Anda di halaman 1dari 24

TUGAS INDIVIDU

EVOLUSI

KATASTROPE DI INDONESIA

DI SUSUN OLEH
NAMA

: RISKY NURHIKMAYANI

NIM

: H41112311

KELAS

: EVOLUSI C

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

2014

KATASTROPE DI INDONESIA

1. Pengertian Katastrope
Katastrope artinya sebuah peristiwa besar yang menimbulkan rasa duka
mendalam.

Katastrope

berasal

dari

kata

yang

berarti

menjungkirbalikkan.Katastrope dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai


bencana.
Terdapat 3 katasrope di Indonesia yang berdampak pada dunia di
antaranya :
1. Toba katastrope
2. Tombora katastope
3. Krakatau katastrope

2. Toba Katastrope
Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100
kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara,
Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.
Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir.
Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun
yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling

baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University
memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu
sebanyak 2.800 km, dengan 800 km batuan ignimbrit dan 2.000 km abu
vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu
vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke
Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya
mencapai 10 km di atas permukaan laut.
Hipotesis

bencana

Toba berpendapat

bahwa

peristiwa

alam

ini

mengakibatkan musim dingin vulkanik di seluruh dunia selama 610 tahun dan
masa pendinginan selama 1.000 tahun. Letusan yang dashyat menimbulkan efekefek ganda pada lapisan biosfir. Sulfur dioksida bercampur dengan air akan
membentuk partikel-partikel asam sulfat yang beterbangan, memantulkan dan
menyerap sinar matahari. Permukaan planet menjadi dingin, stratosfir memanas
dan fotosintesa berkurang.

Gambar : Ilustrasi bencana danau toba


Sumber : http://malangnews.blogspot.com/
Teori bencana Toba adalah teori ilmiah bahwa gunung berapi Toba (di
Sumatra) telah meletus. Menurut teori ini, rata-rata suhu dunia turun hingga 3-3.5
derajat Kelvin. Hal ini menyebabkan manusia yang hidup pada masa itu
meninggal. Diperkirakan hanya 10.000 (atau bahkan 1.000) manusia yang selamat
dari bencana ini. Kemungkinan bencana ini juga menyebabkan hominid lain
punah. Setelah peristiwa ini, Bumi kembali dikolonisasi, dimulai dari Afrika.
Letusan Toba tampaknya terjadi bersamaan dengan munculnya periode
glasial terakhir. Michael L. Rampino dan Stephen Self berpendapat bahwa letusan
tersebut mengakibatkan "pendinginan singkat yang dramatis atau 'musim dingin
vulkanik'" yang menurunkan suhu permukaan rata-rata dunia sebesar 35 C dan
mempercepat transisi dari suhu panas ke dingin dalam siklus glasial
terakhir. Bukti

dari inti

es Greenland menunjukkan

adanya

periode

minim 18O selama 1.000 tahun dan peningkatan endapan debu setelah letusan
Toba. Letusan ini bisa jadi menghasilkan periode suhu dingin selama 1.000 tahun
tersebut (stadial); dua abad di antaranya disebabkan oleh bertahannya muatan
stratosfer Toba. Rampino dan Self yakin bahwa pendinginan global sudah
berlangsung saat letusan terjadi, namun prosesnya lambat; YTT "mungkin
memberi 'tendangan' kuat sehingga sistem iklim beralih dari suhu panas ke
dingin".Walaupun Clive Oppenheimer menolak hipotesis bahwa letusan ini
menyebabkan periode glasial terakhir, ia setuju bahwa letusan Toba menyebabkan

iklim dingin selama satu milenium sebelum peristiwa Dansgaard-Oeschger abad


ke-19.
Menurut Alan Robock, yang pernah menerbitkan sejumlah makalah
tentang musim dingin nuklir, letusan Toba tidak mendahului periode glasial
terakhir. Namun dengan asumsi adanya emisi sulfur dioksida sebesar enam miliar
ton, simulasi komputernya menunjukkan bahwa pendinginan global maksimum
sebesar 15 C terjadi selama tiga tahun setelah letusan, dan pendinginan tersebut
bertahan selama beberapa dasawarsa dan bersifat mematikan. Karena tingkat
selang adiabatik jenuh untuk suhu di atas titik beku adalah 4,9 C/1.000 m, garis
pohon dan garis salju pada waktu itu lebih rendah 3.000 m (9.900 ft). Iklim
kembali pulih setelah beberapa dasawarsa, dan Robock tidak menemukan bukti
bahwa periode dingin 1.000 tahun yang tercatat di inti es Greenland diakibatkan
oleh letusan Toba. Berbeda dengan Robock, Oppenheimer percaya bahwa
perkiraan penurunan suhu permukaan sebesar 35 C mungkin terlalu tinggi. Ia
berpendapat bahwa suhu turun sebesar 1 C saja. Robock mengkritik
Oppenheimer karena analisisnya didasarkan pada hubungan T-forcing yang
sederhana.
Meski ada berbagai macam perkiraan, para ilmuwan sepakat bahwa
letusan super sebesar letusan Toba pasti menghasilkan lapisan debu yang sangat
luas dan pelepasan gas beracun dalam jumlah besar ke atmosfer, sehingga
memengaruhi iklim dan cuaca di seluruh dunia. Selain itu, data inti es Greenland
memperlihatkan perubahan iklim yang mendadak pada masa letusan Toba, tetapi

tidak ada konsensus bahwa letusan ini secara langsung menciptakan periode
dingin 1.000 tahun yang tercatat di Greenland atau periode glasial terakhir.
Letusan Toba telah dikaitkan dengan penyusutan genetik evolusi manusia
sekitar 50.000 tahun yang lalu yang terjadi akibat berkurangnya jumlah manusia
karena efek letusan terhadap iklim global.
Menurut teori penyusutan genetik, antara 50.000 dan 100.000 tahun yang
lalu, populasi manusia berkurang tajam menjadi 3.00010.000 orang.[31][32] Teori
ini didukung oleh bukti genetik yang menunjukkan bahwa umat manusia masa
kini adalah keturunan dari sedikit sekali manusia, antara 1.000 sampai 10.000
pasangan, sekitar 70.000 tahun yang lalu.
Pendukung teori penyusutan genetik berpendapat bahwa letusan Toba
mengakibatkan bencana ekologi global, termasuk kehancuran tanaman diiringi
kekeringan parah di sabuk hutan hujan tropis dan kawasan monsun. Contohnya,
musim dingin vulkanik selama 10 tahun yang diakibatkan letusan telah
melenyapkan sebagian besar sumber makanan manusia dan menyebabkan
berkurangnya populasi manusia. Perubahan lingkungan seperti ini bisa jadi
menghasilkan

penyusutan

populasi

beberapa

spesies,

termasukhominid;

penyusutan ini mempercepat diferensiasi dari populasi manusia yang sedikit.


Karena itu, perbedaan genetik di kalangan manusia modern merupakan cerminan
perubahan yang terjadi pada 70.000 tahun terakhir, bukan diferensiasi bertahap
selama jutaan tahun. Selama terjadinya bencana toba terjadi :

Penyusutan genetic manusia

Teori

bencana

Toba

berpendapat

bahwa penyusutan

populasi manusia terjadi sekitar 70.000 tahun yang lalu. Jumlah


manusia berkurang menjadi kurang lebih 15.000 orang ketika Toba
meletus

dan

mengakibatkan

perubahan lingkungan besar,

termasuk musim dingin vulkanik. Teori ini didasarkan pada bukti


geologi perubahan iklim mendadak pada waktu itu dan
penggabungan beberapa gen (termasuk DNA mitokondria,
kromosom Y, dan sejumlah gen inti) serta variasi genetik yang
relatif rendah pada manusia modern. Misalnya, menurut sebuah
hipotesis, DNA
ibu/maternal)

mitokondria manusia
dan

(diwariskan

dari

garis

DNA kromosom-Y (diwariskan

dari

garis

bapak/paternal) masing-masing bergabung sekitar 140.000 dan


60.000

tahun

yang

lalu.

Ini

menunjukkan

bahwa leluhur

perempuan semua manusia modern berasal dari satu perempuan


(Eva mitokondria) sekitar 140.000 tahun yang lalu, dan leluhur
laki-lakinya berasal dari satu laki-laki (Adam kromosom-Y) sekitar
60.000 sampai 90.000 tahun yang lalu.
Namun, gabungan seperti itu dapat diperkirakan secara
genetik dan tidak benar-benar menentukan penyusutan populasi
karena DNA mitokondria dan DNA kromosom Y hanya merupakan
sebagian kecil dari genom manusia]]. Keduanya bersifat tidak biasa
(atipikal) sehingga diwariskan secara eksklusif melalui ibu atau
bapak. Kebanyakan gen diwariskan secara acak dari bapak atau
ibu, jadi tidak bisa dilacak sampai ke leluhur matrilineal atau

patrilineal. Gen-gen lain memiliki jumlah gabungan sejak 2 juta


sampai 60.000 tahun yang lalu, sehingga memunculkan keraguan
terhadap peristiwa penyusutan manusia dalam jumlah besar

Penyusutan genetic mamalia lain

Sejumlah bukti menunjukkan adanya penyusutan genetik


pada

hewan

lain

pasca

letusan

Toba. Simpanse Afrika

Timur,orangutan Kalimantan,
tengah,cheetah, harimau,

dan

monyet India
pemisahan

kelompok

gen

inti gorila daratan rendah timur dan barat berhasil mengembalikan


populasinya dari jumlah yang sangat sedikit sekitar 70.00055.000
tahun yang lalu.

3. Tambora Katastrope

Gambar : Kawah puncak gunung tambora


Sumber : http://www.branchcollective.org/
Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah strato volcanoaktif yang
terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu
Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten
Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi
timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 815' LS
dan118 BT. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak
oseanik. Tambora terbentuk olehzona subduksidi bawahnya. Hal ini meningkatkan
ketinggian Tambora sampai 4.300m yang membuat gunung ini pernah
menjadisalah

satu

puncak

tertinggi

di Nusantaradan

mengeringkan dapur

magma besar didalam gunung ini. Perlu waktu seabad untuk mengisi
kembalidapur magma tersebut.
Tambora terbentang 340 km di sebelah utara sistem palung Jawa dan 180190 km di atas zona subduksi. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan
kerak oseanik. Gunung ini memiliki laju konvergensi sebesar 7.8 cm per tahun.

Tambora diperkirakan telah berada di bumi sejak 57.000 BP (penanggalan


radiokarbon standar). Ketika gunung ini meninggi akibat proses geologi di
bawahnya, dapur magma yang besar ikut terbentuk dan sekaligus mengosongkan
isi magma. Pulau Mojo pun ikut terbentuk sebagai bagian dari proses geologi ini
di mana teluk Saleh pada awalnya merupakan cekungan samudera (sekitar 25.000
BP). Menurut penyelidikan geologi, kerucut vulkanik yang tinggi sudah terbentuk
sebelum letusan tahun 1815 dengan karakteristik yang sama dengan bentuk
stratovolcano. Diameter lubang tersebut mencapai 60 km. Lubang utama sering
kali memancarkan lava yang mengalir turun secara teratur dengan deras ke lereng
yang curam. Sejak letusan tahun 1815, pada bagian paling bawah terdapat
endapan lava dan material piroklastik. Kira-kira 40% dari lapisan diwakili oleh 14 m aliran lava tipis. Scoria tipis diproduksi oleh fragmentasi aliran lava. Pada
bagian atas, lava ditutup oleh scoria, tuff dan bebatuan piroklastik yang mengalir
ke bawah.[13] Pada gunung Tambora, terdapat 20 kawah. Beberapa kawah memiliki
nama, misalnya Tahe (877 m), Molo (602 m), Kadiendinae, Kubah (1648 m) dan
Doro Api Toi. Kawah tersebut juga memproduksi aliran lava basal.
Dengan menggunakan teknik penanggalan radiokarbon, dinyatakan bahwa
gunung Tambora telah meletus tiga kali sebelum letusan tahun 1815, tetapi
besarnya letusan tidak diketahui. Perkiraan tanggal letusannya ialah tahun 3910
SM 200 tahun, 3050 SM dan 740 150 tahun. Ketiga letusan tersebut memiliki
karakteristik letusan yang sama. Masing-masing letusan memiliki letusan di
lubang utama, tetapi terdapat pengecualian untuk letusan ketiga. Pada letusan
ketiga, tidak terdapat aliran piroklastik.

Pada tahun 1812, gunung Tambora menjadi lebih aktif, dengan puncak
letusannya terjadi pada bulan April tahun 1815. Besar letusan ini masuk ke dalam
skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan jumlah semburan tefrit
sebesar 1.6 1011 meter kubik. Karakteristik letusannya termasuk letusan di
lubang utama, aliran piroklastik, korban jiwa, kerusakan tanah dan lahan, tsunami
dan runtuhnya kaldera. Letusan ketiga ini memengaruhi iklim global dalam waktu
yang lama. Aktivitas Tambora setelah letusan tersebut baru berhenti pada tanggal
15 Juli 1815. Aktivitas selanjutnya kemudian terjadi pada bulan Agustus tahun
1819 dengan adanya letusan-letusan kecil dengan api dan bunyi gemuruh disertai
gempa susulan yang dianggap sebagai bagian dari letusan tahun 1815. Letusan ini
masuk dalam skala kedua pada skala VEI. Sekitar tahun 1880 30 tahun,
Tambora kembali meletus, tetapi hanya di dalam kaldera. Letusan ini membuat
aliran lava kecil dan ekstrusi kubah lava, yang kemudian membentuk kawah baru
bernama Doro Api Toi di dalam kaldera.
Gunung Tambora masih berstatus aktif. Kubah lava kecil dan aliran lava
masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan abad ke-20. Letusan
terakhir terjadi pada tahun 1967, yang disertai dengan gempa dan terukur pada
skala 0 VEI, yang berarti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.
Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad
sebelum tahun 1815, dikenal dengan nama gunung berapi "tidur", yang
merupakan hasil dari pendinginan hydrous magma di dalam dapur magma yang
tertutup. Di dalam dapur magma dalam kedalaman sekitar 1,5-4,5 km, larutan
padat dari cairan magma bertekanan tinggi terbentuk pada saat pendinginan dan

kristalisasi magma. Tekanan di kamar makma sekitar 4-5 kabar muncul dan
temperatur sebesar 700 C-850 C.
Pada tahun 1812, kaldera gunung Tambora mulai bergemuruh dan
menghasilkan awan hitam. Pada tanggal 5 April 1815, letusan terjadi, diikuti
dengan suara guruh yang terdengar di Makassar, Sulawesi (380 km dari gunung
Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km dari gunung Tambora),
dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar
sampai ke pulau Sumatera pada tanggal 10-11 April 1815 (lebih dari 2.600 km
dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan.
Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur
dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.
Semua tumbuh-tumbuhan di pulau hancur. Pohon yang tumbang
bercampur dengan abu batu apung masuk ke laut dan membentuk rakit dengan
jarak lintas melebihi 5 km. Rakit batu apung lainnya ditemukan di Samudra
Hindia, di dekat Kolkata pada tanggal 1 dan 3 Oktober 1815. Awan dengan abu
tebal masih menyelimuti puncak pada tanggal 23 April. Ledakan berhenti pada
tanggal 15 Juli, walaupun emisi asap masih terlihat pada tanggal 23 Agustus. Api
dan gempa susulan dilaporkan terjadi pada bulan Agustus tahun 1819, empat
tahun setelah letusan.
Akibat letusan tambora kabut kering terlihat di timur laut Amerika Serikat.
Kabut tersebut memerahkan dan mengurangi cahaya matahari, seperti bintik pada
matahari yang terlihat dengan mata telanjang. Baik angin atau hujan tidak dapat
menghilangkan "kabut" tersebut. "Kabut" tersebut diidentifikasikan sebagai kabut

aerosol sulfat stratosfer. Pada musim panas tahun 1816, negara di Belahan Utara
menderita karena kondisi cuaca yang berubah, disebut sebagai Tahun tanpa musim
panas. Temperatur normal dunia berkurang sekitar 0,4-0,7 C, cukup untuk
menyebabkan permasalahan pertanian di dunia. Pada tanggal 4 Juni 1816, cuaca
penuh es dilaporkan di Connecticut, dan dan pada hari berikutnya, hampir seluruh
New England digenggam oleh dingin. Pada tanggal 6 Juni 1816, salju turun di
Albany, New York, dan Dennysville, Maine. Kondisi serupa muncul untuk
setidaknya tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di Amerika Utara. Kanada
mengalami musim panas yang sangat dingin. Salju setebal 30 cm terhimpun
didekat Kota Quebec dari tanggal 6 sampai 10 Juni 1816.

Gambar : Daerah yang dianggap terkena dampak abu vulkanik letusan gunung
Tambora 1815
Sumber : http://id.wikipedia.org/
1816 adalah tahun terdingin kedua di Belahan Bumi Utara sejak tahun
1400 Masehi, setelah letusan gunung Huaynaputina di Peru tahun 1600. Tahun

1810-an adalah dekade terdingin dalam rekor sebagai hasil dari letusan Tambora
tahun 1815 dan lainnya menduga letusan terjadi antara tahun 1809 dan tahun
1810. Perubahan temperatur permukaan selama musim panas tahun 1816, 1817
dan tahun 1818 sebesar -0,51, -0,44 dan -0,29 C, dan juga musim panas yang
lebih dingin, bagian dari Eropa mengalami badai salju yang lebih deras.
Perubahan iklim disalahkan sebagai penyebab wabah tifus di Eropa
Tenggara dan Laut Tengah bagian timur di antara tahun 1816 dan tahun 1819.
Banyak ternak meninggal di New England selama musim dingin tahun 18161817. Suhu udara yang dingin dan hujan besar menyebabkan gagal panen di
Kepulauan Britania. Keluarga-keluarga di Wales mengungsi dan mengemis untuk
makanan. Kelaparan merata di Irlandia utara dan barat daya karena gandum, haver
dan kentang mengalami gagal panen. Krisis terjadi di Jerman, harga makanan naik
dengan tajam. Akibat kenaikan harga yang tidak diketahui menyebabkan
terjadinya demonstrasi di depan pasar dan toko roti yang diikuti dengan
kerusuhan, pembakaran rumah dan perampokan yang terjadi di banyak kota-kota
di Eropa. Ini adalah kelaparan terburuk yang terjadi pada abad ke-19.
Sebuah letusan gunung berapi sebesar letusan Tambora tahun 1815 akan
menyebabkan kematian yang lebih besar, sehingga aktivitas vulkanik di Indonesia
terus diamati, termasuk gunung Tambora.
Aktivitas seismologi di Indonesia diamati oleh Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi Indonesia. Pos pengamatan untuk gunung Tambora
terletak di desa Doro Peti. Mereka memfokuskan aktivitas seismik dan tektonik
dengan menggunakan seismometer. Sejak letusan tahun 1880, tidak terdapat

peningkatan aktivitas seismik. Pengamatan terus dilakukan di dalam kaldera,


terutama di kawah Doro Api Toi.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah menegaskan peta
mitigasi bahaya gunung Tambora. Dua zona yang dinyatakan adalah zona bahaya
dan zona waspada. Zona bahaya adalah daerah yang secara langsung terpengaruh
oleh letusan: aliran piroklastik, aliran lava dan jatuhnya piroklastik lainnya.
Daerah ini, termasuk kaldera dan sekelilingnya, meliputi daerah seluas 58,7 km.
Orang dilarang tinggal di zona berbahaya. Zona waspada termasuk daerah yang
mungkin dapat secara langsung terpengaruh oleh letusan: aliran lahar dan batuan
apung lainnya. Luas dari daerah waspada sebesar 185 km, termasuk desa
Pasanggrahan, Doro Peti, Rao, Labuan Kenanga, Gubu Ponda, Kawindana Toi
dan Hoddo. Sungai yang disebut sungai Guwu yang terletak di bagian selatan dan
barat laut gunung Tambora juga dimasukan kedalam zona waspada.

4. Krakatau Katastrope
Krakatau, sebuah kelompok pulau di Selat Sunda antara pulau Sumatra dan
Jawa adalah salah satu gunung berapi paling terkenal di dunia. Ini adalah sebuah
kaldera yang sebagian besar tenggelam dengan 3 luar pulau-pulau yang milik rim
dan kerucut baru, Anak Krakatau, yang telah membentuk pulau sejak 1927 dan
tetap aktif.
Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli
memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di
Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera
(kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba, yang merupakan induk dari

Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari
bebatuan andesitik.
Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa
Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun
416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan:

Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung


Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan
total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan
yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia.
Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke
timur

menuju

Gunung

menenggelamkannya, pulau
menciptakan pulau Sumatera

Kamula....
Jawa terpisah

Ketika
menjadi

air
dua,

Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba ini
mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai
11 kilometer.

Gambar : Letusa Gunung Krakatau tahun 1883


Sumber : http://www.sayangi.com/
Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur
menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya
dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung, dalam catatan
lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Letusan
gunung ini disinyalir bertanggung- jawab atas terjadinya abad kegelapan di muka
bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini
secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.
Letusan

ini

juga

dianggap

turut

andil

atas

berakhirnya

masa

kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke KerajaanByzantium,


berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan
jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan
Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan

kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah
membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur
sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Gambar : Letusan Gunung Krakatau 1883


Sumber : http://anjassky.blogspot.com/
Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau
Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi
yang dikenal sebagai Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata) yang terbuat dari
batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah,
bernama Gunung

Danan dan Gunung

Perbuwatan yang

kemudian

menyatu

dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api
inilah yang disebut Gunung Krakatau.

Gambar : Perbahan setelah letusan Krakatau


Sumber : http://anjassky.blogspot.com/
Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava
andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan
lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di
Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi
ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya
letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan
letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-27 Agustus 1883.
Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat
gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer.
Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di
langit Norwegia hinggaNew York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan


letusan Gunung

Toba dan Gunung

Selandia

dan Gunung

Baru

Tambora di Indonesia,Gunung

Katmal di Alaska.

Namun

Tanpo di

gunung-gunung

tersebut meletus jauh pada masa ketika populasi manusia masih sangat sedikit.
Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup
padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel
bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu
teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.
Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di
dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum
diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan
belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.Gunung Kratau
yang meletus , getarannya terasa sampai Eropa.
Krakatau meledak spektakuler di letusan Plinian menghancurkan 1883 yang
menewaskan lebih dari 30.000 orang (kebanyakan oleh tsunami besar yang dipicu
oleh letusan).
Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik
dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencapai 80 km.
Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa
dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia
Baru.

Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta


sebagian Gunung Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan
selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Gelombang laut naik setinggi 40 meter
menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini
timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.
Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari
295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak di Kota Cilegon hingga Cilamaya
di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung
Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15
km Xea rah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk
Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami
yang

ditimbulkan

bahkan

merambat

hingga

ke

pantai Hawaii,

pantai

barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.
Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya
Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari
kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya.
Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia
menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain
menyebutkan penambahan tinggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitung, maka
dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi anak Rakata mencapai 7.500 inci atau
500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu
disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini
ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut,

sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari


permukaan laut.

DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, Ayu. 2014. Katastrope Gunung Tambora. https://id.scribd.com
/doc/242526840/KATASTROFE-GUNUNG-TAMBORAdocx#download. Diakses pada 11 November 2014.
Anjas. 2013. Kisah Gunung Krakatau 1883 Meletus. http://anjassky.blogspot.
com/2013/05/kisah-gunung-krakatau-1983-meletus_2702.html. Diakses
pada 11 November 2014.
Anna, Della. 2013. Bencana Sebagai Catastrophic Event. http://kesehatan.
kompasiana.com/kejiwaan/2013/01/19/bencana-sebagai-catastrophicevent-526180.html. Diakses pada 11 November 2014.
Anonim. 2010. Bagaimana Letusan Gunung di Toba Mengubah Kehidupan Bumi.
http://konserdanautoba.wordpress.com/2010/04/22/bagaimana-letusangunung-toba-mengubah-kehidupan-di-bumi/. Diakses pada 11 November
2014.
Anonim.

2011. Teori Ilmiah Sejarah Terbentuknya Danau Toba.


http://malangnews.blogspot.com/2011/09/teori-ilmiah-sejarah-terbentuk
nya-danau.html#.VI1CvNKUchs. Diakses pada 11 November 2014.

Anonim.

2014.
Krakatau
Volcano.
http://www.volcanodiscovery.com
/id/krakatau.html. Diakses pada 11 November 2014.

Wikipedia. 2014. Catastrophe. http://en.wikipedia.org/wiki/Catastrophe. Diakses


pada 11 November 2014.