Anda di halaman 1dari 1

Gangguan erupsi gigi

Gangguan waktu erupsi


Gangguan waktu erupsi dapat dibagi menjadi 3, antara lain:
a. Erupsi Prematur
a. Erupsi prematur atau erupsi dini ialah munculnya gigi di rongga mulut yang lebih cepat dari rata-rata waktu erupsi. Gigi dinyatakan bererupsi
prematur (erupsi dini) bila gigi menembus mukosa mulut sebelum usia tiga bulan untuk gigi susu dan sebelum umur empat tahun untuk gigi
permanen.
Pada saat bayi lahir adakalanya satu atau dua gigi. insisivus mandibula sudah bererupsi di rongga mulut, gigi ini disebut dengan gigi. natal
sedangkan gigi yang nenembus mukosa mulut dalam waktu 30 hari setelah kelahiran dikenal dengan gigi neonatal. Baik gigi natal maupun gigi
neonatal merupakan contoh dari gigi yang bererupsi secara prematur.
b. Erupsi Terlambat (delayed eruption)
Gigi dinyatakan mengalami erupsi terlambat jika gigi menembus mukosa mulut lebih lambat 1-3 tahun dari waktu rata-rata erupsi gigi. Kondisi ini
dapat terjadi pada gigi susu maupun gigi permanen, tetapi lebih sering pada gigi permanen. Erupsi yang terlambat pada gigi susu maupun gigi
permanen dapat terjadi secara menyeluruh atau hanya mengenai satu atau beberapa gigi saja.
c. Kegagalan Erupsi
Kegagalan erupsi adalah gigi yang erupsinya terhalang oleh sesuatu sebab sehingga gigi tersebut tidak keluar dengan sempurna mencapai
oklusi yang normal di dalam deretan susunan gigi geligi Kegagalan erupsi dapat terjadi pada gigi susu maupun gigi permanen.
Pada umumnya faktor-faktor yang menyebabkan gigi gagal bererupsi hampir sama dengan faktor-faktor yang menyebabkan erupsi gigi yang
terlambat.

Gangguan jumlah gigi


Kelainan mengenai jumlah elemen gigi geligi normal biasanya mengenai kelebihan dan kekurangan jumlah gigi.
1. Kekurangan jumlah gigi (anodontia) terbagi atas:
a. Complete Anadontia
Complete anadonsia adalah suatu keadaan di mana semua benih gigi tidak terbentuk sama sekali, dan merupakan suatu kelainan yang sangat
jarang terjadi. Anodontia dapat terjadi hanya pada periode gigi tetap/permanen, walaupun seluruh gigi sulung telah terbentuk.
b. Oligodonsia
Oligodonsia merupakan suatu keadaan dimana tidak adanya lebih dari 6 gigi.
c. Hipodonsia
Hipodonsia merupakan suatu keadaan dimana tidak adanya gigi dalam rentang 1-6 gigi. Kondisi kelainan ini dapat melibatkan gigi susu maupun
gigi permanen, namun seringkali pada gigi permanen. Pada hipodonsia gigi-gigi yang sering tidak terbentuk adalah gigi premolar 2 rahang
bawah, insisivus 2 rahang atas, dan premolar 2 rahang atas.
Schuurs A.H.B. 1992. Patologi Gigi-Geligi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press