Anda di halaman 1dari 33

RESUME

PENGANTAR GEODESI DAN GEOMATIKA

Oleh :

Arief Binsar T.

3311301008

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengantar Geodesi dan Geomatika

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA


KONSENTRASI GEOMATIKA
POLITEKNIK NEGERI BATAM
BATAM
2015

BAB 1. PENGANTAR SURVEI DAN PEMETAAN


Plan Surveying dan Geodetic Surveying
llmu ukur tanah merupakan bagian rendah dari ilmu yang lebih luas yang dinamakan ilmu
Geodesi. Ilmu Geodesi mempunyai dua maksud :
a. Maksud ilmiah : menentukan bentuk permukaan bumi
b. Maksud praktis : membuat bayangan yang dinamakan peta dari sebagian besar atau
sebagian kecil permukaan bumi. Pada maksud kedua inilah yang sering disebut dengan
istilah pemetaan. Pengukuran dan pemetaan pada dasarnya dapat dibagi 2, yaitu :
Geodetic Surveying
Plan Surveying
Perbedaan prinsip dari dua jenis pengukuran dan pemetaan di atas adalah : Geodetic
surveying suatu pengukuran untuk menggambarkan permukaan bumi pada bidang
melengkung/ellipsoida/bola. Geodetic Surveying adalah llmu, seni, teknologi untuk
menyajikan informasi bentuk kelengkungan bumi atau pada keiengkungan bola.
Sedangkan plan Surveying adalah merupakan llmu seni, dan teknologi untuk menyajikan
bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun unsur buatan manusia pada bidang yang
dianggap datar. Plan surveying di batasi oleh daerah yang sempit yaitu berkisar antara 0.5
derajat x 0.5 derajat atau 55 km x 55 km.

Bentuk bumi merupakan pusat kajian dan perhatian dalam Ilmu ukur tanah. Proses
penggambaran permukaan bumi secara fisiknya adalah berupa bola yang tidak beraturan
bentuknya dan mendekati bentuk sebuah jeruk. Hal tersebut terbukti dengan adanya
pegunungan, Lereng-lereng, dan jurang jurang.
Karena bentuknya yang tidak beraturan maka diperlukan suatu bidang matematis. Para
pakar kebumian yang ingin menyajikan informasi tentang bentuk bumi, mengalami
kesulitan karena bentuknya yang tidak beraturan ini, oleh sebab itu, mereka berusaha
mencari bentuk sistematis yang dapat mendekati bentuk bumi. Awalnya para ahli memilih
bentuk bola sebagai bentuk bumi.

Namum pada hakekatnya, bentuk bumi mengalami pemepatan pada bagian kutubkutubnya, hal ini terlihat dari Fenomena lebih panjangnya jarak lingkaran pada bagian
equator di bandingkan dengan jarak pada lingkaran yang melalui kutub utara dan kutub
selatan dan akhirnya para ahli memilih Ellipsoidal atau yang dinamakan ellips yang
berputar dimana sumbu pendeknya adalah suatu sumbu yang menghubungkan kutub utara
dan sumbu kutub selatan yang merupakan poros perputaran bumi, sedangkan sumbu
panjangnya adalah sumbu yang menghubungkan equator dengan equator yang lain
dipermukaan sebaliknya.

Bidang Ellipsoide adalah bila luas daerah lebih besar dari 5500 Km2, ellipsoide ini di dapat
dengan memutar suatu ellips dengan sumbu kecilnya sebagai sumbu putar a = 6377.397,
dan sumbu kecil b = 6356.078 m.
Bidang bulatan adalah elips dari Bessel mempunyai sumbu kurang dari 100 km. Jari-jari
bulatan ini dipilih sedemikian, sehingga bulatan menyinggung permukaan bumi di titik
tengah daerah. Bidang datar adalah bila daerah mempunyai ukuran terbesar tidak melebihi
55 km (kira-kira 10 jam jalan). Terbukti, bahwa bentuk bumi itu dapat dianggap sebagai
bentuk ruang yang terjadi dengan memutar suatu ellips dengan sumbu kecilnya sebagai
sumbu putar. Bilangan bilangan yang penting mengenai bentuk bumi yang banyak
digunakan dalam ilmu geodesi adalah :

Ellipsoid Bumi Internasional yang terakhir diusulkan pada tahun 1967 oleh: International
Assosiation of Geodesy (l.A.G) Pada Sidang Umum International Union of Geodesy and
Geophysics, dan diterimanya dengan dimensi : Salah satu hal yang harus diperhatikan
berkaitan dengan ellipsoidal bumi adalah bahwa ellipsoide bumi itu mempunyai komponen
komponen sebagai berikut :

a = 6.37788.116660,000 m
b = 6.356.774, 5161 m
e2 = 0, 006.694.605.329, 56
e2 = 0, 006..739.725.182, 32

Salah satu hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan ellipsoidal bumi adalah bahwa
ellipsoide bumi itu mempunyai komponen komponen sebagai berikut :
a adalah sumbu setengah pendek atau jari-jari equator,
b adalah setengah sumbu pendek atau jari-jari kutub,
pemepatan atau penggepengan yaitu sebagai parameter untuk menentukan bentuk
ellipsoidal/ ellips,
eksentrisitet pertama dan eksentrisitet kedua.

Keterangan : 0 = pusat bumi (pusat ellipsoide bumi)


Ku = Kutub Utara bumi
Ks = Kutub selatan bumi
EK = ekuator bumi
Untuk skala yang lebih luas, asumsi ini tidak dapat diterapkan mengingat pada
kenyataannya permukaan bumi berbentuk lengkungan bola. Asumsi bumi datar hanya dapat
diterapkan sejauh kesalahan jarak dan sudut yang terjadi akibat efek kelengkungan bumi
masih dapat diabaikan. Lingkar paralel adalah lingkaran yang memotong tegak lurus
terhadap sumbu putar bumi.
Lingkaran paralel yang tepat membagi dua belahan bumi utara-selatan yaitu lingkar paralel
00 disebut lingkaran equator. Lingkar paralel berharga positif ke utara hingga 90 pada titik
kutub utara dan sebaliknya negatif ke selatan hingga -900 pada titik kutub selatan. Lingkar
meridian adalah lingkaran yang sejajar dengan sumbu bumi dan memotong tegak lurus
bidang equator. Setengah garis lingkar meridian yang melalui kota Greenwich di UK (dari
kutub utara ke kutub selatan) disepakati sebagai garis meridian utama, yaitu longituda 00.
Setengah lingkaran tepat 1800 di belakang garis meridian utama disepakati sebagai garis
penanggalan internasional. Kedua garis ini membagi belahan bumi menjadi belahan barat
dan belahan timur. Bentuk bumi yang asli tidaklah bulat sempurna (agak lonjong) namun
pendekatan bumi sebagai bola sempurna masih cukup relevan untuk sebagian besar

kebutuhan, termasuk penentuan kedudukan dengan tingkat presisi yang relatif rendah. Pada
kenyataannya kita ingin menyajikan permukaan bumi dalam bentuk bidang datar.
Oleh sebab itu, bidang bola atau bidang ellipsoide yang akan dikupas pasti ada distorsi atau
ada perubahan bentuk karena harus ada bagian dari bidang speroid itu yang tersobekan
dengan kenyataan tersebut didekati dengan perantara bidang proyeksi. Bidang proyeksi ini
terbagi dalam tiga jenis, yaitu :
Bidang proyeksi bidang datarnya sendiri atau dinamakan perantara azimuthal dan
zenithal,
Bidang perantara yang berbentuk kerucut dinamakan bidang perantara conical,
Bidang proyeksi yang menggunakan bidang perantara berbentuk silinder yang
dinamakan bidang perantara cylindrical.
Dari bidang perantara ini ada aspek geometric dari permukaan bumi matematis itu ke
bidang datar berhubungan dengan luas, maka dinamakan proyeksi equivalent, berhubungan
dengan jarak (jarak di permukaan bumi sama dengan jarak pada bidang datar dalam
perbandingan skalanya) dinamakan proyeksi equidistance dan berhubungan dengan sudut
(sudut permukaan bumi sama dengan sudut di bidang datar) dinamakan proyeksi conform.
Contoh aplikasi yang mempertahankan geometric itu adalah proyeksi equivalent yaitu
pemetaan yang biasanya digunakan oleh BPN, proyeksi equidistance yaitu pemetaan yang
digunakan departemen perhubungan dalam hal ini misalnya jaringan jalan. Sedangkan
proyeksi conform yaitu pemetaan yang digunakan untuk keperluan navigasi laut atau udara.
Berdasarkan bidang perantara yang diterangkan di atas yaitu ada 3 jenis bidang perantara
dan mempunyai 3 jenis geometric maka kita bisa menggunakan 27 kombinasi/ variasi/
altematif untuk memproyeksikan titik-titik di atas permukaan bumi pada bidang datar. Ilmu
ukur tanah pada dasarnya terdiri dari tiga bagian besar yaitu :
a) Pengukuran kerangka dasar Vertikal (KDV)
b) Pengukuran kerangka dasar Horizontal (KDH)
c) Pengukuran Titik-titik Detail

BAB 2 : TATA SURYA DAN JAGAT RAYA


Pendahuluan
> Jagat raya merupakan ruang tak terbatas, tempat dimana ribuan galaksi berada dengan
jarak yang sangat besar dan masing-masing berukuran besar pula.
Jagat raya
Pengertian-pengertian :

Jagat raya, alam semesta, atau antariksa adalah ruang yang meluas ke segala arah
dan memiliki batas-batas yang belum dapat diketahui
Jagat raya diduga berbentuk melengkung dan dalam keadaan memuai
Jagat raya terdiri atas galaksi-galaksi atau sistem-sistem bintang yang berjumlah
ribuan.
Galaksi-galaksi terdiri atas benda-benda langit, yang membentuk sistem bintang
yang kecil-kecil.
Jadi, Jagat raya adalah ruang yang maha luas, yang tak dapat diketahui atau
dibayangkan luasnya, namun memiliki batas-batas, berbentuk, melengkung, dan
dalam keadaan memuai.

> Jagat raya dipenuhi oleh bintang-bintang dan kabut-kabut yang memberi medan gravitasi,
di mana cahaya dibelokkan dari arah lurus.
> Jagat raya disebut "kontinum dengan empat dimensi", tidak memuat eter seperti asumsi
teori lama, tapi terdiri atas dua bahan pokok, yaitu cahaya dan materi.
> Gaya Repulsi Kosmis adalah gaya dimana benda-benda bersifat saling menarik dengan
kekuatan yang berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya, tetapi juga mempunyai sifat
saling menolak dengan kekuatan yang berbanding lurus dengan jaraknya.

Paham-paham mengenai jagat raya dan alam semesta


1. Paham Antroposentris (anthropos = manusia, centrum = pusat) adalah anggapan yang
menyatakan bahwa manusia sebagai pusat segalanya.
2. Paham Geosentris (geo = bumi, centrum = pusat) adalah anggapan yang menyatakan
bahwa bumi adlaah pusat alam semesta.
3. Paham Heliosentris (helios = matahari, centrum = pusat) adalah anggapan bahwa pusat
jagat raya adalah matahari. Pandangan ini dianggap revolusioner pada masanya dan
menggantikan kedudukan paham geosentris.

1. Teori Terbentuknya Jagat Raya


a. Teori Ledakan Besar (The Big Bang Theory)
> Jagat raya berawal dari adanya suatu massa yang sangat besar dengan berat jenis besar
pula yang mengalami ledakan yang sangat dahsyat karena danya reaksi pada inti massa.
Akibat ledakan itu, bagian-bagian dari massa tersebut berserakan terpental menjauhi pusat
ledakan. Setelah milyaran tahun kemudian, bagian-bagian yang terpental itu membentuk
kelompok-kelompok yang kita kenal sebagai galaksi-galaksi.

b. Teori Mengembang dan Memampat (The Oscillating Theory)


> Jagat raya terbentuk karena adanya suatu siklus materi yang diawali dengan masa
ekspansi/mengembang yang disebabkan oleh adanya reaksi inti hidrogen, pada tahap ini
terbentuk galaksi, tahap ini diperkirakan berlangsung selama 30 milyar tahun. Lalu galaksigalaksi dan bintang yang telah terbentuk akan meredup, kemudian mempat yang didahului
dengan keluarnya pancaran panas yang sangat tinggi. setelah memampat, maka
mengembang, kemudian memampat lagi.

c. Teori Keadaan Tetap


> dikemukakan oleh Fred Hoyle dan beberapa ahli fisika lainnya
> bahwa jagat raya tidak hanya bersifat sama dalam ruang angkasa -asas kosmologi- tetapi
juga tak berubah dalam waktu -asas kosmologi yang sempurna.
2. Galaksi Dalam Jagat Raya
> Galaksi adalah kumpulan bintang yang membentuk suatu sistem yang terdiri atas satu
atau lebih benda angkasa yang berukuran besar dan dikelilingi oleh benda-benda angkasa
lainnya sebagai anggotanya yang bergerak mengelilinya secara teratur
> Di dalam ilmu astronomi, galaksi diartikan sebagai suatu sistem yang terdiri atas bintangbintang, gas dan debu yang amat luas, yang anggotanya mempunyai gaya tarik menarik
(gravitasi)

> Ciri-ciri galaksi adalah sbb :


a. Galaksi mempunyai cahaya sendiri, bukan cahaya pantulan

b. Galaksi-galaksi lain dapat terlihat berada di luar galaksi Bimasakti


c. Jarak antara galaksi yang satu dengan galaksi yang lain sejauh jutaan tahun cahaya
d. Galaksi mempunyai bentuk-bentuk tertentu, misalnya spiral, elips, dan tidak beraturan

> Galaksi dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :


a. Galaksi Spiral. Galaksi Jenis ini berbentuk seperti roda atau kincir, dengan lengan-lengan
berbentuk spiral keluar dari pusat yang terang (jumlahnya kira-kira 60%).
b. Galaksi Spiral Berpalang. Lengan-lengan spiral galaksi jenis ini keluar dari bagian ujung
suatu pusat yang berbentuk memanjang. Kira-kira 18% dari jumlah galaksi merupakan
galaksi spiral
c. Galaksi Elips. Galaksi jenis ini berbentuk elips, mulai dari berbentuk bulat hingga
berbentuk sangat lonjong (jumlahnya kira-kira 18%)
d. Galaksi Tak Beraturan. sekitar 4% dari jumlah galaksi di alam semesta berbentuk tak
beraturan atau tidak memiliki bentuk tertentu.

3. Nebula
> Nebula adalah kabut atau awan debu dan gas yang bercahaya dalam suatu kumpulan
sangat luas.
> ada 2 macam nebula, nebula gas dan nebula spiral.
> nebula spiral adalah galaksi yang juga seperti Bima Sakti, terdiri atas ratusan juta sampai
milayaran bintang, dan berada amat jauh dari kita, jauh di luar Bima Sakti.

4. Rasi Bintang
> Rasi bintang atau Konstelasi Bintang adalah kelompok bintang-bintang yang membentuk
pola tertentu dan letaknya berdekatan
contoh : bintang alfa, beta, gamma, dan delta.

5. Bintang (The Star)


> Bintang adalah benda angkasa berbentuk bulat yang mempunyai cahata sendiri.

Tata Surya (The Solar System)


> Tata surya adalah suatu sistem di jagat raya yang terdiri atas matahari sebagai pusatnya
dan planet-planet (termasuk planet Bumi), satelit-satelit alam (misalnya bulan), asteroid,
komet, meteor, debu, kabut, dan benda-benda lainnya sebagai anggotanya yang beredar
mengelilingi pusatnya, yakni matahari pada orbit atau garis edarnya masing-masing.
1. Teori Terjadinya Tata Surya
a. Teori Nebula (Kant and Laplace)
> Menurut Imanuel Kant : Tata surya berasal dari nebula, yaitu gas atau kabut tipis yang
sangat luas dan bersuhu tinggi yang berputar sangat lambat. Perputaran yang sangat lambar
ini menyebabkan terbentuknya konsentrasi materi yang mempunyai berat jenis tinggi yang
disebut inti massa. Inti massa yang terbesar terbentuk di tengah, dan yang kecil terbentuk di
sekitarnya. Lalu, karena proses pendinginan, inti-inti massa yang lebih kecil berubah
menjadi planet-planet, sedangkan yang paling besar masih tetap dalam keadaan berpijar dan
bersuhu tinggi yang disebut Matahari.
> Menurut Pierre Simon Laplace : Tata surya berasal dari bola gas yang bersuhu tinggi
dan berputar sangat cepat. Karena perputaran yang sangat cepat ini, terlepaslah bagianbagian dari bola gas tersebut dalam ukuran dan jangka waktu yang berbeda-beda, kemudian
bagian-bagian itu mendingin membentuk planet, sedangkan bola gas asal dinamakan
matahari.
b. Teori Planetesimal (Moulton dan Chamberlain)
> Tata surya berasal dari adanya bahan-bahan padat kecil yang disebut planetesimal yang
mengelilingi inti berwujud gas bersuhu tinggi. Gabungan bahan-bahan padat kecil itu
kemudian membentuk planet-planet, sedangkan inti massa yang bersifat gas dan bersuhu
tinggi membentuk matahari.
c. Teori Pasang Surut (Jeans and Jeffreys)
> Tata surya pada awalnya hanya matahari saja tanpa mempunyai anggota. Planet-planet
dan anggota lainnya terbentuk karena adanya bagian dari matahari yang tertarik dan
terlepas oleh pengaruh gravitasi bintang yang melintas ke dekat matahari. Bagian yang
terlepas itu berbentuk sepetti cerutu panjang (bagian tengah besar dan kedua ujungnya
mengecil) yang terus berputar mengelilingi matahari, sehingga lama-kelamaan mendingin
membentuk bulatan-bulatan yang disebut planet.
d. Teori Bintang Kembar (Lyttleton)

> Pada awalnya matahari merupakan bintang kembar yang satu dengan lainnya
mengelilingi. Lalu, pada suatu waktu, melintas bintang lainnya dan menabrak salah satu
bintang kembar itu dan menghancurkannya menjadi bagian-bagian kecil yang terus
berputar dan mendingin menjadi planet-planet yang mengelilingi bintang yang tidak
hancur, yaitu matahari.
e. Teori Awan Debu (Weizsaecker dan Kuiper, F.L Whippel dan Hannes Alven)
> Menurut Weizsaecker dan Kuiper : Tata surya berasal dari awan yang sangat luas yang
terdiri atas debu dan gas (hidrogen dan helium). Ketidakteraturan dalam awan tersebut
menyebabkan terjadinya penyusutan karena gaya tarik menarik dan gerakan berputar yang
sangat cepan dan teratur, sehingga terbentuklah piringan seperti cakram. Inti cakram yang
menggelembung menjadi matahari, sedangkan bagian pinggirnya berubah menjadi planetplanet.
> Menurut F.L Whippel dan Hannes Alven : Tata surya berawal dari matahari yang
berputar dengan cepat dengan piringan gas di sekelilingnya yang kemudian membentuk
planet-planet yang beredar mengelilingi matahari.
f, Hipotesis Peledakan Bintang (Fred Hoyle)
> kemungkinan matahari memiliki kawan sebuah bintang dan pada mulanya berevolusi satu
sama lain. Ada juga diantaranya yang memadat dan mungkin terjerat ke dalam orbit
matahari.
g. Hipotesis Kuiper (Gerard P. Kuiper)
> 2 pusat yang memadat berkembang dalam suatu awan antar bintang yang mengandung
gas hidrogen. Pusat yang satu lebih besar daripada pusat yang lainnya, kemudian memadat
menjadi bintang tunggal, yaitu matahari. Selanjutnya, kabut menyelimuti pusat yang lebih
kecil yang disebabkan oleh adanya gaya tarik dari massa yang lebih besar, menyebabkan
awan yang lebih kecil terpecah menjadi awan-awan kecil yang disebut protoplanet, dan
setelah waktu yang lama, menjadi planet-planet yang sekarang ini.
2. Struktur Tata Surya
Struktur utama dari tata surya adalah sebagai berikut :
a. Matahari (The Sun)
b. Planet-Planet (The Planets)
c. Bulan (The Moon) dan satelit alam lainnya
d. Asteroid
e. Komet

a. Matahari (The Sun) sebagai pusat tata surya


> Matahari mempunyari garis tengah sekitar 1.392.000 km atau sekitar 109kali garis tengah
bumi. Massa atau berat totalnya sekitar 332.000 kali bumi, columenya diperkirakan
1.300.000 kali bumi, dan temperatur di permukaannya sekitar 6.000 C, sedangkan di
pusatnya sekitar 15.000.000 C
> Dr. Bethe (1938) : dalam keadaan panas dan tekanan yang sangat tinggu, atom-atom di
dalam tubuh matahari akan kehilangan elektron-elektronnya sehingga menjadi inti atom
yang bergerak ke berbagai arah dengan kecepatan yang sangat tinggi dan menimbulkan
tumbukan antarinti atom yang menyebabkan penghancuran sebagian massanya (Massa
Defect) dan berubah menjadi energi panas dan cahaya yang dipancarkan ke berbagai arah.

1) Struktur Matahari
a) Atmosfer Matahari
> Terdiri atas 2 lapisan, yaitu kromosfer dan korona.
> Kromosfer merupakan lapisan atmosfer matahari bagian bawah yang terdiri atas gas yang
renggang berwarna merah dengan ketebalan sekitar 10.000 km. Lapisan ini sangat dinamis
karena sering muncul tonjolan cahaya berbentuk lidah api yang memancar sampai
ketinggian +200.000 km, yang disebut Prominensa (Protuberans).
> Korona adalah lapisan atmosfer matahari bagian atas yang terdiri atas gas yang sangat
renggang berwarna putih/kuning kebiruan dan mempunyai ketebalan mencapai ribuan
kilometer.
b) Fotosfer Matahari
> Merupakan lapisan berupa bulatan berwarna perak kekuningan yang terdiri atas gas padat
bersuhu tinggi.
> Di sekililing umbra biasanya terdapat lingkaran yang lebih terang disebut penumbra.
> dibagian ini sering terlihat adanya bintik/noda hitam yang disebut sebagai Sun Spots.
> Perbedaan waktu rotasi di ekuator dan kutub matahari disebabkan oleh materi dari
matahari yang terdiri atas gas yang berbeda tingkat keregangannya (densitas)
c) Barisfer atau Inti Matahari

> berdiameter sekitar 500.000 km dan temperatur sekitar 15.000.000 C. Pada bagian ini
terjadi reaksi inti beranting putar yang menyebabkan terjadinya sintesa hidrogen menjadi
helium dengan karbon sebagai katalisatornya.
bagian-bagian matahari:
a) Fotosfer
b) Limb, bagian tepi dari cakram matahari
c) Granulasi, adalah bagian perumakaan yang lebih muncul dari bagian dalam matahari.
berukurang 300-1.300 km dari tepi ke tepi, dan bertahan sampai 10 menit.
d) Kromosfer
e) Korona
f) Angin Matahari, adalah suatu aliran partikel-partikel subatomis bergerak ke dalam
ruang angkasa dengan kecepatan 350-800km/detik dan merupakan perluasan bagi korona.
g) Prominensa, adalah awan-awan hidrogen yang sangat besar dengan tinggi kira-kira
200.000 km
h) Flare, adalah gangguan pada bagian bawah korona yang terlihat sebagai kilatan-kilatan
cahaya yang cemerlang
i) Spikula, adalah kelompok-kelompok pancaran hidrogen, dengan ketinggian 8.00010.000 km. Spikula berasal dari kromosfer. Setiap Spikulad apat bertahan sampai 15 menit.

2) Pergerakan Matahari
> Rotasi Matahari adalah gerakan matahari berputar pada sumbunya yang berlangsung
sekitar 25,5 hari di bagian ekuator dan sekitar 27 hari di bagian kutub matahari untuk satu
kali putaran
> Revolusi Matahari adalah gerakan matahari beserta anggota-anggotanya mengelilingi
pusat galaksi Bima Sakti.
b) Planet-planet (The planets)
> Kata planet berasan dari bahasa Yunani yaitu planetai, yang berarti pengembara.
> Planet adalah benda angkasa yang tidak mempunyai cahaya sendiri, berbentuk bulatan,
dan beredar mengelilingi bintang (Matahari).

> Sebagian mempunyai pengiring/pengikut yang disebut satelit yang beredar mengelilingi
planet.
> Sebuah benda langit bisa disebut planet apabila memenuhi tiga syarat, yakni :
1. Mengorbit matahari;
2. Berukuran cukup besar sehingga mampu mempertahankan bentuk bulat; dan
3. Memiliki jalur orbit yang jelas dan "bersih" (tidak ada benda langit lain pada orbit
tersebut).
Klasifikasi Planet-planet :
1. Berdasarkan massanya :
a) Planet bermassa besar (Superior Planet) terdiri atas Jupiter, Saturnus, Uranus, dan
Neptunus.
b) Planet bermassa kecil (Inferior Planet) terdiri atas Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.
2. Berdasarkan Jaraknya ke Matahari :
a) Planet dalam (Interior Planet) adalah planet yang jarak rata-ratanya ke matahari lebih
pendek daripada jarak rata-rata Planet Bumi ke Matahari, terdiri atas Planet Merkurius dan
Venus.
Sudut yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan Bumi-Matahari dengan suatu planet
disebut elongasi. Elongasi planet dalam (Interior planet) dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu elongasi barat (suatu planet berada di sebelah barat matahari dilihat dari bumi) dan
elongasi timur (suatu planet berada di sebelah timur matahari dilihat dari bumi)
b) Planet luar (Eksterior Planet) adalah planet-planet yang jarak rata-ratanya ke matahari
lebih panjang daripada jarak rata-rata Planet Bumi ke Matahari, terdiri atas Planet Mars,
Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
Dilihat dari bumi, sudut elongasinya sekitar 0-180 derajat.
ila mencapai 180derajat, berarti sedang berada dalam kedudukan oposisi, yaitu kedudukan
suatu planet berlawanan arah dengan posisi matahari dilihat dari bumi, berarti planet
tersebut berada pada jarak paling dekat dengan bumi.
Bila 0derajat, berarti sedang berada dalam kedudukan konjungsi, yaitu suatu kedudukan
planet yang berada dalam posisi searah dengan matahari dilihat dari bumi, berarti planet
tersebut berada pada jarak paling jauh dengan bumi.

Planet-planet yang menjadi anggota tata surya


1) Merkurius
2) Venus
3) Bumi
4) Mars
5) Jupiter
6) Saturnus
7) Uranus
8) Neptunus

c) Komet
> komet merupakan anggota tata surya yang terdiri atas pecahan benda angkasa, es dan gas
yang membeku.
> strukturnya terdiri atas kepala (selubung gas disebut koma) dan ekor komet (dapat
mempunyai panjang sampai ribuan kilometer yang arahnya selalu menjauhi matahari).

Klasifikasi komet
1) Komet berekor panjang, yaitu komet yang garis lintasannya sangat jauh melalui daerahdaerah yang sangat dingin di angkasa, sehingga berkesempatan menyerap gas-gas di
daerahyang dilaluinya, ketika mendekati matahari komet tersebut melepaskan gas sehingga
membentuk koma & ekor yang sangat panjang. Contoh Komet Berekor Panjang
(Komet Kohoutek)
2) Komet berekor pendek, yaitu komet yang garis lintasannya sangat pendek sehingga
kurang mempunyai kesempatan untuk menyerap gas di daerah yang dilaluinya, ketika
mendekati matahari komet tersebut melepaskan gas yang sangat sedikit sehingga hanya
membentuk koma dan ekor yang sangat pendek bahkan hampir tak berekor. Contoh Komet
Berekor Pendek (Komet Encke)

d) Asteroid
> Asteroid/Planetoid adalah benda-benda langit berukuran kecil yang bergerak mengelilingi
matahari.
>ditemukan antara Orbit Mars dan Jupiter
e) Meteor dan Meteorit
> Meteor adalah benda angkasa berupa pecahan batuan yang jatuh masuk ke dalam
atmosfer bumi
> Meteor yang tidak habis terbakar di atmosfer bumi dan sampai ke permukaan bumi
disebut Meteorit
> Berdasarkan jenis kandungan unsurnya, dibedakan menjadi :
1. Meteorit batu : adalah meteorit yang kandungan materinya sebagian besar terdiri atas
kalsium dan magnesium
2. Meteorit Logam : adalah meteorit yang kandungan materinya sebagian besar terdiri atas
ferum dan nikel

f) Bulan
> Bulan adalah benda angkasa berbentuk bulat yang beredar mengelilingi bumi dalam suatu
lintasan garis edar tertentu (orbit), oleh karena itu disebut sebagai satelit alami bumi.
> Diameter bulan +/- 3.476 km
> Parak rata-rata ke bumi : +/- 384.000 km
> Periode Rotasi : +/- 27,3 hari/satu bulan sideris (peredaran bulan mengelilingi bumi
dalam suatu lingkaran penuh/360derajat)
> Periode Revolusi : +/- 27,3 hari
> Suhu pada siang hari mencapai 100 C, malam hari mencapai -150 C
> Fase Bulan adalah perubahan sudut yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan
antara matahari, bumi, dan bulan, yang menyebabkan terjadinya perubahan tampak bulan
dilihat dari bumi

3. Gerhana
> Apabila dalam peredarannya, baik bumi maupun bulan berada dalam suatu garis lurus
dengan matahari maka memungkinkan terjadinya gerhana matahari/gerhana bulan

a) Gerhana Matahari
> Gerhana matahari adalah gerhana yang terjadi akibat bayang-bayang bulan mengenai
bumi, artinya cahaya matahari yang menuju bumi pada siang hari terhalang oleh bulatan
bulan, karena diameter bulan lebih kecil dari permukaan bumi, maka hanya terjadi +/- 7
menit.
> ada 3 macam gerhana matahari, yaitu :
a. Gerhana Total
b. Gerhana Parsial
c. Gerhana Matahari Cincin (Gelang)

b) Gerhana Bulan
> Gerhana bulan adalah gerhana yang terjadi akibat bayang-bayang bumi mengenai bulan,
artinya cahaya matahari yang menuju bulan pada malam hari terhalang oleh bulatan bumi.
Karena diameter bumi lebih besar dari bulan, maka seluruh bulatan bulan tertutup oleh
bulatan bumi, sehingga akan berlangsung selama +/- 1 jam 40 menit.

BAB 3. SISTEM KOORDINAT


Untuk memudahkan pemahaman terhadap posisi benda-benda langit, diperkenalkan
beberapa sistem koordinat. Setiap sistem koordinat memiliki koordinat masing-masing.
Posisi benda langit seperti matahari dapat dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu.
Selanjutnya nilainya dapat diubah ke dalam sistem koordinat yang lain melalui suatu
transformasi koordinat.
Sistem Koordinat 2 dan 3 dimensi
Untuk menyatakan posisi sebuah benda di dalam ruang, dibutuhkan suatu sistem koordinat
yang memiliki pusat koordinat (origin) dan sumbu koordinat (axis). Sistem koordinat yang
paling dasar/sederhana adalah Kartesian (Cartesian). Jika kita berbicara ruang 2 dimensi,
maka koordinat Kartesian 2 dimensi memiliki pusat di O dan 2 sumbu koordinat yang
saling tegaklurus, yaitu x dan y. Dalam Gambar 1, titik P dinyatakan dalam koordinat x dan
y.

Gambar Koordinat Kartesian 2 dimensi (x, y)


Selanjutnya koordinat Kartesian 2 dimensi dapat diperluas menjadi Kartesian 3 dimensi
yang berpusat di O dan memiliki sumbu x, y dan z. Pada Gambar 2, titik P dapat dinyatakan
dalam x, y dan z. OP adalah jarak titik P ke pusat O.

Gambar Koordinat Kartesian 3 dimensi (x, y, z)


Koordinat Kartesian 3 dimensi (x, y, z) pada Gambar 2 dapat diubah menjadi Koordinat
Bola (Spherical Coordinate) 3 dimensi (r, Alpha, Beta) seperti pada Gambar 3. Dalam
koordinat Kartesian 3 dimensi, seluruh koordinat (x, y dan z) berdimensi panjang.
Sedangkan dalam koordinat bola, terdapat satu koordinat yang berdimensi panjang (yaitu r)
dan dua koordinat lainnya berdimensi sudut (yaitu Alpha dan Beta). Titik P masih tetap
menyatakan titik yang sama dengan titik P pada Gambar 2. Jarak titik P ke pusat O sama
dengan r. Jika titik P diproyeksikan ke bidang datar xy, maka sudut antara garis OP dengan
bidang datar xy adalah Beta. Selanjutnya sudut antara proyeksi OP pada bidang xy dengan
sumbu x adalah Alpha.

Gambar Koordinat Bola tiga dimensi (r, Alpha, Beta)


Hubungan antara (x, y, z) dengan (r, Alpha, Beta) dinyatakan dalam transformasi koordinat
berikut.

Sebagai contoh, jika titik P terletak di koordinat x = 3, y = 4 dan z = 12, maka diperoleh r =
13, Alpha = 53,13 derajat dan Beta = 67,38 derajat.
Di atas telah dibahas transformasi dari koordinat Kartesian ke koordinat bola. Berikut ini
dibahas beberapa sistem koordinat yang penting dalam ilmu hisab, yaitu:
1.
Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik (Heliocentric Ecliptical Coordinate).
2.
Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik (Geocentric Ecliptical Coordinate).
3.
Sistem Koordinat Ekuator Geosentrik (Geocentric Equatorial Coordinate).
4.
Sistem Koordinat Horison (Horizontal Coordinate).
Keempat sistem koordinat di atas termasuk ke dalam koordinat bola. Sebenarnya masih ada
sistem koordinat lainnya, seperti Sistem Koordinat Ekuator Toposentrik (Topocentric
Equatorial Coordinate) namun Insya Allah dibahas pada kesempatan lain.
Sekilas, banyaknya sistem koordinat di atas bisa membuat rumit. Namun pembagian sistem
koordinat di atas berasal dari benda langit manakah yang dijadikan pusat koordinat, apakah
bidang datar sebagai referensi serta bagaimana cara mengukur posisi benda langit lainnya.
Penting pula untuk diketahui bahwa seluruh benda langit dapat dianggap seperti titik. Bisa
pula dianggap seperti benda yang seluruhnya terkonsentrasi di pusat benda tersebut. Jika
kita memperoleh jarak bumi-bulan, maka yang dimaksud adalah jarak antara pusat bumi
dengan pusat bulan.
Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik dan Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik
sebenarnya identik. Yang membedakan keduanya hanyalah manakah yang menjadi pusat
koordinat. Pada Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik, yang menjadi pusat koordinat

adalah matahari (helio = matahari). Sedangkan pada Sistem Koordinat Ekliptika


Geosentrik, yang menjadi pusat koordinat adalah bumi (geo = bumi). Karena itu keduanya
dapat digabungkan menjadi Sistem Koordinat Ekliptika. Pada Sistem Koordinat Ekliptika,
yang menjadi bidang datar sebagai referensi adalah bidang orbit bumi mengitari matahari
(heliosentrik) yang juga sama dengan bidang orbit matahari mengitari bumi (geosentrik).
Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik (Heliocentric Ecliptical Coordinate)
Pada koordinat ini, matahari (sun) menjadi pusat koordinat. Benda langit lainnya seperti
bumi (earth) dan planet bergerak mengitari matahari. Bidang datar yang identik dengan
bidang xy adalah bidang ekliptika yatu bidang bumi mengitari matahari.

Gambar Sistem Koordinat Ekliptika Heliosentrik


Pusat koordinat: Matahari (Sun).
Bidang datar referensi: Bidang orbit bumi mengitari matahari (bidang ekliptika)
yaitu bidang xy.
o
Titik referensi: Vernal Ekuinoks (VE), didefinisikan sebagai sumbu x.
o
Koordinat:
o
r = jarak (radius) benda langit ke matahari
o
l = sudut bujur ekliptika (ecliptical longitude), dihitung dari VE
berlawanan arah jarum jam
o
b = sudut lintang ekliptika (ecliptical latitude), yaitu sudut antara
garis penghubung benda langit-matahari dengan bidang ekliptika.
o
o

Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik (Geocentric Ecliptical Coordinate)


Pada sistem koordinat ini, bumi menjadi pusat koordinat. Matahari dan planet-planet
lainnya nampak bergerak mengitari bumi. Bidang datar xy adalah bidang ekliptika, sama
seperti pada ekliptika heliosentrik.

Gambar Sistem Koordinat Ekliptika Geosentrik


Pusat Koordinat: Bumi (Earth)
Bidang datar referensi: Bidang Ekliptika (Bidang orbit bumi mengitari matahari,
yang sama dengan bidang orbit matahari mengitari bumi) yaitu bidang xy.
o
Titik referensi: Vernal Ekuinoks (VE) yang didefinisikan sebagai sumbu x.
o
Koordinat:
o
Jarak benda langit ke bumi (seringkali diabaikan atau tidak perlu
dihitung)
o
Lambda = Bujur Ekliptika (Ecliptical Longitude) benda langit
menurut bumi, dihitung dari VE.
o
Beta = Lintang Ekliptika (Ecliptical Latitude) benda langit menurut
bumi yaitu sudut antara garis penghubung benda langit-bumi dengan bidang
ekliptika
o
o

Sistem Koordinat Ekuator Geosentrik


Ketika bumi bergerak mengitari matahari di bidang Ekliptika, bumi juga sekaligus berotasi
terhadap sumbunya. Penting untuk diketahui, sumbu rotasi bumi tidak sejajar dengan
sumbu bidang ekliptika. Atau dengan kata lain, bidang ekuator tidak sejajar dengan bidang
ekliptika, tetapi membentuk sudut kemiringan (epsilon) sebesar kira-kira 23,5 derajat.

Sudut kemiringan ini sebenarnya tidak bernilai konstan sepanjang waktu. Nilainya semakin
lama semakin mengecil. Masalah ini Insya Allah akan dibahas pada kesempatan lain.

Gambar Sistem Koordinat Ekuator Geosentrik


Pusat koordinat: Bumi
Bidang datar referensi: Bidang ekuator, yaitu bidang datar yang mengiris bumi
menjadi dua bagian melewati garis khatulistiwa
o
Koordinat:
o
jarak benda langit ke bumi.
o
Alpha = Right Ascension = Sudut antara VE dengan proyeksi benda
langit pada bidang ekuator, dengan arah berlawanan jarum jam. Biasanya
Alpha bukan dinyatakan dalam satuan derajat, tetapi jam (hour disingkat h).
Satu putaran penuh = 360 derajat = 24 jam = 24 h. Karena itu jika Alpha
dinyatakan dalam derajat, maka bagilah dengan 12 untuk memperoleh
satuan derajat. Titik VE menunjukkan 0 h.
o
Delta = Declination (Deklinasi) = Sudut antara garis hubung benda
langit-bumi dengan bidang ekliptika.Nilainya mulai dari -90 derajat (selatan)
hingga 90 derajat (utara). Pada bidang ekuator, deklinasi = 0 derajat.
Seringkali, Alpha (right ascension) dinyatakan dalam bentuk H (hour angle). Hubungan
antara Alpha dengan H adalah H = LST Alpha.
o
o

Disini, LST adalah Local Sidereal Time, yang sudah penulis bahas sebelumnya pada tulisan
tentang Macam-Macam Waktu (/syariah/ilmu-hisab/macam-macam-waktu.htm)

Sistem Koordinat Horison


Pada sistem koordinat ini, pusat koordinat adalah posisi pengamat (bujur dan lintang) yang
terletak di permukaan bumi. Kadang-kadang, ketinggian pengamat dari permukaan bumi
juga ikut diperhitungkan. Bidang datar yang menjadi referensi seperti bidang xy adalah
bidang horison (bidang datar di sekitar pengamat di permukaan bumi).

Gambar Sistem Koordinat Horison


Pusat koordinat: Pengamat di permukaan bumi
Bidang datar referensi: Bidang horison (Horizon plane)
Koordinat:
o
Altitude/Elevation = sudut ketinggian benda langit dari bidang
horison. h = 0 derajat berarti benda di bidang horison. h = 90 derajat dan -90
derajat masing-masing menunjukkan posisi di titik zenith (tepat di atas
kepala) dan nadir (tepat di bawah kaki).
o
A (Azimuth) = Sudut antara arah Utara dengan proyeksi benda langit
ke bidang horison.
Jarak benda langit ke pengamat dalam sistem koordinat ini seringkali diabaikan, karena
telah dapat dihitung sebelumnya dalam sistem koordinat ekliptika.
o
o
o

Catatan penting: Dalam banyak buku referensi, azimuth seringkali diukur dari arah selatan
(South) yang memutar ke arah barat (West). Gambar 7 di atas juga menunjukkan bahwa
azimuth diukur dari arah Selatan. Namun demikian, dalam pemahaman umum, orang
biasanya menjadikan arah Utara sebagai titik referensi. Karena itu dalam tulisan ini penulis

menjadikan sudut azimuth diukur dari arah Utara. Untuk membedakannya, lambang untuk
azimuth dari arah selatan dinyatakan sebagai As, sedangkan azimuth dari arah utara
dinyatakan sebagai A saja. Hubungan antara As dan A adalah A = As 180 derajat. Jika As
atau A negatif, tinggal tambahkan 360 derajat.
Suatu sistem koordinat dengan sistem koordinat lainnya dapat dihubungkan melalui
transformasi koordinat. Misalnya, dari algoritma untuk menghitung posisi bulan menurut
sistem koordinat ekliptika geosentrik, kita dapat menentukan jarak bulan dari pusat bumi,
sudut lambda dan beta. Selanjutnya, sudut lambda dan beta ditransformasi untuk mendapat
sudut alpha dan delta dalam sistem koordinat ekuator geosentrik. Dari alpha dan beta, serta
memperhitungkan posisi pengamat (bujur dan lintang) dan waktu saat
pengamatan/penghitungan, maka sudut ketinggian (altitude) dan azimuth bulan menurut
sistem koordinat horison dapat diketahui dengan tepat. Rumus-rumus transformasi
koordinat yang membutuhkan pengetahuan trigonometri Insya Allah akan dibahas pada
tulisan mendatang.

BAB 4. SISTEM WAKTU


SKALA WAKTU
Sistem waktu umumnya dikaitkan dengan fenomena alam yang terjadi secara
berulang dan periodik dalam interval waktu yang ajeg atau seragam (uniform).
Pada dasarnya sistem waktu dikembangkan untuk mengidentifikasi kapan terjadinya
suatu peristiwa berapa lama peristiwa tersebut berlangsung.
Sistem waktu meliputi dua aspek yaitu: titik waktu dan skala waktu

1. Skala Waktu Ratasional


Skala waktu rotasional dikembangkan berdasarkan fenomena rotasi bumi. Bumi
berotasi dengan poros kutub utara-kutub selatan pada arah berlawanan dengan arah
putaran jarum jam (dilihat dari sisi kutub utara)

Gambar 1. Hari sideris, hari bintang, dan hari matahari


Pada Gambar 1, menampilkan sketsa kedudukan matahari, ekuinoks (V1), dan bumi
pada suatu saat (hari pertama) ketika matahari melintas di atas meridian A dan pada
waktu yang sama ekuinoks melintas di atas meridian B.
Durasi hari sideris yang mengacu pada ekuinox sejati disebut hari sideris sejati
(apparent sideral day) dan yang mengacu pada ekuinox rerata disbut hari sideris rata-rata
(mean sideral day)
Ekuinox sejati adalah ekuinox yang kedudukannya bervariasi karena efek presisi dan
nutasi
Ekuinox rerata ialah ekuinox yang kedudukannya bervariasi karena efek presisi saja.

Rerata hari sideris ialah 23j,56m04, 09053S, durasi hari bintang ialah 23j 56 m 098953
S (M), dan durasi hari matahari ialah 24 jam (M)

2. Tahun
Selain skala waktu, di dalam astronomi sering digunakan skala tahun, seperti tahun
tropis, tahun sideris, tahun gaussian, tahun besselian, tahun julian, tahun anomalistik,
tahun drakonik, tahun bulan, tahun platonik, dan tahun galaktik.
a. Tahun Tropis
Tahun Tropis adalah durasi waktu yang diperlukan oleh matahari untuk kembali
ke kedudukan semula dalam satu siklus pergantian musim, misal dari titik musim semi
kembali ke titik musim semi.

Gambar 2. Orbit semu tahunan mathari S


Pada Gambar 2, apabila tahun tropis dimulai pada titik acuan yang berbeda,
misalnya dari AE kembali ke AE atau dari SS kembali ke SS atau dari WS kembali ke
WS, maka akan diperoleh panjang tahun tropis yang berbeda.

b. Tahun Gaussian
Tahun Gaussian ialah panjang tahun sideris yang dihitung oleh seorang pakar
astronomi dan matematika Carl Friedrich Gauss dalam studinya tentang dinamika sistem
tata surya.
Satu tahun Gaussian = 2/k (k adalah konstanta gravitasi Gauss, dan jarak rerata

bumi ke matahari 1 AU)


Satu tahun Gaussian = 365, 2468983 hari

c. Tahun Besselian
Tahun Besselian dikembangkan oleh Friederich Bessel, meliputi skala waktu dan
epok. Satuan skala tahun Besselian ialah tahun tropis, sedangkan epok awal tahun
Besselian didefenisikan bertepatan dengan saat kedudukan bujur mean sun (M)
mencapai 280o
Sebagai contoh, waktu dalam tahun Besselian yang bertepatan dengan epok 17
Agustus 10.00 WIB ialah B1945,62538. Bilangan 0,62538 ialah fraksi tahun tropis
terhitung sejak awal tahun Besselian B1945,0

d. Tahun Julian
Tahun Julian ialah tahun menurut kalender Julian yang dikembangkan oleh Julius
Ceasar (46 sebelum masehi) dengan satuan skala tahun 365, 25 hari. Skala tahun ini
kemudian diturunkan satuan abad julian yang durasi 36,525 hari (M)

e. Tahun Anomalistik
Tahun Anomalistik ialah periode orbit bumi mengelilingi matahari dari kedudukan
perihelion kembali ke perihelion, atau dari aphelion kembali ke aphelion.
Pada Gambar 3, P dan A ialah masing-masing proyeksi perigee dan apogee pada bola
langit (ekliptika), orbit bumi mengalami bvariasi sedemikian sehingga kedudukan
perihelion dan aphelion perlahan-lahan bergeser maju (searah gerak orbit bumi)
Panjang tahun anomalistik terhitung = 365, 259635864 hari

Gambar 3. Orbit semu tahunan matahari dan orbit bulan


Panjang tahun anomalistik terhitung = 365, 259635864 hari.

f. Tahun Drakonik
Disebut juga tahun gerhana atau eclipse year ialah periode orbit semu tahunan
matahari relatif terhadap titik nodal bulan. Titik nodal bulan adalah titik perpotongan
orbit bulan dengan bidang ekliptika.
Pada Gambar 3, N1 dan N2, ialah proyeksi titik nodal bulan pada bola langit.
Panjang tahun drakonik sekitar 346,620075883 hari.

g. Tahun Bulan
Tahun bulan ialah periode waktu bagi 12 kali siklus fase blan dilihat dari bumi.
Siklus fase bulan ialah siklus perubahan fase bulan mulai dari bulan mati (konyungsi)
ke perempatan pertama, bulan purnama (oposisi), perempatan terahir, dan kembali bulan
mati.
Panjang rerata tahun bulan ialah sekitar 354, 37 hari.

h. Tahun Platonik
Tahun Platonik atau great year atau equinoctical cyclus adalah gerak ekuinoks
sepanjang ekliptika yang durasinya sekitar 25.800 tahun karena fenomena presisi.

Periode ini tidak dapat dapat dihitung dengan akurat karena laju presisi yang
bervariasi.

i. Tahun Galaktik
Tahun galaktik adalah periode orbit sistem tatasurya matahari mengelilingi pusat
galaksi bimasakti.
Panjang tahun galaktik sekitar 230 juta tahun.

WAKTU SIDERIS DAN MATAHARI


1. Skala Waktu Ratasional
Waktu sideris menunjuk ke spesifikasi titik waktu dalam rentang waktu satu hari
sideris yang berawal/berakhir pada pukul 00:00:00/24:00:00 dengan skala waktu sideris
Titik waktu sideris didasarkan pada sudut waktu ekuinoks.
Pukul 00:00:00 didefenisikan bertepatan dengan saat ekuinoks berkulminasi atas
yaitu saat sudut waktunya sama dengan nol pada meridian lokal.

Gambar 4. Waktu sideris, Vs = ekuinoks sejati (sesaat), Vm = ekuinoks rerata


Gambar 4 menampilkan sketsa proyeksi bola langit pada ekuator langit dilihat dari
kutub utara langit. LAST (Local Apparent Sideral Time) dan LMST (Local Mean
Sideral Time) ialah masing-masing waktu sideris sejati dan waktu sideris rerata untuk
meridian lokal

GAST (Greenwich Apprent Sidereal Time) dan GMST (Green Mean Sidereal
Time) ialah masingmasing waktu sideris sejati dan waktu sidereal rerata untuk
meridian greenwich.
2. Waktu Matahari
Waktu Matahari itu didasarkan dari ide bahwa saat matahari mencapai titik tertinggi
di langit, saat tersebut dinamakan tengah hari.
Waktu Matahari nyata itu didasarkan dari hari Matahari nyata, di mana interval di
antara dua kali kembalinya matahari ke lokal meridian. Waktu Matahari bisa diukur
dengan menggunakan jam Matahari.
Waktu Matahari rata-rata (mean solar time) adalah jam waktu buatan yang
dicocokan dengan pengukuran diurnal motion (gerakan nyata bintang mengelilingi bumi)
dari bintang tetap agar cocok dengan rata-rata waktu Matahari nyata.

Gambar 5. Waktu matahari (M = mean sun, S = proyeksi matahari sejati pada ekuator
langit)
Pada Gambar 5 menyajikan sketsa proyeksi bola langit pada ekuator langit dilihat
dari kutub utara langit
Panjangnya waktu Matahari rata-rata adalah konstan 24 jam sepanjang tahun
walaupun jumlah sinar matahari di dalamnya bisa berubah. Satu hari Matahari nyata bisa
berbeda dari hari Matahari rata-rata (yang berisi 86.400 detik) sebanyak 22 detik lebih
pendek sampai dengan 29 detik lebih panjang. Karena banyak hari-hari panjang atau
hari-hari pendek ini terjadi secara berturut-turut, perbedaan yang terkumpul bisa
mencapai hampir 17 menit lebih awal atau lebih dari 14 menit terlambat. Perbedaan
antara waktu Matahari nyata dan waktu Matahari rata-rata itu dinamakan persamaan
waktu.

Titik waktu dalam sistem waktu matahari didasarkan pada sudut waktu matahari.
Pukul 00:00:00 waktu matahari didefenisikan bertepatan dengan saat matahari
berkulminasi atas, yaitu saat sudut waktu matahari sama dengan nol pada meridian lokal
Pukul 24:00:00 waktu matahari berkulminasi bawah, yang mana waktu matahari
dumulai.
3. Waktu Universal
Waktu universal (bahasa Inggris Universal Time, disingkat UT) adalah satu
ukuran waktu yang didasari oleh rotasi bumi.
Satuan ini adalah kelanjutan modern dari GMT, yaitu, mean waktu matahari di
meridian di Greenwich, Inggris, yang secara lazim dianggap sebagai bujur geografis 0
derajat.
GMT sering secara keliru dianggap sebagai kesamaan dari UTC. Sebenarnya, GMT
yang dulu telah dibagi dua, menjadi UTC dan UT1.
Waktu universal (UT) dikembangkan dari GMT pada tahun 1928 dengan
pengertian bahwa hari matahari berawal an berakhir pada tengah malam, saat mean sun
berkulminasi bawah pada meridian greenwich.

WAKTU EFEMERIS
Waktu Ephemeris (Ephemeris Time - ET) didefinisikan oleh Perserikatan
Astronomi Internasional (International Astronomical Union -IAU) pada tahun 1952
sebagai pengganti Waktu Universal (Universal Time - UT) yang sering digunakan
dalam ephemeride pada tahun 1960 hingga tahun 1983.
Telah diketahui semenjak akhir abad ke 18, bahwa putaran bumi terus kehilangan
kecepatannya bila diukur dengan gerakan planet-planet disekeliling orbit tata surya
kita. Perubahan-perubahan musiman dalam rotasi bumi diamati disekitar tahun 1930, dan
memberikan kesimpulan bahwa Waktu Universal (UT) tidak cocok untuk digunakan
dalam perhitungan gerakan-gerakan planet. Pada tahun 1939, IAU mengangkat sebuah
harga dari konstan gravitasi Gauss yang memberikan harga ET, dan dasar teori ET
dikembangkan dalam tahun-tahun 1940-an dan 1950-an, dan akhirnya disempurnakan
pada tahun 1960-an.
Jam atom Caesium mulai beroperasi pada tahun 1955, dan dengan cepat membuat
jelas bahwa rotasi bumi berubah-ubah secara random. Ini menyakinkan ketidakcocokan harga mean detik matahari dari Waktu Universal (UT) sebagai satuan ukuran

waktu. Setelah tiga tahun perbandingan dengan pengamatan bulan, diambil


kesimpulan bahwa detik ephemeris, seharga 9192631770 kali resonansi Caesium.
Dalam tahun 1960, harga SIdetik didefiniskan sebagai sama dengan detik ephemeris.
Walau demikian, dasar teori Waktu Ephemeris (ET) adalah bukan berdasarkan teori
relativitas. Dalam tahun 1976, IAU menetapkan bahwa pada awal tahun 1984, ET
akan digantikan dengan dua ukuran waktu yang berdasarkan teori relativitas, yaitu
Waktu Dinamis Barisentrik (Barycentrik Dynamical Time - TDB) dan Waktu Dinamis
Terestrial (Terresterial Dynamical Time - TDT). Untuk pemakaian praktis, panjang detik
ephemeris adalah sama dengan panjang detik TDB atau TDT.