Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sel

merupakan

suatu unit

terkecil

tubuh

makhluk hidup. Untuk

mempertahankan posisinya sel ditopang oleh adanya dinding sel dan vakuola.
Vakuola merupakan bagian dalam protoplas yang mengandung larutan dan
berbagai zat.Vakuola dipisahkan dalam sitoplasma oleh membran yang
dinamakan tonoplas.Air yang terdapat didalam vakuola dapat keluar dari
membran sel dan akan mengakibatkan mengempisnya sel tersebut. Akan tetapi
air yang terdapat diruang bebas antar sel dapat pula dimasukkan ke dalam
vakuola. Keadaan ini terjadi apabila nilai tekanan osmosis dalam sel lebih rendah
daripada nilai tekanan osmosis diluar sel. Akibatnya sel akan menggembung.
Jika sel bawang merah diletakkan didalam suatu larutan sukrosa encer,maka
akan didapatkan adanya tekanan osmosis pada dinding sel bawang merah. Di
dalam sel dalam sel akan mengalami devisit tekanan difusi yang cukup besar.
Akibatnya air akan masuk kedalam sel bawang merah melewati membran sel.
Setelah air masuk ,devisit tekanan difusi menurun ,tekanan osmosis menurun
tetapi tekanan turgor naik.Akibatnya sel akan menggembung.
Keadaan yang berlawanan akan terjadi jika larutan diluar sel bawang merah
lebih pekat daripada di dalam sel sel bawang merah.Larutan sukrosa diluar sel
mengalami devisit tekanan difusi.Air akan bergerak melewati membran sel ke
larutan sukrosa. Karena cairan didalam sel bawang merah keluar,maka volume
sel bawang merah akan menyusut,tekanan turgor berkurang,setelah terjadi
kesetimbangan,konsentrasi larutan dalam sel bawang merah akan lebih pekat,
devisit tekanan difusi bertambah,tekanan osmosis bertambah.
Komponen potensial air bawang merah terutama terdiri atas potensial
osmosis (solute) dan potensial turgor (tekanan). Dengan adanya potensial
osmodid cairan sel,air murni cenderung memasuki sel. Sebaliknya potensial
turgor didalam sel mengakibatkan air keluar dari dalam sel. Untuk mengatur
potensial osmosis,potensial turgor harus nol. Potensial turgor sama dengan nol
1

jika

sel

mengalami

plasmolisis.

Plasmolisis

adalah

peristiwa

lepasnya

protoplasma dari dinding sel karena keluarnya sebagian air dari vakuola.
Keadaan volume vakuola tepat untuk menahan protoplasma agar tetap
menempel pada dinding sel. Peristiwa plasmolisis semacam ini disebut
plasmolisis insipien.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap prosentase
jumlah sel yang mengalami plasmolisis?
2. Pada Konsentrasi berapa larutan sukrosa yang menimbulkan 50% dari
jumlah sel bawang merah mengalami plasmolisis?
3. Bagaimana cara mendapatkan tekanan osmosis sel cairan sel bawang
merah dengan metoda plasmolisis?
C. Tujuan
1. Menjelaskan

pengaruh

konsentrasi

larutan

sukrosa

terhadap

presentase sel bawang merah yang terplasmolisis.


2. Mengidentifikasi konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan 50%
dari jumlah sel bawang merah mengalami plasmolisis.
3. Menghitung tekanan osmosis sel cairan sel bawang merah dengan
metoda plasmolisis.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Bawang Merah
Bawang merah dikelaskan dalam keluarga Alliaceae dalam order
Asparagales. Nama saintifik adalah Allium cepa var. Aggregatum. Bawang merah
lebih kecil serta lebih manis rasanya berbanding bawang besar. Bawang merah
merupakan tanaman semusim. Ia memiliki umbi yang berlapis (bulb), berakar
serabut, dan daun berbentuk silinder berongga. Umbinya terbentuk daripada
pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang yang kemudian berubah
bentuk dan fungsinya yang seakan-akan umbi berlapis. Jadi, umbi bawang
merah bukanlan ubi sebenarnya seperti ubi kentang ataupun ubi keledek. Ia
terbentuk dari lapisan-lapisan daun yang membesar dan kemudiannya bersatu.
Perpindahan molekul pada jaringan tumbuhan
Menurut Bidwell (1979) molekul air dan zat terlarut yang berada dalam
sel selalu bergerak. Oleh karena itu terjadi perpindahan terus-menerus dari
molekul air, dari satu bagian ke bagian yang lain.
Perpindahan molekul-molekul itu dapat ditinjau dari dua sudut. Pertama
dari sudut sumber dan dari sudut tujuan. Dari sudut sumber dikatakan bahwa
terdapat suatu tekanan yang menyebabkan molekul-molekul menyebar ke
seluruh jaringan. Tekanan ini disebut dengan tekanan difusi. Dari sudut tujuan
dapat dikatakan bahwa ada sesuatu kekurangan (defisit akan molekul-molekul.
Hal ini dibandingkan dengan istilah daerah surplus molekul dan minus molekul.
Ini bararti bahwa di sumber itu ada tekanan difusi positif dan ditinjau adanya
tekanan difusi negatif. Istilah tekanan difusi negatif dapat ditukar dengan
kekurangan tekanan difusi atau defisit tekanan difusi yang disingkat dengan
DTD (Dwijo, 1985).
Difusi adalah gerakan partikel dari tempat dengan potensial kimia lebih
tinggi ke tempat dengan potensial kimia lebih rendah karena energi kinetiknya
sendiri sampai terjadi keseimbangan dinamis (Indradewa, 2009). Senada dengan

itu,

Agrica

(2009)

menjelaskan

bahwa

difusi

adalah

peristiwa

mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi


tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Contoh yang sederhana adalah
pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis.
Contoh lain adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara.
Prinsip dasar yang dapat kita pegang mengenai peristiwa difusi ini
adalah difusi terjadi sebagai suatu respon terhadap perbedaan konsentrasi. Suatu
perbedaan terjadi apabila terjadi perubahan konsentrasi dari suatu keadaan ke
keadaan lain. Selain perbedaan konsentrasi, perbedaan dalam sifat dapat juga
menyebabkan difusi. Proses pertukaran gas pada tumbuhan yang terjadi di daun
adalah suatu contoh proses difusi. Dalam proses ini gas CO2 dari atmosfir masuk
ke dalam rongga antar sel pada mesofil daun yang selanjutnya digunakan untuk
proses fotosintesis.
Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan)
medium. Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat
padat berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran
besar lebih lambat pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil.
Pertukaran udara melalui stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada
siang hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi
O2 meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari
daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam
jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari
udara luar masuk melalui stomata. Penguapan air melalui stomata (transpirasi)
juga merupakan contoh proses difusi. Di alam, angin, dan aliran air
menyebarkan molekul lebih cepat dibanding dengan proses difusi (Anonymous
a, 2009).
Osmosis adalah suatu topik yang penting dalam biologi karena fenomena
ini dapat menjelaskan mengapa air dapat ditransportasikan ke dalam dan ke luar
sel (Fetter, 1998).
Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat
secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi

pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per
unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui
membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang
lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotik merupakan sifat
koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut,
dan bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri (Agrica,2009).
Tekanan osmosis cairan sel
Tekanan

yang

diberikan

pada

air

atau

larutan,

akan

meningkatkan kemampuan osmosis dalam larutan tersebut. Tekanan yang


diberikan atau yang timbul dalam system ini disebut potensial tekanan, yang
dalam tumbuhan potensial ini dapat timbul dalam bentuk tekanan turgor. Nilai
potensial tekanan dapat positif, nol, maupun negatif.
Selain potensial air (PA) dalam potensial tekanan (PT) osmosis juga dipengaruhi
tekanan osmotic (PO). Potensial osmotic dari suatu larutan lebih menyatakan
sebagai status larutan. Status larutan biasa kita nyatakan dalam bentuk satuan
konsentrasi, satuan tekanan, atau satuan energi. Hubungan antara potensial air
(PA) dan potensial tekanan (PT), dan potensial osmotic (PO) dapat dinyatakan
dengan hubungan sebagai berikut:
PA = PO + PT
Dari rumus di atas dapat terlihat bahwa apabila tidak ada tekanan tambahan
(PT), maka nilai PA = PO
Untuk mengetahui nilai potensial osmotic cairan sel, salah satunya dapat
digunakan metode plasmolisis. Jika potensial air dalam suatu sel lebih tinggi dari
pada potensial air yang ada di sekitar sel atau di luar sel, maka air akan
meninggalkan sel sampai potensial air yang ada dalam sel maupun di luar sel
sama besar. Protoplas yang kehilangan air itu menyusut volumenya dan
akhirnya dapat terlepas dari dinding sel, peristiwa tersebut biasa kita kenal
dengan istilah plasmolisis.

Metode plasmolisis dapat ditempuh dengan cara menentukan pada


konsentrasi

sukrosa

berapakah

yang

mengakibatkan

jumlah

sel

yang

terplasmolisis mencapai 50%. Pada kondisi tersebut dianggap konsentrasinya


sama dengan konsentrasi yang dimiliki oleh cairan sel. Jika konsentrasi larutan
yang menyebabkan 50% sel terplasmolisis diketahui, maka tekanan osmosis sel
dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
=
Dengan :

22,4
273

TO = Tekanan Osmotik

M = Konsentrasi larutan yang menyebabkan 50% sel terplasmolisis


T = Temperatur mutlak (273 + tC)
(Tim fisiologi tumbuhan. 2014).
Sitoplasma biasanya bersifat hipertonis (potensial air tinggi), dan cairan di
luar sel bersifat hipotonis (potensial air rendah), karena itulah air bisa masuk ke
dalam sel sehingga antara kedua cairan bersifat isotonus. Apabila suatu sel
diletakkan dalam suatu larutan yang hipertonus terhadap sitoplasma, maka air
di dalam sel akan berdifusi ke luar sehingga sitoplasma mengkerut dan terlepas
dari dinding sel, hal ini disebut plasmolisis. Bila sel itu kemudian dimasukkan ke
dalam cairan yang hipotonus, maka air akan masuk ke dalam sel dan sitoplasma
akan kembali mengembang hal ini disebut deplasmolisis.
Pada dasarnya pengangkutan membran sel dapat terjadi secara pasif
maupun secara aktif. Pengangkutan secara pasif terjadi jika mengikuti arah
gradien konsentrasi, artinya dari larutan yang memiliki konsentrasi tinggi
menuju larutan yang memiliki konsentrasi rendah tanpa memerlukan energi
hasil metabolisme karena prosesnya searah gradien konsentrasi. Sedangkan pada
proses pengangkutan secara aktif memerlukan energy hasil metabolisme seperti
ATP (Adenosin Tri Phospat) kerena prosesnya melawan gradien konsentrasi.
Difusi dan osmosis merupakan contoh proses pengangkutan secara pasif.
Difusi adalah pergerakan partikel dari daerah tempat partikel itu lebih pekat ke

daerah yang partikelnya kurang pekat, lalu terjadi sebaliknya hingga partikelpartikel tersebut tersebar merata.(loveles, 1987).
Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan)
medium. Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat
padat berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran
besar lebih lambat pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil.
Pertukaran udara melalui stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada
siang hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi
O2 meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari
daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam
jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari
udara luar masuk melalui stomata. Penguapan air melalui stomata (transpirasi)
juga merupakan contoh proses difusi. Di alam, angin, dan aliran air
menyebarkan molekul lebih cepat disbanding dengan proses difusi.
Osmosis adalah difusi air melalui selaput yang permeable secara differensial
dari satu tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi
rendah. Maksud dari konsentrasi adalah konsentrasi pelarutnya yaitu air dan
bukan konsentrasi dari zat terlarut (molekul atau ion) dalam air itu. Oleh karena
itu, osmosis juga bisa diartikan sebagai perpindahan molekul air dari konsentrasi
air yang tinggi ke konsentrasi air yang rendah melalui membran semi permeabel.
Membran semi permeabel adalah membran yang hanya mengijinkan lalunya air
dan menghambat lalunya zat-zat terlarut.
Osmosis pada jaringan tumbuhan
Pada struktur sel tumbuhan, ditengah protoplasma terdapt vakuola yang
dilapisi oleh lapisan protoplasma yang sifatnya semipermeabel, di sebelah luar
terdapat dinding sel. Cairan sel tumbuhan pada umunya merupakan larutan
hipertonis dibandingkan dengan cairan disekelilingnya, misalnya pada bulu akar
dibandingkan dengan air tanah. Cairan ini sebagaian besar menempati vakuola.
Osmosis juga dapat terjadi dari sitoplasma ke organel-organel bermembran.
Osmosis dapat dicegah dengan menggunakan tekanan. Oleh karena itu, ahli

fisiologi tanaman lebih suka menggunakan istilah potensial osmotik yakni


tekanan yang diperlukan untuk mencegah osmosis.
Sel tumbuhan mengambil air dari sekelilingnya dengan cara osmosis. Air masuk
vakuola dan menekan protoplasma, protoplasma menekan dinding sel, tekanan
pada dinding sel ini disebut tekanan turgor. Karena tekanan turgor dinidng sel
sedikit mengembang pada saat tekanan turgor dinding sel mengembang secara
maksimum dikatakan sel mempunyai turgor penuh atau turgid penuh. Jika
tumbuhan kekurangan air akan terjadi plasmolisis pada sel-selnya, makan
tumbuhan akan menjadi layu. Di dalam kehidupan sehari-hariperistiwa
terjadinya plasmolisis jika tanaman layu karena kekurangan air, sedangkan
tegaknya tumbuhan muda atau daun disebabkan sel-selnya dalam keadaan
turgor penuh.
Faktor-faktor yang mempengaruhi potensial osmotik
Meskipun potensial osmotik tidak dipengaruhi oleh tekanan, tetapi ada
faktor lain yang dapat mempengaruhinya, yaitu :
a. Konsentrasi
Meningkatnya konsentrasi suatu larutan akan menurunkan nilai
potensial osmotiknya. Bila zat terlarut buka elektrolit dan molekulnya tidak
mengikat air hidrasi, maka potensial osmotik larutan tersebut akan
sebanding dengan konsentrasi molalnya.
b. Ionisasi molekul zat terlarut
Potensial osmotik suatu larutan tidak ditentukan oleh macam zatya,
tetapi ditentukan oleh jumlah zat partikel (ion, molekul dan partikel koloid)
yang terdapat di dalam larutan tersebut. PO lebih bergantung pada
perbandingan antaraa jumlah pelarut dengan partikel yang dikandungnya.
c. Hidrasi molekul zat terlarut
Air yang berionisasi dengan partikel zat terlarut biasanya disebut air
hidrasi. Air dapat berionosasi dengan ion, molekul atau pertikel koloid.
Dampak dari air hidrasi adalah larutan menjadi lebih pekat.
d. Suhu

Potensial osmotik suatu larutan akan berkurang nilainya dengan naiknya


suhu. Potensial osmotik suatu larutan yang ideal akan sebanding dengan
suhu absolutnya.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah percobaan eksperimental,hal ini dapat
dilihat

saat

proses

percobaan

ini

dilakukan

di

laboratorium

dan

menggunakan beberapa variabel,yaitu variabel kontrol,variabel manipulasi


dan variabel respon.
B. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Selasa,17 Februari 2015
Jam
: 09.00 WIB
Tempat
: Gedung C10 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
C. Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi
: Konsentrasi larutan sukrosa (0,28 M,
0,26M, 0,24M, 0,22M, 0,20 M, 0,18M, 0,16M,
0,14M)
2. Variabel kontrol
: Volume larutan sukrosa,cawan petri, dan
jenis bawang merah,jumlah sayatan
bawang merah,perbesaran mikroskop 10
x,waktu perendaman (30 menit)
3. Variabel respon
: Jumlah sel bawang merah yang mengalami
plasmolisis
D. Alat dan Bahan
Bahan
1. Umbi lapis bawang merah yang jaringan epidermisnya
mengandung cairan sel yang berwarna
2. Larutan sukrosa dengan molaritas 0,28 M, 0,26 M, 0,24 M, 0,22
M, 0,20 M, 0,18 M, 0,16 M,0,14 M
Alat

Mikroskop
Cawan petri 8 buah
Kaca benda
Cover glass
Pinset
Gelas beaker
10

Pipet
E. Prosedur Kerja
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menyiapkan 8 buah cawan petri.


Menyiapkan beberapa potongan sel bawang merah.
Mengamati sel bawang merah di bawah mikroskop.
Menghitung jumlah sel bawang merah dibawah mikroskop.
Mencatat jumlah sel bawang merah pada laporan sementara.
Memasukkan 5 ml larutan sukrosa dengan konsentrasi yang berbeda
pada tiap cawan petri.
7. Memberi label konsentrasi larutan pada tiap cawan petri.
8. Memasukkan sel bawang merah pada cawan petri pertama,5 menit
berikutnya memasukkan sel bawang merah pada cawan petri
kedua,begitu seterusnya hingga canwan petri kedelapan.
9. Merendam sel bawang merah selama 30 menit.
10. Mengamati sel bawang merah dibawah mikroskop.
11. Menghitung jumlah sel bawang merah yang mengalami plasmolisis.
12. Mencatat jumlah sel yang mengalami plasmolisis kedakam laporan
sementara.
F. Rancangan Percobaan
Mengisi cawan petri dengan 5 ml larutan sukrosa, masing-masing
dengan konsentrasi yang berbeda (0,28 M, 0,26 M, 0,24 M, 0,22 M, 0,20
M, 0,18 M, 0,16 M,0,14 M)

Membuat sayatan sel bawang merah

Merendam sayatan sel bawang merah kedalam masing-masing larutan


konsentrasi sukrosa yang berbeda (selama 30 menit)

Menghitung jumlah sel bawang merah yang mengalami plasmolisis di


bawah mikroskop,mencatat dalam laporan sementara

11

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Tabel 1 Hasil Penelitian Plasmolisis pada Sel Bawang Merah
Konsentrasi

Jumlah Sel

Larutan (M)

Jumlah Sel

Presentase sel

Terplasmolisis

terplasmolisis

0,14

95

15

47,4%

0,16

95

16

43%

0,18

95

21

35,8%

0,20

95

22

31,6%

0,22

95

30

23,2%

0,24

95

34

22,1%

0,26

95

41

16,8%

0,28

95

45

15,8%

B. Analisis

Presentase sel bawang merah yang


terplasmolisis (%)

Grafik Prosentase Jumlah Sel Bawang Merah


yang Mengalami Plasmolisis
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0,14

0,16

0,18

0,20

0,22

0,24

0,26

0,28

Konsentrasi larutan sukrosa (M)

Dari data yang di dapat kita dapat mengetahui bahwa setelah sel bawang
merah direndam selama 30 menit mengalami plasmolisis dari jumlah sel bawang

12

merah yang normal. Pada konsentrasi larutan sukrosa 0,14 M sel bawang merah
yang mengalami plasmolisis sebesar 15,8%. Pada konsentrasi larutan sukrosa
0,16 M sel bawang merah yang mengalami plasmolisis sebesar 16,8%.Pada
konsentrasi larutan sukrosa 0,18 M sel bawang merah yang mengalami
plasmolisis sebesar 22,1%. Pada konsentrasi larutan sukrosa 0,20 M sel bawang
merah mengalami plasmolisis sebesar 23,2%. Pada konsentrasi larutan sukrosa
0,22 M sel bawang merah mengalami plasmolisis sebesar 31,6%. Pada
konsentrasi larutan sukrosa 0,24 M sel bawang merah mengalami plasmolisis
sebesar 35,8%. Pada konsentrasi larutan sukrosa 0,26 M sel bawang merah yang
mengalami plasmolisis sebesar 43%. Pada konsentrasi larutan sukrosa 0,28 M sel
bawang merah yang mengalami plasmolisis sebesar 47,4 %.
C. Pembahasan
Dari hasil analisis di atas maka dapat diperoleh bahwa semakin pekat
konsentrasi larutan sukrosa yang digunakan untuk merendam sayatan epidermis
Allium cepa (bawang merah) maka akan semakin banyak pula sel epidermis yang
mengalami plasmolisis. Hal ini sebagai akibat dari perbedaan potensial air di
dalam dan di luar sel bawang merah. Nilai potensial air yang ada di dalam sel
bawang merah lebih besar daripada potensial air yang ada di luar sel bawang
merah. Oleh sebab itu nilai potensial air berbanding lurus dengan nilai potensial
osmosis, maka potensial osmosis yang ada di dalam sel juga lebih besar dari
pada potensial osmosis yang ada di luar sel. Hal inilah yang menyebabkan
pindahnya molekul air di dalam sel bawang merah menuju ke luar sel, sehingga
menyebabkan protoplas sel epidermis kehilangan dan akhirnya terlepas dari
dinding sel, peristiwa yang terjadi pada sel epidermis Allium cepa ini biasa
disebut dengan Plasmolisis.
Pada percobaan kali ini tidak didapatkan jumlah sel yang mengalami
plasmolisis sebesar 50 % hal ini di duga karena ketebalan sel yang berbeda( tidak
1 sel )ketebalan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi difusi
osmosis. Jika suatu sel memiliki ketebalan maka akan berpengaruh terhadap
kecepatan difusi dengan begitu maka akan sulit untuk mendapatkan 50% sel
mengalami plasmolisis

13

Pada konsentrasi larutan sukrosa 0,237 M jumlah sel yang mengalami


plasmolisis telah mencapai 50%. Hal tersebut menandakan bahwa dalam kondisi
tersebut merupakan kondisi yang isotonic, dimana dalam kondisi tersebut
potential air yang ada di dalam sel epidermis Allium cepa maupun di luar sel
(pada larutan sukrosa) menjadi sama, sehingga tidak terjadi lagi difusi air karena
air yang masuk ke dalam sel epidermis Allium cepa dan air yang keluar
meninggalkannya terdapat dalam jumlah yang sama atau dapat dikatakan
terjadi keseimbangan dinamis. Jika potensial di dalam sel dan di luar sel sama,
maka besarnya potensial osmosis yang ada di dalam dan di luar sel juga akan
sebanding atau sama.
Setelah diketahui bahwa pada konsentrasi

M, jumlah sel epidermis

Allium cepa mencapai 50%, maka dapat dihitung nilai tekanan osmosis yang ada
pada sel epidermis Allium cepa
= +
=
=
=

22,4
273

22,4 0,29 303


273

= 7,21
D. Diskusi
1.

Jelaskan mengapa terjadi proses plasmolisis. Dukung dengan data yang


anda peroleh
Jawab

1. Plasmolisis dapat terjadi karena terlepasnya membran sel dari dinding sel
akibat air yang ada di dalam dinding sel terus keluar sampai terjadi
keseimbangan antara potensial air yang ada di dalam dan di luar sel.
Berdasarkan data yang telah diperoleh maka dapat diketahui bahwa
dengan semakin pekat atau tingginya konsentrasi larutan sukrosa maka

14

semakin banyak pula sel yang mengalami plasmolisis. Hal tersebut


disebabkan oleh potensial air yang ada di dalam sel epidermis Allium cepa
lebih besar dari pada di luar sel (larutan sukrosa), dan oleh karena
potensial air berbanding lurus dengan potensial osmotiknya, maka
potensial yang ada di dalam sel epidermis Allium cepa juga akan lebih
besar dibandingkan dengan potensial osmosis yang ada di luar sel.

15

BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa semakin
tinggi konsentrasi larutan sukrosa,maka akan semakin tinggi pula nilai
prosentase sel bawang merah yang mengalami plasmolisis. Pada konsentrasi
larutan sukrosa 0,29 M sel bawang merah akan mengalami plasmolisis senilai
50% dengan tekanan osmosis sel -7,21 atm.
B. Saran
Pada praktikum Penentuan Tekanan Osmosis Cairan Sel, perlu
ditingkatkan ketelitian dan kehatian-hatian oleh para praktikan dalam setiap
langkah kerja yang dilakukan, karna kesalahan kecil yang dilakukan dapat
mempengaruhi hasil yang diperoleh sehingga nantinya tidak sesuai dengan teori
yang ada. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah dalam membuat sayatan
Allium cepa harus selapis sel, karena jika tidak didapatkan selapis sel maka akan
mempersulit

praktikan

dalam

melakukan

pengamatan

menggunakan

mikroskop. Hal lain yaitu lama waktu perendaman Allium cepa dalam larutan
sukrosa harus benar-benar di control,karena selisih waktu beberapa menit saja
menyebabkan sel yang terplasmolisis lebih banyak lagi.

16

DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro, D, Prof. DR. 1989. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Gramedia.
Kimball, John W. 1983. BIOLOGI. Jakarta: PT Erlangga.
Loveless. 1991. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Daerah Tropik. Jakarta: PT Gramedia.
Sasmita, Drajat ; Arbasyah Siregar. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung:ITB Press.
Salisbury, Cleon. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Bandung:ITB Press.
Rahayu, Yuni Sri. 2012. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Surabaya: Jurusan Biologi
FMIPA UNESA
Bidwell. R.G.S.1979. Plant Physiology edition 2. Macmillion Publishing. Co : New York
Dwidjoseputro. D. 1985. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia : Jakarta

17

LAMPIRAN
No

Gambar

Keterangan
Berbagai
konsentrasi
larutan sukrosa

2.

Sel bawang merah


setelah direndam
30 menit

18

3.

Sel normal
bawang merah

4.

Sel bawang merah


saat direndam

19