Anda di halaman 1dari 2

-

UPDATE : Penambahan referensi dan elaborasi

KELOMPOK ADAT MAHMUD (ENTRI BARU)


Letak kelompok adat ini di wilayah Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten
Bandung. Termasuk dalam kawasan RT 01 dan 02, RW 04. Dengan jumlah 215 kepala keluarga. 123
kepala keluarga di RT 01 dan 92 kepala keluarga di RT 02 (Satrio, 2007).
Konon, warga kelompok adat ini adalah keturunan Eyang Dalem Abdul Manaf yang datang
dari negeri Arab sambil menggenggam tanah. Segenggam tanah tadi diletakkan di kawasan rawa yang
konon angker, di pinggir Sungai Citarum. Segenggam tanah itulah yang kini menjadi lokasi kelompok
adat Mahmud itu. Peristiwa itu terjadi kurang lebih pada abad 15 (Rofi'i, 2008)
Menurut Hadi (1994), pada abad 15 itu Eyang Abdul Manaf pergi ke tanah suci Mekah untuk
melakukan ibadah haji. Setelah beberapa lama disana, ia berkeinginan pulang kembali ke negerinya
sendiri yaitu yang menjadi wilayah Bandung sekarang. Kemudian ia pun berdoa kepada Yang Kuasa
agar bisa kembali ke wilayah yang tidak akan diinjak oleh penjajah. Hal ini disebabkan karena
sebelumnya ia telah mendapat firasat bahwa negerinya akan dijajah bangsa asing.
Selama berada di tanah suci Mekah, Eyang Abdul Manaf berdoa di suatu tempat yang
bernama Gubah Mahmud, yaitu suatu tempat dekat Masjidil Harom. Ketika sedang melakukan
doanya tersebut ia mendapat ilham bahwa jika pulang nanti akan menemukan sebuah tanah rawa,
yang nantinya merupakan tempat tinggalnya.
Daerah tersebut oleh Eyang Abdul Manaf dijadikkan tempat persembunyian ketika Belanda
menjajah. Pada saat itulah ia mengeluarkan larangan :
1. Membuat rumah jangan yang bagus, tidak bertembok dan penutup jendela tidak
menggunakan kaca.
2. Tidak memelihara soang (angsa)
3. Tidak boleh membunyikan gong atau bedug
Kesemua itu karena mereka ingin bersembunyi dari Belanda. Jadi tidak memperlihatkan diri,
baik dari keadaan rumah maupun suara. Di samping itu, Eyang Abdul Manaf yang juga merupakan
seorang ahli agama, menyarankan bahwa hidup tidak boleh dengan kemewahan duniawi (Hadi, 1994)
Menurut Rofii (2008), Eyang Dalem Abdul Manaf adalah keturunan raja Cirebon. Beliau
termasuk penyebar Agama Islam di Bandung. Sesudah Eyang Dalem mendirikan rumah di Mahmud
tersebut, orang-orang lainnya mulai membangun rumah disana dan berkembang menjadi kelompok
adat.
Kelompok Adat Mahmud juga memiliki seorang kuncen yang mempunyai peranan selain
menjaga makam keramat, ia juga mempunyai peranan sebagai pemimpin masyarakat secara adat,
sekaligus sebagai pelindung tradisi warisan nenek moyang. Setiap permasalahan yang ada, senantiasa
melibatkan kuncen didalamnya. Kuncen selalu terlibat dan berperan antara lain dalam upacaraupacara adat yang dilakukan seperti upacara perkawinan, khitanan, kematian, upacara ziarah,
memuliakan bukan dan upacara mendirikan rumah (Hadi, 1994)

Sebagai pelindung adat, kuncen adalah orang yang dianggap mampu mewakili masyarakat
sekitar untuk berhubungan dengan nenek moyang, sehingga segala sesuatu yang menjadi keinginan
masyarakat bisa disampaikan melalui perantaranya. Demikian pula sebaliknya, konon, pesan yang
ingin disampaikan leluhur bisa diterima melalui firasat yang dirasakan pada waktu maneja (meditasi),
lewat mimpi atau gejala-gejala alam yang kemudian ditafsirkan kuncen (Hadi, 1994).
Tidak setiap orang bisa menduduki jabatan sebagai kuncen, karena kedudukan kuncen sebagai
pemimpin adat diwariskan secara turun temurun. Penggantian kuncen terjadi apabila ia sudah tidak
sanggup lagi menjalankan tugas sebagai pemimpin adat, karena lanjut usia, pikun, sakit-sakitan atau
meninggal dunia. Yang menjadi penggantinya adalah anak laki-laki tertua atau apabila tidak
mempunyai anak laki-laki maka keponakan laki-laki yang akan menggantikannya (Hadi, 1994)

Bibliography
Hadi, Y., 1994. Fungsi Sosial Ziarah Makam Keramat Dalam Kehidupan
Masyarakat Kampung Mahmud. Bandung: UNPAD, (Skripsi, Tidak Diterbitkan).
Rofi'i, M., 2008. Selayang Pandang Jawa Barat. Klaten: Intan Pariwara.
Satrio, E., 2007. Terbangan, di Kampung Mahmud. Bandung: Unpad (Skripsi,
Tidak Diterbitkan).

Beri Nilai