Anda di halaman 1dari 11

Laporan Singkat Bencana Alam Gerakan

Tanah Pada Jalur Jalan Di Kp. Ikanfoti,


Ds. Niukbaun, Kec. Amarasi Barat, Kab.
Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur
23 September 2014

Share

Facebook

twitter

Bersama ini kami sampaikan laporan singkat hasil pemeriksaan Tim Pasca Bencana
Alam Gerakan Tanah di daerah Ds. Niukbaun, Kec. Amarasi Barat, Kab. Kupang,
Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai berikut :

1. Lokasi dan waktu kejadian :


Lokasi bencana alam tanah longsor terjadi pada jalur jalan di daerah Kp. Ikanfoti, Desa
Niukbaun, Kec. Amarasi Barat, Kab. Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang terjadi
sejak awal tahun 2011 hingga sekarang.

2. Jenis bencana :
Jenis bencana berupa gerakan tanah (tanah longsor) yang terjadi pada jalur jalan di daerah
Kp. Ikanfoti, Desa Niukbaun, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang. Gerakan tanah yang
terjadi mempunyai ukuran panjang 3 km, lebar antara 60 hingga > 600 meter dengan tinggi
gawir antara 2 - 8 m dan mempunyai arah umum N 2210 E, yang diikuti oleh retakan-retakan
dengan panjang antara 30 hingga 140 meter, lebar antara 3 - 25 cm, dengan kedalaman antara
5 sampai > 40 cm.

3. Dampak bencana :
Bencana gerakan tanah di daerah ini menyebabkan jalan aspal (jalan kabupaten) sepanjang
1 km rusak.

4. Kondisi daerah bencana :

Morfologi daerah bencana berupa perbukitan bergelombang lemah sedang dengan


kemiringan lereng 10 - > 400 , sebagian terjal curam (kemiringan > 500). Jalur jalan
mengikuti punggungan perbukitan, di kanan kirinya sebagian berupa tebing curam
(jurang) dengan kemiringan > 300. Pada daerah gawir-gawir terjal tersebut banyak
terdapat longsoran-longsoran, baik berupa longsoran lama maupun longsoran baru.

Batuan dasar daerah bencana berupa batu lempung yang bercampur dengan fragmenfragmen batuan sedimen (batu gamping, batu pasir, batu lanau) dari Formasi
Bobonaro, yang berwarna abu-abu hingga coklat keabuan, bersifat kurang padu, lunak
dan mengembang bila kena air dan secara umum telah rapuh tersesarkan.

Struktur Geologi yang berpengaruh pada bencana gerakan tanah (tanah longsor) di
daerah bencana diperkirakan adalah sesar (patahan) yang berupa sesar geser
mempunyai arah N 2310 E dengan bidang sesarnya melewati zona gerakan tanah
(tanah longsor) tersebut. Adanya patahan ini dapat dilihat dari adanya kelurusan
lembah-lembah, kondisi batuan yang hancur serta perlapisan yang tidak normal

Tata guna lahan daerah bencana berupa belukar, kebun campuran serta sebagian lahan
gundul (padang rumput). Pada daerah tersebut terdapat pohon-pohon tanaman keras
dengan kerapatan jarang.

Kondisi keairan daerah bencana berupa aliran limpasan air permukaan (air hujan)
pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau kering. Air tanah dangkal cukup
dalam dan susah dijumpai di daerah tersebut.
o Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Kejadian Gerakan Tanah Provinsi
Nusa tenggara Timur bulan Agustus 2014 (Badan Geologi), daerah bencana
termasuk dalam potensi gerakan tanah tinggi artinya daerah ini mempunyai
tingkat kerentanan tinggi untuk terjadi gerakan tanah, sedangkan gerakan
tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak akibat curah hujan
tinggi dan erosi kuat.

5. Faktor penyebab terjadinya tanah longsor diperkirakan karena:

Sifat fisik batuan (F. Bobonaro) yang kurang padu dan mudah mengembang bila jenuh
air.

Adanya pengaruh sesar (patahan) yang terjadi pada jalur gerakan tanah tersebut.

Batuan mudah jenuh air, karena pengaruh air hujan.

Lereng yang terjal curam ( 45 - 600).

Adanya pemotongan lereng yang terjal untuk pelebaran jalan.

6.

Adanya pengaruh gawir gerakan tanah lama yang relatif masih aktif bergerak.

Mekanisme terjadinya bencana tanah longsor di daerah ini adalah :

Adanya curah hujan yang tinggi dan berlangsung dalam waktu lama, maka limpasan air hujan
akan merembes masuk melalui rekahan dan pori-pori batuan yang kurang kompak, sehingga
batuan menjadi jenuh air dan menyebabkan bobot masa batuan bertambah dan kuat gesernya
menjadi kecil. Karena lereng yang curam dan akibat gravitasi, maka masa batuan yang jenuh
air akan bergerak menuruni lereng, sehingga terjadilah masa longsoran yang menimbun dan
juga menggerus badan jalan

7. Rekomendasi :
Daerah bencana merupakan daerah berpotensi gerakan tanah tinggi dan juga terletak pada
batuan labil (Formasi Bobonaro) serta pada zona sesar/patahan, maka direkomendasikan
sebagai berikut :

Daerah bencana secara umum merupakan daerah yang tidak stabil (masih bergerak)
terutama pada setiap musim hujan.

Daerah bencana perlu dihutankan kembali dengan tanaman keras berakar kuat dan
dalam yang dapat berfungsi mengikat tanah/batuan.

Masyarakat pengguna jalan perlu waspada apabila melewati jalur jalan tersebut,
terutama pada waktu terjadi hujan lebat.

Melandaikan lereng (tebing jalan) secara berjenjang dengan kemiringan < 300 dengan
tinggi jenjang < 1,5 meter

Pada lokasi longsoran besar perlu dibuat tiang pancang hingga menembus batuan
keras.

Membuat saluran pengering pada lereng, agar air permukaan tidak cepat masuk ke
dalam tanah dan menjenuhi lereng.

Pada jalan baru disarankan dibuat saluran pengering kedap air (disemen) pada kanan
kiri badan jalan agar air permukaan tidak masuk ke dalam tanah dan menjenuhi tanah.

Menutup permukaan lereng dengan semen, agar air hujan tidak masuk ke dalam
tanah/batuan.

Apabila kerusakan pada jalur jalan tersebut makin berkembang (parah), maka perlu
dicarikan jalur alternatif untuk pemindahan jalan tersebut yang cukup aman.

Gambar 1. Peta Lokasi Gerakan Tanah pada Jalur Jalan Ikanfoti-Baun, Kabupaten Kupang,
Provinsi NTT

Gambar 2. Peta Geologi Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Timur
Timur

Gambar 3. Peta Potensi Gerakan Tanah pada Jalur Jalan Ikanfoti-Baun, Kabupaten Kupang,
Provinsi NTT

Gambar 4. Peta Potensi Gerakan Tanah pada Jalur Jalan Ikanfoti-Baun, Kabupaten Kupang,
Provinsi NTT

Gambar 5. Peta Sketsa Situasi Gerakan Tanah pada Jalur Jalan Ikanfoti-Baun, Kabupaten
Kupang, Provinsi NTT

Gambar 6. Sketsa Penanggulangan pada Jalur Jalan Ikanfoti-Baun, Kabupaten Kupang,


Provinsi NTT

Gambar 7. Gambar 6. Sketsa Penanggulangan pada Jalur Jalan Ikanfoti-Baun, Kabupaten


Kupang, Provinsi NTT

Foto - 1 : Kondisi longsoran yang terjadi pada tebing S.Pabelan. di Kp. Wonogiri Kidul, Ds.
Kapuhan, Kec. Sawangan, Kab. Magelang, Provinsi Jawa Tengah yang menyebabkan 1
orang meninggal dunia

Foto - 2 : Mahkota gerakan tanah yang berada pada tebing saluran irigasi yang dinding dan
dasarnya tidak kedap air

Foto - 3 : Kenampakan gerakan tanah pada tebing S. Pabelan yang berhadapan dengan
tebing sungai yang ditambang

Foto - 4 : Kenampakan material penambangan yang menimbun lembah sungai Pabelan

Foto - 5 : Kondisi aliran sungai Pabelan yang alirannya menggerus tebing sungai bagian
yang longsor akibat lembah sungai ditimbun material penambangan

Foto - 6 : Kondisi saluran irigasi yang kering (tidak mengalir) setelah terjadi longsoran
(tampak pipa-pipa pralon air minum)

WILAYAH POTENSI GERAKAN TANAH


DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)
BULAN AGUSTUS 2014

No

PROVINSI

NUSA
TENGGARA
TIMUR

KABUPATEN

KUPANG

KECAMATAN

POTENSI
GERAKAN TANAH

KUPANG BARAT

Menengah

AMARASI

Menengah

KUPANG TIMUR

Menengah - Tinggi

KUPANG TENGAH

Menengah

FATULEU

Menengah - Tinggi

TAKARI

Menengah - Tinggi

AMFOANG UTARA

Menengah Tinggi

AMFOANG SELATAN Menengah - Tinggi

PANTAI BARU

Menengah

ROTE TENGAH

Menengah

LOBALAIN BAG
SELATAN

Menengah

SABU TIMUR

Menengah