Class).


Trafo arus kelas proteksi adalah trafo arus yang digunakan untuk keperluan proteksi.
Kesalahan rasio (ratio error) dari kelas akurasi lebih besar daripada kelas metering. Hal
ini disebabkan karena pada kelas proteksi, yang diperlukan adalah kemampuan dari trafo
untuk mentransformasi sebesar mungkin arus yang masuk ke sisi primer menjadi arus
sekunder.
Trafo arus untuk kelas proteksi dirancang untuk tetap mampu bekerja dengan baik pada
saat terjadi kegagalan sistem (sistem fault). Trafo arus untuk proteksi harus mampu
mentranformasi arus primer yang sangat besar pada saat terjadinya kesalahan sistem dan
merubahnya menjadi arus sekunder tanpa mengalami saturasi.
Kelas akurasi untuk trafo arus jenis proteksi.
Kelas akurasi untuk proteksi dirancang berdasarkan persentasi kesalahan komposit yang
diijinkan pada batas akurasi arus primer pengenal dan diikuti oleh huruf P (yang berarti
protection). Berdasarkan standar IEC60044-1, Kelas akurasi untuk proteksi ada dua,
yaitu 5P dan 10P. Tingkat kesalahan rasio dan pergeseran fasa untuk kelas proteksi
ditunjukan pada tabel 4.

Dari tabel diatas, bisa disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

Untuk trafo arus jenis proteksi, pada saat arus primer pengenal mengalir pada sisi
primer, maka kesalahan ratio (error ratio) adalah lebih kecil dari 1% untuk kelas
5P dan kesalahan rasio (error ratio) harus lebih kecil dari 5% untuk kelas 10P.
Untuk trafo arus jenis proteksi, pada saat arus primer pengenal mengalir pada sisi
primer, maka pergeseran fasa (phase displacement) adalah lebih kecil dari 60
menit untuk kelas 5P. Pergeseran fasa untuk kelas 10P tidak didefinisikan.
Pada saat arus primer yang mengalir pada kumparan primer sebesar batas akurasi
arus primer pengenal (Rated Accuracy Limit Primary Current), maka besarnya
kesalahan komposit adalah 5% untuk kelas 5P dan 10% untuk kelas 10P.

Contoh penulisan spesifikasi untuk trafo arus jenis proteksi: 500/5A, 5P10 20VA
Penjelasan spesifikasi diatas dan contoh perhitungan kesalahan rasio bisa di lihat pada
materi Penjelasan Spesifikasi Kelas proteksi dan Perhitungan kesalahannya.
Refferensi :
http://trafoinstrumen.wordpress.com

Spesifikasi Trafo Arus Kelas Pengukuran


(MV)
oleh Mas Bejo September 17, 2014

Materi ini merupakan kelanjutan dari materi sebelumnya yang membahas tentang kelas
akurasi/ketelitian dari sebuah trafo arus . Bagian ini lebih menjelaskan secara detail
informasi tentang akurasi kelas yang tertera pada label sebuah trafo arus.
Jika anda memiliki sebuah trafo arus dengan spesifikasi kelas akurasi sebagai berikut:

500/5A, 0.2FS5 20VA


Maka penjelasan dari spesifikasi tersebut adalah:
1. 500/5A menyatakan rasio pengenal (rated ratio) dari trafo arus. 500 menyatakan
arus primer pengenal (Rated Primary Current) dan 5A menyatakan arus sekunder
pengenal (Rated Secondary Current). Dalam kondisi ideal, jika pada sisi
kumparan primer mengalir arus sebesar 500A, maka arus sebesar 5A akan
mengalir pada kumparan sekunder.
2. 0.2 menyatakan batasan kesalahan tertinggi yang disebabkan oleh proses
transformasi sebuah trafo arus ketika arus primer yang mengalir pada kumparan
primer besarnya adalah 100% hingga 120% dari arus primer pengenalnya, dalam
hal ini adalah 500A.
3. Jika arus yang mengalir pada kumparan primer sebesar 20% dari arus primer
pengenalnya, maka kesalahan trasnformasi yang diijinkan harus lebih kecil dari
0.35% sebagaimana ditunjukan pada tabel kesalahan rasio sebuah trafo arus untuk
pengukuran.
4. FS5 adalah besarnya perbandingan antara arus primer saat terjadinya saturasi
dengan arus primer pengenalnya. FS5 berarti arus saturasinya adalah 5 kali arus
pengenal, yaitu 5 * 500 = 2500A.
5. 20VA adalah beban pengenal (rated burden). Parameter ini menjelaskan beban
yang dihubungkan untuk menjamin kesalahan rasio pada nilai yang telah
ditentukan sesuai dengan tabel.
Semoga membantu
Refferensi :
http://trafoinstrumen.wordpress.com

Fungsi Trafo Arus


oleh Mas Bejo September 23, 2013

Fungsi Trafo Arus


Fungsi dari trafo arus adalah:

Mengkonversi besaran arus pada sistem tenaga listrik dari besaran primer menjadi
besaran sekunder untuk keperluan pengukuran sistem metering dan proteksi
Mengisolasi rangkaian sekunder terhadap rangkaian primer, sebagai pengamanan
terhadap manusia atau operator yang melakukan pengukuran.
Standarisasi besaran sekunder, untuk arus nominal 1 Amp dan 5 Amp

Secara fungsi trafo arus dibedakan menjadi dua yaitu:


a). Trafo arus pengukuran

Trafo arus pengukuran untuk metering memiliki ketelitian tinggi pada daerah
kerja (daerah pengenalnya) 5% 120% arus nominalnya tergantung dari kelasnya
dan tingkat kejenuhan yang relatif rendah dibandingkan trafo arus untuk proteksi.
Penggunaan trafo arus pengukuran untuk Amperemeter, Watt-meter, VARh-meter,
dan cos meter.

b). Trafo arus proteksi

Trafo arus untuk proteksi, memiliki ketelitian tinggi pada saat terjadi gangguan
dimana arus yang mengalir beberapa kali dari arus pengenalnya dan tingkat
kejenuhan cukup tinggi.
Penggunaan trafo arus proteksi untuk relai arus lebih (OCR dan GFR), relai beban
lebih, relai diferensial, relai daya dan relai jarak.
Perbedaan mendasar trafo arus pengukuran dan proteksi adalah pada titik
saturasinya seperti pada kurva saturasi dibawah ini.

Kurva kejenuhan CT untuk Pengukuran


dan Proteksi

Trafo arus untuk pengukuran dirancang supaya lebih cepat jenuh dibandingkan
trafo arus proteksi sehingga konstruksinya mempunyai luas penampang inti yang
lebih kecil .

Luas Penampang Inti Trafo


Arus

Refferensi :

Metode Pengukuran Rasio Trafo Arus


oleh Mas Bejo September 25, 2013

Pengukuran Rasio Trafo Arus


Berikut ini adalah beberapa metode pengukuran rasio trafo arus yang sering digunakan di
dunia
kelistrikan
1.
Metode
Tegangan
Pengukuran ratio bertujuan untuk membandingkan nilai ratio hasil pengukuran dengan
nilai pada nameplate. Pada sisi sekunder diinjeksikan tegangan yang sesuai, dibawah
tegangan saturasi (knee voltage) dan pada sisi primer diukur tegangan menggunakan
voltmeter skala rendah dengan impedansi tinggi (20 000 /V atau lebih). Ratio belitan
mendekati sama dengan ratio tegangan yaitu membandingkan tegangan di sisi primer
dengan tegangan disisi sekunder.

Pengukuran Ratio Trafo Arus dengan


Metode Tegangan
2.
Metode
Arus
Pengujian ini menggunakan alat uji injeksi arus (high current test injection), dilakukan
dengan mengatur catu daya pada alat uji sesuai dengan nilai yang diinginkan serta
mencatat arus pada sisi sekunder kedua CT.

Pengukuran Ratio Trafo Arus dengan


Metode Arus
Rasio dari CT adalah sama dengan rasio dari CT referensi yang dikalikan rasio antara
arus sisi sekunder CT referensi dengan arus sisi sekunder CT yang diuji, seperti
persamaan :

Nt : Rasio CT yang diuji


Nr : Rasio CT referensi
Ir : Arus CT referensi
It : Arus CT yang diuji (~ nominal)
Standard yang digunakan : IEEE Std C57.13-1993 Standard Requirements for
Instrument Transformers. Error ratio hasil pengukuran dan nameplate dikategorikan
menjadi dua batasan yaitu :

CT untuk keperluan metering : error maksimum + 0.1%


CT untuk keperluan lain (proteksi, load control dan keperluan sejenisnya) : error
maksimum + 1.2%

Refferensi :
Buku Petunjuk Batasan Operasi dan Pemeliharaan Peralatan Penyaluran Tenaga
Listrik. Trafo Arus. SK114 No 7-22/HARLUR-PST/2009. hal 7-10, Perusahaan Listrik
Negara.

Anda mungkin juga menyukai