Anda di halaman 1dari 23

PENGUKURAN BEDA TINGGI

DENGAN ALAT PPD


PENGUKURAN SIPAT DATAR
pertemuan ke 6

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mengikuti mata ajaran ilmu ukur tanah
mahasiswa prodi D4 Teknik Bangunan Rawa
jurusan Teknik Sipil Poliban mampu
mengoperasikan alat ukur tanah dan dapat
melaksanakan pengukuran dengan baik dan
benar sesuai dengan kaidah pengukuran oleh
Badan Koordinasi Survey Pemetaan Nasional
(BAKORSURTANAl di Indonesia
2013-10-10

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


1. Setelah mengikuti mata ajaran pada pokok bahasan
Pengukuran Tinggi dengan penyipat datar (PPD), Peserta
mampu melaksanakan pengukuran dan mengerti syaratsyarat alat untuk dapat melakukan pengukuran, mengatur
dan penentuan beda tinggi.
2. Setelah mengikuti mata ajaran pada pokok bahasan
Pengukuran Tinggi dengan penyipat datar (PPD), Peserta
mampu mengaplikasikan dalam pengukuran tinggi untuk
menentukan beda tinggi antara dua titik atau lebih
3. Setelah mengikuti mata ajaran pada pokok bahasan
Pengukuran Tinggi dengan penyipat datar (PPD), Peserta
mampu melakukan perhitungan tinggi titik-titik dilapangan
dan menuangkannya dalam bentuk laporan formulir ukuran.
2013-10-10

Manfaat : Pengukuran Beda Tinggi


Pada Suatu Titik di lapangan
PENGANTAR :

Maksud pengukuran tinggi ialah menentukan beda tinggi antara dua titik di suatu daerah. Bila beda tinggi
h diketahui antara dua titik A dan B, sedangkan tinggi titik A diketahui Ha dan titik B letaknya lebih tinggi
daripada titik A, maka tinggi titik B, Hb = Ha + h.

Yang dimaksud dengan beda tinggi titik A dan B adalah jarak antara dua bidang nivo yang melalui titik A
dan B. Umumnya bidang nivo adalah bidang yang lengkung, tetapi bila jarak antara titiktitik A dan B kecil,
maka kedua bidang nivo yang melalui titiktitik A dan B dapat dianggap sebagai bidang yang datar.
Pengukuran beda tinggi antara dua buah titik dapat ditentukan dengan 3 cara yaitu:

a. Barometris;

b. Trigonometri;

c. Pengukuran menyipat datar,

Dari ketiga cara tersebut cara pengukuran menyipat datar merupakan cara pengukuran yang memiliki nilai
akurat yang tinggi. Penentuan beda tinggi antara dua titik dapat dilakukan dengan 3 cara penempatan
alat ukur penyipat datar, tergantung pada keadaan lapangan. Cara pertama yaitu dengan menempatkan
alat ukur penyipat datar diatas salah satu titik, pada cara kedua alat ukur penyipat datar ditempatkan
antara titik A dan B, sedangkan di titik titik A dan B ditempatkan dua mistar. Jarak dari alat ukur pensifat
datar ke kedua mistar ambilah kira-kira sama, sedangkan alat ukur tidaklah perlu terletak di garis lurus
yang menghubungkan dua titik A dan B dan cara ketiga alat ukur penyipat datar ditempatkan tidak antara
titik A dan B, misalnya antara titik A dan B terdapat selokan. Dari ketiga cara tersebut cara dengan alat
ukur penyipat datar yang diletakkan anara dua rambu ukur yang memberikan hasil paling teliti karena
kesalahan yang mungkin masih ada pada pengaturan dapat saling memperkecil, apalagi jarak antar alat
ukur dengan kedua rambu rambu tersebut dibuat sama.
Kesalahankesalahan yang mungkin dibuat pada waktu melakukan pengukuran ialah kesalahan sistematis
dan kesalahan yang kebetulan. Penyebab kesalahan dalam pengukuran diantaranya ; karena kesalahan
yang ada pada alat yang digunakan, keadaan alam pada saat pengukuran, dan dari si pengukur sendiri

2013-10-10

PENGUKURAN BEDA TINGGI DENGAN ALAT


SIPAT DATAR (PPD)
Jika dua titik mempunyai ketinggian yang
berbeda, dikatakan mempunyai beda tinggi.
Beda tinggi dapat diukur dengan cara sipat
datar adalah suatu cara penentuan tinggi
relatif dari beberapa titik-titik di atas datum
atau di bawah suatu bidang acuan tersebut.
Pada kenyataannya pengukuran beda tinggi
adalah menentukan jarak vertikal dari titik
tersebut dengan garis penyipat datar alat yg
ditempatkan di atas statif.
5

Dari gambar dapat dilihat : tinggi titik A di atas datum adalah :


1.500-0.750 = 0.750 m, dan tinggi titik C adalah : 1.500 1.050
= 0.450 m di atas datum.
Datum disini diambil bidang khayal mendatar yang melalui
patok B.

Cara pengukuran

Alat dipasang mendatar dan kesalahan-kesalahan


dapat dihilangkan.
Rambu ukur dipasang tegak di atas titik
dibelakang dan muka alat.
Pengukur mengarahkan teropong alat ke rambu
ukur dan menggunakan tromol pengatur fokus
lensa bayangan rambu ukur dijelaskan.
Mengghilangkan faralaks, diafrahma harus
dijelaskan, bayangan benang silang akan dapat
menunjukan bacaan pada rambu ukur dan bila
menggerakan mata ke atas dan kebawah bacaan
benang silang pd rambu tidak berubah.
Pengukur harus melepaskan tangannya dari statif
dan alat.
Kenaikan setiap 10mm dihitung dan milimeter
akhir ditaksir.
Hasil pembacaan yg lengkap kemudian
dibukukan, untuk mengecek hasil pengukuran
pada rambu diulang dan dicocokan dengan buku
ukur.
Rambu ukur kemudian langsung dipindahkan ke
tempat berikutnya kemudian dilakukan
pengukuran secara berulang dan berlanjut
sampai di akhir titik pengukuran.

Pengukuran beda tinggi antara dua titik


Titik A dan titik B adalah dua titik yang berjarak kirakira 60m yang ditentukan beda tingginya.
Alat dipasang kira2 ditengah-tengah antara dua titik
tersebut, kemudian alat diatur, pertama kali
pembacaan dilakukan pada rambu yang dipasang
tegak di titik A, hasil pembacaan diperoleh 2.500m
Rambu kemudian dipindahkan dan dipasang tegak
dititik B, dan dilakukan pembacaan untuk kedua
kalinya, hasil diperoleh 0.500m

Dari skets di atas jelas bahwa titik B lebih tinggi. 2.500 0.500
= 2.000 dari titik A, dengan perkataan lain permukaan tanah
naik dari titik A ke titik B setinggi 2 meter.
Pada contoh jika tinggi permukaan tanah di A adalah 95.400m
di atas datum, maka ketinggian titik B di atas datum dapat
ditentukan dengan menambah kenaikan 2m dari A, sehingga
titik B menjadi 95.400 + 2.000 = 97.400m.

Cara ini merupakan dasar untuk menentukan ketinggian


titik-titik selanjutnya, karena dengan menggunakan
prinsip diatas cara ini lebih mudah dimengerti.
Pada umumnya dimana titik-titik diatas datum diperoleh
dari pembacaan pada rambu ukur yang ditempatkan
pada titik-titik tersebut. Kemudian dikurangi dengan
pembacaan rambu berikutnya yang ditempatkan diatas
titik yang diketahui ketinggiannya di atas datum.
Ketinggian titik yang tidak diketahui dapat ditentukan
dengan menjumlahkan kenaikan dari permukaan tanah
atau mengurankan penurunan permukaan tanah dari
titik yg diketahui ketinggiannya.

PEMBUKUAN DAN HITUNGAN HASIL


PEMBACAAN
Semua data pengukuran sipat datar harus dicatat pada buku seperti :

Rambu
Belakang

Rambu
Tengah

Rambu
Muka

Naik

2.500

0.500

2.000

Turun

Tinggi
Hitungan

Jarak
keteranga

95.400

A.Perm
Tanah

97.400

B. Permu
Tanah

Pada setiap alat pembacaan pertama dilakukan ke rambu


belakang. Arah bidikan ke A merupakan arah rambu belakang
dan hasil pembacaan diperoleh 2.500 ditulis pada kolom
rambu belakang. Arah bidikan terakhir disebut arahrambu
muka. Pada contoh arah rambu muka adalah arah B dan hasil
pembacaan 0.500 ditulis pada kolom rambu muka
Keadaan naik atau turun dari permukaan tanah ditentukan
oleh hasil perhitungan, dalam hal ini selalu diambil selisih
bacaan antara rambu pertama dengan rambu kedua. Jika
hasilnya positif artinya permukaan tanah naik dan sebaliknya
jika hasilnya negatif permukaan tanah akan turun.
Pada contoh :
Bacaan pada rambu belakang A
= 2.500
Bacaan pada rambu muka B
= 0.500
Selisih bacaan (A B)
= +2.00
Permukaan tanah naik dari A ke B

Pada pengukuran sipat datar biasanya dihitung


ketinggian titik diatas datum. Jika tinggi titik A =
95.400 m diatas datum, pada daftar dimasukan pada
kolom tinggi dengan baris A.
Ketinggian titik B merupakan penjumlahan aljabar
dari tinggi titik A dengan memperlihatkan keadaan
naik atau turun dari A ke B.
Tinggi titik A
= 95.400 m
Naik dari A ke B = +2.000 m
Tinggi titik B
= 97.400 m

Pelaksanaan pengukuran
Bila dua buah titik A dan B mempunyai jarak
yang cukup jauh dan mempunyai kemiringan,
maka untuk menentukan beda tingginya
diperlukan lebih dari satu pengukuran alat
sipat datar
Misal titik A dan titik B kira-kira berjarak 250
meter. Ketinggian titik A adalah 23.900 m dan
ketinggian titik B akan ditentukan.

Alat dipasang kira-kira 40 m dari A (kedudukan 1),


dan bacaan pada rambu belakang diperoleh
4.200 m.
Rambu ukur dipindahkan ke titik berikutnya yang
kira-kira berjarak 40 m dari alat dan bacaan ke
rambu muka diperoleh 0.700 m.
Ketinggian X dapat dihitung dari :

Bacaan rambu belakang ke A


Bacaan rambu muka ke X
Beda tinggi dari A ke X

= 4.200
= 0.700
=+3.500 (naik)

Tinggi titik A
Beda tinggi dari A ke X
Tinggi titik X

= 23.900
=+3.500 (naik)
= 27.400

Pengisian formulir dan hitungan ketinggian


yang ditulis pada baris 1 dan 2
Rambu
belakang
Baris 1

4.200

Baris 2

4.150

Baris 3

Rambu
tengah

Rambu
muka

Naik

Turun

Ketinggian

Jarak

Keterangan

23.900

A perm T

0.700

3.500

27.400

X ttk bantu

0.550

3.600

31.000

Y titik bantu

Baris 4

Tidak ada bacaan pada rambu yang dapat diambil diluar titik X sebab garis
bidikan akan berjalan sepanjang jalur pada permukaan tanah.
Alat sipat datar dipindahkan ke kedudukan 2. kemudian dibaca lagi pada
rambu dengan X sebagai rambu belakang, hasil pembacaan pada rambu
belakang diperoleh 4.150 dan bacaan tsb di catat pd kolom rambu belakang.
Hasil tsb hrs ditulis pada baris 2, sebab baris ini menunjukan jalur X.

Rambu dipindahkan kemuka (Y) dan diambil sebagai


rambu muka. Hasil bacaan diperoleh 0.500 dan ditulis
pada formulir di baris 3 pada kolom rambu muka.
Ketinggian titik Y dapat dihitung :

Bacaan rambu belakang ke X


Bacaan rambu muka ke Y
Beda tinggi dari X ke Y

= 4.150
= 0.550
=+3.600 (naik)

Tinggi titik X
Beda tinggi dari X ke Y
Tinggi titik Y

= 27.400
=+3.600 (naik)
= 31.000

Perlu diperhatikan bahwa pengisian formulir dan


hitungan dari alat ke 2 sama seperti pada
pengaturan pertama dan sesungguhnya semua
hitungan beda tinggi ditentukan oleh kecermatan
dari pengukur.
Jika pengukuran masih belum selesai, maka
pengukuran dilanjutkan dari Y dan alat dipindahkan
pada posisi 3
Rambu yang dipasang di Y digunakan sbg rambu
belakang, hasilnya diperoleh 2.500, dan rambu muka
adalah B dgn bacaan 3.700.
Hasil pembacaan ditulis pada baris 3 dan 4.

Hitungan tinggi titik B dapat dihitung dari :


Bacaan rambu belakang ke Y
Bacaan rambu muka ke B
Beda tinggi dari Y ke B

= 2.500
= 3.700
=-1.200 (turun)

Tinggi titik Y
Beda tinggi dari Y ke B
Tinggi titik B

= 31.000
=-1.200
= 29.000

Titik-titik X dan Y adalah titik-titik dimana keduanya


dapat bertindak sebagai rambu belakang, kedudukan
alat dapat berubah antara rambu muka dan rambu
belakang dan titik-titik tsb disebut titik-titik
pembantu
Penulisan titik-titik pembantu pada formulir sering
tidak dituliskan.
Dan pada pelaksanaan pengukuran hitungan harus
diperiksa terutama dalam operasi hitungannya, baris
5, 6 dan 7 merupakan baris-baris kontrol hitungan.
Ketinggian titik akhir = tinggi titik awal + semua beda
tinggi naik semua beda tinggi turun.

Pengisian formulir dan hitungan ketinggian


yang lengkap :
Rambu
belakang

Rambu
tengah

Rambu
muka

Baris 1

4.200

Baris 2

4.150

0.700

Baris 3

2.500

0.550

Baris 4

Naik

Ketinggian

Jarak

Keterangan

23.900

A perm Tnh

3.500

27.400

X ttk bantu

3.600

31.000

Y titik bantu

1.200

29.800

B perm Tnh

1.200

29.800

3.700
4.950

Turun

Baris 5

10.850

7.100

Baris 6

-4.950

-1.200

-23.900

Baris 7

=5.900

=5.900

=5.900

evaluasi :
Uraian :
Jelaskan maksud kita melakukan pengukuran tinggi
dengan alat PPD adalah ...........
Pilihan ganda :
Ada tiga cara dalam melakukan pengukuran beda
tinggi, menurut anda mana pengukuran yang paling
teliti dari pernyataan dibawah ini :
a. Cara Barometris
b. Cara Trigonometris
c. Cara Pengukuran Penyipat Datar
2013-10-10