Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

REKAYASA GENETIKA

KODE ETIKA DALAM REKAYASA GENETIKA

DI SUSUN OLEH
NAMA

: RISKY NURHIKMAYANI

NIM

: H41112311

KELAS

: REKAYASA GENETIKA

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

2014

KODE ETIK RAKAYASA GENETIKA


Rekayasa genetika merupakan suatu cara memanipulasikan gen untuk
menghasilkan makhluk hidup baru dengan sifat yang diinginkan. Rekayasa
genetika disebut juga pencangkokan gen atau rekombinasi DNA. Dalam rekayasa
genetika digunakan DNA untuk menggabungkan sifat makhluk hidup. Hal itu
karena DNA dari setiap makhluk hidup mempunyai struktur yang sama, sehingga
dapat direkomendasikan. Selanjutnya DNA tersebut akan mengatur sifat-sifat
makhluk hidup secara turun-temurun (Anonim, 2013).
Perkembangan teknologi telah meluas cakupannya meliputi pemanfaatan
makhluk hidup sebagai media bahkan produk invensi. Bioteknologi berkembang
hingga tahap merekayasa ataupun memodifikasi gen tertentu, sehingga tumbuhtumbuhan ataupun hewan tertentu memiliki keunggulan dibandingkan tanaman
ataupun

hewan

sejenisnya.

Perkembangan

bioteknologi

telah

mampu

menghasilkan, seperti tomat yang mampu melalui proses pematangan relatif lama
setelah dipanen, sapi yang mampu menghasilkan susu lebih banyak dan dombadomba yang memiliki bulu lebih tebal untuk industri berbahan wol. Alasan
kemajuan dalam kesejahteraan umat manusia, peningkatan mutu sandang dan
pangan melalui peningkatan kualitas ternak dan pertanian menjadi alasan
pembenarannya. Namun, ekses terhadap kemajuan teknologi bersinggungan
dengan isu moralitas, agama dan ketertiban umum (Koentjoro, 2012).
Rekayasa genetika berpotensi untuk memperbaiki kesehatan kita dan
menjadi sesuatu yang lebih baik, revolusi cara hidup, membantu untuk menjaa
sumber daya yang terbatas, dan hasil kekayaan yang baru. Ketersediaan ini adalah
pengaturan yang tepat, sikap yang berfokus dengan pertimbangan etika untuk
martabat, onsekuensi bahaya, dan hukum, potensi manfaat lebih besar dari
keruguan rekayasa genetik. Penolakan terhadap rekayasa genetik tnpa alasan yang
pasti merupakan kebohongan yang tidak wajar. Teknologi dapat dimengerti
sebagai suatu perpanjangan kombiasi dengan pengetahuan tentang evolusi dan
teknik genetika (Anonim, 2012).
Sebagaimana revolusi teknologi, kegelisahan, ketakutan, dan keberatan
moral untuk produk rekyasa genetik. Orang ahli yang berpengalaman meberi

kesan hati-hati, sedankan pihak lainnya menentukan sikap berdasarkan dari


informasi, prasangka agama, atau ketakutan tanpa ilmu. Kemajuan teknologi
untuk memperbaiki kesejahteraan manusia, pertimbangan etika dengan didasari
pemahaman mekanisme rekayasa genetik menjamin peningkatan produk teknologi
(Anonim, 2012).
Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang bearti adat istiadat/ kebiasaan
yang baik. Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak
dan kewajiban moral. Etika juga dapat diartikan sebagai kumpulan asas / nilai
yang berkenaan dengan akhlak, nilai yang mengenai yang benar dan salah yang
dianut masyarakat (Irawan, 2013).
Kode etik dalam rekayasa genetika muncul sebagai hasil dari
pengaplikasian hasil rekayasa genetika yang masih menuai banyak pro dan kontra.
Sebagai contoh Kloning terhadap manusia banyak melahirkan persoalan bagi
kehidupan manusia, terutama dari sisi etika dan persoalan keagamaan serta
keyakinan, namun di sisi lain adapula beberapa manfaatnya. Namun, cloning juga
bermanfaat dimana organ manusia dapat dikloning secara selektif untuk dapat
dimanfaatkan sebagai organ pengganti bagi pemilik sel organ itu sendiri, sehingga
dapat meminimalisir resiko penolakan (Febrianto, 2012).
Ada beberapa yang ingin mengklaim bahwa rekayasa genetika merupakan
penyalah gunaan dari kebebasan kita. Jadi, pengertian bahwa hal ini adalah sebuah
penyalah gunaan kebebasan dalam tantangan dari kepercayaan petunjuk takdir
pada interpretasi pada perkiraan petunjuk takdir. Ini merupakan masalah dengan
semua teori dasar moral pada petunjuk Tuhan: bahwa semua percaya untuk
petunjuk selalu percaya pada beberapa penafsiran manusia dari petunjuk ini.
Menentang Kehendak Tuhan selalu berarti menentang beberapa penafsiran
manusia dari penafsiran kehendak Tuhan. Kesulitan dari melihat sebuah anggapan
ketuhanan dalam konteks dari rekayasa genetika adalah hal tertutup dengan fakta
bahwa tak ada dari sakral agama kebanyakan ditulis pada isu ini. Pada Bibel,
sebagai contoh, adalah diam terhadap rekombinan DNA. Lainnya, bahwa ada
anggapan bahwa rekayasa genetik melanggar kehendak Tuhan harus juga
termasuk dalam persilangan selektif dari hasil pertanian, antara tanaman dan
hewan, hal ini akan kontra dengan kehendak Tuhan. Jika mereka tidak melakukan

persilangan selektif sebagai pelanggaran kehidupan sakral, lalu mereka harus


menjelaskan bagaimana ini berbeda kualitatif dari rekayasa genetika, dimana hal
ini hanya merupakan hal kuantitatif atau proses metodologi (Anonim, 2012).
Pintu budaya kita terbuka dengan kebaikan dari penemuan manusia dan
modifikasi dari alam. Sekalipun ada sebagian agama yang menolak tehnologi
modern meskipun mencakup beberapa tehnologi; dasar dari teknologi adalah
untuk merubah hubungan dengan alam. Busana, pertanian,dan persenjataan telah
ada sejak sebelum permulaan peradaban, dan perubahan lain pada hubungan kita
dengan alam. Teknologi ini menyatakan penolakan pada alam diantara yang
lainnya, dan hasil dari kesadaran dan kesengajaan. Pada kenyataannya, cakupan
teknologi ini merubah evolusi manusia, Teknologi ini tidak hanya berakibat pada
populasi manusia, tapi juga jumlah spesies dimana manusia berhubungan dengan
pengobatan, kontrasepsi, dan persilangan selektif. Ini adalah upaya dari
pengubahan dari genom dari manusia dan spesies lain yang didasarkan pada
beberapa negara yang merupakan proses alam yang harus sejalan dengan etika
hukum yang digunakan pada pengobatan, kontrasepsi, dan persilangan selektif
dimana beberapa mungkin bagian dari kesadaran, tujuan lebih dari perubahan
pada level genetika. Perbedaan tehnik antara rekayasa genetika dan mekanisme
perubahan lain pada evolusi alam dari variasi spesies adalah berbeda antara
kesalahan dan latihan (Anonim, 2012).
Selama tahun 1980-an sejumlah Negara mulai mempertimbangkan untuk
mengatur introduksi organisme-organisme eksotis termasuk organisme hasil
rekayasa genetika. Hal ini dilakukan untuk pembatasan terhadap introduksi
organisme dan pengendalian biologis. IIBC dan organisasi internasional untuk
pengendalian biologis mendesak penerbitan kode etik internasional FAO
mengenai distribusi dan penggunaan pestisida. Walaupun tidak ada kode etik
ataupun hukum yang membahas langsung tentang rekayasa genetika, namun ada
beberapa kode etik dan hukum yang membahas tentang hal yang berkaitan dengan
rekayasa genetika. Salah satunya kode etik mengenai pelepasan agen pengendali
biologis yang dibuat tahun 1989 dan ditinjau ulang tahun 2001 dengan ketentuan
(Purnomo, 2010) :

1. Impor hanya boleh dilakukan dengan otoritas dari pihak Negara


pengimpor, yang harus menunjuk seseorang pengawas yang diberi
kekuasaan untuk mengeluarkan izin impor dan pelepasan agen.
2. Wewenang impor hanya diberikan setelah berkonsultasi dengan Negaranegara tetangga untuk mengklarifikasi setiap konflik kepentingan dan bila
ada manfaat jelas kepada masyarakat. Ini adalah tugas organisasi dalam
mengusulkan impor untuk menyediakan kebenaran ini.
3. Permohonan izin impor dan/atas pelepasan harus disertai berkas yang
lengkap dan memberikan rincian identitas, asal, spesifikasi, habitat,
metode perbanyakan dan analisis resiko untuk target luar flora, fauna, atau
manusia.
4. Pengiriman tidak boleh dilakukan sebelum izin diterima dan pengiriman
harus dikemas dan diberi label sebagaimana ditentukan oleh Negara
pengimpor. Pemberitahuan pengiriman yang memenuhi syarat harus
diberikan.
5. Tanda terima pengiriman harus dibuka dan diperiksa dikarantina. Kemasan
dan setiap materi yang terkontaminasi harus dihancurkan. Setidaknya
generasi pertama dari agen tersebut harus dibesarkan dalam karantina
kecuali dalam keadaan luar biasa ketika perbanyakan dijamin murni.
Penggunaan stasiun karantina ditiga Negara dianjurkan ketika fasilitas
tidak tersedia dinegara penerima.
6. Pelepasan hanya boleh dilakukan setelah diberi wewenang dan harus
direncanakan dengan hati-hati dan sepenuhnya didokumentasikan. Kupon
specimen harus disimpan dan pemasok harus mencoba untuk mendapatkan
umpan balik tentang bagaimana penggunaan materi.
7. Pemerintah bertanggung jawab dalam manunjuk seorang pengawas yang
tepat untuk memastikan pelatihan dan memperoleh kebijakan dari luar jika
diperlukan. Pengawas harus mengevaluasi dan mengkonsultasikan berkas
yang diajukan oleh Negara-negara tetangga. Beberapa konflik kepentingan
apapun harus diselesaikan sebelum pelepasan disahkan. Pengawas harus
menentukan syarat-syarat untuk impor dan pelepasan agen, memastikan
bahwa catatan yang tersimpan dan data tersedia secara gratis. Pemerintah
dan Negara pengekspor agen pengendali biologis harus memastikan bahwa

eksportir mematuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh importer serta


menawarkan bantuan dan nasihat jika diperlukan.
8. Produsen dan pemasok (terutama mereka yang menyediakan produkproduk komersial) harus memastikan bahwa peraturan ditaati dan bahwa
materi yang ditawarkan murni dan telah memenuhi spesifikasi dari FAO
dan WHO.
9. Kemasan harus disertai label dan izin yang tepat dan terbuat dari bahanbahan inert, tahan lepas, dan lain-lain. Produk komersial juga harus sesuai
dengan kode etik internasional dari FAO mengenai distribusi dan
penggunaan pestisida (jika agen diformulasikan sebagai pestisida) dan
disertai label yang memberikan instruksi penanganan dan penyimpanan.
Secara teknis dimungkinkan sebuah penemuan memenuhi syarat substantif
sebagaimana disyaratkan UU Paten dan berhak memperoleh perlindungannya.
Namun aspek sosial-budaya, etika dan kepatutan juga perlu diperhatikan.
Rekayasa genetika sudah tentu menimbulkan perdebatan sendiri ditinjau dari
sudut etika. Akan tetapi, sudah pasti melalui Pasal 7 huruf d butir i UU Paten,
temuan yang patentable tetapi termasuk kategori mahluk hidup, kecuali jasad
renik tidak mendapatkan tempat untuk menjadi penemuan yang memperoleh
perlindungan hukumnya di Indonesia. Apapun bentuk (end product) temuan
tersebut, terlepas dari jenis cloning atau bukan, khusus untuk mahluk hidup
termasuk hewan tidak mendapat perlindungan. Namun, merujuk pada penjelasan
Pasal 7 huruf d butir ii UU Paten (Koentjoro, 2012).:
Yang dimaksud dengan proses biologis yang esensial untuk memproduksi
tanaman atau hewan dalam butir ii adalah proses penyilangan yang bersifat
konvensional atau alami, misalnya melalui teknik stek, cangkok, atau
penyerbukan yang bersifat alami, sedangkan proses non-biologis atau proses
mikrobiologis untuk memproduksi tanaman atau hewan adalah proses
memproduksi tanaman atau hewan yang bersifat transgenik/rekayasa genetika
yang dilakukan dengan menyertakan proses kimiawi, fisika, penggunaan jasad
renik, atau bentuk rekayasa genetika lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2012. Etika Rekayasa Genetika. http://tulisanterkini.com/artikel


/pendidikan/723-etika-rekayasa-genetika.html. Diakses pada 20
Desember 2014 pukul 13.45 WITA.

Anonim.

2013. Rekayasa Genetika. http://www.artikelbiologi.com /


2013/04/rekayasa-genetika.html. Diakses pada 20 Desember 2014
pukul 13.40 WITA.
Febrianto, Herry. 2012. Analisis Kritis Rekayasa Genetika. http://herryfebrianto.
blogspot.com/2012/05/analisis-kritis-rekayasa-genetika.html. Diakses
pada 20 Desember 2014 pukul 13.18 WITA.
Irawan, Bagas. 2013. Pengertian Etika. http://bagasirawanganteng.blogspot.
com/2013/04/pengertian-etika-dari-asal-usul-kata.html. Diakses pada
20 Desember 2014 pukul 13.24 WITA.
Koentjoro, Ardianti. 2012. Adakah Perlindungan Hukum atas Hewan Hasil
Rekayasa Genetika?. http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl6713
/adakah-perlindungan-hukum-atas-hewan-hasil-rekayasa-genetika.
Diakses pada 20 Desember 2014 pukul 13.15 WITA.
Purnomo, Hari. 2010. Pengantar Pengendalian Hayati. Penerbit ANDY.
Yogyakarta.