Anda di halaman 1dari 11

INFUS UMBILIKUS

PEMASANGAN KATETER UMBILIKAL


Kateterisasi umbikikal dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
1.
Kateterisasi arteri umbilical (UAC)
2.
Kateterisasi vena umbilical (UVC)
I.

1.

2.

3.

4.

KATETERISASI ARTERI UMBILIKAL (UAC)


Arteri umbilikalis merupakan cabang dari a. iliaka interna dengan diameter 2-3 mm. Pada
bayi cukup bulan, masing masing arteri mempunyai panjang 7 cm.
Indikasi
Primer
a.
BBL sakit berat yang memburtuhkan pengambilan darah berulang, atau perlu
monitoring gas darah dan saturasi O2 invasif, seperti pada keadaan gagal nafas, syok,
PPHN serta extreme prematury.
b.
Pengukuran tekanan darah arterial secara langsung
c.
Angiografi
Sekunder
a.
Transfusi tukar
b.
Infuse cairan glukosa-elektrolit maintenance atau pemberian obat-obatan jika tidak ada
tempat lain
Kontra indikasi
a.
Terdapat gangguan vaskuler di daerah panggul atau ekstremitas bawah
b.
Enterokolitis nekrotikans, kecuali pada keadaan darurat dan akses lain tidak
memungkinkan
c.
Peritonitis
d.
Omfalitis dan omfalokel
e.
Perdarahan atau kecenderungan thrombosis merupakan kontra indikasi relative
Peralatan
Steril
a.
Handuk steril untuk mengeringkan tangan dan lengan bawah
b.
Gaun operasi dan sarung tangan
c.
Duk lubang di tengah (sebaiknya transparan, sehingga bias terlihat kalau ada
komplikasi, seperti pucat pada daerah panggul dan ekstrimitas)
d.
Kateter umbilikal single lumen, radio opak, diameter kecil (Fr 3,5 untuk berat badan
<1200gr dan Fr 5 untuk berat badan >1200gr) untuk meminimalkan jumlah darah yang
harus dikeluarkan saat membersihkan kateter sebelum pengambilan sampel. Ujung
kateter harus lembut dan membulat, dan bahan yang tidak trombogenik
e.
Three way stop cock dengan luer lock
f.
Spuit
g.
Cairan NaCl 0,9% - heparin 1 Ui/cc (0,5 N saline)
h.
Kom untuk antiseptic (betadin)
i.
Set pemasangan arteri umbilikal yang terdiri dari : 1 buah duk klem, 2 buah pinset
anatomis dengan ujung runcing (pinset iris), 1 buah gunting benang, 2 buah klem arteri
bengkok, 1 buah needle holder dan 1 buah scalpel no 11 dengan gagang.
j.
Tali katun dan Benang silk no 2/0 at 3/0 dengan jarum round body
k.
Plester
l.
Kasa
Teknik pemasangan
a.
Pilih posisi pemasangan,
Letak rendah (low position) setinggi lumbal 3-4. Ujung kateter di bawah a.
renalis dan a. mesentrika, sehingga ujung kateter terletak di bifurkatio aorta atau di

b.

c.

d.
e.
f.

g.

h.

bagian atas lumbal 4.


Letak tinggi (high position) setinggi torakal 6-9. Ujung kateter di tempatkan di
atas aksis celiac. Letak tinggi lebih di sukai karena tidak akan menyebabkan oklusi a.
renalis dan mesentrika, di samping itu insiden pucat (blanching) dan sianosis pada
ekstrimitas bawah lebih rendah, tetapi pada posisi ini hipertensi renovaskuler lebih
sering di temukan.
Ukur panjang kateter yang akan di masukan. Terdapat beberapa cara pengukuran
panjang kateter arteri umbilikal, antara lain:
Mengukur jarak antara bahu bayi ke umbilicus, dan ditambahkan dengan panjang
sisa umbilikal.
Untuk UAC letak tinggi, panjang kateter bisa di ukur dengan menggunakan
rumus : (berat badan x 3) + 9cm.
Untuk UAC letak rendah, perkiraan panjang kateter di dasarkan pada berat badan
bayi:
1000 gram : 7 cm
1500 gram : 8 cm
2000 gram : 9 cm
2500 gram : 10 cm
Menggunakan grafik (mohon maaf grafiknya td bisa di tampilkan)
Lakuakn persiapan:
v Persiapan penolong. Cuci tangan steril kemudian pasang sarung tangan steril.
v Persiapan alat. Susun semua alat yang di perlukan di atas meja steril. Siapka
cairan NaCl-heparin dalam spuit 10 cc. pasang three way stopcock ke kateter
umbilikal,sambungkan dengan spuit dan isi dengan NaCl-heparin, kemudian
putar stopcock ke posisi off kea rah kateter. Hati-hati jangan sampai ada udara.
v Persiapan pasien. Ikat kedua kaki bayi dengan popok kemudian plester ke tempat
tidur atau tahan dengan menggunakan bantal pasir. Tutup alat kelamin bayi
dengan kain untuk menghindari kencing bayi mengotori lapangan tindakan.
Pegang umbilikal dengan kasa betadin atau klem (ingat umbilikal belum steril)
dan tarik lembut secara vertical. Lakukan desinfeksi dengan cairan antiseptic
(povidin dll.) sebanyak 3 kali mulai dari bagian tengah dan teruskan dengan
gerakan melingkar ke bagian luar (minimal radius 5 cm dari umbilikal) setelah
itu bersihkan umbilikal, dan pasang duk lobang di atas umbilikal.
Pasang tali katun di sekeliling umbilikal dan ikat secukupnya sehingga perdaraha dapat
di cegah, tetapi kateter umbilikal masih bias masuk.
Potong umbilikal secara horizontal dengan scalpel 1,5 cm dari kulit
Stabilisasi umbilikal dengan hemostat, dan identifikasi pembuluh darah. Vena
berukuran lebih besar, oval dengan dinding tipis. Sedangkan ke dua arteri terlihat lebih
kecil, membulat/lonjong dan berdinding tebal. Arteri biasanya konstriksi sehingga
lumennya terlihat sangat kecil (pinpoint).
Pegang pangkal umbilikal, masukkan salah satu ujung runcing pinset iris ke dalam
lumen arteri 0,5 cm, sampai lumen membuka dan kemudian lebarkan dengan pelanpelan dengan kedua ujung pinset. Pegang kateter arteri dengan pinset dan masukkan
kedalam arteri dengan lembut. Biasanaya akan terdapat tahanan di didnding anterior
abdomen, tahanan ini bias dihilangkan dengan mendorong kateter dengan lembut.
Tekanan kuat atau mengelur masukkan kateter akan membuat arteri semakin spasme.
Jika tahanan belum bias diatasi, tunggu selama 2-3 menit sampai vasospasme membaik
atau bias di coba di arteri sebelahnya.
Setelah kateter berada di tempat sesuai ukuran, darah akan mengalir dengan mudah,
kadang bias naik sendiri dan terlihat adanya pulsasi. Lakukan foto Rontgen untuk
konfirmasi posisi (AP-lateral). Harus diingat bahwa setelah lapangan steril di tutup,
kateter hanya bias ditarik, tidak boleh didorong ke dalam arteri. Jangan lupa ambil

5.

6.

sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium sebelum disambungkan denga cairan.


i.
Perhatikan adanya warna pucat, mottling atau kebiruan di kaki. Hal ini bias
disebabkan oleh vasospasme, jika tidak membaik dalam waktu beberapa menit, kateter
harus ditarik keluar pelan-pelan.
j.
Setelah posisi tepat, jahit ikatan (purse-string suture)kateter ke jelly Wharton dengan
benang silk 3/0, hati-hati jangan sampai menembus kateter. Simpulkan benang di kateter
dan tarik sisanya ke atas. Pasang plester mengikat benang dan kateter seperti bendera,
kemudian jahit lagi di bagian atas plester. Ini akan memberikan fiksasi yang cukup
sehingga kateter tidak akan berubah posisi. Selanjutnya hubungkan dengan three way ke
NaCl-heparin 1Ui/ml 0,5-1 cc/jam. Jangan memasang klem atau melakukan jahitan di
kulit perut bayi.
k.
Bersihkan lagi umbilikal, tidak perlu ditutup sehingga terlihat bila ada komplikasi.
Kateter harus di cabut bila ada tanda-tanda infeksi di umbilikal seperti kemerahan, bau
atau bernanah.
l.
Jika tidak di perlukan lagi, kateter umbilikal bias dilepas. Bersihkan umbilikal
dengan alcohol, matikan pompa infuse dan klem kateter. Tarik kateter pelan-pelan
sampai 3-4 cm dari kulit dan tempelkan ke kulit perut dengan plester. Tunggu sampai
pulsasi arteri berhenti (biasanya 10-20 menit), cabut kateter dengan lembut dan lakukan
penekanan selama 5-10 menit sampai perdarahan berhenti. Jangan telungkupkan bayi,
minimal 4 jam observasi adanya perdarahan.
Perhatian
a.
Kateter arteri terpasang hanya selama ada indikasi primer.
b.
Jangan menggunakana pipa lambung (feeding tubes) sebagai kateter. Pipa lambung
dikaitkan dengan insiden thrombosis yang lebih tinggi, selain itu tidak radio opak
sehingga tidak terlihat pada foto rontgen.
c.
Pada bayi yang sangat premature, cairan pemeliharaan NaCl 0,9%-heparin 1 Ui/cc
bias menimbulkan hipernatremia, sehingga pada pasien ini direkomendasikan cairan
dengan konsentrasi 0,5UI/cc
d.
Jangan menutup umbilicus dengan kasa atau plester setelah pemasangan kateter.
Penutupan menyebabkan komplikasi seperti perdarahan, dislokasi kateter atau infeksi,
terlambat diketahui.
Komplikasi
a.
Perdarahan
b.
Vasospasme arteri
c.
Emboli karena bekuan darah atau udara
d.
Thrombosis di daerah:
Arteri femoralis
: iskemia/gangrene di ekstrimitas bawah
Arteri renalis
: hipertensi, gagal ginjal, hematuri
Arteri mesentrika
: iskemia usus, enterokolitis nekrotikans
e.
Perforasi arteri menyebabkan perdarahan retrograde dan hematom intra abdominal
f.
Infeksi
II.
1.

KATETERISASI VENA UMBILICUS (UVC)


Anatomi
Vena umbilikalis merupakan satu-satunya vena di umbilikius, relative besar dengan
diameter 4-5 mm, panjang 2-3 cm dan berdinding tipis. Dari umbilicus, vena berjalan ke
arah kepala, sedikit kekanan dan memasuki cabang sinistra vena portal setelah
memberikan beberapa cabang kecil di dalam hepar.
2.
Indikasi
a.
Transfusi tukar
b.
Monitoring tekanan vena sentral (Central Venous Pressure/CVP)
c.
Pemberian cairan intravena, akses cepat pada keadaan darurat (saat resusitasi),

3.
4.
5.

6.

7.

pemberian produk darah atau obat-obatan.


Kontraindikasi
Sama dengan kontra indikasi UAC
Peralatan
Sama dengan persiapan alat UAC
Teknik Pemasangan
a.
Ukur panjang kateter yang akan di masukkan, terdapat beberapa cara yaitu:
Mengukur jarak antara umbilicus ke prosesus xyphoideus, ditambah dengan panjang
sisa umbilikal.
Mengukur dengan rumus :
(1,5 x BB) + 5,5cm atau
1/2 {(BB x 3) + 9 cm} +1
Menggunakan grafik (mohon maaf grafiknya td bisa di tampilkan)
b.
Lakuakn persiapan (sama dengan persiapan pemasangan UAC).
c.
Ikat umbilikal dan potong datar dengan scalpel.
d.
Identifikasi vena umbilical. Buang semua bekuan darah yang terdapat dalam vena
dengan pinset iris. Pasang kateter dengan pinset iris dan masukkan dengan lembut
sampai ukuran yang telah ditentukan. Jika terdapat tahanan pada saat memasukkan
kateter, jangan di paksa, tarik 4-5 cm, kemudian masukkan kembalisambil diputar
pelan searah jarum jam. Kalau masi ada tahanan. Kalau masi ada tahanan, bias dicoba
memasukkan kateter lain di bawa kateter pertama dan masukan dengan lembut, biasanya
kateter kedua akan langsung memasuki duktus venosus. Prosedur selanjutnya sama
dengan UAC
Perhatian
a.
Jangan biarkan kateter dalam keadaan terbuka. Tekanan negatif dari intra abdominal
bias menarik udara dan menyebabkan emboli udara.
b.
Untuk pemberian cairan, kateter harus berada di dalam vena cava, tepat di bawa
atrium kanan, tidak boleh berada di dalam vena porta.
c.
Untuk resusitasi, UVC dipasang dangkal, hanya sedikit di bawa kulit, sampai ada
aliran darah bebas (free-flow) saat ditarik dengan spuit.
Komplikasi
a.
Perdarahan, infeksi
b.
Enterokolitis nekrotikans
c.
Perforasi kolon atau peritoneum
d.
Hipertensi portal dan nekrosis hepar.

Pemasangan Infus Vena Umbilikalis


PENDAHULUAN
Angka kejadian phlebitis di rumah sakit terutama yang terjadi pada pemasangan vena kateter pada
anak sampai saat ini masih tinggi. Terkait dengan hal tersebut khususnya pada pasien dengan bayi
baru lahir pemberian cairan parenteral lebih efektif diberikan menggunakan infus melalui vena
umbilikalis. Selain vena besar, vena umbilikal juga sangat mudah dicari karena hanya satu-satunya
pembuluh darah vena di umbilikal sehingga hanya membutuhkan waktu yang relatif efisien.
VENA UMBILIKALIS

Venaumbilikalis merupakan satu-satunya vena di umbilikius, relatif besar dengan diameter 4-5 mm,
panjang 2-3 cm dan berdinding tipis. Dari umbilikus,vena berjalan ke arah kepala, sedikit ke kanan
dan memasuki cabang sinistravenaportal setelah memberikan beberapa cabang kecil di dalam hepar.
INDIKASI PEMBERIAN
1. Transfusi tukar
2. Monitoring tekananvena sentral (Central VenousPressure/CVP)
3. Pemberian cairan intravena, akses cepat pada keadaan darurat (saat resusitasi),
pemberian produk darah atau obat-obatan.
KONTRAINDIKASI
1.
2.
3.
4.
5.

Terdapat gangguan vaskuler di daerah panggul atau ekstremitas bawah


Enterokolitis nekrotikans,kecuali pada keadaan darurat dan akses lain tidak memungkinkan
Peritonitis
Omfalitis dan omfalokel
Perdarahan atau kecenderungan thrombosis merupakan kontra indikasi relatif.

PERALATAN
1. Handuk steril untuk mengeringkan tangan dan lengan bawah
2. Gaun operasi dan sarung tangan
3. Duk lubang ditengah (sebaiknya transparan, sehingga bisa terlihat kalau ada komplikasi,
seperti pucat pada daerah panggul dan ekstrimitas)
4. Kateter umbilika lsinglelumen, radioopak, diamete rkecil(Fr3,5 untuk berat badan < 1200g
dan Fr5 untuk berat badan >1200g) untuk meminimalkan jumlah darah yang harus
dikeluarkan saat membersihkan kateter sebelum pengambilan sampel. Ujung kateter harus
lembut dan membulat, dan bahan yang tidak trombogenik
5. Threeway stop cockdengan luer lock
6. Spuit
7. Cairan NaCl 0,9%- heparin1Ui/cc (0,5N saline)
8. Komuntukanti septic (betadin)
9. Set pemasangan arteri umbilikal yang terdiri dari : 1 buah dukklem, 2 buah pinset anatomis
dengan ujung runcing (pinsetiris), 1 buah gunting benang, 2 buah klemarteri bengkok, 1
buah needle holder dan 1 buah scalpel no 11 dengan gagang
10.
Tali katun dan Benang silkno2/0 at3/0 dengan jarum round body
11.
Plester
12.
Kasa
TEKNIK PEMASANGAN
1. Ukur panjang kateteryangakan di masukkan, terdapat beberapa cara yaitu:

Untuk Venaumbilikalis Mengukur jarak antara umbilikus ke prose susxyphoideus, ditambah


dengan panjang sisa umbilikal.

Untuk Arteri umbilikalis :Mengukur jarak antara umbilikus ke acromion, ditambah dengan
panjang sisa umbilikal.

Mengukur dengan rumus :(1,5x BB) + 5,5cmatau 1/2{(BB x3)+9 cm}+1

2. Lakukan persiapan

Persiapan penolong. Cuci tangan steril kemudian pasangsarung tangan steril.

Persiapan alat. Susun semua alat yang diperlukan di atas meja steril. Siapkan cairan NaClheparin dalam spuit 10cc. Pasang threewaystopcock ke kateter umbilikal, sambungkan dengan spuit
dan isi dengan NaCl-heparin, kemudian putar stopcock ke posisi off kearah kateter. Hati-hati jangan
sampai ada udara.

Persiapan pasien. Ikat kedua kaki bayi dengan popok kemudian plester ketempat tidur atau
tahan dengan menggunakan bantal pasir. Tutup alat kelamin bayi dengan kain untuk menghindar
ikencing bayi mengotori lapangan tindakan. Pegang umbilikal dengan kasa betadin atau klem (ingat
umbilikal belum steril) dan tarik lembut secara vertikal. Lakukan desinfeksi dengan cairan anti
septic (povidin dll.) sebanyak 3 kali mulai dari bagian tengah dan teruskan dengan gerakan
melingkar ke bagian luar (minimal radius 5cm dari umbilikal) setelah itu bersihkan umbilikal, dan
pasang duk lubang di atas umbilikal.
3. Ikat umbilikal dan potong datar dengan scalpel.
4. Identifikasi vena umbilikal. Buang semua bekuan darah yang terdapat dalam vena dengan
pinsetiris. Pasang kateter dengan pinsetiris dan masukkan dengan lembut sampai ukuran yang telah
ditentukan. Jika terdapat tahanan pada saat memasukkan kateter, jangan di paksa, tarik4-5cm,
kemudian masukkan kembali sambil diputar pelan searah jarum jam. Kalau masih ada tahanan, bisa
dicoba memasukkan kateter lain di bawah kateter pertama dan masukan dengan lembut, biasanya
kateter kedua akan langsung memasuki duktus venosus.
5. Target pemasangan apabila dilakukan fotorontgen:

Vena umbilikalis setinggi diafragma (vertebrathorakal IX-X)

Arteri umbilikalis

setinggi vertebra thorakalVI-IX

YANG PERLU DIPERHATIKAN


1. Jangan biarkan kateter dalam keadaan terbuka. Tekanan negatif dari intra abdominal
bisa menarik udara dan menyebabkan emboli udara.
2. Untuk pemberian cairan, kateter harus berada di dalam vena cava, tepat di bawah atrium
kanan, tidak boleh berada di dalam vena porta.
3. Untuk resusitasi, UVC dipasang dangkal, hanya sedikit dibawah kulit, sampai ada aliran
darah bebas (free-flow) saat ditarik dengan spuit.
4. Kateter umbilikal harus dilepas bila sudah tidak dibutuhkan lagi atau terjadi
malposisi/terlepas dari posisi awal.
5. Durasi pemasangan katetervena umbilikal dapatdipertahankan selama14 hari.
KOMPLIKASI
a. Perdarahan, infeksi
b. Enterokolitis nekrotikans
c. Perforasi kolon atau peritoneum
d. Hipertensi portal dan nekrosis hepar.
KESIMPULAN
Pemasangan kateterisasi vena umbilikus merupakan tindakan yang relatif efisien dalam
terapi pemberian cairan karena langsung di vena besar dalam tubuh, akan tetapi hanya bisa
dilakukan pada bayi yang baru lahir saja, karena tali pusat akan layu setelah 24 jam. Tindakan
relatif
mudah akan tetapi harus hati-hati dan selalu memperhatikan prinsip sterilisasi mengingat
komplikasi
yang ditimbulkan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Grady NPO, Alexander M, Burns LA, Dellinger P, Garland J, Heard SO, et al. Guidelines for
Prevention of Intravascular Catheter-Related Infections, 2011. Centers for Disease Control and
Prevention. 2011:1-83.
2. Cardenas G, Finelli M, Harris C, Jonas D, Martins G, Steinmass M, et al. Central Access:
Umbilical
Artery and Vein Cannulation. Clinical Best Practice Guideline. 2008:1-36.
3. O-Hara MB, Buzzard CJ, Reubens L, McDermott MP, DDiGrazio W, DAngio CT. A
Randomized
Trial Comparing Long-term and Short-term Use of Umbilical Venous Catheters in Premature
Infants with Birth Weights of Less Than 1251 Grams. Pediatrics. 2006;118(1):25-35.

Kanulasi Vena Sentral


INDIKASI KATETERISASI VENA SENTRAL
1.
Untuk menginfus cairan atau obat-obatan yang mungkin mengiritasi vena
perifer.
2.
Kanulasi jangka panjang untuk obat-obatan dan cairan, contohnya total
nutrisi parenteral atau
kemoterapi.
3.
Penderita syok.
4.
Kanulasi cepat ke jantung terutama untuk pemberian obat-obatan dalam
situasi resusitasi.
5.
Bila kanulasi ke vena perifer sulit dilakukan akibat vena yang kolaps seperti
pada hipovolemia,
ketika vena periper sulit ditemukan misalnya pada orang gemuk atau tranfusi
cairan dibutuhkan
secara cepat.
6.
Pada kerusakan vena, digunakan pada beberapa pasien dimana semua
vena perifer telah
digunakan atau rusak.
7.
Pengukuran tekanan vena sentral (Central Venous Pressure)
8.
Prosedur khusus, contohnya pemacu jantung, hemofiltrasi atau dialisis.
KONTRAINDIKASI KATETERISASI VENA SENTRAL
1.
Kanulasi vena sentral harus dipertimbangkan pemasangannya pada
penderita dengan gangguan
pada faal pembekuan darah. Dapat terjadi hema- tom yang berbahaya pada
pemasangan
melalui vena subclavia dan jugularis, terutama bila mengenai pembuluh arteri.
2.
Bila daerah pemasangan ada infeksi atau tanda-tanda radang harus dicari
tempat lain yang lebih
baik.
3.
Kelainan anatomi dan taruma thoraks bagian atas misalnya fraktur clavicula,
meningkatkan
resiko via clavicula.
4.
Penyakit paru yang kritis (COPD, asma) yang akan meningkatkan resiko
terjadinya
pneumotoraks pada pendekatan subclavia.
5.
Penderita yang sementara di heparinisasi.

Trombosis da koagulopati
7.
Penderita menolak atau tidak koperatif
8.
Operator yang tidak berpengalaman yang tidak diawasi supervisor
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum melakukan kateterisasi ke vena
sentral.
1.
Sebaiknya pemasangan kateterisasi vena sentral dilakukan diruang
tindakan yang steril (bila ada) dan tidak dilakukan dilakukan di tengah bang- sal
ruang perawatan untuk menghindari kontaminasi dan saling mengganggu dengan
pasien lain
2.
Buat informed konsen dan persetujuan keluarga.
3.
Bila penderita masih sadar, sebelum pemasangan sebaiknya penderita
diberitahukan terlebih dahulu maksud dan tujuan serta prosedur kate- terisasi vena
sentral tersebut.
4.
Kateterisasi vena sentral harus dilakukan se-asepsis mungkin mirip dengan
prosedur pembedahan.
5.
Waspadalah akan masuknya udara, walaupun pasien dalam keadaan headdown.
6.
Selalu memikirkan dimana ujung jarum berada.
7.
Darah harus dapat diaspirasi dengan mudah dari kateter intravena sebelum
cairan infus atau obat dimasukkan. Bila tidak dapat diaspirasi de- ngan mudah
berarti terjadi kesalahan penempatan sampai dibuktikan sebaliknya.
8.
Jangan menarik kembali kateter yang telah/masih ada di dalam jarum logam
(misal venocath) karena bahaya terpotongnya kateter oleh ujung jarum. Bila sampai
terpotong maka pengambilannya hanya bisa dilakukan dengan cara pembedahan.
9.
Kanulasi vena sentral dapat memakai kateter panjang untuk pemakaian
jangka lama atau dengan kateter vena yang pendek misalnya abbocath ukuran
besar untuk sementara pada keadaan darurat. Bila vena sudah terisi cairan dapat
dilanjutkan dengan kanulasi vena perifer.
10.
Dipasaran telah tersedia kateter intra vena dengan berbagai ukuran,
diameter dan panjang yang bervariasi baik dengan single lumen atau multi
lumen. Pilihlah yang sesuai dengan kebutuhan. Sesuaikan dengan lokasi
pemasangan, lama pemasangan, indikasi pemasangan dan kemampuan ekonomi
pasien.
6.

TEMPAT KATETERISASI VENA SENTRAL


Kanulasi vena sentral dapat dipasang melalui beberapa tempat, masing-masing letak
mempunyai keuntungan-keuntungan dan kerugian-keru- gian tersendiri.
Kanulasi vena sentral dapat dilakukan melalui :
1.
Vena subclavia (pendekatan infraclavicular dan supraclavicular) .
2.
Vena jugularis, pada vena jugularis interna (VJI) dan eksterna (VJE).
3.
Vena femoralis
4.
Vena antecubital, pada vena basilica atau cephalica.
5.
Vena umbilikalis, pada bayi baru lahir.
Akan tetapi tempat yang paling sering dilakukan insersi yaitu : vena subclavia (pendekatan
infraclavicular), vena jugularis interna, vena antecubital dan vena femoralis.
KATETERISASI VENA SUBCLAVIA
Anatomi

Vena subclavia adalah kelanjutan dari vena axillaris. Dimulai pada tepi lateral kosta I, terus
melintas diatas costa dan berakhir saat bergabung dengan vena jugularis interna di medial
ujung klavicula. Ini mempunyai beberapa hubungan penting. Arteri subclavia biasanya
terletak di posterior dan superior (yakni chepalad) dari vena dan dipisahkan oleh m.
scalenus anterior pada tempat insersi otot ini ke kosta I. Arteri dan vena keduanya
membentuk sulcus pada permukaan atas kosta. Pleksus brakhialis terletak di posterior
arteri dan dengan demikian terletak di posterior vena dengan jarak yang lebih dekat.
Nervus phrenikus melintas di anterior dan dapat melintas di bagian medial costa I. Nervus
vagus juga berjalan di bagian anterior subclavia tetapi agak sedikit di medial nervus
phrenikus. Nervus laryngeus recurren adalah cabang dari n. vegus. Cabang kanan
terpisah dari vagus setinggi arteri subclavia dan memutar di belakang arteri dan naik ke
atas sehingga berdekatan dengan trachea. Cabang kiri terpisah dari vagus setinggi arkus
aorta, dan memutar di belakang arkus, naik pada fissura antara oesophagus dan trakea.
Saraf-saraf tersebut juga jaraknya dekat dengan vena. Pleura dapat meluas hingga 1 inci
diatas bagian medial clavicula dan mencapai setinggi collum costa I dimana lebih tinggi
dibanding dengan artikulasio sternoclavikularis. Vena dengan demikian berada di sebelah
anterior pleura tetapi pleura meluas pada ke dua arah atas dan bawah dari vena.

Teknik Kateterisasi Vena Subclavia


Persiapan peralatan :
1.
Disinfektan (betadine,alkohol)
2.
Handscoen, masker,penutup kepala, jas sterile dan handuk
3.
Spoit 5 ml 2 buah,jarum ukuran 25-gauge.
4.
Kateter dan dilator
5.
IV tubing dan flush (Infus set, triway dan Nacl 500 ml)
6.
Jarum insersi 18-gauge (panjang 5 cm)
7.
0,035 j wire, duk steril, scalpel, benang silk no.2,0
Posisi
Letakkan pasien dengan posisi supine dengan kepala lebih rendah (tredelenberg) 10150hingga vena dapat terisi. Ini dapat tidak menyenangkan atau bahkan beresiko pada
beberapa pasien. Bila ragu-ragu, pasien dapat diletakkan dengan kepala lebih rendah saat
operator telah siap untuk melakukan punksi vena. Bahu dapat diganjal dengan handuk
gulung atau botol cairan diantara kedua bahu.
Prosedur
Cek semua peralatan sebelum mulai.
2.
Sterilisasi dan tutupi area yang akan diinsersi dengan sangat hati-hati.
3.
Palpasi fossa subclavikularis dan cek hubungannya pada incisura sternalis.
Bila jari ditempatkan
secara subclvikularis pada posisi lateral ter- dapat fossa yang jelas antara
clavicula dan costa II.
Gerakkan jari ke arah medial menuju incisura sternalis dan jari akan terhambat
pada ujung
medial clavicula. Ini adalah m. subclavius yang berjalan dari costa I menuju
permukaan inferior
clavikula memberikan pola yang baik posisi costa I dimana terletak vena
1.

subcalvia.
4.
Letakkan jari telunjuk pada incisura sternalis dan ibu jari pada daerah
pertemuan antara
clavicula dan costa I. Infiltrasi anestesi lokal (lidokain 1%) dengan jarum 25gauge 2 cm lateral
ibu jari dan 0,5 cm ke kaudal ke arah clavicula atau tepat di lateral dari insersi
m. subclavia
costa I.
5.
Vena berjalan di bawah clavicula menuju incisura sternalis. Gunakan jarum
18-gauge yang
halus dengan syringe 5 ml, masukkan jarum menusuk kulit dibagian lateral ibu
jari dan 0,5 cm
di bawah clavikula yang dimaksud untuk membuat posisi khayal pada bagian
belakang incisura
sternalis. Posisi jarum horizontal (paralel dengan lantai) untuk mencegah
pneumothoraks, dan
bevel menghadap keatas atau ke arah kaki pasien untuk mencegah kateter
masuk ke arah leher.
Aspirasi jarum lebih dulu, pertahankan jarum secara
cermat pada tepi bawah clavikula.
1.
Vena berjalan di bawah clavicula menuju incisura sternalis. Gunakan jarum
18-gauge yang
halus dengan syringe 5 ml, masukkan jarum menusuk kulit dibagian lateral
ibu jari dan 0,5 cm
di bawah clavikula yang dimaksud untuk membuat posisi khayal pada bagian
belakang incisura
sternalis. Posisi jarum horizontal (paralel dengan lantai) untuk mencegah
pneumothoraks, dan
bevel menghadap keatas atau ke arah kaki pasien untuk mencegah kateter
masuk ke arah leher.
Aspirasi jarum lebih dulu, pertahankan jarum secara cermat pada tepi bawah
clavikula.
2.
Jika tidak ada darah vena yang teraspirasi setelah penusukan sampai 5 cm
tarik pelan-pelan
sambil diaspirasi jika masih belum ada juga ulangi sekali lagi, dan apabila
masih belum berhasil
pindah ke arah kontralateral akan tetapi periksa foto thoraks dahulu sebelum
dilakukan untuk
melihat adanya pneumothoraks
3.
Bila darah teraspirasi maka posisi vena subclavia telah didapatkan dan
kanula atau jarum
seldinger dipertahankan pada posisinya dengan mantap
4.
Susupkan kawat, pasang kateter atau dilator dan kateter selanjutnya
lepaskan kawat
5.
Lakukan dengan hati-hati untuk menghindari ikut masuknya udara untuk itu
sebaiknya ujung
kateter tidak dibiarkan terbuka.
6.
Cek bahwa aspirasi darah bebas melalui kateter dan tetesan berjalan
dengan lancar.
7.
Kontrol letak kateter dengan foto thoraks.

Keuntungan kateterisasi Vena Subclavia


1.
Sangat baik untuk kanulasi jangka panjang karena posisi kateter dapat
difikasasi
dengan
baik
sehingga tidak mudah bergerak dan tidak meng- ganggu pergerakan pasien.
2.
Vena subclavia hampir selalu ada dan anatomi ini umumnya tetap.
3.
Relatif kurang infeksi dibanding pemasangan di tempat lain.
4.
Kateter mudah masuk ke vena kava superior serta landmarknya lebih
mudah pada orang yang
obes..
Kelemahan Kateterisasi Vena Subclavia
1.
Umumnya dilakukan dengan teknik buta sehingga mudah merusak stuktur
di dalam yang
tidak terlihat.
2.
Pleura, arteri, nervus phrenicus bahkan trakea mudah terjangkau oleh jarum
yang
salah
masuk
sehingga relatif lebih banyak komplikasi pneumothoraks dibanding teknik
lainnya.
3.
Bila terjadi komplikasi perdarahan relatif susah untuk ditangani.
Komplikasi kateterisasi vena subclavia
1.
Hematom
2.
Cellulitis
3.
Trombosis
4.
Plebitis
5.
Cedera pada saraf
6.
Penusukan pada arteri
7.
Pneumothoraks
8.
Hemopneumothoraks
9.
Penusukan saraf
10.
Fistel arteri-vena
11.
Neuropati perifer
12.
Kateter terputus/tertinggal di dalam
13.
Teknik monitor tidak tepat
14.
Posisi kateter tidak tepat