Anda di halaman 1dari 10
2
2

HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DAN PRESTASI BELAJAR FISIKA PADA SISWA STM

Risa Paskahandriati dan Istiana Kuswardani Universitas Setia Budi Surakarta

ABSTRAK

Mata pelajaran fisika merupakan mata pelajaran wajib yang diajarkan mulai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), maupun sekolah kejuruan, terutama Sekolah Teknik Menengah (STM). Pada kenyataannya, pelajaran yang merupakan materi wajib bagi siswa ini seringkali dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit untuk dipahami dan kurang menarik. Sebagai bukti bahwa pelajaran ini dianggap sulit, tampak pada hasil evaluasi belajar pada nilai rapor untuk pelajaran fisika menunjukkan nilai yang terendah dibanding dengan pelajaran lain. Selain belajar, ada banyak hal yang juga turut andil dalam keberhasilan proses pendidikan, salah satu diantaranya adalah dengan menumbuhkan harga diri individu, yaitu penilaian atau evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri. Harga diri yang positif merupakan faktor pendukung agar kemampuan individu yang dimiliki dapat berfungsi secara optimal. Harga diri dibutuhkan untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar fisika bagi pelajar STM adalah salah satu faktor penting dalam keberhasilan studinya. Prestasi belajar yang baik, ditunjang oleh harga diri seseorang. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: “Ada hubungan positif antara harga diri dan prestasi belajar Fisika siswa STM”. Semakin tinggi harga diri, maka semakin tinggi pula prestasi belajar Fisika. Demikian pula sebaliknya. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Harga Diri yang terdiri atas 54 butir, prestasi belajar Fisika yang diperoleh dari nilai rapor subjek, dan hasil tes SPM berupa skor mentah jumlah jawaban benar. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan program SPS-2000 dengan analisis regresi. Uji hipotesis dengan menggunakan analisis regresi diperoleh r = -0,069 dengan p<0,01. Hasil ini menunjukkan tidak ada hubungan/ korelasi antara harga diri dengan prestasi belajar fisika. Hipotesis penelitian ini ditolak. Harga diri subjek penelitian tergolong tinggi, prestasi belajar fisika rendah, dan inteligensi rata-rata.

Kata kunci: Harga Diri, Prestasi Belajar Fisika.

PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) telah berkembang dan mengalami kemajuan dengan sangat cepat, terutama pada saat teknologi digital ditemukan dan digunakan dalam semua produk teknologi. Pada dasarnya, teknologi dihasilkan untuk mempermudah kegiatan manusia dan mengurangi beban kerja manusia. Salah satu dasar untuk memahami teknologi adalah ilmu Fisika. Fisika sebagai bagian dari ilmu pengetahuan memiliki pengaruh yang sangat besar dan merupakan unsur penting dalam perkembangan teknologi. Mata pelajaran fisika merupakan mata pelajaran wajib yang diajarkan mulai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), maupun sekolah kejuruan, terutama

Sekolah Teknik Menengah (STM). Pada kenyataannya, pelajaran yang merupakan materi wajib bagi siswa ini seringkali dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit untuk dipahami dan kurang menarik. Dianggap sulit dipahami karena untuk memahami pelajaran ini perlu kemampuan abstraksi yang baik dan hafal terhadap rumus-rumus. Sedangkan anggapan bahwa pelajaran ini kurang menarik karena siswa kurang memahami manfaat belajar fisika dan lapangan kerja di bidang fisika. Sebagai bukti bahwa pelajaran ini dianggap sulit, tampak pada hasil evaluasi belajar pada nilai rapor untuk pelajaran fisika menunjukkan nilai yang terendah dibanding dengan pelajaran lain (Nurina, 2004).

4
4

Salah satu parameter keberhasilan yang dicapai seseorang adalah prestasi belajar akademik. Hal tersebut dapat diraih melalui belajar, dan dengan belajar diharapkan individu dapat mengmbangkan semua potensi yang ada semaksimal mungkin. Belajar membutuhkan dorongan, gairah, dan semangat. Tanpa semua itu, belajar menjadi hal yang membosankan, bahkan menjadi beban. Hal inilah yang menyebabkan banyak pelajar mengalami kesulitan dalam belajar dan berakibat pada prestasi belajar akademiknya. Menurut Gagne (dalam Purwanto, 1987), hasil belajar dapat dikaitkan dengan terjadinya perubahan kepandaian, kecakapan, atau kemampuan seseorang. Proses menjadi pandai itu terjadi tahap demi tahap. Hasil belajar diwujudkan dalam lima kemampuan yaitu ketrampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, ketrampilan motorik, dan sikap. Hal ini sejalan dengan pendapat Bloom (dalam Purwanto, 1987) yang menyatakan bahwa ada tiga dimensi hasil belajar yaitu dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimensi kognitif adalah kemampuan yang berhubungan dengan berpikir, mengetahui, dan memecahkan masalah seperti pengetahuan komprehensif, aplikatif, sintesis, analitis, dan pengetahuan evaluatif. Dimensi afektif adalah kemampuan yang berhubungan dengan sikap, nilai, minat, dan apresiasi. Dimensi psikomotorik adalah kemampuan yang berhubungan dengan ketrampilan motorik. Selain belajar, ada banyak hal yang juga turut andil dalam keberhasilan proses pendidikan, salah satu diantaranya adalah dengan menumbuhkan harga diri individu, yaitu penilaian atau evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri. Harga diri yang positif merupakan faktor pendukung agar kemampuan individu yang dimiliki dapat berfungsi secara optimal. Harga diri yang positif ditunjukkan dengan sikap optimis, percaya diri, sabar, mau menerima perhatian orang lain, tenang, dan bangga akan dirinya. Sebaliknya, harga diri yang negatif tampak dalam perilaku pesimis, tidak punya keyakinan, terlalu peka pada pendapat orang lain, mudah tersinggung, tidak dapat menerima perhatian dari orang lain, dan mudah khawatir. Harga diri yang positif atau negatif sebagian besar menentukan bagaimana individu berpikir, merasakan, dan cara bertindak.

Remaja yang memiliki konsep yang luhur dan sehat tentang dirinya serta merasa puas akan dirinya sendiri, jarang sekali mendapatkan prestasi belajar yang kurang. Perasaan positif tentang diri sendiri akan menyanggupkan mereka untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan keadaan yang terus berubah. Sebaliknya, remaja yang memiliki harga diri negatif akan merasa kewalahan atau tertekan dalam menghadapi tuntutan kehidupan. Nilai rapor yang rendah, teguran dari guru, tersinggungnya harga diri, mengakibatkan malas belajar sehingga mengakibatkan prestasi belajarnya menjadi rendah.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa harga diri dibutuhkan untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar fisika bagi pelajar STM adalah salah satu faktor penting dalam keberhasilan studinya. Prestasi belajar yang baik, ditunjang oleh harga diri seseorang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 2 STM Ganesha Tama Boyolali. Jumlah subjek 62 orang yang dipilih secara random dari kelas Mekanik Otomotif.

TINJAUAN PUSTAKA Prestasi Belajar Belajar adalah suatu perubahan dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian (Whiterington dalam Purwanto, 1987). Hal ini akan dapat menjadikan suatu tolok ukur pada setiap perubahan yang terjadi, sehingga individu akan sadar bahwa dirinya sedang belajar dari apa yang ia kerjakan. Hilgard & Bower (dalam Purwanto, 1987) mengatakan, bahwa belajar berhubungan dengan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, bahwa perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang, misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya. Perubahan-perubahan yang disebabkan pertumbuhan atau kematangan tersebut tidak dianggap sebagai hasil belajar.

6
6

Belajar dari segi ilmu mendidik berarti perbaikan-perbaikan tingkah laku atau memperoleh tingkah laku baru dan kecakapan-kecakapan. Dengan belajar terdapat perubahan-perubahan fungsi kejiwaan, yang menjadi syarat bagi perbaikan tingkah laku. Hal ini berarti pula menghilangkan tingkah laku dan kecakapan yang mempersempit pergaulan pelajar (Pasaribu & Simanjuntak, 1983). Perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang buruk. Belajar mengandung pengertian perubahan menuju ke arah yang lebih maju melalui suatu usaha, pengalaman, dan latihan yang disengaja. Dengan belajar akan diperoleh kecakapan, ketrampilan, dan pengetahuan. Seperti yang dikemukakan oleh Walgito (dalam Syah, 2003) bahwa belajar sebagai suatu aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu dan perubahan tersebut dapat berwujud pengetahuan maupun kecakapan- kecakapan baru yang pada dasarnya didapatkan dari usaha individu yang bersangkutan. Sedangkan Winkel (1987) mengatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan- perubahan dalam pengetahuan- pemahaman, ketrampilan dan nilai-sikap. Perubahan itu bersifat konstan dan berbekas. Dalam hal tersebut apa yang terjadi pada individu yang sedang belajar, tidak dapat diketahui secara langsung oleh orang lain, tetapi dapat diamati dari tingkah laku dan hasilnya. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan di dalam kepribadian seseorang melalui latihan atau pengalaman, dan perubahan tersebut dapat mengarah pada sesuatu yang lebih baik atau yang lebih buruk, seperti perubahan dalam berpikir, ketrampilan, kecakapan, maupun sikap.

Prestasi belajar adalah kemampuan seseorang yang diperoleh dari proses belajar (Suryabrata, 2002). Hal ini mengandung pengertian bahwa prestasi belajar adalah suatu hasil yang diperoleh siswa dalam usaha belajar yang dilakukannya dan ini memberikan arti

bahwa prestasi belajar merupakan produk dari suatu proses. Proses yang dilakukan individu adalah kegiatan belajar, prestasi belajar ini biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai atau indeks prestasi yang diperoleh dari hasil pengukuran prestasi belajar.

Prestasi belajar juga dapat diartikan sebagai suatu pengungkapan hasil belajar yang meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Perubahan tingkah laku yang dianggap penting, diharapkan dapat mencerminkan perubahan

yang terjadi sebagai hasil belajar siswa (Syah, 2003). Menurut Sudjana (1995), prestasi belajar adalah proses penentuan tingkat kecakapan penguasaan belajar seseorang dengan cara membandingkannya dengan norma tertentu dalam system penilaian

disepakati

(www.depdiknas/jurnal/prestasi). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi belajar didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). Pasaribu dan Simanjuntak (1983) mengatakan bahwa prestasi adalah hasil yang diperoleh seseorang setelah mengikuti pendidikan atau latihan tertentu, dapat ditentukan dengan memberikan tes pada akhir pelajaran. Prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam maupun dari luar diri individu. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dalam rangka membantu mereka dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya. Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil dari suatu aktivitas belajar yang telah dilakukan berdasar pengukuran dan penilaian terhadap hasil pendidikan yang dinyatakan dalam nilai rapor sebagai cerminan hasil belajar yang dicapai dalam kurun waktu tertentu. Keberhasilan atau kegagalan siswa dalam meraih prestasi belajar di sekolah, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Prestasi belajar bagi seorang siswa sebenarnya berkaitan dengan berbagai hal yang meliputi keadaan individu tersebut, baik yang mendahului maupun sewaktu prestasi itu diperoleh.

yang

7
7

Dasar kemampuan yang dimiliki, lingkungan, kesempatan, fasilitas, dan suasana mental pengalaman masa lampau, dan proses belajarnya merupakan bagian dari keadaan tersebut, oleh karena itu keberhasilan tiap-tiap individu akan berbeda. Berhasil tidaknya suatu proses belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Menurut Suryabrata (2002), faktor- faktor tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Faktor yang berasal dari luar diri pelajar

a. Faktor non sosial. Kelompok faktor ini boleh dikatakan juga tidak terbilang jumlahnya, seperti misalnya: keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi, siang, sore, atau malam), tempat, alat-alat yang dipakai untuk belajar seperti alat-alat tulis, buku-buku, alat peraga, dan sebagainya.

b. Faktor sosial. Faktor sosial yang dimaksud adalah faktor manusia (sesama manusia), baik manusia itu hadir secara langsung maupun tidak secara langsung. Kehadiran orang lain (keluarga, teman, ataupun guru) pada waktu seseorang sedang belajar.

2. Faktor-faktor yang berasal dalam diri si pelajar

a. Faktor-faktor fisiologis. Faktor fisiologis dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu keadaan tonus jasmani pada umumnya dan keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu.

b. Faktor psikologis. Termasuk di dalamnya adalah motivasi, cita-cita, keinginan, ingatan, perhatian, pengalaman, dan motif-motif yang mendorong belajar siswa. Kebutuhan psikologis ini paada umumnya bersifat individual. Purwanto (1987) mengatakan

bahwa berhasil tidaknya belajar tergantung pada bermacam-macam faktor. Faktor tersebut dibedakan menjadi dua macam:

a. Faktor individual. Faktor yang ada dalam diri individu meliputi faktor kematangan/ pertumbuhan, kecerdasan/ inteligensi, latihan/ ulangan, motivasi, dan sifat-sifat pribadi seseorang.

b. Faktor sosial. Faktor yang ada di luar individu meliputi faktor keluarga/

keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang digunakan dalam proses belajar- mengajar, lingkungan, dan kesempatan yang tersedia, serta motivasi sosial. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi

prestasi belajar adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu seperti kondisi fisik dan psikologis dan faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi faktor lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam proses belajar, individu sering mengabaikan tentang perkembangan hasil belajar. Pengenalan terhadap hasil atau kemajuan belajar adalah penting karena dengan mengetahui hasil yang sudah dicapai, seseorang akan lebih berusaha meningkatkan hasil belajar selanjutnya (Ahmadi & Supriyono, 2004). Fungsi utama dari prestasi belajar menurut Azwar (1996) adalah sebagai berikut:

a. Fungsi penempatan adalah penggunaan hasil tes prestasi belajar untuk klasifikasi individu ke dalam bidang atau jurusan yang sesuai dengan kemampuannya.

b. Fungsi formatif adalah penggunaan hasil tes belajar untuk melihat sejauhmana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program pelajaran.

c. Fungsi diagnostik adalah manfaat tes prestasi untuk mendiagnosis kesukaran- kesukaran dalam belajar dan mendeteksi kelemahan-kelemahan siswa.

d. Fungsi sumatif adalah penggunaan hasil

tes prestasi untuk memperoleh informasi mengenai penguasaan pelajaran yang telah direncanakan sebelumnya. Dengan demikian, prestasi belajar berfungsi untuk penempatan, formatif, diagnostik, dan fungsi sumatif. Dalam kehidupan manusia, teori- teori fisika sangat diperlukan dan dapat diterapkan dalam berbagai bidang. Menurut Wikipedia Indonesia, fisika (Yunani:

physikos/ alamiah dan physis/ alam) adalah sains atau ilmu tentang alam dalam makna yang terluas. Fisika mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu. Fisika sering disebut sebagai “ilmu paling mendasar”,

8
8

karena setiap ilmu alam lainnya (biologi, kimia, geologi, astronomi, dan lain-lain) mempelajari jenis sistem materi tertentu yang mematuhi hukum fisika (http//id.wikipedia.org/wiki/fisika). Fisika sangat luas pengertiannya dari ilmu terapan hingga pengetahuan tentang partikel elementer serta semesta alam. Fisika adalah ilmu yang mempelajari gejala alam dengan mengumpulkan dan mencari hubungan diantaranya untuk memperoleh manfaat. Pemanfaatan sinar-x, sinar radio aktif, sinar laser, energi nuklir, energi surya, dan sebagainya dilahirkan dan dikembangkan dari fisika. Fisika merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yaitu suatu ilmu yang mempelajari gejala dan peristiwa atau fenomena alam serta berusaha mengungkap segala rahasia dan hokum semesta. Objek Fisika mempelajari karakter, gejala, dan peristiwa yang terjadi atau terkandung dalam benda mati atau benda yang tidak melakukan pengembangan diri (Nurina, 2004). Prestasi belajar fisika adalah hasil dari suatu aktivitas belajar fisika yang ditunjukkan berupa angka atau nilai pada rapor siswa.

Harga Diri Harga diri atau self esteem merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting bagi setiap usia. Harga diri hampir selalu berkaitan dengan kemampuan atau perasaan senang dalam salah satu bidang atau pekerjaan (Kesler, 1997). Coopersmith (dalam Ainur, 1997) menjelaskan bahwa harga diri adalah evaluasi yang dibuat individu mengenai hal- hal yang berkaitan dengan dirinya, yang diekspresikan dalam suatu bentuk sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan bahwa individu tersebut meyakini dirinya sendiri sebagai individu yang mampu, penting, dan berharga. Harga diri merupakan evaluasi individu tentang dirinya sendiri secara positif atau negatif. Evaluasi ini memperlihatkan bagaimana individu menilai dirinya sendiri dan diakui atau tidaknya kemampuan dan keberhasilan yang diperolehnya. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan mereka terhadap keberadaan dan keberartian dirinya sendiri apa adanya (Santrock, 1998). Harga diri dapat positif apabila individu dapat menghargai dirinya sendiri secara baik, tetapi sebaliknya harga diri

negatif apabila seseorang tidak dapat menghargai dirinya secara baik. Harga diri dapat berkembang ke arah yang lebih atau harga diri yang kurang (Walgito, 2002). Berne & Savary (1988) berpendapat bahwa harga diri yang sehat adalah kemampuan melihat dirinya sendiri berharga, berkemampuan, penuh kasih sayang dan menarik, memiliki bakat-bakat pribadi yang khas serta kepribadian yang berharga dalam berhubungan dengan orang lain. Seseorang yang mempunyai harga diri yang rendah biasanya memiliki gambaran diri yang negatif dan hanya sedikit mengenal dirinya, sehingga menghalangi kemampuan mereka untuk menjalin hubungan, cenderung meremehkan kemampuan diri sendiri dan memikirkan kegagalan. Berdasarkan uraian mengenai harga diri tersebut dapat disimpulkan bahwa harga diri merupakan salah satu faktor kepribadian yang berupa evaluasi atau penilaian terhadap diri sendiri yang merupakan kunci terpenting dalam pembentukan perilaku dan perkembangan sehat pada remaja.

METODE PENELITIAN

Variabel – variabel penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Variabel bebas : harga diri. Harga diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang mengandung penilaian atau evaluasi individu terhadap dirinya sendiri yang terbentuk sejak lahir dan akan terus berkembang. Harga diri diukur dengan skala harga diri yang disusun oleh Walgito (1991) yang mengacu pada skala harga diri Coopersmith. Semakin tinggi skor yang didapat menunjukkan harga diri yang positif, dan sebaliknya. Skala harga diri terdiri atas 56 butir yang terdiri atas pernyataan positif dan negatif.Variabel tergantung : Prestasi belajar fisika. Prestasi belajar fisika merupakan suatu gambaran penguasaan kemampuan program belajar Fisika yang dapat diukur dan dinilai. Prestasi belajar Fisika dapat diketahui melalui nilai rapor dalam bentuk nilai pada semester ganjil. 2. Inteligensi merupakan kemampuan seseorang beradaptasi dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Inteligensi akan diukur

9
9

dengan tes SPM (Standard Progressive Matrices). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 2 STM Ganesha Tama Boyolali.

Jumlah subjek 62 orang yang dipilih secara random dari kelas Mekanik Otomotif. Gambaran mengenai data penelitian pada masing-masing variabel :

1. Skala Harga Diri Skala harga diri terdiri atas 54 butir dengan skor masing-masing butir bergerak dari satu sampai empat, sehingga rentangan skor berkisar mulai 54 sampai 216. Hasil perolehan data

dari 62 subjek penelitian menunjukkan skor terendah 126 dan tertinggi 191.

Rerata empirik adalah 156,75, yang berarti lebih tinggi dari rerata hipotetik

135.

2. Prestasi Belajar Fisika Prestasi belajar Fisika yang diperoleh

dari nilai rapor subjek menunjukkan kisaran 5,00 sampai 8,50.

3. Tes SPM Hasil tes SPM berupa skor mentah jumlah jawaban benar menunjukkan skor subjek berkisar mulai 35 – 57.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan program SPS-2000 dengan analisis regresi. Sebelumnya dilakukan uji normalitas dan uji linearitas. Uji normalitas untuk masing- masing alat ukur adalah sebagai berikut:

Variabel

SD

Hasil

P

Harga Diri

14,336

(λ) 2 = 8,343

P>0,05 (normal)

Prestasi Belajar Fisika

0,7114

(λ) 2 = 5,975

P>0,05 (normal)

Inteligensi

4,7959

(λ) 2 = 11,361

P>0,05 (normal)

Sedangkan hasil uji linearitas menunjukkan :

 

Variabel

F

P

Harga diri dan prestasi belajar fisika

F beda = 1,310

P>0,05 (linier)

Inteligensi dengan prestasi belajar fisika

F beda = 0,765

P>0,05 (linier)

Uji hipotesis dengan menggunakan analisis regresi diperoleh r = -0,069 dengan p<0,01. Hasil ini menunjukkan tidak ada hubungan/ korelasi antara harga diri dengan prestasi belajar fisika.

Berdasarkan data penelitian, disusun kategorisasi untuk tiap-tiap variabel dengan hasil sebagai berikut :

Skala harga diri:

Kategori

 

Nilai

Jumlah Subjek

Persentase

Sangat tinggi

X

> 175,5

9

14,52 %

Tinggi

148,5 < X < 175,5

35

56,45 %

Sedang

121,5 < X < 148,5

18

29,03 %

Rendah

94,5 < X < 121,5

-

0

%

Sangat Rendah

X

< 94,5

-

0

%

Total

 

62

100

%

Prestasi belajar Fisika

 

Kategori

 

Nilai

Jumlah Subjek

Persentase

Sangat tinggi

X

> 10,83

-

0

%

Tinggi

9,16 < X < 10,83

-

0

%

Sedang

7,49< X < 9,16

7

11,29 %

Rendah

5,82< X < 7,49

53

85,48 %

Sangat Rendah

X

< 5,82

2

3,23 %

Total

 

62

100

%

10
10

Inteligensi

Kategori

Nilai

Jumlah Subjek

Persentase

Sangat tinggi

X > 57,5

1

1,62 %

Tinggi

51,335 < X < 57,5

9

14,51 %

Rata-rata

42,005 < X < 51,335

40

64,51 %

Rendah

35,84 < X < 42,005

12

19,36 %

Sangat Rendah

X < 35,84

-

0 %

Total

 

62

100 %

Hasil analisis regresi harga diri dan prestasi belajar fisika siswa STM menunjukkan r = -0,069 dengan p < 0,01. Artinya, tidak ada hubungan antara harga diri dengan prestasi belajar fisika. Harga diri tidak terbukti berkorelasi positif dengan prestasi belajar fisika. Dengan demikian hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini tidak terbukti. Dalam suatu penelitian, suatu hipotesis dapat tidak terbukti dengan beberapa kemungkinan penyebab, yaitu: 1) subjek yang tidak sesuai dengan kriteria penelitian atau jumlah yang terlalu minim dan tidak ada pembandingnya, 2) alat ukur yang digunakan kurang dapat mengukur kriteria yang hendak diukur, 3) faktor budaya menyebabkan suatu alat ukur yang diadaptasi dari budaya yang lain tidak sesuai bagi budaya yang lainnya, atau 4) variabel lain yang mungkin menjadi penyebab lain tidak dikontrol dalam pengambilan data. Dalam penelitian ini, alat ukur yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar hanya diambil prestasi belajar fisika, tidak ada pembandingnya dengan mata pelajaran yang lain. Selain itu, terdapat beberapa variabel yang diduga ikut berpengaruh terhadap prestasi belajar fisika selain harga diri, tetapi tidak dikontrol. Variabel tersebut seperti: stimulasi yang diberikan oleh lingkungan atau keluarga, keadaan sekolah, pergaulan di sekolah yang homogen, prestasi belajar fisika di tingkat sebelumnya (SMP), dan tingkat pendidikan orangtua. Dalam penelitian menggunakan analisis regresi, tidak signifikannya suatu garis regresi dapat disebabkan karena: 1) secara teoritis antara kriterium dan prediktornya tidak terdapat korelasi yang signifikan atau 2) secara teoritis antara kriterium dan prediktornya terdapat korelasi yang signifikan, tetapi jumlah kasus yang diselidiki tidak cukup banyak sehingga tidak ditemukan korelasi (Hadi, 1982). Pelajaran fisika merupakan pelajaran yang tidak mudah untuk dipahami,

ada kecenderungan nilai rata-rata untuk pelajaran ini terendah dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain (Nurina, 2004). Dengan demikian, untuk memberi pemahaman terhadap siswa didik mengenai pelajaran ini, peran guru sangat penting. Dalam memahami suatu pelajaran, motivasi sangatlah penting. Motivasi untuk memahami dan menguasai suatu pelajaran dapat ditingkatkan dengan mengerti tujuan dan manfaat mengenai apa yang sedang dipelajari (DePorter, 2002). Dengan mengetahui tujuan dan manfaat belajar fisika untuk kehidupannya, diharapkan siswa akan lebih termotivasi belajar dan meraih prestasi yang lebih baik.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Tidak ada hubungan antara harga diri dan prestasi belajar Fisika pada siswa STM. Hipotesis penelitian ini ditolak. Harga diri subjek penelitian tergolong tinggi, prestasi belajar fisika rendah, dan inteligensi rata-rata.

Saran

Untuk meningkatkan prestasi belajar fisika, dibutuhkan dukungan dari faktor luar maupun dari dalam. Dukungan dari luar dapat diberikan dengan peran serta guru yang secara aktif, kreatif, dan inovatif mencari metode-metode yang tepat dalam mengajar fisika. Sedangkan dari dalam, dibutuhkan motivasi yang kuat pada diri siswa dalam mempelajari fisika. Motivasi dapat ditingkatkan dengan mengetahui tujuan dan manfaat belajar fisika. Untuk peneliti selanjutnya, diharapkan dapat meneliti dengan subjek yang lebih banyak dan menghubungkan antara prestasi belajar fisika dengan variabel lain yang pengaruhnya lebih kuat atau lebih besar.

11
11

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. & Supriyono, W. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Ainur, R. 1997. Pengaruh Pelatihan Harga Diri terhadap Penyesuaian Diri pada Pemaja. Skripsi. Fakultas Psikologi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Azwar, S. 1996. Tes Prestasi. Yogyakarta:

Penerbit Liberty.

SMU Phronesis. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan. Vol. 4. No. 7. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara.

Nurina. B. 2004. Sistem Pembelajaran KBK terhadap Motivasi Belajar para Peserta Didik pada Bidang Studi Fisika. Artikel (www.pendidikan network.com).

Pasaribu, I & Simanjuntak, B. 1983. Proses

 

Belajar

Mengajar.

Ed.

2.

Bandung:

Berne,

P.

H.

&

Savary,

L.

M.

1998.

Tarsito.

Membangun

Harga

Diri

Anak.

Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Coopersmith, S. 1967. The Antecedents of Self Esteem. San Fransisco: W. H. Freeman and Company.

Purwanto, N. 1987. Psikologi Pendidikan. Bandung: Tarsito. Santrock, J. W. 1998. Adolescence. Ed 7. Boston: McGraw Hill, Inc.

DePorter,

B.

2002.

Quantum

Learning:

Suryabrata, S. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Unleashing

the

Genius

in

You.

Terjemahan. Bandung: Penerbit Kaifa.

Syah, M. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta:

Raja Grafindo Persada.

Hadi,

S.

1982.

Analisis

Regresi.

Yogyakarta: Penerbit Andi.

 

Walgito, B. 1991. Hubungan antara

Kesler, J. 1997. Tolong! Aku Punya Anak

Persepsi Mengenai Sikap Orangtua dengan Harga Diri pada Siswa SMU di

 

Remaja.

Cet.

3.

Jakarta:

Gunung

Propinsi Jawa Tengah. Disertasi.

Mulia.

Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.

Ling, Y. & Dariyo, A. 2002. Interaksi Sosial di Sekolah dan Harga Diri Pelajar

Winkel, W. S. 1987. Psikologi Pengajaran.

Gramedia.

Jakarta:

PT