Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam matematika keuangan, anuitas mempunyai peranan yang penting karena
banyak sekali pembayaran yang dilakukan secara tidak tunai. Pembayaran cicilan
rumah selama beberapa tahun, pembayaran cicilan mobil atau motor, pembayaran
bunga pinjaman, cara seperti ini adalah contoh dari anuitas. Dalam perhitungan
besarnya cicilan, bunga sudah diperhitungkan (Sembiring, R.K, 1986). Anuitas
dalam asuransi jiwa dan berbagai bentuk asuransi lainnya juga digunakan. Untuk
pendefinisian premi ada unsur yang paling penting dalam membentuk premi yakni
anuitas.
Pada umumnya anuitas adalah suatu rangkaian pembayaran dalam jumlah
tertentu dan dilakukan pada setiap selang waktu tertentu secara berkala.
Berdasarkan jenisnya, anuitas terbagi atas dua, yakni anuitas pasti (certain
annuity) dan anuitas hidup (life annuity). Anuitas pasti adalah suatu anuitas yang
pasti dilakukan selama jangka waktu pembayaran. Dengan kata lain bentuk
pembayaran dari anuitas pasti ini dilakukan secara berkala dalam waktu tertentu.
Kemudian pembayaran yang dilakukan tergantung hidup matinya seseorang
dinamakan anuitas hidup (Futami, T, 1988). Karena anuitas hidup merupakan
anuitas yang disertai dengan faktor kebertahanan hidup (survival) sehingga
anuitas ini akan selalu disertai dengan faktor usia. Faktor kebertahanan hidup
dalam aktuaria sangat diperlukan, khususnya dalam asuransi jiwa karena
pembayaran santunan dan manfaat yang diberikan berkaitan dengan usia hidup
sesorang (peluang hidup dan matinya seseorang).
Berdasarkan sistem pembayarannya, anuitas terbagi atas dua yakni anuitas
awal dan anuitas akhir. Pembayaran yang dilakukan setiap awal periode
dinamakan anuitas awal (due annuity) sedangkan anuitas yang pembayarannya
dilakukan setiap akhir periode dinamakan anuitas akhir (immediate annuity)
(Bowers, dkk, 1997). Dalam anuitas

juga dibedakan berdasarkan lamanya

pembayaran, pembayaran yang dilakukan selama seseorang yang berusia

tahun

masih tetap hidup dinamakan anuitas seumur hidup (whole life annuity),
sedangkan pembayaran yang dilakukan seseorang yang berusia

tahun selama

jangka waktu tertentu dinamakan anuitas berjangka (temporary annuity)


(Dickson, D, 2009). Jangka waktu yang digunakan biasanya 5 tahun, 10 tahun, 15
tahun, atau 20 tahun. Dalam penulisan ini, penulis hanya akan membahas anuitas
berjangka

tahun dengan pembayaran

kali dalam setahun.

Dickson, Hardy dan Waters (2009) menjelaskan bahwa terdapat beberapa


metode yang dapat digunakam dalam menentukan besarnya nilai tunai anuitas
seperti menggunakan asumsi UDD (Uniform Distribution of Death), metode
Woolhouse dan akurasi secara numerik. Metode Woolhouse merupakan salah satu
metode yang digunakan untuk menentukan nilai tunai anuitas yang akan
dibayarkan berdasarkan pendekatan Euler-Maclaurin. Penaksiran yang dilakukan
berdasarkan metode Woolhouse dengan menggunakan faktor percepatan mortalita
dan percepatan pembungaan ini sangat efisiensi dalam menentukan nilai tunai
anuitas.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana cara menentukan nilai tunai anuitas jiwa berjangka
pembayaran

tahun dengan

kali dalam setahun untuk individu pada akhir tahun kematian

dengan metode Woolhouse.


1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji metode Woolhouse dalam menentukan
nilai tunai anuitas jiwa berjangka
setahun pada akhir tahun kematian.

tahun dengan pembayaran

kali dalam

1.4 Batasan Masalah


Penilaian anuitas ini difokuskan pada anuitas jiwa berjangka
pembayaran

tahun dengan

kali dalam setahun dengan menggunakan Tabel Mortalitas

Indonesia 1999 (TMI 1999) untuk wanitanya. Diasumsikan pembayaran santunan


kematian dibayarkan pada akhir tahun kematian. Tingkat bunga yang digunakan
sebesar 5%.
1.5 Tinjauan Pustaka
Sembiring (1986) menjelaskan tentang berbagai anuitas, macam-macam
anuitas hubungannya dengan tingkat bunga, nilai tunai dan nilai akhir suatu
anuitas. Kemudian juga dijelaskan macam-macam anuitas yang bergantung atas
lamanya pembayaran berlangsung, yakni anuitas jiwa seumur hidup, anuitas jiwa
berjangka, dan anuitas jiwa dwiguna. Dalam buku ini juga dijelaskan cara
menentukan nilai tunai anuitasnya bila diketahui tingkat bunga yang berlaku.
Dickson, dkk (2009) menjelaskan beberapa metode yang digunakan untuk
menentukan nilai anuitas yakni menggunakan asumsi UDD (Uniform Distribution
of Death), metode Woolhouse, dan mengeksplor akurasi secara numerik.
Menentukan nilai anuitas dalam penelitian ini menggunakan metode Woolhouse.
Metode Woolhouse merupakan suatu metode dalam menentukan nilai anuitas atau
menghitung EPV (Expected Present Value) yang didasarkan pada pendekatan
formula Euler-Maclaurin.
Humairah, R (2013) menjelaskan metode Woolhouse merupakan suatu metode
untuk menentukan nilai tunai anuitas dengan pembayaran sebanyak

kali dalam

setahun. Metode Woolhouse merupakan metode yang digunakan untuk


menentukan anuitas yang dibayarkan selama interval waktu tertentu berdasarkan
formula Euler-Maclaurin. Dalam menentukan nilai tunai anuitas menggunakan
metode Woolhouse diperlukan faktor percepatan pembungaan dan percepatan
mortalita dari peserta asuransi jiwa.

1.6 Metodologi Penelitian


Penelitian ini berupa studi literatur dengan mempelajari konsep barisan dan
deret, teori peluang, tingkat bunga, teori diferensial dan integral, peluang survival,
Anuitas, penentuan nilai tunai anuitas secara umum dan terakhir penentuan nilai
tunai anuitas dengan metode Woolhouse. Perhitungan dimulai dengan
menggunakan peluang kematian seseorang yang berusia

tahun yang disajikan

dalam Tabel Mortalitas Indonesia 1999 untuk wanitanya dan jangka waktu
pembayaran selama
bunga sebesar

5%

tahun. Selanjutnya dengan menggunakan tingkat suku

dapat ditentukan faktor diskon. Faktor diskon yang diperoleh

akan digunakan dalam membentuk tabel servis.


Metode Woolhouse merupakan suatu metode yang diperoleh dari
pengembangan formula Euler-Maclaurin. Sehingga, akan dinyatakan terlebih
dahulu persamaan nilai tunai anuitas dengan formula Euler-Maclaurin. Pertama,
akan dinyatakan persamaan nilai tunai anuitas untuk pembayaran sekali dalam
setahun. Setelah itu, akan dinyatakan juga persamaan nilai tunai anuitas untuk
pembayaran

kali dalam setahun. Selanjutnya dengan menggunakan kedua

persamaan tersebut akan dibentuk persamaan nilai tunai anuitas dengan metode
Woolhouse. Setelah diperoleh persamaan nilai tunai anuitas dengan metode
Woolhouse. Selanjutnya, akan dibentuk persamaan nilai tunai anuitas jiwa
berjangka berdasarkan metode Woolhouse.
Kemudian persamaan yang dibentuk untuk nilai tunai anuitas jiwa berjangka
untuk pembayaran

kali dalam setahun berdasarkan metode Woolhouse ini akan

digunakan dalam proses pendekatan penilaian nilai tunai anuitas. Setelah


diperoleh nilai tunai anuitasnya, selanjutnya akan ditentukan nilai tunai anuitas
yang santunannya diberikan pada akhir tahun kematian.